Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Kepemimpinan atau leadership adalah suatu cara untuk mempengaruhi
dan memotivasi oranglain, bawahan atau kelompok untuk saling bekerjasama
dalam upaya mencapai suatu tujuan bersama tanpa adanya unsur paksaan.
Kepemimpinan sangat penting dalam suatu organisasi, karena kepemimpinan
merupakan faktor kunci dalam suksesnya suatu organisasi atau manajemen.
Kepemimpinan itu ada di dalam diri pemimpin. Suatu organisasi akan menjadi
buta dan tidak memiliki arah jika tidak ada unsur kepemimpinan dalam organisasi
tersebut.
Sebenarnya proses seseorang terlibat dalam sebuah Teamwork (kerjasama
dalam tim) bisa menghasilkan kualitas bakat untuk kriteria-kriteria yang
diharapkan dari calon-calon pemimpin (Leader). Karena, proses teamwork
tersebut pada dasarnya terdapat unsur-unsur komunikasi, diskusi, solusi, ide,
pemikiran, serta pemecahan masalah yang nantinya akan sangat diperlukan dalam
sebuah kerjasama (Teamwork). Leadership atau kepemimpinan pada dasarnya
dapat dibentuk dan dilatih sejak usia dini, agar pada saatnya nanti ketika
menghadapi beberapa permasalahan akan mudah menemukan solusi beberapa
alernatif penyelesaian masalah tersebut.
Kecerdasan emosional (EQ) menurut Goleman merupakan seperangkat
kemampuan yang dimiliki oleh manusia seperti kemampuan untuk memotivasi
diri sendiri, dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan
tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar
beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa.
Mereka yang memiliki kecerdasan emosional mampu untuk mengelola emosi
yang dimilikinya dengan baik. Mereka ini tidak mengenal putus asa, karena
mereka memiliki kemampuan untuk memotivasi diri mereka. Mereka mampu
mengelola emosi dalam pergaulan, termasuk di dalamnya rasa empati yang tinggi
terhadap penderitaan orang lain.

1
kecerdasan emosional dua kali lebih penting dari pada kecerdasan
intelektual. Hal ini juga berlaku bagi kepemimpinan dalam manajemen. Seorang
pemimpin yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, mempunyai
perencanaan yang bagus, visioner, namun tidak cakap dalam mengelola emosi,
tidak ada artinya. Untuk itu, dalam tulisan kali ini, penulis akan mencoba untuk
mengemukakan tentang kepemimpinan yang berdasarkan kecerdasan emosi.
Pendekatan seperti ini biasa juga disebut sebagai Resonant Leadership
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan resonan?
2. Apa indikator dalam kepemimpinan resonan?
3. Apakah kepemimpinan resonansi dilahirkan atau diciptakan/hasil
pembelajaran?
4. Apa sifat-sifat kepemimpinan resonan?
5. Bagaimana cara meningkatkan keterampilan kepemimpinan
resonan?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kepemimpinan resonan
2. Mengetahui apa saja indicator dalam kepemimpinan resonan
3. Mengetahui apakah bisa menjadi menjadi pemimpin dengan gaya
kepemimpinan resonan
4. Mengetahui sifat-sifat kepemimpinan resonan
5. Mengetahui cara meningkatkan keterampilan kepemimpinan
resonan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kepemimpinan Resonansi


Kata resonansi (resonance) berasal dari bahasa latin resonare yang artinya
menggemakan, sedangkan menurut Oxford English
Dictionary arti resonance adalah penguatan atau pemanjangan suara melalui
pemantulan atau melalui getaran yang selaras. Resonansi dalam ilmu fisika
diartikan sebagai peristiwa bergetarnya suatu benda karena getaran benda lain.
Artinya ada kesamaan antara kedua benda tersebut, yaitu sama-sama bergetar.
Hubungannya dengan kepemimpinan, resonansi yang dimaksud disini adalah
bagaimana pemimpin mampu merasakan juga apa yang dirasakan oleh
pengikutnya/bawahnnya. Pemimpin resonansi mampu memahami dan berempati
terhadap apa yang dirasakan oleh bawahannya.
Resonansi adalah kapasitas untuk melakukan sinkronisasi satu sama lain;
Oleh karena itu, kepemimpinan resonan adalah kapasitas untuk disesuaikan
dengan kebutuhan tim manusia. Menurut psikolog dan penulis buku terlaris David
Coleman, ketika berbicara tentang manajer puncak, kecerdasan emosional (EQ)
dua kali lebih penting daripada keterampilan + IQ. Pemimpin yang resonan
memiliki tingkat EQ yang lebih tinggi dan kemampuan yang lebih banyak untuk
menghubungkan diri mereka dengan tim mereka. Mereka lebih dipercaya oleh
karyawan mereka karena mereka menunjukkan empati pada saat terjadi masalah,
tantangan, dan krisis pribadi. Mereka menciptakan harmoni dalam sebuah
kelompok dan memotivasi pekerja untuk mengikuti sebuah penglihatan, bahkan
ketika situasinya tegang
Resonant leadership mempengaruhi diri anda dan berhubungan dengan
orang lain melalui kesadaran, harapan, dan kepedulian. Resonant leader adalah
pria maupun wanita yang memimpin dengan penuh gairah dalam mencapai tujuan
tujuan mereka. Pemimpin hebat membangun hubungan yang harmonis dengan
orangorang di sekitar mereka. Kunci untuk membangun hubungan yang
harmonis adalah dengan kecerdasan emosional. Selain itu, seorang resonant

