Anda di halaman 1dari 9

2.

1 Definisi 6

Gonorhoe adalah semacam penyakit kelamin yang berjangkit pada laki-laki atau wanita
yang sering kali melakukan hubungan kelamin dan berganti pasangan. Umumnya hubungan
kelamin atau hubungan seksual itu aman, yang tidak aman adalah hubungan seksual yang
delakukan dengan pasangan yang tidak sah yang dapat menyebarkan bibit menular. Gonore
(GO) adalah penyakit menular seksual (PMS) yang bersifat akut disebabkan oleh kuman yang
bernama Neisseria Gonorrhoaea suatu gram negative, berbentuk biji kopi, letaknya intra atau
ekstra seluler yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum (usus bagian bawah),
tenggorokan maupun bagian putih mata (Gonorhoaea Conjugtiva). Gonorhoe bisa menyebar
melalui aliran darah kebagian tubuh lainya terutama kulit dan persendian. Pada wanita,
gonorhoe bisa naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput didalam panggul sehingga
menimbulkan nyeri panggul dan gangguan reproduksi.

Penyakit ini konon merupakan penyakit yang dibuat-buat oleh manusia yang tidak baik,
sehingga Tuhan pun memberi ganjaran setimpal kepada yang bersangkutan atau kepada yang
bersangkutan atau kepada orang yang melakukan perbuatan tercela itu. Sedangkan hubungan
seksual yang dilakukan dengan pasangan resmi melalui akad nikah, biasanya segala
kemungkinan perbuatan buruk berupa dihinggapi penyakit itu akan terhindari. Penyakit
gonorhoe merupakan hukuman kepada makhluk-Nya yang suka melanggar aturan, sedangkan
pada pasangan yang melakukan hubungan kelamin melalui akad nikah biasanya jarang
dijangkiti oleh penyakit berbahaya ini.

Ia merupakan penyakit menular seksual yang ditularkan melalui kontak seksual,


biasanya hibingan intim antara orang yang tidak diikat oleh tali perkawinan yang sah. Karena
itu penyakit kelamin ini dapat dianggap sebagai penyakit yang hanya berjangkit pada pasangan
yang suka berganti-ganti. Pada pasangan yang diikat oleh tali perkawinan yang sah umumnya
jarang terdapat penyakit yang menakutkan ini.

Selama beberapa abad bermacam nama telah digunakan untuk mendeskripsikan infeksi
yang disebabkan oleh N gonorrhoeae ini diantaranya; strangury yang digunakan oleh
Hipocrates. Penamaan gonore sendiri diberikan oleh Galen (130 SM) untuk menggambarkan
eksudat uretra yang sifatnya seperti aliran air mata (flow of seed) dan M. Neisser dikenalkan
oleh Albert Neisser yang menemukan mikroorganisme tersebut pada tahun 1879 dari
pewarnaan apusan yang diambil dari vagina, uretra dan eksudat konjungtiva.
2.2 Etiologi7

Gonorhoe adalah bakteri yang tidak dapat bergerak, tidak memiliki spora, jenis
diplokokkus gram negatif dengan ukuran 0,8 1,6 mikro. Bakteri gonokokkus tidak tahan
terhadap kelembaban, yang cenderung mempengaruhi transmisi seksual. Bakteri ini bersifat
tahan terhadap oksigen tetapi biasanya memerlukan 2-10% CO2 dalam pertumbuhannya di
atmosfer. Bakteri ini membutuhkan zat besi untuk tumbuh dan mendapatkannya melalui
transferin, laktoferin dan hemoglobin. Organisme ini tidak dapat hidup pada daerah kering dan
suhu rendah, tumbuh optimal pada suhu 35-37 dan pH 7,2-7,6 untuk pertumbuhan yang
optimal.

Gonokokkus terdiri dari 4 morfologi, type 1 dan 2 bersifat patogenik dan type 3 dan 4
tidak bersifat patogenik. Tipe 1 dan 2 memiliki pili yang bersifat virulen dan terdapat pada
permukaannya, sedang tipe 3 dan 4 tidak memiliki pili dan bersifat non-virulen. Pili akan
melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang.

