Anda di halaman 1dari 70

www.ilmutekniksipil.

com

STRUKTUR BETON
www.ilmutekniksipil.com

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN .............................................................................................................. 2
II. ANALISA BALOK ............................................................................................................ 5
II. 1. Analisa balok tulangan tunggal .................................................................................. 8
II. 2. Desain balok tulangan tunggal ................................................................................... 9
II. 3. Analisa balok tulangan ganda................................................................................... 10
II. 4. Desain balok tulangan ganda.................................................................................... 16
III. PENULANGAN GESER ............................................................................................. 23
IV. PENULANGAN TORSI .............................................................................................. 36
V. STRUKTUR KOLOM ..................................................................................................... 42
VI. ANALISA PEMBEBANAN PADA PORTAL............................................................ 59
VII. GEDUNG TAHAN GEMPA ....................................................................................... 61
VIII. DETAIL PENULANGAN ........................................................................................... 69
www.ilmutekniksipil.com

I. PENDAHULUAN

SILABUS STRUKTUR BETON


STRUKTUR BETON 1
1. BALOK TULANGAN TUNGGAL
2. BALOK TULANGAN GANDA
3. BALOK T
4. PLAT SATU ARAH
5. PLAT DUA ARAH
6. GESER BALOK
7. KONSOL PENDEK
8. TORSI
STRUKTUR BETON 2
1. KOLOM PENDEK DUA SISI
2. KOLOM PENDEK TERDISTRIBUSI MERATA
3. KOLOM PANJANG
4. DESAIN STRUKTUR TAHAN GEMPA
5. PEMBEBANAN GRAVITASI DAN GEMPA
6. FONDASI
7. TANGGA
8. DETAIL PENULANGAN

3 macam material yang sering dipakai untuk struktur adalah :


1. Kayu
2. Baja
3. Beton Bertulang (termasuk prategang)

Bahan lain :
1. Aluminium
2. Plastik
www.ilmutekniksipil.com

Beton bertulang berbeda dengan material-material yang lain, karena terdiri dari 2 bahan yang
berlainan :
1. Baja : Tarik dan tekan
2. Beton : Tekan saja

Sifat beton dan baja :


1. Adanya lekatan
2. Beton melindungi baja dari karat
3. Koefisien hampir sama
a. 0,000010 0,000013 per 0C (untuk beton)
b. 0,000012 (untuk baja)
Dengan kombinasi dan kerjasama yang baik antara dua macam bahan ini, maka beton
bertulang merupakan komposit yang sangat baik untuk digunakan dalam pembangunan suatu
struktur.

Bangunan yang dapat dibangun dengan beton bertulang :


1. Jembatan
2. Viaducts
3. Gedung
4. Tunnel
5. Tanks
6. Conduilts
7. Syphon
8. Menara Air

Gaya-gaya yang bekerja pada beton :


1. Bending momen
2. Gaya geser
3. gaya aksial
4. Torsi
5. Kombinasi
Maka harus diketahui, pada struktur beton tersebut bekerja gaya apa saja.
www.ilmutekniksipil.com

Beton bertulang terdiri dari :


1. Beton - campuran dari :
a. Semen
b. Agregat
c. Air
d. Kadang-kadang bahan tambah (Admixtures)
2. Baja

Cara desain beton :


1. Working Stress Method : Tegangan pada keadaan beban layanan (masih dalam
keadaan elastis)
2. Strength Design : Tegangan pada beban yang lebih besar dari beban
layanan ketika terjadi kegagalan (kehancuran) dalam
keadaan plastis load resistant factor design

Jenis elemen struktur secara umum:


1. Balok dengan gaya-gaya dalam : momen, geser dan torsi (jarang terjadi)
2. Kolom dengan gaya-gaya dalam : momen dan aksial bekerja bersamaan dan geser
3. Plat : momen dan geser (sangat kecil hingga diabaikan)
www.ilmutekniksipil.com

II. ANALISA BALOK

Jenis-jenis balok menurut cara desain:


1. Balok bertulangan tunggal
2. Balok bertulangan ganda
3. Balok T
4. Jenis balok lain mis: segitiga, L dsb
Pemasangan tulangan pada balok menurut jenis gaya dalam
1. momen

2. geser

3. torsi (penulangan di web reinfrorcement)

Jadi retakan-retakan yang terjadi harus ditahan oleh tulangan.

Cara perhitungan balok


1. Analisa : menghitung kapasitas kekuatan dari dimensi yang
sudah ada
2. Perancangan/desain/design : menghitung dimensi yang diperlukan berdasarkan
gaya-gaya dalam
www.ilmutekniksipil.com

Perhitungan balok beton bertulang dalam menahan momen yang didasarkan pada strength
design method atau yang dulu dikenal sebagai ultimate strength method maka kapasitas
struktur beton dihitung pada waktu beton bertulang itu hancur. Urutan kehancuran struktur
beton bisa dari:
1. Baja tulangan dulu yang putus : underreinforced (tension failure)
2. Beton dulu yang hancur : overreinforced (compression failure)
3. Kehancuran terjadi bersamaan : balanced

0,85 f c'
b u = 0,003

a= 1c C
c
a
d
garis netral d - a

As fs fs
s T

penampang regangan tegangan aktual tegangan ekivalen resultan gaya dalam


Tension Failure:
Jika luas tulangan tarik kecil maka tulangan akan mencapai leleh sebelum beton mencapai
kapasitas maksimum. Maka tegangan tulangan adalah fs = fy dimana fy adalah tegangan leleh
baja tulangan. Dari kesetimbangan C=T maka:

0.85 = =
0.85
Sehingga momen tahanan:
= ( 12 ) atau = 0.85 ( 12 )

Compression Failure:
Jika tulangan belum leleh dan beton mencapai kekuatan maksimum dengan regangan 0.003
maka:

=

Dari kesetimbangan C=T maka:


www.ilmutekniksipil.com

0.85 =
Dengan mensubtitusikan = maka akan menghasilkan persamaan berikut:

+ =0

Dengan = dan = .
maka nilai ku dapat dicari:

= +
2 2

Sehingga tahanan momen:


a
M n 0,85 f c' ab d
2

Balanced Failure:
Jika tulangan mencapai leleh dan beton mencapai kekuatan maksimum dengan regangan

0.003 (menurut peraturan Indonesia) maka = maka dari segitiga regangan dapat kita

tulis:


=
0.003
dengan = garis netral untuk keruntuhan seimbang (balanced failure)
0.003
=
0.003 +
atau
0.003
=
0.003 +
dengan = adalah tinggi blok tegangan ekivalen
dari kesetimbangan = maka:
0.85 = =

dimana = adalah rasio penulangan pada keadaan seimbang maka:


0.85
=

Bila disubtitusi dengan persamaan sebelumnya maka:


www.ilmutekniksipil.com

0.85 0.003
=
0.003 +
Bila bernilai 2.105 maka:
0.85 600
=
600 +

II. 1. Analisa balok tulangan tunggal


Prosedur analisa tulangan tunggal:
1. hitung luas tulangan pada keadaan seimbang
0,85 fc' 1 600
b =
fy 600 fy
Asb = bbd
2. tentukan keadaan tulangan balok yang ditinjau
keadaan overreinforced bila As > Asb atau > b
keadaan underreinforced bila As Asb atau b
3. bila keadaan underreinforced maka kapasitas momen balok dihitung dengan:
As f y
a
0,85 f c' b
Mn = Asfy (d- a)
atau
Mn = 0,85 f c' ab (d- a)

MR = Mn
Bila keadaan overreinforced maka kapasitas momen balok dihitung dengan:
As

bd
Es u
m
0,851 f c'
2
m m
k u m
2 2

c ku d

a 1c
www.ilmutekniksipil.com

a
M n 0,85 f c' ab d
2
MR atauMU = Mn dengan = 0.8

II. 2. Desain balok tulangan tunggal


Ada dua keadaan untuk desain balok yaitu:
a. hanya mencari luas tulangan
b. mencari luas tulangan dan dimensi balok
II. 2. 1. Hanya mencari luas tulangan
Pada cara desain dimensi sudah diketahui dan hanya mencari luas tulangan yang
diperlukan untuk menahan momen.
a. hitung koefisien tahanan momen:
Mu
k
bd 2
b. hitung rasio tulangan

0 ,85 f c'
1 1 2 k
fy 0 ,85 f c'

c. hitung luas tulangan
As bd
d. hitung jumlah tulangan
As
n
Atul
jumlah ini dibulatkan ke atas
kemudian dicheck syarat under reinforced sebesar 0.75b

II. 2. 2. Mencari luas tulangan dan dimensi balok


a. Tentukan rasio dimensi
r = b/d
b. Tentukan rasio tulangan perkiraan
0,85 fc' 1 600
= 0,5b = 0,5
fy 600 fy
c. Hitung koefisien tahanan momen
www.ilmutekniksipil.com

f y
Rn = fy(1- )
1,7 f c'
d. Tentukan tinggi efektif balok
Mu
d= 3
rRn

II. 3. Analisa balok tulangan ganda

Regangan dan tegangan yang terjadi ketika tercapai kondisi ultimit (balok mencapai
kegagalan struktur) dengan menganggap terjadi kompatibilitas regangan yang terjadi antara
beton dan baja tulangan.
0,85 f c'
b u = 0,003

d fs fs
As s Cs
a= 1c Cc
c
a
d
garis netral

As fs fs
s T

penampang regangan tegangan aktual tegangan ekivalen resultan gaya dalam

Dengan notasi sebagai berikut:


b = lebar balok
d = tinggi dari serat tekan terluar ke pusat tulangan tarik
d = tinggi dari serat tekan terluar ke pusat tulangan tekan
As = luas tulangan tarik
As = luas tulangan tekan
c = tinggi dari serat tekan terluar ke garis netral
a = tinggi blok tekan beton ekivalen
fs = tegangan tarik baja
fs = tegangan tekan baja
fc = kuat tekan beton
www.ilmutekniksipil.com

u = regangan ultimit beton


s = regangan tarik baja
s = regangan tekan baja
Cs = resultan gaya tekan baja tulangan
Cc = resultan gaya tekan beton
T = resultan gaya tarik baja tulangan
Es = modulus elastis baja = 2.105 MPa

