Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MK : Kep.

Sistem Muskuloskeletal
DOSEN : Ismawati, S.Kep,Ns, M.MB

MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA KONTRAKTUR

OLEH :
KELOMPOK II

I MADE MUSLIANA 201601P234

FELMY KAENGKE 201601P231

HERLINA 201601P233

HELFIYANTI 201601P232

I PUTU ADI SUBAGIA ABIAKTA 201601P235

IRMA BAHRUDIN 201601P236

I WAYAN SUJANA 201601P237

I GAGUS PUTU SUWARYA 201601P238

IMEILDHA 201601P239

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIDYA NUSANTARA PALU


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kontraktur merupakan hilangnya atau kurang penuhnya lingkup gerak


sendi secara pasif maupun aktif karena keterbatasan sendi, fibrosis jaringan
penyokong, otot dan kulit. Banyaknya kasus penderita yang mengalami
kontraktur dikarenakan kurangnya disiplin penderita sendiri untuk sedini
mungkin melakukan mobilisasi dan kurangnya pengetahuan tenaga medis
untuk memberikan terapi pengegahan, seperti perawatan luka, pencegahan
infeksi, proper positioning dan mencegah immobilisasi yang lama. Efek
kontraktur menyebabkan terjadinya gangguan fungsional, gangguan
mobilisasi dan gangguan aktifitas kehidupan sehari-hari.
Modalitas yang digunakan oleh fisioterapi dalam upaya pemulihan dan
pengembalian kemampuan fungsional pada pasien dengan kasus kontraktur
post operasi 1/3 distal fibula sinistraadalah dengan modalitas IR dan terapi
latihan.Terapi latihan merupakan salah satu upaya pengobatan dalam
fisioterapi yang pelaksanaannya menggunakan latihan gerak pasif dan aktif
(Kisner, 1996).Macam dari terapi latihan tersebut diantaranya (1) breathing
exercise, (2) posisioning (3) static contraction, (4) passive exercise, (5) active
exercise, (6) latihan jalan.Terapi latihan disini bermanfaat dalam mengurangi
nyeri akibat oedem dan luka incisi, mengurangi adanya pembengkakan,
mempertahankan, dan menambah atau memelihara luas gerak sehingga
dengan latihan tersebut pasien diharapkan bisa kembali beraktivitas seperti
semula.
Peran fisioterapi sangat penting dalam mengatasi permasalahan akibat
dari tindakan operasi yaitu dengan memberikan terapi latihan yang
berupaTindakan fisioterapi harus dilaksanakan segera mungkin meliputi ;
1. Proper positioning (posisi penderita)
2. Exercise (gerakan-gerakan sendi sesuai dengan fungsi)
3. Stretching
4. Splinting / bracing
5. Mobilisasi / ambulasi awal

B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang muncul padakasus kontraktur post operasi
1/3 distal fibula sinistradengan modalitas IR dan terapilatihan di tinjau dari
segi fisioterapi sangat kompleks, karena berhubungan dengan impairment,
functional limitation dan disability. Dengan permasalahan - permasalahan
tersebut rumusan masalah yang dapat penulis kemukakan adalah apakah
melalui modalitas IR dan terapi lahihan mampu membantu penyembuhan
pada kasus kontraktur post operasi 1/3 distal fibula sinistra.

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pengertian kontraktur.


2. Mengetahui penyebab kontraktur
3. Mengetahui klasifikasi kontraktur
4. Mengetahui manifestasi klinis dari kontraktur
5. Mengetahui patofisiologi dan komplikasi dari kontraktur tersebut
6. Memahami Terapi dan pengobatan dari kontraktur.
BAB II

PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR UMUM

1. Definisi
Kontraktur merupakan suatu keadaan patologis tingkat akhir dari suatu
kontraksi. Umumnya kontraktur terjadi apabila pembentukan sikatrik
berlebihan dari proses penyembuhan luka.
Kontraktur adalah hilangnya atau kurang penuhnya lingkup gerak sendi
secara pasif maupun aktif karena keterbatasan sendi, fibrosis jaringan
penyokong, otot dan kulit.
Kontraktur didefinisikan sebagai pemendekan otot secara adaptif dari
otot/jaringan lunak yang melewati sendi sehingga menghasilkan
keterbatasan lingkup gerak sendi.

