Anda di halaman 1dari 115

RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAWI (Brassica juncea L.

)
TERHADAP PENGGUNAAN PUPUK KASCING
DAN PUPUK ORGANIK CAIR

SKRIPSI

OLEH :

SYLVIA FRANSISCA
040301039
BDP - AGRONOMI

PROGRAM STUDI AGRONOMI


DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAWI (Brassica juncea L.)
TERHADAP PENGGUNAAN PUPUK KASCING
DAN PUPUK ORGANIK CAIR

SKRIPSI

OLEH :

SYLVIA FRANSISCA
040301039
BDP - AGRONOMI

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Melaksanakan Ujian Sarjana di
Departemen Budidaya Pertanian Fakultan Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan

Disetujui Oleh Komisi Pembimbing :

Ketua Anggota

(Prof. Dr. Ir. J. A. Napitupulu, MSc) (Ir. Balonggu Siagian, MS)


NIP : 130 231 557 NIP: 130 806 538

PROGRAM STUDI AGRONOMI


DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
ABSTRACT

This research is proposed to find out the best growth and production
response of mustard (Brassica juncea L.) as worm compost and liquid organic
fertilizer given. The research was held in Padang Bulan, Medan Tuntungan,
started from November 2008 until December 2008. The design use randomized
block design factorial with 2 aspects. The first aspect is kascing consist of four
stages those are K0 (0 g/plant), K1 (20 g/plant), K2 (40 g/ plant) and
K3 (60 g/ plant). The second factor is Puja 168 fertilizer consist four stage those
are P0 (0 ml/liter water), P1 (2.5 ml/liter water), P2 (5 ml/liter water) and
P3 (7.5 ml/liter water). Worm compost given perform real effect to plant height,
number of leaf, leaf area total, fresh weight per plant, dry weight per plant, net
assimilation rate 24-40 day after planted, relative growth rate 24-40 day after
planted, production per plant, and production per plot, but not gave any influenced
to net assimilation rate and relative growth rate 16-24 day after planted. Puja 168
fertilizer really influenced on plant height, fresh weight per plant, dry weight per
plant, net assimilation rate and relative growth rate 8-40 day after planted.
Number of leaf 24-40 day after planted, leaf area total 16-40 day after planted,
production per plant, and production per plot, but not influenced on plant height,
fresh weight per plant, dry weight per plant, net assimilation rate and relative
growth rate 16-24 day after planted and number of leaf 16-20 day after planted.
The interaction between both aspect influenced on plant height 23-36 day after
planted, number of leaf 24 day after planted, leaf area total 40 day after plant,
fresh weight per plant 40 day after planted, dry weight per plant 40 day after
planted, net assimilation rate 32-40 day after plant, production per plant and
production per plot.
Key word : worm compost, puja 168 fertilizer, mustard, growth and production

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan


produksi tanaman sawi (Brassica juncea L.) yang terbaik terhadap penggunaan
pupuk kascing dan pupuk organik cair. Penelitian ini dilaksanakan di Padang Bulan
Kecamatan Medan Tuntungan, dimulai pada bulan Nopember 2008 dan selesai pada
bulan Desember 2008. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak
Kelompok faktorial dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama adalah pupuk Kascing
dengan 4 taraf, yaitu K0 (0 g/tanaman), K1 (20 g/tanaman), K2 (40 g/tanaman), dan
K3 (60 g/tanaman). Faktor kedua adalah pupuk Puja 168 dengan 4 taraf, yaitu P0 (0
ml/liter air), P1 (2.5 ml/liter air), P2 (5 ml/liter air) dan P3 (7.5 ml/liter air). Perlakuan
pupuk Kascing berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, total luas
daun, bobot segar per tanaman, bobot kering per tanaman, laju asimilasi bersih
umur 24-40 hst, laju pertumbuhan relatif 24-40 hst, produksi per tanaman dan
produksi per plot, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap laju asimilasi bersih
dan laju pertumbuhan relatif umur 16-24 hst. Perlakuan pupuk Puja 168
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, bobot segar per tanaman, bobot
kering per tanaman, laju asimilasi bersih dan laju pertumbuhan relatif umur 28-40
hst, jumlah daun umur 24-40 hst, total luas daun 16-40 hst, produksi per tanaman
dan produksi per plot, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman,
bobot segar per tanaman, bobot kering per tanaman, laju asimilasi bersih dan laju
pertumbuhan relatif umur 16-24 hst, serta jumlah daun umur 16-20 hst. Interaksi
antara pupuk Kascing dan pupuk Puja 168 berpengaruh nyata terhadap tinggi
tanaman umur 28-36 hst; jumlah daun umur 24 hst; total luas daun umur 40 hst;
bobot segar per tanaman umur 40 hst; bobot kering per tanaman umur 40 hst; laju
asimilasi bersih umur 32-40 hst; produksi per tanaman dan produksi per plot.
Kata kunci : pupuk kascing, pupuk puja 168, sawi, pertumbuhan dan produksi.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
RIWAYAT HIDUP

Sylvia Fransisca, lahir pada tanggal 06 Agustus 1984 di Padangsidimpuan,

Provinsi Sumatera Utara, anak ke-2 dari 2 bersaudara, puteri dari ayahanda

P. Simangunsong dan ibunda L. Sibarani.

Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis hingga saat ini adalah

Pendidikan Dasar di SD Swasta Xaverius Padangsidimpuan lulus tahun 1997,

Pendidikan Menengah Pertama di SLTP Swasta Kesuma Indah Padangsidimpuan

lulus tahun 2000, Pendidikan Menengah Atas di SMU Negeri 2 Padangsidimpuan

lulus tahun 2003 dan terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas

Sumatera Utara Medan pada tahun 2004 melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa

Baru (SPMB) pada Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten mata kuliah

Fisiologi Tumbuhan (TA. 2006/20072008/2009), asisten mata kuliah Nutrisi

Tanaman (TA. 2007/2008-2008/2009), dan mengikuti kegiatan organisasi

Himpunan Mahasiswa Budidaya Pertanian HIMADITA tahun 2007-2009.

Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) periode Juni 2008

sampai Juli 2008 di PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Silau Dunia, Kabupaten

Simalungun.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas

berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan skripsi ini.

Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang berjudul Respon

Pertumbuhan dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan

Pupuk Kascing dan Pupuk Organik Cair yang merupakan salah satu syarat

untuk memperoleh gelar sarjana pertanian di Fakultas Pertanian Universitas

Sumatera Utara, Medan.

Penelitian dan skripsi ini tidak akan selesai dengan baik tanpa adanya

bantuan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. J. A. Napitupulu, MSc sebagai Ketua Komisi Pembimbing

dan Bapak Ir. Balonggu Siagian, MS sebagai Anggota Komisi Pembimbing

yang telah memberi banyak saran, petunjuk, bimbingan, arahan serta

kepercayaan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penelitian dan

skripsi ini.

2. Ayahanda P. Simangunsong dan Ibunda L. Sibarani yang telah membesarkan

penulis dengan segenap cinta dan kasih sayang serta pengorbanan yang tak

ternilai harganya dan juga kepada Abangda Jimmy Simangunsong yang

banyak memberikan masukan dan motivasi kepada penulis.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
3. Keluarga C. Surbakti/br. Sibarani yang begitu banyak memberikan semangat,

dukungan, motivasi serta doa dan menampung segala keluh kesah penulis

selama memulai perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini.

4. Keluarga A. Simanjuntak/br. Sibarani, Keluarga Pdt. F. Sibarani/br. Sitorus,

Kak Grace, Kak Esti, Kak Reina, Margareth, Michelle, Jacqueline dan seluruh

Keluarga besar Simangunsong yang telah memberi dukungan dan doa kepada

penulis selama penyusunan skripsi ini.

5. Kepada teman-teman: Diana, Susi, Ophi, Lya, Limsasi, Andrew, Toto, Gugun,

Anggiat, Daniel, Sony, Difa, Jihot, Nicolas dan seluruh teman-teman angkatan

2004 dan juga adik-adik angkatan 2007 atas bantuan tenaga, doa, motivasi,

dan rasa kekeluargaan yang telah membantu penulis selama perkuliahan,

penelitian dan penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu

penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan

skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Maret 2009

Penulis

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
DAFTAR ISI

ABSTRACT ................................................................................................. i

ABSTRAK ................................................................................................... ii

RIWAYAT HIDUP ..................................................................................... iii

KATA PENGANTAR................................................................................. iv

DAFTAR ISI................................................................................................ vi

DAFTAR TABEL ....................................................................................... viii

DAFTAR GAMBAR................................................................................... x

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xiv

PENDAHULUAN
Latar Belakang ................................................................................ 1
Tujuan Penelitian ............................................................................ 4
Hipotesa Penelitian.......................................................................... 4
Kegunaan Penelitian........................................................................ 4

TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum Tanaman Sawi ..................................................... 5
Syarat Tumbuh ................................................................................ 6
Iklim ...................................................................................... 6
Tanah..................................................................................... 7
Pupuk Kascing ................................................................................ 8
Pupuk Organik Cair Puja 168 ......................................................... 11

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu ......................................................................... 15
Bahan dan Alat................................................................................ 15
Metode Penelitian ........................................................................... 16

PELAKSANAAN PENELITIAN
Persemaian ...................................................................................... 18
Penyemaian Benih........................................................................... 18
Pengolahan Tanah ........................................................................... 18
Pemupukan Dasar............................................................................ 18
Penanaman ...................................................................................... 19
Pengaplikasian Kascing .................................................................. 19

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Pengaplikasian Pupuk Organik Cair Puja 168 ................................ 19
Penyisipan ....................................................................................... 19
Pemeliharaan ................................................................................... 20
Penyiraman............................................................................. 20
Penyiangan ............................................................................. 20
Pencegahan Hama dan Penyakit ............................................ 20
Panen ............................................................................................... 20
Peubah yang Diamati ...................................................................... 20
Tinggi Tanaman ..................................................................... 20
Jumlah Daun .......................................................................... 21
Luas Daun .............................................................................. 21
Bobot Segar Tanaman ............................................................ 21
Bobot Kering Tanaman .......................................................... 21
Laju Asimilasi Bersih............................................................. 22
Laju Pertumbuhan Relatif ...................................................... 22
Produksi ................................................................................. 23
Produksi per Tanaman ................................................ 23
Produksi per Plot ......................................................... 23

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil ................................................................................................ 24
Tinggi Tanaman..................................................................... 24
Jumlah Daun .......................................................................... 31
Luas Daun .............................................................................. 37
Bobot Segar Tanaman ............................................................ 43
Bobot Kering Tanaman .......................................................... 49
Laju Asimilasi Bersih............................................................. 55
Laju Pertumbuhan Relatif ...................................................... 61
Produksi ................................................................................. 66
Produksi per Tanaman ................................................ 66
Produksi per Plot ......................................................... 68
Pembahasan..................................................................................... 70
Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sawi
Terhadap Dosis Pupuk Kascing............................................. 71
Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sawi
Terhadap Konsentrasi Pupuk Puja 168.................................. 72
Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sawi
Terhadap Interaksi Perlakuan Pupuk Kascing dengan
Pupuk Puja 168...................................................................... 74

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan ..................................................................................... 76
Saran................................................................................................ 76

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
DAFTAR TABEL

NO JUDUL TABEL HALAMAN

1 Kandugan Gizi Tanaman Sawi (mg/100 g) 1

2 Hasil Analisis Padatan (Sludge) tanpa pemanasan di


Kebun Dolok Sinumbah.................................................... 11

3 Kandungan unsur hara dalam pupuk puja 168... 13

4 Rataan Tinggi Tanaman Sawi (cm) pada Berbagai Dosis


Kascing (K) dan Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d
40 hst... 26

5 Rataan Tinggi Tanaman pada Interaksi Kascing (K) dan


Puja 168 (P) Umur 28, 32, dan 36 hst ... 28

6 Rataan Jumlah Daun Sawi (helai) pada Berbagai Dosis


Kascing (K) dan Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d
40 hst ..... 33

7 Rataan Jumlah Daun pada Interaksi Kascing (K) dan Puja


168 (P) Umur 24 hst... 35

8 Rataan Luas Daun Sawi (cm2) pada Berbagai Dosis


Kascing (K) dan Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d
40 hst ...... 39

9 Rataan Luas Daun pada Interaksi Kascing (K) dan Puja


168 (P) pada Umur 40 hst .. 41

10 Rataan Bobot Segar Sawi (g) pada Berbagai Dosis


Kascing (K) dan Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d
40 hst .. 45

11 Rataan Bobot Segar pada Interaksi Kascing (K) dan Puja


168 (P) Umur 40 hst . 47

12 Rataan Bobot Kering Sawi (g) pada Berbagai Dosis


Kascing (K) dan Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d
40 hst .. 51

13 Rataan Bobot Kering Sawi pada Interaksi antara Kascing

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
(K) dan Puja 168 (P) Umur 40hst. . 53

14 Rataan Laju Asimilasi Bersih Sawi (g.cm2.hari-1) pada


Berbagai Dosis Kascing (K) dan Konsentrasi Puja 168
(P) Umur 16 s/d 40 hst ........... 57

15 Rataan Laju Asimilasi Bersih pada Interaksi Kascing (K)


dan Puja 168 (P) Umur 40 hst 59

16 Rataan Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1) pada


Berbagai Dosis Kascing (K) dan Konsentrasi Puja 168
(P) Umur 16 s/d 40 hst... 64

17 Rataan Produksi per Tanaman pada Interaksi Kascing


(K) dan Puja 168 (P) Umur 40 hst . 67

18 Rataan Produksi per Plot pada Interaksi Kascing (K) dan


Puja 168 (P) Umur 40 hst .. 69

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
DAFTAR GAMBAR

NO JUDUL GAMBAR HALAMAN


1 Perkembangan Tinggi Tanaman Sawi (cm) pada
Berbagai Dosis Kascing (g) Umur 16 s/d 40 hst ... 24

2 Perkembangan Tinggi Tanaman Sawi (cm) pada


Berbagai Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d
40 hst . 25

3 Hubungan antara Tinggi Tanaman (cm) dengan Berbagai


Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 16, 20, 24 dan
40 hst..... 27

4 Hubungan Antara Tinggi Tanaman (cm) dengan


Berbagai Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 28 s/d
40 hst ............................................................................. 27

5 Pengaruh Dosis Kascing pada Berbagai Konsentrasi Puja


168 terhadap Tinggi Tanaman umur 28, 32, dan 36 hst.... 29

6 Pengaruh Puja 168 pada berbagai Kascing terhadap


Tinggi Tanaman umur 28, 32, dan 36 hst . 30

7 Perkembangan Jumlah Daun Sawi (helai) pada Berbagai


Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 16 s/d 40 hst ... 31

8 Perkembangan Jumlah Daun Sawi (helai) pada Berbagai


Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d 40 hst 32

9 Hubungan antara Jumlah Daun (helai) dengan Berbagai


Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 16, 20, 28, 32, 36 dan
40 hst . 34

10 Hubungan Antara Jumlah Daun (helai) dengan


konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 28, 32, 36 dan
40 hst.. 34

11 Pengaruh Dosis Kascing pada berbagai Konsentrasi Puja


168 terhadap Jumah Daun Umur 24 hst.................... 36

12 Pengaruh Konsentrasi Puja 168 pada berbagai Dosis


Kascing terhadap Jumlah Daun Umur 24 hst. 36

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
13 Perkembangan Luas Daun Sawi (cm2) pada Berbagai
Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 16 s/d 40 hst 37

14 Perkembangan Luas Daun Sawi (cm2) pada Berbagai


Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d 40 hst .... 38

15 Hubungan antara Luas Daun (cm2) dengan Berbagai


Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 16, 24 dan 32 hst.. 40

16 Hubungan antara Luas Daun (cm2) dengan Berbagai Puja


168 (ml/liter air) Umur 16, 24 dan 32 hst.. 40

17 Pengaruh Dosis Kascing terhadap Luas Daun pada


berbagai Konsentrasi Puja 168 Umur 40 hst .... 42

18 Pengaruh Konsentrasi Puja 168 Terhadap Luas Daun


pada berbagai Kascing umur 40 hst .. 42

19 Perkembangan Bobot Segar Sawi (g) pada Berbagai


Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 16 s/d 40 hst .... 43

20 Perkembangan Bobot Segar Sawi (g) pada Berbagai


Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d 40 hst .... 44

21 Hubungan antara Bobot Segar (g) dengan Dosis


Kascing (g/tanaman) Umur 16, 24 dan 32 hst ... 46

22 Hubungan antara Bobot Segar (g) dengan Konsentrasi


Puja 168 (ml/liter air) Umur 32 hst .. 46

23 Pengaruh Dosis Kascing terhadap Bobot Segar (g) pada


berbagai Konsentrasi Puja 168 umur 40 hst .. 48

24 Pengaruh Konsentrasi Puja 168 Terhadap Bobot Segar


(g) pada berbagai Dosis Kascing umur 40 hst 49

25 Perkembangan Bobot Kering Sawi (g) pada Berbagai


Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 16 s/d 40 hst 50

26 Perkembangan Bobot Kering Sawi (g) pada Berbagai


Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d 40 hst .... 50

27 Hubungan antara Bobot Kering (g) dengan Berbagai


Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 16, 24 dan 32 hst.. 52

28 Hubungan antara Bobot Kering (g) dengan Puja 168


(ml/liter air) Umur 32 hst ... 53

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
29 Pengaruh Dosis Kascing terhadap Bobot Kering (g) pada
berbagai Konsentrasi Puja 168 umur 40 hst.. 54

30 Pengaruh Konsentrasi Puja 168 Terhadap Bobot Kering


(g) pada berbagai Dosis Kascing umur 40 hst 55

31 Perkembangan Laju Asimilasi Bersih Sawi (g.cm2.hari-1)


pada Berbagai Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 16 s/d
40 hst.. 56

32 Perkembangan Laju Asimilasi Bersih Sawi (g.cm2.hari-1)


pada Berbagai Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur
16 s/d 40 hst 57

33 Hubungan antara Laju Asimilasi Bersih Sawi


(g.cm2.hari-1) dengan Berbagai Dosis Kascing
(g/tanaman) Umur 24-32 hst.. 58

34 Hubungan antara Laju Asimilasi Bersih Sawi


(g.cm2.hari-1) dengan Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air)
Umur 24-32 hst .. 59

35 Pengaruh Kascing Terhadap Laju Asimilasi Bersih


(g.cm2.hari-1) pada Berbagai Puja 168 umur 32-40 hst 60

36 Pengaruh Puja 168 Terhadap Laju Asimilasi Bersih


(g.cm2.hari-1) pada Berbagai Kascing umur 40 hst . 61

37 Perkembangan Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1) pada


Berbagai Dosis Kascing (g/tanaman) Umur
16 s/d 40 hst.... 62

38 Perkembangan Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1) pada


Berbagai Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d
40 hst .. 63

39 Hubungan antara Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1)


dengan Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 24-32 dan 32-
40 hst . 65

40 Hubungan antara Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1)


dengan Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 24-32
dan 32-40 hst . 66

41 Pengaruh Dosis Kascing terhadap Produksi per Tanaman


(g) pada Berbagai Konsentrasi Puja 168.. 67

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
42 Pengaruh Konsentrasi Puja 168 terhadap Produksi per
Tanaman pada berbagai Dosis Kascing ... 68

43 Pengaruh Dosis Kascing terhadap Produksi per Plot pada


Berbagai Konsentrasi Puja 168. 70

44 Pengaruh Konsentrasi Puja 168 terhadap Produksi per


Plot pada berbagai Dosis Kascing ..... 71

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
DAFTAR LAMPIRAN

NO JUDUL LAMPIRAN HALAMAN


1 Bagan Plot Penelitian . 80

2 Bagan Penelitian . 81

3 Jadwal Kegiatan...... 82

4 Data Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Umur


16-40 hst. 83

5 Rangkuman Sidik Ragam Tinggi Tanaman .. 84

6 Data Pengamatan Jumlah Daun (helai) Umur 16-40 hst .. 85

7 Rangkuman Sidik Ragam Jumlah Daun ... 86

8 Data Pengamatan Luas Daun (cm2) Umur 16-40 hst. 87

9 Rangkuman Sidik Ragam Luas Daun ... 87

10 Data Pengamatan Bobot Basah (g) Umur 16-40 hst . 88

11 Rangkuman Sidik Ragam Bobot Basah .... 88

12 Data Pengamatan Bobot Kering (g) Umur 16-40 hst. 89

13 Rangkuman Sidik Ragam Bobot Kering ... 89

14 Data Pengamatan Laju Asimilasi Bersih (g.cm2.h-1) Umur


16-40 hst .... 90

15 Rangkuman Sidik Ragam Laju Asimilasi Bersih.. 90

16 Data Pengamatan Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1)


Umur 16-40 hst ..... 91

17 Rangkuman Sidik Ragam Laju Pertumbuhan Relatif ... 91

18 Data Pengamatan Produksi per Tanaman (g) Umur


16-40 hst .... 92

19 Sidik Ragam Produksi per Tanaman ..... 92

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
20 Data Pengamatan Produksi per Plot (g) Umur 16-40 hst .. 93

21 Sidik Ragam Produksi per Plot ..... 93

22 Deskripsi Sawi Varietas Tosakan . 94

23 Analisis Tanah Lahan Penelitian .. 95

24 Analisis Pupuk Kascing..... 96

25 Foto Lahan Penelitian. 97

26 Foto Sampel Tanaman Sawi pada Masing-masing


Perlakuan 98

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sawi termasuk tanaman sayuran daun dari keluarga Cruciferae yang

mempunyai nilai ekonomis tinggi. Daerah asal tanaman sawi diduga dari

Tiongkok (Cina) dan Asia Timur. Konon di daerah Cina tanaman ini telah

dibudidayakan sejak 2500 tahun yang lalu, kemudian menyebar luas ke Filipina

dan Taiwan. Masuknya sawi ke Indonesia diduga pada abad XI bersamaan dengan

lintas perdagangan jenis sayuran sub-tropis lainnya. Daerah pusat penyebarannya

antara lain di Cipanas (Bogor), Lembang dan Pangalengan (Rukmana, 2007).

Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat giji yang

cukup lengkap sehingga apabila dikonsumsi sangat baik untuk mempertahankan

kesehatan tubuh. Menurut data yang tertera dalam daftar komposisi makanan yang

diterbitkan oleh Direktorat Gizi Departemen Kesehatan, komposisi zat-zat

makanan yang terkandung dalam sawi dapat disajikan pada tabel berikut :

Tabel 1. Kandungan Gizi Tanaman Sawi (mg / 100 g)


Zat Gizi Kandungan Gizi
--------------mg/100 g-------------
Protein 23
Lemak 3
Karbohidrat 40
Ca 220,0
P 38,0
Fe 2,9
Viatamin A 1.940,0
Viatamin B 0,09
Viatamin C 102
Sumber : Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI, 1981

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Selain memiliki kandungan vitamin dan zat gizi yang penting bagi kesehatan,

sawi dipercaya dapat menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita

batuk. Sawi yang dikonsumsi berfungsi pula sebagai penyembuh sakit kepala dan

juga dapat membersihkan darah (Haryanto, dkk, 2003).

Menurut Direktorat Jendral Hortikultura Departemen Pertanian (2008),

produksi sawi di Indonesia dari tahun 2003 hingga 2006 terus mengalami

peningkatan. Produksi sawi tahun 2003, 2004, 2005, 2006 berturut-turut adalah

459,253 ton, 534,964 ton, 548,453 ton dan 590,400 ton.

Namun di Sumatera Utara, pada enam tahun terakhir (2001-2006)

produksi sayuran justru anjlok hingga 25,6%. Pada tahun 2001 daerah ini masih

mampu menghasilkan sayuran sebanyak 1.146.341 ton, namun tahun 2006 anjlok

hingga 852.299 ton atau turun sebanyak 294.042 ton. Salah satu jenis sayuran

yang ditanam di daerah Sumut adalah sawi. Menurut Badan Pusat Statistik

Provinsi Sumatera Utara (2008) produksi sawi pada tahun 2006 adalah 73.008

ton. Salah satu penyebab terjadinya penurunan adalah semakin rendahnya minat

petani menanam sayuran karena dianggap tidak menguntungkan dan banyak lahan

yang beralih fungsi serta banyaknya sayuran impor saat ini. Jika kondisi ini terus

dibiarkan bukan tidak mungkin, 20 atau 40 tahun lagi tidak ada sayuran yang

dihasilkan dari daerah ini. Padahal, sayuran termasuk sumber gizi yang sangat

dibutuhkan masyarakat (Harian Global, 2008).

Untuk meningkatkan keuntungan dapat dicapai antara lain melalui

peningkatan produksi dengan biaya produksi yang lebih rendah. Peningkatan

produksi dapat dicapai melalui pemupukan. Salah satu pupuk organik yang telah

diteliti secara ilmiah dan telah diaplikasikan oleh para petani dan praktisi di

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
banyak negara adalah kascing. Kascing memilki beberapa keunggulan,

diantaranya mempercepat pertumbuhan tanaman, memperbaiki mutu buah, dan

mencegah berbagai jenis penyakit pada tanaman (Mulat,2003). Kandungan nutrisi

kascing lebih tinggi dibandingkan dengan kompos. Kandungan N, P dan K dapat

mencapai dua kali lipat kompos biasa, dan kascing juga lebih kaya akan zat

pengatur tumbuh (ZPT) tanaman dan mikroba tanah. Keseluruhan kandungan

kascing, kimiawi maupun hayati, membuat jumlah nutrisi yang tersedia dan dapat

diserap tanaman jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kompos biasa

(www.kascing.com, 2008).

Puja 168 adalah pupuk organik cair Bio Enzym yang terbuat dari

daun-daunan dan buah - buahan segar yang diolah secara

enzimisasi sehingga menghasilkan mikroorganisme, unsur hara makro dan mikro

yang berguna untuk memingkatkan kesuburan tanah serta mempercepat

penguraian unsur hara bagi tamanan (www.indonetwork.or.id , 2008).

Berdasarkan uraian diatas dalam upaya menghasilkan tanaman sawi yang

berkualitas dengan meningkatkan penyerapan unsur hara tanaman, penulis merasa

tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Respon Pertumbuhan dan

Produksi Sawi (Brassica juncea L.) terhadap Penggunaan Pupuk Kascing dan

Pupuk Organik Cair, sehingga dapat dicari dosis optimum yang dapat

meningkatkan efisiensi penggunaan modal.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi

sawi (Brassica juncea L.) yang terbaik terhadap penggunaan pupuk kascing dan

pupuk organik cair.

Hipotesis Penelitian

1. Ada respon positif pertumbuhan dan produksi tanaman sawi terhadap

peningkatan dosis pupuk kascing hingga batas tertentu.

2. Ada respon positif pertumbuhan dan produksi tanaman sawi terhadap

peningkatan konsentrasi pupuk organik cair hingga batas tertentu.

3. Ada interaksi antara pupuk Kascing dan pupuk Puja 168 terhadap

pertumbuhan dan produksi tanaman sawi.

Kegunaan Penelitian

1. Sebagai bahan untuk penulisan skripsi yang menjadi syarat mengikuti

ujian Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Sumatera

Utara, Medan.

2. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Umum Tanaman Sawi

Sistematika tanaman sawi adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Class : Dicotyledonae

Ordo : Rhoeadales

Famili : Cruciferae

Genus : Brassica

Spesies : Brassica juncea L. (Haryanto, dkk, 2003).

Tanaman sawi hijau berakar serabut yang tumbuh dan berkembang secara

menyebar ke semua arah di sekitar permukaan tanah, perakarannya sangat dangkal

pada kedalaman sekitar 5 cm. Tanaman sawi hijau tidak memiliki akar tunggang.

Perakaran tanaman sawi hijau dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada

tanah yang gembur, subur, tanah mudah menyerap air, dan kedalaman tanah

cukup dalam (Cahyono, 2003).

Batang (caulis) sawi pendek sekali dan beruas-ruas, sehingga hampir tidak

kelihatan. Batang ini berfungsi sebagai alat pembentuk dan penopang daun

(Rukmana, 2007).

Sawi berdaun lonjong, halus, tidak berbulu dan tidak berkrop. Pada

umumnya pola pertumbuhan daunnya berserak (roset) hingga sukar membentuk

krop (Sunarjono, 2004).

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Tanaman sawi umumnya mudah berbunga secara alami, baik didataran

tinggi maupun dataran rendah. Struktur bunga sawi tersusun dalam tangkai bunga

(inflorescentia) yang tumbuh memanjang (tinggi) dan bercabang banyak. Tiap

kuntum bunga terdiri atas empat helai daun kelopak, empat helai daun mahkota

bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari, dan satu buah putik yang

berongga dua (Rukmana, 2007).

Buah sawi termasuk tipe buah polong, yakni bentuknya memanjang dan

berongga. Tiap buah (polong ) berisi 2-8 butir biji (Rukmana, 2007). Biji sawi

hijau berbentuk bulat, berukuran kecil, permukaannya licin dan mengkilap, agak

keras, dan berwarna coklat kehitaman (Cahyono, 2003).

Syarat Tumbuh

Iklim

Daerah penanaman yang cocok untuk untuk pertumbuhan tanaman sawi

adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai 1200 meter dpl. Namun, biasanya

taanaman ini dibudidayakan di daerah yang berketinggian 100-500 m dpl.

Sebagian besar daerah-daerah di Indonesia memenuhi syarat ketinggian tersebut

(Haryanto,dkk,2003).

Tanaman dapat melakukan fotosintesis dengan baik memerlukan energi

yang cukup. Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tanaman

untuk proses fotosintesis. Energi kinetik matahari yang optimal yang diperlukan

tanaman untuk pertumbuhan dan produksi berkisar antara 350-400 cal/cm2 setiap

hari. Sawi hijau memerlukan cahaya matahari tinggi (Cahyono, 2003).

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Kondisi iklim yang dikehendaki untuk pertumbuhan tanaman sawi adalah

daerah yang mempunyai suhu malam hari 15,6 0C dan siang harinya 21,10C serta

penyinaran matahari antara 10-13 jam per hari. Meskipun demikian, beberapa

varietas sawi yang tahan (toleran) terhadap suhu panas, dapat tumbuh dan

berproduksi dengan baik di daerah yang suhunya antara 270-320C

(Rukmana, 2007).

Kelembaban udara yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman sawi hijau

yang optimal berkisar antara 80%-90%. Tanaman sawi hijau tergolong tanaman

yang tahan terhadap hujan, sehingga penanaman pada musim hujan masih bisa

memberikan hasil yang cukup baik. Curah hujan yang sesuai untuk

pembudidayaan tanaman sawi hijau adalah 1000-1500 mm/tahun. Daerah yang

memiliki curah hujan sekitar 1000-1500 mm/tahun dapat dijumpai di dataran

tinggi pada ketinggian 1000-1500 m dpl. Akan tetapi tanaman sawi tidak tahan

terhadap air yang menggenang (Cahyono,2003).

Tanah

Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah yang gembur, banyak

mengandung humus, subur serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman

(pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7

(Haryanto, dkk, 2003).

Sawi dapat di tanam pada berbagai jenis tanah, namun paling baik adalah

jenis tanah lempung berpasir seperti andosol. Pada tanah-tanah yang mengandung

liat perlu pengolahan tanah secara sempurna, antara lain pengolahan tanah yang

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
cukup dalam, penambahan pasir dan pupuk organik dalam jumlah (dosis) tinggi

(Rukmana, 2007).

Sifat biologis tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman sawi adalah

tanah yang banyak mengandung bahan organik (humus) dan bermacam-macam

unsur hara yang berguna untuk pertumbuhan tanaman, serta pada tanah terdapat

jasad renik tanah atau organisme tanah pengurai bahan organik sehingga dengan

demikian sifat biologis tanah yang baik akan meningkatkan pertumbuhan tanaman

(Cahyono, 2003).

Pupuk Kascing

Kascing adalah pupuk organik yang diperoleh melalui proses yang

melibatkan cacing tanah dalam proses penguraian atau dekomposisi bahan

organiknya. Walaupun sebagian besar penguraian dilakukan oleh jasad renik,

kehadiran cacing justru membantu memperlancar proses dekomposisi. Pasalnya,

bahan yang akan diurai oleh jasad renik pengurai, telah diurai lebih dulu oleh

cacing. Proses pengomposan dengan melibatkan cacing tanah tersebut dikenal

dengan istilah vermi-composting. Sementara hasil akhirnya disebut kascing

(Agromedia, 2007).

Jenis cacing tanah yang biasa digunakan pada pembuatan kompos adalah

Lumbricus rubellus. Cacing jenis ini dapat hidup dalam populasi yang padat.

Lumbricus rubellus sering ditemukan di bawah timbunan timbunan dedaunan atau

timbunan kotoran ternak. Cacing ini tidak hidup jauh di dalam tanah seperti jenis

cacing lainnya, tetapi lebih sering hidup di lapisan yang mendekati permukaan

tanah (Djuarnani, dkk, 2005).

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Menurut Mashur (2001) kascing memiliki beberapa keunggulan, yaitu :

1. Vermikompos mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman

seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, AI, Na, Cu, Zn, Bo dan Mo tergantung

pada bahan yang digunakan. Vermikompos merupakan sumber nutrisi bagi

mikroba tanah. Dengan adanya nutrisi tersebut mikroba pengurai bahan

organik akan terus berkembang dan menguraikan bahan organik dengan lebih

cepat. Oleh karena itu selain dapat meningkatkan kesuburan tanah,

vermikompos juga dapat membantu proses penghancuran limbah organik.

2. Vermikompos membantu menyediakan nutrisi bagi tanaman, memperbaiki

struktur tanah dan menetralkan pH tanah.

3. Vermikompos mempunyai kemampuan menahan air sebesar 40-60%. Hal ini

karena struktur vermikompos yang memiliki ruang-ruang yang mampu

menyerap dan menyimpan air, sehingga mampu mempertahankan

kelembaban.

4. Tanaman hanya dapat mengkonsumsi nutrisi dalam bentuk terlarut. Cacing

tanah berperan mengubah nutrisi yang tidak larut menjadi bentuk terlarut.

yaitu dengan bantuan enzim-enzim yang terdapat dalam alat pencernaannya.

Nutrisi tersebut terdapat di dalam vermikompos, sehingga dapat diserap oleh

akar tanaman untuk dibawa ke seluruh bagian tanaman.

Kascing memiliki tekstur yang didominasi ukuran pasir (diameter butiran

0,05-2 mm), sehingga kascing bersifat remah. Kascing juga mempunyai

kemampuan menahan air yang besar, yakni sekitar 145-168 %. Artinya berat air

yang tertahan disimpan dalam kascing sebesar 1,45-1,68 kali berat kascingnya.

Dengan demikian kascing dapat meningkatkan penyimpanan air dalam tanah,

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
sehingga sangat penting untuk tanah berpasir agar tidak cepat mengalami

kekeringan. Dalam pembuatan kascing banyaknya cacing yang dibutuhkan adalah

0,5 kg per 2 kg media yang dapat berupa sisa bahan sayuran, dedaunan dan sisa

buah-buahan dan mengandung C 20,20%, N 1,58%, C/N 13, P 70,30 mg/100g, K

21,8 mg/100g, Ca 34,99 mg/100g, Mg 21,43 mg/100g, S 153,7 mg/100kg, Fe 13,5

mg/kg (Mulat, 2003).

Kotoran cacing (kascing) mengandung nutrisi yang dibutuhkan tanaman.

Penambahan kascing pada media tanaman akan mempercepat pertumbuhan,

meningkatkan tinggi dan berat tumbuhan. Jumlah optimal kascing yang

dibutuhkan untuk mendapatkan hasil positif hanya 10-20% dari volume media

tanaman (Mashur, 2001).

Kascing mengandung asam humat. Zat-zat humat bersama-sama dengan

tanah liat berperan terhadap sejumlah reaksi kompleks baik secara langsung

maupun tidak langsung yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui

pengaruhnya terhadap sejumlah proses-proses dalam tubuh tanaman. Secara tidak

langsung, zat humat dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan mengubah

kondisi-kondisi fisik, kimia dan bilogi tanah. Kascing dapat diberikan pada

tanaman sayur-sayuran seperti tomat, terung dan sawi dengan dosis 450-500 g/m2

dan diberikan sebelum tanam atau saat tanam dengan sistem larikan atau di sekitar

daerah perakaran (Mulat, 2003).

Sludge adalah benda padat yang tenggelam di dasar bak pengendapan

dalam sarana pengelolaan limbah dan harus dibuang atau dikelola untuk

mengurangi pencemaran lingkungan. Tetapi sludge yang dihasilkan dari

Pengolahan Minyak Sawit (PMS) mengandung unsur hara nitrogen, posfor,

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
kalium magnesium, dan kalsium yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan

sebagai pupuk.

Tabel 2. Hasil Analisis Padatan (Sludge) tanpa Pemanasan di Kebun Dolok


Sinumbah

Kandungan/senyawa Sludge Baru (mg/100 g)


Sludge Umur 1 Bulan
(mg/100 g)
Nirogen 2.770,00 3.400,00
P2O5 874,02 338,25
K2O 897,43 897,43
MgO 356,33 329,72
CaO 1.681,48 664,42
Sumber : :Lubis et al, 1988. Inventarisasi dan Karakteristik Limbah PMS.
Seminar Pengendalian PMS dan Karet, 20-21 Desember 1988 di
Medan

Pupuk Organik Cair Puja 168

Ada dua kelompok pupuk daun berdasarkan unsur hara yang

dikandungnya, yaitu kelompok pupuk yang mengandung unsur hara makro dan

kelompok pupuk yang hanya mengandung unsur hara mikro. Hal ini sudah

tampak bahwa rata-rata pupuk daun merupakan pupuk majemuk, bahkan disebut

pupuk lengkap. Ini disebabkan dalam pupuk daun sudah terkandung beberapa

unsur hara (baik makro maupun mikro) dengan konsentrasi berbeda-beda

(Lingga dan Marsono, 2000).

Puja 168 adalah pupuk organik cair Bio Enzym yang terbuat dari daun-

daunan dan buah-buahan segar yang diolah menggunakan proses enzimisasi

sehingga menghasilkan senyawa organik berupa zat hidup yang berguna untuk

meningkatkan kesuburan tanah. Puja 168 tidak menggunakan kotoran hewan

ataupun proses pembusukan dari akar-akaran maupun daun-daunan. Pupuk Puja

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
168 diberikan kepada tanaman sayuran dengan konsentrasi anjuran 10 ml/2 liter

air (www.imp168.com, 2008).

Pupuk Puja 168 memiliki manfaat bagi tanah, yaitu mampu meningkatkan

biodiversitas dan kesehatan tanah, memperbaiki tekstur tanah; sehingga tanah

mudah diolah (menggemburkan tanah), meningkatkan daya tahan tanah terhadap

erosi; meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK); mempunyai keunggulan

dalam hal memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah; tanah akan menjadi

lebih subur; menyediakan unsur hara; dan meningkatkan mikroba tanah

(www.imp168.com, 2008).

Pupuk Puja 168 dapat merangsang pertumbuhan akar tanaman secara

sempurna dan sehat baik pada tanaman lahan, stek maupun cangkokan, serta dapat

mempercepat perkecambahan biji selain itu akar dapat menyerap unsur hara,

melalui pertukaran ion (www.imp168.com, 2008).

Pemberian pupuk Puja 168 juga bermanfaat bagi batang tanaman,

dintaranya dapat menyebabkan pertumbuhan batang besar dan kuat sehingga

optimalisasi untuk menghasilkan buah yang besar; sebagai media perantara

penyerapan unsur hara dari akar menuju daun; dapat menyerap unsur hara

seperti K dan Ca sehingga gampang masuk ke jaringan tanaman

(www.imp168.com, 2008).

