Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Judul Percobaan

PERCOBAAN KOLOM DINDING BASAH (WETTED WALL


COLUMN TEST)

B. Maksud Dan Tujuan Percobaan

1 Maksud
Untuk memperoleh koefesien Transfer Massa menyeluruh dan mengamati
kecepatan transfer massa.

2 Tujuan Percobaan
Untuk memperoleh koefesien Transfer Massa menyeluruh, dengan
melakukan percobaan penguapan air air oleh udara didalam kolom dinding
basah dengan mengamati kecepatan transfer massa.

C. Latar Belakang

Pada percobaan absorbsi ini alat yang digunakan adalah menara


isian yang berbentuk silinder, yang dilengkapi pemasukan gas dan
distribusinya dari bagian bawah, sedang pemasukan gas cair dari bagian
atas. Pendistribusian gas dari bagian bawah menara isian karena gas
bersifat menyebar,dimana gas bergerak dari bawah keatas. Sedangkan
pendistribusian zat cair dilakukan pada menara isian dari bagian atas
karena zat cair akan bergerak dari tempat yang tinggi ketempat yang
rendah.

Percobaan ini menggunakan menara isian (packed bed) yang


berbentuk silinder, yang diisi denganpacking (raschig ring).Packing
berfungsi untuk memperbesar luas permukaan kontak fasa gas dan cair.
Pendistribusian gas dilakukan dari bagian bawah menara isian karena
densitas gas lebih rendah dibandingkan denganliquid. Sedangkan
pendistribusian zat cair dilakukan pada menara isian dari bagian atas
karena zat cair cenderung bergerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang
rendah akibat pengaruh gaya gravitasi.

Zat cair yang masuk berupa air (pelarut) yang disebut denganweak
liquor, didistribusikan dari bagian atas menara isian, sehingga pada operasi
ideal membasahi permukaanpacking secara seragam. Sedangkan gas yang
dialirkan ke dalam kolom absorpsi mengandung zat terlarut (oksigen)
sehingga disebut dengan rich gas.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
A Defenisi Percobaan

a. Kolom Basah
Pada kolom basah, kontak air dan udara terjadi di kolom dengan air dialirkan
dari kolom bagian atas, sedangkan gas dari kolom isian bagian bawah, dimana
terjadi kontak antara air dan udara di dalam kolom yang menimbulkan penurunan
tekanan. Penurunan tekanan ini disebabkan karena adanya aliran udara yang
masuk dari bawah ke atas. Selain gesekan antara air dan dinding kolom juga
menyebabkan aliran sekitar dinding menjadi lambat sehingga tekanannya
menurun.
Berdasarkan teori, laju alir air berbanding lurus dengan penurunan tekanan
untuk setiap laju alir udara. Penurunan tekanan pada kolom basah lebih besar dari
pada penurunan tekanan pada kolom kering. Hal ini disebabkan oleh adanya zat
cair di dalam menara sehingga mengurangi ruang yang tersedia untuk aliran gas.
dimana semakin besar laju alir air pada laju alir udara yang konstan, nilaihold up
semakin kecil karena tahanan udara terhadap air semakin kecil, sehingga jumlah
air yang terperangkap semakin kecil pula. Dalam percobaan ini, kesalahan data
tersebut kemungkinan disebabkan oleh pengaruhvalve yang berfungsi untuk
mengatur laju alir keluar dari zat cair dimanavalve tersebut tidak dapat berfungsi
dengan baik.

b. Liquid Hold Up
Liquid hold upmerupakan liquid(zat cair) yang terperangkap dalam packing
zat cair berupaliquid yang menempel sebagai film pada dinding rasching
danliquid yang tidak bisa lewat karena tertahan diantara cincinrasching yang
bergerak karena mendapat tekanan dari zat cair di bagian atas kolom dan tekana
udara dibagian bawah kolom. Dari percobaan dapat dilihat bahwahold up terjadi
semakin bertambah sebanding dengan bertambahnya laju alir air terhadap laju alir
udara konstan. Namun sebenarnya hal ini bertentangan dengan teori yang ada.
C. Disolved Oxygen (DO)

