Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

Kesehatan Reproduksi Usia Lanjut


Aspek Nutrisi pada Lansia

Oleh :

Kelompok 4

Meka Prahmadani 07160100066

Jesi Nurfitri 07160100067

Nailah Rasyid 07160100068

Putri Fitriani 07160100069

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEBIDANAN


STIKES INDONESIA MAJU (STIKIM)
JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
nikmat berupa kesehatan dan keselamatan sehingga makalah kami yang berjudul Aspek
Nutrisi pada Lansia ini dapat terselesaikan dengan baik..

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan,
baik itu dari segi isi maupun tata bahasanya. Untuk itulah penulis mengharapkan saran dan
kritik yang sifatnya membangun dari pembaca guna penyempurnaan makalah ini di masa
yang akan datang.

Akhir kata semoga makalah kami yang membahas tentang Aspek Nutrisi pada
Lansia ini dapat menambah pengetahuan kita, sehingga kedepan kita dapat menjadi tenaga
kesehatan yang tanggap terhadap masalah nutrisi yang ada pada lansia.

Jakarta, 22 November 2016

PENULIS
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penulisan


Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan
kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh
untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia, pemenuhan kebutuhan gizi yang
diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri
dengan perubahan-perubahan yang dialaminya, selain itu dapat menjaga kelangsungan
pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia. Kebutuhan kalori pada
lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari kebutuhan fisik. Kalori dasar
adalah kalori yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat,
misalnya: untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal.
Gizi memegang peranan penting dalam kesehatan usia lanjut. Masalah kekurangan
gizi sering di alami oleh usia lanjut sebagai akibat dari menurunnya nafsu makan karena
penyakit yang di deritanya. Selain masalah kekurangan gizi, masalah obesitas
(kegemukan) juga sering dialami oleh usia lanjut. Obesitas pada usia lanjut berdampak
pada peningkatan resiko penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus dan hipertensi.
Asupan gizi sangat diperlukan bagi usia lanjut untuk mempertahankan kualitas hidupnya.
Sementara untuk usia lanjut yang sakit, asupan gizi diperlukan untuk proses
penyembuhan dan mencegah agar tidak terjadi komplikasi (Mery E. Beck, 2011:155).
Dalam kehidupan ini manusia tidak dapat terhindar dari proses penuaan yang
berlaku dalam kehidupan dirinya. Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak, yang
menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek, melambatnya proses penerimaan
informasi, kesulitan mengenal benda-benda, gangguan dalam penyusunan rencana yang
dapat mengakibatkan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang disebut
amnesia atau pikun. Gejala pertama pelupa, perubahan kepribadian, penurunan
kemampuan untuk beraktivitas sehari-hari dan perilaku yang berulang-ulang dapat juga
disertai delust paranoid atau perilaku antisosial lainnya (Mery E. Beck,2011:156).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja masalah gizi yang ada pada lansia ?
2. Apa faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi pada lansia ?
3. Apa dampak masalah gizi terhadap kualitas hidup (quality of life) lansia ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Reproduksi Usia Lanjut
2. Untuk mengetahui serta memahami apa saja masalah nutrisi yang berkaitan dengan
usia lanjut
3. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi pada lansia serta
dampaknya terhadap quality of life

1.4 Manfaat Penulisan


1. Sebagai bahan pembelajaran agar mahasiswa memiliki ilmu dan pemahaman
mengenai masalah gizi pada kelompok usia lanjut
2. Menjelaskan masalah-masalah gizi yang sering dialami oleh kelompok usia lanjut dan
status gizinya
3. Agar mahasiswa dapat membantu mengatasi masalah keadaan gizi pada lansia
4. Agar mahasiswa dapat memberi penyuluhan pada lansia untuk mengurangi faktor
resiko penyakit yang berhubungan dengan nutrisi pada lansia
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Masalah Gizi pada Lansia


