Anda di halaman 1dari 49

STRUKTUR DAN PELAKU PASAR MODAL INDONESIA

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pasar Modal dan Manajemen Keuangan
oleh Dosen Dr. H. Nuryaman, S.E., M.SI., AK, C.A.

Kelompok 5 :

Lisda Octaviani (1616102030)

Dwi Heni Suhaeni (1616102012)

Kaca Dian Meila (121220006)

MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS WIDYATAMA

BANDUNG

2017
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat,
karunia, dan bimbingan-Nya, kami dapat menyelesaikan Makalah mengenai
Struktur dan Pelaku Pasar Modal Indonesia ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Makalah ini


masih terdapat banyak kekurangan. Hal ini dikarenakan keterbatasan
kemampuan penulis, meskipun demikian kami berupaya untuk menyajikan
makalah ini dengan sebaik-baiknya. Akhir kata kami berharap makalah ini dapat
diterima dan bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca umumnya.

Bandung, Mei 2017


Kelompok

Lisda Octaviani
Dwi Heni Suhaeni
Kaca Dian Meila

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Tujuan...................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................... 3
2.1 Struktur Organisasi Pasar Modal Indonesia............................................... 3
2.2 Otoritas Pasar Modal ............................................................................. 4
2.3 Fasilitator Pasar Modal.............................................................................. 8
2.4 Pelaku Pasar Modal.................................................... 10
2.5 Lembaga Penunjang Pasar Modal...............................................................14
2.6 Badan Arbitrase Pasar Modal.........................................................16
2.7 Profesi Penunjang Pasar Modal................................................................. 20
2.8 Asosiasi-asosiasi Pasar Modal................................................................... 29
2.9 Good Corporate Governance................................................................... 31
2.10 Kewajiban Pelaporan................................................................................ 31
2.11 Kewajiban Pengungkapan....................................................................... 36
2.12 Peranan Profesi Akuntan di Pasar Modal Indonesia.................................. 40
BAB III PENUTUP............................................................................................. 44
3.1 Kesimpulan.................................................................................................... 44
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 45

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasar modal adalah tempat bagi perusahaan untuk mencari dana guna

membiayai kegiatan usahanya. Selain itu, pasar modal juga merupakan suatu usaha

penghimpunan dana masyarakat secara langsung dengan cara menanamkan dana ke

dalam perusahaan yang sehat dan baik pengelolaannya. Suatu pasar modal memiliki

struktur modal berkaitan dengan jumlah hutang dan modal sendiri yang digunakan

untuk membiayai aktiva perusahaan. Struktur modal yang efektif mampu menciptakan

perusahaan dengan keuangan yang kuat dan stabil.

Bersamaan dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat di bidang pasar

modal dan tersedianya dana dari para calon investor yang berminat menginvestasikan

modalnya, struktur modal telah menjadi salah satu faktor pertimbangan yang cukup

penting. Hal ini terkait dengan resiko dan pendapatan yang akan diterima. Dalam

melihat struktur modal perusahaan, investor tidak dapat dipisahkan dari informasi

perusahaan berupa laporan keuangan yang dikeluarkan setiap tahunnya.

Para investor akan melakukan berbagai analisis terkait dengan keputusan untuk

menanamkan modalnya pada perusahaan. Dalam prosesnya tersebut terdapat banyak

peraturan dan pelaku yang ikut berpastisipasi di dalamnya. Pemerintah pun membentuk

Badan Pengawas Pasar Modal yang mengawasi tiga lembaga yaitu Bursa Efek, LKP dan

LPP. Ketiga lembaga tersebut yang mengarahkan para pelaku kegiatan pasar modal

dalam melakukan tugasnya.

1
1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut

1. Untuk mengetahui Struktur Organisasi Pasar Modal Indonesia

2. Untuk mengetahui mengenai Otoritas Pasar Modal

3. Untuk mengetahui Fasilitator Pasar Modal, Pelaku Pasar Modal dan

Lembaga Penunjang Pasar Modal

4. Untuk mengetahui mengenai Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia

(BABMI)

5. Untuk mengetahui mengenai Profesi Penunjang Pasar Modal

6. Untuk mengetahui mengenai Asosiasi-asosiasi Pasar Modal

7. Untuk mengetahui mengenai Corporate Governance, Kewajiban

Pelaporan, Kewajiban Disclosure

8. Untuk mengetahui mengenai Peranan Profesi Akuntansi di Pasar Modal

Indonesia

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Struktur Organisasi Pasar Modal Indonesia

Pengertian pasar modal menurut Undang-undang Pasar Modal no. 8 tahun 1995:

Pasar Modal yaitu sebagai suatu kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum
dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang
diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.

Dasar Hukum Pasar Modal

1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995, tentang Pasar Modal.


2. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995, tentang Penyelenggaraan Kegiatan di
Bidang Pasar Modal.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1995, tentang Tata Cara Pemeriksaan di
Bidang Pasar Modal.
4. Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 646/KMK.010/ 1995, tentang Pemilikan
Saham atau Unit Penyertaan Reksadana oleh Pemodal Asing.
5. Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 647/KM K.010/ 1995, tentang
Pembatasan Pemilikan Saham Perusahaan Efek oleh Pemodal Asing.
6. Keputusan Menteri Negara Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal
Nomor 38/S1K/1999 tentang Pedoman dan Tatacara Permohonan Penanaman
Modal yang didirikan dalam rangka Penanaman Modal Dalam Negeri dan
Penanaman Modal Asing.

Struktur pasar modal Indonesia menurut undang-undang pasar modal no. 8 tahun

1995 dikelola oleh sebuah perusahaan swasta yang bernama PT. Bursa Efek Indonesia

dan saham-sahamnya dikuasai oleh perusahaan-perusahaan anggota bursa efek.

Struktur Pasar Modal di Indonesia tertinggi berada pada menteri Keuangan

menunjuk OJK merupakan lembaga pemerintah yang bertugas untuk melakukan

pembinaan, pengaturan dan pengawasan sehari-hari pasar modal dengan tujuan

3
mewujudkan terciptanya kegiatan pasar modal yang teratur, wajar, efisien serta

melindungi kepentingan masyarakat pemodal.

2.2 Otoritas Pasar Modal

Di Indonesia, Badan yang mengawasi otoritas Pasar Modal yaitu OJK (Otoritas

Jasa Keuangan). Dalam melaksanakan fungsinya, OJK mempunyai kewenangan untuk

memberikan izin, persetujuan, dan pendaftaran kepada para pelaku Pasar Modal,

memproses pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum, menerbitkan peraturan

pelaksanaan dari perundang-undangan di bidang Pasar Modal, dan melakukan

penegakan hukum atas setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di

bidang Pasar Modal.

Tujuan Otoritas Jasa Keuangan adalah lembaga negara yang dibentuk

berdasarkan UU nomor 21 tahun 2011 yang berfungsi menyelenggarakan sistem

pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam

sektor jasa keuangan. Otoritas Jasa Keuangan, yang selanjutnya disingkat OJK, adalah

4
lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai

fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan.

OJK didirikan untuk menggantikan peran Bapepam-LK. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan serta

menggantikan peran Bank Indonesia dalam pengaturan dan pengawasan bank, serta

untuk melindungi konsumen industri jasa keuangan. Tugas pengawasan industri

keuangan non-bank dan pasar modal secara resmi beralih dari Kementerian Keuangan

dan Bapepam-LK ke OJK pada 31 Desember 2012. Sedangkan pengawasan di sektor

perbankan beralih ke OJK pada 31 Desember 2013 dan Lembaga Keuangan Mikro pada

2015.

Bidang Pengawasan Sektor Pasar Modal mempunyai tugas penyelenggaraan

sistem pengaturan dan pengawasan sektor pasar modal yang terintegrasi terhadap

keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan. Dalam melaksanakan fungsi bidang

Pengawasan Sektor Pasar Modal mempunyai tugas pokok:

Menyusun peraturan pelaksanaan di bidang Pasar Modal;

Melaksanakan Protokol Manajemen Krisis Pasar Modal;

Menetapkan ketentuan akuntasi di bidang Pasar Modal;

Merumuskan standar, norma, pedoman kriteria dan prosedur di bidang Pasar

Modal;

Melaksanakan analisis, pengembangan dan pengawasan Pasar Modal termasuk

Pasar Modal Syariah;

5
Melaksanakan penegakan hukum di bidang Pasar Modal;

Menyelesaikan keberatan yang diajukan oleh pihak yang dikenakan sanksi oleh

OJK, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, dan Lembaga

Penyimpanan dan Penyelesaian;

Merumuskan prinsip-prinsip Pengelolaan Investasi, Transaksi dan Lembaga

Efek, dan tata kelola Emiten dan Perusahaan Publik;

Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pihak yang memperolah izin

usaha, persetujuan, pendaftaran dari OJK dan pihak lain yang bergerak di bidang

Pasar Modal;

Memberikan perintah tertulis, menunjuk dan/atau menetapkan penggunaan

pengelola statuter terhadap pihak/lembaga jasa keuangan yang melakukan

kegiatan di bidang Pasar Modal dalam rangka mencegah dan mengurangi

kerugian konsumen, masyarakat dan sektor jasa keuangan; dan

Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Dewan Komisioner

Suatu kejahatan didalam pasar modal memiliki suatu keunikan sendiri

dibandingkan kejahatan kejahatan yang ada didalam dunia kriminal biasa, hal ini

dikarenakan modus serta tindakan kejahatannya mempunyai karakteristik yang sudah

diatur didalam Undang Undang Pasar Modal.

