Anda di halaman 1dari 6

abstrak

Tujuan

Penilaian dari ukuran tubuh saat otopsi sangat penting untuk interpretasi pengukuran berat
organ dan dalam beberapa identifikasi kasus tubuh. Keandalan pengukuran postmortem
ukuran tubuh, menyebabkan kerancuan dalam hubunganya dengan pengukuran premortem
yang sesuai, dan berdampak menjadi kerancuan pada interpretasi berat jantung.

Metode

otopsi panjang tubuh, berat badan, tinggi pra-mortem dan pengukuran berat badan tubuh
dibandingkan di 132 otopsi. Catatan klinis edema perifer dan tingkat serum albumin
dievaluasi. Penyebab kematian, volume cairan pada rongga tubuh, dan berat jantung yang
diperoleh dari laporan otopsi. Sebuah subset pasien menjalani kuantitatif post-mortem
dihitung Tomography penilaian anasarca. (??)

Hasil

Pada otopsi, berat badan berbeda dari nilai pra-mortem sebesar 11 1%, dibandingkan
dengan -0,2 0,3% untuk panjang tubuh (P < 0,0001). Perubahan persen berat badan pada
otopsi berkorelasi dengan kehadiran edema perifer (14 2% vs 7 2%, P = 0,01), serum
albumin < 3.0 g / dL (16 2% vs 7 2%, P = 0,001), dan derajat anasarca (P = 0,01). Dalam
4% otopsi, didapatkan bobot jantung tidak normal yang didasarkan pada berat badan pra-
mortem , tetapi akan diklasifikasikan sebagai normal berdasarkan peningkatan berat badan
post-mortem.

Kesimpulan

Pada otopsi, berat badan adalah parameter yang kurang dapat diandalkan dibandingkan tubuh
panjang tubuh dalam hubungannya dengan pengukuran pre-mortem. otopsi pada bobot tubuh
akan meningkat karena perifer edema / anasarca. Perubahan berat tubuh di otopsi dapat
membaurkan interpretasi berat organ

Kata kunci : Otopsi, Panjang badan, Berat badan, Ukuran tubuh, Edema

pengantar

Mengukur ukuran tubuh pada otopsi dengan menilai berat badan dan panjang tubuh adalah
aspek rutin dan penting saat praktek otopsi. pengukuran ukuran tubuh dapat berdampak pada
identifikasi tubuh dan, di rumah sakit, keluarga yang selamat mungkin mengungkapkan
keprijantungnan jika pengukuran ukuran tubuh di laporan otopsi tidak sejajar dengan
pemahaman mereka tentang ukuran tubuh mendiang. Selain itu, pengukuran ukuran tubuh
penting untuk menafsirkan signifikansi pengukuran berat organ. Sejumlah penelitian telah
menunjukkan bahwa berat jantung pada individu normal berkorelasi dengan ukuran tubuh [1-
9]. Oleh karena itu dianjurkan untuk menggunakan tabel berat jantung yang menyesuaikan
ukuran tubuh ketika mengevaluasi untuk kardiomegali di otopsi [10].

Baik panjang tubuh dan berat badan secara rutin digunakan untuk menentukan kisaran normal
untuk berat jantung di otopsi. Namun, untuk keefektifan pengukuran postmortem ini belum
dapat mencerminkan secara akurat tentang keadaan pre-mortem

pengukuran berat badan pada otopsi memiliki penilaian yang kurang dapat diandalkan
daripada panjang tubuh pengukuran karena berat tubuh dapat berubah secara signifikan oleh
berbagai kondisi. Kekhawatiran lain adalah bahwa pengukuran ukuran tubuh post-mortem
tidak diperoleh dengan cara yang sama seperti saat melakukan pengukuran pra-mortem.
Panjang tubuh biasanya diperoleh dengan pita pengukur daripada mengukur ketinggian
pasien berdiri. Demikian juga postmortem pengukuran berat badan sering diperoleh
menggunakan skala lantai, yang mengharuskan mengurangi berat brankar. Pada penelitian
ini, keefektifan pengukuran ukuran tubuh post-mortem untuk mencerminkan nilai-nilai pra-
mortem yang sesuai. Selain itu, beberapa potensi yang dapat menyebabkan perubahan dalam
pengukuran berat badan post-mortem dan dampak perubahan ini pada penafsiran berat
jantung dapat diselidiki.