Gizi memegang peranan sangat penting dalam kesehatan usia lanjut. Masalah
kekurangan gizi sering dialami oleh usia lanjut sebagai akibat dari menurunnya nafsu
makan karena penyakit yang dideritanya, kesulitan menelan karena berkurangnya air
liur, cara makan yang lambat karena penyakit pada gigi, gigi yang berkurang, dan mual
karena masalah depresi. Selain masalah kekurangan gizi, masalah obesitas (kegemukan)
juga sering dialami oleh usia lanjut, yang dapat timbul karena aktivitas pada kelompok
ini sudah berkurang sementara asupan makanan tidak dikurangi atau bahkan berlebihan.
Obesitas pada usia lanjut berdampak pada peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler,
diabetes mellitus, hipertensi, dan penurunan fungsi organ tubuh.
Asupan gizi yang sehat sangat diperlukan bagi usia lanjut untuk mempertahankan
kualitas hidupnya. Sementara untuk usia lanjut yang sakit, asupan gizi diperlukan untuk
proses penyembuhan dan mencegah agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut dari
penyakit yang dideritanya.
Dalam kehidupan ini manusia tidak dapat terhindar dalam proses penuaan yang
berlaku dalam kehidupan dirinya. Banyaknya gigi yang sudah tanggal, mengakibatkan
gangguan fungsi mengunyah yang dapat berdampak pada kurangnya asupan gizi pada
usia lanjut. Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan
seperti perut kembung, nyeri yang menurunkan nafsu makan, serta susah buang air
besar (BAB) yang dapat menyebabkan wasir. Kemampuan motorik menurun, selain
menyebabkan menjadi lamban, kurang aktif dan kesulitan menyuap makanan, juga
dapat mengganggu aktivitas kegiatan sehari-hari.
Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak, yang menyebabkan penurunan
daya ingat jangka pendek, melambatnya proses informasi, kesulitan berbahasa,
kesulitan mengenal benda-benda, kegagalan melakukan aktivitas yang mempunyai
tujuan (apraksia) dan gangguan dalam menyusun rencana, mengatur sesuatu,
mengurutkan, daya abstraksi, yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam melakukan
aktivitas sehari-hari yang disebut dimensia atau pikun. Gejala pertama adalah pelupa,
perubahan kepribadian, penurunan kemampuan untuk pekerjaan sehari-hari dan
perilaku yang berulang-ulang, dapat juga disertai delusi paranoid atau perilaku anti
sosial lainnya.
Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada
tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut. Perubahan
secara biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada masa tua, antara lain :
1) Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah, mengakibatkan juga
jumlah cairan tubuh yang berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan kering,
wajah keriput serta muncul garis-garis menetap. Oleh karena itu, pada Lansia
seringkali terlihat kurus.
2) Penurunan indera penglihatan akibat katarak pada lansia sehingga dihubungkan
dengan kekurangan vitamin A, vitamin C dan asam folat. Sedangkan gangguan pada
indera pengecap dihubungkan dengan kekurangan kadar Zn yang juga menyebabkan
menurunnya nafsu makan. Penurunan indera pendengaran terjadi karena adanya
kemunduran fungsi sel syaraf pendengaran.
3) Incontinentia urine (IU) adalah pengeluaran urin diluar kesadaran merupakan salah
satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia
lanjut, sehingga usia lanjut yang mengalami IU seringkali mengurangi minum yang
dapat menyebabkan dehidrasi.

2.2 Status gizi pada usia lanjut dan penyebabnya


1. Metabolisme basal menurun, kebutuhan kalori menurun, status
gizi lansia cenderung mengalami kegemukan/obesitas
2. Aktivitas/kegiatan fisik berkurang, kalori yang dipakai sedikit, akibatnya cenderung
kegemukan/obesitas
3. Ekonomi meningkat, konsumsi makanan menjadi berlebihan, akibatnya cenderung
kegemukan/obesitas
4. Fungsi pengecap/penciuman menurun/hilang, makan menjadi tidak enak dan nafsu
makan menurun, akibatnya lansia menjadi kurang gizi (kurang energi protein yang
kronis)
5. Penyakit periodontal (gigi tanggal), akibatnya kesulitan makan yang berserat (sayur,
daging) dan cenderung makan makanan yang lunak (tinggi kalori), hal ini
menyebabkan lansia cenderung kegemukan/obesitas
6. Penurunan sekresi asam lambung dan enzim pencerna makanan, hal ini
mengganggu penyerapan vitamin dan mineral, akibatnya lansia menjadi defisiensi
zat-zat gizi mikro
7. Mobilitas usus menurun, mengakibatkan susah buang air besar, sehingga lansia
menderita wasir yang bisa menimbulkan perdarahan dan memicu terjadinya anemia
8. Sering menggunakan obat-obatan atau alkohol, hal ini dapat menurunkan nafsu
makan yang menyebabkan kurang gizi dan hepatitis atau kanker hati
9. Gangguan kemampuan motorik, akibatnya lansia kesulitan untuk menyiapkan
makanan sendiri dan menjadi kurang gizi
10. Kurang bersosialisasi, kesepian (perubahan psikologis), akibatnya nafsu makan
menurun dan menjadi kurang gizi
11. Pendapatan menurun (pensiun), konsumsi makanan menjadi menurun akibatnya
menjadi kurang gizi
12. Dimensia (pikun), akibatnya sering makan atau malah jadi lupa makan, yang dapat
menyebabkan kegemukan atau pun kurang gizi