Didalam UU No. 8 Tahun 1995 mengenai Pasar Modal jenis kejahatan terdiri dari :

1. Penipuan (Fraud), hal ini tertuang dalam Pasal 90 UUPM.

6
2. Manipulasi Pasar, tertuang didalam Pasal 91 dan Pasal 92 UUPM.

3. Insider Trading ( Perdagangan Orang Dalam) hal ini tertuang didalam Pasal 95

s/d Pasal 99

4. Informasi Menyesatkan (Missleading Information), tertuang dalam Pasal 80;

Pasal 81; serta Pasal 93 UUPM.

Jika terjadi Tindakan Kejahatan tersebut diatas, maka Otoritas Jasa Keuangan

berhak untuk melakukan proses pemeriksaan dan penyidikan terhadap Pihak Pihak yang

melakukan jenis tindak kejahatan tersebut. Adapun cara menangani kejahatan didalam

Pasar Modal memiliki alur yang sangat kompleks yang terdiri dari beberapa tahap yaitu:

1. Pemeriksaan yang dilakukan oleh OJK dengan membentuk PNS Penyidik

tertentu didalam OJK.

2. Pelaporan, dalam hal ini pemeriksa akan melakukan pemeriksaan dan

melakukan pelaporan atas hasil pemeriksaan tersebut kepada Bagian Eksekutif

Pasar Modal dan akan dilanjutkan kepada Dewan Komisioner OJK.

3. Penyidikan, apabila hasil pemeriksaan ditemukan suatu bukti adanya tindak

pidana didalam Pasar Modal.

4. Pemberian sanksi oleh OJK kepada para pelanggar bisa berupa peringatan

tertulis, denda, pembekuan izin kegiatan usaha, pencabutan izin usaha,

pembatalan persetujuan dan pembatalan pendaftaran.

7
5. Dan jika hal tersebut diatas dan memang terjadi tindak pidana maka akan

dilanjutkan kepada Jaksa Penuntut Umum.

Dengan adanya fungsi dan kontrol serta penindakan yang lebih tegas serta

didukung oleh adanya peraturan perundang- undangan yang lebih khusus , maka

kedepannya Otoritas Jasa Keuangan akan mampu sebagai Leader didalam

Pemberantasan Tindak Pidana Kejahatan didalam Pasar Modal dan dapat memberikan

Perlindungan Hukum terhadap Seluruh Investor di Negara Republik Indonesia.

2.3 Fasilitator Pasar Modal

Fasilitator dalam pasar modal terdiri dari :

1. BEI (Bursa Efek Indonesia)

Bursa Efek Indonesia (disingkat BEI, atau Indonesia Stock Exchange (IDX))

merupakan bursa hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ)

dengan Bursa Efek Surabaya (BES). Demi efektivitas operasional dan transaksi,

Pemerintah memutuskan untuk menggabung Bursa Efek Jakarta sebagai pasar

saham dengan Bursa Efek Surabaya sebagai pasar obligasi dan derivatif. Bursa

hasil penggabungan ini mulai beroperasi pada 1 Desember 2007. BEI

menggunakan sistem perdagangan bernama Jakarta Automated Trading System

(JATS) sejak 22 Mei 1995, menggantikan sistem manual yang digunakan

sebelumnya. Sejak 2 Maret 2009 sistem JATS ini sendiri telah digantikan dengan

sistem baru bernama JATS-NextG yang disediakan OMX. Bursa Efek Indonesia

berpusat di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kawasan Niaga Sudirman, Jalan

Jenderal Sudirman 52-53, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

8
2. KPEI (Kliring Penjamin Efek Indonesia)

PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) didirikan berdasarkan

Undang-Undang Pasar Modal Indonesia tahun 1995 untuk menyediakan jasa

kliring dan penjaminan penyelesaian transaksi bursa yang teratur, wajar dan

efisien. KPEI didirikan sebagai perseroan terbatas berdasarkan akta pendirian

No. 8 tanggal 5 Agustus 1996 di Jakarta oleh PT Bursa Efek Jakarta dan PT

Bursa Efek Surabaya dengan kepemilikan masing-masing 90% dan 10% dari

total saham pendiri senilai Rp 15 miliar. KPEI memperoleh status sebagai badan

hukum pada tanggal 24 September 1996 dengan pengesahan Menteri Kehakiman

Republik Indonesia. Pada tanggal 1 Juni 1998, Perseroan mendapat izin usaha

sebagai Lembaga Kliring dan Penjaminan berdasarkan Surat Keputusan

Bapepam No. Kep-26/PM/1998. Pada tahun 2000 dengan

diterapkannya Scripless Trading atau perdagangan tanpa warkat, KPEI sebagai

Lembaga Kliring dan Penjaminan meluncurkan e-CLEARS pada Juli 2000.

3. KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia)

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia atau dikenal dengan

singkatan KSEI didirikan di Jakarta, pada tanggal 23 Desember 1997 dan

memperoleh izin operasional sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian

(LPP) pada tanggal 11 November 1998. Dalam kelembagaan pasar modal di

Indonesia, KSEI merupakan salah satu Organisasi Regulator Mandiri atau Self

Regulatory Organization (SRO), bersama dengan Bursa Efek dan Lembaga

Kliring dan Penjaminan. Sebagai LPP di pasar modal Indonesia sesuai ketentuan

Undang Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, KSEI menyediakan

9
jasa kustodian sentral dan penyelesaian transaksi efek yang teratur, wajar dan

efisien. Saham KSEI dimiliki oleh SRO (BEJ, BES, KPEI) sebanyak 16,5%,

Bank Kustodian (36%), Perusahaan Efek (33,5%), Biro Administrasi Efek (4%)

dan treasury stock (10%), per 31 Mei 2007. KSEI mulai menjalankan kegiatan

operasional pada tanggal 9 Januari 1998, yaitu kegiatan penyelesaian transaksi

Efek dengan warkat dengan mengambil alih fungsi sejenis dari PT Kliring

Deposit Efek Indonesia (KDEI) yang sebelumnya merupakan Lembaga Kliring

Penyimpanan dan Penyelesaian (LKPP). Selanjutnya sejak 17 Juli 2000, KSEI

bersama Bursa Efek dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI)

mengimplementasikan perdagangan tanpa warkat (scripless trading) dan

operasional Kustodian sentral di pasar modal Indonesia.

2.4 Pelaku Pasar Modal

Para pemain utama yang terlibat di pasar modal dan lembaga penunjang yang

terlibat langsung dalam proses transaksi antara pemain utama sebagai berikut

1. Emiten dan Perusahaan Publik

Emiten adalah Pihak yang melakukan Penawaran Umum, yaitu

penawaran Efek yang dilakukan oleh Emiten untuk menjual Efek kepada

masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam peraturan Undang-undang

yang berlaku. Emiten dapat berbentuk orang perseorangan, perusahaan, usaha

bersama, asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi.

Emiten dapat menawarkan Efek yang berupa surat pengakuan utang,

surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan

10
kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari

Efek. Jenis Efek yang lain adalah Sukuk, yang merupakan Efek Syariah, yakni

akad dan cara penerbitannya sesuai dengan Prinsip Syariah di Pasar Modal. Pada

umumnya, Emiten melakukan penawaran Efek melalui Pasar Modal untuk

saham, obligasi, dan sukuk.

Perusahaan yang akan melakukan penjualan surat-surat berharga atau

melakukan emisi di bursa (disebut emiten). Dalam melakukan emisi, para emiten

memiliki berbagai tujuan dan hal ini biasanya sudah tertuang dalam rapat umum

pemegang saham (RUPS), antara lain :

1. Perluasan usaha, modal yang diperoleh dari para investor akan digunakan

untuk meluaskan bidang usaha, perluasan pasar atau kapasitas produksi.

2. Memperbaiki struktur modal, menyeimbangkan antara modal sendiri dengan

modal asing.

3. Mengadakan pengalihan pemegang saham. Pengalihan dari pemegang

saham lama kepada pemegang saham baru.

Perusahaan Publik adalah Perseroan Terbatas seperti yang dimaksud

dalam Pasal 1 angka 1 Ketentuan Umum Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007

tentang Perseroan Terbatas. Sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya oleh

300 (tiga ratus) pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurang-

kurangnya Rp 3.000.000.000 (tiga miliar rupiah) atau suatu jumlah pemegang

saham dan modal disetor yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Emiten wajib menyampaikan Pernyataan Pendaftaran untuk melakukan

Penawaran Umum dan Perusahaan Publik wajib menyampaikan Pernyataan

Pendaftaran sebagai Perusahaan Publik. Atas Pernyataan Pendaftaran tersebut,

11
Otoritas Jasa Keuangan (dahulu Bapepam-LK) memberikan pernyataan efektif

yang menunjukkan kelengkapan atau dipenuhinya seluruh prosedur dan

persyaratan atas Pernyataan Pendaftaran yang diwajibkan dalam peraturan

perundangan yang berlaku. Pernyataan efektif tersebut bukan sebagai izin untuk

melakukan Penawaran Umum dan juga bukan berarti bahwa Otoritas Jasa

Keuangan menyatakan informasi yang diungkapkan Emiten atau Perusahaan

Publik tersebut adalah benar atau cukup.

