Anda di halaman 1dari 23

Grand Case

Jumat, 23 Oktober 2015

Skizofrenia Hebefrenik

LAMBANG UNAND

Oleh : Yessi Arsurya P1687


Airena Niza Nugroho P1699

Pembimbing : dr. Amel Yanis, Sp.KJ(K)

BAGIAN PSIKIATRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR. M. DJAMIL RSJ PROF. HB SAANIN
PADANG
2015
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. R
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 32 tahun
Agama : Islam
Suku : Minangkabau
Pendidikan Terakhir : Tidak tamat SMK
Pekerjaan : Tidak bekerja
Status Pernikahan : Belum Menikah
Alamat : Tampak Durian, Kel. Korong Gadang, Kuranji, Padang
Pasien rawat jalan dan kontrol ke Poliklinik Jiwa RSUP Dr. M. Djamil Padang tanggal
12 Oktober 2015 diantar oleh ibunya.

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Data diperoleh dari:
Autoanamnesis pada tanggal 12 Oktober 2015.
Alloanamnesis dengan :
1. Ibu (Ny. Z, 60 tahun, tamat SD, tinggal serumah dengan pasien)
pada tanggal 12 Oktober 2015.
2. Adik kandung ibu pasien (Ny. E, 54 tahun, tidak tinggal serumah
dengan pasien) pada tanggal 15 Oktober 2015.
3. Adik kandung pasien (R, 23 tahun, kuliah, tinggal serumah dengan
pasien) pada tanggal 15 Oktober 2015 dan 21 Oktober 2015.
Catatan Rekam Medik.

A. Keluhan Utama
Pasien datang ke Poliklinik RSUP Dr. M. Djamil Padang karena obat habis.

B. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke Poliklinik RSUP Dr. M. Djamil Padang karena obat habis.
Akhir-akhir ini pasien masih sering menung-menung, berjalan tak tentu arah, melepas
pakaian di depan umum, dan tertawa-tawa sendiri. Pasien mendengar suara-suara di
kepalanya yang tidak jelas, terkadang berupa suara yang lucu, suara musik, dan suara-
1
suara yang menurutnya keren. Pasien pernah merasa dirinya setingkat dengan Nabi,
namun ketika ditanya lebih lanjut tiba-tiba pasien menyangkal dirinya Nabi, kemudian
pasien mengatakan dirinya adalah malaikat penjaga pintu surga, namun beberapa saat
kemudian ia mengatakan dirinya hanya manusia biasa, bukan malaikat. Pasien sangat
suka merokok. Satu hari bisa merokok lebih dari satu bungkus. Bila tidak dibelikan
rokok, pasien akan meminta-minta rokok kepada orang yang lalu-lalang atau memunguti
puntung rokok di jalan. Pasien pun tidak mau makan karena lebih memilih merokok
dibandingkan makan. Pasien juga kurang tidur malam.

C. Riwayat Penyakit Dahulu


1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Sebelum Tahun 2001
Pasien mengaku punya banyak pikiran. Ia ingin membahagiakan orang tuanya
namun ia takut sulit mendapat pekerjaan. Pasien pernah sekali dipalak dan
dipukuli preman saat pulang sekolah. Saat itu, pasien diminta uangnya tapi dia
tidak memberikannya karena hanya memiliki uang untuk membayar angkot.
Kepalanya kena pukulan dan matanya memar. Ketika ditanya keluarga, pasien
mengaku ia kena las saat praktek di sekolah. Pasien tidak dibawa berobat. Pasien
juga pernah bertengkar dengan teman sekolahnya karena pasien tidak tahu kunci
mana yang dipakai untuk memperbaiki mesin yang sedang dikerjakan temannya
sehingga temannya marah dan memukulnya di bagian belakang kepala. Pasien
tidak mau menceritakan masalah tersebut pada orang tua namun sejak itu ia
malas ke sekolah karena merasa orang-orang di sekolahnya jahat.
Tahun 2001
Saat praktek kuliah lapangan (PKL) SMK-nya, pasien menyukai seorang
perempuan dan mendekatinya. Perempuan tersebut adalah teman sekolahnya.
Namun orang tua perempuan tersebut tidak suka karena pasien berasal dari
keluarga yang ekonominya kurang. Pasien bertengkar dengan orang tua
perempuan tersebut. Sejak itu pasien tampak gelisah, sering melamun, sering
keluar rumah malam hari, marah-marah sendiri, tidur malam kurang (sekitar 2
jam), dan makan kurang (1 porsi/hari). Saat berkaca, pasien mengaku pada
ibunya bahwa ia melihat dirinya jelek dan sekujur tubuhnya dipenuhi bulu.
Pasien kemudian dibawa berobat dengan obat kampung oleh keluarga, namun
kondisinya malah memburuk. Pasien semakin murung dan melamun. Setelah itu,
2
pasien dibawa berobat ke poliklinik RSUP Dr. M. Djamil Padang selama
beberapa bulan lalu putus obat. Pasien putus sekolah, tidak bekerja, namun masih
shalat Jumat ke mesjid. Kegiatan sehari-hari pasien hanya di rumah, membantu
ibunya mencuci piring, mencuci baju, mencabut rumput, sesekali ke ladang
membantu ayahnya.

