Anda di halaman 1dari 11

Summary review :

Silver lining for caries cloud?


a. Telaah Isi Jurnal
Pertanyaan :
Apakah Silver diamine Fluoride lebih efektif dalam mencegah karies dibandingkan
Fluoride varnish?

Abstrak
Sumber Data: dari laporan yang ditulis berbahasa Inggris, Spanyol, atau Portugis,
diidentifikasi menggunakan database pencarian seperti Medline, LILACS (Latin Amerika
dan Karibia Kesehatan Ilmu Sastra), Embase, Cochrane Library, dan database Brazillian
Dental Library.
Seleksi Jenis Studi: randomised controlled trials (RCT), atau Studi kohort atau studi
Case control, unit penilaiannya adalah per pasien bukan per gigi. Kriteria ekslusi studi
adalah jika lama studinya tidak sesuai , studi jenis in vitro atau pada hewan percobaan,
berupa ulasan narasi atau editorial, atau diterbitkan dalam bahasa lain selain bahasa
Inggris, Spanyol atau Portugis. Studi dinilai secara independen oleh dua peneliti dengan
sengketa yang diselesaikan oleh pihak ketiga. kualitas dinilai menggunakan skala Jadad.
Ekstraksi data dan sintesis:
Data diekstraksi secara independen oleh dua peneliti. Prevented Fraction atau nilai
efektif pencegahan (PF) dan Number Need- to treat atau jumlah yang dibutuhkan untuk
perawatan (NNT) dihitung.
Hasil:
Dua studi memenuhi kriteria inklusi. Hasil mereka menunjukkan bahwa silver diamine
fluoride (SDF) PF terendah untuk menyebabkan arrested caries dan pencegahan karies
adalah masing-masing 96,1% dan 70,3%; ; NNT masing-masing yaitu 0,8 (95% CI, Skala
0,5-1,0) dan 0,9 (95% CI, 0.4- 1.1). Efek samping telah dipantau, dengan tidak adanya
perbedaan signifikan yang ditemukan antara kontrol dan kelompok eksperimen.

Kesimpulan:
Hasil menunjukan bahwa SDF lebih efektif daripada fluoride varnish, dan mungkin
dapat dipakai sebagai intervensi preventif.

Komentar:
Makalah ini menyajikan hasil dari tinjauan sistematis dengan meneliti bukti yang
tersedia dalam hal penggunaan 38% SDF untuk mencegah atau menghentikan karies.
Makalah ini dimulai dengan uraian dan tentang sejarah penggunaan dan penelitian
terbaru mengenai perak dan senyawa perak dalam pengobatan dan kedokteran gigi, sejak
1000 SM dan tentu saja terjaman dan termasuk restorasi amalgam.
SDF ini dapat mengendalikan proses karies dan mencegah karies melalui tiga
mekanisme. Yang pertama adalah melalui aksi fluoride, yang kedua melalui reaksi perak
dengan asam amino bakteri dan asam nukleat, yang mencegah metabolisme bakteri dan
dengan demikian bersifat bakterisida, ketiga oleh pengendapan lapisan tidak larut apatit
perak. Aplikasi SDF hampir sesederhana seperti aplikasi fluoride varnish , karena dapat
dioles dan didiamkan selama 3 menit per kuadran rahang.
Metode review sistematis yang digunakan di sini hanya dua studi dengan RCT yang
dapat dimasukkan di review. Chu et al. (2002) membandingkan aplikasi tahunan SDF
dengan aplikasi 3-bulanan dari 5% sodium fluoride (NaF) varnis untuk karies gigi
anterior atas anak-anak berusia 3-5 tahun di Cina. Ada kelompok kontrol engan
memberikan air. Mereka juga menyelidiki apakah mengeskavasi karies sebelum aplikasi
SDF atau NaF pernis akan memiliki efek. Studi RCT kedua, oleh Llodra dkk. (2005),
dibandingkan aplikasi dua kali setahun dari SDF untuk karies gigi caninus sulung,
geraham dan geraham pertama anak-anak di Kuba, dengan aplikasi air sebagai kontrol.
Kedua studi menemukan SDF efektif mencegah perkembangan lesi karies baru dan
menghentikannya, jika dibandingkan dengan pernis fluoride, SDF lebih efektif. Eskavasi
Karies tidak berpengaruh pada hasil temuan.
Hasil ini sangat menjanjikan tetapi, tetap dibutuhkan studi lebih lanjut untuk
mengkonfirmasi hasil pada sampel lainnya. Sebagai contoh, peserta dalam studi oleh
Llodra dan rekan (2005) memiliki sedikit akses ke pasta gigi fluoride, sedangkan
penggunaan yang lebih baik dari fluoride pasta gigi dalam studi oleh Chu et al. (2002)
masih kurang ideal. Ada satu lagi RCT diterbitkan tahun ini yang diperkirakan akan
dimasukkan dalam revisi masa yang akan dating dari ulasan ini, yang juga menunjukkan
SDF efektif untuk mengehentikan karies digigi Sulung. Beberapa efek samping yang
dilaporkan, tapi sekali lagi, ini memerlukan penyelidikan lebih lanjut karena beberapa
efek samping, seperti sensitivitas gingiva dan perubahan warna menjadi gelap, adalah
masalah potensial ketika SDF digunakan.
Kesimpulan review ini menunjukkan bahwa SDF sepertinya memiliki potensi besar
yang baik untuk mencegah dan menghentikan karies dan kita semua harus
mempertimbangkan penggunaannya.