2. Etiologi
Penyebab utama kontraktur adalah tidak ada atau kurangnya mobilisasi
sendi akibat suatu keadaan antara lain imbalance kekuatan otot, penyakit
neuromuskular, penyakit degenerasi, luka bakar, luka trauma yang luas,
inflamasi, penyakit kongenital, ankilosis dan nyeri.
Banyaknya kasus penderita yang mengalami kontraktur dikarenakan
kurangnya disiplin penderita sendiri untuk sedini mungkin melakukan
mobilisasi dan kurangnya pengetahuan tenaga medis untuk memberikan
terapi pencegahan, seperti perawatan luka, pencegahan infeksi, proper
positioning dan mencegah immobilisasi yang lama. Efek kontraktur
menyebabkan terjadinya gangguan fungsional, gangguan mobilisasi dan
gangguan aktifitas kehidupan sehari-hari.

3. Klasifikasi
Berdasarkan lokasi dari jaringan yang menyebabkan ketegangan, maka
kontraktur dapat diklasifikasikan menjadi :
a. Kontraktur Dermatogen atau Dermogen
Kontraktur yang disebabkan karena proses terjadinya di kulit, hal
tersebut dapat terjadi karena kehilangan jaringan kulit yang luas
misalnya pada luka bakar yang dalam dan luas, loss of skin/tissue
dalam kecelakaan dan infeksi.
b. Kontraktur Tendogen atau Myogen
Kontraktur yang tejadi karena pemendekan otot dan tendon-tendon.
Dapat terjadi oleh keadaan iskemia yang lama, terjadi jaringan ikat
dan atropi, misalnya pada penyakit neuromuskular, luka bakar yang
luas, trauma, penyakit degenerasi dan inflamasi.
c. Kontraktur Arthrogen
Kontraktur yang terjadi karena proses di dalam sendi-sendi, proses
ini bahkan dapat sampai terjadi ankylosis. Kontraktur tersebut
sebagai akibat immobilisasi yang lama dan terus menerus, sehingga
terjadi gangguan pemendekan kapsul dan ligamen sendi, misalnya
pada bursitis, tendinitis, penyakit kongenital dan nyeri.
4. Manifestasi Klinik
Gejala kontraktur bisa berupa :
a. Terdapat jaringan ikat dan atropi
b. Terjadi pembentukan sikatrik yang berlebih
c. Mengalami gangguan mobilisasi
d. Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari

5. Patofisiologi
Apabila jaringan ikat dan otot dipertahankan dalam posisi memendek
dalam jangka waktu yang lama, serabut-serabut otot dan jaringan ikat
akan menyesuaikan memendek dan menyebabkan kontraktur sendi. Otot
yang dipertahankan memendek dalam 5-7 hari akan mengakibatkan
pemendekan otot yang menyebabkan kontraksi jaringan kolagen dan
pengurangan jaringan sarkomer otot. Bila posisi ini berlanjut sampai 3
minggu atau lebih, jaringan ikat sekitar sendi dan otot akan menebal dan
menyebabkan kontraktur.

6. Komplikasi
a. Dupuytren dimana kondisi jari-jari tetap fleksi dan tidak dapat
sepenuhnya diekstensikan
b. Kelumpuhan / kecacatan permanen

7. Terapi dan Pengobatan


Hal utama yang dipertimbangkan untuk terapi kontraktur adalah
pengembalian fungsi dengan cara menganjurkan penggunaan anggota
badan untuk ambulasi dan aktifitas lain. Menyingkirkan kebiasaan yang
tidak baik dalam hal ambulasi, posisi dan penggunaan program
pemeliharaan kekuatan dan ketahanan, diperlukan agar pemeliharaan
tercapai dan untuk mencegah kontraktur sendi yang rekuren. Penanganan
kontraktur dapat dliakukan secara konservatif dan operatif :
a. Konservatif
Seperti halnya pada pencegahan kontraktur, tindakan konservatif ini
lebih mengoptimalkan penanganan fisioterapi terhadap penderita,
meliputi :
1. Proper positioning
Positioning penderita yang tepat dapat mencegah terjadinya
kontraktur dan keadaan ini harus dipertahankan sepanjang waktu
selama penderita dirawat di tempat tidur. Posisi yang nyaman
merupakan posisi kontraktur. Program positioning antikontraktur
adalah penting dan dapat mengurangi udem, pemeliharaan fungsi
dan mencegah kontraktur.
Proper positioning pada penderita luka bakar adalah sebagai berikut :
Leher : ekstensi / hiperekstensi
Bahu : abduksi, rolasi eksterna
Antebrakii : supinasi
Trunkus : alignment yang lurus
Lutut : lurus, jarak antara lutut kanan dan kiri 20 derajat
Sendi panggul tidak ada fleksi dan rolasi eksterna
Pergelangan kaki : dorsofleksi

