Anda di halaman 1dari 37

PT Indorama Petrochemicals

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Praktek Kerja Industri

Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) adalah sebuah pelatihan dan


pembelajaran yang dilaksanakan di Dunia Usaha atau Dunia Industri yang relevan
dengan kompetensi keahlian yang dimilikinya masing masing, dalam upaya
meningkatkan mutu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan juga menambah bekal
untuk masa-masa mendatang guna memasuki dunia kerja yang semakin banyak serta
ketat dalam persaingannya seperti saat ini.

Selain itu,dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,


banyak peralatan baru yang diciptakan guna menunjang banyaknya permintaan
produksi barang atau jasa yang menimbulkan perubahan mendasar untuk mendapat
pekerjaan, sehingga tenaga kerja dituntut bukan hanya memiliki kemampuan teknis
belaka, tetapi juga harus lebih fleksibel dan berwawasan lebih luas, inovatif serta
didukung dengan keterampilan yang kompeten, maka dengan adanya kegiatan
prakerin siswa dan siswi dapat mengasah dan juga megimplementasikan materi yang
didapatkannya di sekolah langsung ke dunia usaha atau dunia industri yang relevan
dengan kemampuannya masing-masing.

Dalam upaya untuk mewujudkan Visi dan Misi nya, SMK As-Syuhada
Al-Khairiyah Cilegon melaksanakan berbagai kegiatan demi menjadikan siswa dan
siswi yang siap memasuki dunia kerja dan dunia industri (DU/DI), tentunya hal itu
tidak dapat diraih dengan mudah, tidak hanya dengan belajar berbagai teori yang
berada di sekolah, namun seorang siswa atau siswi harus belajar mengenai
bagaimana lingkungan yang berada di dunia kerja dan tentunya bagaimana
pekerjaaan yang akan dihadapinya nanti selepas lulus dari sekolah.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 1


PT Indorama Petrochemicals

1.2 Tujuan PKL atau PSG


1. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian yang profesional yaitu
tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan dan etos kerja
yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.
2. Memperkokoh Link and Match antara sekolah dan dunia usaha.
3. Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang
berkualitas dan profesional
4. Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai
bagian dari proses pendidikan.

1.3 Manfaat Praktik Kerja Industri


Adanya manfaat Praktek Kerja Industri antara lain :
1. Menguji kebenaran teori yang diperoleh dari sekolah pada kegiatan nyata di
perusahaan.
2. Membina hubungan kerja sama yang baik antara pihak sekolah dengan
perusahaan atau lembaga instansi lainnya.
3. Mendapatkan pengalaman untuk bekal pada saat bekerja
nantinya.
4. Menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan antara pihak sekolah dengan
pihak perusahaan.

1.4 Tujuan Penulisan Laporan


1. Memantapkan sisiwa dalam pengembangan dan penerapan pelajaran yang telah
didapatkan dari sekolah di tempat pelaksanaan praktik kerja industri.
2. Peserta didik mampu mencari alternatif dalam memecahkan permasalahan dalam
bidang kejuruan yang sesuai dengan program yang dipilihnya secara lebih luas
dan mendalam yang tertulis dilaporan ini.
3. Mengembangkan pendidikan dan pelatihan di sekolah pada institusi, instansiatau
perusahaan.

1.5 Pembatasan Masalah


1. Pengenalan secara menyeluruh melalui orientasi umum.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


2
PT Indorama Petrochemicals
2. Pengenalan perusahaan dalam proses menjaga kualitas atau mutu bahan baku,
produk yang dihasilkan perusahaan.
3. Pengidentifikasi masalah dan penyelesaian melalui orientasi dan pelaksanaan
tugas khusus.

1.6 Tempat Dan Waktu Praktek Kerja Industri


Kerja Praktek ini dilaksanakan di PT Indorama Petrochemicals selama satu
bulan, mulai tanggal 03 sampai 28 april 2017. Tempat pelaksanaan kerja praktek
dibidang Utility bagian WWT (Waste Water Treatment) dan Air Demineralisasi.

Pelaksanaan kerja praktek di PT. Indorama Petrochemicals ini dilakukan


dibawah bimbingan :

1. Bpk Hasnul Ridho


2. Bpk AlKausar Basma Jaya

1.7 Sejarah Singkat Perusahaan


PT. Indorama Petrochemichals merupakan salah satu perusahaan industri
penghasil Purified Terepthalic Acid (PTA), bergerak dibidang petrochemichals.
Dimana paraxylene merupakan bahan dasar yang dapat diolah lebih lanjut menjadi
fiber, untuk pemakaian (polyester) dan botol kemasan.
PT. Indorama Petrochemicals, sebelumnya bernama PT. Polyprima Karyareksa.
Pada tahun 2006 PT. Polyprima Karyareksa mengalami kondisi perusahaan yang
mulai merugi, begitu juga pada tahun 2007 diikuti dengan tidak beroperasinya
perusahaan pada awal bulan oktober sampai awal tahun 2011. PT. Indorama
Petrochemichals kemudian membeli semua asset perusahaan PT. Polyprima
Karyareksa. Tepatnya, PT. Indorama Petrochemichals ini mulai beoperasi pada bulan
September tahun 2011 sampai dengan sekarang.
Luas lahan yang dimiliki PT. Indorama Petrochemichal adalah 261.052 m 3,
dimana dalam luasan lahan ini telah diperhitungkan untuk alokasi lahan terbuka dan
cadangan adalah lebih dari 50%. Denga luasan lahan yang masih banyak maka
kemungkinan untuk penggunaan lahan hijau sangatlah terbuka. Adapun, waktu operasi
pabrik PT. Indorama Petrochemichals adalah sebagai berikut :
Dalam satu hari : 24 Jam

