Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Maksud
Untuk mengetahui proses pencapan rintang warna pada kain kapas dengan zat warna
reaktif dengan mengunakan resin finish.

1.2. Tujuan
Untuk mengetahui pencapan rintang warna pada kain kapas dengan zat warna reaktif
dengan mengunakan resin finish.dengan variasi :
Pengaruh konsentrasi resin finish sebagai zat perintang pada pencapan kain
kapas dengan zat warna reaktif.
Pengaruh variasi suhu dan waktu pada metoda baking (curring) yaitu pada suhu
1500C variasi waktu 1 menit dan 2 menit, suhu 1600C variasi waktu 1 menit dan 2
menit, dan suhu 1700C waktu 1 menit .
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Serat Kapas

2.1.1 Struktur Molekul

Analisa serat kapas menunjukan bahwa serat kapas tersusun atas selulosa.
Selulosa merupakan polimer linear yang tersusun dari kondensasi molekul-molekul
glukosa yang dihubungkan pada posisi seperti pada Gambar 1.

Sumber : Soeprijono, dkk, Serat-serat Tekstil, Bandung, 1973


Gambar 1. Struktur Rantai Molekul Polimer Selulosa

Selulosa terbentuk dari susunan cincin glukosa. Glukosa diketahui sebagai turunan
pyranosa yang berarti memiliki 6 segi (sudut), dan struktur kimia dari glukosa

sendiri memiliki dua bentuk tautomeri yaitu -glukosa dan -glukosa.

2.1.2 Sifat-sifat Serat Kapas

Sifat Fisika

Moisture Regain
Serat kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air, dan air mempunyai
pengaruh yang nyata pada sifat sifat serat. Serat kapas yang sangat kering
bersifat kasar, rapuh dan kekuatannya rendah. Moinsture regain serat kapas
bervariasi dengan perubahan relative tertentu, moisture regain yang didapatkan
dengan cara menghilangkan lembab (desorpsi) sedikit lebih tinggi dari yang
didapatkan dengan cara penyerapan lembab. Moisture regain serat kapas pada
kondisi standard berkisar antara 7 8,5%.
Sifat Kimia
Serat kapas pada umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan, dan
pemakaian yang normal, tetapi beberapa zat oksidasi atau penghidrolisa
menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan kekuatan. Kerusakan karena
oksidasi dengan terbentuknya oksi selulosa biasanya terjadi dalam proses
pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab, atau pemanasan
yang lama dalam suhu diatas 140oC.

1. Pengaruh Asam

Asam asam menyebabkan hidrolisa ikatan ikatan glukosa dalam rantai


selulosa membentuk hidroselulosa. Asam kuat dalam larutan menyebabkan
degradasi yang cepat, sedangkan larutan yang encer apabila dibiarakan
mengering pada serat akan menyebabkan penurunan kekuatan. Reaksi
hidroselulosa tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini.

CH2OH H OH
H O H
H O OH H
O OH H H H O
H
O
H OH CH2OH

Hidrolisa

CH2OH H OH
H O
H H OH H
C OH H
O OH H O H O
H
O
H OH CH2OH

CH2OH H OH
H O
OH OH H
H OH H
C
O OH H O H O
H
O
H OH CH2OH
Sumber : Arifin Lubis, dkk, Teknologi Persiapan Penyempurnaan, Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil, Bandung, 1994, halaman 85.

Gambar 2Reaksi Hidroselulosa

2. Pengaruh Alkali

Alkali mempunyai sedikit pengaruh pada kapas, kecuali larutan alkali kuat
dengan konsentrasi yang tinggi menyebabkan penggelembungan besar pada
serat, seperti dalam proses mersersasi. Dalam proses ini kapas dikerjakan
didalam larutan natrium hidroksida dengan konsentrasi lebih besar 18%.Dalam
kondisi ini dinding primer menahan penggelembungan serat kapas keluar,
sehingga lumennya sebagian tertutup. Irisan lintang menjadi lebih bulat,
puntirannya berkurang dan serat menjadi lebih berkilau. Hal ini merupakan
alasan utama mengapa dilakukan proses merserisasi. Disamping itu serat
kapas menjadi lebih kuat dan afinitas teyhadap zat warna lebih besar.

