Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era globalisasi ini


semakin pesat, terutama pada bidang Teknologi Informasi. Indonesia sebagai
negara berkembang mempunyai kepentingan terhadap ilmu pengetahuan dan
teknologi supaya tidak tertinggal dari negara-negara maju. Penguasaan ilmu dan
teknologi sebagai sarana bagi bangsa Indonesia untuk bangkit dari
keterpurukan di banyak bidang. Seperti salah satunya adalah IPTEK (Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi). Sebagai contoh setiap perusahaan, instansi yang
melakukan kegiatan pengiriman barang yang cepat sehingga dituntut untuk
memiliki mesin yang baik dan tangguh untuk dapat memenuhi target pada
perusahaan tersebut.
Di dalam sebuah perusahaan atau instansi harus tangguh menjaga
konsistensinya, karena persaingan didalamnya sangat berat. Dengan
perkembangan zaman yang sangat pesat dan munculnya perusahaan perusahaan
atau kompetitor dalam jumlah yang tidak sedikit. Oleh karena itu bila sebuah
perusahaan tidak dapat mengikuti perkembangan zaman akan dengan mudah akan
tersisihkan dalam dunia bisnis. Untuk menjaga konsistensi dalam dunia bisinis,
hal yang paling penting adalah kepercayaan, ketepatan dan kualitas dari barang
yang dipesan.
Dalam bekerja dibutuhkan berbagai macam hal guna mendukung
pekerjaan yang dilakukan. Dalam mencari barang dan jasa yang dibutuhkan maka
Procurement Team di PT X akan melakukan pemilihan supplier. Untuk
memudahkan proses pemilihan supplier, maka dibutuhkan sebuah sistem
pendukung keputusan yang bertujuan untuk mempermudah memberikan pilihan
supplier yang tepat bagi perusahaan dan diharapkan dapat membantu masalah -
masalah yang ada pada perusahaan.
Pengambilan keputusan ialah proses memilih suatu alternatif cara
bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi. Proses ini digunakan untuk
menemukan dan menyelesaikan masalah yang ada. Tidak hanya dalam masalah-
masalah individu, pemilihan juga sering dihadapi oleh organisasi. Beragamnya
kriteria yang harus dipertimbangkan dan banyaknya alternatif yang dapat dipilih,
menyebabkan seorang pengambil keputusan harus dapat menentukan prioritas
untuk masing-masing alternatif yang ada.

Selama ini penentuan prioritas dilakukan secara instan dan hasilnya


merupakan suatu penyelesaian yang asal memuaskan tanpa mengejar penyelesaian
yang terbaik. Pengambilan keputusan yang hanya berdasarkan intuisi memiliki
banyak sekali kekurangan dan kelemahan. Diperlukan suatu kajian yang lebih
analitis untuk mendapatkan penyelesaian yang lebih baik. Dalam melakukan
pengkajian, diperlukan adanya masukan dan saran dari seorang profesional yang
telah berpengalaman atau dari orang-orang yang secara langsung berhubungan
dengan permasalahan yang akan diselesaikan.
Berdasarkan hal itu maka dikembangkanlah sistematika baru yang
disebut dengan analisa keputusan. Untuk mengatasi masalah pengambilan
keputusan terutama masalah penentuan prioritas, dapat digunakan metode
Analytical Hierarchy Process (AHP) dan metode Point Ratting
Alasan dipergunakannya AHP sebagai alat analisis yaitu karena AHP
memberi model yang mudah dimengerti untuk beragam permasalahan yang tidak
terstruktur, selain itu AHP tidak memaksakan pemikiran linier dan dapat
menangani saling ketergantungan elemen dalam satu sistem. AHP juga
memberikan suatu skala dalam mengukur hal-hal yang tidak terwujud untuk
mendapatkan prioritas.
Metode point ratting system ini dipilih dikarenakan metode ini bersifat
kuantiatif yang di mana dalam pengerjaannya lebih mudah dan lebih akurat
dibandingkan dengan metode-metode penilaian jabatan yang lainnya. Selain itu,
metode point rating system ini juga bersifat analitis, di mana jabatan-jabatan
dinilai menurut sejumlah faktor secara terperinci, dan nilai masing-masing jabatan
dinyatakan dalam bentuk angka skala
Pemilihan supplier dalam praktikum kali ini yaitu diasumsikan pemilihan
supplier untuk televisi sebagai sarana penyaluran informasi seperti berita dan
sarana hiburan yang ditujukan fasilitas menunggu konsumen.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian singkat pada latar belakang di atas, maka rumusan


masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana pemilihan supplier di PT X
dengan menggunakan metode AHP dan Point Ratting yang nantinya akan
memperoleh pengambilan keputusan yang dibutuhkan oleh perusahaan
untuk menjadi supplier televisi.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari dilaksankannya penelitian ini adalah :


1 Mendapatkan struktur hierarki dengan metode AHP dan Point ratting
untuk Pemilihan vendor televisi di perusahaan consumer goods
sebagai tujuan utama dan level teratas dan kriteria-kriteria beserta
alternatif-alternatif yang ada.

2 Mengetahui cara pemilihan vendor televisi di PT X untuk dijadikan


bahan acuan ketika bekerja.

3 Mendapatkan masukan dalam proses pengambilan keputusan


penentuan supplier televisi terbaik dan paling sesuai untuk
perusahaan.

1.4 Pembatasan Masalah

Mengingat terbatasnya kemampuan dan waktu yang tersedia serta luas ruang
lingkup kegiatan pemilihan supplier yang dilakukan oleh PT X dan juga waktu
yang disediakan untuk menyelesaikan tugas ini, maka penulis akan memberikan
pembatasan masalah yaitu berupa :

1 Tidak terjadi perubahan kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan


pengadaan barang selama penelitian dilakukan.
2 Metode yang digunakan adalah metode Analytical Hierarchy Process
(AHP) dan Point Ratting.
1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat didapat dari penelitian ini adalah :


1 Bagi Penulis
Menguji kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang
diperolah selama belajar di Universitas Widyatama secara nyata
dalam praktikum dengan didukung juga oleh berbekal teori -
teori yang diterima..
2 Bagi PT X
Dalam suatu penelitian diharapkan hasil yang di buat dapat membantu
perusahaan agar bisa berkembang dan maju sehingga apa
yang dilakukan tidak terbuang percuma bagi perusahaan untuk
menentukan pengambilan keputusan dan kebijaksanaan perusahaan di
masa yang akan datang.
3 Bagi Universitas Widyatama
Laporan tugas Praktikum ini diharapkan dapat menjadi acuan
bagi akademik untuk dijadikan tolak ukur pemahaman dan
penguasaan tentang teori yang diberikan oleh akademik dalam
mendidik dan membekali mahasiswanya sebelum terjun ke
masyarakat.

1.6 Sistematika Penulisan Laporan

Sistematika penulisan laporan penelitian ini terdiri dari enam bab Aspek-
aspek dari laporan penelitian ini secara keseluruhan adalah:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang masalah, pokok
permasalahan, tujuan penelitian, pembatasan masalah dan
metodologi penulisan serta sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab kedua berisi pembahasan teori yang mendukung
pemahaman dan penyelesaian akan data-data yang telah
didapatkan lewat penelitian yang akan disajikan pada bab tiga.