2.3 Masalah gizi yang dihadapi Lansia


a. Gizi Lebih
Gizi berlebih pada Lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota
besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan
berlebih, apalagi pada Lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya
aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk
mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit,
misalnya : penyakit jantung, DM dan hipertensi.
b. Gizi Kurang
Gizi kurang disebabkan karena berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini
disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang
tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit
menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.
c. Kekurangan Vitamin
Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan
kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan
menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

2.4 Kebutuhan gizi untuk Lansia


Kebutuhan unsur gizi tertentu pada lansia mengalami peningkatan, hal ini
disebabkan oleh terjadinya proses degradasi (perusakan) yang berlangsung sangat cepat.
Misalnya sebagian besar lansia wanita membutuhkan asupan mineral kalsium sedikit
lebih tinggi. Tujuannya untuk memperlambat proses kerusakan tulang. Di lain pihak,
kebutuhan kalori justru mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya usia.
Penurunan ini berhubungan dengan rendahnya aktivitas fisik dan metabolisme basal
tubuh (Metabolisme : proses kimiawi dalam tubuh untuk melaksanakan berbagai fungsi
pentingnya). Sehingga jika bertambahnya usia tidak diimbangi dengan penurunan
asupan kalori maka terjadinya obesitas atau kegemukan, kemungkinan besar tidak dapat
dihindari. Secara prinsip kebutuhan gizi setiap individu berbeda-beda. Hal ini
tergantung pada kondisi kesehatan, berat badan aktual, dan tinggi rendahnya tingkat
aktivitas fisik seseorang. Di samping itu, angka kecukupan gizi untuk pria dan wanita
sedikit berbeda karena adanya perbedaan dalam ukuran dan komposisi tubuh.
a) Kalori
Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-
orang berusia lanjut menurun sekitar 15-20%, disebabkan berkurangnya massa otot
dan aktivitas. Kalori (energi) diperoleh dari lemak 9,4 kal, karbohidrat 4 kal, dan
protein 4 kal per gramnya. Bagi lansia komposisi energi sebaiknya 20-25% berasal
dari protein, 20% dari lemak, dan sisanya dari karbohidrat. Kebutuhan kalori untuk
lansia laki-laki sebanyak 1960 kal, sedangkan untuk lansia wanita 1700 kal. Bila
jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi akan disimpan
berupa lemak, sehingga akan timbul obesitas.
b) Protein
Dibutuhkan 1 gram per kg berat badan. Pada lansia, masa ototnya per hari
berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang, harus
lebih tinggi dari orang dewasa, efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein)
oleh tubuh telah berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerapannya kurang
efisien). Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya konsumsi
proteinnya ditingkatkan sebesar 12-14% dari porsi untuk orang dewasa. Sumber
protein yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-kacangan.
c) Lemak
Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total kalori yang
dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih dari 40% dari konsumsi
energi) menyebabkan penyakit astheosclerosis (penyumbatan pembuluh darah ke
jantung). Dianjurkan 20% dari konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak
jenuh (PUFA = poly unsaturated faty acid). Minyak nabati merupakan sumber asam
lemak tidak jenuh yang baik, sedangkan lemak hewani banyak mengandung asam
lemak jenuh.
d) Karbohidrat dan serat makanan
Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi
(susah BAB) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus. Serat makanan telah
terbukti dapat menyembuhkan kesulitan tersebut. Sumber serat yang baik
bagi lansia adalah sayuran, buah-buahan segar dan biji-bijian utuh. Manula tidak
dianjurkan mengkonsumsi suplemen serat (yang dijual secara komersial), karena
dikuatirkan konsumsi seratnya terlalu banyak, yang dapat menyebabkan mineral dan
zat gizi lain terserap oleh serat sehingga tidak dapat diserap tubuh. Lansia
dianjurkan untuk mengurangi konsumsi gula-gula sederhana dan menggantinya
dengan karbohidrat kompleks, yang berasal dari kacang-kacangan dan biji-bijian
yang berfungsi sebagai sumber energi dan sumber serat.
e) Vitamin dan mineral
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurang mengkonsumsi
vitamin A, B1, B2, B6, niasin, asam folat, vitamin C, D, dan E umumnya
kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya konsumsi makanan, khususnya
buah-buahan dan sayuran. Kekurangan mineral yang paling banyak
diderita lansia adalah kurang mineral kalsium yang menyebabkan kerapuhan tulang
dan kekurangan zat besi menyebabkan anemia. Kebutuhan vitamin dan mineral bagi
lansia menjadi penting untuk membantu metabolisme zat-zat gizi yang lain. Sayuran
dan buah hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai sumber vitamin, mineral dan
serat.
f)Air
Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukan tubuh.
Mengganti yang hilang (dalam bentuk keringat dan urine), membantu pencernaan
makanan dan membersihkan ginjal (membantu fungsi kerja ginjal). Pada lansia
dianjurkan minum lebih dari 6-8 gelas per hari.