b. Kritisi Aspek Penelitian

Penelitian tunggal tidaklah cukup untuk memberikan asupan bagi perbaikan kebijakan.
Agar hasil-hasil penelitian kesehatan dapat dimanfaatkan untuk masukan kebijakan, maka
sintesis beberapa hasil penelitian dan pengemasan hasil penelitian dalam format
actionable messages merupakan metodologi penting yang harus dikuasai oleh peneliti
Word Health Organization (2004) menganjurkan bahwa terdapat hirarki metode
penyajian fakta kepada para penggunanya sebagai berikut:
1. inovasi dalam ranah teori, metodologi dan penelitian dasar,
2. laporan penelitian tunggal dan artikel,
3. Sintesis hasil penelitian: (systematic review: meta-analisis, meta-sintesis),
4. Masukan untuk penentu kebijakan (actionable message: policy brief dan policy
paper). Secara hirarkis, jenjang metodologi research into action agar mudah
dipakai oleh penentu kebijakan, dapat diilustrasikan sebagaimana Gambar 1.

Dari Gambar 1, tampak bahwa dari penelitian tunggal, agar dapat dipakai dan diterapkan
oleh penentu kebijakan masih melalui dua tahap lagi, yakni sintesis (systematic review)
dan pengemasan hasil penelitian menjadi pesan yang mudah dipahami (actionable
messages) berupa policy brief dan policy paper.
Jenis paper ini merupakan summary review. Ada beberapa jenis dari review suatu artikel
atau jurnal ilmiah. Antara lain :
1. Systematic review
Diantara banyak review artikel penelitian yang tersedia dengan berbagai desain
studi, artikel review sistematik dan meta analisis menduduki tingkat kepercayaan
tertinggi dalam hierarki evidence dan menjadi pilihan utama dalam pencarian artikel.
Systematic review adalah suatu metode penelitian untuk melakukan identifikasi,
evaluasi dan interpretasi terhadap semua hasil penelitian yang relevan terkait
pertanyaan penelitian tertentu, topik tertentu, atau fenomena yang menjadi perhatian
(Kitchenham, 2004). Studi sendiri (individual study) merupakan bentuk studi primer
(primary study), sedangkan systematic review adalah studi sekunder (secondary
study). Systematic review akan sangat bermanfaat untuk melakukan sintesis dari
berbagai hasil penelitian yang relevan, sehingga fakta yang disajikan kepada penentu
kebijakan menjadi lebih komprehensif dan berimbang.
Banyak jaringan penelitian kesehatan maupun penelitian sosial di dunia yang
melakukan systematic review. Setidaknya terdapat dua jaringan yang melakukan
systematic review, yakni The Cochrane Collaboration dan The Campbell
Collaboration. The Cochrane Collaboration merupakan jaringan yang melakukan
systematic review di bidang penelitian kedokteran (medical research), sementara The
Campbell Collaboration banyak melakukan systematic review di bidang penelitian
kebijakan (penelitian sosial ekonomi). Dengan membuka website The Cochrane
Collaboration, www.cochrane.org/resources, maupun website The Campbell
Collaboration, www.campbellcollaboration.org/resources, akan dapat diunduh atau
dibaca pedoman-pedoman untuk melakukan systematic review, maupun hasil-hasil
