Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang di dunia, dan
mempunyai kekayaan alam yang sangat melimpah. Salah satu kekayaan alam tersebut
adalah tersedianya sumber-sumber energi di berbagai tempat di Indonesia, misalnya
energi listrik.
Tersedianya energi listrik dalam jumlah yang cukup dan dengan mutu yang
baik telah menjadi kunci perkembangan dan kemajuan bagi suatu Negara, bahkan
salah satu tolak ukur berkembang dan majunya suatu negara adalah jumlah energi
listrik yang dikonsumsi oleh negara itu sendiri.
Pada zaman yang semakin maju dan serba mutakhir seperti sekarang ini,
khususnya dalam lingkungan perindustrian dan perkembangan teknologi yang sangat
cepat, tentunya kebutuhan akan listrik mengalami peningkatan yang luar biasa. Maka
untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan peningkatan pada pembangkit listrik
yang telah ada, baik dalam peningkatan kapasitas produksi, pengelolaannya serta
teknologi. Dan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang pembangkit listrik
yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas pelayanan tersebut yaitu PT. PLN
(Persero) Wilayah SULSELRABAR Sektor Tello.
Salah satu masalah yang dihadapi oleh industri-industri yang berdomisili di
Indonesia saat ini adalah masih kurangnya output dari proses dunia pendidikan yang
betul-betul siap untuk terjun langsung dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang
telah didapatkan di bangku kuliah pada indusri yang bersangkutan, sehingga banyak
perusahaan yang terlebih dahulu melakukan masa pendidikan sekaligus masa
perkenalan untuk beberapa waktu kepada calon profesiaonal sebelum terlibat
langsung pada industri mereka.
Untuk mewujudkan maksud tersebut, setiap mahasiswa di Jurusan Teknik
Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin sebagai salah satu bagian dari sistem
pendidikan nasional yang turut serta mempersiapkan sumber daya manusia yang
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

profesional dengan kinerja tinggi diwajibkan untuk mengikuti kegiatan kerja praktek.
Pelaksanaan kerja praktek ini juga merupakan salah satu sarana untuk mengetahui
bagaimana aplikasi ilmu yang didapat di bangku perkuliahan dan penerapannya di
lapangan pekerjaan sehingga mahasiswa diharapkan dapat mempersiapkan diri
dengan berbagai macam pengalaman sebelum terjun ke dunia industri kelak.
1.2 Batasan Masalah
Begitu banyaknya ruang lingkup sistem pembangit tenaga listrik baik dari segi
sistemnya maupun dari segi klasifikasinya maka kami membatasi ruang lingkup
masalah mengingat keterbatasan waktu dan instrument pendukung serta kemampuan
penyusun, maka masalah yang ditinjau dalam kegiatan ini, yaitu :
Penggunaan Sistem Eksitasi dalam Pembangkitan Energi Listrik pada
PLTG GE 1 Tello
1.3 Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dan manfaat dari kegiatan praktek ini, yaitu :
1.3.1 Tujuan
a. Kerja praktek diharapkan dapat memberikan wawasan dan
pengetahuan mengenai situasi, kondisi kerja dan permasalahan yang
terdapat pada perusahaan dengan segala aspeknya. Serta mampu
secara optimal untuk menyampaikan aspek bahasan dalam bentuk
lisan dan tulisan.
b. Dengan kerja praktek diharapkan Mahasiswa dapat mengevaluasi dan
meningkatkan kemampuan praktisnya sehingga bisa diterapkan saat
memasuki dunia kerja dan menjadi SDM yang handal.
c. Penyusunan laporan kerja praktek ini bertujuan untuk mengetahui
sistem eksitasi pada PLTG GE 1 Tello.
1.3.2 Manfaat
a. Menambah pengetahuan tentang system pembangkitan energi yang
ada di industri.
b. Memberikan pemahaman yang berarti bagi mahasiswa dalam
menghadapi persoalan di lapangan.
1.4 Metodologi Penulisan

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Dalam mendapatkan data guna penyusunan laporan Kerja Praktek di PT. PLN
(PERSERO) wilayah SULSELRABAR Pembangkitan Tello unit PLTG/U kami
menggunakan metode penulisan sebagai berikut:
a. Pengamatan di Lapangan.
Pengamatan dimaksudkan untuk memperoleh data-data aktual yang
merupakan gambaran nyata yang terjadi pada PT. PLN Pembangkitan Tello dengan
jalan:
Observasi
Penyusun melakukan pengamatan secara langsung jalannya proses yang menjadi
tinjauan umum penulis.
Wawancara
Penyusun mendapatkan data yang diperlukan dengan melakukan wawancara
langsung dengan narasumber dalam hal ini karyawan perusahaan yang
memberikan penjelasan dan data yang berhubungan dengan objek penulisan
dalam laporan ini.
Partisipasi
Penyusun mencoba berpartisipasi dengan melibatkan diri secara langsung dalam
kegiatan - kegiatan yang berlangsung di bawah bimbingan pembimbing yang
sedang bekerja di lapangan.
b. Penelitian Kepustakaan

Penelitian kepustakaan ini merupakan penelitian untuk landasan teori dari


laporan ini dengan jalan membaca berbagai macam literatur baik yang bersumber dari
buku-buku ilmiah milik pribadi maupun yang bersumber dari arsip kepustakaan milik
perusahaan.

1.5 Sistematika Laporan KP

Laporan KP ini memiliki sistematika sebagai berikut :

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

BAB I : PENDAHULUAN
Pada BAB ini memuat Latar Belakang Kerja Praktek (KP). Batasan
Masalah, Tujuan dan Manfaat KP, Metodologi Penulisan serta Sistematika
Laporan KP

BAB II : TINJAUAN PERUSAHAAN


Pada BAB ini memuat tentang Gambaran Umum Perusahaan, Sejarah
Perusahaan, Struktur Organisasi, serta Ruang Lingkup/Bidang Industri.

BAB III : TINJAUAN UMUM MENGENAI PLTG/U


Pada BAB ini memuat tentang Struktur Organisasi PLTG/U, Uraian Beban
Kerja, Jenis Mesin pada PLTG, serta Uraian Kegiatan selama KP.

BAB IV : TINJAUAN PUSTAKA


Pada BAB ini memuat tentang Proses kelistrikan pada PLTG serta
komponen-komponenya.

BAB V : SISTEM EKSITASI GENERATOR SINKRON


Pada BAB ini memuat tentang sistem eksitasi secara umum, jenis-jenis
eksitasi, proses eksitasi pada pembangkitan listrik serta perangkat lain yang
mendukungnya.

BAB VI : PENUTUP
Pada BAB ini memuat kesimpulan dan saran dari laporan kerja praktek ini.

BAB II

TINJAUAN PERUSAHAAN

2.1 Gambaran Umum Perusahaan

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Perusahaan Listrik Negara atau yang sering disingkat PLN adalah sebuah
BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang mengurusi semua aspek kelistrikan yang
ada di Indonesia. Ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19,
ketika beberapa perusahaan Belanda mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk
keperluan sendiri. Pengusahaan tenaga listrik untuk kepentingan umum dimulai sejak
perusahaan swasta Balanda NV.NIGM memperluas usahanya di bidang tenaga listrik.
Perusahaan swasta NV.NIGM semula hanya bergerak di bidang gas. Kemudian
meluas dengan berdirinya perusahaan swasta lainnya.

Sebagai perusahaan yang memiliki cita untuk menjadi perusahaan yang


menyediakan pelayanan akan kebutuhan listrik untuk lebih lagi, perusahaan
senantiasa berpegang teguh pada visi dan misi untuk mencapainya.

Falsafah Perusahaan
Pembawa kecerahan dan kegairahan dalam kehidupan masyarakat yang
produktif.
Visi Perusahaan
Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang bertumbuh kembang Unggul
dan Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi Insani.
Misi Perusahaan
Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait,
berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan
pemegang saham.
Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat.
Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan
ekonomi.
Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.
Motto Perusahaan
Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik (Electricity for a Better Life).
Nilai-nilai Prusahaan
Saling Percaya (Mutual Trust)
Integritas (Integrity)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Peduli (Care)
Pembelajaran (Learner)

2.2 Sejarah Perusahaan

Kota Makassar mulai mengenal dan memanfaatkan energi listrik tenaga uap
pada tahun 1914 untuk pertama kali. Pembangkit listrik yang pertama di Makassar
menggunakan mesin uap yang dikelola oleh suatu lembaga yang disebut Electriciteit
Weizen dan berlokasi di pelabuhan Makassar. Kemudian pada tahun 1925 dibangun
PLTU (Pusat Listrik Tenaga Uap) dengan kapasitas 2 MW di tepi sungai Jeneberang
daerah Pandang-Pandang, Sungguminasa dan hanya mampu beroperasi hingga tahun
1957.

