Anda di halaman 1dari 14

http://economy.okezone.

com/read/2016/09/27/20/1499993/usai-periode-i-
kemenkeu-evaluasi-dan-perbaiki-program-tax-amnesty

Selasa, 27 September 2016 - 18:07 wib

Usai Periode I, Kemenkeu Evaluasi dan


Perbaiki Program Tax Amnesty
Dedy Afrianto
Jurnalis

JAKARTA - Program tax amnesty atau pengampunan pajak pada 30 September akan berakhir
untuk periode pertama. Berbagai kemudahan pun saat ini telah diberikan oleh pemerintah untuk
peserta tax amnesty. Salah satunya adalah mengenai penyertaan sertifikat kepemilikan harta
dalam proses pendaftaran.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, evaluasi tax amnesty akan segera dilakukan.
Ditargetkan, begitu periode pertama tax amnesty berakhir, maka evaluasi akan segera dilakukan
besama Ditjen Pajak.

"Tax amnesty itu sembilan bulan, saya akan lihat evaluasi setelah periode I, dan kita lihat apa
yang bisa diperbaiki," kata Sri Mulyani di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta,
Selasa (27/9/2016).

Saat ini, Sri Mulyani menegaskan akan terus berupaya secara maksimal untuk meningkatkan
penerimaan dari program pengampunan pajak ini. Diharapkan, tax amnesty ini nantinya juga
dapat meningkatkan basis pajak di Indonesia.

"Saya ulangi berkali-kali, saya akan terus usahakan semaksimal mungkin bahwa tax amnesty
akan memperkuat tax based kita," tutupnya.
http://economy.okezone.com/read/2016/12/01/20/1555737/kepatuhan-masih-rendah-sri-mulyani-
pajak-untuk-merah-putih

Kamis, 1 Desember 2016 - 07:46 wib

Kepatuhan Masih Rendah, Sri Mulyani: Pajak untuk Merah Putih!

Dedy Afrianto
Jurnalis

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mencatat bahwa hingga saat ini kepatuhan pajak
masih tergolong rendah. Dari total 31,7 juta wajib pajak (WP) terdaftar, total tax ratio hanya
mencapai 13%. Padahal di negara-negara lainnya, total tax ratio dapat mencapai 20%.

"Tahun 2016 ada 32,7 juta wp terdaftar. Hanya 20,1 juta wajib SPT karena dia miliki
kemampuan di atas PTKP, yang serahkan SPT hanya 12,5 juta. Hanya 62,2% kepatuhan,
memang lebih baik sedikit dari empat tahun lalu. Tapi 10 tahun lalu hanya 5 juta WP. Tren
membaik tapi kepatuhan tidak meningkat secara menggembirakan," terang Sri Mulyani di
Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, kemarin.

Sri Mulyani pun meminta kepada seluruh jajaran Direksi BUMN untuk dapat ikut serta dalam
program tax amnesty. Sebab, hal ini mampu untuk meningkatkan kepatuhan pajak dalam jangka
panjang.

"Memelihara persatuan butuh redistribusi. Pajak adalah hal yang penting. Kalau BUMN katakan
berjuang untuk merah putih, pajak dan APBN jelas untuk merah putih," jelasnya.

Adapun jumlah peserta tax amnesty per Pulau hingga 28 November 2016 adalah sebagai berikut:

1. Pulau Sumatera

Jumlah WP SPT: 3,9 juta

WP Ikut Tax Amnesty: 81 ribu

Total tebusan: Rp8,1 triliun

2. Jakarta

Jumlah WP SPT: 2,1 juta


WP Ikut Tax Amnesty: 151 ribu

Total tebusan: Rp52,3 triliun

3. Pulau Jawa non Jakarta

Jumlah WP SPT: 9,9 juta

WP Ikut Tax Amnesty: 173 ribu

Total tebusan: Rp29,6 triliun

4. Kalimantan

Jumlah WP SPT: 1,3 juta

WP Ikut Tax Amnesty: 22 ribu

Total tebusan: Rp2,2 triliun

5. Sulawesi

Jumlah WP SPT: 1,6 juta

WP Ikut Tax Amnesty: 17 ribu

Total tebusan: Rp1,3 triliun

6. Bali, Nusa Tenggara, Papua, Maluku

Jumlah WP SPT: 1,3 juta

WP Ikut Tax Amnesty: 22 ribu

Total tebusan: Rp1,4 triliun


http://www.gatra.com/fokus-berita-1/219902-hasil-evaluasi-pelaksanaan-tax-amnesty-periode-1-
ken-belum-puas

Hasil Evaluasi Pelaksanaan Tax Amnesty Periode 1: Ken Belum


Puas
GATRAnews -

Selasa, 04 Oktober 2016

Fokus Berita

Jakarta, GATRANews - Pemerintah yakin pelaksanaan Tax Amnesty yang masih tersisa dua
periode lagi (tahap 2 Oktober-Desember dan tahap 3 dari Januari hingga Maret 2017) masih akan
banyak diikuti oleh para wajib pajak. Pelaksanaan tahap satu sudah ditutup pada 30 September
lalu dengan hasil banyak dipujikan, yaitu deklarasi harta sebesar Rp 3.625 triliun dan uang
tebusan mencapai Rp 97,2 triliun, berdasarkan penerimaan Surat Pernyataan Harta (SPH).

