Anda di halaman 1dari 13

Makalah Bahasa Indonesia

Karangan

Disusun oleh :
1 Gita Sari Dewi
2 Muhammad Fadli Padillah
3 Sirjul Kahfi

Teknik Komputer
Universitas Gunadarma
Depok, 2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sebagai bagian dari kegiatan berbahasa, menulis berkaitan erat dengan aktivitas
berpikir. Menurut Syafieie (1988:42), secara psikologis menulis memerlukan kerja
otak, kesabaran pikiran, kehalusan perasaan dan kemauan yang keras. Menulis dan berpikir
merupakan dua kegiatan yang dilakukan secara bersama dan berulang-ulang. Dengan kata
lain, tulisan adalah wadah yang sekaligus merupakan hasil pemikiran. Melalui kegiatan
menulis, penulis dapat mengkomunikasikan pikirannya. Melalui kegiatan berpikir, penulis
dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis.

Mengemukakan gagasan secara tertulis tidaklah mudah. Di samping dituntut


kemampuan berpikir yang memadai, juga dituntut berbagai aspek terkait lainnya, misalnya
penguasaan materi tulisan, pengetahuan bahasa tulis dan motivasi yang kuat. Untuk
menghasilkan tulisan yang baik, setiap penulis hendaknya memiliki tiga keterampilan dasar
dalam menulis, yaitu keterampilan berbahasa, keterampilan penyajian, dan keterampilan
pewajahan. Ketiga keterampilan ini harus saling menunjang atau isi-mengisi. Kegagalan
dalam salah satu komponen dapat mengakibatkan gangguan dalam menuangkan ide secara
tertulis.

Karangan adalah suatu karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk
mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk
dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi,
deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

Kerangka karangan adalah rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari
suatu karangan yang akan ditulis, dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara
sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur. Kerangka karangan dibuat untuk
mempermudah penulisan agar tetap terarah dan tidak keluar dari topik atau tema yang
dituju. Pembuatan kerangka karangan ini sangat penting, terutama bagi penulis pemula, agar
tulisan tidak kaku dan penulis tidak bingung dalam melanjutkan tulisannya.

Mengingat hal ini sangatlah penting untuk dibahas, maka penulis mengambil judul
dalam makalah ini adalah Menulis Karangan yang akan dibahas dalam bab selanjutnya.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan mengarang atau karangan ?
2. Apa sajakah jenis-jenis karangan itu ?
3. Bagaimanakah langkah-langkah mengarang yang baik dan benar ?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN MENGARANG DAN KARANGAN

Mengarang berarti menyusun atau merangkai, pada awalnya kata merangkai tidak
berkaitan dengan kegiatan menulis. Operasional atau cakupan makna kata merangkai mula-
mula terbatas pada pekerjaan yang berhubungan dengan benda konkret seperti merangkai
bunga atau merangkai benda orang lain. Sejalan dengan kemajuan komukasi dan bahasa,
lama-kelamaan timbul istilah merangkai kata. Lalu berlanjut dengan merangkai kalimat,
kemudian jadilah apa yang disebut sebagai karangan. Orang yang merangkai atau menyusun
kata, kalimat dan alinea tidak disebut perangkai. Tetapi penyusun atau pengarang untuk
membedakannya dengan perangkai bunga. Belakangan muncul sebutan penulis karena
karangan tertulis juga disebut tulisan.
Sebenarnya mengarang tidak hanya dan tidak harus tertulis. Seperti halnya
berkomunikasi, kegiatan mengarang juga menggunakan bahasa sebagai mediumnya dapat
berlangsung secara lisan. Seseorang yang berbicara misalnya, dalam sebuah diskusi atau
berpidato secara serta merta (improntu) otaknya terlebih dahulu harus mengarang sebelum
mulutnya berbicara.
Penulis berpendapat bahwa mengarang adalah pekerjaan merangkai kata, kalimat,
atau paragraf dalam rangka menjabarkan atau mengulas topik dan tema tertentu untuk
memperoleh hasil akhir berupa karangan. Untuk bahan perbandingan, disini dikutipkan
pendapat Widyanmartaya dan Sudiati (1911:77). Menurut keduanya , mengarang adalah
keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan
menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami.
Jadi karangan adalah hasil penjabaran suatu gagasan secara resmi dan teratur tentang
suatu topik atau pokok bahasan. Setiap karangan yang ideal pada prinsipnya merupakan
uraian yang lebih tinggi atau lebih luas dari paragraf. Selain itu, karangan juga mempunyai
arti lain yaitu bentuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam
satu kesatuan tema yang utuh. Karangan diartikan pula dengan rangkaian hasil pemikiran
atau ungkapan perasaan ke dalam bentuk tulisan yang teratur.

