Anda di halaman 1dari 14

PROGRAM MANAJEMEN RISIKO

INSTALASI LABORATORIUM
KLINIK

KOMITE PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN


PASIEN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH NGANJUK
Jl.Dr.Soetomo No 62 Nganjuk
TAHUN 2016
1. PENDAHULUAN

Pelayanan kesehatan merupakan sektor yang sangat cepat


berkembangnya. Di US terdapat 18 juta pekerja terlibat didalamnya,
dan wanita merupakan 80% darinya. Bahaya (Hazard) dan insiden
yang terlibat dalam aktifitas ini sangat beragam, seperti needlestick
injuries, back injuries, latex allergy, violence, dan stres. Walaupun hal
ini sangat mungkin dicegah, namun kejadian injury maupun infeksi
tetap saja terjadi. Upaya pelayanan kesehatan seperti pemeriksaan
kesehatan selama bekerja belum banyak dilakukan.
Menurut WHO, dari 35 juta petugas kesehatan, ternyata 3 juta
diantaranya terpajan oleh bloodborne pathogen, dengan 2 juta
diantaranya tertular virus hepatitis B, dan 170.000 diantaranya tertular
virus HIV/AIDS. Menurut NIOSH, untuk kasus-kasus yang non-fatal
baik injury maupun penyakit akibat kerja, sarana kesehatan sekarang
semakin meningkat, berbanding terbalik dengan sektor konstruksi dan
agriculture yang dulu paling tinggi, sekarang sudah sangat menurun.
Selain itu Infeksi nosokomial masih menjadi isu cukup signifikan
dikalangan pelayanan kesehatan, sehingga pengembangan program
patient safety sangat relevan untuk dilakukan.Karena itu
pengembangan program keselamatan dan kesehatan kerja di sarana
kesehatan seperti rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya harus
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dalam upaya melindungi baik
tenaga kesehatan sendiri maupun pasien.
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah suatu program
yang dibuat sebagai upaya mencegah timbulnya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi
menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta tindakan
antisipatif apabila terjadi kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Upaya penanganan faktor potensi berbahaya yang ada di rumah
sakit serta metode pengembangan program kesehatan dan
keselamatan kerja perlu dilaksanakan, seperti misalnya :
perlindungan baik terhadap penyakit infeksi maupun non-infeksi,
penanganan limbah medis,
penggunaan alat pelindung diri dan lain sebagainya.
Selain terhadap pekerja di fasilitas medis/klinik maupun rumah
sakit, kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit juga concern
keselamatan dan hak-hak pasien, yang masuk kedalam program
patient safety. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang
Kesehatan, Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja,
khususnya tempat kerja yang : mempunyai risiko bahaya kesehatan,
mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10
orang.
Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa
Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan
berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak
kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di
RS, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Sehingga
sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya
penanganan risiko-risiko di Rumah Sakit.

2. LATAR BELAKANG

Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk merupakan suatu


organisasi yang memberikan layanan kesehatan pada pasien, dalam
hal ini adalah memberikan usaha jasa kesehatan yang akan
berhadapan dengan tantangan yang setara antara pertumbuhan
pendapatan dan pengelolaan risiko, sebab setiap keputusan usaha
yang diambil mengandung elemen risiko didalamnya.
Terdapat risiko yang saling meniadakan satu sama lain, ada juga
yang tidak saling terkait, namun ada yang saling menguatkan. Untuk
dapat mengelola risiko secara efektif, maka kita tidak hanya harus
mengenali risiko-risiko yang mendasar, tetapi juga keterkaitan antar
risiko-risiko tersebut. Pada dasarnya risiko (potensi risiko klinik non
klinik) tidak dapat dihindari dari setiap aktivitas kegiatan
perumahsakitan, oleh karenanya diperlukan suatu manajemen risiko
yang cukup komprehensif untuk mengelolanya karena Rumah Sakit
sebagai corporat dan sebagai pengelola pasien, penuh dengan risiko.
Oleh karena itu Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk
melaksanakan program manajemen risiko di tiap unit dilingkup rumah
sakit melalui tahapan : Identifikasi Daftar Risiko, Penyusunan Prioritas
Risiko, Melakukan Analisis, pengelolaan risiko unit dan evaluasi,
Pengumpulan laporan managemen Risiko unit ke komite PMKP dan
Rapat koordinasi dengan komite PMKP, PPI dan K3 mengenai risiko di
rumah sakit.