Masing-masing resultan gaya dalam yang terjadi pada keadaan ultimit adalah sebagai berikut:
a. gaya tekan pada beton
C c 0 ,85 f c' ab
b. gaya tekan pada tulangan tekan
C s As' f s'
c. gaya tarik pada tulangan tarik
T As f s
pada desain balok maupun kolom maka tegangan baja diidealisasikan dengan diagram bilinier
untuk mempermudah perhitungan sebagai berikut:

fs fs

fy fy

y s y s

diagram tegangan regangan aktual diagram tegangan regangan yang telah


diidealisasi menjadi bilinier
www.ilmutekniksipil.com

Dengan adanya idealisasi di atas maka bila regangan baja (baik tulangan tarik maupun tekan)
sudah mencapai leleh yaitu s y maka tegangan baja menjadi fs = fy, sehingga resultan
gaya pada tulangan harus diubah menjadi:
a. gaya tekan pada tulangan tekan bila telah leleh
C s As' f y

b. gaya tarik pada tulangan tarik bila telah leleh


T As f y

Dengan adanya kondisi leleh dan tidak leleh dari tulangan tekan maupun tulangan tarik maka
ada 4 kemungkinan terjadinya kondisi ultimit pada balok dengan tulangan ganda yaitu:
1. tulangan tarik dan tekan sudah leleh
2. tulangan tarik leleh sedangkan tulangan tekan belum
3. tulangan tarik dan tulangan tekan belum leleh
4. tulangan tarik belum leleh sedangkan tulangan tekan sudah leleh

Keadaan di atas yang paling sering terjadi adalah keadaan 1 dan 2 sedangkan keadaan 3
jarang terjadi dan keadaan 4 hampir tidak pernah terjadi.
Untuk berbagai kondisi dari equilibrium gaya statis maka dapat disusun (lihat gambar) :
Cc + Cs = T

Untuk perhitungan analisa balok tulangan ganda harus melalui kondisi 1 dulu, baru setelah
dicek kelelehan ternyata terjadi kondisi yang lain maka harus beralih ke kondisi yang lain itu.
Cara pengecekan kelelehan dilakukan sebagai berikut:
a. untuk regangan tulangan tekan
c d' a 1 d '
's 0 ,003 0 ,003
c a
b. untuk regangan tulangan tarik
d c d a
s 0,003 0,003 1
c a
tegangan pada tulangan dihitung dengan:
a. untuk tegangan tulangan tekan
f s' 's E s bila 's y belum leleh
www.ilmutekniksipil.com

f s' f y bila 's y sudah leleh

b. untuk tegangan tulangan tarik


f s s Es bila s y belum leleh

fs f y bila s y sudah leleh

Cara perhitungan kapasitas momen/lentur balok dari berbagai kondisi adalah sebagai berikut:
KONDISI 1
Tulangan tarik dan tulangan tekan sudah leleh, sehingga equlibrium gaya statis menjadi:
0 ,85 f c' ab As' f y As f y

sehingga tinggi blok tekan menjadi:

a
A s As' f y
'
0 ,85 f b
c

setelah dihitung blok tekan maka harus dicek dulu kelelehannya.


bila sudah leleh semua maka perhitungan dilanjutkan ke perhitungan momen kapasitas balok
nominal:

M n 0 ,85 f c' abd 1 2 a As' f y d d '
bila salah salah satu atau keduanya ternyata belum leleh, maka harus perhitungan tinggi blok
tekan harus diulangi dengan kondisi yang sesuai.

KONDISI 2
Tulangan tarik sudah leleh sedangkan tulangan tekan belum leleh, sehingga equlibrium gaya
statis menjadi:
0 ,85 f c' ab As' f s' As f y

sehingga tinggi blok tekan dihitung dengan:


0 ,85 f c' ab As' f s' As f y

a 1 d'
0,85 f c' ab As' 0,003 E s As f y
a
karena Es = 2.105 MPa maka
www.ilmutekniksipil.com

a 1 d'
0,85 f c' ab As' 600 As f y
a
kedua suku dikalikan dengan a maka
0 ,85 f c' a 2 b As' 600a 1 d' As f y a

disusun menjadi persamaan kuadrat dalam a menjadi:



0 ,85 f c' ba 2 As' 600 As f y a As' 6001 d' 0

maka nilai a dapat dihitung dengan rumus ABC dengan memakai rumus plusnya saja:

B B 2 4 AC
a
2A
dengan :
A = 0,85 f c' b

B = As' 600 As f y

C = As' 6001 d'


Bila asumsi kondisi 2 benar maka bisa dilanjutkan dengan perhitungan berikut ini:

M n 0 ,85 f c' abd 1 2 a As' f s' d d '
Bila asumsi salah maka harus dilakukan asumsi ulang untuk kondisi yang sesuai. Tapi
keadaan salah asumsi yang kedua jarang sekali terjadi, jadi biasanya maksimal kesalahan
asumsi hanya terjadi satu kali.

KONDISI 3
Tulangan tarik belum leleh dan tulangan tekan juga belum leleh, sehingga equlibrium gaya
statis menjadi:
0 ,85 f c' ab As' f s' As f s
sehingga tinggi blok tekan dihitung dengan:
0 ,85 f c' ab As' f s' As f s

a 1 d' d a
0,85 f c' ab As' 0,003 E s As 0,003 1 Es
a a
karena Es = 2.105 MPa maka
a 1 d' d a
0,85 f c' ab As' 600 As 600 1
a a
www.ilmutekniksipil.com

kedua suku dikalikan dengan a maka


0 ,85 f c' a 2 b As' 600a 1 d' As 6001 d a

disusun menjadi persamaan kuadrat dalam a menjadi:



0 ,85 f c' ba 2 As' 600 As 600 a As' 6001 d' As 6001 d 0

maka nilai a dapat dihitung dengan rumus ABC dengan memakai rumus plusnya saja:

B B 2 4 AC
a
2A
dengan :
A = 0,85 f c' b

B = As' 600 As 600

C =
6001 As' d' As d
Bila asumsi kondisi 3 benar maka bisa dilanjutkan dengan perhitungan berikut ini:

M n 0 ,85 f c' abd 1 2 a As' f s' d d '
Bila asumsi salah maka harus dilakukan asumsi ulang untuk kondisi 4 yang merupakan
kondisi terakhir (untuk masuk ke kondisi 4 hal ini jarang terjadi)

KONDISI 4
Tulangan tarik belum leleh sedangkan tulangan tekan sudah leleh, sehingga equlibrium gaya
statis menjadi:
0 ,85 f c' ab As' f y As f s

sehingga tinggi blok tekan dihitung dengan:


0 ,85 f c' ab As' f y As f s

1 d a
0,85 f c' ab As' f y As 0,003 Es
a
karena Es = 2.105 MPa maka
1 d a
0,85 f c' ab As' f y As 600
a
kedua suku dikalikan dengan a maka
0 ,85 f c' a 2 b As' f y a As 6001 d a

disusun menjadi persamaan kuadrat dalam a menjadi:


www.ilmutekniksipil.com


0 ,85 f c' ba 2 As' f y As 600 a As 6001 d 0

maka nilai a dapat dihitung dengan rumus ABC dengan memakai rumus plusnya saja:

B B 2 4 AC
a
2A
dengan :
A = 0,85 f c' b

B = As' f y As 600

C =
6001 As' d' As d
Bila asumsi kondisi 4 benar maka bisa dilanjutkan dengan perhitungan berikut ini:

M n 0 ,85 f c' abd 1 2 a As' f y d d '
Bila asumsi salah maka kemungkinan besar ada kesalahan perhitungan pada kondisi-kondisi
yang ditinjau.

Bila sudah didapat momen kapasitas sesuai dengan kondisi yang ada maka dapat dihitung
momen tahanan/momen resistan:
M R M n

dengan untuk lentur balok sebesar 0,8


M R 0 ,8M n
II. 4. Desain balok tulangan ganda
Desain balok tulangan ganda dilakukan setelah perhitungan dengan tulangan tunggal ternyata
tidak mencukupi. Yaitu dengan menghitung kapasitas maksimum dari balok dengan tulangan
tunggal sebagai berikut:
0 ,85 f c' 1 600
max 0 ,75
fy 600 f y

As max max bd

As max
a max
0 ,85 f c' b

M max 0 ,8 As max f y d 1 2 a max

Bila Mmax > Mu maka balok bisa didesain sebagai balok tulangan tunggal seperti yang sudah
diterangkan di atas.
www.ilmutekniksipil.com

Bila Mmax < Mu maka desain balok harus menggunakan perhitungan desain balok tulangan
ganda.
Untuk desain tulangan ganda maka ada batasan untuk tulangan yaitu:
Tulangan maksimum:
0 ,85 f c' 1 600 f'
max 0 ,75 ' s
fy 600 f y f y

bila tulangan tekan sudah leleh maka f s' harus diganti dengan fy
tulangan minimum:
1,4
min
fy

Ada banyak sekali metode untuk perhitungan desain balok tulangan ganda, berikut ini
beberapa cara yang dapat dipakai:
CARA 1:
Selisih tulangan tarik dan tekan disamakan dengan 0,5 b dari balok tulangan tunggal.
Prosedur yang dipakai adalah sebagai berikut:
1. hitung selisih rasio tulangan tarik dan tekan dengan menyamakan 0,5 b
0 ,85 f c' 1 600
' 0 ,5
fy 600 f y

As As' ' bd
2. hitung tinggi blok tekan beton dengan menganggap tulangan tekan sudah leleh
As As'
a
0,85 f c' b
3. hitung luas tulangan tekan


M u 0,8 As As' f y d a
2
A f d d'
'
s y

didapat dari langkah 1


dari langkah di atas hanya As (luas tulangan tekan) yang tidak diketahui jadi bisa dicari.
Setelah As maka As bisa dihitung dengan hasil yang diperoleh pada langkah 1.
4. cek kelelehan tulangan tekan
a
c
1
www.ilmutekniksipil.com

c d'
's 0,003
c
f s 's E s

bila fs > fy maka perhitungan dapat dilanjutkan pada langkah selanjutnya.


5. Menghitung jumlah tulangan berdasarkan luas yang sudah didapat
6. Menghitung kapasitas momen.
Bila dalam langkah 4 ternyata tulangan tekan belum leleh maka tulangan masih dapat dipakai
dengan syarat kapasitas momen harus lebih besar dari momen beban terfaktor.

