Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Cabai merupakan salah satu tanaman penting di Indonesia. Namun pada

saat musim hujan menjelang musim kemarau selalu datang penyakit antraknosa

yang menyerang cabai. Penyakit tersebut menyerang bagian buah cabai sehingga

nampak seperti terbakar dan gosong. Walaupun petani sudah membeli benih yang

bermutu dan memperlakukannya dengan baik namun untuk mencegah penyakit ini

belum menemukan cara yang efektif. Akibatnya, produksi cabai menurun dan

menyebabkan harganya naik (Suara merdeka, 2005). Penyakit antraknosa pada

tanaman cabai ini merupakan penyakit yang menjadi salah satu kendala utama

dalam usaha budidaya cabai (Gunawan, 2005:297).

Serangan antraknosa disebabkan jamur genus Colletotrichum. Jamur ini

mempunyai enam spesies utama yaitu C. gloeosporiodes Penz., C. acutatum, C.

dematium, C. capsici dan C. acutatum. Penyakit karena jamur ini masih

merupakan faktor pembatas produksi cabai Indonesia. Colletotrichum

gloeosporiodes Penz. mengakibatkan kerusakan buah dan kehilangan hasil paling

besar. Lebih dari 90 persen antraknosa yang menginfeksi cabai diakibatkan C.

gloeosporiodes Penz. Jamur patogen ini menjangkiti bagian yang berbeda dari

tanaman. Walaupun infeksi antraknosa dapat terjadi pada semua tahap

perkembangan tanaman, tahap yang paling diperhatikan dari infeksi ini dalam

variasi buah setelah panen dan ini bagian yang penting pada hasil buah di daerah

1
2

tropika dan subtropika. Pada lingkungan kondusif penyakit ini dapat

menghancurkan seluruh areal pertanaman cabai. Daerah Brebes Jawa Tengah,

antraknosa masih merugikan hingga 45 persen, Demak hingga 65 persen,

sedangkan di Sumatera Barat mencapai 35 persen (Suara Merdeka, 2007).

Sampai saat ini untuk mengurangi kerugian akibat penyakit antraknosa,

penggunaan fungisida sintetik merupakan cara perlindungan tanaman yang paling

umum dijumpai sebagai tindakan preventif. Pengendalian secara intensif telah

dilakukan menggunakan fungisida kontak dan fungisida sistemik, namun belum

optimal (Suara Merdeka, 2007). Penggunaan fungisida sintetik yang berlebihan

dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan manusia, polusi lingkungan dan

berkembangnya jamur patogen yang resisten terhadap fungisida (Prapagdee et al.,

2008:1187). Untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan dari

penggunaan fungisida sintetik ini, diperlukan alternatif lain untuk dikembangkan

yang tidak memberikan efek berbahaya bagi manusia maupun lingkungan. Dalam

hal ini, senyawa yang dihasilkan oleh tanaman merupakan hal yang menarik

sebagai sumber yang aman dan berpotensi untuk fungisida bahan nabati

(biofungisida) (Thamrin et al., 2008:35).

Biofungisida ini bersifat ramah lingkungan sehingga aman bagi

lingkungan, manusia, dan hewan karena tidak menyisakan residu bahan kimia

yang berbahaya di dalam tanah dan sangat baik untuk pertanian organik

(Purwantisari, 2008). Saat ini, penduduk dunia mulai menaruh perhatian pada

produk-produk pangan organik. Masyarakat Cheska menghabiskan 15,9 juta

dolar AS untuk membeli produk organik. Sementara di Swiss, sekitar 10-15


3

persen rumah tangga membeli produk organik secara teratur (Pikiran Rakyat,

2007). Berbagai jenis tumbuhan telah diketahui mengandung senyawa bioaktif

antara lain alkaloid, terpenoid, steroid, asetogenin, fenil propan, dan tanin yang

bersifat toksik pada dosis tinggi (Lenny, 2006:1). Salah satu tanaman yang

menghasilkan senyawa bioaktif yang dapat dijadikan sebagai biofungisida (anti

fungi) adalah kunyit (Curcuma domestica Val.). Kunyit mengandung

kurkuminoid dan minyak atsiri yang merupakan bagian penting dalam aktivitas

biologi seperti anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, dan anti fungi (Cikrikci

et al., 2008:20; Luthra et al., 2001:153).

