Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

PENGUJIAN DAN PENYETELAN OVER VOLTAGE RELAY DAN


OVER CURRENT RELAY SERTA ANALISA KEGAGALAN RELAY
PROTEKSI

4.1 Overvoltage Relay

Relay overvoltage atau tegangan lebih berfungsi untuk mendeteksi tegangan yang
melebihi setelannya dengan membandingkan nilai setelan dengan pengukuran tegangan dari
fasa ke fasa. Relay tegangan lebih bekerja pada rangkaian sekunder sebuah trafo tegangan,
dimana terminal sekundernya memiliki tegangan nominal sebesar 100 Volt atau 110 Volt.
Untuk perbandingan ratio, primernya dipasang pada sisi 11 kV terminal generator. Relay
tegangan lebih juga mengantisipasi kemungkinan terjadinya malfunction AVR-Automatic
Voltage Regulator (gangguan fungsi berupa kegagalan kerja AVR) dari generator itu sendiri.
Kegagalan kerja AVR yaitu ketika AVR tidak mampu mengikuti perubahan kehilangan
beban secara mendadak, dari kondisi mesin yang normal beban penuh dengan pengaturan
tegangan generator supaya berada pada batas-batas yang telah ditentukan, atau karena
penyebab lain sehingga tegangan generator naik melebihi nilai nominalnya. Jadi tegangan
lebih dapat terjadi karena 2 faktor penting, yaitu :
1. Kegagalan kerja atau malfunction AVR
2. Terjadinya lepas beban atau Load Rejection secara tiba-tiba
Untuk nilai tegangan nominal, bisa diambil dari sisi sekunder pada trafo tegangan. Setelan
tegangan untuk relay tegangan lebih :
115% x Vn = 115% x 100 V =115 V
Rated tegangan operasi = 11 kV, maka 115% x 11 k V = 12,65 kV
12,65 kV merupakan maksimum tegangan kerja yang diamankan terhadap operasi peralatan
agar tidak terjadi tegangan lebih akibat kegagalan kerja AVR dengan waktu tunda 2 detik.
Pemilihan setelan 115 % dilakukan dengan pertimbangan :
1. Standar operasional peralatan adalah 10 %, yaitu ketika operasi naik 10 % maka
proteksi akan turun sebesar 20 %.
2. Pada kondisi normal dapat terjadi thermal stress, insulation stress atau dynamic stress.
Apabila relay tegangan lebih mendeteksi adanya tegangan lebih hingga melampaui nilai
penyetelan, maka relay akan memberikan sinyal indikasi kepada komputer yang kemudian
menghidupkan sinyal trip pada PMT-Pemutus Tenaga. Jika proteksi gagal mengantisipasi
tegangan yang berlebihan pada generator, maka akan terjadi kerusakan isolasi belitan stator.
Sebagai contoh sebuah relay dengan nilai setelan 115 V dan tegangan nominal sistem sebesar
100 V. Jika pada sistem tersebut terdapat gangguan yang mengakibatkan kenaikan tegangan
yang mencapai 10 %, yaitu sekitar 120 V selama 1 detik. Maka relay akan langsung
merasakan gangguan dan memberikan tanggapan dengan cara mengerjakan kontak sesuai
nilai pick up setelan sebesar 115 V. Tetapi setelah tegangan sistem kembali normal menjadi
100 V, relay tersebut tidak membuka lagi kontaknya. Relay ini akan kembali membuka
kontaknya jika tegangan system berada pada level 90 V. Hal ini dikarenakan setelah relay
mengalami kenaikan operasi sebesar 10 % dari nilai setelan, keandalan proteksi relay akan
turun sebesar 20 %. Jadi persentase keandalan relay ini bisa dihitung :

90
x 100 =75
115

Karena keandalan relay sudah dibawah 80 %, bisa dikatakan relay ini sudah tidak layak
pakai. Apabila terlalu dipaksakan dan tidak ada penggantian. Maka generator akan terlalu
sensitif terhadap gangguan yang berakibat pada trip unit. Sehingga mengurangi keandalan
pelayanan sistem tenaga listrik.
Keandalan relay mempunyai nilai prosentase persamaan sebagai berikut :
Nilai drop out X 100 % = Harus lebih besar dari 80 % dari nilai pick up-nya.