Anda di halaman 1dari 47

MAKALAH PENGEMBANGAN PARAGRAF

MATERI PARAGRAF 2
Makalah Ini Dibuat untuk Melengkapi Tugas
Bahasa Indonesia

FERIYANTO (11102101)

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MALANG


JL.SOEKARNO HATTA-REMBUKSARI 1A, MALANG Tlp. 0341 478877
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat dan karunia-Nya
kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Pengembangan
Alinea / Paragraf ini dengan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu
tugas yang diberikan oleh dosen matakuliah Bahasa Indonesia . Makalah ini ditulis dari hasil
penyusunan data-data yang penulis peroleh dari situs blog di internet. Tak lupa penulis ucapkan
terima kasih kepada pengajar matakuliah Bahasa Indonesia atas bimbingan dan arahan dalam
penulisan makalah ini, sehingga dapat diselesaikannya makalah ini. penulis berharap, dengan
membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah
wawasan kita mengenai Pengembangan Alinea/Paragraf, khususnya bagi penulis. Memang
makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam sebuah karangan ilmiah tidak mungkin baik bila paragraf-paragraf penyusunnya tidak
baik. Sama halnya dengan paragraf, tidak mungkin menjadi paragraf yang baik bila kalimat-
kalimat penyusunnya juga tidak baik. Demikian juga dengan kalimat, tidak mungkin diperoleh
kalimat yang baik bila kata-kata penyusunnya tidak tepat dan tidak sesuai. Berkaitan dengan
paragraf, berikut ini kami akan membahas syarat, pola dan teknik pengembanagan paragraf yang
baik.

1.2 Tujuan Penulisan


Disamping untuk memenuhi tugas mata kuliah, makalah ini disusun dengan tujuan untuk lebih
mengetahui tentang :
1. Syarat penyusunan paragraf yang baik
2. Pola pengembangan paragraf
3. Teknik Pengembangan Paragaraf

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Syarat-syarat Pembentukan dan Pengembangan Paragraf

Dalam pembentukan/pengembangan paragraf, perlu diperhatikan persyaratan-persyaratan


berikut.

1. Kesatuan

Sebagaimana telah dipaparkan di depan, bahwa tiap paragraf hanya mengandung satu gagasan
pokok. Fungsi paragraf adalah untuk mengembangkan gagasan pokok tersebut. Untuk itu, di
dalam pengembangannya, uraian-uraian dalam sebuah paragraf tidak boleh menyimpang dari
gagasan pokok tersebut. Dengan kata lain, uraian-uraian dalam sebuah paragraf diikat oleh satu
gagasan pokok dan merupakan satu kesatuan. Semua kalimat yang terdapat dalam sebuah
paragraf harus terfokus pada gagasan pokok.

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini.

Kebutuhan hidup sehari-hari setiap keluarga dalam masyarakat tidaklah sama. Hal ini sangat
tergantung pada besarnya penghasilan setiap keluarga. Keluarga yang berpenghasilan sangat
rendah, mungkin kebutuhan pokok pun sulit terpenuhi. Lain halnya dengan keluarga yang
berpenghasilan tinggi. Mereka dapat menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk
membangun tempat-tempat beribadah, atau untuk kegiatan sosial lainnya. Tempat ibadah
memang perlu bagi masyarakat. Pada umumnya tempat-tempat ibadah ini dibangun secara
bergotong royong dan sangat mengandalkan sumbangan para dermawan. Perbedaan
penghasilan yang besar dalam masyarakat telah menimbulkan jurang pemisah antara Si kaya
dan Si miskin.

Contoh paragraf di atas adalah contoh paragraf yang tidak memiliki prinsip kesatuan. Gagasan
pokok tentang penghasilan suatu keluarga dalam pengembangannya kita jumpai gagasan pokok
lain tentang tempat beribadah. Hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain
tidak merupakan satu kesatuan yang bulat untuk menunjang gagasan utama.

2. Kepaduan

Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh suatu paragraf ialah koherensi atau kepaduan. Sebuah
paragraf bukanlah sekedar kumpulan atau tumpukan kalimat-kalimat yang masing-masing
berdiri sendiri-sendiri, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal
balik. Urutan pikiran yang teratur akan memperlihatkan adanya kepaduan, dan pembaca pun
dapat dengan mudah memahami/mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena adanya
perloncatan pikiran yang membingungkan.

Kata atau frase transisi yang dapat dipakai dalam karangan ilmiah sekaligus sebagai penanda
hubungan dapat dirinci sebagai berikut.

Hubungan yang menandakan tambahan kepada sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya,
misalnya: lebih-lebih lagi, tambahan, selanjutnya, di samping itu, lalu, seperti halnya, juga, lagi
pula, berikutnya, kedua, ketiga, akhirnya, tambahan pula, demikian juga

Hubungan yang menyatakan perbandingan, misalnya: lain halnya, seperti, dalam hal yang sama,
dalam hal yang demikian, sebaliknya, sama sekali tidak, biarpun, meskipun

Hubungan yang menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya;
misalnya: tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian, sebaliknya, sama sekali tidak,
biarpun, meskipun

Hubungan yang menyatakan akibat/hasil; misal: sebab itu, oleh sebab itu, karena itu, jadi, maka,
akibatnya

Hubungan yang menyatakan tujuan, misalnya: sementara itu, segera, beberapa saat kemudian,
sesudah itu, kemudian

Hubungan yang menyatakan singkatan, misal: pendeknya, ringkasnya, secara singkat, pada
umumnya, seperti sudah dikatakan, dengan kata lain, misalnya, yakni, sesungguhnya

Hubungan yang menyatakan tempat, misalnya: di sini, di sana, dekat, di seberang, berdekatan,
berdampingan dengan

3. Kelengkapan

Syarat ketiga yang harus dipenuhi oleh suatu paragraf adalah kelengkapan. Suatu paragraf
dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat
topik/gagasan utama. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh-contoh berikut ini.

contoh pertama

Suku Dayak tidak termasuk suku yang suka bertengkar. Mereka tidak suka berselisih dan
bersengketa.
Contoh paragraf di atas hanya diperluas dengan perulangan. Pengembangannya pun tidak
maksimal.

contoh kedua

Masalah kelautan yang dihadapi dewasa ini ialah tidak adanya peminat atau penggemar jenis
binatang laut seperti halnya peminat atau penggemar penghuni darat atau burung-burung yang
indah

Contoh paragraf kedua di atas merupakan contoh paragraf yang tidak dikembangkan. Paragraf di
atas hanya terdiri dari kalimat topik saja. Contoh ketiga berikut ini merupakan contoh
pengembangan dari contoh paragraf kedua di atas.

contoh ketiga

Masalah kelautan yang dihadapi dewasa ini ialah tidak adanya peminat atau penggemar jenis
binatang laut seperti halnya peminat atau penggemar penghuni darat atau burung-burung yang
indah. Tidak adanya penyediaan dana untuk melindungi ketam kenari, kima, atau tiram mutiara
sebagaimana halnya untuk panda dan harimau. Jenis mahkluk laut tertentu tiba-tiba punah
sebelum manusia sempat melindunginya. Tiram raksasa di kawasan Indonesia bagian barat
kebanyakan sudah punah. Sangat sukar menemukan tiram hidup dewasa ini, padahal rumah
tiram yang sudah mati mudah ditemukan. Demikian juga halnya dengan kepiting kelapa dan
kepiting begal yang biasa menyebar dari pantai barat Afrika sampai bagian barat Lautan
Teduh, kini hanya dijumpai di daerah kecil yang terpencil. Dari mana diperoleh dana untuk
melindungi semua ini?

Perlu kiranya ditambahkan di sini bahwa ada jenis wacana khusus/tertentu yang sengaja dibuat
satu paragraf hanya terdiri dari satu kalimat saja dan ini merupakan kalimat topik. Wacana
tersebut adalah wacana Tajuk Rencana dalam suatu surat kabar. Sesuai dengan ciri wacana
jurnalistik dalam sebuah tajuk, bahwa tajuk rencana merupakan gagasan dari redaksi surat kabar
tersebut pada suatu masalah tertentu/sikap redaksi, sehingga apa yang diuraikan hanyalah
gagasan-gagasan pokoknya saja sementara uraian secara panjang lebar dapat dilihat dan dibaca
pada berita-berita utamanya
2.2 Letak Kalimat Topik dalam Sebuah Paragraf

Sebuah paragraf dibangun dari beberapa kalimat yang saling menunjang dan hanya mengandung
satu gagasan pokok saja. Gagasan pokok itu dituangkan ke dalam kalimat topik / kalimat pokok.
Kalimat topik/kalimat pokok dalam sebuah paragraf dapat diletakkan, di akhir di awal, di awal
dan akhir, atau dalam seluruh paragraf itu. Berikut ini secara urut akan dipaparkan contoh-contoh
paragraf dengan kalimat topik yang terletak di awal, di akhir, di awal dan akhir, serta dalam
seluruh paragraf.

contoh pertama

Kosa kata memegang peranan dan merupakan unsur yang paling mendasar dalam kemampuan
berbahasa, khususnya dalam karang mengarang. Jumlah kosa kata yang dimiliki seseorang
akan menjadi petunjuk tentang pengetahuan seseorang. Di samping itu, jumlah kosa kata yang
dikuasai seseorang juga akan menjadi indikator bahwa orang itu mengetahui sekian banyak
konsep. Semakin banyak kosa kata yang dikuasai, semakin tinggi pula tingkat pengetahuan
seseorang. Dengan demikian, seorang penulis akan mudah memilih kata-kata yang tepat/cocok
untuk mengungkapkan gagasan yang ada di dalam pikirannya.

contoh kedua

Pada waktu anak memasuki dunia pendidikan, pengajaran bahasa Indonesia secara
metodologis dan sistematis bukanlah merupakan halangan baginya untuk memperluas dan
memantapkan bahasa daerahnya. Setelah anak didik meninggalkan kelas, ia kembali
mempergunakan bahasa daerah, baik dalam pergaulan dengan teman-temannya atau dengan
orang tuanya. Ia merasa lebih intim dengan bahasa daerah. Jam sekolah berlangsung beberapa
jam. Baik waktu istirahat maupun di antara jam-jam pelajaran, unsur-unsur bahasa daerah
tetap menerobos. Ditambah lagi jika sekolah itu bersifat homogen dan gurunya pun penutur asli
bahasa daerah itu. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan pengetahuan si anak terhadap
bahasa daerahnya akan melaju terus dengan cepat.