Pada tahun 1946, dibangun Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang
berlokasi di bekas lapangan sepak bola Bontoala yang dikelola N. V. Nederlands Gas
Electriciteit Maatschappy (N. V. NEGEM). Tahun 1949 seluruh pengelolaan
kelistrikan dialihkan ke N. V. Ovesseese Gas dan Electriciteit Gas dan Electriciteit
Maatschappy (N. V. OGEM). Kemudian pada tahun 1957 pengusahaan
ketenagalistrikan di kota Makassar dinasionalisasi oleh Pemerintah RI dan dikelola
oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) Makassar namun wilayah operasi terbatas
hanya di kota Makassar dan daerah luar kota Makassar antara lain Majene, Bantaeng,
Bulukumba, Watampone dan Palopo. Untuk pusat pembangkitannnya ditangani oleh
PLN cabang luar kota dan pendistribusiannya oleh PT. MPS (Maskapai untuk
Perusahaan-Perusahaan Setempat). PLN Makassar inilah kelak merupakan cikal bakal
PT. PLN (Persero) Wilayah VIII sebagaimana yang kita kenal dewasa ini. PLN Pusat
membuntuk unit PLN Exploitasi VI dengan wilayah kerja meliputi Provinsi Sulawesi
Selatan dan Sulawesi Tenggara yang berkedudukan di Makassar.

Pada tahun 1966 pemerintah melalui PLN membangun dua unit Pusat Listrik
Tenaga Uap karena kebutuhan energi listrik di Makassar dan sekitarnya semakin
meningkat seiring dengan berkembangnya kota Makassar. Pembangunan tersebut
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

berlokasi di sektor Tello dengan daya yang terpasang 2 x 12,5 MW dan digunakan
untuk mendukung pasokan energi listrik PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel)
Bontoala. Pembangunan selesai pada tahun 1971 dan mulai dioperasikan setelah
diresmikan oleh Soeharto, presiden RI yang menjabat saat itu.

Pada tahun 1973 dibangun lagi dua unit pembangkit diesel yang berlokasi di
site PLTU Tello dengan daya yang terpasang 2 x 2,84 MW. Seiring dengan
pembangkitan tersebut, kemudian berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
dan Tenaga Listrik No. 01/PRT/1973 tentang Struktur Organisasi dan Pembagian
Tugas Perusahaan Umum, PLN Exploitasi VI berubah menjadi PLN Exploitasi VIII.
Setelah dikeluarkannya peraturan tersebut, maka pada 1975, Menteri Pekerjaan
Umum dan Tenaga Listrik mengeluarkan Peraturan Menteri No. 013/PRT/1975
sebagai pengganti Peraturan Menteri No. 01/PRT/1973 yang di dalamnya disebutkan
bahwa perusahaan mempunyai unsur pelaksana yaitu Proyek PLN Wilayah. Oleh
karena itu, Direksi Perum Listrik Negara menetapkan SK No.010/DIR/1976 yang
mengubah sebutan PLN Exploitasi VIII menjadi PLN Wilayah VIII.

Kemudian pada tahun 1976 PLN Wilayah VIII mendapat tambahan satu unit
PLTG (Pusat Listrik Tenaga Gas) Westcan dengan daya yang terpasang 14,46 MW.
Pada tahun yang sama di bulan Juli dibentuk unit Sektor Tello yang diberi nama PLN
Wilayah VIII Sektor Tello dengan unit asuhan PLTU Bontoala dan Gardu
Induk/Transmisi.

Perkembangan kota Makassar dan daerah-daerah di sekitarnya turut berperan


mengakibatkan meningkatnya pula kebutuhan akan energi listrik. Disertai dengan
pertumbuhan ekonomi PT. PLN (Persero) Wilayah VIII Sektor Tello, kemudian
secara bertahap terus dibangun unit-unit pembangkit.

Pada tahun 1982 dibangun dua unit PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas)
Alsthom dengan daya yang terpasang 2 x 21,35 MW. Pada tahun 1984 dibangun dua
unit PLTD Mitsubishi dengan daya yang terpasang 2 x 12,6 MW. Tahun 1988
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

dibangun dua unit PLTD SWD dengan daya terpasang 2 x 12,4 MW. Dan pada tahun
1997 dibangun dua unit PLTG GE dengan daya terpasang 2 x 33,4 MW.

Setelah memikirkan pembangkitan, maka untuk menyalurkan energi listrik


dari pusat-pusat pembangkit yang berbeda kepada pelanggan, dan juga untuk
menunjang dan mengantisipasi pertumbuhan beban dari daerah-daerah yang baru
dibangun, maka mulai pada tahun 1969, dibangun saluran-saluran transmisi sistem 30
KV dan gardu induk, yaitu:

1. Tello 30 KV
2. Bontoala
3. Kalukuang
4. Sungguminasa
5. Borongloe
6. Mandai
7. Tonasa I

Setelah itu, dilanjutkan lagi dengan membangun saluran transmisi sistem 70 KV, 150
KV dan gardu induk, yaitu:

1. Pangkep
2. Tonasa III
3. Daya
4. Tello 70 KV
5. Tallo Lama
6. Takalar

Dan juga perluasan gardu induk existing.

Kemudian pada tahun 1997 pada bulan Agustus, unit PLTD Bontoala
dikeluarkan dari perusahaan. Dan pada Februari 1999 PLN sektor Tello mendapat
tambahan tanggung jawab untuk mengelola unit asuhan PLTD Bulukumba.

Pada bulan Juni 2000 nama sektor Tello berubah menjadi Unit Pembangkitan
I dengan unit asuhan PLTD Bau-Bau dan PLTD Kendari. Untuk unit asuhan PLTD

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Bulukumba diserahkan kepada PLN UP, sedangkan unit GI dan transmisi diserahkan
pada PLN UP2B.

Pusat-puat pembangkit pada PT. PLN (Persero) Wilayah VIII beroperasi


dalam sistem kelistrikan Sulawesi Selatan yang interkoneksi dengan PLTA (Pusat
Listrik Tenaga Air) Bakaru dan PLTD yang tersebar, serta dua pembangkit listrik
swasta yang masing-masing berada di Kabupaten Pinrang (PLTD Suppa) dan di
Kabupaten Wajo (PLTGU Sengkang).

Pada tanggal 22 Mei 2000, Gardu Induk Panakukang diserahkan kepada unit
pengatur beban dan unit PLTD Bulukumba diserahkan kepada sektor Bakaru. Hal ini
sejalan dengan retruksi di PLN Wilayah VIII Sulselrabar yang membagi unit
pembangkitan, penyaluran dan distribusi agar dikelola secara tepisah. Kemudian
Sektor Tello diserahi tugas menangani unit pembangkit yang ada di Sulawesi
Tenggara, tetapi kemudian tahun 2007 Sektor Kendari terbentuk untuk menangani
pembangkit yang ada di sana. Dan Sektor Tello menangani pembangkit yang ada di
Tello yaitu:

1. PLTU 2 unit
2. PLTG Westcan 1 unit
3. PLTG Alsthom 2 unit
4. PLTG GE 2 unit
5. PLTD Mitsubishi 2 unit
6. PLTD SWD 2 unit

Pada tanggal 31 Mei 2000 PLN Sektor Tello diubah menjadi PT. PLN
(Persero) wilayah Sulselrabar Sektor Tello.

Perubahan dilakukan kembali pada bulan November 2010, Unit PLTD Selayar
yang semula merupakan Unit dari PLN Sektor Bakaru bergabung menjadi Unit dari
PLN Sektor Tello. Pada bulan Mei 2012, Unit PLTU Barru yang semula merupakan
Unit dari PLN Sektor Bakaru bergabung menjadi Unit dari PLN Sektor Tello.

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Pembangkit-pembangkit yang berada di PLN Sektot Tello saat ini umumnya


hanya dioperasikan saat-saat beban puncak guna mengantisipasi kenaikan beban dan
memperbaiki mutu tegangan di samping cadangan putar jika sewaktu-waktu terjadi
gangguan sistem.

2.3. Struktur Organisasi

Struktur organisasi adalah rangka yang menunjukkan pekerjaan wewenang


dan tanggung jawab tiap-tiap anggota organisasi, oleh karena itu struktur organisasi
disebut juga bagan atau skema organisasi yang tak lain adalah gambaran skematis
tentang hubungan pekerjaan antara orang-orang yang terdapat dalam suatu badan atau
organisasi untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi.