3. Pengaruh Panas

Serat kapas tidak memperlihatkan perubahan kekuatan bila dipanaskan pada

suhu 120 selama 5 jam. Tapi pada suhu yang lebih tinggi dapat

menyebabkan penurunan kekuatan serat.Kekuatan serat akan hamper hilang

apabila dipanaskan pada suhu 240 .

4. Pengaruh Oksidator

Oksidator dapat mengoksidasi selulosa, rantai molekul selulosa terputus dan


selanjutnya mengakibatkan terjadinya oksiselulosa lanjutan yang mengubah
gugus aldehid menjadi gugus karboksilat. Pada oksidasi sederhana dalam
suasana asam tidak terjadi pemutusan rantai, hanya terjadi pembukaan cincin
glukosa. Pengerjaan lebih lanjut dengan alkali akan mengakibatkan pemutusan
rantai molekul sehingga kekuatan tarik akan turun. Oksiselulosa terjadi pada
proses pengelantangan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab

atau pemanasan yang lama pada suhu diatas 140 .

CH2OH H OH
O
H O H
H OH H
O OH H H O
H H O
H OH CH2OH

Oksidasi
CH2OH CH2OH
O OH OH
H O H
H H O
O H O
C C C C H
O H O H O H O H

CH2OH
O CH2OH
H O OH OH
H H
H O
O H
C C O H
C C
O OH O OH
O OH O OH
Gambar 3. Reaksi Oksiselulosa
Sumber :Rasyid Djufri, dkk, Teknologi Pengelantangan. Pencelupan dan
Pencapan, Institut Teknologi Tekstil, Bandung, 1976, halaman 76.

2.2 Zat Warna Reaktif

Pencapan kain kapas dengan zat warna reaktif banyak digunakan karena di
samping pilihan warna yang banyak juga dapat dikerjakan dengan kondisi yang
sederhana. Dengan ukuran molekul yang kecil dan larut dengan baik di dalam air
maka zat warna reaktif memiliki kemampuan cepat berdifusi ke dalam serat dan hasil
pencapannya mempunyai kilau yang tinggi. Zat warna reaktif dapat mengadakan
reaksi dengan serat selulosa (kapas) membentuk ikatan kovalen sehingga ketahanan
lunturnya sangat baik.

alkali

D SO2 CH = CH2 Sel OH D SO2 CH2 CH2 O Sel

zat warna serat zat warna dan serat selulosa

selulosa (kapas)

Faktor penting yang harus diperhatikan dalam penggunaan zat warna


reaktif adalah kestabilan pasta capnya dan kemungkinan terjadinya penodaan
warna dasar saat pencucian. Oleh karena zat warna reaktif bersifat reaktif terhadap
beberapa jenis senyawa, maka dalam pencapan harus dipakai pengental yang tidak
mengadakan reaksi dengan zat warna tersebut.

Bahan pengental yang memenuhi syarat adalah senyawa natrium alginat


yakni pengental yang dibuat dari agar-agar rumput laut dan dalam perdagangan
dikenal dengan nama manutex. Pengental sintetik dari jenis asam poliakrilat dapat
digunakan sebagai pengganti natrium alginat serta dapat memberikan hasil
pewarnaan yang lebih memuaskan dan lebih mudah dihilangkan. Pengental emulsi
penuh dan setengah emulsi juga dapat digunakan.
Pemilihan jenis alkali berdasarkan pada kereaktifan zat warna yang
digunakan serta kestabilan pasta capnya adalah natrium bikarbonat selain
harganya murah juga memberikan kestabilan pasta cap yang tinggi. Penambahan
alkali pada pasta cap sebaiknya dilakukan pada saat pasta cap digunakan untuk
menghindari hidrolisa zat warna. Jika digunakan zat warna reaktif yang mempunyai
kestabilan yang cukup tinggi dapat digunakan natrium karbonat atau soda
kostikkarena akan memberikan hasil pewarnaan yang lebih tinggi.