contoh ketiga

Peningkatan taraf pendidikan para petani dirasakan sama pentingnya dengan usaha
peningkatan taraf hidup mereka. Petani yang berpendidikan cukup dapat mengubah sistem
pertanian tradisional, misalnya bercocok tanam hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan
menjadi petani modern yang produktif. Petani yang berpendidikan cukup, mampu menunjang
pembangunan secara positif. Mereka dapat memberikan umpan balik yang setimpal terhadap
gagasan-gagasan yang dilontarkan perencana pembangunan, baik di tingkat pusat maupun di
tingkat daerah. Itulah sebabnya, peningkatan taraf pendidikan para petani dirasakan sangat
mendesak.

contoh keempat

Keriuhan kokok ayam perlahan-lahan surut. Kian lama kian berkurang, akhirnya tinggal satu-
satu saja terdengar koko yang nyaring. Ayam-ayam sudah mulai turun dari kandangnya, pergi
ke ladang atau pelataran. Cicit burung mulai bersautan, seiring langit di ufuk timur yang
semburat merah, makin lama makin terang. Lampu-lampu jalanan satu persatu mulai padam.
Dengung dan raung lalu lintas jalan raya mulai menggila seperti kemarin. Lengking klakson
mobil dan desis kereta apai bergema menerobos ke relung-relung rumah di sepanjang jalan.
Sayup-sayup terdengar dentang lonceng gereja menyongsong hari baru dan menyatakan
selamat tinggal pada hari kemarin.

2.3 Pengembangan Paragraf.

Salah satu cara berlatih mengembangkan paragraf dapat dilakukan dengan membuat kerangka
paragraf dahulu sebelum menulis paragraf itu. Sebagai contoh dapat dilihat paparan di bawah ini.

Kerangka paragraph

Gagasan pokok : Keindahan alam di Tawangmangu makin surut

Gagasan pununjang :

1. Manusia telah mengubah segala-galanya

2. Hutan, sawah, dan ladang tergusur

3. Pohon-pohon tidak ada lagi

4. Pagar bunga sudah diganti

5. Gedung-gedung mewah dibangun

Pengembangan paragraf:
Bernostalgia tentang indahnya alam di Tawangmangu hanya akan menimbulkan kekecewaan
saja. Dalam kurun waktu 25 tahun, dinamika kehidupan manusia telah mengubah segala-
galanya. Hutan, sawah, dan ladang telah tergusur oleh berbagai bentuk bangunan. Ranting dan
cabang pohon telah berganti dengan jeruji besi. Pagar tanaman dan bunga yang dulu
bermekaran dengan indahnya telah diterjang tembok beton yang kokoh. Batu-batu gunung telah
menghadirkan gedung plaza megah yang menelan biaya trilyunan rupiah. Arus modernisasi
dengan angkuhnya telah menelan kemesraan dan indahnya alam ini.

Secara ringkas, pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut.
Pertama, susunlah kalimat topik dengan baik dan layak (jangan terlalu spesifik sehingga sulit
dikembangkan, jangan pula terlalu luas sehingga memerlukan penjelasan yang panjang lebar).
Kedua, tempatkanlah kalimat topik tersebut dalam posisi yang menyolok dan jelas dalam sebuah
paragraf. Ketiga, dukunglah kalimat topik tersebut dengan detail-detail/ perincian-perincian yang
tepat. Keempat gunakan kata-kata transisi, frase, dan alat lain di dalam dan di antara paragraf.

2.4 Pola Pengembangan Paragraf

Yang dimaksud dengan pola pengembangan adalah bentuk pengembangan kalimat utama ke
dalam kalimat-kalimat penjelas. Pengembangan paragraf mencakup dua persoalan utama, yakni:

1. Kemampuan merinci gagasan utama paragraf ke dalam gagasan-gagasan penjelas.

2. Kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan penjelas kedalam gagasan-gagasan penjelas.

Adapun pola pengembangan paragraf itu sendiri antara lain sebagai berikut:

1. Pola Umum-Khusus

Diawali dengan pernyataan yang sifatnya umum. Ditandai dengan kata-kata umumnya,
banyak. Pernyataan tersebut kemudian dijelaskan dengan pernyataan berikutnya yang lebih
khusus.

Contoh:

Memiliki server sendiri memiliki banyak keuntungan. Salah satunya kita dapat
memanfaatkannya secara maksimal. Meskipun demikian biaya yang dikeluarkan jauh lebih
besar. Biaya untuk hardware saja sudah di atas Rp 10 juta, belum lagi biaya perbulan. Selain itu
kita juga membutuhkan tenaga professional untuk menjadi operatornya.
2. Pola Khusus-Umum

Merupakan kebalikan dari pola deduktif.

Contoh:

Sebagian besar orang tampak berjejer di pinggir jalan masuk. Sebagian lagi duduk santai di
atas motor dan mobil yang diparkir seenaknya di kiri dan kanan jalan masuk. Kawasan bandara
sore ini memang benar-benar telah dibanjiri lautan manusia.

3. Pola Perbandingan

Pola yang membandingkan sesuatu untuk menemukan perbedaan atau persamaan.

Contoh :

Sepak bola adalah olahraga paling populer di dunia banyak orang memainkan olahraga ini
mulai dari anak anak hingga orang dewasa. Namun seiring dengan perkembangan zaman
lapangan sepak bola sudah sangat sulit untuk di temukan di kota kota besar di Jakarta.
Sehingga banyak yang beralih ke olahraga futsal. Futsal sendiri adalah olahraga yang hampir
serupa dengan sepak bola hanya saja untuk olahraga futsal hanya dimainkan oleh 5 orang
dalam satu tim sehingga lapangan yang digunakan pun lebih kecil dibandingkan dengan sepak
bola.

4. Pola Analogi

Analogi adalah bentuk pengungkapan suatu objek yang dijelaskan dengan objek lain yang
memiliki suatu kesamaan atau kemiripan, biasanya dilakukan dengan bantuan kiasan. Kata-kata
kiasan yang digunakan yaitu ibaratnya, seperti dan bagaikan.

Contoh :

Hidup manusia ibarat roda yang terus berputar. Kadang ada di atas dan kadang berada di
bawah. Saat mereka berada di atas mereka bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan,
tapi sebaliknya ketika mereka berada di bawah sulit sekali untuk meraih keinginan yang mereka
dambakan. Ada kalanya bagi mereka yang sedang berada di atas janganlah bersikap sombong
dan ingatlah bahwa kesuksesab tersebut hanya bersifat sementara. Dan bagi mereka yang
berada di bawah, janganlah berputus asa. Karena masih banyak cara untuk mendapatkan
kesuksesan tersebut yaitu dengan berusaha dan berdoa.
5. Pola Sebab akibat

Pengembangan paragraf dengan cara Sebab Akibat dilakukan jika menerangkan suatu kejadian,
baik dari segi penyebab maupun dari segi akibat. Ungkapan yang sering digunakan yaitu
padahal, akibatnya, oleh karena itu, dan karena

Contoh :

Kebiasaan untuk membuang sampah harus ditanamkan sejak dini dalam keseharia kita. Karena
masayarakat pada umunya masih kurang memiliki kesadaran untuk mencintai dan menjaga
serta melestarikan alam lingkungan kita sendiri. Mereka menganggap hal tersebut hanyalah
slogan yang tidak perlu diperhatikan. Tanpa rasa bersalah mereka membuang sampah
sembarangan sehingga lingkungan sekitar kita menjadi kotor dan tidak sehat. Dan bila musim
hujan tiba, banjir melanda ibukota. Kalau sudah terjadi seperti itu, maka orang-orang akan
menyalahkan orang lain atas kejadian tersebut tanpa mereka sadari kalau bencana itu akibat
dari ulah mereka sendiri.

6. Pola Proses

Merupakan suatu urutan dari tindakan atau perbuatan untuk menciptakan atau menghasilkan
suatu peristiwa.

Contoh:

Pohon anggur selain airnya dapat diminum, daunnya pun dapat digunakan sebagai pembersih
wajah. Caranya, ambillah daun anggur secukupnya. Lalu tumbuk sampai halus. Masaklah hasil
tumbukan itu dengan air secukupnya. Tunggu sampai mendidih. Setelah ramuan mendingin,
ramuan siap digunakan. Oleskan ramuan pada wajah, tunggu beberapa saat, lalu bersihkan.

7. Pola Sudut Pandang

Merupakan tempat pengarang melihat atau menceritakan suatu hal. Sudut pandang diartikan
sebagai penglihatan seseorang atas suatu barang. Misalnya dari samping, dari atas, atau dari
bawah. Sebagai orang pertama, orang kedua, atau orang ketiga.

Contoh:
Dengan tersipu Imas dan Jaka menghalau kerbau mereka ke sungai. Bersama-sama mereka
memandikan kerbaunya. Mereka pun sama-sama mandi. Namun hal itu tidak lama karena hari
sudah senja. Ayah Imas melinting rokok di depan gubuk kecilnya semabrai menunggu Imas
pulang. Malam pun terasa mulai sunyi. Dari tepi hutan terdengar lolongan anjing.

8. Pola Generalisasi

Adalah penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah
data. Jumlah data atau pweristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili.

Contoh :

Bersdarkan data keuangan tahun 2009, laba yang didapatkan oleh PT X adalah sebesar 250
juta rupiah. Dimana pada tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2008 perusahaan mampu
menghasilkan laba sebesar 500 juta rupiah. Hal ini menunjujkan bahwa perusahaan mengalami
penurunan dalam menghasilkan laba sebesar 250 juta rupiah atau turun sebesar 50% dari
tahun sebelumnya. Laporan menjadi evaluasi perusahaan tentang kinerja perusahaan mereka.
Pihak manajemenpun dituntut untuk segera mengambil kebijakan untuk mengatasi hal tersebut.

