Anda di halaman 1dari 6

Arahan Nabi (taujih nabawi)

Prinsip pergantian zaman ini juga selaras dengan prediksi Rasulullah


shallallahu
'alaihi wa sallam dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh
Imam besar dalam bidang hadits Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi dari Abu
Hudzaifah, intelijennya Nabi shalla-llahu 'alaihi wa sallam (shahibus sirr) pada
14 abad yang silam.
H H H J H J H H H H K H P H J H
N P H J P H J H P H H H J P J K
P N P P J P H
Adalah (fase kepemimpinan) nubuwah ada pada kalian apa yang Allah
kehendaki terjadi. Kemudian Allah mengangkatnya manakala Dia
menghendaki
mengang-katnya.
3 al-Mubasysyirat bi Intisharil Islam (Berita-berita Gembira tentang Kemenangan
Islam), karya Dr. Yusuf al-Qardhawi.
4 Hal Satasquthu Amrika Kamaa Saqathath al-Ittihadu as-Sufyieti (Apakah Amerika
akan Runtuh Seperti Uni Soviet?), karya Mahmud az-Zuby.
Inilah periode awal perjalanan sejarah ummat Islam. Saat itu ummat Islam
dipimpin langsung oleh manusia paripurna (insan kamil), pemimpin
orangorang
yang bertaqwa (imamul muttaqin), panglima para mujahid (qa-idul
mujahidin), yaitu Muhammad shalla-llahu alaihi wa sallam. Mereka langsung
dipandu oleh figur teladan (uswatun hasanah) sejak masa kesulitan,
kegoncangan (fatrah al-idhthirab) di Mekah sampai jaya di Madinah. Sejak
sebelum berfikir tentang perang sampai berkali-kali terjun di medan laga.
Sejak
sebelum berfikir tentang format kepemimpinan sampai menjadi pemimpin
yang
disegani di Jazirah Arab. Manusia penunggang onta yang tertata ulang
persepsi
(tashawwur) dan mata hati (bashirah) mereka tentang Tuhan, alam sekitar
dan
diri mereka sendiri, terbukti dalam sejarah memiliki kapasitas dan kapabilitas
menjadi penghulu dunia (ustadziyatul alam). Beralalulah masa keemasan itu
(ashrudz dzahab) selama 23 tahun. Ketika Allah menghendaki, Ia mencabut
masa kejayaan itu.
H K H P H J H N P H J P H J H P H
H H P J P H H K N P K H J H
H H H H K P J P H N P
H H H J H J H P H H
Kemudian akan ada khilafah di atas manhaj nubuwah itu, maka terjadilah
apa yang Allah kehendaki terjadi. Kemudian Allah mengangkatnya manakala
Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Inilah fase kedua perjalanan sejarah ummat Islam. Para ulama dan ahli
sejarah
sepakat bahwa periode ini adalah pada masa khulafaur rasyidin: Abu Bakar,
Umar, Utsman dan Ali. Ada yang berpendapat sampai ke kurun khalifah
kelima, Umar bin Abdul Aziz. Masa ini fase khalifah yang lurus, jujur dan adil.
Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam melegitimasi masa kedua ini masih
dalam koridor minhajin nubuwah (metode kenabian). Artinya periode pertama
dan kedua ini adalah masa teladan dan rujukan (referensi) ummat Islam.
.. . . . . . H NH H K JH H H N
H K K J P H K H J H K N H HH J
H S H H P H H J H
J H . . . . . .. .. . .. . . .
. . . . .. . .. .. . . .. . . .
. . . . . . . .. . . ..
... . . . . . .. J P H H J P
KN H J P H J H J P H J PK J H H
K K JK K H J P K P P P H H J
( ) . . . . .. ..
. .
Barangsiapa hendak menjadikan teladan, teladanilah para sahabat
Rasulullah shalla-llahu alaihi wa sallam. Sebab, mereka itulah yang paling
baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit takalluf-nya
(sedikit
mengada-ada), paling lurus petunjuknya, dan paling baik
keadaannya.
Mereka adalah kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya dan
menegakkan dien-Nya. Karena itu hendaklah kalian mengenal keutamaan
jasajasa
mereka dan ikutilah jejak mereka, sebab mereka senantiasa berada di
atas
jalan (Allah) yang lurus. (HR. Ahmad dari Ibnu Masud).