Pupuk Puja 168 memiliki manfaat bagi daun tanaman, yaitu dapat

membuat daun menjadi lebih lebar, tebal dan dapat meningkatkan jumlah klorofil

sehingga efektif dalam proses fotosintesis. Proses fotosintesis yang baik sangat

efektif dalam pembentukan karbohidrat dan protein sehingga dihasilkan buah

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
yang lebih besar dan lebat. Selain itu pemberian pupuk Puja 168 juga dapat

membuat warna daun menjadi lebih tua, tahan rontok, jumlah daun lebih banyak,

daun akan dijauhi hama dan penyakit serta memacu pertumbuhan daun dan tunas

(www.imp168.com, 2008).

Menurut www.imp168.com (2008), kandungan unsur hara yang terdapat

dalam pupuk Puja 168 dapat dilihata pada tabel berikut:

Tabel 2. Kandungan Unsur Hara dalam Pupuk Puja 168


Parameter Hasil
Nitrogen (N) 0.81 %
N-Amonium (NH4) 0.09 %
N- Nitrat (NO3) 0.09 %
P2O2 0.09 %
P2O2 yang larut dalam air 0.07 %
Belerang (S) 0.02 %
Besi (Fe) 0.0055 %
Tembaga (Cu) 0.16 %
Kalsium (Ca) 0.04 %
Magnesium (Mg) 0.0087%
Mangan (Mn) 0.000067%
Natrium (Na) 0.0017%
Seng (Zn) 0.00034%
K2O yang larut dalam air 0.23 %
Sumber : Sucofindo Laboratory, www.imp168.com

Puja 168 sama sekali tidak mengandung bahan-bahan kimia

anorganik dan mengandung unsur hara mikro dan makro, sehingga mampu

merubah struktur tanah menjadi lebih gembur dan lebih remah, warna lebih hitam,

pori-pori sangat terbuka. Puja 168 mengandung mikroorganisme seperti

Lactobacillus dan Yeast yang dapat menambahkan ketersediaan hara dalam

menunjang proses biologi, fisika dan kimia dalam tanah serta mampu

menghasilkan antibiotik yang dapat menghambat penyakit

(www.indonetwork.or.id, 2008).

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Bila salah satu faktor lebih kuat pengaruhnya dari faktor lain sehingga

faktor lain tersebut tertutupi dan masing-masing faktor mempunyai sifat yang

jauh berbeda pengaruhnya dan sifat kerjanya, maka akan menghasilkan hubungan

yang berbeda dalam mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman

(Sutedjo dan Kartosapoetra, 1987).

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Padang Bulan jalan Jamin Ginting km 8.5

Kecamatan Medan Tuntungan, Medan. Dengan ketinggian tempat + 25 meter di

atas permukaan laut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2008 sampai

dengan Nopember 2008.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit sawi

varietas Tosakan, kascing dari hasil degradasi sludge (limbah kelapa sawit) oleh

cacing Lumbricus rubellus, pupuk organik cair Puja 168, air, amplop, kertas label,

pelepah kelapa sebagai atap naungan persemaian, kawat sebagai pengikat bambu

persemaian, insektisida Decis 2,5 EC, fungisida Dithane M-45, dan bahan-bahan

lain yang mendukung pelaksanaan penelitian ini.

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, gembor,

meteran, handsprayer, kalkulator, timbangan, planimeter dan alat-alat lain yang

mendukung dalam pelaksanaan penelitian ini.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial

dengan dua faktor perlakuan, sebagai berikut :

Faktor 1: Pupuk Kascing dengan 4 taraf, yaitu:

K0 = 0 g / tanaman

K1 = 20 g / tanaman

K2 = 40 g / tanaman

K3 = 60 g / tanaman

Faktor 2: Pupuk Organik Cair Puja 168 dengan 4 taraf yaitu :

P0 = 0 ml/liter air

P1 = 2,5 ml/liter air

P2 = 5 ml/liter air

P3 = 7, 5 ml/liter air

Sehingga diperoleh 16 kombinasi, yaitu:

K0P0 K1P0 K2P0 K3P0

K0P1 K1P1 K2P1 K3P1

K0P2 K1P2 K2P2 K3P2

K0P3 K1P3 K2P3 K3P3

Jumlah ulangan =3

Jumlah Kombinasi Perlakuan = 16

Jumlah plot penelitian = 48

Jumlah tanaman/plot = 40 tanaman

Jumlah sampel/plot = 5 tanaman

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Jumlah sampel destruksi/plot = 8 tanaman

Jumlah tanaman seluruhnya = 1920 tanaman

Jumlah sampel seluruhnya = 240 tanaman

Jumlah seluruh sampel destruksi = 384 tanaman

Jarak tanam = 25 cm x 30 cm

Jarak antar ulangan = 60 cm

Ukuran plot = 250 cm x 120 cm

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam

berdasarkan model linier sebagai berikut:

Yijk = + i + j + k + ()jk + ijk

dimana: Yijk = Hasil pengamatan pada blok ke-i yang diberi perlakuan pupuk

kascing pada taraf ke-j dan pemberian organik cair pada taraf

ke-k

= Nilai tengah

i = Pengaruh blok ke-i

j = Pengaruh pemberian pupuk kascing pada taraf ke-j

k = Pengaruh pemberian pupuk organik cair pada taraf ke-k

()jk = Pengaruh interaksi pemberian pupuk kascing pada taraf ke-j

dan pemberian organik cair pada taraf ke-k

ijk = Pengaruh galat pada blok ke-i yang mendapat perlakuan pupuk

kascing pada taraf ke-j dan pemberian pupuk organik cair pada

taraf ke-k

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
PELAKSANAAN PENELITIAN

Persemaian

Tempat persemaian benih dibuat dengan ukuran plot 1 x 2. Media

tanamnya berupa campuran top soil, pasir dan kompos dengan perbandingan

2:1:1. Naungan terbuat dari bambu sebagai tiang dan pelepah kelapa sebagai atap

dengan ketinggian 1,5 m arah timur dan 1 m arah barat, panjang naungan 2,5 m

dan lebarnya 1,5 m yang memanjang arah utara- selatan.

Penyemaian benih

Media semai atau tempat persemaian sebelum di tanam benih disiram air

terlebih dahulu hingga lembab dan dibuat larikan. Jarak antar larikan adalah 5 cm,

setelah itu benih disebar pada larikan secara merata pada permukaan media

sebanyak 100 benih tiap larikan kemudian ditutup tanah.

Pengolahan tanah

Pengolahan tanah diawali dengan membersihkan areal dari gulma

dan sampah. Kemudian tanah diolah dengan cara mencangkul kemudian

dibuat plot-plot dengan ukuran 250 x 120 cm dan jarak antar ulangan 60 cm

(Lampiran 1 dan 2).

Pemupukan dasar

Pupuk dasar yang diberikan adalah Urea, SP-36 dan KCl. Dosis yang

diberikan adalah setengah dari dosis anjuran yaitu 75 kg/ha (7.5 g/m2), 50 kg/ha

(5 g/m2), dan 50 kg/ha (5 g/m2).

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Penanaman

Sebelum bibit ditanam, tanah pada masing-masing plot terlebih dahulu

ditugal dengan kedalaman 4 cm dan jarak tanam 25 cm x 30 cm. Setelah itu

bibit dicabut dari persemaian dan ditanam pada lubang tanam yang telah

dipersiapkan. Pindah tanam dilakukan pada 9 hst (hari setelah tabur)

Pengaplikasian Kascing

Pengaplikasian pupuk kascing dilakukan pada 9 hst atau bersamaan pada

saat pindah tanam. Pupuk Kascing ditabur disekitar batang tanaman dengan

jumlah sesuai dengan perlakuan. Dosis anjuran yang diberikan adalah 500 g/m2

(40 g/tanaman).

Pengaplikasian pupuk organik cair Puja 168

Pengaplikasian Pupuk Organik cair dilakukan pada 14, 19, 24, dan 29 hst.

Pengaplikasian pupuk organik cair dilakukan dengan cara disemprotkan ke daun

sampai daun dalam keadaan basah tetapi tidak menetes. Konsentrasi anjuran

pupuk Puja 168 adalah 10 ml/2 liter air (5 ml/lter air).

Penyisipan

Penyisipan dilakukan guna mengganti tanaman yang rusak akibat hama,

penyakit ataupun kerusakan mekanis lainnya. Penyisipan dilakukan paling lama

12 hari setelah pindah tanam.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Pemeliharaan

Penyiraman

Penyiraman dilakukan setiap hari yaitu pagi pada pukul 08.00-09.00 WIB

dan sore hari pada pukul 16.00-15.00 WIB secara merata pada seluruh tanaman

dengan menggunakan gembor dan air bersih (antara 12.000-16.000 cc/plot), dan

disesuaikan dengan kondisi dilapangan.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan secara manual yaitu dengan mencabut gulma yang

tumbuh.

Pencegahan hama dan penyakit

Usaha untuk mencegah serangan hama dilakukan dengan menyemprotkan

insektisida Decis 2,5 EC 2 cc/l air dan sedangkan untuk mencegah serangan

penyakit dilakukan penyemprotan fungisida Dithane M-45 dengan konsentrasi

anjuran 2,5 g/l air.

Panen

Pemanenan dilakukan pada saat tanaman berumur 40 hari setelah tanam.

Peubah yang Diamati

Tinggi tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur mulai dari permukaan tanah (patok standar)

sampai daun tertinggi yaitu yang tegak alami. Pengukuran dilakukan pada 5

tanaman sempel mulai saat tanaman berumur 16 hst dan selanjutnya pengukuran

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
dilakukan sekali dalam 4 hari hingga tanaman berumur 40 hari setelah tanam

(tujuh kali pengukuran).

Jumlah daun (helai)

Penghitungan jumlah daun dilakukan pada daun yang sudah berkembang

sempurna minimal 2/3 dari daun normal. Penghitungan dilakukan pada 5 sampel

tanaman yang sama dengan pegukuran tinggi tanaman dan dimulai pada umur 16

hst dan selanjutnya pengukuran dilakukan sekali dalam 4 hari hingga tanaman

berumur 40 hari setelah tanam (tujuh kali pengukuran).

Luas daun (cm2)/tanaman

Pengukuran luas daun dilakukan pada setiap daun dari 2 tanaman sempel

destruksi dengan menggunakan alat Planimeter dan dilaksanakan saat tanaman

berumur 16, 24, 32, dan 40 hari setelah tanam .

Bobot segar tanaman (g)

Penimbangan bobot segar tanaman dilakukan pada 2 tanaman sampel

destruksi dari tiap plot dengan menggunakan neraca elektrik dan ditimbang secara

terpisah bagian atas tanaman (batang dan daun) dan bagian bawah tanaman (akar).

Sebelum ditimbang tanaman dibersihkan dengan air dan dikeringanginkan.

Pekerjaan ini dilakukan saat tanaman berumur 16, 24, 32, dan 40 hari setelah

tanam.

Bobot kering tanaman (g)

Bobot kering ditimbang secara terpisah bagian atas (batang dan daun) dan

bawah (akar) tanaman. Bahan dimasukkan ke dalam amplop dan diberi label

sesuai perlakukan, lalu dikeringovenkan pada suhu 700 C selama 48 jam, setelah

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
itu sampel dikeluarkan dari lemari pengering dan dimasukkan ke dalam eksikator

selama 30 menit dan ditimbang, pengeringan diulang hingga bobot tetap.

Penimbangan dilakukan saat tanaman berumur 16, 24, 32, dan 40 hari setelah

tanam.

Laju assimilasi bersih (g.cm2.hari-1)

Nilai laju assimilasi bersih merupakan pertambahan material tanaman dari

asimilasi persatuan waktu (Sitompul dan Guritno, 1995). Dihitung pada umur 16,

24, 32, dan 40 hari setelah tanaman, dengan persamaan sebagai berikut :

(W2 W1) (ln A2 ln A1)


LAB = x
(T2 T1) (A2 A1)

Dimana : W1 dan W2 = Berat kering tanaman pengamatan ke-1 dan ke-2

A1 dan A2 = Luas daun tanaman pengamatan ke-1 dan ke-2

T1 dan T2 = Waktu Pengamatan ke-1 dan ke-2

Laju pertumbuhan relatif (g.g-1.hari-1)

Laju Pertumbuhan Relatif merupakan penambahan berat kering dalam

interval waktu terhadap berat permulaan (Sitompul dan Guritno, 1995). Dihitung

pada umur 16, 24, 32, dan 40 hari setelah tanam, dengan persamaan sebagai

berikut :

(ln W2 ln W1)
LPR =
( T2 T1 )

Dimana : W1 = berat kering tanaman pengamatan ke-1

W2 = berat kering tanaman pengamatan ke-2

T1 = waktu pengamatan 1

T2 = waktu pengamatan 2

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Produksi

Produksi dihitung dengan menggunakan 2 cara, yaitu :

1. Produksi per tanaman : diambil dari bobot segar destruksi 40 hari lalu

ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik.

2. Produksi per plot : Untuk pengukuran produksi per plot diambil dari

plot yang tidak diganggu atau tidak diambil untuk tanaman destruksi,

kemudian hasil penimbangan di kali dua.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tinggi tanaman (cm)

Data tinggi tanaman umur 16 s/d 40 hst dan daftar sidik ragamnya dapat

dilihat pada Lampiran 3-4, yang menunjukkan perlakuan pupuk Kascing (K)

berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 16 hst dan berpengaruh

sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 20, 24, 28, 32, 36, dan 40 hst.

Sedangkan perlakuan pupuk Puja 168 (P) berpengaruh sangat nyata terhadap

tinggi tanaman pada umur 28, 32, 36, dan 40 hst. Interaksi kedua perlakuan

berpengaruh nyata hingga sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 28, 32

dan 36 hst.

Perkembangan tinggi tanaman (cm) dari 16 s/d 40 hst pada berbagai dosis

Kascing (g/tanaman) dapat dilihat pada Gambar 1.

45
40
35
Tinggi Tanaman (cm)

30
25
20
15
10
5
0
0 16 20 24 28 32 36 40
Umur Tanaman (hst)

0 20 40 60

Gambar 1. Perkembangan Tinggi Tanaman Sawi (cm) pada Berbagai Dosis


Kascing (g) Umur 16 s/d 40 hst

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Gambar 1 menunjukkan perkembangan tinggi tanaman pada berbagai

dosis Kascing (g) selalu meningkat dari 16 hst sampai 40 hst dan semakin cepat

setelah 24 hst. Juga terlihat bahwa tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan K3

diikuti K2, K1 dan K0.

Perkembangan tinggi tanaman (cm) dari 16 s/d 40 hst pada berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 2.

45
40
Tinggi Tanaman (cm)

35
30
25
20
15
10
5
0
0 16 20 24 28 32 36 40
Umur Tanaman (hst)

0 2.5 5 7.5

Gambar 2. Perkembangan Tinggi Tanaman Sawi (cm) pada Berbagai Konsentrasi


Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d 40 hst

Gambar 2 menunjukkan perkembangan tinggi tanaman pada berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) selalu meningkat dari 16 hst sampai 40 hst.

Pada umur 16 s/d 24 hst tidak terlihat perbedaan yang jelas, sesudah 24 hst

tanaman tertinggi diperoleh pada P3 diikuti oleh P2, P1 dan P0.

Pengaruh dosis Kascing (K) dan konsentrasi Puja 168 (P) terhadap tinggi

tanaman sawi hingga umur 40 hst dapat dilihat pada Tabel 4.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Tabel 4. Rataan Tinggi Tanaman Sawi (cm) pada Berbagai Dosis Kascing (K) dan
Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d 40 hst
Tinggi Tanaman pada umur (hst)
Perlakuan
16 20 24 28* 32* 36* 40
--------------------------------cm---------------------------------
K0 (0 g/tanaman) 4.38b 5.3b 8.65b 12.59 16.36 22.67 27.35d
K1 (20 g/tanaman) 4.33b 5.42b 8.39b 13.95 18.15 25.09 31.29c
K2 (40 g/tanaman) 4.95a 6.01a 10.39a 16.88 22.01 28.14 35.94b
K3 (60 g/tanaman) 5.01a 6.26a 10.76a 19.73 24.62 32.02 40.04a

P0 (0 ml/liter air) 4.72 5.79 9.04 13.91 17.99 24.72 31.11d


P1 (2.5 ml/liter air) 4.58 5.68 9.47 15.45 19.81 26.11 32.78c
P2 (5 ml/liter air) 4.58 5.63 9.77 16.47 21.10 27.98 35.16b
P3 (7.5 ml/liter air) 4.79 5.89 9.91 17.32 22.24 29.13 35.56a
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.
* Ada interaksi nyata K x P

Tabel 4 menunjukkan pada umur 16, 20, dan 24 hst, tanaman tertinggi

masing-masing diperoleh pada K3 diikuti oleh K2 yang tidak berbeda nyata, tetapi

keduanya berbeda nyata dengan K0 dan K1. Pada 16 dan 24 hst, K1 terendah tetapi

berbeda tidak nyata dengan K0. Pada 20 hst K0 terendah tetapi berbeda tidak nyata

dengan K1. Pada umur 40 hst tanaman tertinggi diperoleh pada K3 diikuti oleh K2,

K1 dan K0 yang berbeda nyata satu dengan lainnya.

Tabel 4 menunjukkan pada umur 40 hst, tanaman tertinggi diperoleh pada

P3 diikuti oleh P2, P1, dan P0 yang berbeda nyata satu dengan lainnya.

Hubungan antara tinggi tanaman sawi (cm) dengan dosis Kascing

(g/tanaman) umur 16, 20, 24 dan 40 hst dapat dilihat pada Gambar 3.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
45 40 =27.24+0.213x
40 r=0.999
Tinggitanaman(cm) 35 24 =8.298+0.041x
30 r=0.895
25
20 20 =5.224+0.017x
15 r=0.972
10 16 =4.290+0.012x
5 r=0.898
0
0 20 40 60

Kascing(g/tanaman)

16 20 24 40

Gambar 3. Hubungan antara Tinggi Tanaman (cm) dengan Dosis Kascing


(g/tanaman) Umur 16, 20, 24 dan 40 hst

Gambar 3 menunjukkan terdapat hubungan linear positif antara tinggi

tanaman (cm) dengan dosis Kascing umur 16, 20, 24 dan 40 hst.

Hubungan antara tinggi tanaman sawi (cm) umur 40 hst dengan berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 menunjukkan terdapat hubungan linear positif antara tinggi

tanaman (cm) dengan konsentrasi Puja 168 umur 40 hst.

45.00

40.00
T ing g itanam an(c m )

40 =31.29+0.078x
35.00 r=0.970

30.00

25.00

20.00
0
0 2.5 5 7.5
P uja 168(m l/lite ra ir)
40
Gambar 4. Hubungan Antara Tinggi Tanaman (cm) dengan Konsentrasi Puja
168 (ml/liter air) Umur 40 hst

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Interaksi antara Kascing (K) dan Puja 168 (P) terhadap tinggi tanaman

sawi pada umur 28, 32, dan 36 hst dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rataan Tinggi Tanaman pada Interaksi Kascing (K) dan Puja 168 (P)
Umur 28, 32, dan 36 hst
Tinggi Tanaman pada umur (hst)
Kombinasi Perlakuan
28 32 36
--------------------------cm--------------------------
K0P0 8.82h 11.17j 18.41i
K0P1 11.38g 15.06i 21.32h
K0P2 14.07ef 17.89gh 24.53fg
K0P3 16.07c-e 21.33c-e 26.44ef
K1P0 12.85fg 16.28hi 22.96gh
K1P1 13.77ef 18.01gh 24.71fg
K1P2 15.27de 19.72e-g 26.31ef
K1P3 13.91ef 18.57f-h 26.39ef
K2P0 15.32de 20.64d-f 26.32ef
K2P1 17.27bc 22.39cd 28.53de
K2P2 17.07b-d 21.93c-e 29.17cd
K2P3 17.87b 23.06b-d 28.55de
K3P0 18.66b 23.87bc 31.17bc
K3P1 19.39ab 23.77bc 29.88b-d
K3P2 19.45ab 24.85ab 31.89b
K3P3 21.41a 26.01a 35.12a
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.

