Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI PANGAN

ACARA I
PENGARUH ANTIMIKROBA TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA

Oleh:

Kelompok 6 Rombongan 2

Penanggung Jawab:

Hisyam Ibrahim Raiz (A1F015075)

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh beberapa faktor diantara nya
adalah faktor intrinsik, ekstrinsik, pengolahan dan implisit.
Faktor intrinsik: sifat fisik, kimia dan struktur makanan yang
mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Meliputi: pH makanan, Aw,
potensial reduksi oksidasi (Eh), kandungan nutrisi, senyawa antimikroba,
struktur biologi, dan tekstur.
Faktor ekstrinsik: kondisi lingkungan penyimpanan, meliputi: Suhu,
kelembaban relatif (Rh), dan susunan gas.
Faktor implisit: parameter yang mempengaruhi jumlah dan jenis
mikroba, diantara nya terdapat reaksi antagonisme sinergisme dan
sintrofisme serta interaksi antar mikroba.
Faktor pengolahan: Panas, irradiasi, penggunaan senyawa pensteril,
pencucian, dan penyimpanan.
Pengaruh pertumbuhan mikroba pada pangan selain dipengaruhi oleh
faktorfaktor tersebut, dipengaruhi oleh adanya bahan pengawet yang
terkandung di dalam nya, yaitu senyawa yang dapat menghambat
pertumbuhan mikroba.
Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau
menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara.
Senyawa antimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan mekanisme
daya kerjanya atau tujuan penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara
fisik atau kimia dan berdasarkan peruntukannya dapat berupa desinfektan,
antiseptic, sterilizer, sanitizer dan sebagainya. Mekanisme daya kerja
antimikroba terhadap sel dapat dibedakan atas beberapa kelompok sebagai
berikut diantaranya merusak dinding sel, mengganggu permeabiitas sel,
merusak molekul protein dan asam nukleat, menghambat aktivitas enzim,
menghambat sintesa asam nukleat. Aktivitas antimikroba yang dapat diamati
secara langsung adalah perkembangbiakannya. Oleh karena itu antimikroba
dibagi menjadi dua macam yaitu antibiotik dan disinfektan. Antibiotik adalah
senyawa yang dihasilkan oleh microorganisme tertentu yang mempunyai
kemapuan menghambat pertumbuhan bakteri atau bahkan membunuh bakteri
walaupun dalam konsentrasi yang rendah. Antibiotik digunakan untuk
menghentikan aktivitas mikroba pada jaringan tubuh makhluk hidup
sedangkan desinfektan bekerja dalam menghambat atau menghentikan
pertumbuhan mikroba pada benda tak hidup, seperti meja, alat gelas, dan lain
sebagainya. Pembagian kedua kelompok antimikroba tersebut tidak hanya
didasarkan pada aplikasi penerapannya melainkan juga terhadap konsentrasi
mikroba yang digunakan.

B. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah:
1. Mengertahui pengaruh antimikroba terhadap aktifitas mikroba gram
positif dan negatif.
2. Mengetahui pengaruh antagonisme dan sinergisme antar mikroba
terhadap bakteri gram positif dan negative

II. TINJAUAN PUSTAKA

Baha Mikroba memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam


persyaratan pertumbuhannya. Bakteri juga memiliki kebutuhan dasar yang sama
meliputi air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh. Bakteri merupakan
organisme yang bersifat prokariotik dengan inti tidak berselaput. Dalam
lingkungan, bakteri ini berperan sangat penting dalam menguraikan zat-zat
organik.Bakteri dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan
yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu faktor abiotik meliputi kimia dan fisika
serta faktor biotik yang berhubungan dengan makhluk hidup lain. Faktor fisika
mencakup suhu, salinitas, tekanan osmotik, pengeringan, dan lain-lain. Sedangkan
Faktor kimia mencakup pH, DO, amonia, bahkan antimikroba juga berpengaruh
terhadap kelangsungan hidup bakteri (Indra. 2008).