3
leader memetakan arah menuju wilayah yang belum dikenal dan memberikan
inspirasi kepada orangorang yang ada dalam organisasi, lembaga dan
masyarakat. Mereka mencari berbagai peluang baru ditengahtengah berbagai
tantangan yang ada saat ini, memberikan secercah harapan ketika dihadapkan
pada rasa takut dan keputusasaan. Para pemimpin jenis ini mampu menggerakkan
orangorang di kelompoknya dengan penuh kekuatan, gairah, dan ketegasan.
Mereka melakukannya sembari mengelola pengorbanan yang tidak bisa dihindari,
yang sudah melekat dalam peran mereka. Mereka mendedikasikan diri mereka
untuk tujuan yang mulia, namun mereka juga peduli pada diri mereka, dengan
terus terlibat dalam upaya pembaruan diri supaya mereka tetap bisa beresonansi
sepanjang waktu.
Resonansi adalah energi kolektif yang kuat yang bergema di antara
orang-orang dan mendukung produktivitas yang lebih tinggi, kreativitas, rasa
persatuan, rasa tujuan, dan hasil. Resonansi berasal dari kemampuan kita untuk
menggunakan sistem kognitif dan biologis kita sendiri untuk menguasai
keterampilan kesadaran diri, kesadaran orang lain, empati, dan kecerdasan
emosional. Pemimpin resonan menggunakan keterampilan kecerdasan emosional
dan sosial untuk memperbarui diri, menciptakan hubungan yang positif, dan
menumbuhkan, lingkungan hidup yang sehat untuk melibatkan orang lain untuk
mencapai tujuan bersama. Mereka melakukan hal ini melalui kesadaran, harapan
dan kasih saying, yaitu:
1. Kesadaran: Kesadaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh,
pikiran, hati, dan jiwa, dengan memperhatikan apa yang terjadi di sekitar
Anda.
2. Harapan: Memetakan suatu tindakan pada tujuan yang diartikulasikan
secara jelas, percaya tujuan dapat dipenuhi dan akhirnya mencapai mereka
dengan rasa kesejahteraan .
3. Compassion: Belas kasihan adalah empati dalam tindakan, bukan hanya
peduli, tetapi membantu orang lain untuk menemukan mimpi mereka dan
membantu untuk mencapainya.
Pemimpin resonan mengelola emosi negatif, melakukan dengan hati-
hati, sadar dan tepat. Pemimpin seperti ini memancarkan emosi yang menular dan

4
mempengaruhi semua di sekitar mereka. Para pemimpin ini secara sadar
menyesuaikan diri dengan orang-orang, fokus mereka pada penyebab umum,
membangun rasa kebersamaan, dan menciptakan iklim yang merilis gairah rakyat,
energi, dan semangat bersatu. Mereka mampu tetap tenang dan tetap fokus untuk
mengelola diri mereka sendiri dan orang lain secara efektif di bawah tekanan atau
ketika berhadapan dengan situasi ambigu.
Pemimpin resonan juga memfasilitasi pemberdayaan, bertindak dengan
cara yang meninggalkan orang-orang di sekitar mereka (rekan, anggota tim,
karyawan, pemasok, anggota masyarakat, dll) merasa lebih kuat dan lebih mampu.
Mereka mendorong partisipasi dan kerja sama tim dengan tetap intens
berhubungan dengan apa yang mereka memimpin berpikir dan merasa untuk
memotivasi dan memberikan energi. Resonan lingkungan kerja dukungan
kesehatan dan kesejahteraan, mendorong kolaborasi dan inovasi, terlibat dan
memotivasi karyawan, dan akhirnya menyebabkan peningkatan kinerja secara
keseluruhan.

B. 5 Alasan Mengapa Kepemimpinan Resonan Bekerja Dalam Jangka


Panjang
Pemimpin yang resonan adalah seseorang yang mampu membujuk
karyawan bahwa tujuan organisasi juga merupakan tujuan mereka dan bahwa
kesuksesan perusahaan adalah cerminan dari perasaan mereka terhadap sesuatu
yang lebih besar dan lebih ekspansif daripada apa pun yang dapat mereka capai
pada mereka sendiri. Dengan kata lain, seorang pemimpin yang resonan
mengilhami orang-orang di dalam organisasi untuk mengupayakan sesuatu yang
lebih besar daripada diri mereka sendiri.
Memiliki visi yang jelas, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana
Anda mengkomunikasikannya kepada karyawan dan klien Anda. Tujuannya,
menurut Goleman dan Bunker adalah seakurat mungkin dalam komunikasi Anda,
sehingga mendapatkan dampak terbesar dengan pesan Anda. Jika Anda masih
bertanya mengapa Anda harus tulus, mungkin akan sangat membantu jika melihat
tingkat turnover karyawan Anda. Jika Anda memiliki retensi karyawan yang baik

5
dan mendapati bahwa Anda dapat membantu tim Anda bekerja melalui penolakan
terhadap perubahan, jika umpan balik Anda diterima dengan baik dan Anda tidak
memiliki masalah dalam mengkomunikasikan visi Anda ke perusahaan Anda,
maka mungkin Anda sudah menjadi pemimpin yang resonan. Perlu lebih baik
pada mereka, maka perlu bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan ini:
1. Apa yang mengilhami saya tentang apa yang saya lakukan? Bagaimana
cara berbagi inspirasi dengan karyawan dan klien saya?
2. Seberapa jujur dan terbuka saya tentang kelemahan dan kekuatan saya saat
berbicara dengan klien dan karyawan saya?
3. Apakah saya mendengarkan?
Jika jawaban untuk ketiganya adalah "Saya tidak tahu" maka Anda memiliki
kesempatan bagus untuk menjadi pemimpin yang lebih resonan dan berpengaruh.
Unsur dasar komunikasi adalah bahwa Anda harus mengungkapkan
kepada audiens Anda apa yang Anda inginkan dipantulkan kembali kepada Anda.
Jika Anda ingin karyawan Anda lebih terbuka dan fleksibel, tanyakan pada diri
Anda apakah Anda bersikap terbuka dan fleksibel saat berkomunikasi dengan
mereka. Jika Anda ingin mereka mendengarkan dan mengambil alih kepemilikan
proyek, tanyakan pada diri Anda apakah Anda mendengarkan mereka dan
memberi mereka ruang untuk menganggapnya sebagai milik mereka sendiri.
Mengetahui kekuatan dan kelemahan Anda dan bisa berbicara tentang
mereka memberi orang lain izin untuk memiliki milik mereka sendiri. Hal terakhir
yang Anda inginkan adalah seseorang yang berbohong tentang bersikap baik
terhadap sesuatu jika ada orang lain yang bisa melakukannya dengan lebih baik.
Jika setiap orang harus pandai dalam segala hal, maka tidak akan ada kebutuhan
untuk sebuah tim.
Mendengarkan. Tidak ada yang membuka orang lebih dari keyakinan
bahwa gagasan dan pendapat mereka didengar. Anda tidak perlu memanjakan
setiap keinginan, tapi memberi orang kesempatan untuk berbagi di mana mereka
berada dalam sebuah proyek atau dalam transisi sangat penting untuk melepaskan
tekanan yang melekat dalam situasi yang penuh tekanan. Pemimpin yang
berempati pada saat-saat ini dapat melakukan hal-hal menakjubkan untuk sebuah
kelompok yang mencoba membuat perubahan besar. Analisis kepemimpinan