2. Perusahaan Efek

Perusahaan Efek adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha dan

memiliki izin Otoritas Jasa Keuangan sebagai Penjamin Emisi Efek (PEE),

Perantara Pedagang Efek (PPE), dan atau Manajer Investasi (MI).

1. Penjamin Emisi Efek (PEE)

Penjamin Emisi Efek adalah pihak yang membuat kontrak dengan

Emiten untuk melakukan Penawaran Umum bagi kepentingan Emiten dengan

atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa Efek yang tidak terjual. (uu no. 8 tahun

1995)

Penjamin Emisi juga membantu proses Penawaran Umum dari awal persiapan

sampai akhir penawaran, termasuk jasa konsultan, penilaian efek, serta persiapan

dokumen. Penjamin Emisi Efek juga biasa disebut Underwriter. Underwriter

harus memiliki izin Penjaminan Emisi (Penerbitan/Penjualan Efek), sedangkan

orang yang menjalankan kegiatan Penjamin Emisi Efek harus memiliki sertifikat

izin profesi Wakil Penjamin Emisi Efek (License WPEE).

Dalam praktiknya, Penjamin Emisi dapat mengajak Underwriter lainya dalam

proses penawaran umum karena jumlah efek yang sangat besar dan dapat

12
meyakinkan pihak yang melakukan penawaran umum agar Efek yang di

tawarkan dapat terjual. Atau efek yang tidak laku terjual dapat di tanggung atau

di beli oleh para Underwriter yang bergabung dalam melakukan penawaran.

Oleh karena itulah ada Lead Underwriter (Penjamin Utama) dan Penjamin

peserta.

2. Perantara Pedagang Efek (PPE)

Perantara Pedagang Efek adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha

jual beli Efek untuk kepentingan sendiri atau Pihak lain (uu no. 8 tahun 1995).

Perantara pedagang efek juga biasa disebut Pialang Saham atau Broker-Dealer.

Efek yang di perjual belikan dapat berupa saham, obligasi, atau produk derivatif

lainya.

Pada umumnya Perusahaan Efek PPE ini menyediakan layanan untuk

melakukan pembukaan Rekening Efek (Rekening yang di gunakan untuk

transaksi efek dan derivatif). PPE ini juga bertindak sebagai eksekusi transaksi

serta memberikan informasi mengenai Market kepada nasabah yang telah

melakukan pembukaan rekening efek.

3. Manajer Investasi (MI)

Manajer Investasi adalah Pihak yang kegiatan usahanya mengelola

Portofolio Efek untuk para nasabah atau mengelola portofolio kolektif untuk

sekelompok nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank yang

melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan perundang-undangan yang

berlaku. (uu no. 8 tahun 1995). Umumnya Reksadana merupakan produk

Investasi yang di kelola oleh Manajer Investasi. MI tersebut mengelola dana dan

melakukan diversivikasi pada dana kelolaanya kepada beberapa Efek, seperti

13
Saham, Obligasi serta asset lainya untuk mencapai target Investasi yang

menguntungkan bagi Investor.

2.5 Lembaga Penunjang Pasar Modal

Lembaga penunjang adalah institusi penunjang yang turut serta mendukung

pengoperasian pasar modal dan bertugas melakukan pelayanan kepada pegawai dan

masyarakat umum. Lembaga penunjang ini terdiri dari biro administrasi efek, bank

kustodian, wali amanat dan pemeringkat efek.

A. Biro Administrasi Efek

Biro Administrasi Efek (BAE) adalah lembaga penunjang pasar modal yang

membantu mengadministrasikan efek, baik pada pasar perdana maupun pasar

sekunder. Bentuk pelayanan yang diberikan BAE antara lain dalam bentuk

pencatatan dan pemindahan kepemilikan efek. Biro Administrasi Efek

merupakan perseroan yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha berdasarkan

kontrak dengan emiten untuk pencatatan pemilikan efek dan pembagian hak

yang berkaitan dengan efek sebagai Biro Administrasi Efek dan telah mendapat

izin dari Otoritas Jasa Keuangan.

B. Bank Kustodian

Bank kustodian adalah bank yang mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa

Keuangan untuk bertindak sebagai pihak yang memberikan jasa penitipan efek

dan harta lain yang berkaitan dengan efek serta jasa lain, termasuk menerima

deviden, bunga dan hak - hak lain, menyelesaikan transaksi efek, serta mewakili

14
pemegang rekening yang menjadi nasabahnya. Persyaratan dan tata cara

pemberian persetujuan bagi bank umum sebagai kustodian diatur peraturan

pemerintah.

C. Wali Amanat

Wali amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek bersifat

utang atau sukuk untuk melakukan penuntutan baik di dalam maupun di luar

pengadilan, yang berkaitan dengan kepentingan pemegang efek bersifat utang

atau sukuk tersebut tanpa surat kuasa khusus.

Kegiatan perwaliamanatan dilakukan oleh bank umum dan pihak lain yang

ditetapkan dengan peraturan pemerintah untuk dapat menyelenggarakan kegiatan

usaha sebagai wali amanat. Bank umum atau pihak lain wajib terlebih dahulu

terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan. Adapun persyaratan dan tata cara

pendaftaran wali amanat diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

D. Pemeringkat Efek

Perusahaan pemeringkat efek adalah penasihat investasi berbentuk perseroan

terbatas yang melakukan kegiatan pemeringkatan dan memberikan peringkat.

Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan pemeringkat efek wajib terlebih

dahulu mendapatkan izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan.

Perusahaan pemeringkat efek wajib melakukan kegiatan pemeringkatan secara

bebas dari pengaruh pihak yang memanfaatkan jasa perusahaan pemeringkat

efek, obyektif, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam pemberian peringkat.

Perusahaan pemeringkat efek dapat melakukan pemeringkatan atas obyek

pemeringkatan sebagai berikut :

15
1. Efek bersifat utang, sukuk, efek beragun aset, atau efek lain yang dapat

diperingkat.

2. Sebagai pihak entitas (company rating), termasuk reksa dana dan dana

investasi real estate berbentuk kontrak investasi kolektif.

Dalam menjalankan usahanya, perusahaan pemeringkat efek wajib berdomisili

dan melakukan kegiatan operasional di Indonesia. Selain itu, perusahaan

pemeringkat efek juga wajib memiliki prosedur dan metodologi pemeringkatan

yang dapat dipertanggungjawabkan, sistematis, dan telah melalui tahapan

pengujian serta dilaksanakan secara konsisten dan bersifat transparan.

Selanjutnya, perusahaan pemeringkat efek yang melakukan atas permintaan

pihak tertentu, wajib membuat perjanjian pemeringkatan dengan pihak

dimaksud.

2.6 Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BABMI)

Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI) atau dalam bahasa

Inggris disebut Indonesian Capital Market Arbitration Board, didirikan oleh Organisasi

Regulator Mandiri (Self Regulatory Organization[1] - SROs) yaitu Bursa Efek Jakarta

(BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES), P.T. Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI),

dan P.T. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) serta asosiasi-asosiasi di

lingkungan pasar modal Indonesia untuk menjadi tempat menyelesaikan persengketaan

perdata di bidang pasar modal melalui mekanisme penyelesaian di luar pengadilan.

16
Sejarah pendirian BAPMI

BAPMI didirikan dengan akta pendirian berdasarkan akta No. 15 yang dibuat

oleh Notaris Fathiah Helmy SH dan ditandatangani di Jakarta pada tanggal 9

Agustus 2002 dengan disaksikan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia

dalam suatu upacara di Departemen Keuangan Republik Indonesia.

Selanjutnya BAPMI memperoleh pengesahan sebagai badan hukum melalui

Keputusan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia No: C-

2620 HT.01.03.TH 2002, tanggal 29 Agustus 2002, dan pengesahan tersebut

telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal 18

Oktober 2002, Nomor 84/2002, Tambahan Berita Negara Nomor 5/PN/2002.

Alternatif penyelesaian melalui BAPMI

Di dalam BAPMI, para pihak yang bersengketa dapat memilih 3 alternatif cara

penyelesaian sengketa, yakni melalui

Pendapat Mengikat.

Mediasi.

Arbitrase.

Pendapat mengikat

"Pendapat mengikat" BAPMI adalah pendapat yang diberikan oleh BAPMI atas

dasar permintaan para pihak mengenai penafsiran suatu ketentuan yang kurang

17
jelas di dalam perjanjian agar di antara para pihak tidak terjadi lagi perbedaan

penafsiran yang bisa membuka perselisihan lebih jauh.

BAPMI akan memberikan pendapat mengikat secara tertulis dan ditandatangani

oleh ketua BAPMI selambat-lambatnya dalam waktu 30 hari kerja setelah

dimulainya pemeriksaan, yang disampaikan melalui surat tercatat, bukannya

dalam suatu forum pertemuan.