CARA 2:
Minimum compression steel adalah cara perhitungan yang menghasilkan tulangan tekan
minimum yang disyaratkan.
1. menyamakan syarat maksimum tulangan tarik dengan rasio tulangan tarik
0 ,85 f c' 1 600
0 ,75 '

fy 600 f y
I
Pada rumus di atas tulangan tekan dianggap leleh
2. kalikan dengan bd
As = Ibd + 0,75 As'
3. subsitusikan ke formula berikut:

a
A s As' f y
Ibd 0,75 A '
s
As' f y
' '
0 ,85 f b c 0 ,85 f b
c

Dan didapat a dengan variabel As'


4. subsitusikan a ke dalam formula:


M u 0,8 As As' f y d a 2
A f d d'
'
s y

Semua variabel di atas sudah diketahui kecuali As' sehingga As' bisa dihitung.

CARA 3:
Pada peraturan disebutkan bahwa jumlah tulangan tekan paling tidak setengah dari jumlah
tulangan tarik. Prosedur yang dipakai sehingga tulangan tekan sedemikian hingga menjadi
setengah dari jumlah tulangan tarik adalah dengan formula yang dihitung dengan
www.ilmutekniksipil.com

menggunakan rumus ABC untuk menghitung rasio tulangan dengan parameter sebagai
berikut:

B B 2 4 AC

2A
dengan :
2
bd 2 f y
A =
4.0 ,85 f c'

B = bdf y d' 2d

Mu
C =
0,4
Rumus di atas dengan asumsi semua tulangan dalam keadaan leleh, sehingga harus dicek
daktilitas balok.
www.ilmutekniksipil.com

II. 5. Analisa balok T

hf

As

bw
www.ilmutekniksipil.com

II. 6. Desain balok T


www.ilmutekniksipil.com

III. DESAIN PLAT

Plat adalah struktur datar dengan perbandingan tebal jauh lebih kecil dibandingkan
dengan bentangnya.

Bentuk beban ada berbagai macam yaitu:


a. merata
b. beban titik
c. beban garis
d. beban non prismatis
Bentuk-bentuk plat:
a. plat sederhana
b. flat plate
c. flat slab
d. plat wafle/grid/sarang lebah

Pada dasarnya teori plat adalah sulit dan tidak mudah untuk menghitungnya. Sehingga
perhitungan plat biasanya menggunakan program SAP. Sedangkan untuk plat persegi panjang
dengan beban merata dantidak ada beban titik dan garis (plat sederhana) dapat dihitung
dengan tabel yang tersedia.
www.ilmutekniksipil.com

IV. PENULANGAN GESER

1. PERHITUNGAN TULANGAN GESER


a. Gaya geser/shear/transversal pada struktur beton
Gaya geser umumnya tidak bekerja sendiri, tapi terjadi bersamaan dengan gaya
lentur/momen, torsi atau normal/aksial. Dari percobaan, diketahui bahwa keruntuhan
akibat gaya geser bersifat getas/brittle tidak daktail sehingga terjadi secara tiba-tiba. Hal
ini karena kekuatan menahan geser lebih banyak dari kuat tarik dan tekan beton
dibandingkan oleh tulangan gesernya. Sedangkan pada struktur beton yang menahan
momen maka keruntuhan bisa diatur apakah akan bersifat daktail atau tidak, tergantung
pada jumlah tulangan yang dipakai.
Besar gaya geser pada balok atau kolom besarnya umumnya bervariasi sepanjang
bentang, sehingga banyaknya tulangan geserpun bervarvariasi sepanjang bentang.

L
(a) Balok dengan beban merata

(b) Gaya geser

Ada berbagai macam sebab retak pada struktur beton, yaitu:


1. Retak akibat lentur/momen
2. Retak akibat geser
Retak-retak ini bila tidak ditahan dengan tulangan akan mengakibatkan keruntuhan
pada beton, mengingat sifat beton yang tidak mampu menahan gaya tarik. Retak akibat
www.ilmutekniksipil.com

lentur ditahan dengan tulangan lentur atau tulangan longitudinal atau memanjang karena
letak retak yang terletak vertikal ke atas. Sedangkan retak akibat geser ditahan oleh
tulangan geser.

Retak
lentur
Retak geser
Gbr. Retak pada Balok
b. Perencanaan penulangan geser menurut SNI
Tulangan untuk menahan gaya geser biasa dinamakan tulangan geser atau tulangan
sengkang atau tulangan stirrup. Tulangan geser diperlukan untuk menahan gaya tarik
arah tegak lurus dari retak yang diakibatkan oleh gaya geser. Ada berbagai macam cara
untuk pemasangan tulangan geser yaitu :
1. Tulangan geser vertikal
2. Tulangan geser miring/diagonal
3. Tulangan geser spiral
4. Tulangan lentur yang dibengkokkan
Retak geser terletak secara diagonal pada badan balok sehingga perletakan tulangan
geser yang paling efektif adalah tulangan geser miring/diagonal tegak lurus arah retak,
sehingga tulangan hanya menahan gaya tarik saja dari gaya retak tersebut, tetapi tentunya
dengan cara ini akan memakan biaya yang besar dan pemasangan yang lebih sulit.
www.ilmutekniksipil.com

Tulangan lentur

Tulangan geser

s
s = jarak antar tulangan

Gbr. Susunan tulangan geser pada tulangan lentur

Demikian juga dengan tulangan geser spiral meskipun efektif dalam menahan gaya
geser tapi sulit pemasangan pemasangannya dan sekaligus lebih mahal. Dalam hal ini
yang paling disukai dan paling banyak dipakai dalam perencanaan struktur adalah
tulangan geser vertikal.
Pada perencanan tulangan geser dengan desain ultimit bahan maka gaya geser yang
terjadi akan ditahan oleh dua bahan/material yaitu beton dan baja dengan cara dihitung
dulu kekuatan atau kapasitas beton dalam menahan gaya geser yang terjadi kemudian
sisanya akan dilimpahkan ke baja.
c. Prosedur perhitungan tulangan geser
1. Menghitung gaya geser terfaktor Vu pada sepanjang bentang. Besar Vu adalah sebagai
berikut (bila tidak ada beban gempa):
Vu = 1,2 VD + 1,6 VL
dengan:
VD = gaya geser akibat beban mati
VL = gaya geser akibat beban hidup
www.ilmutekniksipil.com

Dengan diagram gaya geser tersebut dibagi beberapa segmen/bagian sehingga


tulangan geser yang dipakai dapat lebih efektif.

segmen 1 segmen 2 segmen 3

Untuk balok daerah ini dapat diabaikan

Dan dari tumpuan ke jarak d dari diagram geser di atas dapat diabaikan karena sejauh
d dari tumpuan gaya geser yang terjadi tidak efektif mengakibatkan kerusakan pada
struktur (khususnya balok).
2. Menghitung kekuatan beton menahan geser Vc. Harga Vc berrdasar jenis struktur,
yaitu sebagai berikut:
a. Untuk kombinasi gaya geser dan lentur (contoh: balok)

1 V d
Vc = f c' 120 w u bwd
7 Mu

dengan:
Vc = kemampuan beton menahan geser (N)
f c' = kuat tekan beton (MPa)

w = rasio tulangan pada web = As/bwd


Vu = beban geser terfaktor (N)
Mu = beban momen terfaktor (Nmm)
bw = lebar balok (mm)
d = tinggi balok efektif (mm)
Mengingat harga-harga Vu, Mu dan w bervariasi sepanjang bentang sehingga
akan menyulitkan untuk menghitungnya, maka persamaan di atas
disederhanakan dengan persamaan sebagai berikut:
1
Vc = f c' bwd
6
www.ilmutekniksipil.com

b. Untuk kombinasi geser dan aksial tekan/normal (contoh: kolom)

1 Vd
Vc = f c' 120 w u bwd
7 Mm
dengan:
Mm = Mu Nu(4h d)
Atau dengan persamaan:

Nu f'
Vc = 1 c b d
14 A 6 w
g
dengan:
Nu = beban aksial terfaktor (N)
Ag = luas bruto penampang (mm2)
Kedua persamaan di atas tidak perlu lebih besar dari:
1
Vc = f c' bwd
6
Jadi dipilih yang terkecil antara persamaan di atas.
c. Untuk kombinasi geser dan aksial tarik (contoh: kolom tarik)

1 N '
f c bwd
Vc = 1 0,3 u
6 Ag

Dalam perencanaan/desain ultimit maka kekuatan beton dalam menahan gaya
geser ini harus dikalikan dengan faktor reduksi kekuatan untuk gaya geser sebesar
0,6.
3. Mengecek syarat penampang struktur dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Bila Vu<0,5 Vc tidak memerlukan sengkang
b. Bila 0,5 Vc<Vu< Vc gunakan tulangan minimum

c. Bila (Vu Vc)<0,67bwd f c, hitung Vs

d. Bila (Vu Vc)>0,67bwd f c, ukuran penampang diperbesar

4. Menghitung sisa gaya geser dari gaya geser kapasitas beton yang harus ditahan oleh
tulangan geser Vs. Menurut SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.4.9
Vu Vn
Vn = Vc+Vs
www.ilmutekniksipil.com

Vu Vc+Vs
maka Vs = (Vu /) Vc
5. Menghitung tulangan geser yang diperlukan
Tentukan luas tulangan geser Av dengan luas tulangan yang biasa dipakai di
lapangan mis: 10, 6, D10 atau D16.
Ket : = untuk tulangan polos
D = untuk tulangan deformed
Menghitung jarak/spasi tulangan geser s
Av f y d
s=
Vs
dengan:
fy = tegangan leleh baja tulangan geser (MPa)

6. Bila pada langkah ke 3 menghasilkan 0,5Vc<Vu<Vc maka dapat digunakan


tulangan minimum dengan persamaan sebagai berikut:
3 Av f y
smin =
bw
d. Contoh perhitungan tulangan geser
Contoh 1.
Balok dengan gaya geser ultimit sebesar 200 kN. Berapa tulangan geser yang
diperlukan, bila balok berukuran 250x450 mm dengan properti beton, fy = 400 MPa
dan fc = 20 MPa tulangan yang dipakai berdiameter 10 mm?
Penyelesaian:
menghitung kapasitas geser beton Vc untuk kombinasi geser dan lentur:
1
Vc = f c' bwd
6
1
= 20 250.450 = 83852,55 N = 83,85 kN
6
Mengecek syarat penampang struktur:
a. Vu < 0,5 Vc
200 > 0,5.0,6.83,85 = 25,16 kN perlu tulangan
b. 0,5 Vc < Vu < Vc
www.ilmutekniksipil.com

25,16<200> 0,6.83,85 = 50,31 kN tidak minimum

c. (Vu Vc)<0,67bwd f c,

200 0,6.83,85<0,67.250.450 20
149,69<337,087 bisa dilanjutkan ke perhitungan Vs
Memakai D10 dengan luas :1/4D2 = 1/4102=78,5 mm2 karena yang dipakai untuk
menahan gaya geser sebanyak dua kaki maka luas total Av: 2 x 78,5 = 157 mm2
Vs = Vu/ - Vc = 200/0,6 83,85 = 249,48 kN
Menghitung jarak/spasi tulangan:
Av f y d
s =
Vs

157.240.450
= = 113,3 mm
249,48.10 3
Menghitung jarak maksimum yang diperbolehkan:
s maks adalah nilai terkecil dari 0,5d = 0,5.450 = 225 mmdan 600 mm dipilih
225 mm
dipakai jarak tulangan 100 mm D10 100

Contoh 2.
Suatu bentang balok dengan perletakan sederhana panjang 8 m. Dibebani dengan beban
hidup terbagi rata sebesar 5 kN/m dan beban mati terbagi merata 30 kN/m. Dimensi balok
b = 250 mm dan d = 450 mm. Kekuatan bahan fy = 240 MPa dan fc = 20 MPa. Tentukan
tulangan geser yang diperlukan!