6
resonan bekerja dalam jangka panjang, dan mengapa gaya kepemimpinan ini lebih
efisien:
1. Pemimpin resonan mencegah kelelahan
Kita merasa terbakar saat kita lelah, sinis, dan tidak efisien saat
bekerja. Terkadang hal itu terjadi karena kita tidak didengar, lain kali
karena kita telah bekerja terlalu keras dan belum dikenali, dan terkadang
hal itu terjadi karena terlalu banyak perubahan dan kita tidak bisa
mengatasinya lagi. Pemimpin yang resonan akan mencegah kelelahan
dengan membangun lingkungan kerja yang positif.
Bagaimana? Menurut Richard Boyatzis dan Annie McKee dalam
buku Resonant Leadership, seorang pemimpin yang efektif akan
menciptakan hubungan yang resonan melalui perhatian, harapan, dan kasih
sayang.
Mari kita lihat bagaimana konsep-konsep ini mempengaruhi gaya
kepemimpinan:
a. Perhatian: Pengaturan emosi akan membantu menghindari
kelelahan. Pemimpin akan melihat masalah, masalah, dan
tantangan proyek dari perspektif yang tenang dan menerima. Rasa
ketenangan ini akan dirasakan oleh anggota tim dan diadopsi. Ini
tidak berarti bahwa pemimpin tidak akan bereaksi; Dia akan
bereaksi dari posisi yang sangat mantap dan kuat.
b. Welas asih: Berlatih mendengarkan dan berbicara secara aktif dari
hati. Pemimpin tidak hanya akan melatih empati tapi juga akan
peduli, jadi anggota tim merasa seperti bagian dari tim. Lelah dan
kesepian terkadang digabungkan bersama; Jika anggota tim merasa
bahwa manajer mereka benar-benar memahaminya, kemungkinan
akan berkurang kemungkinan pemadaman.
c. Harapan: Pemimpin akan, terus-menerus dan kreatif, mengingatkan
kita akan makna pekerjaan kita. Jika kita memiliki gagasan yang
sangat jelas tentang mengapa pekerjaan kita penting, kelelahan
tidak akan ada kemungkinan.
2. Tim lebih termotivasi

7
Motivasi nomor satu, yang bertahan sepanjang tahun, adalah berbagi
visi organisasi. Pemimpin yang resonan membantu kita memahami tujuan
dari apa yang kita lakukan, dan mereka terus mengingatkan anggota tim
mengapa mereka penting dalam mencapai visi perusahaan atau tim.
Pengulangan rutin mengapa kita berada di sana, mengapa organisasi
diciptakan, dan bagaimana hal itu membantu orang lain membawa makna
yang lebih tinggi dan harapan kepada anggota tim.
Pemimpin yang efektif menggunakan konteks ini untuk
meningkatkan motivasi dan membuat karyawan berkembang di dalamnya.
Pemimpin yang efektif akan cerdas secara emosional, sadar, dan sadar
sehingga dia dapat memahami emosi yang menyebar dalam tim dan
mengerjakannya. Kita harus ingat bahwa emosi, baik positif maupun
negatif, menular. Ketika seorang pemimpin benar-benar termotivasi, tim
juga akan termotivasi saat emosi ini menyebar dengan cepat. Studi
neurologis menunjukkan bahwa penularan ini menyebar dalam milidetik,
dan juga tidak sadar.
3. Tim lebih berkomitmen
Pemimpin resonan bersifat empati, pengertian, dan mereka sangat
peduli terhadap orang lain. Pikirkan tentang hidup Anda: ketika seseorang
menunjukkan bahwa mereka benar-benar peduli dengan Anda, bagaimana
reaksi Anda? Yaitu dengan memberi mereka yang terbaik. Apa yang terjadi
saat Anda merasa seperti bagian dari kelompok atau tim yang Anda sukai?
Bagaimana reaksi anda? Anda mencoba untuk tidak membiarkan mereka
turun. Inilah sebabnya, dengan menunjukkan kepedulian dan
mempromosikan identitas tim, perusahaan dengan pemimpin resonan lebih
banyak berkomitmen terhadap misi dan tujuan organisasi.
Karyawan yang tegang dan takut bisa sangat produktif dalam jangka
pendek, namun hasilnya tidak akan bertahan lama. Ketika seorang
pemimpin menciptakan lingkungan yang mempromosikan empati, di mana
emosi dikelola dengan baik, orang memiliki kesadaran diri, dan
keterampilan sosial dipeluk, tim merasa percaya dan merasa nyaman
mengambil risiko dan pembelajaran yang sehat berkembang. Di sisi lain,

