Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap kehidupan baik sebagai individu maupun pada tingkatan organisasi


yang lebih tinggi selalu ada interaksi antar sesamanya dan dengan lingkungannya.
Kegiatan manusia di sekitar perairan dapat mengakibatkan masuknya bermacam
substansi ke dalam system perairan. Sebagian dari substansi ini secara tidak langsung
tidak berbahaya, namun dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem dan tingkat
kesuburan di perairan tersebut. Untuk mengetahui tingkat kesuburan perairan, salah
satu caranya adalah dengan melakukan pengukuran produktivitas primer dalam
perairan. Tingkat kesuburan perairan dapat dilihat dari tingkat nutrisi yang
dibutuhkan oleh organism produsen dalam perairan tersebut. Produktivitas primer
fitoplankton menggambarkan masukan terbesar materi organic baru ke perairan
menujukkan tersedianya nutrisi untuk pertumbuhan fitoplankton. (Wetzel, 2001)

1.2 Tujuan
Pengamatan ini dilakukan untuk Mengetahui produktivitas primer di perairan
Situ Gintung, Jakarta. Serta mengethui kandungan Karbondiokseda dan Oksigen
terlarut yang terdapat di dalam perairan Situ Gintung, Jakarta.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Produktivits primer merupakan laju pengubahan energy matahari melalui
proses fotosintesis menjadi substansi organic yang dilakukan oleh produsen (Odum
1983; Emberlin 1983). Produktivitas primer dibedakan atas produktivitas kotor
(bruto) yang merupakan hasil asimilasi total, dan produktivitas bersih (neto).
Produktivitas kotor adalah jumlah total bahan organic yang dihasilkan sedangkan
produktivitas primer bersih merupakan jumlah bahan organic yang tinggal setelah
beberapa darinya dimanfaatkan oleh fitoplanktonuntuk mendapatkan energy selama
respirasi (Emberlin, 1983). Pada umumnya produktivitas suatu ekosistem perairan
dikendalikan oleh kondisi lingkungan, misalnya; radiasi cahaya matahari, konsentrasi
nutrient yang tersediaserta oleh kemampuan fotosintesisspesies fitoplankton yang ada
(Lemusluoto, 1977; Moss 1980). Laju produktivitas akan tinggi bila factor-faktor
lingkungan cocok atau optimal. Pengukuran produktivitas primer pada umumnya
didasarkan pada reaksi fotosintesis.

Untuk mengukur atau menaksir nilai produktivitas primer suatu perairan,


berbagai metoda pengukuran telah ditemukan, dikembangkan dan diperkenalkan oleh
para ahli. Diantara metode tersebut adalah metode panenan, oksigen, karbondioksida,
klorofil, dan metode isotop dengan menggunakan karbon 14 (Michael, 1984). Metode
panenan cocok untuk system pertanian, metode botol gelap terang untuk pengukuran
oksigen, metode pH, dan klorofil untuk mengukur kadar klorofil, metode isotop dan
metode CO2 cocok untuk ekosistem perairan. Metode yang paling umum digunakan
di dalam mengukur nilai produktivitas primer adalah metode oksigen, yang dapat
mengukur produktivitasnya secara tidak langsung. Pemilihan metode ini terutama
didasarkan atas sifatnya yang praktis dan mudah dilakukan. Metode oksigen dengan
menggunakan botol terang-gelap pertama sekali dilakukan oleh Gaarder dan Gran
pada tahun 1927 (Odum, 1971).