Penyelesaikan
Menghitung beban ultimit
wu = 1,2 DL + 1,6 LL
= 1,2.30+1,6.5 = 44 kN/m
menghitung gaya geser ultimit
Vu = wu L
= .44.8 = 176 kN
www.ilmutekniksipil.com

gambar diagram gaya geser Vu , karena diagram ini simetris maka analisa hanya

wu = 44 kN/m

450
800
d = 450 mm 0

Vu = 176 kN
250
Vu = 164,2 kN

Vu = 50,31 kN
Vu = 25,16 kN

x1 = 2843,4
x2 = 3421,6

segmen 1 segmen 2 segmen 1


dilakukan di setengah bentang.

menghitung kapasitas geser beton Vcuntuk kombinasi geser dan lentur:


1
Vc = f c' bwd
6
1
= 20 250.450 = 83852,55 N = 83,85 kN
6
menghitung penampang kritis pertama sejarak d dari muka tumpuan :
1 / 2 L d
Vu pada jarak d = Vu
1/ 2 L
4000 450
= 174 =154,4 kN
4000
Mengecek syarat penampang struktur:
a. Vu < 0,5 Vc
154,3 > 0,5.0,6.83,85 = 25,16 kN perlu tulangan
b. 0,5 Vc < Vu < Vc
25,16<154,3> 0,6.83,85 = 50,31 kN tidak minimum
www.ilmutekniksipil.com

c. (Vu Vc)<0,67bwd f c,

154,3 0,6.83,85<0,67.250.450 20
103,99<337087.24 bisa dilanjutkan ke perhitungan Vs
Perhitungan Vs untuk segmen 1:
Vs = (Vu /) Vc
= (154,3/0,6) 83,85 = 173,3 kN = 173,3.103 N
Menghitung tulangan yang diperlukan segmen 1:
Dicoba memakai 10 dengan luas :1/4D2 = 1/4102=78,5 mm2 karena yang dipakai
untuk menahan gaya geser sebanyak dua kaki maka luas total Av: 2 x 78,5 = 157 mm2
Menghitung jarak/spasi tulangan:
Av f y d
s =
Vs

157.240.450
= = 97,8 mm
173,3.10 3
dipakai jarak tulangan 75 mm 10 75
Perhitungan segmen 2:
Dengan perbandingan geometri maka dicari:
x2 = (174 - 25,16)/174 x 4000 = 3421,6 mm
x1 = (174 - 50,31)/174 x 4000 = 2843,4 mm
Daerah antara x1 dan x2 dipasang tulangan minimum:
3 Av f y
smin =
bw
3.157.240
= = 452,16 mm
250
dipakai jarak tulangan 200 mm 10 200
Sedangkan daerah > x2 secara teoritis tidak memerlukan tulangan geser, tapi biasanya
dipasang tulangan minimum juga, sehingga masuk segmen 2.

2. GESER PADA KONSOL PENDEK (BRACKETS)


a. Mekanisme retak pada konsol pendek
www.ilmutekniksipil.com

Vu
Nuc

h d

Retak yang mungkin terjadi pada konsol pendek


Konsol pendek banyak dipakai pada delatasi atau pemisah antar gedung, untuk perletakan
krane dan untuk tumpuan struktur pracetak mis: balok atau plat pracetak.
Konsol pendek berfungsi seperti balok kantilever dengan pengaruh geser lebih besar
dibandingkan dengan pengaruh lentur/momennya. Bila perbandingan h/h kecil maka retak
akan cenderung berada ke arah luar, dan sebaliknya bila perbandingan h/h besar maka retak
cenderung akan terjadi di dekat kolom. Pada SK SNI T-15-1991-03 memberikan besar
batasan tinggi h harus lebih besar dari 0,5d. Karena sifatnya yang seperti kantilever maka
akan terbentuk momen negatif dengan daerah tekan berada di bawah dan daerah tarik berada
di atas. Dan pemasangan tulangan seperti gambar di bawah ini.

Tulangan
pokok As

Tulangan pokok
Ah

Tulangan h d
pembentuk
www.ilmutekniksipil.com

Gbr. pemasangan tulangan pada konsol pendek


b. Prosedur perencanaan konsol pendek
Prosedur ini menurut SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.4.9. untuk konsol pendek dengan
kondisi sebagai berikut:
rasio a/d < 1
dengan :
a = bentang geser:jarak antara beban terpusat dari muka tumpuan
d = tinggi efektif konsol pendek
gaya horisontal Nuc < gaya vertikal Vu
pada muka tumpuan direncanakan untuk secara bersamaan memikul suatu
geser Vu, suatu momen (Vua+Nuc(h d)) dan suatu gaya tarik horisontal Nuc.
Prosedur perencanaan
Vu
1. Tentukan Vn = dengan = 0,6

2. Vn harus lebih kecil dari :
0,2 fcbwd
5,5 bwd
kalau tidak maka dimensi konsol pendek harus diperbesar.
3. Menentukan luas tulangan geser friksi Avf :
Vn
Avf =
fy

dengan:
Avf = luas tulangan geser friksi (mm2)
= koefisien friksi bahan
- untuk kolom monolit = 1,4
- untuk kolom nonmonolit = 1
4. Menentukan luas tulangan lentur Af dan An :
Mu V a N uc h d
Af = = u
f y 0 ,85 d f y 0,85 d

N uc
An =
f
y
www.ilmutekniksipil.com

dengan = 0,65
Bila tidak ada ketentuan tentang besar Nuc maka digunakan Nuc minimum yaitu :
Nuc minimum = 0,2 Vu
5. Menentukan tulangan pokok As:
As = 2/3Avf + An atau
As = Af + An atau
f c'
As minimum = 0,04 bd
fy

Dari ketiga persamaan di atas diambil As yang paling besar


Menentukan tulangan pokok Ah :
Ah = (As An)
c. Contoh perencanaan konsol pendek
Konsol pendek monolit dengan kolom, dengan beban terfaktor Vu = 200 kN dan Nuc =
40 kN, pada jarak a = 150 mm dari muka kolom, lebar konsol b = 250 mm, tinggi konsol
h = 500 mm, tinggi efektif d = 400 mm, fc = 35 MPa, fy = 400 MPa. Tentukan tulangan
yang harus dipakai!
Penyelesaian:
1. Menentukan Vn:
Vn = Vu/
= 200/0,6 = 333,3 kN
2. Vn harus lebih kecil dari :
0,2 fcbwd
0,2.35.250.500 = 875000 N = 875 kN OK
5,5 bwd
5,5.250.500 = 687500 N = 687,5 kN OK
3. Menentukan luas tulangan geser friksi Avf :
Vn
Avf =
fy

333,3.10 3
= = 595,2 mm2
400.1,4
www.ilmutekniksipil.com

4. Menentukan luas tulangan lentur Af dan An :


Vu a N uc h d
Af =
f y 0,85 d

200.10 3 .150 40.10 3 500 400


= = 384,6 mm2
0,65.400.0,85.400
N uc
An =
fy

40.10 3
= = 153,8 mm2
0,65.400
5. Menentukan tulangan pokok As:
As = 2/3Avf + An
= 2/3. 595,2 + 153,8 = 550,6 mm2 atau
As = Af + An
= 384,6 + 153,8 = 538.4 mm2 atau
f c'
As min = 0,04 bd
fy

= 0,04.35/400.250.400 = 350 mm2


dipakai
As = 550,6 mm2
Digunakan 3D16 = 603 mm2
Ah = (As An) = (550,6 153,8) = 198,4 mm2
Digunakan 3D10 = 236 mm2
Tulangan pembentuk disamakan dengan Ah
www.ilmutekniksipil.com

V. PENULANGAN TORSI
a. Torsi pada balok
Gaya torsi lebih sering terjadi pada balok daripada komponen struktur yang lain.
Gaya torsi ialah gaya puntir yang bekerja pada sumbu memanjang balok. Gaya torsi bisa
terjadi pada balok induk yang menerima beban dari balok anak atau bisa juga terjadi pada
balok melengkung yang mempunyai eksentrisitas terhadap tumpuannya. Gaya torsi yang
terjadi bisa berupa torsi keseimbangan yang merupakan torsi dari struktur statis tertentu
dan berupa torsi keserasian yang merupakan torsi dari struktur statis tak tentu.

jepit

Arah puntiran pada


balok

Gbr. Torsi pada balok

b. Prosedur perencanaan tulangan torsi


1. Momen torsi berupa torsi keseimbangan atau torsi keserasian. Hitung torsi nominal
sebagai berikut:
Tn = Tu/
dengan:
= 0,6
2. Hitung momen torsi rencana Tu yang berjarak d dari muka tumpuan.

