Anda di halaman 1dari 67

Tahun 2016

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016


i
KATA PENGANTAR

Laporan Tahunan Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun 2016 merupakan laporan


pelaksanaan kegiatan Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun Anggaran 2016. Laporan
ini disusun berdasarkan pencapaian target kinerja dan sasaran program pembangunan
yang dilaksanakan dalam mencapai visi dan misi Kementerian Kesehatan. Hambatan
dan kendala yang ada dalam melaksanakan program akan dievaluasi dalam upaya
perbaikan pencapaian kinerja program kesehatan keluarga
Kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu dan
berpartisipasi dalam penyusunan Laporan Tahunan ini, semoga dapat berguna dan
bermanfaat.
Laporan Tahunan ini jauh dari kesempurnan, oleh karena itu berbagai kritik dan saran
yang membangun sangat diharapkan untuk meningkatkan mutu kajian dan
kesempurnaan penyusunan laporan tahunan pada masa yang akan datang.

Jakarta, Januari 2016


Direktur Kesehatan Keluarga

dr. Eni Gustina, MPH


NIP : 196308201994122003

ii
Contents
KATA PENGANTAR ......................................................................................................................................... ii
BAB I ..............................................................................................................................................................1
ANALISIS SITUASI AWAL TAHUN ...................................................................................................................1
1.1. Hambatan Tahun Lalu ...............................................................................................................1
1.2. Kelembagaan ..............................................................................................................................3
1.3. Sumber Daya...............................................................................................................................5
1.3.1. Sumber Daya Manusia ...............................................................................................................5
1.3.2. Sarana dan Prasarana..............................................................................................................6
1.3.3. Dana ..............................................................................................................................................7
BAB II .......................................................................................................................................................... 10
TUJUAN DAN SASARAN KERJA.................................................................................................................... 10
2.1. Dasar Hukum ................................................................................................................................ 10
2.2. Tujuan, Sasaran Dan Indikator .................................................................................................. 10
Tujuan.................................................................................................................................................. 10
Sasaran ............................................................................................................................................... 11
BAB III ......................................................................................................................................................... 13
STRATEGI PELAKSANAAN ........................................................................................................................... 13
3.1. Strategi Pencapaian Tujuan dan Sasaran ............................................................................... 13
3.2. Hambatan Dalam Pelaksanaan Strategi .................................................................................. 13
3.3. Terobosan Yang Dilakukan ........................................................................................................ 14
BAB IV ......................................................................................................................................................... 15
HASIL KERJA ................................................................................................................................................ 15
4.1. Pencapaian Tujuan dan Sasaran .......................................................................................... 15
4.2. Pencapaian Kinerja ................................................................................................................. 57
4.3. Realisasi Anggaran ................................................................................................................. 57
4.4. Upaya Meraih WTP dan Reformasi Birokrasi ..................................................................... 61
BAB V .......................................................................................................................................................... 63
PENUTUP .................................................................................................................................................... 63

iii
BAB I
ANALISIS SITUASI AWAL TAHUN

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu
indikator pembangunan kesehatan dalam RPJMN 2015-2019 dan SDGs. Menurut data
SDKI, Angka Kematian Ibu sudah mengalami penurunan pada periode tahun 1994-
2012 yaitu pada tahun 1994 sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 1997
sebesar 334 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2002 sebesar 307 per 100.000
kelahiran hidup, tahun 2007 sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup namun pada
tahun 2012 , Angka Kematian Ibu meningkat kembali menjadi sebesar 359 per 100.000
kelahiran hidup. Untuk AKB dapat dikatakan penurunan on the track (terus menurun)
dan pada SDKI 2012 menunjukan angka 32/1.000 KH (SDKI 2012). Dan pada tahun
2015, berdasarkan data SUPAS 2015 baik AKI maupun AKB menunjukan penurunan
(AKI 305/ 100.000 KH; AKB 22,23/ 1000 KH).

Dari sisi indikator, Renstra sebagai bagian didalam upaya penurunan AKI dan AKB
juga menunjukan keberhasilan didalam mencapai target Renstra walaupun pencapaian
ini juga masih memberikan gap bila dibandingkan dengan seluruh sasaran penduduk di
Indonesia.
Target Capaian
No. Indikator
2015 2015

1. Persentase (%) persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan 75% 78,43%

2. Persentase (%) puskesmas yang melaksanakan kelas ibu hamil 78% 86,92%

Persentase (%) puskesmas yang melakukan orientasi program


3. 77% 79,60%
perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi

Persentase (%) ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal


4. 72% 83,39%
minimal 4 kali (K4)

5 Persentase Kunjungan Neonatal Pertama (KN1) 75% 84%

Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan


6 50% 57%
kesehatan untuk peserta didik kelas I

Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan


7 30% 48%
kesehatan untuk peserta didik kelas VII dan X

Persentase Puskesmas yang menyelenggarakan kegiatan


8 25% 32%
kesehatan remaja

1.1. Hambatan Tahun Lalu


1. Pelaksanaan pelaporan masih belum optimal, di tahun 2015, ketepatan
laporan triwulanan masih rendah, jejaring komunikasi data yang disediakan
untuk kab/kota tingkat isian masih rendah sehingga unit teknis perlu berulang
kali meminta laporan kepada dinas kesehatan provinsi.

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016


1
2. Pelaksanaan pencatatan belum optimal untuk melaporkan pelaksanaan
program secara berjenjang dan tepat waktu dari tingkat kabupaten, propinsi ke
pusat,
3. Pelaporan berbasis puskesmas belum terintegrasi dengan laporan pelayanan
kesehatan dirumah sakit.
4. Ditahun 2015 dengan adanya PP No. 46 tahun 2014 tentang sistem informasi
kesehatan dan permenkes 92 tahun 2014 dimana sistem pelaporan diarahkan
melalui 1 sistem, ternyata belum dapat terealisasi dikarenakan system
informasi puskesmas yang rencananya akan mulai dilaksanakan pada tahun
2016 ternyata mundur menjadi tahun 2017 (kondisi system pelaporan yang
selama ini dilaksanakan dengan adanya kebijakan tersebut sudah mulai di
hentikan)
5. Belum optimalnya kerjasama antar sektor terkait, lintas program dan
organisasi profesi serta perguruan tinggi untuk mendukung upaya
kelangsungan hidup neonatal, bayi dan anak balitasertaupaya peningkatan
kualitas hidup dan perlindungan kesehatan anak.
6. Masih kurangnya komitmen dan dukungan dana (APBD tingkat I dan II) dari
pemerintah daerah setempat dalam program peningkatan kesehatan ibu dan
anak
7. Terjadinya perubahan struktur dan pejabat di daerah yang berpengaruh dalam
transfer informasi maupun pencairan dana.
8. Keterbatasan sumber daya strategis yang berkualitas untuk mendukung
program kesehatan keluarga di Dinas Kesehatan maupun di Puskesmas.
9. Penggantian pengelola program cukup sering, sehingga mempengaruhi
kelancaran pelaksanaan program di provinsi dan kabupaten/kota.
10. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu, anak dan
reproduksi masih relatif rendah.
11. Akses dan kualitas pelayanan Kesehatan ibu dan anak belum optimal dan
masih perlu ditingkatkan.
12. Belum optimalnya jejaring dan regionalisasi rujukan maternal dan neonatal
antara pelayanan primer Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan.
13. Kurang optimalnya pelibatan fasyankes swasta dalam hal peningkatan akses
dan kualitas pelayanan kesehatan keluarga.
14. Pelayanan KB masih didominasi oleh metode kontrasepsi jangka pendek (pil
dan suntik). Untuk menurunkan kehamilan 4 Terlalu, diperlukan metode
kontrasepsi jangka panjang (IUD, susuk)
15. Kepatuhan terhadap standar pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar
dan rujukan belum seperti yang diharapkan (antara lain karena kurangnya
Bidan Kit, IUD Kit, Partus Kit, PONED Kit, dan PONEK Kit).
16. Kurangnya dukungan lintas program dalam pelaksanaan PKRT.
17. Kurangnya dukungan terhadap pelayanan kespro pada situasi krisis
kesehatan melalui kegiatan PPAM.

2
18. Pemanfaatan KIE kespro bagi calon pengantin dan kerjasama lintas sektor
dalam pelaksanaan pelayanan kespro catin belum optimal, utamanya
Kementerian Agama.
19. Masih rendahnya dukungan Pemda dalam penyediaan dan pemantauan
indikator AUKR.
20. Belum optimalnya penguasaan data dan informasi manajemen KIA (PWS,
AMP, DTPS, Supfas).

1.2. Kelembagaan
Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015
Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, Dalam
melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157, Direktorat
Kesehatan Keluarga menyelenggarakan fungsi:
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang kesehatan maternal dan neonatal,
balita dan anak prasekolah, usia sekolah dan remaja, usia reproduksi dan
keluarga berencana, dan lanjut usia, serta perlindungan kesehatan keluarga;
b. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan maternal dan
neonatal, balita dan anak prasekolah, usia sekolah dan remaja, usia
reproduksi dan keluarga berencana, dan lanjut usia, serta perlindungan
kesehatan keluarga;
c. penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang
kesehatan maternal dan neonatal, balita dan anak prasekolah, usia sekolah
dan remaja, usia reproduksi dan keluarga berencana, dan lanjut usia, serta
perlindungan kesehatan keluarga;
d. penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang kesehatan
maternal dan neonatal, balita dan anak prasekolah, usia sekolah dan remaja,
usia reproduksi dan keluarga berencana, dan lanjut usia, serta perlindungan
kesehatan keluarga;
e. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang kesehatan maternal dan
neonatal, balita dan anak prasekolah, usia sekolah dan remaja, usia
reproduksi dan keluarga berencana, dan lanjut usia, serta perlindungan
kesehatan keluarga; dan
f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.
Gambaran struktur organisasi Direktorat Kesehatan Keluarga digambarkan pada
gambar dibawah.

3
Gambar 1. Struktur Organisasi Direktorat Kesehatan Keluarga Berdasarkan Permenkes 64 Tahun 2015

STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA

DIREKTORAT
KESEHATAN KELUARGA

SUBBAGIAN
TATA USAHA

SUBDIREKTORAT SUBDIREKTORAT SUBDIREKTORAT


SUBDIREKTORAT SUBDIREKTORAT
KESEHATAN KESEHATAN BALITA KESEHATAN USIA
KESEHATAN USIA KESEHATAN LANJUT
MATERNAL DAN DAN ANAK PRA SEKOLAH
REPRODUKSI USIA
NEONATAL SEKOLAH DAN REMAJA

SEKSI SEKSI
SEKSI
SEKSI SEKSI
KESEHATAN USIA
KELANGSUNGAN AKSES AKSES
KESEHATAN HIDUP BALITA DAN
SEKOLAH DAN
REMAJA DI DALAM
KESEHATAN KESEHATAN
MATERNAL ANAK PRA SEKOLAH
SEKOLAH REPRODUKSI LANJUT USIA

SEKSI SEKSI SEKSI SEKSI


SEKSI KESEHATAN USIA
KUALITAS HIDUP KUALITAS KUALITAS
KESEHATAN SEKOLAH DAN
BALITA DAN ANAK REMAJA DI LUAR KESEHATAN KESEHATAN
NEONATAL
PRA SEKOLAH SEKOLAH REPRODUKSI LANJUT USIA

KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016


4
1.3. Sumber Daya

1.3.1. Sumber Daya Manusia


Jumlah Pegawai Direktorat Kesehatan Keluarga pada akhir tahun 2016
adalah 1109 pegawai, terdiri dari 96 orang PNS, 13 orang pramubakti.
Pegawai PNS yang berlatar belakang pendidikan S3 sebanyak 0 orang, S2
sebanyak 46 orang, S1 sebanyak 35 orang, Diploma IV sebanyak 2 orang,
Diploma III sebanyak 5 orang, SMU 8 orang, sedangkan pegawai Honorer
(Pramubakti) yang berpendidikan Sarjana (S1) sebanyak 4 orang, D3 3
orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sebanyak 4 orang, SMP 1
orang , SD 1 orang.

Dari jenis pendidikan, pegawai (PNS) dengan pendidikan di bidang


kesehatan sebanyak 48 orang dan pegawai dengan pendidikan bidang non
kesehatan sebanyak 10 orang. Direktorat Kesehatan Keluarga tidak
memiliki staf fungsional tertentu.

Grafik 1.1. Persentase Pegawai Direktorat Kesehatan Keluarga


Berdasarkan Jabatan Struktural dan Fungsional

Strukt
ural
18% JFT
1%

JFU
81%

Grafik 1.3. Persentase Pegawai Direktorat Kesehatan Keluarga


Berdasarkan Golongan

IVb Iia IIc IId


4% 5% 2% 3%

IVa
17% IIIa
IIId 17%
6%
IIIc
18% IIIb
28%

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016


5
Grafik 1.4. Persentase Jumlah Pegawai Direktorat Kesehatan Keluarga
Berdasarkan Jenis Kelamin

Laki-
laki
24%
Perem
puan
76%

Grafik 1.5. Persentase Jumlah Pegawai Direktorat Kesehatan Keluarga


Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan

D3
D4 5%
2% SMU
8%
S2
48%

S1
37%

1.3.2. Sarana dan Prasarana


Sumber daya sarana dan prasarana yang ada dan digunakan di Direktorat
Kesehatan Keluarga sampai dengan 31 Desember 2016 bernilai Rp.
39.090.406.939,- (SIMAK BMN, 31 Desember 2016)dengan uraian sebagai
berikut:
1) Peralatan dan Mesin
Peralatan dan mesin berjumlah 10.425 buah terdiri dari kendaraan dinas
(sedan, station wagon, mini bus, sepeda motor), peralatan perkantoran dan
rumah tangga, serta peralatan lainnya dengan nilai Rp. 6383952546
2) Aset Tetap Lainnya
Aset tetap lainnya terdiri dari bahan kartografi lainnya berjumlah 1000 buah
dengan nilai. Rp.0 ,-
3) Barang konsumsi
Barang konsumsi adalah barang habis pakai (bahan administrasi dan
computer suplies) dengan nilai. Rp.0 ,-
4) Barang persediaan untuk diserahkan ke masyarakat

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 6


Barang persediaan ini berupa buku-buku cetakan dengan nilai Rp.
37.655.098.101,-
Berdasarkan peta ketersediaan alat pengolah data dengan jumlah JFU yang ada,
Direktorat Kesehatan Keluarga memiliki sarana yang cukup memadai untuk
mendukung kegiatan teknis. Begitu pula halnya dengan ketersediaan kendaraan
untuk mendukung operasional teknis.

1.3.3. Dana
Pada tahun anggaran 2016, untuk mencapai tujuan dan target kegiatan,
Direktorat Kesehatan Keluarga mendapatkan 2 (dua) sumber anggaran yaitu
Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) dan Pinjaman Hibah Luar Negeri
(PHLN). Kedua sumber dana tersebut tertuang dalam DIPA Satker Direktorat
Kesehatan Keluarga Tahun 2016.
Di dalam perjalanan kegiatan tahun 2016 terjadi perubahan/ revisi DIPA
sebanyak 9 kali, perubahan ini terjadi seiring dengan adanya kebijakan ditingkat
nasional maupun internal direktorat. Pada awal tahun 2016, Direktorat Keluarga
mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp. 120.000.000.000,-. Kebijakan yang
berpengaruh kepada perubahan didalam alokasi DIPA Direktorat Kesehatan
Keluarga berasal dari kementerian keuangan dimana setiap unit di kemenkes
diminta untuk efisiensi, Direktorat Kesehatan Keluarga melakukan efisiensi
sebesar Rp. 40.000.000.000,- yang menjadikan perubahan DIPA menjadi Rp.
80.000.000.000,-. Hasil efisiensi yang ada di kumpulkan di tingkat Direktorat
Jenderal Kesehatan masyarakat sebagian dijadikan efisiensi dan sebagian di
lakukan refocusing untuk kegiatan prioritas. Direktorat Kesehatan Keluarga
mendapatkan dana refocusing sebesar Rp. 4.627.892.000,- sehingga DIPA
menjadi Rp. 84.627.892.000,-. Pada triwulan 3 terjadi efisiensi kembali dimana
setiap unit diminta melakukan selfblocking, Direktorat Kesehatan Keluarga
melakukan selfblocking sebesar 17.000.000.000,-. Sesuai kebijakan di
kementerian keuangan, selfblocking yang ada tetap berada/ tetap menjadi DIPA
(tidak dihapus), sehingga DIPA tetap pada alokasi sebesar Rp. 84.627.892.000,-
dengan kondisi dana sebesar 17 M tidak dapat digunakan (selfblocking). Di bulan
Desember dana PHLN masuk kedalam DIPA sebesar Rp. 8.552.538.000 (WHO
2.105.517.000,- UNICEF 4.555.689.000,- UNFPA 1.891.332.000,-) sehingga
pada akhir tahun 2016 DIPA Kesehatan Keluarga (termasuk dana PHLN)
sebesar Rp. 93.180.430.000.

Untuk mendukung pencapaian program di tingkat provinsi dan kab/kota,


Direktorat Kesehatan Keluarga meluncurkan APBN melalui mekanisme
dekonsentrasi ke 34 provinsi sebesar Rp. 360.034.526.000,-.

Anggaran tersebut terbagi atas 5 output, yaitu :

1. NSPK Pembinaan Kesehatan Keluarga


2. SDM Kesehatan yang ditingkatkan kapasitasnya dalam pembinaan
Kesehatan Keluarga
3. Dukungan Sarana dan Prasarana Pembinaan Kesehatan Keluarga

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 7


4. Bimbingan Teknis dan Evaluasi pembinaan Kesehatan Keluarga
5. Sistem Informasi dan Surveilans Pembinaan Kesehatan Keluarga
6. Dukungan Layanan Manajemen

Berikut adalah tabel pengelolaan DIPA Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun


2016

Kewenan
No Revisi Tanggal Pagu Keterangan
gan

1 Ke 00 7-Dec-15 120,000,000,0 DIPA Awal -


00

2 Ke 01 5-Feb-16 120,000,000,0 Pergeseran rincian anggaran DJPB


00 dalam hal pagu anggaran tetap, Kanwil
pergeseran antar keluaran DKI
(Output), satu kegiatan dan satu
satker dalam rangka memenuhi
kebutuhan biaya operasional,
Revisi Halaman III DIPA dan
Revisi Pejabat Perbendaharaan.

