Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
1. Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di laboratorium
Pengertian K3 adalah suatu ilmu pengetahuan dan

penerapanya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya

kecelakaan dan penyakit akibat kerja.1


Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) merupakan instrument

yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan

masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Adapun

tujuan utama K3 antara lain:


a. Melindungi pekerja atas hak keselamatan dalam melakukan

pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan

produksi serta produktifitas nasional.


b. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di

tempat kerja
c. Memperoleh derajad kesehatan yang setinggi-tingginya, baik

fisik, mental maupun social dengan usaha-usaha preventif

maupun kuratif terhadap penyakit atau gangguan gangguan

kesehatan yang di akibatkan factor factor pekerjaan dan

tempat kerja serta terhadap penyakit penyakit umum


d. Sumber produksi di pelihara dan di pergunakan secara aman

dan efisien
e. Pencegah pemberantasan penyakit penyakit akibat kerja
f. Pemeliharaan dan peningkatan efisiensi, daya produktifitas

dan kesehatan tenaga kerja.1


2. Alat Pelindung Diri (APD)
A. Dasar Hukum
1) Undang- undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan

telah menamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus

5
6

melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi

gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan

lingkungan sekitarnya.
2) Permenakertrans No.Per.01/MEN/1981 Pasal 4 yat (3)

menyebutkan kewajiban pengurus menyediakan alat

pelindung diri dan wajib bagi tenaga kerja untuk

menggunakannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja.


3) Permenakertrans No.Per.03/MEN/1982 Pasal 2 butir I

menyebutkan memberikan nasehat mengenai perencanaan

dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung diri

yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan

ditempat kerja

Laboratorium menggunakan bahan kimia dengan bermacam

sifat bahaya, maka sebaiknya laboratorium mempunyai peralatan

keselamatan standar berikut:

TABEL 2.1
DAFTAR ALAT PELINDUNG DIRI

Jas Laboratorium Alat pemadam kebakaran

Sarung tangan Sarung tangan tahan api

Pelindung mata dan muka Tangga

Alat/krapen cuci mata Karet penghisap


Alat pernafasan (respirator
Tanda peringatan keselamatan
masker)