Menurut Buckle et al. (2007), mikroorganisme tumbuh lebih baik pada bahan
pangan yang telah dimasak daripada bahan pangan mentah karena zat-zat gizi
tersedia lebih baik dan tekanan persaingan dari mikroorganisme lain telah
dikurangi.

Menurut Sudiarto (2008), Bahan pengawet atau disebut juga senyawa


antimikroba pada pangan dibedakan atas tiga golongan berdasarkan sumbernya,
yaitu:

Senyawa antimikroba yang terdapat secara alami di dalam bahan pangan


misalnya asam pada buah-buahan dan beberapa senyawa pada rempah-
rempah.
Bahan pengawet yang sengaja ditambahkan ke dalam bahan pangan atau
pangan olahan, misalnya: Nitrit untuk menghambat bakteri pada kornet sapi
dan sosis, Garam natrium klorida untuk menghambat mikroba pada ikan asin.
Asam benzoat untuk menghambat kapang dan khamir pada selai dan sari
buah. Asam cuka (asam asetat) untuk mengahambat mikroba pada asinan.
Asam propinoat untuk menghambat kapang pada roti dan keju. Sulfit untuk
menghambat kapang dan khamir pada buah-buahan kering dan anggur.
Senyawa antimikroba yang terbentuk oleh mikroba selama proses fermentasi
pangan. Asam laktat, hidrogen peroksida (H2O2) dan bakteriosin adalah
senyawa yang dibentuk oleh bakteri asam laktat selama pembuatan produk
susu fermentasi seperti yoghurt, yakult, susu asidofilus, dan lain-lain, serta
dalam pembuatan pikels dari sayur-sayuran seperti sayur asin.

Bakteri pembusuk/perusak pangan adalah bakteri yang dapat memecah


komponen-komponen yang ada dalam bahan pangan menjadi senyawa yang lebih
sederhana dan menyebabkan perubahan citarasa, penampakan, rasa ataupun aroma
yang tidak dapat diterima oleh konsumen. Bakteri patogen adalah bakteri yang
dapat menyebabkan penyakit pada manusia, baik secara infeksi ataupun
intoksikasi.

