Anda di halaman 1dari 49

BAB.

VI
METODA PENDIDIKAN ISLAM
Pendahuluan
Dalam al-Quran dan Sunnah Nabi saw. dapat ditemukan berbagai metoda
pendidikan yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan membangkitkan
semangat. Metoda tersebut mampu menggugah puluhan ribu kaum Muminin
untuk membuka hati umat manusia agar dapat menerima petunjuk Ilahi dan
kebudaya-an Islami, di samping mengokohkan kedudukan mereka di muka bumi
dalam masa yang sangat panjang, suatu kedudukan yang belum pernah dirasakan
oleh umat-umat lain di muka bumi. Pembahasan tentang metodologi pendidikan
Islami ini mengandung harapan, kiranya penulis dapat memetik petunjuk
mengenai metodologi pendidikan Islami tersebut.
Di antara metoda-metoda itu, yang paling penting dan paling menonjol ialah:
1; Metoda hiwar (percakapan) Qurani dan Nabawi.
2; Mendidik dengan kisah-kisah Qurani dan Nabawi.
3; Mendidik dengan amtsal (perumpamaan) Qurani dan Nabawi.
4; Mendidik dengan memberi teladan.
5; Mendidik dengan pembiasaan diri dan pengamalan.
6; Mendidik dengan mengambil 'ibrah (pelajaran) dan mati 'idhah
(peringatan).
7; Mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut).
Dalam bahasan berikut penyusun akan menguraikan bagaimana Islam
mendidik perasaan ketuhanan dan akal insani agar dapat berpikir logis dan sehat,
serta memiliki tingkah laku manusiawi rabbani yang lurus, sehingga dengan
demikian masyarakat dan dunia pada umumnya akan merasa bahagia dengan
adanya cahaya kebudayaan Islami itu. Yang dimaksud ialah pola pendidikan yang
digunakan umat Islam dalam membimbing umat-umat lain di muka bumi menuju
cahaya ilmu, keluhuran akhlak, pembebasan akal dari segala khurafat dan angan-
angan, dan pembebasan insan dari kedhaliman sehingga dapat mencicipi nikmat
keadilan Islam.
A; Pendidikan Dengan Hiwar Qurani dan Nabawi
Makna, Dampak Edukatif dan Macam-macam Hiwar
Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih
melalui tanya jawab mengenai suatu topik mengarah kepada suatu tujuan.
Demikianlah kedua pihak saling bertukar pendapat tentang suatu perkara tertentu.
Kadangkala keduanya sampai kepada suatu kesimpulan, atau mungkin pula salah
satu pihak tidak merasa puas dengan pembicaraan yang lain. Namun demikian ia
masih dapat mengambil pelajaran dan menentukan sikap bagi dirinya. Hiwar
mempunyai dampak yang sangat dalam terhadap jiwa pendengar atau pembaca
yang mengikuti topik percakapan secara seksama dan penuh perhatian. Hal ini
disebabkan oleh beberapa hal:
Pertama, permasalahannya disajikan secara dinamis, karena kedua pihak
langsung terlibat dalam pembicaraannya secara timbal balik, sehingga tidak
membosankan. Malahan dialog seperti itu mendorong kedua pihak untuk saling
memperhatikan dan terus mengikuti pola pikirnya, sehingga dapat menyingkap
sesuatu yang baru, mungkin pula salah satu pihak berhasil meyakinkan rekannya
dengan pandangan yang dikemukakannya itu.
Kedua, pembaca atau pendengar tertarik untuk terus mengikuti jalannya
percakapan itu dengan maksud dapat mengetahui kesimpulannya. Hal ini juga
dapat menghindarkan kebosanan dan memperbarui semangat.
Ketiga, hiwar itu mungkin membangkitkan berbagai perasaan dan kesan
seseorang, yang mungkin melahirkan dampak pedagogis yang membantu tumbuh
kukuhnya ide tersebut dalam jiwa pemirsa serta membantu mengarahkannya pada
tujuan akhir pendidikan.
Keempat, topik yang bersangkutan disajikan secara realistis dan manusiawi
Penyajian yang dibina dan dipelihara oleh golongan Mu "min, yang berdampak
terhadap tingkah laku dan kehidupan mereka telah dibahas di muka. Ini berarti
bahwa hiwar ini memiliki nilai operasional yang menggugah perilaku yang baik,
yang pada dasarnya merupakan salah satu tujuan pendidikan yang pokok.
Di dalam al-Quran dan sunnah terdapat berbagai jenis metoda dan bentuk
hiwar. Yang terpenting, sebagaimana pengkajiannya telah dimudahkan oleh Allah
bagi penyusun, ialah:
a; Hiwar khithabi atau taabbudi (percakapan pengabdian).
b; Hiwar washfi (percakapan deskriptif).
c; Hiwar qishashi (percakapan berkisah).
d; Hiwar jadali (percakapan dialektis).
e; Hiwar Nabawi.
Dalam setiap hiwar, penyusun akan menerangkan beberapa aspek
instruksional dan implementasinya dalam pendidikan, agar pendidik dapat
memetik faidah dari setiap hiwar dalam rangka membantu anak mengembangkan
perasaan, akal (intelektual) dan tingkah laku religius. Metoda hiwar ini kiranya
dapat juga digunakan sebagai suatu metoda pengajaran di luar pelajaran al-Quran,
karena hiwar merupakan metoda yang rasional, yang mendidik pikiran untuk
menyaring berbagai pokok permasalahan, seperti akan kita lihat kemudian.

1; Hiwar Khithabi Atau Taabbudi


Allah telah menurunkan aI-Quran untuk menjadi hidayah bagi umat manusia
dan kabar gembira bagi orang-orang yang bertaqwa. Dalam puluhan tempat dalam
Kitab-Nya, Allah berdialog dengan hamba-hamba-Nya yang Mumin dengan
menggunakan nida'ut ta'rif bil Iman, yaitu: Ya ayyuhalladzina amanu. Setiap
kali orang Mumin membacanya, maka tergugahlah qalbunya untuk menjawab:
Kusambut panggilan-Mu, ya Rabbi. Oleh karena itu, penulis memandang
metoda ini sebagai suatu percakapan. Tetapi kadang-kadang terjadi hal sebaliknya,
yaitu sebagaimana terdapat dalam beberapa ayat al-Quran jika orang Muminlah
yang berbicara kepada Rabb-nya dalam keadaan berdoa. Dalil- dalil atas hal itu
sangat jelas. Yang paling terkenal adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim melalui Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. Abu Hurairah berkata:
......Aku mendengar Nabi saw. bersabda: 'Allah Taala berfirman: Aku
membagi shalat kepada dua bagian, untuk-Ku dan untuk hamba-Ku, dan
untuk hamba-Ku adalah apa yang dia minta . Apabila seorang hamba
mengucapkan: Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, maka Allah
Taala berfirman: 'Hamba-Ku telah memuji- Ku.' Apabila mengucapkan:
Yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang,' maka Allah Ta'ala
berfirman, Hamba- Ku telah bermadah kepada-Ku. Apabila
mengucapkan: 'Yang Menguasai hari pembalasan, maka berfirman:
Hamba-Ku telah mengagungkan Aku, dan suatu ketika berfirman:
Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku. Apabila mengucapkan:
Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan bertanya kepada-Mu kami
memohon pertolongan,*maka berfirman: Ini untuk-Ku dan untuk hamba-
Ku, dan untuk hamba-Ku adalah apa yang dia minta.Dan apabila meng-
ucapkan: 'Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat dan bukan jalan orang-orang yang Engkau
murkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat, maka berfirman, Ini
untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku adalah apa yang dia minta. (H.R.
Muslim)
Dalil lainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Baihaqi
dengan sanad yang shahih) :
Apabila Rasulullah saw. membaca: "Bukankah (Allah yang berbuat)
demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? maka beliau
mengucapkan: "Maha Suci Engkau, ya memang benar." Dan apabila
membaca: 'Sucikanlah nama Rabb-mu Yang Paling Tinggi," maka beliau
mengucapkan, "Maha Suci Rabbi Yang Maha Tinggi".
Kedua Hadits ini merupakan dalil-dalil atas hiwar taabbudi. Yang pertama,
dalil atas jawaban Rabb bagi hamba-Nya, Rasulullah saw. dan para shahabatnya
dengan penyambutan seperti ini ketika dibacakan surat Ar-Rahman kepada
mereka. Yang kedua, dalil atas penyambutan hamba terhadap seruan Rabb-nya,
atau permohonannya sewaktu membaca al-Quran. Bahkan, sebagaimana
diriwayatkan oleh Hakim dari Jabir, hal ini pernah beliau anjurkan. Jabir berkata:
Rasulullah saw. membacakan surat Ar-Rahman kepada kami, hingga
beliau menamatkannya, kemudian bersabda: "Mengapa aku melihat
kalian diam saja?" Sesungguhnya bangsa jin lebih baik jawabannya
daripada kalian. Aku tidak membacakan kepada mereka ayat ini (fabiayyi
ala-i rabbikuma tukadzdzibani), kecuali mereka mengucapkan, Wahai
Rabb kami, tidak ada sesuatu pun di antara nikmat-nikmat-Mu yang kami
dustakan, maka sesungguhnya Segala puji bagi-Mu" (Tafsir jalalain: surat
ar-Rah- man, 17). (al-Hadits)
Rasulullah saw. adalah teladan kita dalam merespons terhadap makna-makna al-
Quran ketika melaksanakan shalat. Hudzaifah bin al-Yaman berkata:
Pada suatu malam, aku shalat bersama Rasulullah ww. Dimulainya bacaan
surat dengan surat al-Baqarah. Aku sangka beliau akan ruku setelah
selesai seratus ayat, ter- nyata beliau meneruskannya dan aku sangka
bahwa beliau akan skoiat dengan membaca surat al-Baqarah dalam dua
ruha'at ternyata beliau melanjutkannya. Kemudian sangka- km beliau akan
ruku' setelah selesai membaca surat al- Baqarak, ternyata
menyambungnya dengan surat an-Nisa, setelah selesai membacanya (an-
Nisa) beliau menyambungnya dengan surat Ali fmran, seluruhnya beliau
baca dengan perlahan-lahan. Apabila ditemuinya ayat yang mengandung
tasbih (menyuruh bertasbih) beliau bertasbih, atau ayat yang mengandung
permohonan (menyuruh bermohon maka beliau bermohon atau ayat yang
mengandung perlindungan (menyuruh minta berlindung) beliau berlin-
dung.) (al-Hadits)
Tasbih, taawwudz dan permohonan Rasulullah saw. adalah suatu munajat
kepada Aliah Taala sewaktu membaca al-Quran. Hal ini jeks sekali merupakan
suatu hiwar (percakapan).
a; Berbagai Dampak Edukatif
Melalui hiwar ta'abbudi atau khithabi, al-Quran banyak menanamkan
perkara-perkara penting ke dalam jiwa anak-anak. Oleh sebab itu, para guru,
pendidik dan pembaca al-Quran hendaknya memperhatikan perkara-perkara itu,
serta menelaah sejauh mana dampaknya terhadap anak-anak dan sejauh mana
mereka telah mengamalkan tuntutannya. Di antara perkara-perkara itu ialah:
a; Tanggap terhadap persoalan yang diajukan dalam al-Quran, merenungkan
maknanya dan memberikan jawaban terhadap soal- soal yang mungkin
dijawab atau menghadirkan jawabannya di dalam qalbu.
b; Menghayati makna-makna al-Quran. Penghayatan yang sangat dalam telah
dirasakan oleh Rasulullah saw. ketika dibacakan kepada beliau firman
Allah Taala berikut ini:
"Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami
mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami
mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu
(umatmu). (QS. 4 an-Nisa: 41)
Ketika itu, kepada shahabat yang membacakannya beliau mengatakan Cukup.
Ahmad dan Bukhari di dalam Shahih-nya meriwayatkan yang ia terima melalui
Ibnu Masud:
Rasulullah saw. bersabda kepadaku: "Bacakanlah kepadaku. Aku
bertanya: Wahai Rasulullah apakah aku harus membacakan al-Quran
kepada tuan, sedangkan ia diturunkan kepada tuan? Beliau menjawab:
'Memang, tetapi aku suka jika mendengarnya dari orang lain. Maka aku
pun membacakan surat An-Nisa. Hingga ketika aku sampai kepada ayat
ini : fakaifa idza ji'na . . . maka beliau mengatakan: cukuplah bagimu
sekarang. Tiba-tiba air mata telah berlinang di kedua mata beliau).
(al-Hadits)
c; Mengarahkan tingkah laku dan mengamalkan tuntunan al-Quran. Hal ini
merupakan dampak yang wajar dari penghayatan dan kulminasi pemikiran
yang lahir dari gaya bahasa hiwar. Orang yang tanggap terhadap
pertanyaan Rabb-nya, keterangan-Nya tentang azab dan surga, janji-Nya,
atau ancaman-Nya, sudah barang tentu akan memberikan respon dengan
tingkah lakunya.
d; Menanamkan kepada anak dan orang Muslim yang membaca al-Quran
suatu rasa kemuliaan beriman serta kemuliaan mendapat tempat di sisi
Allah, tatkala Allah memanggil mereka dengan ungkapan "Wahai orang-
orang yang beriman.