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 3


PT Indorama Petrochemicals

Dalam satu minggu : 7 Hari


Jumlah shift tenaga kerja : 3 Shift
*) Shift I : Jam 07.00 15.00
*) Shift II : Jam 15.00 23.00
*) Shift III : Jam 23.00 07.00
Proses industri PTA (Purified Terepthalic Acid) oleh PT. Indorama
Petrochemichals berkapasitas 480.000 ton/tahun. Sebagai bahan baku digunakan
Paraxylene yang melalui proses oksidasi oleh udara, membentuk Terepthalic Acid.
Proses ini memerlukan katalis untuk mempercepat reaksi dan dilaksanakan dalam
keadaan asam. Pada dasarnya pembuatan PTA (Purified Terepthalic Acid) dilakukan
dalam 2 (dua) tahapan proses, yaitu :
Pembuatan Crude Terepthalic Acid (CTA)
Pemurnian CTA menjadi Purified Terepthalic Acid (PTA)

1.8 Lokasi Pabrik


Kerja Praktik dilaksanakan di PT. Indorama Petrochemichals yang beralamat di
Jl. Raya Anyer 121, Ciwandan Cilegon-Banten. Dimana kondisi atau fungsi lahan
tatangga PT. Indorama Petrochemichals berbatasan dengan :

Sebelah Utara : PT. Bayer Material Science Indonesia


Sebelah Selatan : Jl. Raya Anyer, Kelurahan Kepuh
Sebelah Barat : PT. Indorama Polypet
Sebelah Timur : PT. IPC II Banten

1.9 Dasar Teori


1.9.1 Polimer
Polimer adalah rantai berulang dari atom yang panjang, terbentuk dari
pengikat yang berupa molekul identik yang disebut monomer. Sekalipun
biasanya merupakan organik (memiliki rantai karbon), ada juga banyak

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


4
PT Indorama Petrochemicals
polimer anorganik. Contoh terkenal dari polimer adalah plastik dan DNA.
Polimer didefinisikan sebagai substansi yang terdiri dari molekul-
molekul yang menyertakan rangkaian satu atau lebih dari satu unit monomer,
manusia sudah berabad-abad menggunakan polimer dalalm bentuk minyak,
aspal, damar, dan permen karet. Tapi, industri polimer modern baru mulai
berkembang pada masa revolusi industri.

1.9.2 Polimerisasi

Polimerisasi adalah proses bereaksi molekul monomer bersama dalam


reaksi kimia untuk membentuk tiga dimensi jaringan atau rantai
polimer. Polimerisasi adalah polimerisasi membuka cincin yang serupa dengan
polimerisasi rantai. polimer alamiah mencakup protein seperti sutera, enzim
dan serat otot. Polimerisasi dibagi menjadi 2 jenis yaitu :

Tabel 1.1 Jenis Polimerisasi

Polimerisasi Contoh
Adisi polietilena, teflon, PVC, PVA, dan PMMA

Kondensasi nilon, kevlar, silicon rubber, dan poliester

1.9.3 Paraxylene

Paraxylene adalah hidrokarbon aromatik yang tersusun dari cincin


benzene dengan dua metil substituen. Kata pada Paraxylene mengindikasikan
posisi dari kedua metil yang terikat pada cincin benzene terletak pada ujung
yang bersebrangan. Nama lain dari paraxylene atau p-xylene adalah 1,4
dimethylbenzene atau p-xylol. Rumus kimia dari paraxylene adalah C8H10.
Rumus bangun dari paraxylene ditunjukan pada Gambar 1.1

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 5


PT Indorama Petrochemicals

Gambar 1.1 Rumus bangun paraxylene

Sifat fisik
Paraxylene berbentuk cairan bening yang mudah terbakar. Zat ini mempunyai
kelarutan yang kecil dalam air. Oleh sebab itu, dipilih asam asetat sebagai
pelarut dalam proses produksi PTA.

Tabel 1.2 Sifat fisik paraxylene

Sifat Fisik Nilai


Tekanan uap pada 20 C 6.4
Densitas uap, g/ml 3.7
Titik Didih, C 139
Titik Leleh, C 13
Kelarutan dalam air 0.1%
Specific gravity pada 25 C 0.86

Sifat kimia
Oksidasi paraxylene akan menghasilkan asam paratoluat. 4
karboksibenzaldehid (4-CBA), dan Terepthalic Acid (Othmer, 1996).

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


6
PT Indorama Petrochemicals

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 7


PT Indorama Petrochemicals

BAB II

PROSES PRODUKSI

2.1 Bahan Baku

2.1.1 Bahan Baku Utama

a. (paraxylene)

Paraxylene merupakan bahan baku utama dalam pembuatan


Purified Terepthalic Acid (PTA) dengan cara oksidasi. Paraxylene sebagai
bahan baku utama mula-mula diimpor dari Singapura dan Thailand dengan
kemurnian 99,02%. Paraxylene ini di terima dari kapal tanker dijetty dan
ditampung dalam 3 buah tangki yang masing-masing berkapasitas 9940
m3. Supply Paraxylene harus terjamin kesinambunganya, knsumsi pada
kapasitas produksi normal adalah 31 ton/jam. Penerimaan dari kapal
berkisar antara 3 sampai 6 kali perbulan.

2.1.2 Bahan Baku Penunjang

a. Acetic Acid (CH3COOH)

Acetic Acid digunakan sebagai pelarut (solvent) untuk Terephtalic


Acid, saat pembentukan direaktor. Acetic Acid yang dibutuhkan dalam
proses banyak tetapi penggunaan sebenarnya kecil. Tangki didesign
untuk menahan feed stock dan memberikan jarak untuk de-invetory
proses selama shut down.

Acetic Acid dimasukan kesistem solvent recovery dan dapat di


kembalikan dari proses dengan cara yang sama.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


8
PT Indorama Petrochemicals
b. Caustic Soda (NaOH)

Caustic Soda tidak digunakan didalam proses, melainkan digunakan


didalam semua bagian sistem untuk membersihkan penyumbatan, sebagian
juga digunakan dalam water treatment plant untuk meregenerasi resin di
unit demineralisasi. Low level NaOH digunakan pada suatu titik untuk
menghilangkan karat (korosin).

c. Fuel Oil Impor

Minyak disel digunakan dalam berbagai banyak pemakaian, Fuel oil


digunakan untuk menaikan steam pada 100 barg untuk menggerakan
proses purification. Pembakaran di thermal oksidiser untuk
menghancurkan unrecoverableside product. Minyak disel tidak mudah
menguap, karena itu tidak cepat menyala tapi sekalipun demikian
merupakan cairan hidrokarbon mudah terbakar.

d. Hydrolic Acid (HCL)

Hydrolic Acid digunakan di water treatment untuk regenerasi


catalyst.