Kebutuhan gizi lansia setiap individu sangat dipengaruhi oleh :


1) Umur
2) Jenis kelamin
3) Aktivitas/kegiatan fisik dan mental
4) Postur tubuh
5) Pekerjaan
6) Iklim/suhu udara
7) Kondisi fisik tertentu
8) Lingkungan

2.5 Masalah penyerapan gizi pada Lansia


1) Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong
Bagian dalam rongga mulut yang lazim terpengaruh adalah gigi, gusi dan ludah.
Tanggalnya gigi bukan hanya disebabkan oleh penuaan, tapi juga dikondisikan oleh
pemeliharaan yang tidak baik. Ketidakbersihan mulut menyebabkan gigi dan gusi
kerap terinfeksi. Selain itu, sekresi air ludah berkurang sampai kira-kira 75%
sehingga mengakibatkan pengeringan rongga mulut, dan berkemungkinan
menurunkan cita rasa.
Keadaan dalam Rongga Mulut yang Mengganggu Proses Makan
Struktur
Permasalahan Tanda/Gejala
Mulut
Kelenjar Ludah Serostomia Volume ludah kurang, makanan terselip
di sela gigi, rasa terbakar, sariawan yang
luas, glosodinia, glositis atrofik,
gangguan pengecapan, tidak bisa
menggunakan gigi palsu, dan iritasi serta
ulserasi mulut.

Gigi Atrisi Efisiensi mengunyah berkurang, sendi


rahang terganggu.
Karies Efisiensi mengunyah berkurang, nyeri
dalam mulut, gigi hipersensitif, nyeri
dalam mulut, cryalgesia, thermalgesia.
Ompong Efisensi mengunyah berkurang.

Periodontium Ginggivitis Nyeri mulut, pengecapan tak nyaman


Periodontitis Nyeri mulut, efisiensi mengunyah
berkurang, pengecapan tak nyaman.

Tulang Gigi Massa Berkurang Efisiensi mengunyah berkurang, sendi


rahang terganggu (resorpsi tulang), gigi
goyah dan tanggal, tidak bisa
menggunakan gigi palsu.

Sendi Rahang Gangguan Fungsi Nyeri sendi dan otot mulut dan muka
serta mulut, rahang lecet, dan gerakannya
terbatas, trismus, efisiensi mengunyah
berkurang.

Otot Mulut dan Atrofi Efisiensi mengunyah berkurang,


Muka kekuatan menggigit dan muka
berkurang, disfagia, tak bisa pakai gigi
palsu.
Diskinesia Mulut Efisiensi mengunyah berkurang, disfagia

Lidah Glositis Kemampuan mengecap hilang.


Glosodinia Nyeri mulut, odinofagia.

Lapisan Atrofi Efisiensi mengunyah berkurang.


Mukosa Glosodinia, daya kecap hilang.
Sindrom Rasa Terbakar Nyeri mulut, glosodinia, odino fagia
Kandidiasis Nyeri mulut, odinofagia.
Stomatitis Kontak Nyeri mulut, disfagia
Kanker Ulkus Trauma Nyeri mulut, disfagia.

Gigi Palsu Kebersihan Buruk Kepekaan mengecap berkurang


Stomatitis Nyeri mulut
Ulserasi Nyeri mulut
Wearing Efisiensi mengunyah dan kepekaan
pengecapan berkurang.

2) Berkurangnya sensitivitas indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap


cita rasa manis, asin, asam dan pahit.
3) Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran
Penuaan esophagus berupa pengerasan sfingter bagian bawah sehingga sukar
mengendur (relaksasi) dan mengakibatkan esophagus melebar (presbyesofagus).
Keadaan ini memperlambat pengosongan esophagus dan tidak jarang berlanjut
sebagai hernia hiatal. Gangguan menelan biasanya berpangkal pada daerah
presofagus, tepatnya di daerah orofaring. Penyebabnya tersembunyi dalam sistem
saraf sentral atau akibat gangguan neuromuscular, seperti jumlah ganglion yang
menyusut sementara lapisan otot polos menebal. Dengan manometer akan tampak
tanda perlambatan pengosongan esophagus.
4) Rasa lapar menurun, asam lambung menurun
Lapisan lambung Lansia menipis. Di atas usia 60 tahun, sekresi HCl dan pepsin
berkurang. Dampaknya, penyerapan B12 dan zat besi menurun.
5) Penyerapan makanan di usus menurun.
Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi.
Berat total usus halus (di atas 40 tahun) berkurang, meskipun penyerapan zat gizi
pada umumnya masih dalam batas normal, kecuali kalsium (di atas usia 60 tahun)
dan zat besi.