Tabel 5 menunjukkan bahwa pada umur 28 hst tanaman tertinggi diperoleh

pada perlakuan K3P3 dan berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan

kecuali dengan K3P2 dan K3P1. Tanaman terendah diperoleh pada K0P0 dan

berbeda nyata dengan semua perlakuan. Pada umur 32 hst tanaman tertinggi

diperoleh pada K3P3 dan berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya kecuali

dengan K3P2. Tanaman terendah diperoleh pada K0P0 yang berbeda nyata dengan

semua perlakuan lainnya. Pada umur 36 hst tanaman tertinggi diperoleh pada K3P3

dan berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya. Tanaman terendah diperoleh

pada K0P0 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Pengaruh Kascing (g/tanaman) pada berbagai Puja 168 (ml/liter air)

terhadap tinggi tanaman (cm) pada umur 28, 32, dan 36 hst dapat dilihat pada

Gambar 5.

40
7.5 =0.099x+14.32
35 r=0.812
28 hst
30
Tinggitanaman(cm)

5 =0.089x+13.77
25 r=0.988
20
15 2.5 =0.137x+11.32
r=0.995
10
0 =0.159x+9.115
5 r=0.995
0
0 20 40 60

40
7.5 =19.46+0.092x
35 r=0.767
32 hst
Tiggi Tanaman (cm)

30
5 =17.63+0.115x
25 r=0.993
20
2.5 =15.23+0.152x
15 r=0.982
10
0 =11.61+0.212x
5 r=0.994
0
0 20 40 60

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
40
35 7.5 =0.141x+24.89

Tinggitanaman(cm)
36 hst r=0.883
30
25 5 =0.124x+24.23
20 r=0.994
15 2.5 =0.147x+21.68
10 r=0.983
5 0 =0.208x+18.46
0 r=0.997
0 20 40 60

Kascing(g/tanaman)
0 20 40 60

Gambar 5. Pengaruh Dosis Kascig pada Berbagai Konsentrasi Puja 168


terhadap Tinggi Tanaman umur 28, 32, dan 36 hst
Gambar 5 menunjukkan pada Kascing dengan dosis 60 g/tanaman jarak

antara masing-masing perlakuan Puja 168 terlihat tidak begitu berbeda, dan

diperoleh pengaruh konsentrasi Puja 168 semakin kecil pada dosis Kascing yang

semakin besar. Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Pengaruh Puja 168 (ml/liter air) pada berbagai Kascing (g/tanaman)

terhadap tinggi tanaman umur 28, 32, dan 36 hst dapat dilihat pada Gambar 6.

45 60= 17.647+ 0.8327x


r = 0.911
Tingggi tanaman (cm)

40 28 hst
35
40 = 15.017+0.746x
30 r = 0.878
25
20
20= 12.783+0.468x
15 r = 0.605
10
5 0= 6.4733+ 2.4447x
r = 0.9981
0
0 2.5 5 7.5

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
45
60 = 22.743 +0.752x
40 32 hst
Tingggi tanaman (cm) r = 0.927
35
30
40 = 20.307 + 0.6793x
25 r = 0.858
20
15 20 = 16+ 0.8587x
10 r = 0.7736
5 0= 10.33+3.3313x
0 r = 0.9982
0 2.5 5 7.5

45
60= 28.553+1.3853x
40 36 hst r = 0.8018
35
Tingggi tanaman (cm)

30 40=26.313+ 0.7317x
25 r= 0.755
20 20 = 22.117 + 1.1907x
15 r = 0.948
10 0 = 15.847+ 2.7307x
5 r = 0.994
0
0 2.5 5 7.5

Puja 168 (ml/liter air)

0 20 40 60
Gambar 6 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis kascing dan
Gambar 6. Pengaruh Puja 168 pada berbagai Kascing terhadap Tinggi
Tanaman umur 28, 32, dan 36 hst
konsentrasi pupuk puja 168 yang diberikan, maka pertumbuhan tinggi tanaman

pada 28, 32 dan 36 hst juga semakin meningkat. Interaksi yang terjadi adalah

interaksi sinergis.

Jumlah daun (helai)

Data jumlah daun umur 16 s/d 40 hst dan daftar sidik ragamnya dapat

dilihat pada Lampiran 5-6, yang menunjukkan perlakuan pupuk Kascing (K)

berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah daun pada umur 16, 20, 24, 28, 32, 36,

dan 40 hst. Sedangkan perlakuan pupuk Puja 168 (P) berpengaruh sangat nyata

terhadap jumlah daun pada umur 24, 28, 32, 36, dan 40 hst. Interaksi kedua

perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah daun pada umur 24 hst.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Perkembangan jumlah daun (helai) dari 16 s/d 40 hst pada berbagai dosis

Kascing (g) dapat dilihat pada Gambar 7.

12
Jumlah daun (helai)

10
8
6
4
2
0
16 20 24 28 32 36 40

Umur Tanaman (hst)


0 20 40 60

Gambar 7. Perkembangan Jumlah Daun Sawi (helai) pada Berbagai Dosis


Kascing (g/tanaman) Umur 16 s/d 40 hst

Gambar 7 menunjukkan perkembangan jumlah daun pada berbagai dosis

Kascing selalu meningkat dari 16 hst sampai 40 hst dan semakin cepat setelah 20

hst. Juga terlihat bahwa jumlah daun terbanyak diperoleh pada perlakuan K3

diikuti K2, K1 dan K0.

Perkembangan jumlah daun (helai) dari 16 s/d 40 hst pada berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 8.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
12
10
Jumlah Daun (helai) 8
6
4
2
0
16 20 24 28 32 36 40

Umur tanaman (hst)


0 2,5 5 7,5
.

Gambar 8. Perkembangan Jumlah Daun Sawi (helai) pada Berbagai Konsentrasi


Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d 40 hst

Gambar 8 menunjukkan perkembangan jumlah daun pada berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) selalu meningkat dari 16 hst sampai 40 hst.

Pada umur 16 s/d 40 hst jumlah daun antar konsentrasi Puja 168 tidak begitu jelas

kelihatan walaupun masih terlihat daun terbanyak diperoleh pada P3 diikuti oleh

P2, P1 dan P0.

Pengaruh dosis Kascing (K) dan konsentrasi Puja 168 (P) terhadap jumlah

daun sawi hingga umur 40 hst dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataan Jumlah Daun Sawi (helai) pada Berbagai Dosis Kascing (K) dan
Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d 40 hst
Jumlah Daun pada umur (hst)
Perlakuan
16 20 24* 28 32 36 40
--------------------------------------------helai------------------------------------
K0 (0 g/tanaman) 2.63c 3.03c 3.80 4.30d 4.82d 6.03d 7.67d
K1 (20 g/tanaman) 2.73bc 3.18b 3.87 4.72c 5.67c 7.00c 8.75c
K2 (40 g/tanaman) 2.82b 3.23b 4.25 5.07b 6.07b 8.05b 9.67b
K3 (60 g/tanaman) 2.95a 3.38a 4.92 6.02a 7.18a 9.38a 11.28a

P0 (0 ml/liter air) 2.72 3.20 3.97 4.77c 5.68c 7.18c 8.88c

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
P1 (2.5 ml/liter air) 2.82 3.17 4.23 4.98bc 5.77c 7.52b 9.25bc
P2 (5 ml/liter air) 2.77 3.23 4.23 5.05b 6.00b 7.82ab 9.47ab
P3 (7.5 ml/liter air) 2.83 3.23 4.40 5.30a 6.28a 7.95a 9.77a
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.
* Ada interaksi nyata K x P

Tabel 6 menunjukkan pada umur 16, 20, 28, 32, 36 dan 40 hst, jumlah

daun terbanyak masing-masing diperoleh pada K3 diikuti oleh K2, K1, dan K0 yang

berbeda nyata satu dengan lainnya kecuali pada umur 16 dan 20 hst dimana K1

dan K2 berbeda tidak nyata.

Tabel 6 menunjukkan pada umur 28, 32, 36 dan 40 hst, jumlah daun

terbanyak masing-masing diperoleh pada P3 yang berbeda nyata satu dengan

lainnya kecuali pada umur 36 dan 40 hst dimana P3 dan P2 berbeda tidak nyata.

Jumlah daun terendah diperoleh pada P0 yang berbeda nyata satu dengan lainnya

kecuali pada umur 28, 32 dan 40 hst dimana P0 dan P1 berbeda tidak nyata.

Hubungan antara jumlah daun sawi (helai) dengan dosis Kascing

(g/tanaman) umur 16, 20, 28, 32, 36 dan 40 hst dapat dilihat pada Gambar 9.

12 40 =7.576+0.058x
r=0.991

10 36 =5.591+0.055x
JumlahDaun(helai)

r=0.996
8
32 =4.808+0.037x
6 r=0.984

28 =3.803+0.006x
4 r=0.979

2 20 =4.2+0.027x
r=0.970

0 16 =2.628+0.005x
r=0.994
0 20 40 60
Kascing(g/tanaman)

16hst 20hst 28hst 32hst 36hst 40hst

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Gambar 9. Hubungan antara Jumlah Daun (helai) dengan Dosis Kascing
(g/tanaman) Umur 16, 20, 28, 32, 36 dan 40 hst

Gambar 9 menunjukkan terdapat hubungan linear positif antara jumlah

daun (helai) dan dosis Kascing umur 16, 20, 28, 32, 36 dan 40 hst.

Hubungan antara jumlah daun sawi (helai) umur 28 s/d 40 hst dengan

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 10.

12
40 =8.911+0.114x
r=0.994
10
JumlahDaun(helai)

36 =7.226+0.104x
8 r=0.983

6 32=5.628+0.081x
r=0.975
4
28 =4.775+0.066x
r=0.979
2

0
0 2.5 5 7.5
Puja168(ml/literair)

28hst 32hst 36hst 40hst

Gambar 10. Hubungan Antara Jumlah Daun (helai) dengan konsentrasi Puja 168
(ml/liter air) Umur 28, 32, 36 dan 40 hst
Gambar 10 menunjukkan terdapat hubungan linear positif antara jumlah

daun (helai) dengan konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) umur 28 s/d 40 hst.

Interaksi antara Kascing (K) dan Puja 168 (P) terhadap jumlah daun sawi

pada umur 24 hst dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rataan Jumlah Daun pada Interaksi Kascing (K) dan Puja 168 (P) Umur
24 hst
Kombinasi Perlakuan Jumlah Daun Pada Umur 24 hst
-------helai------
K0P0 3.53hi
K0P1 3.87f-h
K0P2 3.80g-i

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
K0P3 4.00e-g
K1P0 3.47i
K1P1 4.07d-f
K1P2 4.00e-g
K1P3 3.93fg
K2P0 4.07d-f
K2P1 4.40cd
K2P2 4.20d-f
K2P3 4.33c-e
K3P0 4.80b
K3P1 4.60bc
K3P2 4.93b
K3P3 5.33a
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.

Tabel 7 menunjukkan bahwa umur 24 hst jumlah daun terbanyak diperoleh

pada K3P3 dan berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan. Jumlah daun

terendah diperoleh pada K1P0 dan berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya

kecuali dengan perlakuan K0P0 dan K0P2.

Pengaruh Kascing (g/tanaman) pada berbagai Puja 168 (ml/liter air)

terhadap jumlah daun (helai) pada umur 24 hst dapat dilihat pada Gambar 11.

5.5 7.5 = 3.3+0.44x


r = 0.878
Jumlah daun (helai)

5.0
4.5 5 = 3.3333+0.36x
4.0 r = 0.94

3.5 2.5 = 3.6+0.2533x


3.0 r = 0.994

2.5 0 = 2.8667+0.44x
0 20 40 60 r = 0.920
Kascing (g/tanaman)

0 2.5 5 7.5

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Gambar 11. Pengaruh Dosis Kascing pada berbagai Konsentrasi Puja 168
terhadap Jumah Daun Umur 24 hst

Gambar 11 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis Kascing dan

konsentrasi Puja 168 yang diberikan maka jumlah daun pada umur 24 hst juga

semakin meningkat, tetapi jarak antara masing-masing perlakuan Puja 168 tidak

begitu berbeda. Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Pengaruh Puja 168 (ml/liter air) pada berbagai Kascing (g/tanaman)

terhadap jumlah daun umur 24 hst dapat dilihat pada Gambar 12.

5.5 60 = 4.4333+0.1933x
r = 0.8058
5.0
Jumlah daun (helai)

4.5
40 = 4.1+0.06x
4.0 r = 0.524
3.5
20 = 3.5333+0.1333x
3.0 r = 0.632
2.5 0 = 3.4667+0.1333x
0 2.5 5 7.5 r = 0.877
Puja 168 (ml/liter air)
0 20 40 60

. Gambar 12. Pengaruh Konsentrasi Puja 168 pada berbagai Dosis Kascing terhadap
Jumlah Daun Umur 24 hst
Gambar 12 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis Kascing dan

konsentrasi Puja 168 yang diberikan maka jumlah daun pada umur 24 hst juga

semakin meningkat, tetapi jarak antara perlakuan Kascing dengan dosis 0 dan

20 g/tanaman tidak begitu berbeda. Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Luas daun (cm2)

Data luas daun umur 16 s/d 40 hst dan daftar sidik ragamnya dapat dilihat

pada Lampiran 7-8, yang menunjukkan perlakuan pupuk Kascing (K)

berpengaruh sangat nyata terhadap luas daun pada umur 16, 24, 32 dan 40 hst,

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
dan perlakuan pupuk Puja 168 (P) berpengaruh sangat nyata terhadap luas daun

pada umur 16, 24, 32 dan 40 hst. Interaksi kedua perlakuan berpengaruh nyata

terhadap luas daun pada umur 40 hst.

Perkembangan luas daun (cm2) dari 16 s/d 40 hst pada berbagai dosis

Kascing (g/tanaman) dapat dilihat pada Gambar 13.

35
30
Luas Daun (cm2)

25
20
15
10
5
0
16 24 32 40

Umur Tanaman (hst)

0 20 40 60

Gambar 13. Perkembangan Luas Daun Sawi (cm2) pada Berbagai Dosis
Kascing (g/tanaman) Umur 16 s/d 40 hst

Gambar 13 menunjukkan perkembangan luas daun pada berbagai dosis

Kascing (g) selalu meningkat dari 16 hst sampai 40 hst dan semakin cepat setelah

24 hst. Juga terlihat bahwa luas daun terbesar diperoleh pada perlakuan K3 diikuti

K2, K1 dan K0.

Perkembangan luas daun (cm2) dari 16 s/d 40 hst pada berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 14.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
35
30
Luas Daun (cm2)
25
20
15
10
5
0
16 24 32 40
Umur Tanaman (hst)
0 2.5 5 7.5

Gambar 14. Perkembangan Luas Daun Sawi (cm2) pada Berbagai Konsentrasi
Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d 40 hst

Gambar 14 menunjukkan perkembangan luas daun pada berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) selalu meningkat dari 16 hst sampai 40 hst.

Pada umur 16 s/d 40 hst luas daun terbesar diperoleh pada P3 diikuti oleh P2, P1

dan P0.

Pengaruh dosis Kascing (K) dan konsentrasi Puja 168 (P) terhadap luas

daun sawi hingga umur 40 hst dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan Luas Daun Sawi (cm2) pada Berbagai Dosis Kascing (K) dan
Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d 40 hst
Luas Daun pada Umur (hst)
Perlakuan
16 24 32 40*
2
----------------------------------cm ------------------------------------
K0 (0 g/tanaman) 3.04c 4.51c 8.95d 20.87
K1 (20 g/tanaman) 3.14c 4.77c 11.07c 24.80
K2 (40 g/tanaman) 3.88b 5.65b 11.84b 27.98
K3 (60 g/tanaman) 4.72a 6.44a 14.58a 30.59

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
P0 (0 ml/liter air) 3.37c 4.89b 10.80c 24.63
P1 (2.5 ml/liter air) 3.53bc 5.09b 11.17c 25.50
P2 (5 ml/liter air) 3.75ab 5.58a 11.95b 26.34
P3 (7.5 ml/liter air) 4.12a 5.81a 12.52a 27.76
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.
* Ada interaksi nyata K x P

Tabel 8 menunjukkan pada umur 16, 24, dan 32 hst, luas daun terbesar

masing-masing diperoleh pada K3 diikuti oleh K2, K1, dan K0 yang berbeda nyata

dengan semua perlakuan lainnya kecuali pada umur 16 dan 24 hst dimana K1 dan

K0 berbeda tidak nyata dengan lainnya.

Tabel 8 menunjukkan pada umur 16, 24 dan 32 hst, luas daun terbesar

masing-masing diperoleh pada K3 diikuti oleh K2, K1, dan K0 yang berbeda tidak

nyata pada semua perlakuan lainnya kecuali pada umur 32 hst dimana P3 dan P2

berbeda nyata dengan lainnya.

Hubungan antara luas daun sawi (cm2) dengan dosis Kascing (g/tanaman)

umur 16, 24 dan 32 hst dapat dilihat pada Gambar 15.

20 32 =8.961+0.088x
r=0.979
Luasdaun(cm2)

15
24 =4.342+0.033x
r=0.9797
10

5
16 =2.828+0.028x
r=0.957
0
0 20 40 60
Kascing(g/tanaman)

16hst 24hst 32hst

Gambar 15. Hubungan antara Luas Daun (cm2) dengan Dosis


Kascing (g/tanaman) Umur 16, 24 dan 32 hst

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Gambar 15 menunjukkan terdapat hubungan linear positif antara luas daun

(cm2) dan dosis Kascing umur 16, 24 dan 32 hst.

Hubungan antara luas daun sawi (cm2) umur 16, 24 dan 32 hst dengan

konsentrasi Puja 168 dapat dilihat pada Gambar 16.

32 =10.72+0.237x
20 r=0.991

15
Luasdaun(cm2)

24 =4.855+0.130x
r=0.984
10

5 16 =3.323+0.098x
r=0.979

0
0 2.5 5 7.5
Puja168(ml/literair)
16hst 24hst 32hst

Gambar 16. Hubungan antara Luas Daun (cm2) dengan Konsentrasi Puja 168
(ml/liter air) Umur 16, 24 dan 32 hst

Gambar 16 menunjukkan terdapat hubungan linear positif antara luas daun

(cm2) dengan konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) umur 28 s/d 40 hst.

Interaksi antara Kascing (K) dan Puja 168 (P) terhadap luas daun sawi

pada umur 40 hst dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Rataan Luas Daun pada Interaksi Kascing (K) dan Puja 168 (P) pada
Umur 40 hst
Kombinasi Perlakuan Luas Daun Umur 40 hst
--------------------------cm2---------------------------
K0P0 19.51j
K0P1 20.20j
K0P2 20.66ij
K0P3 23.13b

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
K1P0 21.99hi
K1P1 24.92g
K1P2 25.82fg
K1P3 26.45ef
K2P0 26.57ef
K2P1 27.42de
K2P2 28.62cd
K2P3 29.32bc
K3P0 30.46b
K3P1 29.47bc
K3P2 30.28b
K3P3 32.16a
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.

Tabel 9 menunjukkan bahwa umur 40 hst luas daun terbesar diperoleh

pada K3P3 dan berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan. Luas daun

terendah diperoleh pada K0P0 dan berbeda nyata dengan semua kombinasi

perlakuan kecuali dengan perlakuan K0P1 dan K0P2.

Pengaruh Kascing (g/tanaman) pada berbagai Puja 168 (ml/liter air)

terhadap luas daun (cm2) pada umur 40 hst dapat dilihat pada Gambar 17.

