Anda di halaman 1dari 12

Penyehatan Tanah dan Pengelolaan Sampah-B

Teknik Minimasi Sampah

Disusun Oleh:

Kelompok 10
1 Ichsan Nugroho (P23133115019)
2 Mutiara Septia Dini (P23133115030)
3 Raissa Nabila (P23133115034)
4 Rizka Septiani Prasiwi (P23133115038)
Tingkat II-D IV Kesehatan Lingkungan

Dosen :
Catur Puspawati,ST., MKM
Tugiyo, SKM, M.Si

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN


JAKARTA II
Jalan Hang Jebat III/F3 KebayoranBaru Jakarta 12120 Telp. 021-7397641,
7397643 Fax. 021-7397769
E-mail :info@poltekkesjkt2.ac.id. Website :http://poltekkesjkt2.ac.id
2017

A. Definisi Tenik Minimasi Sampah


Teknik minimasi sampah adalah pengurangan sampah meliputi kegiatan
pembatasan sampah, pendaur ulang sampah dan pemanfaatan kembali sampah. (UU RI
NO 18/2008).
Minimisasi sampah dan pembuangan adalah bagian terpadu manajemen bahan
berbahaya. Penting untuk menjadi akrab Disetujui oleh Komite Metode Standar. 1994
dengan peraturan federal mengenai penggunaan dan pembuangan bahan berbahaya
sebelum pembelian, penyimpanan, dan digunakan untuk analisis air dan air limbah.
Pengelolaan yang tepat bahan berbahaya akan mengurangi jumlah limbah berbahaya dan
terkait biaya pembuangan.
Minimisasi sampah atau pencegahan polusi di laboratorium adalah pendekatan
yang lebih disukai dalam pengelolaan limbah laboratorium. Minimisasi sampah membuat
arti ekonomi yang baik: itu mengurangi biaya dan kewajiban baik yang terkait dengan
pembuangan sampah. Generator limbah berbahaya itu juga merupakan persyaratan
peraturan.
Metode minimisasi sampah mencakup pengurangan sumber, daur ulang plastik,
dan reklamasi. " Pengolahan sampah yang juga dapat dianggap sebagai bentuk
minimisasi sampah, yang dibahas dalam 11.000.
Sumber pengurangan dapat dicapai melalui pembelian dan penggunaan bahan
kimia dalam jumlah yang lebih kecil.. Komersial laboratorium dan kimia pengguna pada
umumnya dapat kembali sampel atau bahan kimia yang belum dibuka untuk pengirim
atau pemasok untuk daur ulang atau pembuangan. Banyak pemasok akan menerima
kontainer bahan kimia yang belum dibuka.

B. Pengertian Incenerasi
Insinerasi atau pembakaran sampah (bahasa Inggris: incineration)
adalah teknologi pengolahan sampah yang melibatkan pembakaran bahan organik.
Insinerasi dan pengolahan sampah bertemperatur tinggi lainnya didefinisikan
sebagai pengolahan termal. Insinerasi material sampah
mengubah sampah menjadi abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat, dan panas. Gas
yang dihasilkan harus dibersihkan dari polutan sebelum dilepas ke atmosfer. Panas yang
dihasilkan bisa dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik.

1 Teknik Minimasi Sampah PTPS-B


Insinerasi dengan energy
recovery adalah salah satu teknologi sampah-ke-energi (waste-to-energy, WtE).
Teknologi WtE lainnya adalah gasifikasi, pirolisis, dan fermentasi anaerobik. Insinerasi
juga bisa dilakukan tanpa energy recovery. Insinerator yang dibangun beberapa puluh
tahun lalu tidak memiliki fasilitas pemisahan material berbahaya dan fasilitas daur ulang.
Insinerator ini dapat menyebabkan bahaya kesehatan terhadap pekerja insinerator dan
lingkungan sekitar karena tingginya gas berbahaya dari proses pembakaran. Kebanyakan
insinerator jenis ini juga tidak menghasilkan energi listrik.