b; Bentuk-bentuk Hiwar Khithabi


Khitab yang diundangkan Allah Taala mempunyai berbagai bentuk.
Demikian pula pertanyaan-pertanyaan Qurani yang bersifat umum yang
diundangkan Allah bagi makhluk-Nya, atau bagi seluruh kaum Muminin,
ataupun bagi seluruh manusia, mempunyai banyak maksud. Akan tetapi kadang-
kadang khithab itu diarahkan kepada Rasulullah saw. dengan maksud supaya
menjadi tasyri bagi seluruh kaum Muminin. Bentuk yang paling penting dari
hiwar khithabi ini adalah sebagai berikut:
a; Khithab yang diarahkan kepada orang-orang yang beriman, atau yang
dikeluarkan dengan nida-ut ta Yif bil iman. Dalam khithab ini, al-munada
(yang diseru) sudah muarraf (diketahui), yaitu ism maushul yang shilah
(rujukan)-nya adalah jumlah amanu". Ta'rif di sini dimaksudkan sebagai
isyarat bagi para mukhathab (rekan bicara) supaya:
i; merasa diri mulia dengan keberimanan mereka, karena Allah
meninggikan kedudukan mereka, mengkhususkan sifat yang agung ini
bagi mereka, dan menyeru mereka dengan sifat ini, sehingga seakan-akan
menjadi tanda kehormatan bagi mereka.
ii; memperhatikan dan berpegang teguh kepada keimanan ini, karena ia
adalah sifat khas mereka di hadapan manusia dan kemanusiaan, serta
tidak patut bagi mereka untuk menanggalkan keimanan itu.
iii; merasa bertanggung jawab untuk menjalankan kewajiban yang
didasarkan atas iman. Sebab selama mereka telah menetapkan diri untuk
beriman kepada Allah, maka selama itu pula mereka telah menetapkan
diri untuk mengamalkan segala apa yang diperintahkan Allah kepada
mereka.
Kewajiban untuk menjalankan perintah Ilahi biasanya diungkapkan di dalam al-
Quran dengan salah satu di antara cara-cara berikut ini:
i; Dengan menerangkan hukum-hukum Allah untuk diamalkan, seperti
hukum khamar, sifat wudlu dan tayammum. Seluruh kewajiban ini
dikeluarkan dengan suatu nida (seruan) di mana ai-munada di-
marifatkan dengan sifat iman.
ii; Dengan melarang perkara-perkara yang dilarang oleh syara, seperti
khamar, judi, membunuh binatang buruan di tanah haram, dan
'adhlunnita (suami melarang jandanya untuk kawin dengan laki-laki
lain). Larangan-larangan ini telah diungkapkan dengan khithab imani,
dengan maksud menanamkan perasaan pentingnya untuk menjauhi
hal-hal yang diharamkan.
iii; Dengan menganjurkan supaya mengerjakan perkara- perkara agung
yang hanya dapat dikerjakan oleh kaum Muminin, seperti bersabar,
berjihad, bertaqwa dan bertobat kepada Allah:
. . . Dan bertobatlah kalian semua, hai orang-orang yang
beriman ... (QS. 24 an-Nur: 31)
b; Hiwar Khitabi tadzkiri (mengingatkan)
Hiwar ini berfungsi untuk mengingatkan akan nikmat Allah, atau
mengingatkan sebagian golongan akan dosa nenek moyang mereka dan
berbagai khufarat yang masih mereka lakukan. Sebagai contoh pengingatan
terhadap bani israil :
Tanyakanlah kepada Bani Israil, Berapa banyaknya tanda-
tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada
mereka. . . (Q.S. 2 al-Baqarah: 211)
"Hai Bani Israil, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kalian
dari musuh kalian, dan Kami telah mengadakan perjanjian dengan
kaitan (untuk munajat) di sebelah gunung Thur.. ..
(QS.20 Thaha: 80)
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-
anugerahkan kepada kalian dan Aku telah melebihkan kalian atas
segala umat. (Q.S. 2 al-Baqarah: 122)
Sebagian besar ayat yang berfungsi untuk mengingatkan akan hal- hal tersebut
terdapat di dalam surat al-Baqarah. Adapun pengingatan akan nikmat iman adalah
seperti firman Allah Taala:
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah
dengan sebenar-benar taqwa; dan janganlah sekali-kali kalian
mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan
berpeganglah kalian semua kepada tali (Agama) Allah, dan
janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah
kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-
musuhan, maka Allah menjinakan hati kalian, lalu metyadilah
kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. . .
(Q.S. 3 ali-Imran: 102-103)
Dan firman-Nya :
"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia
melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang
bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu
sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan
kecukupan? (QS. 93 ad-Dluha: 6-8)
Hiwar ini mempunyai dampak psikologis yang sangat dalam. Ia
menanamkan ke dalam jiwa rasa tahu membalas budi dan syukur kepada Allah, di
samping rasa tunduk taat untuk menjalankan segala perintah Allah Taala. Yang
dimaksud dengan pendidikan afektif itu ialah mengundang ulang suatu kesan ke
arah sasaran tertentu. Misalnya setiap kali manusia membaca beberapa ayat ini di
dalam sejumlah shalat disertai hati yang khusyu, maka akan muncul padanya
suatu kesiapan untuk bersikap khusyudan sungguh pula setiap kali ingat akan
kandungan ayat tersebut. Adapun kesiapan itu adalah perasaan yang hadir pada
seseorang untuk merealisasikan apa yang diinginkannya. Perasaan yang berupa
kesiapan itu merupakan suatu penggugah bagi pemiliknya untuk bersungguh-
sungguh dan berupaya dan bertingkah laku lurus, selaras dengan sasaran kesiapan
tersebut. Ingat akan nikmat Allah Yang Maha Kaya akan mendorong untuk
berderma dan bermurah hati di jalan Allah, sedangkan ingat akan nikmat
mendapatkan perlindungan akan menggugah untuk mengasihi dan memelihara
anak-anak yatim, dan seterusnya.
Ayat-ayat al-Quran dengan Uslub istifhami (gaya bahasa bertanya)
mengisyaratkan akan adanya undangan atau bahkan motivasi untuk memberikan
respon terhadapnya berupa perilaku yang tersirat dalam pertanyaan tersebut. Oleh
sebab itu, setiap kali ada pertanyaan yang mengingatkan akan salah satu nikmat
Allah, pasti ada jawabannya, baik tersembunyi maupun tertulis jelas, sebagaimana
diungkapkan di dalam surat ad-Dluha:
"Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku
sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta- minta, maka
janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabb-mu,
maka hendaklah kamu menyebut- nyebutnya (dengan bersyukur).
(Q.S. 93 ad-Dluha: 9-11)
c; Hiwar Khitabi tanbihi atau idhahi (memperingatkan atau menjelaskan):
Gambaran paling jelas tentang hiwar ini ialah pertanyaan Allah swt. Dan
jawabannya yang bertujuan mengarahkan perhatian kepada suatu perkara penting
disertai dengan penjelasan mengenai hal tersebut, seperti firman-Nya :
Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita
yang besar, yang mereka perselisihan tentang ini. (Q.S. 78 an-Naba : 1-3)
"Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah
hari kiamat itu? Kaum Tsamud dan 'Ad telah mendustakan hari kiamat.
(Q.S. 69 al-Haqqah: 14)
Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pem-balasan?
Banyak muka pada hari itu tunduk terhina. (Q.S. 88 al-Ghasyiah: 1-2)
Rasulullah saw. telah menggunakan uslub al-Quran dalam bentuk hiwar semacam
ini. Abu Hurairah meriwayatkan:
Tahukah kalian, apakah mengumpat itu? Para shahabat
menjawab: Allah dan Rasul-Nya-lah yang lebih tahu!' Beliau bersabda:
Pembicaraanmu tentang saudaramumengenai apa yang tidak dia sukai,
(itulah mengumpat). Beliau ditanya: "Bagaimana pendapat tuan, jika pada
saudara saya itu (memang) ada apa yang saya katakan tersebut?" Jawab
beliau: 'Jika ada padanya apa yang engkau katakan itu (hal tersebut),
maka sesungguhnya engkau telah mengumpatnya, dan jika tidak ada
padanya, maka sesungguhnya engkau telah berbuat dusta atasnya. (H.R.
Muslim)
Metoda ini sangat mengena, melebihi metoda tanya jawab di sekolah-
sekolah modern. Metoda tanya-jawab yang biasa digunakan di sekolah hanya
terbatas pada soal-soal ilmu pengetahuan biasa yang kering. Sedangkan hiwar
Qurani atau Nabawi langsung menembus ke dalam akal dan pikiran para
pendengarnya dengan membawa perspektif baru yang menggugah rasa ingin tahu,
kemudian menerangkannya bagi mereka dan mengarahkan mereka untuk
mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk. Tujuannya bersifat
wijdaniyah sulukiyah. Dikatakan wijdaniyoh, karena ia membangkitkan para
pendengar atau rekan bicaranya, untuk bersikap membenci keburukan dan
mencintai kebaikan, di samping menggugah keinginan untuk melaksanakan
tingkah laku yang baik dan menjauhi tingkah laku yang buruk.
Hiwar tanbihi ini mempunyai banyak tujuan, antara lain ialah:
Pertama, memperingatkan kepada perkara yang agung, seperti kebangkitan
di hari kiamat.
Kedua, memperingatkan kepada suatu undang-undang umum atas su n nah
Iiahryah bagi manusia, seperti firman Allah Taala:
Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan
(dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan
kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal
darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan
yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kalian dan Kami
tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentukan, kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian
(dengan berangsur-angsur) kalian sampailah kepada kedewasaan (Q.S.al-
Hajj:5)
d; Hiwar khithabi 'athifi (emosional), yaitu khithab atau pertanyaan yang
bersandar kepada pembangkitan berbagai emosi insani atau perasaan wijdani
yang pengaruhnya sangat dalam terhadap seseorang dalam bentuk berperilaku
baik dan beramal shaleh. Sebagai contoh, rasa cemas, harap, senang dan
takut.
1; Rasa khusyu kepada Allah dan sadar akan keagungan-Nya, seperti firman-
Nya :
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali
tidak melihat pada ciptaan tuhan yang maha pemurah sesuatu yang tidak
seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu lihat sesuatu yang
tidak seimbang?.
Di sini terdapat penggugah kepada manusia untuk merenungkan keagungan
penciptaan Allah akan langit dan bintang-gemintang. Allah Taala telah
mengungkapkan berbagai dampak psikologis perenungan ini dengan firman-Nya:
Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan
kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan
penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. (Q.S. 67 Al-Mulk: 4)
Di sini, perasaan akan keagungan Allah tampak sangat mencuat menghebat
mengkontras dengan rasa rendah dan lemah manusia yang selanjutnya menggugah
rasa tunduk taat insan dengan khidmat dan khusyu kepada Allah Maha Besar.
2; Perasaan menyesal ketika menghadapi cemoohan dan celaan. Seperti
firman Allah:
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan
kepada kaitan: Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah' kalian
merasa berat dan ingin tinggal di tempat kalian? Apakah kalian puas
dengan kehidupan di dunia sebagai pengganti kehidupan di akhirat?
padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan)
di akhirat hanyalah sedikit.
Serta Firman-Nya lagi :
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengata-kan apa-apa
yang tidak kalian perbuat? Amat besar ke-bencian di sisi Allah bahwa
kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.
3; Perasaan takut akan azab dan kedahsyatan hari kiamat. Ini tampak dengan
jelas dalam firman Allah Taala :
Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami
mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami
mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu
(umatmu). (Q.S. 4 an-Nisa: 41)
Kemudian Allah menerangkan beberapa dampak psikologis dari keadaan itu,
dengan firman-Nya:
Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai
Rasul ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak
dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun. (Q.S. 4 an-
Nisa: 42)
4; Perangsangan rasa syukur kepada Allah dan kesadaran akan keutamaan
serta anugerah-Nya, bertebaran di dalam banyak ayat, seperti firman Allah
Taala:
Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kalian minum.
Kaliankah yang menurunkannya dari awan atau-kah Kami yang
menurunkannya? (Q.S. 56 al-Waqiah: 68-69)
Serta Firman-Nya lagi :
Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kalian nyalakan
(dari go&okan-gosokan kayu). Kaliankah yang menjadikan kayu itu atau
Kami-kah yang menjadikannya? (Q.S 56 al-Waqiah: 71-72)
Berbagai pertanyaan yang menggelitik menembus hati itu tersingkap dalil
yang tegas atas kelemahan manusia dan keagungan serta kekuasaan Allah. Betapa
manusia tak mampu membuat air yang kita minum itu menjadikan manis, kala air
itu memang asin.
Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin. Maka
mengapakah kalian tidak bersyukur?. (Q.S. 56 al-Waqiah: 70)
Kita tidak berkuasa untuk menyiram tanaman yang kita tanam, jika hujan tidak
turun dan sumur serta sungai kering-kerontang. Kita tidak pula berkuasa
menyegarkannya manakala angin panas menghembus-menyapunya, sehingga ia
menjadi tanaman yang kering dan patah-patah:
Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kalian tanam?
Kaliankah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?
Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur,
maka jadilah kalian heran tercengang (sambil berkata.Sesungguhnya kami
benar-benar menderita kerugian. Bahkan kami menjadi orang yang tidak
mendapat hasil apa-apa. (Q.S.56 al-Waqiah: 63-67)
Jika pembaca merenungkan semua itu, bagaimana hati tak akan khusyu
tunduk kepada keutamaan Allah, bagaimana lisannya tak akan bergerak
memanjatkan puji syukur kepada-Nya!!
Pendidikan perasaan ketuhanan:
Dari kekayaan pengalaman hidup dan berbagai hasil penelitian psikologis,
dapat disingkap betapa pendidikan afektif itu memerlukan persyaratan tertentu:
i; Hendaknya kesan-kesan wijdani (instinktif) digugah dalam berbagai
kondisi kehidupan individual atau sosial yang relevan dan diikuti oleh
sambutan berupa perilaku relevan pula.
ii; Kesan wijdani ini hendaknya sering diulang, dengan diiringi
realisasinya berupa perilaku yang serasi seperti shalat, menangis
karena takut kepada Allah, membaca al-Quran dan berdoa, serta
menikmati makna-makna dan uslub-uslub aI-Quran.
iii; Hendaknya pengulangan ini melahirkan suatu kesiapan wijdani yang
menggugah pribadi yang bersangkutan untuk siap merealisasikannya
setiap kali tersentuh nuraninya, atau bahkan setiap terkilas isyarat yang
pertama kali menggugah kesan wijdani tadi. Hal seperti itu dapat kita
saksikan pada kesiapan orang Mu'roin untuk dengan penuh semangat
menegakkan aqidah, melaksanakan segala perintah Allah, tegar dan
beringas semata- mata karena Allah dan berdakwah kepada Agama-
Nya.
Bangkitkankh suatu niat kuat dan efektif untuk dituangkan ke dalam perilaku
yang relevan dengan tujuan yang tersirat dalam jiwa. Niat tersebut merupakan
kekuatan pendorong (motivator), yang mendorong pribadi yang bersangkutan
kepada tingkah laku tersebut. Maka muncullah perasaan khusyu yang mendorong
orang Mu'min untuk menaati Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya.
Demikian muncul pula rasa syukur atas nikmat Allah, yang mendorongnya untuk
bersedekah atau menggunakan harta, kehormatan dan penglihatan dengan cara
yang baik dalam rangka menaati Allah dan menjalankan syariat-Nya.
e; Hiwar 'athifi tardidi (pengulangan): yaitu hiwar di mana pertanyaan tertentu
selalu terulang dan mengundang lahirnya perasaan-perasaan serupa.
Pertanyaan itu terulang berkali-kali, dan antara satu pertanyaan dengan
pertanyaan yang lain terdapat ayat-ayat pemisah yang menggugah. Setiap kali
pertanyaan itu terulang, ia mengandung makna yang sesuai dengan ayat-ayat
sebelumnya, di samping maknanya yang asli. Sebagai contoh, kita temukan
pengulangan berkali-kali firman Allah Taala di dalam surat ar-Rahman:
Maka nikmat Rabb kalian manakah yang kalian dustakan?. (Q.S. 55
ar-Rahman: 13)
Dan Firman-Nya dalam surat al-Qamar:
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk
pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Q.S. 54 al-
Qamar: 17)
Dan Firman-Nya :
....maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-
Ku. (Q.S. 54 al-Qamar: 18)
Pengulangan ini membantu tumbuhnya perasaan ketuhanan, pengukuhan dan
penertibannya di dalam jiwa, serta perkembangannya untuk memberikan
sambutan (respon) terhadap berbagai kondisi sekras dengan situasi yang tersirat
dalam ayat-ayat yang tersurat sebelum pertanyaan yang diajukan secara berulang-
ulang. Ayat di bawah ini:
Maka nikmat Rabb kalian manakah yang kalian dustakan?.
(Q.SS 55 ar-Rahman: 13)
Diajukan setelah sebelumnya disebutkan betapa banyak nikmat Aliah
dalam penciptaan dan pengajaran manusia dan diingatkan pula betapa Allah telah
menundukkan baginya matahari, bulan, bintang, langit, timbangan, bumi dan
tumbuh-tumbuhan. Pertanyaan yang diajukan berulang-ulang itu niscaya akan
menggugah syukur kepada Allah. Kemudian pertanyaan itu diulang lagi setelah
mengutarakan kekuasaan Allah atas manusia:
Kepada kalian (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan
tembaga. Maka kalian tidak dapat menyelamatkan diri (darinya). Maka
nikmat Rabb kalian manakah yang kalian dustakan?" (Q.S. 55 ar-Rahman:
35-36)
Maka akan bangkitlah perasaan takut kepada Allah dan mendidik rasa khusyu
kepada-Nya.
Semua itu dikaitkan dengan pendidikan ubudiyah kepada Allah, yang merupakan
tujuan akhir dan tertinggi dari ayat yang mulia ini. Pembenaran terhadap nikmat-
nikmat Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya dan wahdaniyah-Nya akan
menghasilkan buah yang agung di dalam qalbu Mumin, yaitu ikhlas, tunduk,
beribadah dan takluk kepada Allah semata. Inilah salah satu buah terpenting dari
perasaan ketuhanan, yaitu perasaan yang diupayakan untuk tumbuh dan
terealisasi melalui pendidikan Islam. Dengan demikian seluruh perasaan yang
tumbuh di qalbu Mumin itu menjadi terarah ke arah yang jelas (yaitu beribadah
kepada Allah), situasi seperti ini berdampak pula terhadap gharizah (naluri) serta
kecenderungan insani pada umumnya. Maka pribadi Muslim menemukan arah
yang jelas dan lurus, seluruh potensi dan kesiapannya menjadi kuat dan saling
menguatkan, serta mengarah kepada pewujudan satu tujuan: Ibadah kepada Allah
Azza wa Jalla.
f; Hiwar khithabi ta'ridhi (sindiran):
Hiwar ini ialah khithab dari Allah Taala kepada Rasul-nya, Muhammad saw.
yang mengandung suatu sindiran berkenaan dengan orang-orang musyrik, seperti
menerangkan keburukan atau kelemahan mereka, mencemooh kebatilan mereka,
atau mengancam mereka dengan azab Allah.
1; Adapun penyebutan sebagian kebatilan mereka dan tuduhannya yang batil
terhadap Rasulullah saw. adalah sebagai berikut :

Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat


Rabb-mu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila.
(Q.S. 52 at-Thur: 29)
Bentuk hiwar khithabi ini dapat menghibur Nabi saw. dan kaum Muminin, di
samping dapat menguatkan tekad para dai kepada Allah, sebagaimana bentuk
hiwar khithabi berikutnya.
2; Hiwar Khithabi yang mengandung ancaman dari Allah Taala ditemukan
dalam firman-Nya:
Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang
yang mendustakan perkataan ini (al-Quran). Nanti Kami akan menarik
mereka dengan berangsur- angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang
tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka.
Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. (Q.S. 68 al-Qalam: 44-45)
3; Hiwar Khithabi taridhi yang menerangkan keburukan- keburukan
sebagian kaum musyrikin, ialah seperti firman Allah Taaia:
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang
seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat. (Q.S. 96 al-Alaq:
9-10)
Dan Firman-Nya :
Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari
al-Quran), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi?
Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib, sehingga
dia mengetahui (apa yang dikatakan)? Ataukah belum diberitakan
kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? dan
lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji,
(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul
dosa orang lain ? (Q.S. 53 an-Najm: 33-48)
Pengaruh-Pengaruh Edukatif
Hiwar khiihabi ta 'ridhi mempunyai beberapa pengaruh edukatif terhadap
jiwa. Yang terpenting ialah:
i; Menghibur kaum Muminm serta mereka yang mengajak ke jalan
Allah dari kesusahan dan kesulitan yang mereka jumpai selama mereka
melangkah di jalan Allah, di samping hiwar ini menyadarkan pula
bahwa hasil perjuangan mereka adalah bagi mereka dan bahwa Allah
senantiasa menyertai mereka dalam melawan mu- suh-mu auh-Nya.
ii; Penangkapan makna oleh pembaca al-Quran tentang perlunya
menyadari kerendahan dan kehinaan sifat dan perbuatan kaum
musyrikin, serta membangkitkan rasa jijik terhadap kebatilan dan
kekufuran mereka. Demikianlah, seringnya membaca al-Quran akan
dapat melahirkan dampak afektif pada pribadinya.
Adapun penangkapan makna itu, menurut para ahli psikologi, ialah kemampuan
menangkap esensi suatu ide tertentu tanpa dipelajari secara khusus. Dapat melalui
kisah, dapat pula melalui sin diran sebagaimana kita lihat pada ayat-ayat
terdahulu. Kadangkala pengisyaratan ini lebih impresif daripada penyampaian
yang langsung.