3. Apabila Tu < [(1/24 f c' )x2y], maka efek torsi diabaikan.

4. Menghitung kuat torsi nominal Tc badan beton:


1
f c' x 2 y
15
T
c 2
0 ,4 Vu
1
C
t u T
www.ilmutekniksipil.com

dengan:
bw d
Ct = 2
x y
Apabila terdapat gaya tarik aksial maka nilai Tc dikalikan dengan :

1 0,3 N u
Ag

dengan nilai Nu negatif

5. Bila Tu < Tc maka torsi dapat diabaikan


bila tidak maka dihitung momen torsi yang ditahan tulangan Ts sebagai berikut:
Untuk torsi keseimbangan Ts = Tn Tc dan

Untuk torsi keserasian Ts = (1/3 f c' )1/3 x2y Tc pilih yang

terkecil antara kedua persamaan


di atas
6. Syarat penampang:
Tn > Tu/
Ts > 4Tc penampang harus diperbesar.
7. Menghitung luas sengkang setiap satuan jarak sebagai berikut:

At T
s
s t x1 y1 f y

8. Menghitung tulangan geser Av tiap satuan jarak :


Av V
s
s f yd

dengan:
Vs = Vn Vc
www.ilmutekniksipil.com

1
f ' b d
6 c w
V
c 2
T
1 2,5 C u
t V
u
nilai Vn > Vu/
Menghitung tulangan sengkang untuk geser dan torsi.
Avt 2 At Av

s s s
dengan spasi tidak melebihi:
s maks = (x1+y1)
dan tidak lebih kecil dari:
3 Avt f y
s min =
bw

9. Menghitung luas tulangan memanjang Al:


x1 y1
Al = 2At
s


2 ,8 xs Tu 2 A x1 y1
Al = t

f y Tu Vu s
3 Ct

Dipilih yang terbesar dan tidak boleh melebihi:




2 ,8 xs Tu 2 bw s x1 y1
Al =
3 f s
f y Tu Vu y
3 Ct

c. Contoh perencanaan tulangan torsi


Sebuah balok dengan momen torsi keseimbangan Tu = 40 kNm dan gaya geser terfaktor
Vu = 50 kN. Tinggi balok h = 600 mm, tinggi efektif d = 550 mm dan lebar b = 350 mm.
www.ilmutekniksipil.com

Properti balok dengan fc = 35 MPa dan fy = 400 MPa. Tentukan tulangan torsi yang
diperlukan!
Penyelesaian
1. Torsi berupa torsi keseimbangan. Tn = Tu/ = 40/0,6 = 66,7 kNm
2. Torsi dianggap seragam sepanjang bentang, sehingga Tu = 40 kNm.
Syarat penampang:

Tu < [(1/24 f c' )x2y]

40 < 0,65[(1/24 35 )3502.600]


> 11776696 Nmm = 11,8 kNm efek torsi harus dihitung
3. Kuat torsi nominal Tc badan beton:
bw d
Ct = 2
x y
350.550
= 2
= 0,0026 /mm
350 .600
1
f c' x 2 y
15
Tc
2
0 ,4 Vu
1
C t Tu

1
35 350 2 .600
=
15 = 28467179,6Nmm = 28,5 kNm
2
0,4.50.10 3
1
6
0,0026.40.10
4. Tu < Tc = 0,6.28,5 = 17,1 kNm tulangan torsi harus dihitung
Untuk torsi keseimbangan
Ts = Tn Tc
= 66,7 28,5 = 38,2 kNm
5. Syarat penampang:
Tn > Tu/
66,7 > 40/0,6 = 66,7 OK
Ts > 4Tc
38,2 < 4.28,5 = 114 penampang OK
www.ilmutekniksipil.com

6. Menghitung luas tulangan geser/sengkang:


balok dengan selimut beton 40 mm menggunakan sengkang D12 maka:
x1 = 350 2(40 + .12) = 258 mm
y1 = 600 2(40 + .12) = 508 mm

1 y
t = 2 1 = 1,3 < 1,5
3 x1

At Ts

s t x1 y 1 f y

38,2.10 6
= = 0,56 mm2/mm jarak/kaki
1,3.258.508.400
7. Menghitung spasi tulangan geser s :
Luas tulangan Av = ..122.2 = 226 mm2
1
f c' bw d
V 6
c 2
T
1 2,5 C t u
Vu

1
35 350.550
= 6 = 76228,6 N = 76,2 kN
2
40.10 6

1 2,5.0,0026
50.10 3
Vs = Vn Vc
= 50/0,6 76,2 = 7,1 kN
Av V
s
s f yd

7 ,1.10 3
= = 0,032 mm2/mm jarak/dua kaki
400.550
Menghitung sengkang untuk geser dan torsi:
Avt 2 At Av

s s s
= 2. 0,56 + 0,032 = 1,152 mm2/ mm jarak/ dua kaki
www.ilmutekniksipil.com

maka
s = 226/1,152 = 196,2 mm
spasi maksimum:
s maks = (x1+y1)
= (258+508) = 191,5 mm
spasi minimum:
3 Avt f y
s min =
bw
3.226.400
= = 774,8 mm dipakai tulangan D12 150
350

8. Menghitung luas tulangan memanjang Al:


x1 y1
Al = 2At
s
= 2.0,56(258+508) = 857,9 mm2 atau


2 ,8 xs Tu 2 A x1 y1
Al = t

f y Tu Vu s
3 Ct


2 ,8.350.150 40.10 6 258 508

= 2.0 ,56.150
400 50.10
3
6
40.10 150
3.0 ,0026

= 759,6 mm2
digunakan Al = 857,9 mm2 dengan tulangan 6D14 = 924 mm2 disebar di bawah
balok 2 buah, atas 2 buah dan samping kanan kiri 2 buah.
www.ilmutekniksipil.com

VI. STRUKTUR KOLOM


PENDAHULUAN
Kolom adalah elemen struktur yang menerima kombinasi beban axial dan lentur
(momen). Beban axial yang terjadi berupa tekan, meskipun pada beberapa kasus, kolom
bisa menerima beban axial tarik. Dan umumnya terletak vertikal pada bangunan.
Biasanya kolom menerima beban momen baik pada satu atau kedua sumbu pada
potongan melintang dan momen ini dapat menghasilkan tegangan tarik pada sebagian
potongan melintang tersebut.
Fungsi kolom sangat penting bagi struktur gedung, yang apabila terjadi kegagalan
pada kolom maka gedung akan runtuh, sedangkan bila kegagalan hanya terjadi pada
balok maka gedung belum tentu runtuh.
Bentuk kolom menyesuaikan dengan fungsi dan estetika bangunan, dan umumnya
berbentuk :
a. Bujur sangkar
b. Segi empat
c. Lingkaran.
Kolom beton bertulang mempunyai tulangan longitudinal (memanjang searah sumbu
batang) yang paralel dengan arah beban. Untuk kolom dengan tulangan sengkang/segi
empat atau lingkaran minimal mempunyai 4 tulangan longitudinal dan minimal 6
tulangan longitudinal untuk kolom dengan tulangan geser spiral menerus. Tulangan
longitudinal ini merupakan tulangan pokok yang menahan beban axial dan momen dan
untuk kolom mempunyai batasan 1 8 % untuk beban gravitasi saja dan 1 6 % untuk
beban gempa dari luasan kolom beton bertulang, karena persentase yang lebih besar tidak
ekonomis dan akan mempersulit pemasangan dan pengecoran. Sedangkan balok beton
bertulang mempunyai persentase tulangan kira-kira antara 0,2 6 %. Sepanjang tulangan
longitudinal dipasang tulangan geser sengkang ataupun spiral yang berfungsi menahan
gaya geser dan berfungsi untuk memegang tulangan longitudinal agar tetap kokoh
sehingga hanya dapat tertekuk pada tempat di antara dua pengikat dan juga mengurangi
bahaya pecah (splitting) beton yang dapat mempengaruhi daktilitas/kekakuan kolom,
karena tulangan sengkang, melingkar atau spiral memberikan tekanan kekang (confine)
pada penampang.
Kolom dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu:
www.ilmutekniksipil.com

a. Kolom pendek / short column yang kemampuannya dipengaruhi oleh kekuatan


material dan bentuk geometri dari potongan melintang dan tidak dipengaruhi oleh
panjang kolom karena defleksi lateral (lendutan ke samping) yang terjadi sangat
kecil (tidak signifikan).
b. Kolom langsing / slender column yaitu kolom yang kekuatannya akan terkurangi
dengan adanya defleksi lateral. Kolom langsing dapat menjadi kolom pendek bila
dipasangi lateral bracing ataupun dipasangi diafragma.
Dan kedua kategori kolom di atas maka masing-masing kategori dapat berupa:
a. Kolom dengan tulangan dua sisi
b. Kolom dengan tulangan terdistribusi

KOLOM DENGAN TULANGAN DUA SISI


Kolom menerima gaya aksial P dan momen M, dan gaya M ini dapat digantikan
dengan oleh gaya P tersebut yang bekerja pada eksentrisitas e = M/P. Bila nilai e ini
relatif kecil maka seluruh penampang akan berada pada daerah tekan dan dianggap tidak
ada momen yang bekerja.

gbr. Kolom dengan tulangan dua sisi

Tulangan tekan pada kolom beton yang dibebani eksentris pada tingkat beban ultimit
umumnya akan mencapai tegangan leleh, kecuali jika beban tersebut kecil, atau
menggunakan baja mutu tinggi atau dimensi kolomnya relatif kecil. Sehingga umumnya
diasumsikan bahwa baja tulangan tekan sudah leleh, kemudian baru regangan diperiksa
apakah memenuhi ketentuan ini.
Desain maupun analisa pada kolom ditempuh dengan cara membuat suatu diagram
interaksi antara momen pada ordinat dan gaya aksial pada aksis. Diagram interaksi
menggambarkan interaksi antara momen dan aksial dalam berbagai variasi sehingga
membentuk suatu grafik. Ada tiga titik utama pada diagram interaksi yaitu
www.ilmutekniksipil.com

a. gaya aksial saja : harga momen nol dan harga aksial maksimum
b. keadaan seimbang : kehancuran pada beton dan baja terjadi secara
bersamaan
c. lentur murni : harga aksial nol
Pada perencanaan, setelah mendapatkan momen dan gaya aksial pada kolom dari
mekanika struktur maka kita mencoba-coba dimensi kolom dan tulangan kemudian dari
dimensi kolom tersebut dibuat diagram interaksinya. Dan kita plotkan momen dan gaya
aksial dari hitungan mekanika struktur tersebut. Bila berada di luar diagram maka kolom
tidak mampu dan harus dicari dimensi lain, dan bila berada di dalam kolom dekat dengan
diagram maka kolom mampu, tapi bila masuk namun terlalu jauh dari diagram maka
kolom terlalu besar/boros. Titik pada diagram interaksi dapat ditambah satu lagi yaitu
pembebanan tarik bila terjadi aksial tarik pada kolom.
Prosedur pembuatan diagram interaksi:
Sebelum membuat diagram interaksi maka harus diketahui faktor reduksi kekuatan
kolom, yaitu :
a. untuk P dan M direduksi dengan :
- untuk tulangan geser sengkang (ties) = 0,65
- untuk tulangan geser spiral (spiral) = 0,7
b. untuk tekan murni Po harus direduksi dengan
- untuk tulangan geser sengkang (ties) = 0,8
- untuk tulangan geser spiral (spiral) = 0,85
c. dan untuk P kurang dari 0,10 fc Ag atau Pb (diambil nilai terkecil) maka =
0,8
www.ilmutekniksipil.com