8
ketika kecerdasan emosional tidak digunakan, anggota tim merasa takut
dan cemas; Dua konsep yang bertentangan dengan gagasan komitmen,
keberlanjutan, dan efisiensi.
4. Pemimpin yang resonan mendapat respon yang lebih baik selama masa-
masa sulit
Berlawanan dengan apa yang mungkin diyakini beberapa orang,
ketika ada PHK dan perubahan dalam sebuah organisasi, tim dengan
pemimpin resonan merespons dengan lebih baik dan kurang ditekankan
oleh perubahan tersebut. Seorang pemimpin berempati, tulus, asli, dan
bertindak dengan integritas, anggota tim akan menyadari transparansi dan
nilai itu.
Mereka akan merasa dekat dengan orang itu dan menghadapi
perubahan bersama. Di tempat kerja, mirip dengan persahabatan, ketika
seseorang berada di sana selama masa sulit, Anda menciptakan ikatan
dengan orang itu dan Anda akan selalu menemaninya. Inilah sebabnya
mengapa pemimpin resonan memiliki tingkat turnover yang lebih rendah,
dan tim mereka tampil lebih baik.
5. Pemimpin resonan membangun tim yang berkelanjutan
Pemimpin resonan cenderung menginspirasi orang lain dengan
menciptakan dan mempertahankan resonansi. Sebagian besar waktu, saat
Anda meninggalkan pertemuan dengan pemimpin yang efisien, Anda
merasa dituntut, senang, dan terinspirasi. Manajer juga merasa terpenuhi
dan diakui dari percakapan itu, sehingga memasuki lingkaran motivasi dan
kepuasan tanpa henti yang akan mengarah pada tim yang berkelanjutan.
Pemimpin merasa stres dan kelelahan, jika dia telah melakukan pekerjaan
dengan baik di masa lalu, energi dari tim akan kembali kepadanya.
C. Menjadi Pemimpin yang Resonan
Pertanyaan tentang apakah orang lahir dengan tingkat empati tertentu
atau apakah mereka mempelajarinya? Jawabannya adalah keduanya benar.
Memang ada unsur genetik pada kecerdasan emosi, tetapi pembelajaran dan
penumbuhan juga mempunyai peran besar. Meskipun tingkat awal kemampuan
alami masing-masing orang berbeda-beda, tetapi setiap orang bisa belajar untuk

9
meningkatkannya, terlepas dari titik manapun ia memulai. Persoalannya hanyalah
sekedar membangun keterampilan yang sudah dimiliki seseorang
Kemampuan menjadi pemimpin resonan bukanlah sesuatu yang Anda
dilahirkan. Ini adalah sesuatu yang harus kita pelajari dan praktikkan selama
bertahun-tahun; Ini adalah gaya kepemimpinan yang bisa dilatih dan diperoleh
melalui kesadaran.Kecerdasan emosional tidak memiliki jenis kelamin. EQ diukur
dengan berbagai faktor termasuk kesadaran diri, kemampuan untuk mengelola
emosi, inovasi, empati, dan keterampilan sosial Anda, dan sejauh ini, penelitian
menunjukkan bahwa pria dan wanita berada dalam rentang EQ yang sangat mirip.
Pemimpin dilahirkan sebagai pemimpin karena mereka mendapatkan
kekuatan kepemimpinan dengan mudah dan hampir tidak kasat mata, tetapi
keduanya tidak lahir sebagai orang yang tahu bagaimana caranya memimpin tim
atau mengembangkan kekuatan pada diri orang lain.
Merekamempelajarinya.Penelitian menunjukkan bahwa para pemimpin besar
diciptakansecara bertahap, sepanjang perjalanan hidup dan kariernya, mereka
mendapatkan kompetensi-kompetensi yang menjadikan mereka sangat efektif.
Kompetensi bisa dipelajari oleh setiap pemimpin, pada setiap saat dari hidup dan
kariernya.
D. Sifat Kepemimpinan Resonan
Kepemimpinan yang resonan tidak hanya mempromosikan hubungan
positif, tapi juga mendorong produktivitas dan meningkatkan keterlibatan
karyawan. Berikut adalah lima kualitas utama untuk membantu mengembangkan
resonansi dalam gaya kepemimpinan Anda.
1. Kesadaran diri
Penting untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan Anda, dan motif
Anda untuk mendorong kemajuan di tempat kerja memiliki niat yang
benar. Pemimpin sadar diri jujur tentang keterbatasan mereka, tapi hindari
bersikap kritis atau terlalu optimis. Mereka tahu bagaimana mereka
menemukan dan bertujuan untuk membangun hubungan yang tulus yang
dibangun di atas keterbukaan dan kepercayaan.
2. Keaslian

10
Menurut pebisnis dan penulis, Bill George, karisma, citra dan gaya
telah ada "Diganti dengan karakter, kerendahan hati, dan pelayanan".
Persepsi kepemimpinan telah berubah, dan orang tidak lagi membeli
gambar kemahatahuan. Karyawan terhubung dengan pemimpin yang
menunjukkan sisi kemanusiaannya dan tidak takut menunjukkan bahwa
mereka memiliki kelemahan serta kekuatan mereka.
3. Empati
Menurut Goleman, empati memiliki tiga komponen:
a. empati kognitif', yang hanya memiliki kesadaran akan bagaimana
perasaan orang.
b. empati emosional, saat kita merasakan perasaan apa yang sedang
dialami seseorang.
c. Perhatian empati, di mana kita dipindahkan untuk membantu orang
lain bila dibutuhkan.
Mampu terhubung secara emosional dengan orang lain sangat resonan,
karena hal itu memungkinkan orang tahu bahwa Anda memahaminya dan
peduli terhadap kesejahteraan mereka.
4. Manajemen hubungan
Kita memberi pengaruh positif pada orang lain, membantu mereka
untuk berkembang, mengelola konflik dan perubahan secara efektif, serta
membangun kerja tim dan membangun ikatan. Kita semua berkembang
dengan koneksi yang sehat dan karena itu anggota tim akan lebih
cenderung merespons pemimpin yang mampu memelihara hubungan yang
berharga dengan orang lain.
5. Kesadaran sosial
Serta menjalin hubungan dengan orang lain, pemimpin resonan sadar
akan bagaimana organisasi mereka berfungsi dan mampu memenuhi
kebutuhan klien atau mitra mereka. Mereka melakukan ini dengan
menyesuaikan diri dengan perasaan orang, yang memungkinkan mereka
mengatakan dan melakukan hal yang benar pada saat yang tepat untuk
meredakan frustrasi dan menawarkan ketenangan yang menenangkan.

