Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

PENGOLAHAN AIR TANA MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN

Disusun Oleh :
Fransiskus Martogi S D1A014002
Erikson Purba D1A014073
Tri Wayuni D1A014032
Novia Sepriani D1A014053
Rindy Ashari D1A014074
Ananda Putri R D1A014114
Helmi Yospika D1A014143

Dosen Pengampu: 1. Trias Novita S.P., M.Si.


2. Ir. Dede Martino M.P.
3. Ir. Endriani M.P.

PRODI AGRONOMI
JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, karena dengan karunia-
Nya kami dapat menyelesaikan Makalah Pertanian Ramah Lingkungan berjudul
Pengolahan Air Tanah Menuju Pertanian Ramah Lingkungan. Meskipun banyak
hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaannya, tetapi kami berhasil
menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.

Tidak lupa kami sampaikan terimakasih kepada dosen pembimbing yang


telah membantu dan membimbing kami dalam mengerjakan laporan ini.Kami juga
mengucapkan terimakasih kepada teman-teman mahasiswa yang juga sudah
memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam penulisan
makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun guna sempurnanya laporan ini.Kami berharap semoga Makalah ini
bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Jambi, September 2016

Kelompok II
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................i

DAFTAR ISI.....................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang.............................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah........................................................................................ 1


1.3Tujuan........................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Air Tanah................................................................................... 5


2.2 Pengelolaan Air Tanah................................................................................ 7
Pelestarian Air Tanah ............................................................. 7
2.3 Teknologi Pengelolaan Air Tanah pada Pertanian.. 8

BAB III PENUTUP


5.1 Kesimpulan............................. 18
5.2 Saran........................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 19
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam produk
pangan. Jika air tidak tersedia maka produksi pangan akan terhenti. Ini berarti
bahwa sumberdaya air menjadi faktor kunci untuk berkelanjutan pertanian
khusunya pertanian beririgasi. Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture)
secara sederhana diartikan disini sebagai upaya memelihara, memperpanjang,
meningkatkan dan meneruskan kemampuan produktif dari sumberdaya pertanian
untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan. Guna mewujudkan pertanian
berkelanjutan, sumberdaya pertanian seperti air dan tanah yang tersedia perlu
dimanfaatkan secara berdaya guna dan berhasil guna. Kebutuhan akan
sumberdaya air dan tanah cenderung meningkat akibat pertambahan jumlah
penduduk dan perubahan gaya hidup, sehingga kompetisi dalam pemanfaatannya
juga semakin tajam baik antara sektor pertanian dengan sektor non-pertanian
maupun antar pengguna dalam sektor pertanian itu sendiri.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaiman sistem Pertanian berkelanjutan ?

2. Bagaimana Pengolahan air tanah ?

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah kebijaksanaan yang


kiranya perlu ditempuh dalam pengelolaan sumberdaya air tanah guna mendukung
pertanian bekelanjutan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Air Tanah

Air tanah adalah air yang tersimpan/terperangkap di dalam lapisan batuan


yang mengalami pengisian/penambahan secara terus menerus oleh alam.

a. Asal Air Tanah

Air tanah berasal dari air hujan yang meresap melalui berbagai
media peresapan, antara lain sebagai berikut :
1. Rongga-rongga dalam tanah akibat pencairan berbagai kristal yang
membeku pada musim dingin.
2. Rongga-rongga dalam tanah yang dibuat binatang (cacing dan rayap).
3. Retakan-retakan pada lapisan tanah yang terjadi pada musim kemarau, dan
pada waktu musim hujan menjadi sangat basah dan becek, seperti tanah
liat dan lumpur.
4. Pori-pori tanah yang gembur atau berstruktur lemah akan meresapkan air
lebih banyak daripada tanah yang pejal.
5. Rongga-rongga akibat robohnya tumbuh-tumbuhan yang berakar besar.

b. Kedalaman Air Tanah


Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan kedalaman air
tanah adalah sebagai berikut.
1. Permeabilitas Tanah
Permeabilitas tanah adalah tingkat kemampuan lapisan batuan atau
kemampuan tanah dalam menyerap air. Hal ini ditentukan oleh besar
kecilnya pori-pori batuan penyusun tanah. Semakin besar pori-pori
batuan, semakin banyak air yang dapat diserap oleh tanah tersebut.
Lapisan batuan yang tidak dapat ditembus air disebut lapisan kedap air
atau impermeable dan yang dapat ditembus air disebut lapisan lolos air
atau permeable.