Hal ini berarti struktur organisasi dalam suatu badan atau instansi
pemerintah/swasta, memerlukan suatu kerjasama dari tiap unit atau sub bagian, agar
berjalan lancer. Berdasarkan struktur organisasi maka dapat diketahui bagian kerja
Manajer
dalam suatu organisasi, tugas, dan tanggung jawab karyawan, dan hubungan kerja
dari setiap anggota organisasi. Struktur organisasi harus benar dan tersusun secara
teratur sehingga tampakASMAN
ASMAN Enjiniring
jelas dalam
Operasipembagian tugas dan tanggungASMAN
ASMAN Pemeliharaan
jawabSDM
yang& dapat
Sistem ADM
memudahkan pimpinan dalam mengendalikan suatu organisasi perusahaan. Berikut
struktur organisasi PT. PLN (Persero) Wilayah Sulselrabar Pembangkitan Tello:
ENGINEER/ ASS
Engineer/ass engineer
SUP Bahan Bakar & ENGINEER Sup. SDM dan
perenc. Evaluasi
Pelumas Pembinaan Sekretariatan
Operasi Pembangkit
Pemeliharaan mesin

Engineer/ ASS
engineer / ass engineer
ENGINEER SUP Anggaran dan
Perenc. & Evaluasi SUP Operasi
Pemeliharaan Listrik, Keuangan
Pemeliharaan Diesel
Kontrol & Instrumen

Engineer/ as engineer Ass Engineer


Perencanaan listrik dan pemeliharaan alat SUP Akuntansi
kontrol bantu

Engineer/ass engineer
SUP Logistik
pembangkit thermal
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19

ass engineer
pemeliharaan listrik
dan generator
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

2.4 Ruang Lingkup/Bidang Industri

PT. PLN (PERSERO) WIL. SULTANBATARA SEKTOR TELLO memiliki bisnis


utama produksi tenaga listrik / pembangkitan tenaga listrik melalui mesin-mesin :

KAPASITAS
JENIS JUMLAH
LOKASI SENTRAL TERPASANG
PEMBANGKIT
MESIN (kW)

PLTU 2 25.000
TELLO/MAKASSAR PLTG 5 122.716

PLTD 4 49.992

KAB. BARRU PLTU 2 100.000

KAB. SELAYAR PLTD 6 6.620

JUMLAH 21 304.328

Dengan mesin-mesin pembangkit yang dikelolanya, maka PLN Sektor Tello


sanggup memasok energi listrik baik sebagai pemikul beban dasar maupun beban

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

puncak pada sistem kelistrikan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. PLN SEKTOR
TELLO telah menggunakan teknologi informasi yang memadukan manajemen
pemeliharaan, manajemen material dan bahan bakar, manajemen SDM dan
manajemen keuangan sehingga mempercepat pengambilan keputusan

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

BAB III
TINJAUAN UMUM MENGENAI PLTG/U

3.1 Struktur Organisasi PLTG/U

Manajer Unit
PLTG/U

Supervisor Supervisor Har, Supervisor Ling & Supervisor


Supervisor Operasi
Pemeliharaan Mesin Listrik dan Kontrol K2 Administrasi

Asisten Asisten
Asisten
Operasi/junior Operasi/junior
Operasi/junior
operasi operasi Kontrol dan
operasi Pembangkit
Pemeliharaan Mesin Instrumen

3.2 Komposisi dan jumlah karyawan

1. Manajer = 1 orang
2. Bagian pemeliharaan Mesin = 12 orang
3. Bagian Pemeliharaan Listrik dan Kontrol = 6 orang
4. Bagian K3 & lingkungan = 2 orang
5. Bagian operasi = 25 orang
6. Bagian administrasi = 2 orang

3.3 Uraian Beban Kerja

Bagian Pemeliharaan Mesin

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Tugas utama

1. Melaksanakan pemeliharaan semua komponen peralatan mekanik mulai


dari pemeliharaan rutin, periode, prediktif, dan korektif
2. Mengusulkan kebutuhan material untuk kelancaran pemeliharaan
3. Mengidentifikasi peralatan mekanik yang harus dilakukan perawatan
dan atau penggantian material
4. Mengevaluasi performance hasil perawatan peralatan mekanik
5. Melakukan pembinaan kepada pegawai mekanik/teknisi yang menjadi
tanggung jawabnya.

Bagian Pemeliharaan Listrik


Tugas utama
1. Melaksanakan pemeliharaan semua komponen peralatan listrik mulai dari
pemeliharaan rutin, periodik, prediktif dan korektif.
2. Mengusulkan kebutuhan material listrik untuk kelancaran pemeliharaan.
3. Mengidentifikasi peralatan listrik yang harus dilakukan perawatan dan
atau penggantian material listrik.
4. Mengevaluasi performance hasil perawatan peralatan listrik.
5. Melakukan pembinaan kepada pegawai listrik / teknisi yang menjadi
tanggung jawabnya.

Bagian Lingkungan & K3


Tugas utama
1. Melaksanakan pemeliharaan semua peralatan & sarana lingkungan & K3.
2. Mengusulkan kebutuhan material lingkungan & K3.
3. Mengadakan risk assasment pada semua aset perusahaan &
lingkungannya.
4. Mengevaluasi performance hasil peralatan K3 & Lingkungan.
5. Memantau kondisi lingkungan
6. Melakukan pembinaan kepada pegawai yang menjadi tanggungjawabnya.

3.4 Jenis-Jenis Mesin PLTG


PLTG GE UNIT 1
I. Turbin
Pabrik Pembuat : General Electrik USA
Type/Model : MS 6001 B

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Serial Number : 296850


Rated Power : 33.440 KW
Turbin Stage :3
Compressor Stage : 17
Putaran : 5100 rpm
Bahan Bakar : HSD
Tahun Operasi : 1997
Control : Speed Tronik Mark V
II. Generator
Type : 6A3
Putaran : 3000 rpm
Serial Number : 446 X 020
Daya : 45.400 kW
Phasa/Frekuensi : 3 PHASA/50 Hz
Tegangan : 11.5 KV
Faktor Daya : 0,85
Arus : 2279 A
III. Exiter
Type :-
Serial Number : 19506573
Tegangan : 125 Volt
Arus : 756 A
Putaran : 3000 rpm
PLTG GE UNIT 2
I. Turbin
Pabrik Pembuat : General Electrik USA
Type/Model : MS 6001 B
Serial Number : 296851
Rated Power : 33.440 KW

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Turbin Stage :3
Compressor Stage : 17
Putaran : 5100 rpm
Bahan Bakar : HSD
Tahun Operasi : 1997
Control : Speed Tronik Mark V
II. Generator
Type : 6A3
Putaran : 3000 rpm
Serial Number : 446 X 040
Daya : 45.400 kW
Phasa/Frekuensi : 3 PHASA/50 Hz
Tegangan : 11.5 KV
Faktor Daya : 0,85
Arus : 2279 A
III. Exiter
Type :-
Serial Number : 195407673
Tegangan : 125 Volt
Arus : 756 A
Putaran : 3000 rpm
PLTG WESTCAN
I. Turbin
Pabrik Pembuat : Westing House Canada
Type/Model : W 191 G
Serial Number : T-66 S 6031
Rated Power : 14.466 KW
Turbin Stage :2
Compressor Stage : 15

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Putaran : 4830 rpm


Bahan Bakar : HSD
Tahun Operasi : Juni 1977
Control : Pneumatic/Electrik
II. Generator
Type : HG 75.5
Putaran : 750 rpm
Serial Number : 1-66S 60294
Daya : 17.019 KVA
Phasa/Frekuensi : 3 PHASA/50 Hz
Tegangan : 11.5 KV
Faktor Daya : 0,85
Arus : 852 A
III. Exiter
Type :-
Serial Number : 1-66S 6029
Tegangan : 119 Volt
Arus : 539 A
Putaran : 750 rpm
PLTG ALSTHOM UNIT 2.
I. Turbin
Pabrik Pembuat : Alsthom Atlantique
Merek : Alsthom
Type/Model : TURCO 119/PG 5341 P
Serial Number : 244549
Rated Power : 20.100 KW
Turbin Stage :2
Compressor Stage : 17
Putaran : 5100 rpm

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Bahan Bakar : HSD


Tahun Operasi : 1977 (EX PLTG Semarang)
Control : Speed Tronik
II. Generator
Type : T.190-240
Putaran : 3000 rpm
Serial Number : 410340
Daya : 25.125 kW
Phasa/Frekuensi : 3 PHASA/50 Hz
Tegangan : 11 kV
Faktor Daya : 0,8
Arus : 1320 A
III. Exiter
Type :-
Serial Number :-
Tegangan : 173 Volt
Arus : 410 A
Putaran : 3000 rpm

III.5 Single Line Diagram PLTG/U

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

III.6 Uraian Kegiatan Mingguan


Kegiatan mingguan yang kami lakukan selama kerja pratek di PT.PLN (Persero)
WIilayah SULSELRABAR Pembangkitan Tello mulai tanggal 09 Juli 2012 08
Agustus 2012 sebagai berikut :

Waktu Peralatan yang Diperiksa Cara Pelaksanaan


Periksa tegangan tiap cell
Catu daya DC Rectifier Periksa kebersihan battery
Periksa kebersihan panel
Minggu I
Panel DPC Periksa kebersihan panel dan kondisi Pilot Lamp
Panel Water Wash Periksa kebersihan panel dan kondisi Pilot Lamp
Transformer Periksa level minyak dan kebocoran
Pane MCC Periksa kebersihan panel dan kondisi Pilot Lamp
Panel Mesin dan
Generator Periksa kebersihan panel dan kondisi Pilot Lamp
Minggu II
Panel Fire Fighting
Station Periksa kebersihan panel dan kondisi Pilot Lamp
Transformer Periksa level minyak dan kebocoran
Motor Listrik Periksa Kebersihan Body dan kekencangan baut
Periksa koneksi/sambungan yang longgar dan
Minggu Junction Box kebersihannya
III Panel Fiuel Skid Periksa kebersihan panel dan kondisi Pilot Lamp
Pulse Cleaning Air Panel Periksa koneksi, kebersihan dan kondisi pilot lamp
Transformer Periksa level minyak dan kebocoran
Ruang Exiter dan GAC Periksa Kebersihan ruangan
Panel Gauge, PS dan G Periksa kebersihan panel dan kebocoran nipple,
Minggu
Cabinet periksa kebersihan filter dan retraction screw
IV
Panel Water Treatment Periksa kebersihan panel dan kondisi Pilot Lamp
Transformer Periksa level minyak dan kebocoran

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) merupakan sebuah pembangkit energi


listrik yang menggunakan peralatan/mesin turbin gas sebagai penggerak
generatornya. Turbin gas dirancang dan dibuat dengan prinsip kerja yang sederhana
dimana energi panas yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar diubah
menjadi energi mekanis dan selanjutnya diubah menjadi energi listrik atau energi
lainnya sesuai dengan kebutuhannya.