1. Bacillus cereus
Bacillus cereus merupakan bakteri Gram positif, bersifat anaerobik
fakultatif, dan bersifat motil karena memiliki flagela peritrik. Secara
mikroskopik, Bacillus cereus berbentuk batang, mempunyai ukuran sel yang
besar, sekitar 1.0-1.2 m dengan panjang 3.0-5.0 m. Sebagian besar strain
Bacillus cereus bersifat mesofilik dan mampu tumbuh pada pangan berasam
rendah pada suhu 15 C hingga 55 C. Bacillus cereus bersifat patogen
meskipun sebagian besar golongan Bacillus bersifat non-patogen. Bacillus
cereus dapat membentuk spora yang tahan terhadap pemanasan sehingga
pemanasan tidak dapat menghilangkan Bacillus cereus secara maksimum.
Bacillus cereus ditemukan pada susu pasteurisasi, daging beku, dan sayur-
sayuran. Selain itu, Bacillus cereus sering menyebabkan masalah pada nasi
dan nasi goreng dan menyebabkan keracunan pangan. Keracunan pangan oleh
Bacillus cereus terjadi secara intoksikasi, yaitu masuknya enterotoksin yang
diproduksi oleh Bacillus cereus ke dalam tubuh manusia. Gejala yang muncul
adalah diare atau muntah dalam jangka waktu 2 16 jam setelah makanan
dikonsumsi.
2. Escherichia coli
Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif yang berbentuk batang,
termasuk famili Enterobacteriaceae. Enterobacteriaceae merupakan bagian
dari flora usus manusia dan Escherichia coli merupakan predominannya.
Panjang sel Escherichia coli adalah sekitar 2.0-6.0 m dan lebarnya 1.1-1.5
m, bersifat motil atau non motil dengan flagela peritrikat bersifat fakultatif
anaerob. Kisaran suhu untuk pertumbuhannya adalah 10- 40 C, dengan suhu
optimum pertumbuhannya adalah 37 C. Keberadaan Escherichia coli dalam
bahan pangan mengindikasikan bahwa telah terjadi kontaminasi dari
feses/kotoran manusia atau hewan karena Escherichia coli secara normal
ditemukan sebagai bagian dari flora usus manusia segera setelah manusia
dilahirkan.
Kontaminasi bakteri Escherichia coli pada makanan biasanya berasal dari
kontaminasi air yang digunakan. Tidak semua Escherichia coli mampu
memproduksi toksin yang dapat menyebabkan penyakit, hanya galur
Enteropatogenik Escherichia coli (EEC) saja yang dapat menyebabkan
penyakit. Dosis yang dapat menimbulkan gejala infeksi Escherichia coli
berkisar antara 108 109 sel. Berdasarkan karakteristik penyakitnya,
Escherichia coli dapat dibedakan menjadi Enteropatogenik Escherichia coli,
Enteroinvasive Escherichia coli, Enterotoxigenic Escherichia coli, Vero
Cytotoxin-Producing (Shiga Toxin producing) Escherichia coli (VTEC)
(STEC), Enteroaggregative and Diffusely Adherent Escherichia coli. Gejala
yang terjadi umumnya adalah diare yang kadang-kadang disertai muntah
dalam jangka waktu 24 72 jam setelah makanan dikonsumsi.
Beberapa bahan pengawet yang sering digunakan adalah:
1. Asam Benzoat atau Sodium Benzoat
Senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan kapang, khamir dan bakteri.
Efektivitas fungsi senyawa benzoat dapat bertambah jika produk yang dibuat
mengandung garam dan gula pasir. Penggunaan pengawet ini diperbolehkan
digunakan dalam jumlah tertentu. Pada produk makanan senyawa benzoat
hanya boleh digunakan dengan kisaran konsentrasi 400-1000 mg/kg bahan
(Direja, 2007).
2. Asam Sitrat
Asam sitrat masih berdekatan dengan vitamin C dan sama-sama
merupakan pengawet alami yang baik. Kandungan asam di dalamnya
berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur. Asam sitrat dinyatakan
aman pada 99.9% populasi. Ada sebagian kecil yang alergi dengan asam
sitrat, tetapi kondisi ini sangat jarang dan hampir tidak ada sama sekali
(Utomo, 2010).
3. Asam Asetat dan Asam Laktat
Merupakan adalah asam organik yang aman digunakan sebagai preservatif
makanan. Selain itu berdasarkan penelitian, asam organik adalah substansi
antimikrobial yang digunakan dalam pangan dan oleh FDA telah diakui aman
digunakan sebagai preservatif bahan makanan. Dengan penambahan
preservatif diharapkan dapat memperpanjang masa simpan dan mencegah
kerusakan pada bahan pangan (Andriani, 2007).
Selain itu terdapat juga zat antimikroba alami seperti:
1. Batang Kecombrang (Nicolaia speciosa Horan)
Merupakan salah satu bagian tanaman kecombrang yang memiliki efek
antimikroba. Kandungan senyawa aktif dari batang kecombrang yaitu
alkaloid, saponin, fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid, glikosida (Naufalin
et al., 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Istianto (2008) tentang
efektivitas antimikroba bagian-bagian tanaman kecombrang menunjukkan
bahwa ekstrak dalam air dari bubuk batang kecombrang dengan konsentrasi
6% memiliki aktivitas antikapang pada buah salak dan antibakteri terhadap
Bacillus cereus.
Mikrokapsul hasil ekstraksi bertingkat batang kecombrang memiliki
aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji Eschericia coli dan Bacillus cereus
dengan diameter zona hambat 10,388mm dan 9,196mm untuk fraksi etanol,
serta 10,434mm dan 9,317mm untuk fraksi etil asetat (Hidayanti, 2009).
Sulistyaningrum (2010) melaporkan bahwa antimikroba dari batang
kecombrang bagian dalam mampu menghambat pertumbuhan mikroba pada
daging sapi giling rebus.
Batang kecombrang ada dua jenis, yaitu batang bagian dalam dan bagian
bagian luar. Syukri (2008) melaporkan bahwa batang bagian dalam
aktivitasnya lebih tinggi daripada batang bagian luar. Batang kecombrang
bagian dalam terlebih dahulu diolah menjadi bubuk. Menurut Istianto (2008),
bubuk kering batang kecombrang bagian dalam lebih efektif sebagai
antimikroba daripada bentuk segarnya. Batang kecombrang dalam bentuk
bubuk akan lebih terjaga ketersediaannya serta mempermudah penyimpanan
dan penggunaannya. Bubuk batang kecombrang dapat digunakan sewaktu-
waktu selama bahan tidak mengalami kerusakan,
2. Bawang Putih
Bawang putih (Allium sativum) telah diketahui sejak lama dapat digunakan
sebagai bumbu masakan dan pengobatan. Zat bioaktif yang berperan sebagai
antibakteri dalam bawang putih adalah allicin yang mudah menguap (volatil)
dengan kandungan sulfur. Komponen bioaktif lainnya adalah dialildisulfida,
dan dialiltrisulfida yang juga memiliki aktivitas antibakteri. Aktivitas
antibakteri bawang putih dapat mengendalikan bakteri-bakteri patogen, baik
Gram negatif maupun positif (Durairaj et al., 2009).
3. Daun Sirih
Daun sirih (Piper betle L.) memiliki daya antibakteri terhadap beberapa
bakteri patogen. Minyak esensial daun sirih mengandung komponen fenolik
seperti kavikol dan eugenol. Komponenkomponen ini mampu mencegah
adanya bakteri patogen dalam makanan yang diketahui sebagai pembusuk
pada makanan.
Daun sirih hijau yang diekstrak dengan pelarut etanol 80% dapat
menghasilkan ekstrak yang mengandung senyawa fenol lebih tinggi daripada
pelarut air (Arambawela et al., 2006). Ekstrak etanol daun sirih hijau lebih
efektif daripada daun sirih yang diekstrak dengan pelarut air dalam
menghambat pertumbuhan bakteri patogen (Kaveti et al., 2011).