Pendapat mengikat yang diberikan oleh BAPMI bersifat final dan mengikat para

pihak yang memintanya, oleh karenya tidak dapat diajukan perlawanan atau

bantahan. Pendapat mengikat itu harus segera dilaksanakan dalam waktu 30 hari

sejak diterbitkan, dan setiap tindakan yang bertentangan dengan pendapat

mengikat merupakan pelanggaran perjanjian.

Mediasi

Mediasi BAPMI adalah cara penyelesaian masalah melalui perundingan di

antara para pihak yang bersengketa dengan bantuan pihak ketiga yang netral dan

independen yang disebut mediator bersifat fasilitator pertemuan guna membantu

masing-masing pihak memahami perspektif, posisi dan kepentingan pihak lain

sehubungan dengan permasalahan yang tengah dihadapi dan bersama-sama

mencari solusi penyelesaiannya. Tujuan dari Mediasi adalah dicapainya

perdamaian di antara para pihak yang bermasalah.

Proses mediasi akan berlangsung selama 14 hari kerja dalam

pertemuan (hearing) yang tertutup untuk umum yang dilaksanakan di tempat

yang ditetapkan oleh BAPMI atau tempat lain yang disepakati oleh para pihak.

18
Arbitrase

Arbitrase BAPMI adalah cara penyelesaian sengketa dengan menyerahkan

kewenangan kepada pihak ketiga yang netral dan independen - yang

disebut arbiter guna memeriksa dan mengadili perkara pada tingkat pertama dan

terakhir. Keputusan yang dijatuhkan oleh arbiter tersebut bersifat final dan

mengikat bagi para pihak yang tidak dapat diajukan banding.

Pemeriksaan dalam proses arbitrase BAPMI akan berlangsung paling lama 180

hari kerja terhitung sejak arbiter tunggal / majelis arbitrase terbentuk. Arbiter

dapat memperpanjang jangka waktu tersebut dengan persetujuan pemohon dan

termohon.

Arbiter BAPMI

Di dalam proses arbitrase BAPMI dikenal 2 jenis arbiter, yakni arbiter tetap

(arbiter BAPMI) dan arbiter tidak tetap (ad hoc) yang diseleksi dan diangkat

oleh pengurus BAPMI berdasarkan integritas dan kompetensi di bidang pasar

modal menurut latar belakang keahliannya masing-masing yang sebagian

berlatar belakang praktisi, ahli hukum, akuntan dan akademisi.

Berbagai peraturan arbitrase BAPMI

BAPMI telah mengeluarkan berbagai peraturan yang digunakan sebagai dasar

bagi prosedur arbitrase yaitu :

Peraturan dan acara badan arbitrase Pasar modal Indonesia : peraturan ini

disahkan melalui keputusan BAPMI nomor: Kep-04/BAPMI/11.2002, tanggal 19


19
November 2002, sebagai amendemen terhadap keputusan BAPMI nomor: Kep-

01/BAPMI/10.2002, tanggal 28 Oktober 2002.

Peraturan tentang biaya dan imbalan penyelesaian sengketa atau beda pendapat

BAPMI : peraturan ini disahkan melalui keputusan BAPMI Nomor: Kep-

01/BAPMI/07.2005, tanggal 21 Juli 2005, sebagai amendemen terhadap Keputusan

BAPMI Nomor: Kep-02/BAPMI/11.2002, tanggal 19 November 2002.

Peraturan BAPMI tentang arbiter BAPMI : peraturan ini disahkan melalui

keputusan BAPMI nomor: Kep-03/BAPMI/11.2002, tanggal 19 November 2002.

Pedoman benturan kepentingan dan afiliasi bagi arbiter dan mediator BAPMI :

peraturan ini disahkan melalui keputusan BAPMI nomor: Kep-05/BAPMI/12.2002,

tanggal 20 Desember 2002.

Etika perilaku (Code of Conduct) arbiter/mediator BAPMI : yang disahkan oleh

rapat umum anggota tahunan BAPMI, tanggal 30 Juni 2004.

2.7 Profesi Penunjang Pasar Modal

1. Akuntan Publik

Adalah seseorang yang memiliki profesi dalam hal kewenangan melakukan

pemeriksaan atas keuangan badan usaha yang mengeluarkan surat berharga untuk

diperdagangkan (selanjutnya disebut dengan Emiten) guna dalam memberikan pendapat

atas laporan keuangan yang Emiten guna memberikan pendapat atas laporan keuangan

yang dipublikasikan oleh Emiten.

20
Seorang Akuntan Publik dapat membantu Emiten dalam melakukan transaksi

Pasar Modal, misalnya melakukan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran

perdana, kemudian membantu Emiten dalam menyiapkan atau menyajikan laporan

keuangannya, dimana laporan keuangan tersebut merupakan instrument yang paling

penting untuk menentukan apakah Emiten layak melakukan investasi atau menjual

saham suatu produk investasi.

Akuntan Publik harus mendaftarkan dirinya di BAPEPAM (Badan Pengawas

Pasar Modal) sebagai profesi penunjang dalam kegiatan Pasar Modal. Diharapkan

menjadi Gate Keeper dalam melindungi kepentingan publik dengan menghasilkan opini

yang berkualitas atas laporan keuangan.

Akuntan publik memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut:

1. Pemeriksa Laporan Keuangan. Pemeriksaannya harus sesuai dengan standar

auditing dan mematuhi serta menjunjung tinggi kode etik profesi.

2. Memberikan gambaran yang transparan mengenai posisi keuangan suatu

perusahaan dalam menginformasikannya ke publik.

3. Memeriksa pembukuan apakah sudah sesuai dengan Prinsip Akuntansi Indonesia

dan ketentuan BAPEPAM.

4. Memberi petunjuk pelaksanaan cara-cara pembukukan yang baik (apabila

diperlukan)

2. Notaris Publik

Jika kita berbicara tentang peran Notaris dalam kegiatan Pasar Modal, tentunya

ruang gerak seorang Notaris sangatlah besar dan penting karena mengemban tugas yang

menyangkut urusan publik dalam konteks keperdataan dan diberi kewenangan oleh

21
Undang-Undang untuk membuat akta otentik. Sebelum seorang Notaris Publik

melaksanakan tugasnya, ia harus mendaftarkan dirinya sebagai profesi penunjang dalam

kegiatan Pasar Modal di BAPEPAM.

Notaris publik memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut :

1. Menyiapkan Berita Acara RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).

2. Membuat konsep akta perubahan Anggaran Dasar.

3. Menyiapkan naskah perjanjian dalam rangka Emisi efek.

4. Meneliti keabsahan hal-hal yang menyangkut penyelenggaraan RUPS, seperti

kesesuaian dengan anggaran dasar perusahaan, tata cara pemanggilan untuk

RUPS dan keabsahan dari pemegang saham atau kuasanya untuk menghadiri

RUPS.

5. Meneliti perubahan Anggaran Dasar (AD) agar tidak terdapat materi pasal-

pasal dalam AD, yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku.

6. Melakukan penyesuaian-penyesuaian pasal- pasal dalam AD, agar sejalan dan

memenuhi ketentuan menurut peraturan di bidang Pasar Modal dalam rangka

melindungi investor dan masyarakat.

Notaris Publik memiliki tanggung jawab dan peranan dalam pasar modal, yaitu:

1. Peran Notaris Publik sangat diperlukan, terutama dalam hubungannya dengan

penyusunan Anggaran Dasar para pelaku pasar modal, seperti Emiten,

perusahaan publik, perusahaan efek, dan reksadana, serta pembuatan kontrak-

kontrak penting, seperti kontrak reksadana, kontrak penjaminan emisi, dan

perwali amanatan. Untuk menjamin keaslian dan kepercayaan para pihak,

pengesahan dari notaris menjadi sesuatu yang sangat penting.

22
2. Dalam hal perjanjian pengelolaan Administrasi Saham ingin di rubah, maka

harus dilakukan bersama dengan perubahan yang dilakukan terhadap Perjanjian

Emisi efeknya karena keduanya sangat erat kaitannya dan dilakukan oleh

seorang Notaris. Perubahan yang dilakukan dalam akta tersebut adalah mengenai

jumlah saham yang akan di jual kepada calon investor.

3. Konsultan Hukum Publik

Adalah pihak yang memberikan dan menandatangani mengenai emisi efek

ataupun perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Emiten. Untuk menjadi seorang

Konsultan Hukum Publik dalam kegiatan Pasar Modal maka pihak-pihak yang

menyandang profesi tersebut haruslah mendaftarkan diri di BAPEPAM. Sebab, menjadi

seorang yang bergelut di bidang Konsultan khususnya Konsultan Hukum Publik dalam

kegiatan Pasar Modal harus memiliki integritas yang tinggi, bersikap hati-hati dan teliti

(Duty Skill Of Care) dan memegang prinsip Know Your Customer, mengetahui latar

belakang klien atau nasabahnya yang ingin berinvestasi.

Konsultan Hukum Publik harus memverifikasikan keakuratan dari prinsip

keterbukaan yang berhubungan dengan sekuritas perusahaan dan merupakan standar

untuk penyelidikan dan penelitian yang merupakan bagian dari proses Go Public.

Konsultan hukum publik memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut :

1. Melakukan penelitian terhadap aspek-aspek hukum Emiten dan memberikan

pendapat dari sisi hukum tentang keadaan dan keabsahan usaha Emiten.