Tahun 2010
Pasien kembali gelisah, sering mondar-mandir, keluar rumah malam hari, dan
bermenung. Pasien juga marah-marah sendiri, memarahi adik-adiknya, hingga
memukul-mukul orang tuanya. Karena kondisi pasien yang kembali kambuh dan
saat itu saudaranya akan melahirkan di Jakarta, orang tua membawa pasien ke
RSJ Prof. HB Saanin Padang. Pasien dirawat selama sebulan kemudian pulang,
kontrol poliklinik sebanyak 3 kali, lalu putus obat. Pasien mulai jarang pergi
shalat Jumat namun masih bisa mengurus diri sendiri.

Juni 2013
Pasien kembali gelisah, sering tertawa-tawa sendiri, bermenung-menung, BAB di
sembarang tempat, tidak mau mandi, tidak nafsu makan (makan 1 porsi/hari),
kurang tidur (3 jam/hari). Pasien lalu dibawa ke RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Pasien mendapat terapi CPZ 2x100 mg, B complex 3x1, vitamin C 3x1, dan
terapi modalitas setiap hari. Pasien dirawat selama satu bulan 12 hari. Saat
dipulangkan pasien sudah tenang, makan cukup (3 kali 1 porsi), tidur cukup (8
jam perhari), namun masih terdapat gejala sisa berupa diskriminatif insight dan
diskriminatif judgement masih terganggu.

2. Riwayat Gangguan Medis


Pasien tidak memiliki riwayat penyakit medis, bedah, dan trauma yang
memerlukan perawatan, seperti trauma kepala, penyakit neurologis, tumor,
kejang, gangguan kesadaran, HIV, dll.

3. Riwayat Penggunaan Alkohol dan Zat adiktif lain


Pasien perokok berat, sehari bisa merokok lebih dari 1 bungkus. Bila tidak diberi
rokok, pasien akan meminta-minta rokok pada orang-orang yang lewat atau
memungut puntung rokok di jalan. Pasien pernah minum alkohol sekitar tahun

3
1994. Saat itu pasien minum sebanyak setengah botol. Saat ini pasien sudah tidak
minum lagi. Riwayat penggunaan ganja dan zat lainnya tidak ada.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Masa prenatal dan perinatal
- Kehamilan direncanakan, pasien lahir spontan ditolong bidan, langsung
menangis, berat badan sekitar 3 kg, panjang badan lupa. Riwayat kejang tidak
ada, kuning tidak ada, dan biru tidak ada.

2. Masa kanak awal (0-3 tahun)


- Pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental sesuai dengan anak
seusianya.
- Pasien pernah terjatuh tertelungkup lalu tidak sadarkan diri selama beberapa
jam, keluarga menyangka pasien sudah meninggal dunia, pasien hanya
dibiarkan saja sambil menunggu keluarga yang lain datang untuk dimandikan.
Lalu tiba-tiba saja pasien terbangun dan menangis. Setelah itu pasien tumbuh
dan berkembang seperti anak-anak biasa namun lebih mudah terkena sakit
dibanding saudara-saudaranya.

3. Masa kanak pertengahan (3-11 tahun)


- Pasien dapat melalui masa kanak dengan normal dan baik seperti anak
seusianya.

4. Masa kanak akhir dan remaja


- Pasien dikenal pendiam, teman tidak banyak, dan berhubungan baik dengan
teman-teman sebayanya.
- Pasien rajin beribadah dan patuh pada orang tua.
- Pasien pernah bertengkar dengan temannya saat praktik kuliah lapangan
(PKL) SMK.
- Pasien pernah putus cinta karena tidak direstui oleh ayah perempuan yang
disukainya.