B. JENIS - JENIS KARANGAN

1. Berdasarkan Bentuknya
a. Puisi, adalah karangan yang mengutamakan keindahan bentuk dan bunyi serta kepadatan
makna. Puisi pada umunya berbentuk monolog.
b. Drama, adalah karangan yang berupa dialog sebagai pembentuk alurnya.

2
c. Prosa, adalah jenis karangan yang disusun secara bebas dan terperinci.
Bentuknya merupakan percangkokan monolog dengan dialog. Prosa terbagi
dalam dua macam :
1) Fiksi, adalah karangan yang disusun dalam bentuk alur yang menekankan aturan
sistematika perceritaan. Contohya : novel dan cerpen.
2) Nonfiksi, adalah karangan yang menekankan aturan sistematika ilmiah, dan
aturan-aturan kelogisan. Contohnya: essay, laporan penelitian, dan biografi.

2. Berdasarkan Cara Penyajiannya


a. Karangan narasi, adalah karangan yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian
dengan tujuan agar pembaca seolah-olah mengalami kejadian yang diceritakan itu.
b. Karangan deskripsi, adalah karangan yang menggambarkan suatu objek dengan tujuan
agar pembaca merasa seolah-olah melihat sendiri objek yang digambarkan itu.
c. Karangan eksposisi, adalah karangan yang memaparkan sejumlah pengetahuan
atau informasi. Tujuannya agar pembaca mendapat informasi dan pengetahuan dengan
sejelas-jelasnya. Dikemukakan data dan fakta untuk memperjelas pemaparan.
d. Karangan argumentasi, adalah karangan yang bertujuan untuk membuktikan suatu
kebenaran sehingga pembaca meyakini kebenaran itu. Pembuktian memerlukan data dan
fakta yang meyakinkan.
e. Karangan persuasi, adalah karangan yang bertujuan untuk mempengaruhi pembaca.
Karangan ini pun memerlukan data sebagai penunjang.

3. Berdasarkan Masalah yang Disajikannya


a. Karangan populer, adalah karangan yang membahas peristiwa sehari-hari dengan
menggunakan ragam bahasa yang biasa digunakan masyarakat pada umumnya.
b. Karangan ilmiah, adalah karangan yang membahas masalah-masalah yang berkain
dengan disiplin ilmu tertentu. Ragam bahasa yang digunakan bersifat teknis yang
hanya dapat dipahami masyarakat tertentu.
c. Karangan ilmiah populer, adalah karangan yang membahas masalah-masalah keilmuan
dengan menggunakan ragam bahasa yang dipahami masyarakat pada umumnya.
d. Surat merupakan karangan yang mengupas beragam persoalan dalam berbagai
kepentingan tertentu. Pembacanya dinyatakan secara khusus.
e. Karangan sastra, adalah karangan yang berisi cerita rekaan dengan bahasa, gaya, citra
dan rasa yang indah. Cerita-cerita yang dinyatakannya lebih bersifat individual.

C. Langkah-langkah Mengarang
Penyusunan karangan sebaiknya dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1. Menentukan Topik, Tema, dan Tujuan Karangan


Topik berasal dari kata Yunani topoi, yang berarti tempat. Dalam perkembangan
selanjutnya, topik diartikan sebagai pokok pembicaraan suatu karangan.