Ketika belakangan ini usaha penegakan tatanan kehidupan Qurani pada level
eksekutif dan legislatif disalahartikan, bahkan dikhawatirkan terjadi
disintegrasi
bangsa, itu adalah sesuatu yang wajar. Karena di belahan dunia manapun
belum
terwujud prototipe negara yang menegakkan syariat secara formal dan
komperhensif.
Jika penerapan tatanan ilahi di kepingan-kepingan bumi yang sempit di era
globalisasi saat ini tanpa direstui oleh kekuatan internasional kuffar, maka
akan
menjadi bulan-bulanan. Sebut saja Iran, Pakistan, Sudan yang berusaha
menerapkan syariat Islam, maka akan ditemukan catatan-catatan yang
penuh
dengan kekurangan dan ketidakberdayaan. Ketika kaum kafir internasional
menghadapi kaum muslimin pada skala global, maka penyelesaian masalah
kaum muslimin tidak bisa diselesaikan secara lokal.
Tepat sekali sebagaimana yang disinyalir Syekh Hasan al-Banna, bahwa
tahapan perjuangan ummat setelah pembebasan negeri dari penjajahan
asing
(tahrirul wathan) adalah memperbaiki pemerintahan yang ada agar kondusif
dalam penegakan tatanan ilahi (ishlahul hukumah). Adapun yang terkait
dengan
format politik Islam, tatanan resmi yang Islami dalam kehidupan bernegara
baru
terjadi pada tahapan penegakan Khilafah Islam internasional (iqomatul
khilafah
al-Islamiyah al-alamiyah) nanti.
Mungkin ada yang bertanya dan meragukan statemen diatas. Itu kan terjadi
pada 15 abad yang silam, tentu berbeda dengan kondisi kita sekarang ini.
Manusia pada masa jahiliyah dahulu dengan zaman jahiliyah sekarang
(jahiliyah fil qarnil isyrin) adalah sama. Ketika merasa lapar membutuhkan
makan, ketika haus perlu minum dan ketika ingin memenuhi kebutuhan
biologis
perlu nikah, dll. Zaman bisa berubah, tetapi manusianya pada prinsipnya
tidak
berubah. Yang berbeda hanya produk materialnya saja.
Manusia sekarang berada di jurang kehancuran. Membutuhkan kehadiran
sistem
kehidupan yang tidak sekedar menonjolkan daya cipta material, tetapi
memiliki
daya kendali capaian teknologi. Karena inovasi teknologi sekarang hanyalah
pengembangan dari komponen teknologi yang ada. Kepemimpinan yang
dirindukan manusia modern adalah yang bisa menawarkan aqidah (iman)
dan
manhaj (pola kehidupan Islami), meminjam istilah Sayid Quthub dalam
muqaddimah karyanya, Maalim fith Thariq (Rambu-rambu di Sepanjang Jalan
Perjuangan).
Kekayaan mahal ummat inilah yang sekarang tidak diyakini oleh pemiliknya.
Maka kita dituntut meyakinkan diri kita dan orang lain akan kebenaran dan
orisinalitas aqidah dan manhajul hayah ini. Kita memerlukan sebuah pola
kepemimpinan yang menghargai capaian teknologi dan mendayagunakan
secara
maksimal untuk mewujudkan kehendak-kehendak Allah.
H H H H K H P H J H N P H J P
H J H P H H H H J P H H
H J P P J P H N P
H H H J H
Kemudian akan ada raja yang menggigit, maka terjadilah apa yang Allah
kehendaki terjadi. Kemudian Allah mengangkatnya manakala Dia
menghendaki
untuk mengangkatnya.
Fase kehidupan ummat Islam yang ketiga ini dikuasai oleh raja yang
menggigit.
Ia datang silih berganti dengan sebutan yang berbeda-beda. Yang paling awal
adalah Dinasti Umaiyah, kedua Dinasti Abasiyah dan ketiga Dinasti
Utsmaniyah yang berakhir pada tahun 1924. Sekitar 13 abad ummat Islam di
bawah kekuasaan raja-raja yang menggigit ini (mulkan adhdhan).