2. Kemiringan Lereng
Kemiringan lereng atau topografi curam menyebabkan air yang
lewat sangat cepat sehingga air yang meresap sangat sedikit.

c. Sifat-Sifat Air Tanah


Air tanah secara umum mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan,
khususnya dari segi bakteriologis, namun dari segi kimiawi air tanah
mempunyai beberapa karakteristik tertentu tergantung pada lapisan kesadahan,
kalsium, magnesium, sodium, bikarbonat, pH dan lain-lainnya.

d. Manfaat Air Tanah

Manfaat air tanah bagi kehidupan, antara lain:


1. Merupakan bagian yang penting dalam siklus hidrologi
2. Menyediakan kebutuhan air bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan
3. Merupakan persediaan air bersih secara alami
4. Untuk keperluan hidup manusia (minum, memasak dan mencuci)
5. Untuk keperluan industri (industri tekstil dan industri farmasi)
6. Untuk irigasi pada sektor pertanian

e. Kerusakan sumber air

Kerusakan sumber daya air tidak dapat dipisahkan dari kerusakan di


sekitarnya seperti kerusakan lahan, vegetasi dan tekanan penduduk.Ketiga hal
tersebut saling berkaitan dalam mempengaruhi ketersediaan sumber
air.Kondisi tersebut diatas tentu saja perlu dicermati secara dini, agar tidak
menimbulkan kerusakan air tanah di kawasan sekitarnya.

Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya permasalahan adalah:

1. Pertumbuhan industri yang pesat di suatu kawasan disertai dengan


pertumbuhan pemukiman penduduk akan menimbulkan kecenderungan
kenaikan permintaan air tanah.
2. Pemakaian air beragam sehingga berbeda dalam kepentingan, maksud serta
cara memperoleh sumber air.
3. Perlu perubahan sikap sebagian besar masyarakat yang cenderung boros dalam
pengggunaan air serta melalaikan unsur konservasi.

2.2 Pengolahan Air Tanah

Konservasi dan perlindungan sumberdaya air telah menjadi bagian penting


dalam pertanian.Banyak diantara kegiatan-kegiatan pertanian yang telah
dilaksanakan tanpa memperhatikan kualitas air. Biasanya lahan basah berperan
penting dalam melakukan penyaringan nutrisi (pupuk anoraganik) dan pestisida.
Adapun langkah-langkah yang ditujukan untuk menjaga kualitas air, antara lain;

a) Mengurangi tambahan senyawa kimia sintetis ke dalam lapisan tanah bagian


atas (top soil) yang dapat mencuci hingga muka air tanah (water table).
b) Menggunakan irigasi tetes (drip irrigation).
c) Menggunakan jalur-jalur konservasi sepanjang tepi saluran air
d) Melakukan penanaman rumput bagi binatang ternak untuk mencegah
peningkatan racun akibat aliran air limbah pertanian yang terdapat pada
peternakan intensif.

Pelestarian Air tanah

Untuk menjaga agar kelestarian air tanah tetap terjamin, maka perlu diperhatikan
hal-hal berikut ini.