3
Berdasarkan topik itulah, penulis menempatkan tujuan beserta tema karangannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, topik sering dikacaukan pemakaiannya dengan istilah
tema. Menurut asal katanya, tema merupakan kata Yunani tithenai, yang berarti
menempatkan. Dari segi proses penulisan karangan, tema dan topik memiliki rumusan yang
berlainan walaupun nantinya apa yang dirumuskan keduanya memiliki hakikat yang sama.
Apabila topik bermakna pokok karangan, maka tema diartikan sebagai suatu
perumusan dari topik yang dijadikan landasan penyusunan karangan. Berdasarkan pengertian
tersebut, jelaslah bahwa topik lebih singkat dan lebih abstrak daripada tema. Topik
dirumuskan lebih dahulu dari tema.
Untuk merumuskan topik yang baik dipergunakan ukuran berikut.
a. Menarik Perhatian Penulis
Topik yang menarik perhatian penulis akan memungkinkan penulis berusaha untuk
secara serius mencari data yang penting dan relevan dengan masalah yang ia karang. Penulis
akan terdorong terus-menerus agar karangannya itu dapat diselesaikan dengan sebaik-
baiknya. Sebaliknya, suatu topik yang sama sekali tidak disenangi dapat menimbulkan
kesalahan apabila terdapat hambatan-hambatan. Penulis tidak akan berusaha menemukan data
dan fakta dalam memecahkan persoalan-persoalan yang ia hadapi.
b. Dikuasai Penulis
Topik yang dikerjakan harus dikuasai penulis. Sekurang-kurangnya ia mengetahui
hal-hal mendasar dari persoalan yang hendak dikarangnya. Idealnya, topik itu merupakan
sesuatu yang lebih diketahui penulis daripada pembacanya.
c. Menarik Dan Aktual
Suatu karangan disusun tidak lain untuk dibaca oleh orang lain. Oleh karena itu, minat
pembaca merupakan hal penting yang harus diperhatikan penulis. Walaupun yang menarik
minat itu amat bergantung pada situasi dan latar belakang pembaca itu sendiri, namun hal- hal
berikut merupakan sesuatu yang diminati masyarakat secara umum, antara lain: yang aktual,
penting, penuh konflik, rahasia, humor atau hal-hal lain yang bermanfaat bagi pembaca.
d. Ruang Lingkupnya Terbatas
Apabila topik itu terlalu luas, pembahasannya akan dangkal. Pada akhimya karangan
itu tidak menarik bagi pembaca. Pembatasan ruang lingkup topik, memungkinkan penulis
untuk mengarang dengan penuh keyakinan dan kepercayaan diri. Pembatasan topik dapat
memberikan kesempatan bagi penulis untuk menelaah dan meneliti masalah yang akan
ditulisnya secara intensif.

2. Merumuskan Judul Karangan


Erat kaitannya dengan topik atau tema serta tujuan karangan adalah judul. Apabila
topik merupakan gagasan pokok yang akan dibahas, maka judul merupakan nama yang
diberikan untuk bahasan atau karangan itu. Judul berfungsi pula sebagai slogan promosi
untuk menarik minat pembaca dan sebagai gambaran isi karangan. Sering kali judul
dirumuskan lebih dulu sebelum karangan dibuat.

4
Namun demikian, judul dapat pula dirumuskan setelah karangan itu selesai. Judul yang baik
harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
a. Relevan ada hubungannya dengan isi karangan.
b. Provokatif dapat menimbulkan hasrat ingin tahu pembaca.
c. Singkat mudah dipahami dan enteng diingat.

3. Menyusun Kerangka Karangan


Kerangka karangan adalah rencana kerja yang memuat garis besar suatu karangan.
Manfaat kerangka karangan:
a. Memudahkan penyusunan karangan sehingga karangan menjadi lebih sistematis dan
teratur.
b. Memudahkan penempatan antara bagian karangan yang penting dengan yang tidak
penting.
c. Menghindari timbulnya pengulangan pembahasan.
d. Membantu pengumpulan data dan sumber-sumber yang diperlukan.

Berdasarkan bentuknya, kerangka karangan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :


A. Kerangka Kalimat
Kerangka kalimat merupakan suatu bentuk kerangka karangan yang berupa
pernyataan- pernyataan lengkap yang perumusannya berupa kalimat berita atau kalimat
tanya.
B. Kerangka Topik
Kerangka topik dinyatakan dalam kata atau frase. Dari segi kejelasannya, kerangka
topik tidak sejelas kerangka kalimat. Namun demikian, kerangka topik sifatnya lebih longgar
dan tidak kaku. Penyusunannya pun lebih mudah.