5. Masa dewasa
a. Riwayat pendidikan
SD : SD Astek, Padang. Tamat 6 tahun, tidak masuk 10 besar.

4
SMP : SMPN 28 Padang. Tamat 3 tahun, tidak masuk 10 besar.
SMA : SMK Merdeka Padang. Tidak tamat, pasien putus sekolah
di kelas 3 SMK karena saat menjalani praktik kuliah lapangan
(PKL) pasien bertengkar dengan temannya saat PKL.

b. Riwayat pekerjaan
Pasien tidak memiliki pekerjaan. Pasien hanya di rumah saja, sesekali
membantu pekerjaan orang tuanya seperti mencuci piring, mencabut rumput.

c. Riwayat perkawinan
Pasien belum menikah.

d. Riwayat agama
Pasien beragama Islam.

e. Riwayat psikoseksual
Pasien mengaku dirinya genit karena suka mengintip perempuan mandi.
Sewaktu mengintip perempuan mandi pasien mengaku senang dan sambil
melakukan masturbasi. Selain itu pasien pernah mengintip adik perempuannya
mandi dan menyentuh kemaluan adiknya saat tidur. Waktu itu adik pasien
masih SMA. Pasien senang membuka pakaian di depan umum karena merasa
panas.

f. Aktivitas sosial
Pasien mengaku memiliki banyak teman. Beberapa temannya sering
mengajaknya memakai ganja namun pasien menolak dengan alasan takut nanti
tangannya dipotong karena memakai ganja.

g. Riwayat pelanggaran hukum


Pasien tidak pernah ditangkap ataupun terlibat masalah hukum.

E. Riwayat Keluarga

5
32th

Keterangan : : Pria
: Wanita
: Pasien
: Tinggal satu rumah dengan pasien

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien.

F. Situasi Kehidupan Sekarang

Pasien sekarang tinggal dengan kedua orang tua dan keempat saudaranya. Pasien
tinggal di rumah milik sendiri, permanen ukuran 4x6 meter, listrik ada, TV berwarna
ada, sumber air dari sumur, kendaraan bermotor ada. Pendapatan keluarga berasal dari
ayah pasien yang bekerja sebagai petani dan ibu pasien yang bekerja sebagai pedagang
sayur. Pendapatan keluarga sekitar 2,6 juta perbulan dan pengeluaran keluarga (listrik,
uang kuliah, belanja, dll) sekitar 1,8 juta perbulan. Untuk biaya pengobatan pasien
ditanggung oleh BPJS.
Pasien adalah anak kedua dari 5 bersaudara. Kakak pertama laki-laki, G, umur 35
tahun, tamat SMA, sudah menikah, dan berjualan skotang. Adik pertama perempuan, FY,
umur 30 tahun, tamat SMA, sudah menikah, dan tinggal di Jawa. Adik kedua laki-laki,
6
IY,umur 25 tahun, tamat SMA, sudah menikah, dan bekerja menjaga warnet. Adik
terakhir perempuan, RS, umur 23 tahun, saat ini sedang kuliah di IAIN Imam Bonjol
semester 7. Pasien tinggal bersama kedua orang tua, adik laki-laki dan adik perempuan
yang bungsu. Pasien masih berhubungan baik dengan keluarganya. Pasien tidak bekerja.
Kegiatannya di rumah sekarang adalah membantu pekerjaan rumah seperti mencuci
piring, mencabut rumput, membantu ayahnya di ladang, dan terkadang membantu
menggembala kambing.

G. Persepsi Dan Harapan Keluarga

Keluarga berharap pasien dapat sembuh dari penyakitnya. Keluarga juga berharap
agar pasien dapat rutin meminum obat tanpa perlu diingatkan,sehingga penyakitnya tidak
kambuh lagi dan dapat bekerja membantu kedua orang tuanya.

H. Persepsi Dan Harapan Pasien

Pasien merasa tidak memiliki gangguan jiwa. Pasien berharap ingin cepat
mendapatkan jodoh.

III. Status internus


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Komposmentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : teraba, 80x/menit, reguler
Nafas : 20x/menit, teratur
Suhu : 36,7 C
Tinggi Badan :-
Berat Badan :-
Status Gizi : Kurang
Sistem Kardiovaskuler : Dalam batas normal
Sistem Respiratorik : Dalam batas normal
Kelainan Khusus :-

VI. Status neurologis

* GCS : 15 (E4M6V5)
* Tanda Rangsang Meningeal : Kaku kuduk tidak ada
* Tanda-tanda efek samping ekstrapiramidal:
7
- Tremor tangan : Ada
- Akatisia : Tidak ada
- Bradikinesia : Tidak ada
- Cara berjalan : Normogait
- Keseimbangan : Tidak terganggu
- Rigiditas : Ada

* Motorik : 555 / 555


555 / 555
* Sensorik : Eksteroseptif dan Proprioseptif dalam batas normal
* Refleks : Refleks Fisiologis ++/++, Refleks Patologis -/-

V. STATUS MENTAL

Berdasarkan pemeriksaan tanggal 12 Oktober 2015.