9. Pola Klasifikasi

Pola ini merupakan penggunaan cara pengelompokkan hal-hal yang sama untuk memperjelas
kalimat utama. Pada mulanya penulis mengelompokkan suatu hal berdasarkan persamaannya,
Kemudian diperinci lagi lebih lanjut kedalam kelompok-kelompok yang lebih kecil dan detail.
Pengelompokkan yang didasarkan pada persamaan biasanya dapat memberikan sebuah simpulan
yang tepat.

Contoh:

Dalam karang mengarang atau tulis menulis, dituntut beberapa kemampuan antara lain
kemampuan yang berhubungan dengan kebahasaan dan kemampuan pengembangan atau
penyajian.Yang termasuk kemampuan kebahasaan adalah kemampuan menerapkan
ejaan,pungtuasi,kosa kata, diksi, dan kalimat. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan
pengembangan ialah kemampuan menata paragraf, kemampuan membedakan pokok bahasan,
subpokok bahasan, dan kemampuan membagi pokok bahasan dalam urutan yang sistematik.
10. Pola Interatif

Paragraf interatif adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di tengah-tengah bagian
paragraf (di antara awal dan akhir paragraf)

Contoh :

Seminggu menjelang hari raya Idhul Fitri, kebutuhan masyarakat semakin meningkat. Mulai
dari harga makanan pokok hingga sandang. Masyarakat khawatir jika tidak mempersiapkan
kebutuhan hari raya dari sekarang, stok kebutuhan menjelang hari raya semakin sedikit.
Seriring meningkatnya kebutuhan orang banyak, rupanya kekhawatiran masyarakat tersebut
dimanfaatkan oleh para pedagang untuk meningkatkan harga kebutuhan pokok. Karena
perbuatan pedagang yang seperti ini, terpaksa masyarakat harus membeli dengan harga tinggi.

2.5 Paragraf Berdasarkan Teknik Pengembangannya

1. Secara Alamiah

Dalam teknik ini penulis sekedar menggunakan pola yang sudah ada pada objek/kejadian yang
dibicarakan. Susunan logis ini mengenal dua macam urutan, yaitu: (a) urutan ruang (spasial)
yang membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya yang berdekatan dalam sebuah ruang.
Misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar ke dalam, dari bawah ke atas, dari kanan ke
kiri dan sebagainya; (b) urutan waktu (kronologis) yang menggambarkan urutan terjadinya
peristiwa, perbuatan, atau tindakan. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini.

a) urutan ruang

Bangunan itu terbagi dalam empat ruang. Pada ruang pertama yang sering disebut dengan
bangsal srimanganti, terdapat dua pasang kursi kayu ukiran Jepara. Ruangan ini sering
digunakan Adipati Sindungriwut untuk menerima tamu kadipaten. Di sebelah kiri bangsal
srimanganti, terdapat ruangan khusus untuk menyimpan benda-benda pusaka kadipaten dan
cendera mata dari kadipaten-kadipaten lain. Ruangan ini tertutup rapat dan selalu dijaga oleh
kesatria-kesatria terpilih Kadipaten Ranggenah. Ruangan tempat menyimpan benda-benda
pusaka dan cendera mata ini sering disebut kundalini mesem. Agak jauh di sebelah kanan ruang
kundalini mesem terdapat sebuah ruangan yang senantiasa menebarkan aroma dupa. Ruang ini
disebut ruang pamujan karena di tempat inilah Sang Adipati selalu mengadakan upacara dan
kebaktian. Beberapa meter dari ruang pamujan terdapat ruangan kecil dengan sebuah tempayan
besar di tengahnya. Ruangan ini sering disebut dengan ruang reresik, karena ruangan ini sering
digunakan untuk membersihkan diri Sang Adipati sebelum masuk ke ruang pamujan.

b) urutan waktu

Menendang bola dengan sepatu baru dikenalnya sekitar tahun 1977, saat ia baru lulus dari
STM Negeri 3 jurusan teknik elektro. Yang pertama kali melatihnya adalah klub Halilintar. Dari
sini pretasinya terus menanjak hingga kemudian ia dapat bergabung dengan klub Pelita Jaya
sampai sekarang. Tahun 1984 ia pernah dipanggil untuk memperkuat PSSI ke Merdeka Games
di Malaysia. Waktu ia dipanggil lagi untuk turnamen di Brunei tahun 1985, ia gagal
memenuhinya karena kakinya cedera.

2. Klimaks dan Antiklimaks

Gagasan utama mula-mula dirinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah
kedudukannya. Kemudian berangsur-angsur dengan gagasan lain hingga gagasan yang paling
tinggi kedudukan/kepentingannya. Contoh berikut kiranya dapat memperjelas uraian ini.

Bentuk traktor mengalami perkembangan dari jaman ke jaman seiring dengan kemajuan
tehnologi yang dicapai umat manusia. Pada waktu mesin uap baru jaya-jayanya, ada traktor
yang dijalankan dengan mesin uap. Pada waktu tank menjadi pusat perhatian orang, traktor pun
ikut-ikutan diberi model seperti tank. Keturunan traktor model tank ini sampai sekarang masih
dipergunakan orang, yaitu traktor yang memakai roda rantai. Traktor semacam ini adalah hasil
perusahaan Carterpillar. Di samping Carterpillar, Ford pun tidak ketinggalan dalam pembuatan
traktor dan alat-alat pertanian lainnya. Jepang pun tidak mau kalah bersaing dalam bidang ini.
Produk Jepang yang khas di Indonesia terkenal dengan nama padi traktor yang bentuknya
sudah mengalami perubahan dari model-model sebelumnya.

Pikiran utama dari paragraf di atas adalah bentuk traktor mengalami perkembangan dari zaman
ke zaman. Pikiran utama itu kemudian dirinci dengan gagasan-gagasan : traktor yang dijalankan
dengan mesin uap, traktor yang memakai roda rantai, traktor buatan Ford, dan traktor buatan
Jepang.
Variasi dari klimaks ialah antiklimaks. Pengembangan dengan antiklimaks dilakukan dengan
cara menguraikan gagasan dari yang paling tinggi kedudukannya, kemudian perlahan-lahan
menurun ke gagasan lain yang lebih rendah.

3. Umum - Khusus & Khusus - Umum (deduktif & induktif)

Cara pengungkapan paragraf yang paling banyak digunakan adalah cara deduktif dan induktif.
Berikut ini secara urut akan disajikan contoh paragraf yang dikembangkan dengan cara deduktif
dan induktif.

Contoh deduktif

Salah satu kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional. Kedudukan ini
dimiliki sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Kedudukan ini
mungkinkan oleh kenyataan bahwa bahasa Melayu yang mendasari bahasa Indonesia telah
menjadi lingua franca selama berabad-abad di seluruh tanah air kita. Hal ini ditunjang lagi
oleh faktor tidak terjadinya persaingan bahasa, maksudnya persaingan bahasa daerah yang
satu dengan bahasa daerah yang lain untuk mencapai kedudukannya sebagai bahasa nasional.

Contoh induktif

Dokumen-dokumen dan keputusan-keputusan serta surat menyurat yang dikeluarkan pemerintah


dan badan-badan kenegaraan lainnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato, terutama
pidato kenegaraan, ditulis dan diucapkan dengan bahasa Indonesia. Hanya dalam keadaan
tertentu , demi kepentingan antarbangsa kadang-kadang pidato resmi ditulis dan diucapkan
dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Demikian juga pemakaian bahasa Indoensia oleh
masyarakat dalam upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan . Dengan kata lain, komunikasi
timbal balik antara pemerintah dengan masyarakat berlangsung dengan menggunakan bahasa
Indonesia.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Darai uraian di atas dapat ditarik kesimpulan ,Paragaraf yang baik harus memenuhi syarat
kesatuan, kepaduan dan kelengkapan. Pengembangan pragaraf dibagi dua berdasarkan pola dan
teknik. Pola pengembangan paragaraf meliputi pola deduktif, induktif, perbandingan, analogi,
sebab akibat, proses, sudut pandang, generalisasi, klasfikasi dan interatif. Sedangkan teknik
pengembangan paragraf meliputi teknik secara alamiah, klimaks dan antiklimaks, dan deduktif
atau induktif.

3.2 Saran

Membuat sebuah paragraph tidak semudah yang kita bayangkan selama ini. Sehingga latihan
yang intensif akan lebih membantu dalam pembuatan sebuah paragraph yang memenuhi
persyaratan.

Diposkan oleh kaconk verianto di 01.25


Reaksi:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

http://veriantokaconk.blogspot.com/2013/03/makalah-pengembangan-paragraf.html
MAKALAH DESKRIPSI DAN NARASI
Written By Imam Losaries on Jumat, 05 April 2013 | 09.08

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mengarang merupakan suatu kegiatan yang kompleks, karena melibatkan


serangkaian aktivitas seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan
menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami cepat
yang dimaksudkan oleh pengarang.

Dalam makalah deskripsi dan narasi ini Anda akan memperoleh pengalaman-
pengalaman belajar berikut :

1. Pengetahuan tentang karangan deskripsi dan narasi

2. Keterampilan mengidentifikasi karangan deskripsi dan narasi

3. Keterampilan membuat karangan deskripsi dan narasi

Sebenarnya seseorang memiliki pengetahuan tentang karangan deskripsi dan


narasi, setidak-tidaknya pengalaman membaca. Dari bacaan yang beraneka, dapat
diramalkan ada yang berjenis deskripsi dan ada pula yang berjenis narasi.
Pengetahuan itu seyogianya dapat dimanfaatkan dalam memperlajari makalah ini.

B. Tujuan

Dalam makalah deskripsi dan narasi ini akan diperoleh pengalaman belajar yang
tujuannya adalah :

1. Pengetahuan tentang karangan deskripsi dan narasi

2. Keterampilan membuat karangan deskripsi dan narasi


C. Manfaat

Dengan mempelajari makalah deskripsi dan narasi, pembaca akan dapat


melakukan kegiatan berikut :

1. Menguraikan karakteristik karangan deskripsi dengan merumuskan pengertian,


menguraikan ciri-ciri, dan mengidentifikasi jenis karangan deskripsi.