DO adalah banyaknya oksigen yang terlarut yang dikandung di dalam zat


cair setelah dilakukannya absorpsi. Semakin besar laju alir udara maupun laju alir
air maka DO-nya akan semakin besar. Misalnyaabsorbent (dalam hal ini air) yang
masuk dengan laju yang terus ditingkatkan sedangkan laju alir gas yang masuk
dibuat konstan, maka laju alir air yang tertinggi akan mampu melucuti oksigen
terbanyak karena jumlah debit air yang masuk semakin besar sehingga luas
permukaan kontak antara fluida air dan gas semakin besar. Begitu juga sebaliknya
laju alir udara tertinggi akan melepaskan oksigen terbanyak terhadap air dengan
ketentuan air masih memiliki kemampuan menyerap yang bagus. Pada laju alir
air 1 L/menit dan laju alir udara 60 L/menit diperoleh DO sebesar 0,08 mg/L, dan
pada laju alir air 3 L/menit dengan laju alir udara yang sama diperoleh nilai DO
yang lebih tinggi yakni 0,09 mg/L. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar
2.4 untuk kolom basah.

D. Disolved Oxygen (DO)


DO adalah banyaknya oksigen yang terlarut yang dikandung di dalam zat cair
setelah dilakukannya absorpsi. Semakin besar laju alir udara maupun laju alir air
maka DO-nya akan semakin besar. Misalnyaabsorbent (dalam hal ini air) yang
masuk dengan laju yang terus ditingkatkan sedangkan laju alir gas yang masuk
dibuat konstan, maka laju alir air yang tertinggi akan mampu melucuti oksigen
terbanyak karena jumlah debit air yang masuk semakin besar sehingga luas
permukaan kontak antara fluida air dan gas semakin besar. Begitu juga sebaliknya
laju alir udara tertinggi akan melepaskan oksigen terbanyak terhadap air dengan
ketentuan air masih memiliki kemampuan menyerap yang bagus. Pada laju alir
air 1 L/menit dan laju alir udara 60 L/menit diperoleh DO sebesar 0,08 mg/L, dan
pada laju alir air 3 L/menit dengan laju alir udara yang sama diperoleh nilai DO
yang lebih tinggi yakni 0,09 mg/L. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar
2.4 untuk kolom basah.

E. Nilai Koefisien Film pada Cairan, Gas dan Keseluruhan


KLa merupakan koefisien lapisan film yang terbentuk pada saat terjadinya
proses perpindahan massa secara keseluruhan pada kolom (packed), dimana
nilainya dipengaruhi oleh besarnya koefisien film dalam cairan dan koefisien film
yang terbentuk pada gas, serta laju perpindahan massa pada saaat penyerapan.
Nilai koefisien film dalam cairan dan koefisien film yang terbentuk pada
gas ini dipengaruhi oleh laju alir dari udara dan air yang terdapat pada
kolom basah. Semakin besar laju alir udara dan air yang diberikan, nilai
koefisien film dalam cairan dan koefisien film yang terbentuk pada gas
akan semakin besar, hal ini dikarenakan nilai koefisien film tersebut
berbanding lurus dengan laju alir gas dan zat cair. Disamping faktor
laju alir udara dan air, nilai koefisien film dalam cairan dan koefisien
film yang terbentuk pada gas juga dipengaruhi oleh packing yang
dipakai padapacked, dimana semakin besar ukuran packing yang
digunakan maka difussivitas yang terjadi akan semakin besar, yang
mengakibatkan bertambahnya nilai bilangan Schmitz sehingga nilai
koefisien film dalam cairan dan koefisien film yang terbentuk pada gas
juga akan semakin besar

F. Flooding
Flooding adalah keluarnya zat cair pada bagian atas kolom isian yang
disebabkan tidak adanya ruang kosong didalam kolom. Zat cair telah mengisi
seluruh bagian kolom sehingga tidak ada lagi laluan yang tersedia bagi gas.
Dalam operasi pengeringan pada sistem udara-air ada beberapa definisi yang
lazim digunakan. Perhitungan teknis boasanya didasarkan pada satuan massa gas
bebas uap. Uap yang dimaksud adalah bentuk gas dari kompoenen yang juga
terdapat dalam fasa cair. Sedangkan gas adalah komponen yang hanya terdapat
dalam bentuk gas saja. Kelembaban (humidity) adalah massa uap yang dibawa
oleh satu satuan massa gasa bebas uap. Menurut definisi ini, kelembaban hanya
bergantung pada tekanan parsial uap di dalam campuran bila tekanan total dibuat
tetap. Jadi, jika tekanan parsial uap komponen A adalah pA atm, rasio molal antara
uap dan gas pada 1 atm adalah pA/ 1- pA. Jadi kelembaban adalah:
dimana MA dan MB adalah massa molekul relatif komponen A dan komponen B.
Kelembaban dihubungkan dengan fraksi mol di dalam fasa gas oleh persamaan:

Karena /MA biasanya sangat kecil dibandingkan 1/MB, y biasanya dianggap


berbanding lurus dengan . Gas jenuh (saturated gas) adalah gas dimana uap
berada dalam kesetimbangan dengan zat cair pada suatu gas. Tekanan parsial uap
di dalam gas jenuh sama dengan tekanan uap zat cair pada temperatur gas. Jika s
adalah kelembaban jenuh dan PA adalah tekanan uap zat cair:

Kelembaban relatif (relative humidity) R adalah rasio antara tekanan


parsial uap dan tekanan uap zat cair pada temperatur gas. Besaran ini biasanya
dinyatakan dalam %. Kelembaban 100% berarti gas jenuh, sedang kelembaban
0% berartu gas bebas uap, sesuai dengan definisi:

Persentase kelembaban A adalah rasio kelembaban nyata terhadap kelembaban


jenuh s pada temperatur gas.

Persentase kelembaban selalu kurang dari kelembaban relatif.


Kalor lembab (humid heat) cs adalah energi kalor yang diperlukan untuk
menaikkan suhu 1 lb atau 1 g gas beserta semua uap yang dikandungnya sebesar 1
oFatau 1 oC. Jadi: cs = cpB + cpA., dimana cpB dan cpA adalah kalor spesifik
gas dan kalor spesifik uap. Volume lembab (humid volume) vH adalah volume
total satu satuan massa gas bebas uap beserta semua uap yang dikandungnya, pada
tekanan 1 atm dan temperatur gas. Sesuai dengan hukum gas, vH dihubungkan
dengan kelembaban dan temperatur oleh persamaan:

dimana T adalahh temperatur absolut dalam derajat Renkine. Dalam SI persamaan


tersebut menjadi:

dimana vH dalam m3/g dan T dalam K. Untuk gas bebas uap (=0) vH adalah
volume spesifik gas tetap. Untuk gas jenuh (= s) vH adalah volume jenuh
(saturated volume). Titik embun (dew point) adalah suhu pendinginan campuran
uap-gas (pada kelembaban tetap) agar menjadi jenuh. Titik embun fasa gas jenuh
sama dengan temperatur gas tersebut. Entalpi total (total enthalpy) Hy adalah
entalpi satu satuan massa gas ditambah uap yang terkandung di dalamnya. Untuk
menghitung Hy diperlukan 2 keadaan rujukan, untuk gas dan untuk uap. Dipilih
To sebagai acuan dan entalpi komponen B pada fasa cair didasarkan pada
temperatur To ini. Jika suhu gas adalah T dan kelembaban , entalpi total adalah
jumlah ketiga faktor, yaitu kalor sensibel uap, kalor laten zat cair pada To, dan
kalor sesnsibel gas bebas uap. Jadi:

dimana 0 adalah kalor laten zat cair pada suhu To. Persmaan ini dapat ditulis
lebih sederhana:
Kesetimbangan Fasa
Dalam operasi pengeringan, fasa cair adalah komponen tunggal. Tekanan
parsial kesetimbangan zat terlarut di dalam fasa gas merupakan fungsi tunggal
dari temperature bila tekanan total sistem tersebut dibuat konstan. Demikian pula
pada tekanan menengah, tekanan parsial kesetimbangan hampir tidak bergantung
pada tekanan total dan dapat dikatakan sama dengan tekanan uap zat cair. Menurut
Hukum Dalton, tekanan parsial kesetimbangan dapat dikonversikan menjadi
fraksi mol kesetimbangan ye dalam fasa gas. Oleh karena zat cairnya murni xe
selalu 1. Data kesetimbangan biasanya disajikan sebagai grafik ye terhadap
temperatur pada suatu tekanan total tertentu. Fraksi mol kesetimbangan
ye dihubungakan dengan kelembaban jenuh oleh persamaan:

Temperatur Jenuh Adiabatik


Perhatikan proses pada gambar 1. Gas dengan kelembaban dan
temperatur T mengalir secara kontinue melalui ruang yang dialiri udara pengering
A. Kamar tersebut diisolasi sehingga prosesnya adiabatik. Zat cair itu
disirkulasikan oleh pompa B dari reservoar pada dasar ruang pengering melalui
penyemprot udara kering C dan kembali ke dalam reservoar. Gas yang mengalir
mellaui ruang pengering tersebut menjadi lebih dingin dan lembab. Temperatur
zat cair tersebut akan mencapai suatu temperatur tunak yang disebut temperatur
jenuh adiabtik Ts. Kecuali jika gas yang masuk tersebut jenuh, temperatur jenuh
adiabatik selalu lebih rendah dari temperatur gas masuk. Jika kontak antara zat
cair dan gas tersebut cukup baik sehingga zat cair dan gas keluar berada dalam
kesetimbangan, gas yang keluar akan jenuh pada suhu Ts. Oleh karena zat cair
yang menguap ke dalam gas itu hilang dari ruang pengering tersebut, diperlukan
tambahan zat cair pengganti. Untuk menyederhanakan analisis, diasumsikan zat
cair yang ditambahkan ke dalam reservoar berada pada temperatur Ts. Untuk
proses ini dapat dibuat neraca entalpi yang didasarkan pada Ts dengan
mengabaikan kerja pompa. Karena berada pada Ts (sama dengan temperatur
acuan), entalpi zat cair penambah adalah 0 dan entalpi total gas masuk sama
dengan gas keluar. Karena total gas keluar berada pada temperatur acuan, maka
entalpinya adalah S.S, dimana S adalah kelembaban jenuh dan S kalor laten
penguapan yan keduanya berada pada TS. Maka neraca entalpi total adalah:

Penggunaan Grafik Kelembaban


Manfaat grafik kelembaban sebagai sumber data mengenai campuran air-
udara tertentu dapat ditunjukkan dengan mengacu pada gambar 3 yang merupakan
bagian penting dari gambar 2. Andaikan suatu aliran tertentu udara yang belum
jenuh berada pada temperatur T dan persen kelembaban A1. Udara ini
ditunjukkan oleh titik A pada grafik. Titik ini merupakan titik potong antara garis
temperatur tetap T dan garis persen kelembaban tetap A1 . Kelembaban A1
pada udara ditunjukkan oleh titik b, yaitu koordinat kelembaban dari titik a. Titik
embun didapatkan dengan mengikuti garis adiabatik melalui titik a sampai ke
perpotongannya e pada garis 100%, dan membaca kelembaban S pada titik f
pada skala kelembaban. Kadang-kadang interpolasi di antara garis-garis adiabtik
itu diperlukan. Temperatur jenuh adiabatik TS ditunjukkan titik j. Jika udara
semula dijenuhkan pada temperatur tetap, kelembaban sesudah penjenuhan
didapatkan dengan mengikuti garis temperatur tetap melalui titik a ke titik h pada
garis 100% kelembaban dan membaca kelembaban pada titik j.
Volume lembab udara semula didapatkan dengan menentukan letak titik k
dan l masing-masing pada kurva volume jenuh dan volume kering yang
sehubungan dengan temperatur T1. Titik m didapatkan dengan bergerak di
sepanjang garis lk sejauh (A/100) kl dari titik l, dimana kl adalah segmen garis
antara l dan k. Volume lembab vH diberikan oleh titik n pada skala volume. Kalor
beban udara didapatkan dengan menentukan letak titik o, yaitu perpotongan antara
garis kelembaban melalui titik a dan garis kalor lembab dan membaca kalor
lembab cs pada titik p pada skala sebelah atas.