Dalam produktivitas primer terjadi reduksi karbo


ndioksida dengan atom hydrogen dari air untuk menghasilkan gula sederhana dan
selanjutnya membentuk molekul organik yang lebih kompleks dengan menggunakan
energi matahari yang ditangkap klorofil (Halfer, 1992). Metode pengukuran
produktivitas primer yang sering dilakukan dan popular dibidang limnologi menurut
Sumawidjaja (1974) adalah metode oksigen botol gelapdan terang. Pada metode botol
gelap terang ini, perkiraan produktivitas dapatdiketahui dari perubahan oksigen
(Payne, 1986; Wetzel and Likens, 1991; Nybakken,1992), yang berisi contoh air
setelah diinkubasi dalam jangka waktu tertentu pada perairan yang mendapat sinar
matahari. Pada botol gelap yang tidak menerima cahaya matahari maka diduga hanya
terjadi proses respirasi, sementara paada botol terang terjadi baik proses fotosintesis
maupun respirasi. Berdasarkan asumsi bahwa respirasi kedua botol sama, maka
perbedaan kandungan oksigen pada botol gelapdan terang, pada akhir percobaan
menunjukkan produktivitas kotor.
Produktivitas primer merupakan mata rantai makanan yang memegang peranan
penting bagi sumber daya perairan. Melalui produktivitas primer, energi akan
mengalir dalam ekosistem perairan dimulai dengan fiksasi oleh tumbuhan hijau
melalui proses fotosintesis. Peningkatan suplai zat hara dan tersedianya zat hara
khususnya nitrogen dan fosfor merupakan factor kimia perairan yang dapat
mempengaruhi produktivitas primer disamping factor fisik cahaya matahari dan
temperature. (Wetzel, 1983)

Oksigen merupakan komponen penting yang dibutuhkan organisme perairan


yangberfungsi sebagai regulator pada proses metabolisme tanaman dan hewan
air(Odum, 1971). Salah satu sumber oksigen terlarut yang penting dalam
perairanadalah oksigen di atmosfer yang terlarut dalam massa air pada permukaan
airtersebut (Connel and Miller, 1995)

Cahaya yang berasal dari matahari penting untuk kepentingan makhluk hidup,
hampir semua energy yang menggerakkan dab mengontrol metabolism diperairan
berasal dari energy matahari yang dikonversi secara biokimia melalui proses
fotosintesis menjadi energy potensial. Laju fotosintesis akan tinggi bila intensitas
cahaya tinggi dan menurun bila intenitas cahaya berkurang, oleh karena itu cahaya
berperan sebagai factor pembatas utama dalam fotosintesis atau produktivitas primer
yang dilakukan fitoplankton. Dalam rantai makanan di perairan, kehidupan
fitoplankton dipengaruhi oleh biota air lainnya seperti zooplankton. (Manurung,
1992)

Menurut Campbell (2002), Produktivitas primer menunjukkan Jumlah energy


cahaya yang diubah menjadi energy kimia oleh autotrof suatu ekosistem selama suatu
periode waktu tertentu. Total produktivitas primer dikenal sebagai produktivitas
primer kotor (gross primary productivity, GPP). Tidak semua hasil produktivitas ini
disimpan sebagai bahan organik pada tubuh organisme produsen atau pada tumbuhan
yang sedang tumbuh, karena organisme tersebut menggunakan sebagian molekul
tersebut sebagai bahan bakar organik dalam respirasinya.

Cara yang umum dipakai dalam mengukur produktivitas primer suatu perairan
adalah dengan menggunakan botol gelap dan botol terang. Botol terang dipakai untuk
mengukur laju fotosintesis yang disebut juga sebagai produktivitas primer kotor
(jumlah total sintesis bahan organik yang dihasilkan dengan adanya cahaya),
sementara botol gelap digunakan untuk mengukur laju respirasi. Produktivitas primer
dapat diukur sebagai produktivitas kotor atau produktivitas bersih. Hubungan diantara
keduanya dapat dinyatakan sebagai:

Produktivitas bersih (PN) = Produktivitas kotor (PG ) - Respirasi (R).


Keterangan:
R= ( O2) awal- (O2) akhir botol gelap
PG= (O2) akhir botol terang - (O2) akhir botol gelap

Untuk mengubah nilai mg/l oksigen menjadi mg C/m3, maka nilai dari mg/l dikalikan
dengan faktor 375,36. Hal ini menghasilkan mg C/m3 untuk jangka waktu
pengukuran. Untuk mendapatkan nilai produktivitas dalam satuan hari, maka nilai per
jam harus dikalikan dengan 12 dengan mengingat cahaya matahari hanya diperoleh
12 jam per hari (Barus, 2004, hlm: 113).