BAB III FLOWCHART


Pada bab ketiga dalam laporan ini, penulis akan memberikan
metode pelaksanaan yang dilakukan dalam praktikum ini.
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Pada bab empat akan disajikan data yang telah dikumpulkan dan
dilakukan pengolahan dari data yang telah diperoleh.
BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN
Bab ini menyajikan analisa dan pembahasan terhadap masalah
yang terjadi dan berisi tentang implementasi serta penyelesaian
terhadap masalah.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab yang berisikan suatu kesimpulan dari


hasil analisis dan pembahasan yang telah diperoleh pada bab
sebelumnya disertai dengan saran-saran yang diusulkan penulis,
baik untuk pihak perusahaan maupun pengembangan penelitian
selanjutnya.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Procurement

Procurement management (manajemen pengadaan) adalah manajemen


pengelolaan dalam usaha memperoleh barang atau jasa yang merupakan bagian
dari mata rantai suatu sistem produksi tertentu.
Tujuan Procurement Management adalah untuk memastikan agar proses
pengadaan berjalan dengan lancar sehingga produk dan jasa yang dibutuhkan bisa
didapat disaat yang tepat, dalam jumlah yang tepat, dengan kualitas yang tepat
dan dengan harga yang tepat.
Tugas-tugas bagian pengadaan tidak terbatas hanya pada kegiatan rutin
pembelian.Secara umum, tugas-tugas yang dilakukan mencakup:
1. Merancang hubungan yang tepat dengan supplier.
Hubungan dengan supplier bisa bersifat kemitraan jangka panjang
maupun hubungan transaksional jangka pendek. Baik berupa model
hubungan, relationship, berapa jumlah supplier.
2. Memilih supplier.
Kegiatan memilih supplier bisa memakan waktu dan sumber daya
yang tidak sedikit apabila supplier yang dimaksud adalah supplier
kunci. Kesulitan akan lebih tinggi kalau supplier-supplier yang akan
dipilih berada di mancanegara (global suppliers). Supplier-supplier
kunci yang berpotensi untuk menjalin hubungan jangka panjang,
proses pemilihan ini bisa melibatkan evaluasi awal, mengundang
mereka untuk presentasi, kunjungan lapangan (site visit) dan
sebagainya. Pemilihan supplier-supplier kunci harus sejalan dengan
strategi supply chain.
3. Memilih dan mengimplentasikan teknologi yang cocok.
Kegiatan pengadaan selalu membutuhkan bantuan
teknologi.Teknologi yang lebih tradisional dan lumrah digunakan
adalah telepon dan fax.Saat ini banyak perusahaan yang menggunakan
electronic procurement (e-procurement) yakni aplikasi internet untuk
kegiatan pengadaan.
4. Memelihara data item yang dibutuhkan dan data supplier.
Bagian pengadaan harus memiliki data lengkap tentang item-item
yang dibutuhkan maupun data tentang supplier-supplier
mereka.Beberapa data supplier yang penting untuk dimiliki adalah
nama dan alamat masing-masing supplier, item apa yang mereka
pasok, harga per unit, lead time pengiriman, kinerja masa lalu, serta
kualifikasi supplier termasuk juga kualifikasi seperti ISO.
5. Melakukan proses pembelian.
Proses pembelian bisa dilakukan dengan beberapa cara,misalnya
pembelian rutin dan pembelian dengan melalui tender atau lelang,
(auction).Pembelian rutin dan pembelian dengan tender melewati
prosesproses yang berbeda.
6. Mengevaluasi kinerja supplier.
Hasil penilaian ini digunakan sebagai masukan bagi supplier untuk
meningkatkan kinerja mereka.Kriteria yang digunakan untuk menilai
supplier seharusnya mencerminkan strategi supply chain dan jenis
barang yang dibeli
2.2 Pengambilan Keputusan

Dalam pengambilan keputusan seringkali kita dihadapkan pada berbagai

kondisi seperti ketidakpastian, jangka panjang, dan kompleks. Ketidakpastian

adalah kondisi dimana faktor-faktor yang diharapkan mempengaruhi namun

memiliki kadar informasi yang rendah. Kondisi jangka panjang juga memiliki

dampak jangkauan yang cukup jauh ke depan dan melibatkan sumber-sumber

usaha yang penting. Kondisi kompleks dimana saat pengambilan keputusan resiko

dan waktu memiliki peranan yang besar, komponen dan keterkaitannya sering

bersifat dinamis, berubah menurut waktu. Suatu keputusan dapat dikatakan baik

apabila seluruh informasi telah dimanfaatkan secara penuh, dasar-dasar

rasionalitasnya telah diikuti dengan baik dan proses perpindahan dari satu tahap

ke tahap lainnya telah berjalan dengan konsisten. Pada prinsipnya terdapat dua

buah basis dalam pengambilan keputusan, yaitu pengambilan keputusan

berdasarkan intuisi dan pengambilan keputusan rasional berdasarkan hasil analisis

keputusan.