2. Memberikan pendapat dan penilaian yang independen, supaya pendapat dan

penilaian yang diberikan oleh Konsultan Hukum Publik dilakukan secara

23
professional dan bebas dari pengaruh pihak yang memberikan tugas, sehingga

pendapat atau penilaian yang diberikan objektif dan wajar.

3. Memastikan bahwa perusahaan itu telah lulus dan telah memenuhi persyaratan

untuk dapat menawarkan efeknya.

4. Meneliti keabsahan dokumen-dokumen penting perusahaan, seperti: izin-izin

dari lembaga pemerintah, sertifikat tanah dan bangunan, Akta Pendirian beserta

perubahan-perubahannya, Anggaran Dasar perusahaan berserta perubahan-

perubahan, catatan-catatan/risalah rapat (RUPS/Direksi, Perjanjian hutang

untuk memastikan adanya tidak adanya perjanjian yang berakibat tidak baik

terhadap hukum dimasa yang akan datang, kontrak-kontrak dengan pemasok,

dan meneliti proses hukum yang sedang berjalan dan mungkin akan terjadi,

yang dapat mengancam kelancaran bisnis perusahaan.

Konsultan Hukum Publik memiliki tanggung jawab dan peranan dalam pasar

modal, yaitu:

1. Peranan konsultan hukum dapat mempengaruhi proses perusahaan Go

Public dalam arti mampu mengatasi masalah yang di hadapi selama

berlangsungnya proses tersebut.

2. Membantu menyelesaikan segala aspek hukum suatu perusahaan yang

akan Go Public, dengan jalan memberikan nasehat dan pendapat yang

diperlukan oleh Emiten, juga pendapatnya tentang Emiten sendiri yang

dimuat dalam prospektus yang diterbitkan dalam rangka Emisi. Hal

tersebut diwujudkan dengan pembuatan Legal Audit (pemeriksaan hukum)

dan Legal Opinion (pendapat hukum). Legal audit dipakai oleh seorang

Konsultan hukum pasar modal sebgai landasan untuk membuat legal

24
opinion. Serta legal opinion ini wajib dimuat dalam prospektus yang

dibuat oleh Emiten.

3. Ikut mendampingi dan memberikan advise hukum pada kliennya, yang

diduga melakukan pelanggaran hukum.

4. Penilai

Adalah pihak yang menerbitkan dan menandatangani Laporan Penilai, yaitu

pendapat atas nilai wajar aktiva yang disusun berdasarkan pemeriksaan menurut

keahlian dan penilai. Penilai memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut :

1. Melakukan kegiatan penilaian terhadap kekayaan yang dimiliki oleh

perusahaan yang akan Go Public.

2. Melakukan penilaian kembali atau penilaian ulang atas aktiva perusahaan.

Penilai memiliki tanggung jawab dan peranan dalam pasar modal, yaitu:

1. Penilai memberikan penilaian mengenai berapa nilai yang wajar barang yang

dimiliki tersebut, yang tentu saja pada nilainya akan di hitung dengan uang.

2. Melakukan penilaian terhadap harta Emiten, dan bersikap objektif dan terbuka.

Karena, harta kekayaan harta Emiten tersebut akan dijadikan jaminan sebagai

agunan terhadap pinjaman dari investor, oleh karena itu peran Penilai adalah

menentukan berapa harga dari saham atau obligasi yang diterbitkan oleh

Emiten.

2.8 Asosiasi-asosiasi Pasar Modal

Berikut adalah asosiasi-asosiasi yang berkaitan dengan pasar modal di Indonesia:

1. Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI)

2. Ikatan Pialang Efek Indonesia (IPEI)

25
3. Asosiasi Wakil Perantara Pedagang Efek Indonesia (AWP2EI)

4. Asosiasi Wakil Penjamin Emisi Efek Indonesia (AWPE2I)

5. Asosiasi Wakil Manajer Investasi Indonesia (AWMII)

6. Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI)

7. Himpunan Pedagang Surat Utang Negara (HIMDASUN)

8. Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM)

9. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)

10. Ikatan Notaris Indonesia

11. Panitia Standar Profesi Pasar Modal

Berikut beberapa profil asosiasi

1. Asosiasi Emiten Indonesia (AEI)

Asosiasi Emiten Indonesia atau AEI adalah suatu organisasi nirlaba yang

beranggotakan perusahaan publik atau emiten yang terdaftar (listing) di Bursa Efek

Jakarta (BEJ),Bursa Efek Surabaya (BES), dan/atau bursa efek lainnya.

Sejarah Asosiasi Emiten Indonesia Pada akhir era 80-an, ketika Pasar Modal

Indonesia mulai berkembang, otoritas serta praktisi pasar modal terus mengupayakan

peningkatan kegiatan pasar modal. Bapepam yang saat itu berfungsi sebagai otoritas

sekaligus pelaksana bursa efek, merupakan motor penggerak utama kehidupan pasar

modal di Indonesia. Lembaga yang mengemban misi besar dalam mengembangkan

pasar modal Indonesia ini dituntut membawa akselarasi pertumbuhan pasar modal.

Hal tersebut tentunya juga harus diimbangi oleh perusahaan public (emiten),

sebagai salah satu komponen penting yang menggerakkan pasar modal. Sejalan dengan

itu, maka Emiten harus terus dibina untuk menumbuhkan iklim pasar yang kondusif dan

professional sehingga memberikan motivasi perusahaan swasta lain untuk masuk pasar

26
modal. Atas dasar pemikiran tersebut kemudian muncul keinginan sejumlah Emiten

untuk mendirikan wadah organisasi bagi perusahaan Go Public. Gagasan pembentukan

organisasi ini awalnya didorong oleh Ketua Bapepam yang saat itu dijabat oleh Bapak

Marzuki Usman. Alasan pembentukan organisasi itu juga didorong oleh kenyataan

bahwa Pasar Modal masih merupakan bidang baru, sehingga diperkirakan akan banyak

masalah yang perlu dihadapi secara bersama-sama.

Maka pada tanggal 13 Desember 1988, Bapak Marzuki Usman memanggil enam

perusahaan mewakili semua Emiten yang tercatat saat itu berjumlah 24 perusahaan.

Mereka adalah: Bapak Ahmad Slamet (PT Semen Cibinong Tbk), Bapak Harsono E

Soleh (PT Delta Jakarta Tbk), Ny. J. Muaya Siambaton (PT BBD-IBJ Leasing),

danBapak JW Sudomo (PT Squibb Indonesia Tbk) Dalam pertemuan di Gedung

Bapepam, Jalan Merdeka Selatan Jakarta, mereka sepakat untuk membentuk organisasi

bernama Asosiasi Emiten Indonesia (AEI). Dengan Ketua Umum S. Supoyo (BPD Jawa

Timur), Sekretaris Umum Kusyadi Kuyono (PT Sepatu Bata Tbk), Bendahara Umum R.

Andi Suprianto (PT Squibb Indonesia Tbk).

2. Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia

Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) lahir atas dasar suatu kesadaran

bersama dari para sejumlah Direksi Perusahaan Efek/Sekuritas yang merasa terpanggil

dan menyadari bahwa untuk menunjang pembangunan nasional serta dalam upaya

menjaga dan memelihara kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional dibutuhkan

suatu pasar modal Indonesia yang maju dan berkualitas.

APEI merupakan gabungan dari sejumlah asosiasi yang sebelumnya

beranggotakan perorangan ataupun perusahaan yang berada di lingkungan pasar modal

27
Indonesia. Hal tersebut terealisasi setelah melalui serangkaian pertemuan dan rapat-

rapat, khususnya pertemuan pada tanggal 4 November 1995 bertempat di Shangri-La

Hotel, Jakarta melahirkan sebuah kesepakatan bersama seluruh asosiasi untuk

bergabung menjadi satu.

Sebagai realisasi kesepakatan tersebut, pada tanggal 4 November 1995, bertempat

di Ruang Rapat Badan Pengawas Pasar Modal dan dengan disaksikan oleh Ketua

Bapepam, maka ditanda-tanganilah suatu Memorandum Kesepakatan bersama antara

Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia, Asosiasi Penjamin Emisi Efek Indonesia dan

Asosiasi Manajer Investasi Indonesia untuk melakukan penggabungan melalui wadah

Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (ASPERINDO), yang selanjutnya akronimnya

berubah menjadi APEI. Dewasa ini jumlah anggota APEI sekitar 138 Perusahaan Efek.

3. Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI)

Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia atau disingkat APRDI didirikan

tanggal 28 Juni 1999, APRDI adalah wadah organisasi yang beranggotan badan hukum

yang berkaitan dengan pengelolaan Reksa Dana.

Anggota APRDI terbagi kedalam anggota biasa dan anggota luar biasa, anggota

biasa terdiri dari :

a. Manajer Investasi yang mengelola Reksa Dana

b. Bank Kustodian yang mengadministrasikan Reksa Dana

c. Reksa Dana berbentuk perseroan.

Anggota luar biasa adalah lembaga yang secara tidak langsung mempunyai

kegiatan yang berkaitan dengan industri Reksa Dana.