1. Konsep reduce (menghemat) yaitu penggunaan air tanah yang diatur sesuai
kebutuahan. Untuk menyiram tanaman tidak mengunakan air tanah
sebaiknya menggunakan air permuakan (sungai/danau/waduk).
2. Konsep reuse (menggunakan) yaitu menggunakan air tanah yang sesuai
dengan kebutuhan dan tidak berlebihan serta penggunaan lahan dalam suatu
daerah aliran sungai harus diperhitungkan dampak dan manfaatnya.
3. Konsep recovery (mefungsikan) yakni memfungsikan kembali tampungan-
tampungan air dengan cara melestarikan keberadaan situ dan danau serta
menjaga fungsi hutan agar tidak menimbulkan ketimpangan tata air.
4. Konsep recycle (mengelolah) adalah mengolah air limbah menjadi air bersih
dengan menggunakan metode kimiawi sehingga layak digunakan lagi dan
memperketat pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL)
khususnya terhadap air tanah.
5. Konsep recharge (mengisi) adalah konsep memasukkan air hujan ke dalam
tanah dan ini dapat dilakukan dengan cara membuat sumu resapan atau
lubang biopori.
2.3 Teknologi Pengelolaan Air Pada Pertanian
Air sangat penting bagi kehidupan manusia, begitu juga
pada bidang pertanian. Dalam budidaya tanaman jika air tidak
tersedia akan menyebabkan tanaman tidak berproduksi/ mati.
Unsur penting makro yang dibutuhkan tanaman untuk dalam
jumlah banyak dapat hidup yaitu Air dan pupuk terutama unsure
N P dan K. Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan air bagi
pertanian, hal yang penting adalah dengan mengelola
sumberdaya air. Berikut adalah beberapa teknologi dalam
mengelola sumberdaya air :

Teknologi panen hujan dan aliran permukaan

Teknologi panen hujan dan aliran permukaan adalah teknologi yang


didasarkan atas penampungan kelebihan air pada musim hujan dan
pemanfaatannya untuk musim kemarau.TeknologiPanen Hujan merupakan salah
satu alternative teknologi pengelolaam air.Teknologi ini pada prinsipnya
menyimpan dimusim hujan dan memasok air di musim kemarau. Beberapa
teknologi panen hujan dan aliran permukaan yang dapat digunakan adalah
teknologi embung dan dam parit :

a. Teknologi embung
Embung berfungsi sebagai tempat resapan air yang dapat meningkatkan
kemampuan menyimpan air tanah, serta menyediakan air di musim kemarau.
Beberapa keuntungan teknologi embung adalah :

1) Menyimpan air yang berlimpah pada musim hujan, sehingga dapat


mengurangi aliran permukaan, erosi dan bahaya banjir di daerah hilir;
2) Air yang tertampung dapat dimanfaatkan pada saat musim kemarau;
3) Dapat menunjang pengembangan usahatani di lahan kering khususnya sub
sector tanaman pangan, perikanan, dan peternakan;
4) Dapat menampung tanah tererosi sehingga memperkecil pendangkalan ke
sungai.

Untuk menerapkan teknologi embung, perlu diperhatikan beberapa criteria


dalam memilih lokasi embung, yaitu :

1) Harus memeprtimbangkan jarak antara saluran air;


2) Lahan dengan kemiringan 5-30%;
3) Diutamakan dribuat pada tanah-tanah yang memiliki tekstur liat dan atau
lempung.
b. Teknologi dam parit

Teknologi dam parit adalah suatu cara untuk mengmpulkan / membendung


aliran air pada suatu parit. Tujuannya untuk menampung aliran air
permukaan.Airnya selain dapat digunakan untk mengaliri lahan di sekitarnya, juga
dapat menurunkan kecepatan aliran air, erosi, dan sedimentasi.

Pada prinsipnya teknologi dam parit bertujuan untuk :

1) Menurunkan debit puncak, yaitu masuknya jumlah air paling tinggi yang
terjadi pada aliran. Dengan dibangunnya dam parit yang memotong aliran
akan mengurangi kecepatan aliran parit;
2) Memperpanjang waktu respon, yaitu memperpanjang selang waktu antara
saaat curah hujan maksimum dengan debit maksimumnya. Dengan
lamanya air tertahan dalam Daerah Aliran Sungai (DAS), maka sebagian
air akan meresap ke dalam tanah untuk mengisi cadangan air tanah dan
sebagian air dapat dialirkan ke lahan yang membutuhkan air/ lahan yang
tidak pernah mendapatkan air irigasi melalui parit-parit.