2. Menguraikan karakteristik karangan narasi dengan merumuskan pengertian,


mengidentifikasi jenis karangan narasi, menguraikan ciri-ciri karangan narasi,
menjelaskan prinsip-prinsip penulisan karangan narasi, menjelaskan cara
pengembangan narasi, dan menjelaskan langkah-langkah menulis narasi.

3. Membuat karangan deskripsi dan narasi yang benar dan hasil yang memadai,
yakni karangan memenuhi karaketristik karangan deskripsi dan narasi.
BAB II

DESKRIPSI DAN NARASI


A. Deskripsi

Karangan deskripsi adalah karangan yang ditulis untuk mendeskripsikan, atau


memberikan, menggambarkan atau melukiskan suatu objek sehingga pembaca
memiliki penghayatan seolah-olah menyaksikan dan mengalaminya sendiri.

Cara supaya dapat melukiskan sehidup-hidupnya adalah sebagai berikut :

1. Melatih diri mengamati sesuatu

2. Melukiskan bagian-bagian yang penting sedetail mungkin

Dengan demikian, dalam menulis deskripsi yang baik dituntut tiga hal yaitu :

1. Kesanggupan berbahasa kita yang memiliki kekayaan nuansa dan bentuk

2. Kecermatan pengamatan dan keluasan pengetahuan kita tentang sifat, ciri, dan
wujud objek yang dideskripsikan

3. Kemampuan kita memiliki detail khusus yang dapat menunjang ketepatan dan
keterhidupan deskripsi (Akhadiah, 1197)

Ada tiga alternatif pendekatan dalam membuat karangan deskripsi yaitu


sebagai berikut :

1. Pendekatan ekspositori

Pendekatan ekspositori adalah pendekatan yang menggambarkan objek


seobjektif mungkin atau objek itu apa adanya.

2. Pendekatan impresionistik

Pendekatan impresionitik adalah pendekatan yang menggambarkan objek


menurut lisan dan penafsiran pengarang.

3. Pendekatan sikap pengarang

Pendekatan sikap pengarang yaitu pendekatan yang menggambarkan objek


dengan menunjukkan sikap penulis tentang objek apa itu dalam karangan.
Berdasarkan kategori yang lazim ada dua objek yang diungkapkan dalam
deskripsi, yakni orang dan tempat. Atas dasar itu, karangan deskripsi dipilih atas
dua kategori, yakni karangan deskripsi orang dan karangan deskripsi tempat.

Yang layak dideskripsikan dari sesorang antara lain :

1. Deskripsi keadaan fisik

Deskripsi fisik bertujuan memberi gambaran yang sejelas-jelasnya


tentang keadaan tubuh seorang tokoh. Deskripsi ini banyak bersifat objektif.

2. Deskripsi keadaan sekitar

Deskripsi keadaan sekitar, yaitu penggambarana keadaaan yang


mengelilingi sang tokoh, misalnya penggambaran tentang aktivitas-aktivitas yang
dilakukan, pekerjaan atau jabatan, pakaian, tempat kediaman, dan kendataan, yang
ikut menggambarkan watak seseorang.

3. Deskripsi watak atau tingkah laku perbuatan

Mendekripsikan watak seseorang ini memang paling sulit dilakukan. Kita


harus mampu mengidentifikasikan unsur-unsur dan kepribadian seorang tokoh
kemudian menampilkan dengan jelas unsur-unsur yang dapat memperlihatkan
karakter yang digambarkan.

4. Deskripsi gagasan-gagasan tokoh

Hal ini memang tidak dapat diserap oleh pancaindra manusia. Namun,
antara perasaan dan unsur fisik mempunyai hubungan yang erat. Pancaran wajah,
pandangan mata, gerak bibir, dan gerak tubuh merupakan petunjuk tentang
keadaan perasaan seseorang pada waktu itu.

B. Narasi

Karangan narasi adalah karangan yang menyajikan serangkaian peristiwa,


memuat urutan terjadinya (kronologi) dengan maksud memberi arti kepada sebuah
kejadian agar pembaca dapat memetik hikmah dari cerita itu.
Tujuan menulis narasi secara fundamental ada dua yaitu :

1. hendak memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan


pembaca

2. hendak memberikan pengalaman estetis kepada pembaca

Prinsip-prinsip narasi antara lain :

1. alur

2. penokohan

3. latar

4. titik pandang

5. pemilihan detail peristiwa

Pengembangan karangan narasi dapat dilakukan denga langkah-langkah


sebagai berikut :

1. Menentukan tema atau amanat apa yang akan disampaikan

2. Menetapkan sasaran pembaca

3. Merancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk


skema alur

4. Membagi peristiwa umum ke dalam bagian awal, perkembangan dan akhir


cerita

5. Merinci peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai


pendukung cerita

6. Menyusun tokoh dan perwatakan, serta latar dan sudut pandang


Ciri-ciri yang dominan pada narasi informasional dan narasi artistik antara
lain :

Narasi Informasional

1. Memperluas pengetahuan

2. Menyampaikan informasi faktual mengenai sesuatu kejadian

3. Didasarkan pada penalaran untuk mencapai kesepakatan rasional

4. Bahasanya lebih condong ke bahasa informatif dengan titik berat pada


pemakaian kata-kata denotatif

Narasi Artistik

1. Menyampaikan suatu makna atau suatu amanat yang tersirat

2. Menimbulkan daya khayal

3. Penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna,


sehingga kalau perlu penalaran dapat dilanggar

4. Bahasanya lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitikberatkan


penggunaan kata-kata konotatif
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Sebagai salah satu jenis karangan, deskripsi ditulis untuk mendeskripsikan


atau memberikan, menggambarkan, atau melukiskan suatu objek sehingga
pembaca memiliki penghayatan seolah-olah menyaksikan atau mengalaminya
sendiri. Sedangkan karangan narasi adalah karangan yang menyajikan serangkaian
peristiwa menurut urutan terjadinya (kronologis), dengan maksud memberi arti
kepada sebuah kejadian atau serentetan kejadian, agar pembaca dapat memetik
hikmah dari cerita itu.

Agar pembaca memiliki penghayatan atau pengalaman sendiri tentang


objek yang dideskripsikan, maka penulis harus dapat menyajikan objek sejelas-
jelasnya, setepat-tepatnya dan sehidup mungkin.

Tujuan menulis narasi secara fundamental ada dua, yaitu (1) hendak
memberi informasi atau memberi wawasan dan memperluas pengetahuan
pembaca, dan (2) memberikan pengalaman estetis kepada pembaca.

B. Saran

Berdasarkan pembelajaran dalam modul 4, penulis menyampaikan saran


kepada siswa, guru dan pembaca.

1. Saran bagi siswa

Dengan penjelasan dan contoh bagi guru tentang karangan deskripsi


dan narasi, siswa diharapkan mau mencoba dan menulis karangan sejak dini.

2. Saran bagi guru


Dalam menulis karangan deskripsi dan narasi guru sebaiknya lebih
kreatif dan inisiatif dibandingkan siswanya dan harus mampu mengajarkan materi
ini dengan baik. Guru mengaktifkan siswa dengan mengadakan lomba menulis
karangan.

3. Saran bagi pembaca

Tingkatkan kecerdasan Anda, kembangkan inisiatif dan kreatifitas,


tumbuhkan keberanian Anda dalam bentuk karangan yang baik dan bermutu.

Alhamdulillah tugas makalah telah diselesaikan oleh penulis. Penulis


berharap makalah deskripsi dan narasi ini bermanfaat bagi semua kalangan.
DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti. (1997). Menulis I : Buku Materi Pokok EPNA 2203/2 SKSI MODUL 1-6.
Jakarta : Dirjen Dikdasmen, Depdikbud.

Akhmadi, Muhsin, skk. (1980). Komposisi Bahasa Indonesia I : Pengertian Wacana dan
Jenis Tipe-tipenya. Malang : Departemen Bahasa Indonesia, FKKS IKIP Malang.

Keraf, Gorys. (1981). Eksposisi dan Deskripsi. Ende Flores : Nusa Indah.

______, (1987). Argumentasi dan Narasi. Jakarta : Gramedia.


JENIS-JENIS PARAGRAF
Dipublikasi pada 14 April 2011 oleh jelajahduniabahasa

Jenis-jenis paragraf berdasarkan tujuannya dapat dibedakan atas :

1. Paragraf argumentasi

2. Paragraf eksposisi

3. Paragraf deskripsi

4. Paragraf persuasi

5. Paragraf naratif

A. PARAGRAF ARGUMENTASI

Paragraf argumentasi adalah paragraf yang berisi ide/gagasan dengan diikuti alasan yang kuat
untuk menyakinkan pembaca

Ciri-ciri paragraf argumentasi

1. bersifat nonfiksi /ilmiah

2. bertujuan menyakinkan orang lain bahwa apa yang dikemukakan merupakan


kebenaran

3. dilengkapi bukti-bukti berupa data, tabel, gambar dll

4. ditutup dengan kesimpulan

MACAM/POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF ARGUMENTASI


POLA PENGEMBANGAN SEBAB AKIBAT adalah paragraf yang mula-mula bertolak dari
suatu peristiwa yang dianggap sebagai sebab yang diketahui lalu bergerak maju menuju pada
suatu kesimpulan sebagai efek akibat.Ditandai dengan kata kata sebab, karena, disebabkan,
dikarenakan dll.

POLA PENGEMBANGAN AKIBAT- SEBAB adalah paragraf yang mula-mula bertolak dari
suatu peristiwa yang dianggap sebagai akibat yang diketahui. Kemudian bergerak menuju sebab-
sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat tadi.

CONTOH PARAGRAF ARGUMENTASI

1. Pola pengembangan sebab-akibat

Pencemaran lingkungan hampir terjadi di seluruh Indonesia, terutama di kota-kota besar.