Mengambil atau menetapkan keputusan adalah suatu proses yang

dilaksanakan berdasarkan pengetahuan dan informasi yang ada dengan harapan

sesuatu akan terjadi. Keputusan dapat diambil dari alternatif-alternatif keputusan

yang ada. Alternatif keputusan tersebut dapat dilakukan berdasarkan informasi

yang sudah diolah dan disajikan dengan dukungan sistem penunjang keputusan.

Informasi tersebut terbentuk dari data yang merupakan bilangan dan terms

bermakna khusus yang disusun, diolah, dan disajikan dengan dukungan sistem

informasi manajemen. Setelah itu, keputusan yang diambil ditindaklanjuti dan

pelaksanaannya perlu mengacu pada standar prosedur operasional (Standart


Operational Procedure). Keputusan tersebut menghasilkan data terbaru dan begitu

seterusnya terjadi dalam sirklus data, informasi, keputusan dan aksi.

Sistem penunjang keputusan (decision Support System) merupakan

sistem yang berfungsi mentransformasikan dan informasi menjadi alternatif

keputusan dan prioritasnya. Standart Operational Procedure merupakan pedoman

operasi standar dalam mengimplementasikan keputusan dalam suatu tindakan

yang terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan. Monitoring dan evaluasi

berfungsi untuk selalu memonitor dan mengevaluasi kualitas, kelancaran operasi,

dan pemanfaatan dari komponen siklus. Melalui monitoring dan evaluasi

diharapkan dinamika proses dalam siklus dapat diikuti dan pemanfaatan sistem

dapat optimal.

Pengambilan keputusan dapat melalui dua kerangka kerja, meliputi

pengambilan keputusan tanpa percobaan dan pengambilan keputusan yang

berdasarkan suatu percobaan. Pengambilan keputusan tanpa percobaan dilakukan

dengan cara menyusun secara sistematis cara kerja umum sebelum mencari solusi

bagi masalah yang diharapkan. Teori ini dikembangkan sejalan dengan

pendekatan statistik secara sederhana, hasil keputusannya diupayakan mempunyai

kesalahan seminimal mungkin.

Ada tiga aspek yang berperan dalam analisa keputusan yaitu kecerdasan,

persepsi dan falsafah. Menggunakan ketiga aspek tersebut membuat model,

selanjutnya menentukan nilai kemungkinan, menetapkan nilai pada hasil yang

diharapkan, serta menjajaki prefensi terhadap waktu dan resiko, maka untuk

sampai pada suatu keputusan diperlukan logika.


Informasi awal telah dikumpulkan, kemudian dilakukan pendefinisian

dan penghubungan variabel-variabel yang mempengaruhi keputusan pada tahap

deterministik. Setelah itu, dilakukan penetapan nilai untuk mengukur tingkat

kepentingan variabel-variabel tersebut tanpa memperhatikan unsur ketidakpastian.

Pada tahap probabilistik, dilakukan penetapan nilai ketidakpastian secara

kuantitatif yang meliputi variabel-variabel yang sangat berpengaruh. Setelah

mendapatkan nilai-nilai tersebut pada tahap informasional untuk menentukan nilai

ekonomisnya pada variabel-varibel yang cukup berpengaruh, sehingga didapatkan

suatu keputusan.

Keputusan yang dihasilkan dari tahap informasional dapat langsung

ditindaklanjuti berupa tindakan atau dapat dikaji ulang dengan mengumpulkan

informasi tambahan dengan tujuan untuk mengurangi kadar ketidakpastian.