Keuntungan pembangunan dam parit di antaranya adalah sebagai berikut :

1) Dapat mengurangi resiko erosi tanah dan banjir di daerah hilir;


2) Menekan resiko kekeringan ;
3) Meningkatkan luas lahan yang dapat dibudidayakan;
4) Meningkatkan intensitas, jenis dan pola tanam;
5) Meningkatkan variasi pola penggunaan lahan (padi, sawah, ,palawija);
6) Meningkatkan jenis komoditas yang diusahakan (padi, jagung, kedelai,
kacang tanah, sayuran, dan buah-buahan);
7) Meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani.

c. Teknologi Irigasi

a) Sumur renteng
Sumur renteng adalah teknologi irigasi yang cocok dikembangkan pada
tanah tekstur berpasir.Tanah jenis ini memeiliki kemampuan yang sangat
tinggi sehingga tidak mampu menyimpan air dalam waktu lama. Prinsip
sumur renteng adalah menampung air untuk irigasi dalam sebuah bak
penampungan yang terhubung dengan bak penampungan lain melalui pipa di
bawah tanah, persis dengan prinsip kerja benjana berhubungan. Manfaat dari
sumur renteng yaitu :
1) Efisiensi air karena irigasi cukup diberikan pada bak penampungan
utama;
2) Resiko kehilangan air selama pendistrribusian dapat diminimalkan
karena irigasi dari bak penampungan dapat menjangkau zona
perakaran tanaman secara langsung;
3) Mengurangi tenaga kerja, terutama pada saat pengangkutan air dari
sumber air utama ke lahan.
b) Irigasi Kapiler

Irigasi kapiler ccok dikembangakan di daerah yang memiliki topografi


terjal dan sumber air yang relative terbatas.Prinsip dasar irigasi kapiler adalah
memanfaatkan air dari sumber mata air atau sungai yang disalurkan menuju
bak penampungan secara grafitasi menggunakan pipa PVC.Dari bak
penampungan, kemudian didistribusikan menggunakan selang plastik kapiler.

c) Irigasi Tetes

Sistem irigasi tetes merupakan system untuk memasok air dan pupuk
tersaring ke dalam tanah melalui suatu pemancar. Sistem irigasi tetes bekerja
dengan mengalirkan air dengan debit kecil, stabil serta tekanan.

Air akan menyebar di tanah baik ke samping maupun ke bawah karena


gaya kapiler dan grafitasi. Bentuk sebarannya tergantung jenis tanah,
kelembapan, dan jenis tanaman.Jenis tanaman yang dialiri dengan irigasi tetes
biasanya yang ditanam dalam barisan, umumnya berupa tanaman holtikultura
dan sayur-sayuran.

Sistem irigasi tetes ini bekerja dengan baik pada panjang baris tanaman
bervariasi anatara 40 meter hingga 150 meter dengan ukuran per plot berkisar
antara 0.2 sampai dengan 1 Ha, bentuk lahan bujur sangkar ataupun persegi
pada topografi datar dan seragam atau kemiringan 3% dan laju infiltrasi
<20mm jam.="" span="">
Keuntungan irigasi tetes antara lain :

1) Efisiensi sangat tinggi (penguapan rendah, tidak ada gerakan air di


udara, tidak ada pembahasahan daun, aliran rendah, pengairan dibatasi
disekitar tanaman pokok);
2) Respon tanaman lebih baik sehingga produksi, kualitas, kan
keseragaman produk;
3) Tidak mengganggu aerasi tanah, dapat dipadu dengan unsure hara;
4) Mengurangi perkembangan serangga, penyakit dan jamur;
5) Lahan tidak terganggu karena pengolahan tanah, siraman, dll;
6) Meningkatkan pengairan permukaan;
7) Bias diletakkan di bawah mulsa plastic, bias diterapkan di daerah
bergelombang.