Untuk menjaga kestabilan zat warna ke dalam pasta cap dapat


ditambahkan zat anti reduksi dan sebagai zat higroskopis dapat juga digunakan
urea. Urutan proses pencapan dengan zat warna reaktif dapat digambarkan dengan
berbagai macam cara fiksasi yaitu :

Proses fiksasi sangat penting karena terjadi ikatan kovalen antara serat selulosa
dengan zat warna reaktif. Waktu proses fiksasi yang terlalu lama dari ketentuan
akan menyebabkan turunnya hasil pewarnaan yang disebabkan ketidakstabilan
ikatan kovalen serat dengan zat warna di bawah kondisi alkali.

Oleh karena itu kondisi fiksasi yang tepat sangatlah penting baik ditinjau
dari segi ekonomis juga hasil pewarnaan yang tinggi, penentuan kondisi fiksasi
tersebutbergantung pada tingkat kereaktifan zat warna. Selama proses fiksasi
berlangsung selain terjadi ikatan kovalen juga terjadi hidrolisa zat warna oleh air,
sehingga tidak ada lagi zat warna tersisa dalam bentuk reaktif. Zat warna yang
terhidrolisa tersebut harus dihilangkan secara sempurna dari kain pada proses
pencucian.

2.3. Proses Pencapan


2.3.1. Mekanisme Pencapan
Zat warna asam dapat mewarnai karena adanya tempat-tempat positif pada bahan.
Jumlah tempat positif pada bahan sangat bergantung pada dua faktor yaitu jumlah
gugus amida dan jumlah gugus amina dalam serat serta keasaman dari pasta cap.
Nylon dapat dicap dengan zat warna asam karena adanya gugus amina dan
amida pada struktur kimianya terutama pada gugusan aminanya akan menyerap ion
ion hydrogen dari larutan celup asamnya sehingga akan bersifat positif dari muatan
gugus tersebut ,yang selanjutnya akan berikatan dengan ion ion zat warna.
Dengan adanya penambahan asam dari pasta capnya serat nilon akan memiliki
ion ammonium bebas yang mamungkinkan terjadinya ikatan dengan zat warna asam.
Reaksi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Serat Nylon
H2N CONH COOH

+ H N CONH - + + +
3 COO H3N CONH COOH H3N CONH2 COOH

Serat nylon akan menyerrap (mengikat) ion ion hydrogen (HT) dari pasta yang
mengandung asam, dimana ion ion hydrogen tersebut akan diikat oleh gugus amida,
amina atau gugus gugus karboksilat dengan membentuk ikatan garam yang dapat
mengikat anion dari molekul zat warna asam dengan ikatan elektrovalen.
Pada larutan dengan suasana asam, tebentuk muatan positif pada serat, akibat
adanya ion H+ yang terserap gugus amina dari Nylon.
+
H Cl H + Cl
+ +
HOOC NHCO NH2 + H HOOC NHCO N H3

Adanya tempat-tempat positif pada bahan memungkinkan terjadinya ikatan ionik


antara anion zat warna asam dengan serat yang sudah menyerap ion H + dari serat
poliamida. Interaksi zat warna dengan serat berikatan secara anionic antara anion
sulfonat dan gugus ammonium pada serat, seperti yang ditunjukkan seperti berikut:
- +
D SO3Na D SO3 + H
-
D SO3
Ikatan Ionik