Produktivitas primer dalam suatu perairan sangat dipengaruhi oleh beberapa


faktor seperti yang dikemukakan oleh (Krebs, 1985, hlm : 610), yakni :
a. Faktor pengontrol dominan yakni cahaya, temperatur, fosfor, dan silikon (untuk
diatom).
b. Faktor pengontrol tambahan yakni nitrogen, zat besi, mangan, dan molybdenum.
c. Faktor pengontrol yang jarang yakni, karbon, kobalt, sulfur dan sedikitnya nutrient
untuk pertumbuhan.

Bila satu dari tiga parameter metabolisme, yaitu karbon dioksida, oksigen atau
tenaga yang terlibat dalam fotosintesis dapat diukur baik dalam sinar maupun dalam
gelap, maka akan mungkin untuk memperkirakan hal-hal berikut:
a. Produksi primer kotor, jumlah total sintesis bahan organik yang dihasilkan
dengan adanya sinar.
b. Produksi primer bersih, jumlah bahan organik yang disimpan setelah pengeluaran
dalam bentuk pernafasan.
c. Pernafasan, pertukaran gas dan panas dengan lingkungan yang berkaitan dengan
pemutusan metabolik bahan organik oleh sel-sel hidup (Michael, 1984, hlm: 36)

BAB III
METODE PENGAMATAN

3.1 Lokasi Pengamatan


Lokasi Pengamatan
Di Situ Gintung, Ciputat Tangerang selatan, dan Gedung Pusat
Laboratorium Terpadu (PLT) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.

Waktu Pengamatan
Selasa, 26 Maret 2012, pukul : 13.20 Selesai

3.2 Alat dan Bahan

Pada praktikum ini, alat yang digunakan berupa; botol Winkler, water sample bottler
Lamotte, DO-meter, Kertas indicator universal (lakmus), gunting, buret, label,
kertas karbon dan beaker glass. Sedangkan bahan yang digunakan berupa NaOH 1/44
N, indicator fenoftalein 0,5 %, alcohol 95% dan aquades.

3.3 Cara Kerja

a. Pencuplikan Air
Pencuplikan air dilakukan dengan menggunakan water sampler bottle, pertama
kali yang dilakukan adalah memastikan alat tersebut dengan keadaan baik, kemudian
botol diturunkan secara horizontal pada kedalaman yang diinginkan. Dipastikan tutup
botol dalam keadaan terbuka. Gelembung udara yang muncul di atas permukaan air
menandakan bahwa tutup botol telah terbuka, dan lilangnya gelembung air tersebut
menandakan bahwa botol telah terisi penuh sehingga disegerakan untuk diangkat ke
atas lalu ditampung dalam botol winkler dengan hati-hati.
Diambil sampel air ditiga titik lokasi yang berbeda. Botol pertama digunakan
untuk menentukan konsentrasi oksigen awal, botol kedua digunakan untuk botol
terang, dan botol ketiga digunakan untuk botol gelap. Pada botol gelap ditutupi kertas
karbon dinding-dinding botol secara menyeluruh, setelah itu pada botol terang diukur
konsentrasi oksigen pertama nya. Kemudian botol terang dan botol gelap diletakkan
pada laci laboratorium yang kedap cahaya.
Setelah itu, botol pertama yang sudah terisi sampel air ditirasi untuk melihat
kandungan CO2 yang terdapat didalam sampel air. Sampel air dititrasi menggunakan
NaOH 1/44 N dengan indicator fenoftalein 0,5%. Sampel air dititrasi hingga berwana
merah jambu muda. Kemudian dihitung berapa pH nya, dan dilihat seberapa banyak
NaOH yang digunakan untuk titrasi tersebut.
3.4 Analisis Data

Laju Respirasi (R)


R = (C0 CD) / t

Produktivitas Fotosintesis Total (PG)


PG = (CL CD) / t

Produktivitas Primer Bersih (PN)

PN = (CL C0) / t atau

PN = PG R

Ket. :

R = laju respirasi (mg O2 per liter per jam atau hari)

C0 = konsentrasi oksigen awal (mg/L)

CD = konsentrasi oksigen akhir di botol gelap (mg/L)

CL = konsentrasi oksigen akhir di botol terang (mg/L)

t = periode berlangsungnya proses respirasi (jam atau hari)