3 Ke 02 13-Apr- 120,000,000,0 Pergeseran rincian anggaran DJPB


16 00 dalam hal pagu anggaran tetap, Kanwil
pergeseran antar keluaran DKI
(Output), satu kegiatan dan satu
satker dalam rangka memenuhi
kebutuhan biaya operasional.

4 Ke 03 11-May- 120,000,000,0 Pergeseran rincian anggaran DJPB


16 00 dalam hal pagu anggaran tetap, Kanwil
pergeseran antar keluaran DKI
(Output), satu kegiatan dan satu
satker dalam rangka memenuhi
kebutuhan biaya operasional.

5 Ke 04 26-May- 120,000,000,0 Inpres Nomor 4 Tahun 2016 DJA


16 00 tentang pemotongan anggaran
tahun 2016, Identifikasi secara
mandiri kegiatan yang akan di
hemat (Output Cadangan dan
Pengurangan Output).

6 Ke 05 22-Jul-16 80,000,000,00 Surat Menteri Keuangan Nomor DJA


0 S-522/MK.02/2016 tangggal 23
Juni 2016 perihal perubahan
pagu anggaran Belanja K/L
dalam APBN-P Tahun 2016
(Pengurangan/Pemotongan
angaran DIPA Tahun 2016)

7 Ke 06 29-Aug- 84,627,892,00 Surat Sekjen. Kemenkes RI DJA


16 0 Nomor PR.01.02/I/1285/2016
tanggal 17 Juni 2016 tentang
hasil rapat kerja komisi IX DPR
RI dengan Menteri Kesehatan
terkait anggaran yang akan di
realokasi dan refocussing
(Penambahan Anggaran)

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 8


8 Ke 07 30-Sep- 84,627,892,00 Inpres Nomor 8 Tahun 2016 DJA
16 0 tentang langkah-langkah
penghematan belanja
kementerian / lembaga, agar
masing-masing
Kementerian/Lembaga
melakukan identifikasi secara
mandiri terhadap
program/kegiatan di dalam
Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian/Lembaga Tahun
Anggaran 2016, yang akan
dihemat dan memastikan
anggarannya tidak dicairkan
melalui blokir mandiri (self
blocking).

9 Ke 08 12-Oct- 84,627,892,00 Pergeseran rincian anggaran DJPB


16 0 dalam hal pagu anggaran tetap, Kanwil
pergeseran antar keluaran DKI
(Output), satu kegiatan dan satu
satker dalam rangka memenuhi
kebutuhan biaya operasional
dan Revisi Pejabat
Perbendaharaan.

10 Ke 09 16-Dec- 93,180,430,00 Penambahan anggara yang DJPB


16 0 disebabkan adanya Kanwil
pelaksanaan kegiatan yang DKI
dananya bersumber dari hibah
langsung dalam bentuk uang
(UNFPA, WHO, dan UNICEF)

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 9


BAB II
TUJUAN DAN SASARAN KERJA

2.1. Dasar Hukum


1. UUD 1945 pasal 28B ayat 2 dan pasal 28H ayat 1.
2. UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak.
3. UU Nomor 23 Tahun 2014 Perubahan Atas UU No.32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah
4. UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 79, 131, 133, 136, 137 dan
139.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Urusan Wajib Bidang
Kesehatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi dan
Kabupaten/Kota.
6. Peraturan Presiden nomor 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (JMN) tahun 2015 2019.
7. Inpres 3 tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan yang
dilanjutkan dengan Rencana Aksi Hak Asasi Manusia (RAN HAM) pada tahun
2012.
8. Inpres 14 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional
tahun 2011.
9. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015 tentang
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.
10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015
Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan
11. Peraturan Menteri Kesehatan No.68 tahun 2013 tentang Kewajiban Pemberi
Layanan Kesehatan Memberikan Informasi Atas Adanya Dugaan Kekerasan
terhadap Anak
12. Peraturan Menteri Kesehatan No. 25 tahun 2014 tentangUpaya Kesehatan
Anak
13. Peraturan Menteri Kesehatan No.53 tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan
Neonatal Esensial
14. Peraturan Menteri Kesehatan No. 66 tahun 2014 tentang Pemantauan
Pertumbuhan, Perkembangan dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak
15. Peraturan Menteri Kesehatan No.78 tahun 2014 tentang Skrining Hipotiroid
Kongenital

2.2. Tujuan, Sasaran Dan Indikator

Tujuan
Tujuan sasaran Direktorat kesehatan Keluarga mengacu pada Renstra
Kementerian Kesehatan RI tahun 2015 2017. Direktorat Kesehatan Keluarga
memiliki tujuan yang bersifat outcome bahkan dapat dikatakan bersifat dampak,
Tujuan tersebut yaitu :
LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 10
1. Menurunnya angka kematian ibu dari 359 per 100.00 kelahiran hidup (SP
2010), 346 menjadi 306 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2012).
2. Menurunnya angka kematian bayi dari 32 menjadi 24 per 1.000 kelahiran
hidup.
Didalam mencapai tujuan tersebut telah ditetapkan strategi nasional dan arah
kebijakan nasional 2015-2019 yang kemudian juga menjadi tujuan (bersifat
outcome) bagi Direktorat Kesehatan Keluarga yaitu :
1. Terjadinya Akselerasi Pemenuhan Akses Pelayanan Kesehatan Ibu, Anak,
Remaja, dan Lanjut Usia yang Berkualitas.
2. Peningkatan cakupan, mutu, dan keberlangsungan upaya pencegahan
penyakit dan pelayanan kesehatan ibu, bayi, balita, remaja, usia kerja dan
usia lanjut.

Sasaran
Didalam mencapai tujuan diatas Direktorat Kesehatan Keluarga melaksanakan
kegiatan Pembinaan Kesehatan Bayi, Anak dan Remaja dan Pembinaan
Kesehatan Ibu dan Reproduksi yang memiliki sasaran :
1. meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan bayi, anak dan
remaja.
2. meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi
Indikator pencapaian (diakhir tahun 2019) sasaran diatas adalah :
1. Persentase Kunjungan Neonatal Pertama (KN1) sebesar 90%.
2. Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan kesehatan untuk
peserta didik kelas I sebesar 70%.
3. Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan kesehatan untuk
peserta didik kelas VII dan X sebesar 60%.
4. Persentase Puskesmas yang menyelenggarakan kegiatan kesehatan remaja
sebesar 45%.
5. Persentase Puskesmas yang melaksanakan kelas ibu hamil sebesar 90%.
6. Persentase Puskesmas yang melakukan orientasi Program Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) sebesar 100%.
7. Persentase ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4 kali
(K4) sebesar 80%.
Target Indikator sasaran Direktorat Kesehatan Keluarga untuk tahun 2016 dapat
dilihat pada tabel dibawah yang menggambarkan pencapaian indikator pertahun
(mulai tahun 2015) untuk mencapai target Renstra Kementerian Kesehatan pada
akhir tahun 2019.

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 11


Tabel 2.1. Indikator Kesehatan Keluarga pada Renstra Kementerian Kesehatan
tahun 2015-2019
Target / tahun
Kegiatan Sasaran Indikator
2015 2016 2017 2018 2019
Pembinaan meningkatnya Persentase Kunjungan 75% 78% 81% 85% 90%
Kesehatan akses dan Neonatal Pertama (KN1)
Bayi, Anak kualitas Persentase Puskesmas 50% 55% 60% 65% 70%
dan Remaja pelayanan yang melaksanakan
kesehatan bayi, penjaringan kesehatan
anak dan remaja untuk peserta didik kelas
I
Persentase Puskesmas 30% 40% 50% 55% 60%
yang melaksanakan
penjaringan kesehatan
untuk peserta didik kelas
VII dan X
Persentase Puskesmas 25% 30% 35% 40% 45%
yang menyelenggarakan
kegiatan kesehatan
remaja
Pembinaan meningkatnya Persentase Puskesmas 78% 81% 84% 87% 90%
Kesehatan akses dan yang melaksanakan
Ibu dan kualitas kelas ibu hamil
Reproduksi pelayanan Persentase Puskesmas 77% 83% 88% 95% 100%
kesehatan ibu yang melakukan
dan reproduksi orientasi Program
Perencanaan Persalinan
dan Pencegahan
Komplikasi (P4K)
Persentase ibu hamil 72% 74% 76% 78% 80%
yang mendapatkan
pelayanan antenatal
minimal 4 kali (K4)

Tabel Sandingan RPJMN, Renstra, RKP dan Janji Presiden yang menjadi
tanggung jawab Direktorat Kesehatan Keluarga Tahun 2016
RPJMN Renstra RKP Janji Presiden
Persentase kunjungan Persentase Kunjungan Persentase kunjungan Jumlah Rumah
neonatal pertama (KN1) Neonatal Pertama (KN1) neonatal pertama (KN1) Tunggu
Persentase Puskesmas yang Persentase Puskesmas yang Persentase Puskesmas Kelahiran
melaksanakan penjaringan melaksanakan penjaringan yang melaksanakan (RTK) (target
kesehatan peserta didik kesehatan untuk peserta didik penjaringan kesehatan 150 RTK)
kelas I peserta didik
Persentase persalinan di Persentase Puskesmas yang Persentase ibu hamil yang
fasilitas pelayanan kesehatan melaksanakan penjaringan mendapatkan pelayanan
(PF) kesehatan untuk peserta didik antenatal ke empat (K4)
kelas VII dan X
Persentase ibu hamil yang Persentase Puskesmas yang Persentase persalinan di
mendapatkan pelayanan menyelenggarakan kegiatan fasilitas pelayanan
antenatal ke empat (K4) kesehatan remaja kesehatan (PF
Persentase Puskesmas yang Persentase Puskesmas
melaksanakan kelas ibu hamil yang menyelenggarakan
kegiatan kesehatan
remaja
Persentase Puskesmas yang
melakukan orientasi Program
Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K)
Persentase ibu hamil yang
mendapatkan pelayanan
antenatal minimal 4 kali (K4)

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 12


BAB III
STRATEGI PELAKSANAAN

3.1. Strategi Pencapaian Tujuan dan Sasaran


Strategi dalam pembinaan pelayanan kesehatan keluarga yaitu ; Meningkatkan
akses pelayanan kesehatan yang bermutu bagi setiap orang pada setiap tahapan
kehidupan dengan pendekatan satu kesatuan pelayanan (continuum of care)
melalui :
1. intervensi komprehensif (six building block),
2. integratif promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif;
3. paripurna,
4. berjenjang mulai dari masyarakat, fasyankes tingkat pertama dan rujukan
5. fokus pada kelompok sasaran sesuai kelompok umur (life cycle), daerah
populasi tinggi, DTPK, jumlah kasus kematian ibu, bayi tertinggi, gizi buruk
dan stunting
6. kemitraan antar pelaku sesuai strata kewenangan (provinsi, kabupaten/kota,
swasta)

3.2. Hambatan Dalam Pelaksanaan Strategi


Beberapa hambatan dalam pelaksanaan strategi pencapaian tujuan dan sasaran
pada tahun 2016 adalah:
1. Kebijakan di tingkat nasional untuk efisiensi anggaran APBN
2. Masih kurangnya komitmen daerah dalam mengirimkan laporan tepat
waktu, tepat data
3. Masih kurangnya jumlah dan kualitas tenaga pelaksana program di
lapangan (berdasarkan hasil studi) walaupun telah dilakukan pelatihan dan
pendistribusian tenaga kesehatan
4. Masih kurangnya kemampuan dalam menyusun perencanaan program
secara holistik, (perencanaan masih bersifat business as usual, copy paste)
5. Masih terdapat kekurangan peralatan kesehatan dan bahan habis pakai
untuk mendukung kesehatan keluarga, walaupun secara besaran dana,
seharusnya sudah mencukupi
6. Tidak ada dukungan pendanaan dan bimbingan teknis dalam pemeliharaan
alat
7. Masih terdapat pengelola program di daerah (terutama puskesmas) yang
belum memahami definisi operasional indikator program, dapat disebabkan
mekanisme sosialisasi secara berjenjang tidak berjalan dengan baik
8. Masih kurangnya koordinasi lintas program dalam perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi pelaporan
9. Struktur organisasi di daerah belum sesuai dengan sotk kementerian
kesehatan. Contoh uks, penjaringan ada di promkes dinkes
10. Belum finalnya kebijakan pencatatan pelaporan 1 pintu, program mengalami
dilema karena sudah tidak diperkenankan untuk meminta data langsung
ke daerah, sementara pusat data dan informasi belum bisa memenuhi

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 13


kebutuhan laporan data secara rutin. Lemahnya koordinasi lintas program di
dinkes.
11. Masih lemahnya pemantauan penjaminan mutu pelaksanaan program
secara berjenjang agar pelaksanaan kegiatan program di puskesmas
sesuai dengan standar

3.3. Terobosan Yang Dilakukan


1. Menyusun Rencana Aksi Kesehatan Ibu dan bayi baru Lahir
2. Menyusun Rencana Aksi Nasional Kesehatan Lanjut Usia
3. Melakukan Kajian Anggaran dalam upaya penurunan AKI dan
mendiseminasikannya
4. Menjalin kerjasama dengan akademisi dan organisasi profesi melalui
Konsorsium Perguruan Tinggi.`
5. Menyusun draft penyederhanaan pencatatan dan pelaporan
6. Memfasilitasi pelaksanaan perencanaan terpadu dengan pengembangan
model pelatihan Perencanaan Terpadu KIA
7. Pengembangan model posyandu-PAUD terintegrasi.
8. Pengembangan model UKS
9. Pengembangan model pendampingan program oleh tokoh agama, tokoh
masyarakat dan mahasiswa
10. Peningkatan kualitas layanan PKPR dengan orientasi dan implementasi
Standar Nasional PKPR, sebagai alat self assessment oleh puskesmas dan
supervisi oleh Dinas Kesehatan.
11. Mendorong kemandirian daerah dalam pemenuhan kebutuhan sarana
prasarana program melalui mekanisme DAK Fisik
12. Pengembangan upaya peningkatan persalinan di faskes melalui Jampersal

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 14


BAB IV
HASIL KERJA

4.1. Pencapaian Tujuan dan Sasaran


Dalam upaya mencapai tujuan dan sasaran kesehatan keluarga yang diukur
melalui indikator :
1) Persentase Kunjungan Neonatal Pertama (KN1) sebesar 78 %.
2) Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan kesehatan untuk
peserta didik kelas I sebesar 55%.
3) Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan kesehatan untuk
peserta didik kelas VII dan X sebesar 40%.
4) Persentase Puskesmas yang menyelenggarakan kegiatan kesehatan remaja
sebesar 30%.
5) Persentase Puskesmas yang melaksanakan kelas ibu hamil sebesar 81%.
6) Persentase Puskesmas yang melakukan orientasi Program Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) sebesar 83%.
7) Persentase ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4 kali
(K4) sebesar 74%.
Maka perlu di petakan berbagai macam kebutuhan (input) agar target yang telah
ditetapkan dapat tercapai. Secara umum gambaran pencapaian tujuan dan
sasaran adalah sebagai berikut :
(a) Input
1. Tenaga pelaksana dilapangan sebagai pelaku didalam pelaksanaan
pelayanan kesehatan keluarga.
2. Pedoman didalam pelaksaaan pelayanan kesehatan keluarga
3. Alat-alat (sarana dan prasarana) pelayanan kesehatan keluarga
4. Komitmen pemerintah daerah, masyarakat, organisasi provesi (lintas
program dan lintas sector terkait) didalam mendukung pelayanan
kesehatan keluarga
5. Alokasi anggaran yang mencukupi didalam pelayanan kesehatan
keluarga

(b) Output
Didalam pelaksanaan kegiatan di tingkat pusat, Direktorat Kesehatan
Keluarga harus mengacu pada tugas pokok dan fungsinya sebagaimana
tercantum dalam Permenkes 64 tahun 2015. Untuk itu dalam pencapaian
indikator diatas Direktorat Kesehatan Keluarga melaksanakan kegiatan
Pembinaan Kesehatan Bayi, Anak dan Remaja dan Pembinaan Kesehatan
Ibu dan Reproduksi. Dan dalam pembinaan kesehatan Bayi, Anak dan
Remaja dan Pembinaan Kesehatan Ibu dan Reproduksi output yang
ditetapkan untuk dicapai antara lain :
1. NSPK Pembinaan Kesehatan Keluarga sebanyak 8 dokumen
Sepanjang perjalanan upaya peningkatan kesehatan keluarga, telah
banyak dikeluarkan pedoman. Pedoman yang ada harus sesuai dengan
LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 15
perkembangan yang terjadi, dan pelayanan yang belum diatur
pedomannya maka harus dibuat untuk menjamin kualitas dan kemanan
didalam pelaksanaan pelayanan kesehatan keluarga. Kegiatan
penyusunan NSPK pada tahun 2016 terdiri dari :
1. Penyusunan Buku Kesehatan Lansia
(a) Input
Kegiatan Penyusunan Buku Kesehatan Lansia dilaksanakan
selama 3 tahap, yaitu:
1. Pada tanggal 3-5 Maret 2016 di Bekasi Jawa Barat,
2. Pada tanggal 9-11 Juni 2016 di Bekasi Jawa Barat, dan
3. Pada tanggal 13-15 Juni di Jakarta.
Kegiatan dilaksanakan dalam rangka review terhadap Buku
Pemantauan Kesehatan Pribadi Lanjut Usia yang sudah ada
dan penyusunan Buku Kesehatan Lansia yang baru dengan
melibatkan lintas program, lintas sektor, organisasi profesi,
dinas kesehatan provinsi, dan dinkes kabupaten/puskesmas
serta akademisi.
(b) Output
Tersusunnya Buku Kesehatan Lanjut Usia yang merupakan
pembaharuan/updating serta penambahan konten (media KIE)
dari Buku Pemantauan Kesehatan Pribadi Lanjut Usia yang
sebelumnya telah disusun oleh Direktorat Bina Upaya
Kesehatan pada tahun 2013.
(c) Outcome
Dengan tersusunnya buku kesehatan lanjut usia dapat
digunakan untuk mendukung pelaksanaan pelayanan di
Posyandu Lansia dalam memantau kondisi kesehatan lansia,
sekaligus juga dapat digunakan oleh Lansia sebagai sumber
informasi, sehingga dapat mencapai lansia yang sehat,
produktif, dan mandiri.
(d) Benefits
Meningkatnya kualitas pembinaan dan pelayanan kesehatan
lansia di Puskesmas yang dilaksanakan dalam gedung maupun
di luar gedung (melalui Posyandu Lansia), serta bertambahnya
jumlah Lanjut Usia yang mendapatkan pelayanan kesehatan.
(e) Impact
Meningkatknya status kesehatan lanjut usia, Quality of Life, dan
Usia Harapan Hidup penduduk Indonesia.