2. Exercise
Tujuan exercise untuk mengurangi udem, memelihara lingkup gerak
sendi dan mencegah kontraktur. Exercise yang teratur dan terus-
menerus pada seluruh persendian baik yang terkena luka bakar
maupun yang tidak terkena, merupakan tindakan untuk mencegah
kontraktur.
Adapun macam-macam exercise adalah :
Free active exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita sendiri.
Isometric exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita sendiri
dengan kontraksi otot tanpa gerakan sendi.
Active assisted exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita
sendiri tetapi mendapat bantuan tenaga medis atau alat mekanik atau
anggota gerak penderita yang sehat
Resisted active exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita
dengan melawan tahanan yang diberikan oleh tenaga medis atau alat
mekanik.
Passive exercise : latihan yang dilakukan oleh tenaga medis terhadap
penderita.

3. Tretching
Kontraktur ringan dilakukan strectching 20-30 menit, sedangkan
kontraktur berat dilakukan stretching selama 30 menit atau lebih
dikombinasi dengan proper positioning. Berdiri adalah stretching
yang paling baik, berdiri tegak efektif untuk stretching panggul
depan dan lutut bagian belakang.
4. Splinting/bracing
Mengingat lingkup gerak sendi exercise dan positioning merupakan
hal yang penting untuk diperhatikan pada luka bakar, untuk
mempertahankan posisi yang baik selama penderita tidur atau
melawan kontraksi jaringan terutama penderita yang mengalami
kesakitan dan kebingungan.

5. Pemanasan
Pada kontraktur otot dan sendi akibat scar yang disebabkan oleh luka
bakar, ultrasound adalah pemanasan yang paling baik, pemberiannya
selama 10 menit per lapangan. Ultrasound merupakan modalitas
pilihan untuk semua sendi yang tertutup jaringan lunak, baik sendi
kecil maupun sendi besar.

b. Operatif
Tindakan operatif adalah pilihan terakhir apabila pcncegahan
kontraktur dan terapi konservatif tidak memberikan hasil yang
diharapkan, tindakan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa
cara :

1. Z plasty atau S plasty


Indikasi operasi ini apabila kontraktur bersama dengan adanya sayap
dan dengan kulit sekitar yang lunak. Kadang sayap sangat panjang
sehingga memerlukan beberapa Z-plasty.

2. Skin graft
Indikasi skin graft apabila didapat jaringan parut yang sangat lebar.
Kontraktur dilepaskan dengan insisi transversal pada seluruh lapisan
parut, selanjutnya dilakukan eksisi jaringan parut secukupnya.
Sebaiknya dipilih split thickness graft untuk l potongan, karena full
thickness graft sulit. Jahitan harus berhati-hati pada ujung luka dan
akhirnya graft dijahitkan ke ujung-ujung luka yang lain, kemudian
dilakukan balut tekan. Balut diganti pada hari ke 10 dan dilanjutkan
dengan latihan aktif pada minggu ketiga post operasi.

3. Flap
Pada kasus dengan kontraktur yang luas dimana jaringan parutnya
terdiri dari jaringan fibrous yang luas, diperlukan eksisi parsial dari
parut dan mengeluarkan / mengekspos pembuluh darah dan saraf
tanpa ditutupi dengan jaringan lemak, kemudian dilakukan
transplantasi flap untuk menutupi defek tadi. Indikasi lain pemakaian
flap adalah apabila gagal dengan pemakaian cara graft bebas untuk
koreksi kontraktur sebelumnya. Flap dapat dirotasikan dari jaringan
yang dekat ke defek dalam 1 kali kerja.

B. KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Pengkajian Dasar Data Klien
Aktivitas/Istirahat
Gejala : Badan lemah, penurunan kekuatan, tahanan Keterbatasan
rentang gerak pada area yang sakit
Sirkulasi
Tanda : Hipotensi (syok), takikardi
Integritas Ego
Gejala : Adanya faktor stress, perasaan tak berdaya/tak ada harapan
Tanda : Menyangkal, ansietas, ketakutan, dan mudah tersinggung
Eliminasi
Tanda : Penurunan bising usus/tidak ada, Haluan urine menurun/tidak
ada
Makanan/Cairan
Tanda : Anoreksia, mual/muntah
Keamanan
Tanda : Cedera kimia : tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab
Interaksi Sosial
Gejala : Penyuluhan atau pembelajaran
Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik
untuk melaksanakan peran

2. Tujuan
a. Memberikan kenyamanan pada pasien
b. Mencapai penyembuhan tepat waktu.
c. Mengurangi / menghilangkan rasa cemas pasien. Kecemasan pasien
berkurang
d. Memberi Pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan penyakit

3. Diagnosa keperawatan
a. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan
kekuatan/tahanan.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan
kulit.
c. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan tentang
proses/penyembuhan penyakit

4. Intervensi dan Rasional


a. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan
kekuatan/tahanan.
Tujuan:
Menunjukkan perilaku mampu melakukan aktivitas.

Intervensi :
1. Lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, diawali dengan pasif
kemudian aktif.
Rasional : mencegah secara progresif mengencangkan jaringan parut,
kontraktur, meningkatkan pemeliharaan fungsi otot dan sendi dan
menurunkan kehilangan kalsium dan tulang.
2. Instruksikan dan bantu dalam mobilitas, contoh tongkat, walker secara
tepat.
Rasional : meningkatkan keamanan ambulasi.
3. Dorong dukungan dan bantuan keluarga/orang terdekat pada latihan
rentang gerak.
Rasional : memampukan keluarga/orang terdekat untuk aktif dalam
perawatan pasien dan memberikan terapi lebih konstan/konsisten.
4. Masukkan aktivitas sehari-hari dalam terapi fisik, hidroterapi, dan
asuhan keperawatan.
Rasional : komunikasi aktivitas yang menghasilkan perbaikan hasil
dengan meningkatkan efek masing-masing.
5. Dorong partisipasi pasien dalam semua aktivitas sesuai kemampuan
individual.
Rasional : meningkatkan kemandirian, meningkatkan harga diri, dan
membantu proses perbaikan.

b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan


kulit.
Tujuan :
Menunjukkan penyembuhan tepat waktu

Intervensi :
1. Observasi kemerahan, pucat, ekskoriasi.
Rasional : area meningkat resikonya untuk kerusakan dan memerlukan
pengobatan lebih intensif.
2. Evaluasi proses penyembuhan. Kaji ulang harapan terhadap
penyembuhan dengan pasien.
Rasional : penyembuhan mulai dengan segera, tetapi penyembuhan
lengkap memerlukan waktu.
3. Diskusikan pentingnya perubahan posisi sering, perlu untuk
mempertahankan aktivitas.
Rasional : meningkatkan sirkulasi dan perfusi kulit dengan mencegah
tekanan lama pada jaringan.
4. Dorong mandi tiap 2 hari sekali.
Rasional : sering mandi membuat kekeringan kulit
c. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan :
Berkurangnya ansietas ketingkat yang bisa diatasi.

Intervensi :
1. Dorong pasien untuk mengungkapkan kecemasannya, jangan
menyangkal.
Rasional : menurunkan kecemasan. Penyangkalan dapat memperburuk
mekanisme koping.
2. Evaluasi mekanisme koping/pertahanan yang digunakan untuk
berhadapan dengan perasaan ataupun ancaman yang sesungguhnya.
Rasional : mungkin dapat menghadapi situasi dengan baik pada waktu
itu, misalnya penolakan dan regresi mungkin dapat mekanisme koping
untuk waktu tertentu.
3. Anjurkan untuk melakukan pendekatan spiritual.
Rasional : pendekatan spiritual dapat membantu penerimaan pasien
terhadap kondisi yang dialami sehingga mengurangi rasa cemas