Pada masa ini para khalifah disebut raja, karena secara formal menjabat
khalifah tetapi pada dataran operasional pola pemerintahannya menerapkan
sistem kerajaan.5 Kepemimpinan bukan dilahirkan oleh syura tetapi
diwariskan
kepada keluarga dekat kerajaan, anak keturunannya.
Disebut raja yang menggigit karena masih menggigit Kitabullah dan
Sunnah
Rasul, tetapi hampir-hampir lepas. Dan pada akhirnya lepas juga pada tahun
1924 dengan munculnya Dewan Nasional Turki oleh Mustafa Kamal Attaturk
(Bapak Bangsa Turki). Namun, para ulama yang istiqamah menggelarinya
dengan Mustafa Kamal Adaut Turk (Musuh Bangsa Turki). Inilah masa
keruntuhan dan keterpurukan ummat Islam. Dunia Islam laksana kebun yang
penuh tanaman subur dan bunga-bunga yang indah, tetapi tanpa pagar
pelindung dan penjaga kebun yang bertanggung jawab.
Kondisi ini sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa
sallam, Kamu sekalian akan dijarah beramai-ramai oleh ummat-ummat
manusia seperti halnya santapan yang dikerumuni orang-orang lapar. Karena
kamu semuanya ibarat buih, jumlahnya banyak tetapi tidak berkualitas.
Sebelum tahun 1924, sekalipun kendali kekuasaan dipegang oleh raja yang
menggigit, tetapi ummat Islam masih memiliki payung dan pusat komando
(al-imamah al-uzhma) di Turki. Dalam dokumen sejarah dicatat, para
penguasa
negeri-negeri muslim di seluruh dunia selalu mengadakan korespondensi
dengan pusat kekuasaan di Turki. Pada akhir abad ke-20, panglima Fatahilah
sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, beliau singgah untuk belajar di
Akademi Militer di Turki. Sekembalinya ke Nusantara beliau bisa memukul
mundur pasukan penjajah Portugis.
Lalu, Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam meneruskan sabdanya :
H H H J H J H H H H K H P H J H
N P H J P H J H P H H H P J P
H H K H H J P P J P H N P
Kemudian akan ada (pemegang) kekuasaan yang diktator, maka terjadilah
apa yang Allah kehendaki terjadi. Kemudian Allah mengangkatnya manakala
Allah menghendaki untuk mengangkatnya.
Masa keempat perjalanan sejarah ummat Islam ini mengalami krisis
kepemimpinan. Ummat Islam dari segi kuantitas tergolong besar, tetapi
mereka
laksana sampah, makna lain dari gutsaa (buih), menurut pakar hadits Dr.
Daud
Rasyid. Mereka bukan berkumpul tetapi berkerumun. Mereka mayoritas,
tetapi
hati-hati individu mereka tercabik-cabik oleh paham kedaerahan
(nasionalisme)
yang sempit, madzhab, aliran keagamaan dan kepentingan. Kehadirannya
tidak
5 Al-Khilafah wal Muluk (Kekhilafahan dan Kerajaan), karya Abul Ala al-Maududi.
menggenapkan dan kepergian-nya tidak mengganjilkan. Mereka diperebutkan
untuk dijadikan mangsa binatang buas.
Pada periode ini, jangankan sepakat untuk mengangkat isu-isu besar
penegakan
Daulah Islamiyah, penentuan awal Ramadhan dan Idul Fithri saja tidak
menemukan kata sepakat. Di tengah-tengah mereka tidak ada wasit
(penengah)
yang dipercaya untuk mengambil keputusan yang disepakati oleh semua
komponen umat ini. Tubuh ummat Islam tercabik-cabik oleh perpecahan
internal. Energi mereka habis untuk ghibah, namimah, hasud, dendam,
terhadap
kawannya sendiri. Sehingga terlambat dalam merespon perubahan-
perubahan
yang terjadi di sekelilingnya (dhuful istijabah lil mutaghayyirat).
Setelah tahun 1924, dunia memasuki perang dunia I, II dan Perang Dingin
antara Blok Timur versus Blok Barat (syarqiyyah wa gharbiyyah). Tetapi,
rentetan peristiwa diatas hanyalah muqaddimah tampilnya mulkan
jabariyyan
(raja diktator) berskala global. Setelah tahun 1990, tidak ada lagi dua kubu di
pentas kehidupan global. Yaitu pasca runtuhnya Tembok Berlin di Jerman.