35
Luas daun (cm2)

7.5 = 20.273+ 2.9957x


30 r = 0.999
25 5= 18.428 +3.1665x
20 r = 0.970
2.5 = 17.923+ 3.0308x
15 r = 0.9793
10 0 = 15.271+3.7443x
5 r = 0.993
0
0 20 40 60
Kascing (g/tanaman)
0 2.5 5 7.5

Gambar 17. Pengaruh Dosis Kascing terhadap Luas Daun pada berbagai
Konsentrasi Puja 168 Umur 40 hst

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Gambar 17 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis Kascing dan

konsentrasi Puja 168 yang diberikan maka luas daun pada umur 40 hst juga

semakin meningkat, tetapi jarak antara masing-masing perlakuan Puja 168 tidak

begitu berbeda. Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Pengaruh Puja 168 (ml/liter air) pada berbagai Kascing (g/tanaman)

terhadap luas daun (cm2) umur 40 hst dapat dilihat pada Gambar 18.

60 = 29.118 +0.5892x
35
r = 0.673
Luas daun (cm2)

30 40 = 25.618+0.945x
25 r = 0.9951
20 20 = 21.227+1.4273x
15 r = 0.9343
10 0 = 18.042+1.1318x
r = 0.9275
5
0
0 2.5 5 7.5
Puja 168 (ml/liter air)

0 20 40 60

Gambar 18. Pengaruh Konsentrasi Puja 168 Terhadap Luas Daun pada
berbagai Kascing umur 40 hst
Gambar 18 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis Kascing dan

konsentrasi Puja 168 yang diberikan maka luas daun pada umur 40 hst juga

semakin meningkat. Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Bobot segar tanaman (g)

Data bobot segar tanaman umur 16 s/d 40 hst dan daftar sidik ragamnya

dapat dilihat pada Lampiran 9-10, yang menunjukkan perlakuan pupuk Kascing

(K) berpengaruh sangat nyata terhadap bobot segar pada umur 16, 24, 32 dan

40 hst. Sedangkan perlakuan pupuk Puja 168 (P) berpengaruh nyata terhadap

bobot segar pada umur 32 hst dan sangat nyata pada umur 40 hst. Interaksi kedua

perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah daun pada umur 40 hst.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Perkembangan bobot segar (g) dari 16 s/d 40 hst pada berbagai dosis

Kascing (g/tanaman) dapat dilihat pada Gambar 19.

300

250
Bobot Segar (g)

200

150

100

50

0
16 24 32 40
Um ur Tanam an (hst)

0 20 40 60

Gambar 19. Perkembangan Bobot Segar Sawi (g) pada Berbagai Dosis
Kascing (g/tanaman) Umur 16 s/d 40 hst

Gambar 19 menunjukkan perkembangan bobot segar pada berbagai dosis

Kascing (g). Dari 16 hingga 32 hst hampir tidak terlihat peningkatan dan baru

setelah 32 hst meningkat dengan cepat. Juga terlihat bahwa bobot segar tertinggi

diperoleh pada perlakuan K3 diikuti K2, K1 dan K0.

Perkembangan bobot segar (g) dari 16 s/d 40 hst pada berbagai konsentrasi

Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 20.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
300

250
Bobot Segar (g)
200

150

100

50

0
16 24 32 40
Um ur Tanam an (hst)

0 2.5 5 7.5

Gambar 20. Perkembangan Bobot Segar Sawi (g) pada Berbagai Konsentrasi Puja
168 (ml/liter air) Umur 16 s/d 40 hst

Gambar 20 menunjukkan perkembangan bobot segar pada berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air). Dari 16 hingga 32 hst hampir tidak terlihat

peningkatan dan baru setelah 32 hst meningkat dengan cepat. Bobot segar

tertinggi diperoleh pada P3 diikuti oleh P2, P1 dan P0, kecuali pada 32 hst dimana

P0 lebih besar dari P1.

Pengaruh dosis Kascing (K) dan konsentrasi Puja 168 (P) terhadap bobot

segar sawi hingga umur 40 hst dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Rataan Bobot Segar Sawi (g) pada Berbagai Dosis Kascing (K) dan
Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d 40 hst
Bobot Segar pada umur (hst)
Perlakuan
16 24 32 40*
---------------------------------g---------------------------------
K0 (0 g/tanaman) 1.15c 2.23b 6.57d 124.13
K1 (20 g/tanaman) 1.37c 2.44b 10.35c 158.32
K2 (40 g/tanaman) 2.01b 3.47a 14.26b 203.08

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
K3 (60 g/tanaman) 2.53a 3.87a 21.50a 251.17

P0 (0 ml/liter air) 1.61 2.75 11.99b 160.23


P1 (2.5 ml/liter air) 1.65 2.94 11.49b 168.86
P2 (5 ml/liter air) 1.73 2.91 12.36b 185.54
P3 (7.5 ml/liter air) 2.07 3.41 16.84a 222.07
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.
* Ada interaksi nyata K x P

Tabel 10 menunjukkan pada umur 16 hst bobot segar tertinggi diperoleh

pada K3 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya dan bobot segar

terendah diperoleh pada K0 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya

kecuali dengan K1 berbeda tidak nyata. Umur 24 hst bobot segar tertinggi

diperoleh pada K3 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan kecuali dengan K2

dan bobot segar terendah diperoleh pada K0 yang bebeda nyata dengan semua

perlakuan kecuali dengan K1. Umur 32 hst bobot segar tertinggi diperoleh pada K3

yang berbeda nyata pada semua perlakuan dan bobot segar terendah diperoleh

pada K0 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya.

Tabel 10 menunjukkan pada umur 32 hst bobot segar tertinggi diperoleh

pada K3 yang berbeda nyata pada semua perlakuan dan bobot segar terendah

diperoleh pada P1 yang berbeda tidak nyata pada semua perlakuan kecuali pada

P3.

Hubungan antara bobot segar sawi (g) dengan dosis Kascing (g/tanaman)

umur 16, 24 dan 32 hst dapat dilihat pada Gambar 21.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
30 32 =0.243x+5.864
BobotSegar(g) 25 r=0.985
20
15 24 =0.029x+2.109
r=0.968
10
5 16 =0.023x+1.049
0 r=0.983

0 20 40 60
Kascing(g/tanaman)

16hst 24hst 32hst

Gambar 21. Hubungan antara Bobot Segar (g) dengan Dosis


Kascing (g/tanaman) Umur 16, 24 dan 32 hst

Gambar 21 menunjukkan terdapat hubungan linear positif antara bobot

segar (g) dan dosis Kascing (g/tanaman) umur 16, 24 dan 32 hst.

Hubungan antara bobot segar sawi (g) umur 32 hst dengan berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 22.

30
25
B obotS eg ar(g )

20

15 32 = 10.86+ 0.077x
10 r= 0.803

5
0
0 2.5 5 7.5
P uja 168(m l/lite ra ir)
L inea r(32hs t)

Gambar 22. Hubungan antara Bobot Segar (g) dengan Konsentrasi Puja 168
(ml/liter air) Umur 32 hst

Gambar 22 menunjukkan terdapat hubungan linear positif antara bobot

segar (g) dengan konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) umur 32 hst.

Interaksi antara Kascing (K) dan Puja 168 (P) terhadap bobot segar sawi

pada umur 40 hst dapat dilihat pada Tabel 11.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Tabel 11. Rataan Bobot Segar pada Interaksi Kascing (K) dan Puja 168 (P) Umur
40 hst
Kombinasi Perlakuan Bobot Segar pada umur (hst)
---------------------------g---------------------------
K0P0 66.57f
K0P1 111.11e
K0P2 120.43e
K0P3 198.42cd
K1P0 109.34e
K1P1 139.33e
K1P2 187.74d
K1P3 196.89cd
K2P0 193.60cd
K2P1 205.14cd
K2P2 201.09cd
K2P3 212.48cd
K3P0 271.39ab
K3P1 219.88cd
K3P2 232.91bc
K3P3 280.49a
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.

Tabel 11 menunjukkan bahwa umur 40 hst bobot segar tertinggi diperoleh

pada K3P3 dan berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan. Bobot segar

terendah diperoleh pada K0P0 dan berbeda nyata dengan semua kombinasi

perlakuan.

Pengaruh Kascing (g/tanaman) pada berbagai Puja 168 (ml/liter air)

terhadap bobot segar (g) pada umur 40 hst dapat dilihat pada Gambar 23.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
300
y 7.5= 156.62 + 26.181x
250 r = 0.854
y 5= 97.843 + 35.079x
Bobot Segar (g)
200 r = 0.956

150 y 2.5= 70.832+39.212x


r = 0.972
100

50 y 0= - 14.458+ 69.873x
r = 0.991
0
0 20 40 60
Kascing (g/tanaman)

0 2.5 5 7.5

Gambar 23. Pengaruh Dosis Kascing terhadap Bobot Segar (g) pada berbagai
Konsentrasi Puja 168 umur 40 hst

Gambar 23 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis Kascing dan

konsentrasi Puja 168 yang diberikan maka bobot segar pada umur 40 hst juga

semakin meningkat dan pengaruh konsentrasi puja 168 semakin kecil pada dosis

kascing yang semakin besar. Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Pengaruh Puja 168 (ml/liter air) pada berbagai Kascing (g/tanaman)

terhadap bobot segar (g) umur 40 hst dapat dilihat pada Gambar 24.

Gambar 24 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis Kascing dan

konsentrasi Puja 168 yang diberikan maka bobot segar pada umur 40 hst juga

semakin meningkat. Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
300
60= 241.0+ 4.034x
r = 0.176
250

5= 189.93 + 5.258x
200 r = 0.861

150 2.5= 80.558 + 31.106x


Bobot Segar (g)

r = 0.972
100
0 = 22.91+40.488x
r = 0.953
50

0
0 2.5 5.0 7.5

Puja 168 (ml/liter air)

0 20 40 60

Gambar 24. Pengaruh Konsentrasi Puja 168 Terhadap Bobot Segar (g)
pada berbagai Dosis Kascing umur 40 hst

Bobot kering tanaman (g)

Data bobot kering tanaman umur 16 s/d 40 hst dan daftar sidik ragamnya

dapat dilihat pada Lampiran 11-12, yang menunjukkan perlakuan pupuk Kascing

(K) berpengaruh nyata hingga sangat nyata terhadap bobot kering pada umur 16,

24, 32 dan 40 hst. Sedangkan perlakuan pupuk Puja 168 (P) berpengaruh sangat

nyata terhadap bobot kering pada umur 32 dan 40 hst. Interaksi kedua perlakuan

berpengaruh sangat nyata terhadap bobot kering pada umur 40 hst.

Perkembangan bobot kering (g) dari 16 s/d 40 hst pada berbagai dosis

Kascing (g/tanaman) dapat dilihat pada Gambar 25.

Gambar 25 menunjukkan perkembangan bobot kering pada berbagai dosis

Kascing (g) selalu meningkat dari 16 hst sampai 40 hst dan semakin cepat setelah

32 hst. Juga terlihat bahwa bobot kering tertinggi diperoleh pada perlakuan K3

diikuti K2, K1 dan K0.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
24
20
Bobot Kering (g)
16
12
8
4
0
16 24 32 40
Umur Tanaman (hst)

0 20 40 60

Gambar 25. Perkembangan Bobot Kering Sawi (g) pada Berbagai Dosis
Kascing (g/tanaman) Umur 16 s/d 40 hst

Perkembangan bobot kering (g) dari 16 s/d 40 hst pada berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 26.

24
Bobot Kering (g)

20
16
12
8
4
0
16 24 32 40
Umur Tanaman (hst)

0 2.5 5 7.5

Gambar 26. Perkembangan Bobot Kering Sawi (g) pada Berbagai Konsentrasi
Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d 40 hst

Gambar 26 menunjukkan perkembangan bobot kering pada berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) selalu meningkat dari 16 hst sampai 40 hst dan

semakin cepat setelah 32 hst. Bobot kering terbesar diperoleh pada P3 diikuti oleh

P2, P1 dan P0, kecuali pada 32 hst dimana P0 lebih besar dari P1 dan P2 dan pada

umur 16 dan 24 hst P1 lebih besar dari P0 dan P2.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Pengaruh dosis Kascing (K) dan konsentrasi Puja 168 (P) terhadap bobot

kering sawi hingga umur 40 hst dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Rataan Bobot Kering Sawi (g) pada Berbagai Dosis Kascing (K) dan
Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d 40 hst
Bobot Kering pada umur (hst)
Perlakuan
16 24 32 40*
---------------------------------------- g----------------------------------

K0 (0 g/tanaman) 0.13b 0.19b 0.68c 10.94


K1 (20 g/tanaman) 0.13b 0.20b 0.94c 14.21
K2 (40 g/tanaman) 0.19a 0.28a 1.50b 16.99
K3 (60 g/tanaman) 0.20a 0.31a 2.40a 19.92

P0 (0 ml/liter air) 0.15 0.23 1.27b 13.03


P1 (2.5 ml/liter air) 0.17 0.25 1.12b 14.60
P2 (5 ml/liter air) 0.15 0.24 1.15b 16.12
P3 (7.5 ml/liter air) 0.18 0.27 1.98a 18.30
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.
* Ada interaksi nyata K x P

Tabel 12 menunjukkan pada umur 16 hst bobot kering tertinggi diperoleh

pada K3 yang berbeda tidak nyata dengan K2 tetapi berbeda nyata dengan K1 dan

K0 dan bobot kering terendah diperoleh pada K0 dan K1 yang berbeda nyata

dengan K2 dan K3. Umur 24 hst bobot kering tertinggi diperoleh pada K3 yang

berbeda tidak nyata dengan K2 tetapi berbeda nyata dengan K1 dan K0 dan bobot

kering terendah diperoleh pada K0 yang berbeda nyata dengan K2 dan K3 tetapi

berbeda tidak nyata dengan K1. Umur 24 hst bobot kering tertinggi diperoleh pada

K3 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya dan bobot kering

terendah diperoleh pada K0 yang berbeda nyata dengan K2 dan K3 tetapi berbeda

tidak nyata dengan K1.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Tabel 12 menunjukkan pada umur 32 hst bobot kering tertinggi diperoleh

pada P3 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan dan bobot kering terendah

diperoleh pada P1 yang berbeda nyata dengan P3 tetapi berbeda tidak nyata dengan

P0 dan P2.

Hubungan antara bobot kering sawi (g) dengan dosis Kascing (g/tanaman)

umur 16, 24 dan 32 hst dapat dilihat pada Gambar 27.

2.50
32 =0.5227+0.0286x
2.00 r=0.969
Bobotkering(g)

1.50 24 =0.1818+0.0022x
r=0.961
1.00
16 =0.122+0.0014x
r=0.921
0.50

0.00
0 20 40 60
Kascing(g/tanaman)

16hst 24hst 32hst

Gambar 27. Hubungan antara Bobot Kering (g) dengan Dosis


Kascing (g/tanaman) Umur 16, 24 dan 32 hst

Gambar 27 menunjukkan terdapat hubungan linear positif antara bobot

kering (g) dan dosis Kascing umur 16, 24 dan 32 hst.

Hubungan antara bobot kering sawi (g) umur 32 hst dengan konsentrasi

Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 28.

Gambar 28 menunjukkan bahwa hubungan antara bobot kering dengan

konsentrasi Puja 168 umur 32 hst adalah kuadratik negatif dengan minimum

2.64 g pada Puja 168 2.5 ml/liter air.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
2.50

Bobotkering(g)
2.00
1.50
=1.2989 0.207x+0.0392x2
1.00 R2 =0.944
0.50
0.00
min = 2.64
0 2.5 5 7.5
Puja168(ml/literair)

32hst

Gambar 28. Hubungan antara Bobot Kering (g) dengan Puja 168 (ml/liter air)
Umur 32 hst

Interaksi antara Kascing (K) dan Puja 168 (P) terhadap bobot kering sawi

pada umur 40 hst dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Rataan Bobot Kering pada Interaksi antara Kascing (K) dan Puja
168 (P) Umur 40 hst
Kombinasi Perlakuan Bobot Kering pada umur 40 hst
------------------------------g-------------------------------
K0P0 5.93j
K0P1 9.77i
K0P2 11.78h
K0P3 16.28ef
K1P0 9.94hi
K1P1 14.04g
K1P2 16.18ef
K1P3 16.71d-f
K2P0 15.86fg
K2P1 16.59d-f
K2P2 17.01d-f
K2P3 18.48b-d
K3P0 20.41ab
K3P1 18.02c-e
K3P2 19.51bc
K3P3 21.73a
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.

Tabel 13 menunjukkan bahwa umur 40 hst bobot kering tertinggi

diperoleh pada K3P3 dan berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
kecuali dengan perlakuan K3P0. Bobot kering terendah diperoleh pada K0P0 dan

berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan.

Pengaruh Kascing (g/tanaman) pada berbagai Puja 168 (ml/liter air)

terhadap bobot kering (g) pada umur 40 hst dapat dilihat pada Gambar 29.

24
7.5 = 13.769+ 1.8123x
r = 0.943
20
Bobot kering (g)

5= 10.117+ 2.4013x
16
r = 0.963

12
2.5 = 7.7742 + 2.732x
r = 0.973
8
0= 0.6967+ 4.9348x
4 r= 0.997

0
0 20 40 60

Kascing (g/tanaman)

0 2.5 5 7.5

Gambar 29. Pengaruh Dosis Kascing terhadap Bobot Kering (g) pada berbagai
Konsentrasi Puja 168 umur 40 hst

Gambar 29 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis Kascing dan

konsentrasi Puja 168 yang diberikan maka bobot kering pada umur 40 hst juga

semakin meningkat. Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Pengaruh Puja 168 (ml/liter air) pada berbagai Kascing (g/tanaman)

terhadap bobot kering (g) umur 40 hst dapat dilihat pada Gambar 30.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
24
60= 18.553+0.5462x
20 r = 0.451
Bobot kering (g)
16 40=14.915 + 0.8282x
r = 0.968
12
20 = 8.6008+ 2.2448x
r = 0.942
8
0= 2.675 + 3.3067x
4 r = 0.99

0
0 2.5 5 7.5
Puja 168 (ml/liter air)
0 20 40 60

Gambar 30. Pengaruh Konsentrasi Puja 168 Terhadap Bobot Kering (g)
pada berbagai Dosis Kascing umur 40 hst

Gambar 30 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis Kascing dan

konsentrasi Puja 168 yang diberikan maka bobot kering pada umur 40 hst juga

semakin meningkat. Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Laju asimilasi bersih (g.cm2.hari-1)

Data laju asimilasi bersih umur 16 s/d 40 hst dan daftar sidik ragamnya

dapat dilihat pada Lampiran 13-14, yang menunjukkan perlakuan pupuk Kascing

(K) berpengaruh sangat nyata terhadap laju asimilasi bersih pada umur 24-32 dan

32-40 hst, dan perlakuan pupuk Puja 168 (P) berpengaruh sangat nyata terhadap

laju assimilasi bersih umur 24-32 dan 32-40 hst. Interaksi kedua perlakuan

berpengaruh sangat nyata terhadap laju asimilasi bersih pada umur 32-40 hst.

Perkembangan laju asimilasi bersih (g.cm2.hari-1) dari 16 s/d 40 hst pada

berbagai dosis Kascing (g) dapat dilihat pada Gambar 31.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
0.120

Laju Asimilasi Bersih (g.cm2.h-1) 0.100

0.080

0.060

0.040

0.020

0.000
16-24 24-32 32-40

Umur Tanaman (hst)

0 20 40 60

Gambar 31. Perkembangan Laju Asimilasi Bersih Sawi (g.cm2.hari-1) pada


Berbagai Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 16 s/d 40 hst

Gambar 31 menunjukkan perkembangan laju asimilasi bersih pada

berbagai dosis Kascing (g) sangat lambat dari 16-24 hst sampai 24-32 hst dan

semakin pesat setelah 24-32 hst. Juga terlihat bahwa tanaman tertinggi diperoleh

pada perlakuan K3 diikuti K2, K1 dan K0, kecuali pada 32-40 hst dimana K3 lebih

kecil dari K2.

Perkembangan laju asimilasi bersih (g.cm2.hari-1) dari 16 s/d 40 hst pada

berbagai konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 32.