4. Mengumpulkan Bahan/Data
Untuk memperkaya pemahaman dan pengetahuannya, seorang penulis harus
mengumpulkan data, informasi, atau pengetahuan tambahan yang berkaitan dengan
tema karangan. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan membaca bahan acuan tertentu
mengadakan wawancara, atau pengamatan lapangan. Kita dapat langsung mengamati objek
yang akan kita karang dan dapat pula kita mengadakan percobaan. Kedua cara tersebut
penting dilakukan agar data yang kita peroleh lebih mantap dan tidak meragukan.
Semua bahan yang kita peroleh, kita catat supaya tidak mudah dilupakan. Catatan
harus rapi dan teratur sehingga mudah dalam pemanfaatannya.
Tiap-tiap data yang kita peroleh kita catat di atas kartu atau lembaran kertas yang
mudah kita susun menurut keperluan kita dan mudah pula menyisihkannya jika sebuah
catatan ternyata tidak kita perlukan lagi. Buku tulis dapat juga kita pakai, tetapi tidak praktis,
sebab halamannya terikat dan tidak mudah disusun.

5
5. Mengembangkan Kerangka Karangan
Langkah berikutnya adalah mengembangkan kerangka karangan itu menjadi karangan
yang lengkap dan utuh.
Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan
dalam pengembangan karangan, di antaranya adalah dengan pola pengembangan urutan
pemecahan masalah. Bila pola ini yang dipilih, maka penyusunan karangan dimulai dari
penyajian masalah tertentu. Kemudian, pembahasannya bergerak menuju analisis dan
kesimpulan - kesimpulan.
Dengan demikian, karangan berpola urutan pemecahan masalah dibentuk oleh tiga bagian
utama, yaitu:
a. Deskripsi mengenai suatu masalah yang akan dibahas.
b. Analisi terhadap sebab-sebab atau akibat-akibat dari masalah itu.
c. Alternatif atau kesimpulan sebagai pemecahan masalah.

6. Cara Pengakhiran dan Pcnyimpulan


Baik itu pengakhiran maupun penyimpulan, sama-sama terletak pada bagian penutup
suatu karangan. Dengan demikian, dari segi letak keduanya memiliki persamaan. Bedanya
dalam hal fungsi dan cara perumusannya. Pengakhiran merupakan bagian bacaan yang
fungsinya menandakan bahwa bacaan itu selesai atau sudah berakhir. Bagian pengakhiran
masih merupakan fungsinya sebagai penutup dari suatu perincian. Hubungan bagian
pengakhiran bagian sebelumnya terbentuk dalam pola umum-khusus.
Hal ini berbeda dengan bagian penyimpulan yang umumnya terletak pada bagian
akhir suatu karangan. Hanya saja, kesimpulan berfungsi pula sebagai pemaknaan kembali
atas uraian-uraian sebelumnya. Hubungan antara bagian kesimpulan dengan bagian
sebelumnya bersifat khusus-umum. Bagian tersebut merupakan sebuah generalisasi dari
uraian sebelumnya.

Contoh:
Kalau kamu adalah salah seorang pengurus OSIS atau organisasi lainnya, sebaiknya kamu
memanfaatkan kesempatan itu untuk latihan komunikasi di depan tak perduli sebatas apa
kemampuanmu dalam menggunakan kata-kata. Bila pertamakali kamu berbicara terpatah-
patah dan sedikit deg-degan, itu hal biasa. Lama-kelamaan kamu akan terbiasa dengan
latihan semacam itu. Apalagi kalau kamudiundang seminar, acara diskusi, atau rapal
lainnya, berbahagialah kamu dan kamu manfaatkan kesempatan itu untuk mengasah
lidahmu agar terbiasa dan dan lancar untuk mengeluarkan mengeluarkan pendapat pada
orang lain.

Paragraf di atas fungsinya hanya sebagai penanda bahwa uraian atas bacaan yang berjudul
Remaja dan Aprehensi Komunikasi sudah berakhir. Dalam paragraf tersebut tidak
ditemukan rumusan kesimpulan.
6
7. Menyempurnakan Karangan
Menyusun karangan baik itu karangan ilmiah, populer maupun karangan sastra yang
sekali jadi memang cukup sulit. Kecuali bagi yang sudah betul-betul ahli, sangat jarang orang
bisa menyusun karangan yang langsung sempurna.

Ada saja kesalahan atau kekeliruan yang harus diperbaiki, baik itu dengan sistematika
penulisan, kelogisan ide atau istilah yang digunakan dan ejaannya. Karena itu pembahasan
dan peninjauan ulang atas karangan yang telah dibuat merupakan sesuatu
yang penting dilakukan.

