Anda di halaman 1dari 3

PENGECATAN FLAGELLA

1. Tujuan
Untuk mengetahui ada atau tidaknya flagella dan letak flagella pada
bakteri.
2. Dasar teori
Flagella merupakan salah satu alat gerak bakteri. Flagella
mengakibatkan bakteri dapat bergerak, berputar. Penyusun flagella
adalah sub unit protein yang di sebut flagellin, yang mempunyai berat
molekul rendah. Berdasarkan jumlah dan letak flagella nya, bakteri di
bedakan menjadi monotorik, lapotrik, amfitrik, peritrik, dan atrik.
Flagella merupakan salah satu organel bakteri yang tidak dapat di
lihat dengan pewarnaan biasa. Untuk dapat melihat flagella harus
dengan pewarnaa khusus dan di lihat dengan menggunakan
mikroskop. Salah satu cara pewarnaan flagella adalah pewarnaan Gray
dan Leifson. Keberadaan flagella pada bakteri juga dapat di ketahui
dengan melihat efek atau akibat dari adanya flagella tersebut. Pada
pewarnaan flagella ada beberapa bakteri yang mampu bergerak
dengan menggunakan bulu cambuk/flagella. Flagella terdiri dari
protein dengan diameter 12-30 nanometer.
Pada pembuatan preparat tidak di perbolehkan menggunakan ose
dan tidak boleh di keringkan pada suhu yang tinggi karena dapat
merusak morfologi dan flagella (flagella dapat rontok). Flagella
memungkinkan bakteri untuk bergerak ke kondisi lingkungan yang
mengunungkan dan menghidari lingkungan yang merugikan bagi
kehidupannya.
3. Prinsip kerja
Prinsip pewarnaan flagella adalah membuat organel tersebut dapat
di lihat dengan cara melapisinya dengan larutan mordant dalam
jumlah yang cukup, ada dua metode pada pewarnaan flagella, yaitu
metode Gray dan dan metode Leifson. Metode gray di gunakan untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik dan mengena walaupun dalam
metode ini tidak di lakukan pencelupan khusus.
4. Alat dan bahan
Alat
a) Objek glass
b) Pipet tetes
c) Lampu Bunsen
d) Mikroskop
e) Tissue
f) Kertas lensa
g) Rak tabung
Bahan
I. Metode Gray
Larutan mordant/ pemantek
Larutan jenuh potassium alum/ KAI (SO4)2 (5 ml)
Asam Tonat 20% dalam air (2 ml)
Mercury Clorida jenuh dalam air (2 ml) campurkan
hingga homogeny
Laturan jenuh fuchsin dalam alcohol (0,4 ml)
Carbol fuchsin (ZNA)
Oil imersi
Kultur bakteri
II. Metode leifson
Larutan leifson A
Fuchsin 0,5 gram
Alcohol 95% 50 ml
Larutan leifson B
Tannic acid 1,5 gram
Sodium chloride 0,75 gram
Aquadest 100 ml
Oil imersi
Kultur bakteri
5. Cara kerja
Metode Gray
1) Siapkan objek glass yang bersih dan bebas lemak.
2) Di teteskan satu tetes kultur bakteri/suspensi bakteri pada
salah satu ujung objek glass, tegakkan pada rak sehingga terjadi
aliran ke bawah, biarkan kering di udara.
3) Di genangi dengan larutan mordant. Diamkan selama 5-10-15
menit.
4) Cat di buang di bilas dengan air mengalir.
5) Di genangi dengan carbol fuchsin (ZNA). Diamkan 5-10 menit.
6) Cat di buang, di bilas air mengalir. Biarka kering..
7) Di periksa di bawah mikroskop menggunakan obyektif 100X dan
oil imersi.
Metode Leifson
1) Di siapkan objek glass yang bersih dan bebas lemak.
2) Di teteskan satu tetes kultur bakteri/suspensi bakteri pada
salah satu ujung objek glass, tegakkan pada rak sehingga terjadi
aliran ke bawah. Biarkan kering di udara.
3) Di genangi dengan campuran cat A dan B, diamkan selama 5
menit, sampai terlihat warna kehijauan pada tetepi tetesan.
4) Cat di buang, di bilas dengan air mengalir. Keringkan.
5) Di lihat di bawah mikroskop menggunakan perbesaran 100X dan
oil imersi.

6. Interpretasi hasil
Metode Gray
Flagella : Berwarna merah
Badan bakteri : Berwarna merah
Metode Leifson
Flagella : Berwarna merah
Badan bakteri : Berwarna merah
7. Kesimpulan
Flagella adalah alat penggerak yang berupa bulu cambuk yang
dapat di warnai dengan larutan fungsi dalam tannin. Tannin sendiri
berfungsi memperbesar flagella dan memberikan kemungkinan untuk
di warnai, karena setelah di berikan Tannin fuchsin dinding flagella
akan mengendap.
Pada metode Gray dapat di simpulkan bahwa hasil yang di peroleh
yaitu flagella berwarna merah dan badan bakteri berwarna merah.
Begitu pula dengan metode Leifson di peroleh hasil flagella berwarna
merah dan badan bakteri berwarna merah.