2.2 Proses Produksi

2.2.1 Proses Produksi PTA

PTA terbentuk karena adanya reaksi oksidasi produk sekunder minyak


bumi, Paraxylene. Proses produksi PTA terdiri dari dua tahapan yakni, tahap
oksidasi dan tahap purifikasi. Pada tahap oksidasi akan dihasilkan suatu asam
tereftalat yang belum murni dan disebut Crude Terepthalic Acid (CTA). CTA
tersebut selanjutnya dimurnikan kembali pada tahap purifikasi hingga
diperoleh PTA (Purified Terephthalic Acid) yang menjadi bahan dasar dari
pembuatan plastik serbaguna berkualitas tinggi seperti, polybutyl
terephthalate (PBT), polyethylene terephthalate (PET), dan polytrimethylene

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 9


PT Indorama Petrochemicals

terephthalate (PTT) yang sedang dikembangkan sebagai bioplastik masa


depan. Secara singkat, proses produksi PTA dijelaskan sebagai berikut:

2.2.1.1 Proses Produksi Utama

2.2.1.1.1 Produk Utama

Terephtalic Acid merupakan kelompok senyawa benzene karboksilat


dan ester. Dari kelompok senyawa asam benzen karboksilat, Terephtalic Acid
merupakan senyawa yang paling tidak larut dalam air yaitu hanya
sepersepuluh kali kelarutan asam isoftalat. Terephtalic Acid atau 1,4-
benzenedicarboxylic acid memiliki rumus kimia C8H6O4 dan rumus bangun
seperti yang ditunjukan pada Gambar 2.1

Gambar 2.1 Rumus bangun Terephtalic Acid

Sifat fisik
Terephtalic Acid memiliki titik leleh yang paling tinggi di antara
kelompok senyawa asam benzene karboksilat dan paling sulit untuk
dimurnikan (Other, 1968). Pada suhu ruang, Terephtalic Acid merupakan
padatan amorf yang berwarna putih. Terphtalic Acid sedikit larut dalam air
dan mudah dilarutkan oleh pelarut esoterik, yaitu larutan asam sulfat pekat
panas, larutan piridin, larutan dimetil oksida, dan larutan dimetil
formaldehida (DMF).

Proses Oksidasi

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


10
PT Indorama Petrochemicals
Pada proses ini Paraxylene sebagai bahan baku utama dioksidasi dengan
menggunakan katalis CMB (Cobalt, Manganase, Bromide) dalam media asam
asetat dengan komposisi tertentu bersama cairan sisa proses dalam Feed Mix
Drum. Cairan ini kemudian dialirkan ke reactor lalu di tambahkan udara
sehingga Paraxylene teroksidasi. Selanjutnya akan terjadi reaksi bertingkat
didalam Reactor sehingga dihasilkan Terephthalic Acid. Secara kimia reaksi
dasar yang terjadi dalam proses oksidasi pembuatan TA adalah:

Gambar 2.2. Reaksi Oksidasi p-xylene

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 11


PT Indorama Petrochemicals

Hasil reaksi kemudian dialirkan ke tiga buah Crystalliserseri, dan sisa cairan
proses dikirim ke unit Solvent Recovery dan akan digunakan lagi di Feed Mix
Drum. Untuk menyempurnakan reaksi di Crystalliser pertama ditambahkan
udara lagi. Setelah melewati sistem Crystalliser, produk dipisahkan antara
padatan dan cairannya diunit Filtration. Cairan yang didapat dikembalikan lagi
ke Feed Mix Drum dan padatannya dikeringkan di dalam Drier sehingga
didapatkan Terephthalic Acid dengan kemurnian 99.95%. Berikut diagram
proses pada unit oksidasi.

Gambar 2.3 Tahap Proses Oksidasi Terephtalic Acid

Proses Purifikasi

Terephthalic Acid hasil dari proses oksidasi dibuat bubur dengan


menambahkan cairan sisa proses dan air demin di Feed Slurry Drum. Bubur ini
diumpankan ke reactor sebagai langkah pemurnian. Prosesnya dengan cara
mereasikan 4-CBA dalam CTA yang merupakan pengotor utama dengan
hydrogen sehingga membentuk p-Toluic Acid dengan bantuan
Palladium/carbon sebagai katalisnya. Reaksi yang terjadi pada proses
Purifikasi :

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


12
PT Indorama Petrochemicals

Gambar 2.4. Proses Purifikasi CTA

Untuk membentuk ukuran partikel, produk kemudian diumpankan ke


lima Crystalliser yang berjajar seri. Setelah melewati Crystalliser, produk
diumpankan lagi ke PressuredCentrifuge untuk menghilangkan pengotorp-
Toluic Acid. Air tersebut dibuang dan produk dialirkan ke Atmospheric

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 13


PT Indorama Petrochemicals

Centrifuge untuk mengurangi tekanan sebelum masuk Drier. Selanjutnya PTA


dialirkan Drier, sedangkan air dari Atmospheric Centrifuge di kembalikan ke
Feed Mix Drum. Setelah melewati Drier didapatkan PTA dengan kemurnian
99,97%.

Untuk sementara produk PTA disimpan di Silo sambil menunggu hasil


analisis untuk memastikan kualitas produk sebelum dikemas menjadi PTA
yang siap jual. PTA ini biasanya dikemas dalam Bagging. Selanjutnya produk
di simpan digudang sebelum dipasarkan di dalam negeri dan di ekspor keluar
negeri. Berikut diagram proses pada unit purifikasi.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


14
PT Indorama Petrochemicals

Ga Gambar 2.5 Tahap Proses Purifikasi CTA

BAB III
UTILITAS

3.1 Utilitas
3.1.1 Boiler
Boiler adalah suatu tungku pemanas yang dapat menghasilkan steam dengan
menggunakan batu bara sebagai bahan bakar penggerak boiler dan air sebagai
bahan baku boiler. Steam dibangkitkan dari 2 water tube boiler dan didistribusikan
ke user melalui 5 sisitem :
HP (High Pressure) pada 90 barg
IP (Intermediate Pressure) pada 35 barg
IP (Intermediate Pressure) pada 31 barg
IP (Intermediate Pressure) pada 17 barg
LP (Low Pressure) pada 5 barg