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

No Sampel Awal DO Awal (mg/L) DO Akhir Suhu Awal (C) Suhu Akhir
(mg/L) (C)
Tittrasi pH Kondutivitas Titrasi Terang Gelap Terang Gelap Titrasi Terang Gelap Terang Gelap T
(ml) 1 2 (mS)

1 1,4 6 7,5 0,18 6,1 7,1 6,6 0,3 0,15 29 30,8 30,8 28 28,05
2 1,75 6 10 1,48 6,4 6,5 7 0,35 0,25 29 29 29 28 27,9
3 5,1 6 10 0,1 7,2 6,5 6,5 0,4 0,2 26,1 32 31,5 27,75 27,8
4 1,75 7 8 0,1 7,2 7,3 7,2 0,15 0,1 31,2 31,3 31,4 28,1 28,05
5 4 7 10 0,1 6,5 6,5 6,2 0,2 0,1 27,13 32,1 32,1 25,85 28,2
Tinggi rendahnya produktivitas primer dipengaruhi oleh banyaknya sedikit
cahaya yang masuk ke dalam perairan. Menurut Welch (1992), bahwa penetrasi
kurang
dari 1,9 menunjukkan p
entrasi cahaya itu tingg
i dan perairan tergolon
g tinggi. Sedangkan
penetrasi cahaya di
bawah 0,4 m dari
permukaan air merupakan control bagi perkembangan organisme produsen
di perairan. Kandungan oksigen terlarut dipengaruhi oleh suhu, kehadiran
fitoplankton, penetrasi cahaya matahari dan jumlah bahan organic yang diuraikan
dalam air (Sastrawidjaja, 1991). Pada metode botol gelap
dan terang ini terdapat proses inkubasi pasangan botol gelap di dalam
perairan, lama waktu inkubasi ini selama 24 jam dengan memperkirakan intensitas
aktivitas fotosintesis.
Prinsipnya untuk mengukur perbedaan kandungan karbondioksida dan
oksigen terlarut dalam botol gelap (hanya respirasi) dan botol terang (terjadi
fotosintesis dan respirasi), setelah ditempatkan pada suatu tertentu selama beberapa
waktu (pada siang hari) dan di dalam kedua botol tersebut mengandung fitoplankton
yang melakukan fotosintesis.

Kadar oksigen terlarut produktivitas primer suatu ekosistem perairan pada


dasarnya merupakan hasil perubahan energi cahaya matahari menjadi energi kimia
dalam tubuh organisme autotrof perairan tersebut melalui fotosintesis. Sebagian
organisme autotrof dapat melakukan sintesis tanpa bantuan cahaya matahari, namun
persentasenya sangat kecil (Barnes dan Mann, 1994), sehingga besarnya produktivitas
primer perairan sangat tergantung aktivitas dan efektivitas fotosintesis organisme
fotoautotrof. Pengaruh selang waktu inkubasi juga dapat mempengaruhi kandungan
oksigen yang ada di dalamnya. Pada metode botol terang gelap yang diinkubasi
selama 24 jam didapat hasil yang menunjukkan bahwa produktivitas primer setelah
inkubasi 24 jam menunjukkan kadar oksigen yang menurun drastis yang awalnya
sebesar 7,1 mg/L menjadi 0,3 mg/L yang diukur menggunakan DO-Meter (kelompok
1). Begitu pula dengan kelompok berikutnya penurunan kadar oksigen ini
menandakan adanya aktivitas yang terjadi selama masa inkubasi yang dilakukan oleh
fitoplankton sehinggan terlihat adanya perubahan kandungan oksigen yang terlarut
pada botol terang. Pada botol gelap kandungan oksigen awal sebesar 6,6 mg/L dan
setelah melewati masa inkubasi berubah menjadi 0,15 mg/L. Produktivitas diestimasi
sebagai jumlah karbon yang terdapat didalam material hidup dan secara umum
dinyatakan sebagai jumlah gram karbon yang dihasilkan dalam satumeter kuadrat
kolom air per hari (g C/m2/ hari atau jumlah gram karbon yang dihasilkan dalam satu
dalam meter kubik perhari (g/C/m3/hari)). (Levinton, 1982)