Bahan dan metode

pasien

Penelitian ini meneliti pasien yang menjalani otopsi di Rumah Sakit Umum Massachusetts
antara Juli 2010 dan Juni 2013. Data pasien diperoleh dari kedua laporan otopsi dan catatan
klinis. Pasien yang yang dibalsem sebelum otopsi, usia lebih muda dari 18 tahun atau mereka
yang tidak memiliki tinggi badan atau berat badan pengukuran saat pra atau pasca-mortem
dikeluarkan, dan juga pasien yang melakukan pengukuran berat badan pra-mortem 7 hari
atau lebih sebelum tanggal kematian. Dari total 892 otopsi dilakukan selama periode ini, 132
kasus memenuhi kriteria untuk penelitian. penelitian ini adalah disetujui oleh Bagian Etik
Rumah Sakit.

pengukuran otopsi

Pada saat otopsi, berat badan dinilai menggunakan standar skala lantai (Fairbanks), yang
dilakukan dengan interval 6 bulan dan memiliki akurasi lebih besar dari 99%. Berat badan
dihitung setelah mengurangkan berat brankar kosong. Panjang tubuh dari ujung kepala ke
tumit diukur dengan tape pengukur. Total cairan di pleura, perikardium, dan ruang peritoneal
dicatat, seperti berat jantung dan penyebab kematian

parameter klinis
Ketinggian tubuh dan berat badan pra-mortem diperoleh dari catatan klinis; nilai diambil
dengan waktu yang paling dekat dengan waktu kematian. Semua data premortem bobot tubuh
diperoleh dalam waktu 7 hari atau lebih sebelum waktu kematian dieksklusi. Kadar serum
albumin pra-mortem yang diperoleh paling dekat dengan waktu kematian dicatat, paling
lambat 4 hari sebelum kematian. Muncul atau tidaknya edema perifer pada pemeriksaan
klinis selama 7 hari sebelum kematian juga dicatat.

Post-mortem computed tomography

Sebanyak 11 dari 132 pasien, dilakukan CT Scan post-mortem seluruh tubuh sebelum otopsi
seperti yang dijelaskan sebelumnya [11]. Semua mayat dipindai menggunakan 128-slice,
multidector-baris CT (Somatom Definisi Flash, Siemens Healthcare). Analisis kuantitatif dari
jumlah anasarca ditentukan dengan menggunakan perangkat lunak khusus (Volume, syngo
Explorer, Siemens Kesehatan). ROI yang digambar di CT scan untuk mengukur akumulasi
cairan di jaringan subkutan. Volume cairan dalam ROI itu diukur dengan menggunakan nilai
ambang -20 sampai +50 skala Hounsfield[12].

penilaian jantung

Bobot jantung diperoleh pada otopsi menggunakan Cardinal Model Detecto skala HSDC-20
KG setelah menghilangkan perikardium dan pembuluh darah besar, dan dibandingkan dengan
batas atas normal untuk beban jantung menggunakan data tinggi badan dan berat tubuh
pengukuran badan pra dan post-mortem dari tabel yang telah dipublikasikan sebelumnya [2].
Untuk pasien dengan penilaian berat jantung yang upnormal menggunakan data berat badan
pra-mortem, namun normal menggunakan data berat badan post-mortem, slide histologis
jantung dievaluasi. Hipertrofi miosit dinilai secara subjektif pada 4 titik skala, yaitu tidak
ada, ringan (<50% peningkatan ukuran inti), moderat (peningkatan 50-100% ukuran
inti), atau berat (Peningkatan >100% ukuran inti) dengan ukuran normal inti miosit
diameter sekitar 10 m.

Intersisial miokardium dan penggantian fibrosis dinilai secara subjektif pada skala empat titik
seperti tidak ada, ringan (< 10% dari daerah miokard), sedang (10-25% dari daerah
miokard), atau berat (>25% dari daerah miokard). Hipertrofi dinding ventrikel diukur jika
pengukuran dinding jantung dalam laporan otopsi melebihi 15 mm untuk ventrikel kiri atau 5
mm untuk ventrikel kanan [2]. Tingkat penyakit arteri koroner adalah ringan (30%
stenosis) , sedang (> 30% stenosis namun <75% stenosis), berat (>75% stenosis)

Terklasifikasikan atas ringan (penyempitan < 30%), sedang (>30% tetapi peyempitannya
<75%) atau berat (penyempitan > 75%)

Analisis Statistik

Data berkelanjutan diuji menggunakan T-test dan data yang tidak berkelanjutan diuji
menggunakan Fisher exact test. Kelompok-kelompok pada grup pada data berkelanjutan diuji
mengguanakan ANOVA dengan koreksi Bonferroni. Korelasi linier dinilai menggunakan
kisaran koefisien korelasi Spearman, jika nilai p kurang dari 0,05 menandakan bahwa tidak
signifikan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan persentase perubahan berat badan pada
autopsi, nilai p dilaporkan sama seperti Benjamini-Hochberg yang telah diatur dengan nilai p
untuk mengkoreksi perbandingan multiple. Semua hasilnya ditampilkan sebagai rata-rata +
standard error.