Adanya kaji ulang dapat menurunkan resiko ketidakberhasilan dari keputusan

yang diambil. Jika hal ini terjadi, maka akan kembali mengikuti ketiga tahap

tersebut, begitu seterusnya.

2.3 Analytical Hierarchy Process (AHP)

Analytic Hierarchy Process atau yang biasa disebut AHP adalah suatu

model yang memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok untuk

membangun gagasan-gagasan dan mendefinisikan persoalan dengan cara

membuat asumsi mereka masing-masing dan memperoleh pemecahan yang

diinginkan darinya. Gagasan tersebut digunakan untuk menentukan kriteria untuk

memecahkan suatu persoalan tertentu, lalu dengan menggunakan asumsi gagasan

tersebut dikelompokkan menjadi suatu struktur hirarki dan diberi pembobotan


untuk gagasan itu agar didapat pemecahan yang diinginkan. AHP merupakan

teknik pengambilan keputusan matematis yang mempertimbangkan aspek

kualitatif dan kuantitatif dari suatu keputusan. Metode Analytical Hierarchy

Process (AHP) dikembangkan oleh Thomas L. Saaty merupakan salah satu

metode yang dapat digunakan dalam sistem pengambilan keputusan dengan

memperhatikan faktor-faktor persepsi, preferensi, pengalaman dan intuisi. AHP

menggabungkan penilaian-penilaian dan nilai-nilai pribadi ke dalam satu cara

yang logis.

Analytialc Hierarchy Process (AHP) dapat menyelesaikan masalah

multikriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Masalah yang kompleks dapat

di artikan bahwa kriteria dari suatu masalah yang begitu banyak (multikriteria),

struktur masalah yang belum jelas, ketidakpastian pendapapat dari pengambil

keputusan, pengambil keputusan lebih dari satu orang, serta ketidak akuratan data

yang tersedia. Menurut Saaty (1993), hirarki didefinisikan sebagai suatu

representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu struktur multi

level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor, kriteria, sub

kriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir dari alternatif. Dengan

hirarki, suatu masalah yang kompleks dapat diuraikan ke dalam kelompok-

kelompoknya yang kemudian diatur menjadi suatu bentuk hirarki sehingga

permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis. Metode ini adalah

sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan

dengan menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan keputusan

dengan memecahkan persoalan tersebut kedalam bagian-bagiannya, menata

bagian atau variabel ini dalam suatu susunan hirarki, memberi nilai numerik pada
pertimbangan subjektif tentang pentingnya tiap variabel dan mensintesis berbagai

pertimbangan ini untuk menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas

paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.

Metode ini juga menggabungkan kekuatan dari perasaan dan logika yang

bersangkutan pada berbagai persoalan, lalu mensintesis berbagai pertimbangan

yang beragam menjadi hasil yang cocok dengan perkiraan kita secara intuitif

sebagaimana yang dipersentasikan pada pertimbangan yang telah dibuat.

Analytical Hierarchy Process (AHP) mempunyai landasan

aksiomatik yang terdiri dari :

1. Reciprocal Comparison, yang mengandung arti si pengambil

keputusan harus bisa membuat perbandingan dan menyatakan

preferensinya. Preferensinya itu sendiri harus memenuhi syarat

resiprokal yaitu kalau A lebih disukai dari B dengan skala x, maka B

lebih disukai dari A dengan skala 1/x.


2. Homogenity, yang mengandung arti preferensi seseorang harus dapat

dinyatakan dalam skala terbatas atau dengan kata lain elemen-

elemennya dapat dibandingkan satu sama lain. Kalau aksioma ini

tidak dapat dipenuhi maka elemen-elemen yang dibandingkan tersebut

tidak homogenous dan harus dibentuk suatucluster (kelompok

elemen- elemen) yang baru.


3. Independence, yang berarti preferensi dinyatakan dengan

mengasumsikan bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh

alternatif- alternatif yang ada melainkan oleh objektif secara

keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa pola ketergantungan atau

pengaruh dalam model AHP adalah searah keatas, Artinya


perbandingan antara elemen-elemen alam satu level dipengaruhi atau

tergantung oleh elemen-elemen dalam level di atasnya.