Temperatur Bola Basah dan Pengukuran Kelembaban


Sifat-sifat yang dibahas dan yang terlihat pada grafik kelembaban adalah
besaran-besaran statik atau kesetimbangan. Di samping itu, yang terpenting adalah
laju perpindahan massa dan kalor antara gas dan zat cair yang tidak berada pada
kesetimbangan. Suatu besaran yang bergantung pada kedua laju ini adalah
temperature bola basah. Temperatur bola basah adalah suatu temperatur peralihan
dari keadaan tak setimbang menjadi keadaan tunak yang dicapai bila suatu massa
yang kecil dari zat cair dicelupkan dalam keadaan adiabatik di dalam suatu arus
gas yang kontinu. Massa zat cair itu sedemikian kecil dilembabkan dengan fasa
gas, sehingga perubahan sifat-sifat gas kecil sekali dan dapat diabaikan sehingga
pengeruh proses ini hanya terbatas pada zat cair saja. Metoda pengukuran
temperatur bola basah terlihat pada Gambar 4. Sebuah termometer atau suatu
piranti pengukur temperatur seperti termokopeldibalut dengan sumbu yang
dijenuhkan dengan zat cair murni dan dicelupkan di dalam aliran gas yang
mempunyai temperatur tertentu T dan kelembaban . Diasumsikan awalnya
temperature zat cair tersebut kira-kira sama dengan gas. Karena gas tidak jenuh,
zat cair lalu menguap dan karena proses adiabatik, kalor laten didapatkan dari
pendinginan zat cair. Jika temperatur zat cair telah turun sampai di bawah
temperatur gas, kalor sensibel akan berpindah dari gas ke zat cair. Akhirnya akan
tercapai suatu keadaan kesetimbangan pada temperatur zat cair, dimana kalor
yang diperlukan untuk menguapkan zat cair dan memanaskan uap sampai ke
temperatur gas menjadi bersis sama dengan kalor sensible yang mengalir dari gas
ke zat cair. Temperatur ini adalah temperatur dalam keadaan tunak, ditandai
dengan TW, dan disebut temperatur bola basah. Temperatur ini merupakan fungsi
T dan .

Untuk mengukur temperatur bola basah secara teliti, ada 3 hal yang harus
diperhatikan:
1. sumbu harus basah seluruhnya dan tidak ada bagian sumbu yang kering yang
kontak dengan gas.
2. kecepatan gas harus cukup besar sehingga laju alir kalor radiasi dari lingkungan
yang panas ke bola basah itu dapat diabaikan terhadap laju aliran kalor sensible
yang disebabkan oleh konduksi dan konveksi dari gas ke bola basah
3. jika harus ditambahkan zat cair pengganti ke bola basah itu, zat cair yang
ditambahkan tersebut harus berada pada temperatur bola basah.
Bila ketiga hal tersebut dipenuhi, temperatur bola basah tidak akan
bergantung pada kecepatan gas dalam rentang laju alir yang cukup luas. Untuk
campuran udara-air temperatur bola basah hampir sama dengan tempertur jenuh
adiabatik TS. Pada dasarnya temperatur bola basah berbeda dari temperatur jenuh
adiabatik.. Pada temperatur jenuh adiabatik, temperatur dan kelembaban gas
berubah selama berlangsungnya proses pengukuran dan titik akhirnya adalah
suatu kesetimbangan yang tetap dan keadaan tunak yang dinamik. Umumnya
bersama dengan termometer yang dibalut sumbat basah digunakan pula
termometer tanpa dibalut yang mengukur temperatur T, yaitu temperatur gas
nyata. T tersebut dinamakan temperatur bola kering.
BAB III

MATERI DAN METODA

A Materi

1 Peralatan percobaan :
Kolom dinding basah
Thermostat
Pompa
Compressor
Thermometer
Flowmete

2 Bahan Percobaan :
Air

B Metoda

Prosedur Percobaan :

1 Oleh compressor, udara dimasukan kedalam kolom dinding basah setelah


melalui flowmeter. Oleh pompa dengan kecepatan alir konstan, air
dialirkan melalui thermostat melalui bagian atas tangki kekolom dinding
basah, lalu air akan meluber dan jatuh mengalir dalam bentuk lapisan tipis
pada dinding kolom sambil berkontak dengan udara.
2 Bila aliran air dalam bentuk lapisan tipis (filim air) sudah setabil serta
keadaan steady state telah tercapai, maka suhu dan kelembaban masing-
masing baik udara masuk maupun udara keluar dapat dicari dngan
mengamati suhu thermometer bola basah dan suhu thermometer bola
kerring.
3 Amatilah suhu air masuk dan suhu air keluar.
4 Ubalah aliran da n ulangilah perlakuan yang sama seperti langkah-langkah
1sampai dengan langkah 2.