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 15


PT Indorama Petrochemicals

Sistem Distribusi Steam


HP steam digunakan langsung di proses hanya untuk purifikasi pada
dissolver atau reactor yang dipakai untuk memenaskan slurry pada
temperatur reaksinya dan sebagai live steam yang diinjeksikan ke dalam
arus hidrogen untuk pemanasan awal.
Intermediate pressure steam dihasilkan dari penurunan tekanan dari HP
steam menjadi 35 barg dan dikirim ke :
Pemanasan awal ke E1-1210 A/B dissolver preheaters.
D1-1401/02/03/04 sebagai pressure control system dan purge
steam.
Intermediate pressure steam dihasilkan dari penurunan tekanan HP
steam menjadi 31 barg dan dikirim ke E1-301/304 reactor preheater unit
oksidasi dan ke start up preheater E1-208.
Intermediate pressure steam dihasilkan dari penurunan tekanan HP
steam pada 17 barg dan flashing dari HP condensate dari plant
purifikasi hasil dari penurunan tekanan mendadak ke 17 barg,
digunakan untuk off gas preheater ke Expander E1-152, ke superheater
yang selanjutnya digunakan untuk atomishing steam di Thermox dan
Boiler sendiri, serta untuk Soot Blower di Boiler.
Low pressure steam baik yang langsung dihasilkan dari penurunan
tekanan HP steam, penurunan tekanan dari IP steam ataupun hasil dari
Oxidation Reactor Condenser pada 5 barg yang digunakan di berbagai
TA dryer, thermal oxydiser steam utility plant.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


16
PT Indorama Petrochemicals

Gambar 3.1 PFD Demin


3.1.2 Demineralisasi
Air Demineralisasi (Demineralized water) adalah air yang dibuat dengan
menghilangkan kandungan mineral-mineral terlarut seperti Mg2+,Ca2+,Na2+, dan
logam-logam lainnya dengan proses demineralisasi. Semua kebutuhan air untuk
plant dan rumah tangga di PT INDORAMA PETROCHEMICALS diperoleh
dari satu sumber yaitu dari PT KTI (KS GROUP) yang diambil dari air
permukaan.air dari sumber tersebut diolah di unit pengolahan air agar dapat
memenuhi persyaratan. Air demineralisasi digunakan harus memenuhi
persyaratan yaitu :

Konduktivity < 0.2 S/cm


Kadar silica 20 ppb
Total Fe 5 ppb

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 17


PT Indorama Petrochemicals

pH 6.5 7.5
Chloried : Trace
Sulfate 0.60 ppm
Milipore 0.90
YID 5

Fungsi air demineralisasi :


a. Untuk boiler (pembangkit listrik tenaga uap)
b. Untuk air sanitasi
c. Untuk Proses Purifikasi
d. Untuk air pendingin
Sistem air demin meliputi : Pre-treatment, treatment, dan distribusi.

3.1.2.1 Pre-treatment
Unit ini bertujuan untuk menurunkan suspended solid (padatan
tersuspensi) dengan media graffle & sand di dalam vessel (DMF). yang
berarti juga untuk menurunkan turbiditas (kekeruhan) dalam air di dalam
vessel (ACF). Air hasil filtrasi disebut filtered water.
Equipment pada bagian pre treatment terdiri dari :
1. Dual Media Filter (DMF)
2. Activated Carbon Filter (ACF)
3. Filtered Water Tank
Kedua filter dipasang secara seri dan beroperasi pada dua jalur, satu on line
dan satu standby. Filter akan secara otomatis :

On line : pada saat level di tanki F1-2309 70%


Off ine : pada saat level di tanki 90%
Backwash akan secara otomatis terjadi setelah on line 24 jam, atau dipilih
status semi-auto oleh operator, atau juga secara otomatis pada saat
different pressure tinggi (>0.5 barg).

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


18
PT Indorama Petrochemicals
Backwashing tidak akan berjalan apabila :
1. Level filtered water tank F1-2309 = 45%
2. Pompa backwash G1-2310 trip
3. Udara instrument trip.
3.1.2.2 Treatment (proses demineralisasi)
Unit ini bertujuan untuk menurunkan atau manghilangkan kandungan
ion-ion (positif atau negatif) dari mineral-mineral yang terlarut daram air,
sehingga menghasilkan air dengan kemurnian tinggi. Prosesnya adalah
mengalirkan air service ke :

Resin penukar kation, untuk menghilangkan ion positif (Na2+, Ca2+,


Mg2+ dan lain-lain) digantikan oleh ion hidrogen (H2).
Resin penukar anion, untuk menghilangkan ion negatif (Cl- , SO42- dan
lain-lain ) digantikan oleh ion OH- .
Kombinasi resin penukar kation dan anion untuk mengkombinasikan
H+ dan OH- sehingga menghasilkan air murni H2O
.
Peralatan utama dalam proses demineralisasi :
1. Kation exchanger
2. Anion exchanger
3. Mixed bed polished
Beberapa tipe resin :
1. Resin penukar kation :
Kation asam kuat siklus Na
Kation asam kuat siklus asam
Kation asam lemah
2. Resin penukar anion
Anion basa kuat siklus OH
Anion basa kuat siklus Cl
Anion basa lemah

3.1.2.3 Mix Bed Polisher (MBP)


1. Tugas : mempolish air sampai tingkat kemurnian yang sangat tinggi.
2. Dipasang setelah unit Kation dan Anion
3. Resin yang digunakan :
Campuran dari kation dan anion resin dalam satu vessel.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 19


PT Indorama Petrochemicals

Berfungsi menghilangkan impuritis yang masih terkandung


dalam air outlet SBA Column.