8. Penggolongan Karangan Menurut Bobot Isinya


Berdasarkan bobot isinya, karangan dapat dibagi atas tiga jenis. yaitu
(1) karangan ilmiah
(2) karangan semi-ilmiah atau ilmiah populer
(3) karangan non-ilmiah

Yang tergolong ke dalam karangan ilmiah antara lain adalah laporan, makalah, skripsi, tesis,
dan disertasi. Sementara itu, yang tergolong ke dalam karangan semi- ilmiah antara lain
adalah artikel, editorial, opini, feature, tips, dan reportase. Selanjutnya, yang tergolong ke
dalam karangan non-ilmiah antara lain adalah anekdot, hikayat, cerpen, novel, roman, puisi.
dan naskah drama.
Ketiga jenis karangan tersebut tadi memiliki karakteristik yang berbeda. Karangan
ilmiah memiliki aturan baku dan sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut metode dan
penggunaan bahasa. Kebalikan dari karangan ilmiah adalah karangan non-ilmiah. yaitu
karangan yang tidak terikat pada aturan baku. Sementara itu, karangan semi-ilmiah berada di
antara keduanya.
Yang akan dibahas dalam buku ini hanya dua jenis karangan pertama saja, yaitu
karangan ilmiah dan semi-ilmiah/populer karena kedua jenis karangan inilah yang banyak
diperlukan oleh mahasiswa.
Antara karangan ilmiah dan karangan ilmiah populer tidak banyak perbedaan yang
mendasar. Perbedaan yang paling jelas hanya pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi
karangan. Jika pada Karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus di bidang
ilmu tertentu pada karangan ilmiah populer bahasa yang terlalu teknis tersebut kadang-
kadang dihindari dan sebagai gantinya digunakan istilah umum.

9. Sistematika Karangan
Secara umum bagian-bagian karangan itu sama, yaitu adanya bagian awal, bagian inti,
dan bagian penutup. Akan tetapi, dalam materi perkuliahan ini hanya ditampilkan bagian-
bagian makalah almiah. Fokus kajian adalah pengembangan isi bagian-bagian atau isi
sistematika makalah, khususnya bagian inti.
7
a. Bagian Awal

1. Halaman Sampul dan Halaman Judul


1) Judul atau nama karangan. Halaman judul mencantumkan narru karangan, penjelasan
adanya tugas, nama pengarang, kelengkapan indentitas pengarang (nomor induk/registrasi,
klas, nomor absen). nama unit studi (unit kerja), nama lembaga (jurusan, fakultas,
universitas), nama kota, dan tahun penulis.
2) Untuk memberikan daya tarik pembaca, penyusunan judul perlu memeperhatikan unsur-
unsur sebagai berikut.
(1) Judul menggambarkan keseluruhan isi karangan.
(2) Judul harus menarik pembaca, baik makna maupun penulisannya.
(3) Sampul berisi nama karangan, penulis, dan penerbit.
(4) Halaman judul berisi nama karangan, penjelasan adanya tugas, penulis, dan
penerbit.
(5) Seluruh frasa ditulis pada posisi tengah secara simetris (untuk karangan formal)
atau model lurus pada margin kiri (untuk karangan yang tidak terlalu formal)
(6) Bagian-bagian yang tertulis pada halaman judul:
a. Judul diketik dengan huruf kapital
b. Penjelasan tentang tugas disusun dalam bentuk kalimat.
Misalnya:
Makalah ini disusun untuk melengkapi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia Semester
Ganjil 2013
c. Nama penulis ditulis dengan huruf kapital. Kemudian, di bawah nama dituliskan Nomor
Induk Mahasiswa (NIM).
Misalnya:
INDAH AYU
1352000294
d. Logo universitas untuk skripsi, tesis dan disertasi, sedangkan makalah ilmiah
tidak harus menggunakan logo.
e. Data institusi. Mahasiswa harus mencantumkan program studi, jurusan, fakultas,
universitas, nama kota dan tahun dengan huruf kapital. Misalnya:
JURUSAN PGSD UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO
2013
8
2. Kata Pengantar
Kata pengantar adalah bagian karangan yang berisi penjelasan mengapa menulis karangan ini
dilakukan. Setiap karangan ilmiah, seperti: buku, skripsi, tesis, disertasi, makalah, atau
laporan formal ilmiah harus menggunakan Kata Pengantar. Urutan cara penulisan dan unsur-
unsur informasi yang harus dicantumkan dalam kata pengantar adalah sebagai berikut.
1) Ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
2) Penjelasan adanya tugas penulisan karya ilmiah
3) Penjelasan pelaksanaan penulisan karya ilmiah
Penjelasan adanya bantuan, bimbingan, dan arahan dari seseorang, sekelompok orang, atau
organisasi/lembaga
5) Ucapan terima kasih kepada seseorang/lembaga yang membantu
6) Harapan penulis atas karangan tersebut
7) Manfaat bagi pembaca serta kesediaan menerima kritik dan saran
Penyebutan nama kota, tanggai, bulan, tahun. Dan nama lengkap penulis, tanpa dibubuhi
tanda tangan. -

