Anda di halaman 1dari 43

Teknik Pemeliharaan Larva Udang Vannamei

1.1 Latar Belakang

Udang merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan dalam program revitalisasi

perikanan. Pada awalnya jenis udang yang dibudidayakan di air payau adalah udang windu,

namun setelah mewabahnya penyakit WSSV yang mengakibatkan menurunnya usaha udang

windu, pemerintah kemudian mengintroduksi udang vannamei untuk membangkitkan kembali

usaha perudangan di Indonesia dan dalam rangka diversifikasi komoditas perikanan

Udang vannameii (Litopenaeus vannameii) merupakan udang asli perairan Amerika Latin

yang masuk ke dalam famili Penaidae. Udang ini dibudidayakan mulai dari pantai barat Meksiko

ke arah selatan hingga daerah Peru. Udang vannameii merupakan komoditas air payau yang

banyak diminati karena memiliki keunggulan seperti tahan terhadap penyakit, mempunyai

tingkat pertumbuhan yang relatif cepat, dan sintasan pemeliharaan yang tinggi

Udang vannamei masuk ke Indonesia pada tahun 2001. Produksi benur udang vannameii

dirintis sejak awal tahun 2003 oleh sejumlah hatchery, terutama di Situbondo dan Banyuwangi

(Jawa Timur). Budidaya uji coba sudah dilakukan dan memperoleh hasil yang memuaskan.

Setelah melalui serangkaian penelitian dan kajian, akhirnya pemerintah secara resmi melepas

udang vannameii sebagai varietas unggul pada 12 Juli 2001 melalui SK Menteri KP

No.41/2001.

angka ekspor udang Indonesia di Pasar Jepang merangkak naik dibandingkan bulan

sebelumnya. Tercatat angka ekspor udang Indonesia di Pasar Jepang pada Juli 2010 sebanyak

3.000 MT (Metrik Ton) atau meningkat 705 MT dibandingkan bulan sebelumnya. Jika

dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, produksi yang dibukukan Indonesia

yakni di angka 2.934 MT hanya lebih kecil 66 MT dari tahun 2010.


Permintaan udang yang semakin meningkat dapat dilihat dari volume ekspor udang

Indonesia pada tahun 2010 yang mencapai USD 1,57 miliar atau 63,3 % dari total nilai ekspor

hasil perikanan Indonesia sebesar USD 2,34 miliar

Sejak tahun 2005, pemerintah mencanangkan budidaya udang sebagai salah satu

komoditas unggulan revitalisasi perikanan. Untuk mencapai target produksi udang sebesar

540.000 ton, diperlukan induk sedikitnya 900.000 ekor dan benur udang 52,31 milyar ekor.

Produksi udang vannameii selama ini dikembangkan dengan teknologi semi intensif dan

intensif. Melalui manajemen budidaya yang lebih baik ditargetkan produksinya dapat

meningkat sebesar 17,38% per tahun, yaitu: 275 ribu ton pada tahun 2010 menjadi 500 ribu ton

tahun 2014

Sampai saat ini, benur yang diproduksi hatchery belum dapat memenuhi

kebutuhan yang ada. Kendalanya adalah kurang stok induk udang, makanan yang

kurang cocok, serta teknik pemeliharaan larva dan pengelolaan yang belum memadai,

hal ini menyebabkan produksi rendah.

Masalah besar yang dihadapi dalam melakukan usaha pemeliharaan larva udang

vannameii adalah keterbatasan pengalaman dan teknologi yang dapat menjamin benih

yang dihasilkan akan berkualitas baik. Salah satu upaya guna mendapatkan benur

berkualitas baik yaitu selalu mengupayakan agar media pemeliharaan selalu optimal

untuk pemeliharaan larva, misalnya dengan melakukan pengelolaan air media larva,

pengelolaan pakan dan pengendalian penyakit sebaik mungkin.

2.1 Biologi Udang Vannamei


2.1.1 Klasifikasi
tata nama udang vannamei (Litopenaeus vannamei) menurut ilmu taksonomi

adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Subkingdom : Metazoa

Filum : Arthropoda

Kelas : Crustacea

Subkelas : Eumalacostraca

Superordo : Eucarida

Ordo : Decapoda

Subordo : Dendrobrachiata

Famili : Penaeidae

Genus : Litopenaeus

Spesies : Litopenaeus vannamei

2.1.2 Morfologi
tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang (biramous) yaitu exopodite dan

endopodite. Vannamei memiliki tubuh berbuku-buku dan aktifitas berganti kulit luar atau

exoskeleton secara periodik (moulting).

Kepala (Chepalotorax) udang vannamei terdiri dari antenula, antena, mandibula,

dan dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang

maxiliped dan lima pasang kaki jalan (periopoda). Maxiliped sudah mengalami

modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Bentuk periopoda beruas ruas

yang berujung di bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki 1, 2, dan 3)

dan tanpa capit kaki 4 dan 5.

Perut (abdomen) terdiri dari enam ruas. Pada bagian abdomen terdapat lima

pasang kaki renang dan sepasang uropoda (mirip ekor) yang berbentuk kipas bersama-

sama telson. Udang vannamei mempunyai carapace yang transparan, sehingga warna

dari perkembangan ovarinya jelas terlihat.


2.1.4 Habitat
udang vannamei hidup di habitat laut topis dimana suhu air biasanya lebih dari

20C sepanjang tahun dan akan menghabiskan siklus hidupnya di muara air payau.

Udang vannamei dewasa dan bertelur di laut terbuka, sedangkan pada stadia postlarva

udang vannamei akan bermigrasi ke pantai sampai pada stadia juvenil.

2.1.5 Tingkah Laku

udang vannamei bersifat nokturnal. Selain itu, udang vannamei juga tahan

terhadap kisaran salinitas tinggi dan salinitas rendah atau biasa disebut eurihalyn.

Udang vannamei akan memangsa sesamanya (kanibalisme) apabila dalam pemberian

pakan tidak tepat pada waktunya. Udang vannamei mempunyai sifat pemakan lambat

dan akan makan secara terus menerus. Makanan yang akan dimakannya dicari dengan

menggunakan organ sensornya.

Udang vannamei merupakan hewan yang memakan segala jenis makanan

(omnivor). Dalam mengidentifikasi makanan, udang vannamei menggunakan sinyal

kimiawi dengan bantuan organ sensor atau bulu-bulu di bagian kepala. Udang

vannamei akan mengalami proses pergantian kulit (moulting) yang dipengaruhi oleh

tingkat jenis dan umur. Pada saat berumur muda, udang vannamei akan melakukan

moulting setiap hari, dan apabila umurnya semakin tua siklus akan terjadi semakin

lama. Nafsu makan akan turun 1 2 hari sebelum moulting terjadi dan aktifitas udang

vannamei akan berhenti secara total. Proses moulting umumnya terjadi pada malam

hari.

Udang vannamei melakukan pembuahan dengan cara memasukan sperma lebih

awal ke dalam thelycum udang betina selama memijah sampai udang jantan melakukan

moulting. pada udang betina, gonad pada awal perkembangannya berwarna keputih-
putihan, berubah menjadi coklat keemasan atau hijau kecoklatan pada saat hari

pemijahan. Setelah perkawinan, induk betina akan mengeluarkan telur yang disebut

dengan pemijahan (spawning). Perkawinan lebih bersifat open thelycum, yaitu setelah

gonad mengalami matang telur.

2.1.6 Siklus Hidup

Perkembangan Siklus hidup udang vannamei adalah dari pembuahan telur

berkembang menjadi naupli, mysis, post larva, juvenil, dan terakhir berkembang

menjadi udang dewasa. Udang dewasa memijah secara seksual di air laut dalam.

Masuk ke stadia larva, dari stadia naupli sampai pada stadia juvenil berpindah ke

perairan yang lebih dangkal dimana terdapat banyak vegetasi yang dapat berfungsi

sebagai tempat pemeliharaan. Setelah mencapai remaja, mereka kembali ke laut lepas

menjadi dewasa dan siklus hidup berlanjut kembali.

2.1.7 Perkembangan Larva Udang Vannamei


naupli merupakan stadia paling awal pada stadia larva udang vannamei.

Kemudian berubah menjadi stadia zoea. Zoea merupakan stadia kedua pada larva

udang vannamei. Kemudian bermetamorfosa ke stadia mysis. Stadia mysis merupakan

stadia ketiga dari larva udang vannamei yang merupakan stadia terakhir pada larva

udang vannamei. Mysis mempunyai karakteristik menyerupai udang dewasa, seperti

bagian tubuh, mata, dan karakteristik ekornya. Stadia mysis akan berakhir pada hari ke

tiga atau hari keempat, dimana selanjutnya akan bermetamorfosa menjadi post larva

(PL). Pada PL 10 sudah terlihat seperti udang dewasa.

perkembangan larva udang vannamei setelah telur menetas adalah sebagai

berikut :

a. Stadia Naupli.
Pada stadia ini, naupli berukuran 0,32-0,58 mm. Sistem pencernaannya belum

sempurna dan masih memiliki cadangan makanan serupa kuning telur sehingga pada

stadia ini benih udang vannamei belum membutuhkan makanan dari luar. Dalam fase

Naupli ini larva mengalami enam kali pergantian bentuk dengan tanda-tanda sebagai

berikut ;

uplius I ; Bentuk badan bulat telur dan mempunyai anggota badan tiga pasang

uplius II ; Pada ujung antena pertama terdapat seta (rambut), yang satu panjang dan dua

lainnya pendek

uplius III ; Furcal dua buah mulai jelas masing-masing dengan tiga duri(spine), tunas maxilla dan

maxilliped mulai tampak.

uplius IV ; Pada masing-masing furcal terdapat empat buah duri, Exopoda pada antena kedua

beruas-ruas.

uplius V ; Organ pada bagian depan sudah tampak jelas disertai dengan tumbuhnya benjolan

pada pangkal maxilla.

uplius VI ; Perkembangan bulu-bulu semakin sempurna dari duri pada furcal tumbuh makin

panjang.

b. Stadia Zoea

Stadia Zoea terjadi setelah naupli ditebar di bak pemeliharaan sekitar 15-24

jam. Larva sudah berukuran 1,05-3,30 mm. Pada stadia ini, benih udang mengalami

moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 3, lama waktu proses pergantian

kulit sebelum memasuki stadia berikutnya (mysis) sekitar 4-5 hari.

Fase zoea terdiri dari tingkatan-tingkatan yang mempunyai tanda-tanda yang

berbeda sesuai dengan perkembangan dari tingkatannya, seperti diuraikan berikut ini :
Zoea I : Bentuk badan pipih, carapace dan badan mulai nampak, maxilla pertama dan kedua

serta maxilliped pertama dan kedua mulai berfungsi. Proses mulai sempurna dan alat

pencernaan makanan nampak jelas.

Zoea II : Mata bertangkai, pada carapace sudah terlihat rostrum dan duri supra orbital yang

bercabang

Zoea III : Sepasang uropoda yang bercabang dua (Biramus) mulai berkembang duri pada ruas-

ruas perut mulai tumbuh.

c. Stadia Mysis

Pada stadia ini, benih sudah menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan

sudah terlihat ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Benih pada stadia ini sudah

mampu menyantap pakan fitoplankton dan zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar

3,50-4,80 mm. 4-5 hari.

Fase ini mengalami tiga perubahan dengan tanda-tanda sebagai berikut :

Mysis I : Bentuk badan sudah seperti udang dewasa, tetapi kaki renang (Pleopoda) masih

belum nampak.

Mysis II : Tunas kaki renang mulai nampak nyata, belum beruas-ruas.

Mysis III : Kaki renang bertambah panjang dan beruas-ruas.

d. Stadia Post Larva (PL)

Stadia ini, benih udang vannamei sudah tampak seperti udang dewasa. Hitungan

stadia yang digunakan sudah berdasarkan hari. Misalnya, PL 1 berarti post larva

berumur 1 hari. Pada stadia ini udang mulai aktif bergerak lurus ke depan.