Pada pembuatan diagram interaksi maka momen dianggap terjadi dari beban aksial
yang bekerja dengan eksentrisitas. Sehingga bisa ditulis sebagai berikut:
Mu = Pu.e
Pembuatan diagram dapat dengan mengabaikan luasan beton yang ditempati tulangan
tekan bila tidak mendekati 8 %.
Satu per satu titik pada diagram interaksi dapat dihitung sebagai berikut:
a. tekan murni
dengan mengabaikan luasan tulangan tekan maka pada keadaan tidak ada momen
maka nilai Po akan maksimum dan di penampang hanya terjadi tegangan tekan maka
tulangan di kedua sisi pada keadaan tekan semua sehingga :
Po = 0,85 fcbh + Ast fy
Po = [0,85 fc bh + Ast fy]
Po = [0,85 fc bh + Ast fy]
bila luasan tulangan tekan tidak diabaikan maka:
Po = 0,85 fc(Ag Ast) + Ast fy
Po = [0,85 fc(Ag Ast) + Ast fy]
Po = [0,85 fc (Ag Ast) + Ast fy]
b. keruntuhan imbang
www.ilmutekniksipil.com

tulangan tarik telah leleh, fs = fy asumsikan bahwa tulangan tekan juga leleh maka
tinggi diagram tekan beton:
0,003 E s
ab = 1d
0,003 E s f y

dalam SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.2 butir 7.3 besar 1 adalah:


1 = 0,85 untuk 0 < fc < 30 MPa
1 = 0,85 0,008(fc 30) untuk 30 < fc < 55 MPa
1 = 0,65 untuk fc > 55 MPa
gaya aksial pada keadaan seimbang bila mengabaikan luas tulangan tekan:
Pb = 0,85 fcabb + (As As)fy
Bila luas tulangan tekan tidak diabaikan :
Pb = 0,85 fcabb + Asfy As (fy 0,85 fc)
Letak sentroid dari penampang dapat dicari dengan menyusun keseimbangan terhadap
tulangan tarik:
0,85 f c ' bhd 1 2 h As ' f y d d'
d =
0 ,85 f c ' bh As As ' f y

dan eksentrisitas gaya aksial dapat dicari:


eb = d d ab
sehingga momen dari sentroid yang terjadi bila mengabaikan tulangan tekan:
Mb = 0,85 fcabb eb + Asfy (d d d) + As fy d
Bila luas tulangan tekan tidak diabaikan maka:
Mb = 0,85 fcabb eb + As ( fy 0,85 fc) (d d d) + As fy d
Setelah itu diperiksa apakah tulangan tekan sudah meleleh atau belum dengan
menganalisa diagram regangan :

s = 0,003
c d'
c
y = f y / Es
bila s > y maka tulangan tekan sudah leleh. Jika tulangan tekan tidak leleh s <
y maka fy pada tulangan tekan untuk mencari Pb, ddan Mb diganti dengan :
fs = s Es
c. lentur murni
www.ilmutekniksipil.com

Dalam keadaan ini mungkin baja tulangan tekan belum meleleh fs < fy maka fs
ditentukan oleh:
a 1 d'
fs = 0,003.2.105
a

a 1 d'
fs = 600
a
bila mengabaikan tulangan tekan maka nilai Pu :
Pu = 0,85 fcab + Asfs Asfy
nilai Pu nol karena dalam keadaan lentur murni maka
a 1 d'
0 = 0,85 fcab + As 600 As fy
a
bila tulangan tekan tidak diabaikan maka nilai Pu :
Pu = 0,85 fcab + As (fs 0,85 fc) Asfy
nilai Pu nol karena dalam keadaan lentur murni maka
a 1 d'
0 = 0,85 fcab + As (600 0,85 fc) As fy
a
Setelah nilai-nilai yang diketahui dimasukkan maka formula di atas akan menjadi
suatu persamaan kwadrat dengan bilangan tidak diketahui a , dan dengan rumus ABC
maka a dapat dicari, sehingga dapat dihitung nilai fs. Setelah itu dapat dicari Mo
dengan mengabaikan tulangan tekan:
Mo = 0,85fcab(d d a) + Asfs(d d d) + As fy d
Setelah itu dapat dicari Mo tanpa mengabaikan tulangan tekan:
Mo = 0,85fcab(d d a) + As ( fs 0,85 fc) (d d d) + As fy d
d. pembebanan tarik
dalam hal ini Mu = 0 dan dengan mengabaikan kekutan tarik dari beton maka:
Pt = As total fy

e. untuk titik-titik lain (tidak harus dihitung)


www.ilmutekniksipil.com

titik-titik yang berada di antara titik-titik utama di atas dapat dicari dengan
menganalisa regangan yaitu dengan memvariasi nilai c maka:
d c
s = 0,003
c
bila s > y = fy/Es maka s = y
c d'
s = 0,003
c
bila s > y = fy/Es maka s = y
gaya pada tulangan tarik dan tekan dan
fs = s Es
fs = s Es
besar gaya aksial bila luasan tulangan tekan diabaikan:
Pu = 0,85 fc1 cb + Asfs Asfs
dan besar momen bila luasan tulangan tekan diabaikan:
Mu = Pu (d d 1 c )+ Asfs (d d) + As fs d
besar gaya aksial bila luasan tulangan tekan tidak diabaikan:
Pu = 0,85 fc1 cb + As (fs 0,85 fc) Asfs
dan besar momen bila luasan tulangan tekan tidak diabaikan:
Mu = Pu (d d 1 c )+ As (fs 0,85 fc) (d d) + As fs d

CONTOH SOAL:
Sebuah penampang kolom segiempat yang berukuran:
- dimensi = 300 x 400 mm
- As dan As = 804 mm2.
- d = 60 mm
- fy = 390 MPa
- fc = 16,6 MPa
- E = 2.105 Mpa
www.ilmutekniksipil.com

Abaikan luasan tulangan tekan yang menempati beton maka diagram interaksinya pada
keadaan:
(a) Tekan murni
Dengan mengabaikan luas beton yang ditempati oleh baja tulangan, diperoleh:
Pu = 0,85 X 16,6 x 300 x 400+ 1608 x 390 = 2320 kN.
Po =0,65 x 2320 = 1508 kN
Po = 0,65 x 0,8 x 2320 = 1260,4 kN
Ini diplot sebagai titik A.
(b) Keruntuhan imbang
0,003 2.10 5
ab = 0,85 340 = 175 mm
0,003 2.10 5 390
cb = ab/0,85 = 206 mm
aksial pada baja tulangan saling meniadakan.
Pb = 0,85 x 16,6 x 175 x 300 = 740,775 kN.
Pb = 0,65 x 740,775 = 481,5 kN
Letak sentriod berada di tengah-tengah penampang karena kedua luas baja tulangan
sama, d" = 140 mm.
Eksentrisitas gaya, eb = d d" ab = 112 mm
Sehingga,
Mb = 0,85x16,6x175x300x 112+804 x 390(340 - 60 - 140) +804x390x140
= 170,76 kNm.
Mb = 0,65 x 170,76 = 110,99 kNm
www.ilmutekniksipil.com

Titik balik :
- Pb = 481,5 kN
- 0,1fcAg = 0,1 x 16,6 x (400 x 300) = 199,2 kN lebih kecil
tegangan pada baja tulangan tekan, diperoleh:
206 60
s = 0,003 = 0,00212
206
y = 390 / 2.105 = 0,00195
Karena s > y baja tulangan tekan sudah meleleh sesuai asumsi.
Ini diplot sebagai titik B.
(c) Lentur murni
a 0 ,85 60
0 = 0,85 x 16,6 x 300 a + 804 x 600 804 x 390
a
a2 + 40a - 5812 = 0; jadi a = 59 mm.

maka,
59 51
fs = 600 = 81 MPa
59
Dengan mensubstitusi fs ini, diperolehi:
Mo = [0,85 x 16,6 x 59 x 300 x (200 - 0,5 x 59)]
+ [804 x 81 x 140] + [804 x 390 x 140]
= 95,597 kNm.
Mo = 0,8 x 95,597 = 76,478 kNm
Ini diplot sebagai titik C.
(d) Pembebanan tarik
Jika beban yang bekerja adalah beban tarik langsung, kekuatan kolom tersebut dengan
Pt = - Astfy = 1608 x 390 = - 627,12 kN.
Pt = 0,8 x 627,12 = 407,628 kN
Ini diplot sebagai titik D.
(e) untuk titik-titik lain
- keruntuhan tarik
www.ilmutekniksipil.com

Keruntuhan ini akan terjadi bila Pu < Pb, atau a < ab. Jika a = 0,85 ab = 149 mm
maka c = 149/1 = 175, tegangan-tegangan pada baja tulangan dapat diperiksa :
340 175
s = 0,003 = 0,00282 > y= 0,00195
175
dan
175 60
s= 0,003 = 0,00197 > y= 0,00195
175
Pu = 0.85 x 16,6 x 20 x 300 x 149 N = 630,717 kN
Pu = 0,65 x 630,717 = 409,966 kN
dan
Mu = 630,717(200 - 0,5 x 149) +2 x 804 x390 x 140 = 166,951 kNm.
Mu = 0,65 x 166,951 = 108,518 kNm
Ini diplot sebagai titik E.
- keruntuhan tekan
Keruntuhan tekan terjadi bila Pu > Pb atau a > ab. Jika a = 1,15ab = 201 mm, maka
c = 201/1 = 236, tegangan-tegangan pada baja tulangan dapat diperiksa :
340 236
s = 0,003 = 0,001315 < y= 0,00195
236
tulangan tarik belum leleh maka:
fs = 0, 001315 x 2.105 = 263 MPa
dan
236 60
s = 0,003 = 0,00223 > y= 0,00195
236
dan gaya aksial:
Pu = 0,85 x 16,6 x 201 x 300+804x390-804 x 263 N = 952,941 kN.
Pu = 0,65 x 952,941 = 619,412 kN
dan
Mu = (0,85 X 16,6 x 201 x 300(200 - 0,5 X 201)]
+ [804 X 390(280 - 140)] +[804 X 263 X 140]
= 158,159 kNm
Mu = 0,65 x 158,159 = 102,803 kNm
Ini diplot sebagai titik F.
www.ilmutekniksipil.com

gbr. Diagram Interaksi Kolom


www.ilmutekniksipil.com

KOLOM DENGAN TULANGAN TERDISTRIBUSI


Tulangan terdistribusi lebih banyak dipakai untuk struktur kolom daripada tulangan
dua sisi, meskipun begitu dalam perhitungannya memerlukan perhitungan yang banyak
sehingga lebih mudah menggunakan program komputer dalam perhitungan kolom dengan
tulangan terdistribusi.