C Gambar Percobaan
Gambar alat
1 Kompressor 2. Pompa dan tangki air

3 Termometer bola kering 4. Flowmeter

5 Termometer bola basah


Gambar Rangkaian
BAB IV

Waktu Aliran Air Aliran Udara Masuk Udara Keluar


(menit) Udara
L/m ToC NL/m SBk SBB T SBk SBB

5 0,47 40 20 29 26 3 30 28 2
10 0,47 40 30 28 23 5 32 30 2
15 0,47 40 40 28 20 8 34 31 3
20 0,47 40 50 28 18 10 35 31 3
DATA PENGAMATAN

R = 0,005 m

L = 1,000 m

Viskositas udara :18,424 x 10-6 Kg/m.sec

BAB V
HASIL KERJA PRAKTEK

A. Analisa Data
(Data ke-2)
1. Aliran air :
L/m = m3/jam
0,47 L/m = 0,47 L/m x 60 menit/ 1 jam x 1 m3/1000 L
= 0,0282 m3/ jam

2. Aliran Udara (Q)


NL/m = Nm3/jam
30 NL/menit = 30 NL/menit x 60 menit/ 1 jam x 1 m3/1000 L
= 1,8 Nm3/ jam

3. Kecepatan udara (V)


V = Qu/A ( m/jam)


A=
4 x d2

= 3,14/ 4 x (0,01 m)2

= 7,85 x 10-5 m2

d = 2 .R

= 2 x 0,005 m

= 0,01 m

V= Qu /A

= 1,8 Nm3/jam / 7,85 x 10-5 m2

= 22929,9363 m/ jam

4. Mencari harga PA1(Udara Masuk) dan PA2 (Udara Keluar)

Percobaan 2 / 10 menit
Harga H dapat dicari dari Humudity Chart
H (Udara masuk)= 0,016 mmHg
H(Udara keluar)= 0,026 mmHg

- Mencari PA ( Udara masuk)

PA 1 29
PT PA = 18 . H1

PA1 29
=
760 mmHgPA 18 . 0,016 mmHg

18 PA1 = 0,464 ( 760 mmHg PA1)

18 PA1 = 352,64 mmHg- 0,464 PA1

35264 mmHg
P A 1= =19,0987 mmHg
18,464 mmHg

- Mencari PAW1 (Udara Masuk)

PA =PA w - 0,5 (t-tw)

19,0987 = PA w -0,5 (28-23)C

19,0987 = PA w -0,5 (5)C

19,0987 = PA w -2,5

PA w = 19,0987 mmHg + 2,5


= 21,5987 mmHg

- Mencari PA2( Udara keluar)

PA 29
PT PA = 18 . H1
PA 29
=
760 mmHgPA 18 . 0,026 mmHg

PA 0,754
760 mmHgPA = 18 mmHg

18 PA = 0,754 (760 mmHg PA )


2

18 PA = 573,04 mmHg - 0,754 PA


2

18 PA +0,754 PA = 573,04 mmHg


2

18, 754 PA2 = 573,04 mmHg

PA2 = 30,5556 mmHg

- Mencari PAW2(udara keluar)

PA =PA w - 0,5 (t-tw)

30,5556 mmHg= PA w -0,5 (35- 31)C

30,5556 mmHg= PA w -0,5 (3)C

PA w = 30,5556 mmHg + 1,5 = 32, 0556 mmHg

5. Mencari In PA (mmHg)

( PAW PA )(PAW PA )
PA ln=
(
[
2,303. log
PAW PA
PAW PA ]

( 21,598719,0987 ) mmHg( 32,055630,5556 ) mmHg


[
2,303. log
]
( 21,598719,0987 ) mmHg
( 32,055630,5556 ) mmHg
1 mmHg
= 2,303. log 1,66

1 mmHg
= 0,5069

= 1,9737mmHg

6 Menghitung nilai KG (Kg/ jam m2 atm)

R
2l
KG =
g .

PT = 760 mmHg x 1 atm / 760 mmHg


= 1 atm
PA 1 = 19,0987 mmHg x 1 atm/ 760 mmHg
= 0,025 mmHg
PA 2 = 30,5556 mmHg x 1 atm / 760 mmHg = 0,0402 mmHg
In PA = 1,9727 mmHg x 1 atm / 760 mmHg = 0,0025 atm

Mencari nilai g pada suhu 28o C

- Pada temp 0oC density = 1,293 kg/m3


- Pada temp 50oC density = 1,093 kg/m3
XX Y Y
X X = Y Y

28 0 y 1,293
50 0 = 1,093 1,293

28 y 1,293
50 = 0,2
50y 64,65 = -5,6 kg/m3

50 y = ( -5,6 + 64,65) kg/m3

50 y = 59,05 kg/m3

Y = 1,181 kg/m3

R
2l
KG =
g .