Kata pengantar merupakan bagian dari keseluruhan karya ilmiah sehingga sifatnya formal
dan ilmiah. Oleh karena itu, kata pengantar harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang baku
dan benar.
Isi kata pengantar tidak menyajikan isi karangan atau hal-hal lain yang tertulis dalam
pendahuluan, naskah utama, dan kesimpulan. Sebaliknya, apa yang sudah tertulis dalam kata
pengantar tidak ditulis ulang dalam isi karangan.
Hal-hal yang harus dihindari dalam pembuatan kata pengantar:
1) menguraikan isi karangan
2) mengungkapkan perasaan berlebihan
3) menyalahi kaidah bahasa
4) menunjukan sikap kurang percaya diri
5) kurang meyakinkan
6) kata pengantar terlalu panjang
7) menulis kata pengantar semacam sambutan

3. Daftar isi
Daftar isi adalah bagian pelengkapan pendahuluan yang memuat garis besar isi
karangan ilmiah secara lengkap dan menyeluruh dari judul sampai dengan riwayat hidup
penulis sebagaimana lazimnya sebuah konvensi naskah karangan ilmiah. Daftar isi berfungsi
untuk merujuk halaman judul bab, sub bab dan unsur-unsur pelengkap dari sebuah buku yang
bersangkutan.
9
Daftar isi disusun secara konsisten, baik penomoran, penulisan maupun tata letak judul bab
dan sub-sub bab. Konsisten ini dipengaruhi oleh bentuk yang digunakan. Jika menggunakan
angka desimal, angka pertama nomor Bab I pada baris pertama harus diikuti secara lurus
dengan angka pertama nomor Bab II, Bab III, dan seterusnya. Untuk menghasilkan daftar isi
yang baik, perhatikan hal- hal berikut ini.

1) Setiap judul bab dan sub bab disusun secara paralel atau konsisten.
2) Nomor dan penggunan huruf (harus kapital dan huruf kecil) berfungsi sebagai ciri
atau penanda judul bab, sub bab, dan rincian ditulis dengan huruf kapital pada setiap
awai kata, sedangkan kata tugas (misalnya: yang, kepada, dari) ditulis dengan huruf
kecil seluruhnya.
Nomor halaman berfungsi untuk merujuk judul bab, sub bab, dan rincian. Untuk
memudahkan pembacaan, judul dan nomor halaman dihubungkan dengan titik-titik.
Tajuk bab, sub bab, dan rincian harus menggambarkan isi karangan, dan disusun dengan
ragangan.
5) Skripsi dan makalah yang lebih dari 10 halaman harus menggunakan daftar isi.
Daftar isi tidak sama dengan ragangan karangan. Ragangan menggambarkan uraian
(analisis dan sintetis) bagian utama karangan, sedangkan daftar isi mencantumkan
seluruh unsur pelengkap pendahuluan, bagian utama (isi) karangan, dan pelengkap
penutup.

4. Daftar Gambar
Setiap gambar yang tercantum dalam karangan harus tertulis di dalam daftar gambar. Daftar
gambar menginformasikan judul gambar dan nomor halaman.