2; Hiwar Wushfi
a; Pendahuluan

Telaahan tentang bentuk-bentuk hiwar khithabi dalam lembar-an-lembaran


terdahulu menyingkapkan, bahwa pada awalnya hiwar dimulai dari satu pihak, si
pembicara, sedangkan pihak kedua menyambutnya dengan segenap
kepribadiannya, dengan emosi, penghayatan serta daya nalurinya. Ungkapan yang
diajukan pihak pertama ini tidak kurang pentingnya serta pengaruhnya terhadap
sambutan pihak kedua seperti dijelaskan dalam nash al-Quran atau Hadits. Ia juga
merupakan undangan atau pancingan yang realistis, karena pendidikan Islam
memandang bahwa setiap anak, atau pembaca al-Quran atau orang yang beribadah
dengan membacanya, langsung terundang untuk berbuat, untuk diajukannya
berbagai pertanyaan dan seruan Qurani; dan bahwa ia pun terundang untuk
menyambut semua itu dengan pikiran atau perasaan, sepanjang dalam membaca al-
Quran atau melakukannya di dalam shaJLat menghadirkan hati dan pikirannya.

Demikianlah hiwar ini berlangsung antara Allah dengan hamba- hamba-Nya.


Adapun hiwar washfi, hiwar gishashi dan hiwar jadali, tampak dengan
sempurna di dalam nash Qurani. Dalam hiwar washfi digambarkan secara jelas
situasi orang-orang yang sedang berdialog. Dengan cara hiwar itu terciptalah
suatu situasi psikis yang dihayati bersama secara riil oleh mereka yang berdialog
itu. Hal ini memungkinkan terjadinya internalisasi nilai yang mengun-dang
mereka untuk meneladani orang-orang yangshaleh dan menjauhi orang-orang
yang jahat. Di samping itu penghayatan suasana tersebut secara eksistensial
menggugah dan menumbuhkan perasaan-perasaan ketuhanan dan tingkah laku
penghambaan insani yang utama. Contoh-contoh hiwar seperti ini banyak terdapat
di dalam al-Quran. Antara lain, penyusun sebutkan firman Allah Taala mengenai
hiwar ahli neraka:
Dan mereka berkata: Aduhai celakalah kita! Inilah hari
pembalasan, inilah hari keputusan yang kalian selalu mendustakannya.
(Kepada Malaikat diperintahkan): Kumpulkanlah orang-orang yang
dhalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu
mereka sembah selain Allah. Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke
neraka. (Q.S. 37 as-Shaffat: 20-23)
Di sini, hrwar berlangsung antara Allah Taala dengan para Malaikat.
Topik pembicaraannya mengenai orang-orang dhalim yang berhak menerima
adzab jahannam. Mereka dibangkitkan dari kubur, lalu mengetahui bahwa inilah
hari pembalasan. Kemudian datang seruan Rabbani kepada malaikat Zabaniyah
untuk menunjukkan kepada orang-orang dhalim itu jalan menuju neraka
jahannam. Maka berlangsunglah hiwar untuk menerangkan kelemahan mereka
dan cemoohan terhadap mereka setelah mereka menerima hisab di tempat
perhentian itu:
Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian), karena sesungguhnya
mereka akan ditanya: 'Kenapa kalian tidak tolong-menolong? (Q.S. 37 as-
Shaffat: 24-25)
Mereka tidak mampu menjawab. Maka allah taala memberitahukan kepada
kita tentang keadaan mereka:
Bahkan mereka pada hari itu menyerahkan diri. (Q.S. 37 as-Shaffat: 26)
Kemudian berlangsunglah percakapan antara para pemimpin kedhaliman dan
kebatilan dengan para pengikut yang tunduk kepada kebatilan di dunia, yang
membuat mereka semua dikum-pulkan di dalam adzab:
Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil
berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada
pemimpin-pemimpin mereka): Sesung-guhnya kalianlah yang datang
kepada kami dari kanan. (Q.S. 37 as-Shaffat: 27-28)
Para pemimpin kedhaliman hendak melepas diri dari tanggung jawab, seraya
berkata:
Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: Sebenarnya kalianlah yang tidak
beriman, dan sekaii-kali kami tidak berkuasa terhadap kalian, bahkan
kalianlah kaum yang me-lampaui batas, maka pastilah putusan (adzab)
Rabb kita menimpa atas kita. Sesungguhnya kita akan merasakan (adzab
itu). Maka kami telah menyesatkan kalian, sesung-guhnya kami adalah
orang-orang yang sesat. (Q.S. 37 as-Shaffat: 29-32)

b; Implikasi-implikasi Edukatif:

1; Hiwar washfi menyajikan kepada kita gambaran yang hidup tentang kondisi
psikis ahli neraka dan ahli surga. Dengan imajinasi dan deskripsi yang rinci,
hiwar washfi memperlancar berlangsungnya pendidikan perasaan ketuhanan
dan pemantapan pengaruh ke dalam jiwa pembaca atau pendengar dengan
ayat-ayat ini. Yang menguatkan pengaruh gambaran ini adalah bahwa
gambaran itu keluar dari lisan mereka sebagai pengakuan mereka sendiri.
Mereka menggambarkan penyesalan dan kepedihan mereka sendiri. Adakah
orang berakal yang bersedia menempatkan diri di tempat kedudukan mereka
ini?
2; Sebagaimana halnya hiwar ta'ridhi, hiwar washfi juga bersandar kepada
pengisyaratan. Di sini, ayat-ayat memperingatkan kita dari kesudahan
seperti ini, tanpa mengatakan kepada kita secara eksplisit: "Janganlah kalian
terjerumus ke dalam tempat mereka itu." Pengisyaratan ini, menurut
penyusun, lebih berkesan daripada pengajaran langsung. Akan tetapi
meskipun demikian, ada baiknya pendidik memintakan perhatian dan tang-
gapan kepada anak-anak sewaktu mengajarkan al-Quran tentang kesudahan
orang-orang kafir ini beserta sebab-sebabnya, agar ia dapat meyakini bahwa
mereka mengikuti gambaran ini dengan perenungan dan pemikiran seksama.
Di samping itu penandasan tersebut dapat menguji penginderaan dan perasaan
serta daya menggugah kehidupan afektif mereka. Bukankah pendidik dituntut
pula untuk mendidik dunia perasaan, seperti rasa khusyu, senang dan takut di
samping peningkatan pemahaman makna dan memperindah bacaan mereka?
Al-Quran tidak hanya menggambarkan suasana perasaan ahli neraka, akan
tetapi juga sebagian perasaan ahli surga di dalam sebuah hiwar washfi yang
indah. Penyusun akan menyajikan contohnya tanpa menyertakan implikasi
edukatif lagi, karena yang telah lalu pun sudah cukup. Allah Taala berfirman:
Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain
sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka:
"Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman yang
berkata: Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang
membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita
telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita
benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" Berkata
pulalah ia: Maukah kalian meninjau (temanku itu)? Maka ia
meninjaunyaf lalu ia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka yang
menyala-nyala, la berkata (pula Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-
benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbi
pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). (QS. 37 as-
Shaffat: 50-57)
3; Hiwar Qishashi
Hiwar ini terdapat dalam sebuah kisah yang baik bentuk maupun rangkaian
ceritanya sangat jelas, yaitu hiwar yang merupakan bagian usiub atau anasir kisah
di dalam al-Quran. Kalaupun di sana terdapat sebuah kisah yang keseluruhannya
merupakan dialog langsung, yang pada masa sekarang ini disebut sandiwara,
namun h acar ini di dalam al-Quran tidak dimaksudkan untuk bersandiwara
seperti itu. Namun demikian, di beberapa tempat dalam al-Quran, dalam
pengungkapan kisah-kisah itu penyajian secara hiwar lebih menonjol dibanding
dengan penyajian dalam bentuk berita. Sebagai contoh, kisah Syuaib bersama
kaumnya di dalam surat Hud. Sepuluh ayat pertama dari kisah ini secara
keseluruhannya merupakan hiwar (dialog). Kemudian Allah mengakhiri kisah ini
dengan dua ayat di mana Dia menerangkan akibat kaum Syuaib. Inilah kisah
selengkapnya :
Dan kepada (Penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka,
Syu'aib. Ia berkata: Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali
tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia. Dan janganlah kalian kurangi
takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kalian dalam keadaan
yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kalian akan
adzab hari yang membinasakan (kiamat). Dan Syuaib berkata: Hai
kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah
kalian merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kalian
membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa
(keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagi kalian jika kalian orang-
orang yang beriman. Dan aku bukanlah teorang penjaga atas diri kalian.
Mereka berkata Hai Syuaib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar
kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau
melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta
kami? Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi
berakal. Syuaib berkata Hai kaumku, bagaimana pikiran kalian jika
aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabb-ku dan dianugerahi-Nya aku
dari-Nya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan
aku tidak berke- hendck menyalehi kalian (dengan mengerjakan) apa yang
aku larang Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan
selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ade taufik bagiku
melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku
bertawakkal dan hanya kepada- Nya-lah aku kembali. Hai kaumku,
janganlah pertentangan antara aku (dengan kalian) menyebabkan kalian
menjadi jahat sehingga kalian ditimpa adzab seperti yang menimpa kaum
Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tsdak (pulat
jauh (tempatnya) dari kalian. Dan mohonlah ampun kepada Rabb kalian
kemudian bertobatlah kepcda-Sya Sesungguhnya Rabb-ku Maha
Penyayang lagi Maha Pengasih Mereka berkata: Hai Syuaib, kami
tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan
sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di
antara kami, kalau tidaklah karena keluargamu, tentulah kami telah
merajam kamu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang oeruibawa di
sisi kami. Syuaib menjawab Hai kaumku, apakah keluargaku lebih
terhormat menurut pandangan kalian daripada Allah, sedang Allah,
kalian jadikan sesuatu yang terbuang di belakang kalian? Sesungguhnya
(pengetahuan) Rabb-ku meliputi apa yang kalian kerjakan.Dan (dia
berkata): Haikaumku, berbuatlah menurut kemampuan kalian,
sesungguhnya aku aku pun berbuat (pula). Kelak kalian akan mengetahui
siapa yang akan ditimpa adzab yang menghinakannya dan siapa yang
berdusta. Dan tunggulah adzab (Allah), sesungguhnya aku pun
menunggu bersama kalian. Dan tatkala datang adzab Kami, Kami
selamatkan Syuaib dan orang- orang yang beriman bersama-sama
dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang dhalim
dibinasakan oleh suatu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati
bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah
berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan
sebagaimana kaum Tsamud telah binasa. (Q.S. 11 Hud: 84-95)
Analisis Pedagogis
Hiwar seperti ini tersebar di dalam banyak kisah-kisah al- Quran, dan
mempunyai daya nalar yang indah, di samping dampak wijdani-athifi
(penghayatan eksistensial). Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
Pertama, kekuatan pengaruh hiwar qishashi bersandar pada pengisyaratan.
Dalam hal ini, hiwar qishashi sama dengan dua hiwar sebelumnya. Dengan cara
yang tidak langsung, ia mengisyaratkan kepada pembaca supaya menolak
alasan-alasan dan ihwal kaum kafir, terutama ketika melihat kesudahan mereka
dalam akhir kisah.
Kedua, sebagaimana dua hiwar sebelumnya, hiwar qishashi mendidik
perasaan ketuhanan di dalam jiwa, seperti kecintaan di jalan Allah, kesenangan
untuk berdawah kepada-Nya, dan kecintaan kepada para Nabi-Nya;
Ketiga, berbeda dengan dua hiwar sebelumnya, hiwar qishashi menyajikan
hujjah-hujjah para Nabi secara konseptual-Rabbani, mematahkan hujjah orang-
orang dhalim-materialistis, dan meluruskan pola pikir yang kabur.
Cobalah bandingkan betapa Syuaib dibiarkan hidup oleh kaumnya hanya
karena mereka takut kepada keluarganya, sedangkan Syuaib menasehati kaumnya
semata-mata karena takut kepada Allah dan ingin mendapatkan keridlaan-Nya.
Lihatlah, betapa jauhnya perbedaan antara dasar ketakutan serta pola pikir
keduanya.
Keempat, hiwar qishashi mengungkapkan kesimpulan kisah dan
kesudahan masing-masing golongan orang dhalim dan kaum Muminin. Pelukisan
kisah dalam bentuk hiwar mengungkapkan alur ceritanya secara terseling (oleh
pertanyaan yang diajukan) namun tetap terjalin secara kukuh. Selingan-selingan
tersebut menajamkan permasalahannya dan membangkitkan rasa ingin tahu para
pendengar atau pembacanya di samping mengundangnya untuk menyimak dan
merenungkan maknanya yang lebih dalam. Jadi metoda hiwar ini mendidik
pikiran dan pandangan rabbani tentang persoalan hidup dalam ikatan kehidupan
sosial, dengan jalan membandingkannya dengan pandangan orang-orang dhalim
yang didasarkan semata-mata kekuatan, kepentingan duniawi, kehormatan dan
kepentingan pribadi
Pengajaran nash Qurani apapun yang mengandung hiwar qishashi
mengundang tanggapan dan menggugah sikap si pelajar terhadapnya. Hal ini
dimaksudkan untuk mendidik berbagai pemantapan sikap ketuhanan serta
mendalami pemikiran religiusnya tentang kehidupan dan hubungan sosial, serta
konsep dan pandangannya tentang manusia serta tugasnya di dalam alam.
4; Hiwar Jadali (Untuk menetapkan Hujjah)
Hiwar jadali melahirkan suatu diskusi atau perdebatan yang bertujuan untuk
memantapkan hujjah kepada para peserta diskusi tersebut. Hal ini selain
dimaksudkan agar mereka mengakui pentingnya, beriman kepada Allah dan
mentauhidkan-Nya, juga meyakini kebenaran hari akhir dan risalah Muhammad
saw. dan kebenaran sabdanya serta kebatilan sembahan mereka. Sebagai contoh,
kebenaran sabda Rasulullah saw. ialah keterangannya tentang apa yang dilihatnya
ketika diangkat naik menuju langit tertinggi (miraj), seperti tersebut di dalam
surat an-Najm:
Demi bintang ketika terbenam, kawan kalian (Muhammad) tidak
sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu
(Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak
lain hanya wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan
kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. (Q.S. 53 an- Najm: 1-
5)
Sampai kepada firman-Nya :
Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa
yang telah Dia wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang
telah dilihatnya. Maka apakah kalian (Musyrik Makkah) hendak
memantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan
sesungguhnya muhammad telah melihat jibril itu (dalam rupanya
yang asli) pada waktuyang lain, yaitu di Sidrathul Muntaha.
Didekatnya ada surga tempat tinggal (Muhammad Melihat Jibril)
ketika Sidrathul Muntaha sedang diliputi dengan yang
meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari
yang dilihatnya itu tidak (pula)melampuinya. Sesungguhnya dia
telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabb-Nya yang
paling besar. (Q.S. 53 an-Najm: 10:18)
Dalam penggalan ayat ini, Allah swt. Menetapkan hujjah atas kaum
musyrikin, bahwa Rasul-Nya menyampaikan berita-beritanya secara secara yakin,
melalui suatu penglihatan hakiki yang lahir dari mata yang tidak berpaling, tetap
di dalam hati yang tidak dusta (dan memang temannya itu, Muhammad, tidak
pernah berdusta sama sekali kepada kalian) dan dikuatkan oleh Allah dengan
tanda-tanda paling besar yang diperlihatkan-Nya kepadanya.
Adapun penggalan lain dari hiwar ini (yang dinantikan untuk menjadi
jawaban orang-orang musyrik) telah disampaikan dengan uslub istifham (gaya
bahasa bertanya) sambil mengingkari sembah- an-sembahan mereka. Seakan-akan
hiwar ini membandingkan antara hakikat kebenaran yang kukuh yang dibawa oleh
Rasulullah saw. dari berita-berita langit pada malam Miraj, dengan sembahan-
sembahan mereka yang dusta, yang menurut mereka, di dalamnya terdapat
kekuasaan dan kelayakan untuk disembah. Seakan-akan hiwar itu berkata kepada
mereka: Bagaimana pendapat kalian tentang berhala-berhala ini? Apakah
ketuhanannya lebih berhak untuk dibenarkan daripada kalian membenarkan
Muhammad yang belum pernah berdusta sama sekali kepada kalian? Makna ini
tersirat di dalam firman Allah Taala :
Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik)
menganggap al-Lata dan al-Uzza, dan Manat yang ketiga, yang
paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (Q.S. 53 an-
Najm: 19-20)
Kemudian Allah Taala mencemooh mereka lantaran menasab- kan anak-
anak perempuan (Malaikat) kepada Allah. Cemoohan ini dilemparkan dalam pola
budaya mereka yang tidak suka mempunyai anak perempuan dan selalu
mengharapkan anak laki-laki:
Apakah (patut) untuk kalian (anak) laki-laki dan untuk
Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu
pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama
yang kalian dan bapak-bapak kalian mengada- adakannya. Allah
tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk
(menyembah)nya.... (Q.S. 53 an-Najm: 21-23)
Di sini jelas Umpak kekacauan pikiran orang-orang musyrik, karena
mereka menasabkan apa-apa yang tidak mereka sukai bagi diri mereka kepada al-
Khaliq Yang memberi nikmat kepada mereka.
Kemudian Allah menerangkan tingkat kemampuan berpikir dan ilmu
mereka, dan menandaskan bahwa kadar berfikir adalah ukuran yang keliru dan
kosong, yang tidak menghasilkan apa-apa. Kadar berpikir mereka tidak lebih dari
sekedar prasangka dan hawa nafsu belaka.
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-
sangkaani, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan
sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb
mereka. (Q.S. 53 an-Najm: 23)
Mengapa mereka berpaling dari petunjuk Allah yang datang kepada
mereka? Apa dugaan mereka tenUng masa depan di dunia dan akhirat? Semua itu
hanyalah angan-angan dusta mereka belaka. Tidak ada seorang manusia pun akan
mendapatkan segala apa yang dicita-citakannya di dalam hidup dan sesudah mati.
Oleh karena itu, Allah swt. bertanya dan meneruskan hiwar istifhami-jadali-
tahakkumi (bertanya-membantah-mengejek) di dalam firman-Nya:
Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-
citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat
dan kehidupan dunia. (Q.S. 53 an-Najm: 24-25)
Beberapa Hiwar Implikasi Pedagogis
Hiwar jadali mempunyai banyak implikasi pedagogis yang sama dengan
Qua hiwar sebelumnya, di samping implikasi-implikasi lainnya. Yang terpenting
ialah:
1; Hiwar jadali mendidik semangat menegakkan kebenaran, memilih yang benar
dan senang terhadap hujjah yang mematahkan. Semua ini termasuk perasaan-
perasaan ketuhanan yang harus diperhatikan penanamannya pada anak-anak.
2; Dengan jalan pengisyaratan, hiwar jadali mendidik penolakan terhadap
kebatilan, pikiran-pikiran yang musyrik dan mungkar, serta kerendahan dan
kebatilan pikiran-pikiran ini.
3; Hiwar jadali mendidik akal supaya berpikir sehat dan mencapai ha .k'ikai
dengan metoda berpikir yang benar, seperti metoda-metoda berikut ini:
Pertama, metoda hashr atau biasa disebut ats-tsalits al- marfu'" (yang ketiga
yang diangkat). Jika suatu masalah mempunyai tiga macam pemecahan dan tidak
ada pemecahan keempat, kemudian kita menggugurkan dua pemecahan, maka
dapat ditentukan bahwa yang ketiga itulah kebenaran yang kita angkat dan kita
pegang. Seperti firman Allah Taala dalam menetapkan penciptaan manusia:
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka
yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (Q.S. 52 at-Thur: 35)
Jika mustahil menurut akal bahwa mereka tercipta tanpa pencipta,
sebagaimana mustahil pula menurut kenyataan dan akal bahwa mereka
menciptakan diri mereka sendiri, maka
jelas kesimpulannya bahwa mereka mesti mempunyai pencipta. Dasar ini
berlaku pula atas langit, bumi dan segala khazanah rizki Allah:
Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Padahal
sebenarnya mereka sendiri tidak meyakini (apa yang mereka
katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu
atau merekakah yang berkuasa? (Q.S. 52 at-Thur: 36-37)
Seluruh perkara yang agung dan seluruh makhluk yang besar ini tidak
mungkin ada dengan sendirinya, dan manusia tidak dapat mengaku-aku bahwa dia
telah menciptakannya. Oleh sebab itu, manusia harus mengakui bahwa Allah telah
mencipta- kaaaya.
Kedua, metoda qiyas (analogi) yang benar, seperti firman Allah Taala
dalam membeberkan pandangan orang-orang yang mengingkari kebangkitan
kembali:
Dan mereka berkata: Apakah bila kami telah menjadi tulang
belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan
dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru? (Q.S. 17 al-Isra: 49)
Maka Allah memerintahkan kepada rasulnya supaya bersama mereka dengan
menggunakan hujjah dan logika:
Katakanlah: "Jadilah kalian batu atau besi, atau suatu makhluk
dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu . Maka
mereka akan bertanya: Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?
Katakanlah: Tiang telah menciptakan kalian pada kali yang
pertama . . . (Q.S. 17 al-Isra: 50-51)
Di sini, kebangkitan-kembali dianalogikan dengan pen- ciptaan yang
pertama. Allah, sebagaimana telah menciptakan mereka pada kali yang pertama,
kuasa pula untuk menciptakan mereka kembali, meskipun mereka telah menjadi
batu atau besi dan benda apapun lainnya. Sungguh ini suatu pola pikir yang logis,
tidak diragukan lagi, dan tidak seorang yang berakal pun dapat mengingkarinya.
Ketiga, salah satu keistimewaannya yang paling penting ialah bahwa
metoda ini mendidik akal supaya berpikir obyektif-realis- tis, dan mengemukakan
hujjah-hujjah dari hal yang konkrit ter- indra kepada hal yang dicari dan abstrak.
Sebagai contoh adalah kisah Ibrahim bersama Namrud yang diungkapkan dalam
hiwar berikut ini:
Kisah dimulai dengan meminta perhatian pembaca kepada kepentingan
kisah itu melalui hiwar khithabi:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat
Ibrahim tentang Rabb-nya (Allah), karena Allah telah memberikan kepada
orang itu pemerintahan (ke- kuasaan)?. ... (Q.S. 2 al-Baqarah: 258)
Dengan kalimat yang singkat ini Allah menerangkan kepada kita dua
tokoh kisah ini: Ibrahim yang beriman kepada Rabb-nya, dan seorang laki-laki
yang terpedaya oleh kekuasaan yang telah diberikan Allah kepadanya, sehingga
dia ingin mengaku-aku beberapa sifat ketuhanan bagi dirinya. Tetapi Ibrahim
memberinya beberapa perumpamaan konkrit yang dapat dilihat oleh setiap insan
dan tidak dapat ditolak oleh seorang pun yang berakal:

. . Ketika Ibrahim mengatakan, "Rabb-ku ialah Yang


menghidupkan dan mematikan ....
(Q.S. 2 aI-Baqarah: 258)
Maka raja yang dhalim itu bersikap sombong dan mengaku dirinya dapat
membunuh dan menghidupkan siapa pun yang dikehendakinya:
. . . .Orang itu berkata Saya dapat menghidupkan dan
mematikan . . . . . (Q.S. 2 al-Baqarah: 258)
Ibrahim merasa bahwa lawannya berpaling dan menyimpang dari pokok
perdebatan yang sebenarnya kepada perkara-perkara yang serupa dengan itu.
Maka Ibrahim memojokkannya kepada suatu perkara yang tidak dapat
dipungkirinya Lagi, karena tidak ada perkara yang serupa dengannya di dalam
alam manusia ini:
. . . .Ibrahim berkata: Sesungguhnya Allah menerbitkan
matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat. Lalu
terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang dhalim. (Q.S. 2 al-Baqarah: 258)
Contoh paling indah dari keistimewaan ini ialah dialog antara Ibrahim
dengan kaumnya sewaktu menghancurkan seluruh berhala, kecuali sebuah berhala
besar yang dijadikan sandaran penghancuran berhala-berhala itu. Dia meminta
kepada kaumnya untuk bertanya kepada berhala-berhala itu, dengan maksud
menandaskan bagi mereka secara konkrit bahwa apa yang mereka sembah selain
Allah itu tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak berhak untuk disucikan atau
disembah.
5; Hiwar Nabawi
Rasulullah saw. telah memetik pelajaran dari setiap macam dan bentuk
hiwar serta metoda pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan di dalam al-
Quranul Adhim. Ini tidak diragukan lagi, karena akhlak beliau adalah al-Quran,
dan kehidupan kependidikan serta pengajaran beliau merupakan interpretasi yang
hidup dan manusiawi dari ayat-ayat dan wahyu Allah serta kandungan makna
yang tersirat di dalamnya.
a; Hiwar adalah Metoda Pendidikan Nabawi
Rasulullah saw. sangat memperhatikan metoda hiwar dalam mengajar para
shahabatnya. Bahkan beliau sangat menghendaki agar para shahabatlah yang
memulai pertanyaan. Bukhari dan Muslim meriwayatkan suatu Hadits yang
diterima dengan lafadh dari Muslim melalui Abu Hurairah ra. yang berkata:
Pada suaiu hari, Rasulullah saw. menampakkan dirinya kepada
orang banyak. Dalam sebuah riwayat, dikatakan bahwa
Rasulullah saw. bersabda: Bertanyalah kepadaku. Orang-orang
takut untuk bertanya kepada beliau. Maka datanglah seorang laki-
laki lalu duduk di hadapan kedua lutut beliau seraya bertanya:
Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Beliau menjawab:
Engkau tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, dan
hendaknya kamu mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan
menjalankan shaum pada bulan Ramadhan. Laki-laki itu berkatn,
"Engkau benar. " Kemudian orung itu bertanya tentang iman,
ihsan dan saat bangkitnya hari kiamat... (Kata Abu Hurairah
selanjutnya), kemudian laki-laki itu berdiri. Maka Rasulullah saw.
bertitah: "Kembalikanlah ia padaku." Kemudian orang itu dicari-
cari, namun tidak didapat. Maka Rasulullah sou\ bersabda:
"Itulah Jibril, dia menghendaki agar kalian belajar jika kalian
tidak bertanya). Dalam lafadh Bukhari dikatakan: "Itulah Jibril,
datang untuk mengajarkan kepada manusia agama mereka).
(H.R. Bukhari Muslim)
Dari Hadits ini dapat disingkap beberapa persoalan pedagogis. Yang
terpenting ialah:
Pertama, disyaratkan untuk mendorong para pelajar supaya berani
bertanya, sehingga pengajaran berjalan selaras dengan gairah mereka dan agar
lebih berpengaruh terhadap jiwa mereka.
Kedua, disyariatkan agar mengadakan hiwar dalam menghadapi para
pelajar, agar mereka mengikuti dan mempelajari urusan Agama melalui rnetoda
dari hiwar tersebut. Metoda ini memang disengaja oleh asy-Syari, dengan dalil
lafadh Bukhari:
Itulah Jibril, datang untuk mengajarkan kepada manusia urusan
Agama mereka. (al-Hadits)
Metoda ini menarik perhatian sebagian para shahabat r.a., sebagaimana
dinyatakan di dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik. Ia berkata:
Kami pernah dilarang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang
sesuatu di dalam al-Quran. Tetapi kemudian kami dikejutkan oleh
kedatangan laki-laki dari penduduk ba- daun, yang cerdas. Dia
bertanya dan kami mendengar pertanyaan itu. Maka datanglah
seorang laki-laki dari penduduk badawi, teraya berkata: "Hai
Muhammad, telah datang kepada kami utusanmu, dia mengaku
kepada kami bahum engkau mengaku diutus oleh Allah." Beliau
bersabda: Dia benar). (al-Hadits)
Berita tentang kedatangan Jibril untuk menjelaskan aspek- aspek yang
bersifat khusus dan aspek-aspek yang bersifat umum dari ayat ini:
. . . Janganlah kalian menanyakan (kepada Nabi kalian) hal-hal
yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan
kalian.... (Q.S. 5 al-Maidah: 101)
Dan keumuman hadits ini:
Kami dilarang untuk melakukan qila um qala (seperti
mengatakan bahwa si anu mengatakan ini dan itu), banyak
mempertanyakan (hal yang tidak penting) dan menyia- nyiakan
harta (di jalan yang halal). (al-Hadits)
Para shahabat cenderung takut untuk bertanya, disebabkan oleh sifatnya
yang umum dari ayat dan Hadits tersebut di atas. Maka datanglah Jibril untuk
membolehkan bertanya apabila dimaksudkan untuk mengambil faidah dan
mengajarkan terutama tentang urusan Agama, asas dan aqidahnya.
Dari semua ini dapat disimpulkan, bahwa metoda hiwar merupakan salah
satu metoda pendidikan Islami. Oleh karena itulah Allah mengutus Jibril untuk
bertanya kepada Rasulullah saw. dan membenarkannya, sedangkan para shahabat
mendengarkannya dengan penuh perhatian dan gairah. Semua ini mengandung
implikasi bahwa para guru dan pendidik dianjurkan untuk dapat menerapkan
metoda ini dalam kehidupan pengajaran dan pendidikan mereka.
b; Hiwar Nabawi 'Athifi (Afektif)
Rasulullah saw. adalah orang yang paling mampu mendidik perasaan
ketuhanan dan menjadikannya sebagai landasan dalam keadaan darurat.
Orang-orang Anshar telah beriman kepadanya. Di antara mereka ada laki-
laki dan perempuan, pemuda dan orang tua, serta orang yang telah lanjut usia.
Beliau mendidik jiwa mereka supaya cinta kepada Allah, melindungi Agama-Nya,
membenci musuh-musuh-Nya serta tidak suka untuk kembali kepada ke- kufuran
dan kehidupan jahiliyah. Tetapi manakala Rasulullah saw. membagi-bagikan harta
rampasan perang kepada kaum Quraisy, mereka (kaum Anshar) menjadi dongkol
dan mencemooh beliau. Abu Said al-Khudri mengatakan):
Tatkala Rasulullah saw. membagi-bagikan sebagian dari pem-berian-
pemberian itu (harta rampasan dan para tawanan Hawazin) kepada kaum Quraisy,
sedangkan kaum Anshar tidak mendapatkan sesuatu bagian pun darinya, maka
mereka marah dan mendongkol, sehingga tersebarlah desas-desus dari mereka.
Rasulullah saw. kemudian menyuruh Saad bin Ubadah untuk mengumpulkan
mereka. Setelah mendatangi mereka, beliau memanjatkan puji kepada Allah,
seraya bersabda:
Wahai sekalian kaum Anshar, desas-desus apakah yang sampai kepadaku
dari kalian? Dan kedongkolan apakah yang kalian simpan di dalam dada kalian
terhadapku. Bukankah aku telah mendatangi kalian saat kalian dalam keadaan
sesat, lalu Allah memberi kalian petunjuk: saat kalian dalam keadaan kekurangan,
lalu Allah memberi kalian kecukupan; dan saat kalian dalam keadaan bermusuh-
musuhan, lalu menyatukan hati kalian?
Mereka menjawab: Tentu, demi Allah, sesungguhnya Rasul-Nya lebih
terpercaya dan lebih utama.
Kemudian beliau bertanya: Mengapa kalian tidak menjawabku. hai kaum
Anshar?
Mereka bertanya: "Dengan apa kami harus menjawabmu, wahai
Rasulullah? Sesungguhnya bagi Rasul-Nya-lah pemberian dan karunia.
Rasulullah saw. bersabda: "Demi Allah, jika kalian mau niscaya kalian
akan berkata, kemudian kalian akan membenarkan dan dibenarkan: Anda telah
mendatangi kami dalam keadaan didustakan (dianggap dusta) lalu kami
membenarkanmu; dalam keadaan tidak ditolong, lalu kami menolongmu; dalam
keadaan diusir, lalu kami melindungimu; dalam keadaan berkekurangan, lalu kami
mengasihimu. Apakah kalian menyimpan amarah di dalam qalbu kalian, hai
kaum Anshar, karena urusan harta? Bukankah diengan harta itu aku melunakkan
qalbu suatu kaum untuk masuk Islam dan aku menyerahkan kepada kalian aqidah
Islam? Tidakkah kalian ridla, hai kaum Anshar, sekiranya orang- orang pergi
dengan membawa kambing dan unta, sedang kalian palang dengan membawa
Rasulullah ke kampung halaman kalian? Maka demi Tuhan Yang jiwa
Muhammad berada di tangan-Nya, sekiranya tidak karena hijrah, niscaya aku
menjadi seseorang dari kaum Anshar. Ya Allah berikanlah rahmat kepada kaum
Anshar, anak-anak Anshar dan cucu-cucu Anshar.
Maka menangislah kaum Anshar hingga basahlah janggut mereka. Mereka
berkata: Kami ridla dengan Rasulullah sebagai bagian kami.
Dari aspek pedagogis, pendidikan Nabawi yang agung dan hiwar Nabawi
yang menyentuh perasaan ini menunjukkan beberapa perkara. Yang terpenting
ialah:
Pertama, menjadikan perasaan ketuhanan sebagai sandaran, dalam kondisi
yang sangat penting, harus didahului oleh pendidikan afektif yang benar dan
mendalam. Sebagaimana telah penyusun katakan, bahwa Rasulullah saw. telah
menanam perasaan Rabbaniah ini di dalam jiwa kaum Anshar, sehingga Allah dan
Rasul-Nya lebih mereka cintai daripada harta, anak dan manusia seluruhnya.
Kedua, Rasulullah saw. menggunakan metoda istifham (bertanya) Qurani
untuk membangkitkan perasaan. Sepertinya beliau mengutip surat adl-Dluha,
sewaktu bersabda kepada mereka:
Bukankah aku telah mendatangi kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah
memberi kalian petunjuk; dalam keadaan kekurangan, lalu Allah memberi kalian
kecukupan; dan dalam keadaan bermusuh-musuhan, lalu menyatukan hati
kalian?
Ketiga, Rasulullah saw. menyadari bahwa mereka adalah manusia, bukan
para malaikat. Beliau menghendaki agar mereka melindungi diri dengan sebagian
dari sabdanya. Maka tatkala
mereka merasa malu kepada beliau, beliau melindungi mereka dengan
menampilkan diri sebagai wakil mereka, sehingga beliau tidak meneteskan
secercah kedongkolan pun di dalam jiwa mereka. Beliau bersabda: "Demi Allah,
kalau kalian mau, niscaya kalian berkata, kemudian kalian membenarkan dan
dibenarkan: 'Kami telah mendapatimu dalam keadaan didustakan (dianggap
dusta), lalu kami membenarkanmu; dalam keadaan tidak ditolong, lalu kami
menolongmu; dan dalam keadaan diusir, lalu kami melindungimu Demikianlah
kita dapati, bahwa dalam kondisi-kondisi yang sulit pendidik hendaknya tidak
tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum mendengarkan dahulu peserta
didiknya atau pihak yang bersalah itu.
c; Hiwar Nabawi Iqnai
Rasulullah SAW biasa berdialog dalam usaha memuaskan pikiran dan
menegakkan hujjah. Suatu ketika ada orang yang hendak masuk Islam, kemudian
meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk membolehkannya berzina. Maka
Rasulullah saw. bersabda kepadanya yang maknanya sebagai berikut ):
Apakah kamu mempunyai ibu?
Orang itu menjawab: Ya.
Apakah kamu mempunyai saudara perempuan?
Dia menjawab: Ya
Kemudian beliau bertanya: "Apakah kamu ingin berzina dengan ibumu ?
Orang itu menjawab: Tidak
Dengan pertanyaan ini, orang itu bertobat dan meninggalkan akhlak yang
hina itu. Dalam situasi itu, hiwar Nabawi Iqnai memberikan kesempatan kepada
alur pikiran untuk berkembang secara nalar; sehingga akhirnya pelaku tersebut
menjadi insaf dan meninggalkan perbuatan zina. Hiwar ini mengandung analogi
perlakuan terhadap orang lain dengan perlakuan terhadap diri sendiri, di samping
mengandung seruan untuk tidak menyakiti orang lain selama dia tidak mau
disakiti oleh orang lain.
Hiwar semacam ini pernah pula beliau gunakan bersama Adi bin Hatim.
Di dalam tafsirnya), Imam ar-Razi mengatakan: Diceritakan bahwa Adi bin Hatim
adalah seorang nasrani. Dia berjalan menuju Rasulullah Saw. sewaktu beliau
membaca surat Baraah. Beliau membacanya sampai kepada ayat ini: Mereka
menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah,
dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryani. (Q.S. 9: 31). Adi
bin Hatim berkata: "Kami tidak menyembah mereka. Beliau bertanya:
"Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, lalu kalian
pun mengharamkannva; dan mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh
Allah, lalu kalian pun menghalalkannya? Adi menjawab: "Benar N"?bi
bersabda: Itulah penyembahan terhadap mereka.
Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Jarir meriwayatkan melalui berbagai
riwayat dari Adi bin Hatim ....
Maka diceritakan la h kabar bahwa dia lari ke Syam dan menawan saudara
perempuannya. Saudara perempuannya masuk Islam dan membujuk Adi supaya
masuk Islam. Diungkapkan pula bahwa di saat kedatangan Adi bin Hatim ke
Madinah, ia mendengar Rasulullah membaca aurat Baraah. Ia membantah ayat:
"Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan-
tuhan ... dan jawaban Rasul terhadapnya. Kemudian Adi berkata), bahwa
Rasulullah saw. bersabda:
Hai Adi, apa yang kamu katakan?
Apakah membahayakanmu jika dikatakan Allahu Akbar?
Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang lebih besar daripada Allah?
Apa yang membahayakanmu?
Apakah membahayakanmu jika dikatakan La Ilaha Illallah?
Apakah kamu mengetahui ada Tuhan lain selain Allah?