III. METODE
A. Alat dan Bahan
1. Alat

- Cawan Petri Steril - Kertas saring whatman (cakram)


- Pipet mikro - Jangka sorong

-
2. Bahan

- Escherichia coli - Daun sirih


- Bacillus cereus - Natrium benzoat 0.1%
- Medium NA - Asam asetat 0.1%
- Bawang putih - Asam sitrat 0.1%
- Kecombrang - Aquades
-
B. Prosedur Kerja
1. Penggunaan Kertas Cakram
-

Disiapkan 2 cawan petri steril, lalu dimasukan masing-masing 1 ml starter


mikroba.

Medium dimasukan kedalam cawan petri steril dalam keadaan hangat 45o C

Cawan diputar-putar untuk meratakan medium

Kertas cawan dicelupkan kedalam larutan pengawet selama 10 menit, lalu


dikering anginkan dan dimasukan kedalam cawan petri yang telah diisi medium

Medium diinkubasi selama 48 jan pada suhu ruang dan posisi cawan terbalik

Zona bening diamati dan dilakukan pengukuran pengahmbat antimikroba


terhadap bakteri. Pengamatan dilakukan 2 hari: setelah 24 jam dan 48 jam

-
2. Penggunaan Double Cakram
-

Disiapkan 2 cawan petri steril, lalu dimasukan masing-masing 1 ml starter


mikroba.