2.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi Lansia


1) Aktivitas Fisik
Pada umumnya, para lansia akan mengalami penurunan aktivitas fisik. Salah
satu faktor penyebabnya adalah pertambahan usia yang dapat menyebabkan
terjadinya kemunduran biologis. Kondisi ini setidaknya akan membatasi aktivitas
yang menuntut ketangkasan fisik. Penurunan aktivitas fisik pada lansia harus
diimbangi dengan penurunan asupan kalori, hal tersebut dilakukan untuk mencegah
timbulnya penyakit degeneratif.
2) Kemunduran Biologis
Seperti yang sudah diuraikan tadi bahwa memasuki usia senja, sesorang akan
mengalami beberapa perubahan, baik secara fisik maupun biologis, misalnya
tanggalnya gigi, kulit keriput, penglihatan berkurang, keropos tulang, rambut
beruban, pikun, depresi, sensitivitas indera berkurang, metabolisme basal tubuh
berkurang, dan kurang lancarnya proses pencernaan. Oleh karena itu asupan gizi
untuk lansia harus disesuaikan dengan perubahan kemampuan organ-organ tubuh
lansia sehingga dapat mencapai kecukupan gizi lansia yang optimal.
3) Pengobatan
Bertambahnya usia identik dengan ketergantungan obat. Pada dasarnya,
pengobatan dapat memperbaiki kondisi kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup,
tetapi di lain pihak pengobatan pun dapat mempengaruhi asupan kebutuhan gizi
lansia, efek ini timbul karena obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi proses
penyerapan zat gizi. Oleh karena itu bagi lansia yang harus menggunakan beberapa
jenis obat dianjurkan untuk selalu mengkonsultasikan kepada dokter mengenai
kemungkinan terjadinya efek samping obat yang sedang dan akan digunakan selain
itu pasien juga dianjurkan untuk meminta saran dari dokter atau ahli gizi tentang
pilihan makanan yang sebaiknya dikonsumsi.
4) Depresi dan Kondisi Mental
Depresi hampir dialami 12 14% populasi lansia. Perubahan lingkungan
sosial, kondisi yang terisolasi, kesepian, dan berkurangnya aktivitas menjadikan
para lansia mengalami rasa frustasi dan kurang bersemangat. Akibatnya, selera
makan terganggu sehingga secara tidak langsung dapat memicu terjadinya status
gizi buruk.
5) Penyakit
Meningkatnya usia menyebabkan seseorang menjadi rentan terserang
penyakit. Penyakit-penyakit tertentu sering menyebabkan keadaan gizi buruk
misalnya penderita diabetes mellitus umumnya mempunyai berat badan dibawah
normal, hal tersebut disebabkan karena karena defisiensi insulin kondisi ini akan
menyebabkan sedikitnya glukosa yang dapat diserap tubuh untuk diubah menjadi
glukogen (energi), dengan demikian untuk memenuhi kebutuhan energi, tubuh akan
merombak lemak (lipolisis) dan protein (proteolisis) untuk dijadikan sumber energi.
Jika kondisi ini terjadi secara terus menerus akan menyebabkan cadangan lemak dan
protein di dalam tubuh berkurang. Akibatnya berat badan akan menurun.