E. Indikator Kepemimpinan Resonan

11
Seberapa baik pemimpin mengelola dan mengarahkan perasaan-perasaan
bawahannya, tergantung kepada tingkat kecerdasan emosinya. Bagi pemimpin
yang cerdas secara emosi, resonansi akan terjadi secara alamiah. Untuk itu, ada 4
kopentensi dasar yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin resonan ini:
1. Kesadaran Diri
Kesadaran diri memiliki pengertian yang mendalam akan emosi diri,
juga kekuatan dan keterbatasan diri, serta nilai-nilai dan motif-motif diri.
Orang-orang yang memiliki kesadaran diri yang kuat adalah orang-orang
yang realistis ia tidak terlalu mengkritik ataupun penuh harapan terhadap
dirinya sendiri. Dan mereka jujurtentang dirinya sendiri kepada dirinya
sendiri, bahkan bisa menertawakan kekurangan mereka sendiri. Pemimpin
yang sadar diri juga mengerti nilai, tujuan, dan impiannya. Mereka tahu ke
mana arah mereka dan mengapa. Orang yang kurang memiliki kesadaran
diri akan cenderung membuat keputusan yang memicu kekacauan di
dalam dirinya dengan menginjak-injak nilai-nilai yang dipendamnya.
Berikut adalah kemampuan bagaimana mengelola kesadaran diri:
a. Kecerdasan diri emosi
Pemimpin yang memiliki kesadaran diri yang emosi yang tinggi
bisa mendengarkan tanda-tanda dalam diri mereka sendiri,
mengenali bagaimana perasaan mereka mempengaruhi diri dan
kinerja mereka. Pemimpin ini bisa tegas dan otentik, mampu bicara
terbuka tentang emosinya atau dengan keyakinan tentang visi yang
membimbing mereka.
b. Penilaian Diri Yang Akurat
Pemimpin dengan kesadaran diri yang tinggi secara khas akan tahu
keterbatasan dan kekuatannya. Penilaian diri yang akurat membuat
seorang pemimpin tahu kapan harus meminta bantuan dan dimana
ia harus memusatkan perhatian untuk menumbuhkan kekuatan
kepemimpinan yang baru.
c. Kepercayaan Diri
Mengetahui kemampuan dengan akurat, memungkinkan pemimpin
untuk bermain dengan kekuatannya. Pemimpin yang percaya diri
dapat menerima tugas yang sulit. Pemimpin seperti ini seringkali

12
memiliki kepekaan kehadiran dirinya, suatu keyakinan diri yang
membuat mereka menonjol di dalam kelompok.
2. Pengelolaan Diri
Kesadaran diri memahami emosi diri dan mengetahui dengan pasti
apa tujuan diri, mengalirlah pengelolan diri yaitu dorongan terfokus yang
dibutuhkan setiap pemimpin untuk mencapai tujuannya. Seorang
pemimpin tidak boleh dikendalikan oleh empati negatif, seperti frustasi
dan kemarahan besar atau kecemasan dan panik. Jadi pengelolaan diri
adalah komponen kecerdasan emosi yang membebaskan kita dari penjara
perasaan kita sendiri. Pengelolaan dirilah yang memungkinkan kejelasan
mental dan pemusatan energy yang dituntut oleh posisi kepemimpinan
dan yang mencegah gejolak emosi melemparkan kita dari jalan yang
semestinya.
Pengelolaan diri juga memungkinkan transparansi, yang bukan saja
merupakan kebajikan seorang pemimpin tapi juga sebuah kekuatan
organisasional. Transparansi yaitu keterbukaan yang otentik tentang
perasaan, keyakinan, dan tindakan seseorang kepada orang lain,
memungkinkan integritas, atau perasaan bahwa pemimpin bisa dipercaya.
Berikut beberapa aspek dari pengelolaan diri:
a. Pengendalian Diri
Pemimpin yang memiliki kendali diri emosi akan menemukan
cara-cara untuk mengelola emosi mereka yang sedang terganggu
dari dorongan-dorongan diri, bahkan mampu menyalurkannya
dalam cara-cara yang bermanfaat.
b. Transparansi
Pemimpin seperti ini secara terbuka mengakui kesalahannya, ia
mengkonfrontasi perilaku yang tidak etis, pada orang lain, dan
bukannya pura-pura tidak melihatnya.
c. Kemampuan Menyesuaikan Diri
Pemimpin yang bisa menyesuaikan diri bisa menghadapi berbagai
tuntutan tanpa kehilangan fokus atau energi mereka. Pemimpin ini
fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan tantangan baru, cekatan
dalam menyesuaikan perubahan yang cepat, dan berpikiran gesit
ketika menghadapi data baru.