3.1.2.4 Distribusi
Demin Plant disiapkan untuk menyediakan air bebas mineral
yang akan digunakan untuk keperluan proses yaitu untuk :
1. Make up Boiler di de-aerator dan Kondenser reaktor Oksidasi
Demin Water yang masuk ke de-aerator dan Kondenser reaktor
Oksidasi diharapkan dapat memproduksi steam yang sesuai dengan
spesifikasi yang dibutuhkan proses.
2. Reslurry Water di F1-1206 dan purification plant sebagai solvent.
Demin water diperlukan untuk membuat larutan PTA di area
Purifikasi. Kualitas Demin Water berpengaruh langsung terhadap
kualitas produk PTA, sehingga kemurnia Demin Water harus dijaga
semaksimal mungkin.

3.1.3 Penyediaan Udara

1. Pengenalan Umum

a. Ringkasan

Kompresor ATLAS COPCO adalah kompresor 2 tingkat (LP dan HP


Compressor), jenis screw yang digerakan oleh motor elektrik. Untuk
meningkatkan efisiensi, masing-masing kompresor dilengkapi dengan
pendingin yang ditempatkan pada bagian up stream. Setiap kompresor
mempunya sistem pelumasan internal, serta memerlukan Cooling Water
untuk pendingin oil dan udara.

Udara masuk menuju LP Compressor (1st stage) melalui inlet air


filter (FIL1-2904) dan inlet air silencer (SIL1-2903). Dari sini, udara
didinginkan dalam intercooler dan selanjutnya menuju HP compressor (2nd

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


20
PT Indorama Petrochemicals
stage). Udara bertekanan yang keluar dari HP Compressor didinginkan
lagi dalam after cooler E1-2906 langsung menuju air Receiver (F1-2907).

Masing-masing kompresor dilengkapi dengan drain Trap untuk


membuang moisture separator (filter). Kompresor mempunyai internal
relief valve masing-masing terdapat pada pipa intermediate (diset pada 3.7
barg) dan discharge (diset pada 9.7 barg), serta satu relief valve pada pipa
cooling water return. (RV-88208/9 diset pada 7.0 barg).

b. Pengaturan Suhu

Suhu LP inlet diukur menggunakan TT-6106 dan dibaca melalui T1-


6106 yang berada pada bagian inlet thtottle valve. Sedangkan suhu LP
outlet Diukur menggunakan TT-6106 dan dibaca oleh T1-6108, normal
temperature 160o-180oC. LP outlet ini dilengkapi dengan alarm
temperature high (TA-6108) yang diset pada 198o dan alarm temperature
trip dengan setting 220oC.

Suhu outlet udara dari LP compressor yang telah didinginkan dalam


intercooler, diukur menggunakan TT-6109 dan dibaca melalui T1-6109
intercooler diharapkan dapat berfungsi dengan baik untuk membantu
meningkatkan efisiensi, temperatur yang diharapkan 30o-35oC. Oleh
karena itu, suhu HP inlet (=suhu utlet intercooler) dilengkapi dengan
alarm high dan extra high.

HP inlet temperature alarm high = 70oC

HP inlet temperature alarm extra high = 80oC

Suhu udara outlet dari HP Compressor diukur dengan TT-6118 yang


akan mengirim sinyal indikasi pada T1-6118. Set normal HP outlet adalah
140o-180oC, serta dilengkapi dengan alarm high dan extra high.

HP outlet temperature alarm trip (TZA-6118) = 220oC

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 21


PT Indorama Petrochemicals

Udara outlet dari HP compressor yang telah didinginkan dalam after


cooler E1-2906 diukur suhunya menggunakan transmitter TT-6121, sinyal
dikirimkan ke T1-6121 sehingga suhu terukur dapat dibaca. Set normal
pada bagian ini adalah 29o-35oC. untuk menghindari kenaikan suhu yang
berlebihan, maka pada outlet after cooler dilengkapi temperature delivery
air switch TSH-6120 yang diset pada 60o-80o dan temperature delivery air
trip TZA-6120 yang menjaga temperature extra high pada set 65oC.

c. pengaturan Tekanan

Pressure different yang dijinkan pada air inlet filter adalah di


bawah 0.044 barg terbaca dalam PDI-6101 yang diset pada 172 mBar.

Tekanan inlet dan outlet LP compressor dapat diukur masing-


masing oleh PT-6107 dan PT-6110, dilengkapi dengan pressure
indicator pada control panel. Pressure ratio antara keduanya, dijaga
oleh alarm high PDA-6126 dan alarm extra high PDZA-6126.

Demikian pula dengan inlet dan outlet HP compressor, yang


masing-masing diukur menggunakan PT-6110 dan PT-6117, serta
dilengkapi pressure indicator. Pada saat indikasi mencapai 8 barg, PI-
6117 akan mengirimkan sinyal high alarm ke PA-6117. Jika tekanan
masih terus naik, maka PZA-6117 akan mendapat sinyal extra high.

Antara tekanan HP outlet dan compressor delivery, dijaga


rationya dengan pressure trip alarm PZA-6118 extra high.

Tekanan pada compressor delivery diukur dengan PT-6122 yang


akan mengirimkan sinyal indikasi ke PI-6122.

d. Interlock system

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


22
PT Indorama Petrochemicals
Kompresor dapat dipilih oleh DCS operator untuk
menentukan standby dan duty status menggunakan IC-428.

Interlock ini akan mengoperasikan kompresor sekaligus


memungkinkan terjadinya loading, pada saat tekanan air receiver F1-
2907 menurun. Tetapi pada saat tekanan udara naik, kompresor akan
mengalami proses unloading, walau tidak berarti kompresor stop.

Pada saat tekanan air receiver F1-2907 yang diindikasi


melalui PIA-4555 mengalami penurunan hingga dibawah 6.5 barg,
duty compressor akan berjalan dan di load dari DCS. Kompresor akan
terus mengalami loading sampai tekanan pada receiver mencapai 7.5
barg

1. Load dan Unload

Pada saat status REMOTE, maka proses load unload


dikontrol oleh pressure yang terbaca di DCS melalui PIA-4555.
Sedangkan pada status LOCALLY, maka proses load/unload akan
dikendalikan oleh PI-6122 melalui PSR-6122.

2. Trip system

Kompresor dilengkapi dengan trip system, melalui SMART


CONTROLLER untuk memastikan bahwa sistem kompresor
beroperasi dengan aman.