Pencemaran itu, antara lain, polusi udara dari kendaraan bermotor yang jumlahnya semakin
banyak, pembuangan limbah industri dari pabrik-pabrik yang tidak sesuai dengan prosedur, dan
ulah masyarakat sendiri yang sering membuang sampah sembarangan . Pencemaran tersebut
dapat mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Misalnya udara menjadi kotor dan tidak sehat,
menyebarnya berbagai virus dan bakteri atau menjangkitnya wabah penyakit, serta bencana
banjir karena saluran-saluran air tersumbat oleh sampah.

2. Pola pengembangan akibat-sebab

Jumlah anak jalanan di kota-kota besar semakin hari semakin bertambah. Mereka memenuhi
jalan-jalan utama di pusat kota dengan segala tingkah dan aksinya. Berbagai macam cara mereka
lakukan agar dapat bertahan hidup di jalanan, dari cara yang sopan hingga yang paling brutal.
Mereka berkeliaran di jalan dan mencari hidup dengan cara meminta-minta. Fenomena seperti
ini mulai tampak menggejala ketika krisis ekonomi melanda negara kita. Krisis yang
berkepanjangan menjadi penyebab kesulitan hidup di segala sektor/bidang.

B. PARAGRAF DESKRIPSI

Paragraf deskripsi adalah paragraf yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu dengan tujuan
agar pembaca seakan-akan bisa melihat, mendengar, atau merasakan sendiri semua yang ditulis
oleh penulis

CIRI-CIRI PARAGRAF DESKRIPSI

Menggambarkan /melukiskan objek tertentu (orang, tempat, keindahan alam dll)

Bertujuan agar pembaca seolah-olah melihat sendiri objek


MACAM /POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF DESKRIPSI

Deskripsi objektif adalah paragraf deskripsi yang dalam penggambaran objeknya tidak disertai
dengan opini penulis

Deskripsi subjektif adalah paragraf deskripsi yang dalam penggambaran objeknya disertai
dengan opini penulis

Deskripsi spasial adalah paragraf yang menggambarkan objek secara detail khususnya ruangan,
benda,atau tempat

Deskripsi waktu adalah paragraf yang dikembangkan berdasarkan waktu peristiwa cerita tersebut

CONTOH-CONTOH PARAGRAF DESKRIPSI

1. Lapisan ozon menipis. Hutan-hutan tropis mulai meranggas. Gurun makin


luas. Akibatnya suhu bumi meningkat, cuaca tidak menentu, dan bencana
alam makin sering datang. Kesimpulannya, bumi makin kritis. Siapa
sesungguhnya yang berperan dalam menjadikan planet bumi ini menjadi
demikian ? Jawabnya tentu manusia sendiri! (Deskripsi subjektif)

2. Dia memakai rok panjang warna cokelat. Betapa sesuai benar dengan warna blus panjangnya.
Rok dan blusnya seakan-akan menambah keanggunan pribadinya. Jalannya sungguh santun
memikat hati orang yang memandang ( Deskripsi subjektif)

3. Pantai Nusa Penida memiliki tata keindahan alam yang menarik, khususnya bagi wisatawan
yang mendambakan suasana nyaman, tenang, jauh dari kebisingan kota. Pohon-pohonnya
rindang. Bentangan lautnya luas. Bagi penyelam , Pantai Nusa Penida juga menawarkan
keindahan ikan laut yang sedang berenang. Pemda Bali harus menata dan mengelola Pantai Nusa
Penida sebagai tujuan wisata alternatif( Deskripsi objektif/tempat )

4. Jika diumpamakan permata, pesona pantai Nusa Penida bak mutiara yang memantulkan
cahaya putih kekuning-kuningan, namun jika diibaratkan gadis maka pesonanya laksana sosok
perawan kencur. Kiasan tersebut sepintas memang kedengarannya seperti berlebihan, namun
itulah sesungguhnya kata yang paling tepat untuk menggambarkan pesona alam Pantai Nusa
penida. (Deskripsi subjektif/tempat)

5. Dalam waktu yang tidak lama. Aku mencoba melirik orang-orang di sekelilingku. Di sebelah
kiriku, seorang gadis cantik berambut panjang. Sambil melirik, kuperhatikan dia. Gadis itu
berambut pirang, berkulit kuning, dan berbibir tipis ( deskripsi objektif)

6. Tidak lama. Dengan rasa penasaran, kucoba melirik orang-orang di sekelilingku. Di sebelah
kiriku, seorang gadis berambut panjang menarik hatiku. Sambil melirik, kuperhatikan dia.
Rambutnya pirang, rambutnya kuning indah, matanya memandang sayu, ditambah dengan
bibirnya yang tipis, dia membuat jantungku berdetak hebat. Rasanya, aku mengenalnya. Tapi di
mana ? (deskripsi subjektif)

7. Sungai ciliwung terletak di Jakarta. Sungai ini mengalir di seluruh Jakarta. Sayangnya, Sungai
Ciliwung dipenuhi tumpukan sampah. Tumpukan sampah di sungai dihinggapi lalat. Lalat-lalat
itu selalu berterbangan ke perumahan warga dan membawa berbagai macam penyakit. Selain itu
tumpukan sampah juga menebarkan bau yang sangat menyengat. Sungguh pemandangan yang
sangat menyedihkan (Deskripsi spasial)

C. PARAGRAF EKSPOSITIF

PENGERTIAN PARAGRAF EKSPOSITIF/EKSPOSISI

Paragraf ekspositif adalah paragraf yang bertujuan untuk menjelaskan dan menerangkan sesuatu
permasalahan kepada pembaca agar pembaca mendapat gambaran yang sejelas-jelasnya tentang
sesuatu permasalahan yang dimaksud pengarang

CIRI-CIRI PARAGRAF EKSPOSITIF

- bersifat nonfiksi/ilmiah

- bertujuan menjelaskan/memaparkan

- berdasarkan fakta

- tidak bermaksud mempengaruhi

MACAM/POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF EKSPOSITIF

pola umum-khusus (deduksi)

Adalah paragraf yang dimulai dari hal hal yang bersifat umum kemudian menjelaskan dengan
kalimat kalimat pendukung yang khusus

- pola khusus-umum (induksi)

Adalah paragraf yang dimulai dari hal-hal yang bersifat khusus kemudian menjelaskan dengan
kalimat-kalimat yang bersifat umum

- pola perbandingan
Adalah paragraf yang membandingkan dengan hal yang lain, berdasarkan unsur kesamaan dan
perbedaan, kerugian dengan keuntungan, kelebihan dengan kekurangan. Kata hubung (jika
dibandingkan dengan, seperti halnya,demikian juga, sama dengan,selaras dengan,sesuai dengan)

- pola pertentangan/kontras

Adalah paragraf yang mempertentangkan dengan gagasan lain. Kata hubung (biarpun,
walaupun,berbeda,berbeda dengan, akan tetapi, sebaliknya, melainkan, namun, meskipun begitu)

- pola analogi

Adalah paragraf yang menunjukkan kesamaan-kesamaan antara dua hal yang berlainan kelasnya
tetapi tetap memperhatikan kesamaan segi /fungsi dari kedua hal tadi sebagai ilustrasi

- pola pengembangan proses

Adalah pola pengembangan paragraf yang ide pokok paragrafnya disusun berdasarkan urutan
proses terjadinya sesuatu

- pola pengembangan klasifikasi

Adalah pola pengembangan paragraf dengan cara mengelompokkan barang-barang yang


dianggap mempunyai kesamaan-kesamaan tertentu

- pola pengembangan contoh/ilustrasi

Adalah paragraf yang berfungsi untuk memperjelas suatu uraian, khususnya uraian yang bersifat
abstrak. Kata penghubung (contohnya, umpamanya,misalnya)

- pola pengembangan difinisi

Adalah paragraf yang berupa pengertian atau istilah yang terkandung dalam kalimat topik
memerlukan penjelasan panjang lebar agar tepat maknanya dilengkapi oleh pembaca

- pola sebab akibat

Adalah pola pengembangan dimana sebab bisa bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan
akibat sebagai perincian pengembangannya. Atau sebaliknya, akibat sebagai gagasan utama,
sedangkan untuk memahami sepenuhnya akibat itu perlu dikemukakan sejumlah sebab sebagai
perinciannya

CONTOH-CONTOH PARAGRAF EKSPOSITIF


1. Ozone therapy adalah pengobatan suatu penyakit dengan cara memasukkan oksigen murni dan
ozon berenergi tinggi ke dalam tubuh melalui darah.Ozone therapy merupakan terapi yang sangat
bermanfaat bagi kesehatan, baik untuk menyembuhkan penyakit yang kita derita maupun sebagai
pencegah penyakit.(pola pengembangan definisi)

2. Sampai hari ke-8, bantuan untuk para korban gempa Yogyakarta belum merata. Hal ini
terlihat di beberapa wilayah Bantul dan Jetis. Misalnya, di Desa Piyungan. Sampai saat ini,
warga Desa Piyungan hanya makan singkong. Mereka mengambilnya dari beberapa kebun
warga. Jika ada warga yang makan nasi, itu adalah sisa-sisa beras yang mereka kumpulkan
dibalik reruntuhan bangunan. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa bantuan pemerintah
kurang merata. (pola pengembangan contoh)

3. Pemerintah akan memberikan bantuan rumah atau bangunan kepada korban gempa. Bantuan
pembangunan rumah atau bangunan tersebut disesuaikan tingkat kerusakannya. Warga yang
rumahnya rusak ringan mendapatkan bantuan sekitar 10 juta.warga yang rumahnya rusak sedang
mendapat bantuan sekitar 20 juta. Warga yang rumahnya rusak berat mendapatkan sekitar 30 juta
. Calon penerima bantuan tersebut ditentukan oleh aparat desa setempat dengan pengawalan dari
pihak LSM (pola pengembangan klasifikasi)

4. Struktur suatu karangan atau buku pada hakikatnya mirip atau sama dengan suatu pohon. Bila
pohon dapat diuraikan menjadi batang, dahan, ranting, dan daun, maka karangan atau buku dapat
diuraikan menjadi tubuh karangan, bab, sub bab, dan paragraf. Tubuh karangan sebanding
dengan batang, bab sebanding dengan dahan, sub-bab sebanding dengan ranting, dan paragraf
sebanding dengan daun.(pola pengembangan analogi)