Adapun kekurangan dari turbin gas adalah sifat korosif pada material yang
digunakan untuk komponen-komponen turbinnya karena harus bekerja pada
temperature tinggi dan adanya unsur kimia bahan bakar minyak yang korosif (sulfur,
vanadium dll), tetapi dalam perkembangannya pengetahuan material yang terus
berkembang hal tersebut mulai dapat dikurangi meskipun tidak dapat secara
keseluruhan dihilangkan. Dengan tingkat efisiensi yang rendah hal ini merupakan
salah satu dari kekurangan sebuah turbin gas juga dan pada perkembangannya untuk
menaikkan efisiensi dapat diatur/diperbaiki temperature kerja siklus dengan
menggunakan material turbin yang mampu bekerja pada temperature tinggi.

Desain pertama turbin gas dibuat oleh John Wilkins seorang Inggris pada
tahun 1791. Sistem tersebut bekerja dengan gas hasil pembakaran batu bara, kayu
atau minyak, kompresornya digerakkan oleh turbin dengan perantaraan rantai roda
gigi. Pada tahun 1872, Dr. F. Stolze merancang sistem turbin gas yang menggunakan
kompresor aksial bertingkat ganda yang digerakkan langsung oleh turbin reaksi
tingkat ganda. Tahun 1908, sesuai dengan konsepsi H. Holzworth, dibuat suatu sistem
turbin gas yang mencoba menggunakan proses pembakaran pada volume konstan.
Tetapi usaha tersebut dihentikan karena terbentur pada masalah konstruksi ruang
bakar dan tekanan gas pembakaran yang berubah sesuai beban. Tahun 1904, Societe

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

des Turbomoteurs di Paris membuat suatu sistem turbin gas yang konstruksinya
berdasarkan desain Armengaud dan Lemate yang menggunakan bahan bakar cair.
Temperatur gas pembakaran yang masuk sekitar 450 C dengan tekanan 45 atm dan
kompresornya langsung digerakkan oleh turbin.

Selanjutnya, pada tahun 1935 sistem turbin gas mengalami perkembangan


yang pesat dimana diperoleh efisiensi sebesar kurang lebih 15%. Pesawat pancar gas
yang pertama diselesaikan oleh British Thomson Houston Co pada tahun 1937
sesuai dengan konsepsi Frank Whittle (tahun 1930).

Komponen Utama dari PLTG :

1. Kompresor.

2. Ruang bakar (combustor)

3. Turbin.

4. Generator.

Keuntungan menggunakan PLTG adalah waktu startnya relatif singkat, ringan,


tidak memerlukan air pendingin, masa pembangunan yang pendek, murah dan dapat
ditempatkan di segala lokasi. Disamping itu, terdapat pula kelemahan dari PLTG
yakni efisiensinya rendah, umurnya pendek, daya mampunya sangat dipengaruhi oleh
kondisi udara atmosfir, biaya pemeliharaan dan harga sparepartnya mahal.

Komponen utama PLTG terdiri atas beberapa peralatan yang satu dengan yang
lainnya terintegrasi sehingga menjadi satu unit lengkap yang dapat dioperasikan
sebagaimana mestinya.

4.1 Prinsip Operasi PLTG

Prinsip kerja dari sebuah PLTG didasarkan pada siklus Brayton seperti pada
diagram (p, v dan t, s) dibawah ini :
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Siklus seperti gambar di atas terdapat empat langkah:

12 : Proses kompresi isentropik dalam kompresor sehingga menghasilkan udara


bertekanan

23 : Proses pemasukan kalor pada tekanan (P) konstan

34 : Proses ekspansi isentropik di mana gas hasil pembakaran dialirkan untuk


memutar turbin

41 : Proses pembuangan kalor tekanan konstan

Sebelum turbin gas menghasilkan energi mekanik, pemutar poros


menggerakkan kompresor, pemutar poros tersebut berupa Diesel. Fungsi dari Starting
Device ini adalah untuk memutar kompresor pada saat start up sehingga
menghasilkan udara bertekanan sebelum masuk ke ruang pembakaran (combustion
chamber)

Setelah kompresor berputar, maka udara luar terhisap ke dalam compressor


kemudian di dalam kompresor tersebut tekanan udara akan naik kemudian masuk ke
ruang bakar (combustion chamber). Proses pembakaran memerlukan tiga unsur utama
yaitu bahan bakar, udara dan panas.

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Dalam proses pembakaran ini bahan bakar disuplai oleh pompa bahan bakar
(fuel oil pump) apabila digunakan bahan bakar minyak atau oleh kompresor gas
apabila menggunakan bahan bakar gas alam. Pada umumnya kompresor gas
disediakan oleh pemasok gas tersebut. Udara untuk pembakaran diperoleh dari
kompresor utama, sedangkan panas untuk awal pembakaran dihasilkan oleh ignitor
(busi).

Pada ruang bakar tersebut, bahan bakar dikabutkan dari udara Atomizing
kemudian dengan percikan nyala api dari ignition sehingga terjadilah proses
pembakaran. Gas hasil pembakaran tersebut kemudian dialirkan ke dalam turbin dan
menekan sudu turbin sehingga terjadi gerak putar. Selanjutnya gas bekas dari turbin
dibuang ke atmosfir dengan temperature yang masih tinggi. Selanjutnya energi
mekanis yang dihasilkan oleh turbin digunakan untuk memutar generator hingga
menghasilkan energi listrik.

Tentu saja untuk dapat mengoperasikan PLTG dengan baik perlu dilengkapi
dengan alat-alat bantu, kontrol, instrumentasi, proteksi dan sebagainya. Pada
kenyataannya, tidak ada proses yang selalu ideal, tetap terjadi kerugian-kerugian yang
dapat menyebabkan turunnya daya yang dihasilkan oleh turbin gas dan berakibat pada
menurunnya performa turbin gas itu sendiri. Kerugian-kerugian tersebut dapat terjadi
pada ketiga komponen sistem turbin gas.

Sebab - sebab terjadinya kerugian antara lain:

1. Adanya gesekan fluida yang menyebabkan terjadinya kerugian tekanan (pressure


losses) di ruang bakar.
2. Adanya kerja yang berlebih waktu proses kompresi yang menyebabkan
terjadinya gesekan.
3. Berubahnya nilai Cp dari fluida kerja akibat terjadinya perubahan temperatur dan
perubahan komposisi kimia dari fluida kerja.
4. Adanya mechanical loss dan sebagainya.
4.2 Komponen Utama PLTG

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

a. Kompresor Utama
Kompresor utama adalah kompesor aksial yang berguna untuk memasok
udara bertekanan ke dalam ruang bakar yang sesuai dengan kebutuhan. Kapasitas
kompresor harus cukup besar karena pasokan udara lebih (excess air) untuk turbin
gas dapat mencapai 350 %. Disamping untuk mendapatkan pembakaran yang
sempurna, udara lebih ini digunakan untuk pendingin dan menurunkan suhu gas hasil
pembakaran.
Kompresor aksial terdiri dari dua bagian yaitu :
Compressor Rotor Assembly
Merupakan bagian dari kompresor aksial yang berputar pada porosnya. Rotor
ini memiliki 17 tingkat sudu yang mengompresikan aliran udara secara aksial dari 1
atm menjadi 17 kalinya sehingga diperoleh udara yang bertekanan tinggi. Bagian ini
tersusun dari wheels, stubshaft, tie bolt dan sudu - sudu yang disusun kosentris di
sekeliling sumbu rotor.
Compressor Stator.
Merupakan bagian dari casing gas turbin yang terdiri dari :
1. Inlet Casing, merupakan bagian dari casing yang mengarahkan udara
masuk ke inlet bellmouth dan selanjutnya masuk ke inlet guide vane.
2. Forward Compressor Casing, bagian casing yang didalamnya terdapat
empat stage kompresor blade.
3. Aft Casing, bagian casing yang didalamnya terdapat compressor blade
tingkat 5 - 10.
4. Discharge Casing, merupakan bagian casing yang berfungsi sebagai tempat
keluarnya udara yang telah dikompresi.
b. Inlet Guide Vanes (IGV)
Pada kompresor berkapasitas besar, diisi udara masuk kompresor, yaitu pada
inlet guide vanes dipasang variabel IGV, sedangkan pada kompresor berukuran kecil
umumnya dipasang Fixed Guide Vanes. Variabel IGV berfungsi untuk mengatur
volume udara yang dikompresikan sesuai dengan kebutuhan atau beban turbin. Pada
saat Start Up, IGV juga berfungsi untuk mengurangi surge. Pada saat stop dan selama
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