d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan tentang


proses/penyembuhan penyakit.
Tujuan :
Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan
pengobatan.
Intervensi :
1. Kaji ulang prognosis dan harapan yang akan datang
Rasional : memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat
pilihan berdasarkan informasi.
2. Diskusikan harapan pasien untuk kembali ke rumah, bekerja, dan
aktivitas normal.
Rasional : pasien sering kali mengalami kesulitan memutuskan pulang.
Masalah sering terjadi (contoh gangguan tidur, kesulitan melakukan
aktivitas) yang mempengaruhi keberhasilan menilai tindakan hidup
normal.
3. Kaji ulang perawatan luka, graft kulit dan luka.Identifikasi sumber yang
tepat untuk perawatan pasien rawat jalan.
Rasional : meningkatkan kemampuan perawatan diri setelah pulang dan
meningkatkan kemandirian.
4. Dorong kesinambungan program latihan dan jadwalkan periode istirahat
Rasional : mempertahankan mobilitas, menurunkan komplikasi, dan
mencegah kelelahan, membantu proses penyembuhan.

5. EVALUASI
a. Klien dapat mempertahankan rentang gerak
b. Klien menunjukan luka sembuh
c. Klien mengungkapkan perasaan lebih santai, Klien memperlihatkan
tenang dan relaks
d. Klien mengungkapkan pemahaman penyakit dan pengobatannya
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kontraktur merupakan suatu keadaan patologis tingkat akhir dari suatu
kontraksi. Umumnya kontraktur terjadi apabila pembentukan sikatrik
berlebihan dari proses penyembuhan luka.
Penyebab utama kontraktur adalah tidak ada atau kurangnya mobilisasi
sendi akibat suatu keadaan antara lain imbalance kekuatan otot, penyakit
neuromuskular, penyakit degenerasi, luka bakar, luka trauma yang luas,
inflamasi, penyakit kongenital, ankilosis dan nyeri
Berdasarkan lokasi dari jaringan yang menyebabkan ketegangan, maka
kontraktur dpt diklasifikasikan menjadi :
a. Kontraktur Dermatogen atau Dermogen
b. Kontraktur Tendogen atau Myogen
c. Kontraktur Arthrogen
Penanganan kontraktur dapat dliakukan secara konservatif dan operatif :
a. Konservatif, meliputi:
- proper positioning
- exercise
- tretching
- splinting/bracing
- pemanasan
b. Operatif, meliputi :
- Z plasty atau S plasty
- Skin Graft
- Flap

B. SARAN
Untuk mencapai suatu keberhasilan yang baik dalam pembuatan makalah
selanjutnya, maka penulis memberikan saran kepada:
1. Mahasiswa
Dalam pengumpulan data, penulis mendapatkan berbagai kesulitan.
Dengan usaha yang sungguh-sungguh, sehingga penulis mendapatkan data
untuk dapat menyelesaikan makalah ini.
2. Pendidikan
Pada Prodi Keperawatan Persahabatan Jakarta, khususnya perpustakaan.
Agar dapat menyediakan buku-buku yang sudah mengalami perubahan-
perubahan yang lebih maju sehingga buku tersebut bukan saja sebagai sumber
ilmu tetapi dapat dijadikan sumber referensi untuk materi makalah.
Khususnya untuk makalah-makalah yang akan dijadikan makalah
selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
http://keperawatan-andhyraans.blogspot.com/2012/04/asuhan-keperawatan-
kontraktur.html (diakses pada tanggal 5 februari 2013)
http://www.fisioterapimakassar.info/klasifikasi-kontraktur.html
(diakses pada tanggal 6 februari 2013)
http://dokterkecil.wordpress.com/2008/10/16/kontraktur/
(diakses pada tanggal 6februari 2013)
http://www.fisioterapimakassar.info/pengertian-kontraktur.html
(diakses pada tanggal 6 februari 2013)
http://www.fisioterapimakassar.info/pencegahan-kontraktur.html
(diakses pada tanggal 7 februari 2013)
http://www.fisioterapimakassar.info/info/pengertian-askep-kontraktur-manus.html
(diakses pada tanggal 7februari 2013)
W.A NewmanDorland.2010.Kamus Kedokteran Dorland.edisi 31.Jakarta:EGC
Nursing.2011.memahami berbagai macam penyakit.Cetakan 2.Jakarta Barat:PT
Indeks

Anda mungkin juga menyukai