Gambar 32 menunjukkan perkembangan laju asimilasi bersih pada

berbagai konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) sangat lambat dari 16-24 hst sampai

24-32 hst dan semakin pesat setelah 24-32 hst. Laju asimilasi terbesar diperoleh

pada P3 diikuti oleh P2, P1 dan P0, kecuali pada 16-24 hst dimana P3 lebih kecil dari

semua perlakuan dan P2 lebih kecil dari P0 dan P1 dan pada 24-32 hst P0 lebih besar

dari P1 dan P2.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
0.120
Laju Asimilasi Bersih (g.cm2.h-1)
0.100

0.080

0.060

0.040

0.020

0.000
16-24 24-32 32-40
Umur Tanaman (hst)

0 2.5 5 7.5

Gambar 32. Perkembangan Laju Asimilasi Bersih Sawi (g.cm2.hari-1) pada


Berbagai Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d 40 hst

Pengaruh dosis Kascing (K) dan konsentrasi Puja 168 (P) terhadap laju

asimilasi bersih sawi hingga umur 40 hst dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Rataan Laju Asimilasi Bersih Sawi (g.cm2.hari-1) pada Berbagai Dosis
Kascing (K) dan Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d 40 hst
Laju Asimilasi Bersih pada umur (hst)
Perlakuan
16-24 24-32 32-40*
2 -1
------------------------------------g.cm .hari --------------------------
K0 (0 g/tanaman) 0.00213 0.00887c 0.08979
K1 (20 g/tanaman) 0.00229 0.01242bc 0.09745
K2 (40 g/tanaman) 0.00240 0.01789b 0.10351
K3 (60 g/tanaman) 0.00256 0.02602a 0.10132

P0 (0 ml/liter air) 0.00246 0.01567b 0.08434


P1 (2.5 ml/liter air) 0.00248 0.01274b 0.09680
P2 (5 ml/liter air) 0.00226 0.01299b 0.10291
P3 (7.5 ml/liter air) 0.00218 0.02379a 0.10803
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.
* Ada interaksi nyata K x P

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Tabel 14 menunjukkan pada umur 24-32 hst laju asimilasi bersih terbesar

diperoleh pada K3 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan dan laju asimilasi

terkecil diperoleh pada K0 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan kecuali

dengan K1.

Tabel 14 menunjukkan pada umur 24-32 hst laju asimilasi bersih terbesar

diperoleh pada P3 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan dan laju asimilasi

bersih terkecil diperoleh pada P1 yang berbeda tidak nyata pada semua perlakuan

kecuali dengan P3.

Hubungan antara laju asimilasi bersih Sawi (g.cm2.hari-1) dengan dosis

Kascing (g/tanaman) umur 24-32 hst dapat dilihat pada Gambar 33.

0.030
Laju assimilasi bersih (g.cm2.h-1)

0.025

0.020

0.015
= 0.0021+ 0.0057x
0.010 r = 0.984

0.005

0.000
0 20 40 60
Kascing (g/tanaman)

24-32 hst

Gambar 33. Hubungan antara Laju Asimilasi Bersih Sawi (g.cm2.hari-1) dengan
Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 24-32 hst

Gambar 33 menunjukkan terdapat hubungan linear positif antara laju

asimilasi bersih (g.cm2.hari-1) dan dosis Kascing (g/tanaman) umur 24-32 hst.

Hubungan antara laju asimilasi bersih sawi (g.cm2.hari-1) umur 24-32 hst

dengan konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 34.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Laju assimilasi bersih (g.cm2.h-1)
0.025
0.020
0.015
0.010 y = 0.0273 - 0.0147x+ 0.0034x 2
min= 2.162 R2 = 0.9663
0.005
0.000
0 2.5 5.0 7.5
Puja 168 (ml/liter air)

24-32 hst

Gambar 34. Hubungan antara Laju Asimilasi Bersih Sawi (g.cm2.hari-1) dengan
Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 24-32 hst
Gambar 34 menunjukkan bahwa hubungan antara laju asimilasi bersih

(g.cm2.hari-1) dengan konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) umur 24-32 hst adalah

kuadratik negatif dengan laju asimilasi bersih minimun 2,162 g.cm2.hari-1 pada

Puja 168 2,5 ml/liter air.

Interaksi antara Kascing (K) dan Puja 168 (P) terhadap laju asimilasi

bersih sawi pada umur 32-40 hst dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Rataan Laju Asimilasi Bersih pada Interaksi Kascing (K) dan Puja
168 (P) Umur 40 hst
Kombinasi Perlakuan Laju Asimilasi Bersih pada umur 32-40 hst
-------------g.cm2.hari-1------------
K0P0 0.05359e
K0P1 0.08701cd
K0P2 0.09851bc
K0P3 0.12005a
K1P0 0.07542d
K1P1 0.09876bc
K1P2 0.10922ab
K1P3 0.10641ab
K2P0 0.10444a-c
K2P1 0.10514ab
K2P2 0.10084bc
K2P3 0.10362a-c
K3P0 0.10389a-c
K3P1 0.09629bc
K3P2 0.10306a-c
K3P3 0.10202a-c
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Tabel 14 menunjukkan bahwa umur 32-40 hst laju asimilasi bersih

terbesar diperoleh pada K0P3 yang berbeda nyata dengan perlakuan K0P0, K0P1,

K0P2, K1P0, K1P1, K2P2, K3P1 dan berbeda tidak nyata dengan perlakuan K1P2,

K1P3, K2P0, K2P1, K2P3, K3P0, K3P2 dan K3P3. Laju asimilasi bersih terkecil

diperoleh pada perlakuan K0P0 yang berbeda nyata dengan semua kombinasi

perlakuan.

Pengaruh Kascing (g/tanaman) pada berbagai Puja 168 (ml/liter air)

terhadap laju asimilasi bersih (g.cm2.hari-1) pada umur 32-40 hst dapat dilihat

pada Gambar 35.


Laju Asimilasi Bersih (g.cm2.h-1)

0.140 7.5 = 0.1222 -0.0057x


0.120 r = 0.893

0.100
5 = 0.1016 +0.0005x
0.080 r = 0.147
0.060
2.5 = 0.0882+0.0034x
0.040 r = 0.587

0.020
0 = 0.0394+ 0.018x
0.000 r= 0.945
0 20 40 60

Kascing (g/tanaman)

0 2.5 5 7.5

Gambar 35. Pengaruh Kascing Terhadap Laju Asimilasi Bersih (g.cm2.hari-1)


pada Berbagai Puja 168 umur 32-40 hst

Gambar 35 menunjukkan bahwa pengaruh konsentrasi Puja 168 terhadap

laju asimilasi bersih semakin kecil pada dosis Kascing yang semakin besar.

Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis di kisaran 40-60 g/tanaman dosis

Kascing, tetapi interaksi menjadi antagonis setelah di atas kisaran tersebut.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Pengaruh Puja 168 (ml/liter air) pada berbagai Kascing (g/tanaman)

terhadap laju asimilasi bersih (g.cm2.hari-1) umur 32-40 hst dapat dilihat pada

Gambar 36.

0.140
Laju asimilasi Bersih (g.cm2.h-1)

60= 0.1052 -0.0007x


0.120 r = 0.464

0.100 40= 0.101+0.0001x


r = 0.044
0.080
20 = 0.0716+ 0.0103x
0.060 r = 0.870
0.040
0.020 0 = 0.0371+ 0.0211x
r = 0.981
0.000
0 2.5 5 7.5

Puja 168 (ml/liter air)

0 20 40 60

Gambar 36. Pengaruh Puja 168 Terhadap Laju Asimilasi Bersih (g.cm2.hari-1)
pada Berbagai Kascing umur 40 hst

Gambar 36 menunjukkan bahwa pada Puja 168 dengan konsetrasi 5

ml/liter air pengaruh dosis Kascing terhadap laju asimilasi bersih semakin kecil.

Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis di kisaran 2.5-5 ml/liter air pada

konsentrasi Puja 168, tetapi interaksi menjadi antagonis setelah di atas kisaran

tersebut.

Laju pertumbuhan relatif (g.g-1.h-1)

Data laju pertumbuhan relatif umur 16 s/d 40 hst dan daftar sidik

ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 15-16, yang menunjukkan perlakuan

pupuk Kascing (K) berpengaruh sangat nyata terhadap laju pertumbuhan relatif

umur 24-32 dan 32-40 hst, dan perlakuan pupuk Puja 168 (P) berpengaruh sangat

nyata terhadap laju pertumbuhan relatif umur 24-32 dan 32-40 hst. Interaksi kedua

perlakuan tidak nyata terhadap laju pertumbuhan relatif.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Perkembangan laju pertumbuhan relatif (g.g-1.h-1) dari 16 s/d 40 hst pada

berbagai dosis Kascing (g) dapat dilihat pada Gambar 37.

0.400
Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1)

0.350
0.300
0.250
0.200
0.150
0.100
0.050
0.000
16-24 24-32 32-40

Umur Tanaman (hst)

0 20 40 60

Gambar 37. Perkembangan Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1) pada Berbagai


Dosis Kascing (g/tanaman) Umur 16 s/d 40 hst

Gambar 37 menunjukkan perkembangan laju pertumbuhan relatif pada

berbagai dosis Kascing (g) 16-24 hst sampai 32-40 hst. Juga terlihat bahwa

pertumbuhan relatif terbesar pada umur 24-32 hst diperoleh pada perlakuan K3

diikuti K2, K1 dan K0, dan pada umur 32-40 hst tanaman tertinggi diperoleh pada

perlakuan K0 diikuti K1, K2 dan K3.

Perkembangan laju laju pertumbuhan relatif (g.g-1.h-1) dari 16 s/d 40 hst

pada berbagai konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) dapat dilihat pada Gambar 38.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
0.400

Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1) 0.350

0.300

0.250

0.200

0.150

0.100

0.050

0.000
16-24 24-32 32-40

Umur Tanaman (hst)

0 2.5 5 7.5

Gambar 38. Perkembangan Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1) pada Berbagai


Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 16 s/d 40 hst

Gambar 38 menunjukkan perkembangan laju pertumbuhan relatif pada

berbagai konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) umur 16-24 hst sampai 32-40 hst. Laju

pertumbuhan relatif terbesar pada umur 24-32 diperoleh pada P3 diikuti oleh P0, P2

dan P1, dan pada umur 32-40 hst tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan P1

diikuti P2, P0 dan P3.

Pengaruh dosis Kascing (K) dan konsentrasi Puja 168 (P) terhadap laju

pertumbuhan relatif sawi hingga umur 40 hst dapat dilihat pada Tabel 16.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Tabel 16. Rataan Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1) pada Berbagai Dosis
Kascing (K) dan Konsentrasi Puja 168 (P) Umur 16 s/d 40 hst
Laju Pertumbuhan Relatif pada umur (hst)
Perlakuan
16-24 24-32 32-40
-1 -1
----------------------------- g.g .h ---------------------------------------
K0 (0 g/tanaman) 0.051 0.14c 0.36a
K1 (20 g/tanaman) 0.052 0.19b 0.34ab
K2 (40 g/tanaman) 0.051 0.21ab 0.31b
K3 (60 g/tanaman) 0.058 0.25a 0.27c

P0 (0 ml/liter air) 0.056 0.192b 0.308b


P1 (2.5 ml/liter air) 0.052 0.168c 0.343a
P2 (5 ml/liter air) 0.054 0.188b 0.342a
P3 (7.5 ml/liter air) 0.050 0.243a 0.293c
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.

Tabel 16 menunjukkan pada umur 24-32 hst laju pertumbuhan relatif

terbesar diperoleh pada K3 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan kecuali

dengan K2 dan laju pertumbuhan relatif terkecil diperoleh pada K0 yang berbeda

nyata dengan semua perlakuan. Umur 32-40 hst menunjukkan laju pertumbuhan

relatif terbesar diperoleh pada K0 yang berbeda nyata pada semua perlakuan

kecuali dengan K1 dan laju pertumbuhan relatif terkecil diperoleh pada K3 yang

berbeda nyata dengan semua perlakuan.

Tabel 16 menunjukkan pada umur 24-32 hst laju pertumbuhan relatif

terbesar diperoleh pada P3 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan dan laju

pertumbuhan relatif terkecil diperoleh pada P1 yang berbeda nyata pada semua

perlakuan. Umur 32-40 hst menunjukkan laju pertumbuhan relatif terbesar

diperoleh pada P1 yang berbeda nyata pada semua perlakuan kecuali dengan P2

dan laju pertumbuhan relatif terkecil diperoleh pada P3 yang berbeda nyata

dengan semua perlakuan.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Hubungan antara laju pertumbuhan relatif (g.g-1.h-1) dengan dosis Kascing

umur 24-32 dan 32-40 hst dapat dilihat pada Gambar 39.
Laju pertumbuhan relatif (g.g-1.hari-1)

0.40
3240 =0.3660.001x
0.35 r=0.979
0.30
0.25
0.20 2432 =0.145+0.001x
0.15 r=0.985

0.10
0.05
0.00
0 20 40 60
Kascing (g/tanaman)
24-32 hst 32-40 hst

Gambar 39. Hubungan antara Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1) dengan Dosis
Kascing (g/tanaman) Umur 24-32 dan 32-40 hst

Gambar 39 menunjukkan terdapat hubungan linear positif antara laju

pertumbuhan relatif (g.g-1.h-1) dan dosis Kascing (g/tanaman) umur 24-32 hst dan

hubungan linear negatif pada umur 32-40 hst.

Hubungan antara laju pertumbuhan relatif (g.g-1.h-1) dengan berbagai

konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) umur 24-32 dan 32-40 hst dapat dilihat pada

Gambar 40.

Gambar 40 menunjukkan bahwa hubungan antara laju pertumbuhan relatif

dengan konsentrasi Puja 168 umur 24-32 hst adalah kuadratik negatif dengan

minimum 2.66 g.g-1.hari-1 pada Puja 168 2.5 ml/liter air dan hubungan antara laju

pertumbuhan relatif dengan konsentrasi Puja 168 umur 32-40 hst adalah kuadratik

positif dengan maksimum 3.83 g.g-1.hari-1 pada Puja 168 2.5 ml/liter air

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
0.40 3240 =0.306+0.023x0.003x 2
Laju pertumbuhan relatif (g.g-1.hari-1)

r =0.997
0.35
maks = 3.83
0.30
0.25
0.20
0.15
0.10 2432 =0.1910.016x+0.003x 2
0.05 r=0.998
min = 2.66
0.00
0 2.5 5 7.5

Puja 168 (ml/liter air)

2432hs t 3240hs t

Gambar 40. Hubungan antara Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1) dengan


Konsentrasi Puja 168 (ml/liter air) Umur 24-32 dan 32-40 hst

Produksi per tanaman (g)

Data pengamatan produksi per tanaman dan daftar sidik ragamnya dapat

dilihat pada Lampiran 17-18, yang menunjukkan perlakuan pupuk Kascing (K)

dan Puja 168 (P) berpengaruh sangat nyata terhadap produksi per tanaman.

Interaksi kedua perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap produksi per

tanaman.

Rataan produksi per tanaman pada perlakuan Kascing (K) dan

Puja 168 (P) dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17 menunjukkan bahwa produksi per tanaman terbaik diperoleh

pada perlakuan K3P3 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan kecuali dengan

perlakuan K3P2 dan K3P0 dan yang terendah pada perlakuan K0P0 yang berbeda

nyata dengan semua perlakuan.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Tabel 17. Rataan Produksi per Tanaman pada Interaksi Kascing (K) dan Puja
168 (P) Umur 40 hst
Kombinasi Perlakuan Produksi per Tanaman
---------------------g---------------------
K0P0 67.77g
K0P1 104.96f
K0P2 128.79f
K0P3 213.35b-d
K1P0 113.83f
K1P1 148.37d-f
K1P2 218.23b-d
K1P3 134.86ef
K2P0 185.49b-e
K2P1 187.95b-e
K2P2 155.92c-f
K2P3 171.09c-f
K3P0 251.91ab
K3P1 219.51bc
K3P2 243.02ab
K3P3 312.16a
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.

Pengaruh Kascing (g/tanaman) pada berbagai Puja 168 (ml/liter air)

terhadap produksi per tanaman (g) dapat dilihat pada Gambar 41.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
350
7.5 =124.7+33.26x

Produksipertanaman(g)
300 r=0.560
250 5 =116.4+ 28.03x
200 r=0.681
150 2.5 =69.39 + 38.32x
r=0.997
100
50 0 = 1.273+62.40x
r=0.995
0
0 20 40 60
Kascing(g/tanaman)
0 2.5 5 7.5

Gambar 41. Pengaruh Dosis Kascing terhadap Produksi per Tanaman (g) pada
Berbagai Konsentrasi Puja 168
Gambar 41 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis Kascing dan

konsentrasi Puja 168 yang diberikan maka produksi per tanaman juga semakin

meningkat. Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Pengaruh Puja 168 (ml/liter air) pada berbagai Kascing (g/tanaman)

terhadap produksi per tanaman dapat dilihat pada Gambar 42.

350
60 =205.5+20.42x
Produksipertanaman(g)

300 r=0.667
250
40 =193.97.523x
200 r=0.655
150 20 =120.5+13.29x
r=0.379
100
50 0 =13.57+46.05x
r=0.962
0
0 2.5 5 7.5
Puja168(ml/literair)
0 20 40 60

Gambar 42. Pengaruh Konsentrasi Puja 168 terhadap Produksi per Tanaman
pada berbagai Dosis Kascing

Gambar 42 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis Kascing dan

konsentrasi Puja 168 yang diberikan maka produksi per tanaman juga semakin

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
meningkat, kecuali pada dosis kascing dengan perlakuan 40 g/tanaman. Interaksi

yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Produksi per plot (kg)

Data pengamatan produksi per plot (3 m2) dan daftar sidik ragamnya dapat

dilihat pada Lampiran 19-20, yang menunjukkan perlakuan pupuk Kascing (K)

dan Puja 168 (P) berpengaruh sangat nyata terhadap produksi per plot. Interaksi

kedua perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap produksi per tanaman.

Rataan produksi per plot pada perlakuan Kascing (K) dan Puja 168 (P)

dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Rataan Produksi per Plot pada Interaksi Kascing (K) dan Puja 168 (P)
Umur 40 hst
Kombinasi Perlakuan Produksi per Plot
------------kg----------
K0P0 2.22g
K0P1 4.26f
K0P2 3.86f
K0P3 7.46ab
K1P0 4.08f
K1P1 6.4b-e
K1P2 6.18c-e
K1P3 3.78f
K2P0 6.50b-e
K2P1 6.88b-d
K2P2 5.52e
K2P3 6.14de
K3P0 6.12de
K3P1 6.74b-e
K3P2 7.26a-c
K3P3 8.32a
Keterangan: Angka-angka pada kolom dari kelompok perlakuan yang sama yang diikuti oleh
notasi yang tidak sama berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji jarak Duncan.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Tabel 18 menunjukkan bahwa produksi per plot terbaik diperoleh pada

perlakuan K3P3 yang berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan kecuali

dengan perlakuan K3P2 dan K0P3 dan yang terendah pada perlakuan K0P0 yang

berbeda nyata dengan semua perlakuan.

Pengaruh Kascing (g/tanaman) pada berbagai Puja 168 (ml/liter air)

terhadap produksi per plot (kg) dapat dilihat pada Gambar 43.

9.0
8.0 7.5= 2600+ 244.7x .
P roduks iperplot(kg )

7.0 r= 0.319
6.0 5 = 1658.+ 477.6x
5.0 r= 0.866
4.0
2.5 = 2038.+ 397.8x
3.0
r= 0.837
2.0
0 = 599.6+ 705.8x
1.0
r= 0.918
0.0
0 20 40 60
0 2.5 5 7.5

K a sc ing (g /ta na m a n)

Gambar 43. Pengaruh Dosis Kascing terhadap Produksi per Plot pada Berbagai
Konsentrasi Puja 168

Gambar 43 menunjukkan pada Kascing dengan dosis 60 g/tanaman jarak

antara masing-masing perlakuan Puja 168 terlihat tidak begitu berbeda, dan

diperoleh pengaruh konsentrasi Puja 168 terhadap produksi per plot semakin kecil

pada dosis Kascing yang semakin besar. Interaksi yang terjadi adalah interaksi

sinergis.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Pengaruh Puja 168 (ml/liter air) pada berbagai Kascing (g/tanaman)

terhadap produksi per plot dapat dilihat pada Gambar 44.

