Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

RESEPTOR KOLINERGIK (MUSKARINIK & OBAT-OBATNYA)


TUGAS MATAKULIAH FARMAKINETIK & FARMAKODINAMIK
Dosen Pengampu : Zakky Cholisoh

Disusun Oleh :

Hilda Srivaliana Ilham K11016R091

PROGRAM PENDIDIKAN MAGISTER ILMU FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017 / 2018

BAB I
MEKANISME AKSI MOLEKULER OBAT PILOKARPIN
(INTERAKSI OBAT DENGAN RESEPTORNYA)
Fungsi organ spesifik diatur oleh makromolekuler yang bekerja
sebagai pemicu biologis dan dapat mengubah suatu bentuk yang lain.
Fungsi pemicu biologis tergantung pada struktur makromolekuler yang
terlibat. Bila suatu mikromolekuler obat berinteraksi denga gugus
fungsional makromolekuler reseptor, timbul energi yang akan
berkompetisi dengan energi yang menstabilkan makromolekuler tersebut,
terjadi perubahan struktur dan distribusi muatan molekul, menghasilkan
makromolekul denga bentuk konformasi yang baru. Perubahan konformasi
ini merupakan bagian penting dalam sistem pemicu biologis karena dapat
menyebabkan modifikasi fungsi organ spesifik sehingga timbul respons
biologis.
Reseptor obat adalah suatu makromolekul jaringan sel hidup,
mengandung gugus fungsional atau atom-atom terorganisasi, reaktif
secara kimia dan bersifat spesifik, dapat berinteraksi secara reversible
dengna molekul obat yang mengandung gugus fungsional spesifik,
menghaislkan respons biologis yang spesifik pula. Untuk dapat
berinteraksi dengan reseptor spesifik molekukl obat harus memiliki faktor
sterik dan distribusi muatan yang spesifik pula. Interaksi obat-reseptor
terjadi melalui dua tahap yaitu :
a. Interaksi molekul obat dengan reseptor spesifik.
Interaksi ini memerlukan afinitas
b. Interaksi yang dapat menyebabkan perubahan konformasi
makromolekul protein sehingga timbuk respons biologis.
Interaksi obat-reseptor ini memerlukan efikasi (aktivitas intrinsik)
yaitu kemampuan obat untuk mengubah bentuk konformasi
makromolekul protein sehingga dapat menimbulkan reseptor
biologis.
Interaksi obat-reseptor dapat membentuk kompleks obat-reseptor yang
merangsang timbulnya respons biologis, baik respons agonis maupun
antagonis.
Mekanisme timbulnya respons biologis dapat dijelaskan dengan
dengan teori interaksi obat-reseptor. Ada beberapa teori interaksi obat-
reseptor,antara lain adalah teori klasik, teori pendudukan, teori
kecepatan, teori kesesuaian terimbas, teori gangguan makromolekul, teori
pendudukan-aktivasi, konsep kurir kedua, serta teori mekanisme
farmakopor sebagai dasar rancangan obat.
Teori klasik, dijelaskan oleh Crum, Brown dan Fraser (1869)
mengatakan bahwa aktivitas biologis suatu senyawa merupakan fungsi
dari struktur kimianya dan tempat obat berineraksi pada sistem biologis
mempunyai sifat yang karakteristik. Langley (1878), dalam studi efek
antagonis dari atropin dan pilokarpin, memperkenalkan konsep reseptor
yang pertama kali dan kemudian dikembangkan oleh Ehrlich. Ehrlich
(1907) memperkenalkan istilah reseptor dan membuat konsep sederhana
tentang interaksi obat-reseptor yaitu obat dapat menimbulkan efek tanpa
mengikat reseptor. Respons biologis timbul bila ada interaksi antara
tempat atau struktur dalam tubuh yang karakteristik atau sisi reseptor,
dengan molekul asing yang sesuai atau obat dan satu sama lain
merupakan struktur yang saling mengisi.
Teori pendudukan, dijelaskan oleh Clark (1926), memperkirakan
bahwa satu molekul obat akan menempati satu sisi reseptor dan obat
harus diberikan dalam jumlah yang berlebih agar tetap efektif selama
proses pembentukan kompleks. Besar efek biologis yang dihasilkan secara
langsung sesuai dengan jumlah reseptor spesifik yang diduduki oleh
molekul obat. Clark hanya meninjau dari segi agonis saja yang kemudian
dilengkapi oleh Gaddum (1937), yang meninjau dari segi antagonis. Jadi
respons biologis yang terjadi setelah pengikatan obat-reseptor dapat
merupakan:
1. Rangsangan aktivitas (efek agonis)
2. Pengurangan aktivitas (efek antagonis)
Antagonis obat tidak hanya penting untuk merancang obat atau dalam
membuata komposisi obat tetapi juga digunakan secara luas karena
banyak aksi obat berdasarkan antagonis dengan agonis endogen, seperti
