Anda di halaman 1dari 5

Peran Wirausaha Untuk Meningkatkan Kesejahteraan

Masyarakat Di Indonesia.
Negara Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Hal ini terlihat dari
jumlah penduduknya yang relatif banyak. Saat ini negara Indonesia telah menduduki peringkat
keempat di Asia sebagai penduduk yang dikategorikan sangat padat. Sehingga hal itu berdampak
pada kondisi ekonomi dan sosial yang belum makmur. Adapun masalah-masalah yang di hadapi
oleh masyarakat Indonesia yaitu mulai dari penduduknya yang miskin, tingkat pengangguran
yang semakin tinggi, rendahnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan masyarakat, mahalnya
harga pangan , mahalnya biaya pendidikan, jaminan kesehatan untuk masyarakat di desa-desa
terpencil masih sangat kurang, dan masih banyak juga masalah-masalah lainnya.
Cara yang digunakan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut yaitu diperlukan peran
wirausaha (entrepreneur) yaitu sumber daya manusia yang memiliki kemampuan yang kreatif,
inovatif, dinamis, dan proaktif terhadap tantangan yang ada. Setiap individu harus berusaha
untuk menjadi produktif, memiliki kemandirian yang tinggi, mampu melihat peluang dan
tantangan yang ada, mampu memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan, mampu
memahami dan mengimplementasikan manajemen bisnis, serta berguna dan memberikan
manfaat baik untuk dirinya maupun untuk orang lain, organisasi, masyarakat, dan negara.

Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM)

Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM)

UKM adalah singkatan dari usaha kecil dan menengah. Ukm adalah salah satu bagian penting
dari perekonomian suatu negara maupun daerah, begitu juga dengan negara indonesia ukm ini
sangat memiliki peranan penting dalam lajunya perekonomian masyarakat. Ukm ini juga sangat
membantu negara/pemerintah dalam hal penciptaan lapangan kerja baru dan lewat ukm juga
banyak tercipta unit unit kerja baru yang menggunakan tenaga-tenaga baru yang dapat
mendukung pendapatan rumah tangga. Selain dari itu ukm juga memiliki fleksibilitas yang tinggi
jika dibandingkan dengan usaha yang berkapasitas lebih besar. Ukm ini perlu perhatian yang
khusus dan di dukung oleh informasi yang akurat, agar terjadi link bisnis yang terarah antara
pelaku usaha kecil dan menengah dengan elemen daya saing usaha, yaitu jaringan pasar.
Terdapat dua aspek yang harus dikembangkan untuk membangun jaringan pasar, aspek tersebut.

Kinerja nyata yang dihadapi oleh sebagian besar usaha terutama mikro, kecil, dan menengah
(UMKM) di Indonesia yang paling menonjol adalah rendahnya tingkat produktivitas, rendahnya
nilai tambah, dan rendahnya kualitas produk. Walau diakui pula bahwa UMKM menjadi
lapangan kerja bagi sebagian besar pekerja di Indonesia , tetapi kontribusi dalam output nasional
di katagorikan rendah. Hal ini dikarenakan UMKM, khususnya usaha mikro dan sektor pertanian
(yang banyak menyerap tenaga kerja), mempunyai produktivitas yang sangat rendah. Bila upah
dijadikan produktivitas, upah rata-rata di usaha mikro dan kecil umumnya berada dibawah upah
minimum. Kondisi ini merefleksikan produktivitas sektor mikro dan kecil yang rendah bila di
bandingkan dengan usaha yang lebih besar.

Untuk meningkatkan daya saing UMKM diperlukan langkah bersama untuk mengangkat
kemampuan teknologi dan daya inovasinnya. Dalam hal ini inovasi berarti sesuatu yang baru
bagi si penerima yaitu komunitas UMKM yang bersangkutan. Kemajuan ekonomi terkait dengan
tingkat perkembangan yang berarti tahap penguasaan teknologi. sebagian terbesar bersifat
STATIS atau tidak terkodifikasi dan dibangun di atas pengalaman. Juga bersifat kumulatif
( terbentuk secara incremental dan dalam waktu yang tertentu ). Waktu penguasaan teknologi
ini bergantung pada sektor industrinya ( sector specific) dan proses akumulasinya mengikuti
trajektori tertentu yang khas.