Hasil

Ada 132 pasien yang termasuk dalam kriteria inklusi dan eksklusi dan karakteristiknya
ditampilkan dalam tabel 1. Studi populasi terdiri dari 72 laki-laki (55%) dan 60 wanita (40%)
dengan rata-rata umur 62 + 1 tahun. Rata-rata tinggi tubuh pre-mortem adalah 168 + 1 cm.
Rata-rata berat badan tubuh autopsi adalah 183 + 4 pounds dan rata-rata panjang tubuh
autopsi adalah 168 + 1. Dari penyebab kematian yang ditentukan saat autopsi
dikategorikanlah 4 penyebab utama kematian. 49 pasien dianggap sebagai kasus penyakit
kardiovaskuler/stroke, 28 pasien infeksi, 28 pasien keganasan dan 27 pasien lainnya
disebabkan oleh penyakit lain, meliputi yang terakhir adalah trauma (n=3), penyakit
neurodegeneratif n=2), kelainan paru-paru dan penyakit autoimun/inflamasi lain (n=8).

Keandalan dari pengukuran ukuran tubuh post-mortem

Untuk menilai keandalam dari berat badan post mortem dan pengukuran panjang tubuh,
persentase merubah pada 2 pengukuran terhadap... . Terdapat perbedaan yang signifikan pada
pengukuran berat badan (post mortem relatif terhadap pre-mortem) dibandingkan dengan
pengukuran panjang panjang/tinggi badan (11+1 vs. -0,2+0,3%, P<0,0001). Dari hal tersebut,
disimpulkan bahwa pengukuran panjang badan saat autopsi lebih dapat diandalkan pada
rekapitulasi pengukutan ukuran tubuh premortem dibandingkan dengan berat badan bila
mengacu pada fluktuasi cepat berat badan. Jumlah rata-rata peningkatan berat badan pada
saat autopsi adalah 17 + 2 lbs.

Edema dan perubahan berat badan saat autopsi

Interval rata-rata diantarapenilaian berat badan pre-mortem dan kematian adalah 3,8 + 0,2
hari. Tidak ada korelasi di antara waktu interval ini dan persentase perubahan berat badan
(p=0,31, PBH = 0,35). Dan lagi, tidak ada korelasi antara persentase perubahan berat badan
dengan usia pasien ( p=0,92, pBH=0,92), jenis kelamin (p=0,07, pBH=0,11) atau penyebab
kematian (p=0,22, pBH =0,29). Saat autopsi, pasien terdapat kurang lebih 1,1 + 0,1 L cairan
kombinasi pada pleura, perikardial dan cavum peritoneal. Persentase perubahan berat badan
saat autopsi berkorelasi dengan jumlah cairan pada cavitas (r 2 = 0,25, p = 0,004, pBH = 0,008).
Untuk menentukan apakah perubahan berat badan saat autopsi disebabkan oleh cairan yang
memenuhi cavitas tubuh, berat badan post mortem dikoreksi dengan cara berat dari cairan
ditambah dengan spesifik gravitasi yaitu 1 g/mL. Koreksi ini tidak berdampak pada
perbandingan di Fig. 1, dengan perubahan koreksi pada berat badan yaitu 10 + 1 %
(p=0,0001 vs. % perubahan bada tinggi badan). Faktor tambahan yang ada di dalam cavitas
cairan tubuh berkontribusi pada perubahan berat badan saat autopsi. Seperti yang
digambarkan pada Fig. 2, pasien dengan edema perifer pada pemeriksaan fisik sebelum
meninggal memiliki perubahan berat badan yang lebih dibandingkan dengan pasien yang
tidak terdapat edema perifer (14+2 vs. 7+2%, p=0,01, pBH=0,02, n=118). Salah satu yang
menyebabkan perifer edem adalah serum albumin yang rendah. Seperti tergambar pada Fig.
2, pasien dengan albumin serum <3.0 g/dL memiliki perubahan berat badan yang lebih
dibandingkan dengan pasien yang memiliki albumin serum >3.0 g/dL (16+2 vs. 7+2%,
p=0,001, pBH=0,008, n=115).