start up, IGV tertutup ( pada unit tertentu, posisi IGV 34-48% ), kemudian secara
bertahap membuka seiring dengan meningkatnya beban turbin. Pada beban turbin
tertentu, IGV terbuka penuh (83-92%). Selama stop normal IGV perlahan-lahan
ditutup bersamaan dengan turunnya beban, sedangkan pada stop emergency, IGV
tertutup bersamaan dengan tertutupnya katup bahan bakar.
c. Combustion Chamber
Combustion Chamber adalah ruangan tempat proses terjadinya pembakaran.
Ada turbin gas yang mempunyai satu atau dua Combustion Chamber yang letaknya
terpisah dari casing turbin, akan tetapi yang lebih banyak dijumpai adalah memiliki
Combustion Chamber dengan beberapa buah Combustion basket, mengelilingi sisi
masuk (inlet) turbin. Di dalam Combustion Chamber dipasang komponen-komponen
untuk proses pembakaran beserta sarana penunjangnya, diantaranya:
1. Combustion Chamber, berfungsi sebagai tempat terjadinya pencampuran antara
udara yang telah dikompresi dengan bahan bakar yang masuk.
2. Combustion Liners, terdapat di dalam combustion chamber yang berfungsi
sebagai tempat berlangsungnya pembakaran.
3. Fuel Nozzle, berfungsi sebagai tempat masuknya bahan bakar ke dalam
combustion liner.
4. Ignitors (Spark Plug), berfungsi untuk memercikkan bunga api ke dalam
combustion chamber sehingga campuran bahan bakar dan udara dapat terbakar.
5. Transition pieces, berfungsi untuk mengarahkan dan membentuk aliran gas
panas agar sesuai dengan ukuran nozzle dan sudu - sudu turbin gas.
6. Cross Fire Tubes, berfungsi untuk meratakan nyala api pada semua combustion
chamber.
7. Flame Detector, merupakan alat yang dipasang untuk mendeteksi proses
pembakaran terjadi.
d. Turbin Gas
Turbin Gas berfungsi untuk membangkitkan energi mekanis dari sumber
energi panas yang dihasilkan pada proses pembakaran. Selanjutnya energi mekanis
ini akan digunakan untuk memutar generator listrik baik melalui perantaraan Load
Gear atau tidak, sehingga diperoleh energi listrik.
Komponen - komponen pada turbin section adalah sebagai berikut :
1. Turbin Rotor Case
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

2. First Stage Nozzle, yang berfungsi untuk mengarahkan gas panas ke first stage
turbine wheel.
3. First Stage Turbine Wheel, berfungsi untuk mengkonversikan energi kinetik dari
aliran udara yang berkecepatan tinggi menjadi energi mekanik berupa putaran
rotor.
4. Second Stage Nozzle dan Diafragma, berfungsi untuk mengatur aliran gas panas
ke second stage turbine wheel, sedangkan diafragma berfungsi untuk
memisahkan kedua turbin wheel.
5. Second Stage Turbine, berfungsi untuk memanfaatkan energi kinetik yang masih
cukup besar dari first stage turbine untuk menghasilkan kecepatan putar rotor
yang lebih besar.
e. Load Gear
Load Gear atau main Gear adalah roda gigi penurun kecepatan putaran yang
dipasang diantara poros Turbin Compressor dengan poros Generator. Jaringan listrik
di Indonesia. Memilii frekwensi 50 Hz, sehngga putaran tertinggi generator adalah
3000 RPM, sedangkan putaran turbin ada yang 4800 RPM atau lebih.
f. Exhaust Section
Exhaust section adalah bagian akhir turbin gas yang berfungsi sebagai saluran
pembuangan gas panas sisa yang keluar dari turbin gas. Exhaust section terdiri dari
beberapa bagian yaitu : (1) Exhaust Frame Assembly, dan (2) Exhaust gas keluar dari
turbin gas melalui exhaust diffuser pada exhaust frame assembly, lalu mengalir ke
exhaust plenum dan kemudian didifusikan dan dibuang ke atmosfir melalui exhaust
stack, sebelum dibuang ke atmosfir gas panas sisa tersebut diukur dengan exhaust
thermocouple dimana hasil pengukuran ini digunakan juga untuk data pengontrolan
temperatur dan proteksi temperatur trip. Pada exhaust area terdapat 18 buah
termokopel yaitu, 12 buah untuk temperatur kontrol dan 6 buah untuk temperatur trip.
4.3 Komponen Penunjang
Adapun beberapa komponen penunjang dalam sistem turbin gas adalah sebagai
berikut:
a. Starting Equipment

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Berfungsi untuk melakukan start up sebelum turbin bekerja. Jenis - jenis


starting equipment yang digunakan di unit - unit turbin gas pada umumnya
adalah :
- Diesel Engine, (PG 9001A/B)
- Induction Motor, (PG - 9001C/H dan KGT 4X01, 4X02 dan 4X03)
- Gas Expansion Turbine (Starting Turbine)
b. Coupling dan Accessory Gear
Berfungsi untuk memindahkan daya dan putaran dari poros yang bergerak ke
poros yang akan digerakkan. Ada tiga jenis coupling yang digunakan, yaitu :
- Jaw Cluth, menghubungkan starting turbine dengan accessory gear dan
HP turbin rotor.
- Accessory Gear Coupling, menghubungkan accessory gear dengan HP
turbin rotor.
- Load Coupling, menghubungkan LP turbin rotor dengan kompressor
beban.
4.4 Fuel System
Bahan bakar yang digunakan berasal dari fuel gas system dengan tekanan sekitar
15 kg/cm2. Fuel gas yang digunakan sebagai bahan bakar harus bebas dari cairan
kondensat dan partikel - partikel padat. Untuk mendapatkan kondisi tersebut diatas
maka sistem ini dilengkapi dengan knock out drum yang berfungsi untuk
memisahkan cairan - cairan yang masih terdapat pada fuel gas.
4.5 Lube Oil System
Lube oil system berfungsi untuk melakukan pelumasan secara kontinu pada
setiap komponen sistem turbin gas. Lube oil disirkulasikan pada bagian - bagian
utama turbin gas dan trush bearing juga untuk accessory gear dan yang lainnya. Lube
oil system terdiri dari:
- Oil Tank (Lube Oil Reservoir)
- Oil Quantity
- Pompa
- Filter System
- Valving System
- Piping System
- Instrumen untuk oil
Pada turbin gas terdapat tiga buah pompa yang digunakan untuk mensuplai lube
oil guna keperluan lubrikasi, yaitu :
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

- Main Lube Oil Pump, merupakan pompa utama yang digerakkan oleh HP
shaft pada gear box yang mengatur tekanan discharge lube oil.
- Auxilary Lube Oil Pump, merupakan pompa lube oil yang digerakkan oleh
tenaga listrik, beroperasi apabila tekanan dari main pump turun.
- Emergency Lube Oil Pump, merupakan pompa yang beroperasi jika kedua
pompa diatas tidak mampu menyediakan lube oil.
4.6 Cooling System
Sistem pendingin yang digunakan pada turbin gas adalah air dan udara. Udara
dipakai untuk mendinginkan berbagai komponen pada section dan bearing.
Komponen- komponen utama dari cooling system adalah:
1. Off base Water Cooling Unit
2. Lube Oil Cooler
3. Main Cooling Water Pump
4. Temperatur Regulation Valve
5. Auxilary Water Pump
6. Low Cooling Water Pressure Swich
4.7 Maintanance Turbin Gas
Maintenance adalah perawatan untuk mencegah hal - hal yang tidak diinginkan
seperti kerusakan terlalu cepat terhadap semua peralatan di pabrik, baik yang sedang
beroperasi maupun yang berfungsi sebagai suku cadang. Kerusakan yang timbul
biasanya terjadi karena keausan dan ketuaan akibat pengoperasian yang terus -
menerus, dan juga akibat langkah pengoperasian yang salah.
Maintenance pada turbine gas selalu tergantung dari faktor - faktor perasional
dengan kondisi yang berbeda disetiap wilayah, karena operasional turbine gas sangat
tergantung dari kondisi daerah operasional. Semua pabrik pembuat turbine gas telah
menetapkan suatu ketetapan yang aman dalam pengoperasian sehingga turbine selalu
dalambatas kondisi aman dan tepat waktu untuk melakukan maintenance. Secara
umum maintenance dapat dibagi dalam beberapa bagian, diantaranya adalah :
a. Preventive Maintenance.
Suatu kegiatan perawatan yang direncanakan baik itu secara rutin maupun
periodik, karena apabila perawatan dilakukan tepat pada waktunya akan
mengurangi down time dari peralatan. Preventive maintenance dibagi
menjadi:

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

- Running Maintenance. Suatu kegiatan perawatan yang dilakukan


hanya bertujuan untuk memperbaiki equipment yang rusak saja dalam
satu unit. Unit produksi tetap melakukan kegiatan.
- Turning Around Maintenance. Perawatan terhadap peralatan yang
sengaja dihentikan pengoperasiannya.
b. Repair Maintenance.
Perawatan yang dilakukan terhadap peralatan yang tidak kritis, atau disebut
juga peralatan - peralatan yang tidak mengganggu jalannya operasi.
c. Predictive Maintenance
Kegiatan monitor, menguji, dan mengukur peralatan - peralatan yang
beroperasi dengan menentukan perubahan yang terjadi pada bagian utama,
apakah peralatan tersebut berjalan dengan normal atau tidak.
d. Corrective Maintenance
Perawatan yang dilakukan dengan memperbaiki perubahan kecil yang terjadi
dalam disain, serta menambahkan komponen - komponen yang sesuai dan
juga menambahkan material - material yang cocok.
e. Break Down Maintenance
Kegiatan perawatan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan atau kelainan
pada peralatan sehingga tidak dapat berfungsi seperti biasanya.
f. Modification Maintenance
Pekerjaan yang berhubungan dengan disain suatu peralatan atau unit.
Modifikasi bertujuan menambah kehandalan peralatan atau menambah tingkat
produksi dan kualitas pekerjaan.
g. Shut Down Maintenance
Kegiatan perawatan yang dilakukan terhadap peralatan yang sengaja
dihentikan pengoperasiannya.

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

BAB V

SISTEM EKSITASI GENERATOR SINKRON

Sistem eksitasi adalah sistem pasokan listrik DC sebagai penguatan pada


generator listrik atau sebagai pembangkit medan magnet, sehingga suatu generator
dapat menghasilkan energi listrik dengan besar tegangan keluaran generator
bergantung pada besarnya arus eksitasinya. Biasanya sebuah generator sinkron
memiliki kumparan jangkar yang terletak pada stator dengan hubungan bintang.
Sedangkan kumparan medan terletak pada rotor generator. Bila rotor berputar akan
menimbulkan perpotongan antara kumparan medan dengan stator winding sehingga
menghasilkan Gaya Gerak Listrik (GGL).

Sistem ini merupakan sistem yang vital pada proses pembangkitan listrik dan
pada perkembangannya, sistem Eksitasi pada generator listrik ini dapat dibedakan
menjadi 2 macam, yaitu:

1. Sistem Eksitasi dengan menggunakan sikat (brush excitation)


2. Sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless excitation).
5.1 Sistem Eksitasi dengan Sikat (brush excitation)
Pada sistem eksitasi menggunakan sikat, sumber tenaga listriknya berasal dari
generator arus searah (DC) atau generator arus bolak balik (AC) yang disearahkan
terlebih dahulu dengan menggunakan rectifier. Jika menggunakan sumber listrik
listrik yang berasal dari generator AC atau menggunakan Permanent Magnet
Generator (PMG) medan magnetnya adalah magnet permanent. Dalam lemari
penyearah, tegangan listrik arus bolak balik diubah atau disearahkan menjadi
tegangan arus searah untuk mengontrol kumparan medan eksiter utama (main
exciter).
Untuk mengalirkan arus Eksitasi dari main exciter ke rotor generator
menggunakan slip ring dan sikat arang, demikian juga penyaluran arus yang berasal
dari pilot exciter ke main exciter.

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Gambar 1. Sistem Eksitasi dengan sikat (Brush Excitation).

5.1.1 Prinsip Kerja pada Sistem Eksitasi dengan Sikat (Brush Excitation)
Generator penguat yang pertama, adalah generator arus searah hubungan shunt
yang menghasilkan arus penguat bagi generator penguat kedua. Generator penguat
(exciter) untuk generator sinkron merupakan generator utama yang diambil dayanya.
Pengaturan tegangan pada generator utama dilakukan dengan mengatur besarnya arus
Eksitasi (arus penguatan) dengan cara mengatur potensiometer atau tahanan asut.
Potensiometer atau tahanan asut mengatur arus penguat generator pertama dan
generator penguat kedua menghasilkan arus penguat generator utama. Dengan cara
ini arus penguat yang diatur tidak terlalu besar nilainya (dibandingkan dengan arus
generator penguat kedua) sehingga kerugian daya pada potensiometer tidak terlalu
besar. PMT arus penguat generator utama dilengkapi tahanan yang menampung
energi medan magnet generator utama karena jika dilakukan pemutusan arus penguat
generator utama harus dibuang ke dalam tahanan. Sekarang banyak generator arus
bolak-balik yang dilengkapi penyearah untuk menghasilkan arus searah yang dapat
digunakan bagi penguatan generator utama sehingga penyaluran arus searah bagi
penguatan generator utama, oleh generator penguat kedua tidak memerlukan cincin
geser karena. penyearah ikut berputar bersama poros generator. Cincin geser
digunakan untuk menyalurkan arus dari generator penguat pertama ke medan penguat
generator penguat kedua. Nilai arus penguatan kecil sehingga penggunaan cincin
geser tidak menimbulkan masalah.
Pengaturan besarnya arus penguatan generator utama dilakukan dengan
pengatur tegangan otomatis supaya nilai tegangan klem generator konstan.

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Pengaturan tegangan otomatis pada awalnya berdasarkan prinsip mekanis, tetapi


sekarang sudah menjadi elektronik. Perkembangan sistem eksitasi pada generator
sinkron dengan sistem eksitasi tanpa sikat, karena sikat dapat menimbulkan loncatan
api pada putaran tinggi. Untuk menghilangkan sikat digunakan dioda berputar yang
dipasang pada jangkar. Gambar 2 menunjukkan sistem eksitasi tanpa sikat.

5.2 Sistem Eksitasi Tanpa Sikat (brushless excitation)


Penggunaan sikat atau slip ring untuk menyalurkan arus eksitasi ke rotor
generator mempunyai kelemahan karena besarnya arus yang mampu dialirkan pada
sikat arang relatif kecil. Untuk mengatasi keterbatasan sikat arang, digunakan sistem
eksitasi tanpa menggunakan sikat (brushless excitation).
Keuntungan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat (brushless excitation),
antara lain adalah:
a) Energi yang diperlukan untuk Eksitasi diperoleh dari poros utama (main shaft),
sehingga keandalannya tinggi
b) Biaya perawatan berkurang karena pada sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless
excitation) tidak terdapat sikat, komutator dan slip ring.
c) Pada sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless excitation) tidak terjadi kerusakan
isolasi karena melekatnya debu karbon pada farnish akibat sikat arang.
d) Mengurangi kerusakan (trouble) akibat udara buruk (bad atmosfere) sebab semua
peralatan ditempatkan pada ruang tertutup.
e) Selama operasi tidak diperlukan pengganti sikat, sehingga meningkatkan
keandalan operasi dapat berlangsung terus pada waktu yang lama.
f) Pemutus medan generator (Generator field breaker), field generator dan bus
exciter atau kabel tidak diperlukan lagi.
g) Biaya pondasi berkurang, sebab aluran udara dan bus exciter atau kabel tidak
memerlukan pondasi.

Gambar 2. Sistem Excitacy tanpa sikat (Brushless Escitacy)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Keterangan gambar:
ME : Main Exciter
MG : Main Generator
PE : Pilot Exciter
AVR : Automatic Voltage Regulator
V : Tegangan Generator
AC : Alternating Current (arus bolak balik)
DC : Direct Current (arus searah)

Gambar 3. Sistem Eksitasi tanpa sikat (Brushless Excitation)

5.2.1 Prinsip Kerja Sistem Eksitasi tanpa Sikat (Brushless Excitation)

Gambar 4. Tipikal Sistem Eksiter tanpa Sikat

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Generator penguat pertama disebut pilot exciter dan generator penguat kedua
disebut main exciter (penguat utama). Main exciter adalah generator arus bolak-balik
dengan kutub pada statornya. Rotor menghasilkan arus bolak-balik disearahkan
dengan dioda yang berputar pada poros main exciter (satu poros dengan generator
utama). Arus searah yang dihasilkan oleh dioda berputar menjadi arus penguat
generator utama. Pilot exciter pada generator arus bolak-balik dengan rotor berupa
kutub magnet permanen yang berputar menginduksi pada lilitan stator. Tegangan
bolak-balik disearahkan oleh penyearah dioda dan menghasilkan arus searah yang
dialirkan ke kutub-kutub magnet y ang ada pada stator main exciter. Besar arus searah
yang mengalir ke kutub main exciter diatur oleh pengatur tegangan otomatis
(automatic voltage regulator/AVR).

Besarnya arus berpengaruh pada besarnya arus yang dihasilkan main exciter,
maka besarnya arus main exciter juga mempengaruhi besarnya tegangan yang
dihasilkan oleh generator utama.