13
d. Prestasi
Pemimpin yang memiliki kekuatan prestasi memiliki standar
pribadi yang tinggi yang mendorong mereka untuk terus mencari
perbaikan kinerja, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-
orang yang dipimpinnya. Ciri dari prestasi adalah terus belajar dan
mengajar cara-cara untuk melakukan segala sesuatu dengan lebih
baik.
e. Inisiatif
Pemimpin mampu menangkap kesempatan bahkan menciptakan
peluangm bukan hanya menunggu. Pemimpin seperti ini tidak ragu
menerobos halangan atau bahkan menyumpang dari aturan, jika
diperlukan untuk menciptakan kemungkinan yang lebih baik untuk
masa depan.
f. Optimisme
Pemimpin yang optimis bisa tetap bertahan ditengah kepungan,
melihat kesempatan, bukan ancaman di dalam kesulitan. Pemimpin
ini melihat orang lain secara positif, mengharap yang terbaik dari
mereka.
3. Kesadaran Sosial
Sesudah kesadaran diri dan pengelolaan diri emosi, pemimpin
yang resonan membutuhkan kesadaran sosial atau dengan kata lain,
empati. Sementara empati mewakili sebuah unsur penting
kepemimpinan yang cerdas secara emosi, unsur-unsur lainnya terletak
pada kemampuan pemimpin untuk mengungkapkan pesan dengan cara
yang mengungkapkan perasaan-perasaannya dengan keyakinan karena
emosi-emosi itu jelas otentik, berakar pada nilai-nilai yang
digenggamnya.
Kesadaran sosial terutama empati sangatlah penting untuk
menggerakkan resonansi yang merupakan tugas primal pemimpin.
Dengan mendengarkan perasaan orang lain pada saat itu, seorang
pemimpin dapat berkata atau melakukan apa yang tepat, apakah itu
menenangkan ketakutan, meredakan kemarahan, atau bergabung dengan
kegembiraan. Penyelarasan ini juga memungkinkan pemimpin untuk

14
merasakan nilai dan prioritas bersama yang dapat membimbing
kelompok. Kompetensi sosial dari kesadaran sosial dapat berupa:
a. Empati
Pemimpin yang memiliki empati mampu mendengarkan berbagai
tanda emosi, membiarkan diri merasakan emosi yang dirasakan.
Pemimpin mendengarkan dengan cermat dan bisa menangkap
sudut pandang orang lain. Dengan berempati, pemimpin bisa
berelasi dengan baik dengan orang-orang dari berbagai latar
belakang yang berbeda.
b. Kesadaran Berorganisasi
Pemimpin yang memiliki kesadaran sosial yang tinggi bisa cerdas
secara politis, mampu mendeteksi jaringan kerja sosial yang krusial
da membaca adanya relasi-relasi yang penting.
c. Pelayanan
Pemimpin yang memiliki kompetensi pelayanan yang tinggi
mampu menumbuhkan iklim emosi yang membuat orang-orangnya
berkontak langsung dengan pelanggan, akan menjaga relasi di jalan
yang benar. Pemimpin seperti ini memantau secara kontinu
kepuasan pelanggan.
4. Pengelolaan Relasi
Pengelolaan relasi ini terdapat perangkat kepemimpinan yang
paling kasat mata, diantaranya adalah persuasi, pengelolaan konflik, dan
kolaborasi. Kepawaian dalam pengelolaan relasi bermuara pada
bagaimana menangani emosi orang lain. Pada gilirannya, ini mensyaratkan
pemimpin untuk mampu mengenali emosinya sendiri dan dengan bantuan
empati, menyelaraskan diri dengan orang-orang yang dipimpinnya.
Pengelolaan relasi adalah keramahan yang bertujuan menggerakan orang
ke arah yang benar, baik itu kesepakatan dalam hal strategi pemasaran atau
antusiasme terhadap sebuah proyek baru.
Tugas kepemimpinan semakin kompleks dan bersifat kerjasama,
maka keterampilan berelasi menjadi semakin penting. Dan ini berarti
membangun relasi yang erat dan lancar sehingga setiap orang dapat saling
membagi informasi dengan mudah dan berkoordinasi secara efektif.
Secara kompetensi di ringkas menjadi 6 hal, sebagai berikut:

15
a. Inspirasi
Pemimpin yang menginspirasi akan menciptakan resonansi serta
menggerakkan orang dengan visi yang menyemangati atau misi
bersama.
b. Pengaruh
Pemimpin yang mahir mempengaruhi akan memiliki kemampuan
membujuk, dan melibatkan orang lain dalam otgansasi, ketika
menghadapi suatu kelompok.
c. Mengembangkan Orang Lain
Pemimpin ini mampu menumbuhkan kemampuan orang lain
dengan menunjukkan minat yang murni kepada orang yang
dibantunya. Mereka mampu memahami tujuan-tujuan, kekuatan
serta kelemahan orang yang dibantunya.
d. Katalisator Perubahan
Pemimpin ini mampu mengenali kebutuhan akan perubahan,
menantang status quo, dan memenangkan aturan baru. Mereka
mampu menemukan cara-cara praktis untuk mengatasi hambatan
dalam perubahan.
e. Pengelolaan Konflik
Pemimpin yang pandai mengelola konflik, mampu untuk
mengumpulkan semua pihak, mengerti sudut pandang yang
berbeda, kemudian mencari jalan keluar bersama yang disepakati
oleh pihak yang bertikai.
f. Kerja Tim Dan Kolaborasi
Pemimpin yang mampu bermain dalam tim akan menumbuhkan
suasana kekerabatan yang ramah sekaligus memberikan contoh
memberikan penghargaan, sikap bersedia membantu, dan bekerja
sama. Mereka meluangkan waktu untuk menumbuhkan dan
mempererat relasi yang akrab, lebih jauh dari sekedar kewajiban
pekerjaan.
Empat kompetensi dasar tersebut, diharapkan pemimpin mempunyai
kecakapan emosi yang baik. Kecakapan emosi inilah yang pada gilirannya nanti
akan diaplikasikan dalam melaksanakan tugas kepemimpinan nantinya. Pemimpin
akan lebih peka terhadap perasaan dan harapan-harapan bawahannya. Di bawah
bimbingan pemimpin yang cerdas emosi, orang-orang akan merasakan tingkat

16
kenyamanan yang saling menguntungkan. Mereka saling berbagi ide, dan saling
belajar satu sama lain. Disamping itu, mereka membuat keputusan bersama dan
berkomitmen untuk meyelesaikan tugas bersama.