3. Air receiver F1-2907

Air receiver F1-2907 memiliki kapasitan 80 m3, bertugas


menyimpan atau menampung udara dari discharge compressor
pada tekanan 7.0 barg, yang siap didistrubusikan sebagai
instrument air (melalui air dryer) dan plant air.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 23


PT Indorama Petrochemicals

Receiver ini dilengkapi dengan relief valve RV/F1-2907 yang


diset pada 8.3 barg dan sebuah drain trap pada bagian bottom,
untuk membuang akumulasi kandungan air.

Pada bagian pipa distribusi sistem plant air, dilengkapi


sebuah solenoid valve (KV-4560) yang akan menutup pada saat
tekanan instrument air keluar dari air dryer mengalami low-low
(melalui sinyal dari PS-4560).

Kondisi low-low juga dapat dibaca di DCS melalui PIA-4588


yang mendapat sinyal dari PT-4588. Set point di sini adalah 5.6
barg.

Hal ini untuk menjaga system instrument air bila terjadi


pemakaian plant air yang berlebihan. Di sini terdapat dua pressure
transmitter yang akan memberi sinyal masing-masing ke system
control dan system interlock.

4. Air dryer

Tekanan udara dari air compressor masih mengandung


moisture yang dapat terkondensasi pada jalur instrument air. Untuk
mengurangi kandungan moisture pada instrument air :

- Air receiver F1-2907 dilengkapi fasilitas drain pada


bagian bottom.
- Air dryer.
- Dipasang instrument air manifold, yang dilengkapi
fasilitas dram.

Sebelum masuk dryer, air instrument dilewatkan melalui


instrument air pre-filter FIL1-2908 yang dilengkapi dengan PDG-

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


24
PT Indorama Petrochemicals
4589 untuk mengukur pressure different antara inilet dan outlet
filter

Ada dua dryer yang bekerja secara simultan, satu online dan
satu regenerasi. Dryer type silinder ini, di desain menggunakan
dessicant alumina (AL2O3), dioperasikan secara sequence. Untuk
keperluan regenerasi, maka digunakan panas eksotermal dari dryer
yang berstatus online.

Unit dryer dioperasikan secara otomatis dengan sistem


control AMLOC untuk menjaga dew point instrument air dibawah
40oC, yang menjaga satu bed online dan satu regenerasi atau
standby. AMLOC controller bekerja berdasarkan micro processor
dan tidak boleh terkena percikan muatan listrik statis.

3.1.4 Cooling tower

Cooling tower adalah alat penghilang panas yang digunakan untuk


memindahkan kalor buangan ke atmosfer. Tipe cooling water yang digunakan
adalah cooling water sirkulasi terbuka dengan sistem Induced Fan sebagai media
pendinginya. Untuk sirkulasi cooling water disediakan empat buah pompa
dengan dua on line dan satu stand by, basin cooling tower dipisahkan menjadi 4
buah partial basin yang masing-masing memiliki fan tersendiri untuk proses
pendingin. Untuk pengontrolan kualitas cooling water disediakan satu sistem
paket chemichal treatment dari Nalco yang secara rutin mengontrol
kualitascooling water tersebut. Cooling tower ini menggunakan Fan/kipas untuk
menghisap udara. Udara dihisap melalui louver/pengarah dari samping masuk
kedalam Cooling Tower kemudian dihisap keatas. Udara dingin ini mengalami
kontak langsung dengan air yang jatuh dari bak atas menuju bak bawah,
sehingga air panas keluar dari Condenser (500C) dipompa menuju ke Cooling
Tower di dinginkan dengan udara sehingga temperaturnya turun menjadi 26
27C.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 25


PT Indorama Petrochemicals

Gambar 3.2 PFD WWT (Waste Water Treatment)

3.1.5 Pengolahan Limbah

Proses pengolahan limbah cair ini meliputi :

1. Proses Pendahuluan (preliminary treatment)


Proses ini meliputi pH, dimana effluent akan diatur pH-nya sedemikian
rupa sesuai yang disyaratkan pada proses selanjutnya. Hal ini dilakukan di
Neutralizer Tank T-02 atau Equalization Tank T-01 A, dilengkapi dengan fasilitas
dosing NaOH 48% dan dosing HCL 32%. Namun pada saat ini tanki sudah tidak
digunakan hanya untuk lewat saja dan proses netralisasi dilakukan di BB-2.
2. Pengolahan primer (Primary Treatment)
Unit proses ini merupakan proses physical di mana padatan tersuspensi
(suspenden solid, SS) akan dipisahkan dari effluent. Proses ini dilakukan di DAF,
dissolve air flotation-1.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


26
PT Indorama Petrochemicals
3. Proses Buffer Basin
Proses ini effluent yang dari DAF-1 dipompakan dengan P-53 A/B/C
kedalam Buffer Basin Tank-2 BB-2, di sini bila pH nya kurang akan ditambahkan
NaOH apabila pH nya lebih akan ditambahkan HCL. Pada Buffer Basin Tank-1
BB-1 hanya akan dipakai pada saat accident effluent dan di BB-2 dipakai pada
normal operasi dan disini pHnya diajaga sekitar 6.5 7.
4. Proses Anaerob
Proses Anaerob menggunakan bakteri tetapi tidak menggunakan oksigen
supaya menurunkan kadar COD dan BOD, proses Anaerob dilakukan di tanki
AHR. Pada proses anaerob, sumber oksigen yang dikomsumsi oleh bakteri berasal
dari kandungan gas dalam air limbah itu sendiri, seperti NO 2-, SO3-dan
sebagainya.
Informasi umum anaerobic proses
Untuk berhasil beroperasi organic setiap pabrik pengolahan biologi,
penting untuk memahami setidaknya dasar-dasar proses biologis.
Anaerob Digestion bahan organik yang kompleks akan dilakukan di
Anaerobic Hybrid Reactor. Anaerobik digestion dari pengenceran organik
dilakukan oleh bakteri yang berbeda.
Umumnya tiga kelompok utama dibedakan :
Menghidrolisis bakteri (bakteri pelarut);
Bakteri Acetogenic (bakteri pembentuk asetat);
Bakteri Metanogen (bakteri pembentuk metana);
Dari berbagai unit proses yang terlibat dalam pencernaan anaerobic,
keduanya paling penting untuk kinerja pabrik yang efisien ini adalah proses
acetogenic & proses metanogen.
4.1 Proses Acetogenic
Ini adalah tahap utama pencernaan anaerobik di mana senyawa
molekul dipecah menjadi asetat sederhana. Fase ini merupakan hasil dari
tindakan oleh bakteri acetogenic.
Bakteri acetogenic hanya dapat melakukan reaksi ini jika konsentrasi
asetat dan terutama H2 rendah. Konsentrasi produk ini hanya dapat disimpan
rendah dengan metanogen dan oleh bakteri mengurangi sulfat.
Oleh karena itu, acetogens yang aresynthrophic bakteri (mereka harus
hidup bersama dengan bakteri yang menghapus asetat dan H2) dan tergantung
pada antar-spesies mentransfer hidrogen yang efektif. Subtract acetogenic