Pada sistem Eksitasi tanpa sikat, permasalahan timbul jika terjadi hubung singkat
atau gangguan hubung tanah di rotor dan jika ada sekering lebur dari dioda berputar
yang putus, hal ini harus dapat dideteksi. Gangguan pada rotor yang berputar dapat
menimbulkan distorsi medan magnet pada generator utama dan dapat menimbulkan
vibrasi (getaran) berlebihan pada unit pembangkit.

5.3 AVR (Automatic Voltage Regulator)


AVR (Automatic Voltage Regulator) adalah sebuah sistem kelistrikan yang
berfungsi untuk menjaga agar tegangan generator tetap konstan dengan kata lain
generator akan tetap mengeluarkan tegangan yang selalu stabil tidak terpengaruh
pada perubahan beban yang selalu berubah-ubah,dikarenakan beban sangat
mempengaruhi tegangan output generator. Sistem AVR pada pembangkit sangat
penting peranannya, dikarenakan sebuah generator tidak akan menghasilkan listrik
jika didalamnya sistem tidak terdapat AVR.
5.4 Prinsip Kerja AVR

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Prinsip kerja dari AVR adalah mengatur arus penguatan (excitacy) pada exciter.
Apabila tegangan output generator di bawah tegangan nominal tegangan generator,
maka AVR akan memperbesar arus penguatan (excitacy) pada exciter. Dan juga
sebaliknya apabila tegangan output generator melebihi tegangan nominal generator
maka AVR akan mengurangi arus penguatan (excitacy) pada exciter. Dengan
demikian apabila terjadi perubahan tegangan output generator akan dapat distabilkan
oleh AVR secara otomatis dikarenakan dilengkapi dengan peralatan seperti alat yang
digunakan untuk pembatasan penguat minimum ataupun maximum yang bekerja
secara otomatis. Disamping sebagai pengatur tegangan rangkaian AVR juga
dilengkapi alat pengontrol untuk menjamin keandalan dari generator. AVR
dihubungkan dengan belitan stator generator utama melalui isolating transformer
yang berfungsi mengontrol daya yang disuplai pada stator eksiter dan sampai pada
belitan rotor generator utama untuk menjaga tegangan keluaran pada batas yang
ditetapkan, jadi tugas utama AVR ini adalah :
a. Untuk mengatur keluaran tegangan generator
b. Untuk mengatur arus eksitasi
c. Untuk mengatur volt/Hertz
5.5 Bagian-Bagian Automatic Voltage Regulator

Gambar 5. Skematik AVR


5.5.1 Potensial Divider and Rectifier

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Potensial Divider and Rectifier berfungsi menerima sinyal tegangan ac


keluaran generator utama sedangkan Rectifier berfungsi mengubah sinyal
tegangan ac menjadi tegangan dc untuk dikuatkan pada Amplifier.
5.5.2 3 Phase Rectifier
3 Phase Rectifier berfungsi memonitor arus keluaran generator utama, yang
merupakan penyearah tiga fasa yang mengubah sinyal ac menjadi sinyal dc.
5.5.3 Amplifier
Amplifier berfungsi membandingkan tegangan keluaran generator utama
dengan tegangan referensi dan selisihnya (error) akan dikuatkan ke error
detector untuk memberikan sinyal control untuk power control device. Ramp
generator dan level detector berfungsi mengontrol periode konduksi dari
power control device untuk menjaga tegangan nominal.
Aliran arus dari D11, D12, dan R34 adalah rangkaian penguat utama atau
penguatan tingkat terendah. Keluaran dari comparative amplifier dan keluaran
dari over excitation limiter (OEL) adalah tegangan negative dan dari tegangan
negative kemudian pada masukan OP201. Ketika over excitation limiter
(OEL) atau minimum excitation limiter (MEL) tidak operasi maka keluaran
dari comparative amplifier dikuatkan oleh OP201 dan OP301 masukan dari
OP301 dijumlahkan dengan keluaran dari dumping circuit. OP401 adalah
Amplifier untuk balance meter hubungan antara tegangan masuk dan tegangan
keluaran dari OP201 dan OP401 diperlihatkan pada bagan berikut.

Gambar 4. Rangkaian Amplifier

5.5.4 Power Supply


Power supply berfungsi untuk menyediakan daya untuk rangkaian AVR.
5.5.5 Circuit Breaker

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Circuit Breaker berfungsi memutus daya pada AVR dan generator eksiter jika
terjadi gangguan tegangan lebih atau gangguan eksitasi lebih.
5.5.6 Over Excitation Detector
Over Excitation Detector berfungsi memonitor tegangan eksitasi yang disuplai
pada eksiter. Tegangan eksitasi maksimum dibatasi atau disetting pada level
70 Volt +/- 5%. Jika terjadi kenaikan tegangan eksitasi melebihi nilai settingan
maka over excitation detector memberikan sinyal untuk membuka excitation
circuit breaker.
5.5.7 Over Voltage Detector
Over Voltage Detector berfungssi memonitor tegangan pada terminal keluaran
generator utama dan memberikan sinyal untuk membuka circuit breaker
(excitation ciercuit breaker) untuk memutuskan daya pada eksiter dan AVR
pada saat terjadi tegangan lebih pada generator utama. Alat proteksi tegangan
lebih disetting pada level 437 +/- 5%. Terminal AVR dihubungkan pada
kumparan stator generator utama.

5.6 Sistem Proteksi Proses Eksitasi


5.6.1 Proteksi Terhadap Tegangan Lebih
Proteksi tegangan lebih mencegah kerusakan pad diode penyearah yang
diakibatkan oleh tegangan lebih, seperti surja hubung (switching surge) yang berasal
dari luar generator. Peralatan proteksi yang digunakan untuk mencegah keadaan
tersebut adalah Surge Suppressors. Surge Suppressors dihubungkan dengan tiap-tiap
elemen diode, ketika surja tegangan tinggi datang, maka arus listrik bertambah besar
ratusa kali dalam sesaat sehingga energy surja tersebut harus disalurkan ke tanah.
Surge Suppressors berada dalam keadaan membuang energy pada saat terjadi
tegangan tinggi. Rangkaian Surge Suppressors dapat dilihat pada gambar berikut:

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Gambar 6. Rangkaian Surge Suppressors


5.6.2 Proteksi Terhadap Arus Lebih
Proteksi arus lebih mencegah elemen diode break down, karena gangguan
hubung singkat pada medan atau arus surja yang besar. Peralatan proteksi yang
digunakan antara lain fuse berkecepatan tinggi, seperti pada gambar berikut.

Gambar 7. Rangkaian fuse pada diode penyearah

5.6.3 Field Breaker


Field Breaker ini digunakan sebagai pemutus medan eksiter. Filed Breaker ini
juga dilengkapi dengan discharging contact yang terhubung dengan field discharging
resistor. Field discharging resistor berfungsi untuk melindungi rotor dari arus medan
balik pada saat terjadi kerusakan pada sistem eksitasi atau pada saat generator
berhenti beroperasi. Jika terjadi gangguan pada sistem eksitasi, maka field breaker
akan membuka dan secara otomatis discharging contact akan menutup, sehingga arus
medan yang masih tersimpan pada rotor dapat segera diperkecil dengan mengalirkan
ke field discharging resistor. Rangkaian field breaker dapat dilhat pada gambar
berikut:

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Gambar 8. Rangkaian Field Breaker


5.6.4 Excitation Loss Module
Kehilangan eksitasi dalam kondisi parallel dapat menyebabkan gangguan
seperti hilangnya sinkronisasi sistem. Excitation Loss Module berfungsi memonitor
keluaran AVR dan memberikan sinyal kepada rele jika terjadi gangguan berupa tanda
alarm. Alat ini bekerja berdasarkan karakteristik arus (rectifier ripple) pada belitan
medan eksiter.

Gambar 9. Skematik Extitation Loss Module

5.7 Sistem Eksitasi pada PLTG GE 1

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

PLTG GE 1 menggunakan sistem eksitasi tanpa sikat EX2000R. EX2000R


merupakan mikroprosesor berbasis converter AC ke DC yang menghasilkan output
DC yang dikontrol oleh MCC (Motor Control Center). Daya untuk exciter biasanya
diambil dari Power Potential Transformer (PPT) yang terhubung langsung ke terminal
generator. Exciter EX2000 fleksibel dan dengan perubahan hardware dan software,
exciter dasar dan inti perlindungan dapat dikonfigurasi sebagai senyawa,
ALTERREXTM, GENERREXTM, jembatan ganda, cadangan panas, atau master-master
sistem.

Dalam sistem sumber potensial, output dari PPT terhubung ke input dari
jembatan 3-fasa gelombang penuh thyristor pembalik. Jembatan pembalik
memberikan tegangan baik tegangan positif dan negatif untuk kinerja optimal.
Negatif memaksa memberikan respon cepat untuk penolakan beban dan de-eksitasi.
Eksitasi kontrol hasil dari fase mengendalikan output dari rangkaian jembatan SCR.
Sinyal pemecatan SCR dihasilkan oleh regulator digital dalam inti kontrol. Sistem
kontrol tersebut berisi regulator tegangan terminal generator dan regulator tegangan
penguat generator Ini dikenal sebagai pengatur otomatis atau regulator AC dan
pengatur manual atau regulator DC.