28
Maksud dan Tujuan berdirinya APRDI ialah untuk menggalang persatuan

diantara lembaga-lembaga yang terlibat pada kegiatan Reksa Dana, mengembangkan

standarisasi serta menjunjung tinggi profesionalisme dan kode etik anggota dalam

menjalankan kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas Reksa Dana, mengembangkan

industri Reksa Dana di Indnesia sehingga menjadi pilihan investasi masyarakat,

meningkatkan hubungan antara anggota dengan otoritas Pasar Modal dan Pasar Uang

serta lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan industri Reksa Dana, meningkatkan

pengetahuan dan ketrampilan anggota dalam menjalankan dan mengembangkan

kegiatan Reksa Dana.

2.9 Corporate Governance

GCG adalah konsep untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dengan

tujuan untuk menjamin agar tujuan rumah sakit tercapai dengan penggunaan

sumberdaya se-efisien mungkin.

GCG secara definitive merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan

perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua

stakeholder. Konsep GCG di Indonesia dapat diartikan sebagai konsep pengelolaan

perusahaan yang baik. Ada dua hal yang ditekankan dalam konsep ini. Pertama,

pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar (akurat)

dan tepat waktunya. Kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan

(disclosure) secara akurat, tepat waktu dan trasnparan terhadap semua informasi kinerja

perusahaan, kepemilikan dan stakeholder.

29
Penerapan prinsip GCG dalam dunia usaha saat ini merupakan suatu tuntutan agar

perusahaan-perusahaan tersebut dapat tetap eksis dalam persaingan global. Penerapan

GCG dalam suatu perusahaan sendiri mempunyai tujuan-tujuan strategis.

Tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan nilai perusahaan.

b. Untuk dapat mengelola sumber daya dan resiko secara lebih efektif dan efisien.

c. Untuk dapat meningkatkan disiplin dan tanggung jawab dari organ perusahaan demi

menjaga kepentingan para shareholder dan stakeholder perusahaan.

d. Untuk meningkatkan kontribusi perusahaan (khusunya perusahaan-perusahaan

pemerintah) terhadap perekonomian nasional.

e. Meningkatkan investasi nasional; dan

f. Mensukseskan program privat-isasi perusahaan-perusahaan pemerintah.

Adapun Prinsip-prinsip good corporate governance dalam hal ini meliputi:

a. Transparansi (Transparency), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses

pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil

dan relevan mengenai perusahaan.

b. Kemandirian (Independecy), yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara

professional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak

manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan

prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

c. Akuntabilitas (Accountability), yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan

pertanggungjawaban organisasi sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara

efektif.

30
d. Pertanggungjawaban (Responsibility), yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan

perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip

korporasi yang sehat

e. Kewajaran (Fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak

stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan perundang-undangan yang

berlaku.

Good corporate governance pada dasarnya merupakan suatu sistem (input,

proses, output) dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai

pihak yang berkepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara

pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi demi tercapainya tujuan

perusahaan. Good corporate governance dimasukkan untuk mengatur hubungan-

hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan dalam strategi

peerusahaan danuntuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat

diperbaiki segera.

Good corporate governance diperlukan untuk mendorong tercipttanya pasar

yang efisien, transparan dan konsisten dengan peraturan perundang-undangan.

Penerapan good corporate governance perlu didukung oleh tiga pilar yang saling

berhubungan, yaitu Negara dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai

pelaku pasar, dan masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha.

Prinsip efisiensi dan penciptaan keuntungan (rente) ekonomi dalam kerangka

fungsionalisme ini memang pertama-tama diterapkan dalam prinsip tata kelola

organisasi perusahaan. Namun, prinsip tata kelola berbasis cara pandang fungsional juga

sering diterapkan pada organisasi lain, seperti lembaga pendidikan, lembaga sosial, dan

bahkan lembaga keagamaan.

31
Pendekatan fungsionalais yang berorientasi pada efisiensi ini sering disebut seba

pendekatan disiplin karena guna menjaga agar efisiensi terus terjaga sehingga

keuntungan ekonomi yang tinggi dapat dicapai maka diperlukan disiplin dan

pengawasan

2.10 Kewajiban Pelaporan

Kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala diatur dalam keputusan ketua

Bapepam nomor Kep-36/PM/2003. Laporan keuangan berkala yang dimaksud dalam

keputusan ketua Bapepam nomor Kep-36/PM/2003 adalah laporan keuangan tahunan

dan laporan keuangan tengah tahunan.

Setiap Emiten dan Perusahaan Publik yang pernyataan pendaftarannya telah

menjadi efektif wajib menyampaikan laporan keuangan berkala kepada Bapepam

sebanyak 4 (empat) eksemplar, sekurang-kurangnya 1 (satu) dalam bentuk asli. Laporan

keuangan yang harus disampaikan ke Bapepam terdiri dari:

1. neraca;

2. laporan laba rugi;

3. laporan perubahan ekuitas;

4. laporan arus kas;

5. laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan

keuangan

6. jika dipersyaratkan oleh instansi yang berwenang sesuai dengan jenis industrinya; dan

7. catatan atas laporan keuangan.

32
Laporan keuangan harus disajikan dalam bahasa Indonesia. Laporan keuangan

harus disajikan secara perbandingan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum yang

pada pokoknya adalah Standar Akuntansi Keuangan yang ditetapkan oleh Ikatan

Akuntan Indonesia (IAI), dan ketentuan akuntansi di bidang Pasar Modal yang

ditetapkan Bapepam.

Untuk unsur-unsur laporan keuangan bagi Emiten atau Perusahaan Publik yang

karena sifat industrinya belum diatur secara tegas dalam Standar Akuntansi Keuangan

dan ketentuan akuntansi di bidang Pasar Modal di atas, agar disajikan sesuai dengan

bentuk dan isi yang setidak-tidaknya meliputi unsur dan penjelasan yang tercakup pada

laporan keuangan sebagaimana dilampirkan dalam dokumen Pernyataan Pendaftaran.

Laporan keuangan tahunan harus disertai dengan laporan Akuntan dengan

pendapat yang lazim dan disampaikan kepada Bapepam selambat-lambatnya pada akhir

bulan ketiga setelah tanggal laporan keuangan tahunan.

Laporan keuangan tahunan wajib diumumkan kepada publik dengan ketentuan

sebagai berikut:

1. perusahaaan wajib mengumumkan neraca, laporan laba rugi dan laporan lain

yang dipersyaratkan oleh instansi yang berwenang sesuai dengan jenis

industrinya dalam sekurang-kurangnya 2 (dua) surat kabar harian berbahasa

Indonesia yang satu diantaranya mempunyai peredaran nasional dan lainnya

yang terbit di tempat kedudukan Emiten atau Perusahaan Publik, selambat-

lambatnya pada akhir bulan ketiga setelah tanggal laporan keuangan tahunan.

Bagi perusahaan yang dikategorikan sebagai Perusahaan Menengah atau Kecil

wajib mengumumkan neraca, laporan laba rugi dan laporan lain yang

33
dipersyaratkan oleh instansi yang berwenang sesuai dengan jenis industrinya

dalam sekurang-kurangnya 1 (satu) surat kabar harian berbahasa Indonesia yang

mempunyai peredaran nasional;

2. bentuk dan isi neraca, laporan laba rugi, dan laporan lain yang dipersyaratkan

oleh instansi yang berwenang sesuai dengan jenis industrinya yang diumumkan

tersebut harus sama dengan yang disajikan dalam laporan keuangan tahunan

yang disampaikan kepada Bapepam;

3. pengumuman tersebut harus memuat opini dari akuntan; dan

4. bukti pengumuman tersebut harus disampaikan kepada Bapepam selambat-

lambatnya 2 (dua) hari kerja setelah tanggal pengumuman.

Laporan keuangan tengah tahunan disampaikan kepada Bapepam dalam jangka waktu

sebagai berikut:

1. selambat-lambatnya pada akhir bulan pertama setelah tanggal laporan keuangan

tengah tahunan, jika tidak disertai laporan Akuntan;

2. selambat-lambatnya pada akhir bulan kedua setelah tanggal laporan keuangan

tengah tahunan, jika disertai laporan Akuntan dalam rangka penelaahan terbatas;

dan

3. selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga setelah tanggal laporan keuangan

tengah tahunan, jika disertai laporan Akuntan yang memberikan pendapat

tentang kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.

Laporan keuangan tengah tahunan disusun berdasarkan prinsip yang sama

dengan laporan keuangan tahunan dan mencakup antara lain penyesuaian yang lazim

dilakukan pada akhir periode akuntansi perusahaan demi tercapainya dasar akrual.

34
Laporan keuangan tengah tahunan wajib diumumkan kepada masyarakat dengan

ketentuan sebagai berikut:

1. perusahaan wajib mengumumkan neraca, laporan laba rugi dan laporan lain yang

dipersyaratkan oleh instansi yang berwenang sesuai dengan jenis industrinya dalam

sekurang-kurangnya 1 (satu) surat kabar harian berbahasa Indonesia yang

mempunyai peredaran nasional;

2. bentuk dan isi neraca, laporan laba rugi dan laporan lain yang dipersyaratkan oleh

instansi yang berwenang sesuai dengan jenis industrinya yang diumumkan tersebut

harus sama dengan yang disajikan dalam laporan keuangan tengah tahunan yang

disampaikan kepada Bapepam;

3. pengumuman tersebut di atas dilakukan selambat-lambatnya sesuai dengan jangka

waktu menurut kewajiban penyampaian laporan keuangan tengah tahunan kepada

Bapepam; dan

4. bukti pengumuman tersebut harus disampaikan kepada Bapepam selambat-

lambatnya 2 (dua) hari kerja setelah tanggal pengumuman.