I. Keadaan Umum.

a. Kesadaran / Sensorium : Komposmentis Perhatian : Ada


b. Sikap : Kooperatif Inisiatif : Ada
c. Tingkah laku motorik : Tenang
d. Ekspresi fasial : Inappropriate
e. Verbalisasi dan cara berbicara : Lancar, kurang jelas
f. Kontak psikik : Dapat dilakukan, kurang wajar, lama

II. Keadaan Spesifik

A. Keadaan Alam Perasaan

1. Keadaan afektif : Terbatas

2. Hidup emosi : a. stabilitas : stabil


b. pengendalian : baik
c. echt unecht : echt
d. einfuhlung ( invoelaarhaid ) : inadekuat

8
e. dalam dangkal : dangkal
f. skala differensiasi : sempit
g. arus emosi ( lambat cepat ) : cepat

B. Keadaan dan fungsi intelek.


a. daya ingat ( amnesia ) : tidak terganggu
b. daya konsentrasi : terganggu
c. orientasi ( waktu, tempat, personal, situasi ) : terganggu dalam hal waktu dan
personal
d. luas pengetahuan umum dan sekolah : normal rata-rata
e. discriminative insight : terganggu
f. dugaan taraf intelegensia : normal rata-rata
g. discriminative judgment : tidak terganggu
h. kemunduran intelek : tidak ada

C.Kelainan sensasi dan persepsi


a. ilusi : tidak ada
b. halusinasi - akustik : ada beberapa bulan yang lalu
(lupa), sudah menghilang saat ini
- visual : tidak ada
- olfaktorik : tidak ada
- taktil : tidak ada
D. Keadaan proses berfikir

1. Kecepatan proses berfikir ( psikomobilitas ) : lambat

2. Mutu proses berfikir


a. jelas dan tajam : tidak jelas, tidak tajam
b. Sirkumstansial : tidak ada
a. Inkoherrent : ada
b. Terhalang ( Sperrung ) : tidak ada
c. terhambat ( hemmung ) : tidak ada
d. meloncat-loncat ( flight of ideas ) : tidak ada
e. Verbigerasi Persevarative ( Persevaratich ) : tidak ada
9
3. Isi pikiran

a. Pola sentral dalam fikirannya : ada, yaitu pasien sering berbicara tentang jodoh.
b. Fobia : tidak ada
c. Obsesi : tidak ada
d. Delusi :Waham kebesaran yang sudah mengalami
perbaikan. Waham terputus-putus dan berubah-
ubah. Ia mengaku Nabi karena saat keluar rumah
merasa dilindungi awan, lalu menyangkalnya,
kemudian mengaku dirinya malaikat lalu beberapa
saat kemudian menyangkalnya.
e. Kecurigaan : tidak ada
f. Konfabulasi : tidak ada
g. Rasa permusuhan / dendam : tidak ada
h. Perasaan Inferior : tidak ada
i. Banyak / sedikit : sedikit
j. Perasaan berdosa : tidak ada
k. Hipokhondria : tidak ada
l. Lain-lain : tidak ada

E. Kelainan dorongan instinktual dan perbuatan

a. Abulia : ada
b. Stupor : tidak ada
c. Raptus / impulsivitas : tidak ada
d. Kegaduhan umum / excitement state : tidak ada
e. Deviasi seksual : ada, yaitu voyeurism
f. Ekhopraksia : tidak ada
g. Vagabondage : ada
h. Piromani : tidak ada
i. Mannerisme : tidak ada
j. Lain-lain : tidak ada