2.3 Manifestasi Klinis6

Pada wanita, gejala awal bisa timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi. Penderita
wanita seringkali tidak menunjukkan gejala selama beberapa minggu atau bulan, dan diketahui
menderita penyakit ini hanya setelah mitra seksualnya tertular.
Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Gonorhoe pada wanita sering mengenai serviks
sehingga terjadi servistis dengan gejala keputihan. Bila terjadi uretritis memberikan disuri yang
ringan. Mungkin juga disertai keradangan kandung kemih dengan gejala polakisuri, nyeri perut
bagian bawah dan terminal hematuri. Tetapi beberapa penderita menunjukkan gejala yang
berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina dan
demam. Infeksi bisa menyerang leher rahim, rahim, saluran telur, indung telur, uretra dan
rektum; menyebabkan nyeri pinggul yang dalam atau nyeri ketika melakukan hubungan
seksual. Nanah yang keluar bisa berasal dari leher rahim, uretra atau kelenjar di sekitar lubang
vagina.
Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seksual melalui anus (lubang
dubur) bisa menderita gonorhoe pada rektumnya. Penderita merasakan tidak nyaman di sekitar
anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah di sekitar anus tampak merah dan kasar,
tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah.

Pada pemeriksaan dengan anaskop akan tampak lendir dan cairan di dinding rektum
penderita. Melakukan hubungan seksual melalui mulut (oral sex) dengan seorang penderita
gonorhoe bisa menyebabakn gonorhoe pada tenggorokan (faringitis gonokokal). Biasanya
infeksi ini tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang menyebabkan nyeri tenggorokan dan
gangguan menelan. Jika cairan yang terinfeksi mengenai mata maka bisa terjadi infeksi mata
luar (konjungtivitis gonorhoe).

Bayi baru lahir bisa terinfeksi oleh gonorhoe dari ibunya selama proses persalinan,
sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan dari matanya keluar nanah.
Pada dewasa, bisa terjadi gejala yang sama, tetapi seringkali hanya 1 mata yang terkena. Jika
infeksi ini tidak diobati bisa terjadi kebutaan.

2.4 Patofisiologi 7

Neisseria Gonorrhoaea adalah bakteri gram-negatif yang ditularkan melalui hamper


semua kontak seksual. Bakteri secara langsung menginfeksi uretra, endoserviks, saluran anus,
konjungtiva, dan faring. Infeksi dapat meluas melibatkan prostat, vas deferens, vesikula
seminalis, epididimis, serta testis pada pria; dan kelenjar Skene, Bartholini, endometrium,
arthritis, endokarditis, mioperikarditis, meningitis, dan hepatitis.

Pada pria akan timbul gejala dan tanda uretritis dalam waktu 2-5hari sampai 1 bulan
setelah inokulasi. Tanda pertama adalah secret uretra yang purulen berwarna kuning atau
kuning kehijauan. Pada pria yang tidak disirkumsisi (khitan) dapat terjadi balanopostitis
sehingga timbul sekret dari bawah prepusium. Komplikasi balanopostitis adalah fimosis akibat
peradangan dan edema pada glans. Kurang dari 5% pria dengan uretritis gonokok yang tidak
berkomplikasi menjadi asimtomatik. Jika tidak diobari, dalam waktu 10 sampai 14 hari, infeksi
akan naik dari uretra anterior ke uretra posterior. Disuria menjadi bertambah berat akan terjadi
malaise, sakit kepala, serta limfadenopati regional. Infeksi yang terus berlanjut menyebabkan
prostatitis, epididimitis, dan sistitis.
Masa inkubasi pada wanita sedikitnya 2 minggu. Tempat primer dan infeksi adalah
endoserviks, dengan infeksi retra pada 70-90% kasus. Uretritis primer tanpa melibatkan serviks
jarang terjadi pada wanita, tetapi dapat terjadi pada mereka yang telah menjalani histerektomi
total. Lebih dari separuh wanita yang terinfeksi dengan gonorhoe tidak mempunyai gejala, atau
kalaupun ada hanya gejala ringan yang sering kali diabaikan., seperti sekret vagina, disuria,
sering berkemih, sakit punggung belakang, serta nyeri abdomen dan panggul. Pada
pemeriksaan, serviks tampak bengkak dan rapuh, sering disertai sekret purulen dan
mukopurulen. Kelenjar Bartholoni mungkin terkena dampaknya sehingga dapat terbentuk
abses. Mukosa rektum dapat terinfeksi pada pria dan wanita sebagai akibat otoinokulasi atau
hubungan seksual melui anus. Infeksi pada faring adalah akibat kontak seksual urogenital.
Kunjungtivitas gonokok terjadi melalui kontaminasi langsung pada mata melalui jari atau
handuk. Neonetus mendapat konjungtivitas gonokok pada persalinan saat melalui jalan lahir
yang terinfeksi.