Penelitian tentang anti oksidan dan aktivitas anti mikroba sabun larutan

murni rimpang kunyit pada pasien HIV (Ungphaiboon et al., 2005:575). Hasil

penelitian ini menyimpulkan bahwa aktivitas anti mikroba sabun larutan murni

ekstrak rimpang kunyit 0,5% w/v dapat menghambat secara signifikan (p<0,05)

Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Candida albicans, dan Cryptococcus

neoformans. Selain itu, stabilitas ekstrak rimpang kunyit sebagai anti mikroba

Cryptococcus neoformans menurun secara signifikan selama empat bulan pada

suhu 45oC dan suhu ambient. Hasil penelitian ini dapat menunjukkan bahwa

ekstrak rimpang kunyit dapat dijadikan anti mikroba dan anti fungi dengan batas

lama dan suhu penyimpanan.

Sifat bahan nabati pada umumnya mudah terurai di alam (Thamrin et al.,

2008:35) menyebabkan anti fungi ekstrak rimpang kunyit tidak stabil. Karena itu,

perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah ekstrak rimpang kunyit

masih memiliki aktivitas sebagai anti fungi setelah disimpan dalam lama dan suhu
4

penyimpanan tertentu. Untuk mengetahuinya dilakukan uji aktivitas sebagai anti

fungi terhadap pertumbuhan C. gloeosporioides Penz. setelah sediaan ekstrak

rimpang kunyit terlebih dahulu disimpan pada lama dan suhu penyimpanan yang

telah ditentukan yaitu selama 0, 7, 14, 21, 28 dan 35 hari dan suhu kamar (242C)

dan suhu dingin (102 oC) dengan parameter pertumbuhan miselium.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah pengaruh lama dan suhu penyimpanan ekstrak rimpang

kunyit (C. domestica Val.) terhadap penghambatan pertumbuhan jamur

C. gloeosporioides Penz. secara in vitro?.

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas dapat dimunculkan

beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh lama penyimpanan ekstrak rimpang kunyit terhadap

penghambatan pertumbuhan jamur C. gloeosporioides Penz.?

2. Bagaimana pengaruh suhu penyimpanan ekstrak rimpang kunyit terhadap

penghambatan pertumbuhan jamur C. gloeosporioides Penz.?

3. Bagaimana pengaruh interaksi antara lama dan suhu penyimpanan ekstrak

rimpang kunyit terhadap penghambatan pertumbuhan jamur C.

gloeosporioides Penz.?
5

C. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada hal-hal sebagai berikut :

1. Lama penyimpanan ekstrak yang digunakan 0, 7, 14, 21, 28 dan 35 hari yang

disimpan pada suhu kamar (242C) dan suhu dingin (102 oC).

2. Konsentrasi ekstrak rimpang kunyit yang digunakan dalam penelitian adalah

0,04% dengan DMSO 1% sebagai larutan pengencernya.

3. Akuades dan DMSO 1% digunakan sebagai kontrol negatif dan Dithane-M 45

0,2% (mengandung mancozeb 80%) sebagai kontrol positif.

4. Jamur C. gloeosporioides Penz. diperoleh dari koleksi Laboratorium Balai

Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) Lembang.

5. Parameter yang diukur adalah diameter pertumbuhan dan persentase

penghambatan jamur C. gloeosporioides Penz.

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama dan suhu

penyimpanan ekstrak rimpang kunyit (C. domestica Val.) terhadap penghambatan

pertumbuhan jamur C. gloeosporioides Penz. secara in vitro.

2. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan atau bahan

informasi untuk penelitian di lapangan sehingga dapat diaplikasikan oleh petani


6

cabai merah dalam lamanya penyimpanan ekstrak rimpang kunyit pada suhu yang

efektif.

E. Asumsi

Stabilitas ekstrak rimpang kunyit sebagai anti mikroba Cryptococcus

neoformans menurun secara signifikan selama empat bulan pada suhu 45 oC dan

suhu ambient (Ungphaiboon et al., 2005:575).

F. Hipotesis

Terdapat pengaruh lama dan suhu penyimpanan ekstrak rimpang kunyit (C.

domestica Val.) terhadap penghambatan pertumbuhan jamur C. gloeosporioides

Penz. secara in vitro.