Medium dimasukan kedalam cawan petri steril dalam keadaan hangat 45 o C

Cawan diputar-putar untuk meratakan medium

Kertas cakram 1 dicelupkan kedalam larutan pengawet selama 10 menit, lalu


dikering anginkan dan dimasukan kedalam cawan petri yang telah diisi medium

Kertas cakram 2 dicelupkan kedalam larutan pengawet selama 10 menit, lalu


dikering anginkan dan dimasukan kedalam cawan petri yang telah diisi medium

Medium diinkubasi selama 48 jan pada suhu ruang dan posisi cawan terbalik

Zona bening diamati dan dilakukan pengukuran pengahmbat antimikroba


terhadap bakteri. Pengamatan dilakukan 2 hari: setelah 24 jam dan 48 jam

-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Single Cakram
a. Antimikroba Alami

- Pengukuran Zona
Bening
- Waktu - B - Anti
-
Pengamatan akteri miroba - - -
Rata-
I II III
rata
- Baw - - - -
ang Putih 0 0 0 0
- Keco - - - -
- E. mbrang 0 0 0 0
coli - Dau - - - -
n Sirih 0,28 0.24 0,22 0,25
- Aqu - - - -
ades 0 0 0 0
- 24
- Baw - - - -
Jam
ang Putih 0 0 0 0
- Keco - - - -
mbrang 0 0 0 0
- B.
- Dau -
cereus - - -
n Sirih 0,25
0,35 0,19 0,22
3
- Aqu - - - -
ades 0 0 0 0
- 48 - E. - Baw - - - -
Jam coli ang Putih 0 0 0 0
- Keco - - - -
mbrang 0 0 0 0
- Dau - - - -
n Sirih 0,28 0.24 0,22 0,25
- Aqu - - - -
ades 0 0 0 0
- Baw - - - -
ang Putih 0 0 0 0
- Keco - - - -
- B. mbrang 0 0 0 0
cereus - Dau - - - -
n Sirih 0 0 0 0
- Aqu - - - -
ades 0 0 0 0
-

b. Antimikroba Sintetis

- Pengukuran Zona
Bening
- Waktu - B - Anti
-
Pengamatan akteri miroba - - -
Rata
I II III
-rata
- Natri - - - -
um Benzoat 0 0 0 0
- Asa - - - -
- E. m Asetat 0 0 0 0
coli - Asa - - - -
m Sitrat 0 0 0 0
- Aqu - - - -
- 24 ades 0 0 0 0
Jam - Natri - - - -
um Benzoat 0 0 0 0
- Asa - - - -
- B. m Asetat 0 0 0 0
cereus - Asa - - - -
m Sitrat 0 0 0 0
- Aqu - - - -
ades 0 0 0 0
- Natri - - - -
um Benzoat 0 0 0 0
- Asa - - - -
- E. m Asetat 0 0 0 0
coli - Asa - - - -
m Sitrat 0 0 0 0
- Aqu - - - -
- 48 ades 0 0 0 0
Jam - Natri - - - -
um Benzoat 0 0 0 0
- Asa - - - -
- B. m Asetat 0 0 0 0
cereus - Asa - - - -
m Sitrat 0 0 0 0
- Aqu - - - -
ades 0 0 0 0
-
-
-
-
-
-
2. Double Cakram