3. TUJUAN
A. Tujuan Umum
Meningkatkan keselamatan pasien Rumah Sakit Umum Daerah
Nganjuk melalui pendekatan proaktif dan pengendalian risiko-
risiko yang ada di lingkungan kerja rumah sakit.
B. Tujuan Khusus
1) Instalasi Laboratorium Klinik mampu melakukan identifikasi
risiko unit.
2) Instalasi Laboratroium Klinik mampu melakukan analisis
risiko unit.
3) Instalasi Laboratroium Klinik mampu melakukan evaluasi
risiko unit.
4) Instalasi Laboratorium Klinik mampu melakukan kelola risiko
unit.
5) Instalasi Laboratorium Klinik mampu melakukan pelaporan
pelaksanaan program manajemen risiko unit ke komite
PMKP RSUD Nganjuk.

4. KEGIATAN
Manajemen risiko adalah pendekatan proaktif untuk
mengidentifikasi, menilai (risk assesment) dan menyusun prioritas
risiko, dengan tujuan untuk menghilangkan atau meminimalkan
dampaknya.
Proses identifikasi risiko adalah usaha mengidentifikasi situasi
yang dapat menyebabkan cedera, tuntutan atau kerugian secara
finansial. Identifikasi akan membantu langkah-langkah yang akan
diambil manajemen terhadap risiko tersebut. Identifikasi risiko bisa
diperoleh dari :
a. Laporan Kejadian (KTD, KNC, Kejadian Sentinel, dan lain-lain)
b. Review Rekam Medik (Penyaringan Kejadian untuk memeriksa dan
mencari penyimpangan-penyimpangan pada praktik dan prosedur)
c. Pengaduan (Complaint) pelanggan
d. Survey atau Self Assesment, dan lain-lain

Penilaian risiko (Risk Assesment) merupakan proses untuk


membantu unit di rumah sakit menilai tentang luasnya risiko yang
dihadapi, kemampuan mengontrol frekuensi dan dampak dari risiko.
Semua risiko yang telah diidentifikasi unit-unit rumah sakit akan
dimasukan oleh komite PMKP RS dalam Program Risk Assessment
tahunan, yakni Risk Register:
a. Risiko yang teridentifikasi dalam 1 tahun
b. Informasi Insiden keselamatan Pasien, klaim litigasi dan komplain,
investigasi eksternal dan internal, asesmen eksternal dan
Akreditasi
c. Informasi potensial risiko maupun risiko aktual (menggunakan
RCA&FMEA).
Penilaian risiko dilakukan oleh seluruh unit rumah sakit RSUD
Nganjuk. Aspek yang dinilai meliputi :
1. Operasional/kegiatan unit sehari-hari
2. Finansial
3. Sumber daya manusia
4. Strategik
5. Hukum/Regulasi
6. Teknologi
Setelah tahap penilaian risiko, maka tahap berikutnya adalah
menyusun prioritas risiko dengan menggunakan alat bantu risk
matrix grading. Dilakukan pendekatan dengan menentukan prioritas
risiko pada proses-proses risiko tinggi, mengutamakan keselamatan
pasien dan staf untuk kemudian secara proaktif melakukan analisis
risiko dengan FMEA (Failure Mode and Effect Analysis).
Dengan mengikuti analisa dan hasil yang didapatkan rumah sakit
menentukan rancang ulang proses atau tindakan yang sama untuk
mengurangi risiko dalam proses tersebut.
Keseluruhan tahapan manajemen risiko ini dilaksanakan paling
sedikit satu kali dalam satu tahun disertai dengan pendokumentasian
kegiatan yang baik.

5. CARA PELAKSANAAN KEGIATAN


1. Identifikasi Daftar Risiko
2. Penyusunan Prioritas Risiko
3. Melakukan Analisis, pengelolaan risiko unit dan evaluasi
4. Pengumpulan laporan managemen Risiko unit ke komite PMKP
5. Rapat koordinasi dengan komite PMKP, PPI dan K3 mengenai
risiko di rumah sakit

6. SASARAN DAN TARGET

Sasaran kegiatan program managemen risiko meliputi : seluruh


unit di lingkup RSUD Nganjuk tahun 2016. Tercapainya >80%
program managemen risiko dalam tiap waktu 1 tahun.
7. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Tahun 2016 Penanggung


No Kegiatan Bulan jawab
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Identifikasi Daftar Risiko unit dan koordinasi dengan komite
1 Ka.Unit
PMKP, PPI dan K3 rumah sakit
Penyusunan Prioritas Risiko unit koordinasi dengan komite Ka.Unit.
2
PMKP, PPI dan K3 rumah sakit
Melakukan Analisis, pengelolaan risiko unit dan evaluasi unit Unit.
3
koordinasi dengan komite PMKP, PPI dan K3 rumah sakit
Pengumpulan laporan managemen Risiko unit ke komite PMKP Unit
4
8. EVALUASI

Evaluasi program dilaksanakan pada tiap akhir tahun dan rapat koordinasi
tiap tribulan dengan komite PMKP rumah sakit

9. PENCATATAN DAN PELAPORAN


Hasil program dicatat dan hasilnya dilaporkan kepada komite PMKP
RSUD Nganjuk setiap akhir tahun.