10
F. Anxietas yang terlihat secara overt : tidak ada
G. Hubungan dengan realitas : terganggu, dalam hal isi pikir

Pemeriksaan lain lain

1. Evaluasi sosial oleh Ahli pekerja sosial tanggal : tidak dilakukan.

2. Evaluasi Psikologi oleh Ahli Psikologi tanggal : tidak dilakukan.

3. Evaluasi lain tanggal :-

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG


-

VII. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Telah diperiksa Tn. R, 31 tahun, tidak tamat SMK, Islam, suku Melayu, dan
belum menikah. Pasien gelisah, suka marah-marah sendiri, suka keluar rumah tanpa
tujuan, sering mendengar suara-suara yang tidak jelas. Selain itu, ia juga tidak mau
makan dan tidur malam kurang sejak 1 bulan yang lalu. Sebelumnya, pasien sudah
dirawat 2x tahun 2010 dan 2013 karena suka marah-marah sendiri, sering bermenung,
dan berjalan tanpa tujuan. Pasien pulang namun sering tidak mau minum obat. Pasien
mengaku suka mengintip perempuan mandi dan masturbasi saat mengintip.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan kondisi pasien tenang, mood hipertim, afek
terbatas, orientasi waktu dan personal terganggu, discriminative insight dan
discriminative judgement terganggu, dan RTA terganggu. Ada riwayat halusinasi
auditorik yang tidak jelas berupa suara-suara lucu, musik, dan suara-suara yang menurut
pasien keren namun sekarang sudah tidak ada. Ada riwayat waham kebesaran yaitu
mengaku nabi atau malaikat, namun sekarang sudah berkurang. Selama wawancara,
ditemukan giggling, grimaces, self-satisfaction dimana ia berulang kali membandingkan
ketampanan dirinya dengan Nabi Muhammad SAW, Primus, dan aktor Bollywood, serta
ada rambling, inkoherensi, dan asosiasi longgar.

VIII. FORMULASI DIAGNOSIS

11
Berdasarkan anamnesis, riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan, pada
pasien ini ditemukan adanya perubahan pola perilaku, pikiran, dan perasaan yang secara
klinis bermakna dan menimbulkan suatu penderitaan (distress) dan hendaya (disability)
dalam fungsi sosial. Dengan demikian, berdasarkan PPDGJ III dapat disimpulkan bahwa
pasien mengalami suatu gangguan jiwa.
Berdasarkan anamnesis riwayat penyakit medis, pasien pernah mengalami trauma
kepala, namun tidak ada penyakit lainnya yang secara fisiologis dapat menimbulkan
disfungsi otak sebelum menunjukkan gangguan jiwa. Oleh karena itu, gangguan mental
organik dapat disingkirkan (F00-09).
Pada pasien tidak ditemukan riwayat pemakaian NAPZA. Pasien diketahui
mengalami gangguan jiwa pada usia remaja (17 tahun). Sebelum sakit, pasien adalah
anak pemalu. Pada pasien ditemukan waham kebesaran yang terputus-putus, halusinasi
akustik, voyeurisme, perilaku tidak bertanggung jawab, afek inappropriate, giggling dan
grimaces, rambling, dan inkoherensi. Berdasarkan kriteria PPDGJ III dapat disimpulkan
diagnosis pada aksis I adalah Skizofrenia Hebefrenik (F20.1).
Dari riwayat kepribadian pasien, ditemukan pribadi yang belum matur dan tidak
ditemukan riwayat retardasi mental. Dengan demikian, tidak ada diagnosis pada aksis II.
Pada pasien ini tidak ditemukan suatu kondisi medis umum yang cukup bermakna,
sehingga tidak ada diagnosis pada aksis III.
Pada keadaan sosial dan ekonomi pasien ditemukan adanya masalah pasien
merasa tertekan karena ingin membahagiakan orang tua tapi takut tidak bisa mendapat
pekerjaan dan putus cinta saat remaja. Dengan demikian, pada aksis IV didapatkan
diagnosis tertekan karena ingin membahagiakan orang tua tapi takut tidak bisa mendapat
pekerjaan dan putus cinta.
Pada aksis V, hubungan sosial (mengunjungi teman, menghadiri undangan
pernikahan), pekerjaan sehari-hari (membersihkan rumah, merapikan ruangan, dll), dan
mengurus diri tidak bisa dilakukan sejak tahun 14 tahun lalu. Mengisi waktu luang
(menonton tv, membaca) tidak dapat dilakukan sejak 5 tahun lalu. Berdasarkan penilaian
Global Assessment of Functional Scale (GAF) saat ini pasien berada pada nilai 60-51
dengan gejala sedang, disabilitas sedang.

IX. EVALUASI MULTIAKSIAL

12
Aksis I : F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
Aksis II : tidak ada diagnosis aksis II
Aksis III : tidak ada diagnosis aksis III
Aksis IV : tidak ada diagnosis aksis IV
Aksis V : GAF 60-51

Diferensial Diagnosis:
1. F.20.5 Skizofrenia residual
2. F.20.9 Skizofrenia YTT

X. DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik : tidak ada
B. Psikologis :
Afek terbatas
Asosiasi longgar
Waham kebesaran
Perilaku suka buka baju di depan umum dan mengintip perempuan mandi
C. Lingkungan dan psikososial : ibu sering sibuk di pasar sehingga terlambat kontrol
ke poliklinik dan obat terputus. Ayah pasien seharian bekerja di ladang, adik pasien
kuliah hingga sore. Sehari-hari pasien tinggal di rumah kadang bersama Ayah dan
adik iparnya.