9.0 60= 2664+ 355.6x


P roduks iperplot(kg )

8.0
r= 0.987
7.0
40= 3436122.3x
6.0
5.0 r= 0.548
4.0 20= 269355.33x
3.0 r= 0.104
2.0 0= 303.8+ 767.8x
1.0 r= 0.903
0.0
0 2.5 5.0 7.5
0 20 40 60
P uja 168(m l/lite ra ir)

Gambar 44. Pengaruh Konsentrasi Puja 168 terhadap Produksi per Plot pada
berbagai Dosis Kascing
Gambar 44 menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis Kascing dan

konsentrasi Puja 168 yang diberikan maka produksi per plot juga semakin

meningkat, kecuali pada dosis kascing dengan perlakuan 40 dan 20 g/tanaman.

Interaksi yang terjadi adalah interaksi sinergis.

Pembahasan

Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sawi Terhadap Dosis Pupuk


Kascing

Data dan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan pupuk

Kascing berpengaruh tidak nyata terhadap laju asimilasi bersih dan laju

pertumbuhan relatif umur 16-24 hst. Namun, pupuk Kascing berpengaruh nyata

terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, total luas daun, bobot segar per tanaman,

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
bobot kering per tanaman, laju asimilasi bersih umur 24-40 hst, laju pertumbuhan

relatif 24-40 hst, produksi per tanaman dan produksi per plot.

Pemberian pupuk Kascing selain sebagai sumber hara bagi tanaman juga

dapat memperbaiki tekstur tanah yang pada akhirnya akan meningkatkan

pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Dari hasil penelitian, diperoleh bahwa

pemberian pupuk Kascing berpengaruh nyata pada hampir semua parameter

dimana dengan dosis 60 g/tanaman memberikan hasil tertinggi untuk semua

parameter tersebut. Diduga hal ini disebabkan karena pemberian dosis tersebut

mampu menyediakan unsur hara yang cukup bagi tanaman sehingga tanaman

tumbuh lebih baik dibandingkan tanaman dengan dosis yang lebih rendah. Hal ini

sesuai dengan Mashur (2001) yang menyatakan bahwa vermikompos

mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti N, P, K, Ca,

Mg, S, Fe, Mn, AI, Na, Cu, Zn, Bo dan Mo. Mashur juga menambahkan bahwa

pemberian pupuk kascing dapat memperbaiki struktur tanah, menetralkan pH

tanah, serta mampu menahan air sebesar 40-60% yang semakin mendukung

pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik.

Hasil analisis secara statistik menunjukkan bahwa pemberian pupuk

Kascing pada umur 16-24 hst berpengaruh tidak nyata terhadap laju asimilasi

bersih dan laju pertumbuhan relatif. Hal ini dikarenakan tanaman sawi yang masih

berumur 16-24 hst belum mampu beradaptasi terhadap lingkungannya.

Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sawi Terhadap Konsentrasi


Pupuk Puja 168

Data dan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan pupuk Puja

168 berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, bobot segar per tanaman,

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
bobot kering per tanaman, laju asimilasi bersih dan laju pertumbuhan relatif umur

16-24 hst, serta jumlah daun umur 16-20 hst. Namun, pupuk Puja 168

berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, bobot segar per tanaman, bobot

kering per tanaman, laju asimilasi bersih dan laju pertumbuhan relatif umur 28-40

hst, jumlah daun umur 24-40 hst, total luas daun 16-40 hst, produksi per tanaman

dan produksi per plot.

Pemberian puja 168 berpengaruh nyata pada total luas daun sejak umur

16-40 hst. Peningkatan total luas daun disebabkan karena Puja 168 menyediakan

nitrogen yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya. Dengan peningkatan

total luas daun akan meningkatkan proses fotosintesis yang akhirnya dapat

meningkatkan produksi tanaman. Menurut www.imp168.com (2008) pemberian

Puja 168 membuat daun menjadi lebih lebar sehingga efektif dalam proses

fotosintesis. Proses fotosintesis yang baik sangat efektif dalam pembentukan

karbohidrat dan protein.

Hasil analisis secara statistik menunjukkan bahwa hubungan antara laju

pertumbuhan relatif dengan konsentrasi Puja 168 umur 24-32 hst adalah kuadratik

negatif dengan nilai minimum 2.66 g.g-1.hari-1 dan pada umur 32-40 hst diperoleh

hubungan kuadratik positif dengan nilai maksimum 3.83 g.g-1.hari-1 pada Puja 168

2.5 ml/liter air. Umur 24-32 hst pemberian Puja 168 berpengaruh pada proses

pembesaran sel namun bobot kering belum bertambah. Sedangkan pada umur 32-

40 hst pemberian Puja 168 dengan unsur N yang tinggi berpengaruh terhadap

pembelahan sel yang berarti bahwa jumlah sel semakin banyak sehingga laju

fotosintesis juga semakin tinggi. Hal ini berpengaruh pada laju pertumbuhan

relatif yang semakin meningkat.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Produksi tanaman sawi dipengaruhi oleh pertumbuhan vegetatif terutama

pada organ daun. Luas daun akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman, yaitu

semakin luas permukaan daun maka akan semakin banyak fotosintat yang

dihasilkan yang ditunjukkan oleh peningkatan laju asimilasi bersih. Dengan

peningkatan tersebut maka produksi tanaman juga akan meningkat.

Hasil analisis secara statistik menunjukkan bahwa pemberian pupuk

Kascing berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, bobot segar per

tanaman, laju asimilasi bersih dan laju pertumbuhan relatif umur 16-24 hst, serta

jumlah daun umur 16-20 hst. Hal ini disebabkan pada saat umur tersebut tanaman

sawi belum mampu menyerap hara secara sempurna, karena daun belum

membuka secara sempurna dan jumlah daun untuk menyerap hara masih terbatas.

Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sawi Terhadap Interaksi


Perlakuan Pupuk Kascing dengan Pupuk Puja 168

Data dan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian dosis

Kascing dan konsentrasi pupuk Puja 168 tidak berinteraksi terhadap tinggi

tanaman umur 16, 20, 24 dan 40 hst; jumlah daun umur 16, 20, 28, 32, 36 dan 40

hst; total luas daun umur 16, 24 dan 32 hst; bobot segar per tanaman umur 16, 24

dan 32 hst; bobot kering per tanaman umur 16, 24 dan 32 hst; laju asimilasi bersih

umur 16-24 hst dan 24-32 hst dan laju pertumbuhan relatif umur 16-40 hst.

Pemberian dosis Kascing dan konsentrasi Puja 168 berinteraksi nyata secara

sinergis terhadap tinggi tanaman umur 28, 32 dan 36 hst; jumlah daun umur 24

hst; total luas daun umur 40 hst; bobot segar per tanaman umur 40 hst; bobot

kering per tanaman umur 40 hst; produksi per tanaman dan produksi per plot dan

berinteraksi antagonis pada laju asimilasi bersih umur 32-40 hst.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Secara umum interaksi kedua perlakuan menunjukkan pola yang sama

yaitu data tertinggi terdapat pada perlakuan K3P3 dan yang terendah pada

perlakuan K0P0. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan K3P3 merupakan dosis

Kascing dan konsentrasi pupuk Puja 168 yang tertinggi, dan sebaliknya pada

perlakuan K0P0 sama sekali tidak ada pemberian Kascing ataupun pupuk Puja 168.

Dengan pemberian Kascing dan pupuk Puja 168 pada taraf K3P3, tanaman sawi

memberikan respon pertumbuhan dan produksi yang paling tinggi. Dari hasil

penelitian, kombinasi K3P3 menunjukkan produksi per tanaman sebesar 312.16 g

sedangkan pada K0P0 sebesar 67.77 g.

Hal diatas didukung juga oleh pernyataan Mashur (2001) yang

menyatakan kotoran cacing (kascing) mengandung nutrisi yang dibutuhkan

tanaman. Penambahan kascing pada media tanaman akan mempercepat

pertumbuhan, meningkatkan tinggi dan berat tumbuhan. Jumlah optimal kascing

yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil positif hanya 10-20% dari volume

media tanaman. Menurut www.imp168.com (2008) Pupuk Puja 168 memiliki

manfaat bagi daun tanaman, yaitu dapat membuat daun menjadi lebih lebar, tebal

dan dapat meningkatkan jumlah klorofil sehingga efektif dalam proses

fotosintesis. Proses fotosintesis yang baik sangat efektif dalam pembentukan

karbohidrat dan protein sehingga dihasilkan buah yang lebih besar dan lebat.

Selain itu pemberian pupuk Puja 168 juga dapat membuat warna daun menjadi

lebih tua, tahan rontok, jumlah daun lebih banyak, serta memacu pertumbuhan

daun dan tunas.

Hasil analisis secara statistik menunjukkan pupuk Kascing dan pupuk Puja

168 tidak berinteraksi terhadap tinggi tanaman umur 16, 20, 24 dan 40 hst; jumlah

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
daun umur 16, 20, 28, 32, 36 dan 40 hst; total luas daun umur 16, 24 dan 32 hst;

bobot segar per tanaman umur 16, 24 dan 32 hst; bobot kering per tanaman umur

16, 24 dan 32 hst; laju asimilasi bersih umur 16-24 hst dan 24-32 hst dan laju

pertumbuhan relatif umur 16-40 hst. Hal ini menunjukkan bahwa antara

pupuk Kascing dan pupuk Puja 168 tidak saling mempengaruhi satu sama

lain yang dapat disebabkan oleh salah satu faktor perlakuan lebih besar

pengaruhnya dibandingkan faktor yang lain. Hal ini didukung oleh pernyataan

Sutedjo dan Kartosapoetra (1987) yang menyatakan bahwa bila salah satu faktor

lebih kuat pengaruhnya dari faktor lain sehingga faktor lain tersebut tertutupi dan

masing-masing faktor mempunyai sifat yang jauh berbeda pengaruh dan sifat

kerjanya, maka akan menghasilkan hubungan yang berbeda dalam mempengaruhi

pertumbuhan suatu tanaman.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Perlakuan pupuk Kascing berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman,

jumlah daun, total luas daun, bobot segar per tanaman, bobot kering per

tanaman, laju asimilasi bersih umur 24-40 hst, laju pertumbuhan relatif

24-40 hst, produksi per tanaman dan produksi per plot.

2. Perlakuan pupuk Puja 168 berpengaruh nyata terhadap total luas daun,

tinggi tanaman (28-40 hst), bobot segar per tanaman (28-40 hst), jumlah

daun (24-40), produksi per tanaman dan produksi per plot.

3. Perlakuan pupuk Puja 168 memberikan hubungan kuadratik positif

terhadap laju pertumbuhan relatif umur 32-40 hst dan memberikan

hubungan kuadratik negatif terhadap laju pertumbuhan relatif (24-32 hst),

bobot kering per tanaman (32 hst), dan laju asimilasi bersih (24-32 hst).

4. Interaksi perlakuan pupuk Kascing dan perlakuan pupuk Puja 168

berinteraksi nyata terhadap tinggi tanaman umur 28, 32 dan 36 hst; jumlah

daun umur 24 hst; total luas daun umur 40 hst; bobot segar per tanaman

umur 40 hst; bobot kering per tanaman umur 40 hst; laju asimilasi bersih

umur 32-40 hst; produksi per tanaman dan produksi per plot.

5. Dari hasil penelitian diperoleh perlakuan K3P3 memberikan hasil yang

terbaik terhadap produksi per sample (312,16 g) dan produksi per plot

(4,16 kg)

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Saran

Disarankan pemberian dosis pupuk Kascing yang sesuai untuk tanaman

sawi adalah 60 g/tanaman dan pemberian konsentrasi pupuk Puja 168 yang sesuai

untuk tanaman sawi adalah 7.5 ml/liter air.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
DAFTAR PUSTAKA

Agromedia, 2007. Petunjuk Pemupukan. Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta.


Hal : 37-38.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, 2008. Luas Panen, Produksi
dan Rata-rata Produksi Sayur-sayuran Menurut Jenis Tanaman Tahun
2006. Dikutip dari : www.bps.sumut.co.id 19 September 2008. 1 halaman.

Cahyono, B., 2003. Teknik dan Strategi Budi Daya Sawi Hijau (Pai-Tsai).
Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta. Hal : 12-62.

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, 1981. Daftar Komposisi Bahan


Makanan. Bhatara Karya Aksara, Jakarta.

Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian, 2008. Produksi Tanaman


Sayuran di Indonesia Periode 2003 - 2006. Dikutip dari :
http://hortikultura.deptan.go.id 09 April 2008. 1 halaman.

Djuarnani, N.; Kristian; dan B. S. Setiawan, 2005. Cara Cepat Membuat Kompos.
Agromedia Pustaka, Jakarta. Hal: 44

Haryanto, W. ; T. Suhartini dan E. Rahayu. 2003. Sawi dan Selada. Edisi Revisi
Penebar Swadaya, Jakarta. Hal: 5-26

Hasibuan, B. E., 2006. Pupuk dan Pemupukan. USU-Press, Medan. Hal : 140-141.

Harian Global, 2008. Produksi Sayur Mayur Sumut Anjlok. Dikuti dari :
www.harian_global.com/news 12 April 2008. 1 halaman.

Lingga, P. dan Marsono, 2007. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Edisi Revisi Penebar
Swadaya, Jakarta. Hal : 89.

Lubis, B., P. Purba, dan A.D.P, Ariana, 1988. Inventarisasi dan Karakteristik
Limbah Pabrik Kelapa Sawit. Proseding Seminar Nasional Pengendalian
Limbah Minyak Sawit dan Karet di Medan, 20-21 Desember 1988.

Mashur, 2001. Vermikompos (Kompos Cacing Tanah). Dikutip dari :


http://kascing.com/article/mashur. 29 April 2008. 1 halaman.

Mulat, T., 2003. Membuat dan Memanfaatkan Kascing Pupuk Organik


Berkualitas. Agromedia Pustaka, Jakarta. Hal: 1-19.

Rukmana, R., 2007. Bertanam Petsai dan Sawi. Kanisius, Yogyakarta. Hal: 11-35

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Sitompul, S. M. dan B. Guritno, 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. UGM-
Press, Yogyakarta. Hal: 165-200.

Sunarjono, H. H., 2004. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya, Jakarta.


Hal: 78-82.

Sutedjo, M. M. dan Kartasapotra . 2006. Pupuk dan Cara Pemupukan. Edisi ke-5.
Rineka Cipta, Jakarta

www.imp168.com. , 2008. Pupuk Puja 168. 29 April 2008. 3 halaman.

www.indonetwork.or.id. 2008. Kerjasama Pupuk Organik Cair. 29 April 2008.


1 halaman.

www.kascing.com., 2008. Kascing vs Kompos. 29 April 2008. 1 halaman.

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Lampiran 1. Bagan Plot Penelitian

X X X X
X X X X
X X X X
X X X X
X X X X
250 cm
X X X X
X X X X
X X X X
X X X X
X X X X

120 cm

Keterangan : Jarak Tanam 25 cm x 30 cm


Ukuran plot 250 cm x 120 cm

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk
Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Lampiran 2. Bagan Penelitian S

T
60 cm
X X
K1P3 K2P3 K0P2 K2P0 K1P0 K3P3 K2P1 K0P2 K2P1 K0P1 K1P2 K0P0
X X

X X
K 0P 0 K1P0 K2P2 K1P2 K0P1 K2P2 K0P0 K3P2 K1P3 K3P3 K3P0 K3P1
X X

X X 10 m
K 1P 1 K0P1 K0P3 K3P0 K2P0 K3P1 K2P3 K3P0 K3P2 K0P3 K1P1 K2P2
X X

X X
K 3P 1 K2P1 K3P3 K3P2 K1P2 K1P3 K1P1 K0P3 K2P3 K2P0 K0P2 K1P0
X X

Ulangan I Ulangan II Ulangan III

Keterangan : Jarak antar ulangan 60 cm


Ukuran plot 250 cm x 120 cm
X Tanaman pinggir

81
Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Lampiran 1. Jadwal Kegiatan

HARI
No KEGIATAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40
1. Persiapan Persemaian X
2. Penyemaian Benih X
3. Pengolahan Tanah X
4. Pemupukan Dasar X
5. Penanaman X
6. Pengaplikasian Pupuk
X
Kascing
7. Pengaplikasian Pupuk
X X X X X
Puja 168
8. Penyisipan X
9. Pemeliharaan tanaman
penyiraman Setiap hari, kecuali hujan dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan
penyiangan sesuai dengan kondisi di lapangan
pencegahan HPT sesuai dengan kondisi di lapangan
10. Peubah Yang Diamati
Tinggi tanaman X X X X X X X
Jumlah Daun X X X X X X X
Luas daun X X X X
Bobot Segar X X X X
Bobot Kering X X X X
LPR X X X X
LAB X X X X
Produksi X
11. Panen X

Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Lampiran 4. Data Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Umur 16-40 hst

Tinggi Tanaman (cm) pada Umur (hst)


Kombinasi Perlakuan
16 20 24 28 32 36 40
K0P0 3.86 5.07 6.80 8.82 11.17 18.41 22.87
K0P1 3.90 4.95 8.23 11.38 15.06 21.32 25.75
K0P2 4.41 5.42 9.65 14.07 17.89 24.53 29.53
K0P3 5.34 5.74 9.93 16.07 21.33 26.44 31.26
K1P0 4.53 5.69 8.88 12.85 16.28 22.96 29.19
K1P1 4.64 5.65 8.33 13.77 18.01 24.71 30.46
K1P2 4.11 5.24 8.57 15.27 19.72 26.31 32.67
K1P3 4.06 5.11 7.77 13.91 18.57 26.39 32.83
K2P0 4.92 5.86 10.23 15.32 20.64 26.32 33.99
K2P1 5.45 6.76 11.08 17.27 22.39 28.53 35.83
K2P2 4.77 5.68 10.33 17.07 21.93 29.17 37.95
K2P3 4.64 5.73 9.90 17.87 23.06 28.55 35.97
K3P0 5.55 6.53 10.23 18.66 23.87 31.17 38.40
K3P1 4.34 5.38 10.23 19.39 23.77 29.88 39.09
K3P2 5.03 6.17 10.53 19.45 24.85 31.89 40.50
K3P3 5.12 6.97 12.05 21.41 26.01 35.12 4218

83
Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Lampiran 5. Rangkuman Sidik Ragam Tinggi Tanaman

Kuadrat Tengah pada Umur (hst)


Sumber Db
16 20 24 28 32 36 40 F.05
Blok 2 1.6913* 1.932* 18.675** 2.458tn 4.219tn 27.677** 11.269tn 3.30

Perlakuan 15 0.8751* 1.066* 5.445** 32.429** 47.048** 52.092** 86.712** 1.97

K 3 1.5630* 2.569** 17.274** 121.390** 166.978** 195.305** 365.232** 2.90

K-Lin 1 3.7851** 7.287** 41.517** 355.997** 492.264** 579.549** 1094.657** 4.15

K-Kuad 1 0.0374tn 0.047tn 1.235tn 6.556tn 2.083tn 6.344tn 0.090tn 4.15

K-Kub 1 0.8664tn 0.373tn 9.071* 1.617tn 6.587tn 0.023tn 0.948tn 4.15

P 3 0.1280tn 0.159tn 1.800tn 25.711** 39.983** 45.919** 52.578** 2.90

P-Lin 1 0.0304tn 0.036tn 5.157tn 75.645** 118.498** 136.731** 148.523** 4.15

P-Kuad 1 0.3502tn 0.400tn 0.244tn 1.408tn 1.360tn 0.181tn 4.839tn 4.15

P-Kub 1 0.0034tn 0.042tn 0.000tn 0.080tn 0.091tn 0.846tn 4.374tn 4.15

KxP 9 0.8949tn 0.867tn 2.717tn 5.015* 9.426** 6.411* 5.250tn 2.40

Galat 30 0.4382 0.449 1.288 1.674 2.076 2.106 3.697


KK 14.184% 11.66% 11.89% 8.20% 7.10% 5.38% 5.71%

84
Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Lampiran 6. Data Pengamatan Jumlah Daun (helai) Umur 16-40 hst