2. Penyusunan Pedoman Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal
(a) Masukan (input),
Tujuan dari kegiatan ini adalah : Tersusunnya Pedoman
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal untuk Pelatihan
Pelayanan Kesehatan dan Penanganan Kegawatdaruratan

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 16


Maternal dan Neonatal. Pelaksanaan kegiatan: Kegiatan ini
dimulai dengan rapat-rapat persiapan yang dilakukan dalam
kantor dengan menggunakan subbag TU dengan rincian sbb:
Rapat persiapan pelatihan terintegrasi (kegawatdaruratan
dan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal pada 26
Januari 2016
Pertemuan Koordinasi LP/LS, organisasi Profesi, PT, lSM
dalam rangka Peningkatan Pelayanan Kesehatan keluarga
melalui Pelatihan terintegrasi pada 11-12 Februari 2016
Sementara kegiatan pokok penyusunan kurikulum modul
ini ini dilakukan di hotel Harris Tebet, Jakarta pada tanggal
7-9 Maret 2016. Kegiatan dilaksanakan melalui metode
penyajian, tanya jawab dan diskusi kelompok dengan
mengundang 35 orang yang berasal dari perwakilan organisasi
profesi (IDAI. HOGSI-POGI, IPANI, IBI), lintas program (Dit
Gizi,,PPSDM, dll) dan internal subdit maternal neonatal.

Foto Kegiatan Penyusunan Pedoman Pelayanan


Kesehatan Maternal dan Neonatal di Hotel Harris (7-9
Maret 2016)

Rapat ini lanjutkan dengan Rapat lanjutan Penyusunan


Kurikulum Modul Pelatihan Pelayanan kesehatan dan
kegawatdaruratan maternal neonatal tanggal 4-5 April 2016.
(b) Luaran (output),
Tersusunnya draft kurikulum dan modul:
Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Dasar
Pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar
Tersusunnya draft kurikulum modul pelatihan pelayanan
kesehatan dan kegawatdaruratan maternal neonatal di
fasilitas kesehatan dasar
Hambatan dalam realisasi anggaran : untuk peserta
ataupun narasumber dan organisasi profesi, seringkali tidak
dapat mengikuti lengkap keseluruhan hari kegiatan,
dikarenakan kesibukan dan kewajiban merawat pasien di
RS

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 17


(c) Hasil (outcome),
Tersusunnya draft NSPK dalam bentuk kurikulum modul untuk
peningkatan kemampuan tenaga kesehatan (dokter, bidan dan
perawat) dalam tatalaksana pelayanan kesehatan dan
kegawatdaruratan maternal dan neonatal di fasilitas kesehatan
dasar
(d) Manfaat (benefit),
Tersusunnya acuan teknis untuk peningkatan kemampuan
tenaga kesehatan (dokter, bidan dan perawat) dalam
tatalaksana pelayanan kesehatan dan kegawatdaruratan
maternal dan neonatal di fasilitas kesehatan dasar
(e) Dampak (impact),
Peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal

3. Penyusunan Buku Saku Kesehatan Reproduksi dan Seksual


Bagi Penyuluh Pernikahan (di Jawa Barat)
A. Pertemuan Penyusunan Draft Buku Saku Kesehatan
Reproduksi dan Seksual bagi Penyuluh Pernikahan di
Bogor
(a) Input
Kegiatan telah dilaksanakan dalam rangka Pertemuan
Penyusunan Draft Buku Saku Kesehatan Reproduksi dan
Seksual Bagi Penyuluh Pernikahan dilaksanakan dalam tiga
kali pertemuan:
1. Hotel Santika Bogor 22 - 24 Februari 2016
2. Hotel Amaroossa Bogor 02 - 04 Maret 2016
3. Hotel Grand Savero Bogor 20 - 22 April 2016
(b) Output
Tersusunnya draft Buku Saku Kesehatan Reproduksi dan
Seksual Bagi Penyuluh Pernikahan
(c) Outcome
Tersedianya Norma Standart Prosedur dan Kriteria dalam
upaya peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan
reproduksi serta keluarga berencana.
(d) Benefits
Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan
keluarga
(e) Impact
Meningkatnya pelayanan kesehatan masyarakat yang
berkualitas
B. Ujicoba Penyusunan Draft Buku Saku Kesehatan
Reproduksi dan Seksual bagi Penyuluh Pernikahan
(a) Input

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 18


Kegiatan telah dilaksanakan dalam rangka Ujicoba
Penyusunan Draft Buku Saku Kesehatan Reproduksi dan
Seksual bagi Penyuluh Pernikahan di 2 propinsi:
(1) Pada tanggal4 s/d 6 April 2016 di Yogyakarta
(2) Pada tanggal13 April 2016 di DKI Jakarta
(b) Output
Tersedianya dokumen draft Buku Saku Kesehatan
Reproduksi dan Seksual bagi Penyuluh Pernikahan.
(c) Outcome
Tersedianya Norma Standart Prosedur dan Kriteria dalam
upaya peningkatan akses dan kualitas pelayanan
kesehatan reproduksi serta keluarga berencana.
(d) Benefits
Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan
keluarga
(e) Impacts
Meningkatnya pelayanan kesehatan masyarakat yang
berkualitas

C. Pertemuan Finalisasi Buku Saku Kesehatan Reproduksi


dan Seksual bagi Penyuluh Pernikahan
a) Input
Kegiatan telah dilaksanakan dalam rangka Pertemuan
finalisasi Buku Saku Kesehatan Reproduksi dan Seksual
Bagi Penyuluh Pernikahan sekali di Hotel Kartika Chandra
pada tanggal 08 Juni 2016.
b) Output
Tersusunnya dumi Buku Saku Kesehatan Reproduksi dan
Seksual Bagi Penyuluh Pernikahan
c) Outcome
Tersedianya Norma Standart Prosedur dan Kriteria dalam
upaya peningkatan akses dan kualitas pelayanan
kesehatan reproduksi serta keluarga berencana.
d) Benefits
Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan
keluarga
e) Impact
Meningkatnya pelayanan kesehatan masyarakat yang
berkualitas

4. Penyusunan Modul dan Media Audio Visual Teknik Pelayanan


Kesehatan Anak dengan Disabilitas
(a) Input

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 19


5. Penyusunan Pedoman Yankes Usia Sekolah dan Remaja
tingkat Masyarakat, FKTP dan FKRTL
A. Penyusunan Modul Pelatihan Pelayanan Kesehatan Usia
Sekolah dan Remaja
(a) Input
Penyusunan Modul Pelatihan Pelayanan Kesehatan Usia
Sekolah dan Remaja telah dilaksanakan sebanyak 3 kali
pertemuan yaitu pada tanggal 17 s/d 19 Februari 2016 dan
22 s/d 24 Maret 2016 di Hotel Parklane dan pada tanggal 27
s/d 29 April 2016 di Hotel Puri Denpasar.
(b) Output
Tersusunnya Modul Pelatihan Pelayanan Kesehatan Usia
Sekolah dan Remaja
(c) Outcome
Meningkatnya kualitas Pelatihan Pelayanan Kesehatan Usia
Sekolah dan Remaja Tahun Anggaran 2016 yang lebih
terintegrasi dan komprehensif
(d) Benefits
Dengan tersusunnya Modul Pelatihan Pelayanan Kesehatan
Usia Sekolah dan Remaja dapat digunakan sebagai acuan
dan pedoman bagi pelatihan di tingkat pusat dan daerah.
(e) Impact
Dengan tersusunnya Modul Pelatihan Pelayanan Kesehatan
Usia Sekolah dan Remaja dapat meningkatkan kapasitas
petugas dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi anak
usia sekolah dan remaja sehingga dapat meningkatkan
status kesehatan anak usia sekolah dan remaja.

B. Pertemuan Penyusunan Media KIE Kader Kesehatan


Remaja
(a) Input
Pertemuan Penyusunan Media KIE Kader Kesehatan
Remaja telah dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan yaitu
pada tanggal 14-16 Maret 2016 di Hotel Parklane dan 18
20 April 2016 di Hotel Puri Denpasar. Pertemuan kedua
mengundang penanggungjawab program remaja dari 4
provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Bangka
Belitung dan Kalimantan Timur untuk memperoleh masukan.
(b) Output
Tersusunnya Media KIE Kader Kesehatan Remaja
(c) Outcome
Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan
oleh kader kesehatan bagi anak usia sekolah dan remaja.
(d) Benefits

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 20


Dengan tersusunnya Media KIE Kader Kesehatan Remaja
dapat digunakan sebagai alat bantu kader kesehatan remaja
dalam menunjang pelaksanaan tugas dan fungsinya.
(e) Impact
Dengan tersusunnya Media KIE Kader Kesehatan Remaja
dapat meningkatkan status kesehatan remaja dan
mencegah terjadinya perilaku berisiko antara lain kehamilan
dan penikahan dini yang dapat meningkatkan Angka
Kematian Ibu dan Bayi.

C. Penyusunan Pedoman Manajemen Terpadu Masalah


Kesehatan Remaja di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut
(a) Input
Pertemuan Penyusunan Pedoman Manajemen Terpadu
Masalah Kesehatan Remaja di Fasilitas Kesehatan Tingkat
Lanjut telah dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan yaitu
pada tanggal 13-15 April 2016 di Hotel Parklane dan 24 s/d
26 Agustus 2016 di Hotel Manhattan.
(b) Output
Tersusunnya Pedoman Manajemen Terpadu Masalah
Kesehatan Remaja di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut
(c) Outcome
Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan
peduli remaja di fasilitas kesehatan tingkat lanjut.
(d) Benefits
Dengan tersusunnya Pedoman Manajemen Terpadu
Masalah Kesehatan Remaja di Fasilitas Kesehatan Tingkat
Lanjut dapat digunakan sebagai pedoman yang dapat
membantu tenaga kesehatan dalam menatalaksana
masalah kesehatan atau penyakit pada remaja di fasilitas
kesehatan tingkat lanjutan.
(e) Impact
Dengan tersusunnya Pedoman Manajemen Terpadu
Masalah Kesehatan Remaja di Fasilitas Kesehatan Tingkat
Lanjut dapat dapat menurunkan angka kesakitan remaja
dan meningkatkan status kesehatan remaja.

6. Penyusunan Buku Kesehatan Lansia Lanjutan


(a) Input
Kegiatan Penyusunan Buku Kesehatan Lansia Lanjutan
(Pedoman Pemberdayaan Lansia untuk Meningkatkan Status
Kesehatan Keluarga bagi Petugas Puskesmas) dilaksanakan
selama 3 tahap, yaitu:
1. Pada tanggal 21-23 Juni 2016 dan 31 Oktober-2 November
2016 di Depok Jawa Barat,

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 21


2. Pada tanggal 6-8 November 2016 di Jakarta.
Kegiatan dilaksanakan untuk mendapatkan masukan tentang
konsep-konsep pemberdayaan dan menyusun Pedoman
Pemberdayaan Lanjut Usia dalam meningkatkan status
kesehatan keluarga dengan melibatkan Lintas Program/Lintas
Sektor, organisasi profesi dan LSM serta perwakilan dari
Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat.
(b) Output
Tersusunnya Buku Kesehatan Lansia Lanjutan (Pedoman
Pemberdayaan Lansia untuk Meningkatkan Status Kesehatan
Keluarga bagi Petugas Puskesmas).
(c) Outcome
Dengan tersusunnya Buku Kesehatan Lansia Lanjutan
(Pedoman Pemberdayaan Lansia untuk Meningkatkan Status
Kesehatan Keluarga bagi Petugas Puskesmas) dapat
digunakan untuk meningkatkan pemberdayaan dan
mengoptimalkan peran Lansia dalam lingkungan keluarga,
sehingga dapat membantu meningkatkan status kesehatan
keluarga termasuk kesehatan Lansia itu sendiri.
(d) Benefits
Meningkatnya kualitas pembinaan lansia di
komunitas/masyarakat yang dilaksanakan di luar gedung
(melalui Posyandu Lansia), serta meningkatkan pengetahuan
pada Lanjut Usia tentang kesehatan.
(e) Impact
Meningkatnya status kesehatan lanjut usia, serta menurunkan
AKI dan AKB melalui pendekatan siklus kehidupan (mulai dari
ibu hamil, ibu melahirkan, bayi, anak, remaja dan usia subur).

7. Penyempurnaan Pedoman Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum


Hamil
(a) Input
Kegiatan telah dilaksanakan dalam rangka pertemuan
penyempurnaan Pedoman Pelayanan Kesehatan Masa
Sebelum Hamil 2 (dua) kali, yaitu:
1. Pada tanggal 28-29 April 2016 di Hotel Manhattan
2. Pada tanggal 13-15 Juni 2016 di Hotel Harris Bekasi
(b) Output
Tersusunnya draft Pedoman Pelayanan Kesehatan Masa
Sebelum Hamil.
(c) Outcome
Tersedianya Norma, Standar, Prosdur, dan Kriteria dalam upaya
peningkatan akses pelayanan kesehatan reproduksi khusunya
pada masa sebelum hamil.
(d) Benefits

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 22


Meningkatkan upaya pelayanan kesehatan keluarga
(e) Impacts
Meningkatnya kualitas dan akses pelayanan kesehatan
masyarakat.

8. Review Buku Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan


Bagi Tenaga Kesehatan
A. Rapat Persiapan
(a) Input
Pertemuan Review Buku Pedoman Pelayanan Kesehatan
Anak Jalanan Bagi Tenaga Kesehatan diawali dengan rapat
persiapan yang dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2016 di
Ruang Rapat Direktorat Kesehatan Keluarga, mengundang
Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos, Dinkes
Provinsi DKI Jakarta dan beberapa Puskesmas.
(b) Output
Terlaksananya pertemuan persiapan Review Buku
Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga
Kesehatan
(c) Outcome
Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan bagi
anak jalanan.
(d) Benefits
Dengan dilaksanakannya Review Buku Pedoman
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga
Kesehatan dapat memantapkan program, memfokuskan
program pelayanan kesehatan bagi anak jalanan secara
sinergis, melakukan update data, dan memperkuat jejaring
kemitraan dengan LP/LS terkait.
(d) Impact
Dengan dilaksanakannya Review Buku Pedoman
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga
Kesehatan dapat menurunkan angka kesakitan dan
meningkatkan status kesehatan anak jalanan.
B. Pertemuan Review Buku Pedoman Pelayanan Kesehatan
Anak Jalanan Bagi Tenaga Kesehatan
(b) Input
Pertemuan Review Buku Pedoman Pelayanan Kesehatan
Anak Jalanan Bagi Tenaga Kesehatan telah dilaksanakan
sebanyak 2 kali pertemuan yaitu 15 s/d 17 Juni 2016 dan 10
s/d 12 Agustus 2016 di Hotel Kartika Chandra mengundang
peserta pusat yang terdiri dari lintas program dan lintas
sektor terkait (Dit P2MKJN, Dit P2PM, Dit P2PTM, P2JK,
Pusdatin, Balitbangkes, Dinkes Provinsi DKI Jakarta,

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 23


Kemensos, Kemendikbud, KemenkumHAM, Kemendagri,
Kemenag),.
(c) Output
Terlaksananya pertemuan Review Buku Pedoman
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga
Kesehatan
(d) Outcome
Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan bagi
anak jalanan secara sinergis.
(e) Benefits
Dengan dilaksanakannya Review Buku Pedoman
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga
Kesehatan dapat memantapkan program, memperoleh
update data, mengintegrasikan pelayanan yang sudah
dilakukan oleh K/L terkait bagi anak jalanan pada Pedoman
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan bagi Tenaga
Kesehatan dan memperkuat jejaring kemitraan dengan
LP/LS terkait. Selain juga buku ini diperlukan sebagai
lampiran bagi Permenkes Perlindungan Anak yang sedang
dalam proses penyusunan.
(f) Impact
Dengan dilaksanakannya Review Buku Pedoman
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga
Kesehatan dapat menurunkan angka kesakitan dan
meningkatkan status kesehatan anak jalanan.

C. Pertemuan Review dengan Daerah Buku Pedoman


Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga Kesehatan
(b) Input
Pertemuan Review dengan Daerah Buku Pedoman
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga
Kesehatan telah dilaksanakan 5 s/d 7 Oktober 2016 di Hotel
Kartika Chandra mengundang peserta pusat yang terdiri dari
lintas program dan lintas sektor terkait (Dit Kesehatan
Lingkungan, Dit Yankes Primer, Dit P2MKJN, Dit P2PM, Dit
P2PTM, P2JK, Dinkes Provinsi DKI Jakarta, Kemensos,
Kemendikbud, KemenkumHAM), peserta daerah terdiri
pengelola program dari 4 provinsi yaitu Aceh, Sumatera
Utara, Jawa Barat dan Jawa Timur, organisasi profesi (IDAI)
dan lembaga donor (MSF, Save The Children dan WHO).
(c) Output
Terlaksananya pertemuan Review Buku Pedoman
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga
Kesehatan
(d) Outcome

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 24


Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan bagi
anak jalanan secara sinergis.
(e) Benefits
Dengan dilaksanakannya Review Buku Pedoman
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga
Kesehatan dapat memantapkan program, memperoleh
update data, mengintegrasikan pelayanan yang sudah
dilakukan oleh K/L terkait bagi anak jalanan pada Pedoman
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan bagi Tenaga
Kesehatan dan memperkuat jejaring kemitraan dengan
LP/LS terkait. Selain juga buku ini diperlukan sebagai
lampiran bagi Permenkes Perlindungan Anak yang sedang
dalam proses penyusunan.
(f) Impact
Dengan dilaksanakannya Review Buku Pedoman
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga
Kesehatan dapat menurunkan angka kesakitan dan
meningkatkan status kesehatan anak jalanan.