=
1,181 kg /m3 . ( 0,005 m
2,1 m )
22929,9363 m/ jam
.
0,04020,0251
1 atm 0,0025 atm

= 408,9116 kg/m2 atm jam

7 Menghitung Harga Bilangan Reynold

.d.
Re=


Mencari pada suhu 28o C

XX Y Y
X X = Y Y
28 0 y 17,10
50 0 = 19,5417,10

28 y 17,10
50 = 2,44

50y 855 = 68,32


50 y = (68,32+ 855)

Y = 18,46 x 10-6 Kg/m.sec

.d.
Re=

kg m jam
1,181 .0,01 m22929,9363 x1 skon
m3
jam 3600
= kg
018,46 x 106 . sec
m
= 4073,6728

Waktu Aliran Air Aliran Udara Masuk Udara Keluar


(menit) Udara
L/m ToC NL/m SBk SBB T SBk SBB

5 0,47 40 20 29 26 3 30 28 2
10 0,47 40 30 28 23 5 32 30 2
15 0,47 40 40 28 20 8 34 31 3
20 0,47 40 50 28 18 10 35 31 3
B.Tabulasi Data

Waktu Aliran Air Aliran Udara Masuk Udara Keluar


(menit) Udara
L/m ToC NL/m SBk SBB T SBk SBB

5 0,47 40 20 29 26 3 30 28 2
10 0,47 40 30 28 23 5 32 30 2
15 0,47 40 40 28 20 8 34 31 3
20 0,47 40 50 28 18 10 35 31 3
Waktu Aliran Air Aliran Udara Masuk Udara Keluar
(menit) Udara
L/m ToC NL/m SBk SBB T SBk SBB

5 0,47 40 20 29 26 3 30 28 2
10 0,47 40 30 28 23 5 32 30 2
15 0,47 40 40 28 20 8 34 31 3
20 0,47 40 50 28 18 10 35 31 3

Udara Keluar Kecepatan udara


& air
Pw1 PA1 Udara Udara ^T PW2 PA2 Ln ^ V udara V air KG Re
o
mmHg mmHg kering basah C mmH mmH PA m/jam m/jam kg/m2
t20C tw2oC g g jam
atm
15,357 12,357 29 28 1 19,987 19,487 1,395 26751,5 252,22 0,25 23073 x 10-4
9 9
19,987 12,357 29 28 1 19,987 19,487 1,923 26751,5 267,51 0,1864 2,3086x108
2 9
16,857 12,357 30 29 1 19,987 19,487 1,820 26751,5 343,94 0,1974 23119,112x1
2 9 0-4
17,357 12,357 30 29 1 19,987 19,487 1,953 26751,5 366,87 0,36 46346,139x1
9 8 0-4

C.Grafik
BAB VI
KESIMPULAN

Dari data hasil pengamatan yang diperoleh, maka dapat disimpulkan


sebagai berikut:

1. Penurunan tekanan dalam kolom absorpsi berbanding lurus dengan laju


alir udara yang diberikan. Pada kolom kering dengan laju alir udara 30
L/menit dan 100 L/menit, Ppercobaan mengalami peningkatan sebesar 7
mmH2O, yaitu dari 1 mmH2O mencapai 8 mmH2O.
2. Porositaspacking yang digunakan sebesar 80 % sehingga sesuai dengan
teoritis, yaitu berkisar antara 65% sampai 95% yang diperoleh dari
perbandingan ruang kosongpacking terhadap volume packing.
3. Liquid hold up dipengaruhi oleh laju alir udara dan air, semakin besar laju
alir udara yang diberikan maka akan semakin besar pulahold up yang
terjadi, karena laju alir udara akan menghambat laju alir air yang turun
dari atas menara absorbsi.
4. Pada laju alir air 1 L/menit, koefisien perpindahan massa menunjukkan
jika dibandingkan dengan laju alir air 2 L/menit. Difusi molekular akan
meningkat saat laju alir absorben di atur lebih rendah

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2008, Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia, Fakultas
Teknik, Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh
Coulson and Richardsons, 2002,Chemical Engineering,5th Edition, Butterworth-
Heinemann, Tokyo
Geankoplis, C. J., 1993,Transport Processes and Unit Operation, 3nd Edition,
Prentice Hall, Inc, U.S.A
McCabe, W. L., and J. C., Smith. 1999.Operasi Teknik Kimia, edisi keempat,
jilid 2, Erlangga, Jakarta
Modul 2.02 Pengeringan Panduan Pelaksanaan Instruksional I/II. Departemen
ITB.