Dalam pembuatan diagram interaksi secara manual maka dibuat suatu tabel untuk
mempermudah perhitungan.
Secara skematis bentuk tabel adalah sebagai berikut:

c Nilai c
si c d i
turun/naik
si = 0,003 secara
c
bertahap
sn
Csi Csi = Asi fsi
dengan
Csn fsi = siEs bila si<y
fsi = fy bila si>y
Csi
www.ilmutekniksipil.com

Cc 0,85 fcab =0,85 fc1cb


Pu Cc + Csi
Mu Cc ( h a) +
n
f si Asi 12 h d i
i 1

DESAIN LANGSUNG
Selain menggunakan diagram interaksi, perencanaan kolom juga dapat dilakukan
dengan menghitung langsung nilai salah satu titik ulitimit pada suatu titik tertentu
disesuaikan dengan beban luar yang ada. Cara ini lebih praktis karena bisa langsung
mengetahui apakah kolom mampu menahan beban atau tidak. Meskipun begitu cara ini
hanya dapat dilakukan untuk kolom dengan dengan tulangan dua sisi.

KOLOM LANGSING / SLENDER COLUMN


Suatu kolom yang tinggi dengan penampang kecil harus ditinjau terhadap pengaruh
kelangsingan. Pengaruh kelangsingan hanya terjadi pada kolom dengan beban aksial
tekan, karena kolom tarik tidak dipengaruhi oleh panjang kolom. Kolom langsing dapat
mempengaruhi kekuatan, karena akan terjadi tekuk pada kolom yang menambah momen
yang sudah ada. Momen ini disebut momen sekunder. Umumnya dalam perhitungan
analisa struktur dengan komputer (mis: SAP atau ETABS) kelangsingan suatu kolom
sudah dihitung otomatis sehingga tidak perlu dihitung lagi. Dan karena pada umumnya
perhitungan analisis struktur sudah menggunakan program yang sudah menghitung
momen sekunder, maka praktis sebenarnya teori yang dibahas di bawah ini tidak akan
pernah dipakai. Jadi hanya sebagai pengetahuan saja.
Prosedur perhitungan untuk kolom langsing adalah seperti di bawah ini.
Suatu kolom bukan termasuk kolom langsing bila:
a. Untuk kolom dengan pengaku lateral (braced):
klu 12 M 1b
< 34
r M 2b
www.ilmutekniksipil.com

dengan:
lu = panjang unsuported/tanpa penopang dari kolom
M1b = momen rencana terkecil untuk struktur dengan penopang atau penahan
( braced )
M2b = momen rencana untuk struktur dengan penopang atau penahan (
braced ) angka 2 menunjukkan momen diambil yang terbesar dari
kedua ujung kolom.
r = radius girasi penampang = I A ; dan untuk penampang persegi

boleh diambil 0,3h dan 0,25D untuk penampang bulat dimana D


adalah diameter penampang.
Nilai k dapat ditentukan secara cepat sebagai berikut:
kedua ujung sendi, tidak bergerak lateral k = 1,0
kedua ujung jepit k = 0,50
satu ujung jepit, ujung lain bebas k = 2,0
kedua ujung jepit, ada gerakan lateral k = 1,0
Nilai k dapat dihitung lebih teliti dengan menggunakan nomogram dengan pertama-
tama menentukan faktor kekangan ujung a (kekangan ujung atas) dan b (kekangan
ujung bawah):
EI

l
k kolom
=
EI

l
b balok

nilai-nilai a dan b diplotkan di nomogram kemudian nilai k dapat ditemukan.


www.ilmutekniksipil.com

a. Braced Frame b. Unbraced Frame

b. Untuk kolom tanpa pengaku lateral (unbraced):


klu
< 22
r
Prosedur perhitungan pada kolom langsing hanya menghitung penambahan momen
ini, yaitu dengan mengalikan dengan faktor pembesaran momen. Dari SK SNI T-15-
1991-03 (3.3.11) ditentukan:
Mc = b M2b + s M2s
dengan:
Mc = momen rencana yang diperbesar
b = faktor pembesar momen untuk struktur dengan penopang atau
penahan ( braced )
s = faktor pembesar momen untuk struktur tanpa penopang atau penahan
sehingga terdapat goyangan ( swayed )
M2s = momen rencana untuk tanpa penopang atau penahan sehingga terdapat
goyangan ( swayed ) angka 2 menunjukkan momen diambil yang
terbesar dari kedua ujung kolom.
www.ilmutekniksipil.com

Faktor pembesaran dihitung dari:


Cm
b = 1,0
Pu
1
Pc
1
s= 1,0
Pu
1
Pc

Pu dan Pc adalah jumlah beban rencana aksial dan jumlah beban tekuk Euler
untuk satu lantai.
Cm adalah faktor koreksi yang ditentukan oleh:
M
Cm = 0,6 + 0,4 1 b 0,4
M 2b
sedang untuk kolom dengan beban transversal Cm diambil sebesar 1.
dengan Pu adalah beban rencana aksial terfaktor, Pc adalah beban tekuk Euler
ditentukan dengan rumus:
EI
Pc =
kl 2
u

EI adalah kekakuan batang dan diambil sebesar:


0 ,2 E c I g E s I se
EI =
1 d

Untuk kolom dengan tulangan sedikit ( 3%) dapat dihitung secara konservatif
:
Ec I g
EI =
2,51 d
dengan:

Ec = 4700 fc ' MPa

Es = 2.105
Ig = momen inersia bruto dengan mengabaikan As
Ise = momen inersia baja terhadap sumbu pusat penampang
www.ilmutekniksipil.com

d = rasio faktor maksimum beban mati terhadap faktor maksimum beban


total; misalnya pada perencanaan beban gravitasi maka d =
1,2D/(1,2D+1,6L)
www.ilmutekniksipil.com

VII. ANALISA PEMBEBANAN PADA PORTAL

PENDAHULUAN

Analisa pembebanan diperlukan sebelum perhitungan analisa strukturnya untuk

mendapatkan gaya-gaya dalam. Ketelitian analisa pembebanan pada portal akan sangat

diperlukan untuk memperoleh hasil yang baik. Beban yang biasa dihitung untuk gedung

adalah beban mati, beban hidup dan beban gempa, meskipun ada beban-beban lain yaitu

beban angin, tekanan tanah, rangkak, susut, differential settlement dan perubahan suhu

biasanya tidak dihitung, dan dihitung ketika menganalisa bagian-bagian struktur tertentu

misalnya: dinding basement, tie beam, pile cap dan sebagainya. Agar supaya struktur

memenuhi syarat kekuatan dan laik pakai maka dipakai faktor beban dengan kombinasi

beban sebagai berikut:

a. U = 1,2D + 1,6L

b. U = 1,05(D + LR E)

c. U = 0,9(D E)

Tanda menunjukkan arah gempa yang bolak-balik, sehingga total ada 5 kombinasi

beban.

ANALISA BEBAN

Pembebanan didasarkan pada berbagai hal:

a. pembebanan di atas plat lantai

b. pembebanan pada kolom

c. pembebanan dari struktur parsial di luar struktur utama, misalnya: kuda-kuda,

kanopi, dome, konsol dan sebagainya

Modul Struktur Beton 59


www.ilmutekniksipil.com

VIII. FONDASI
Jenis fondasi beton yaitu:
- fondasi telapak
- fondasi tiang (pile/borepile)
- abutment
sedangkan elemen pelengkap fondasi yang melengkapi fondasi antara lain:
- pile cap
- tie beam

Modul Struktur Beton 60


www.ilmutekniksipil.com

IX. TANGGA

Ada dua jenis tangga:

- tangga plat

- tangga balok

Modul Struktur Beton 61


www.ilmutekniksipil.com

X. GEDUNG TAHAN GEMPA

PENDAHULUAN
Desain gedung tahan gempa diatur SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.14. Gedung dapat
bertahan dari beban gempa yang bekerja bolak-balik bila dapat beriperilaku daktail yaitu
terjadi lendutan plastis/pada keadaan leleh tapi tidak langsung runtuh dan terjadi selang
yang cukup sampai terjadi runtuh. Dengan keadaan ini terjadi peredaman beban gempa.
Hal ini berlawanan pada gedung berperilaku elastis karena beban gempa akan direspon
seluruhnya menjadi lendutan dan gaya dalam yang besar. Kemampuan suatu gedung
untuk berperilaku daktail disebut tingkat daktilitas (). Dan dapat didefinisikan sebagai
rasio simpangan maksimum dengan simpangan pada waktu leleh(plastis) awal, dan dalam
perencanaa dibagi menjadi:
a. Tingkat daktilitas 1:
Struktur berperilaku elastis = 1 dengan faktor K = 4/ = 4, dan merupakan
tingkat daktilitas terendah sehingga tidak memerlukan penulangan khusus.
b. Tingkat daktilitas 2:
Struktur berperilaku inelastis = 2 dengan faktor K = 4/ = 2, dan disebut
tingkat daktilitas terbatas sehingga memerlukan detail khusus.
c. Tingkat daktilitas 3:
Struktur berperilaku inelastis = 4 dengan faktor K = 4/ = 1 dan mampu
menjamin terjadinya peredaman beban gempa dan bila beban gempa terlalu
besar maka akan hanya terjadi leleh (sendi plastis) pada balok tanpa terjadi
runtuh, dan disebut tingkat daktilitas maksimum sehingga memerlukan detail
khusus yang lebih ketat. Dalam hal ini berlaku prinsip kolom kuat balok lemah
(strong column weak beam) yaitu kerusakan (berupa sendi plastis) hanya terjadi
pada ujung balok bukan pada kolom sehingga gedung tetap berdiri. Prinsip
desain ini disebut Desain Kapasitas (Capacity Design)
Berdasarkan besar gempa rencana maka dapat dibedakan pada berbagai tingkat
daktilitas:
a. Tingkat daktilitas 1 : gempa rencana besar dengan faktor jenis struktur K = 4
yang merupakan faktor pengali gempa
b. Tingkat daktilitas 2 : gempa rencana sedang dengan faktor jenis struktur K = 2