4. Expectations, artinya untuk tujuan pengambilan keputusan, struktur

hirarki diasumsikan lengkap. Apabila asumsi ini tidak dipenuhi maka

si pengambil keputusan tidak memakai seluruh kriteria dan atau

objektif yang tersedia atau diperlukan sehingga keputusan yang

diambil dianggap tidak lengkap


1. Metode Point Ratting
Metode point rating menggabungkan faktor tangible dan intangible serta
pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan memberikan bobot berdasarkan
kepentingan kriteria bagi orang yang mengambil keputusan. Sehingga metode ini
mencoba untuk menguantifikasikan kriteria yang bersifat kualitatif ke dalam
ukuran yang lebih dapat diukur. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
metode ini adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi faktor yang relevan
2. Menentukan bobot setiap faktor
3. Menentukan rating faktor untuk setiap supplier
4. Menghitung bobot skor untuk setiap supplier pada setiap faktor
5. Menjumlahkan bobot skor untuk setiap supplier
6. Pilih supplier yang memiliki skor tertinggi

2. Televisi
Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang

berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu

yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna.


Hal yang harus

1. Memahami Perbedaan Jenis TV

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenal dan memahami lebih dulu
apa saja perbedaan antar jenis TV yang beredar di pasaran. Saat ini, jenis
televisi terbagi menjadi 3 macam, yakni TV Plasma, LCD, dan LED. Masing-
masing jenis memiliki perbedaan yang cukup signifikan, di antaranya adalah:
TV Plasma, merupakan jenis TV paling murah dari yang lain. Karena lebih
terjangkau, maka teknologi yang diusungnya pun sedikit tertinggal. Maksud
tertinggal disini adalah terdapat beberapa fitur baru yang belum dimiliki oleh
televisi jenis ini, tapi sudah dimuat oleh jenis televisi lain. Selain itu, ia
memiliki desain bodi yang jauh lebih tebal dibandingkan TV LCD maupun
LED. Meski begitu, tidak sedikit dari masyarakat yang tetap memilih TV
plasma sebagai teman santainya di rumah.

TV LCD dan LED, bisa dibilang seperti saudara kembar. Keduanya memiliki
teknologi yang sama, yaitu layar jenis LCD. Hanya saja, pada TV LCD ia
masih mengusung teknologi CCFL atau Cold Cathode Fluorescent Lamps
sebagai backlight-nya. CCFL terkenal dengan sifatnya yang boros energi.
Sehingga, tidak jarang pengguna TV jenis ini mengeluhkan tagihan listrik yang
selalu di atas rata-rata. Berbeda dengan TV LED. Televisi jenis ini telah
menggunakan LED Lamp yang jauh lebih hemat dalam konsumsi daya listrik.
Sehingga akan jauh lebih ekonomis untuk semua kalangan pengguna.

Lihat disini untuk penjelasan detail perbedaan TV Tabung, Plasma, LCD dan
LED

2. Pertimbangkan Rasio Kontras

Setiap televisi memiliki kemampuan untuk menampilkan gambar dengan

kontras cerah dan gelap dalam waktu bersamaan. Kemampuan tersebut biasa

diistilahkan sebagai Rasio Kontras. Secara umum, semakin tinggi rasio kontras

yang dimiliki sebuah TV, maka kualitas gambar yang mampu ditampilkannya

akan semakin tinggi pula. Pilihlah televisi yang menawarkan rasio kontras

cukup tinggi, sehingga akan memberi kepuasan yang besar bagi Anda.
3. Pertimbangkan Half Life

Dalam kemasan produk TV biasanya tercantum informasi mengenai Half Life

(paruh hidup). Istilah ini maksudnya menjelaskan rentang waktu dimana suatu

televisi hanya mampu memberikan brightness atau kecerahan layar sebesar

50% dari kemampuan yang dimiliki sebuah televisi baru. Pada umumnya,

masing-masing televisi memiliki half life yang berbeda. Semakin lama nilai

half life yang dimiliki suatu televisi, maka semakin tepat untuk dipilih.