biokatalis, hormon dan neurotransmiter atau kemungkinan bekerja
sebagai antimetabolit terhadap metabolit penting pada proses biokimia.
Tujuan rancangan senyawa agonis dan antagonis adalah untuk
mengembangkan antagonis spesifik terhadap biokatalis utama atau
metabolit endogen. Contoh : asetilkolin dan senyawa kolinergik.
Teori kecepatan, dijelaskan oleh Croxatto dan Huidobro (1956),
menyatakan bahwa obat hanya efisien pada saat berinteraksi denga
reseptor. Paton (1961) mengatakn bahwa efek biologis dari obat setara
dengan kecepatan ikatan obat-reseptor dan bukan dari jumlah reseptor
yang didudukinya. Senyawa dikatakan agonis bila mempunyai kecepatan
asosiasi atau sifat mengikat reseptor besar dan disosiasi yang besar.
Senyawa dikatakan antagonis bila mempunyai kecepatan asosiasi sangat
besar sedang disosiasinya sangat kecil. Disini pendudukan reseptortidak
efektif karena menghalangi asosiasi senyawa agonis yang produktif.
Senyawa dikatakan agonis parsial bila kecepatan asosiasi dan disosiasinya
tidak maksimal.
Teori kesesuaian terimbas, dijelaskan oleh Koshland (1958),
menyatakan bahwa ikatan enzim dengan substrat dapat menginduksi
terjadinya perubahan konformasi struktur enzim sehingga menyebabkan
orientasi gugus-gugus aktif enzim. Bila perubahan struktur protein
mengarah pada konfigurasi sehingga obat terikat kurang kuat dan mudah
terdisosiasi, terjadi efek agonis. Bila interaksi obat-protein mengakibatkan
perubahan struktur protein sehingga obat terikat cukup kuat, terjadi efek
antagonis.
Teori gangguan makromolekul, dijelaskan oleh Belleu (1964),
meperkenalkan teori model kerja obat yang disebut teori gangguan
makromolekul. Menurut belleu, interaksi mikromolekul obat dengan
makromolekul protein (reseptor) dapat menyebabkan terjadinya
perubahan bentuk konformasi reseptor sebagai berikut :
1. Specifik Conformational Pertubation (SCP)
2. Non Specific Conformational Peturbation (NSCP)
Obat agonis adlaha obat yang mempunyai aktivitas intrinsik dan dapat
mengubah struktur reseptor menjadi bentuk SCP sehingga menimbulkan
respon biologis. Obat antagonis adalah obat yang tidak mempunyai
aktivitas intrinsik dan dapat mengubah struktur reseptor menjadi bentuk
NSCP sehingga menimbulkan efek pemblokan.
Teori pendudukan-aktivasi, dijelaskan oleh Ariens dan Rodrigues de
Miranda (1979), mengemukakan teori pendudukan-aktiivasi dari molekul
dua keadaan yaitu bahwa sebelum berinteraksi dengan obat, reseptor
berada dalam kesetimbangan dinamik antara dua keadaan yang berbeda
fungsi
Konsep kurir kedua menjelaskan bahwa reseptor dari banyak
hormon berhubungn erat dengan sistem adenil siklase. Sebagai contoh,
katekolamin, glukagon, hormon paratiroid, serotonin dan histamin telah
menunjukkan pengaruhnya terhadap siklik-AMP. Interaksi hormon-reseptor
dapat menignktkan atau menurunkan kadar siklik-AMP dalam intrasel,
tergantung pada rangsangan atau hambatan dari adenil siklase. Bila
rangsanga tersebut meningkatkan kadar siklik-AMP, hormon dianggap
sebagai kurir pertama, sedangkan siklik-AMP sebagai kurir kedua. Turunan
xantin dan teofilin, juga dapat menghambat secara kompetitif siklik
nukletida fosfodisterase (PDE), suatu enzim yang mengkatalis perubahan
siklik-AMP menjadi 5-AMP. Pemberian turunan tersebut akan
meningkatkan kadar siklik-AMP dalam jaringan.
Teori meknisme dan farmakofor sebagai dasar rancangan obat
dapat diilustrasikan oleh obat antihipertensi penghambatkompetitif enzim
pengubah angiotensin. Sebagai contoh adalah kaptopril dan turunannya
dapat menghambat secara kompetitif enzim pengubah angiotensin,
sehingga mencegah perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II,
senyawa yang dapat menimbulkan peningkatan tekanan darah
(Siswandono, dkk. 2008).
Obat-obat agonis kolinergik bakerja langsung Betanekol. *Kerja muskariniknya
sangat kuat, *meningkatkan motilitas usus, *merangsang otot detrusor kandung kemih,
*Merelaksasi otot trigonum dan sfingter urin , sehingga urin keluar.Oleh sebab itu betanekol
digunakan untuk pengobatan urologi, Digunakan untuk merangsang kandung kemih akibat