2. SDM Kesehatan yang ditingkatkan kapasitasnya dalam pembinaan


Kesehatan Keluarga sebanyak 800 orang
1. Hari Anak Nasional Tahun 2016
(a) Input
Diperlukannya masyarakat yang mengetahui program kesehatan
keluarga
(b) Output
Tersosialisasinya masyarakat melalui
1. Sosialisasi di lokasi car free day terkait program kesehatan
anak
2. Seminar GeMASS
3. Workshop Kekerasan Pada Remaja
(c) Hasil
Peningkatan pengetahuan masyarakat terkait program kesehatan
anak
(d) Manfaat
Masyarakat berperan serta dalam peningkatan program
kesehatan masyarakat
(e) Dampak
Peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam upaya Penurunan
AKI dan AKB

2. Pelatihan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia dan Geriatri


(a) Input
Kegiatan Pelatihan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia dan Geriatri
dilaksanakan pada tanggal 28 Maret s/d 2 April 2016 di Hotel

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 25


Harris Bekasi. Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan
kualitas tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan
kesehatan Lanjut Usia dan Geriatri di Puskesmas. Peserta
pelatihan terdiri dari dokter Puskesmas, Penanggung Jawab
Program Kesehatan Lansia, dan perawat puskesmas dari 3
Puskesmas terpilih di Provinsi Banten dan DKI Jakarta serta 4
Puskesmas terpilih di Provinsi Jawa Barat. Pelatihan dilakukan
dengan melibatkan tim fasilitator dari Direktorat Kesehatan
Keluarga, Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam (FKUI
RSCM), Departemen Rehabilitasi Medik (FKUI RSCM),
Departemen Ilmu Gizi (FKUI RSCM), Departemen Psikiatri (FKUI
RSCM), PPDGI, PPNI, Lintas Program Kemenkes, serta
widyaiswara dari BPPK Jakarta.
(b) Output
Meningkatkan kompetensi dan kapasitas teknis baik secara teori
maupun praktek di lapangan, bagi para petugas kesehatan dalam
memberikan pelayanan kesehatan Lanjut Usia di Puskesmas.
(c) Outcome
Petugas Kesehatan diharapkan memiliki komitmen yang tinggi
dalam memberikan kontribusi ilmu yang dimiliki untuk mendukung
program pemerintah dalam rangka mengembangkan Puskesmas
Santun Lansia.
(d) Benefits
Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan Lanjut Usia di
Puskesmas, bertambahnya jumlah tenaga kesehatan yang
kompeten dalam pelayanan kesehatan lanjut usia, Puskesmas
yang memberikan pelayanan Santun Lanjut Usia, meningkatkan
jumlah penduduk Lansia yang mendapatkan pelayanan kesehatan.
(e) Impact
Meningkatknya status kesehatan lanjut usia, Quality of Life, dan
Usia Harapan Hidup penduduk Indonesia.

3. Orientasi Tim Pengkaji AMP


(a) Masukan (input),
Tujuan kegiatan:
Kegiatan ini bertujuan untuk menyiapkan Tim Pengkaji AMP yang
terdiri dari dokter spesialis obstetric ginekologi, dokter spesialis
anak, Bidan dan pengelola proram KIA agar dapat melakukan
pengkajian kasus kematian maternal dan neonatal dan
menghasilkan rekomendasi yang tepat.
Pelaksanaan kegiatan:
Orientasi ini dilaksanakan selama 4 (empat) hari di Jakarta pada
tanggal 30 Mei 2 Juni 2016 bertempat di Hotel Grand Cempaka
(Angkatan 1) dan tanggal 13 16 Juni 2016 bertempat di Hotel
Kartika Chandra (Angkatan 2).

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 26


Peserta orientasi berasal dari 34 provinsi. Jumlah peserta daerah
dari masing-masing provinsi adalah 6 (enam) orang, yaitu
pengelola program KIA, pengelola program yankes, dokter
spesialis obsgyn, dokter spesialis anak, bidan dan penanggung
jawab manajemen data di RS provinsi (Sekretaris PONEK). Total
peserta daerah adalah 204 orang (@102 orang per angkatan).
Jumlah peserta pusat adalah 21 orang tiap angakatan yang terdiri
dari pelaksana (Direktorat Kesehatan Keluarga) dan peserta pusat
(fasilitator nasional AMP, POGI, IDAI dan lain - lain).
(b) Luaran (output),
Terorientasinya Tim Pengkaji AMP sejumlah 204 orang yang
berasal dari 34 provinsi tentang pengkajian kasus kematian
maternal dan neonatal
(c) Hasil (outcome),
Peningkatan kompetensi Tim Pengkaji AMP dalam melakukan
pengkajian kematian maternal dan neonatal dan menghasilkan
rekomendasi yang tepat.
(d) Manfaat (benefit),
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
(e) Dampak (impact),
Penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.

4. Pemberdayaan SDM dalam Rangka Peningkatan Kualitas


Program Kesehatan Keluarga
(a) input
Kebutuhan organisasi atas personil yang solid setelah
penggabungan direktorat.
(b) Output
Personil Direktorat Kesehatan Keluarga memahami posisi dan
perannya di Direktorat Kesehatan Keluarga
(c) Hasil
Kinerja direktorat yang baik
(d) Manfaat
Pencapaian capaian kinerja direktorat yang baik
(e) Dampak
Pencapaian target-target sasaran kesehatan keluarga sebagai
upaya penurunan AKI dan AKB

5. Pelatihan Bagi Pelatih Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia dan


Geriatri
(a) Input
Kegiatan Pelatihan bagi Pelatih Pelayanan Kesehatan Lanjut
Usia dan Geriatri dilaksanakan pada 2 Angkatan masing-masing
selama 7 hari, yaitu:

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 27


1. Angkatan ke-I pada tanggal 10-16 April 2016 di Depok Jawa
Barat, dengan peserta yang berasal dari 10 Provinsi yaitu:
Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bali, NTB, Gorontalo,
Riau, Jambi, Lampung, Bangka Belitung dan Kepulauan
Riau dengan jumlah 3 orang/provinsi,
2. Angkatan ke-II pada tanggal 24-30 April 2016 di Bekasi
Jawa Barat, dengan peserta yang berasal dari 10 Provinsi
yaitu: Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur,
Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah,
Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua)
dengan jumlah 3 orang/provinsi.
Peserta pelatihan terdiri dari dokter Puskesmas, Penanggung
Jawab Program Kesehatan Lansia di Dinas Kesehatan Provinsi,
dan Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD. Pelatihan dilakukan
dengan mengundang tim fasilitator dari Direktorat Kesehatan
Keluarga, Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam (FKUI
RSCM), Departemen Rehabilitasi Medik (FKUI RSCM),
Departemen Ilmu Gizi (FKUI RSCM), Departemen Psikiatri (FKUI
RSCM), PPDGI, PPNI, Lintas Program Kemenkes, serta
widyaiswara BPPK Jakarta.
(b) Output
Terbentuknya tim pelatih (fasilitator) di tingkat Provinsi yang
dapat memberikan pelatihan bagi tenaga kesehatan di
Puskesmas.
(c) Outcome
Tim fasilitator diharapkan memiliki komitmen yang tinggi dalam
memberikan kontribusi ilmu yang dimiliki, untuk mendukung
program pemerintah dalam rangka mengembangkan Puskesmas
Santun Lansia serta pelayanan rujukannya di Rumah Sakit.
(d) Benefits
Meningkatnya kualitas pembinaan dan pelayanan kesehatan
lansia di Puskesmas dan Rumah Sakit, bertambahnya jumlah
tenaga kesehatan yang kompeten dalam pelayanan kesehatan
lanjut usia, meningkatkan akses pelayanan kesehatan kepada
penduduk Lansia, bertambahnya jumlah Puskesmas yang
memberikan pelayanan Santun Lanjut Usia, jumlah Rumah Sakit
dengan pelayanan Geriatri terpadu,
(e) Impact
Meningkatkan status kesehatan lanjut usia, Quality of Life dan
Umur Harapan Hidup penduduk Indonesia.

6. Pelatihan TOT SDIDTK Revisi 2015


(a) Input

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 28


Untuk menjamin pelaksanaan program SDIDTK, nakes perlu
dilatih SDIDTK, untuk menjamin kebutuhan pelaksanaan pelatih,
maka dilaksanakan TOT SDIDTK edisi revisi 2015
(b) Ouput
Terlatihnya trainer untuk melaksanakan pelatihan SDIDTK di
daerah
(c) Outcome
Daerah mampu menyelenggarakan pelatihan SDIDTK
(d) Benefit
Mempermudah pelaksanaan pelatihan di daerah karena daerah
sudah memiliki tenaga pelatih
(e) Impact
Meningkatkan akses pelayanan kesehatan anak

7. Pelatihan Tatalaksana Kasus KekerasanTerhadap


Perempuan/Anak (KtP/A) di Puskesmas Tingkat provinsi di Pusat
(a) Input
Kegiatan yang sudah dilaksanakan dalam rangka Pelatihan Tata
Laksana Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
(KtP/A) di Puskesmas Tingkat Provinsi di Pusat pada tanggal 10-
14 Oktober 2016 di Hotel Bidakara, Jakarta.
(b) Output
Tersedianya SDM Kesehatan yang ditingkatkan kapasitasnya
dalam Tata Laksana Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan
Anak (KtP/A) di Puskesmas Tingkat Provinsi.
(c) Outcome
Meningkatnya pelayanan kasus kekerasan terhadap perempuan
dan anak di bidang akses dan kualitas pelayanan kesehatan
reproduksi serta keluarga berencana.
(d) Benefits
Meningkatnya kualitas dan akses pelayanan kesehatan keluarga.
(e) Impacts
Meningkatnya kualitas dan akses pelayanan kesehatan
masyarakat.

8. Pelatihan Bagi Pelatih Fasilitator Kelas Ibu


(a) Masukan (input),
Kegiatan ini bertujuan untuk menyiapkan tenaga pelatih fasilitator
kelas ibu di di tingkat provinsi dan kabupaten/ kota yang akan
melatih fasilitator yang akan melaksanakan kelas ibu yaitu kelas
ibu hamil dan kelas ibu balita di tingkat puskesmas dan desa.
Pelaksanaan kegiatan:
Pelatihan ini dilaksanakan selama 6 (enam) hari di Jakarta pada
tanggal 18 23 April 2016 bertempat di Hotel Best Western
Cawang. Jumlah peserta daerah yang hadir berjumlah 47 orang

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 29


yang berasal dari 17 provinsi yaitu NTT, NTB, Kalbar, Kalteng,
Kalsel, Kaltim, Kaltara, Sulut, Gorontalo, Sulteng, Sulbar, Sulsel,
Sultra, Malut, Maluku, Pabar, Papua.. Masing - masing provinsi
mengirimkan 3 orang yang terdiri dari pengelola program KIA
dinkes provinsi, perwakilan Bapelkes, dan perwakilan IBI cabang
provinsi kecuali Provinsi Kalimantan Selatan dan Papua Barat
hanya mengirimkan 2 orang dan Provinsi Sulawesi Selatan hanya
mengirimkan 1 orang. Jumlah peserta pusat adalah 21 orang
yang terdiri dari pelaksana (Direktorat Kesehatan Keluarga) dan
peserta pusat (fasilitator Kelas Ibu dan MOT).
(b) Luaran (output)
Dihasilkannya tenaga pelatih fasilitator kelas ibu di di tingkat
provinsi dan kabupaten/ kota yang akan melatih fasilitator yang
akan melaksanakan kelas ibu yaitu kelas ibu hamil dan kelas ibu
balita di tingkat puskesmas dan desa sejumlah 47 orang dari 17
Provinsi
(c) Hasil (outcome)
Peningkatan pengetahuan pengelola program KIA provinsi,
Bapelkes dan Bidan dalam melatih fasilitator kelas ibu dalam
melaksanakan kelas ibu hamil dan kelas ibu balita di tingkat
puskesmas dan desa.
(d) Manfaat (benefit),
Peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai
kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas,
perawatan bayi baru lahir, serta pemenuhan pelayanan
kesehatan, gizi dan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan
anak balita dengan menggunakan Buku KIA.
(e) Dampak (impact),
Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin,
nifas, bayi baru lahir dan bayi dan anak balita melalui
pemberdayaan keluarga dan masyarakat.

9. Pelatihan Pelatih Pelayanan Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja


(Angkatan I)
(a) Input
Pelatihan Pelatih Pelayanan Kesehatan Usia Sekolah dan
Remaja (Angkatan I) telah dilaksanakan 16 s/d 26 Mei 2016 di
Hotel Maharani. Peserta terdiri dari lintas program Kemkes dan
pengelola program UKS dan PKPR di Dinkes dan Puskesmas
Prov DKI Jakarta.
(b) Output
Terlatihnya tenaga kesehatan di Puskesmas terkait pelayanan
kesehatan usia sekolah dan remaja
(c) Outcome

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 30


Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan anak usia
sekolah dan remaja.
(d) Benefits
Dengan terlatihnya tenaga kesehatan di Puskesmas terkait
pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja dapat
meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam menatalaksana
masalah kesehatan atau penyakit pada anak usia sekolah dan
remaja di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
(f) Impact
Dengan terlatihnya tenaga kesehatan di Puskesmas terkait
pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja dapat
menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan status
kesehatan anak usia sekolah dan remaja.

10. Pelatihan Pelatih Pelayanan Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja


(Angkatan II)
(a) Input
Pelatihan Pelatih Pelayanan Kesehatan Usia Sekolah dan
Remaja (Angkatan II) telah dilaksanakan 18 s/d 28 Juli 2016 di
Hotel Maharani. Peserta pelatihan adalah pengelola dan
penanggung jawab program dari Dinas Kesehatan dan
Puskesmas dari 9 provinsi fokus (Sumatera Utara, Sumatera
Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat,
Banten, DKI Jakarta, dan Sulawesi Selatan).
(b) Output
Terlatihnya tenaga kesehatan di Puskesmas terkait pelayanan
kesehatan usia sekolah dan remaja
(c) Outcome
Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan anak usia
sekolah dan remaja.
(d) Benefits
Dengan terlatihnya tenaga kesehatan di Puskesmas terkait
pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja dapat
meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam menatalaksana
masalah kesehatan atau penyakit pada anak usia sekolah dan
remaja di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
(e) Impact
Dengan terlatihnya tenaga kesehatan di Puskesmas terkait
pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja dapat
menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan status
kesehatan anak usia sekolah dan remaja.

11. Orientasi Bayi Baru Lahir


(a) Masukan (input):
Tujuan dari kegiatan ini adalah:

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 31


Meningkatnya keterampilan dan kapasitas tenaga
kesehatan sebagai fasilitator pelatihan Skrining Bayi Baru
lahir
Pengelola Program Kesehatan Anak yang terlatih mampu
menjadi Skrining Bayi Baru Lahir
Tersedianya Fasilitator Skrining Bayi Baru Lahir
Pelaksanaan kegiatan:
Kegiatan ini dilakukan dalam 2 angkatan yang rangkaian
kegiatannya dimulai dengan rapat persiapan tanggal 1 Maret
2016 di RR. 713 Direktorat Kesehatan Keluarga yang dihadiri
oleh internal panitia (subdit Kesehatan maternal dan neonatal dan
internal dit kesga) yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan
Orientasi Skrining Bayi Baru Lahir Angkatan I di Hotel
Aryaduta Bandung tanggal 2-5 Maret 2016 yang di hadiri oleh
34 peserta daerah dari 17 provinsi (Pabar, Jambi, Riau,
Bengkulu, Maluku, NTT, NTB, Gorontalo, Sumatera Utara,
Bangka Belitung, Kaltara, Kalbar, Lampung, Sumsel, Banten,
Maluku Utara dan kepulauan Riau) dan dilanjutkan dengan
Angkatan II di Hotel Holiday Inn, Bandung tanggal 12-15 April
2016 yang dihadiri oleh 38 peserta dari 17 provinsi (Aceh,
Sumatera Barat, DKI, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY,
Jawa Timur, Bali, Kalimantan timur, Kalimantan Selatan,
Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi
Tenggara, Sulawesi Selatan)
Kegiatan orientasi Skrining BBL dilaksanakan melalui metode
penyajian, tanya jawab dan diskusi kelompok dan praktek
lapangan.
Diakhir rangkaian kegiatan terkait Skrining Bayi Baru Lahir
dilakukan Rapat Evaluasi Pelaksanaan SHK pada tanggal 6
Oktober 2016 dengan mengundang 40 orang yang berasal dari
Lintas Program (Hukormas, BBLK Jakarta, Dit. Oblik,
Balitbangkes, Dit. Fasyankes, RSCM, RSHS, Dinkes Jabar,
Organisasi profesi (IDAI, Patklin, PPNI/IPANI, Patelki)dan internal
Dit. Kesga
(b) Luaran
Terlaksananya Orientasi Skrining BBL 2 angkatan dan
dihasilkannya 72 fasilitator Skrining BBL yang berasal dari 34
Provinsi
Realisasi Fisik :
Terlaksananya orientasi Skrining Bayi Baru Lahir (2 angkatan)
dan dihasilkannya 72 fasilitator skrining BBl dari 17 provinsi.
Hambatan dalam realisasi anggaran : harga tiket peserta dibawah
pagu
(c) Hasil

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 32


Dihasilkannya 72 fasilitator Skrining BBl yang berasal dari 17
provinsi
(d) Manfaat
Peningkatan kapasitas nakes di dalam skrining bayi baru lahir
khususnya SHK
(e) Dampak:
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan neonatal