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 27


PT Indorama Petrochemicals

ditemukan dalam pencernaan anaerobik, propionat breakdown termodinamika


reaksi yang paling menguntungkan. Oleh karena itu, ketika reaktor upset,
biasanya propionat hadir dalam konsentrasi tinggi. Bakteri aktif
mengasamkan sampai pH sekitar 4 telah tercapai. Optimum namun pH
optimum yang seharusnya adalah 6.0.
Proses acetogenic menghasilkan pengasaman. Removal COD tidak
terjadi selama hidrolisis dan asetogenesis tetapi sebenarnya hanya konversi.
4.2 Proses metanogen
Bakteri metanogen mengkonversi asetat hidrogen ditambah karbon
dioksida menjadi metana. Mereka juga dapat menkonversi format (HCOOH).
Metanol (CH3OH) dan karbonmonoksida (CO) menjadi metana.
Para metanogen dapat dibagi menjadi dua kelompok besar: asetat
yang mengkonversi (acetotropic) bakteri dan hidrogen memanfaatkan
(hydrogenotrophic) bakteri. Sekelompok kecil dapat menggunakan asetat,
hidrogen, karbondioksida serta metanol.
Penghapusan sebenarnya bahan organik terjadi pada langkah
metanogen di mana COD dalam bentuk metana dipisahkan dari air limbah.
Selama proses metanogen alkalinitas dihasilkan. Kehadiran baik lumpur aktif
metanogen dalam reaktor sangat penting.
Dalam reaktor normal alkalinitas keasaman yang dihasilkan yang
dihasilkan dalam proses metanogen cukup untuk mengatasi keasaman yang
dihasilkan dalam proses acetogenic. Keseimbangan pH sangat penting
mendasar untuk proses anaerobic yang efisien.
4.3 Faktor lingkungan
4.3.1 Suhu
Suhu memiliki efek penting pada tingkat pertumbuhan dan
aktivitas bakteri. Tiga kondisi suhu dapat dibedakan. Suhu optimum
bakteri yang berbeda adalah berbagai
Psychorophilic 0-20oC
Mesofilik 20-40oC
Termofilik 50-70oC

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


28
PT Indorama Petrochemicals
Suhu optimum bagi bakteri metanogen adalah dalam kisaran 35-
38oC. oleh Karena itu yang terbaik adalah untuk mengoperasikan
reaktor pada suhu 37oC. penting untuk dicatat bahwa di mana suhu
lebih rendah dari optimal, aktivitas bakteri akan tetap ada, namun
aktivitas akan lebih rendah. Ketika reaktor dioperasikan pada 30 oC,
penurunan aktivitas lumpur adalah sekitar 20-30%.
Ketika reaktor dioperasikan pada 40oC, sedikit peningkatan suhu
influen dapat menyebabkan irreversible dan upset reaktor yang serius
akan mengikuti. Pada setiap saat suhu berpengaruh atas 40oC harus
dihindari.
Aktivitas bakteri mengasamkan tidak dipengaruhi sebanyak oleh
suhu sebagai aktivitas bakteri metanogen. Karakteristik yang sangat
penting dari bakteri metanogen adalah kemampuan untuk
mempertahankan sebagian besar kegiatan ketika disimpan di dalam
unfed, pada suhu antara 4-15oC, bahkan saat ada periode dua tahun.
Pada suhu yang lebih tinggi terjadi penurunan lebih dalam aktivitas bila
disimpan unfed.
Dalam kasus off proses upset, disimpan lumpur metanogen dapat
digunakan untuk reload reaktor sehingga dalam waktu singkat proses
kembali normal. Jadi disarankan untuk menyimpan kelebihan lumpur
jika memungkinkan.
4.3.2 pH
pH optimum bagi bakteri metanogen adalah dalam kisaran 6,5-
7.5, namun pembentukan metana hasil di antara 6,0 dan 8,5 setiap kali
pH dalam buffer harus di simpan di atas 6.5 dan reaktor harus
dioperasikan pada pH dari 7,0-7,5. pH reaktor tidak boleh turun di
bawah 6,5 acidifying bakteri akan terus mengasamkan, sedangkan
pembentukan metana berhenti. Jadi VFA menumpuk dan reaktor bisa
asam.
Selama proses upset, pH juga akan turun tapi ini hanya akan
terjadi bila kapasitas penyangga isi reaktor telah terlampaui dan