5.Seorang bayi dilahirkan dalam keadaan suci seperti kertas putih. Bayi akan dibentuk
pribadinya sesuai dengan didikan yang diterimanya seperti kertas dapat diisi dengan berbagai hal
sesuai dengan keinginan pemiliknya. Bila bayi dididik dengan baik seperti kertas yang terisi
dengan hal-hal yang bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.Jadi, membentuk kepribadian
baik seorang anak ibarat menulisi kertas putih dengan hal-hal yang bermanfaat (analogi)

6. Lagu-lagu tersebut kurang memperhatikan nilai yang ingin ditanamkan paa diri anak dan
lebih memperhatikan kebutuhan pasar. Jadi, temanya bersifat temporer karena mengikuti
perubahan selera pasar. Unsur kesamaan yang masih ditemukan dalam kedua kelompok lagu ini
ialah para pencipta lagu masih berusaha menciptakan irama yang gembira dan ritme yang
sederhana, seperti dalam kehidupan anak-anak itu sendiri. (pola pengembangan perbandingan)

D. PARAGRAF PERSUASIF

PENGERTIAN PARAGRAF PERSUASIF


Paragraf persuasif adalah paragraf yang bertujuan meyakinkan dan membujuk seseorang atau
pembaca agar melaksanakan /menerima keinginan penulis

CIRI-CIRI PARAGRAF PERSUASIF

- ada fakta/bukti untuk mempengaruhi/membujuk pembaca

- bertujuan mendorong, mempengaruhi dan membujuk pembaca

- menggunakan bahasa secara menarik untuk memberikan sugesti (kesan) kepada pembaca

CONTOH-CONTOH PARAGRAF PERSUASI

1. Beras organik lebih menguntungkan daripada beras nonorganik . Mutu beras organik lebih
sehat , awet, dan lebih enak. Selain itu, beras organik tidak mencemari lingkungan karena tidak
menggunakan bahan kimia.Keuntungan yang didapat para petani beras organik juga lebih tinggi.
Petani beras organik mendapatkan keuntungan 34 % dari biaya prduksi, sedangkan petani beras
nonorganik hanya mendapat keuntungan 16 % dari biaya produksi. Oleh karena itu, mari kita
bertani dengan cara organik agar lebih mnguntungkan dan dapat meningkatkan taraf hidup.

2. Tidak dapat disangkal bahwa praktik berpidato menjadi semacam obat kuat untuk
membangun rasa percaya diri. Jika rasa percaya diri itu sudah besar, kita dapat tampil tenang
tanpa digoda rasa malu, takut, dan grogi. Ketenangan inilah yang menjadi modal utama untuk
meraih keberhasilan pidato. Oleh karena itu, marilah kita melaksanakn praktik berpidato agar
kita segera memperoleh keterampilan atau bahkan kemahiran berpidato.

E. PARAGRAF NARATIF

Paragraf naratif adalah suatu bentuk paragraf yang menceritakan serangkaian peristiwa
yang disusun menurut urutan waktu terjadinya

Ciri-ciri paragraf naratif

- Ada tokoh, tempat, waktu, dan suasana yang diceritakan

- Mementingkan urutan waktu maupun urutan peristiwa

- Tidak hanya terdapat dalam karya fiksi ( cerpen,novel,roman) tetapi juga terdapat dalam tulisan
nonfiksi (biografi, cerita nyata dalam surat kabar,sejarah,riwayat perjalanan)

Macam / pola pengembangan paragraf naratif


1. Narasi ekspositoris/nonfiksi/informatif adalah cerita yang benar-benar terjadi
(cerita kepahlawanan, sejarah, biografi/otobiografi, cerita nyata dalam surat
kabar)

2. Narasi sugestif/fiksi/artistik adalah cerita yang menonjolkan khayalan


sehingga pembaca terkesan dan tertarik dan seakan-akan terhayut,bahkan
merasa mengalami cerita tersebut( cerpen, novel dll)

Contoh-contoh paragraf naratif

1. Pernah suatu ketika aku bermimpi bertemu seorang kakek berjenggot


panjang yang menyuruhku untuk pergi ke arah timur . Aku tidak mengerti
apa maksudnya. Sesudah bangun , keinginan untuk memenuhi perintah si
kakek itu seperti tidak terbendung. Aku harus pergi ke arah timur. Timur
timur mana ? Jakarta Timur? ( Narasi sugestif)

2. Patih Pranggulang menghunus pedangnya. Ia mengayunkan pedang itu dengan cepat ke tubuh
Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar, pedang itu jatuh ke tanah.
Patih Pranggulang memungut pedang dan membacokkan lagi ke tubuh Tunjungsekar.Tiga kali
Patih Pranggulang melakukan hal itu. Akan tetapi semuanya gagal (Narasi sugestif)

3. Hari-hariku sebagai pekerja perempuan di perusahaan industri makanan olahan sangat padat
dan melelahkan. Bayangkan pagi-pagi sekali aku harus bangun dan menyiapkan sarapan anak-
anakku. Sebelumnya, aku tentu harus memandikan mereka karena anak-anakku masih kecil.
Sambil aku ganti baju kerja, aku sempatkan menyuapi anakku yang paling kecil. Setelah beres
urusan rumah, segera aku berlari untuk mengejar angkutan yang mengangkutku ke jalan raya
yang dilalui bus.(Narasi ekspositoris)

4. Ratusan warga mengalami keracunan. Musibah itu terjadi enam jam setelah mereka menikmati
hidangan dalam hajatan sunatan di rumah Slamet Riyadi (38), warga Desa Jompo Kulon,
Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sekitar 200 penduduk dari beberapa
desa dibawa ke rumah sakit di puskesmas. Tak ada korban meninggal dalam musibah tersebut.
( Narasi ekspositoris)
Makalah pengembangan paragraf

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Paragraf atau alinea berlaku pada bahasa tulis, sedangkan pada bahasa lisan
digunakan istilah paraton (Brown dan Yule, 1996). Paragraf merupakan suatu
kesatuan bentuk pemakaian bahasa yang mengungkapkan pikiran atau topik dan
berada di bawah tataran wacana. Paragraf memiliki potensi terdiri atas beberapa
kalimat. Paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat tidak mengalami
pengembangan. Setiap paragraf berisi kesatuan topik, kesatuan pikiran atau ide.
Dengan demikian, setiap paragraf memiliki potensi adanya satu kalimat topik atau
kalimat utama dan kalimat-kalimat penjelas. Oleh Ramlan, (1993) pikiran utama
atau ide pokok merupakan pengendali suatu paragraf.
Pengidentifikasian secara formal suatu paragraf begitu mudah, karena
secara visual paragraf biasanya ditandai adanya indensasi. Yang menjadi
persoalan, apakah bentuk yang secara visual dikenali sebagai paragraf
tersebut secara otomatis berisi satu satuan pokok pikiran? Idealnya tentulah
ya, bila paragraf telah dikembangkan secara baik. Namun, kenyataannya
belum tentu demikian karena belum tentu paragraf dikembangkan secara
benar. Disinilah pentingnya pengembangan paragraf.
I.2 Sasaran Pembelajaran
1. Menunjukkan unsur-unsur yang membangun sebuah paragraf;
2. Menjelaskan cara penempatan kalimat utama dalam paragraf;
3. Membedakan pengurutan kalimat utama dan kalimat penjelas dalam
kesatuan paragraf;
4. Mengembangkan paragraf dengan teknik yang bervariasi;
5. Menata tulisan dalam kesatuan paragraf yang baik.

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Unsur-unsur yang membangun sebuah paragraf