12. Orientasi Tenaga Kesehatan dalam Surveilans Kelainan Bawaan


Berbasis RS di Jakarta
(a) Masukan (input):
Meningkatnya keterampilan dan kemampuan tenaga kesehatan
dalam surveilans kelainan bawaan berbasis Rumah Sakit
sehingga nantinya Indonesia mempunyai data kondisi kelainan
bawaan berbasis RS
Pelaksanaan kegiatan:
Rangkaian kegiatan Orientasi Tenaga Kesehatan dalam
Surveilans Kelainan Bawaan Berbasis Rumah Sakit diawali
dengan melakukan rapat persiapan pada tanggal 15 Juli 2016 di
RR 713 Kantor Kementerian Kesehatan yang mengundang 25
orang yang berasal dari FKMUI, FKUI RSCM, RSAB Harapan
kita, Pormiki, Badan Litbangkes, WHO indonesia serta internal
subdit Kesehatan maternal dan neonatal serta internal Direktorat
Kesehatan Keluarga.
Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan kegiatan inti yakni
Orientasi Tenaga Kesehatan dalam Surveilans Kelainan
Bawaan Berbasis Rumah Sakit dilaksanakan pada 25-28 Juli
2016 di Hotel Ciputra jakarta dengan mengundang 46 orang
peserta daerah dan 10 orang peserta lokal yang terdiri dari para
perekam medis dan dokter spesialis anak dari 13 Rumah Sakit
pelaksanaan surveilans kelainan bawaan di Tahun 2014 (RSUP
H. Adam Malik, medan, RSIA Budi kemuliaan Jakarta, RS Bunda
Jakarta, RSUP dr. kariadi, RSUP. Dr. M. Djamil, Padang, RSUP
Sanglah Denpasar, RSUP dr. Sardjito, RSUP dr. Soetomo, RSUP
dr. Wahidin Sudiro Husodo, RS. Hermina Jakarta dan RSUP dr.
Hasan Sadikin Bandung), para dokter spesialis anak, obgyn,
Penanggung-jawab ruang bersalin, perawat ruang perinatologi
dan perekam medis dari 6 RS pengembangan surveilans
kelainan bawaan 2016 (RSUP. H. Mohammad Hoesin, RSUD
Pariaman, RSUD Pringadi, RSUD Kandou, RSUD NTB dan
RSUD Wates)
(b) Luaran
Terlaksananya Orientasi Tenaga Kesehatan dalam Surveilans
Kelainan bawaan Berbasis RS dan peserta yang berasal dari

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 33


intitusi terundang berkomintment melaksanakan surveilans
kelainan bawaan berbasis RS di institusi tempat kerjanya.
Realisasi Fisik : Terlaksananya orientasi nakes dalam Surveilans
Kelainan Bawaan Berbasis RS
Hambatan dalam realisasi anggaran : harga tiket peserta
dibawah pagu.
(c) Hasil
Terorientasinya 56 orang nakes dalam Surveilans Kelainan
Bawaan dan peserta yang berasal dari intitusi terundang
berkomintment melaksankan surveilan kelainan bawaan berbasis
RS di institusi tempat kerjanya.
(d) Manfaat
Peningkatan kapasitas nakes di RS di dalam Surveilans Kelainan
Bawaan berbasis RS
(e) Dampak:
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan neonatal

13. Orientasi Model Pelaksanaan UKS Dalam Rangka Peningkatan


Gizi dan Keamanan Pangan Sekolah Dasar Bagi Kepala
Sekolah,Guru UKS, Tenaga Kesehatan Di Kepulauan Seribu dan
Jakarta Pusat
(a) Orientasi Model Pelaksanaan UKS
A. Input
Kegiatan orientasi telah dilaksanakan pada 13 15 Juli 2016
di Hotel Kartika Chandra. Kegiatan dihadiri oleh Kepala
Sekolah dan guru UKS dari 16 sekolah model UKS,
pengelola program UKS dan Kesehatan Lingkungan dari
Puskesmas Pembina sekolah model UKS, Suku Dinas
Kesehatan dan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Pusat dan
Kepulauan Seribu, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan
Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, Kanwil Agama,
BPOM, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
Kementerian Agama serta lintas program Kementerian
Kesehatan (Dit. Kesehatan Lingkungan, Dit. Gizi Masyarakat,
Dit. Kesehatan Kerja dan Olah Raga, Dit. Promosi Kesehatan
dan Pemberdayaan Masyarakat). Pada kegiatan tersebut
diorientasikan materi untuk pelaksanaan dan peningkatan
model UKS di sekolah antara lain : pengelolaan kantin dan
PKL sehat di sekolah, pengawasan makanan dan minuman
berbahaya di sekolah, penjaringan kesehatan/pemeriksaan
berkala dan penggunaan Buku Rapor Kesehatanku, aktifitas
fisik pada pergantian pelajaran, penerapan gizi seimbang di
sekolah, kegiatan sikat gigi bersama, literasi kesehatan di
sekolah, pelaksanaan kebersihan dan pengelolaan sampah,

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 34


pelaksanaan kegiatan psn di sekolah (jumantik), penanaman
dan perawatan tanaman pangan.
(b) Output
Terorientasinya guru UKS, kepala sekolah dan pengelola
program UKS di Puskesmas terkait pelaksanaan UKS
terintegrasi melalui Trias UKS.
(c) Outcome
Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan anak
sekolah melalui UKS.
(d) Benefits
Dengan orientasi ini dapat memberikan pembekalan kepada
warga sekolah dan tenaga kesehatan di puskesmas tentang
pelaksanaan UKS di sekolah melalui Trias UKS dengan
kegiatan yang kongkrit, khususnya dalam hal peningkatan
gizi dan keamanan pangan.
(e) Impact
Dengan orientasi ini dapat menurunkan angka kesakitan dan
meningkatkan status kesehatan anak usia sekolah.
B. Evaluasi Model Pelaksanaan UKS
(a) Input
Pertemuan Evaluasi Model Pelaksanaan UKS telah
dilaksanakan 5 Desember 2016 di Hotel Kartika Chandra.
Peserta pertemuan terdiri dari lintas program (Dit Gizi
Masyarakat, Dit Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan
Masyarakat, Dit Kesehatan Lingkungan, Dit P2PTVZ, HPU,
Dinkes Provinsi DKI Jakarta, Sudinkes Jakarta Pusat dan
Sudinkes Kepulauan Seribu) dan lintas sektor (Kemendagri,
Kemendikbud, Kemenag, BPOM), 16 sekolah model serta
puskemas yang membina sekolah tersebut, lembaga donor
(UNESCO, UNICEF, Unilever).
(b) Output
Diperolehnya masukan dan rencana tindak lanjut terkait
upaya pengembangan model peningkatan gizi dan keamanan
pangan melalui UKS/M
(c) Outcome
Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan anak di
sekolah dalam memilih pangan yang aman dan bergizi,
mewujudkan kualitas pangan yang sehat dan aman bagi
anak di sekolah dan meningkatkan jumlah TPM (tempat
pengelolaan makanan) yang memenuhi syarat kesehatan.
(d) Benefits
Dengan terlaksananya Evaluasi Model Pelaksanaan UKS
dapat memberikan umpan balik bagi pusat dan
provinsi/kab/kota untuk mengembangkan model peningkatan

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 35


gizi dan keamanan pangan melalui UKS dan direplikasikan di
sekolah lain.
(e) Impact
Dengan terlaksananya Evaluasi Model Pelaksanaan UKS
dapat menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan status
kesehatan anak usia sekolah.

14. Orientasi SDM dalam Tatakelola Manajemen


a. Input.
Direktorat Kesehatan Keluarga yang merupakan Organisasi Baru,
yang lahir dari Permenkes 64 tahun 2015, mengemban banyak
program yang dirasakan baru oleh personil direktyorat kesehatan
keluarga.
Untuk menjamin keberlangsungan peogram yang baik maka
personil direktorat kesehatan keluarga perlu mendapatkan
pemahaman yang utuh terkait program kesehata keluarga
sehingga program dapat saling bersinergi.
(b) Output
seluruh personil direktorat kesehatan keluarga memahami program
kesehatan keluarga dan isu-isu penting terkait kesehatan keluarga.
(c) Hasil
Peningkatan sinergitas pelaksanaan program kesehatan keluarga
(d) Manfaat
Meningkatkan pengetahuan personil Direktorat Kesheatan
Keluarga terkait kesehatan keluarga dan peran masing-masing
subdit,
Meningkatkan keterpaduan dan sinergitas antar program di
lingkungan kesehatan keluarga
(e) Dampak
Pencapaian indikator-indikator kesehatan keluarga dengan efektif
dan efisen

3. Dukungan Sarana dan Prasarana Pembinaan Kesehatan Keluarga


sebanyak 4.934.541 unit.
Bentuk kegiatan dukungan sarana dan prasarana pembinaan kesehatan
keluarga adalah berupa kegiatan pengadaan. Yang terdiri dari :
1. Pengadaan Alat Pengolah Data dan Alat Operasional
Perkantoran
2. Pencetakan Buku dan Media KIE Kesehatan Keluarga
3. Menyediakan Media KIE Kesehatan Keluarga
4. Menyediakan Kit Kesehatan Keluarga.
a. Input
Karena bentuk kegiatan dukungan sarana prasarana relatif sama
yaitu pengadaan maka pada penjelasan input ke empat kegiatan

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 36


tersebut kami didalam mencapai output sebesar 4.934.541 unit
maka dibutuhkan :
1. pegawai yang berkompetensi didalam proses pengadaan
(Pengadaan dilakukan oleh ULP dan Direktorat Kesehatan
Keluarga)
2. Data dukung usulan pengadaan
3. Ketersediaan anggaran (terlampir dalam tabel realisasi
anggaran)
b. Output
1. Pengadaan Alat Pengolah Data dan Alat Operasional
Perkantoran
Output Volume
Laptop/notebook 10
Komputer PC 10
Printer 10
Projector/LCD 7
Wireless Presentation System
(WPS) 2
Handytalky + Aksesoris 8
Lemari Data Kepegawaian dan
Arsip 6
Lemari Besi Penyimpan Dokumen 2
Router Mikrotik 2
Server Database 1
Mesin Faximile 2
Media Informasi (TV) 1
Dispenser 2
Braket 1
Kamera SLR + Aksesoris 1

2. Pencetakan Buku dan Media KIE Kesehatan Keluarga


Output Volume
Buku Pedoman SHK 5,000
Buku KIA Revisi 2015 4,850,000
Juknis Buku KIA Revisi 2015 10,524

3. Menyediakan Media KIE Kesehatan Keluarga


Output Volume Satuan
Paket Kelas Ibu Hamil 150 SET
Paket Kelas Ibu Balita 150 SET

4. Menyediakan Kit Kesehatan Keluarga.


Output Volume Satuan
UKS KIT 4,110 KIT

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 37


Alat Penunjang KIE Puskesmas
24 SET
Pembina Pemenang LSS
Tas + Presenter Remote With
Laser Penunjang KIE
24 SET
Puskesmas Pembina
Pemenang LSS
Alat Bantu Pelatihan Pelayanan
40 PT
Maternal dan Neonatal
Poster Alat Bantu Pelatihan 10 PT
c. Hasil (outcome)
Dengan adanya sarana dan prasaran yang memadai maka kegiatan
dapat berjalan dengan baik dan berkualitas.
d. Manfaat (benefit)
1. Pengadaan Alat Pengolah Data dan Alat Operasional
Perkantoran
Penerima manfaat kegiatan ini adalah pegawai dilingkungan
direktorat kesehatan keluarga. Dengan adanya sarana dan
prasaran yang memadai maka pegawai dapat bekerja dengan
optimal
2. Pencetakan Buku dan Media KIE Kesehatan Keluarga
kegiatan ini termasuk kedalam kegiatan yang barang (output)
langsung diberikan kepada masyarakat. Dengan adanya Buku
KIA maka masyarakat akan terinformasikan terkait pelayanan
kesehatan ibu yang berkualitas. Adapun untuk juknis, penerima
manfaatnya adalah tenaga kesehatan dilapangan didalam
pelaksanaan fungsi promotif preventif menggunakan buku KIA,
dan pelaksanaan skrining Hipotiroid Kongenital.
3. Menyediakan Media KIE Kesehatan Keluarga
Dengan adanya output dari kegiatan ini maka kegiatan kelas ibu
dapat berjalan dengan optimal dan berkualitas
4. Menyediakan Kit Kesehatan Keluarga.
Terdapat 2 penerima manfaat dari kegiatan ini yaitu pelaksana
program UKS (UKS Kit, Alat Penunjang KIE Puskesmas
Pembina Pemenang LSS, Tas + Presenter Remote With Laser
Penunjang KIE Puskesmas Pembina Pemenang LSS) dan
pelaksana kegiatan pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal (Alat Bantu Pelatihan Pelayanan Maternal dan
Neonatal, Poster Alat Bantu Pelatihan). Dengan adanya kegiata
pengadaan ini maka pelaksanaan UKS dan pelayanan
kesehatan maternal dan neonatal dapat sesuai standar.

e. Dampak (Impact)
1. Pengadaan Alat Pengolah Data dan Alat Operasional
Perkantoran

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 38


Dampak dari kegiatan ini adalah peningkatan kinerja pegawai
dilingkungan Direktorat Kesehatan Keluarga
2. Pencetakan Buku dan Media KIE Kesehatan Keluarga
Dampak yang timbul dari kegiatan ini adalah perubahan perilaku
dan peningkatan status kesehatan ibu dan anak
3. Menyediakan Media KIE Kesehatan Keluarga
Dampak dari kegiatan ini adalah informasi yang terserap oleh
peserta kelas ibu akan semakin banyak dan mudah dipahami
yang berujung pada peningkatan status kesehatan ibu dan anak
4. Menyediakan Kit Kesehatan Keluarga
Dengan Kit yang diadakan maka pelayanan berjalan optimal
dan pelayanan terkait UKS dan pelayanan maternal dan
neonatal dapat berkualitas dan memuaskan

4. Bimbingan Teknis dan Evaluasi pembinaan Kesehatan Keluarga


sebanyak 100 kali (satuan 100 dokumen laporan pelaksanaan
bimbingan)
1. Monitoring dan Evaluasi Program Kesehatan Keluarga
(a) Input
Dengan telah tersosialisasinya program kesehatan keluarga, maka
perlu dipastikan bahwa pelaksanaan program sesuai dengan
standar yang ada untuk itu perlu dilakukan kegiatan untuk melihat
langsung kondisi dilapangan terkait pelaksanaan standar.
(b) Output
Dokumen monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan program
kesehatan keluarga yang sesuai standar
(c) Outcome
Target indikator kesehatan kelaurga dapat tercapai
(d) Benefit
1. Meningkatkan pengetahuan pengelola program di daerah
2. Mengetahui implementasi pelaksanaan program didaerah
3. Mendapatkan bahan evaluasi dalam perbaikan program
selanjutnya
(e) Impact
1. Peningkatan kualitas pelaksaan program kesehatan keluarga
2. Penurunan AKI dan AKB

2. Koordinasi Teknis dan Manajemen Program Kesehatan Keluarga


(a) Input
Kesehatan keluarga sangat terkait lintas program dan lintas sector,
untuk itu perlu dilaksanakan koordinasi untuk menjamin
pelaksanaan program
(b) Output
Dokumen koordinasi pelaksanaan program kesehatan keluarga
yang sesuai standar

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 39


(c) Outcome
Target indikator kesehatan kelaurga dapat tercapai
(d) Benefit
1. Meningkatkan pengetahuan pengelola program di daerah,
LP/LS
2. Mengetahui implementasi pelaksanaan program didaerah,
LP/LS
3. Mendapatkan bahan evaluasi dalam perbaikan program
selanjutnya
(e) Impact
3. Peningkatan kualitas pelaksaan program kesehatan keluarga
4. Penurunan AKI dan AKB

3. Perjalanan Pimpinan dalam rangka Pembinaan Program Kesehatan


Keluarga
(a) Input
Kesehatan keluarga sangat terkait lintas program dan lintas sector,
untuk itu perlu advokasi dan koordinasi untuk menjamin
pelaksanaan program
(b) Output
Dokumen advokasi pelaksanaan program kesehatan keluarga
(c) Outcome
Target indikator kesehatan kelaurga dapat tercapai
(d) Benefit
1. Meningkatkan pengetahuan dan komitmen pengelola program
di daerah, LP/LS
2. Mengetahui implementasi pelaksanaan program didaerah,
LP/LS
3. Mendapatkan bahan evaluasi dalam perbaikan program
selanjutnya
(e) Impact
1. Peningkatan kualitas pelaksaan program kesehatan keluarga
2. Penurunan AKI dan AKB

4. Fasilitasi dan Pendampingan Pusat dalam Rangka Peningkatan


Kualitas Pelayanan Kesehatan Keluarga TA 2016
a) Input
Kegiatan yang sudah dilaksanakan dalam rangka Fasilitasi dan
Pendampingan Pusat dalam rangka Peningkatan Kualitas Pelayanan
Kesehatan Keluarga ke 9 provinsi, sebagai berikut:
1. Sumatera Barat pada tanggal 11-14 April 2016
2. Kalimantan Selatan pada tanggal 13-16 April 2016
3. Sulawesi Utara pada tanggal 14-17 Juni 2016
4. Nusa Tenggara Timur pada tanggal 8-11 Juni 2016
5. Sulawesi Tengah pada tanggal 8-11 Agustus 2016

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 40


6. Sulawesi Barat pada tanggal 9-12 Agustus 2016
7. Papua Barat pada tanggal 23-26 Oktober 2016
8. Kalimantan Utara pada tanggal 28 November 1 Desember
2016
9. Aceh pada tanggal 29 November 2 Desember 2016
Dari kegiatan tersebut mencapai realisasi sebesar Rp235.604.800
b) Output
Tersedianya dokumen bimbingan teknis dan evaluasi pembinaan
kesehatan reproduksi sebanyak 9 buah.
c) Outcome
Terlaksananya pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang akses
dan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi serta keluarga
berencana.
d) Benefits
Meningkatnya kualitas dan akses pelayanan kesehatan keluarga.
e) Impacts
Meningkatnya kualitas dan akses pelayanan kesehatan masyarakat

5. Kampanye Kesehatan Lanjut Usia


Salah satu bentuk perhatian pemerintah kepada Lanjut Usia adalah
pencanangan tanggal 29 Mei sebagai Hari Lanjut Usia Nasional
(HLUN). Peringatan HLUN Tahun 2016 ini bertemakan Bersama
Lansia, dari Lansia, untuk Lansia, dengan sub tema bidang
kesehatan yaitu Lansia Sehat, Lansia Aktif dan Produktif.
Peringatan HLUN ini dapat digunakan sebagai momen untuk
meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat terhadap Lanjut
Usia dengan cara melakukan sosialisasi dan kampanye mengenai
kesejahteraan Lanjut Usia termasuk kesehatan Lanjut Usia itu sendiri.
Pelaksanaan HLUN 2016 merupakan serangkaian kegiatan yang terdiri
dari:
A. Rapat Persiapan Hari Lanjut Usia Nasional
(a) Input
Kegiatan rapat persiapan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN)
dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2016 di Jakarta. Kegiatan ini
dilaksanakan dalam rangka persiapan rangkaian kegiatan HLUN
yang berupa: kampanye kesehatan Lansia di area car free day,
workshop dan peluncuran Rencana Aksi Nasional (RAN)
kesehatan Lansia tahun 2016-2019, dan Bakti sosial
pemeriksaan kesehatan Lansia bekerja sama dengan
Kementerian Sosial dan Dinas Kesehatan Kota Bekasi. Peserta
pertemuan berasal dari panitia internal Direktorat Kesehatan
Keluarga, Lintas Program di Kemenkes, Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dan
Kementerian Sosial.
(b) Output

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 41


Konsep rencana pelaksanaan dan SK Tim Panitia Pelaksanaan
rangkaian kegiatan Hari Lanjut Usia Nasional.
(c) Outcome
Ketersediaan dokumen rencana teknis pelaksanaan kegiatan,
layout acara, media promosi kesehatan dan KIE HLUN, SK Tim
Panitia Pelaksanaan rangkaian kegiatan HLUN tahun 2016.
(d) Benefits
Persiapan rangkaian perayaan HLUN tahun 2016 yang berupa:
kampanye kesehatan Lansia di area car free day, workshop dan
peluncuran Rencana Aksi Nasional (RAN) kesehatan Lansia
tahun 2016-2019, dan Bakti sosial pemeriksaan kesehatan
Lansia untuk meningkatkan kualitas kesehatan Lanjut Usia.
(e) Impacts
Meningkatkan status kesehatan lanjut usia, Quality of Life dan
Umur Harapan Hidup penduduk Indonesia.