BAB III
Contoh Kasus Kepemimpinan Resonan

A. Contoh Kasus Kepemimpinan Resonan Presiden Joko Widodo


Sumber: kompas.com
Setelah era kepemimpinan Gusdur berakhir, jarang sekali kita melihat
tokoh pemimpin nasional yang berani mengambil langkah-
langkah nyeleneh dalam gaya kepemimpinannya. Rata-rata bermain aman dengan
sistem kepemimpinan yang datar, ikut alur dan seperti apa. Bukan berarti bahwa
gaya memimpin yang nyeleneh itu lebih baik daripada gaya kepemimpinan yang
biasa-biasa saja. Buktinya, SBY dengan gaya kepemimpinan yang berwibawa dan
kharismatik tetap menjadi ikon besar bangsa ini. Pujaan banyak orang. Terutama
(katanya) kaum ibu-ibu.
Gaya kepemimpinan yang unik pada Jokowi. Muncul dengan cepat tanpa
diperhitungkan, mengambil alih kepemimpinan Ibukota negara setelah menang
telak pada pilkada Jakarta yang lalu. Ternyata kejutan yang diberikan Jokowi tidak
sampai pada level memenangkan pilkada saja. Kita mulai menyaksikan aksi-aksi
"uniknya" dalam memimpin dan membawa diri sebagai orang nomor 1 di Jakarta
dalam kepemimpinannya. Kebijakan/ langkah untik yang sudah dilakukan
Jokowi:
1. Tidak Memakai Vorijder
Sudah lazim bagi seorang pejabat untuk menggunakan Vorijder.
Apalagi untuk situasi di Jakarta yang sangat identik dengan kemacetan.
Ada beberapa nilai positif yang bisa dipetik. Pertama, dengan ikur
merasakan kemacetan, dia bisa memikirkan solusi yang lebih tepat dengan
keadaan yang ada. Kedua, menumbuhkan rasa ikatan yang lebih kuat
antara pemimpin dan rakyatnya, karena pemimpin mau ikut merasakan

17
kendala yang terjadi dala kehidupan sehari-harinya. Ketiga, mengurangi
ajang pamer kekuasaan. Vorijder toh tetap dibutuhkan, tapi dalam
kapasitas dan waktu yang memang harus tepat.Melantik
2. Walikota di Kampung Kumuh
Terobosan yang menarik sekaligus luar biasa. Tidak banyak, bahkan
mungkin belum ada kita temukan terobosan seperti ini. Nilai positif yang
bisa diambil. Pertama, Masyarakat bisa berinteraksi langsung dengan
pemimpin mereka. Paling tidak ditengah kesibukan mejalani kehidupan
keseharian, mereka bisa melihat secara langsung, ini toh lurah mereka. Ini
toh camat mereka. dan ini toh walikota mereka. Kedua, (harusnya)
menimbulkan rasa dan keinginan yang lebih bagi pemegang keputusan
untuk segera membenahi kampung-kampung kumuh tersebut, sehingga
seperti apa yang dikatakan JOKOWI, dalam setahun 100 kampung kumuh
bisa dibenahi bisa terealisasi.
3. Menaikkan UMP Jakarta Menjadi 2,2 Juta Rupiah
Inilah sejarah kenaikan UMP terbesar yang pernah ada. Rata-rata kenaikan
UMP berkisar 10-15%. Tapi dengan menaikkan UMP dari 1,53 Juta rupiah
menjadi 2,2 juta rupiah, Jokowi telah menaikkan UMP sebesar 44%. Luar
biasa memang. Walaupaun penuh dengan kontroversi dan keluhan dari
pihak pengusaha, kebijakan ini akan tetap bergulir di 2013.
4. Keluar Masuk Pasar, Berkeliling Kampung, Sidak Kantor Kecamatan Dan
Kelurahan
Kegiatan ini bahkan dilakukan Jokowi mulai hari pertama
kepemimpinannya sebagai gubernur Jakarta. Sekali lagi, dengan
mengetahui kondosi di lapangan Jokowi berharap bisa menemukan solusi
yang tepat dari permasalahan yang ada. Walau masih merupakan rencana,
kegiatan "keliling-kelilingnya" ini disinyalir akan menelurka keputusan
bahwa : PKL akan dipindahkan dari Trotoar ke dalam Mall dan pembuatan
apartemen di atas pasar.
Jika dilihat dari kedua sosok yaitu Jokowi dan Foke yaitu pemimpin
Jakarta sebelumnya,vmaka keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.
Sebagian orang mengatakan bahwa kehadiran Jokowi adalah antithesis dari
kepemimpinan Foke. Jokowi merupakan sebuah simbol harapan dan perjuangan