5. Daftar Tabel
Setiap tabel yang tertulis dalam karangan harus tercantum dalam daftar tabel. Daftar ini
menginformasikan nama tabel dan nomor halaman.

d. Bagian Inti / Utama

1. Pendahuluan
Pendahuluan dalam makalah terdiri dari latar belakang, masalah, tujuan, pembahasan,
dan pembatasan masalah. Keseluruan isi pendahuluan mengantarkan pembaca kepada materi
yang akan dibahas, dianalisis-sintesis, dideskripsi, atau diuraikan. '
a) Latar belakang masalah, menyajikan
1) Penalaran (alasan) yang menimbulkan masalah atau pertanyaar. yang akan diuraikan
jawabnya dalam bab pertengahan antara pendahuluan dan kesimpulan dan di jawab atau
ditegaskan dalam kesimpulan. Untuk itu, arah penalaran harus jelas. Misalnya: deduktif,
sebab-akibat, atau induktif.
10
2) Kegunaan praktis hasil analisis, misalnya memberikan masukan bagi kebijakan pimpinan
dalam membuat keputusan dan memberikan acuan bagi pengembangan sistem kerja yang
akan datang.
3) Pengetahuan tentang studi perpustakaan dengan menggunakan infoimasi mutakhir dari
buku-buku ilmiah. jurnal, atau internet yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Penulis hendaklah mengupayakan penggunaan buku-buku terbitan baru.
4) Pengungkapan masalah utama secara jelas dalam bentuk pertanyaan dengan
menggunakan kata tanya yang menuntut adanva analisis, misalnya Bagaimana pengaruh
teknologi terhadap pelestarian budaya sendiri? Bagaimana hubungan X terhadap Y?
Bagaimana upaya mengatasi kemiskinan masyarakat kumuh di Kelurahan Pulo Gadung?
Mengapa budaya tradisi kurang berkembang?
5) Tidak menggunakan kata apa karena kata tersebut tidak menuntut adanya analisis, tetapi
cukup dijawab ya atau tidak.

b) Tujuan penulisan berisi


1) Target, sasaran, atau upaya yang hendak dicapai, misalnya: mendeskripsikan hubungan X
terhadap Y; membuktikan bahwa budaya tradisi dapat dilestarikan dengan kreativitas baru;
menguraikan pengaruh X terhadap Y.
2) Upaya pokok yang harus dilakukan. misalnya: mendiskripsikan data primer tentang
kualitas budaya tradisi penduduk asli Jakarta; mendeskripsikan data sekunder tentang kualitas
tradisi penduduk asli Jakarta.

Mendeskripsiksn kreativitas baru yang merupakan sinergi budaya tradisi dan teknologi
muktakhir; membuktikan bahwa budaya tradisi dapat dilestarikan dengan kreativitas baru;
membuktikan bahwa pembagunan lingkungan permukiman kumuh yang tidak layak huni
memerlukan bantuan pemerintah.
3) Tujuan utama dapat dirinci menjadi beberapa tujuan sesuai dengan masalah yang akan
dibahas. Jika masalah utama dirinci menjadi dua, tujuan juga dirinci menjadi dua.

2. Inti Karangan
Bagian utama karangan merupakan inti karangan berisi sajian pembahasan masalah.

e. Bagian Penutup
Bagian ini berisi saran, kritik, kesimpulan, daftar pustaka (bagian ini berisi referensi
sumber).
11
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Setelah dibahas dalam bab sebelumnya akhirnya penulis dapat menarik kesimpulan
bahwa Karangan adalah suatu karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan
gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima
jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi,
argumentasi, dan persuasi.
Sedangkan Kerangka karangan adalah rencana penulisan yang memuat garis-garis
besar dari suatu karangan yang akan ditulis, dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun
secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur. Kerangka karangan dibuat untuk
mempermudah penulisan agar tetap terarah dan tidak keluar dari topik atau tema yang
dituju.Pembuatan kerangka karangan ini sangat penting, terutama bagi penulis pemula, agar
tulisan tidak kaku dan penulis tidak bingung dalam melanjutkan tulisannya.
Jadi kedua pembahasan ini sangatlah berkaitan karena jika kita ingin membuat suatu
karangan yang sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur maka sebelum pembuatan
karangan itu harus terlebih dulu kita membuat sebuah kerangka karangan agar pada karangan
tersebut menjadi terarah dan tidak keluar dari topik atau tema yang dituju.

B. Saran
Dalam pembuatan karangan haruslah di buat suatu kerangka karangan agar
mendapatkan suatu hasil karangan yang sistematis, logis, jelas, terstruktur dan teratur
tentunya akan menghasilkan suatu karangan yang berkualitas.

Semoga makalah yang berjudul Menulis Karangan ini bermanfaat dan bisa
dijadikan suatu motivasi bagi yang membaca.

12