Anda di halaman 1dari 3

TUGASAN 2

BAHASA MELAYU TINGGI 2

KONSONAN SENGAU

Oleh:

Luis Ricardo M. P. B. Raharjo

(DJ16170012)

DIPLOMA OF OIL AND GAS PRODUCTION

FACULTY OF ENGINEERING

UNIVERSITI MALAYSIA SABAH (UMS)

2016/2017
Konsonan nasal atau sengau adalah fonem yang direalisasikan melalui bantuan rongga
hidung.

Dalam kebanyakan bahasa, fonem nasal yang paling banyak dijumpai adalah

/m/ (labial atau bibir, dilambangkan dengan huruf [m])

/n/ (dilambangkan dengan huruf [n])

// (dilambangkan dengan huruf [] atau digraf [ny])

// (biasanya dilambangkan dengan digraf [ng])

Bunyi Sengau

Seperti yang ditulis Kasijanto Sastrodinomo, KOMPAS 26 Agustus 2011, Simulfiks ng hanya
terjadi dalam cakapan lisan yang tak-baku dan, karena itu, cukup alasan untuk diasingkan
dari ragam resmi. Ada kalanya ng dianggap merusak tatanan bahasa yang baik dan benar.
Beliau mencontohkan kata ngacir, ngablak, ngakak pengaruh dari Bahasa Betawi serta kata
ngopi, ngrujak, ngeh, ngumpul, dan ngumar yang mendapat pengaruh dari Bahasa Jawa.
Lanjut beliau, simulfiks diwujudkan dengan penyengauan bunyi pertama suatu bentuk dasar,
dan berfungsi membentuk verba (memverbalkan nomina), adjektiva atau kelas kata lain.
Namun, Saya akan memberikan alasan dan contoh lain dari pengaruh bunyi sengau (nasal)
ini. Terlepas dari Bahasa Betawi dan Bahasa Jawa, bunyi sengau juga sering digunakan oleh
banyak orang dalam bahasa lisan. Tidak hanya bunyi /ng/, bahkan bunyi /m/, /n/, dan /ny/
juga sering terdengar di obrolan yang kurang serius bahkan rapat resmi. Parahnya, kita juga
sering mendengar kata kerja yang ditambahkan akhiran [-i], kebanyakan menjadi [-in].
Marilah sadari bersama bahwa kita lebih nyaman dengan kata berbunyi /ng/ seperti ngetik,
ngonsep, ngoleksi. Awalnya, kata dasar verba ini diawali huruf [K] seperti ketik, konsep,
koleksi serta ditambah awalan [me-] yang seharusnya mengetik, mengonsep, mengoleksi.
Demikian dengan bunyi /m/ yang muncul dan sering diucapkan seperti maku, milih, minjam,
meras. Asal kata tersebut adalah paku, pilih, pinjam, peras dan jika ditambah dengan prefiks
[me-] seharusnya menjadi memaku, memilih, meminjam dan memeras. Gejala ini bermula
dari verba yang diawalai dengan huruf [P].
Kata dasar yang diawali huruf [T] tutup, tagih, tunjuk, tembak juga mengalami hal serupa.
Orang lebih senang ngomong kata nutup, nagih, nunjuk, nembak dengan bunyi sengau /n/
ketimbang menutup, menagih, menunjuk dan menembak, jika kata dasarnya diberikan
imbuhan [me-]. Jangan heran, kata nyapu, nyambung, nyiram, nyemprot juga lebih sering
diucapkan oleh kita ketika ngobrol. Bunyi /ny/ timbul pada kata kerja yang diawali huruf [S]
seperti sapu, sambung, siram, semprot ditambah awalan [me-] yang selayaknya menjadi
menyapu, menyambung, menyiram, menyemprot.
Tak jarang orang sering ngucapin kata kerja yang mengalami afiksasi dengan prefiks [me-]
dan sufiks [-i] atau [-kan] menjadi kata kerja berbunyi /ng/,/ny/,/m/,/n/ dan akhiran [-in]. Kata
musingin, ngembaliin, nidurin, nyambungin merupakan bentuk verba terafiksasi yang sering
terdengar di lisan orang Indonesia sebagai pemakai Bahasa Indonesia.
Itulah ciri bahasa lisan kita yang dipengaruhi bunyi sengau dan Bahasa Betawi plus Bahasa
jawa. Rumusnya yakni kata diawali huruf [K,T,S,P] menjadi bunyi /m,n,ny,ng/. Singkatnya,
jika verba diawali huruf [P] maka akan timbul bunyi sengau /M/, jika verba diawali huruf [T]
maka bunyi nasal /n/ akan muncul, jika kata kerja diawali huruf [K] timbullah bunyi /ng/, dan
bunyi /ny/ diucapkan jika verba diawali huruf [S].