4. Pertimbangkan Konsumsi Listrik

Menjadi hal yang krusial bagi kita semua untuk memperhatikan masalah

konsumsi listrik pada sebuah televisi baru. Dari ketiga jenis televisi yang ada di

pasaran, TV Plasma merupakan jenis paling boros dibandingkan yang lainnya.

Sebagai gambaran, TV Plasma membutuhkan konsumsi listrik 50% lebih besar

dari kebutuhan TV LCD. Sementara jenis paling ekonomis adalah TV LED,

dimana nilai konsumsi listrik yang dibutuhkan hanya sekitar 40% dari

konsumsi total yang dibutuhkan TV LCD.

5. Pertimbangkan Harga

Beberapa tahun yang lalu, harga merupakan tolak ukur dalam membandingkan

kualitas dan mutu suatu produk. Namun berbeda dengan sekarang, dimana

tidak selalu barang yang harganya mahal jauh lebih baik dan berkualitas dari

barang sejenis yang lebih murah. Semua kembali pada penilikan terhadap

barangnya langsung. Sehingga, jangan biasa tergiur dengan televisi yang


dikemas apik dan berbandrol mahal. Bisa jadi merk atau tipe TV yang berbeda

dan harganya lebih murah dari itu justru jauh lebih baik serta memuaskan.

6. Prioritaskan TV Bergaransi

Sudah menjadi etika belanja sejak dulu, bahwa barang yang memiliki garansi

jauh lebih utama dibandingkan barang sejenis yang dijual tanpa garansi. Selalu

pastikan bahwa televisi yang Anda beli memiliki dokumen-dokumen lengkap

berkaitan dengan fasilitas garansi yang tersedia. Jangan sampai pada kemasan

tertulis Bergaransi 1 Tahun, tapi tidak ada satu dokumen pun yang Anda bawa

pulang sebagai prosedur utama untuk menebus garansi di kemudian hari.

Selain itu, usahakan garansi yang berlaku dari toko tempat pembelian TV

adalah garansi resmi dari sang vendor, bukan sekedar garansi dari pemilik

tokonya.

7. Perhatikan Lokasi Service Center

Setiap merk televisi memiliki kantor service center-nya masing-masing. Hal ini

masih berkaitan dengan masalah garansi. Jika memungkinkan, belilah televisi

yang memiliki garansi resmi serta tersedia kantor service center yang cukup

dekat dengan rumah Anda. Sehingga jika suatu hari TV Anda bermasalah,

Anda bisa membawanya ke toko tempat Anda membeli dan akan langsung

dialihkan ke service center terdekat untuk diperbaiki. Semakin dekat lokasi

service center dari alamat toko, tentu semakin cepat penindaklajutannya,

bukan.
BAB IV

PENGUMPULAN & PENGOLAHAN DATA

4.1 METODE PENGAMBILAN KEPUTUSAN

4.1.1 Pengumpulan Data

Tujuan : Menentukan brand TV untuk inventaris

Kriteria1 : Kualitas

Sub-Kriteria : 1. Spesifikasi

2. Fitur

Kriteria2 : Harga

Sub-Kriteria : 1. Cashback

2. <5 juta

Kriteria3 : Service

Sub-Kriteria : 1. Garansi

2. Service Center

Alternatif Tujuan : 1. Toshiba 40" LED TV Full HD TV


2. LG 42" Full HD LED TV

3. Samsung LED TV 40"

4.1.2 Pengolahan Data

A. Analytical Hierarchy Process (AHP)

Interpretasi perbandingan kriteria dan sub-kriteria


Tabel 4.1 Tabel Interpretasi perbandingan kriteria dan sub-kriteria

Kriteria
Deskripsi
A B C
A lebih penting dari B 1 1 1
A sedikit lebih penting dari B 3 1 1/3
A secara signifikan lebih penting dari B 5 1 1/5
A jauh lebih penting dari B 7 1 1/7
A secara absolut lebih penting dari B 9 1 1/9
(Sumber : Pengolahan data)
Pohon klasifikasi pemilihan alternatif televisi