XI. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad malam
Quo ad sanationam : dubia ad malam

Hal yang meringankan prognosis : riwayat penyakit lainnya tidak ada.


Hal yang memperberat prognosis :belum menikah, frekuensi relaps, kepatuhan
minum obat.

XII. RENCANA PENATALAKSANAAN


A. Farmakoterapi :
Risperidon 3mg 2x1
CPZ 100mg 2x1

13
Carbamazepin 200mg 1x1/2
THP 2mg 2x1
B. Psikoterapi :
1. Kepada pasien
Psikoterapi supportif
Berempati pada pasien. Memahami keadaan pasien, mengidentifikasi
faktor pencetus, serta membantu memecahkan permasalahan secara
terarah.
Psikoedukasi
Memberikan pengetahuan kepada pasien tentang gangguan yang
dialaminya. Diharapkan pasien dapat secara efektif mengenali gejala,
penyebab, dan terapi yang dibutuhkannya untuk menghindari
kekambuhan atau terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Kepada keluarga : Psikoedukasi mengenai


Penyakit yang diderita pasien
Dukungan sosial dan perhatian dari keluarga kepada pasien
Terapi dan kepatuhan minum obat pasien

XII. ANALISIS KASUS

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan ditemukan gejala-gejala yang berkaitan

dengan skizofrenia hebefrenik. Berdasarkan PPDGJ III, skizofrenia hebefrenik ialah

ditemukan gejala-gejala skizofrenia (memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia F20),

biasanya diagnosis hebefrenik untuk pertama kalinya hanya ditegakkan pada usia remaja

atau dewasa muda. Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas, tapi tidak selalu,

pemalu dan menyendiri (solitary) (F.20.1).

Pada pasien ini ditemukan adanya gambaran klinik skizofrenia yaitu asosiasi

longgar, adanya halusinasi akustik dan waham kebesaran. Secara umum, waham dan

halusinasi yang dijumpai bersifat mengambang serta terputus-putus (fragmentary).

Adanya suasana perasaan (mood) pasien yang dangkal dan inappropriate, suka tertawa-
14
tawa sendiri, dan senyum-senyum sendiri (self-absorbsed smilling) juga menunjukkan

gejala tersebut. Sejak sakit, pasien tidak dapat bekerja dan hanya di rumah saja

membantu beberapa pekerjaan rumah yang ringan seperti mencuci dan mencabut rumput.

Berdasarkan hal tersebut, ditegakkan diagnosis skizofrenia hebefrenik (F20.1) dan

diagnosis banding dengan skizofrenia residual (F20.5) dan skizofrenia YTT (F20.9).

Pada pasien diberikan terapi obat yaitu Risperidon tablet 3mg, diminum 2 kali

sehari. Risperidon adalah obat antipsikotik atipikal yang merupakan turunan dari

benzisoksazol. Risperidon dapat digunakan untuk terapi gejala negatif dan positif dari

skizofrenia. Penggunaan risperidon memiliki efek samping berupa insomnia, agitasi,

ansientas, somnolen, mual, muntah, peningkatan berat badan, hiperprolaktinemia, dan

gejala gangguan ekstra piramidal namun gejala ekstra piramidal umumnya lebih ringan

dibandingkan antipsikosis tipikal.

CPZ (Klorpromazin) tablet 100mg juga diberikan 2 kali sehari. CPZ adalah obat

antipsikosis tipikal turunan dari fenotiazin. Selain dari efek antipsikosis, penggunaan

CPZ dapat menimbulkan efek sedasi. Efek samping dari CPZ adalah gangguan

ekstrapiramidal, gangguan otonomik, dan gangguan endokrin. Untuk mengatasi gejala

ekstra piramidal berupa tremor tangan yang terjadi, pasien diberikan juga

Trihexyphenidyl (Artane) atau lebih sering disingkat dengan THP tablet 2mg sebanyak

3-4 kali sehari.

Selain antipsikosis, pasien juga diberikan Karbamazepin tablet 200mg diminum

satu kali setengah tablet sehari. Karbamazepin adalah antiepilepsi yang memiliki efek

pada perbaikan psikis yaitu perbaikan kewaspadaan dan perasaan (mood stabilizer). Efek

samping karbamazepin setelah pemakaian jangka lama adalah pusing, vertigo, ataksia,

15
diplopia, dan penglihatan kabur. Efek samping lainnya dapat berupa mual, muntah, dan

reaksi alergi.

Terapi non farmakologis memegang peranan yang juga penting pada pasien ini.