Kemudian beliau menyerunya supaya masuk Islam. Maka dia masuk Islam
dan mengucapkan syahadat kebenaran. Adi bin Hatirn berkata: Sungguh aku
melihat wajah beliau berseri-seri, lalu bersabda: Sesungguhnya kaum yahudi
adalah orang-orang yang dimurkai dan kaum nasrani adalah orang-orang yang
sesat.
Hiwar iqnai ini bertopang pada pertanyaan pelajar atau rekan bicara
tentang pengetahuannya yang semata-mata bersifat indrawi atau secara konkrit.
Jawaban atas pertanyaannya itu mengandung pertanyaan lebih lanjut, dan
seterusnya, hingga dia merasa puas dan rasa ingin tahunya terpenuhi.
Hiwar Rasulullah saw. ini merupakan hiwar bertahap yang dimulai dengan
perbincangan seputar makna ayat, dan seputar orang-orang nasrani yang
mempertuhan orang-orang alim mereka dan menganggapnya sebagai sumber
undang-undang selain Allah. Akhirnya dengan hiwar itu kesalahan orang-orang
nasrani menjadi jelas bagi Adi bin Ha tim. Tatkala Rasulullah saw. mengetahui
bahwa Adi sudah mulai mengerti dan menunjukkan sikap positif terhadap
kebenaran, maka beliau terus menanyakan pendapatnya sendiri dan membimbing
pikirannya mengenai syiar kaum Muslimin Allahu Akbar dan La ilahaIllallah,
sehingga dia mengikrarkan syahadat kebenaran. Demikianlah, di dalam
pendidikan Islam, hiwar istijwabi (membimbing kepada jawaban) setelah
membaca ai-Quran merupakan salah satu metoda yang berhasil untuk memberikan
kesempatan berpikir hingga terpuaskan, (dari kalangan ahli pikir dan orang-orang
berakal) yang keislamannya diharapkan, la metoda yang jitu dalam kegiatan
mengajar, dan tetap menjadi metoda paling utama yang digunakan dewasa ini. Ia
juga metoda pengajaran, pemuasan dan pematahan argumentasi dengan hujjah ....
B; Mendidik Dengan Kisah Quran Dan Nabawi