2.7 Cara mengatur makanan bagi Lansia


1) Dengan memperhatikan prinsip-prinsip kebutuhan gizinya yaitu kebutuhan energi
memang lebih rendah dari pada usia dewasa muda (turun sekitar 5-10%), kebutuhan
protein sebesar 1 gr/kg BB, kebutuhan lemak berkurang, kebutuhan karbohidrat
cukup (sekitar 50%), kebutuhan vitamin dan mineral sama dengan usia dewasa
muda. Atau dengan cara praktis melihat di DKGA (Daftar Kecukupan Gizi yang
Dianjurkan)
2) Menu yang disajikan untuk lansia harus mengandung gizi yang seimbang yakni
mengandung sumber zat energi, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur.
Dalam hal ini kita bisa mengacu pada makanan empat sehat lima sempurna.
3) Karena lansia mengalami kemunduran dan keterbatasan maka konsistensi dan
tekstur atau bentuk makanan harus disesuaikan. Sebagai contoh : gangguan pada
gigi (gigi tanggal/ompong), maka bentuk makanannya harus lunak, misal nasi ditim,
lauk pauk dicincang (ayam disuwir, daging sapi dicincang/digiling)
4) Makanan yang kurang baik bagi lansia adalah makanan berlemak tinggi seperti
jeroan (usus, hati, ampela, otal dll), lemak hewan, kulit hewan (misal kulit ayam,
kulit sapi, kulit babi dll), goreng-gorengan, santan kental. Karena seperti prinsip
yang disebutkan tadi bahwa kebutuhan lemak lansia berkurang dan pada lansia
mengalami perubahan proporsi jaringan lemak. Hal ini bukan berarti lansia tidak
boleh mengkonsumsi lemak. Lansia harus mengkonsumsi lemak namun dengan
catatan sesuai dengan kebutuhannya. Sebagai contoh misalnya bila menu hari ini
lauknya sudah digoreng, maka sayurannya lebih baik sayur yang tidak bersantan
seperti sayur bening, sayur asam atau tumis. Bila hari ini sayurnya bersantan maka
lauknya dipanggang, dikukus, dibakar atau ditim.
5) Lansia harus diberi pengertian untuk mengurangi atau kalau bisa menghindari
makanan yang mengandung garam natrium yang tinggi. Contoh bahan makanan
yang mengandung garam natrium yang tinggi adalah garam dapur, vetsin, daging
kambing, jerohan, atau makanan yang banyak mengandung garam dapur misalnya
ikan asin, telur asin, ikan pindang. Mengapa lansia harus menghindari makanan
yang mengandung garam natrium yang tinggi ? Hal ini dikarenakan pada lansia
mudah mengalami hipertensi. Hal ini, seperti yang dijelaskan tadi bahwa elastisitas
pembuluh darah telah menurun dan terjadi penebalan di dinding pembuluh darah
yang mengakibatkan mudahnya terkena hipertensi. Selain itu indera pengecapan
pada lansia mulai berkurang, terutama untuk rasa asin, sehingga rasa asin yang
cukup-pun terasa masih kurang bagi mereka, lalu makanan ditambah garam yang
banyak, hal ini akan meningkatkan tekanan darah pada lansia. Jadi kita memang
perlu sampaikan kepada lansia bahwa panduan rasa asinnya tidak bisa lagi dipakai
sebagai ukuran, karena bila dengan panduan asin dari lansia, untuk kita yang belum
lansia akan terasa asin sekali.
6) Lansia harus memperbanyak makan buah dan sayuran, karena sayur dan buah
banyak mengandung vitamin, mineral dan serat. Lansia sering mengeluhkan tentang
konstipasi/susah buang air besar, nah dengan mengkonsumsi sayur dan buah yang
kaya akan serat maka akan melancarkan buang air besar. Untuk buah, utamakan
buah yang bisa dimakan dengan kulitnya karena seratnya lebih banyak. Dengan
mengkonsumsi sayuran dan buah sebenarnya lansia tidak perlu lagi mengkonsumsi
suplemen makanan.
7) Selain konsumsi sayur dan buah, Lansia harus banyak minun air putih. Kebutuhan
air yakni 1500 2000 ml atau 6 -8 gelas perhari. Air ini sangat besar artinya karena
air menjalankan fungsi tubuh, mencegah timbulnya penyakit di saluran kemih
seperti kencing batu, batu ginjal dan lain-lain. Air juga sebagi pelumas bagi fungsi
tulang dan engselnya, jadi bila tubuh kekurangan cairan maka fungsi, daya tahan
dan kelenturan tulang juga berkurang. Air juga berguna untuk mencegah sembelit,
karena untuk penyerapan makanan dalam usus memerlukan air.

2.8 Sajian Lengkap Gizi bagi Lansia


Kecukupan makanan sehat sangat penting bagi para usia lanjut. Orang yang
berusia 70 tahun, kebutuhan gizinya sama dengan saat berumur 50-an. Sayangnya,
nafsu makan mereka cenderung terus menurun. Karena itu, harus terus diupayakan
konsumsi makanan penuh gizi.
Bertambahnya usia menyebabkan indra rasa menurun. Sebagai kompensasi,
banyak orang lanjut usia (lansia) memilih makanan yang rasanya sangat manis atau
asin. Padahal, penambahan gula hanya memberikan kalori kosong (tidak ada nilai
gizinya), sedangkan garam dapat meningkatkan tekanan darah.
Indra pencium dan penglihatan juga terganggu, sehingga mengakibatkan
pemilihan makanan yang berbau tajam atau minat terhadap makanan menurun.
Perubahan emosi karena depresi dan kesepian juga membuat nafsu makan menurun.
Masalah gigi sering dialami lansia, seperti gigi tanggal, gigi berlubang, dan gigi palsu
yang tidak nyaman. Kesemuanya ini berisiko menimbulkan kurang gizi.