Jenis terapi non farmakologis yang bisa dilakukan terhadap pasien ini adalah psikoterapi

suportif, psikoedukasi. Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperlihatkan minat kita

pada pasien, memberikan perhatian, dukungan, dan optimis. Dalam psikoterapi suportif,

terapis menunjukkan penerimaan terhadap kasus dengan cara menunjukkan perilaku

yang hangat, ramah namun tetap berwibawa. Tujuannya adalah agar pasien merasa aman,

diterima dan dilindungi.

Psikoedukasi ditujukan kepada pasien dan keluarga. Psikoedukasi membantu

pasien untuk mengetahui lebih banyak mengenai gangguan yang dideritanya, diharapkan

pasien mempunyai kemampuan yang semakin efektif untuk mengenali gejala, mencegah

munculnya gejala dan segera mendapat pertolongan. Sementara itu psikoedukasi kepada

keluarga dijelaskan mengenai penyakit yang diderita pasien, mendorong keluarga agar

memberikan dukungan dan perhatian kepada pasien dan mengingatkan pasien

pentingnya kepatuhan minum obat.

16
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, 1995. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis


Gangguan Jiwa di Indonesia III, Jakarta: Depkes RI

Maslim, Rusdi, 2007. Penggunaan Klinis Obat Psikotropika, Jakarta: FK UNIKA Atma
Jaya

Gunawan SG, Setiabudi R, Nafrialdi, Elyzabeth, 2009. Farmakologi dan Terapi, Edisi 5.
Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI

17
Autoanamnesis yang dilakukan tanggal 12 Oktober 2015
PERTANYAAN JAWABAN INTERPRETASI
Bang, kami Dokter Muda di Ho.. iyo.. iyo.. Niza, kooperatif
siko, Niza, samo Dokter Lukman..
Muda Lukman. Tadi Abang
samo Ibu Abang alah ngecek
samo dokter, kini buliah
kami sambuang mangecek
samo Abang?
Namo Abang tadi siapo? Iwan. Ridwan. Malaikat
penjago pintu surgo.
Abang penjago pintu surgo? Iyo. Tu ndak asli aden
surang tu do, tu ado lo urang
yang lain. Tadi ado yang
lain bantuaknyo. Ntah sia
manjago, he..he..
Bara barsaudara abang? Balimo
Kalimonyo penjago pintu Ntah.. Iyo nak?
surga?
Atau abang se surang Aden surang mantap tu yo..
manjago pintu surga? hehe.. Kalua ado cewek
mantap tu ma.. masuak ka
dalam surgo tu nyo..
mandenyo tibo nak.. hehe
Berapo umur Abang? Umur e? Lah hampia 200
lai. Labiah 201 mungkin.
Hampia 300 lai.
Tahun bara Abang lahia? Tahun 83.
Abang lahia tahun 1983, 200 ndak?
kini tahun 2015. Cubo
kurangan 2015 kurang 1983,
bara tu?
Ndak. 32 umua Abang baru 32? Ndak 200 do?
tu, 32 tahun.
Indak. Hoo.. 32.
Jadi bara umua Abang kini? 200. Lah hampia 300 lai.
Dima Abang tingga? di Tampak Durian
Tampak Durian? Di daerah Di Kuranji, di kampuang Orientasi tempat baik
ma tu? tingganyo
Samo siapo tinggal? Samo Ama, samo apa gai,
samo adiak-adiak, samo
kakak.
Abang anak ka bara? Kaduo.
Bara umua kakak/abang Bara tu yo? Ndak tau do.
Abang? Hm.. alah hampia 300 umua
inyo tu ma.
Bang, awak baliak bahas Malaikat tu iyo ado atau Asosiasi longgar (+)