Dalam hal Emiten atau Perusahaan Publik yang laporan keuangannya mendapat

opini selain wajar tanpa pengecualian, maka pengumuman wajib pula memuat hal-hal

sebagai berikut:

1. paragraf penjelasan akuntan atas opininya, antara lain menyangkut hal-hal sebagai

berikut:

a. Pembatasan ruang lingkup pemeriksaan;

b. Penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum;

c. Penjelasan ketidakpastian menyangkut kelangsungan usaha perusahaan dan

kemungkinan

35
d. adanya kerugian; dan atau

e. Dampak utama penyimpangan terhadap laporan keuangan; dan

2. tanggapan manajemen terhadap opini Akuntan tersebut

Tanggung Jawab Direksi Atas Laporan Keuangan

Tanggung jawab direksi atas laporan keuangan diatur dalam keputusan Ketua

Bapepeam Nomor Kep-40/PM/2003. Laporan Keuangan yang dimaksud dalam

peraturan ini adalah laporan keuangan yang disampaikan dalam rangka kewajiban

penyampaian laporan keuangan kepada Bapepam. Direksi Emiten atau Perusahaan

Publik wajib membuat surat pernyataan sesuai dengan Formulir Lampiran I yang

tercantum dalam peraturan keputusan Ketua Bapepeam Nomor Kep-40/PM/2003. Surat

pernyataan sebagaimana dimaksud tersebut, wajib ditandatangani oleh Direktur Utama

dan seorang Direktur yang membawahi bidang akuntansi atau keuangan, dan bermeterai

cukup.

Dalam hal Direktur Utama dan Direktur yang membawahi bidang akuntansi atau

keuangan dijabat oleh 1 (satu) orang, maka surat pernyataan tersebut ditandatangani

oleh Direktur Utama. Direksi Emiten atau Perusahaan Publik secara tanggung renteng

bertanggung jawab atas pernyataan yang dibuat ini termasuk kerugian yang mungkin

ditimbulkan. Surat pernyataan tersebut wajib dilekatkan pada laporan keuangan yang

disampaikan kepada Bapepam. Dalam hal laporan keuangan yang disampaikan telah

diaudit atau ditelaah secara terbatas, maka tanggung jawab Direksi atas pernyataan

berlaku sampai dengan tanggal pendapat akuntan. Dalam hal laporan keuangan interim

yang disampaikan tidak diaudit, maka tanggung jawab Direksi atas pernyataan berlaku

sampai dengan tanggal disampaikannya surat pernyataan dimaksud kepada Bapepam.

Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana di bidang Pasar Modal, Bapepam

36
berwenang mengenakan sanksi terhadap setiap pelanggaran ketentuan peraturan ini,

termasuk pihak-pihak yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tersebut.

2.11 Kewajiban Pengungkapan

Pengungkapan laporan keuangan dalam arti luas berarti penyampaian (release)

informasi. Sedangkan menurut para akuntansi memberi pengertian secara terbatas yaitu

penyampaian informasi keunagan tentang suatu perusahaan di dalam laporan keuangan

biasanya laporan tahunan.

Laporan tahunan (Annual Report) media utama penyampaian informasi oleh

manajemen kepada pihak-pihak di luar perusahaan. Laporan tahunan

mengkomunikasikan kondisi keuangan dan informasi lainnya kepada pemegang saham,

kreditor, dan stakeholders lainnya. Laporan tahunan merupakan mencakup hal-hal

seperti pembahasan dan analisis manajemen, catatan kaki dan laporan pelengkap.

Sehingga dalam laporan tahunan lah diketahui seberapa kuat informasi

pengungkapan yang diajukan oleh perusahaan.

2.11.1 Jenis-Jenis Discloure / Pengungkapan Laporan Keuangan

Pengungkapan laporan keuangan dapat dilakukan dalam bentuk penjelasan

mengenai kebijakan akuntansi yang ditempuh, kontijensi, metode persediaan, jumlah

saham yang beredar dan ukuran alternatif, misalnya pos-pos yang dicatat berdasarkan

historical cost.

Adapun jenis pengungkapan yang digunakan perusahaan untuk memberikan

informasi kepada stakeholders berupa :

1. Pengungkapan Wajib (Mandatory Disclosure)

37
Pengungkapan ini merupakan pengungkapan informasi yang diharuskan oleh

peraturan yang berlaku, dalam hal ini peraturan dikeluarkan oleh Badan Pengawas Pasar

Modal (Bapepam), namun sebelum dikeluarkan keputusan Ketua Bapepam Nomor

38/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996 mengenai laporan tahunan bahwa yang dimaksud

dengan pengungkapan wajib adalah meliputi semua pengungkapan informasi dalam

laporan keuangan.

2. Pengungkapan Sukarela

Pengungkapan sukarela adalah pengungkapan informasi yang dilakukan secara

sukarela oleh perusahaan tanpa diharuskan oleh peraturan yang berlaku atau

pengungkapan melebihi yang diwajibkan.

Perusahaan akan melakukan pengungkapan melebihi kewajiban pengungkapan

minimal jika mereka merasa pengungkapan semacam itu akan menurunkan biaya

modalnya atau jika mereka tidak ingin ketinggalan praktik-praktik pengungkapan yang

kompetitif. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan akan mengungkapkan lebih sedikit

apabila mereka merasa pengungkapan keuangan akan menampakkan rahasia kepada

pesaing atau menampakkan sisi buruk perusahaan di depan berbagai pihak.

Dengan adanya pengungkapan sukarela ini maka upaya untuk berkomunikasi

secara efektif dengan pembaca-pembaca asing, karena tidak adanya standar akuntansi di

pelaporan yang diterima secara internasional.

2.11.2 Tujuan dan Manfaat dari disclosure / pengungkapan laporan keuangan

1. Tujuan

Perusahaan besar umumnya menjadi sorotan banyak pihak, baik dari masyarakat

secara umum maupun pemerintah, perusahaan dengan ukuran yang lebih besar relatif

lebih diawasi oleh lembaga-lembaga pemerintah, sehingga mereka berupaya

38
menyajikan pengungkapan yang lebih baik untuk dapat meminimalisasi tekanan-

tekanan pemerintah. Oleh karena itu, perusahaan besar tersebut dituntut untuk

mengungkapkan informasi yang lebih banyak daripada perusahaan kecil.

Informasi itu sekaligus menjadi bahan untuk keperluan pengungkapan informasi

kepada pihak eksternal, sehingga tidak perlu ada tambahan biaya yang besar untuk

dapat melakukan pengungkapan dengan lebih lengkap.

Perusahaan besar berkemungkinan memperoleh keuntungan-keuntungan dengan

mengungkapkan informasi yang memadai dalam laporan tahunan, misalnya kemudahan

untuk memasarkan saham dan kemudahan memperoleh dana dari pasar modal.

Sedangkan perusahaan kecil umumnya sulit untuk mendapatkan dana dari pasar modal,

mengingat pembatasan ukuran aset bila terjun ke bursa, sehingga perusahaan kecil tidak

dapat menikmati keuntungan dari pengungkapan informasi yang memadai.

Adapun yang menjadi tujuan dari pengungkapan dinyatakan sebagai berikut :

Untuk menguraikan hal-hal yang diakui dan memberikan pengukuran yang

relevan atas hal-hal tersebut di luar pengukuran yang digunakan dalam laporan

keuangan.

Untuk menguraikan hal-hal yang diakui dan untuk memberikan pengukuran

yang bermanfaat.

Untuk memberikan informasi yang akan membantu investor dan kreditor

menilai resiko dan potensial dari hal-hal yang diakui dan tidak diakui.

Untuk memberikan informasi penting yang memungkinkan para pengguna

laporan keuangan untuk melakukan perbandingan dalam satu tahun dan diantara

beberapa tahun.

Untuk memberikan informasi mengenai arus kas atau keluar dari masa depan.

39
Untuk membantu para investor menilai pengembalian dari investasi mereka.

2. Manfaat

Tujuan dari pengungkapan oleh perusahaan bermanfaat untuk beberapa

kepentingan yaitu oleh perusahaan pencari laba (profit making interpreise) berdasarkan

pada tiga kategori kepentingan yaitu kepentingan perusahaan, kepentingan investor, dan

kepentingan nasional.

Adapun penjelasannya sebagai berikut :

Manfaat bagi kepentingan perusahaan adalah dapat diperoleh biaya modal yang lebih

rendah yang berkaitan dengan berkurangnya resiko informasi bagi investor dan

kreditur. Dengan demikian investor dan kreditor bersedia membeli sekuritas dengan

harga tinggi, akibat dari harga sekuritas yang tinggi tersebut biaya modal perusahaan

menjadi rendah.