- Pengukuran Zona
Bening
- Waktu - B - Anti
-
Pengamatan akteri miroba - - -
Rata-
I II III
rata
- 24 - E. - A.
- - - -
Jam coli Asetat +
0,24 0,23 0,25 0,24
Daun Sirih
- A.
Sitrat + - - - -
Bawang 0 0 0 0
Putih
- A. - - - -
Sitrat +
0 0 0 0
Daun Sirih
- Aqu - - - -
ades 0 0 0 0
- N.
Benzoat + - - - -
Kecombran 0 0 0 0
g
- A.
Asetat + - - - -
- B. Kecombran 0 0 0 0
cereus g
- N.
Benzoat + - - - -
Bawang 0 0 0 0
Putih
- Aqu - - - -
ades 0 0 0 0
- 48 - A. -
- - -
Jam Asetat + 0,05
0,02 0,03 0,12
Daun Sirih 7
- A.
Sitrat + - - - -
- E. Bawang 0 0 0 0
coli Putih
- A.
- - - -
Sitrat +
0 0 0 0
Daun Sirih
- Aqu - - - -
ades 0 0 0 0
- B. - N. - - - -
cereus Benzoat + 0 0 0 0
Kecombran
g
- A.
Asetat + - - - -
Kecombran 0 0 0 0
g
- N.
Benzoat + - - - -
Bawang 0 0 0 0
Putih
- Aqu - - - -
ades 0 0 0 0
-
B. Pembahasan
- Pada hasil pengamatan didapatkan hasil bahwa pada inkubasi
selama 24 jam penggunaan single kertas cakram antimikroba bahwa hanya
daun sirih yang memiliki daya hambat pada bakteri, baik pada bakteri E. coli
dan B. cereus, yaitu dengan rata-rata diameter daya hambat sebesar 0,25 cm
pada E. coli dan 0,253 cm pada B. cereus.
- Pada inkubasi selama 48 jam penggunaa single kertas cakram,
hanya daun sirih yang memiliki daya hambat dengan rata-rata 0,25 pada
bakteri E. coli. Namun, pada bakteri B. cereus terlihat bahwa daya hambat
dari daun sirih telah hilang.
- Hasil single cakram untuk kecombrang, bawang, asam sitrat, asam
asetat dan natrium benzoat putih tidak berpengaruh pada mikroba (mikroba
resisten terhadap kecombrang dan bawang putih). Hal ini dikarenakan pada
saat pengeringan kertas cakram terlalu lama atau konsentrasi dari antimikroba
terlalu kecil.
- Pada hasil pengamatan didapatkan hasil bahwa pada inkubasi
selama 24 jam penggunaan double kertas cakram antimikroba bahwa hanya
asam asetat + daun sirih yang memiliki daya hambat pada bakteri, namun
hanya pada bakteri E. coli yaitu dengan rata-rata diameter daya hambat
sebesar 0,24 cm
- Pada inkubasi selama 48 jam penggunaa double kertas cakram,
hanya asam asetat + daun sirih yang memiliki daya hambat yaitu dengan rata-
rata diameter daya hambat 0,057 cm pada bakteri E. coli.
- Pada hasil double cakram terlihat bahwa pengaruh sinergisme tidak
terlihat signifikan, namun seharusnya karena bertambahnya senyawa
antimikroba, sehingga penghambatan pertumbuhan mikroba semakin baik
dan efektif.
- Menurut Durairaj et al. (2009) terdapat zat bioaktif yang berperan
sebagai antibakteri dalam bawang putih adalah allicin yang mudah menguap
(volatil) dengan kandungan sulfur. Komponen bioaktif lainnya adalah
dialildisulfida, dan dialiltrisulfida yang juga memiliki aktivitas antibakteri.
Aktivitas antibakteri bawang putih dapat mengendalikan bakteri-bakteri
patogen, baik Gram negatif maupun positif.
- Penghambatan sebagai antibakteri dari asam organik karena
penurunan pH dibawah kisaran pertumbuhan mikroorganisme dan
penghambatan metabolisme oleh molekul asam yang tak terdisosiasi (Barbut
dalam Hantoro,2012).
-
-
-
-
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
- Dari hasil praktikum diatas, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau
menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara.
Senyawa antimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan
mekanisme daya kerjanya atau tujuan penggunaannya.
2. Antimkiroba alami lebih berpengaruh dalam mempengaruhi pertumbuhan
mikroba dibanding antimikroba sintetis.
3. Interaksi sinergis antimikroba terjadi karena saling melengkapinya
komponen antimikroba sehingga penghambatan mikroba semakin baik.
Namun pada praktikum ini tidak terlihat bahwa interaksi sinergisme
mempengaruhi aktivitasnya mikroba
-
B. Saran
- Untuk praktikum kedepan ya disarankan agar praktikan lebih teliti dan
hati-hati dalam mengukur zona bening dan dalam melalukan setiap acara
praktikum yang ada.
- DAFTAR PUSTAKA