Di antara berbagai faktor penyebabnya, rendahnya tingkat penguasaan teknologi dan


kemampuan wirausaha di kalangan UMKM menjadi isue yang mengemuka saat ini.
Pengembangan UMKM secara parsial selama ini tidak banyak memberikan hasil yang maksimal
terhadap peningkatan kinerja UMKM, perkembangan ekonomi secara lebih luas mengakibatkan
tingkat daya saing kita tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita seperti
misalnya cina dan Malaysia. Karena itu kebijakan bagi UMKM bukan karena ukurannya yang
kecil, tapi karena produktivitasnya yang rendah. Peningkatan produktivitas pada UMKM, akan
berdampak luas pada perbaikan kesejahteraan rakyat karena UMKM adalah tempat dimana
banyak orang menggantungkan sumber kehidupannya. Salah satu alternatif dalam meningkatkan
produktivitas UMKM adalah dengan melakukan modernisasi sistem usaha dan perangkat
kebijakannya yang sistemik sehingga akan memberikan dampak yang lebih luas lagi dalam
meningkatkan daya saing daerah.

Ciri-ciri perusahaan kecil dan menengah di Indonesia, secara umum adalah:

Manajemen berdiri sendiri, dengan kata lain tidak ada pemisahan yang tegas antara pemilik
dengan pengelola perusahaan. Pemilik adalah sekaligus pengelola dalam UKM.
Modal disediakan oleh seorang pemilik atau sekelompok kecil pemilik modal.
Daearh operasinya umumnya lokal, walaupun terdapat juga UKM yang memiliki orientasi luar
negeri, berupa ekspor ke negara-negara mitra perdagangan.
Ukuran perusahaan, baik dari segi total aset, jumlah karyawan, dan sarana prasarana yang kecil
Usaha Kecil Menengah tidak saja memiliki kekuatan dalam ekonomi, namun juga kelemahan,
berikut ini diringkas dalam bentuk tabel:

Kekuatan dan Kelemahan UKM


KEKUATAN KELEMAHAN
KEBEBASAN UNTUK BERTINDAK MODAL DALAM PENGEMBANGAN
TERBATAS
MENYESUAIKAN KEPADA KEBUTUHAN SETEMPAT SULIT UNTUK
MENDAPATKAN
KARYAWAN
PERAN SERTA DALAM MELAKUKAN USAHA/TINDAKAN RELATIF LEMAH
DALAM
SPESIALISASI

Segala usaha bisnis dijalankan dengan azas manfaat, yaitu bisnis harus dapat memberikan
manfaat tidak saja secara ekonomi dalam bentuk laba usaha, tetapi juga kelangsungan usaha.
Beberapa faktor penentu keberhasilan usaha adalah:

Kemampuan mengembangkan dan mengimplementasikan rencana perusahaan, baik jangka


pendek maupun panjang
Kapabilitas dan kompetensi manajemen.
Perusahaan dapat memenuhi kebutuhan modal untuk menjalankan usaha.

Krisis global dunia telah menggagalkan, bahkan membangkrutkan banyak bisnis di dunia. Di
tengah krisis global yang melanda dunia tahun 2008-2009, Indonesia menjadi salah satu negara
korban krisis global, walaupun kita telah belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa sektor
UKM tahan krisis, namun tetap saja harus ada kewaspadaan akan dampak krisis ini terhadap
sektor UKM,dan ada beberapa tantangan UKM dalam menghadapi era krisis global yaitu :

Tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. Kebanyakan
UKM dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola
perusahaan, serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya.

Sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan hukum. Mayoritas
UKM merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notaris, 4,7% tergolong perusahaan
perorangan berakta notaris, dan hanya 1,7% yang sudah memiliki badan hukum (PT/ NV, CV,
Firma, atau koperasi).

Masalah utama yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja adalah tidak terampil
dan mahalnya biaya tenaga kerja. Regenerasi perajin dan pekerja terampil relatif lambat.
Akibatnya, di banyak sentra ekspor mengalami kelangkaan tenaga terampil untuk sektor tertentu.

Dalam bidang pemasaran, masalahnya terkait dengan banyaknya pesaing yang bergerak dalam
industri yang sama, relatif minimnya kemampuan bahasa asing sebagai suatu hambatan dalam
melakukan negosiasi, dan penetrasi pasar di luar negeri.

Dan salah satu langkah strategis untuk mengamankan UKM dari ancaman dan tantangan krisis
global adalah dengan melakukan penguatan pada multi-aspek. Salah satu yang dapat berperan
adalah aspek kewirausahaan. Wirausaha dapat mendayagunakan segala sumber daya yang
dimiliki, dengan proses yang kreatif dan inovatif, menjadikan UKM siap menghadapi tantangan
krisis global. Beberapa peran kewirausahaan dalam mengatasi tantangan di UKM adalah:

1.Memiliki daya pikir kreatif, yang meliputi:


a. Selalu berpikir secara visionaris (melihat jauh ke depan), sehingga memiliki
perencanaan tidak saja jangka pendek, namun bersifat jangka panjang
(stratejik).
b. Belajar dari pengalaman orang lain, kegagalan, dan dapat terbuka menerima
kritik dan saran untuk masukan pengembangan UKM.