B. Rapat Persiapan Workshop Kesehatan Lansia


(a) Input
Kegiatan rapat persiapan workshop kesehatan Lansia
dilaksanakan pada tanggal 22-23 April tahun 2016 di Bogor.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka persiapan workshop
kesehatan Lansia dan dokumen buku Rencana Aksi Nasional
(RAN) Kesehatan Lanjut Usia tahun 2016-2019. Peserta kegiatan
berasal dari internal Direktorat Kesehatan Keluarga, Lintas
Program di lingkungan Kementerian Kesehatan, dan Dinas
Kesehatan Kabupaten Bogor.
(b) Output
Dokumen Permenkes No.25 tahun 2016 tentang RAN Kesehatan
Lanjut Usia tahun 2016-2019 dan rencana pelaksanaan kegiatan
workshop kesehatan Lansia.
(c) Outcome
Permenkes No.25 tahun 2016 tentang RAN Kesehatan Lanjut
Usia tahun 2016-2019 untuk di-launching, dan rencana
pelaksanaan workshop Kesehatan Lansia di Bogor.
(d) Benefits
Dengan disusunnya Permenkes No.25 tahun 2016 tentang RAN
Kesehatan Lanjut Usia tahun 2016-2019, dapat dilucurkan pada
saat workshop kesehatan Lanjut usia sebagai panduan daerah
untuk melaksanakan program kesehatan Lansia.
(e) Impacts
Meningkatkan status kesehatan lanjut usia, Quality of Life dan
Umur Harapan Hidup penduduk Indonesia
C. Car Free Day Ramah Lansia
(a) Input

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 42


Kegiatan Car Free Day Ramah Lansia dilaksanakan pada hari
minggu tanggal 29 Mei 2016 di Area Car Free Day Panin Bank-
Ratu Plaza, Jl. Jend. Sudirman. Kegiatan ini dilaksanakan dalam
rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional ke-20.

Peserta yang hadir ( 800 orang) berasal dari internal Dit. Kesga,
lintas program, lintas sektor, Dinas Kesehatan Provinsi DKI
Jakarta, Sudinkes Jakarta Pusat, AGD 118 Dinkes, Departemen
Psikiatri, FKUI RSCM, Organisasi Pemerhati Kesehatan Lansia
(Lembaga Lansia Indonesia, Forum Komunikasi Lanjut Usia,
Pusaka / Pusat Santunan Keluarga, Paguyuban Werdatama
Jaya, Legiun Veteran, Komunitas Lansia Peduli, Alzheimer
Indonesia), Perwakilan Lansia dari Puskesmas Jagakarsa,
Puskesmas Setiabudi, Puskesmas Kebayoran Lama, Puskesmas
Tebet, dll., Pra Lansia dan Lansia yang ada di sekitar area CFD.
(b) Output
Pelaksanaan Car Free Day Ramah Lansia dalam rangka
Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional.
(c) Outcome

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 43


Rangkaian HLUN berupa Car Free Day Ramah Lansia
(Kampanye Kesehatan Lansia di area car free day) yang terdiri
dari kegiatan Senam Bersama, Pemeriksaan Kesehatan Lansia,
dan Fun Walk serta lomba yel-yel sambil membawa jargon yang
berisi pesan-pesan kesehatan Lansia (Media KIE Kesehatan).
(d) Benefits
1. Melakukan sosialisasi program kesehatan Lanjut Usia untuk
meningkatkan awareness masyarakat terhadap Kesehatan
Lanjut Usia;
2. Mendorong terwujudnya gerakan masyarakat Lanjut Usia
yang lebih berperilaku sehat dan aktif;
3. Meningkatkan perhatian dan peran serta Lanjut Usia,
keluarga serta masyarakat dalam peningkatan kesehatan
Lanjut Usia.
(e) Impacts
Meningkatkan status kesehatan lanjut usia, Quality of Life dan
Umur Harapan Hidup penduduk Indonesia.

D. Workshop Kesehatan Lansia


(a) Input
Kegiatan Workshop Kesehatan Lansia dilaksanakan pada puncak
perayaan HLUN tanggal 1 Juni 2016 di Gedung Tegar Beriman
Pemkab Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka
memperingati Hari Lanjut Usia Nasional ke-20. Peserta yang hadir
berasal dari internal Dit. Kesga, lintas program, lintas sektor,
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Organisasi Pemerhati
Kesehatan Lansia, Perwakilan Lansia dari Kabupaten Bogor.

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 44


(b) Output
Pelaksanaan Puncak Peringatan HLUN Tahun 2016 di Bogor,
berupa: Launching RAN Kesehatan Lansia (Permenkes No.25
Tahun 2016), Pencanangan Kabupaten Bogor sebagai Pilot
Project RAN Kesehatan Lansia, Talkshow Kesehatan Lansia,
Kunjungan Lapangan ke Puskesmas Santun Lansia (Puskesmas
Cirimekar) dan Rumah Sakit Geriatri (RS. Cibinong), serta
Posbindu Lansia Sentul City.
(c) Outcome
Dengan diluncurkannya Permenkes No.25 tahun 2016 tentang
RAN Kesehatan Lanjut Usia tahun 2016-2019, dapat digunakan
sebagai panduan daerah untuk melaksanakan program kesehatan
Lansia. Sedangkan pada kegiatan kunjungan lapangan diharapkan
peserta daerah mendapatkan lesson learnt untuk pengembangan
model pelayanan kesehatan yang santun Lansia pada fasilitas
kesehatan tingkat primer dan pelayanan Geriatri terpadu di Rumah
Sakit (fasilitas rujukan), serta inovasi pelaksanaan kegiatan di
posyandu lansia pada tingkat komunitas.
(d) Benefits
1. Meningkatkan kemitraan untuk meningkatkan kepedulian dan
komitmen dari Lintas Program, Lintas Sektor, Organisasi
Profesi, Organisasi Masyarakat dan Sektor Swasta dalam
peningkatan kesehatan Lanjut Usia;
2. Membangun komunikasi dan publikasi yang efektif melalui
berbagai media, baik nasional maupun lokal untuk
menyebarkan informasi secara luas dan positif sehingga dapat
menggugah kesadaran masyarakat dalam upaya peningkatan
kesehatan Lanjut Usia.
(e) Impacts
Meningkatkan status kesehatan lanjut usia, Quality of Life dan
Umur Harapan Hidup penduduk Indonesia.

E. Pelaksanaan Baksos dalam Rangka HLUN


(a) Input
Kegiatan Bakti Sosial dalam rangka HLUN ini dilaksanakan pada
tanggal 3 Juni 2016 di Komplek Warakawuri Seroja (Jl. Mangga No.2
Kel. Harapan Jaya Bekasi Utara). Kegiatan ini dilakukan dengan
bekerja sama dengan Kementerian Sosial dan Dinas Kesehatan Kab.
Bekasi. Kegiatan berupa pemeriksaan kesehatan (tekanan darah,
berat badan, tinggi badan, pemeriksaan gula darah, kolesterol darah,

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 45


serta pemberian obat-obatan), senam bersama, konseling kesehatan
jiwa dan promosi/penyuluhan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan
dilakukan terhadap 500 orang Lansia.

(b) Output
Pelaksanaan Bakti Sosial untuk pemeriksaan kesehatan Lansia
dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional.
(c) Outcome
Kegiatan pemeriksaan kesehatan (tekanan darah, berat badan, tinggi
badan, pemeriksaan gula darah, kolesterol darah, serta pemberian
obat-obatan), senam bersama (senam vitalisasi otak), deteksi dini
demensia, konseling kesehatan jiwa dan promosi/penyuluhan
kesehatan untuk meningkatkan status kesehatan Pra Lansia dan
Lansia.
(d) Benefits
1. Mendorong terwujudnya Lanjut Usia yang berperilaku sehat dan
aktif;
2. Meningkatkan perhatian dan peran serta keluarga serta
masyarakat dalam peningkatan kesehatan Lanjut Usia;
3. Meningkatkan kemitraan untuk meningkatkan kepedulian dan
komitmen dari Lintas Program, Lintas Sektor, Organisasi Profesi,
Organisasi Masyarakat dan Sektor Swasta dalam peningkatan
kesehatan Lanjut Usia;
(e) Impacts
Meningkatkan status kesehatan Lansia, Quality of Life dan jumlah
Lansia yang mendapatkan pelayanan kesehatan serta skrining PTM.

6. Workshop Peningkatan Peran Lintas Sektor Dalam Kie Kesehatan


Reproduksi Dan Seksual Bagi Calon Pengantin

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 46


7. Pertemuan Koordinasi LP/LS, Oraganisasi Profesi, Perguruan
Tinggi, LSM dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan
keluarga
(a) Input
Kegiatan yang sudah dilaksanakan dalam rangka Pertemuan
Koordinasi LP/LS, Organisasi Profesi, Perguruan Tinggi, LSM dalam
rangka Peningkatan Pelayanan Kesehatan Keluarga, yaitu:
1. Pada tanggal 7 April 2016 dan 27 Mei 2016 di Hotel Manhattan,
Jakarta tentang Penyempurnaan Pedoman Pelayanan Kesehatan
Masa Sebelum Hamil
2. Pada tanggal 25-26 April 2016 di Hotel Aston, Jakarta tentang
Penyempurnaan Modul Pelatihan KtPA
3. Pada tanggal 9 Juni 2016 di Hotel Best Western, Jakarta tentang
Pembahasan Materi Inti dan Materi Penunjang Kurikulum Modul
Pelatihan KtPA
(b) Output
Tersedianya dokumen bimbingan teknis dan evaluasi pembinaan
kesehatan reproduksi sebanyak 4 buah.
Jumlah peserta tiap kali pertemuan 30 orang, tiap pertemuan
dilaksanakan selama 1 hari meningkatnya dukungan LP/LS dan
Organisasi Profesi, Perguruan Tinggi, LSM dalam meningkatkan
cakupan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
(c) Outcome
Tersedianya bahan penyusunan norma, standar, prosedur dan
kriteria di bidang akses dan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi
serta keluarga berencana.
(d) Benefits
Meningkatnya kualitas dan akses pelayanan kesehatan keluarga.
(e) Impacts
Meningkatnya kualitas dan akses pelayanan kesehatan masyarakat
1. Penyusunan Buku FAQ Jampersal
2. Pertemuan Koordinasi LP/LS, Organisasi Profesi, Perguruan
Tinggi, LSM dalam Rangka Peningkatan Pelayanan Kesehatan
Keluarga melalui Pelatihan Terintegrasi (2 kali)
3. Pertemuan Koordinasi LP/LS dalam Rangka Persiapan
Pelaksanaan Orientasi Pengkaji AMP

8. Rapat dalam Kantor dalam rangka Konsolidasi dan koordinasi


dengan LP/LS, Organisasi Profesi, LSM dll
Jumlah peserta tiap kali pertemuan 30 orang, tiap pertemuan
dilaksanakan selama 1 hari dil (outcome)
(a) Input
Kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka konsolidasi dan
koordinasi peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan
reproduksi:

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 47


(1) Pada tanggal 15 Februari 2016 Persiapan Pemantauan
Penguatan Teknis dan Manajemen Kespro
(2) Pada tanggal 17 Juni 2016 Penyusunan SK Tim
Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan (PUGBK)
(3) Pada tanggal 29 September 2016 Penyiapan Materi
Pelatihan KtP/A
(4) Pada tanggal 5 Oktober 2016 Persiapan Materi Pelatihan
KtP/A
(5) Rakor Penyusunan Pedoman Kelainan Bawaan
(6) Rapat Lanjutan Penyusunan Kurikulum dan Modul Pelatihan
Pelayanan Kesehatan dan Kegawatdaruratan Maternal dan
Neonatal
(7) Rapat Koordinasi Peningkatan Kualitas Pelayanan
Kesehatan Keluarga
(8) Rapat Persiapan Visitasi

(b) Output
Tersedianya dokumen konsolidasi dan koordinasi dengan lintas
program/lintas sektor, organisasi profesi, LSM sebanyak 4 buah.
(c) Outcome
Terlaksananyapenyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang
akses dan kualitas kesehatan reproduksi, serta keluarga
berencana.
meningkatnya dukungan LP/LS dan Organisasi Profesi, Perguruan
Tinggi, LSM dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal.
(d) Benefits
Meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan keluarga
(e) Impacts
Meningkatnya pelayanan kesehatan masyarakat yang berkualitas

Rapat Dalam Jam Kantor


a. Rapat Persiapan Pelatihan Terintegrasi (Kegawatdaruratan dan
Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal)
b. Rapat Persiapan Penyusunan Buku Saku Pelaksanaan Rumah
Tunggu Kelahiran dalam Jampersal 2016
c. Rapat Persiapan Orientasi Skrining Bayi Baru Lahir
d. Rapat Persiapan WHA
e. Rapat Persiapan pelatihan bagi Pelatih fasilitator Kelas Ibu
f. Rapat Persiapan Finalisasi Revisi Pedoman Pelayanan Neonatal
Esensial.

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 48


9. Pertemuan Evaluasi Akselerasi UKS
(a) Input
Pertemuan telah dilaksanakan pada tanggal 7 s/d 10 Juni 2016 di
Hotel Aryaduta Jakarta. Peserta terdiri dari Dit. Promosi Kesehatan
dan Pemberdayaan Masyarakat, Dit. Gizi Masyarakat, Dit.
Kesehatan Lingkungan, Dit. Kesehatan Kerja dan Olah Raga, Dit.
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Biro
Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Puslitbang Upaya
Kesehatan Masyarakat, Setditjen Pendidikan Dasar dan Menengah
Kemendikbud, Dit. Pembinaan SD Kemendikbud, Dit. Pendidikan
Madrasah Kemenag, Dit. Pondok Pesantren Kemenag, Dit.
Dekonsentrasi, Tugas Perbantuan dan Kerjasama Kemendagri,
Dit. Ketahanan Remaja BKKBN, Dit. Pencegahan BNN, WHO,
UNICEF, UNFPA, Save The Children, WFP, GIZ, Hellen Keller
Indonesia dan perwakilan 4 lintas sektor UKS dari 34 provinsi.
(b) Output
Resolusi TP UKS Pusat dan Resolusi TP UKS 34 Provinsi
(c) Outcome
Dengan tersusunnya resolusi TP UKS Pusat dan Resolusi TP
UKS 34 Provinsi dapat meningkatkan pemahaman kegiatan
akselerasi UKS oleh TP UKS Provinsi.
(d) Benefits
Dengan tersusunnya resolusi TP UKS Pusat dan Resolusi TP UKS
34 Provinsi dapat meningkatkan mekanisme koordinasi dan
komitmen lintas sektor terkait implementasi UKS.
(e) Impact
Dengan tersusunnya resolusi TP UKS Pusat dan Resolusi TP UKS
34 Provinsi dapat meningkatkan pelaksanaan UKS terintegrasi dan
paripurna serta status kesehatan anak usia sekolah dan remaja.