18
yang tadi lu yo. Tadi Abang indak?
ngecek kalau Abang tu
malaikat. Sia yang maagiah
tau Abang tu malaikat?
Manuruik Abang? Ado, nak. Bidadari tu ado
apo indak?
Manuruik Abang baa? Lai ado ciek raso den, lah..
Dima tu? Ntah dima nyo.
Siapo tu namonyo? Ndak tau wak do. Ntah sia
namonyo. Nyo alun kalua
lai.
Jadi abang ko malaikat apo Ndak ado malaikat den, do. Halusinasi akustik (+)
indak ko? Den manusia biaso, nyo.
Tapi den acok mandanga
ado suaro-suaro nan aneh-
aneh se.
Suaro apo tu? Taka suaro masin-masin tu Waham kebesaran (+)
e. Mantap suaronyo.
Bantuak suaro Nabi
Muhammad bagai. Hehe.
Den kalau kalua-kalua ado
awan melindungi den. A tu
pas ujan nyo awan tu di ateh
den malindungi.
Nabi Muhammad? Nabi Nabi Muhammad tu lai ado,
Muhammad mangecek ka ndak?
Abang? Bilo nyo mangecek?
Ado. Manuruik Abang lai Lai ado ma. Masih iduik. Di
ado atau indak? dalam Kabah lataknyo ma.
Biaso disimpan dalam
Kabah.
Tunggu lu, Bang. Jadi suaro Ndak tau, do.
apo yang Abang danga?
Okelah. Ado caliak-caliak Kalau malam-malam takuik Asosiasi longgar (+)
bayangan-bayangan yang lai ado nak. Pocong, tu.
urang lain ndak nampak?
Hantu?
Pocong? Manga pocong, tu? Pocong tu lai ado, ndak?
Kalau Abang nampak tu baa Iyo, nak.
manuruik Abang? Lai ado,
ndak. Dima nampak pocong
tu? Di rumah?
Kini ado ndak? Ndak.
Lalok tadi malam lai aman? Lai. Tu den mimpi ma.
Mimpi apo tu? Mimpi cewek-cewek bagai.
Cakak-cakak.
Jo sia cakak nyo? Ntah. Ndak tau lo

19
Oo.. ado Abang akhir-akhir N..ndak ado do. Hm.. dulu
ko berang-berang se ka lai, kini ndak lai do.
urang?
Cakak-cakak ado? Cakak-cakak lai pas sekolah
dulu.
Bilo, tu? Pas SMA. Eh den ndak
SMA do. SMK. STM.
Dek apo cakak tu? Ndak tau do. Cakak se nyo. diskriminative judgement
terganggu
Kini masih cakak? Indak
Tu kini baa perasaan Abang? Lai sanang.
Lai sanang-sanang se?
Kini apo se karajo Abang? Ndak ado do. Cuci piriang,
pai ka ladang, manjago
kambiang.
Abang marokok? Lai.
Bara banyak sahari? Lai sabungkuih, labiah ma.
Banyaknyo lai. Sia maagiah Dibalian
rokok tu?
Makannyo baa tu? Lai ado. Kini alun makan
lai.
Minum alkohol lai ado? Ndak. Lai pernah dulu, pas
Minum bir? masih ketek-ketek ko.
Satangah tu a.
Sia maagiah? Urang kumpua-kumpua
sabalah rumah ko a.
Pakai Ganjo ado? Narkoba? Ndak. Beko tangan dipotong
dek ganjo tu.
Abang ado punyo cewek? ndak ado, tapi aden suko Voyeurism (+)
mancigok urang mandi.
waktu mancigok mandi, galak-galak surang
manga Abang tu? mancaliak urang tu, tu
sambil mangocok-ngocok.
mangocok-ngocok apo ko? mamegang punyo aden.
sering kayak gitu? sering, aden pernah lo
mancigok adiak den mandi,
tu waktunyo lalok den
pegang badan adiak den.
Tau nyo, tapi ndak
dikecekkannyo ka apak.
Kalau mancigok induak-
induak mandi acok lo, tu
berang-berang urang tu.
dima mancigok induak- mancigok dari sumua nyo,
induak tu mandi? kan sumuanyo ndak ado
atok, tu aden cigok dari situ.
Manuruik Abang, kok ado Ntah lah, awak gilo Diskriminative insight

20
urang nan mengecekkan mungkin. terganggu
Abang urang gilo lai batua
tu?
Iyolah Bang. Mokasih yo Yo.
Bang.

21
SKEMA PERJALANAN PENYAKIT

Thn 2001: Thn 2010: Thn 2013: Thn 2015:


Usia 17 tahun Usia 26 tahun Usia 29 tahun Usia 31 tahun

Putus
Banyak pikiran, Obat
ingin memba-
hagiakan orang
tua namun takut Putus cinta dan
tidak mendapat berkelahi dengan Gelisah, Dirawat lagi di RSJ Kontrol ke
pekerjaan. pacar perempuan bermenung, marah-
idaman. Prof. HB Saanin. poliklinik
marah sendiri, dan
Mulai gelisah, keluar tanpa tujuan.
Pulang dan kontrol M.Djamil.
melamun, keluar Dirawat di RSJ
Poli Akhir-akhir ini
rumah di malam hari, Prof. HB Saanin sering bermenung,
marah-marah. sebulan. buka baju di depan
Dibawa berobat umum, dan marah-
Pulang dan kontrol
kampung namun
kondisi memburuk. Poli 3x lalu putus
Dibawa ke poliklinik