Pengukuran kandungan CO2 bebas terlarut dilakukan pada tiap lokasi


sampling yang berbeda dengan kedalaman yang sama, hal ini dimaksudkan karena
pada titik sampling tersebut memiliki aliran masuk air dan aliran keluar air yang
berbeda pula sehingga kadar CO2 bebas yang terlarut didalamnya juga memiliki
perbedaan.
Pengukuran kadar CO2 bebas terlarut ini dilakukan dengan menggunakan
metode titrasi. Hasil pentitrasian menunjukkan hasil 7,2 dan menghabiskan 1,75 ml
NaOH yang berarti kandungan CO2 yang terlarut didalamnya cukup besar.
Kandungan CO2 yang tinggi dapat berdampak pada pH perairan, karena CO 2 tersebut
akan berikatan dengan H2O membentuk asam karbonat yang menyebabkan kondisi
perairan cenderung lebih basa. Peningkatan kadar CO2 bebas terlarut juga dapat
disebabkan karena adanya bahan pencemar yang masuk ke perairan melalui limpasan
(run off) dari permukaan tanah atau limpasan dari daerah pemukiman dan perkotaan.
DAFTAR PUSTAKA

Barus, T.A 2004.pengantar limunologi studi tentang ekosistem sungai dan danau,
program studi biologi fakultas mipa usu medan.

Campbell, J.B; Reece, L.G; Mitchell. 2004. Biologi. Edisi Kelima Jilid 3. Penerbit:
Erlangga. Jakarta

Connel, W. Des dan Gregor. J.Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran.
Alih Bahasa; Yanti Koestori. Universitas Indonesia. Jakarta

Emberlin, J.C. 1983. Introduction to Ecology. Mac Donald and Evans. Estrover,
Plymouth

Lemusluoto, P.O. 1927. Introduction to Phytoplankton Primary Productivity in


Waters. United Nations Development Programe OTC/SE.

Manurung, B. 1992. Produktivitas Primer di Tiga Stasiun pada Perairan Situ


Sangiang Tasikmalaya. ITB. Press Bandung

Michael, P. 1984. Metoda Ekolgi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium.


Penerjemah: Yanti R, Koestoer. UI Press. Jakarta

Moss, B. 1980. Ecolgy of Freshwater. Blackwell Scientic Publ. Oxford. London

Nybakken, J.W.1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia.


Jakarta.

Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Saunder COM. Philadelphia


125pp.

Payne, A.I. 1986. The Ecology of Tropical Lakes and Rivers. Jhon Wiley & Sons.
Singapore
Wetzel, R.G. and Likens. 2000. Limnologi. Second Edition. CBS. College
Publishing, New York, US.

http://repository.upi.edu/operator/upload/s_d525_043750_chapter1.pdf

http://www.scribd.com/doc/10371186/Laporan-Praktikum-Produktivitas-
Perairan

http://repository.upi.edu/operator/upload/s_d525_043750_chapter2.pdf

KELOMPOK 1

R = C0 CD / t

= 6,1 0,15 / 24

= 0,24 mg/L/Jam

PG = CL CD / t

= 0,3 0,15 / 24

= 0,0062

PN = PG - R

= 0,006 0,24

= - 0,234

KELOMPOK 2

R = C0 CD / t

= 6,4 0,25 / 24

= 0,25 mg/L/Jam

PG = CL CD / t

= 0,35 0,25 / 24

= 0,004

PN = PG - R

= 0,004 0,25
= - 0,246

KELOMPOK 3

R = C0 CD / t

= 7,2 0,2 / 24

= 0,29

PG = CL CD / t

= 0,4 0,2 /24

= 0,08

PN = PG - R

= 0,08 0,29

= - 0,21

KELOMPOK 4

R = C0 CD / t

= 7,2 0,1 / 24

= 0,29

PG = CL CD / t

= 0,15 0,1 / 24

= 0,002

PN = PG - R

= 0,002 0,29

= - 0,288

KELOMPOK 5

R = C0 CD / t

= 6,5 0,1 / 24

= 0,26
PG = CL CD / t

= 0,2 0,1 / 24

= 0,004

PN = PG - R

= 0,004 0,26

= - 0,256