Hegemoni raja diktator internasional mulai menampakkan eksistensinya,
bermarkas di Gedung Putih (al-bait al-abyadh), dan didukung oleh
kronikroninya
yang tergabung dalam negara G7 : Inggris, Perancis, Jerman, Jepang,
Italia, Kanada dan Rusia.
Tidak ada pemimpin yang mangkat (baca: naik ke tampuk kekuasaan) di
belahan dunia ini selain dalam hegemoni raja diktator dunia, kecuali yang
dirahmati oleh Allah. Mereka yang bersebarangan dengan kemauan
penguasa
diktator dunia akan berjalan tertatih-tatih. Mereka memiliki tangan-tangan
dan
kaki-kaki di semua kepingan bumi ini. Bahkan belakangan ini ada upaya
sistematis untuk memecah keutuhan bangsa, dengan fenomena Papua dan
Aceh.
Pihak-pihak yang masih getol mempertahankan keutuhan NKRI disingkirkan
oleh orang nomer satu di negeri ini dari panggung kekuasaan.
Prinsip pergantian zaman ini penting diketahui agar kita menyadari di kurun
mana kita ini sedang berada. Ternyata kita berada pada titik nadir kelemahan
ummat ini. Kita tidak terlalu berharap kemana pun dan kepada siapa pun.
Siapa
pun yang tampil memegang tampuk kepemimpinan di dunia pasti mendapat
SIM (Surat Izin Mangkat) dari hegemoni malikun jabbar. Marilah kita bangun,
bangkit, memperbaharui komitmen kita karena kita mengalami masa yang
tidak
sederhana. Kita bergerak pada kurun yang tidak mudah.
Saatnya kita bangun untuk menyongsong masa terakhir dari perjalanan
sejarah
ummat Islam yaitu masa khilafah ala manhajin nubuwwah. Karena kita yakin
bahwa kepemimpinan raja diktator ada masa akhirnya. Kebatilan, sekalipun
dipagari oleh kekuasaan yang kokoh akan segera hilang. Lebih-lebih saat ini
mereka mengadakan konspirasi global untuk menghancur-kan pusat syiar-
syiar
Islam. Sesungguhnya mercusuar Islam (baca: Tanah Suci Makkah) itu adalah
milik-Nya. Dia sendiri yang akan menjaganya dari tangan-tangan jahil.
( ) K N P K H J K
H H H H K P J P H N P
Kemudian akan ada khilafah di atas manhaj nubuwah (metode kenabian).
(HR Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmudzi).
Persoalan yang esensial bagi kita bukan terletak pada kapan terjadinya
khilafah
atas metode kenabian itu. Sebab, masa itu akan terjadi pada masa kita atau
kemungkinan pada zaman keturunan kita. Hadits ini adalah prediksi
nubuwwah,
bukan ramalan ahli nujum dan para normal. Kita tidak bangkit pun prediksi
Nabi itu pun akan terjadi. Kita sekarang perlu mempersiapkan diri sebagai
elemen perubah dan pencabut sang diktator dunia. Dengan cara konsisten;
istiqamah, mudawamah wal istimrar (berkesinambungan) melaksanakan
tahapan amal Islami (maratibul amal Islami) merujuk tahapan turunnya
wahyu
Al Quran.
Yaitu, memperbaiki akidah (ishlahul aqidah), melaksanaan syariat
(tathbiqusy
syariah), memperbaiki akhlak (ishlahul akhlaq), melaksanakan dakwah dan
harakah (amalu ad-dawah wal harakah) serta memperbaiki kualitas jamaah
(binaul jamaah).
Pada akhirnya kita perlu bangkit untuk mewujudkan agenda-agenda penting
dakwah diatas. Agar kita aman dan lulus dari Mahkamah Ilahi kelak. Kita
berupaya menyadarkan sebanyak mungkin manusia agar menjadi batu bata
dakwah (asy-syabu qawaa-idud dawah). Sekalipun kita tidak sadar, tidak
bangun, tidak bergerak, fenomena kebangkitan ummat Islam itu pasti
terwujud,
dengan izin Allah subhanahu wa taala.__