Ketika beroperasi di bawah kontrol dari regulator DC, tegangan konstan


penguatan generator dipertahankan, terlepas dari kondisi operasi pada terminal
generator. Ketika beroperasi di bawah kontrol regulator AC, tegangan konstan
terminal generator dipertahankan dalam berbagai kondisi beban. Jika generator
terhubung ke sistem besar melalui impedansi rendah, generator tidak dapat mengubah
sistem tegangan. Pada Regulator AC, variasi yang sangat kecil dalam tegangan
terminal, kemudian mengontrol Volt Ampere Reaktif (VAR). Jika generator terisolasi
dari sistem, regulator AC mengontrol tegangan terminal dan VAR ditentukan oleh
beban. Kebanyakan sistem beroperasi dengan cara yang ada di antara dua ekstrem.
Artinya, baik VAR dan Volt dikendalikan oleh regulator AC. Operasi normal adalah

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

dengan transfer otomatis ke regulator DC dengan kehilangan umpan balik


transformator tegangan melalui PT Failure Detection (PTFD).

Blok perangkat lunak yang menunjukkan kontrol exciter dan fungsi perlindungan
untuk pekerjaan tertentu disimpan dalam database perangkat lunak exciter disimpan
dalam kontrol exciter dan inti perlindungan. Perangkat lunak ini diakses melalui link
komunikasi RS-232C dengan menggunakan SuperTool 2000 (ST2000) program.
Toolkit ST2000 adalah mikroprosesor berbasis software yang digunakan untuk
configurated dan memelihara EX2000 GE exiters. Ini terdiri dari kumpulan program
(tools) yang berjalan dibawah perintah shell.

Aplikasi perangkat lunak exciter terdiri dari modul (blok bangunan)


dikombinasikan untuk menciptakan sistem yang diperlukan secara fungsional. Blok
definisi dan parameter konfigurasi disimpan dalam Read Only Memory (ROM),
sedangkan variabel yang disimpan dalam Random Access Memory (RAM).
Mikrokontroler mengeksekusi kode.

Perangkat keras exciter EX2000 terdiri dari kontrol sebuah konverter daya.
Controller mencakup papan jaringan kabel tercetak berisi mikroprosesor diprogram
dengan sirkuit pendamping, termasuk Electrically Erasable Programmable Read Only
Memory (EEPROM), dimana pola sistem exciter blockware disimpan. Konverter
daya exciter terdiri dari jembatan rectifier, resistor/kapasitor penyaring konfigurasi
dan sirkuit kontrol. Komponen dan bingkai (jembatan) ukurannya bervariasi,
tergantung sistem eksitasi yang berbeda dan untuk output daya yang diperlukan.
Bagian utama exciter EX2000 terdiri dari :

Power Potential Transformer (PPT)


Transformator ini menyediakan listrik ke jembatan SCR exciter. Hal ini
dirancang untuk memasok kebutuhan eksitasi terus menerus dan tetap mampu
beroperasi pada eksitasi langit-langit untuk waktu yang singkat.
Line to line filters

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Jaringan penyaring listrik disediakan di seluruh 2-fase jalur input ke jembatan


penyearah. Filter meminimalkan tegangan spike yang dihasilkan dari peluruhan
tiba-tiba dan perubahan tegangan mendadak di induktansi sirkuit dan kapasitansi
hubungan thyristor. Filter saluran umumnya dikirim secara terpisah untuk
dipasang di atas lapangan lineup exciter.
Blower Motor Transformer
Sebuah Blower motor transformer yang diberikan untuk pendinginan udara
eksiter. Blower motor transformer adalah isolasi 3-phasa dan transformator daya
dengan gulungan primer yang terhubung ke sumber daya masukan jembatan AC.
Transformator memiliki dua gulungan sekunder, satu untuk daya 3-fasa AC
untuk blower jembatan dan satu untuk daya satu fasa untuk kontrol suplay daya.
Core Modules

Core module sudah terpasang di panel yang sama sebagai jembatan thyristor dan
dapat diakses sementara exciter beroperasi. Core terdiri dari papan sirkuit yang
saling berhubungan dengan kabel pita, yang menjaga kabel untuk minimum.
Papan sirkuit terdiri dari:

- DC Power and Feedback (DCFB)


- LAN/Communication Card (SLCC)
- LAN Terminal Board (LTB)
- Microprocessor Aplikation Board (TCBB)
- Power Connect Board (PCCA)
- I/O Terminal Board (NTB/3TB)
- Drive Control Card (SDCC)
- Relay Terminal Board (RTBA)
- ARCNET Link (ACNA)
Power supplies
Control Power Supply (CPS) dan Protection Power Supply (PPS) adalah pasokan
massal sumber listrik ganda. Fungsi mereka adalah untuk memasok tegangan DC
yang diperlukan untuk control core, protection module, local IOS, dc-excitation
module, field flashing module controls, dan field contactor.
Field Ground Detector

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

Fungsi dari Field ground detector adalah untuk mendeteksi jalur tanah dari
komponen exciter yang terhubung ke gulungan bidang utama
Shaft Voltage Suppressor
Tegangan poros, jika tidak dikendalikan secara efektif, dapat merusak baik poros
maupun bantalan. Sistem eksitasi yang menghasilkan tegangan dc dari ac melalui
proses rektifikasi solid state, menghasilkan tegangan riplle dan spike pada output
exciter. Dikarenakan hal tersebut, ini tegangan kapasitif digabungkan dari
gulungan medan pada tubuh rotor. Ini menciptakan tegangan pada poros relatif
terhadap ground. Shaft Voltage Suppressor (SVS) adalah melakukan filter
terhadap komponen frekuensi tinggi dari tegangan yang diindukskani ke tanah.
De-excitation Modules

Selama shutdown salah, energi yang tersimpan di bidang pembangkit harus


dihilangkan. Dalam shutdown "normal", menghentikan dilakukan oleh operator.
Jembatan ditembakkan pada batas waktu yang cukup singkat dan SCR dalam
modul de-eksitasi ditekan untuk menyediakan jalan konduksi melalui resistor
pemutus penguatan atau induktor untuk arus penguatan agar menghilangkan
energi penguatan.
Intelligent Operator Station (IOS)
IOS adalah sebuah antarmuka operator untuk sistem eksitasi. Perintah start/stop,
perintah regulator transfer, dan perintah pengatur aktivasi diterbitkan oleh IOS.

Yang termasuk bagian operasional yaitu:


Protection module
Protection module adalah modul opsional yang dipasang di panel tambahan dan
secara fisik mirip dengan core control. Namun, Protection module tidak
bertanggung jawab atas penembakan jembatan. Oleh karena itu tidak berisi
PCCA atau thrystor jembatan, karena itu juga maka protection module tidak
membutuhkan kipas pendingin. Protection module menerima masukan tegangan
dan arus yang sama seperti core control. Tujuannya adalah untuk memulai respon

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

protektif apabila kondisi sistem melampaui batas-batas peraturan yang ditentukan


dari core control.
Manual ac disconnect

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.PLN (Persero)
Wilayah Sulsel, Sultra, Sulbar
Pembangkitan Tello

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan
1. Turbin gas menggunakan udara atmosfer sebagai fluida kerja untuk memutar
turbin gas, putaran yang dihasilkan kemudian dihubungkan dengan load gear
untuk mengubah putaran turbin 5100 rpm lalu kemudian menuju ke
generator dengan putaran 3000 rpm sehingga dihasilkan gaya gerak listrik
(GGL)
2. Peralatan utama PLTG meliputi Accessory Gear, Inlet Guide Vane,
Kompresor, Ruang bakar, Turbin gas, Load Gear, serta Generator
3. Sistem eksitasi sangat diperlukan dalam sistem PLTG yaitu untuk
memberikan pasokan listrik DC sebagai penguatan pada generator atau
sebagai pembangkit medan magnet, sehingga suatu generator dapat
menghasilkan energi listrik dengan besar tegangan keluaran generator
bergantung pada besarnya arus eksitasinya.
4. PLTG GE 1 Tello menggunakan sistem eksitasi tanpa sikat EX2000R.
EX2000R merupakan mikroprosesor berbasis converter AC ke DC yang
menghasilkan output DC yang dikontrol oleh MCC (Motor Control Center).
6.2 Saran
1. Mengombinasikan turbin gas dan turbin uap dengan menambahkan HRSG
sehingga dapat diperoleh dua keuntungan utama yaitu: dapat menambah daya
listrik dan dapat menghemat biaya bahan bakar. Penambahan daya listrik
tanpa menambah bahan bakar juga berarti akan menaikkan efisiensi termal
sistem.
2. Mengatur waktu khusus untuk memberikan materi - materi tentang PLTG
kepada para pelajar atau mahasiswa yang sedang melakukan kerja praktek
atau magang.

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012 19