retensi urin pasca persalinan atau pasca operasi. Efek samping betanekol dapat meningkatan
aktivitas kolinergik umum seperti berkeringat, salivasi, kemerahan, penurunan tekanan darah,
mual, nyeri abdomen, diare dan bronkospasme. 3. Pilokarpin. * Menunjukkan aktifitas
muskarinik * Digunakan untuk oftalmologi. * Digunakan untuk terapi pada glaukoma. Efek
samping dapat mencapai otak dan menimbulkan gangguan SSP. Obat ini merangsang keringat
dan salivasi yang berlebihan. (http://ffarmasi.unand.ac.id).
Reseptor muskarinik termasuk dalam reseptor otonom yang
parasimpatomimetik. ligannya adalah asetilkolin. Reseptor muskarinik
terdiri dari M1, m2, M3 M4 dan M5. Reseptor M3 itu ada pada kelenjar
eksokrin. Contoh dari eksokrin adalah kelenjar keringat dan pembuluh
darah. Apabila eksokrin dirangsang, maka akan terjadi vasokonstriksi.
Reseptor muskarinik termasuk dalam jenis reseptor G. Reseptor G
memiliki 7 lipatan dan ligannya akan menempaati pada lipatan yang
ketiga.reseptor adrenergik juga memilki jenis yang sama, yaitu sama-
sama jenis reseptor G.namun, kalau reseptor adrenergik itu termasuk
dalam saraf otonom yang simpatik, sedangkan muskarinik termasuk yang
parasimpatik. Contoh obat yang merangsang reseptor muskarinik adalah
pilokarpin dan karbakol. Sedangkan yang menghaambat reseptor
muskarinik adalah atropin. Apabila reseptor muskarinik diarangsang,
maka akan mengeluarkan ion kalsium. Ion kalsium ini akan menempel
pada otot sehingg akan terjadi rangsangan pada otot polos.
Pilokarpin adalah obat kolinergik, yaitu obat yang meniru efek dari
bahan kimia, asetilkolin yang diproduksi oleh sel-sel saraf. Asetilkolin
berfungsi sebagai utusan antara sel-sel saraf dan antara sel-sel saraf dan
organ-organ mereka kontrol. Misalnya, asetilkolin bertanggung jawab
untuk menyebabkan kelenjar ludah untuk membuat air liur dan lakrimal
kelenjar untuk membuat air mata untuk melumasi mata. Selain
dampaknya pada saliva dan kelenjar lakrimal, asetilkolin mengurangi
produksi cairan di dalam mata. Pilocarpine tetes mata telah digunakan
selama bertahun-tahun untuk mengobati glaukoma, suatu kondisi di mana
tekanan di dalam cairan dari mata adalah abnormal dan akhirnya merusak
mata dan impares visi (Goodman and A. Gilman. 1975).
Pilocarpine adalah senyawa amonium kuartener bermuatan positif.
Dalam dosis yang tepat, dapat meningkatkan sekresi kelenjar eksokrin.
Kelenjar keringat, ludah, lakrimal, lambung, pankreas, dan usus serta sel
mukosa saluran pernapasan dapat distimulasi. Bila dioleskan secara
topikal ke mata sebagai dosis tunggal, dapat menyebabkan miosis, dan
kenaikan tekanan intraokular sementara. Stimulasi otot polos yang
berhubungan dengan dosis dari saluran usus dapat menyebabkan
peningkatan motilitas, kejang, dan tenesmus.
Bradycardia dan takikardia keduanya telah dilaporkan dengan
penggunaan pilocarpine. Pilocarpine Base adalah alkaloid alami yang
diekstraksi dari tanaman genus Pilocarpus dengan aktivitas agonis
kolinergik. Sebagai agen parasimpathomimetic kolinergik, pilocarpin
terutama berikatan dengan reseptor muskarinik, sehingga mendorong
sekresi kelenjar eksokrin dan merangsang otot polos di bronkus, saluran
kemih, saluran empedu, dan saluran usus. Bila dioleskan secara topikal ke
mata, agen ini merangsang pupil untuk berkontraksi, menghasilkan
miosis; Merangsang otot siliaris untuk berkontraksi, mengakibatkan
kejangnya akomodasi; Dan dapat menyebabkan kenaikan tekanan
intraokular .
Pilocarpine hydrochloride adalah agen parasimpathomimetic
kolinergik langsung yang bekerja melalui stimulasi langsung reseptor
muskarinik dan otot polos seperti kelenjar iris dan sekretori. Pilocarpine
mengontraksikan otot siliaris, menyebabkan ketegangan meningkat pada
pemacu skleral dan pembukaan ruang jahitan trabekuler untuk
memfasilitasi perpindahan humor berair.Resistansi arus keluar berkurang,
menurunkan tekanan intraokular (IOP). Pilocarpine juga menghasilkan
miosis melalui kontraksi otot sfingter iris. Miosis mengurangi penyempitan
dan penutupan sudut akseptor, yang menurunkan IOP pada beberapa
jenis glaukoma sudut-penutupan.
Ga mb ar 1. Re se pt or k oli ne rg ik mus ka ri ni k