Insinerator mengurangi volume sampah hingga 95-96%, tergantung komposisi


dan derajat recovery sampah. Ini berarti insinerasi tidak sepenuhnya mengganti
penggunaan lahan sebagai area pembuangan akhir, tetapi insinerasi mengurangi volume
sampah yang dibuang dalam jumlah yang signifikan.

Insinerasi memiliki banyak manfaat untuk mengolah berbagai jenis sampah


seperti sampah medis dan beberapa jenis sampah berbahaya di mana patogen dan racun
kimia bisa hancur dengan temperatur tinggi.

Insinerasi sangat populer di beberapa negara seperti Jepang di mana lahan


merupakan sumber daya yang sangat langka. Denmarkdan Swedia telah menjadi pionir
dalam menggunakan panas dari insinerasi untuk menghasilkan energi. DI tahun 2005,
insinerasi sampah menghasilkan 4,8% energi listrik dan 13,7% panas yang dikonsumsi
negara itu. Beberapa negara lain di Eropa yang mengandalkan insinerasi sebagai
pengolahan sampah adalah Luksemburg, Belanda, Jerman, dan Perancis.

2 Teknik Minimasi Sampah PTPS-B


C. Dampak Positif dan Negatif Incenerasi
1. Dampak Positif

a. Kekhawatiran masalah kesehatan mengenai emisi dioksin dan furan telah jauh
berkurang seiring adanya kontrol emisi yang telah jauh mengurangi jumlah emisi
dioksin dan furan.

b. Fasilitas insinerasi dapat menghasilkan energi listrik dan panas dan bisa
menggantikan pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil dan distributor
pemanas di negara beriklim sedang dan dingin.

c. Residu abu padat yang tersisa setelah pembakaran telah diketahui tidak berbahaya
dan bisa dibuang dengan aman di lahan pembuangan.

d. Di lokasi berpopulasi padat, mencari lahan pembuangan sampah amatlah sulit


sehingga insinerasi menjadi jalan terbaik dalam menangani sampah.

e. Partikel halus bisa secara efisien dihilangkan dengan baghouse filter.

f. Insinerasi sampah padat dapat mencegah terbentuknya gas metana yang


merupakan gas rumah kaca. Meski insinerasi menghasilkan gas karbon dioksida,
namun gas metana merupakan gas yang memiliki efek rumah kaca yang tinggi
daripada karbon dioksida.

g. Insinerasi sampah medis dan sampah sisa metabolisme manusia menghasilkan


sisa pembakaran (abu) yang steril dan cukup aman bagi lingkungan dan kesehatan
selama ditangani dengan baik.

h. Volume sampah yang dibakar berkurang hingga sekitar 90%, sehingga banyak
mengurangi penggunaan lahan untuk pembuangan sampah akhir.

2. Dampak Negatif

3 Teknik Minimasi Sampah PTPS-B


a. Abu ringan (fly ash) menjadi kekhawatiran penduduk lokal karena mengandung
logam berat dan efeknya yang amat berbahaya bagi kesehatan.

b. Masih terdapat kekhawatiran mengenai emisi dioksin dan furan terutama dari
insinerator tua.

c. Insinerator mengemisikan logam berat


seperti vanadium, mangan, krom, nikel, arsenik, merkuri, timbal, dan kadmium.

d. Terdapat alternatif teknologi selain insinerator, yaitu Mechanical Biological


Treatment / Anaerobic Digestion (MBT/AD), Mechanical Heat
Treatment (MHT), Autoclaving, atau kombinasi dari semuanya.

e. Pengurangan sampah, penggunaan kembali, dan daur ulang harus diprioritaskan


sesuai dengan tujuan hierarki sampah ketimbang insinerasi yang seolah
memberikan lampu hijau bagi pembuangan sampah.

f. Di beberapa negara, desain bangunan insinerator sangat buruk dan merusak


keindahan kota.