3. Pengertian APD
7

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan peralatan pelindung

yang dignakan oleh seorang pekerja untuk melindungi dirinya

dari kontaminasi lingkungan. APD dalam bahas Inggris dikenal

dengan sebutan Personal Protective Equipment (PPE). Dengan

melihat kata personal pada kata PPE tersebut, maka setiap

peralatan yang digunakan harus mampu memperoteksi si

pemakaiannya. APD dapat berkisar dari yang sederhana hingga

relatif lengkap, APD merupakan solusi pencegahan yang paling

mendasar dari segala macam kontaminasi dan bahaya akibat

bahan kimia. Jadi, tunggu apa lagi. Gunakanlah APD sebelum

bekerja dengan bahan kimia.1

4. Jenis-jenis APD
a. Perlindungan Mata Dan Wajah
Proteksi mata dan wajah merupakan persyaratan yang mutla

kyang harus dikenakan oleh pemakai dikala bekerja dengan

bahan kimia. Hal ini dimaksud untuk melindungi mata dan

wajah dari kecelakaan sebagai akibat dari tumpahan bahan

kimia uap kimia, dan radiasi. Secara umum perlindungan

mata terdiri dari Kacamata pelindung, Goggle, Pelindung

wajah, Pelindung mata special (goggle yang menyatu dengan

masker khusus untuk melindungi mata dan wajah dari radiasi

dan bahaya laser). 3


b. Perlindungan Badan
Baju yang dikenakan selama bekerja di laboratorium

merupakan suatu perlengkapan yang wajib dikenakan

sebelum memasuki laboratorium. Jas laboratorium dikenal


8

oleh masyarakat pengguna bahan kimia ini terbuat dari katun

dan bahan sintetik. Hal yang perlu diperhatikan ketika

menggunakan jas laboratorium yaitu kancing jas

laboratorium tidak boleh dikenakan dalam kondisi tidak

terpasang dan ukuran dari jas laboratorium pas dengan

ukuran badan pemakainya. Jas laboratorium merupakan

pelindung badan dari tumpahan bahan kimia dan api sebelum

mengenai kulit pemakainya. Jika jas laboratorium

terkontaminasi oleh tumpahan bahan kimia, lepaslah jas

secepatnya. Selain jas laboratorium, perlindungan badan

lainnya adalah Apron dan suits. Apron digunakan untuk

memproteksi diri dari cairan yang bersifat korosif dan

mengiritasi, yang berbentuk seperti celemek terbuat dari

karet atau plastik.Untuk apron yang terbuat dari plastik,

bahwa tidak dikenakan pada area larutan yang mudah

terbakar dan bahan-bahan kimia yang dapat terbakar yang

dipicu oleh elektrik statis, karena apron jenis ini dapat

mengakumulasi loncatan listrik statis. Jumpsuits atau dikenal

dengan sebutan baju parasut ini direkomendasikan untuk

dipakai pada kondisi beresiko tinggi Bahan dari peralatan

perlindungan badan ini haruslah mampu memberi

perlindungan kepada pekeria laboratorium dari percikan

bahan kimia, panas, dingin, uap lembab, dan radiasi. tangan

Padded cloth Melindungi tangan dari ujung yang tajam


9

pecahan Nelasi kotoran dan vibrasi, sarung tangan Heat

resistant Mencegah terkena panas dan api, Sarung tangan

karet Melindungi saat bekerja disekitar arus listrik karena

karet merupakan isolator (bukan Penghantar listrik), sanang

tangan Latex disposable Melindungi tangan dari Germ dan

bakteri, sarung tangan ini hanya untuk sekali pakai sarung

tangan lead lined Digunakan untuk melindungi tangan Dari

sumber radiasi.3

Gambar 1.1. Jas Laboratorium

Sumber: Data logistik Sarana Medika Semarang

c. Perlindungan Pernafasan
Kontaminasi bahan kimia yang paling sering masuk ke dalam

tubuh manusia adalah lewat pernafasan. Banyak sekali

partikel-partikel udara, debu, uap dan gas yang dapat

membahayakan pernafasan. Laboratorium merupakan salah

satu tempat kerja dengan bahan kimia yang memberikan efek

kontaminasi tersebut Oleh karena itu, para pekerianya harus

memakai perlindungan pernafasan, atau yang lebih dikenal

dengan sebutan masker, yang sesuai. Pemilihan masker yang


10

sesuai didasarkan pada jenis kontaminasi, kosentrasi, dan

batas paparan. Beberapa jenis perlindungan pernafasan

dilengkapi dengan filter pernafasan yang berfungsi untuk

menyaring udara yang masuk. Filter masker tersebut

memiliki masa pakai. Apabila tidak dapat menyaring udara

yang terkontaminasi lagi, maka filter tersebut harus diganti. 3

Gambar 1.2. Masker

Sumber: Data logistik Sarana Medika Semarang

d. Handscoon
Handscoon merupakan sarung tangan yang biasa dipakai oleh

tenaga medis. Tujuan penggunaan handscoon adalah untuk

mencegah terjadinya infeksi silang serta mencegah terjadinya

penularan penyakit.
Gambar 1.3. Handscoon

Sumber: Data logistik Sarana Medika Semarang

5. Masalah Umum APD(Alat Pelindung Diri)


11

a. Tidak semua APD melalui pengujian labotoris sehingga tidak

diketahui derajat perlindungannya


b. Tidak nyaman dan kadang-kadang membuat si pemakai sulit

bekerja
c. APD dapat menciptakan bahaya baru
d. Perlindungan yang diberikan APD sulit untuk dimonitor
e. Kewajiban pemeliharaan APD dialihkan dari pihak

manajemen kepekerja
f. Efekctivitas APD sering tergantung Good fit pada pekerja
g. Kepercayaan pada APD akan menghambat pengembangan

control teknologi yang baru. 4


6. Masalah Pemakaian APD (Alat Pelindung Diri)
a. Pekeria tidak mau memakai dengan alasan:
Tidak sadar/tidak menerti
Panas
Sesak
Tidak enak dipakai
Tidak enak dipandang
Berat
Mengganggu pekerjaan
Tidak sesuai dengan bahaya yang ada
Tidak ada sangsi
Atasan juga tidak memakai

b. Tidak disediakan oleh perusahaan

Ketidak mengertian
Pura-pura tidak mengerti
Alasan bahaya
Dianggap sia-sia
b. Pengadaan oleh perusahaan
Tidak sesuai dengan bahaya yang ada
Asal beli (terutama memilih yang murah)
Beberapa Contoh Masalah APD antara lain:
a. Respirator
Penutup muka yang buruk
Sumbatan kerusakan/cacat pada filter
Pemeliharaan yang tidak baik
Tali pengikat longgar lepas
Tidak nyaman
12

Psikologis dan kecemasan


Meningkatkan beban kerja pada jantung dan hati
Menghirup kembali udara yang dihembuskan
Kesulitan komunikasi
b. Alat Pelindung Telinga
Resiko infeksi
Kesulitan komunikasi
Merasa terisolasi
Sakit kepala karena jepitan terlalu kuat
Tidak nyaman
Menguranggi kemampuan menduga jarak
Iritasi kulit
c. Sarung Tangan
Mungin dapat menangkap bahan kimia
Mengurangi kepekaan tangan dan jari
Kebocoran dari lubang yang tidak diketahui
Mungkin menyebabkan dermatitis (keringat yang berlebihan)
Bahan kimia tertentu
d. Alat Pelindung Mata
Dapat membatasi pandangan
Timbul kabut, noda dan goresan kecil
Tidak dapat melihat serusakan secara visual
Beberapa kaca mata pengaman memungkinkan benda masuk

dari samping. 4
7. Risiko Pemakaian APD Penyebab Penyakit Akibat Kerja di

Laboratorium Kesehatan

Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan

tidak diharapkan. Kecelakaan menyebabkan kerugian material dan

penderitaan dari yang paling ringan sampai pada yang paling berat.

Untuk menghindari risiko dari kecelakaan dan terinfeksinya petugas

laboratorium khususnya pada laboratorium kesehatan sebaiknya

dilakukan tindakan pencegahan seperti pemakaian APD, apabila

petugas laboratorium tidak menggunakan alat pengaman, akan


13

semakin besar kemungkinan petugas laboratorium terinfeksi bahan

berbahaya, khususnya berbagai jenis vinus. 4

Faktor lingkungan kerja sangat berpengaruh dan berperan

sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja. Sebagai contoh

antara lain debu silika dan Silikosis, uap timah dan keracunan timah.

Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan factor manusia

juga (WHO), salah satunya pekerja tidak menggunakan APD.

Penyakit Akibat Hubungan Kerja adalah penyakit dengan penyebab

multifaktorial, dengan kemungkinan besar berhubungan dengan

pekerjaan dan kondisi tempat kerja. Pajanan di tempat kerja tersebut

memperberat, mempercepat terjadinya serta menyebabkan

kekambuhan penyakit. Penyakit akibat kerja di laboratorium

kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor-faktor yaitu.

a. Faktor Biologis
Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan terutama kuman kuman

pyogenie,colli, bacilli dan staphylococci yang bersumber dari pasien,

benda-benda yang terkontaminasi dan udara. Virus yang menyebar

melalui kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV dan Hep. B)

dapat menginfeksi pekerja hanya akibat kecelakaan kecil

dipekerjakan, misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang

terkontaminasi virus Angka kejadian infeksi nosokomial di unit

Pelayanan Kesehatan cukup tinggi. Sebagai contoh dokter di RS

mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari


14

pada dokter yang praktek pribadi atau swasta, dan bagi petugas

Kebersihan menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak

dengan bahan yang tercemar kuman patogen. Debu beracun

mempunyai peluang terkena infeksi. 5


b. Faktor Kimia
Petugas di laboratorium kesehatan yang sering kali kontak dengan

bahan kimia dan obat-obatan seperti antibiotika, dengan solvent

yang digunakan dalam komponen antiseptik. desinfektan dikenal

sebagai zat yang paling karsinogen. Semua bahan cepat atau lambat

ini dapat member dampak negative terhadap kesehatan mereka.

Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis kontak

akibat keria yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak,

dioksan) dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton). Bahan

toksik (trichloroethane, tetrachloromethane) jika tertelan, terhirup

atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau

kronik, bahkan kematian. Bahan korosif (asam dan basa) akan

mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible pada daerah

yang terpapar. 5
c. Faktor Ergonomi
Ergonomi sebagai ilmu, teknologi dan seni berupaya menyerasikan

alat, cara, proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan,

kebolehan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan

lingkungan keria yang sehat, aman, nyaman dan tercapai efisiensi

yang setinggi-tingginya. Pendekatan ergonomi bersifat konseptual

dan kuratif, sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan

Kesehatan pemerintah, bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis,


15

misalnya tenaga operator peralatan. hal ini disebabkan peralatan

yang digunakan pada umumnya barang impor yang disainnya tidak

sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. Posisi kerja yang salah dan

dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi

kurang efisien dan dalam jangka panjang dapat menyebakan

gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan keluhan yang paling

sering adalah nyeri pinggang kerja. 5


d. Faktor Fisik
Faktor fisik di laboratorium kesehatan yang dapat menimbulkan

masalah kesehatan keria meliputi:


a. Kebisingan, getaran akibat mesin dapat menyebabkan stress

dan ketulian
b. Pencahayaan yang kurang di ruang kamar pemeriksaan,

laboratorium, ruang perawatan dan kantor administrasi dapat

menyebabkan gangguan penglihatan dan kecelakaan kerja.


c. Suhu dan kelembaban yang tinggi di tempat kerja
d. Terimbas kecelakaan/kebakaran akibat lingkungan sekitar,
e. Terkena radiasi Khusus untuk radiasi. dengan

berkembangnya teknologi pemeriksaan,


f. penggunaannya meningkat sangat tajam dan jika tidak

dikontrol dapat membahayakan petugas yang menangani. 5


e. Faktor Psikososial
Beberapa contoh faktor psikososial di laboratorium kesehatan yang

dapat menyebabkan stress


a. Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan

menyangkut hidup mati seseorang. Untuk itu pekerja

dilaboratorium kesehatan di tuntut untuk memberikan

pelayanan yang tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan

dan keramahan-tamahan
b. Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton.
16

c. Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan

bawahan atau sesama teman kerja.


d. Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra keria di

sector formal ataupun informal. 5

8. Beberapa alasan Tidak menggunakan APD

Sudah tidak asing apabila menghadapi kondisi para pekerja

yang tidak melengkapi dirinya dengan APD saat bekeria. Tapi

keselamatan kerja tidak alasan sesaat. mempuyai untuk

dilupakan walau Berikut ini adalah hasil wawancara Safety

News Alert dengan 290 orang safety officer mengenai cara

mereka mengatasi berbagai alasan pekerja yang tidak memakai

APD saat bekerja:

a. Ini tidak cocok tidak nyaman (alasan 30% pekerja)


Solusi: Biarkan pekeria memilih APD yang cocok. selalu

tanyakan apakah ada masalah dengan ukuran atau kenyamanan

APD yang mereka gunakan, dan lakukan uji coba ukuran dan

kenyamanan APD terhadap pekerja sebelum melakukan

pengadaan APD.3
b. Tidak tahu kalau sekarang harus memakai APD % alasan

pekerja).
Solusi: selalu buat pernyataan dengan tanda tangan pekeria

bahwa mereka sudah menerima dan paham terhadap materi

training APD dan lakuan tindakan disiplin yang tegas oleh

supervisor terhadap pekerja yang tidak memakai APD saat

bekerja di lapangan. 3
17

c. Tidak punya waktu untuk memakai APD/ Memakai APD

menghabiskan waktu saya (18% alasan pekerja)


Solusi komunikasikan dengan pekerja tersebut mengenai alasan

mereka lebih dalam lagi, komunikasikan alasan ini dengan

supervisor produksi agar dapat bersinergi antara K3 dengan

watu produksi, pastikan pekeria tersebut sudah mendapatkan

training mengenai APD, dan masukan keharusan memakai APD

kedalam aturan disiplin waktu saat produksi. 3


d.
Tidak akan celaka Solusi: undang pembicara dari korban

kecelakaan keja, dan biarkan ia bercerita tentang bagaimana

kecelakaan kerja ini sangat berdampak pada kehidupan

pribadinya. dan simulasikan pada pekerja untuk mengikat tali

sepatu mereka dengan satu tangan sebagai ilustrasi jika mereka

kehilangan satu tangan akibat kecelakaan kerja. 3


9. Tindakan Pencegahan
a. Tindakan Pencegahan Secara Umum
Sebagian besar laboratorium klinik membutuhkan

penanganan darah dan cairan tubuh. The CDC dan The

National Committee for clinical Laboratory Standards

(NCCLS) telah mengembangkan system untuk perlindungan

pekerja secara umum yang disebut Pencegahan secara umum

Universal Precaution UP). Pengendalian perancangan,

pengendalian praktek keria dan penggunaan alat pelindung

diri pada pekeria laboratorium dari potensi paparan agen

infeksius dalam darah. Perhatian agen yang primer adalah

Hepatitis dan HIV. HBv (Hepatitis B Virus) merupakan virus

DNA yang menyebabkan sekitar 12.000 infeksi pada pekerja


18

pelayanan kesehatan per tahun. Selama Hepatitis B akut,

kadar virus dalam darah dan cairan tubuh sangat tinggi

mencapai 108109 infeksi unit/ml. Satu persen atau lebih

pasien yang dirawat akan menjadi kronik dan pembawa

virus. Virus dapat bertahan pada permukaan yang kering.

Beberapa prosedur yang ditunjukkan oleh EPA sebagai

sterilisasi atau desinfektan tingkat tinggi dapat

menginaktifkan HBv. Virus inaktif dalam permukaan kering

dalam waktu yang lama. Beberapa desinfektan yang mampu

menginaktivasikan HBv akan efektif melawan HIV, karena

agen yang belakangan lebih peka sampai tindakan. Agen lain

yang dapat ditularkan melalui specimen darah termasuk

malaria, sifilis, babesiosis, brucellosis, leptospirosis, infeksi

arbovirus, creutzfeld-Jacob disease,T-limfositik virus pada

manusia tipe I,virus demam berdarah, dan cytomegalo virus. 3

Konsep pencegahan secara umum diterapkan pada

seluruh darah dan jaringan manusia. Termasuk cairan serous

seperti cairan pleura. peritoneal, perikardial, amnion,

serebrospinal dan sendi. Semen dan secret vagina

mempunyai bahaya yang sama. Seluruh spesimen klinik lain

(seperti sputum, feses, keringat, urin, airmata, isi lambung

dan saliva) kurang diperhatikan. UP diterapkan hanya jika

substansi terdiri dari darah yang terlihat. Elemen dari

keselamatan secara umum laboratorium yang baik adalah


19

bagian dari UP. Pekerja harus menggunakan pelindung yang

baik ketika menangani spesimen klinik. Sarung tangan latex

atau vinyl digunakan dan diganti secara periodik. Pakaian

yang tahan air, celemek atau baju luar dan pelindung wajah

sebaiknya dipakai saat ada kemungkinan terpercik dan

tercelup. Sering cuci tangan terutama saat sarung tangan

dicopot adalah hal yang mendasar yang harus dilakukan.

Semua spesimen darah dan cairan tubuh seharusnya

dikumpulkan dan dikirim dengan wadah yang terhindar dari

kebocoran, wadah yang mempunyai potensi terkontaminasi

dari luar harus dikirim dengan wadah kedua anti bocor

seperti kantong plastik. Pekerja harus hati dengan

permukaan, wadah, permintaan dan pelaporan yang

terkontaminasi. Pengecatan darah yang tampak dan tumpah

sesegera mungkin didekontaminasi atau ditutupi. 3

Permukaan untuk bekerja harus didekontaminasi

setiap pergantian. Juga teknik untuk menghindarkan bentuk

percikan atau droplet merupakan bagian yang terus menerus

dilakukan pada pelatihan tenaga keria baru dan program

pendidikan yang terus menerus. Semua pekerjaan pipetasi

harus menggunakan alat. Label peringatan bahaya biologi

harus ditempelkan pada semua wadah yang berisi zat

kontaminan. Limbah infeksius harus dikemas dan

dihancurkan dengan baik. Semua yang tajam harus ditangani


20

secara hati-hati dan dibuang pada tempat yang tahan terhadap

tusukan. Pemilihan teknologi untuk alternatif mengurangi

bahaya seperti menghindari penggunaan barang yang tajam

atau penggantian metode manual ke automatis, juga bagian

dari kewaspaan umum. Wadah dengan bagian luar

terkontaminasi harus ditempatkan pada kantong plastik saat

dikirim ke laboratorium. Potong beku dari jaringan yang

tidak padat harus hati-hati. Sebagian agen infeksius tidak

inaktif pada pembekuan. Pembekuan jaringan harus

dilakukan dengan hati-hati. Dilarang menyemprot jaringan

dengan gas pembeku dengan tekanan karena bahan yang

infeksius akan memercik. 3

b. Tindakan Pencegahan secara khusus

Pencegahan khusus diterapkan pada penanganan jaringan

dari pasien creutzfeld-Jacob disease, Kuman tahan terhadap

formalin dan bahan fiksasi lain, alkohol, dan panas diatas 100 co,

Dibutuhkan pemberlakuan kewaspadaan umum secara tegas.

5,25% larutan sodium hipoklorit atau 1 N sodium hidroksi sangat

efektif menginaktifkan agen pada permukaan. Pembuangan

cairan atau alat yang terkontaminasi dengan cara direndam dalam

5,25% larutan sodium hipoklorit selama 1 jam atau dengan

autoklaf pada 132C selama 1 jam. 4

10. Biological Safety Cabinetry


21

Merupakan Pengendalian bahaya mikrobiologi terbaik

dengan perancangan Biological Safety Cabinetry BSC) yang

sesuai. Kabinet kelas 1 digunakan pada tekanan negatif dengan

kecepatan aliran sekitar 75 kaki menit. Udara dalam kamar

dikeluarkan melalui High Effeciency Particulare Air (HEPA) filter

l filter efisiensi partikel udara. Bagian depan dari BSC kelas I

dapat dibuka atau tertutup dengan sarung tangan lengan panjang.

Bsc kelas II merupakan aliran udara vertikal dan udara dalam

yang disirkulasi ulang melalui filter HEPA. Kamar beroperasi

pada tekanan negatif dengan ruang yang sama ke depan kabinet

kelas I, tetapi pemumian dengan kontaminasi minimal dari kultur.

Kelas I dan II sama tingkatnya dengan keselamatan personel.

Kabinet kelas III harus digunakan pada sebagian besar agen yang

virulen. Ruang tertutup seluruhnya. Isi harus diperlakukan dengan

sarung tangan lengan panjang yang sesuai. Seluruh bahan yang

masuk kabinet sc kelas III harus sudah di autoklaf atau

didekontaminasi. Kabinet Kelas I dan II biasa ditemukan di

laboratorim klinik. Kelas III Bsc dibutuhkan pada fasilitas khusus

yang mengkultur, seperti Mycobacterium tuberculosis sitemik dan

atau jamur HIV. 4

Tingkat Biosafety The Center for Disease Control (CDC)

dan The National Institutes of Health mempunyai sistem

pengkodeaan dari peningkatan level keamanan dari laboratorium

mikrobiologi dan klinik Tingkat biosafety (BSL) I yang dibuat


22

untuk laboratorium yang menggunakan bahan biasanya tidak

infeksius terhadap manusia. Bekeria dengan menggunakan

benchtop yang terbuka. Praktek laboratorium yang baik meliputi

penggunaan alat pipetasi, pembersihan tumpahan, desinfektan

harian, dan pembuangan limbah yang baik. Laboratorium klinik

seharusnya mengikuti BsL II. BSIL II berbeda dengan BSL I pada

akses ke tempat kerja yang seharusnya dijaga ketat dari individu

yang belum terlatih dan prosedur yang jelas seperti aerosol yang

menimbulkan infeksi dilakukan di BSC. BSL II efektif dalam

pengendalian bahaya infeksi dari agen yang ada dalam darah pada

spesimen laboratorium klinik. Prosedur bakteriologik secara rutin

seperti meletakkan dan mempersiapkan hapusan untuk

pengecatan diselenggarakan dalam BSL II. Pemeriksaan parasit,

penelitian bakteri, dan beberapa kultur virus dan jamur lebih

aman bila dengan tindakan pencegahan dalam BSL II. BSL III

sesuai dengan laboratorium yang bekerja dengan agen yang dapat

menyebabkan penyakit yang fatal bila terhirup, Akses ke

laboratorium dan aliran dikendalikan secara cermat. Semua

prosedur dilakukan dalam Bsc atau alat yang Sebagian seusai.

Pekerja harus memakai paka pelindung yang lengkap kecil

laboratorium klinik yang mengkultur jamur sistemik dan

tuberkulosis butuh melanjutkan ke BSL lll. 3

11. Dekontaminasi
23

Beberapa prosedur dan teknik yang mengurangi

infektifitas substansi atau bahan menjadi tingkat lebih aman

(noninfektif disebut dekontaminasi. Germisida adalah istilah

umum untuk semua substansi yang dapat membunuh kuman

patogen. EPA membagi germisida menjadi 3 kategori umum.

Sterilisasi penghancuran secara komplet semua kuman infeksius

(termasuk mikobakteria dan spora). Desinfektan sangat efektif

melawan mikroorganisme yang terseleksi Desinfektan diproduksi

tergantung dari spektrum aktivitas tertentu. Desinfektan mungkin

tidak efektif melawan spora bakteri dan mikobakteria. Antiseptik

adalah bahan kimia pembunuh kuman yang cocok untuk kulit,

jaringan dan membran mukosa. Antiseptik sebaiknya tidak

digunakan untuk desinfektan laboratorium. Sampel darah atau

jaringan yang tumpah harus dibersihkan dan didekontaminasi.

Kebersihan diri dengan memakai dan menggunakan alat

pengaman keselamatan kerja. Forsep atau sekop digunakan untuk

membersihkan pecahan gelas tanpa harus kontak manual. Protein

dan lemak dalam cat dapat menginaktifkan desinfektan kimia atau

sebagai barier sekitar agen infeksius. Oleh karena itu, sisanya

kemudian dicuci dengan detergen air. Setelah semua darah yang

terlihat dibersihkan, gunakan desinfektan yang sesuai. Larutan

yang baru. 1:10 larutan pemutih 5,25% sodium hipoklorit).

Formula iodofor merupakan desinfektan kuat yang bisa juga

digunakan. Aldehid dalam larutan glutaraldehid atau formaldehid)


24

dan fenol juga efektif namun toksik; bahan hanya digunakan pada

ruang dengan ventilasi yang adekuat atau dengan masker asap

Kimia. 5