+
HOOC NHCO N H3

Ikatan ionik antara zat warna asam dengan Nylon

Keterangan : gugus fungsi yang berikatan dengan serat berupa ikatan ionik
adalah gugus pelarut dari zat warna reaktif, D = kromogen zat warna asam. Pemberian
elektrolit yang menghambat penyerapan zat warna asam pada serat nilon disebabkan
karena anion elektrolit memiliki stuktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah
bergerak dan berikatan dengan serat. Akan tetapi karena ikatan tersebut lemah, pada
akhirnya ikatan tersebut digantikan dengan ikatan antara zat warna dengan seratnya.
Mekanisme terbentuknya tempat-tempat bermuatan positif pada bahan adalah
sebagai berikut:

Pada suasana netral (pH =7)


Bila serat dimasukan kedalam air pada suasana netral sebagian akan terionisasi.
Pada suasana asam
Bila pada keadaan pasta cap ditambahkan asam maka terbentuk asam maka
terbentuk muatan positif yang nyata pada serat, akibatnya adanya ion H + yang terserap
dari serat.

HCl H+ + Cl-
Pola penyarapan asam oleh serat yaitu pada awalnya naik lali kemudian konstan,
sebagai berikut:

0,25 g/l
Penyarapan asam (gram asam/ Kg serat )
0,15 g/l

0,5 g/l

Waktu (menit )
(penyerapan HCl oleh serat poliamida pada berbagai konsentrasi HCl )

2.3.2. Faktor Yang Berpengaruh

Pengental Alginat

Pengental Alginat sebagai bahan pasta pengental pada pencapan tekstil atau
batik (textile printing). Penggunaan alginat sebagai bahan pengental sangat efisien
karena dengan konsentrasi 1,5% sudah mencukupi untuk masuk ke dalam serat
tekstil, selain itu juga hasil pencapan sangat memuaskan karena membuat warna dan
gambar lebih tajam atau lebih cemerlang. Hal ini terjadi karena struktur kimia alginat
memungkinkan untuk mengikat zat pewarna, dan mudah melepaskannya pada bahan
tekstil.
Alginat yang digunakan untuk pencapan tekstil adalah yang mempunyai
viskositas dengan kisaran 1000-2000 cPs dan alginat memiliki harga lebih murah
dibandingkan dengan bahan pengental komersial yang umum digunakan yaitu
manutex, yang masih diimpor.

Zat HIgroskopis

Urea atau zat higroskopis berfungsi untuk menjaga kelembaban kain. Mencegah
terjadinya over drying yang menimbulkan pengerakan zat warna dipermukaan kain.

Stuktur kimia senyawa urea


Sumber : www.google.com/wikipedia/picture/urea

Na2CO3

Natrium karbonat (juga dikenal sebagai soda cuci dan soda abu), Na2CO3,
adalah garam natrium dari asam karbonat yang mudah larut dalam air. Natrium
karbonat murni berwarna putih, bubuk tanpa warna yang menyerap embun dari
udara, punya rasa alkalin/pahit, dan membentuk larutan alkali yang kuat.

Zat Anti Reduksi

Pada proses pencapan dengan zat warna reaktif umumnya menggunakan


pengental alginate yang strukturnya seperti selulosa. Selain itu zat warna ada yang
bekerja pada suasana asam. Dengan adanya penambahan asam pada pasta cap
akan merusak pengental sehingga terbentuk oksiselulosa, dan dapat membentuk
gugus aldehid yang akan menghasilkan Hn.
Hn yang dihasilkan dari gugus aldehid akan merusak gugus azo pada zat warna,
yang dapat menyebabkan zat warna menjadi tidak berwarna.
Alternatif lain untuk mencegah pereduksian zat warna adalah dengan mengganti
pengental menjadi polifinil akrilat, yang lebih aman karena tidak akan terjadi reduksi
zat warna. Sehingga tidak diperlukan zat anti reduksi.