Aktivasi protein G oleh menyebabkan terjadinya produksi second


messenger, yaitu protein kinase. Menyebabkan terbukanya kanal ion
K,nsehingga ion K keluar dari intraseluler ke ekstraseluler.

BAB II
FARMAKOKINETIK OBAT PILOKARPIN
Farmakokinetik: Mula kerjanya cepat, efek puncak terjadi antara 30-60 menit dan
berlangsung selama 4-8 jam. Mekanisme Kerja Obat: Meningkatkan aliran keluar akuos
karena adanya kontraksi badan siliar. Hal itu mengakibatkan penarikan tapis sklera dan
penguatan clamp trabekula. Pada glaukoma sudut tertutup, efek miotik dari obat melepaskan
blok pupil dan juga menarik iris menjauh dari sudut bilik mata depan. 4bat ini meningkatkan
aliran keluar melalui trabekula. Indikasi: Glaukoma sudut terbuka kronis (glaukoma simpel
kronis), glaukoma sndut tertutup akut, glaukoma sudut tertutup sinekia kronis (setelah
dilakukan iri, dektomi perifer), glaukoma sekunder akibat blok pupil dan setelah operasi
il:iudialisis. Kontraindikasi: Glaukoma inflamasi, glaukoma malignan dan riwayat alergi.
Etek Samping: Efek sampins okular bzruna keratitis pungtata superfisial. spasme otot siliar
yang menyebabkan miopia, miosis, kemungkinan retinal detachment, progresifitas katarak
dan toksisitas endotel kornea_ Efek samping sistemik termasuk berkeringat, aktivitas
gastrointestinal yang meningkat, salivasi, nausea tremor, nyeri kepala, bradikardi dan
hipotensi. Dosis: Tersedia dalam bentuk larutan topikal, ocuserts dan gel. Pada sediaan
larutan mata tersedia dua macam bentuk garam pilokarpin yaitu: 1.Pilokarpin hidroklorida
dalam sediaan 0,25%, 0,50%, 1%, 2%, 3%, 4%, 6%, 8% dan 10% tetes mata. 2. Pilokarpin
nitrat dalam sediaan 1%, 2%, dan 4% tetes mata. Diberikan 1-2 tetes, 3-4 kali sehari.
Konsentrasi yang umumnya digunakan adalah 0.5 - 4 %. Awitan efek miotik dimulai 10-30
menit dan lama kerja adalah 6 jam. Obat ini biasanya diberikan setiap 6 jam sekali (Rova
Virgana . 2007).
BAB III
PENGGUNAAN SECARA KLINIS
Di dalam klinik beberapa obat parasimpatomimetik digunakan dalam terapi beberapa
penyakit dan gangguan kesehatan seperi glaukoma, gangguan motilitas saluran cerna,
myasthenia gravis, dan retensio urin fungsional, . Pada narrow angel glaucoma obat
parasimpatomimetik berefek kontraksi otot siliare dan iris (pars sirkularis iridis) sehingga
ruang intertrabeculae yang membentuk kanal Schelmn melebar dan aliran humor aqueous
lebih lancar, tekanan intraokuler turun. Biasanya, diberikan metakolin 2%, karbakol 3% atau
pilokarpin 4% tetes mata. Gangguan gerak saluran cerna dan urin dapat diterapi dengan obat
parasimpatomimetik jika gangguan itu tidak disertai obstruksi dengan menaikkan tonus dan
kontraksi otot polos saluran itu. Untuk ganguan saluran cerna digunakan betanekol 10-15 mg