Perbandingan pada Gif. 2 menggambarkan bahwa beberapa peningkatan berat badan


saat autopsi adalah hasil dari edema jaringan lunak yang terjadi beberapa saat sebelum
kematian. Untuk menilai langsung korelasi antara cairan pada jaringan dengan perubahan
berat badan saat autopsi, jumlah dari anasarka telah diukur langsung pada 11 pasien dengan
post mortem CT. Seperti tergambar pada Fig.3, derajat dari anasarka dengan post mortem CT
berkorelasi dengan perbuahan berat badan saat autopsi (r2 = 0.67, P = 0.01, PBH = 0.02).

Penilaian Berat jantung saat autopsi

Peningkatan dari berat badan saat autopsi dibandingkan dengan berat pre-mortem
menunjukkan kemungkinan bahwa abnormalitas berat jantung mungkin menyebabkan
kesalahan pada berat normal bila pengukuran berat badan post mortem digunakan. Untuk
menentukan perubahan berat badan saat autopsi disini harus menginterpretasi pengukuran
berat jantung juga. Berat jantug didapatkan saat laporan autopsi dan dibandingkan dengan
nilai batas atas pada pengukuran tubuh pre dan post mortem dengan tabel yang sudah
dipublikasikan sebelumnya. Tidak ada contoh dimana berat jantung yang telah dinyatakan
abnormal dari data pengukuran tinggi badan pre mortem.. .

Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengukuran berat badan yg diperoleh saat autopsi
kemungkinan belum dapat diandalkan untuk me representasikan berat badan pre-mortem.
Rata-rata berat badan meningkat >= 17 lbs pada saat autopsi dibandingkan berat badan
sebelum kematian, pada beberapa kasus didapatkan peningkatan berat badan yg lebih besar.
Ahli patologi autopsi harus berhati-hati ketika dihadapkan dengan dokter atau keluarga pasien
yang menanyakan hasil pengukuran berat badan yg tertera pada laporan autopsi.
Populaso Penelitian ini mencakup autopsi pada orang dewasa yang merupakan pasien dengan
penyakit medis substansial di rumah sakit. Hal ini menjadi rancu jika hasil yg diperoleh
diterapkan pada populasi lain.

perubahan persentase pada berat badan dengan edem perifer, kadar albumin serum yg rendah,
dan anasarka post-mortem pada pemeriksaan CT mengindikasikan salah satu faktor yg
berpengaruh adalaha akumulasi cairan pada jaringan subkutan. Akan tetapi faktor tsb
bukanlah faktor satu-satunya yg menyebabkan peningkatan berat badan pada saat autopsi.
Pasien tanpa edem, tanpa anasarka, dan kadar albumin serum >= 3,0 tetap mengalami
peningkatan berat badan sebanyak 7% dari berat badan pre-mortem nya. Terdapat faktor lain
yg mempengaruhi hasil penelitian ini, yaitu masuknya cairan intravaskuler sebelum kematian,
adanya alat prostetik atau instrumen lain yg tertinggal pada tubuh pasien saat meninggal

Adanya peningkatan berat badan pada saat autopsi bukan hanya merupakan suatu keganjilan
tetapi juga dapat merupakan faktor perancu dalam hasil pengukuran organ. Pada 4% kasus,
ditemukan adanya peningkatan berat badan yg dapat menjadi faktor perancu dalam
menentukan berat jantung, jantung yg membesar pada saat pre-mortem bisa jadi termasuk
normal pada berat badan saat autopsi. rata-rata berat jantung normal ditentukan melalui berat
badan dan panjang badan, ahli patologi autopsi harus berhati-hati terhadap hasil autopsi yang
belum tentu bs diandalkan seperti pada penjelasan sebelumnya. Salah 1 keterbatasan
penelitian ini adalah menggunakan metode retrospektif, sedangkan berat jantung diperoleh
saat autopsi. Berat jantung pada saat autopsi dipengaruhi berbagai hal, seperti : cara
pengirisan jantung dan banyaknya bekuan darah yg diambil pada saat autopsi sebelum berat
jantung diukur

Kesimpulan

1. Pada autopsi, berat badan bukan merupakan parameter yg reliabel dibandingkan


dengan panjang badan berkaitan dengan pengukuran post-mortem
2. Peningkatan berat badan pada saat autopsi rata-rata sebesar 11% dari berat badan pre-
mortem
3. Sebagian peningkatan berat badan saat autopsi disebabkan karena edem/anasarka
4. Adanya perubahan berat badan saat autopsi dapat menjadi faktor perancu dalam
interpretasi berat jantung

Etika kedokteran

Semua prosedur pd penelitian ini yg melibatkan manusia sesuai dengan standar etik dari
institusi/komite nasional penelitian dan Deklarasi Helsinki 1964. Untuk penelitian ini tidak
diperlukan persetujuan secara formal