Contoh Menu Lansia Dalam 1 Hari


Waktu Makan Pria (2200 kal) Wanita (1850 kal)
Pagi 1 gls nasi/ pengganti 1 gls nasi/ pengganti
1 butir telur (Telur Mata Sapi) 1 btr telur

100 gr sayuran (Cah Kangkung) 100 gr sayuran

1 gls susu skim 1 gls susu skim

Pukul 10.00 Snack/buah (Nagasari) Snack/buah


Siang 1 gls nasi 1 gls nasi

50 gr daging/ikan/unggas (Pepes 50 gr daging/ikan/unggas


Ikan)
25 gr tempe/kacang-kacangan
25 gr tempe/kacang-kacangan
(Tempe bb Tomat) 150 gr sayuran

150 gr sayuran (Sayur Asem) 1 ptg buah

1 ptg buah (Semangka)

Pukul 17.00 Snack/ buah (Bubur Kacang Hijau) Snack/ buah


Malam 1 gls nasi 1 gls nasi

50 gr daging/ikan/unggas (Basho 50 gr daging/ikan/unggas


Daging)
50 gr tahu
50 gr tahu (Hot Tahu)
150 gr sayuran
150 gr sayuran (Sup Sayur)
1 ptg buah
1 ptg buah (Pisang)

2.9 Menu Sehat bagi Lansia


a. Perencanaan Makanan untuk Lansia
Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang
terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan
hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering
dengan porsi yang kecil.
Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar
pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan
memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi.
Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang
berlemak seperti santan, mentega dll.
Bagi pasien lansia yang proses penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut : Memakan makanan yang mudah dicerna, menghindari
makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan, bila kesulitan
mengunyah karena gigi rusak atau gigi palsu kurang baik, makanan harus
lunak/lembek atau dicincang, makan dalam porsi kecil tetapi sering, makanan
selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan.
Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab
berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan.
Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur, daging
rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.
Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau
dipanggang kurangi makanan yang digoreng.

