Anda di halaman 1dari 6

Anak-anak

Beberapa Jenis Kekerasan Pada Anak Dalam Keluarga

Ada beberapa situasi yang menyulitkan orang tua dalam menghadapi anak sehingga tanpa disadari
mengatakan atau melakukan sesuatu yang tanpa disadari dapat membahayakan atau melukai anak,
biasanya tanpa alasan yang jelas. Kejadian seperti inilah yang disebut penganiayaan terhadap anak.
Dalam beberapa laporan penelitian, penganiayaan terhadap anak dapat meliputi: penyiksaan fisik,
penyiksaan emosi, pelecehan seksual, dan pengabaian.

Faktor-faktor yang mendukung terjadinya penganiayaan terhadap anak antara lain


immaturitas/ketidakmatangan orang tua, kurangnya pengetahuan bagaimana menjadi orang tua,
harapan yang tidak realistis terhadap kemampuan dan perilaku anak, pengalaman negatif masa kecil
dari orang tua, isolasi sosial, problem rumah tangga, serta problem obat-obat terlarang dan alkohol.
Ada juga orang tua yang tidak menyukai peran sebagai orang tua sehingga terlibat pertentangan
dengan pasangan dan tanpa menyadari bayi/anak menjadi sasaran amarah dan kebencian.

Penyiksaan fisik

Segala bentuk penyiksaan fisik terjadi ketika orang tua frustrasi atau marah, kemudian melakukan
tindakan-tindakan agresif secara fisik, dapat berupa cubitan, pukulan, tendangan, menyulut dengan
rokok, membakar, dan tindakan - tindakan lain yang dapat membahayakan anak. Sangat sulit
dibayangkan bagaimana orang tua dapat melukai anaknya. Sering kali penyiksaan fisik adalah hasil
dari hukuman fisik yang bertujuan menegakkan disiplin, yang tidak sesuai dengan usia anak.
Banyak orang tua ingin menjadi orang tua yang baik, tapi lepas kendali dalam mengatasi perilaku
sang anak.

Efek dari penyiksaan fisik

Penyiksaan yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera
serius terhadap anak, dan meninggalkan bekas baik fisik maupun psikis, anak menjadi menarik diri,
merasa tidak aman, sukar mengembangkan trust kepada orang lain, perilaku merusak, dll. Dan bila
kejadian berulang ini terjadi maka proses recoverynya membutuhkan waktu yang lebih lama pula.

Penyiksaan emosi

Penyiksaan emosi adalah semua tindakan merendahkan atau meremehkan orang lain. Jika hal ini
menjadi pola perilaku maka akan mengganggu proses perkembangan anak selanjutnya. Hal ini
dikarenakan konsep diri anak terganggu, selanjutnya anak merasa tidak berharga untuk dicintai dan
dikasihi. Anak yang terus menerus dipermalukan, dihina, diancam atau ditolak akan menimbulkan
penderitaan yang tidak kalah hebatnya dari penderitaan fisik.

Bayi yang menderita deprivasi (kekurangan) kebutuhan dasar emosional, meskipun secara fisik
terpelihara dengan baik, biasanya tidak bisa bertahan hidup. Deprivasi emosional tahap awal akan
menjadikan bayi tumbuh dalam kecemasan dan rasa tidak aman, dimana bayi lambat
perkembangannya, atau akhirnya mempunyai rasa percaya diri yang rendah.
Jenis-jenis penyiksaan emosi adalah:

Penolakan
Orang tua mengatakan kepada anak bahwa dia tidak diinginkan, mengusir anak, atau memanggil
anak dengan sebutan yang kurang menyenangkan. Kadang anak menjadi kambing hitam segala
problem yang ada dalam keluarga.
Tidak diperhatikan
Orang tua yang mempunyai masalah emosional biasanya tidak dapat merespon kebutuhan anak-
anak mereka. Orang tua jenis ini mengalami problem kelekatan dengan anak. Mereka menunjukkan
sikap tidak tertarik pada anak, sukar memberi kasih sayang, atau bahkan tidak menyadari akan
kehadiran anaknya. Banyak orang tua yang secara fisik selalu ada disamping anak, tetapi secara
emosi sama sekali tidak memenuhi kebutuhan emosional anak.
Ancaman
Orang tua mengkritik, menghukum atau bahkan mengancam anak. Dalam jangka panjang keadaan
ini mengakibatkan anak terlambat perkembangannya, atau bahkan terancam kematian.
Isolasi
Bentuknya dapat berupa orang tua tidak mengijinkan anak mengikuti kegiatan bersama teman
sebayanya, atau bayi dibiarkan dalam kamarnya sehingga kurang mendapat stimulasi dari
lingkungan, anak dikurung atau dilarang makan sesuatu sampai waktu tertentu.
Pembiaran
Membiarkan anak terlibat penyalahgunaan obat dan alkohol, berlaku kejam terhadap binatang,
melihat tayangan porno, atau terlibat dalam tindak kejahatan seperti mencuri, berjudi, berbohong,
dan sebagainya. Untuk anak yang lebih kecil, membiarkannya menonton adegan-adegan kekerasan
dan tidak masuk akal di televisi termasuk juga dalam kategori penyiksaan emosi.

Efek dari penyiksaan emosi

Penyiksaan emosi sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata
seperti penyiksaan fisik. Dengan begitu, usaha untuk menghentikannya juga tidak mudah. Jenis
penyiksaan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa
bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak
seperti tiba-tiba membakar barang atau bertindak kejam terhadap binatang, beberapa melakukan
agresi, menarik diri, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.

Pelecehan seksual

Sampai saat ini tidaklah mudah membicarakan hal ini, atau untuk menyadarkan masyarakat bahwa
pelecehan seksual pada setiap usia termasuk bayi - mempunyai angka yang sangat tinggi. Bahkan
Hopper (2004) mengemukakan bahwa hal ini terjadi setiap hari di Amerika Serikat.

Pelecehan seksual pada anak adalah kondisi dimana anak terlibat dalam aktivitas seksual dimana
anak sama sekali tidak menyadari, dan tidak mampu mengkomunikasikannya, atau bahkan tidak
tahu arti tindakan yang diterimanya.
Semua tindakan yang melibatkan anak dalam kesenangan seksual masuk dalam kategori ini:
Pelecehan seksual tanpa sentuhan. Termasuk di dalamnya jika anak melihat pornografi, atau
exhibitionisme, dsb.
Pelecehan seksual dengan sentuhan. Semua tindakan anak menyentuh organ seksual orang
dewasa termasuk dalam kategori ini. Atau adanya penetrasi ke dalam vagina atau anak dengan
benda apapun yang tidak mempunyai tujuan medis.
Eksploitasi seksual. Meliputi semua tindakan yang menyebabkan anak masuk dalam tujuan
prostitusi, atau menggunakan anak sebagai model foto atau film porno.

Ada beberapa indikasi yang patut kita perhatikan berkaitan dengan pelecehan seksual yang mungkin
menimpa anak seperti keluhan sakit atau gatal pada vagina anak, kesulitan duduk atau berjalan, atau
menunjukkan gejala kelainan seksual.

Efek pelecehan seksual

Banyak sekali pengaruh buruk yang ditimbulkan dari pelecehan seksual. Pada anak yang masih
kecil dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola
tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah
kulit, dll. Pada remaja, mungkin secara tidak diduga menyulut api, mencuri, melarikan diri dari
rumah, mandi terus menerus, menarik diri dan menjadi pasif, menjadi agresif dengan teman
kelompoknya, prestasi belajar menurun, terlibat kejahatan, penyalahgunaan obat atau alkohol, dsb.

Pengabaian anak

Pengabaian terhadap anak termasuk penyiksaan secara pasif, yaitu segala ketiadaan perhatian yang
memadai, baik fisik, emosi maupun sosial. Pengabaian anak banyak dilaporkan sebagai kasus
terbesar dalam kasus penganiayaan terhadap anak dalam keluarga.

Jenis-jenis pengabaian anak:

Pengabaian fisik merupakan kasus terbanyak. Misalnya keterlambatan mencari bantuan


medis, pengawasan yang kurang memadai, serta tidak tersedianya kebutuhan akan rasa aman
dalam keluarga.
Pengabaian pendidikan terjadi ketika anak seakan-akan mendapat pendidikan yang sesuai
padahal anak tidak dapat berprestasi secara optimal. Lama kelamaan hal ini dapat mengakibatkan
prestasi sekolah yang semakin menurun.
Pengabaian secara emosi dapat terjadi misalnya ketika orang tua tidak menyadari kehadiran
anak ketika ribut dengan pasangannya. Atau orang tua memberikan perlakuan dan kasih sayang
yang berbeda diantara anakanaknya.
Pengabaian fasilitas medis. Hal ini terjadi ketika orang tua gagal menyediakan layanan
medis untuk anak meskipun secara finansial memadai. Dalam beberapa kasus orang tua memberi
pengobatan tradisional terlebih dahulu, jika belum sembuh barulah kembali ke layanan dokter.

Efek pengabaian anak

Pengaruh yang paling terlihat adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap
anak. Bayi yang dipisahkan dari orang tuanya dan tidak memperoleh pengganti pengasuh yang
memadai, akan mengembangkan perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab
(Hurlock, 1990), dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan
datang.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi besar/kecil dampak yang diderita anak

Disamping segala bentuk penganiayaan yang dialami anak sebagaimana yang tercantum diatas, ada
beberapa hal yang mempunyai andil dalam besar / kecilnya dampak yang diderita anak, antara lain:

Faktor usia anak. Semakin muda usia anak maka akan menimbulkan akibat yang lebih fatal.
Siapa yang terlibat. Jika yang melakukan penganiayaan adalah orang tua, ayah atau ibu tiri,
atau anggota keluarga maka dampaknya akan lebih parah daripada yang melakukannya orang
yang tidak dikenal.
Seberapa parah. Semakin sering dan semakin buruk perlakuan yang diterima anak akan
memperburuk kondisi anak.
Berapa lama terjadi. Semakin lama kejadian berlangsung akan semakin meninggalkan
trauma yang membekas pada diri anak.
Jika anak mengungkapkan penganiayaan yang dialaminya, dan menerima dukungan dari
orang lain atau anggota keluarga yang dapat mencintai, mengasihi dan memperhatikannya maka
kejadiannya tidak menjadi lebih parah sebagaimana jika anak justru tidak dipercaya atau
disalahkan.
Tingkatan sosial ekonomi. Anak pada keluarga dengan status sosial ekonomi rendah
cenderung lebih merasakan dampak negatif dari penganiayaan anak.

Dalam beberapa kasus anak-anak yang mengalami penganiayaan tidak menunjukkan gejala-gejala
seperti diatas. Banyak faktor lain yang berpengaruh seperti seberapa kuat status mental anak,
kemampuan anak mengatasi masalah dan penyesuaian diri. Ada kemungkinan anak tidak mau
menceritakannya karena takut diancam, atau bahkan dia mencintai orang yang melakukan
penganiyaan tersebut. Dalam hal ini anak biasanya menghindari adanya tindakan hukum yang akan
menimpa orang-orang yang dicintainya, seperti orang tua, anggota keluarga atau pengasuh.
Kekerasan; Definisi dan Macam-Macamnya
Oleh: Innu Virgiani Agustya
Definisi Kekerasan

Menurut Salim dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) istilah kekerasan berasal dari kata
keras yang berarti kuat, padat dan tidak mudah hancur, sedangkan bila diberi imbuhan ke maka
akan menjadi kata kekerasan yang berarti: (1) perihal/sifat keras, (2) paksaan, dan (3) suatu
perbuatan yang menimbulkankerusakan fisik atau non fisik/psikis pada orang lain.

Menurut UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, nomor 23 tahun 2004 pasal 1 ayat (1),
kekerasan adalah perbuatan terhadap seseorang yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan,pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam
lingkungan rumah tangga.

Menurut KUHP pasal 89, kekerasan adalah mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang
tidak kecil atau sekuat mungkin secara tidak sah sehingga orang yang terkena tindakan itu
merasakan sakit yang sangat.

Definisi Kekerasan terhadap anak


Segala bentuk perbuatan atau tindakan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, seksual, psikis/mental/emosional dan penelantaran termasuk pemaksaan
dan merendahkan martabat (Komnas PA, 2005; Komnas PA 2008)

Macam-macam Kekerasan

Pengabaian/ Kekerasan Psikis


Orang tua yang seharusnya bertanggung jawab terhadap anak, gagal menyediakan kebutuhan emosi
anak secara tepat. Kebutuhan emosi anak misalnya sentuhan, cinta dan pengasuhan.

contoh:
meninggalkan anak sehari-hari dengan pengasuh tanpa pengawasan
memberikan time out tidak mengenal batas usia
meninggalkan/membiarkan anak bermain sendiri dalam waktu yang cukup lama bagi anak
tidak memperhatikan kebutuhan bermain anak sesuai perkembangan usia
memaksa anak belajar tanpa memperhatikan kemampuan kognitifnya
mengatur 'ini itu' untuk anak tanpa mempedulikan keinginannya sendiri, dll

Kekerasan fisikPerlakukan kasar orang tua secara fisik terhadap anak, seperti mencubit,
menendang, memukul atau mengguncang. Kekerasan fisik seringkali tidak memiliki batas yang
jelas antara menyiksa dan mendisiplinkan. Fetal alcohol syndrome, atau konsumsi alkohol
berlebihan, merokok, dll saat hamil hingga mengakibatkan bayi lahir cacat, digolongkan sebagai
kekerasan fisik terhadap anak.
contoh: menghukum "kenakalan" anak seperti menuang sabun di kamar mandi, tidak mau makan,
mengotori jemuran dan menganggu adik dengan memukul. Kalau nakalnya di kamar mandi,
dipukul dengan gayung. Kalau tidak mau makan, dipukul dengan sendok atau piring. Kalau
menggangu adik, dipukul dengan mainan, dll.

Kekerasan Emosi/Verbal.

Kekerasan yang ditujukan untuk mengendalikan secara verbal dengan cara menakut-nakuti,
mengancam, menumbuhkan rasa bersalah, menghina/mencemooh, memaksa dan lain
sebagainya.contoh:
menakut-nakuti: Jangan main di kamar mandi, nanti digigit kecoa. Jangan keluar rumah sendirian,
nanti diculik nenek grandong.

membodohkan anak: Aduh, dasar bego! Sudah ratusan kali ibu bilang, taruh mainan di tempat
semula! Bikin ibu darah tinggi.

melabel negatif: mengatakan anak pemalas, pelupa, jorok, dll.

motivasi yang salah: Memangnya kamu bisa? Ini nggak bisa, itu nggak bisa! Paling pintar nangis.

dll

Kekerasan seksual.

Kekerasan secara seksual yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak. Antara lain menyentuh
bagian tubuh anak, anak disuruh memegang alat kelamin hingga pemaksaan hubungan
seksual.contoh: anak dipaksa melakukan hubungan seksual dengan tukang kebun rumah anak
diajarkan memegang alat kelamin paman, dll