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 29


PT Indorama Petrochemicals

bikarbonat telah dikonversi ke CO2. Sehingga penurunan pH tidak


diukur segera hanya dalam bijak terakhir dari masalah.
Jadi, dengan mengukur reaktor buangan VFA harian, reaktor
anaerob dapat dioperasikan secara bertanggung jawab. Kontrol pH
yang sangat penting mendasar bagi pemeliharaan pertumbuhan
optimal dan proses konversi dalam reaktor anaerob. pH hanya dapat
disesuaikan sebelum influen memasuki reaktor.
4.3.3 Nutrisi
Seperti semua mikroorganisme, bakteri anaerob membutuhkan
nutrisi untuk pertumbuhan mereka. Minimum kebutuhan untuk
nitrogen (N) dan fosfor (P) dapat dihitung dari hasil pertumbuhan dan
komposisi sel (=10 sampai 12% N dan 2% dari total padatan)
Biasanya untuk digeston sebagian diasamkan air limbah N dan P
diperlukan dalam rasio berikut COD biodegradable : N : P
= 350 : 5 : 1 Jika N dan P tidak hadir dalam iffluent dalam
jumlah tersebut, N dan P harus ditambahkan. Oleh karena itu, air
limbah anaerob harus diperiksa pada konten nutrisinya. Kurangnya
nutrisi akan menurunkan efisiensi penyisihan COD pertumbuhan
lumpur. Nutrisi diberikan melalui urea dan DAP.
5. Proses aerob
Pada proses aerob, bakteri membutuhkan oksigen bebas untuk
pertumbuhannya sekaligus untuk menguraikan kandungan bahan organik.
Oksigen tersebut diambil dari udara bebas dengan bantuan aerator atau air
diffuser.
Bila konsentrasi oksigen sangat rendah maka bakteri tidak dapat
melakukan respirasi dan akan meningkat dengan bertambahnya konsentrasi
oksigen. Namun, pada batasan tertentu laju respirasi ini akan konstan. Bakteri
mengoksidasi zat organik menghasilkan energi dan CO 2. Di dalam proses ini DO
dijaga min 2.8 ppm.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


30
PT Indorama Petrochemicals
Proses Aerob menggunakan bakteri dan juga memakai oksigen, proses
secara Aerob dilakikan di T-05, T-104, T-105 dan T-106, dari T-05 kemudian T-
104 sebelum masuk kedalam T-105, T-106 effluent itu akan masuk terlebih dahulu
ke dalam DAF-2 untuk memisahkan padatan tersuspensi.

6. Proses lanjut (Advanced Treatment)


Setelah proses Aerob dari T-106 kemudian masuk ke dalam DAF-3
Dissolved Air Flotation-3 di mana padatan tersuspensi (suspended solid / SS) akan
dipisahkan dari effluent. Kemudian Suspended Solid dikembalikan lagi ke bak
aerasi dan sebagaian diproses pada belt press.
7. Proses pengolahan lanjut (Advanced Treatment)
Unit pengolahan ini berfungsi mengolah lebih lanjut effluent dari
proses/pengolahan sebelumnya. Alat yang digunakan pada proses ini adalah Dual
Media Filter, DMF E-08 A/B/C. Di sini menggunakan media pasir sebagai
penyaring supaya hasilnya baik.
Advanced Treatment ini, bertugas mengolah effluent dan secondary
treatment. Biasanya treatment ini menggunakan Activated Carbon Filter ACF
dengan maksud meminimalkan bau dan warna pada treated water. WWT plant
dengan menggunakan silica pada E-08 A/B/C untuk advanced treatment ini, yang
diarahkan untuk mengurangi TSS yang masih terkandung dalam effluent outlet
AF-3
Effluent yang keluar dari proses pengolahan di atas disebut treated water,
yang merupakan air dengan kualitas sesuai Baku Mutu Limbah (BML) yang ada.

Tabel 3.1 Parameter Pengolahan Limbah Inlet Outlet

Parameter WWTP Inlet WWTP Outlet

pH 3.0 4.0 7.0 9.0

COD 7000 mg/L 300 mg/L

TSS 600 mg/L 100 mg/L

Co 3.0 22.0 mg/L 0.6 mg/L

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 31


PT Indorama Petrochemicals

Mn 2.0 35.0 mg/L 5.0 mg/L

Parameter Kadar Maximum

BOD 150 mg/L

COD 300 mg/L

TSS 100 mg/L

Minyak dan Lemak 15 mg/L

Fenol 1 mg/L

Mn 3 mg/L

Co 1.1 mg/L

Fe 7 mg/L

pH 6.0 9.0

Kuantitas Air Limbah Maksimum 2.5 m3/ton produk

Sulfida 1 mg/L

Tabel 3.2 Baku mutu lingkungan

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


32
PT Indorama Petrochemicals

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Melalui hasil pengamatan dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat
ditarik beberapa kesimpulan, antara lain :

1. PT Indorama petrochemicals menggunakan sistem Waste Water Treatment dalam


mengolah air buangan yang berasal dari proses produksi.
2. Bakteri yang dikembangkan dalam WWT ini adalah bakteri heterotrof (bakteri
karbon) dan bakteri autotrof (bakteri nitrit).
3. Metabolisme bakteri ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni konsentrasi
substrat, suplai oksigen, ketersediaan nutrisi, temperatur, dan bahan kimia
beracun.
4. Bakteri nitrit memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih lambat dan kebutuhan
oksigen yang lebih banyak dari pada bakteri heterotrof.
5.2 Saran
1. Bagi siswa
a. siswa dapat berperan aktif baik secara lisan maupun non lisan dalam setiap
kegiatan kerja praktek.
b. siswa dapat menyerap berbagai ilmu baru di tempat kerja praktek.
c. siswa dapat menunjukan sikap yang positif demi menjaga hubungan dan nama
baik instansi/perusahaan tempat kerja praktek berlangsung serta lembaga
pendidikan terkait.
2. Bagi Lembaga Pendidikan
a. Lembaga pendidikan hendaknya dapat menjaga dan membina hubungan baik
dengan instansi tempat kerja praktek yang telah terjalin melalui program kerja
praktek.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 33


PT Indorama Petrochemicals

b. Lembaga pendidikan hendaknya mampu berkontribusi dalam menyediakan


tenaga kerja yang handal agar dapat menjadi feed back bagi instansi tempat
kerja praktek.
3. Bagi Perusahaan
a. Dapat tetap membuka program praktek guna menambah wawasan
pengalamanan, pengetahuan, dan teknologi bagi mahasiswa.
b. Dapat mengkaji lebih lanjut kinerja bakteri pada proses pengolahan air limbah
guna memonitor kualitas air buangan dengan mengendalikan faktor-faktor
yang mempengaruhi metabolisme bakteri.
c. Dapat melakukan analisa terhadap kinerja bakteri dalam tiap tahapan proses
pengolahan air limbah agar diperoleh air buangan yang ramah lingkungan.

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


34
PT Indorama Petrochemicals

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 35


PT Indorama Petrochemicals

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon


36
PT Indorama Petrochemicals

SMK As-Syuhada Al-Khairiyah Cilegon 37