- Andriani, Darmono, dan Widya Kurniawati. 2007. Pengaruh Asam Asetat


dan Asam Laktat sebagai Antibakteri Terhadap Bakteri Salmonella sp. yang
Diisolasi dari Karkas Ayam. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner. Universitas Pancasila Jakarta. Jakarta.
- Arambawela, L., M. Arawwawala dan D. Rajapaksa. 2006. Piper betle: A
Potential Natural Antioxidant. J.Food Sci. And Tech, 41(2): 10-14.
- Buckle, K. A., R. A. Edwards, G. H. Fleet dan M. Wooton. 2007. Ilmu
Pangan. UI Press. Jakarta.
- Direja, Eva H. 2007. Kajian Aktivitas Antimikroba Ekstrak Jintan Hitam
(Nigella sativa L.) Terhadap Bakteri Patogen dan Perusak Pangan. Skripsi.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
- Durairaj, S., S. Srinivasan and P. Lakshmanaperumalsamy. 2009. In Vitro
Antibacterial Activity and Stability of Garlic Extract at Different pH and
Temperature. Elec. J. Biol. 5: 5-10.
- Hidayanti, K. P. Mikroenkapsulasi Hasil Fraksinasi Batang Kecombrang
(Nicolaia speciosa Horan) Bagian Dalam: Penetapan Aktivitas Antibakteri
Mikrokapsul. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman.
Purwokerto.
- Indra. 2008.Mikrobiologi dan Parasitologi I. PT. Citra Aditya Bakti.
Bandung.
- Istianto, T. 2008. Efektivitas Antimikroba Kecombrang (Nicolaia speciosa
Horan): Pengaruh Bagian-bagian Tanaman Kecombrang Terhadap Bakteri
Pathogen Pangan dan Fungi Salak. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas
Jenderal Soedirman. Purwokerto.
- Iyam Siti S, Tajudin. 2003. Khasiat & Manfaat Bawang putih Raja
Antibiotik Alami. Agromedia Pustaka. Jakarta.
- Kaveti, B., L. Tan, Sarnnia, T.S. Kuan dan M. Baig. 2011. Antibacterial
Activity of Piper betle leaves. Int. J. Pharm. Teaching & Practise, 2 (3):
129132.
- Naufalin, R., H. S. Rukmini, T. Yanto, dan Erminawati. 2009. Formulasi dan
produksi pengawet alami dari kecombrang (Nicolaia speciosa Horan).
Laporan Penelitian Hibah Kompetensi. Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi.
- Sudiarto, Fadil .2008. Mikrobiologi Pangan: Penuntun Praktikum. Front
Cover. Departemen Teknologi Hasil Pertanian, Fatemeta IPB.
- Sulistyaningrum, A. 2010. Antimikroba dari Mikrokapsul Ekstrak Batang
Kecombrang: Kajian Variasi Konsentrasi Mikrokapsul dan pH Pada Daging
Sapi Giling Rebus. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal
Soedirman. Purwokerto.
- Syukri, A. 2008. Mikroenkapsulasi Hasil Fraksinasi Batang Kecombrang
(Nicolaia speciosa Horan) Bagian Dalam: Penetapan Sifat Fisikokimia
Mikrokapsul. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman.
Purwokerto.
- Utomo, Eko Prasetya. 2010.
https://ekoprasetya.wordpress.com/2010/05/18/bhan-pengawet-makanan-
yang-aman-di-gunakan-dalam-pengolahan-hasil-pertanian/. diakses pada 12
November 2016.
- LAMPIRAN
-
-
-