Nganjuk, 2 Januari 2016


Kepala Bidang Pelayanan
RSUD Nganjuk Kepala Instalasi/Ruang

______________________
LAMPIRAN 1. RISK REGISTER RUANG ....... TAHUN ...... (CONTOH....)

IDENTIFIKASI RISIKO ANALISIS RISIKO EVALUASI RISIKO KELOLA RISIKO

RANGKING TRISIKO
PEL

SKOR RISIKO
AK
PENGONT
PENGENDALIAN P SA
ROLAN RENCANA TINDAK
DAMPAK FREKUENSI (SKOR X YANG TELAH I NA
LANJUT
RISIKO) DILAKUKAN C AN
NO
ME
R KATEGORI
DAMPAK PENYEBAB
RISIKO

SANGAT JARANG
SANGAT RINGAN

SANGAT SERING

AGAK MUDAH
SULIT
SGT BERAT

KADANG
SEDANG

JARANG
RINGAN

MUDAH
SERING
BERAT

SULIT
AGAK
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4
1 Komplain keluarga Penurunan citra RS prosedur perawatan 2 5 10 30 1 1. Menjelaskan 1. Usulan kepada IPS RS KAR
pasien tentang Kepercayaan kepada pasien agar jadwal U JAN
fasilitas RS yang
pemeliharaan sarana Band tentang prosedur pemeliharaan UAR
masyarakat turun ke kurang optimal I
yang kurang kurang nya edukasi ke hijau komplain yang alat/fasilitas dibagikan
RS 2016
benar kepada unit masing-
Tuntutan hukum ke pasien dan keluarga
masing agar permudah
tentang fasilitas yang 2. Melaporkan
RS atau petugas evaluasi
ada di ruangan kerusakan
alat/fasilitas 2. Usulan kepada
kepada unit IPS HUMAS RS agar
RS sesuai membuat publikasi
prosedur yang melalui banner,
benar pamflet dan
sebagainya tentang
alur komplain di RS

2 Komplain dari Penurunan citra RS kurang nya edukasi ke 2 4 8 24 2 1. Menjelaskan 1. Melaporkan kejadian
pasien dan keluarga Kepercayaan pasien dan keluarga Band kepada pasien kepada bidang
tentang dokter yang tentang kebijakan hijau tentang prosedur pelayanan medis dan
masyarakat turun ke
tidak visite visite pasien oleh komplain yang keperawatan
RS
dokter benar 2. Usulan kepada
Tuntutan hukum ke
2. Menjelaskan HUMAS RS agar
RS atau petugas
kepada pasien membuat publikasi KAR
FEB
tentang SPO visite melalui banner, RUA
U
dokter pamflet dan RI
2016
3. Melakukan sebagainya tentang
konfirmasi kepada alur komplain di RS
dokter yang
bertugas sesuai
alur yang berlaku

3 Tertusuk jarum infeksi silang petugas tidak 2 2 4 16 3 1. Melakukan 1. Usulan kepada komite KAR
penanganan PMKP dan bidang U MA
petugas dari pasien mematuhi SPO
Band pertama pasca pelayanan medis dan RET
pembuangan benda 2016
tajam biru pajanan sesuai keperawatan
SPO tatalaksana penggantian jarum
pasca pajanan infus lama menjadi
2. Menjelaskan ulang jarum infus yang
kepada petugas safety, sehingga tidak
tentang spo berisiko menusuk
pembuangan petugas setelah
BENDA TAJAM digunakan.
3. Melaporkan 2. Sosialisasi ulang
kepada komite dengan intensif
K3RS/PPI RS
agar dilakukan tentang SPO
tindaklanjut tatalaksana sampah
pemeriksaan pasca tajam, sampah
pajanan benda rumahsakit
tajam

4 Kepatuhan Peningkatan infeksi Kurangnya 2 5 10 20 4 1. Edukasi ke petugas Melakukan edukasi


cucitangan 6 nosokomial (hais) pemahaman petugas band tentang cucitangan kepada petugas tiap
langkah dan 5 Lama rawat inap tentang pentingnya Hijau tiap rapat ruangan operan jaga dengan
moment petugas cucitangan sesuai 2. Penyediaan sarana menyebutkan 5 momen
(MRS) pasien
memanjang standar prasarana cucitangan dan praktek
Rendahnya cucitangan secara 6 langkah cucitangan
Cost perawatan
kepatuhan petugas lengkap dan Melakukan audit
meningkat KAR APR
berkelanjutan,
Penurunan citra RS dalam melakukan meliputi cairan
kepatuhan oleh kepala
U IL
cuci tangan ruang atau wakil 2016
handrub, cairan kepala ruang
hand wash, tisu
cuci tangan,
gambar cuci
tangan.