Irigasi tetes bagi sebagian orang merupakan teknologi yang mahal, dan hanya
diperuntukkan bagi tanaman yang bernilai ekonomi tinggi.Tetapi dewasa ini
system irigasi tetes banyak diadaptasi dengan menggunakan bahan-bahan yang
tersedian di sekitar petani.

d) Irigasi macak-macak

Irigasi macak-macak adalah teknik pemberian air yang bertujua


membasahi lahan hingga jenuh, tanpa perlu lahan tersebut tergenangi hingga
mencapai ketinggian tertentu. Teknik irigasi macak-macak akan berpengaruh
pada penggunaan air yang sangat efisien. Genangan dalam (10-15cm) seperti
yang dilakukan petani pada umumnya dapat menyebabkan tingginya
kehilangan air yang di dalamnya juga terlarut unsure hara, sehingga tingkat
kehilangan hara juga menjadi tinggi.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air irigasi


macak-macak dan tidak secara terus-menerus (rotasi) hasilnya tidak berbeda
nyata dengan genangan tinggi secara terus-menerus.

Efisiensi penggunaan air merupakan aspek penting berkenaan dengan


upaya peningkatan nilai ekonomi produksi pertanian pada lahan
beririgasi.Efisiensi penggunaan air pada lahan yang diirigasi secara macak-
macak hamper 2-3kali lebih tinggi disbanding dengan lahan yang digenangi
terus-menerus.

Penerapan teknologi macak-macak juga efektif untuk mengurangi


serangan hama keong mas. Keong mas dapat bergerak cepat jika sebagian
besar badannya berada di bawah permukaan air, namun sebaliknya sulit
bergerak di tempat yang macak-macak.

e) Teknologi irigasi curah

Mendistribusikan air dengan cara menyemprotkan air ke udara dan


menjatuhkannya di sekitar tanaman seperti hujan. Penyemprotan dibuat
dengan mengalirkan air bertekanan melalui orifice kecil atau nozzle.Tekanan
biasanya dipadatkan dengan pemompaan dan untuk mendapatkan
penyebaranair yang seragam diperlukan pemilihan ukuran nozzle, tekanan
operasional, spasing sprinkler dan laju infiltrasi tanah yang sesuai.

Kesesuaian irigasi curah :

1) Irigasi curah dapat digunakan hamper semua tanaman;


2) Cocok pada hamper semua jenis tanah, kecuali untuk tanah bertekstur
liat halus, dimana laju infiltrasi kurang dari 4 mm/ jam;
3) Tidak cocok pada kondisi kecepatan angin lebih besar dari 13 km/ jam.

Keuntungan penerapan irigasi curah :

1) Efisiensi dalam pemakaian air;


2) Dapat digunakan untuk lahan dengan topografi bergelombang dan
kedalaman tanah yang dangkal, tanpa diperlukan perataan lahan;
3) Cocok untuk tanah berpasir di mana laju infiltrasi biasanya cukup tinggi;
4) Aliran permukaan dapat dihindari sehingga memperkecil kemungkinan
terjadinya erosi;
5) Pemupukan terlarut, herbisida dan fungisida dapat dilakukan bersama-
sama dengan air irigasui;
6) Biaya tenaga kerja untuk operasi biasanya lebih kecil daripada irigasi
permukaan;
7) Dengan tidak diperlukannya saluran terbuka, maka tidak banyak lahan
yang tidak dapat ditanami;
8) Tidak mengganggu operasi alat dan mesin pertanian.
Berbagai faktor pembatas penggunaan irigasi curah adalah :

1) Kecepatan dan arah angin berpengaruh terhadap pola penyebaran air;