D. Macam-macam Incenerator
1. Piringan Bergerak (Moving Grate)

(Sampah padat sedang dibakar di atas piringan bergerak)


Salah satu jenis insinerator adalah piringan bergerak (moving grate).
Insinerator jenis ini memungkinkan pemindahan sampah ke ruang pembakaran dan
memindahkan sisa hasil pembakaran tanpa mematikan api. Satu wadah piringan

4 Teknik Minimasi Sampah PTPS-B


bergerak dapat membakar 35 metrik ton sampah perjam. Jenis insinerator ini dapat
bergerak ribuan jam pertahun dengan hanya satu kali berhenti, yaitu pada saat
inspeksi dan perawatan.
Sampah diintroduksi ke "mulut" insinerator, dan pada lubang di ujung lainnya
sisa hasil pembakaran dikeluarkan. Udara yang dipakai dalam proses pembakaran
disuplai melalui celah piringan. Aliran udara ini juga bertujuan untuk mendinginkan
piringan tersebut. Beberapa jenis insinerator piringan bergerak juga memiliki sistem
air pendingin di dalamnya.
Suplai udara pembakaran sekunder dilakukan dengan memompa udara
menuju bagian atas piringan. Jika dilakukan dengan kecepatan tinggi, hal ini dapat
memicu turbulensi yang memastikan terjadinya pembakaran yang lebih baik dan
surplus oksigen. Turbulensi ini juga penting untuk pengolahan gas sisa hasil
pembakaran sampah.
Fasilitas insinerasi harus didesain untuk memastikan bahwa gas sisa hasil
pembakaran mencapai temperatur 850 oC selama dua detik untuk memecah racun
kimia organik. Untuk lebih memastikan hal tersebut, biasanya diperlengkapi dengan
pembakar yang pada umumnya memakai bahan bakar minyak, yang lalu dibakar ke
insinerasi untuk mendapatkan panas yang memadai.
Gas sisa hasil pembakaran lalu didinginkan. Panas yang ada ditransfer
menjadi uap dengan memaparkannya pada sistem pompa air. Uap ini lalu digunakan
untuk menggerakkan turbin. Gas yang telah melalui pendinginan dipompakan ke
fasilitas sistem pembersihan.
Ini adalah tipe pertama dari salah satu jenis mesin incinerator , disebut
piringan bergerak karena adanya sebuah komponen mesin di dalamnya yang berputar
, tanpa menghidupkan dan mematikan mesin sehingga mesin akan hidup terus
menerus , di dalamnya ada semacam conveyor. Limbah dimasukkan melalui pintu
depan di ujung pintu tadi sudah ada conveyor , sehingga sampah-sampah tadi di bawa
kedalam . disaat perjalanan menuju ke belakang sampah-sampah tadi di bakar , dan
begitu sampai si pintu belakang sampah sudah jadi debu . kemudian debu yang yang
jatuh diambil di pintu belakang. Untuk jenis ini memerlukan ruang bangunan dan
tanah yang luas.

5 Teknik Minimasi Sampah PTPS-B


2. Piringan Tetap (Fixed Grate)
Ini adalah tipe yang lebih tua dan sederhana. Piringan tetap yang tidak
bergerak berada di bagian bawah insinerator dengan bukaan pada bagian atas atau
samping untuk memasukan sampah dan bukaan lainnya untuk memindahkan bahan
yang tidak terbakar (abu, logam, dan sebagainya).
Ini adalah juga salah satu jenis incinerator tetap yang banyak digunakan untuk
skala komersil dan rumah tangga, mengingat bentuknya yang kecil dan mudah
perawatan, selain itu juga harganya juga relatif murah, dinamakan piringan tetap
sebab tidak ada bagian mesin incinerator yang bergerak, sehingga untuk memasukkan
sampah yang akan dibakar maupun untuk mengambil abu hasil pembakaran
dilakukan lewat satu pintu saja.

3. Rotary Klin

6 Teknik Minimasi Sampah PTPS-B


Merupakan sistem pembakaran yang berbentuk silinder ( tabung ) dimana api sebagai
pembakar di semprotkan dari salah satu ujung dan berputar untuk membakar sampah.