Bagi investor pengungkapan bermanfaat untuk mengurangi resiko informasi berupa

pengurangan kesalahan pembuatan keputusan investasi. Sehingga investor menjadi

lebih percaya kepada perusahaan yang memberikan pengungkapan secara lengkap,

akibatnya sekuritas perusahaan menjadi lebih menarik bagi banyak investor dan

harganya akan naik.

Bagi kepentingan Nasional, yaitu berupa adanya biaya modal perusahaan yang

rendah dan berkurangnya risiko informasi yang dihadapi investor. Dengan

diperolehnya biaya modal yang lebih rendah oleh perusahaan, pertumbuhan ekonomi

dapat meningkat, kesempatan kerja meluas, dan pada akhirnya standar kehidupan

secara nasional akan meningkat pula. Dengan berkurangnya resiko informasi yang

dihadapi investor, pasar modal menjadi likuid. Likuiditas pasar modal ini diperlukan

oleh perekonomian nasional karena dapat membantu alokasi modal secara efektif

40
2.12 Peranan Akuntan Dalam Pasar Modal

Seperti diketahui sebelumnya bahwa akuntan saat ini memiliki peran yang cukup

besar dalam perekonomian dan bisnis khususnya dalam hal komunikasi bisnismengenai

informasi informasi keuangan. Berkembangnya pasar modal di

Indonesia juga melibatkan peran akuntan di dalamnya.

Peran akuntan dalam pasar modal tercantum dalam Undang-undang Nomor 8

tahun 1995 yang menyebutkan bahwa profesi penunjang pasar modal terdiri dari :

a. Akuntan;

b. Konsultan Hukum Publik;

c. Penilai;

d. Notaris; dan

e. Profesi lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Selain itu, peran akuntan dinyatakan dalam Keputusan Menteri Keuangan

Republik Indonesia No. 859/KMK.01/1987 tentang Emisi Efek melalui Bursa yang

telah menentukan bahwa:

1. Untuk melakukan emisi efek, emiten harus memenuhi persyaratan, antara lain:

mempunyai laporan keuangan yang telah diperiksa oleh akuntan publik /

akuntan negara untuk dua tahun buku terakhir secara berturut-turut dengan

pernyataan pendapat wajar tanpa syarat untuk tahun terakhir.

2. Laporan keuangan emiten untuk dua tahun terakhir tersebut harus disusun sesuai

dengan PABU di Indonesia disertai dengan laporan akuntan publik/ akuntan

negara.

41
3. Jangka waktu antara laporan keuangan dan tanggal pemberian izin emisi efek

tidak boleh melebihi 180 hari. Di dalam pasar primer tersebut, akuntan juga

terusberperandalamkegiatan pasar modal. Hal tersebut sesuai dengan kewajiban

perusahaan yang telah terdaftar di bursa efek wajib mempublikasikan laporan

keuangan yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik. Dalam hal ini akuntan

berperan baik dalam proses pembuatan laporan keuangan perusahaan serta

perannya dalam memastikan laporan keuangan tersebut bebas dari salah saji.

Akuntan berperan dalam mengungkapkan informasi keuangan perusahaan dan

memberikan pendapat mengenai kewajaran atas data yang disajikan dalam

laporan keuangan. Dalam melakukan kegiatan, akuntan harus memperhatikan

standar akuntansi keuangan yang ditetapkan oleh IAI, praktik akuntansi, dan

4. Peraturan-peraturan yang berlaku di pasar modal. Akuntan yang terdaftar di

Bapepam-LK diharapkan menjadi gate keeper dalam melindungi kepentingan

publik dengan menghasilkan opini yang berkualitas atas laporan keuangan.

Profesi akuntan berkaitan dengan pekerjaan yang memerlukan pengetahuandan

keahlian khusus. Keahlian dasar yang harus dimiliki akuntan adalah

melakukan pemeriksaan keuangan. akuntan profesional dituntut memiliki integri

tas dan moral untuk melindungi kepentingan masyarakat. Profesi akuntan juga

harus memiliki etika profesi yang mengikat para anggotanya. Sesuai UU No.8

tahun 1995 tentang Pasar Modal, peran profesi akuntan menjadi sangat penting.

Bagi perusahaan yang telah go public, dimana sebagian sahamnya dimiliki oleh

masyarakat luas, maka informasi yang tepat, cepat, dan terpercaya sangatlah

dibutuhkan untuk mengetahui posisi keuangan, hasil usaha, dan

perkembangan perusahaan yang pengelolanya dipercayakan kepada

42
manajemen. Tanggung jawab akuntan tidak hanya terbatas pada kepatuhan

terhadap standar profesi, namun juga mencakup tanggung jawab hukum dan

sosial. Akuntan harus mampu menilai kewajaran laporan keuangan perusahaan

dibandingkan dengan standar akuntansi keuangan yang telah ditetapkan oleh

IAI. Pada dasarnya esensi dari pasar modal adalah full disclosure yang

mencakup pengungkapan informasi yang penting dan relevan. Oleh karena itu,

akuntan yang bergerak di pasar modal harus memahami bahwa kepentingan

publik jauh lebih besar dan harus lebih diutamakan. Adapun kewajiban akuntan

sebagai pemeriksa laporan keuangan dinyatakan secara eksplisit dalam UU Pasar

Modal yang menyatakan bahwa akuntan yang terdaftar di Bapepam yang

memeriksa laporan keuangan emiten, bursa efek, lembaga kliring dan

penjaminan (LKP), lembaga penyimpanan dan penyelesaian (LPP), dan pihak

lain yang melakukan kegiatan di bidang pasar modal wajib menyampaikan

pemberitahuan yang sifatnya rahasia kepada Bapepam (peraturan X.J.1) jika

ditemukan adanya: Pelanggaran yang dilakukan terhadap ketentuan dalam UU

ini dan atau peraturan pelaksanaannya. Hal-hal yang

dapat membahayakan keadaan keuangan lembaga yang dimaksud atau

kepentingan para nasabahnya.Akuntan yang melakukan kegiatan di pasar modal

harus akuntan yang terdaftar sesuai dengan peraturan Bapepam (peraturan

VIII.A.1). Peraturan tersebut menyebutkan akuntan yang melakukan kegiatan di

bidang Pasar Modal wajib terlebih dahulu terdaftar di Bapepam dan LK serta

memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan ini. Selain itu, untuk

menjamin kualitas informasi dalam pasar modal Bapepam juga mengatur

independensi akuntan di pasar modal. Indepedensi akuntan di pasar modal diatur

43
dalam peraturan VIII.A.2, yang mencakup larangan akuntan untuk melakukan

hal-hal sebagai berikut

a. Memberikan jasa kepada pihak yang terafiliasi dengannya


b. Membuat perjanjian untuk memperoleh kepentingan dalam efek atau
bagian laba dari emiten
c. Memeriksa dan menyiapkan opini bagi emiten sebelum menerima
pembayaran atas jasa yang diberikan terdahulu
d. Melakukan penilaian dan pemeriksaan atas pekerjaannya
sendiri yang telah dilakukan bagi emiten
e. Melakukan perjanjian dengan emiten yang menyatakan bahwa
pembayaran jasanya tergantung pada pekerjaannya.

44
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pasar modal adalah tempat bagi perusahaan untuk mencari dana guna

membiayai kegiatan usahanya. Selain itu, pasar modal juga merupakan suatu usaha

penghimpunan dana masyarakat secara langsung dengan cara menanamkan dana ke

dalam perusahaan yang sehat dan baik pengelolaannya.

Struktur Pasar Modal di Indonesia tertinggi berada pada menteri Keuangan

menunjuk OJK merupakan lembaga pemerintah yang bertugas untuk melakukan

pembinaan, pengaturan dan pengawasan sehari-hari pasar modal dengan tujuan

mewujudkan terciptanya kegiatan pasar modal yang teratur, wajar, efisien serta

melindungi kepentingan masyarakat pemodal.

Para pelaku utama dalam pasar modal adalah perusahaan yang akan melakukan

penjualan saham (emiten) dan pembeli atau pemodal (investor) yang akan membeli

instrumen yang ditawarkan oleh emiten. Pasar modal menyediakan berbagai alternatif

bagi para investor.

Upaya untuk memperlancar mekanisme perdagangan di pasar modal, maka

diperlukan banyak pihak yang terlibat dalam transaksi seperti fasilitator pasar modal,

lembaga penunjang pasar modal juga badan arbitrase jika terjadi sengketa, profesi

penunjang pasar modal, asosiasi-asosiasi pasar modal. Semua ini demi menunjang

keberlangsungnya fungsi pasar modal untuk meningkatkan dan menghubungkan aliran

dana jangka panjang dengan "kriteria pasarnya" secara efisien yang akan menunjang

pertumbuhan riil ekonomi secara keseluruhan

45
DAFTAR PUSTAKA

Slamat, Dahlan. Manajemen Lembaga Keuangan Edisi Ketiga. Jakarta : Lembaga


Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 2001

Richard G. Lipsey, dkk., Pengantar Ekonomi Jilid 2 Edisi delapan, Jakarta: Erlangga,
1987. wikipedia.com

Sukirno, MIKRO EKONOMI : Teori Pengantar, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2007.

Undang-Undang No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal

http://www.ojk.go.id

http://memebali.blogspot.co.id/2013/06/struktur-pasar-modal.html

46

Anda mungkin juga menyukai