2) Air irigasi harus cukup bersih bebas dari pasir dan kotoran lainnya;
3) Investasi awal cukup tinggi;
4) Diperlukan tenaga penggerak di mana tekanan air berkisar antara 0,5-
10Kg/ cm2.

f) Teknologi irigasi parit

Irigasi parit merupakan salah satu teknik irigasi lahan kering untuk
tanaman palawija jagung, kedelai dan kacang tanah atau sayuran.
Dibandingkan dengan irigasi konvensional (genangan) teknik ini
membutuhkan air lebih efisien karena irigasi hanya disalurkan pada parit yang
berada di samping baris tanaman. Parit berukuran lebar 35-40 cm pada bagian
atas dan 15-20 cm pada bagian bawah dengan kedalaman 10-15 cm. Jarak
antar parit anatara 80-100cm tergantung jarak tanam.

Sumber air irigasi parit dapat berasal dari saluran irigasi atau dari air tanah
yang dinaikkan menggunakan pompa. Agar efisien, kebutuhan dosis irigasi
dan interval pemberian irigasi harus mempertimbangkan karakteristik tekstur
tanah, jenis dan tahap pertumbuhan tanaman, kedalaman perakaran, serta
evapotranspirasi.

g) Teknologi sumur resapan

Pembangunan sumur resapan dilakukan sebagai upaya mengantisipasi


kekeringan. Teknologi ini merupakan salah satu kegiatan konservasi air
sebagai upaya untuk meningkatkan valome air tanah di daerah pertanian dan
uapaya penanggulangan dampak bencana alam kekeringan. Pembangunan
sumur resapan dilakukan secara swakelola (padat karya) agar masyarakat
mampu mengembangkan sumur resapan dan merasa memiliki sejak dini.
Dalam pembuatan sumur resapan, penting memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :

1) Bangunan sumur resapan terdiri dari :


Saluran air sebagai jalan untuk air yang akan dimasukkan ke dalam
sumur;
Bak kontrol yang berfungsi untuk menyaring air sebelum masuk
sumur resapan ;
Pipa pemasukan atau saluran air masuk. Ukurannya tergantung
jumlah aliran permukaan yang akan masuk sumur resapan;
Sumur resapan;
Pipa pembuangan yang berfungsi sebagai saluran pembuangan jika
air dalam sumur resapan sudah penuh.
2) Beberapa kektentuan teknis untuk pembangunan :
Sumur resapan ditempatkan di daerah hulu/ atas kawasan sumur-
sumur gali dan sumur bor yang dimanfaatkan untuk irigasi
pertanian
Untuk menjaga pencemaran air kedalaman sumur resapan harus
diatas kedalaman muka air tanah tidak tertekan yang ditandai oleh
adanya mata air tanah;
Untuk mendapatkan jumlah air yang memadahi, kawasan sumur
resapan minimal memiliki limpasan air yang cukup tinggi dan
penempatan sumur adalah di dekat alur-alur limpasan (parit) untuk
memudahkan pengambilan airnya;
Sebelum air hujan yang berupa aliran permukaan masuk ke dalam
sumur melalui saluran air, sebaiknya dilakukan penyaringan air di
bak kontrol terlebih dahulu;
Penyaringan ini dimaksudkan agar sampah dan kotoran tidak
terbawa masuk ke sumur dan menyumbat pori-pori lapisan aquifer
yang ada;
Untuk menahan tenaga kinetis air yang masuk melalui pipa
pemasukan, dasar sumur yang berada di lapisan kedap air dapat
diisi dengan batu belah atau ijuk;
Pada dinding sumur tepat di depan pipa pemasukan, dipasang pipa
pengeluaran yang letaknya lebih rendah daripada pipa pemasukan
untuk antisipasi manakala terjadi overflow/luapan air di dalam
sumur. Bila tidak dilengkapi dengan pipa pengeluaran, air yang
masuk ke sumur harus dapat diatur misalnya dengan sekat balok
dan lain-lain. Diameter sumur bervariasi tergantung pada besarnya
curah hujan , luas tangkapan air, konduktifitas hidrolika lapisan
aquifer, tebal lapisan aquifer dan daya tampung lapisan aquifer.
Pada umumnya diameter berkisar antara 1-1,5cm tergantung pada
tingkat kelabilan/ kondisi lapisan tanah dan ketersediaan dana yang
ada, dinding sumur dapat dilapisi pasangan batu bata, buis beton
atau bahan-bahan spesifik lokasi yang kuat menahan tanah.
Dinding sumur tersebut dibuat lubang-lubang agar air dapat
meresap juga secara horisontal. Apabila struktur tanah kuat/tidak
mudah longsor maka dinding tidak perlu dilapisi sampai dasar,
tetapi cukup setinggi 2 meter dari atas untuk menahan tutup
sumur. Dengan konstruksi sederhana tersebut diharapkan jumlah
sumur resapan yang dibangun lebih dari satu buah.

3) Pelaksanaan konstruksi
a. Saluran air
Adalah saluran ketika terjadi hujan dilewati aliran air
permukaan, jadi merupakan alur-alur alami atau parit;
Lebar dan kedalaman saluran dibuat agar memudahkan air
masuk ke bak kontrol;
Pada saluran ini dibuat saluran keluar menuju bak kontrol.
b. Bak kontrol
Bak kontrol berfungsi untuk menyaring partikel-partikel debu
dan sampah yang menyertai aliran permukaan agar tidak masuk
ke dalam sumur resapan;
Lebar dan kedalaman bak kontrol disesuaikan dengan volume
aliran permukaan yang masuk;
Bak kontrol diisi lapisan-lapisan, mulai dari bawah ke atas :
kerikil, pasir kasar, pasir, dan ijuk;
Lapisan-lapisan ini tidak melebihi bahkan di bawah permukaan
air dari saluran air
c. Sumur resapan
Garis tengah (diameter) sumur antara 0,8-1,4 meter dan
kedalaman di atas muka air tanah yang ditandai dengan adanya
mata air;
Untuk memperkuat dinding sumur agar tidak longsor dapat
diperkuat dengan pasangan batu bata/buis beton dan dibuat
lubang-lubang agar air dapat juga meresap ke dalam tanah
melalaui samping sumur;
Kedalaman pelapisan dinding yang disesuaikan dengan struktur
tanah yang ada;
Untuk menghindari terjadinya gangguan atau kecelakaan, maka
dinding sumur dipertinggi kira-kira 25-40cm dari permukaan
tanah dan ditutup dengan papan atau coran.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Air merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam produk
pangan.
Tanah yangt baik aadalah tanah yang mengandung banyak unsur
jerapan air.
Air tanah meruapakan air yang tersimpan di dalam tanah kerana
melalui infiltrasi dan perkolasi
Air tanah sangat diperlukan dalam bercocok tanam.
3.2 Saran
Untuk para pembaca agar lebih mengausai tentang pentingnya air tanah dan
kebutuhan dalan penggunaan air tanah.
DAFTAR PUSTAKA

Anonym.2012.Diunduh dalam https://bebeksambek.wordpress.com/2012/04/05/


makalah-pengelolaan-air/.Diakses pada Selasa, 20 September 2016.

Anonym.Diunduh dalam https://www.scribd.com/doc/48564535/Pengelolaan-


Sumberdaya-Air-Untuk-Pertanian-Berkelanjutan.Diakses pada pada
Selasa, 20 September 2016.

Anonym.Diunduh dalam http://siat.bgl.esdm.go.id/?q=content/pengelolaan-air-


tanah-berdasarkan-peraturan-air-tanah.Diakses pada Selasa, 20
September 2016.

Eka D.2015.Diunduh dalam http://debbyeka.blogspot.co.id/2015/10/teknologi-


pengelolaan-air-pada-pertanian.html.Diakses pada Selasa, 20 September
2016.