Modul Struktur Beton 62


www.ilmutekniksipil.com

c. Tingkat daktilitas 3 : gempa rencana kecil dengan faktor jenis struktur K = 1

Berdasarkan faktor biaya maka penggunaan berbagai tingkat daktilitas maka


berdasarkan pengalaman di lapangan dapat disimpulkan bahwa:
a. Tingkat daktilitas 1 : akan irit bila dipakai pada daerah dengan gempa kecil
b. Tingkat daktilitas 2 : akan irit bila dipakai pada daerah dengan gempa sedang
c. Tingkat daktilitas 3 : akan irit bila dipakai pada daerah dengan gempa besar
Berdasarkan dimensi dan simpangan atau defleksi dengan beban gempa yang sama
maka dapat ditentukan sebagai berikut:
a. Tingkat daktilitas 1 : dimensi akan besar dengan defleksi yang kecil sehingga
struktur masih bersifat elastis
b. Tingkat daktilitas 2 : dimensi sedang dengan defleksi sedang dan struktur sudah
bersifat inelastis tanpa mengalami keruntuhan getas
c. Tingkat daktilitas 3 : dimensi paling kecil dengan defleksi paling besar dan
merespon gempa secara inelastik dengan mengembangkan sendi plastis pada
tepi balok-baloknya yang dengan ini dapat memencarkan energi dan meredam
energi gempa, tanpa mengalami keruntuhan. Sehingga untuk mencapai keadaan
ini pendetailan tulangan harus diperhatikan dengan baik.

PERENCANAAN DAKTILITAS 1
Untuk desain balok maupun kolom menggunakan faktor beban rencana:
U1 = 1,2 DL + 1,6 LL
U2 = 1,05( DL + LL + EL)
U3 = 0,9 DL + EL

PERENCANAAN DAKTILITAS 2
PERENCANAAN MOMEN DAN AKSIAL KOLOM
Momen rencana menggunakan rumus :
Mu,k = 1,05 (MD,k + ML,k + d KME,k)
Gaya aksial rencana menggunakan rumus:
Nu,k = 1,05 (ND,k + NL,k + d KNE,k)

Modul Struktur Beton 63


www.ilmutekniksipil.com

dengan d = 1,3 untuk kolom atap dan kolom bawah


d = 1 untuk kolom selain itu

PERENCANAAN GESER KOLOM


Geser rencana menggunakan rumus :

4,0
Vu,k = 1,05 (VD,k + VL,k VE,k)
K
PERENCANAAN GESER BALOK
Geser rencana menggunakan rumus :

Vu,b = 1,05 (VD,b + VL,b d VE,b)


PERENCANAAN DAKTILITAS 3
PERENCANAAN MOMEN DAN AKSIAL KOLOM
Dengan prinsip strong column weak beam maka pertama yang harus dihitung adalah
kapasitas momen balok di tumpuan setelah dimensi balok dihitung untuk dapat menahan
akibat akibat beban-beban yang diambil terbesar dari kombinasi beban di bawah ini:
d. U = 1,2D + 1,6L
e. U = 1,05(D + LR E)
f. U = 0,9(D E)
Tanda menunjukkan arah gempa yang bolak-balik. Momen kolom harus direncanakan
diambil yang terkecil dari 2 rumus berikut ini:
Mu,k 0,7 d Mkap,b
4,0
Mu,k < 1,05 (MD,k + ML,k + ME,k)
K
dengan Mkap,b = o Mnak,b
dimana:
Mu,k = jumlah momen rencana kolom pada pusat join searah dengan
arah gaya lateral (gempa) yang ditinjau.
d = koefisien pembesar dinamis yang memperhitungkan pengaruh
dari terbentuknya sendi plastis pada struktur secara keseluruhan
= 1,3

Modul Struktur Beton 64


www.ilmutekniksipil.com

Mkap,b = jumlah momen kapasitas balok dari tulangan terpasang pada


tumpuan (bukan tengah bentang) searah dengan arah gaya lateral
(gempa) yang ditinjau.
MD,k = momen pada kolom akibat beban mati
ML,k = momen pada kolom akibat beban hidup
ME,k = momen pada kolom akibat beban gempa
K = faktor jenis struktur = 1
o = faktor penambahan kekuatan setelah leleh (overstrength factor)
= 1,25 untuk fy 400 MPa
= 1,40 untuk fy 400 MPa
Mnak,b = kuat lentur nominal balok dari tulangan terpasang
Dan gaya aksial kolom diambil yang terkecil dari 2 rumus berikut ini:
0 ,7 Rv M kap,b
Nu,k = +1,05Ng,k
lb
4,0
Nu,k < 1,05 (Ng,k + NE,k)
K
dimana:
Rv = faktor reduksi yang tergantung jumlah lantai (n)
= 1,0 untuk 1<n4
= 1,0 0,0025n untuk 4 < n 20
= 0,6 untuk n > 20
lb = bentang balok diukur dari pusat join
Ng,k = gaya aksial akibat beban gravitasi terfaktor pada pusat join
NE,k = gaya aksial akibat beban gempa pada pusat join
Kemudian momen dan gaya aksial ini dimasukkan ke diagram interaksi kolom dari
dimensi kolom yang diasumsikan terlebih dahulu. Dengan pembatasan rasio tulangan =
1 % 6 % , dan pada daerah sambungan tidak boleh lebih dari 8 %.
PERENCANAAN GESER KOLOM
Gaya geser rencana kolom diambil yang terkecil dari 2 rumus di bawah ini:
M u,k,a M u,k,b
Vu,k =
hn

Modul Struktur Beton 65


www.ilmutekniksipil.com

4,0
Vu,k = 1,05 (VD,k + VL,k VE,k)
K
dimana:
Mu,k,a = momen rencana komponen pada ujung atas pada bidang muka
balok
Mu,k,b = momen rencana komponen pada ujung bawah pada bidang muka
balok
hn = tinggi bersih kolom

PERENCANAAN GESER BALOK


Gaya geser rencana balok diambil yang terkecil dari 2 rumus di bawah ini:

M kap M 'kap
Vu,b = 0,7 + 1,05 Vg
ln
4,0
Vu,b = 1,05 (VD,b + VL,b VE,b)
K
dimana:
Mkap = momen nominal balok di bidang muka kolom
Mkap = momen nominal balok di bidang muka kolom di ujung yang lain
ln = bentang bersih balok
Dan gaya geser ini digunakan untuk menghitung banyaknya tulangan geser yang
diperlukan di ujung balok, dan untuk di tengah bentang hanya menggunakan beban
terfaktor saja.
DESAIN JOIN (TITIK PERTEMUAN RANGKA)
Pada waktu gempa, di dalam titik pertemuan akan terjadi gaya-gaya geser yang perlu
ditahan oleh tulangan. Tulangan ini terdiri dari tulangan horisontal dan vertikal. Sebelum
perhitungan ditentukan dulu lebar efektif beton yang dapat menahan geser (bj) yaitu
sebagai berikut:
a. Bila lebar kolom > lebar balok maka bj diambil yang terkecil dari:
- lebar kolom
- lebar balok + tinggi penampang kolom
b. Bila lebar kolom < lebar balok maka bj diambil yang terkecil dari:
- lebar balok

Modul Struktur Beton 66


www.ilmutekniksipil.com

- lebar kolom + tinggi penampang kolom


PERHITUNGAN TULANGAN HORISONTAL
Luas total efektif dari tulangan geser horisontal yang melewati bidang kritis diagonal dan
yang diletakkan di daerah lebar join bj :
Vsh
Ajh =
fy

Dengan:
Vsh = Vjh Vch
Vjh = Cki Tka Vkol
M kap ,ki
Cki = 0,7
Z ki

M kap ,ka
Tka = 0,7
Z ka

l l
0 ,7 ki M kap ,ki ka M kap ,ka
Vkol = l ki ' l ka '
1 h h
2 k ,a k ,b

Vch = harus diambil sama dengan nol kecuali dengan keadaan sebagai berikut
a. tegangan rata-rata minimal pada penampang bruto kolom beton di atas join termasuk
tegangan prategang apabila ada melebihi nilai 0,1 fc,maka:

2 N u,k
Vch = 0,1 f c' b j hc
3 A
g

b. balok diberi gaya prategang yang melewati join, maka:


Vch = 0,7 Pcs

c. seluruh balok pada join dirancang sehingga penampang kritis dari sendi plastis
terletak pada jarak yang lebih kecil dari tinggi penampang balok diukur dari muka
kolom, maka:

A 's N u ,k
Vch =0,5 Vjh 1
As 0 ,4A f '
g c

Modul Struktur Beton 67


www.ilmutekniksipil.com

PERHITUNGAN TULANGAN VERTIKAL


Tulangan geser join vertikal ini harus terdiri dari tulangan kolom antara (intermediate
bars) yang terletak pada bidang lentur antara ujung tulangan terbesar atau terdiri dari
sengkang-sengkang pengikat vertikal (syarat-syarat tulangan geser vertikal dapat dilihat
dalam SKSNI 1991 pasal 3.14.6.6). Luas tulangan geser join vertikal adalah:
Vsv
Ajv =
fy

Dengan:
Vsv = Vjv Vcv
hc
Vjv = Vjh
bj

Vsh N
Vcv = Asc 0,6 u,k
Vsc Ag f c'

Modul Struktur Beton 68


www.ilmutekniksipil.com

XI. DETAIL PENULANGAN


Detail penulangan didasarkan pada beberapa ketentuan yaitu:
- panjang penyaluran, jangkar, lewatan,
- spasi minimum
- arah momen, geser, torsi, aksial (menentukan letak tulangan)

Modul Struktur Beton 69