b. Nutrisi dan Mineral Yang Dapat Meningkatkan Sistem Imun Orang Tua
Nutrisi dan mineral-mineral yang dapat meningkatkan sistem imun orang tua antara
lain (Dickinson A, 2002) :
Beta-glucan
Adalah sejenis gula kompleks (polisakarida) yang diperoleh dari dinding sel
ragi roti, gandum, jamur (maitake). Hasil beberapa studi menunjukkan
bahwa beta glucan dapat mengaktifkan sel darah putih (makrofag dan
neutrofil).
Hormon DHEA
Studi menggambarkan hubungan signifikan antara DHEA dengan aktivasi
fungsi imun pada kelompok orang tua yang diberikan DHEA level tinggi dan
rendah. Juga wanita menopause mengalami peningkatan fungsi imun dalam
waktu 3 minggu setelah diberikan DHEA.
Protein: arginin dan glutamin
Lebih efektif dalam memelihara fungsi imun tubuh dan penurunan infeksi
pasca-pembedahan. Arginin mempengaruhi fungsi sel T, penyembuhan luka,
pertumbuhan tumor, dans ekresi hormon prolaktin, insulin, growth hormon.
Glutamin, asam amino semi esensial berfungsi sebagai bahan bakar dalam
merangsang limfosit dan makrofag, meningkatkan fungsi sel T dan neutrofil.
Lemak
Defisiensi asam linoleat (asam lemak omega 6) menekan respons antibodi,
dan kelebihan intake asam linoleat menghilangkan fungsi sel T. Konsumsi
tinggi asam lemak omega 3 dapat menurunkan sel helper, produksi
cytokine.
Yoghurt yang mengandung Lactobacillus acidophilus dan probiotik lain.
Meningkatkan aktivitas sel darah putih sehingga menurunkan penyakit
kanker, infeksi usus dan lambung, dan beberapa reaksi alergi.
Mikronutrien (vitamin dan mineral)
Vitamin yang berperan penting dalam memelihara system imun tubuh orang
tua adalah vitamin A, C, D, E, B6, dan B12. Mineral yang mempengaruhi
kekebalan tubuh adalah Zn, Fe, Cu, asam folat, dan Se.
Zinc : menurunkan gejala dan lama penyakit influenza. Secara tidak
langsung mempengaruhi fungsi imun melalui peran sebagai faktor
dalam pembentukan DNA, RNA, dan protein sehingga meningkatkan
pembelahan sellular. Defisiensi Zn secara langsung menurunkan
produksi limfosit T, respons limfosit T untuk stimulasi atau
rangsangan, dan produksi IL-2.
Lycopene : meningkatkan konsentrasi sel Natural Killer (NK)
Asam Folat : meningkatkan sistem imun pada kelompok lansia. Studi
di Canada pada sekelompok hewan tikus melalui pemberian asam
folate dapat meningkatkan distribusi sel T dan respons mitogen
(pembelahan sel untuk meningkatkan respons imun). Studi terbaru
menunjukkan intake asam folat yang tinggi mungkin meningkatkan
memori populasi lansia (Daniels S, 2002).
Vitamin E : melindungi sel dari degenerasi yang terjadi pada proses
penuaan. Studi yang dilakukan oleh Simin Meydani, PhD. Di Boston
menyimpulkan bahwa vitamin E dapat membantu peningkatan
respons imun pada penduduk lanjut usia. Vitamin E adalah
antioksidan yang melindungi sel dan jaringan dari kerusakan secara
bertahap akibat oksidasi yang berlebihan. Akibat penuaan pada
respons imun adalah oksidatif secara alamiah sehingga harus
dimodulasi oleh vitamin E (Murray F, 1991).
Vitamin C : meningkatkan level interferon dan aktivitas sel imun
pada orang tua, meningkatkan aktivitas limfosit dan makrofag, serta
memperbaiki migrasi dan mobilitas leukosit dari serangan infeksi
virus, contohnya virus influenzae.
Vitamin A : Berperan penting dalam imunitas nonspesifik melalui
proses pematangan sel-sel T dan merangsang fungsi sel T untuk
melawan antigen asing, menolong mukosa membran termasuk
paruparu dari invasi mikroorganisme, menghasilkan mukus sebagai
antibodi tertentu seperti: leukosit, air, epitel, dan garam organik, serta
menurunkan mortalitas campak dan diare. Beta karoten (prekursor
vitamin A) meningkatkan jumlah monosit, dan mungkin
berkontribusi terhadap sitotoksik sel T, sel B, monosit, dan makrofag.
Gabungan/kombinasi vitamin A, C, dan E secara signifikan
memperbaiki jumlah dan aktivitas sel imun pada orang tua. Hal itu
didukung oleh studi yang dilakukan di Perancis terhadap penghuni
panti wreda tahun 1997. Mereka yang diberikan suplementasi
multivitamin (A, C, dan E) memiliki infeksi pernapasan dan
urogenital lebih rendah daripada kelompok yang hanya diberikan
plasebo.
Vitamin D : menghambat respons limfosit Th-1.
Kelompok Vitamin B : Terlibat dengan enzim yang membuat
konstituen sistem imun. Pada penderita anemia defisiensi vitamin
B12 mengalami penurunan sel darah putih dikaitkan dengan fungsi
imun. Setelah diberikan suplementasi vitamin B12, terdapat
peningkatan jumlah sel darah putih. Defisiensi vitamin B12 pada
orang tua disebabkan oleh menurunnya produksi sel parietal yang
penting bagi absorpsi vitamin B12. Pemberian vitamin B6 (koenzim)
pada orang tua dapat memperbaiki respons limfosit yang menyerang
sistem imun, berperan penting dalam produksi protein dan asam
nukleat. Defisiensi vitamin B6 menimbulkan atrofi pada jaringan
limfoid sehingga merusak fungsi limfoid dan merusak sintesis asam
nukleat, serta menurunnya pembentukan antibodi dan imunitas
sellular.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dengan mengatur makanan sesuai dengan dunianya, kehidupan Lansia yang
membahagiakan akan dapat dipertahankan. Mereka pun tidak akan terlalu merasakan
kehidupan yang berbeda dari saat masih muda. Selain mengatur makanan, sangat penting
untuk mempertahankan aktivitas agar tetap sehat, seperti berjalan kaki, berenang, dan
senam ringan. Berkebun juga bisa menjadi pilihan hobi yang sehat dan menyenangkan.
Para Lansia sangat membutuhkan gizi yang baik agar kehidupan mereka tetap sehat dan
harmonis.

3.2 Saran
Diharapkan kedepannya seorang Bidan lebih mampu memberikan saran atau
informasi gizi yang tepat dan sesuai dengan masalah gizi yang dialami setiap individu
Lansia sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup lansia serta mengurangi masalah
kesehatan yang diderita lansia.
DAFTAR PUSTAKA