Dalam pembuatan suatu paragraf harus memiliki unsur unsur
pembangun paragraf agar paragraf atau alinea dapat berfungsi dengan
sebagaimana mestinya.
1. Topik atau tema atau gagasan utama atau gagasan pokok atau pokok
pikiran, topik merupakan hal terpernting dalam pembuatan suatu alinea atau
paragraf agar kepaduan kalimat dalam satu paragraf atau alinea dapat
terjalin sehingga bahasan dalam paragraf tersebut tidak keluar dari pokok
pikiran yang telah ditentukan sebelumnya.
2. Kalimat utama atau pikiran utama, merupakan dasar dari pengembangan
suatu paragraf karena kalimat utama merupakan kalimat yang mengandung
pikiran utama. Keberadaan kalimat utama itu bisa di awal paragraf, diakhir
paragraf atau pun diawal dan akhir paragraf.
3. Kalimat penjelas, merupakan kalimat yang berfungsi sebagai penjelas dari
gagasan utama. Kalimat penjelas merupakan kalimat yang berisisi gagasan
penjelas.
4. Judul (kepala karangan), untuk membuat suatu kepala karangan yang
baik, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
Provokatif (menarik)
Berbentuk frase
Relevan (sesuai dengan isi)
Logis
Spesifik
II.2 Cara penempatan kalimat utama dalam paragraf
1. Paragraf Deduktif ( pikiran utama pada awal paragraf)
Paragraf yang dimulai dengan mengemukakan pikiran utama yang
tertuang dalam satu kalimat. Penjelasan terhadap pikiran utama tersebut
diberikan melalui sejumlah kalimat penjelas.Penempatan kalimat utama
pada awal paragraf menunjukkan adanya pikiran utama yang mudah
terbaca oleh pembaca dan dapat mengundang perhatian yang bersangkutan
untuk mengikuti penjelasan selanjutnya.
Contoh : Materi lebih lanjut mengemukakan perbedaan mahasiswa
zaman dulu dan sekarang. Pada zaman dulu, kehidupan mahasiswa
dikekang oleh penjajah. Pada zaman sekarang mereka dapat merasakan
hawa kebebasan dan dapat hidup dalam iklim pembangunan. Selain itu,
syarat-syarat untuk mengembangkan diri mereka pada masa sekarang ini
cukup terbuka, hanya bergantung kepada kegiatan mereka masing-masing.
2. Paragraf Induktif( Pikran Utama pada akhir Paragraf)
Pikiran utama paragraf dapat juga ditempatkan pada akhir paragraf.
Paragraf jenis ini disusun dengan lebi dahulu mengemukakan kalimat
kalimat penjelas, kemudian disudahi dengan kalimat utama yang memuat
pikiran utama. Pengembangan pikiran utama dilakukan secara bertahap dan
mencapai klimaks pada akhir paragraf.paragraf seperti ini disebut paragraf
induktif (mengikuti cara berfikir dari khusus ke umum).
Contoh:
Ia membuat usaha dengan modal yang terbatas. Pelanggannya terdiri
atas pekerjaan kasar dan penjual eceran dipasar yang singgah di warungnya
sarapan sebelum pergi bekerja. Karena pelayannya yang baik, ia akhirnya
dapat memperbesar usahanya dan berhasil menikmati keuntungan yang
lumayan. Pengalaman itulah yang mengajarkan kepadanya bahwa modal
penting dalam hidupnya adalah kemauan dan ketekunan.
3. Paragraf Variatif (Pikiran Utama Pada Awal dan Akhir paragraf)
Kalimat utama dapat ditempatkan pada awal pragraf dan di ulang pada
akhir paragraf. Maksud pengulangan ini adalah memberikan tekanan pada
pikiran utama paragraf dan sebagai penegasan kembali isi pernyataan yang
dikemukakan pada awal paragraf. Pengulangan tersebut dilakukan dengan
mengubah bentuk kata katanya dan struktur kalimatnya, tetapi pikiran
utamanya tetap sama. Paragraf yang demikian merupakan perpaduan
paragraf deduktif dan induktif.
Contoh :
Pemerintah menyadari bahwa rakyat indonesia memerlukan
rumah murah, sehat, dan kuat. Dinas pekerjaan umum sudah lama
menyelidiki bahan rumah yang murah, tetapi kuat. Agaknya bahan perlit
yang diperoleh dari batu batuan gunung berapi sangat menarik perhatian
para ahli. Bahan ini tahan api dan tahan air. Lagi pula , bahan perlit dapat di
cetak menurut keinginan seseorang. Usaha ini menunjukan bahwa
pemerintah berusaha membangun rumah murah, sehat, dan kuat
untuk memenuhi keperluan rakyat.
4. Paragraf dengan Pikiran Utama Tersirat
Ada paragraf yang tidak secara tersurat mengandung pikiran utama
tertentu. Semua kalimat yang menyusun paragraf sama pentiingnya dan
bekerja sama menggambarkan pikiran yang terdapat dalam paragraf.
Kalimat kalimat itu merupakan satu kesatuan isi.
Paragraf tanpa kalimat utama dipakai dalam tulisan deskriptif dan naratif.

Contoh :
Lewat jendela dan pintu kaca yang luas, pandangan bisa tembus
ketata kebun yang asri dihalaman depan maupun belakang rumah. Kolam
hias dengan bukit batu lengkap dengan gemereciknya air berpadu dengan
tanaman tanaman pangkas yang terawat rapi. Jauh di halaman belakang
beberpa pohon mangga, rambutan, jambu air, dan belimbinng meneduhi
kursi kursi untuk para pasien menunggu giliran dipanggil.
II.3. Pengurutan kalimat Utama dan Kalimat Penjelas
Kalimat utama dan kalimat penjelas dapat disusun menjadi paragraf
yang baik dengan menggunakan urutan tertentu. Urutan kalimat dalam
paragraf dapat disusun menurut urutan logis, urutan kronologis, dan urutan
klimaks atau anti klimaks. Urutan tersebut akan dijelaskan secara singkat
dengan contoh masing masing berikut ini.
3.1 Urutan Logis
Urutan logis ialah urutan yang menyebutkan lebih dahulu hal hal yang
umum, kemudian kehal hal yang khusus atau sebaliknya. Jadi, boleh
dikatakan bahwa kalimat yang memuat pikiran penulis diurut secara sintesis
dan analis.
Conntoh :
(1) Manusia adalah ciptaan tuhan yang paling sempurna dan paling berkuasa di
bumi atau di dunia. (2) dikatakan demiikian sebab ia diizinkan oleh tuhan
memamfaatkan semua isi alam ini untuk keperluan hidupanya. (3) meskipun
demikian, manusia tidak diizinkan menyakiti, menyiksa, atau menyia-
nyiakannnya.
Pada paragraf di atas urutan kalimat (1), (2), dan (3) menunjukan jalan
pikiran yang masuk akal (logis) atau penalaran yang wajar. Apabila kalimat-
kalimat tersebut diubah urutannya, tentulah jalan pikiran itu tidak logis.
Misalnya, kita ubah susunannya menjadi (1), (3), dan (2) atau (2), (1), dan
(3). Susunan itu tidak logis, bukan?
3.2 Urutan Kronologis
Urutan kronologis merupakan urutan kejadian menurut waktu.
Peristiwa yang digambarkan dalam paragraf diurut menurut tingkat
perkembangannya dar waktu ke waktu. Urutan tersebut dipakai pada tulisan
naratif.
Contoh :
( 1) Tepat pukul 08.00 upacara perngatan hari kemerdekaan RI dimulai.
(2) bendera merah putih di kibarkan diiringi lagu kebangsaan indonesia raya.
(3) Peserta upcara kemudian mengheningkan cipta untuk mengenang jasa
para pahlawan yang telah gugur. (4) Dua mahasiswa tampil untuk membaca
teks proklamasi dan pmbukaan undang- undang dasar 1945. (5) Sesudah itu,
rektor memberikan pidato sambutan entang proklamasi kemerdekaan
indonesia pada tanggal 17 agustus 1945. (6) Kira-kira pukul 10.00 upacara di
akhiri dengan pembacaan doa.
3.3 Urutan Klimaks dan Antiklimaks
Pada paragraf ini mula-mula disebutkan pernyataan atau kejadian
biasa, kemudian lambat laun meningkat menjadi makin penting
menonjol/tegang, sampai pada yang paling penting.
Kalimat terakhir adalah kalimat pernyataan yang paling penting dan menjadi
klimaks dari serangkaian pernyataan sebelumya (contoh 7a). Hal yang
sebaliknya bisa juga dilakukan, yaitu paragraf dimulai dengan pernyataan
yanng paling penting atau paling menonjol, kemudian menyusul pernyataan-
pernyataan lain yang kadar kepentingannyamakin kurang. Kalimat akhir
merupakan antklimaks dari pernyataan sebelumnya (contoh 7b).
Contoh (7a) :
(1) Pancasila telah beberapa kali dironggrong. (2) Beberapa kali filsafat negara
RI hendak diubah ataupun dipreteli. (3) Setiap usaha hendak mengubah dan
mempreteli pancasila ternyata gagal. (4) Betapa pun usaha itu telah
dipersiiapkan dengan matang dan teliti, semuanya tetap dapat dihancurkan.
(5) Memang, Pancasila benar-benar sakti.
Contoh (7b) :
(1) Kebahagiaan tidak semata mata ditentukan oleh banyaknnya uang yang
dimiliki oleh seseorang. (2) Uang memang penting, tetapi kebahagiaan
seseorang tidak bergantung kepada uang yang dimilikinya. (3) Jika
kebahagiaan bergantung kepada uang semata-mata, pastilah orang-orang
yang kaya saja dapat menikmati kebagiaan. (4) Kenyataannya tidak
demikian. (5) Banyak orang yang kaya harta, tetapi tidak bahagia. (6)
Sebaliknya, banyak orang yang miskin harta, tetapai berbahagia hidupnya.
Contoh kalimat (7b) ini merupakan kebalikan dari contoh (7a). Urutan
pernyataan dapat dimulai yang paling penting atau paling menonjol. Kalimat-
kalimat berikutnya memuat pernyaan yang kadar isinya makin menurun dan
diakhiri dengan pernyataan biasa. Urutan seperti inilah yang disebut
antiklimaks.
II.4. Pengembangan Paragraf dengan teknik bervariasi
4.1. Pengembangan umum khusus-khusus umum
Cara pengembangan paragraf umum khusus-khusus umum merupakan
cara yang paling umum dipakai. Paragraf umum khusus dikembangkan
dengan meletakkan pikiran utama pada awal paragraf kemudian rician-
rincian berada pada kalimat-kalimat berikutnya. Sebaliknya paragraf khusus
umum, mula-mula dikembangkan rincian-rincian kemudian pada akhir
paragraf disampaikan generalisasinya. Jadi paragraf umum khusus bersifat
deduktif, sedangkan paragraf induktif bersifat khusus umum.
generalisasinya. Jadi paragraf umum khusus bersifat deduktif, sedangkan
paragraf induktif bersifat khusus umum.
Contoh :
Salah satu kedudukan bahasa indonesia adalah sebagai bahasa
nasional. (2) kedudukan ini dimiliki sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda
pada tanggal 28 Oktober 1928. (3) Kedudukan ini dimungkinkan oleh
kenyataan bahwa bahaa Melayu yang mendasari bahasa Indonesia telah
menjadi Lingua franca selama berabad-abad di seluruh tanah air kita. (4) Hal
ini ditunjang lagi oleh faktor tidak terjadinya persaingan bahasa,
maksudnya persaingan bahasa daerah yang satu dengan bahasa daerah
yang lain untu mencapai kedudukannya sebagai bahasa nasional.
4.2. Pengembangan dengan teknik klasifikasi
Dalam pengembangan karangan kadang-kadang diperlukan
pengelompokan hal-hal yang mempunyai persamaan. Pengelompokan ini
bekerja kedua arah yang berlawanan, yaitu pertama mempersatukan satuan-
satuan kedalam satu kelompok., dan kedua, memisahkan satuan-satuan tadi
dari kelompok yang lain (keraf dalam Mudlofar 2002: 103).
Contoh :
Berdasarkan tingkat pendidikannya, tenaga kerja yang tersedia di
pasar kerja indonesia dapat dibagi tiga kelompok, ketiga kelompok itu adalah
mereka yang berpedidikan dasar (SD dan SMP), yang berpendidikan
menengah, dan yang berpendidikan tinggi. Kelompok yang berpendidikan
rendah lebih banyak dari pada yang berpendidikan menengah atau tinggi.
4.3. Pengembangan dengan Alasan-alasan
Pengembangan menurut pola ini,fakta yang menjadi sebab terjadinya
sesuatu itu dikemukakan lebih dulu,kemudian disusul oleh rincian-rincian
sebagai akibatnya . Dalam hal ini, sebab merupakan pikiran utama,
sedangkan akibat merupakan pikiran-pikiran penjelas.
Contoh :
Keluarga berencana berusaha menjamin kebahagiaan hidup keluarga.
(2) ibu tidak selalu hidup merana karena setiap tahun melahirkan. (3) bapak
tidak perlu terlalu pusing memikirkan usaha untuk mencukupi kebutuhan
keluarganya. (4) Anak pun tidak terlantar hidupnya.
4.4 Pengembangan analogi
Pengembangan analogi biasanya digunakan untuk membandingkan sesuatu
yang sudah terkenal umum dengan yang tidak dikenal umum.
Contoh :
Pantun dan syair mempunyai beberapa persamaan dan perbedaan. (2)
Keduanya tergolong puisi lama yang terdiri atas empat baris. (3) Pada syair
keempat barisnya merupakan isi sedangkan pada pantun isinya terletak
pada baris ketiga dan keempat. (4) Pantun berasal dari bumi Indonesia,
sedangkan syair berasal dari sastra Arab.