2.5 Komplikasi 6

Dapat timbul komplikasi berupa bartolitis, yaitu membengkaknya kelenjar Bartholin


sehingga penderita sukar jalan karena nyeri. Komplikasi dapat ke atas menyebabkan
kemandulan, bila ke rongga perut menyebabkan radang di perut dan usus. Selain itu baik pada
wanita atau pria dapat terjadi infeksi sistemik (seluruh tubuh) ke sendi, jantung, selaput otak
dan lain-lain. Pada ibu hamil, bila tidak diobati, saat melahirkan mata bayi dapat terinfeksi, bila
tidak cepat ditangani dapat menyebabkan kebutaan.

Infeksi kadang menyebar melalui aliran darah atau beberapa sendi, dimana sendi
menjadi bengkak dan sangat nyeri, sehingga pergerakannya menjadi terbatas. Infeksi melalui
aliran darah juga bisa menyebabkan timbulnya bintik-bintik merah berisi nanah di kulit,
demam, rasa tidak enak badan atau nyeri di beberapa sendi yang berpindah dari satu sendi ke
sendi lainnya (sindroma artritis-dermatitis). Bisa terjadi infeksi jantung (endokarditis). Infeksi
pembungkus hati (perihepatitis) bisa menyebabkan nyeri yang menyerupai kelainan kandung
empedu.
2.6 Diagnosa

2.4.1.5. Pemeriksaan
- Pemeriksaan Gram dengan menggunakan sediaan langsung dari duh uretra
memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinpemeriggi terutama pada duh
uretra pria, sedangkan duh endoserviks memiliki sensitivitas yang tidak begitu
tinggi. Pemeriksaan ini akan menunjukkan N.gonorrhoeae yang merupakan
bakteri gram negatif dan dapat ditemukan baik di dalam maupun luar sel leukosit.
- Kultur untuk bakteri N.gonorrhoeae umumnya dilakukan pada media pertumbuhan
Thayer-Martin yang mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan
kuman gram positif dan kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-
gram dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur. Pemeriksaan kultur ini
merupakan
pemeriksaan dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, sehingga
sangat dianjurkan dilakukan terutama pada pasien wanita.
- Tes defenitif: dimana pada tes oksidasi akan ditemukan semua Neisseria
akan mengoksidasi dan mengubah warna koloni yang semula bening menjadi
merah muda hingga merah lembayung. Sedangkan dengan tes fermentasi dapat
dibedakan N.gonorrhoeae yang hanya dapat meragikan glukosa saja.
- Tes beta-laktamase: tes ini menggunakan cefinase TM disc dan akan tampak
perubahan warna koloni dari kuning menjadi merah.
- Tes Thomson: tes ini dilakukan dengan menampung urine setelah bangun pagi ke
dalam 2 gelas dan tidak boleh menahan kencing dari gelas pertama ke gelas
kedua. Hasil dinyatakan positif jika gelas pertama tampak keruh sedangkan gelas
kedua tampak jernih
2.7 Pengobatan 7

1. Medikamentosa
Gonore biasanya diobati dengan suntikan tunggal seftriakson intramuskuler
(melalui otot) atau dengan pemberian antibiotik per-oral (melalui mulut) selama 1 minggu
(biasanya diberikan doksisiklin). Jika gonore telah menyebar melalui aliran darah, biasanya
penderita dirawat di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik intravena (melalui pembuluh
darah, infus).