1; Pentingnya Kisah Edukatif


Dalam pendidikan Islam, kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak
dapat diganti dengan bentuk penyampaian lain selain bahasa. Hal ini disebabkan
kisah Qurani dan Nabawi memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya
mempunyai dampak psikologis dan edukatif yang sempurna, rapih dan jauh
jangkauannya seiring dengan perjalanan zaman. Di samping itu kisah edukatif itu
melahirkan kehangatan perasaan dan vitalitas serta aktivitas di dalam jiwa, yang
selanjutnya memotivasi manusia untuk mengubah perilakunya dan
memperbaharui' tekadnya sesuai dengan tuntunan, pengarahan dan akhir kisah itu,
serta pengambilan pelajaran darinya. Keistimewaan yang paling penting tampak
dalam hal-hal berikut ini.
Beberapa keistimewaan edukatif kisah-kisah Qurani dan Nabawi:
a; Kisah yang memikat dan menarik perhatian pembaca, tanpa memakan
waktu lama. Kisah seperti ini mengundang si pembaca untuk mengikuti
peristiwanya, merenungkan maknanya, serta terkesan oleh watak pribadi
pelaku kisah itu.
Hal ini Hal ini dapat terjadi, karena kisah itu seperti pada biasanya dalam
bentuknya yang paling sempurna dimulai dengan mengemukakan tuntutan,
ancaman, peringatan akan bahaya, atau lain sebagainya yang dijalin dalam ikatan
cerita. Sebelum persoalan dalam kisah itu dibuka dan dipecahkan biasanya
berbagai tuntutan atau kesulitan ditonjolkan sehingga kisah itu mencapai
klimaknya. Penyajian kisah seperti itu menggugah kerinduan dan perhatian
pembaca atau pendengar, serta meningkatkan rasa ingin tahu bagaimana kisah itu
berakhir dan bagaimana kesimpulannya.
Misalnya pada permulaan kisah Yusuf, kepada pembaca disajikan mimpi
Yusauf a.s. disertai dengan janji Allah,melalui lisan bapaknya, Yaqub, akan masa
depannya yang cerah, dan nikmat- nikmat Allah yang akan disempurnakan-Nya
kepada keluarga yang miskin namun tetap mengajak ke jalan Allah itu.
Berbagai musibah dan kesusahan bertubi-tubi menimpa tokoh kisah ini,
Yusuf a.s. Maka pembaca terpikat dan mencurahkan perhatiannya untuk menanti
terwujudnya janji Allah dan berakhirnya segala musibah dan penderitaan ini
dengan penuh animo.
b; Kisah Qurani dan Nabawi menyentuh nurani manusia dalam keadaannya
yang utuh menyeluruh, sebagaimana terjelma dalam tokoh-tokoh utama
yang sengaja ditampilkan al-Quran kepada umat manusia. Masing-masing
tokoh itu ditampilkan pada pusat perhatian selaras dengan konteksnya.
Penampilan pelaku kisah itu disajikan secara sangat mengena, sesuai
dengan tempatnya, fungsi dan upaya pencapaian tujuan edukatif dari
penyajiannya. Di dalam kiaah Yusuf disajikan tokoh insan yang sabar
terhadap berbagai musibah dalam usaha berdawah kepada Allah (di dalam
pribadi Yusuf), dan gambaran wanita yang hidup mewah, terbuai oleh
gejolak hawa nafsu. Hati wanita itu dikendalikan oleh nafsu dan erotik
yang mendorongnya untuk berbuat. Karena hasratnya tidak tercapai, maka
kemudian ia menjebloskan seorang insan mukhlis yang tak berdosa ke
dalam penjara. Padahal insan ini justru bersikeras menjauhkan dirinya dari
segala kekotoran, ikhlas kepada tuannya dan memelihara segala perintah
Rabb-nya.
Pada bagian kisah selanjutnya ditampilkan saudara-saudara Yusuf sebagai
gambaran orang-orang yang didorong oleh bisikan- bisikan kecemburuan, hasud,
dengki, bersekongkol untuk berbuat jahat, didorong hasrat mengikuti jejak-jejak
dosa, karena mereka lemah tak berdaya dan tidak mampu mengatasi gejolak rasa
cemburu tersebut.
Kemudian tampil pula Yaqub sebagai figur orang tua yang mencintai
putranya, dirundung kesedihan karena kehilangan putranya yang sebenarnya
adalah seorang Nabi yang sabar dan tabah.
Al-Quran menyajikan penampilan seluruh tokoh ini secara wajar dan objektif,
tanpa dicampuri sikap keji atau terangsang untuk berbuat keji dan dosa, seperti
biasa dilakukan oleh para penulis cerita (dari kalangan para tokoh jahiliyah abad
20) yang menamakan dirinya sebagai penganut realisme atau naturalisme. Cara
penyajian kisah dalam al-Quran secara wajar dan objektif itu disebabkan tujuan
terpenting kisah Qurani adalah pendidikan akhlak melalui pelukisan watak
manusia secara nyata serta menggugah untuk diresapi dan diteladani.
Kisah Qurani tidaklah menjauhkan diri dari tabiat manusia, tidak pula
melayang-layang di alam malakut semata, karena kisah-kisah itu disajikan sebagai
terapi bagi manusia. Sedangkan terapi tersebut hanya dapat terlaksana dengan
membentangkan berbagai kelemahan dan kekeliruan tabiat manusia. Kemudian
aspek-aspek yang lemah dan keliru dari tabiat manusia ini ditampilkan sebagai
kontras terhadap aspek lain yang sungguh dan agung, sebagaimana direalisasikan
oleh para Rasul dan kaum Mu'mmin. Keagungan dan kemuliaan ini dituangkan di
akhir kisah, setelah melalui kesabaran dan perjuangan, la tampil sebagai puncak
peristiwa sebagai terapi terhadap kelemahan dan kekurangan serta ketergelinciran
manusia ke dalam lembah syirik atau kekotoran Terapi ini direalisasikan dengan
cara membangkitkan semangat dan mendorong jiwa secara optimal untuk naik ke
tingkat tertinggi. Realisasi terapi ini terlukiskan di akhir kisah yang
menggambarkan kemenangan dawah Ilahiyah dan kerugian bagi kaum musyrikin
yang tunduk kepada kelemahan dan kekurangan, tanpa mau menyebut seruan
Rabb mereka dan menyucikan jiwa mereka.
c; Kisah Qurani Mendidik perasaan-perasaan ketuhanan, yaitu:
Pertama, dengan membangkitkan berbagai perasaan, seperti seperti rasa
khauf, rasa ridla dan cinta terhadap yang patut diridlai dan dicintai serta rasa jijik
dan benci (terhadap segala yang patut dibenci). Semua itu tergugah di dalam alur
kisah dengan lukisan yang indah dan berbagai peristiwa pilihan yang tersirat di
dalamnya. Kisah Yusuf umpamanya, mendidik kesabaran dan kepercayaan kepada
Allah, serta harapan akan menerima pertolong- an-Nya setelah mempertebal rasa
khauf Yusuf, kemudian rasa kesediaan dan keridlaan menerima jabatan menteri.
Kedua, dengan mengarahkan seluruh perasaan ini hingga bertumpu pada satu
kulminasi, berupa kesimpulan kisah. Seperti diarahkannya rasa simpati para
pembaca kisah kepada Yusuf dan bapaknya hingga keduanya bertemu pada akhir
kisah dalam keadaan bersyukur kepada Allah, dan diarahkannya kebencian kepada
kejahatan yang lahir dari saudara-saudara Yusuf hingga mereka mengakui
kesalahan mereka, dan kemudian bapak mereka (Nabi Yaqub) memohonkan
ampun bagi mereka pada akhir kisah. Begitulah seterusnya.
Ketiga, dengan jalan pelibatan diri secara naluri, di mana pembaca Larut
dalam suasana emosional kisah, sehingga dengan segala perasaannya dia hidup
bersama tokoh-tokoh kisah itu. Di dalam kisah Yusuf, pembaca dicekam
kecemasan atau kegelisahan ketika Yusuf akan dibunuh dan dilemparkan ke dalam
sumur. Kemudian perasaan menjadi agak lapang sewaktu Yusuf terlepas dari
kesusahan. Selanjutnya pembaca kembali cemas sewaktu Yusuf memasuki istana
al-Aziz. Demikianlah pembaca merasa hidup bersama Yusuf di dalam penjaranya,
namun tetaplah ia berdaNrah kepada Allah. Akhirnya pembaca merasa gembira
manakala Yusuf diselamatkan dari kesusahan dan diangkat menjadi menteri di
Mesir, serta bapaknya terlepas dari rasa duka lara. Dalam semua peristiwa dan
situasi ini, Yusuf tetap mengemban tugas dan kedudukannya sebagai utusan Allah
dan penyeru kepada Agarat-Nya.
d; Salah satu keistimewaan kisah Qurani adalah memberikan kesempatan
mengembangkan pola pikirnya sehingga terpuaskan sebagaimana
terlukiskan di bawah ini:
Pertama, dengan jalan pengisyaratan, sugesti dan penerapan. Sekiranya tidak
memiliki keimanan yang benar, tentu Yusuf tidak akan sabar mengalami
keterasingannya di dalam sumur, tentu pula tidak akan tabah memerangi kekejian
serta menjauhi ketergelinciran di dalam rumah istri al-Aziz. Peristiwa-peristiwa
dalam kisah Nabi Yusuf yang menakjubkan itu mengisyaratkan kepada umat
manusia betapa pentingnya prinsip kebenaran yang dijadikan patokan tokoh kisah
dan sekaligus mendorongnya untuk mencintai sifat-sifat tokoh yang
mengagumkan itu beserta kemenangannya dalam pertarungan antara haq dan batil
berkat kesabaran dan ketabahannya dalam waktu yang cukup lama. Kisah tersebut
mungkin mencetuskan hasrat pada yang membaca atau yang mendengar berbagai
peristiwa (Yusuf) yang mengagumkan itu untuk berusaha meniru dan menerapkan
sifat-sifat itu pada dirinya sendiri, meski dia tidak mengharapkan peristiwa yang
banyak mengandung cobaan itu menimpa dirinya. Karena sangat terkesan, ia
mungkin mengulang kaji dan menghidupkan rangkaian peristiwa yang dialami
Nabi Yusuf (atau kisah lain) itu dalam imajinasinya.
Kedua, dengan jalan berpikir dan bermenung. Kisah-kisah Qurani tidak
pernah luput dari dialog yang mengandung dan mengundang penalaran. Adapun
tema pokoknya ialah bahwa yang haq menjadi pihak yang menang. Dalam dialog
tersebut, peristiwa- peristiwa yang muncul, tampil sebagai premis, yang
menghasilkan kesimpulan, berupa pemantapan kebenaran dan keagungannya. Hal
ini akan dapat mempengaruhi dan memperkokoh jiwanya dan berpengaruh pula
terhadap jiwa masyarakat pada umumnya, berkat pertolongan Allah terhadapnya.
Di dalam kisah Yusuf kita mendapatkan sebuah dialog antara dia dengan dua
orang pemuda yang sama-sama menghuni penjara, lalu dia menyeru mereka
supaya menUuhidkan Allah.
Kisah Nuh, secara keseluruhannya merupakan sebuah dialog antara yang haq
dengan yang batil. Demikian pula kisah Syuaib, Shaleh dan para Rasul lainnya
merupakan sebuah dialog yang mengandung daya tala/ yang dikuatkan dengan
hujjah dan ke-terangan M) yang diselipkan di celah-celah alur ceritanya. Dalam
kisah itu diungkapkan berbagai bencana yang menimpa pihak- pihak yang batil.
Pada akhir kisah, Allah swt. menampakkan yang haq sebagai pihak yang menang,
atau membinasakan kebatilan bersama para penganutnya. Dalam alur cerita dan
alur penalaran yang sistematis dan logis, pengisyaratan dan kecintaan akan
kepahlawanan (sugesti), serta motif fitriah untuk mencintai kekuatan dan meniru
orang-orang benar dan kuat saling mendukung. Semua faktor ini (di samping
pengulangan yang berkali-kali) saling menopang dan menguatkan. Dalam al-
Quran memang banyak peristiwa atau kisah yang diungkapkan berulang-ulang,
sehingga secara keseluruhannya kisah-kisah tersebut merupakan semacam alat
atau metoda pendidikan yang melahirkan pandangan ketuhanan tentang hidup,
aqidah dan hari akhir, di samping memperkenalkan pula berbagai aspek syariat
Ilaiyah secara keseluruhan. Penyajian berbagai kisah seperti itu secara berulang-
ulang merupakan aUt atau metoda pendidikan dalam rangka menggugah perasaan
ketuhanan seperti cinta karena Allah, benci terhadap kekufuran, melindungi
Agama Islam, berjuang di sisi Allah dan bernaung di bawah panji-Nya; serta
membuat manusia berperilaku turus sesuai dengan syariat Allah serta
merealisasikan pergaulan hidup yang sesuai dengan perintah-perintah-Nya.
Dengan demikian, kisah Qurani meresap ke dalam jiwa anak mewarnainya dengan
pendidikan ketuhanan dengan berbagai aspeknya: iknu, amal dan aqidah.
2; Tujuan-Tujuan Kisah Qurani
Kisah Qurani bukanlah karya seni yang tanpa tujuan, melainkan
merupakan salah satu di antara sekian banyak metoda Qurani untuk menuntun dan
mewujudkan tujuan ke&gamaan- ketuhanannya dan salah satu cara untuk
menyampaikan dan mengokohkan dawah Islamiyah.
Disamping tujuan pendidikan religius dan ketuhanan itu, gaya
penyampaian Qurani mengandung nilai estetis. Di sini kita temukan salah satu
keistimewaan fungsi kisah-kisah yang terkandung dalam al-Quran. Seperti kita
ketahui kisah yang mengandung nilai sastra yang tinggi, memungkinkan untuk
lebih menembus dan menggugah domain afektif yang berbobot ketuhanan.
Berikut ini disajikan beberapa tujuan kisah Qurani sehingga pendidik
dapat menangkapnya dengan jelas. Pendidik kemudian meminta tanggapan
tentang tujuan ini kepada para pelajar sambil mengarahkan mereka, sehingga
mereka mampu menyingkap dan memahami serta meresapkannya ke dalam jiwa,
menggugah penghayatannya serta merealisasikannya dalam peilaku mereka
sehari-hari. Tujuan-tujuan yang paling penting ialah:
Pertama: mengungkapkan kemantapan wahyu dan risalah, dan
mewujudkan rasa puas dalam menerima wahyu Muhmumnd saw Nabi yang
ummi, tidak dapat membaca, dan tidak pula mendengarkan berita-berita yahudi
dan nasrani telah menyampaikan kisah-kisah ini kepada kaumnya dari firman
Allah. Sebagian kisah ku disampaikan secara tuna dan mendalam, sehingga tidak
ada seorang berakal pun yang meragukan bahwa ia adalah wahyu Allah dan
bahwa Muhammad menyampaikan risalah Rabb-Nya. Al-Quran telah menyatakan
tujuan ini pada permulaan atau akhir sebagian kisah Pada awal surat Yusuf
ditegaskan:
Sesungguhnya kami menurunkannya berupa al-Quran dengan berbahasa
arab agar kalian memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling
baik dengan mewahyukan al-Quran ini kepadamu. Dan sesungguhnya kamu
(sebelum Kami mewahyukannya) termasuk orang-orang yang belum
mengetahui. (Q.S. 12 Yusuf: 2-3)
Dan dalam surat Hud setelah kisah Nuh diceritakan:
itu adalah diantara berita-berita penting tentang yang gaib yang kami
wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak
(pula) kaummu sebelum ini . . . (Q.S. 11 Hud: 49)
Kedua, menjelaskan bahwa secara keseluruhannya ad-Din adalah dari
Allah.
Ketiga: menjelaskan bahwa Allah menolong dan mengasihi para Rasul
beserta orang-orang yang beriman, dan menyelamatkan mereka dari berbagai
bencana sejak masa Adam dan Nuh hingga masa Muhammad saw. Kisah Qurani
itu juga menjelaskan, bahwa kaum Muminin secara keseluruhannya adalah umat
yang satu dan Allah Yang Maha Suci adalah Rabb mereka semua. .Banyak kisah
para Nabi disajikan dengan singkat secara bersamaan di dalam satu surat dengan
suatu cara khusus untuk menguatkan hakikat kesatuan umat Mumin itu. Seperti
di dalam surat al-Anbiya, di sana diceritakan kisah Musa dan Harun, kemudian
kisah Ibrahim dan Luth secara singkat serta bagaimana Allah menyelamatkan
mereka dan membinasakan kaum mereka, kemudian kisah Nuh, sekilas cerita
tentang Daud dan Sulaiman serta nikmat Allah yang diberikan kepada mereka
berdua, dan kisah Ayub ketika diselamatkan Allah dari marabahaya. Diungkapkan
juga kisah tentang Ismail, Idris dan Dzulkifli yang semuanya termasuk orang-
orang yang sabar dan shaleh. Selanjutnya Allah bercerita tentang Dzun Nun
(Yunus) ketika pergi dalam keadaan marah lalu ditelan ikan paus, sehingga di
dalam tempat yang sangat gelap ia berdoa, Tidak ada Tuhan selain Engkau.
Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang
dhalim (Q.S. 21 al-Anbiya: 87). Allah Taala berfirman:
Maka Kami telah memperkenankan doanya dan me-
nyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami
selamatkan orang-orang yang beriman. (Q.S. 21 al-Anbiya: 88)
Kemudian berfirman:
"Dan (ingatlah kisah) Zakariya tatkala ia menyeru Rabb- Nya: Ya
Rabbi, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang dai dan
Engkaulah Waris Yang Paling Baik (Q.S. 21 al-Anbiya: 89)
"Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan
kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera
dalam (mengejakannyan) perbuatan- perbuatan yang baik dan
mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan
mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.
(Q.S. 21 al-Anbiya: 90)
Allah menutup kisah silsilah para Nabi ini dengan berita tentang Maryam
dan putranya, Isa a.s.:
Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara
kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuhnya) ruh dari
Kami, dan Kami jadikan dia Serta anaknya tanda (kekuasaan
Allah) yang besar bagi semesta alam. "