18
kaum yang selama ini merindukan sosok pemimpin yang merakyat, mengayomi
dan melindungi rakyatnya.
Harapan dan keinginan masyarakat adalah sebuah mimpi, yang hari ini
seperti barang langka. Kepemimpinan Jokowi adalah kepemimpinan dari bawah
ke atas. Artinya kepemimpinan Jokowi lebih banyak mendengarkan aspirasi dari
bawah ketimbang memaksakan gagasan dari atas ke bawah.
Jokowi menjadi seorang pigur pemimpin yang dianggap mampu
memberikan alternatif pilihan serta memiliki rekam jejak yang dianggap mampu
mewakili apa yang sebenarnya yang di idam-idamkan khalayak ramai selama ini,
sehingga kehadiran Jokowi di panggung politik pemilihan Gubernur Jakarta serta
menjadi buah bibir diberbagai perbincangan masyarakat Indonesia bagaikan
sebuah oase ditengah apatisme masyarakat yang selama ini telah merasa muak dan
bosan melihat tingkah laku para elit politik yang hanya sibuk sendiri dengan
politik pencitraan, mementingkan diri sendiri serta kelompoknya dan tidak
mampu berempathy terhadap jeritan hati nurani rakyat.
B. Analisis
Harapan yang tidak mampu di isi oleh pemimpin lainnya ini merupakan
peluang yang berusaha dimasuki oleh pasangan Jokowi melalui pendekatan
kecerdasan emosional (emotional intelligence / EI), yaitu memancing tumbuhnya
perasaan positif dari dalam diri masyarakat Jakarta sebagai konstituennya.
Jokowi bagaikan sebuah resonance - sumber sifat-sifat positif - yang mampu
menggerakkan masyarakat untuk mengeluarkan aspirasinya.
Kemampuan mempergunakan kecerdasan emosional ini disebut dengan
model resonant leadership yaitu mempengaruhi diri anda dan berhubungan
dengan orang lain melalui kesadaran, harapan, dan kepedulian, sebuah model
kepemimpinan yang dibangun berdasarkan suasana hati dan tindakan seorang
pemimpin memiliki dampak signifikan kepada orang-orang yang dipimpinnya.
Seorang pemimpin yang cerdas secara emosi akan mampu menginspirasi,
membangkitkan gairah dan antusiasme serta membuat orang lain termotivasi dan
berkomitmen.

19
Resonansi dalam ilmu fisika diartikan sebagai peristiwa bergetarnya suatu
benda karena getaran benda lain. Artinya ada kesamaan antara kedua benda
tersebut, yaitu sama-sama bergetar. Hubungannya dengan kepemimpinan,
resonansi yang dimaksud disini adalah bagaimana pemimpin mampu merasakan
juga apa yang dirasakan oleh pengikutnya/bawahnnya. Pemimpin resonansi
mampu memahami dan berempati terhadap apa yang dirasakan oleh bawahannya.
Sejarah telah banyak mencatat bahwa pemimpin besar yang mampu
menggerakkan orang yang dipimpinnya adalah seorang pemimpin yang mampu
menyelami perasaan rakyatnya, mampu membangkitkan semangat dan
memberikan inspirasi baik itu melalui pikiran, perkataan dan tindakannya maupun
melalui visi dan ide-ide yang dikemukakannya. Sehingga untuk menjadi seorang
pemimpin besar tidak cukup dengan hanya mengandalkan kharisma dan
pencitraan tetapi harus mampu melibatkan emosi.
Kecerdasan emosi ini bagi seorang pemimpin memiliki fungsi sangat
penting dalam sebuah kepemimpinan karena melalui kemampuan
mempergunakan kecerdasan emosi ini seorang pemimpin akan mampu
menggerakkan emosi orang-orang yang dipimpinnya terutama untuk
menggerakkan emosi kolektif ke arah yang positif. Seorang pemimpin yang
memiliki kecerdasan emosi mumpuni akan dianggap berhasil apabila mampu
mendorong emosi masyarakat ke arah postif, antusiasme, dan berkomitmen, dan
seorang pemimpin pecundang umumnya hanya mengandalkan kemampuannya
mendorong orang lain ke arah negative thingking, kebencian dan kecemasan.
Seorang pemimpin yang mampu mengembangkan perasaan positif maka
pemimpin tersebut akan menjadi resonansi (resonance), yaitu pemimpin yang
mampu menyelaraskan diri dengan perasaan orang-orang yang dipimpinnya dan
menggerakkan perasaan mereka ke arah emosi positif. Kata resonansi
(resonance) berasal dari bahasa latin resonare yang artinya menggemakan,
sedangkan menurut Oxford English Dictionary arti resonance adalah penguatan
atau pemanjangan suara melalui pemantulan atau melalui getaran yang selaras.
Kepemimpinan yang resonan dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk
kepemimpinan yang mampu memantulkan bunyi untuk menggerakkan nada emosi

20
positif orang yang dipimpinnya yang terlihat ketika seorang pemimpin mampu
membuat getaran yang selaras secara emosional dan berada pada gelombang yang
sama didalam perasaan yang sama. Salah satu tanda pemimpin yang resonan
adalah ketika seorang pemimpin mampu menjadikan pengikutnya bervibrasi
dengan energi semangat dan antusiasme pemimpin dan ketika seorang pemimpin
mampu menciftakan perekat yang mengikat orang yang dipimpin kedalam sebuah
cita-cita atau visi bersama

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kecerdasan emosional dua kali lebih penting dari pada kecerdasan
intelektual. Hal ini juga berlaku bagi kepemimpinan dalam manajemen. Seorang
pemimpin yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, mempunyai
perencanaan yang bagus, visioner, namun tidak cakap dalam mengelola emosi,
tidak ada artinya.
Seorang pemimpin yang mampu mengembangkan perasaan positif maka
pemimpin tersebut akan menjadi resonansi (resonance), yaitu pemimpin yang
mampu menyelaraskan diri dengan perasaan orang-orang yang dipimpinnya dan
menggerakkan perasaan mereka ke arah emosi positif. Kepemimpinan yang
resonan dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk kepemimpinan yang mampu
memantulkan bunyi untuk menggerakkan nada emosi positif orang yang
dipimpinnya
B. Saran
Presiden Jokowi merupakan tokoh yang banyak menginspirasi orang
lain, kepemimpinan Jokowi bisa dikatakan sebagai kepemimpinan yang resonan,
yaitu pemimpin dengan kecerdasan emosi dengan rasa empati dengan semua
orang tanpa terkecuali sehingga Jokowi sendiri bisa mengerti apa yang dialami,

21
diinginkan, situasi seperti apa yang sedang terjadi sehingga bisa memahami apa
yang sedang terjadi dan bisa berempati terhadap rakyat atau orang yang
dipimpinnya, oleh karena itu kita harus banyak belajar dari Presidek Joko Widodo
terhadap rakyatnya dengan kepemimpin resonan.

22
23