Resin finish (katalis sumitex mk-3)

Dalam percobaan digunakan katalis golongan garam logam yaitu magnesium


klorida dengan nama dagang dekatalis. Pelepasan atau pembentukan asam dari
katalisator pada saat pemanasawetan.Katalis ini dapat digunakan dalam
penyempurnaan resin, namun jumlah penggunannya harus sesuai untuk seriap jenis
katalis tersebut. Bila digunakan terlalu banyak akan berbahaya bagi resin karena
akan terhidrolisa oleh kelebihan asam bahakan selulosa sendiri akan diserang oleh
asam tersebut yang menyebabkan hidroselulosa. Tetapi bila digunakan terlalu sedikit,
kondensat tidak dibentuk menjadi resin dengan senestinya dan akan larut dalam
alkali lemah

2.4 Pencapan Rintang

Pencapan rintang adalah proses pencapan dengan menggunakan suatu


zatperintang, baik yang bersifat rintang mekanik maupun rintang kimia, sehingga
apabilakemudian dicelup atau dicap tumpang maka bagian yang dicap rintang tidak
akanmemberikan warna tumpang.Pencapan rintang ( resist/reserve printing ) analog
dengan pencapan etsa, yaitumeniadakan zat warna tertentu. Dalam pencapan rintang
zat warna yang akan masukdihalangi oleh zat perintang sehingga tidak terjadi
fiksasi zat warna. Jadi dalam pencapan rintang kain dicap dulu denganpasta yang
mengandung zat perintang,kemudian dicelup dengan zat warna yangtidak tahan
zat perintang. Apabila kedalampasta cap ditambahkan zat warna disebutrintang
warna, apabila tidak ditambahkanzat warna disebut rintang putih.Setelah dicap
dengan pasta yang diberi zat perintang, kain keseluruhan kemudiandiwarnai ( dicelup
pad atau dicap blok ), menggunakan zat warana yang tidak tahanterhadap zat
perintang tadi, sehingga tidak terjadi fiksasi.Jenis zat perintang dapat bekerja secara
kimia dan fisika :1.mZat perintang yang ditambahkan dapat bekerja secara fisika,
secara kimia ataukeduanya. Zat perintang yang bekerja secara fisika misalnya lilin
( wax ), lemak,resin, pengental dan pigmen seperti kaolin, ZnO, TiO2, atau BaSO4. 2.
Zat perintang yang bekerja secara kimia termasuk bermacam macam zat
kimiaseperti asam, alkali, garam, zat pengoksidasi, dan zat pereduksi.Pemberian
warna dasar pada kain yang sudah dicap dengan pasta rintang harussecepat
mungkin, supaya zat perintang tidak larut. Untuk pencelupan dipergunakanpadder
( nip padding ) yang dapat mengurangi waktu kontak dan menghindarkanbleeding
dari zat perintang.Pencapan rintang secara kimia ialah menggunakan suatu
zat kimia yangdicampurkan kedalam pasta cap, berfungsi untuk merusak zat warna
yang dicelup ataudicap kemudian. Sehingga zat warna tersebut tidak mempunyai
afinitas lagi atau tidakbereaksi dengan serat, menghasilkan efek rintang putih yang
diinginkan.

Pencapan rintang berwarnaMaksud pencapan rintang berwarna adalah


menghalangi terjadinya warna dasarpada bagian motif dengan jalan mencap dengan
pasta cap yang mengandung zatwarna dan zat perintang, sehingga warna tidak dapat
timbul pada bagian motif.
lama dikenal di Indonesia, yang dikenal sebagai proses pembatikan
yangmenggunakan perintang lilin atau malam.Pencapan motif menggunakan pasta
yang terdiri dari zat warna dan zat perintangfisika seperti resin, kemudian difiksasi.
Pada proses fiksasi ini juga akan terjadipolimerisasi dari resin. Kemudian kain
selulosa dilakukan pencapan atau cap blokuntuk warna dasar dengan zat warna
lainnya atau sejenis dengan zat warna