2.2 Persyaratan Lokasi


Lokasi yang paling tepat untuk membangun hatchery pembenihan udang

vannamei adalah jauh dari kota dan lahan pertanian, serta muara sungai. Hatchery
harus jauh dari fasilitas produksi. Hatchery memerlukan akses ke prasarana standar

industri untuk mengoprasikan fasilitas yang ada. Air tawar dan air laut yang masuk dan

kemungkinan mengandung bahan pencemar harus dimonitor sesuai dengan cara

budidaya ikan yang baik

tempat yang tepat untuk mendirikan hatchery adalah tempat yang berpasir dan

berbatu dimana tempat tersebut bersih, bebas dari cemaran, dan mempunyai kualitas

air yang bagus setiap tahunnya. Tempat yang sering terkena banjir dan berlumpur

kurang tepat untuk dijadikan hatchery karena pada waktu terjadi hujan air akan menjadi

sangat keruh. Selain itu, lokasi yang tepat untuk mendirikan hatchery adalah tidak

berdekatan dengan muara sungai karena dapat menurunkan salinitas secara

mendadak, dimana hal tersebut sering terjadi pada waktu hujan lebat. Keuntungan dari

lokasi hatchery yang berpasir dan berbatu adalah kualitas air laut menjadi bagus dan

secara relatif mendekati garis pantai sehingga mengurangi kerugian pada instalasi

pemipaan dan kerugian pada pemompaan. Lokasi hatchery juga harus bebas dari

kontaminasi limbah pertanian dan limbah industri. Parameter kualitas air yang tepat

untuk kegiatan pemeliharaan larva dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Larva


Parameter Ukuran
Temperature 28 32C
DO > 5 ppm
CO2 < 20 ppm
pH 7 8.3
Salinitas 25 35 ppt
ammonia (NH3) < 0.03 ppm
Nitrit (NO2) < 1 ppm
Nitrat (NO3) < 60 ppm
Hidrogen Sulfida (H2S) < 2 ppb
Listrik adalah salah satu yang dibutuhkan untuk menjalankan peralatan dan

semua yang mendukung sistem di hatchery. Walaupun beberapa pompa air laut dan

aerator dapat dijalankan secara langsung oleh generator, hatchery dapat dioprasikan

tanpa adanya suplai listrik. Bagaimanapun, lebih ekonomis apabila dijalankan di area

dimana sumber listrik dapak diakses.

Sebaiknya hatchery bertempat di area dimana banyak petani udang beroperasi,

jadi larva yang diproduksi dapat dengan mudah dikirimkan dan disalurkan ke tambak.

Pemilihan tempat untuk pembangunan hatchery harus dapat diakses dari fasilitas

komunikasi dan transportasi.

2.3 Fasilitas Pemeliharaan larva


fasilitas yang digunakan untuk pemeliharaan larva terbagi menjadi dua, yaitu

fasilitas pokok dan fasilitas pendukung yang secara prinsip diperlukan untuk usaha

pemeliharaan larva udang vannameii adalah sebagai berikut :

a. Fasilitas Pokok

1. Bak Filter, yaitu bak penyaring air dengan komponen penyaring berupa koral, pasir,

arang, ijuk, dengan menggunakan waring sebagai pemisah komponen.

2. Bak tandon air tawar dan air laut, yaitu bak bak penampung air laut dan air tawar yang

terbuat dari beton dengan volume minimal 30% dari kapasitas total bak pemeliharaan.

3. Bak pemeliharaan larva, yaitu bak tempat pemeliharaan larva yang terbuat dari semen

maupun fiber plastik dengan volume minimal 10 m 3.

4. Bak kultur fitoplankton, yaitu tempat kultur fitoplankton sebagai penyedia pakan untuk

larva yang berbentuk persegi empat dengan volume 20% - 40% dari bak larva.

5. Penetasan kista artemia, yaitu untuk menetaskan telur artemia sebagai makanan larva

udang yang berbahan fiber glass maupun plastik dengan volume 0,02 m 3.
6. Tenaga listrik, dapat disuplai dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) di daerah terkait.

7. Pompa air atau sarana penyedia air: pompa air laut dengan kapasitas pompa yang

dapat memompa air laut dengan volume minimal 30 % per hari dari total volume air

yang dibutuhkan dalam bak pemeliharaan benur, dan pompa air tawar dengan

kapasitas minimal 5 % dari total volume air bak atau sarana penyedia air yang

kemampuannya setara dengan kapasitas di atas.

8. Aerasi blower/hi blow, selang aerasi, batu aerasi.

b. Fasilitas Pendukung

1. Peralatan lapangan: seser, saringan pembuangan air, kantong saringan air, gelas piala,

sepatu lapangan, senter, gayung, ember, timbangan, selang, saringan pakan, alat

sipon, peralatan panen.

2. Peralatan laboratorium: pengukur kualitas air (termometer, refraktometer, pH meter

atau kertas pH) dan mikroskop.

3. Generator. Peralatan ini sangat dibutuhkan, meskipun unit pembenihan tersebut

mempergunakan sumber listrik PLN, khususnya jika terjadi gangguan listrik PLN.

2.4 Kegiatan Pemeliharaan Larva


2.4.1 Persiapan Bak dan Media Pemeliharaan Larva
Bak yang akan digunakan untuk kegiatan pemeliharaan larva sebelumnya harus

dibersihkan dan diberi desinfektan. Bak dibersihkan menggunakan air bersih dan

detergen dengan cara menyikat seluruh permukaan dinding bak. Hal tersebut bertujuan

untuk membuang seluruh kotoran yang ada dalam bak pemeliharaan. Kemudian diberi

desinfektan berupa hypochlorite sebanyak 20 30 ppm, dan dibilas menggunakan

air bersih untuk menghilangkan sisa dari chlorine, kemudian bak yang sudah
dibersihkan dijemur. Bak yang berada di luar ruangan dan bak yang berukuran kecil

dapat disterilisasi dengan cara penjemuran terhadap bak tersebut

bak yang akan digunakan untuk tempat pemeliharaan larva dibersihkan

menggunakan bleaching powder, kemudian dibilas menggunakan air tawar dan dijemur

selama 24 jam. Sebagian dari bak pemeliharaan diisi air laut, selanjutnya dilakukan

pemasangan aerasi pada beberapa titik bak pemeliharaan. sebelum bak pemeliharaan

larva digunakan untuk siklus selanjutnya, bak harus dicuci menggunakan larutan

Hydrocloric Acid (HCl) kemudian dibilas menggunakan air tawar atau air laut.

Air yang masuk ke unit pembenihan harus dibersihkan dan diberi desinfektan

berupa chlorin dan dilakukan proses filtrasi sebelum didistribusikan ke area

pembenihan seperti hatchery, kultur plankton, artemia, dan lain-lain. air yang digunakan

untuk kegiatan pembenihan di hatchery harus difilter dan ditreatmen untuk mencegah

masuknya organisme yang membawa penyakit dan patogen yang terbawa oleh air. Air

yang akan digunakan, biasanya diberi desinfektan berupa chlorin. Kemudian air

disaring menggunakan filter bag dan terakhir didesinfektan kembali menggunakan sinar

ultraviolet (UV) atau ozon. air laut dalam bak pemeliharaaan larva ditreatmen

menggunakan EDTA sebanyak 10 ppm dan trefflan sebanyak 0,1 ppm.

2.4.2 Penebaran naupli


Naupli ditebar setelah persiapan bak dan media pemelihraan larva selesai

dilakukan. Padat penebaran naupli maksimal adalah 100 ekor per liter dengan ukuran

naupli yaitu 0,5 mm. naupli yang akan ditebar pada bak pemeliharaan harus

mempunyai kualitas yang baik, berikut adalah ciri naupli yang mempunyai kualitas baik :

Warna coklat orange

Gerakan berenang aktif, periode bergerak lebih lama dibandingkan dari periode diam
Kondisi organ tubuh lengkap, ukuran dan bentuk normal serta bebas patogen

Respon terhadap rangsangan bersifat fototaktis positif

kepadatan larva yang ditebar dalam bak pemeliharaan larva paling sedikit adalah

75 ekor naupli per liter. naupli yang ditebar dalam bak pemeliharan larva mempunyai

kepadatan 100 sampai dengan 150 ekor naupli per liter atau atau 100.000 sampai

dengan 150.000 ekor naupli per ton.

penebaran naupli dilakukan pada pagi hari dengan tujuan untuk menghindari

perubahan suhu yang terlalu tinggi dengan cara aklimatisasi.

sebelum naupli ditebar pada bak pemeliharaan larva, harus dilakukan

aklimatisasi. Aklimatisasi yang dilakukan berupa penyesuaian suhu dan salinitas air

terhadap naupli. Proses aklimatisasi ini dilakukan hingga menunjukan naupli sudah

dapat beradaptasi dengan media air dalam bak pemeliharaan larva.

2.4.3 Pengelolaan Pakan


a. Pakan Alami

pakan alami yang diberikan kepada larva udang vannamei adalah fitoplankton dan

zooplankton. Beberapa jenis fitoplankton yang digunakan untuk makanan larva udang adalah

Skeletonema costatum, Tetraselmis chuii, Chaetoceros calcitrans. Sedangkan nauplius artemia

merupakan zooplankton yang banyak diberikan pada larva udang. Hal ini dikarenakan nauplius

artemia banyak mengandung nilai nutrisi yang dibutuhkan oleh larva udang.

Pemberian pakan alami berupa Chaetoceros diberikan mulai dari stadia zoea 1

sedangkan pada stadia naupli belum diberikan pakan, karena pada stadia ini larva udang putih

vannamei masih memanfaatkan kuning telur sebagai pensuplai makanan. pada stadia naupli

belum memerlukan makanan karena masih mempunyai cadangan makanan berupa egg yolk

selama 36 72 jam. Stadia zoea larva udang vannameii diberi makanan skeletonema sp.,

chaetoceros sp., dan Thalassiosira.


pemberian algae berupa Chaetoserros dan Thallasiosiosirra pada stadia naupli diberikan

sebanyak 60.000 sel/ml, stadia zoea 1 sebanyak 80.000 sel/ml, pada stadia zoea 2 diberikan

sebanyak 80.000 100.000 sel/ml, stadia zoea 3 mysis 1 diberikan sebanyak 100.000

sel/ml, dan pada stadia mysis 2 - 3 diberikan sebanyak 80.000 sel/ml.

Dalam melakukan kultur artemia sebelumnya menentukan banyaknya artemia yang

dibutuhkan sebagai pakan larva, setelah itu dilakukan kultur cyste artemia dengan menebarkan

cyste artemia dan memberikan aerasi yang kuat dalam tank kultur untuk mempercepat

penetasan. Setelah cyste menetas dilakukan pemisahan antara cangkang artemia dengan

naupli artemia, kemudian dilakukan pemanenan artemia

pemberian pakan artemia dilakukan enam kali dalam satu hari yaitu pada pukul 00.00,

04.00, 08.00, 12.00, 16.00, dan 20.00. Greece dan Fox (2000), menyatakan bahwa naupli

artemia yang baru menetas diberi aerasi baru diberikan untuk larva. . Hal ini dilakukan agar

naupli dalam penampungan sementara tetap dalam kondisi hidup. Selanjutnya naupli artemia

diberikan menggunakan beacker glass dengan cara ditebarkan secara merata.

b. Pakan Buatan

kriteria pakan buatan yang berkualitas baik adalah sebagai berikut:

a. Kandungan gizi pakan terutama protein harus sesuai dengan kebutuhan ikan

b. Diameter pakan harus lebih kecil dari ukuran bukaan mulut ikan

c. Pakan mudah dicerna

d. Kandungan nutrisi pakan mudah diserap tubuh

e. Memilki rasa yang disukai ikan

f. Kandungan abunya rendah

g. Tingkat efektivitasnya tinggi

pakan buatan yang biasa diberikan untuk larva udang vannamei adalah pakan

dalam bentuk bubuk, cair dan flake (lempeng tipis) dengan ukuran partikel sesuai
dengan stadianya. Kadungan nutrisi pada pakan buatan larva udang vannamei terdiri

dari protein minimum 40 % dan lemak maksimum 10 %. kandungan nutrisi pada pakan

buatan larva udang vannamei terdiri dari protein 28 30 %, lemak 6 8 %, serat

(maksimal) 4 %, kelembaban (maksimal) 11 %, kalsium (Ca) 1,5 2 %, dan fosfor

(phosphorus) 1 1,5 %.

Pakan buatan yang akan diberikan sebelumnya disaring menggunakan saringan

berukuran 10 80 mikron. Pakan diberikan sampai pada stadia zoea 3. Pada stadia

mysis Pakan buatan diberikan dengan cara disaring menggunakan saringan berukuran

50 150 mikron, Pakan buatan yang diberikan pada stadia PL 1 PL 8 sebelumnya

disaring menggunakan saringan berukuran 200 300 mikron, sedangkan pada stadia

PL 9 sampai dengan panen sebelumnya disaring menggunakan saringan dengan

ukuran 300 500 mikron. Ukuran partikel pakan buatan pada tiap stadia dapat dilihat

pada Tabel 2.

Tabel 2. Ukuran Partikel Pakan Buatan Sesuai Stadia


No
Stadia Satuan Ukuran
.
1. Zoea m 50 100
2. Mysis m 100 200
3. Postlarva m 200 300

Frekuensi pemberian pakan dilakukan enam kali dalam satu hari, dilakukan empat

jam sekali dengan pemberian dilakukan secara berselang-seling antara pakan alami

dan pakan buatan. Pada pemberian pakan buatan, sebelumnya dilakukan penyaringan,

hal tersebut dimaksudkan agar pakan buatan yang tersaring sesuai dengan bukaan

mulut dari larva udang pada tiap stadia

2.4.4 Pengelolaan Kualitas Air


untuk menjaga kualitas air pada media pemeliharaan larva, harus dilakukan

pengelolaan air yang baik. Pengelolaan air dapat dilakukan dengan penyiponan dan

pergantian air. Penyiponan pada dasar bak dilakukan pada saat larva masuk stadia

zoea 2 3 selama pemeliharaan larva. Sisa pakan yang tidak termakan dan hasil

metabolisme yang berupa feses dibuang dari dasar bak pada waktu waktu tertentu

(penggunan probiotik akan mengurangi penyiponan). Jika dalam dasar bak

pemeliharaan sudah terlihat kelebihan endapan, buang endapan ke dalam seser

kemudian pindahkan muatan yang tersaring ke dalam ember. Apabila pada saat proses

penyiponan terdapat larva yang terbawa dari bak pemeliharaan, larva dapat

dimasukkan kembali ke dalam bak pemeliharaan.

Pergantian air selama pemeliharaan larva perlu dilakukan tergantung dari

kepadatan larva, stadia larva, dan kondisi kualitas air pada bak pemeliharaan larva.

Pergantian air dilakukan untuk mempertahankan kondisi parameter kualitas air dalam

bak pemeliharaan agar tetap stabil. Air yang digunakan pada proses pergantian air,

harus mempunyai kualitas yang lebih baik dari air pemeliharaan yang ada dalam bak.

Air yang akan digunakan harus sama dengan temperatur, salinitas, dan derajat

keasaman (pH) untuk menghindari stress pada larva akibat dari perubahan parameter

secara mendadak.

Pada umumnya bak pemeliharaan larva hanya diisi 50% dari kapasitas maksimal.

Kemudian selama stadia zoea, dilakukan penambahan secara berangsur-angsur sekitar

10% per hari dari kapasitas maksimal air yang baru (termasuk jumlah plankton yang

digunakan) sampai bak terisi penuh dan dilakukan hingga mencapai stadia mysis. Pada

stadia zoea tidak dilakukan pergantian air. Pada waktu masuk stadia mysis dilakukan
pergantian air sebanyak 10 30 % per hari. Pada stadia awal larva, dilakukan

pergantian air tetapi volume pergantian air lebih besar daripada stadia sebelumnya,

pada PL 1 4 dilakukan pergantian sebanyak 30 40% dan pada PL 5 8

dilakukan pergantian air sebanyak 40 50 %. Setelah stadia PL yang lebih besar perlu

dilakukan pergantian air sebesar 50 80 % per hari pada PL 9 12 dan 60 90

% per hari pada PL 13 16.

yang berhubungan dengan parameter kualitas air seperti suhu, salinitas, pH, dan

DO dilakukan pengecekan atau pengukuran dua kali dalam satu hari yaitu pada pagi

dan sore hari. Hal tersebut dilakukan karena pada waktu-waktu tersebut terjadi fluktuasi

parameter yang signifikan.

2.4.5. Monitoring Pertumbuhan

Pengamatan pertumbuhan larva udang dilakukan bertujuan untuk mengontrol

pertumbuhan larva. Apabila pertumbuhan larva lambat dapat dipacu dengan pemberian

pakan yang berkualitas. apabila pakan yang diberikan berkualitas baik, jumlahnya

mencukupi, dan kondisi lingkungan mendukung, maka dapat dipastikan laju

pertumbuhan udang akan lebih cepat sesuai yang diharapkan. Sedangkan untuk

mengamati kesehatan larva perlu dilakukan dengan pengamatan makroskopis dan

mikroskopis antara lain yaitu :

Pengamatan Makroskopis

Pengamatan makroskopis dilakukan secara visual dengan mengambil sampel

langsung dari bak pemeliharaan sebanyak 1 liter becker glass kemudian diarahkan ke

cahaya untuk melihat kondisi tubuh larva, pigmentasi, usus, sisa pakan kotoran atau

feces dan butiran-butiran yang dapat membahayakan larva.


Pengamatan Mikroskopis

Dilakukan dengan cara mengambil beberapa ekor larva dan diletakkan di atas

gelas objek, kemudian diamati dibawah mikroskop. Pengamatan ini dilakukan untuk

mengamati morfologi tubuh larva, keberadaan parasit, pathogen yang menyebabkan

larva terserang penyakit.

2.4.6 Pengendalian Penyakit


Pada usaha pemeliharan larva udang vannamei (Litopenaeus vannamei),

keberadaan penyakit merupakan salah satu permasalahan yang memerlukan

penanganan secara khusus. Timbulnya penyakit dapat bersumber dari berbagai aspek,

seperti : air sebagai media pemeliharan, peralatan pemeliharaan, pengaruh kontaminasi

pakan, lingkungan, maupun sanitasi dari masing-masing pelaksana produksi yang

secara langsung berhubungan dengan aktifitas pemeliharaan larva

menyatakan Vorticella merupakan salah satu jenis protozoa yang menyerang

larva dengan cara menempel pada permukaan tubuh larva atau insang pada semua

stadia dalam kegiatan pemeliharaan larva udang vannamei. Ketika permukaan tubuh,

alat gerak, atau insang banyak terdapat vorticella, akan menyulitkan larva dalam

melakukan pergerakan, mensuplai makanan, moulting, dan respirasi.

Penyakit yang paling serius mempengaruhi stadia larva udang vannameii

disebabkan oleh jamur, vibrio, dan bakteria. Perlakuan terhadap larva sangat sulit dan

cukup mahal. Pengobatan harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya

penyebaran penyakit. Agar penyebaran penyakit tidak terjadi, bak pemijahan tidak

berada pada satu tempat dengan bak pemeliharaan larva, orang yang memijahkan

harus diberi desinfektan, dan penyaring air laut jumlahnya harus memadai. Pada

umumnya penyakit bakterial dapat dihilangkan menggunakan erythromycin sebanyak 2


4 ppm, penyakit akibat jamur dapat dihilangkan menggunakan malachite green

sebanyak 0,0075 ppm dan infeksi akibat protozoa dapat dihilangkan menggunakan

formalin sebanyak 10 ppm apabila tingkat kematian larva terlihat lebih banyak,

larva harus diamati dengan cara mengambil beberapa ekor larva untuk dijadikan

sampel agar dapat diketahui penyebabnya. Apabila teridentifikasi terdapat penyakit

yang menyerang harus dilakukan treatmen. Treatmen dilakukan dengan cara

pemberian trefflan, antibiotik, dan EDTA.

2.5 Panen dan Pasca Panen


Pada PL 21 PL 25 merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pemanenan dari bak

pemeliharaan karena pada ukuran tersebut dapat dengan mudah dipelihara pada tambak dan

dapat dengan mudah untuk dikirim. Larva yang ada pada bak pemeliharaan dipanen dengan

cara mengurangi 1/3 air pada bak kemudian dikumpulkan pada bag net yang ditempatkan pada

ujung pipa pembuangan. Metode ini cukup efisien untuk mmengumpulkan semua larva.

Pernyataan tersebut tidak sependapat dengan Wyban dan Sweeney (1991), yang menyatakan

normalnya pemanenan benur udang dilakukan pada saat mencapai stadia PL8 sampai dengan

PL10.

benur yang dipanen harus mempunyai kualitas yang baik. Ciri dari benur yang siap untuk

dipanen dan mempunyai kualitas yang baik adalah sebagai berikut :

a) Mempunyai tubuh yang transparan dan usus tidak terputus.

b) Gerakan berenang aktif dan melawan arus dan kepala enderung mengarah ke arah dasar.

c) Kondisi tubuh setelah mencapai PL 10 organ tubuh sudah sempurna dan ekor mengembang,

bebas virus.

d) Respon terhadap rangsangan sangat responsif, benur akan melentik dengan adanya kejutan.

Postlarva dapat ditampung dalam bak plastik, bak fiberglass, atau kanvas yang

berukuran 500 1000 liter dan diberi aerasi. Suhu air dalam kantong plastik diturunkan
menggunakan es batu. Postlarva dengan kepadatan 200 500 per liter dapat diangkut sampai

10 jam tanpa menimbulkan tingkat mortalitas yang tinggi. selain itu, postlarva juga dapat

diangkut menggunakan kantong plastik tipe polyethylene yang diberi oksigen. Plastik berukuran

60 x 40 cm diisi 6 8 liter air tawar dan air laut kemudian masukkan 3000 5000 postlarva.

Kepadatan jumlah larva dapat dikurangi jika dilakukan pengiriman dalam waktu lama atau jarak

jauh. Setelah kantong plastik terikat kencang, tempatkan dalam styrofoam atau ember plastik.

Suhu diturunkan sekitar 22 25C menggunakan es dan serbuk kayu pada dasar, sisi, dan atas

styrofoam. Postlarva akan bertahan lebih dari 12 jam selama pengiriman. kepadatan benur

dalam plastik packing pada stadia PL15 berkisar antara 500 1200 per liter tergantung dari

ukuran benur dan lamanya waktu pengiriman. Dalam plastik tersebut diberi karbon aktif sebagai

pengikat amoniak selama proses pendistribusian. Selain itu dilakukan pemberian HCl Buffer

sebagai penstabil pH dan naupli artemia sebanyak 15 20 ekor naupli per benur untuk

mencegah terjadinya kanibalisme selama proses pendistribusian.

DAFTAR PUSTAKA
Briggs, M, Simon Funge-Smith, Rohana Subasinghe, dan Michael Phillips. 2004.
Introductions and Movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and
The Pacific. FAO. Bangkok
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng. 2009. Budidaya Udang Vannamei
(Litopenaeus vannamei) Teknologi Ekstensif Plus. DKP Provinsi Sulteng. Sulawesi
Tengah
Edhy, W.A, Januar, P dan Kurniawan. 2003. Plankton di Lingkungan PT. Central Pertiwi Bahari.
PT Central Pertiwi Bahari. Tulangbawang.
Elovaara, A.K. 2001. Shrimp Farming Manual : Practical Technology for Intensive Shrimp
Production. United States of America (USA)
Gurisna. 2008. Budidaya Ikan Jilid 2. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
Jakarta.
Haliman, R.W. dan Adijaya, S.D. 2005. Udang Vannamei. Penebar Swadaya. Jakarta.
Harefa, Faahakhododo. 2003. Pembudidayaan Artemia Untuk Pakan Udang dan Ikan.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Heryadi, D dan Sutadi, 1993. Back Yard Usaha Pembenihan Skala Rumah Tangga. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Kordi, K.M.G.H. 2010. Pakan Udang. Akademia. Jakarta.
Kungvankij, P., L.B. Tiro, B.J. Pudarera, Jr., I.O. Potestas, K.G. Corre, E. Borlongan, G.A.
Talean, L.F. Bustilo, E.T. Tech, A. Unggui, T.E. Chua. 1985. Training Manual : Shrimp
Hathery Design, Operation, and Management. FAO. Bangkok
SNI 01-7252-2006. 2006. Benih Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Kelas Benih
Sebar.
Soekartawi, S, A, J, Dellon dan B. Hardaker. 1986. Ilmu Usaha Tani dan Peneletian Untuk
Pengembangan Petani Kecil. UI Press. Jakarta
Soleh, M. 2006. Biologi Udang Vannamei Litopenaeus vannamei. BBPBAP Jepara. Jepara
Subaidah, S. dkk. 2006. Pembenihan Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei). Balai
Budidaya Air Payau Situbondo. Situbondo
Subaidah, Siti dan Pramudjo, Susetyo. 2008. Pembenihan Udang Vaname. Balai Budidaya Air
Payau Situbondo.
Treece, G.D, dan Fox, J.M. 2000. Design, Operation, and Training Manual for an Intensive
Culture Shrimp Hatchery. Texas University. Texas
Wardiningsih. 1999. Teknik Pembenihan Udang. Universitas Terbuka. Jakarta
Wyban, J.A. dan Sweeney, J.A. 1991. Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic
Institute. USA
Hend'Z 314
Jumat, 14 Januari 2011
Teknik Pemeliharaan Larva Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biologi Udang Vannamei
2.1.1 Morfologi
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) tubuh udang vannamei dibentuk
oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite. Vannamei memiliki
tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton secara
periodik (moulting). Bagian tubuh udang vannamei sudah mengalami modifikasi
sehingga dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut.
1. Makan, bergerak, dan membenamkan diri ke dalam lumpur (burrowing).
2. Menopang insang karena struktur insang udang mirip bulu unggas.
3. Organ sensor, seperti pada antena dan antenula.
a. Kepala (thorax)
Kepala udang vannamei terdiri dari antenula, antena, mandibula, dan dua pasang
maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang maxillipied
dan lima pasang kaki berjalan (periopoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Maxillipied
sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Endopodite
kaki berjalan menempel pada chepalothorax yang dihubugka oleh coxa. Bentuk
periopoda beruas-ruas yang berujung di bagian dactylus. Dactylus ada yang
berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2, dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5). Di
antara coxa dan dactylus, terdapat ruang berturut-turut disebut basis, ischium,
merus, carpus, dan cropus. Pada bagian ischium terdapat duri yang bisa digunakan
untuk mengidentifikasi beberapa spesies penaeid dalam taksonomi.

2. Perut (abdomen)
Abdomen terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang
dan sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas (Haliman, R.W dan
Adijaya, D.S, 2005). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dari gambar 1 berikut ini :

Gambar 1. Morfologi udang vannamei (Haliman, R.W dan Adijaya, D.S 2005)

2.1.2 Klasifikasi
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) klasifikasi udang vannamei
(Litopenaeus vannamei) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Sub kingdom : Metazoa
Filum : Artrhopoda
Sub filum : Crustacea
Kelas : Malascostraca
Sub kelas : Eumalacostraca
Super ordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Sub ordo : Dendrobrachiata
Infra ordo : Penaeidea
Super famili : Penaeioidea
Famili : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei

2.1.3 Siklus Hidup


Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) udang vannamei bersifat noktural,
yaitu melakukan aktifitas pada malam hari. Proses perkawinan ditandai dengan
loncatan betina secara tiba-tiba. Pada saat loncatan tersebut, betina mengeluarkan
sel-sel telur. Pada saat besamaan, udang jantan mengeluarkan sperma sehingga sel
telur dan sperma bertemu. Proses perkawinan berlangsung sekitar 1 menit.
Sepasang udang vannamei dapat menghasilkan 100.000-250.000 butir telur yang
menghasilkan telur yang berukuran 0,22 mm.
Siklus udang vannamei meliputi stadia naupli, stadia zoea, stadia mysis, dan stadia
postlarva.

2.1.4 Perkembangan Stadia larva Udang Vannamei


Stadia larva dalam budidaya udang vannamei adalah sebagai berikut :
a) Stadia Naupli
Udang masih belum memiliki sistem pencernaan sempurna dan masih memiliki
cadangan makanan berupa kuning telur sehingga udang masih belum
membutuhkan makanan dari luar. Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005)
pada stadia ini, larva berukuran 0,32 - 0,58 mm. Sistem pencernaannya belum
sempurna dan masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur sehingga
pada stadia ini larva udang vannamei belum membutuhkan makanan dari luar.
Menurut Elovaara, A.K (2001) fase naupli dimulai dari pengeraman sampai hari ke-2
yaitu N1 sampai N2.
b) Stadia Zoea
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) stadia selanjutnya adalah stadia
zoea, stadia ini terjadi setelah naupli ditebar di bak pemeliharaan sekitar 15-24 jam.
Larva sudah berukuran 1,05 - 3,30 mm. Pada stadia ini, benih udang mengalami
moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 2, zoea 3. Lama waktu proses
pengantian kulit sebelum memasuki stadia berikutnya (mysis) sekitar 4 - 5 hari.
Pada stadia ini udang dapat diberi pakan alami berupa artemia.
Menurut Elovaara, A.K (2001) fase zoea dimulai dari hari ke-2 sampai hari ke-4 yaitu
Z1, Z2, Z3.
c) Stadia Mysis
Menurut Haliman RW dan Adijaya D (2005) pada stadia ini, benih sudah menyerupai
bentuk udang yang dicirikan dengan sudah terlihat ekor kipas (uropoda) dan ekor
(telson). Benih pada stadia ini sudah mampu menyantap pakan fitoplankton dan
zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar 3,50 - 4,80 mm. Stadia ini memiliki 3
substadia, yaitu mysis 1, mysis 2, mysis 3 yang berlangsung selama 3 - 4 hari
sebelum masuk pada stadia post larva.
Menurut Elovaara, A.K (2001) fase mysis dimulai dari hari ke-5 sampai hari ke-10
yaitu M1, M2, M3.
d) Stadia Post larva
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini benih udang sudah
tampak seperti udang dewasa dan sudah mulai bergerak lurus ke depan.
Sedangkan menurut Elovaara, A.K (2001) fase post larva dimulai dari hari ke-11
sampai hari ke-21 yaitu PL1 sampai M2.
Fase larva udang vannamei dapat dilihat dari gambar 2 berikut :

Gambar 2. Fase larva udang vannamei (Elovaara, A.K, 2001)

2.1.5 Tingkah Laku Makan


Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005), udang merupakan golongan hewan
omnivora atau pemakan segala. Beberapa sumber pakan udang antara lain udang
kecil (rebon), fitoplankton, cocepoda, polyhaeta, larva kerang, dan lumut.
Udang vannamei mencari dan mengidentifikasi pakan menggunakan sinyal kimiawi
berupa getaran dengan bantuan organ sensor yang terdiri dari bulu-bulu halus
(setae) yang terpusat pada ujung anterior antenula, bagian mulut, capit, antena,
dan maxillipied.
Untuk mendekati sumber pakan, udang akan berenang menggunakan kaki jalan
yang memiliki capit. Pakan langsung dicapit menggunakan kaki jalan, kemudian
dimasukkan ke dalam mulut. Selanjutnya, pakan yang berukuran kecil masuk ke
dalam kerongkongan dan oesophagus. Bila pakan yang dikonsumsi berukuran lebih
besar, akan dicerna secara kimiawi terlebih dahulu oleh maxillipied di dalam mulut.
2.1.6 Sifat Udang Vannamei
Dalam usaha pemeliharaan larva udang vannamei, perlu adanya pengetahuan
tentang sifat udang vannamei, menurut Haliman, R.W dan Adijayam D.S (2005),
beberapa tingkah laku udang vannamei yang perlu kita ketahui antara lain :
a. Aktif pada kondisi gelap (sifat noktunal)
b. Dapat hidup pada kisaran salinitas lebar (euryhaline)
c. Suka memangsa sesama jenis (sifat kanibal)
d. Tipe pemakan lambat, tapi terus-menerus (continuo feeder)
e. Menyukai hidup di dasar (bentik)
f. Mencari makanan lewat organ sensor (chemoreceptor)

2.2 Sarana Pokok dan Penunjang Hatchery


2.2.1 Sarana Pokok
2.2.1.1 Bak pemeliharaan larva
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bak pemliharaan adalah bak unuk
pemliharan larva. Untuk membangunnya perlu diperhatikan bentuk dan ukurannya.
a. Bentuk
Larva udang tidak memerlukan bentuk bak yang spesifik. Bak dapat berbentuk segi
empat, bulat, atau oval. Yang penting sesuai dengan biaya yang tersedia dan agar
bentuk pekarangan tetap indah
Bak larva sudut-sudutnya tidak mati, agar sisa-sisa metabolisme, sisa-sisa
makanan, larva yang mati, dan kotoran lainnya tidak terkumpul pada bagian ini.
Dasar bak memiliki kemiringan 2% kearah pembuangan,agar mudah dikeringkan
dan dibersikan. Sedang dinding harus licin, agar kotoran, jamur atau parasit tidak
menempel serta mudah dibersihkan.
b. Ukuran
Baik bak yang berukuran besar maupun yang kecil keduanya sama baiknya. Karena
keduanya dapat digunakan untuk menghasilkan postlarva (PL) jual. Namun, dari
kedua ukuran itu ada keuntungan dan kerugiannya. Bak besa akan menciptakan
kondisi air media yang stabil seperti suhu dan salinitasnya, tetapi sering mendapat
serangan penyakit.
Dengan demikian ukuran yang ideal adalah yang kapasitasnya 10-20 ton; tingginya
1,2-1,5 m; panjang dan lebarnya masing-masing 4 m dan 2,5 m.
2.2.1.2 Bak kultur pakan alami
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bak kultur pakan alami dapat dibuat dari
kayu yang dilapisi plastik atau semen. Ukuran bak yang baik 10% dari ukuran
kapasitas bak pemeliharaan, yaitu panjangnya 2 m; lebar 2 m; tinggi 0,6 m. Bak
sebesar itu sudah cukup untuk memenuhi satu siklus pemeliharaan pada bak
pemeliharaan yang berkapasitas 10 ton.
2.2.1.3 Instalasi Sistem Aerasi
Oksigen terlarut (DO) merupakan faktor pembatas bagi sebagian besar organisme
aquatik, menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bahwa oksigen yang terlarut saling
berkaitan dengan parameter-parameter kualitas air lainya, oleh karena itu
kandungan okigen harus stabil. Untuk menjaga kestabilan oksigen terlarut di air
media, maka perlu alat yang menyuplai oksigen. Kalau hanya mengandalkan difusi
dan fotosintesis Skletonema costotum akan kurang mencukupi. Alat yang biasa di
digunakan adaah blower yang dilengkapi dengan slang, batu aerasi, dan kran
pengatur udara.
2.2.1.4 Tenaga Listrik
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) tanpa energi listrik, kegiatan operasional
tidak dapat berjalan sesui rencana. Energi listrik digunakan sebagai penggerak
blower, pompa celup, dan penerangan karenanya tenaga listrik disalur selama 24
jam. Sumber energi listrik diperoleh dari mesin genset atau PLN. Namun yang baik
didatangkan dari PLN bila ditinjau dari tegangannya maupun kebersihannya. Jika
digunakan genset akan muncul asap sisa pembakaran dan tumpahan solar yang
akan mengganggu kehidupan larva.
2.4.1.5 Sarana Pengadaan Air Laut
1. Pompa air
Pompa air digunakan untuk pengambilan air baik untuk pengambilan air laut
maupun untuk mengalirkan air dari bak penampungan air laut ke bak pengendapan,
kemudian dari bak pengendapan ke ruang Ozonisasi yang kemudian dialirkan ke
tandon, dan yang terakhir dari tandon ke bak pemeliharaan.
2. Bak penampungan air laut
Bak penampungan ini terdiri dari berbagai bak yang menggunakan sistem gravitasi.
Bak yang digunakan diantaranya adalah bak batu, dan bak ijuk, arang, pasir.
3. Bak Pengendapan
Bak ini digunakan untuk mengendapakan partikel yang lolos dari proses filter
pressure.

4. Tandon
Bak yang digunakan untuk menampung air setelah dilakukan beberapa threatment,
dimana air tersebut dipakai untuk persediaan. Tandon yang ada terdiri dari 2
tandon, hal tersebut dikarenakan agar pergantian air dapat berlangsung setiap hari,
karena untuk mengisi penuh 1 tandon dibutuhkan waktu 1 hari.
5. Bak penampungan 1
Air dari hasil budidaya dialirkan ke bak penampungan ini dan selanjutnya diproses
oleh protein skimmer.
6. Bak penampungan 2
Bak penampungan ini digunakan untuk menampung air yang telah diproses (BBAP
Situbondo, 2006).

2.3.2 Sarana Penunjang


Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) yang merupakan sarana penunjang yaitu
saringan, termometer, salinometer, pompa celup, ember, wadah penetasan Artemia
sp.
2.4 Pemeliharaan Larva Udang Vannamei
Pada pembenihan udang, pemeliharaan larva merupakan aspek terpenting dalam
pengoperasian sebuah hatchery. Kegiatan pemeliharaan larva dimulai dari stadium
nauplius hingga mencapai stadium post larva (PL) yang dikenal sebagai benih
udang atau benur yang sudah menyerupai udang dewasa. Termasuk didalamnya
kegiatan-kegiatan seperti persiapan bak pemeliharaan, penebaran nauplius,
penyediaan dan pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, pengendalian penyakit
dan proses pemanenan (Heryadi D dan Sutadi 1993).
2.4.1 Persiapan Bak
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) persiapan bak meliputi :
a. Sanitsi Bak
Bak pemeliharaan yang akan digunakan harus disucihamakan sehingga bebas dari
penyakit. Caranya, bak dikeringkan (dijemur), kemudian dasar dan dinding bak
disikat. Agar lebih steril gunakan zat-zat kimia seperti klorin dengan dosis 100 ppm,
KMnO4 (kalium permanganat) 10 ppm, dan formalin 50 ppm.

b. Perlakuan air media


Air media, umumnya dibeli pada penjual khusus yang menyediakan jasa penyaluran
air laut. Air laut yang dibutuhkan adalah air yang berkadar garam 29-31 permil, dan
bebas bahan pencemar.

1) Sterilisasi tahap I
Sebelum dipakai, air laut diberi perlakuan dengan menggunakan zat-zat kimia agar
bebas dari bakteri, protozoa, jamur, dan mikroorganisme lainnya. Setelah air laut
ditampung dalam bak ditambahkan kaporit 30 ppm (30 g/m3 air).
Setelah itu tambahkan natrium tiosulfat sebanyak 10-12,5 ppm, kemudian biarkan
proses tersebut berlangsung selama 24 jam sambil tetap diaerasi.
Apabila air laut sudah netral kembali, tambahkan EDTA sebanyak 10 ppm (10g/m3),
dibiarkan selama 24 jam sambil diaerasi. Langkah berikutnya menyimpan endapan
sampai air jernih dan steril. Cara lain yang dapat ditempuh yaitu dengan
memindahkan air yang sudah jernih tersebut ke bak lain dengan menggunakan
pompa celup.

2) Sterilisasi tahap II
Sterilasasi air laut tahap kedua dilakukan pada saat air sudah dalam kondisi jernih
dan dilakukan 2-3 hari sebelum larva ditebar. Pada tahap ini masih digunakan EDTA
sebanyak 8 ppm yang dimasukan ke air media. Setelah itu ditambah antibiotic,
misalnya Erytromycyn sebanyak 1 ppm (1g/m3). Antibiotik berfungsi untuk
menghilangkan bakteri dan protozoa, sedangkan untuk menghilangkan jamur dapat
ditambahkan Trefflan sebanyak 0,1 ppm (0,1ml/m3). Dengan demikian zat kimia
tersebut diberikan dalam waktu yang sama dengan urutan, EDTA, antibiotik, dan
trefflan.

c. Perlakuan terhadap organisme


Walaupun bak dan air media sudah bebas panyakit, justru organisme yang ditebar
yang membawa penyakit. Karenanya, organisme yang akan dipelihara sebaiknya
diberi perlakuan dahulu sebelum ditebar.
Apabila usahanya dimuai dari telur, maka telur diberi perlakuan dengan
meggunakan bahan kimia di antaranya Methelen Blue 1 ppm selama 10 menit atau
KMNO4 dengan dosis 3 ppm selama 30 menit. Jika usahanya mulai dari nauplius,
maka perlu direndam dengan larutan Trefflan 0,1-0,2 ppm agar nauplius bebas
jamur.

d. Memeriksa Aerasi
Sehari sebelum penebaran, aerasi perlu di cek apakah penyebaran gelembung dari
batu aerasi sudah rata. Untuk mengetahuinya, hidupkan blower lalu kran udara
dibuka. Bila gelembung udara yang dihasikan sama rata berarti aerasinya baik.
Aerasi ini juga meningkatkan kandungan oksigen sehingga gas-gas beracun akan
menguap keluar.

1.4.2 Penyediaan Telur


Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) cara untuk mendapatkan telur udang
penaeid :
a. Menyewa Induk
Menyewa induk udang di Jawa Timur sudah lazim dilakukan oleh para pembenih.
Harga sewa induk sepasang sekitar Rp 25.000,00. Sistem ini cukup menguntungkan
pihak penyewa dan yang menyewa.
Bagi penyewa dengan mengeluarkan biaya sewa masih biasa memperoleh
keuntungan, karena sekali berelur bias sebanyak 600.000-700.000 butir/induk. Daya
tetas telur (hatching rate) ditingkat pembenihan antara 70-80%
b. Membeli Telur
Membeli telur udang memang menjanjikan keuntungannya dari pada membeli
nauplius karena harganya lebih murah. Namun resikonya juga lebih besar, karena
daya tetas telur dan kesehatan induknya belum diketahui.

1.4.3 Penebaran Nauplius


Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) sebelum naupli ditebar ke dalam bak perlu
diperhatikan salinitas, kondisi naupli, dan suhu air media. Ciri naupli yang sehat,
gerakannya sangat aktif terutama jika kena sinar. Dan bila terjadi perbedaan suhu
dan salinitas, maka dilakukan proses penyesuaian yang dikenal dengan proses
aklimatisasi.
Aklimatisasi salinitas dilakukan dengan cara, air media yang di dalam bak dialirkan
ke dalam baskom yang berisi naupli dengan menggunakan dengan menggunakan
slang plastik yang berdiameter kecil, sehingga aliran airnya hanya sebesar benag
jahit.
Untuk penurunan kadar garam sebesar 1 permil diperlukan waktu antara 15-30
menit. Apabila salinitas antara air media pada bak pemeliharaan sudah sama
dengan air media pada baskom naupli, maka proses akilmatisasi salinitas dianggap
selesai.
Setelah aklimatisasi selesai naupli ditebarkan ke dalam bak pemeliharaan dengan
menjungkirkan baskom yang berisi naupli perlahan-lahan. Padat tebar nauplii yang
aman berkisar 100-150 ekor/L.
2.4.4 Penyediaan Pakan
Jenis pakan yang diberikan pada larva udang vannamei selama proses
pemeliharaan yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang biasa diberian
pada larva uadang vannamei yaitu Skeletonema costatum dan Artemia sp. Pakan
alami ini sangat dibutuhkan pada stadium akhir napulius (N-6) atau awal stadium
zoea. Sedangkan pakan buatan mulai diperlukan ketika larva memasuki stadium
zoea. Pakan buatan ini ada yang dijual dalam bentuk kalengan maupun bungkusan.
Dosis pakan yang diberikan pada larva tidak dihitung berdasarkan jumlah populasi
larva, tetapi diukur dengan satuan ppm, sebab larva membutuhkan pakan yang
tersedia setiap saat. Yang dimaksud dengan ppm adalah gram/ton volume air media
yang jika pakan berbentuk tepung, sedangkan yang cair ml/ton. Dosis terebut
hanya untuk pakan buatan, sedangkan untuk dosis pakan alami yaitu sel/cc/hari
atau individu /ekor larva/hari.
Pemberian pakan dilakukan setiap 4-6 kali/hari dengan selang waktu 4-5 jam. Larva
suka makan pada malam hari maka pemberian pakan pada malam hari lebih baik
dari pada siang hari, yaitu pukul 05.00, 10.00, 15.00, 20.00 dan pukul 24.00.
Pemberian pakan dilakukan dengan cara dimasukkan kedalam saringan yang
kemudian dimaukkan ke dalam ember yang berisi air tawar. Setelah itu saringn
diremas-remas sampai pakan yang ada dalam saringan habis, kemudian
ditambahkan pakan alami. Pakan yang berada dalam ember yang berisi air tadi
langsung ditebar ke dalam bak pemeliharan (Heryadi D dan Sutadi, 1993)

2.4.5 Pengelolaan Kualitas Air


Menurut Elovaara, A.K (2001) temperatur air untuk optimalkan pertumbuhan dan
transisi dari satu larva ke larva berikutnya adalah 280C, sedangkan salinitas adalah
26-30 dan pH sekitar 8,0, namun pH 7,8 sampai 8,4 sudah cukup.
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993), dalam pengelolaan kualitas air ada beberapa
perlakuan agar air media tetap sesuai untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup
larva, diantaranya :
1. Penyimponan
Penyimponan dilakukan agar sisa-sisa pakan buatan maupun sisa-sisa metabolisme
larva dapat dikeluarkan sehingga tidak terjadi penumpukan dan pembusukandalam
air media.
Penyimponan dapat dilakukan setelah larva mencapai stadium mysis, frekuensinya
2 hari sekali, waktunyasetelah 2 jam pemberian pakan. Cara menyimpon adalah
sebagai berikut :
Blower dimatikan,setelah itu slang yang akan digunakan utuk menyedot air diisi
air penuh dan dipasang saringan pada salah satu ujungnya.
Kemudian slang dimasukkan kedalam bak dan ujungnya yang dilepas tutupnya
sehingga air keluar dengan sendirinya.

2. Pengaturan cahaya
Untuk stadium naupli dan zoea, keduaya bersifat plangtonis yang aktif berenang di
permukaan air. Bagi kedua stadium ini diusahakan agar suasana bak pemeliharaan
gelap dengan cara menutup bak. Apabila larva sudah masuk stadium post larva,
bak pemeliharaan lebih sering dibuka dalam upaya penyesuaian lingkungan.
Parameter kualitas air untuk budidaya udang vannamei dapat dilihat dari Tabel 1,
berikut :
Tabel 1. Parameter kualitas air untuk budidaya udang vannamei
Parameter Kualitas Air Batasan yang dianjurkan
DO 5,0 9,0
Karbondioksida 20 ppm
pH 7,0 8,3
Salinitas 0,5 35 ppt
Clorda 300 ppm
Sodium 200 ppm
Total Hardness (as CaCO3) 150 ppm
Calcium Hardness (as CaCO3) 100 ppm
Magnesium Hardness (as CaCO3) 50 ppm
Total Alkalinitas (as CaCO3) 100 ppm
Uninoized Ammonia (NH3) 0,03 ppm
Nitrit (NO2) 1 ppm
Nirat( NO3) 60 ppm
Hidrogen Sulfida (H2S) 2 ppb
Klorin 10 ppb
Kadmium 10 ppb
Kromium 100 ppb
Kopper 25 ppb
Lead 100 ppb
Merkuri 0,1ppb
Zinc 100 ppb
Suhu 28 32 0 C
Total Iron 1,0 ppm
Sumber : Elovaara, A.K (2001)
Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) selain pengukuran parameter-
parameter tersebut dilakukan pergantian dan penambahan air secara sirkulasi
dengan cara melihat air secara visual, bila dipermukaan air telah banyak
mengandung gelembung-gelembung busa yang telah menumpuk dan gelembung
tersebut tidak dapat pecah kembali ini diasumsikan air pada kondisi jenuh dan telah
terjadi banyak perombakan-perombakan gas di dalam air. Pengisian air pada awal
penebaran naupli adalah sekitar 30% dari kapasitas wadah, saat stadia zoea
ditambah sampai 70%, stadia mysis 80% dan stadia post larva 100%.
Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008), Pergantian air dilakukan setelah
mencapai stadia mysis 3 sampai PL 5 berkisar 10-30% dan PL 5 sampai dengan
panen 30-50% dari volume wadah yang terisi.

2.4.6 Penerapan Bioscurity


Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008), tindakan pencegahan penyakit
dilakukan dengan penerapan biosecurity dengan menggunakan PK (Kalium
Permanganat) sebanyak 1,5 ppm yang ditempatkan pada awal pintu masuk
sebelum memasuki dan akan memasuki ruangan.

2.4.7 Pengendalian Penyakit


Menurut Ghufron M.H Kordik K (2006) penyakit adalah segala sesuatu yang dapat
menimbulkan gangguan pada fungsi atau struktur dari alat-alat tubuh atau
sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada dasarnya
penyakit yang menyerang udang datangnya melalui tiga faktor yaitu kondisi
lingkungan (kualtas air), kondisi inang (Udang) dan jasad organisme/penyakit.
Udang vannamei juga bukan spesies yang tahan terhadap berbagai macam
penyakit, oleh karena itu perlu penerapan sitem budidaya terbaik agar kualitas
udang yang dihasilkan lebih baik. Sedangkan menurut Elovaara, A.K (2001)
penyakit yang menyerang udang vannamei yaitu infectious hypodemal and
hematopoietic necrosis virus (IHHNV), Reo-like virus (REO), and Taura Syndrome
virus (TSV ).
Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2005), gejala klinis penyakit udang
yaitu : bercak putih oleh virus, kematangan cepat 2-3 hari, berenang ke dekat
pematang kemudian mati, kepala kuning oleh virus YHV, kerusakan organ limfoid
dan insang, serangan MBV mengakibatkan kerdil, penyakit bercak putih dicirikan
dengan bagian kepala berukuran kecil.

2.5 Pemanenan
Pemanenan benur dilakukan mulai pada stadia PL10 atau ukuran PL telah mencapai
1 cm dan yang telah memenuhi kriteria-kriteria benur yang siap dipanen. Caranya
adalah membuka saluran pembuangan yang telah diberi saringan di dalamnya agar
air yang keluar tidak deras dan benur tidak ikut keluar. Sebelum hal tersebut
dilakukan terlebih dahulu mengurangi ketinggian air hingga 6-10 cm sehingga
benur mudah ditangkap dengan menggunakan serok. Setelah ketinggian air
mencapai 5 cm hentikan penyerokan dan buka saringan, sehinga sisa benur akan
keluar bersama air tersebut. Langkah berikutnya adaptasi salinitas, penghitungan,
dan pengemasan (Heryadi D dan Sutadi 1993).

2.6 Pengangkutan
Menurut Heryadi D dan Sutadi (1993) pengangkutan benur ummnya dilakukan
dengan cara tertutup dan terbuka. Pengangkutan cara tertutup disenangi karena
pengirimannya dapat dilakukan dengan menggunakan bus, kereta api, pesawat
udara, dan kendaraan lainnya. Cara ini membutuhkan es, kantong pastik, tabung
oksigen dan kardus Styrofoam.
Kunci keberhasilan dalam pengangkutan cara tertutup adalah suhu dan kepadatan.
Dalam pengangkutan diusahakan agar suhu tetap rendah, oleh karena itu setelah
plastik diikat, maka bagian luarnya digantungkan plastik berisi es. Untuk daerah
tropis suhu yang dianggap aman adalah 18-20 0 C.
Kepadatan yang aman dalam pengankutan cara tertutup yaitu 4.000-6.000 ekor
/kantong. Setiap kantong diisi dengan 4 liter air dengan perbandingan oksigen dan
air 5:1. Pengangkutan dengan cara ini akan aman jika lama perjalanan maksimum 6
jam.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Pemeliharaan Larva


5.1.1. Persiapan Bak
Bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva udang vannamei di IPU Gelung BBAP
Situbondo ini berbentuk bulat dan berkapasitas 10 ton serta memiliki kemiringan
3% ke arah pembuangan. Sebelum digunakan sebagai tempat pemeliharaan larva,
bak terlebih dahulu harus dibersihkan dari kotoran yang menempel pada bak
tersebut. Bak dibersihkan dengan cara dicuci menggunakan deterjen, seluruh
permukaan dinding dan dasar bak digosok dengan menggunakan spon untuk
menghilangkan kotoran yang menempel di bak, kemudian dibilas dengan air tawar
sampai bersih setelah itu siram dengan larutan kaporit 60% sebanyak 100 ppm ke
seluruh permukaan bak yang berfungsi untuk membersihkan bak dari penyakit yang
masih tersisa di bak pemeliharaan sebelumnya dan biarkan hingga kering. Apabila
bak akan digunaan, maka bak dan perlengkapan lainnya dicuci kembali dengan
diterejen.
Setelah persiapan selesai, maka bak sudah siap digunakan untuk pemeliharaan
larva. Setelah itu bak diisi air laut sebanyak 5 ton atau separuh dari kapasitas bak
dengan menggunakan filter ukuran 10. Tahapan selanjutnya air pada bak di
treatmen menggunakan larutan trevlan sebanyak 0,25 ppm yang berfungsi untuk
membunuh penyakit yang menempel pada tubuh larva, kemudian aerasi dinyalakan
dan disterilisasi selama 1-2 hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Heryadi, D dan
Sutadi (1993) yang menyatakan bahwa sebelum dipakai, air laut diberi perlakuan
dengan menggunakan zat-zat kimia agar bebas dari bakteri, protozoa, jamur, dan
mikroorganisme lainnya. Setelah air laut ditampung dalam bak ditambahkan kaporit
30 ppm (30 g/m3 air).

5.1.2. Penebaran Naupli


Naupli yang akan ditebar adalah naupli yang berasal dari hatchery BBAP Situbondo
desa Pecaron. Penebaran naupli dilakukan pada malam hari, hal ini dilakukan
dengan harapan untuk menghindari fluktuasi suhu yang terlalu tinggi terhadap
lingkungan. Naupli yang sudah dihitung kemudian diseser dengan menggunakan
saringan, ditempatkan terlebih dahulu kedalam ember kecil yang sudah diberi air
laut kemudian naupli dibilas menggunakan formalin sebanyak 1 ml yang bertujuan
untuk menghilangkan jamur dan bakteri yang terdapat pada naupli.
Sebelum naupli ditebar kedalam bak pemeliharaan larva perlu dilakukan
aklimatisasi suhu dan salinitas, hal ini bertujuan agar naupli yang ditebar tidak
mengalami stress. Aklimatisasi dilakukan dengan cara meletakkan ember yang
berisi naupli di atas permukaan air pada bak pemeliharaan larva, kemudian bak
tersebut dialiri air sampai penuh dengan menggunakan slang kecil dan biarkan
naupli keluar dengan sendirinya dari baskom supaya tidak stress, hal ini sesuai
dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993), yang menjelaskan bahwa
aklimatisasi salinitas dilakukan dengan cara, air media yang di dalam bak dialirkan
ke dalam baskom yang berisi naupli dengan menggunakan slang plastik yang
berdiameter kecil, sehingga aliran airnya hanya sebesar benang jahit.
Proses aklimatisasi selesai ditandai dengan mengumpulnya naupli kepermukaan air
dalam bak pemeliharaan. Setelah penebaran dilakukan, bak pemeliharaan ditutup
dengan plastik transparan tembus cahaya agar suhu tetap stabil. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5, dan Gambar 6 serta padat penebarannya
dapat dilihat pada Tabel 2 :

Tabel 2: Padat Penebaran Naupli

Bak Populasi
( ekor ) Volume Air
( ton ) Padat Penebaran
( ekor/liter )
A1 1.500.000 10 150
A2 1.500.000 10 150
A3 1.500.000 10 150
A4 1.500.000 10 150
Sumber: IPU Glung BBAP Situbondo (2009)

Dari proses aklimatisasai yang dilakukan maka naupli tidak mengalami stress pada
saat ditebar. Sedangkan dari tabel diatas diketahui bahwa rata-rata kepadatan
penebaran naupli adalah 150 ekor/liter, hal ini sesuai dengan pendapat Heryadi, D
dan Sutadi (1993) bahwa padat tebar nauplii yang aman berkisar 100-150 ekor/L.

5.2. Pengelolaan dan Pengamatan Kualitas Air


Pengelolaan kualitas air pada saat masa pemeliharaan larva udang vannamei di IPU
Gelung BBAP Situbondo dilakukan dengan cara pengukuran kualitas air dan
pergantian air (water exchange). Hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan
Pramudjo, S (2008) yang menyatakan bahwa selain pengukuran parameter-
parameter tersebut dilakukan pergantian dan penambahan air secara sirkulasi
dengan cara melihat air secara visual, bila dipermukaan air telah banyak
mengandung gelembung-gelembung busa yang telah menumpuk dan gelembung
tersebut tidak dapat pecah kembali ini diasumsikan air pada kondisi jenuh dan telah
terjadi banyak perombakan-perombakan gas di dalam air.
Pengelolaan kualitas air dimaksudkan untuk meningkatkan atau menjaga kualitas
air supaya tetap dalam keadaan yang sesuai bagi pertumbuhan udang. Pergantian
air ini dilakukan pada saat memasuki stadia mysis 3 berkisar 10-30%, hal ini sesuai
dengan pendapat Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) yang menyatakan bahwa
pergantian air dilakukan setelah mencapai stadia mysis 3 sampai PL 5 berkisar 10-
30% dan PL 5 sampai dengan panen 30-50% dari volume wadah yang terisi. Hal ini
dilakukan berdasarkan pengamatan jika warna air sudah tampak keruh dan banyak
terdapat busa. Pergantian air ini dimaksudkan untuk mengurangi kandungan bahan
organik sehingga tidak menimbulkan penyakit pada larva. Pergantian air ini
dilakukan dengan cara mengurangi volume air sedikit demi sedikit melalui pipa
pembuangan.
Selain itu dilakukan monitoring kualitas air yang dilakukan setiap hari yaitu pada
pagi hari, parameter air yang dilakukan secara rutin adalah sebagai berikut :

a. Suhu
Suhu merupakan salah satu parameter fisika pada kualitas air. Pengukuran suhu
pada bak larva ini dilakukan dengan alat termometer yang telah terpasang pada tali
diantara aerasi. Pengukuran suhu air dilakukan setiap hari pada waktu pagi secara
rutin dengan tujuan agar selama pemeliharaan larva proses metabolisme dan
metamorfosis larva lancar. Suhu pada pemeliharaan larva berada pada kisaran 30C
33C. Suhu pada kisaran ini merupakan suhu yang cukup optimal bagi
pertumbuhan larva udang vannamei. Hal ini sesuai dengan pendapat Haliman dan
Adijaya (2003), suhu optimal pertumbuhan udang antara 26-32C. Suhu
berpengaruh langsung pada metabolisme udang, pada suhu tinggi metabolisme
udang dipacu, sedangkan pada suhu yang lebih rendah proses metabolisme
diperlambat. Bila keadaan seperti ini berlangsung lama, maka akan mengganggu
kesehatan udang karena secara tidak langsung suhu air yang tinggi menyebabkan
oksigen dalam air menguap, akibatnya larva udang akan kekurangan oksigen.
Dalam pemeliharaan larva, suhu air dipertahankan dengan cara menutup bak
dengan menggunakan plastik agar suhu air dapat terjaga pada kondisi yang sesuai
bagi pertumbuhan udang.

b. Derajat Keasaman (pH / potential of hydrogen)


Pengukuran pH di IPU Gelung Balai Budidaya Air Payau Situbondo ini menggunakan
alat pH meter. Pengukuran ini dilakukan dengan cara mengambil sampel pada bak
larva dan diukur di laboratorium. Pengukuran pH ini dilakukan pada waktu
pergantian stadia saat pergantian air karena kondisi bak yang berada dalam
ruangan (hatchery), pH pada bak larva cenderung stabil yaitu berada pada kisaran
8,0 8,5. Hal ini sesuai dengan pendapat Elovaraa, A.K (2001) yang menyatakan
bahwa pH untuk budidaya udang vannamei adalah sekitar 7,0 8,5. Nilai pH yang
stabil dikarenakan kondisi bak larva berada dalam ruangan tertutup (hatchery) hal
ini bertujuan agar udang dapat tumbuh dengan cepat. Selain itu dengan pH yang
stabil daharapkan nafsu makan udang tetap tinggi. Apabila nilai pH tidak terjaga
dengan baik maka secara tidak langsung akan mengakibatkan penurunan kualitas
air. Hal ini juga berpengaruh pada aktifitas udang yang menyebabkan menurunnya
tingkat pertumbuhan dan terganggunya metabolisme udang secara perlahan akan
menggangu kesehatan udang.

c. Salinitas
Pengukuran salinitas ini dilakukan pada pagi hari saat pergantian air dengan
menggunakan refraktometer. Hal ini bertujuan agar salinitas air yang baru tidak
telalu jauh dengan salinitas air yang lama. Salinitas yang terdapat pada bak larva
cenderung stabil pada kisaran 30 34 ppt. Kestabilan salinitas ini diharapkan udang
dapat tumbuh dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Elovaraa, A.K (2001)
menyatakan bahwa salinitas berada pada kisaran 0,5 35 ppt. Hal ini
mengakibatkan energi lebih banyak terserap untuk proses osmoregulasi
dibandingkan untuk pertumbuhan.

d. Alkalinitas
Pengujian alkalinitas (CaCO3) ini dilakukan pada waktu pergantian stadia saat
pergantian air secara titrimetri. alkalinitas berada pada kisaran 100-120 ppm. Pada
kisaran ini kandungan alkalinitas yang terdapat pada bak pemeliharaan masih
dalam keadaan normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Elovaraa, A.K (2001) bahwa
alkalinitas yang optimal bagi udang vannamei adalah lebih besar dari pada 100
ppm. Selain itu dua fungsi penting alkalinitas, yaitu sebagai sumber karbon untuk
fotosintesis dan sebagai sistem penyangga (buffer) perubahan pH. Alkalinitas ini jika
terlalu tinggi akan menyebabkan udang mengalami kekerasan kulit sehingga dalam
pertumbuhannya sulit dan jika melakukan moulting akan berlangsung lama
sehingga udang akan menguras tenaga lebih banyak.

e. Bahan Organik (BO)


Bahan organik merupakan salah satu parameter kimia pada kualitas air yang perlu
diuji. Penggunaan pakan pada pemeliharaan larva secara berlebihan dan hasil
ekskresi merupakan beberapa penyebab bahan organik pada bak pemeliharaan
meningkat. Pelaksanaan pengujian BO dilakukan setiap pergantian stadia pada saat
pergantian air secara titrimetri. Nilai kandungan BO pada bak pemeliharaan berada
pada kisaran 70 110 ppm. Pada kisaran ini kandungan BO pada bak larva masih
dalam keadaan aman. Pergantian air merupakan salah satu cara yang dapat
dilakukan untuk mengurangi kandungan bahan organik yang terdapat dalam bak
pemeliharaan. Hal ini dilakukan agar kandungan bahan organik tidak berubah
menjadi senyawa beracun yang dapat mengakibatkan larva terserang penyakit.
Selama pemeliharaan larva pemantauan kualitas air merupakan salah satu faktor
yang sangat penting dalam pemeliharaan larva. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada gambar grafik parameter kualitas air (Lampiran 4).

5.3. Pengelolaan Pakan


Pemberian pakan ini dilakukan untuk memacu pertumbuhan larva udang vannamei,
adapun jenis pakan yang diberikan yaitu :
5.3.1. Pakan alami
Jenis pakan alami yang diberikan pada larva udang vannamei di IPU Gelung BBAP
Situbondo yaitu Chaetoceros dan Artemia sp. Pemberian pakan alami fitoplankton
Chaetoceros diberikan mulai stadia zoea 1 yaitu dimana larva
sudah mulai kehabisan persediaan kuning telur ( egg yolk ) dan diberikan sampai
stadia PL 3. Hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008)
yang menyatakan bahwa pemberian Chaetoceros sp dilakukan mulai dari stadia
zoea 1 mysis 3, sedangkan pada stadia naupli belum diberikan pakan dikarenakan
pada stadia ini larva udang putih vannamei masih memanfaatkan kuning telur
sebagai pensuplai makanan. Pemberian Chaetoceros sp bertujuan untuk
meningkatkan anti body yang sangat dibutuhkan oleh larva udang vannamei
terutama pada fase-fase transisi seperti dari stadia naupli ke stadia zoea, yang
mana pada fase ini sering dikenal dengan istilah zoea syndrome atau zoea lemah,
yaitu larva kelihatan lemah dan tubuh kotor yang dapat menyebabkan mortalitas
hingga 90%. Selain itu, Chaetoceros sp mampu menekan laju pertumbuhan bakteri
Vibrio harveyi selama proses pemeliharaan larva. Kultur Chaetoceros dilakukan
dengan 3 cara, yaitu skala laboraturium, skala semi massal (Intermediate) dan skala
Massal. Pemberiannya dilakukan dengan cara memompa Chaetocerosla langsung ke
bak pemeliharaan dengan slang.
Artemia salina merupakan pakan alami jenis zooplankton yang diberikan pada larva
udang mulai dari stadia larva mysis 3 post larva. Pemberian nauplius artemia
dikarenakan banyak mengandung nilai nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh larva
udang seiring dengan peningkatan nilai usaha pemeliharaan larva dalam masalah
kualitas larva. Di samping itu, nauplius artemia merupakan zooplankton yang
bergerak aktif sehingga dapat merangsang dan meningkatkan nafsu makan larva
udang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 7 berikut :

Sebelum diberikan, dilakukan dekapsulasi pada cyste artemia menggunakan bahan


kimia yaitu klorin 1000 ml dan soda api 500 ml dengan perbandingan 2 : 1. Klorin
dapat melarutkan senyawa lipoprotein pada cangkang telur artemia yang banyak
mengandung Heamatin yang dapat mempercepat pengikisan cangkang artemia,
sedangkan soda api berfungsi untuk melunakkan cangkang. Selama proses
dekapsulasi diusahakan suhu tidak lebih dari 40C karena dapat menyebabkan
artemia terbakar dan mati. Setelah proses dekapsulasi selesai artemia ditetaskan
dalam conical tank selama 1 24 jam dan diberi aerasi. Artemia yang sudah
menetas diberikan dengan cara ditebar keseluruh permukaan air dengan
menggunakan gayung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 8 dan Tabel
3 berikut :

Tabel 3: Jenis, Dosis dan Waktu Pemberian Pakan Alami


Stadia Jenis Pakan Alami Dosis Waktu
Zoea - PL 3 Chetoceros 500 liter/1,5 juta larva 06:00, 16:00
PL1 PL7 Artemia 56 g/10ton 06:00, 16:00
Sumber: Data Primer (2009)
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pemberian pakan alami (Chetoceros dan
Artemia) dilakukan sebayak 2 kali sehari dengan dosis yang berbeda sesuai dengan
stadia dan kepadatan larva.

5.3.2. Pakan Buatan


Pakan buatan yang akan diberikan disaring terlebih dahulu dengan menggunakan
saringan. Jenis pakan yang digunakan adalah Nosan R1, Nosan R2, Frippak 1 CAR,
Frippak 2CD, Epyfeed LHF-1,Epyfeed LHF-2, dan Riall. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Gambar 9:

Pakan yang telah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam saringan pakan dan
diaduk den sampai merata kemudian diberikan dengan cara ditebar menggunakan
gayung. Untuk dosis pemberian pakan buatan dapat dilihat pada Tabel 4 berikut:

Tabel 4: Jenis, Dosis dan Waktu Pemberian Pakan Buatan


Stadia Jenis Pakan Buatan Dosis ( ppm ) Waktu
Zoea Epyfeed LHF1, Nosan R1, Frippak 1 CAR 0,7-1 04:00, 06:00, 10:00, 13:00,
16:00, 19:00,
22:00, 01:00
Mysis Epyfeed LHF1-2, Nosan R1-R2, Frippak 1 CAR-2CD 1-1,5 04:00, 06:00, 10:00,
13:00, 16:00, 19:00,
22:00, 01:00
PL1 PL7 Epyfeed LHF 2, Nosan R2, Frippak 2CD, Riall 1,5 3 04:00, 06:00, 10:00,
13:00, 16:00, 19:00,
22:00, 01:00
Sumber: Data Primer 2009
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pemberian pakan buatan dimulai dari
stadia zoea sampai PL dan dilakukan sebanyak delapan kali sehari dengan dosis
yang berbeda pada setiap stadia. Dengan pemberian pakan ini maka larva udang
vannamei dapat mengalami pertumbuhan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Lampiran 3.
Pemberian pakan buatan bersamaan dengan pemberian probiotik sanolife yang
mengandung bakteri Bacillus licheniformis, Bacillus Subtilus, Bacillus Pumilus.
Pemberian Bacillus ini untuk menguraikan bahan-bahan organik berupa sisa pakan
dan kotoran yang berada di media pemeliharan agar tidak menjadi racun.
Pemberian probiotik ini diberikan setiap hari pada saat memasuki stadia zoea
sampai post larva. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 10 dan untuk
dosis dan waktu pemberian dapat dilihat pada Tabel 5:

Tabel 5: Dosis dan Waktu Pemberian Probiotik


Stadia Dosis (ppm) Waktu
Zoea 1 10:00
Mysis 1,5 10:00
PL1 PL5 2 10:00

Sumber: Data Primer (2009)


Dari tabel di atas dapat diketahi bawha pemberian probiotik mulai diberikan pada
stadia zoea sampai PL dan dilakukan satu kali sehari dengan dosis yang disesuaikan
pada setiap stadia larva.

5.4. Pengamatan Pertumbuhan


Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap hari dengan cara mengambil sampel
langsung dari bak pemeliharaan dengan menggunakan beaker glass, kemudian
diarahkan ke cahaya untuk melihat kondisi tubuh larva. hal ini bertujuan untuk
mengetahui perkembangan larva, gerakan, dan sisa pakan. Sedangkan pengamatan
mikroskopis dengan cara mengambil beberapa ekor larva dan dilakukan
pengamatan menggunakan alat mikroskop, pengamatan ini dilakukan untuk melihat
dan mengamati morfologi tubuh larva, keadaan parasit, pathogen yang
menyebabkan larva terserang penyakit. Dengan mengetahui perkembangan larva
maka juga dapat menentukan perubahan stadia, gerakan aktif juga menandakan
bahwa larva tersebut baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 11:

Dari hasil pengamatan maka dapat diketahui perkembangan larva dari setiap stadia
yaitu:
1). Stadia naupli
Stadia ini memiliki ciri-ciri yaitu badan berbentuk bulat telur, beranggota badan tiga
dan masih memiliki cadangan kuning telur hal ini sesuai dengan pendapat Haliman,
R.W dan Adijaya, D.S (2005), yang menjelaskan bahwa stadia naupli masih memiliki
cadangan makanan berupa kuning telur sehingga pada stadia ini larva udang
vannamei belum membutuhkan makanan dari luar.
Secara visual stadia naupli terlihat seperti laba-laba kecil dengan gerakan renang
tersedat-sedat, lalu berhenti sesaat kemudian melanjutkan renang. Pembagian
tubuh atas karapas dan abdomennya belum terlihat jelas dimana naupli 1 badan
berbentuk bulat telur dengan tiga pasang anggota tubuh, naupli 2 pada ujung
antena pertama terdapat satae yang panjang dan pendek, naupli 3 terdapat dua
buah furtcel mulai tampak jelas dengan masing-masing tiga duri, tunas maxillped
mulai tampak, naupli 4 masing-masing furtcel mulai tampak jelas terdapat empat
buah duri, antena kedua beruas-ruas, naupli 5 tonjolan pada maxilliped suah mulai
jelas, naupli 6 perkembangan satae semakin sempurnadan duri pada fortcel tumbuh
makin panjang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 12 berikut :
2). Stadia zoea
Stadia naupli akan berubah menjadi stadia zoea setelah ditebar pada bak
pemeliharaan sekitar 15-24 jam. Pada stadia ini zoea akan mengalami ganti kulit
(moulting) hal ini sesuai dengan pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005),
yang menjelaskan bahwa pada stadia ini benih udang mengalami moulting
sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 2, zoea 3. Lama waktu proses pergantian
kulit sebelum memasuki stadia berikutnya sekitar 4-5 hari. Secara visual stadia ini
memiliki ciri yang khas, yaitu terlihat adanya kotoran yang enempel pada ekor dan
berenang maju. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 13 dan untuk
perkembangannya dapat dilihat pada Tabel 6:

Tabel 6: Ciri-ciri stadia zoea pada udang vannamei (Litopenaeus vannamei)

Stadia Ciri-ciri yang menonjol


Zoea 1 Badan pipih dan karapas mulai nyata, mata mulai tampak, alat pencernaan
makanan mulai jelas.
Zoea 2 Mata mulai bertangkai dan pada karapas sudah terlihat rostrum.
Zoea 3 Sepasang uropoda mulai berkembang, ruas-ruas perut mulai tumbuh.
Sumber: Data Primer (2009)

3). Stadia Mysis


Pada stadia ini larva sudah hampir menyerupai bentuk udang yang bercirikan sudah
terlihat ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Ukuran larva berkisar antara 3 4,5
mm. Pada stadia ini berlangsung selama 3-4 hari dimulai dari stadia mysis 1-3
sebelum memasuki stadia post larva (PL), gerakannya mundur kebelakang. Hal ini
sesuai dengan pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini,
benih sudah menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan sudah terlihat ekor
kipas (uropoda) dan ekor (telson). Benih pada stadia ini sudah mampu menyantap
pakan fitoplankton dan zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar 3,50 - 4,80 mm.
Stadia ini memiliki 3 substadia, yaitu mysis 1, mysis 2, mysis 3 yang berlangsung
selama 3 - 4 hari sebelum masuk pada stadia post larva. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat Gambar 14 dan pada Tabel 7 berikut :

Tabel 7: Ciri-ciri stadia mysis pada udang vannamei (Litopenaeus


vannamei)

Stadia Ciri-ciri yang menonjol


Mysis 1 Bentuk badan sudah menyerupai udang dewasa
Mysis 2 Tunas kaki renang (pleopoda) mulai tampak nyata tetapi belum beruas-ruas
Mysis 3 Tunas kaki bertambah panjang dan beruas
Sumber: Data Primer (2009)

4). Stadia Post Larva


Pada stadia ini akan tampak jelas seperti udang dewasa. Larva sudah mulai
bergerak aktif lurus ke depan serta mempunyai sifat karnivora dimulai dari post
larva (PL 1) sampai dengan panen benur. Hal ini sesuai denan pendapat Haliman,
R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini benih udang sudah tampak seperti
udang dewasa dan sudah mulai bergerak lurus ke depan. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Gambar 15 berikut:
Berdasarkan pengamatan pada tingkat kelangsungan hidup larva udang (Survival
Rate/SR) larva udang vannamei di IPU Gelung BBAP Situbondo didapatkan data
seperti pada Tabel 8 di bawah ini :
Tabel 8. Tingkat Kelangsungan Hidup Larva
Stadia Bak Volume Bak (Ton) Jumlah Tebar (ekor/bak) Larva Sampling Estimasi
SR (%)

Naupli 1 A1 10 1.500.000 1.500.000 100


A2 10 1.500.000 1.500.000 100
A3 10 1.500.000 1.500.000 100
A4 10 1.500.000 1.500.000 100
Zoea 2 A1 10 1.500.000 1.425.000 95
A2 10 1.500.000 1.350.000 90
A3 10 1.500.000 1.395.000 93
A4 10 1.500.000 1.350.000 90
Mysis 1 A1 10 1.500.000 1.320.000 88
A2 10 1.500.000 1.275.000 85
A3 10 1.500.000 1.200.000 80
A4 10 1.500.000 1.290.000 86
PL 4 A1 10 1.500.000 1.125.000 75
A2 10 1.500.000 1.050.006 70
A3 10 1.500.000 1.095.000 73
A4 10 1.500.000 1.125.000 75
Sumber : Data Primer (2009)
Dari table di atas diketahui bahwa kepadatan larva pada setiap bak mengalami
penurunan hal ini terjadi akibat adanya mortalitas pada larva.

5.5. Penerapan Biosecurity


Penerapan biosecurity dalam kegiatan pemeliharaan larva sangat diperlukan untuk
mengurangi resiko penyebaran penyakit dari satu tempat ke tempat lain. Tindakan
penceghan dengan penerapan bioscurity dilakukan dengan menggunakan PK
(Kalium Permanganat) sebanyak 1 ppm yang ditempatkan pada awal pintu masuk
ruangan, hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) yang
menyatakan bahwa tindakan pencegahan penyakit dilakukan dengan penerapan
biosecurity dengan menggunakan PK (Kalium Permanganat) sebanyak 1,5 ppm
yang ditempatkan pada awal pintu masuk sebelum memasuki dan akan memasuki
ruangan.
Dengan penerapan biosecurity ini maka diharapkan dapat meminimalisir bibit
penyakit yang masuk ke area pembenihan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Gambar 16 berikut :
Gambar 16: Biosekuritas pada IPU Gelung BBAP Situbondo
Sumber: Data Primer (2009)

5.6. Pengendalian Penyakit


Pengendalian penyakit pada larva udang vannamei dilakukan dengan prinsip dasar
yaitu tindakan pencegahan dan pengobatan. Dengan melakukan pencegahan
diharapkan agar larva tidak sampai terserang penyakit yang dapat mengakibatkan
mortalitas dan kualitas menurun. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan
pemberian probiotik. Stadia yang paling rawan dalam pemeliharaan larva yaitu
pada saat memasuki stadia zoea, jenis penyakit yang sering mewabah adalah jenis
zoothamnium sp dari golongan protozoa, menyerang ketika stadia mysis-1 dengan
gejala gerakan lemah, kebanyakan larva berada di atas permukaan air, namun
selama praktek tidak ditemukan adanya penyakit pada larva udang. Hal ini tidak
sesuai dengan pendapat Elovaara, A.K (2001) yang menyatakan bahwa penyakit
yang menyerang udang vannamei yaitu infectious hypodemal and hematopoietic
necrosis virus (IHHNV), Reo-like virus (REO), and Taura Syndrome virus (TSV ).
Protozoa disebabkan oleh air media dan peralatan yang kurang steril. Kurang
sterilnya peralatan dimungkinkan pencucian menggunakan air tawar yang belum
ditrietment terlebih dahulu. Tindakan untuk mengurangi populasi protozoa tersebut
dengan melakukan pergantian air dan pemberian obat (treflan) sesuai dengan dosis
yang dibutuhkan.

5.7. Panen dan Pengangkutan


5.7.1. Panen
Waktu pemanenan dapat dilakukan kapan saja tergantung keinginan pembeli, pada
pemeliharaan larva untuk siklus ini pemanenan dilakukan pada malam hari sekitar
pukul 21:00. Pemanenan benur dilakukan dengan mengurangi volume air hingga
mencapai 50% dari daya tampung bak melalui pipa goyang atau pipa pengeluaran
dan pipa saringan bagian dalam, air yang keluar ditampung dengan menggunakan
ember saringa yang berukuran 300, kemudian benur diseser dan ditampung dalam
baskom bersaring, hal ni sesuai dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993),
yang menyatakan bahwa caranya adalah membuka saluran pembuangan yang
telah diberi saringan di dalamnya agar air yang keluar tidak deras dan benur tidak
ikut keluar.
Setelah benur bekurang, pipa saringan bagian dalam dilepas untuk dipanen secara
total. Langkah selanjutnya yaitu disaring kembali dengan saringan rangka besi
berukuran 50x70 cm, dan airnya dialirkan melalui saluran pembangan serta
ditampung dalam ember bersaring. Setelah dipanen, dilakukan sampling dengan
menggunaka takaran yang telah diperitungkan kepadatannya. Setelah proses
sampling selesai kemudian benur dikemas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Gambar 17 berikut :
Gambar 17: Pemanenan dan Penghitungan Benur
Sumber: Data Primer (2009)
5.7.2. Pengangkutan
Pengankutan yang dilakukan di IPU Gelung BBAP Situbondo adalah pengangkutan
cara tertutup, yaitu dengan menggunakan kantong plastik yang ditempatkan dalam
sterofom kemudian diberi es untuk menurunkan suhu hal ini sesuai dengan
pendapat Heryadi D dan Sutadi (1993), yang menyatakan bahwa pengangkutan
benur ummnya dilakukan dengan cara tertutup dan terbuka, pengangkutan cara
tertutup disenangi karena pengirimannya dapat dilakukan dengan menggunakan
bus, kereta api, pesawat udara, dan kendaraan lainnya. Cara ini membutuhkan es,
kantong pastik, tabung oksigen dan kardus Styrofoam.
Tujuan dari penurunan suhu yaitu agar selama dalam perjalanan benur tidak aktif.
Pengaruh suhu terhadap benur adalah, jika suhu dari air yang ada dalam kantong
meningkat maka akan meningkatkan metabolisme dari benur. Dengan
meningkatnya metabolisme dari benur maka sisa metabolisme atau ekskresi akan
tinggi. Jika hal ini terjadi dalam kurun waktu yang lama maka akan mangakibatkan
terjadinya penurunan kualitas air sehingga dapat mempengaruhi benur yang ada
dalam media tersebut.
Kepadatan benur dalam kantong disesuaikan dengan permintaan pembeli dan jarak
pengiriman benur. Kepadatan benur untuk jarak dekat (lokal) yaitu 1000 ekor/liter.
Kemudian diberi oksigen dan diikat kuat dengan menggunakan karet gelang.
Perbandingan antara air dan oksigen adalah 1 : 2, hal ini untuk menjaga
ketersediaan oksigen selama pengangkutan. Setelah itu kantong plastik
dimasukkan ke dalam kotak sterofoam. Pengiriman dilakukan dengan menggunakan
alat transportasi darat yaitu mobil pick up ke daerah Situbondo, Banyuwangi,
Jember, Gresik, Tuban, Lamongan, Sumenep, Rembang, Yogyakarta dan Purworejo.
Sedangkan prosedur pengangkutan jarak jauh (luar pulau) perlakuanya sama
dengan pengiriman jarak dekat, hanya saja kepadatannya ditingkatkan menjadi
4.000 8.000 ekor/kantong dan suhu air yang dipakai sebagai media benur tidak
sama. Suhu air untuk sistem pengangkutan benur jarak jauh/luar pulau harus lebih
rendah yaitu 27oC. Secara langsung keadaan ini berhubungan dengan proses
metabolisme serta reaksi kimia dalam tubuh larva udang yang semakin menurun
sehingga menyebabkan larva bergerak pasif.