systematic review terkait topik-topik tertentu.
Kedudukan metodologi systematic review dalam metodologi penelitian dapat
digambarkan sebagai irisan bawang (onion slice) seperti Gambar 2.
Pada prinsipnya systematic review adalah metode penelitian yang merangkum
hasil-hasil penelitian primer untuk menyajikan fakta yang lebih komprehensif dan
berimbang. Sementara itu, meta-analisis adalah salah satu cara untuk melakukan
sintesa hasil secara statistik (teknik kuantitatif). Cara lain untuk melakukan sintesis
hasil adalah teknik naratif (teknik kualitatif). Dengan kata lain, meta-analisis adalah
bagian dari metode systematic review dengan pendekatan kuantitatif.
Analog dengan metodologi penelitian secara umum, di mana terdapat metode
kuantitatif dan kualitatif, maka dalam systematic review juga terdapat metode
kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kuantitatif systematic review adalah
digunakan untuk mensintesis hasil-hasil penelitian dengan pendekatan kuantitatif.
Misalnya, Randomized Control Trials (RCT), Cohort Study, Case-Control Study, atau
studi prevalensi. Pendekatan statistik dalam melakukan sintesis hasil penelitian
kuantitatif ini disebut dengan meta-analisis. Secara definisi, meta-analisis adalah
teknik melakukan agregasi data untuk mendapatkan kekuatan statistik (statistical
power) dalam identifikasi hubungan sebab akibat antara faktor risiko atau perlakuan
dengan suatu efek (outcome) (Perry & Hammond, 2002).
Sementara itu, pendekatan kualitatif dalam systematic review digunakan untuk
mensintesis (merangkum) hasil-hasil penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif.
Metode mensintesis (merangkum) hasil-hasil penelitian kualitatif ini disebut dengan
meta-sintesis. Secara definisi, meta-sintesis adalah teknik melakukan integrasi data
untuk mendapatkan teori maupun konsep baru atau tingkatan pemahaman yang lebih
mendalam dan menyeluruh (Perry & Hammond, 2002).
2. Literature review
Review yang tidak sistematis (traditional review) adalah metoda review (tinjauan)
yang cara pengumpulan faktanya dan teknik sintesisnya tidak mengikuti cara-cara
baku sebagaimana systematic review. Yang termasuk dalam traditional review adalah
literature review dan summary review.
Literature review adalah uraian tentang teori, temuan, dan bahan penelitian lainnya
yang diperoleh dari bahan acuan untuk kemudian dijadikan landasan kegiatan
penelitian dengan menyusun kerangka pemikiran yang jelas dari perumusan masalah
yang ingin diteliti. Tujuan dari literature review adalah :
1. Membentuk sebuah kerangka teoritis untuk bidang/topic penelitian
2. Menjelaskan definisi, kata kunci dan terminology
3. Menentukan studi, model, studi kasus yang mendukung topic penelitian
Dalam litertaur review harus ada teori-teori yang mendukung, metodologi penelitian
yang menjadi acuan, dan kelemahan atau gap yang ingin diisi oleh penelitian baru
yang akan diulas. Literature review pasti mekakukan kegiatan summary review. Tapi
summary review belum tentu literature review.