1) Walaupun semua gonokokus sebelumnya sangansensitif terhadap penicilin, banyak


strain yang sekarang relatif resisten. Terapi penicillin, amoksisilin, dan tetrasiklin
masih tetap merupakan pengobatan pilihan.
2) Untuk sebagian besar infeksi, penicillin G dalam aqua 4,8 unit ditambah 1 gr
probonesid peroral sebelum penyuntikan penicillin merupakan pengobatan yang
memadai.
3) Spectinomycin berguna untuk penyakit gonokokus yang resisten dan penderita yang
peka terhadap penicillin. Dosis: 2 gr IM untuk pria dan 4 gr untuk wanita.
4) Pengobatan jangka panjang diperlukan untuk endokarditis dan meningitis gonokokus.
Pada dasarnya pengobatan uretritisbaru diberikan setelah diagnosaditegakkan. Fasilitas
untuk menegakkandiagnosis penyebab uretritis secara pasti pada suatu daerah kadang-kadang
belumtersedia, sehingga diagnosis dengan mengandalkan tanda-tanda klinis ataudengan
pendekatan sindrom masih dipandang sangat efektif. Obat-obat yang digunakan sebagai terapi
uretritis tergantung beberapa faktor :

a. Pola resistensi menurut area geografi maupun sub populasi


b. Obat-obatan yang tersedia
c. Efektivitas yang dikaitkan dengan harga obat
d. Bila kemungkinan ada concomitant
Terapi uretritis gonore tanpa komplikasi :

a. Golongan Cephalosporin : Cefixime 400 mg /oral, Ceftriaxone 250 mg/IM


b. Golongan Quinolone : Ofloxacin 400 mg /oral, Ciprofloxacin 500 mg /oral
c. Spectinomycin : 2 gram/IM
d. Kanamycin : 2 gram/IM
Semua diberikan dalam dosis tunggal untuk Ciprofloxacin CDC menganjurkan untuk tidak
diberikan pada area geografi tertentu karena sudah resisten seperti Inggris, Wales, Kanada
sedangkan Asia, Kepulauan Pasifik, California dilaporkan masih peka dan sensitif.

Terapi uretritis gonore dengan komplikasi :

a. Ciprofloxacin : 500 mg po /hari selama 5 hari


b. Ofloxacin : 400 mg po /hari selama 5 hari
c. Ceftriaxone : 250 mg IM /hari selama 3 hari
d. Spectinomycin : 2 gram IM /hari selama 3 hari
e. Kanamycin : 2 gram IM /hari selama 3 hari
EDUKASI

Penjelasan pada pasien dengan baik dan benar sangat berpengaruh pada keberhasilan
pengobatan dan pencegahan karena gonore dapat menular kembali dan dapat terjadi
komplikasi apabila tidak diobati secara tuntas. Tidak ada cara pencegahan terbaik kecuali
menghindari kontak seksual dengan pasangan yang beresiko. Penggunaan kondom masih
dianggap yang terbaik. Pendidikan moral, agama dan seks perlu diperhatikan

2. Non-medikamentosa 7

Memberikan pendidikan kepada klien dengan menjelaskan tentang:

1) Bahaya penyakit menular seksual


2) Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
3) Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
4) Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat
dihindari.
5) Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa yang akan datang.
DAftar Pustaka

6) Saydam G. Syafni. 2012. Waspadai Penyakit Reproduksi Anda. Bandung: Pustaka Reka
Cipta
7) Barkabah Jusuf, Lumintang Hans, Murtiatutik Dwi. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi
BAG/SMF Ilmu Penyakit Kulit Kelamin. Edisi III. Surabaya