(Q.S. 21 al-Anbiya: 91)
Selanjutnya Allah berfirman langsung kepada seluruh Nabi dan Rasul
beserta para pengikut mereka dengan firman-Nya:
"Sesungguhnya (Agama Tauhid) ini adalah Agama semua, Agama
yang satu dan Aku adalah Rabb kalian. Maka beribadahlah
kepada-Ku." (Q.S. 21 al-Anbiya: 92)
Ayat ini mengikrarkan tujuan asasi dari penyajian kisah-kisah tersebut
yang panjang ini, yaitu bahwa seluruh Nabi memeluk satu Agama, tunduk kepada
satu Rabb, hanya beribadah kepada- Nya, dan tidak menyekutukan sesuatu pun
dengan-Nya.
Adapun penyajian kisah masing-masing Nabi secara khusus,
menyingkapkan kepada kita betapa Allah telah menguatkan kedudukan Nabi-nabi
itu, menolongnya dan menyelamatkannya dari bencana yang menimpanya, atau
kesulitan yang hampir ia terjerumus ke dalamnya. Kita simak, misalnya betapa
Allah menyelamatkan Dzun Nun (Yunus), memperkenankan doa Zakaria,
menyelamatkan Ibrahim dari api yang hampir membakarnya, dan selalu memberi
nikmat kepada para Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman apabila mereka
bersabar dan benar, seperti memberi nikmat kemenangan kepada Daud dan nikmat
kerajaan kepada Sulaiman, sehingga semuanya bersyukur kepada Rabb mereka.
Keempat: menguatkan kedudukan kaum Muminin, menghibur mereka
dari kesedihan dan musibah yang menimpa, meneguhkan pendirian Rasulullah
dan umat yang mengikutinya, membujuk jiwa orang-orang yang diseru al-Quran
supaya beriman dan menerangkan bahwa jika mereka tidak beriman, tidak
mustahil akan binasa. Tujuan penyajian kisah itu juga memberi pelajarandan
peringatan kepada kaum Muminin. Makna ini telah dijelaskan di dalam al-Quran
dengan firman Allah Taala:
dan semua kisah-kisah dari Rasul Kami ceritakan
kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan
hatimu. Dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran
serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang
beriman. (Q.S. 11 Hud: 120)
Didalam surat Al-Ankabut disajikan sepintas kilas kisah tentang masing-
masing Nabi, yang diakhiri dengan adzab yang ditimpakan kepada orang-orang
berdosa dari kaumnya. Seluruh kisah yang disajikan itu diakhiri dengan firman
Allah Taala:
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa karena dosanya. Maka di
antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di
antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara
mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang
Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka,
akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Q.S. 29 al-
Ankabut: 40)
Adapun kewajiban pendidik sehubungan dengan penyajian kisah-kisah
Qurani itu adalah menemukan dan menunjukkan inti ajaran dan peringatan yang
tersirat dalam setiap kisah. Mereka berkewajiban mendiskusikannya dengan para
pelajar dalam bentuk
dialog yang menuntun mereka ke arah pemahaman akan alur dan
kandungan makna kisah tersebut, sehingga mereka menangkap kesan dan pesan
kisah itu dan tergugah hatinya untuk mengamalkan tuntunan dan tuntutannya
dalam perilaku sehari-hari.
Kelima, tujuan lain dari kisah di dalam pendidikan Islam adalah
memperingatkan anak-anak Adam kepada bahaya penyesatan oleh setan (Q.S. 7:
25, 26, 30) dan memperlihatkan permusuhan yang abadi antara setan dengan
mereka sejak nenek moyang mereka hingga bangkitnya hari kiamat.
Mempertunjukkan permusuhan ini melalui kisah tampak lebih menakjubkan, lebih
kuat. Cara ini dapat mengundang mereka lebih tanggap dan lebih peka terhadap
setiap bisikan iblis yang mengajak kepada kejahatan. Karena topik pertentangan
manusia dengan syetan ini merupakan topik yang abadi, maka kisah Adam sering
diulang di dalam banyak tempat dalam al-Quran. Tampilnya kisah ini secara
berulang-ulang dalam al-Quran merupakan isyarat bagi para pendidik untuk tidak
bosan-bosan mengulang kembali materi ini dalam rangka menuntun para pelajar
pada setiap kesempatan yang layak untuk bersikap berwaspada terhadap
penyesatan setan.
Ke-enam: tujuan Lainnya dari kisah-kisah Qurani yang mengandung nilai
edukatif ini adalah menerangkan kekuasaan Allah Taala dengan keterangan yang
mengundang rasa takut kepada Allah, dalam rangka mendidik perasaan khusyu,
tunduk, patuh dan jiwa ketuhanan lainnya.
Sebagai contoh, kisah tentang orang yang dimatikan oleh Allah selama
seratus tahun, lalu dibangkitkan-Nya kembali (Q.S. 2: 259), kisah penciptaan
Adam (QJS. 2: 33-37; 3: 59), dan kisah Ibrahim bersama burung yang kembali
kepadanya setelah bagian- bagiannya diletakkan di setiap bukit. Allah Taala
berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Rabbi,
perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan
orang-orang mati. Allah berfirman: Apakah kamu belum
percaya ? Ibrahim menjawab: 'Saya telah percaya, akan tetapi
agar bertambah mantap hati saya." Allah berfirman: (Kalau
demikian) ambillah empat ekor burung, lalu jinak- kardah burung-
burung itu kepadamu, kemudian letakkanlah tiap-tiap seekor
daripadanya di atas tiap-tiap bukit. Sesudah itu penggila h dia,
niscaya dia akan datang kepadamu dengan segera. Dan
ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S.
2 al-Baqarah: 260)
3; Kisah-Kisah Nabawi
Ditinjau dari segi kepentingan dan makna khas pedagogisnya, kisah-kisah
Nabawi tidak berbeda dengan kisah Qurani. Akan tetapi dttmj.au dari segi
tujuannya, ada kalanya kita di dalamnya menemukan rincian dan pengkhususan.
Karena di samping mempunyai tujuan pendidikan yang pokok, yang juga kita
lihat dalam kisah-kisah Qurani, kisah-kisah Nabawi ini mempunyai "Tujuan
pendidikan tak lengkap" yang menyangkut aspek- aspek tertentu dari kehidupan
susila. Sebagai contoh, penyusun sajikan kisah berikut ini:
a; Menjelaskan pentingnya ikhlas beramal shaleh karena Allah dan
bertawaasul melalui amal shalih kepada Allah agar melapangkan berbagai
kemelut.
Abdullah ibnu *Umar ra. telah berkata: "Aku pernah mendengar
Rasulullah saw. bersabda: Terjadi pada zaman dahulu sebelum kalian, tiga orang
berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam dalam sebuah gua. Mereka memasuki
gua itu dan tiba-tiba ketika mereka sedang dalam gua, jatuh sebuah batu besar dari
atas bukit dan menyumbat pintu gua tempat mereka berlindung, hingga mereka
tidak dapat keluar. Maka berkatalah mereka: Sungguh tiada suatu yang dapat
menyelamatkan kita semua dari bahaya ini kecuali jika kita memohon kepada
Allah dengan perantaraan (washilah) amal-amal saleh kita. Kemudian seorang
dari mereka berdoa: Ya Allah, dahulu saya mempunyai orang tua, dan saya biasa
tidak: memberi minuman susu pada seorang pun sebelum mereka berdua, baik
pada keluarga atau hamba sahaya. Pada suatu hari aku datang terlambat karena
mencari dedaunan untuk ternak (menggembala ternak), hingga aku tidak dapat
kembali kepada keduanya kecuali setelah malam hari dan orang tuaku telah tidur.
Sesampainya di rumah aku lanpung memerah susu untuk keduanya, tetapi
kujumpai mereka berdua telah tidur dengan nyenyaknya. Aku segan mengganggu
tidur mereka, dan aku pun tidak memberikan minuman susu kepada siapa pun
sebelum orang tuaku, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Majka aku
menunggu keduanya sampai bangun, sedangkan minumannya tetap berada di
tanganku hingp terbit fajar. Tatkala mereka berdua bangun Langsung kuberikan
kepadanya minuman itu, mereka segera meminumnya, padahal semalam suntuk
anak-anakku merengek-rengek minta susu di dekat kakiku. Ya Allah, jika aku
berbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridlaan-Mu, kumohon Engkau
melepaskan kami dari derita ini'. Maka bergeserlah batu besar itu, hanya saja
mereka masih belum dapat keluar darinya. Kemudian orang kedua berdoa: Ya
Allah, dahulu aku mempunyai saudara misan perempuan, la adalah satu-satunya
wanita yang kucintai, dan aku ingin sekali menidurinya, hanya saja ia tidak mau.
Hingga pada suatu ketika ia mengalami kelaparan paceklik, lalu ia datang
meminta pertolongan dariku. Aku bersedia memberinya sebanyak 120 dinar,
dengan syarat agar la mempersilakan diniku menidurinya. Karena terdesak ia
setuju, dan tatkala aku telah menguasainya, ia berkata: Aku tidak
memperkenankan engkau membuka cincin (meniduri), kecuali dengan jalan yang
hak (melalui nikah). Akhirnya aku merasa berdosa hingga tidak mau
menzinahinya, lalu segera aku pergi, dan emas yang telah aku berikan kepadanya
kutinggalkan untuknya. Ya Allah, jika aku berbuat demikian itu benar-benar
karena mengharapkan ridla-Mu, maka kumohon sudilah Engkau melepaskan kami
dari derita ini. Batu besar itu bergeser, hanya saja mereka masih belum dapat
keluar darinya. Orang ketiga berdoa: Ya Allah, aku pernah mengupah para
pekerja, dan telah kuberikan upah mereka sepantasnya kecuali hanya satu orang,
karena ia pergi begitu saja setelah pekerjaan selesai tanpa permisi. Kemudian
upahnya kujadikan sebagai modal hingga merupakan suatu kekayaan. Maka pada
suatu hari orang itu datang kepadaku dan berkata: Hai hamba Allah, bayarlah
sekarang upahku tempo dulu. Lalu aku berkata kepadanya: Semua yang engkau
lihat itu, yaitu berupa ternak unta, sapi dan kambing serta budak-budak belian
merupakan upahmu. Orang itu berkata: Hai hamba Allah, engkau jangan
mengolok-olok diriku. Aku berkata kepadanya: 'Sungguh aku tidak berolok-olok
kepadamu, silahkan kau ambil semuanya. Lalu orang itu menggiring semuanya
tanpa meninggalkan sedikit pun. Ya Allah, jika berbuat demikian itu benar-benar
karena mengharapkan ridla-Mu, kumohon sudilah engkau melepaskan kami dari
penjara ini. Akhirnya batu besar itu bergeser Lagi dan terbukalah pintu gua itu
hingga mereka dapat berjalan keluar". (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Beberapa keistimewaan kisah Nabawi:
Dari kisah ini, kita dapatkan bahwa kisah-kisah Nabawi mempunyai
beberapa keistimewaan:
Pertama, gaya bahasanya sederhana, terinci dan jelas, sehingga cocok bagi
anak-anak dan orang-orang dewasa, mudah difahami dan mudah diterima secara
sederhana.
Kedua, sebagian lafadh dan ungkapannya diulang-ulang untuk lebih
memfokus pada tujuan pembicaraan atau kisah. Misalnya pengulangan
pengucapan ketiga pelaku kisah itu yang berbunyi: ,Ya Allah, jika hamba berbuat
yang demikian itu karena mengharapkan ridla-Mu, maka lapangkanlah kesusahan
dari kami.
Ketiga, materinya hidup, menyentuh jiwa dan menarik hati. Demikianlah
kita akan melihat bahwa setiap kisah Nabawi mempunyai materi yang baru,
metoda yang menarik dan orientasi yang berbeda dengan kisah-kisah lainnya.
b; Tujuan tak-lengkap" kedua adalah menganjurkan supaya bersedekah dan
mensyukuri nikmat Allah.
Berkenaan dengan tujuan tak lengkap ini, terdapat beberapa kisah Nabawi. Di
antaranya adalah kisah orang botak, orang ber- penyakit kusta dan orang buta.
Allah mengutus Malaikat kepada masing-masing orang itu. Ia berjumpa dengan
mereka di jalan, lalu mengusapnya, sehingga Allah menyembuhkannya dan
memberinya harta. Kemudian Allah mengutus Malaikat yang itu juga untuk
meminta sedekah kepada masing-masing orang itu. Orang botak dan berpenyakit
kusta menolak untuk bersedekah, bahkan mengingkari nikmat Allah sewaktu
Malaikat menceritakannya kepada mereka, sehingga Allah melenyapkan harta itu.
Berbeda dengan orang buta, ia ridla dan mengakui nikmat Allah. Ia berkata
kepada malaikat yang meminta (sedekah): "Ambillah sekehendakmu". Maka
Aliah mengekalkan nikmat itu baginya. (Kisah ini terdapat di dalam Hadits Abu
Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muaiku, hadits ke-66 dalam
"Riyadhush Shalihin, p. 22, Syir- katusy Syamarli, Iskandaria).
Kisah lainnya adalah kisah awan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah rju
bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sewaktu berada di sebuah padang tandus,
seorang laki-laki mendengar suara di balik awan, yang berkata: "Siramlah taman
si Fulan. Awan itu membelok lalu mencurahkan airnya ke sebuah padang pasir
yang gersang dan panas. Maka salah satu saluran airnya menampung seluruh air
itu, dan air terus berjatuhan. Tiba-tiba seorang laki-laki lain menyalurkan air
dengan cangkulnya. Laki-laki pertama bertanya kepada Laki-laki kedua: "Wahai
hamba Allah, siapa nama anda?" Jawabnya: "Fulan", yaitu sebuah nama yang
didengarnya di balik awan tadi. Kemudian laki-laki kedua bertanya: "Wahai
hamba Allah mengapa anda menanyakan namaku?" Laki-laki pertama menjawab,
"Aku mendengar di balik awan ada yang berkata: 'Siramlah taman si Fulan.
Sungguh itu adalah nama anda. Lalu apa yang akan anda perbuat terhadapnya?"
Jawabnya: "Jika itu yang anda katakan, maka aku akan melihat apa yang keluar
darinya, lalu aku akan bersedekah dengan sepertiganya, aku dan keluargaku akan
memakan sepertiganya, sedangkan sepertiga lainnya aku kembalikan kepadanya.
(Hit. Muslim di dalam At-Targhib wat Tarhib, vol. I, pp. 261-262).
c; Kisah riwayat Nabawi
Pengkaji dapat membedakan antara ketiga bentuk kisah historis Rasul:
Pertama: sebagian kisah-kisah riwayat Nabawi merupakan pelengkap,
penjelas dan penjabar apa yang terdapat di dalam al-Quran, yang merujuk kepada
kisah-kisah yang disajikan dalam al-Qurmn secara ringkas itu. Kisah riwayat
Nabi-nabi itu membentangkan secara hias alur cerita tersebut serta kandungan
maksud dan makna, baik yang tersurat maupun yang tersirat di dalamnya. Sebagai
contoh, kisah Ismail dan Ibrahim as. tatkala keduanya membina landasan
Baitullah, dan saat Ibrahim meninggalkan istrinya beserta anaknya kemudian
Allah memberi nikmat kepada mereka berupa sumur Zam-zam. Imam Bukhari
meriwayatkan kisah ini dari Rasulullah saw. hampir sebanyak tiga lembar.
Demikian pula kisah Khidir dan Musa as. Kisah- kisah Nabawi semacam ini
tersebar luas di dalam kitab-kitab Hadits dan sunnah, terutama dalam bab-bab
tafsir.
Kedua: sebagian kisah itu seluruhnya tidak memperkatakan Rasulullah
saw. melainkan merupakan kisah yang mengandung pelajaran, dan dalam
penyajiannya terdapat faidah yang agung. Kisah-kisah tersebut menyangkut aneka
peristiwa yang menonjol dari kehidupan sebagian shahabat pada masa Rasulullah
saw. yang sangat agung, dan adakalanya peristiwa-peristiwa itu dicatat dalam al-
Quran. Sebagai contoh:
1; Kisah tiga orang shahabat yang meninggalkan jihad, kemudian Rasul dan
para shahabat mengucilkan mereka hingga Allah menurunkan pernyataan
yang menyatakan diterimanya tobat mereka, sebagaimana termuat di
dalam al-Quran (Q.S. 9 at-Taubah: 118-119).
2; Kisah dusta yang dilontarkan kaum munafik kepada Aisyah rji. Pada
mulanya tuduhan mereka dibenarkan oleh Rasulullah saw. namun
kemudian Allah menurunkan pernyataan bebasnya Aisyah dari tuduhan
itu di dalam al-Quran (Q.S. 24 an-Nur: 22-23).
Kisah wanita yang dizihar oleh suaminya lalu pergi mengadu kepada Allah
hingga turun firman-Nya:
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita
yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya . . .
(Q.S. 58 al Mujadalah: 1)
Kisah-kisah ini juga kita dapatkan di dalam kitab-kitab tafsir dan ashabun
nuzul.
Ketiga; peristiwa-peristiwa bersejarah dan peperangan Rasulullah saw.
adalah kisah-kisah yang bersinambungan dan saling berkait aman bagian yang
satu dengan bagian lainnya. Hal inida- Pat dilihat dalam berbagai kitab Tarikh.
Setiap kurikulum sebenarnya perlu memuat minimal satu jam pelajaran atau lebih
di dalam satu minggu, untuk khusus mengajarkan Tarikh Nabi. Sebab di dalamnya
terdapat pelajaran, keteladanan, fiqih Nabawi, penjelasan tentang asbabun nuzul
dan tarikh tasyri Islami. Di samping itu, kehidupan Rasulullah saw. mengandung
keteladanan, sehingga generasi Muslim kiranya dapat meneladani sifat-sifatnya
yang terpuji.
C; Pendidikan Melalui Perumpamaan