3. Summary review
Sedangkan summary review merupakan ringkasan dari sejumlah penelitian yang
dipilih kemudian diberikan ulasan secara evaluative berisi deskripsi, penjelasan, atau
analisis penelitian secara lebih singkat yang didalamnya juga memunculkan komentar
penulisnya. Kesamaan summary dengan systematic dan literature review adalah
berusaha menjawab suatu pertanyaan ilmiah berdasarkan sumber-sumber penelitian
yang ada yang kemudian menjadi tujuan penulisan. Sedangkan Bedanya dengan
literature review adalah penulis tidak wajib memberikan interpretasi dan mengajukan
sebuah metode penelitian baru untuk melengkapi kekurangan dan kelemahan dari
penelitian-penelitian yang dibahas. Lebih jelasnya dapat dilihat pada table dibawah
ini:
Dari Tabel 2 terlihat bahwa systematic review adalah menggunakan pendekatan
metodologi penelitian yang sistematis, sementara traditional review tidak menggunakan
metodologi penelitian yang baku, lebih kepada kemauan (inklinasi) penulis, terkait
dengan ke arah mana tulisan akan dibawa. Contoh tulisan ilmiah yang menggunakan
traditional review adalah tinjauan pustaka.
Untuk Paper yang akan dikiritisi ini berbentuk summary review dengan sistematikan
penulisan dari abstrak berupa :
1. Pertanyaan yang mendasari tujuan dilakukannya review tersebut yang kemudian
akan dijawab didalam isi dan kesimpulan summary. Dalam penelitian ini pertanyaan
yang diajukan yaitu apakah SDF lebih efektif dibandingkan dengan fluoride varnish
dalam mencegah terbentuknya karies.
2. Sumber data berupa database pencarian yang dipakai untuk mendapatkan jurnal-
jurnal yang relevan dengan tujuan review tersebut seperti PubMed, google scholar,
Cochrane,dll. Dalam penelitian ini yang dipakai adalah Medline, LILACS (Latin
Amerika dan Karibia Kesehatan Ilmu Sastra), Embase, Cochrane Library, dan
database Brazillian Dental Library.
3. Seleksi jenis studi penelitian merupakan pemilihan studi penelitian yang akan di
lakukan review mengingat banyaknya jumlah penelitian yang ada, maka perlu
ditetapkan kriteria inklusi dan eksklusi dari jurnal penelitian yang akan di analisis.
Pemilihan bisa berdasarkan jenis studi seperti Randomized controlled Trial, cohort,
experimental, cross sectional dll, bisa juga berdasarkan waktu keluarnya jurnal
tersebut seperti minimal 5-10 tahun terakhir, intervensi penelitian apakah relevan
untuk menjawab tujuan review, bentuk penelitian apakah jurnal, disertasi, artikel
ilmiah, dll. Kriteria inklusi dan eksklusi ini ditetapkan oleh penulis untuk menyaring
dan memudahkan penulis dalam melakukan analisis dan interpretasi.
Dalam penelitian ini dijelaskan kriteria inklusi yaitu krteria studi yang akan dipilih :
jenis studi harus merupakan randomised controlled trials (RCT), atau Studi kohort
atau studi Case control, dengan metodologi penelitiannya dengan menghitung per
pasien bukan per gigi.
Sedangkan kriteria eksklusi atau kriteria yang tidak dimasukkan kedalam analisa
summary adalah jika lama studinya tidak sesuai , studi jenis in vitro atau pada hewan
percobaan, berupa ulasan narasi atau editorial, atau diterbitkan dalam bahasa lain
selain bahasa Inggris, Spanyol atau Portugis. Peneliti juga menjelaskan tentang
penilaian studi oleh dua peneliti secara independen. Hal ini dikarenakan sifat
summary yang subjektif sehingga dibutuhkan metode yang teapt untuk menghidari
bias. Selain itu juga dilakukan pengukuran kualitas penelitian menggunakan skala
Jadad. Beberapa skala yang digunakan dalam menilai suatu penelitian antara lain
4. Pengolahan data dan sintesis yaitu menguraikan urutan langkah-langkah pengolahan
data yang telah disaring dan proses sintesis penulis mengenai isi dari penelitian-
penelitian yang ada berupa kerangka dan alur pemikiran yng sistematis.
5. Hasil yaitu menjelaskan tentang bagaimana setiap penelitian yang terpilih menjawab
pertanyaan yang diajukan atau tujuan dari summary. Dalam penelitian yaitu mengenai
efektifitas SDF dibandingkan dengan fluoride varnish yang keduanya dijelaskan
menunjukkan hasil yang sejalan yaitu dapat mencegah dan menghentikan karies
dengan PF dan NNT yang berbeda-beda. Bila ada hasil penelitian yang berlawanan
maka perlu dilakukan analisis lebih dalam mengenai kemungkina penyebabnya yang
ditulis lebih jelas dalam isi summary.
6. Dan Kesimpulan berisi rangkuman singkat dari hasil penelitian secara garis besar
dalam menjawab tujuan summary. Dalam summary ini penulis menyimpulkan bahwa
SDF memiliki potensi yang besar dalam upaya pencegahan karoes dimasa yang akan
dating.