10. Fasilitasi Koordinasi TP UKS Prop/Kab/Kota/Kec dan TP Sekolah


a. Input
Fasilitasi Koordinasi TP UKS Prop/Kab/Kota/Kec dan TP Sekolah
telah dilaksanakan di 18 propinsi yaitu Sulawesi Selatan (18 - 22
April 2016), Aceh (18 - 22 April 2016), Sulawesi Tengah 18 - 22
April 2016), Jawa Barat (24 28 April 2016), Riau (25 28 April
2016), Sulawesi Utara (25 29 April 2016), Sumatera Selatan (25
27 April), Jambi (16 20 Mei 2016), Jawa Tengah (16 20 Mei
2016), Kalimantan Selatan (17 21 Mei 2016), DKI Jakarta (18 20
Mei dan 23 Mei 2016), Bali (23 26 Mei 2016), Banten (23 26
Mei 2016), Bengkulu (23 27 Mei 2016), Jawa Timur (23 27 Mei
2016), Kalimantan Barat (24 28 Mei 2016), Kalimantan Timur (24
28 Mei 2016), dan Sumatera Barat (24 28 Mei 2016).
b. Output

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 49


Data evaluasi pelaksanaan Trias UKS di sekolah dan pelaksanan
pembinaan di Sekretaris TP Prop/Kab/Kota/Kec.
c. Outcome
Dengan fasilitasi Koordinasi TP UKS Prop/Kab/Kota/Kec dan TP
Sekolah dapat memacu TP-UKS secara berjenjang dan Tim
Pelaksana UKS melaksanakan kegiatan program agar
mewujudkan sekolah sehat yang mampu melakukan promosi
kesehatan bagi lingkungan disekitarnya sesuai dengan tujuan yang
diharapkan.
d. Benefits
Dengan fasilitasi Koordinasi TP UKS Prop/Kab/Kota/Kec dan TP
Sekolah dapat meningkatkan mekanisme koordinasi dan komitmen
lintas sektor terkait implementasi UKS.
e. Impact
Dengan fasilitasi Koordinasi TP UKS Prop/Kab/Kota/Kec dan TP
Sekolah dapat meningkatkan pelaksanaan UKS terintegrasi dan
paripurna serta status kesehatan anak usia sekolah dan remaja.

11. Tatap Muka dan Dialog Pemenang Lomba Sekolah Sehat dengan
Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri
Agama dan Menteri Dalam Negeri
Pertemuan Pemenang Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional
a. Input
Pertemuan telah dilaksanakan tanggal 16 19 Agustus 2016 di
Hotel Grand Sahid.
b. Output
Terorientasinya 24 pengelola program UKS di Dinkes
Kabupaten/Kota dan 24 staf puskesmas pengelola UKS dari
sekolah pemenang lomba tentang pelaksanaan Trias UKS.
c. Outcome
Dengan terorientasinya pengelola program UKS dapat memacu
TP-UKS secara berjenjang dan Tim Pelaksana UKS melaksanakan
kegiatan program secara terintegrasi sehingga dapat
mewujudkan sekolah sehat yang mampu melakukan promosi
kesehatan bagi lingkungan disekitarnya sesuai dengan tujuan
yang diharapkan.
d. Benefits
Dengan orientasi tersebut dapat meningkatkan kapasitas petugas
terkait implementasi UKS paripurna dan terintegrasi.
e. Impact
Dengan terlaksananya orientasi tersebut dapat meningkatkan
pelaksanaan UKS terintegrasi dan paripurna serta status
kesehatan anak usia sekolah dan remaja.

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 50


12. Bimbingan Teknis dan Evaluasi Model Pelaksanaan UKS Dalam
Rangka Peningkatan Gizi dan Keamanan Pangan Sekolah Dasar Di
Kepulauan Seribu dan Jakarta Pusat
(a) Input
Bimbingan Teknis dan Evaluasi Model Pelaksanaan UKS Dalam
Rangka Peningkatan Gizi dan Keamanan Pangan Sekolah Dasar Di
Kepulauan Seribu dan Jakarta Pusat telah dilaksanakan dengan
jadual pelaksanaan sebagai berikut:

No. Tanggal Kota Jakarta Pusat Kabupaten Kep. Seribu


Nama Sekolah Nama Sekolah
1 11 Agustus 2016 1. SDN Rawa Sari 05
2. SDN Johar Baru 01
3. SDN Rawa Sari 01
2. 12-13 Agustus 1. SDN P. Kelapa 01
2016 2. SDN P. Panggang
3. 22 Agustus 2016 1. SDN Tanah Tinggi 11 SDN P.Kelapa 01
2. SDN Cempaka Putih SDN P.Panggang
Timur 03
4. 23 Agustus 2016 1. SDN Kemayoran 09
5. 22-23 September 1. SDN Pulau Kelapa 02
2016 Pagi
2. SDN Pulau Kelapa 01
Pagi
3. SDN Pulau Panggang
01 Pagi
4. SDN Pulau Panggang
02 Pagi
5. MIN 17 Pulau Kelapa
6. SDN 01 Pulau
Harapan
6. 4 Oktober 2016 1. SDN Cempaka Putih
Barat 01
2. SDN Cempaka Putih
Barat 05
7. 7 Oktober 2016 1. SDN Kebon Kosong
09
2. SDN Kemayoran 09
8. 11 Oktober 2016 1. SDN Pulau
Panggang 01 Pagi
2. SDN Pulau
Panggang 02 Pagi
9. 19 Oktober 2016 1. SDN Johar Baru 01
2. SDN Tanah Tinggi 11
10. 24 25 Oktober 1. MIN 17 Pulau Kelapa
2. SDN 01 Pulau
Harapan Pagi
11. 25 Oktober 2016 1. SDN Pulau Kelapa
02 Pagi
2. SDN Pulau Kelapa
01 Pagi

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 51


12. 27 Oktober 2016 1. SDN Rawa Sari 01
2. SDN Rawa Sari 05
13. 28 Oktober 2016 1. SDN Kebon Kosong
02
2. SDN Cempaka Putih
Timur 03
14. 14 November 1. SDN Rawa Sari 01
2016 2. SDN Rawa Sari 05
3. SDN Cempaka Putih
Barat 01
4. SDN Cempaka Putih
Barat 05
15. 15 November 1. SDN Johar Baru 01
2016 2. SDN Tanah Tinggi 11
3. SDN Kemayoran 09
4. SDN Kebon Kosong
02
5. SDN Kebon Kosong
09
6. SDN Cempaka Putih
Timur 03
16. 16 - 18 November 1. SDN Pulau Kelapa
2016 02 Pagi
2. SDN Pulau Kelapa
01 Pagi
3. SDN Pulau
Panggang 01 Pagi
4. SDN Pulau
Panggang 02 Pagi
5. MIN 17 Pulau Kelapa
6. SDN 01 Pulau
Harapan Pagi
17. 2 Desember 2016 1. SDN Kelapa 01
2. SDN Harapan 01

(b) Output
Data progress pelaksanaan pilot UKS terintegrasi meliputi data
pelayanan kesehatan, data sarana prasana dan data kegiatan UKS
(penyelenggaraan makan bersama, literasi kesehatan melalui
pemanfaatan buku Rapor Kesehatanku, aktivitas fisik pergantian
antar mata pelajaran, gerakan pungut sampah, pembinaan kantin
sekolah, inspektur cilik keamanan pangan dll)
(c)Outcome
Dengan terlaksananya bimbingan teknis dan evaluasi model
pelaksanaan UKS dalam rangka peningkatan gizi dan keamanan
pangan Sekolah Dasar Di Kepulauan Seribu dan Jakarta Pusat
dapat memacu TP-UKS secara berjenjang dan Tim Pelaksana UKS
melaksanakan kegiatan program secara terintegrasi sehingga
dapat mewujudkan sekolah sehat yang mampu melakukan promosi

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 52


kesehatan bagi lingkungan disekitarnya sesuai dengan tujuan yang
diharapkan.
(d) Benefits
Dengan terlaksananya bimbingan teknis dan evaluasi model
pelaksanaan UKS Dalam rangka peningkatan gizi dan keamanan
pangan Sekolah Dasar Di Kepulauan Seribu dan Jakarta Pusat
dapat meningkatkan mekanisme koordinasi terkait implementasi
UKS paripurna dan terintegrasi.
(e) Impact
Dengan terlaksananya bimbingan teknis dan evaluasi tersebut dapat
meningkatkan status kesehatan anak usia sekolah dan remaja.

5. Sistem Informasi dan Surveilans Pembinaan Kesehatan Keluarga


sebanyak 15 dokumen
1. Pelaksanaan PWS-KIA , Perencanaan Terpadu, SIMAK-BMN dan
SAI Program Kesehatan Keluarga
(a) Input
Kesehatan keluarga sangat terkait lintas program dan lintas sector,
untuk itu perlu advokasi dan koordinasi untuk menjamin
pelaksanaan program
(b) Output
Dokumen evaluasi dan pembinaan atas pelaksanaan PWS KIA,
SIMAK BMN dan SAI program kesehatan keluarga di daerah
(c) Outcome
Pelaksanaan pemantauan yang berkualitas atas indikator-indikator
kesehatan keluarga
Pelaksanaan akuntabilitas atas barang-barang yang dikirimkan ke
daerah
(d) Benefit
1. Meningkatkan pengetahuan dan komitmen pengelola program
di daerah, LP/LS
2. Mengetahui implementasi pelaksanaan program didaerah,
LP/LS
3. Mendapatkan bahan evaluasi dalam perbaikan program
selanjutnya
(e) Impact
1. Target indikator kesehatan keluarga dapat tercapai
2. Peningkatan kualitas pelaksaan program kesehatan keluarga
3. Penurunan AKI dan AKB

2. Software Pelayanan Kesehatan Anak di Sekolah


a. Penyusunan Software Pelayanan Kesehatan Anak di Sekolah
a. Input
Pertemuan telah dilaksanakan tanggal 23 25 Februari 2016 di
Hotel Amos Cozy.

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 53


b. Output
Sistem Informasi dan Surveilans Pembinaan Kesehatan
Keluarga berupa konsep software dan prototype pelayanan
penjaringan kesehatan anak di sekolah.
c. Outcome
Dengan tersusunnya konsep software pelayanan kesehatan
anak di sekolah dapat meningkatkan koordinasi pelaporan
program Usaha Kesehatan Sekolah/ Madrasah (UKS/M) dalam
rangka menunjang pencapaian program RPJMN dan Renstra.
d. Benefits
Dengan tersusunnya konsep software pelayanan kesehatan
anak di sekolah dapat meningkatkan kualitas pelaporan UKS
terintegrasi.
e. Impact
Dengan tersusunnya konsep tersebut dapat meningkatkan
status kesehatan anak usia sekolah.

3. Pelaksanaan Surveilan Kelainan Bawaan Berbasis RS di Kab/Kota


a. Masukan (input):
Tujuan dari kegiatan ini adalah:
Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan surveilans
kelainan bawaan berbasis RS di RS sentinel.

Pelaksanaan kegiatan:
Kegiatan ini dilakukan di 6 Rumah Sakit, amtara lain: RSUP.
Mohammad Hoesin, Palembang (10-12 Maret 2016), RSUP dr.
Kandou Manado (6-8 April 2016), RSUP.dr. M.Djamil Padang (6-8
April 2016), RSUD Provinsi NTB, Mataram (8-10 Juni 2016), RSUP.
Adam Malik (13-15 Juni 2016), RSUD Wates, Kuloprogo (11-14
Oktober 2016) (untuk monev di RSUD Wates menggunakan dana
TU Direktorat kesga)
b. Luaran
Terlaksananya monev kelainan bawaan di 6 RS sentinel. Hambatan
dalam realisasi anggaran : harga tiket peserta dibawah pagu
c. Hasil
Terdapatnya masukan hasil monev surveilan kelainan bawaan di 6
RS sentinel
d. Manfaat
Peningkatan kualitas pelaksanaan Surveilans Kelainan Bawaan
berbasis RS di 6 RS Sentinel
e. Dampak:
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan neonatal

6. Dukungan Layanan Manajemen sebanyak 12 dokumen.


1. Penyelenggaraan Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 54


Kegiatan ini dilakukan untuk menjamin kelancaran administrasi
Direktorat Kesehatan Keluarga didalam melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya untuk mencapai tujuan dan sasaran direktorat.
Kegiatan ini digunakan untuk membiayai honor pramubakti, pengelola
anggaran,
Output Volume Satuan
Honor Pramubakti selama 1
13 Orang
tahun
Honorarium pengelola anggaran
selama 1 tahun
1. Pejabat Kuasa Pengguna 1 Orang
Anggaran
2. Pejabat Pembuat 2 Orang
Komitmen 1 Orang
3. Pejabat Penandatangan 1 Orang
SPM 6 Orang
4. Bendahara Pengeluaran
5. Bendahara PUMC

2. Pertemuan Konsolidasi Ketatausahaan Dan Rumah Tangga


Direktorat Kesehatan Keluarga
a) Input
Dibutuhkan koordinasi didalam memberikan pelayanan untuk
pelaksanaan program Kesehatan keluarga
b) Output
Pertemuan telah dilaksanakan yang berisi sharing informasi dan
penatalaksanaan kegiataan untuk mencapai organisasai yang
akuntabel
c) Outcome
Direktorat Kesehatan keluarga menjadi organisasi yang
menerapkan azas akuntabilitas
d) Benefit
Kinerja organisasi yang meningkat, dan akuntabel
e) Impact
Pencapaian target indikator Kesehatan keluarga

(b) Hasil (outcome)


Hasil yang diharapkan dari pencapaian output diatas antara lain :
1) Persentase Kunjungan Neonatal Pertama (KN1) sebesar 78 %.
2) Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan kesehatan
untuk peserta didik kelas I sebesar 55%.
3) Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan kesehatan
untuk peserta didik kelas VII dan X sebesar 40%.
4) Persentase Puskesmas yang menyelenggarakan kegiatan kesehatan
remaja sebesar 30%.
LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 55
5) Persentase Puskesmas yang melaksanakan kelas ibu hamil sebesar
81%.
6) Persentase Puskesmas yang melakukan orientasi Program
Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) sebesar
83%.
7) Persentase ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal
minimal 4 kali (K4) sebesar 74%.
(c) Manfaat
Melalui output yang dicapai maka harapannya akan memberikan manfaat
berupa :
1. NSPK Pembinaan Kesehatan Keluarga; dengan adanya NSPK maka
berbagai manfaat dapat dirasakan oleh nakes dan masyarakat, yang
antara lainnya adalah :
1. mendapatkan pedoman didalam pelaksanaan pelayanan
kesehatan yang berkualitas.
2. Keamanan didalam pelaksanaan pelayanan kesehatan keluarga
(perlindungan bagi nakes yang melakukan sesuai pedoman)
3. Masyarakat mendapatkan pelayanan berkualitas dan sesuai
standar
2. SDM Kesehatan yang ditingkatkan kapasitasnya dalam pembinaan
Kesehatan Keluarga, manfaat bagi masyarakat dan daerah :
1. Daerah memiliki nakes terlatih yang diharapkan dapat menjaga
keberlangsungan peningkatan kapasitas nakes didaerah
2. Meningkatkan rasio jumlah kebutuhan nakes yang memiliki
kompetensi pelayanan kesehatan keluarga
3. Dukungan Sarana dan Prasarana Pembinaan Kesehatan Keluarga,
manfaat bagi masyarakat dan daerah :
Baik masyarakat maupun daerah mendapatkan pedoman/ media KIE,
Alat kesehatan, dll sesuia peruntukannya di dalam pelaksanaan
pelayanan kesehatan keluarga
4. Bimbingan Teknis dan Evaluasi pembinaan Kesehatan Keluarga,
manfaat bagi daerah :
Mendapatkan solusi atas permasalahan pelaksanaan pelayanan
kesehatan keluarga di daerah
5. Sistem Informasi dan Surveilans Pembinaan Kesehatan Keluarga,
manfaat bagi daerah :
1. Memudahkan system pelaporan dari daerah ke pusat
2. Memudahkan puskesmas dan daerah didalam melakukan
pemantauan di wilayahnya
6. Dukungan Layanan Manajemen, memberikan manfaat bagi semua
stake holder yang terkait pelayanan kesehatan keluarga berupa
kelancaran dan kemudahan pelayanan di Direktorat Kesehatan
Keluarga.
(d) Impact (dampak)

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 56


Dampak yang diharapkan dari tercapainya tujuan dan sasaran kegiatan
Direktorat Kesehatan Keluarga adalah penurunan AKI dan AKB.