Jumlah Daun (helai) pada Umur (hst)


Kombinasi Perlakuan
16 20 24 28 32 36 40
K0P0 2.47 3.00 3.53 4.00 4.53 5.60 7.13
K0P1 2.73 3.07 3.87 4.27 4.80 6.13 8.00
K0P2 2.60 3.00 3.80 4.47 4.93 6.27 7.73
K0P3 2.73 3.07 4.00 4.47 5.00 6.13 7.80
K1P0 2.73 3.20 3.47 4.47 5.33 6.60 8.20
K1P1 2.73 3.13 4.07 4.73 5.67 7.00 8.80
K1P2 2.73 3.33 4.00 4.67 5.73 7.40 9.00
K1P3 2.73 3.07 3.93 5.00 5.93 7.00 9.00
K2P0 2.73 3.20 4.07 4.87 5.93 7.67 9.40
K2P1 2.87 3.27 4.40 5.13 6.00 8.00 9.47
K2P2 2.80 3.27 4.20 5.00 5.93 8.00 9.60
K2P3 2.87 3.20 4.33 5.27 6.40 8.53 10.20
K3P0 2.93 3.40 4.80 5.73 6.93 8.87 10.80
K3P1 2.93 3.20 4.60 5.80 6.60 8.93 10.73
K3P2 2.93 3.33 4.93 6.07 7.40 9.60 11.53
K3P3 12.07
3.00 3.60 5.33 6.47 7.80 10.13

8185
Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
Lampiran 7. Rangkuman Sidik Ragam Jumlah Daun

Kuadrat Tengah pada Umur (hst)


Sumber Db
16 20 24 28 32 36 40 F.05

Blok 2 0.0508tn 0.051tn 0.066tn 0.002tn 0.103tn 1.816** 0.841** 3.30

Perlakuan 15 0.0560* 0.076** 0.768** 1.427** 2.578** 5.366** 6.117** 1.97

K 3 0.2156** 0.250** 3.148** 6.423** 11.593** 24.784** 28.126** 2.90

K-Lin 1 0.6407** 0.726** 8.363** 18.150** 33.750** 73.926** 83.073** 4.15

K-Kuad 1 0.0033tn 0.000tn 1.080** 0.853tn 0.213tn 0.403tn 0.853* 4.15

K-Kub 1 0.0027tn 0.024tn 0.001* 0.267tn 0.817** 0.024* 0.451tn 4.15

P 3 0.0333tn 0.012tn 0.386** 0.579** 0.869** 1.396** 1.659** 2.90

P-Lin 1 0.0540tn 0.017tn 1.014** 1.667** 2.481** 4.056** 4.931** 4.15

P-Kuad 1 0.0033tn 0.003tn 0.030tn 0.003tn 0.120tn 0.120tn 0.013tn 4.15

P-Kub 1 0.0427tn 0.017tn 0.113tn 0.067tn 0.006tn 0.011tn 0.033tn 4.15

KxP 9 0.0104tn 0.040tn 0.102* 0.045tn 0.142tn 0.217tn 0.267tn 2.40

Galat 30 0.0215 0.020 0.041 0.077 0.070 0.214 0.133

KK 5.27% 4.38% 4.81% 5.53% 4.47% 6.07% 3.91%

86
Sylvia Fransisca : Respon Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Penggunaan Pupuk Kascing Dan Pupuk Organik Cair, 2009
USU Repository 2008
87

Lampiran 8. Data Pengamatan Luas Daun (cm2) Umur 16-40 hst


Kombinasi Luas Daun pada Umur (hst)
Perlakuan 16 24 32 40
K0P0 2.62 3.88 8.00 19.51
K0P1 2.73 4.15 8.42 20.20
K0P2 3.12 4.74 9.44 20.66
K0P3 3.70 5.26 9.96 23.13
K1P0 2.97 4.40 10.11 21.99
K1P1 3.06 4.52 10.93 24.92
K1P2 3.24 5.19 11.49 25.82
K1P3 3.28 5.00 11.74 26.45
K2P0 3.61 5.22 10.77 26.57
K2P1 3.79 5.54 11.62 27.42
K2P2 3.78 5.74 12.31 28.62
K2P3 4.34 6.12 12.66 29.32
K3P0 4.30 6.07 14.34 30.46
K3P1 4.54 6.15 13.71 29.47
K3P2 4.86 6.67 14.57 30.28
K3P3 5.18 6.87 15.71 32.16

Lampiran 9. Rangkuman Sidik Ragam Luas Daun


Kuadrat Tengah pada Umur (hst)
Sumber Db
16 24 32 40 F.05
Blok 2 1.376** 1.362* 30.274** 1.798tn 3.30
Perlakuan 15 1.759** 2.350** 14.635** 47.679** 1.97
K 3 7.277** 9.286** 64.960** 210.951** 2.90
K-Lin 1 19.999** 26.747** 187.064** 627.655** 4.15
K-Kuad 1 1.658** 0.816tn 1.202tn 5.181** 4.15
K-Kub 1 0.176tn 0.295tn 6.615** 0.016tn 4.15
P 3 1.271** 2.189** 7.150** 21.318** 2.90
P-Lin 1 3.663** 6.373** 21.090** 62.833** 4.15
P-Kuad 1 0.146tn 0.002tn 0.121** 0.905tn 4.15
P-Kub 1 0.005tn 0.192tn 0.240** 0.216tn 4.15
KxP 9 0.083tn 0.091tn 0.355** 2.042* 2.40
Galat 30 0.199 0.268 0.417 0.646
KK 12.08% 9.69% 5.56% 3.08%
88

Lampiran 10. Data Pengamatan Bobot Basah (g) Umur 16-40 hst
Bobot Basah pada Umur (hst)
Kombinasi Perlakuan
16 24 32 40
K0P0 0.91 1.84 3.86 66.57
K0P1 0.88 1.95 4.11 111.11
K0P2 1.11 2.20 5.17 120.43
K0P3 1.70 2.94 13.15 198.42
K1P0 1.04 2.09 7.67 109.34
K1P1 1.35 2.42 8.68 139.33
K1P2 1.57 2.62 11.25 187.74
K1P3 1.52 2.62 13.78 196.89
K2P0 1.92 3.31 12.43 193.60
K2P1 2.44 4.12 14.33 205.14
K2P2 1.50 2.78 13.09 201.09
K2P3 2.18 3.65 17.17 212.48
K3P0 2.58 3.77 24.02 271.39
K3P1 1.93 3.26 18.85 219.88
K3P2 2.74 4.05 19.90 232.91
K3P3 2.86 4.41 23.24 280.49

Lampiran 11. Rangkuman Sidik Ragam Bobot Basah


Kuadrat Tengah pada Umur (hst)
Sumber Db
16 24 32 40 F.05
Blok 2 0.039tn 0.148tn 137.604** 623.261** 3.30
Perlakuan 15 1.260** 2.025** 120.360** 10674.431** 1.97
K 3 4.698** 7.538** 488.399** 36475.767** 2.90
K-Lin 1 13.652** 21.224** 1422.819** 108816.599** 4.15
K-Kuad 1 0.264tn 0.127tn 36.227tn 579.352tn 4.15
K-Kub 1 0.177tn 1.263tn 6.150tn 31.349tn 4.15
P 3 0.511tn 0.954tn 73.243* 8984.148** 2.90
P-Lin 1 1.241tn 2.256tn 142.142** 24534.948** 4.15
P-Kuad 1 0.264tn 0.284tn 74.551* 2333.835* 4.15
P-Kub 1 0.029tn 0.322tn 3.037tn 83.662tn 4.15
KxP 9 0.363tn 0.545tn 13.387tn 2637.413** 2.40
Galat 30 0.187 0.549 16.384 502.827
KK 24.48% 24.70% 30.74% 12.18%
89

Lampiran 12. Data Pengamatan Bobot Kering (g) Umur 16-40 hst
Bobot Kering pada Umur (hst)
Kombinasi Perlakuan
16 24 32 40
K0P0 0.10 0.15 0.43 5.93
K0P1 0.12 0.18 0.44 9.77
K0P2 0.13 0.19 0.54 11.78
K0P3 0.17 0.25 1.32 16.28
K1P0 0.12 0.18 0.74 9.94
K1P1 0.12 0.18 0.73 14.04
K1P2 0.12 0.22 0.85 16.18
K1P3 0.16 0.23 1.43 16.71
K2P0 0.17 0.27 1.27 15.86
K2P1 0.25 0.35 1.16 16.59
K2P2 0.16 0.22 1.40 17.01
K2P3 0.19 0.29 2.18 18.48
K3P0 0.20 0.32 2.63 20.41
K3P1 0.18 0.29 2.15 18.02
K3P2 0.21 0.33 1.81 19.51
K3P3 0.20 0.31 3.01 21.73

Lampiran 13. Rangkuman Sidik Ragam Bobot Kering


Kuadrat Tengah pada Umur (hst)
Sumber Db
16 24 32 40 F.05
Blok 2 0.003tn 0.006tn 0.855tn 7.378** 3.30
Perlakuan 15 0.005tn 0.011tn 1.861** 54.337** 1.97
K 3 0.017* 0.041** 6.956** 176.634** 2.90
K-Lin 1 0.044** 0.114** 19.622** 529.299** 4.15
K-Kuad 1 0.000tn 0.001tn 1.246* 0.344* 4.15
K-Kub 1 0.008tn 0.008tn 0.000tn 0.260tn 4.15
P 3 0.003tn 0.003tn 1.989** 60.434** 2.90
P-Lin 1 0.005tn 0.006tn 2.846** 179.877** 4.15
P-Kuad 1 0.000tn 0.000tn 2.884** 1.115** 4.15
P-Kub 1 0.003tn 0.003tn 0.237tn 0.310tn 4.15
KxP 9 0.002tn 0.004tn 0.120tn 11.540** 2.40
Galat 30 0.005 0.008 0.285 1.147
KK 41.73% 35.42% 38.65% 6.90%
90

Lampiran 14. Data Pengamatan Laju Asimilasi Bersih (g.cm2.h-1) Umur


16-40 hst
Laju Asimilasi Bersih pada Umur (hst)
Kombinasi Perlakuan
16-24 24-32 32-40
K0P0 0.00219 0.00601 0.05359
K0P1 0.00230 0.00528 0.08701
K0P2 0.00189 0.00645 0.09851
K0P3 0.00213 0.01772 0.12005
K1P0 0.00198 0.01047 0.07542
K1P1 0.00224 0.00924 0.09876
K1P2 0.00289 0.00982 0.10922
K1P3 0.00205 0.02015 0.10641
K2P0 0.00282 0.01638 0.10444
K2P1 0.00279 0.01204 0.10514
K2P2 0.00174 0.01736 0.10084
K2P3 0.00227 0.02579 0.10362
K3P0 0.00283 0.02984 0.10389
K3P1 0.00261 0.02439 0.09629
K3P2 0.00251 0.01835 0.10306
K3P3 0.00229 0.03150 0.10202

Lampiran 15. Rangkuman Sidik Ragam Laju Asimilasi Bersih


Kuadrat Tengah pada Umur (hst)
Sumber Db
16-24 24-32 32-40 F.05
Blok 2 0.00000130tn 0.00009398tn 0.00065005** 3.30
Perlakuan 15 0.00000039tn 0.00021205** 0.00069958** 1.97
K 3 0.00000040tn 0.00066925** 0.00043610** 2.90
K-Lin 1 0.00000119tn 0.00194474** 0.00099041** 4.15
K-Kuad 1 0.00000000tn 0.00006268tn 0.00029138tn 4.15
K-Kub 1 0.00000000tn 0.00000032tn 0.00002651tn 4.15
P 3 0.00000026tn 0.00032045** 0.00125106** 2.90
P-Lin 1 0.00000066tn 0.00036320* 0.00357393** 4.15
P-Kuad 1 0.00000003tn 0.00056578** 0.00016192tn 4.15
P-Kub 1 0.00000010tn 0.00003235tn 0.00001733tn 4.15
KxP 9 0.00000043tn 0.00002352tn 0.00060358** 2.40
Galat 30 0.00000081 0.00004963 0.00008409
KK 38.27% 43.22% 9.36%
91

Lampiran 16. Data Pengamatan Laju Pertumbuhan Relatif (g.g-1.h-1) Umur


16-40 hst
Laju Pertumbuhan Relatif pada Umur (hst)
Kombinasi Perlakuan
16-24 24-32 32-40
K0P0 0.06 0.13 0.33
K0P1 0.05 0.11 0.39
K0P2 0.05 0.13 0.39
K0P3 0.05 0.19 0.33
K1P0 0.05 0.18 0.33
K1P1 0.05 0.17 0.37
K1P2 0.06 0.17 0.37
K1P3 0.05 0.24 0.31
K2P0 0.06 0.20 0.32
K2P1 0.05 0.15 0.34
K2P2 0.05 0.24 0.31
K2P3 0.05 0.26 0.28
K3P0 0.06 0.27 0.26
K3P1 0.06 0.24 0.27
K3P2 0.06 0.21 0.30
K3P3 0.05 0.28 0.25

Lampiran 17. Rangkuman Sidik Ragam Laju Pertumbuhan Relatif


Kuadrat Tengah pada Umur (hst)
Sumber Db
16-24 24-32 32-40 F.05
Blok 2 0.00015tn 0.012** 0.007* 3.30
Perlakuan 15 0.00011tn 0.008** 0.006** 1.97
K 3 0.00017tn 0.025** 0.019** 2.90
K-Lin 1 0.00030tn 0.074** 0.054** 4.15
K-Kuad 1 0.00011tn 0.000tn 0.002tn 4.15
K-Kub 1 0.00010tn 0.002tn 0.000tn 4.15
P 3 0.00010tn 0.012** 0.008** 2.90
P-Lin 1 0.00019tn 0.018** 0.001tn 4.15
P-Kuad 1 0.00000tn 0.019** 0.021** 4.15
P-Kub 1 0.00012tn 0.000tn 0.000tn 4.15
KxP 9 0.00010tn 0.002tn 0.001tn 2.40
Galat 30 0.00029 0.002 0.002
KK 32.34% 22.54% 12.27%
92

Lampiran 18. Data Pengamatan Produksi per Tanaman (g) Umur 16-40 hst
Blok
Perlakuan Total Rataan
I II III
K0P0 60.60 75.63 67.08 203.31 67.77
K0P1 110.40 106.35 98.13 314.88 104.96
K0P2 126.67 124.42 135.28 386.37 128.79
K0P3 200.30 224.61 215.14 640.05 213.35
K1P0 103.50 125.82 112.16 341.48 113.83
K1P1 146.67 148.13 150.32 445.12 148.37
K1P2 200.40 230.16 224.14 654.70 218.23
K1P3 133.80 120.32 150.45 404.57 134.86
K2P0 200.50 180.64 175.32 556.46 185.49
K2P1 186.67 200.58 176.60 563.85 187.95
K2P2 150.14 169.42 148.20 467.76 155.92
K2P3 186.70 155.76 170.80 513.26 171.09
K3P0 326.12 171.22 258.40 755.74 251.91
K3P1 278.56 205.48 174.50 658.54 219.51
K3P2 206.32 310.32 212.41 729.05 243.02
K3P3 226.47 370.00 340.00 936.47 312.16
2843.82 2918.86 2808.93 8571.61
Umum
177.74 182.43 175.56 178.58

Lampiran 19. Sidik Ragam Produksi per Tanaman


Sumber db JK KT F.Hit F.05
Blok 2 394.436 197.218 0.152 tn 3.30
Perlakuan 15 179188.682 11945.912 9.233 ** 1.97
K 3 110473.952 36824.651 28.460 ** 2.90
K-Lin 1 98456.719 98456.719 76.094 ** 4.15
K-Kuad 1 9554.446 9554.446 7.384 * 4.15
K-Kub 1 2462.787 2462.787 1.903 tn 4.15
P 3 20003.858 6667.953 5.153 ** 2.90
P-Lin 1 19576.499 19576.499 15.130 ** 4.15
P-Kuad 1 357.903 357.903 0.277 tn 4.15
P-Kub 1 69.456 69.456 0.054 tn 4.15
KxP 9 48710.873 5412.319 4.183 ** 2.40
Galat 30 38816.636 1293.888
Total 47 218399.75
KK = 20.14%
93

Lampiran 20. Data Pengamatan Produksi per Plot (kg) Umur 16-40 hst
Blok
Perlakuan Total Rataan
I II III
K0P0 1030.00 1210.00 1078.00 3318.00 1106.00
K0P1 2220.00 2180.00 1980.00 6380.00 2126.67
K0P2 1955.00 1875.00 1960.00 5790.00 1930.00
K0P3 4070.00 3098.00 4025.00 11193.00 3731.00
K1P0 2045.00 2108.00 1976.00 6129.00 2043.00
K1P1 3313.00 3254.00 3018.00 9585.00 3195.00
K1P2 3220.00 2980.00 3060.00 9260.00 3086.67
K1P3 1710.00 2124.00 1850.00 5684.00 1894.67
K2P0 3560.00 3418.00 2780.00 9758.00 3252.67
K2P1 3485.00 3670.00 3160.00 10315.00 3438.33
K2P2 2220.00 2810.00 3260.00 8290.00 2763.33
K2P3 2820.00 3150.00 3240.00 9210.00 3070.00
K3P0 3167.00 3260.00 2740.00 9167.00 3055.67
K3P1 3485.00 3220.00 3410.00 10115.00 3371.67
K3P2 3680.00 3750.00 3460.00 10890.00 3630.00
K3P3 4205.00 4500.00 3760.00 12465.00 4155.00
46185.00 46607.00 44757.00 137549.00
Umum
2886.56 2912.94 2797.31 2865.60

Lampiran 21. Sidik Ragam Produksi per Plot


Sumber db JK KT F.Hit F.05
Blok 2 117495.167 58747.583 0.750 tn 3.30
Perlakuan 15 30337220.146 2022481.343 25.815 ** 1.97
K 3 12625081.063 4208360.354 53.715 ** 2.90
K-Lin 1 12504904.538 12504904.538 159.610 ** 4.15
K-Kuad 1 24616.021 24616.021 0.314 tn 4.15
K-Kub 1 95560.504 95560.504 1.220 tn 4.15
P 3 4798680.229 1599560.076 20.416 ** 2.90
P-Lin 1 3354752.604 3354752.604 42.819 ** 4.15
P-Kuad 1 285362.521 285362.521 3.642 tn 4.15
P-Kub 1 1158565.104 1158565.104 14.788 ** 4.15
KxP 9 12913458.854 1434828.762 18.314 ** 2.40
Galat 30 2350398.167 78346.606
Total 47 32805113.48
KK = 9.77 %
94

Lampiran 21. Deskripsi Sawi Varietas Tosakan

Produsen Benih : PT. East West Seed Indonesia

Nama Lain : Caisim (Bangkok)

Umur Tanaman : 40 50 HST

Bentuk Tanaman : Besar, semi buka dan tegak

Batang : Tumbuh memanjang dan memiliki banyak tunas

Tangkai daun : Panjang dan langsing

Warna Tangkai daun : Hijau Tua

Bentuk daun : lebar, panjang, dan memiliki pinggiran daun rata

Warna Daun : hijau

Potensi Produksi : 300 g / tanaman

Sumber : Cahyono, B., 2003. Teknik dan Strategi Budi Daya Sawi Hijau
(Pai-Tsai). Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta.
95

Lampiran 24. Foto Lahan Penelitian


96

Lampiran 25. Foto Sampel Tanaman Sawi pada Masing-masing Perlakuan