2.Bertindak inovatif, yaitu:


a. Selalu berusaha meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas dalam
setiap aspek kegiatan UKM.
b. Meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi persaingan bisnis.

3.Berani mengambil resiko, dan menyesuaikan profil resiko serta mengetahui


resiko dan manfaat dari suatu bisnis. UKM harus memiliki manajemen resiko
dalam segala aktivitas usahanya.

Sementara untuk mengatasi masalah yang ada di UKM saat ini, tidak saja dibutuhkan 3 sikap di
atas, namun juga diperlukan langkah-langkah pendukung dari manajemen UKM, dalam aspek
penataan manajemen UKM . Beberapa aspek pengelolaan manajemen UKM yang harus dibenahi
dapat dibuat daftar nya sbb:

key indicator pengelolaan UKM

Personil
Fasilitas fisik
Akuntansi
Keuangan
Pembelian
Pengurusan barang dagangan
Penjualan / Marketing
Advertensi
Resiko
Penyelenggaraan sehari-hari

Banyak text book yang telah mendefinisikan ciri-ciri kewirausahaan dari berbagai
aspek, semisalnya gender, produk yang dihasilkan, usia, serta profil psikologis, seperti
yang ditulis oleh Griffin & Ebert (2005) dan Boone (2007), yang dapat diringkas sbb:
1. Mempunyai hasrat untuk selalu bertanggung jawab bisnis dan sosial
2. Komitmen terhadap tugas
3. Memilih resiko yang moderat
4. Merahasiakan kemampuan untuk sukses
5. Cepat melihat peluang
6. Orientasi ke masa depan
7. Selalu melihat kembali prestasi masa lalu
8. Memiliki skill dalam organisasi
9. Toleransi terhadap ambisi
10. Fleksibilitas tinggi

Memang cukup berat tantangan yang dihadapi untuk memperkuat struktur perekonomian
nasional. Pembinaan pengusaha kecil harus lebih diarahkan untuk meningkatkan kemampuan
pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah. Namun disadari pula bahwa pengembangan
usaha kecil menghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan, ketrampilan, keahlian,
manajemen sumber daya manusia, kewirausahaan, pemasaran dan keuangan. Lemahnya
kemampuan manajerial dan sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak
mampu menjalankan usahanya dengan baik. Secara lebih spesifik, masalah dasar yang dihadapi
pengusaha kecil adalah: Pertama, kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar
pangsa pasar. Kedua, kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh
jalur terhadap sumber-sumber permodalan. Ketiga, kelemahan di bidang organisasi dan
manajemen sumber daya manusia. Keempat, keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar
pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). Kelima, iklim usaha yang kurang kondusif,
karena persaingan yang saling mematikan. Keenam, pembinaan yang telah dilakukan masih
kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil.

Masalahnya kini, apakah kemitraan hanya sekedar retorika politis semata, ataukah memang
secara kongkrit dan konsisten hendak diwujudkan dengan tindakan nyata? Komitmen kemitraan
dirasakan bagaikan angin segar bagi kebanyakan usaha kecil. Harapan mereka adalah agar
program kemitraan ini tidak hanya seperti angin sepoi-sepoi yang cepat berlalu. Semoga
kemitraan tidak hanya sekedar menjadi mitos.

Berdasarkan pemaparan UKM dan kewirausahaan di atas, maka penulis mengambilkesimpulan


sbb:

Usaha Kecil Menegah (UKM) Indonesia telah membuktikan perannya sebagai kontributor
pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan membuktikan diri secarahistoris tahan terhadap krisis.

Setidaknya ada 7 tantangan yang dihadapi oleh UKM dalam krisis finansial global yang dapat
mengancam daya saing dan operasional UKM.

Aspek kewirausahaan dapat berperan dalam menghadapi tantangan yang dihadapi UKM, yaitu
bagaimana UKM harus dapat bertindak inovatif, berpikir kreatif, dan berani mengambil resiko.

Penulis juga mengemukakan saran pengembangan UKM sebagai berikut:


UKM harus memiliki manajemen resiko yang baik dalam rangka pengelolaan usaha, untuk itu
disarankan adanya perhatian dan pengelolaan perusahaan berdasarkan kepada resiko yang ada.

Kewirausahaan tidak akan berjalan jika tida memiliki sikap mental positif. Olehkarena itu,
pelaku UKM diharapkan memiliki sikap mental positif sebagai syarautama untuk berpikir
kreatif, bekerja secara inovatif, dan berani mengambil resiko.