4.5. Pengembangan contoh-contoh


Gagasan yang terlalu umum sifatnya sulit dipahami. Agar pembaca menjadi
jelas diperlukan ilustrasi-ilustrasi konkret. Ilustrasi konkret inilah yang
nantinya dikembangkan menjadi contoh-contoh.
Contoh :
Kata-kata pungutan itu ada yang telah lama masuk, ada juga yang
baru masuk. (2) Baik yang telah lama maupun yang baru, ada yang benar-
benar sudah menjadi bahasa Indonesia , Misalnya : Saya, sabun, pasar, kursi,
meja, dsb. (3) ada juga yang masih terasa asingnya, misalnya: insaf, sukses,
akhlak, proses, dan sebagainya.
4.6. Pengembangan definisi luas
Yang dimaksud pengembangan definisi luas ialah pengarang bermaksud
memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah istilah atau hal (keraf
dalam Mudlofar 2002: 102).
Contoh :
Apa dan siapakah pahlawan itu? Bahwa pahlawan adalah orang yang
berpahala. Mereka yang berbuat baik, melaksanakan kewajiban dengan baik,
berjuang tanpa pamrih adalah pahlawan. Pahlawan menurut balas jasa, tidak
ingin dihargai, tidak ingin meminta pengakuan dari orang lain.
4.7 pengembangan dengan campuran
Pada pola pengembangan itu rincian-rincian terhadap kalimat utama terdiri
atas campuran dari dua atau lebih cara pengembangan paragraf. Misalnya
terdapat campuran umum-khusus dengan sebab-akibat, atau dengan
perbandingan dan sebagainya.

Contoh :
Bahasa tutur ialah bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari,
terutama dalam percakapan. (2) Umumnya bahasa tutur sederhana dan
singkat bentuknya. (3) Kata-kata yang digunakan tidak banyak jumlahnya.
(4) Lagipula bahasa tutur hanya mengguanakan kata-kata yang lazim dipakai
sehari-hari. (5) Sudah barang tentu sering digunakan juga kata tutur, yaitu
kata yang memang digunakan hanya dalam bahasa tutur, misalnya : bilang,
pelan, bikin, enggak, dsb. (7) Lafal pun sering menyimpang dari lafal yang
umum, misalnya : dapet (dapat), malem (malam), ampat (empat), dsb. (8)
Bahkan juga sering digunakan urutan kata yang menyimpang dari bahasa
umum, misalnya : ini hari, itu orang, dsb.
II.5. Paragraf yang baik
1) Kesatuan (Unity)
Anda tentunya pernah mengalami kesulitan tentang cara mengakhiri
atau berganti paragraf ketika mendapat tugas mengarang dari guru Anda.
Kesulitan itu terjadi karena Anda kurang memahami bahwa tulisan Anda
telah berganti kalimat topik. Perubahan topik itu merupakan tanda
pergantian paragraf.
Paragraf yang mengandung banyak kalimat topik dapat
mengaburkan maksud sehingga dapat membingungkan para pembaca.
Apabila ada sebuah paragraf yang memiliki dua kalimat topik, paragraf
tersebut dapat dikatakan tidak memiliki unsur kesatuan. Paragraf harus
memperlihatkan suatu maksud dengan jelas, yang biasanya didukung oleh
sebuah kalimat topik atau kalimat utama, seperti tampak pada contoh
paragraf di bawah ini!
Di masa kecil, Bung Hatta berkembang seperti anak-anak biasa,
tetapi ia kurang memiliki sahabat bermain. Hal itu disebabkan tetangga-
tetangga Bung Hatta tidak mempunyai anak seusianya dan di keluarganya
sendiri Hatta merupakan satu-satunya anak lelaki. Kadang-kadang Bung
Hatta bermain sendiri dengan cara membuat miniatur lapangan bola,
sedangkan pemain-pemainnya dibuat dari gabus yang dibebani dengan
timah. Bola dibuatnya dari manik bundar. Hatta memainkan sendiri
permainan sepak bola itu dengan asyiknya.
Bung Hatta termasuk orang hemat. Setiap kali diberi uang belanja
orang tuanya, yang pada waktu itu sebenggol, ia selalu menabungnya.
Caranya, uang logam itu disusunnya sepuluh-sepuluh dan disimpan di atas
mejanya. Jadi, setiap orang yang mengambil atau mengusiknya, Hatta selalu
tahu. Namun, kalau orang meminta dengan baik dan Hatta menganggap
perlu diberi, tak segan-segan ia akan memberikan apa yang dimilikinya.
(cetak miring: kalimat topik)
2) Kepaduan (coherence)
Paragraf yang baik harus memperlihatkan hubungan antarkalimat yang
erat. Paragraf yang dibangun dari kalimat-kalimat yang loncat-loncat berarti
paragraf tersebut tidak koheren atau tidak padu. Apabila tidak ada kepaduan
(koherensi), loncatan-loncatan pikiran, urutan waktu dan fakta yang tidak
teratur akan terjadi sehingga menyimpang dari kalimat topik.
Selanjutnya, bagaimana cara menciptakan kepaduan antarkalimat
dalam sebuah paragraf? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, masih
ingatkan Anda ketika Anda masih kecil menyanyikan lagu Bangun Tidur?
Secara lengkap, apabila ditulis dalam sebuah paragraf akan berbunyi
sebagai berikut.
Bangun tidur kuterus mandi (1). Tidak lupa menggosok gigi (2). Habis
mandi kutolong ibu (3). Membersihkan tempat tidurku.

Paragraf di atas dibangun atas empat kalimat. Kalimat pertama


sampai keempat saling berhubungan karena adanya urut-urutan waktu dan
tempat. Waktu menggosok gigi dilakukan sebelum mandi, dan setelah mandi
membantu ibu di kamar tidur untuk membersihkan tempat tidur.
Uraian di atas merupakan salah satu cara agar kalimat yang disusun
dalam sebuah paragraf padu. Cara yang dapat Anda lakukan agar kalimat-
kalimat dalam paragraf yang Anda susun padu adalah dengan (1) mengulang
kata atau kelompok kata yang sebelumnya sudah disebutkan dengan kata
atau kelompok kata yang sama atau dengan sinonimnya, dan (2)
menggunakan kata penunjuk itu, ini, tersebut, atau dengan kata di atas, dan
(3) membangun urut-urutan ide. Perhatikan contoh berikut!
Saya merasa stres ketika mendapat tugas mengarang. Saya bingung
untuk memulainya. Selain itu, saya sering berhenti ketika mengarang karena
kehabisan ide. Kehabisan ide tersebut terjadi karena saya kurang memiliki
wawasan yang cukup tentang apa yang saya tulis.
3) Kelengkapan (completeness)
Paragraf dikatakan lengkap apabila dibangun atas beberapa kalimat
penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik. Paragraf
dikatakan tidak lengkap apabila hanya dikembangkan dan diperluas dengan
pengulangan-pengulangan, atau kurang memiliki kalimat penjelas yang
memadai. Dengan demikian, paragraf yang mengandung unsur kelengkapan
selalu dibangun atas beberapa kalimat, bukan satu atau dua kalimat.
Paragraf yang hanya memiliki satu atau dua kalimat dapat membuat
pembaca merasa kesulitan memahami makna detil dalam paragraf.
4) Urutan (orderly)
Urutan ini berhubungan dengan kalimat-kalimat yang membangun
paragraf hendaknya memiliki urut-urutan ide secara logis. Syarat ini mirip
dengan kepaduan. Hanya saja, untuk urutan, kalimat yang membangun
paragraf hendaknya memiliki keruntunan.

BAB III
KESIMPULAN

III.1 Kesimpulan
Unsur-unsur yang membangun sebuah paragraf
o Topik atau gagasan utama
o Kalimat Utama atau Pikiran Utama
o Kalimat Penjelas
o Judul atau Kepala Karangan

Penempatan kalimat utama dalam paragraf


o Paragraf Deduktif (awal paragraf)
o Paragraf Induktif (akhir paragraf)
o Paragraf Variatif ( awal dan akhir paragraf)
o Deskriptif/naratif ( pikiran utama tersirat)

Pengurutan kalimat utama dan kalimat penjelas dalam kesatuan paragraf


o Urutan Logis
o Urutan Kronologis
o Urutan klimaks dan Antiklimaks

Mengembangkan paragraf dengan teknik bervariasi


o Pengembangan dengan Hal-hal yang khusus
o Pengembangan dengan Teknik Klasifikasi
o Pengembangan dengan alasan-alasan
o Pengembangan dengan perbandingan
o Pengembangan dengan contoh-contoh
o Pengembangan dengan defenisi Luas
o Pengembangan dengan campuran

Paragraf yang baik memenuhi hal berikut :


o Kesatuan
o Kepaduan
o Kelengkapan
o urutan
Diposkan oleh Muhammad Amirsyah di 17.12
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest