Anda di halaman 1dari 12

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan
melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak, atau melarut dalam suhu
tubuh. Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat atau sebagai
pembawa zat terapeutik yang bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar suppositoria yang
umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi,
campuran polietilen glikol, dan esterasam lemak polietilen glikol. (Depkes RI, 1995)
Bahan dasar suppositoria mempengaruhi pada pelepasan zat terapeutiknya. Lemak
coklat capat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, sehingga
menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati. Polietilen glikol
adalah bahan dasar yang sesuai dengan beberapa antiseptik, namun bahan dasar ini sangat
lambat larut sehingga menghambat pelepasan zat yang dikandungnya. Bahan pembawa
berminyak, seperti lemak coklat, jarang digunakan dalam sediaan vagina, karena membentuk
residu yang tidak dapat diserap. Sedangkan gelatin jarang digunakan dalam penggunaan
melalui rektal karena disolusinya lambat. (Depkes RI, 1995).
Bobot suppositoria bila tidak dinyatakan lain adalah 3 gr untuk dewasa dan 2 gr untuk
anak. Penyimpanan suppositoria sebaiknya di tempat yang sejuk dalam wadah tertutup rapat.
Bentuknya yang seperti torpedo memberikan keuntungan untuk memudahkan proses
masuknya obat dalam anus. Bila bagian yang besar telah masuk dalam anus, maka
suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya. (Moh. Anief, 2007)
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan sediaan suppositoria ?


2. Apa saja komponen dan pembawa dalam sediaan suppositoria ?
3. Bagaimana pendekatan formulasi dalam sediaan suppositoria ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui sediaan suppositoria.
2. Mengetahui komponen dan pembawa dalam sediaan supporitoria.
3. Mengetahui pendekatan formulasi dalam sediaan suppositoria.

II. ISI

2.1 Pengertian

1
Menurut Farmakope Indonesia ed. IV suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai
bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak
atau melarut pada suhu tubuh (FI ed. IV).

Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat
terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar suppositoria yang umum digunakan
adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen
glikol berbagai bobotmolekul, dan ester asam lemak polietilen glikol (FI ed. IV).

Bahan dasar suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan zat terapetik.
lemak coklat cepat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, oleh
karena itu menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat diobati. Polietilen glikol
adalah bahan dasar yang sesuai untuk beberapa antiseptik. Jika diharapkan bekerja secara
sistemik, lebih baik menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik, agar diperoleh ketersediaan
hayati yang maksimum. Meskipun obat bentuk nonionik dapat dilepas dari bahan dasar yang
dapat bercampur dengan air, seperti gelatin tergliserinasi dan polietilen glikol, bahan dasar ini
cenderung sangat lambat larut sehingga menghambat pelepasan. Bahan pembawa berminyak
seperti lemak coklat jarang digunakan dalam sediaan vagina, karena membentuk residu yang
tidak dapat diserap, Sedangkan gelatin tergliserinasi jarang digunakan melalui rektal karena
disolusinya lambat. Lemak coklat dan penggantinya (lemak keras) lebih baik untuk
menghilangkan iritasi, seperti pada sediaan untuk hemoroid internal (FI ed. IV).

2.2 Komponen dan Zat Pambawa Sediaan Suppositoria


A. Zat Aktif
Zat aktif atau bahan obat yang digunakan dalam sediaan suppositoria bermacam
macam sesuai efek yang diinginkan apakah efek sistemik atau efek local. Contoh sediaan
suppositoria dengan zat aktif sebagai berikut.
Dalam suppositoria rectum : Suppositoria aminofilin, Suppositoria aspirin,
Suppositoria bisakodil, Suppositoria klorpromazin, dll.
Dalam suppositoria vagina : sulfanilamide, aminakrin HCl, allantoin, dienestrol,
mikonazol, nistatin, dll.
B. Zat Pembawa (Basis)
Basis suppositoria mempunyai peranan penting dalam pelepasan obat yang
dikandungnya. Salah satu syarat utama basis suppositoria adalah selalu padat dalam suhu

2
ruangan tetapi segera melunak, melebur atau melarut pada suhu tubuh supaya melepaskan
kandungan obatnya untuk diabsorpsi (Ansel, 2008).
Menurut Farmakope Indonesia IV, basis suppositoria yang umum digunakan adalah
lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran
polietilenglikol (PEG) dengan berbagai bobot molekul dan ester asam lemak polietilen
glikol (FI IV).
Menurut Ansel (2008) tipe basis suppositoria menurut sifat fisik yaitu :
a Basis berminyak atau berlemak
Basis berlemak merupakan basis yang paling banyak dipakai, terdiri dari oleum
cacao, dan macam-macam asam lemak yang dihidrogenasi dari minyak nabati seperti
minyak palem dan minyak biji kapas.
Oleum cacao merupakan lemak yang diperoleh dari biji Theobroma cacao yang
dipanggang. Pada suhu kamar, berwarna kekuning-kuningan sampai putih padat sedikit
redup, beraroma coklat. Secara kimia adalah trigliserida yang terdiri dari
oleapalmitostearin dan oleo distearin. Karena oleum cacao meleleh antara 30 sampai
36C, merupakan basis supositoria yang ideal, yang dapat melumer pada suhu tubuh tapi
tetap dapat bertahan sebagai bentuk padat pada suhu kamar biasa
Akan tetapi, oleh karena kandungan trigliseridanya, oleum cacao menunjukkan
sifat polimorfisme, atau keberadaan zat tersebut dalam berbagai bentuk kristal. Oleh
karena itu bila oleum cacao tergesa-gesa atau tidak hati-hati dicairkan pada suhu yang
melebihi suhu minimumnya, lalu segera didinginkan, maka hasilnya berbentuk kristal
metastabil (suatu bentuk kristal) dengan titik lebur yang lebih rendah dari titik lebur
oleum cacao asalnya. Pada kenyataanya titik lebur ini mungkin terlalu rendah sehingga
oleum cacao tidak akan mengeras dalam suhu ruang.
Akan tetapi karena bentuk kristal merupakan suatu kondisi metastabil, terjadi
penyesuaian yang lambat ke tingkat kristal yang lebih stabil dan lebih tinggi titik
leburnya. Penyesuaian ini memerlukan beberapa hari. Untuk menghindari bentuk kristal
yang tidak stabil dan untuk menjamin resistensi dalam cairan dari bentuk kristal yang
lebih stabil, diberikan bahan-bahan seperti fenol dan kloral hidrat untuk menurunkan titik
lebur dari oleum cacao. Jika titik lebur menurun sedemikian rupa sehingga tidak mungkin
lagi dijadikan supositoria yang padat dengan menggunakan oleum cacao sebagai bahan
basis tunggal, maka bahan pengeras seperti lilin setil ester atau malam tawon. Akan

3
tetapi, penggunaan bahan pengeras tidak boleh berlebihan sehingga mengganggu
pelelehan basis supositoria.
b Basis suppositoria larut air dan basis yang bercampur dengan air
Basis yang penting dari kelompok ini adalah basis gelatin tergliserinasi dan basis
polietilen glikol. Basis gelatin tergliserinasi terlalu lunak untuk dimasukkan dalam rektal
sehingga hanya digunakan melalui vagina (umum) dan uretra. Basis ini melarut dan
bercampur dengan cairan tubuh. Basis ini menyerap air karena gliserin yang higroskopis.
Oleh karena itu, saat akan dipakai, suppo harus dibasahi terlebih dahulu dengan air.
Obat yang ditambahkan dilarutkan atau digerus dengan sedikit air atau gliserin
yang disisakan dan dicampurkan pada masa yang sudah dingin. Polietilen glikol (PEG)
merupakan polimer dari etilen oksida dan air, dibuat menjadi bermacam-macam panjang
rantai, berat molekul dan sifat fisik. Polietilen glikol tersedia dalam berbagai macam berat
molekul mulai dari 200 sampai 8000. PEG yang umum digunakan adalah PEG 200, 400,
600, 1000, 1500, 1540, 3350, 4000, 6000 dan 8000. Pemberian nomor menunjukkan berat
molekul rata-rata dari masing-masing polimernya.
Basis polietilenglikol dapat dicampur dalam berbagai perbandingan dengan cara
melebur, dengan memakai dua jenis PEG atau lebih untuk memperoleh basis suppo
dengan konsistensi dan karakteristik yang diinginkan. Penyimpanan PEG tidak perlu di
kulkas dan dapat dalam penggunaan dapat dimasukkan secara perlahan tanpa kuatir suppo
akan meleleh di tangan (hal yang umum terjadi pada basis lemak).
Suppositoria dengan polietilen glikol tidak melebur ketika terkena suhu tubuh,
tetapi perlahan-lahan melarut dalam cairan tubuh. Oleh karena itu basis ini tidak perlu
diformulasi supaya melebur pada suhu tubuh.

PEG Titik Leleh (C)


1000 37 40
1500 44 48
1540 40 48
4000 50 58
6000 55 63
(HOPE, ed.IV p. 455)
Keuntungan basis PEG :
1 Stabil dan inert
2 Polimer PEG tidak mudah terurai.

4
3 Mempunyai rentang titik leleh dan kelarutan yang luas sehingga memungkinkan
formula suppo dengan berbagai derajat kestabilan panas dan laju disolusi yang
berbeda
4 Tidak membantu pertumbuhan jamur
Kerugian basis PEG:
1 Secara kimia lebih reaktif daripada basis lemak.
2 Dibutuhkan perhatian lebih untuk mencegah kontraksi volume yang membuat
bentuk suppo rusak
3 Kecepatan pelepasan obat larut air menurun dengan meningkatnya jumlah PEG
dgn BM tinggi.
4 Cenderung lebih mengiritasi mukosa daripada basis lemak.
c Basis lainnya
Surfaktan tertentu disarankan sebagai basis hidrofilik sehingga dapat digunakan
tanpa penambahan zat tambahan lain. Surfaktan juga dapat dikombinasikan dengan
basis lain. Basis ini dapat digunakan untuk memformulasi obat yang larut air dan larut
lemak.
Beberapa surfaktan nonionik dengan sifat kimia mendekati polietilen glikol
dapat digunakan sebagai bahan pembawa suppositoria. Contoh surfaktan ini adalah
ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat.
Surfaktan ini dapat digunakan dalam bentuk tunggal atau kombinasi dengan
pembawa suppositoria lain untuk memperoleh rentang suhu lebur yang lebar dan
konsistensi. Salah satu keuntungan utama pembawa ini adalah dapat terdispersi dalam
air. Tetapi harus hati-hati dalam penggunaan surfaktan, karena dapat meningkatkan
kecepatan absorpsi obat atau dapat berinteraksi dengan molekul obat yang
menyebabkan penurunan aktivitas terapetik.
Keuntungan :
1 Dapat disimpan pada suhu tinggi
2 Mudah penanganannya
3 Dapat bercampur dengan obat
4 Tidak mendukung pertumbuhan mikroba
5 Nontoksik dan tidak mensensitisasi
(Lachman, Teory and Practice of Industrial Pharmacy, 575, 578)
3 Pendekatan Formulasi Dalam Sediaan Farmasi
Apakah untuk tujuan sistemik atau lokal?
Di mana lokasi pemberian suppositoria? Rektal, vaginal, atau uretral?
Bagaimana efek yang diinginkan? Cepat atau lambat?
a Suppositoria untuk tujuan sistemik
1 Basis yang digunakan tersedia dan ekonomis.

5
2 Zat aktif harus terdispersi baik dalam basis dan dapat lepas dengan baik (pada
kecepatan yang diinginkan) dalam cairan tubuh di sekitar suppositoria.
3 Jika zat aktif larut air, gunakan basis lemak dengan kadar air rendah.
4 Jika zat aktif larut lemak, gunakan basis larut air. Dapat ditambahkan surfaktan
untuk mempertinggi kelarutannya.
5 Untuk meningkatkan homogenitas zat aktif dalam basis sebaiknya digunakan
pelarut yang melarutkan zat aktif atau zat aktif dihaluskan sebelum dicampur
dengan basis yang meleleh.
6 Zat aktif yang larut sedikit dalam air atau pelarut lain yang tercampur dalam
basis, dilarutkan dulu sebelum dicampur dengan basis.
7 Zat aktif yang langsung dapat dicampur dengan basis, terlebih dahulu digerus
halus sehingga 100 % dapat melewati ayakan 100 mesh.
b Suppositoria untuk efek lokal
1 Untuk hemoroid, anestetika lokal dan antiseptik (tidak untuk diabsorbsi).
2 Basis tidak diabsorpsi, melebur dan melepaskan obat secara perlahan-lahan.
3 Basis harus dapat melepas sejumlah obat yang memadai dalam 1/2 jam, dan
meleleh seluruhnya dengan melepas semua obat antara 4-6 jam agar terjadi efek
lokal dalam kisaran waktu tersebut.
4 Pilih basis untuk efek local
5 Obat harus didistribusikan secara homogen dalam basis suppositoria.
(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed, 582-583)
c Pemilihan Obat / Zat Aktif
Suatu zat aktif dapat dberikan dalam bentuk suppositoria jika:
1 Dapat diabsorpsi dengan cukup melalui mukosa rektal untuk mencapai kadar
terapeutik dalam darah (absorpsi dapat ditingkatkan dengan bahan pembantu).
2 Absorpsi zat aktif melalui rute oral buruk atau menyebabkan iritasi mukosa
saluran pencernaan, atau zat aktif berupa antibiotik yang dapat mengganggu
keseimbangan flora normal usus.
3 Zat aktif berupa polipeptida kecil yang dapat mengalami proses enzimatis pada
saluran pencernaan bagian atas (sehingga tidak berguna jika diberikan melalui rute
oral).
4 Zat aktif tidak tahan terhadap pH saluran pencernaan bagian atas.
5 Zat aktif digunakan untuk terapi lokal gangguan di rektum atau vagina.
Sifat dari zat aktif yang mempengaruhi pengembangan produk
suppositoria:
1 Sifat fisik
Zat aktif dapat berupa cairan, pasta atau solida.

6
Penurunan ukuran partikel dapat meningkatkan bioavailabilitas obat
(melalui peningkatan luas permukaan) dan meningkatkan kinetika disolusi
pada ampula rektal.
Penurunan ukuran partikel dapat menyebabkan pengentalan campuran zat
aktif/eksipien, yang menyebabkan aliran menjadi jelek saat pengisian
suppositoria ke cetakan, dan juga memperlambat resorpsi zat aktif.
Adanya zat aktif berupa kristal kasar (baik karena kondisi zat aktif saat
ditambahkan ke dalam basis atau karena pembentukan kristal) dapat
menyebabkan iritasi permukaan mukosa rektal yang sensitif.
2 Densitas bulk
Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara densitas zat aktif dengan
eksipien,diperlukan perlakuan khusus untuk mencapai homogenitas produk.
Usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini yaitu dengan menurunkan
ukuran partikel atau meningkatkan viskositas produk. Peningkatan viskositas
produk dapat dicapai dengan penambahan bahan pengental, atau dengan
menurunkan suhu campuran agar mendekati titik solidifikasi sehingga
fluiditasnya turun.
3 Kelarutan (solubilitas)
Peningkatan kelarutan zat aktif dalam basis meningkatkan homogenitas
produk, tetapi menyulitkan/mengurangi pelepasan zat aktif jika terjadi
kecenderungan yang besar dari zat aktif untuk tetap berada dalam basis.
Afinitas zat aktif terhadap basis/eksipien dapat diatur dengan derajat
misibilitas dari kedua komponen suppositoria.
b Pemilihan Basis
Peran utama basis suppositoria:
1 Menjadikan zat aktif tertentu dapat dibuat dalam bentuk suppositoria yang tepat
dengan karakteristik fisikokimia zat aktif dan keinginan formulator.
2 Basis digunakan untuk mengatur penghantaran pengobatan pada tempat
absorpsinya.
Karakteristik basis yang menentukan selama produksi:
1 Kontraksi
Sedikit kontraksi pada saat pendinginan volume suppositoria diinginkan
untuk memudahkan pengeluaran dari cetakan.
2 Ke-inert-an (inertness)
Tidak boleh ada interaksi kimia antara basis dengan bahan aktif.
3 Pemadatan

7
Interval antara titik leleh dengan titik solidifikasi harus optimal: jika terlalu
pendek maka penuangan lelehan ke dalam cetakan akan sulit; jika terlalu
panjang, waktu pemadatan menjadi lama sehingga laju produksi suppositoria
menurun.
4 Viskositas
Jika viskositas tidak cukup, komponen terdispersi dari campuran akan
membentuk sedimen, mengganggu integritas dari produk akhir.
Karakteristik basis yang menentukan selama penyimpanan:

1 Ketidakmurnian (Impurity)
Kontaminasi bakteri / fungi harus diminimalisir dengan basis yang non-
nutritif dengan kandungan air minimal.
2 Pelunakan (softening)
Suppositoria harus diformulasi agar tidak melunak atau meleleh selama
transportasi atau penyimpanan.
3 Stabilitas
Bahan yang dipilih tidak teroksidasi saat terpapar udara, kelembapan atau
cahaya.
Karakteristik basis yang menentukan selama penggunaan:
1 Pelepasan
Pemilihan basis yang tepat memberikan penghantaran bahan aktif yang
optimal ke tempat target.
2 Toleransi
Suppositoria akhir toksisitasnya harus minimal, dan tidak menyebabkan
iritasi jaringan mukosa rektal yang sensitif.
Kriteria pemilihan basis berdasarkan karakteristik fisikokimianya:
1 Jarak lebur
Spesifikasi suhu lebur basis suppositoria (terutama basis lemak)
dinyatakan dalam jarak lebur daripada suatu titik lebur. Hal ini karena terdapat
suatu rentang suhu antara bentuk stabil dan tidak stabil, suatu hasil dari
polimorfisme bahan tersebut. Penambahan cairan ke dalam basis umumnya
cenderung menurunkan suhu leleh suppositoria, sehingga disarankan
penggunaan basis dengan suhu leleh lebih tinggi. Sedangkan, penambahan
sejumlah besar serbuk fine akan meningkatkan viskositas produk, sehingga
diperlukan basis dengan suhu leleh yang lebih rendah.
2 Bilangan iodin
Rancidifikasi (oksidasi) basis suppositoria dapat menjadi massalah. Karena
sensitivitas dari jaringan mukosa rektal, dan potensinya terpapar lelehan basis

8
suppositoria, maka antioksidan berpotensi mengiritasi tidak dianjurkan
digunakan dalam suppositoria. Untuk mencegah penggunaan antioksidan,
sebaiknya digunakan basis dengan bilangan iodin < 3 (dan lebih diutamakan <
1).
3 Indeks hidroksil
Bahan yang memiliki indeks hidroksil rendah juga memberikan stabilitas
yang lebih baik dalam kasus dimana zat aktif sensitif terhadap adanya radikal
hidroksil.
d Pemilihan bahan pembantu yang dapat meningkatkan homogenitas produk,
kelarutan, dll
Bahan pembantu digunakan untuk:
1 Meningkatkan penggabungan (inkorporasi) dari serbuk zat aktif
Peningkatan jumlah serbuk zat aktif dapat mengganggu integritas
suppositoria dengan menyebabkan peningkatan viskositas lelehan, sehingga
menghambat alirannya ke dalam cetakan. Ajuvan yang digunakan untuk
mengatasi hal ini yaitu: Mg karbonat, minyak netral (gliserida asam lemak jenuh
C-8 hingga C-12 dengan viskositas rendah) 10 % dari bobot suppositoria, dan air
(1 2 %).
2 Meningkatkan hidrofilisitas
Penambahan bahan peningkat hidrofilisitas digunakan untuk mempercepat
disolusi suppositoria di rektum, sehingga meningkatkan absorpsi, jika digunakan
dengan konsentrasi rendah. Tetapi, jika digunakan dalam konsentrasi besar,
bahan ini malah menurunkan absorpsi. Bahan peningkat hidrofilisitas juga dapat
menyebabkan iritasi lokal.
Contoh bahan ini yaitu:
Surfaktan anionik, misalnya: garam empedu, Ca oleat, setil stearil
alkohol plus 10 % Na alkil sulfat, Na dioktilsulfosuksinat, Na lauril sulfat
(1 %), Na stearat (1 %), dan trietanol amin stearat (3 5 %);
Surfaktan nonionik dan amfoterik, misalnya: ester asam lemak dari
sorbitan (Span & Arlacel), ester asam lemak dari sorbitan teretoksilasi
(Tween), ester dan eter teretoksilasi (polietilenglikol 400 miristat, Myrj,
eter polietilenglikol dari alkohol lemak), minyak natural termodifikasi
(Labrafil M2273, Cremophor EL, lesitin, kolesterol);
Gliserida parsial, misalnya: mono- dan digliserida mengandung asam
lemak tergliserolisasi (Atmul 84), mono- dan digliserida (gliserin