Tabel 4.2 Tabel Kriteria Perbandingan


Perbandingan Kriteria
Deskripsi Kualitas Harga Service
kualitas 1 3 3
harga 0.33 1 0.5
service 0.33 5 1
total 1.66 9 4.5
(Sumber : Pengolahan Data)

Tabel 4.3 Tabel Bobot Nilai Kriteria

Bobot Nilai
Deskrips
i Kualitas Harga Service rata-rata
0.60240963 1.80722891 1.80722891
kualitas 9 6 6 1.40562249
0.19879518 0.60240963 0.30120481
harga 1 9 9 0.36746988
0.19879518 3.01204819 0.60240963 1.27108433
service 1 3 9 7
3.04417670
total 7
(Sumber : Pengolahan Data)

Perbandingan Sub-Kriteria

Tabel 4.4 Tabel Sub-Kriteria1 Perbandingan

Perbandingan Sub-Kriteria Kualitas


deskripsi spesifikasi fitur
spesifikasi 1 3
fitur 0.33 1
TOTAL 1.33 4
(Sumber : Pengolahan Data)
Tabel 4.5 Tabel Bobot Nilai Sub-kriteria Kualitas

Bobot Nilai Sub-kriteria Kualitas


deskripsi spesifikasi fitur rata-rata
spesifikasi 0.751879699 2.255639098 1.503759398
fitur 0.248120301 0.751879699 0.5
TOTAL 1 3.007518797 2.003759398
(Sumber : Pengolahan Data)

Tabel 4.6 Tabel Perbandingan Sub-Harga

Perbandingan Sub-Harga
deskripsi cashback <5 juta
cashback 1 0.33
<5 juta 3 1
TOTAL 4 1.33
(Sumber : Pengolahan Data)

Tabel 4.7 Tabel Bobot Nilai Sub-Harga

Bobot Nilai Sub-Harga


rata-
deskripsi cashback <5 juta
rata
cashbac
0.25 0.24812
k 0.24906
<5 juta 0.75 0.75188 0.75094
TOTAL 1 1 1
(Sumber : Pengolahan Data)

Tabel 4.8 Tabel Perbandingan Sub Service

Perbandingan Sub Service


service
deskripsi garansi
centre
garansi 1 0.33
service centre 3 1
TOTAL 4 1.33
(Sumber : Pengolahan Data)
Tabel 4.9 Tabel Bobot Nilai Sub-Harga

Bobot Nilai Sub-Harga


service rata-
deskripsi garansi
centre rata
garansi 0.25 0.248120301 0.24906
service centre 0.75 0.751879699 0.75094
TOTAL 1 1 1
(Sumber : Pengolahan Data)

Perbandingan Alternatif

Tabel 4.10 Tabel Perbandingan Alternatif

Perbandingan Alternatif
Deskripsi Toshiba 40" LG 42" SHARP 40"
Toshiba 40" 1 5 5
LG 42" 0.2 1 3
SHARP 40" 0.2 0.33 1
total 1.4 6.33 9
(Sumber : Pengolahan Data)

Tabel 4.10 Tabel Perbandingan Alternatif

bobot nilai
Deskripsi Toshiba 40" LG 42" SHARP 40" rata-rata
Toshiba 40" 0.714285714 3.571428571 3.571428571 2.6190476
LG 42" 0.142857143 0.714285714 2.142857143 1
SHARP 40" 0.142857143 0.235714286 0.714285714 0.3642857
total 3.9833333
(Sumber : Pengolahan Data)
BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Metode pengambilan keputusan untuk pemilihan supplier televisi pada

praktikum ini menggunakan metode Analytycal Hierarchy Process (AHP) dan

point rating.