Untuk isi Summary dimulai dari komentar penulis mengenai pembukaan jurnal-jurnal
yang membahas tentang sejarah SDF dan pengaplikasian dibidang kesehatan. Namun
peneliti tidak menjelaskan definisi SDF dan apa perbedaanya dengan fluoride varnish.
Selanjutnya penulis langsung membahas mekanisme kerja dari SDF terhadap karies tanpa
terlbih dahulu menjelaskan tujuan dari review ini. Artinya isi summary bukan merupakan
penjelasan detail dari abstrak tidak seperti format jurnal penelitian pada umumnya. Isi
review kemudian membahas tentag hasil dari masing-masing penelitian yang diperoleh
dalam penelitian ini 2 jurnal utama ditambah satu jurnal pelengkap. Yang sebenarnya
masih sangat lemah untuk dapat menyimpulkan suatu efektivitas obat atau suatu bahan
apalagi karena desain keduanya RCT belum ada studi lungitodinal yang menguji
efektivitas SDF yang dibahas dalam review ini. Oleh karena paper ini berbentuk
summary atau ringkasan maka penulis memang tidak diwajibkan untuk menjelaskan
secara terperinci mengenai metode atau langkah-langkah dan hasil lengkap jurnal-jurnal
yang dibahas melainkan hanya berupa gambaran umum dari isi kedua jurnal mengenai
efektivitas SDF dibandingkan fluoride varnish selain mungkin juga dikarenakan format
summary yang diminta oleh publisher atau penerbit meminta review sesingkat mungkin
tidak lebih dari dua lembar.

Pada abstrak ini dibagian study selection ditulis adanya pengukuran kualitas
menggunakan skala Jadad, namun tidak dijelaskan lebih lanjut bagaimana proses
penilaiannnya. Penilaian Skor jadad meliputi : randomisasi, blinding dan dropout dengan
rentang 0-5. Untuk disebut sebagai uji bermutu dan dimasukkan dalam meta analisis
maka skor jaded minimal 3.
Jika studi dirandomisasi beri skor 1,
Jika metode randomisasi dijelaskan diberi skor 1
Jika metode blinding dijelaskan skor 1
Jika metode blinding dan randomisasi tidak tepat dikurangi satu

Dalam systematic review harus dijelaskan teknik atau sistem scoring yang digunakan
untuk menilai kelayakan dan kualitas studi yang digunakan. Minimal terdapat 2 reviewer
yang masing-masing secara independent menilai kualitas dan bobot studi dengan kriteria
yang telah ditentukan sebelumnya dan sesuai dengan pertanyaan penelitian (misalnya,
melalui pengkajian ada tidaknya randomisasi, blinding, loss to follow-up, intention-to-
treat analysis, ukuran sampel, dan lebar interval kepercayaan) tanpa mengetahui nama
penulis, nama jurnal, negara asal, hasil, dan disertai dengan derajat persetujuan antara
kedua reviewer berikut alasan jika terdapat perbedaan diantara keduanya. Semua itu
dilakukan untuk mengurangi risiko selection bias. Sekitar 35 sistem penilaian telah dibuat
untuk mengukur kualitas penelitian dan sebagian besar didesain untuk mengukur studi
RCT.

c. Daftar Pustaka

Briggs et al. (2007). Patients Experience with Leg Ulcer: a qualitative systematic review
of patients perception.

Francis C. & Baldesari (2006). Systematic Reviews of Qualitative Literature. Oxford: UK


Cochrane Centre

Haas PJ, & Springer JF. (1998). Apllied Policy Research, Concepts and Cases. London:
Garland Publishing.

Hanney S.R. et al. (2002). The Utilization of Health Research in Policy Making:
Concepts, Examples and Methods of Assessment. Geneva: World Health Organization.

Kitchenham, B. (2004). Procedures for Performing Systematic Reviews. Eversleigh:


Keele University.

Lewin, S. (2008). Methods to Synthesise Qualitative Evidence Alongside a Cochrane


Intervention Review. London: London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Munro et al. (2007). Adherence to tuberculosis treatment: a qualitative systematic review


of stakeholder perceptions
Perry, A. & Hammond, N. (2002). Systematic Review: The Experience of a PhD Student.
Psychology Learning and Teaching, 2(1), 3235.

Varkevisser CM, Pathmanatahn I. & Brownlee A. (2003). Designing and Conducting


Health Systems Research Projects. Canada: World Health Organization/International
Development Research Center.

World Health Organization (2004). World Report on Knowledge for Better Health,
Strengthening Health System. Geneva: World Health Organization