3-4 kali sehari peroral dan pada retensio urin neurogenik betanekol diberikan secara suntikan
subkutan 5 mg, kalau perlu dapat diulangi sesudah 30 menit. Dapat juga diberikan neostigmin
subkutan dosis 0,5-1 mg. (Anna. 2010)
Pilocarpine adalah miotic yang digunakan untuk glaukoma terutup
atau sudut sempit. Melalui tindakan miotic, pilokarpin menekan blok
papiler. Efek samping lokal signifikan, mempengaruhi kualitas hidup
pasien. Karena itu, pilocarpine intens dipelajari dan beberapa bentuk
administrasinya dikembangkan, bertujuan untuk mencapai aksi
farmakologi dari zat aktif dengan konsentrasi minimum yang mungkin dan
berkepanjangan.
(Ttaru CP*, Purcrea VL. 2012 ).
BAB IV
TOKSISITAS
Keracunan obat direct acting parasympathomimetics (misalnya pilokarpin, muskarin)
timbul gejala mual, muntah, diare, hipersalivasi, banyak berkeringat, sesak nafas dan
gangguan penglihatan sebagai akibat stimulasi r-M . Pada keracunan obat
parasimpatomimetik beraksi langsung seperti muskarin dan pilokarpin, timbul gejala yang
berkaitan dengan stimulasi r-M seperti hipersekresi kelenjar eksokrin (hipersalivasi,
lakrimasi, hipersekresi kelenjar saluran nafas dan saluran cerna), bronkokonstriksi,
hipermotilitas saluran cerna dan kontraksi muskulus detrusor vesicae. Terapi keracunan ini
dengan obat antimuskarinik seperti atropin untuk memblok r-M pada organ itu (Anna. 2010).
Dari datasheets.scbt.com didapatkan data LD 50 pada tikus yang diberi suntikan
pilokarpin secara intraperitoneal adalah 203mg/kg, 230mg/kg untuk suntikan melalui
subcutaneus (tikus), 200mg/kg oral (mencit), 155 mg/kg intraperitoneal (mencit), 200 mg/kg
subcutaneus (mencit) dan 150 mg/kg intravena (mencit). Efek samping yang muncul berupa
efek parasimpatomimetik seperti ; pusing, gangguan peng;ihatan, lakrimasi, kesulitan
bernafas, spasm gastrointestinal, mual, muntah, diare, takikardi, bradikardi, hipotensi,
hipertensi, shock, aritmia jantung, dan tremor.
DAFTAR PUSTAKA

Anna. 2010. Autonomic Drugs Prof Ngatidjan ELS .


https://misc09.files.wordpress.com/2010/10/autonomic-drugs.pdf. diakses pada 30 maret
2017

Goodman, L.S., and A. Gilman. 1975.,The Pharmacological Basis of Therapeutics. 5th ed.
New York: Macmillan Publishing Co., Inc., p. 472

Rova Virgana . 2007 .OCULAR PHARMACOTHERAPY IN GLAUCOMA.


http://repository.unpad.ac.id/8436/1/ocular_pharmacotherapy_in_glaucoma.pdf. diakses pada
30 maret 2017

Siswandono, dkk. 2008. Kimia medisinal. Surabaya. Airlangga University Press

Ttaru CP*, Purcrea VL. 2012. Antiglaucoma pharmacotherapy. Bucharest.

http://www.zuniv.net/physiology/book/chapter6.html#3. The Parasympathetic System.


Diakses pada 5 mei 2017

Anda mungkin juga menyukai