1; Makna Perumpamaan (Amtsal)


Sayyid Rasyid Ridla berkomentar tentang makna firman Allah Taala:
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api
(Q.S. 2 al-Baqarah: 17)
di dalam kitab 'Tafsir al-Quranul Hakim yang dikenal dengan nama Tafsir al-
Mannar): "Al-Matsalu, al-Mitslu dan al-Matsil seperti asy-Syabahu, asy-Syibhu
dan asy-Syabih dalam hal timbangan (wazan) dan maknanya di dalam jumlah
(kalimat). Ia berasal dari 'mattula asy-syai-u mutsulanyang berarti 'sesuatu berdiri
dalam keadaan nampak dan timbul. Isim failnya adalah matsilun. Perumpamaan
(matsal) sesuatu adalah sifat sesuatu itu yang menjelaskannya dan menyingkap
hakikatnya, atau apa yang dimaksudnya untuk dijelaskannya, baik naat-nya
(sifat) maupun ahwal-nya. Kadang-kadang pengumpamaan sesuatu, yakni
penggambarannya dan penyingkapan hakikatnya dengan jalan majaz (ibarat) atau
haqiqah (keadaan yang sungguh), dilakukan dengan mentasybihkannya
(penggambarannya yang serupa) kadangkala pengumpamaan yang paling baligh
(mencapai sasarannya) adalah pengumpamaan makna-makna yang rasional
dengan gambaran indrai dan sebaliknya. Sebagai contoh adalah perumpamaan-
penanpamaan yang telah dibuat.
Kemudian dalam menafsirkan firman Allah Taala:
"Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan
berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu . . ..
(Q.S. 2 al-Baqarah: 26)
Sayyid Rasyid Ridla mengatakan :
Dharbul) (matsal (pembuatan perumpamaan) berarti menyentuhkan
(memberikan) dan menjelaskan perumpamaan. Dalam suatu pembicaraan,
untuk menjelaskan sesuatu hal, si pembicara menyebutkan sesuatu yang
sesuai dan menyerupai persoalan tersebut sambil menyingkapkan kebaikan
ataupun keburukannya yang tersembunyi. Penggunaan kata dharb dalam
hal ini dimaksudkan untuk mempengaruhi dan menyentuhkan kesan,
seakan-akan si pembuat perumpamaan mengetuk telinga si pendengar
dengannya, sehingga pengaruhnya menembus qalbunya sampai ke dalam
lubuk jiwanya. Akan tetapi di dalam struktur pembicaraan (dalam bahasa
Arab) terjadi hal yang sebaliknya, di mana matsal yang dibuat itulah yang
diketuk.
Demikianlah dikatakan oleh al-Ustadz (Syaikh Muhammad Abduh) kata Sayyid
Rasyid Ridla. Selanjutnya ia berkata:
Apabila yang dimaksud adalah penanaman pengaruh, maka agsr
pembicaraan menjadi baligh (mencapai sasarannya), hendaknya sesuatu
yang dikehendaki untuk dihinakan dan dimici diumpamakan dengan
perkara-perkara yang menurut adat telah dihinakan dan dibenci oleh jiwa.
Oleh sebab ku, apa yang hendak dihinakan hendaknya diumpamakan
dengan perkara-perkara yang kehinaannya telah diakui oleh adat, seperti
mengumpamakan sembahan dan yang dianggap sebagai penolong oleh kaum
musyrikin dengan sarang laba-laba, sebagaimana firman Allah Taala:
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung- pelindung
selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan
sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau
mereka mengetahui. (Q.S. 29 al-Ankabut: 41)
Bagi orang berakal, hal seperti ini dapat diterima dengan jelas. Akan tetapi
sebagian orang yahudi, orang munafik dan musyrik tidak menangkap isyarat dari
perumpamaan tersebut dalam al-Quran itu sebagai sesuatu yang tercela. Sehingga
mereka berlagak pilon dengan kata-kata mereka, seperti: 'Tidaklah pantas Allah
membuat perumpamaan-perumpamaan ini (seperti lalat dan laba-laba); dan
perkataan mereka lainnya: "Perumpamaan-perumpamaan apakah yang dibuat
ini? Oleh karena itu, Allah membantah mereka dengan firman-Nya:
Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk
atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka
mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka, tetapi
mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini
untuk perumpamaan. . . ?" (Q.S. 2 al-Baqarah: 26)
Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan, bahwa perumpama-an-
perumpamaan yang terdapat di dalam al-Quran ataupun di dalam bahasa,
mempunyai banyak makna, antara lain:
a; Menyerupakan sesuatu yang kebaikan atau keburukannya dimaksudkan
kejelasannya dengan memberikan tamsil dengan sesuatu lainnya yang
kebaikan atau kehinaannya telah diketahui secara umum, seperti
menyerupakan orang-orang musyrik yang menjadikan pelindung-
pelindung selain Allah dengan laba-laba yang membuat rumahnya.
b; Mengungkapkan sesuatu keadaan dengan dikaitkan kepada keadaan lain
yang memiliki titik kesamaan untuk menandaskan perbedaan antara
keduanya, seperti firman Allah Taala pada awal surat Muhammad:
Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari
jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka. Dan
orang-orang yang beriman (kepada Allah) dam mengerjakan amal-
amal yang shaleh serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan
kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Rabb mereka, Allah
menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan
mereka. Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang yang
kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang
beriman mengikuti yang hak dari Rabb mereka. Demikianlah Allah
membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.
(Q.S. 47 Muhammad: 1-3)
Dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan ihwal mereka, dengan
menunjukkan perbedaan yang tegas dl antara kedua golongan itu; orang yang
kafir akan sia-sialah amalnya, sedangkan orang yang beriman kepada Allah akan
dihapuskan dari kesalahan-kesalahannya). Padahal di antara kedua kaum itu
terdapat titik persamaan yaitu bahwa masing-masing kaum adalah manusia yang
juga diberi akal oleh Allah dan kepada mereka diutus seorang Rasul. Namun
meskipun demikian terdapat perbedaan yang besar antara keduanya dari segi
akibat perbuatannya, karena masing-masing menempuh jalan yang berlainan dan
mengambil cara yang berbeda dengan yang diambil pihak lain. Demikianlah
makna perumpamaan tersebut di atas.
c; Menjelaskan kemustahilan adanya keserupaan antara dua perkara, yang
oleh kaum musyrikin dipandang serupa. Sebagai contoh, dalam al-
Quran ditemukan tamsil yang menanuaskan perbedaan antara sembahan
kaum musyrikin dengan al-Khaliq, dengan menandaskan bahwa tuhan-
tuhan kaum musyrikin tidak berakal, apatah lagi bila dianggap
sebanding dengan al-Khaliq, lalu disembah bersama dengan
menyembah al-Khaliq. Oleh karena itu, Allah membuat beberapa
perumpamaan bagi tuhan-tuhan itu sebagai berikut:
Hai manusia, telah dibuatkan perumpamaan, maka
dengarkanlah oleh kalian perumpamaan itu. Sesungguhnya segala
yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan
seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan
jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tidaklah mereka dapat
merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah
dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (Q.S 22 al-Hajj: 73)
Bagaimana mungkin mereka menyekutukan penyembahan terhadap Allah,
pencipta segala sesuatu, dengan tuhan-tuhan yang teramat lemah ini?!
2; Beberapa Tujuan Pedagogis Perumpamaan Qurani dan Nabawi
Perumpamaan Qurani dan Nabawi bukan hanya sekedar karya seni yang
dimaksudkan untuk memberikan keindahan kesusastraan semata, melainkan
melainkan mempunyai tujuan psikologis pedagogis. Maknanya serta tujuannya
yang luhur tersingkap dengan jalan menarik konklusi atau kesimpulan dari
perumpamaan-perumpamaan itu. Di samping itu dengan penarikan kesimpulan
tersebut akan tersingkap pula mujizat keindahan susastera serta cara
penyampaian pesan yang relevan.
Adapun tujuan pedagogis (tak lengkap) yang paling penting, yang dapat kka
tarik dari berbagai perumpamaan itu ialah:
a; Mendekatkan makna kepada pemahaman. Orang telah biasa
mengibaratkan perkara yang abstrak dengan perkara yang konto ir, agar
mereka dapat memahami kandungan makna yang abstrak dan gaib itu.
Betapa jelasnya kata-kata hikmah Nabawiyah, tafkah Rasulullah saw.
berlalu di sebuah pasar dan melihat orang orang sedang memperebutkan
berbagai keuntungan dan kepentingan yang semata-mata bersifat duniawi,
sehingga mengundang belku untuk menjelaskan kerendahan nilai dunia itu
kepada mereka.
Dallam Hadits Jabir r.a. diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. berlalu di sebuah
pasar, sedangkan orang-orang berada di samping kanan dan kiri beliau. Beliau
melewati seekor anak kambing bertelinga kecil yang telah mati, lalu diangkatnya
telinga anak kambingku seraya bertanya: "Siapakah di antara kalian yang ingin
memiliki anak kambing ini dengan membayar satu dirham? Mereka menjawab:
"Kami tidak sudi membeli anak kambing itu dengan membayarkan sesuatu. Apa
pula manfaat yang akan kami ambil darinya? Beliau bertanya lagi: "Atau
barangkali kalian ingin memilikinya dengan gratis?" Mereka menjawab: "Demi
Allah, sekalipun anak kambing itu masih hidup, tak ingin aku memilikinya,
karena cacat yang ada pada telinganya yang begitu kecil Apalagi anak kambing itu
telah mati?! Maka beliau bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya bagi Allah dunia
ini lebih hina dari pada anak kambing ini bagi kalian. (H.R. Muslim).
Demikianlah, Rasulullah saw. mengumpamakan nilai dunia di sisi Allah
dengan nilai anak kambing yang mati ini, kepada para shahabat yang menyertai
beliau.
Di sini, Rasulullah saw. telah menggunakan beberapa metoda pendidikan:
Pertama, dengan menggunakan metoda hiwar khithabi tanbihi (percakapan
yang bersifat memperingatkan).
Kedua, dengan menggunakan alat peraga sebagai alat bantu menangkap dan
memahami persoalannya dengan jelas.
Ketiga, dengan membuat perumpamaan bagi mereka di mana Rasulullah saw.
mengumpamakan kehinaan dunia dalam pandangan Allah, dengan kehinaan anak
kambing ini.
Di antara perumpamaan Nabawi yang disajikan dengan metoda hiwar khithabi
juga) adalah Hadits berikut ini:
Diriwayatkan melalui Abu Hurairah, bahwa ia mendengar Rasulullah
saw. bersabda: "Bagaimana pendapat kalian, sekiranya ada sebuah
sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, lalu dia mandi dari
air itu setiap hari sebanyak lima kali: apakah akan ada dakinya yang
tersisa 1' Mereka menjawab: Tidak akan ada sedikit pun dari daki itu
yang tersisa." Kemudian beliau bersabda:yang demikian itu seperti
shalat lima waktu yang Allah gunakan untuk menghapus kesalahan-
kesalahan. (H.R. Muttafaqalaih)
Berbeda dengan perumpamaan Nabawi, perumpamaan Qurani mempunyai
mu'jizat dan kefasihan yang teramat tinggi, perumpamaan Qurani tersebut
menunjukkan kesempurnaan dalam hal kejelasan dan menyampaikan maknanya
serta dalam mendekatkan kepada pemahaman. Sebagai contoh, penyusun
singkapkan makna yang tersirat dalam perumpamaan yang dijadikan Aliah bagi
kebenaran dan kebatilan:
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka
mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu
membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka
lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula)
buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan
(bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai
sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada
manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan. (Q.S. 13 ar-Radu: 17)
Yang batil pasti akan musnah-binasa seperti buih yang dibawa air bah,
meskipun yang batil itu pada suatu ketika nampak di atas yang haq, seperti halnya
buih yang terapung. Sedangkan yang haq paati akan tetap mengendap di lubuk
hati dan dimanfaatkan oleh orang yang beriman, sehingga membuahkan amal-
amal yang ahaleh; demikian pula air dan zat-zat lain yang menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan tetap berada di dalam bumi, lalu menghasilkan rerumputan,
tanaman, kurma dan anggur.
b; Tujuan pendidikan lain yang dapat kita tarik dari pelbagai perumpamaan
itu ialah: Merangsang kesan dan pesan yang berkaitan dengan makna yang
tersirat dalam perumpamaan tersebut, yang menggugah menumbuhkan
pelbagai perasaan ketuhanan. Hal ini diungkapkan oleh Syaikh
Muhammad Abduh sebagai berikut: Penggunaan kata dharb
dimaksudkan untuk mempengaruhi dan membangkitkan kesan, seakan-
akan si pembuat perumpamaan menyentik telinga pendengar dengannya,
sehingga pengaruh sentuhan itu meresap menembus qalbunya sampai ke
dalam lubuk jiwanya.
Pemilihan musyabbah bih (yang diserupakan dengannya) amat benar
pengaruhnya terhadap pembangkitan kesan dan pesan yang diharapkan. Pemilihan
perumpamaan laba-laba, umpamanya, dapat menimbulkan rasa jijik dan hina
terhadap orang-orang musyrik, serta mengungkapkan kelemahan akal dan
kehinaan pikiran mereka.
Pemilihan keledai sebagai perumpamaan bagi orang yang membara Kitab
Allah tetapi tidak mengamalkannya, membangkitkan rasa jijik terhadap mereka
dan menyingkapkan pula kehinaan mereka karena tidak menggunakan akalnya.
Coba simaklah firman Allah awt. berikut ini:
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada
mereka kitab Taurat, namun mereka tidak memikulnya (mereka
dibebani untuk mengamalkannya, tetapi tidak mengamalkan apa
yang ada di dalamnya) adalah bagaikan keledai yang membawa
kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum
yang menduttakan ayat- ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada kaum yang dhalim. (Q.S. 62 al-Jumah: 5)
Pada saat yang sama, pembangkitan berbagai peraaaan tersebut bertemu
dengan tiifibulnya perasaan senang terhadap kan- dungan makna keimanan yang
terdapat di dalam diri Mumin serta rasa mulia sebagai hamba Allah. Rasa senang
dan rasa diri mulia itu lahir karena orang Mumin menyadari bahwa ia akan
selamat dari bencana yang menimpa kaum musyrikin dan kafirin. Orang Mumin
pun menyadari pula bahwa mereka terhindar dari ihwai kaum musyrikin dan
kafirin berkat petunjuk yang diberikan Allah kepadanya. Kedua jenis
pembangkitan perasaan ini telah disatukan al-Quran di dalam firman Allah Taala
berikut ini:\
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian
menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-
nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang
yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia
tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada
tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia
benih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari
apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang kafir. Dan perumpamaan orang-orang
yang membelanjakan hartanya karena mencari keridlaan Allah
dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang
terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka
kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat
tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan
Allah Maha Melihat apa yang kalian perbuat. Apakah ada salah
seorang di antara kalian yang ingin mempunyai kebun kurma dan
anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai
dalam kebun itu segala macam buah- buahan, kemudian datanglah
masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang
masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang
mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian supaya kalian
memikirkannya. " (Q.S. 2 al-Baqarah: 264-266)
Perumpamaan Qurani yang agung ini membangkitkan dua macam
perasaan:
Pada ayat pertama dan terakhir, perumpamaan ini menggugah perasaan
takut rugi, karena amalnya akan sia-sia, serta kehilangan pahala, pada saat
manusia sangat membutuhkan buah dari amal usahanya di dunia, sebagaimana
orang lanjut usia yang sudah lemah, ia sangat membutuhkan hasil dari kebunnya.
Kandungan makna ayat-ayat ini ialah seruan agar orang menjauhkan diri dari
perbuatan riya yang dapat mendatangkan kerugian nyata.
Sedangkan ayat kedua membangkitkan perasaan senang menerima pahala
dari Allah, dan perasaan mulia dengan menerima kemurahan, karunia serta
nikmat-Nya. Pengulangan berkali-kali perumpamaan yang menggugah kedua
jenis perasaan tersebut merupakan alat pendidikan, sehubungan dengan
menggugah perasaan bersyukur dan tunduk kepada Allah, serta kesadaran akan
kekuasaan dan keagungan-Nya.
c; Tujuan pendidikan (terlengkap) yang lain lagi yang dapat ditarik dari kisah
Nabawi ialah: mendidik akal supaya berfikir benar dan menggunakan
qiyas (silogisme) yang logis dan sehat:
Sebagian besar perumpamaan mengandung qiyas yang muqaddamah (premis)nya
disebutkan dan menuntut akal supaya sampai kepada natijah (kesimpulan). Dalam
kebanyakan tempat, natijah tidak dijelaskan oleh al-Quran, tetapi hanya
diisyaratkan dan dibiarkan agar kekal menyingkapnya sendiri. Maka ketika Allah
membuat perumpamaan bagi yang haq dan yang batil, dia melukiskan al-
Musyabbah bih, yaitu: air, arus, buih apa yang dimanfaatkan oleh manusia lalu
tetap didalam bumi, dan apa yang hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya.
Setelah itu Allah hanya menunjuk sepintas kilas kepada natijahnya, yaitu:
Demikianlah Allah membuat perumpamaa-perumpamaan. Lalu Allah
mempersilahkan akal untuk menyingkapnya sendiri kandungan maknanya, yaitu
bahwa yang hak itu akan tetap ada, sedangkan yang batil akan hilang sebagai
sesuatu yang tidak ada harganya, seperti halnya buih akan hilang manakala arus
telah habis. Manusia akan merasa nikmat pula bila dapat menyingkap perbedaan
antara yang hak dengan yang batil serta hinanya kebatilan, sebagaimana
diungkapkan dalam ayat berikut ini:
Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali
tidak dapat menciptakan seekor lalat pun (Q.S. 22 al-Hajj: 73)
d; Perumpamaan-perumpamaan Qurani dan Nabawi merupakan motif yang
menggerakkan perasaan menghidupkan naluri yang selanjutnya
menggugah kehendak dan mendorongnya untuk melakukan amal yang
baik dan menjauhi segala kemungkaran. Dengan cara demikian
perumpamaan itu merupakan andil dalam alat pendidikan yang dapat
dimanfaatkan dalam mendidik manusia agar bertingkah laku baik, serta
menghindarkan diri dari kecenderungan berbuat jahat. Dengan demikian,
orang, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat akan
terjaga untuk hidup secara lurus, sehingga umat Islam yang mampu
menghisap inti sari yang tersirat dalam perumpamaan itu akan dapat
berjalan di atas jalannya sendiri. Ia akan mampu merealisasikan pola
budaya yang tinggi dalam rangka menciptakan ketenteraman dan keadilan
bagi manusia, serta melepaskan mereka dari segala belenggu khurafat dan
kedhaliman. Atas dasar ini hendaknya pendidik berusaha melaksanakan
pendidikan tingkah laku, kehendak yang baik, dan kecenderungan berbuat
baik. Hal ini dapat diupayakan dengan cara menyajikan perumpamaan
Qurani di dalam berbagai kondisi kehidupan dan kegiatan sekolah yang
relevan. Untuk maksud itu perlu ditarik kesimpulan dari berbagai
perumpamaan tersebut di atas untuk kemudian dituangkan dalam bentuk
perilaku yang baik dengan cara membangkitkan kehendak dan tekad para
pelajar, yang diarahkan kepada tingkah laku yang sesuai dengan tuntunan
dan ajaran yang tersirat dalam aneka perumpamaan al-Quran itu.
Perumpamaan Qurani dan Nabawi itu merupakan alat pendidikan (yang
bersifat retorik, emosional, dan rasional) yang efektif, kuat pengaruhnya,
mengandung makna yang agung serta banyak faidahnya.
Baik dalam al-Quran maupun dalam as-Sunnah terdapat puluhan
perumpamaan. Kiranya peneliti cukup membuka salah satu Mujam Mufahras
tentang ayat-ayat al-Quran pada bab Matsala guna memperoleh sumber bagi
berbagai perumpamaan (amtsal) dan tasybih yang menggugah rasa.