9
monostearat dan gliserin monooleat), monogliserida asam stearat dan
palmitat, mono- dan digliserida dari asam palmitat dan stearat.
3 Meningkatkan viskositas
Pengaturan viskositas dari lelehan suppositoria selama pendinginan
merupakan titik kritis untuk mencegah sedimentasi. Bahan yang digunakan
yaitu: asam lemak dan derivatnya (Al monostearat, gliseril monostearat, & asam
stearat), alkohol lemak (setil, miristat dan stearil alkohol), serbuk inert (bentonit
& silika koloidal).
4 Mengubah suhu leleh
Contoh bahan yang digunakan: asam lemak dan derivatnya (gliserol stearat
dan asam stearat), alkohol lemak (setil alkohol dan setil stearat alkohol),
hidrokarbon (parafin), dan malam (malam lebah, setil alkohol, dan malam
carnauba).
5 Meningkatkan kekuatan mekanis
Pecahnya suppositoria merupakan masalah yang ditemui saat digunakan
basis sintetik. Untuk mengatasinya dapat ditambahkan ajuvan seperti: polisorbat,
minyak jarak (castor oil), monogliserida asam lemak, gliserin, dan
propilenglikol.
6 Mengubah penampilan
Pewarna dapat digunakan untuk berbagai alasan seperti psikologis,
menjamin keseragaman (uniformitas) warna produk dari lot ke lot, untuk
membedakan produk, dan menyembunyikan kerusakan saat pembuatan seperti
eksudasi atau kristalisasi permukaan. Bahan hidrosolubel, liposolubel dan
insolubel serat tidak bersifat mengiritasi mukosa dapat digunakan untuk
mewarnai suppositoria.
7 Melindungi dari degradasi
Agen antifungi dan antimikroba digunakan jka suppositoria mengandung
bahan asal tanaman atau air. Digunakan asam sorbat atau garamnya jika pH
larutan zat aktif kurang dari 6. p hidroksibenzoat atau garam natriumnya juga
dapat digunakan. Tetapi, potensi bahan-bahan ini menyebabkan iritasi rektal
perlu dipertimbangkan.
Antioksidan seperti BHT, BHA, tokoferol dan asam askorbat digunakan
untuk mencegah ketengikan (rancidity) pada formulasi suppositoria yang
menggunakan lemak coklat (cocoa butter).

10
Sequestering agents seperti asam sitrat dan kombinasi antioksidan
digunakan untuk mengkompleks logam yang mengkatalisis reaksi redoks.
Contohnya: campuran tiga bagian BHT, BHA, dan propilgalat dengan satu
bagian asam sitrat memberikan hasil memuaskan pada penggunaan 0,01 %.
8 Mengubah absorpsi
Pada kasus di mana absorpsi obat di rektal amat terbatas, perlu
ditambahkan bahan untuk meningkatkan uptake obat tersebut. Sejumlah bahan
telah digunakan untuk meningkatkan bioavailabilitas dari zat aktif dalam
suppositoria. Sebagai contoh, penambahan enzim depolimerisasi
(mukopolisakarase) telah dipelajari untuk meningkatkan penetrasi beberapa zat
aktif.

III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Sediaan suppositoria adalah suatu sediaan semi solid yang diberikan secara rectal
maupun vaginal yang berbentuk seperti torpedo dengan efek terapi yaitu sistemik
ataupun local.
2. Dalam pemilihan basis sangat mempengaruhi pelepasan zat aktif dan efek sistemik
ataupun local yang diinginkan oleh formulator.
3. Suppositoria lebih efektif dibandingankan dengan sediaan lain (peoral)

11
DAFTAR PUSTAKA

Ansel. 2008.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI press

DepartemenKesehatanRI.1995.FarmakopeIndonesia.Edisi keempat. Departemen Kesehatan.


Jakarta.

12

Anda mungkin juga menyukai