4.2. Pencapaian Kinerja


Berikut hasil pelaksanaan program yang digambarkan melalui indikator
Kesehatan Keluarga :
Tabel Pencapaian Indikator Kesehatan Keluarga Tahun 2015
Target
No. Indikator Pencapaian
2016
1 Persentase Kunjungan Neonatal Pertama (KN1) 78% 78,1%
2 Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan 55% 76,2%
kesehatan untuk peserta didik kelas I
3 Persentase Puskesmas yang melaksanakan penjaringan 40% 64,3%
kesehatan untuk peserta didik kelas VII dan X
4 Persentase Puskesmas yang menyelenggarakan 30% 43,9%
kegiatan kesehatan remaja
5 Persentase Puskesmas yang melaksanakan kelas ibu 81% 88,9%
hamil
6 Persentase Puskesmas yang melakukan orientasi 83% 84,9%
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K)
7 Persentase ibu hamil yang mendapatkan pelayanan 74% 75,5%
antenatal minimal 4 kali (K4)

Adapun capaian kinerja kegiatan Pembinaan Kesehatan Keluarga sesuai tugas


pokok dan fungsinya (permenkes 64 tahun 2015) dapat dilihat dari tabel di
bawah.
Tabel Capaian Output Pembinaan Kesehatan Keluarga Tahun 2016
Output
No. Nama Output Total
Target Realisasi
Progres
1 NSPK Pembinaan Kesehatan Keluarga 8 8 100
2 SDM Kesehatan yang ditingkatkan
kapasitasnya dalam pembinaan Kesehatan 800 800 100
Keluarga
3 Dukungan Sarana dan Prasarana
4.934.541 4.934.541 100
Pembinaan Kesehatan Keluarga
4 Bimbingan Teknis dan Evaluasi pembinaan
100 100 100
Kesehatan Keluarga
5 Sistem Informasi dan Surveilans Pembinaan
15 15 100
Kesehatan Keluarga
6 Dukungan Layanan Manajemen 12 12 100
Sumber : emonev dja tahun 2016

4.3. Realisasi Anggaran

Kode Kegiatan Pagu Realisasi % Realisasi

5832 Pembinaan Kesehatan Keluarga 84,627,892,000 62,150,828,336 73%

5832.001 NSPK Pembinaan Kesehatan Keluarga 2,684,512,000 2,357,667,756 88%

052 Penyusunan Buku Kesehatan Lansia 259,428,000 259,233,256 100%


Penyusunan Pedoman Pelayanan Kesehatan
056 75,180,000 75,180,000 100%
Maternal dan Neonatal
A Penyusunan Pedoman 75,180,000 75,180,000 100%

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 57


Penyusunan Buku Saku Kesehatan
057 Reproduksi dan Seksual Bagi Penyuluh 446,835,000 446,768,600 100%
Pernikahan (di Jawa Barat)
Pertemuan Penyusunan Draft Buku Saku
A Kesehatan Reproduksi dan Seksual Bagi 386,261,000 386,238,700 100%
Penyuluh Pernikahan di Bogor
Ujicoba Penyusunan Draft Buku Saku
B Kesehatan Reproduksi dan Seksual Bagi 26,064,000 26,019,900 100%
Penyuluh Pernikahan
Pertemuan Finalisasi Buku Saku Kesehatan
C Reproduksi dan Seksual Bagi Penyuluh 34,510,000 34,510,000 100%
Pernikahan di Jakarta
Penyusunan Modul dan Media Audio Visual
058 Teknik Pelayanan Kesehatan Anak dengan 145,137,000 144,725,000 100%
Disabilitas
Penyusunan Modul Pelayanan Kesehatan
A 145,137,000 144,725,000 100%
Anak dengan Disabilitas
Penyusunan Pedoman Yankes Usia Sekolah
059 dan Remaja tingkat Masyarakat, FKTP dan 702,777,000 702,286,000 100%
FKRTL
Penyusunan Modul Pelatihan Pelayanan
B 311,502,000 311,495,000 100%
Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja
Pertemuan Penyusunan Media KIE Kader
C 221,537,000 221,055,000 100%
Kesehatan Remaja
Penyusunan Pedoman Manajemen Terpadu
E Masalah Kesehatan Remaja di Fasilitas 169,738,000 169,736,000 100%
Kesehatan tk. Lanjut
061 Penyusunan Buku Kesehatan Lansia Lanjutan 301,680,000 254,778,200 84%
Penyempurnaan Pedoman Pelayanan
062 137,290,000 137,208,500 100%
Kesehatan Masa Sebelum Hamil

Pertemuan Penyempurnaan Pedoman


A 137,290,000 137,208,500 100%
Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil

Review Buku Pedoman Pelayanan Kesehatan


063 345,314,000 337,488,200 98%
Anak Jalanan Bagi Tenaga Kesehatan

A Rapat Persiapan 2,610,000 2,610,000 100%


Pertemuan Review Buku Pedoman Pelayanan
B Kesehatan Anak Jalanan Bagi Tenaga 172,104,000 172,102,400 100%
Kesehatan
Pertemuan Review dengan Daerah Buku
C Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan 170,600,000 162,775,800 95%
Bagi Tenaga Kesehatan
064 Inpres No 8 Tahun 2016 270,871,000 - 0%

SDM Kesehatan yang ditingkatkan


5832.002 kapasitasnya dalam pembinaan Kesehatan 18,184,014,000 9,997,601,805 55%
Keluarga
Pertemuan Teknis Nasional Program Kegiatan
051 - -
Kesehatan Keluarga Tahun 2016 dihapus
052 Hari Anak Nasional Tahun 2016 1,078,110,000 1,078,110,000 100%

A Car Free day Hari Anak Nasional 601,080,000 601,080,000 100%

B Seminar GEMASS 224,700,000 224,700,000 100%

C Workshop Hari Anak Nasional Tahun 2016 252,330,000 252,330,000 100%


Pelatihan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia
053 328,967,000 327,507,600 100%
dan Geriatri
Orientasi Pelatihan Pelayanan Kesehatan
Kegiatan
054 Maternal dan Neonatal Bagi SPOG dan SPA - -
dihapus
untuk 9 Propinsi okus
Orientasi Pelatihan Pelayanan Kesehatan
Kegiatan
A Maternal dan Neonatal Bagi SPOG dan SPA - -
dihapus
untuk 9 Propinsi okus
TOT Penanganan Kegawatdaruratan Maternal
Kegiatan
055 dan Neonatal Bagi Trainer untuk 3 Propinsi - -
dihapus
Fokus
057 Orientasi Tim Pengkaji AMP 1,103,515,000 1,103,359,671 100%
TOT Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Kegiatan
059 Neonatal Maternal dan Neonatal Bagi Trainer - -
dihapus
untuk 9 Propinsi Fokus

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 58


Pemberdayaan SDM dalam Rangka
060 Peningkatan Kualitas Program Kesehatan 491,695,000 491,600,200 100%
Keluarga

Pelatihan Bagi Pelatih Pelayanan Kesehatan


061 973,958,000 973,957,700 100%
Lanjut Usia dan Geriatri di Jawa Barat

064 Pelatihan TOT SDIDTK Revisi 2015 485,696,000 485,695,405 100%

TOT Penanganan Kesehatan Balita dan


066 852,409,000 852,408,358 100%
Prasekolah di Puskesmas di Pusat

Pelatihan Tatalaksana Kasus


069 KekerasanTerhadap Perempuan/Anak (KtP/A) 693,200,000 566,605,000 82%
di Puskesmas Tingkat provinsi di Pusat
A Angkatan I - -

A Angkatan II 693,200,000 566,605,000 82%

070 Pelatihan Bagi Pelatih Fasilitator Kelas Ibu 557,836,000 557,835,653 100%
Kegiatan
072 Jambore Konselor Sebaya Berprestasi - -
dihapus

Pelatihan Pelatih Pelayanan Kesehatan Usia


073 922,856,000 922,855,300 100%
Sekolah dan Remaja (Angkatan II)

074 Orientasi Skrining Bayi Baru Lahir 632,365,000 632,364,642 100%

Orientasi Tenaga Kesehatan dalam Surveilans


075 427,865,000 427,864,005 100%
Kelainan Bawaan Berbasis RS di Jakarta

Pelatihan Pelatih Pelayanan Kesehatan Usia


076 309,817,000 309,816,500 100%
Sekolah dan Remaja (Angkatan I)

Uji Coba Kurikulum Modul Pelatihan


077 Penanganan Kesehatan Balita dan 493,942,000 493,941,538 100%
Prasekolah di Puskesmas
Pelatihan dalam penanganan Kelainan
079 32,547,000 32,546,683 100%
Tumbuh Kembang balita
A Persiapan di Bandung 11,280,000 11,280,000 100%
Pelatihan Rujukan Kelainan Tumbuh
Kegiatan
B Kembang Bagi Tim Tumbuh Kembang RS di 5 - -
dihapus
Provinsi (Bandung)
C Persiapan Pelatihan di Surabaya 21,267,000 21,266,683 100%
Orientasi Model Pelaksanaan UKS Dalam
Rangka Peningkatan Gizi dan Keamanan
080 Pangan Sekolah Dasar Bagi Kepala 389,734,000 388,733,550 100%
Sekolah,Guru UKS, Tenaga Kesehatan Di
Kepulauan Seribu dan Jakarta Pusat
A Orientasi Model Pelaksanaan UKS 300,634,000 300,633,550 100%

B Evaluasi Model Pelaksanaan UKS 89,100,000 88,100,000 99%

081 Orientasi SDM dalam Tatakelola Manajemen 382,547,000 352,400,000 92%

082 Inpres No 8 Tahun 2016 8,026,955,000 - 0%

Dukungan Sarana dan Prasarana


5832.003 47,694,382,000 36,000,944,405 75%
Pembinaan Kesehatan Keluarga
Pengadaan Alat Pengolah Data dan Alat
051 579,154,000 579,153,580 100%
Operasional Perkantoran
Pengadaan Alat Pengolah Data dan Alat
A 579,154,000 579,153,580 100%
Operasional Perkantoran
Pencetakan Buku dan Media KIE Kesehatan
052 23,605,126,000 14,241,779,700 60%
Keluarga
A Buku Pedoman Kesehatan Keluarga 23,605,126,000 14,241,779,700 60%

053 Menyediakan Media KIE Kesehatan Keluarga 144,150,000 144,150,000 100%

054 Menyediakan Kit Kesehatan Keluarga 16,675,079,000 21,035,861,125 126%

055 Inpres No 8 Tahun 2016 6,690,873,000 - 0%


Bimbingan Teknis dan Evaluasi pembinaan
5832.004 Kesehatan Keluarga 9,925,474,000 8,542,243,014 86%
[Base Line]

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 59


Monitoring dan Evaluasi Program Kesehatan
051 542,500,000 536,218,450 99%
Keluarga
A Monev Kesehatan Perempuan 542,500,000 536,218,450 99%
Koordinasi Teknis dan Manajemen Program
053 559,000,000 558,660,100 100%
Kesehatan Keluarga
A Dalam Kota 54,000,000 54,000,000 100%

B Luar Kota 505,000,000 504,660,100 100%

Perjalanan Pimpinan dalam rangka


054 239,400,000 238,675,700 100%
Pembinaan Program Kesehatan Keluarga

Fasilitasi dan Pendampingan Pusat dalam


055 Rangka Peningkatan Kualitas Pelayanan 920,550,000 912,230,000 99%
Kesehatan Keluarga TA 2016

Pertemuan Penguatan Pelayanan Teknis dan


056 920,742,000 920,741,491 100%
Manajemen Kesehatan Reproduksi

058 Kampanye Kesehatan Lanjut Usia 1,028,887,000 1,028,886,600 100%


Rapat Persiapan Workshop Kesehatan Lansia
A 33,312,000 33,311,600 100%
di Bogor
B Workshop Kesehatan Lansia di Bogor 376,300,000 376,300,000 100%
Pelaksanaan Baksos dalam Rangka HLUN di
C 105,690,000 105,690,000 100%
Bekasi
D Car Freeday Ramah Lansia di Jakarta 485,360,000 485,360,000 100%

E Rapat Persiapan HLUN 28,225,000 28,225,000 100%


Workshop Peningkatan Peran Lintas Sektor
059 Dalam Kie Kesehatan Reproduksi Dan 304,033,000 304,032,596 100%
Seksual Bagi Calon Pengantin
Pertemuan Koordinasi LP/LS, Oraganisasi
060 Profesi, Perguruan Tinggi, LSM dalam rangka 987,975,000 987,475,000 100%
peningkatan pelayanan kesehatan keluarga
Rapat dalam Kantor dalam rangka Konsolidasi
061 dan koordinasi dengan LP/LS, Organisasi 795,800,000 764,217,000 96%
Profesi, LSM dll
Pemantauan Paska Latih Rujukan Kelainan
062 212,000,000 176,913,200 83%
Tumbuh Kembang
Pembinaan Teknis Kesehatan Anak Usia Kegiatan
063 - -
Sekolah dan Remaja dihapus
di Sekolah dan di Luar Sekolah (Lapas, Panti, Kegiatan
A - -
Pontren, Anjal) dihapus
064 Pertemuan Evaluasi Akselerasi UKS 891,293,000 891,292,600 100%
Fasilitasi Koordinasi TP UKS
065 120,601,000 120,600,300 100%
Prop/Kab/Kota/Kec dan TP Sekolah

Reguler Meeting Buku KIA, MTBS, SDIDTK,


066 66,790,000 66,790,000 100%
dan MTBS-M Serta Yankes Anak di RS

A di Jakarta 66,790,000 66,790,000 100%

Tatap Muka dan Dialog Pemenang Lomba


Sekolah Sehat dengan Menteri Kesehatan,
067 340,776,000 340,768,538 100%
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri
Agama dan Menteri Dalam Negeri
Pertemuan Pemenang Lomba Sekolah Sehat
A 340,776,000 340,768,538 100%
Tingkat Nasional
069 Third Country Training Program (TCTP) 287,546,000 280,657,000 98%

A Pertemuan Persiapan TCTP tahun 2016 27,881,000 27,880,200 100%


Pertemuan Persiapan TCTP Tahun 2016 di
B 92,289,000 92,287,900 100%
Yogyakarta
Penyelenggaraan TCTP Buku KIA Tahun
D 85,596,000 85,595,600 100%
2016

Pertemuan Evaluasi TCTP Tahun 2016 dan


E 81,780,000 74,893,300 92%
Persiapan TCTP Tahun 2017

Finalisasi Kurikulum Modul Penanganan


071 Kesehatan Balita dan Anak Prasekolah di 294,075,000 294,074,439 100%
Puskesmas

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 60


Bimbingan Teknis dan Evaluasi Model
Pelaksanaan UKS Dalam Rangka
072 Peningkatan Gizi dan Keamanan Pangan 136,800,000 120,010,000 88%
Sekolah Dasar Di Kepulauan Seribu dan
Jakarta Pusat
073 Inpres No 8 Tahun 2016 1,276,706,000 - 0%

Sistem Informasi dan Surveilans


5832.005 1,025,520,000 821,166,371 80%
Pembinaan Kesehatan Keluarga
Pelaksanaan PWS-KIA , Perencanaan
052 Terpadu, SIMAK-BMN dan SAI Program 642,000,000 627,871,550 98%
Kesehatan Keluarga
Software Pelayanan Kesehatan Anak di
060 73,504,000 73,503,408 100%
Sekolah
Penyusunan Software Pelayanan Kesehatan
B 73,504,000 73,503,408 100%
Anak di Sekolah
Pelaksanaan Surveilan Kelainan Bawaan
068 122,953,000 119,791,413 97%
Berbasis RS di Kab/Kota
069 Inpres No 8 Tahun 2016 187,063,000 - 0%

5832.006 Dukungan Layanan Manajemen 5,113,990,000 4,431,204,985 87%


Penyelenggaraan Operasional dan
051 3,897,358,000 3,799,154,985 97%
Pemeliharaan Perkantoran
A Kelancaran Administrasi Kegiatan 3,897,358,000 3,799,154,985 97%
Pertemuan Konsolidasi Ketatausahaan Dan
052 Rumah Tangga Direktorat Bina Kesehatan 669,100,000 632,050,000 94%
Keluarga
053 Inpres No 8 Tahun 2016 547,532,000 - 0%

Pagu Akhir Efisiensi dan


Alokasi Realisasi (Rp) %
Refokusing 2015 (Rp)

APBN PUSAT 84.627.892.000 64.705.447.919 76,46%


Self Blocking 17.000.000.000 0 0%
APBN tanpa 67.627.892.000 64.705.447.919 95,67%
SelfBlocking

PHLN PUSAT
8.552.538.000 7.344.943.498 85.88%
(WHO + UNICEF)

Total APBN 93.180.430.000 72.050.391.417 77,32%

Total APBN tanpa


76.180.430.000 72.050.391.417 94,58%
Self Blocking

4.4. Upaya Meraih WTP dan Reformasi Birokrasi


Direktorat Kesehatan Keluarga berkomitmen untuk turut menyukseskan upaya
Kementerian Kesehatan dalam mencapai hasil penilaian keuangan Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP) pada tahun 2016.

Berbagai langkah yang telah dilakukan pada tahun 2015 oleh Direktorat Kesehatan
Keluarga dalam upaya meraih WTP 2016 meliputi:

1. Membangun komitmen dan integritas pimpinan dan seluruh staf Direktorat.


2. Penguatan perencanaan dan penganggaran di Direktorat.

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 61


3. Pembenahan pengelolaan kas, sistem pembukuan, dan akuntansi
keuangan di Direktorat.
4. Perbaikan pengelolaan hibah langsung yang diterima Direktorat.
5. Penataan rekening untuk kegiatan yang ada di lingkungan Direktorat.
6. Peningkatan kualitas proses pengadaan barang dan/atau jasa Pemerintah
yang dilaksanakan oleh Direktorat, di antaranya melalui proses LPSE.
7. Pembenahan penatausahaan Barang Milik Negara (BMN) yang ada di
Direktorat.
8. Penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Direktorat.
9. Penguatan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) di Direktorat.
10. Penguatan monitoring dan evaluasi di internal Satker Direktorat Bina
Kesehatan Ibu.
11. Perbaikan penyusunan dan penyampaian laporan kegiatan dan keuangan.
12. Peningkatan kualitas pengawasan kegiatan dan keuangan.
13. Percepatan penyelesaian tindak lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP).

Sementara itu dalam rangka menuju Reformasi Birokrasi, Direktorat Bina


Kesehatan Ibu juga telah melaksanakan berbagai langkah, yaitu:

1. Penetapan uraian jabatan dan analisis beban kerja pegawai.


2. Analisis beban kebutuhan SDM dengan menggunakan Workload
IndikatorStaff Need (WISN)
3. Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) di lingkungan Direktorat
Bina Kesehatan Ibu
4. Analisis jabatan struktural dan fungsional diikuti job grading untuk:
a. Pemegang jabatan manajemen Eselon II, III, dan IV
b. Pemegang jabatan non manajemen
c. Pemegang jabatan fungsional
5. Penetapan Agent of Change dan Assessor Reformasi Birokrasi di
Direktorat Bina Kesehatan Ibu
6. Sosialisasi tentang Reformasi Birokrasi di lingkungan Direktorat Bina
Kesehatan Ibu
7. Penyusunan Kertas Kerja Reformasi Birokrasi Direktorat Bina Kesehatan
Ibu
8. Penyiapan dokumen kelengkapan pelaksanaan reformasi birokrasi.

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 62


BAB V
PENUTUP

Laporan Tahunan ini merupakan informasi hasil pelaksanaan kegiatan selama


tahun 2016, dan merupakan gambaran kinerja Satuan Kerja Direktorat
Kesehatan Keluarga. Seluruh kegiatan Kesehatan Keluarga dapat terlaksana
dengan dukungan sumber daya tenaga, sarana, dan pembiayaan yang sudah
terencana pada tingkat pusat maupun daerah. Diharapkan Laporan Tahunan
ini menjadi referensi untuk evaluasi dan perencanaan kegiatan Kesehatan
Keluarga di masa yang akan datang. Diharapkan pula, keberhasilan yang
telah dicapai pada tahun 2016 dapat ditingkatkan dengan cara memanfaatkan
secara optimal segala peluang dan sumber daya yang ada dengan
memperhatikan hambatan / kendala dan permasalahan yang dihadapi selama
ini serta ketentuan dan peraturan yang berlak

LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016 63


LAPORAN TAHUNAN DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA TA 2016
1