4. Fulidized bed

E. Tata Cara Pengoperasiolanan Incenerator


Gambar di bawah ini menunjukkan diagram dari insinerator tipe siklon vertikal
dengan perangkat lengan berputar untuk memperbaiki sistem pembakaran dan
menghapus abu dan kayu bakar bukan dari permukaan.

7 Teknik Minimasi Sampah PTPS-B


Suatu burner lumpur ditempatkan dalam insinerator untuk membakar dan
membuang kotoran, lumpur dan minyak limbah. Sebuah burner minyak tambahan juga
dipasang untuk menyalakan menolak. Otomatis kontrol disediakan untuk sistem yang
aman penyala ketika menolak mulai menyala tanpa memerlukan penyala tersebut.
Pembakaran udara diberikan dengan bantuan fan forced draft.
Sebuah pintu memuat, pneumatis yang dioperasikan, ini disediakan untuk memuat
yang menolak. Sebuah pengunci juga dilengkapi dengan burner dan kipas forced draft,
yang perjalanan ketika pintu beban dalam kondisi terbuka sebagai bagian dari
keselamatan.

Setelah selesainya proses insinerasi, insinerator yang memungkinkan untuk


mendinginkan serta residu seperti abu dan bukan bahan yang mudah menyala dikeluarkan

8 Teknik Minimasi Sampah PTPS-B


dengan menarik pintu slide kadar abu. Gesekan yang memutar arm dari residu padat
keseluruhan di dalam kotak abu yang bisa dengan mudah di dibuang.
Selama insinerasi sangat penting untuk mengendalikan suhu gas buang, dimana
tidak harus sangat tinggi atau terlalu rendah. Suhu yang tinggi dapat menyebabkan logam
mencair dan dapat menyebabkan kerusakan pada mesin, sedangkan suhu terlalu rendah
tidak akan dapat membakar residu dan mensterilkan dan menghilangkan bau dari residu.
Temperatur kontrol ini dapat dicapai dengan memasukkan udara dingin-
diencerkan dalam aliran gas buang pada titik yang dekat dengan debit insinerator.

DAFTAR PUSTAKA
http://beritakesling.blogspot.co.id/2009/04/teknik-minimasi-sampah.html
http://tlundip.blogspot.co.id/2010/12/minimasi-sampah.html

9 Teknik Minimasi Sampah PTPS-B


https://id.wikipedia.org/wiki/Insinerasi
http://jualincineratorrumahsakit.blogspot.co.id/2016/06/jenis-jenis-mesin-incinerator.html
http://www.maritimeworld.web.id/2011/03/konstruksi-dan-kerja-incinerator-limbah.html

PERTANYAAN
1. Tenik pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan sampah, pendaur ulang sampah
dan pemanfaatan kembali sampah. Merupakan definisi dari
a. Reduce
b. Reuse
c. Recycle
d. Teknik pengelolaan sampah
e. Tenik minimasi sampah
2. Yang bukan merupakan dampak negatif dari penggunaan insenerator adalah

a. Abu ringan (fly ash) menjadi kekhawatiran penduduk lokal karena mengandung
logam berat dan efeknya yang amat berbahaya bagi kesehatan.

b. Masih terdapat kekhawatiran mengenai emisi dioksin dan furan terutama dari
insinerator tua.

c. Fasilitas insinerasi dapat menghasilkan energi listrik dan panas dan bisa
menggantikan pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil dan distributor
pemanas di negara beriklim sedang dan dingin.

d. Insinerator mengemisikan logam berat


seperti vanadium, mangan, krom, nikel, arsenik, merkuri, timbal, dan kadmium.

e. Terdapat alternatif teknologi selain insinerator, yaitu Mechanical Biological


Treatment / Anaerobic Digestion (MBT/AD), Mechanical Heat
Treatment (MHT), Autoclaving, atau kombinasi dari semuanya.

3. Di bawah ini meupakan beberapa jenis dari insenerator, kecuali


a. Fulidized bed
b. Rotary Klin
c. Piringan Tetap
d. Piringan Baja

10 Teknik Minimasi Sampah PTPS-B


e. Piringan Berputar

11 Teknik Minimasi Sampah PTPS-B