Menurut Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Ken Dwijugiasteadi, wajib pajak yang
mengikuti program amnesti pajak masih bisa ditingkatkan di periode dua dan tiga karena
potensinya sangat besar.

"Peserta amnesti pajak sebanyak 368 ribu wajib pajak, masih sangat kecil dibandingkan dengan
jumlah wajib pajak yang seharusnya memanfaatkan amnesti pajak," kata Ken dalam jumpa pers
terkait evaluasi penyelenggaraan amnesti pajak di Jakarta, Senin.

Ken menjelaskan program amnesti pajak periode pertama yang berakhir pada 30 September 2016
merupakan momentum yang baik untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, karena jumlah
deklarasi luar negeri maupun repatriasi masih sedikit.

"Deklarasi luar negeri sebesar Rp 951 triliun dan repatriasi sebesar Rp 137 triliun masih jauh dari
data WNI yang memiliki harta di luar negeri," katanya seperti dilaporkan Antara.
Selain itu, kata dia, jumlah pembayaran tunggakan pokok pajak dalam program amnesti pajak
sebesar Rp 3,4 triliun relatif masih kecil dibandingkan jumlah tunggakan pokok pajak yang
tercatat keseluruhan mencapai Rp 50 triliun.

Menurut Ken, peserta amnesti pajak yang bisa ditingkatkan jumlahnya berasal dari wajib pajak
UMKM, karena peserta dari sektor ini yang mengikuti periode pertama baru mencapai 69.500,
masih kecil dari jumlah yang terdaftar di DJP sebanyak 600.000.

"Diyakini masih banyak pengusaha UMKM yang belum memiliki NPWP. Untuk itu, DJP akan
berkoordinasi dengan dinas UKM dan Kementerian KUKM untuk menghimbau para pelaku
UMKM untuk memanfaatkan amnesti pajak," ujarnya.

Ken mengatakan sosialisasi secara bertahap akan dilakukan kepada pengusaha UMKM untuk
mengikuti kebijakan amnesti pajak, apalagi tarif tebusan yang ditawarkan adalah flat hingga
masa berakhirnya program ini pada tahun depan.

UU Pengampunan Pajak menyatakan tarif tebusan bagi wajib pajak UMKM adalah sebesar 0,5
persen bagi deklarasi harta dibawah Rp 10 miliar dan 2 persen bagi deklarasi harta diatas Rp 10
miliar yang berlaku tetap hingga 31 Maret 2017.

Sedangkan, tarif tebusan bagi wajib pajak non UMKM yang mau melakukan deklarasi harta
dalam negeri dan repatriasi pada periode dua yang berlaku hingga 31 Desember 2016 adalah 3
persen, dan deklarasi harta luar negeri sebesar 6 persen.

Terkait penerimaan pajak yang makin meningkat dengan pendapatan uang tebusan dari amnesti
pajak, Ken mengaku belum sepenuhnya puas, karena potensi penerimaan masih bisa
ditingkatkan dengan berbagai upaya ekstensifikasi lainnya.

"Masih ada berbagai langkah untuk capaian penerimaan, dan itu tidak hanya dari amnesti pajak.
Karena itu, kami masih terus berjuang, baik yang rutin maupun pemeriksaan wajib pajak yang
tidak ikut amnesti. Itu masih berjalan seperti biasa," ujar Ken.
Hasil Tax Amnesty (www.pajak.go.id/statistik-amnesti)
Data DJP menyebutkan pencapaian uang tebusan program amnesti pajak hingga periode satu 30
September 2016, telah mencapai Rp97,2 triliun, yang berdasarkan penerimaan Surat Pernyataan
Harta (SPH), berasal dari deklarasi harta sebesar Rp 3.625 triliun.

Deklarasi harta peserta amnesti pajak tersebut mencakup deklarasi dalam negeri sebesar Rp
2.536 triliun, deklarasi luar negeri Rp 952 triliun dan repatriasi Rp 137 triliun.

Khusus untuk repatriasi, aliran modal terbesar berasal dari Singapura Rp 79,13 triliun, The
Cayman Island Rp 16,5 triliun, Hong Kong Rp 14,05 triliun, Tiongkok Rp 3,56 triliun dan Virgin
Islands Rp 2,49 triliun.

Sementara itu, komposisi wajib pajak peserta amnesti berdasarkan penerimaan SPH adalah Wajib
Pajak Orang Pribadi sebanyak 291.253 dan Wajib Pajak Badan 76.211 dengan total keseluruhan
mencapai 367.464.

Berdasarkan karakteristik wajib pajak, sebanyak 301.833 merupakan wajib pajak membetulkan
SPT, 66.586 wajib pajak tidak lapor SPT dan tidak membayar, 15.856 wajib pajak terdaftar pasca
amnesti dan 10.890 wajib pajak mendaftar pada 2015/2016 sebelum amnesti.

Editor: Dani Hamdani

Last modified on 04/10/2016

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/831329-periode-i-tax-amnesty-sukses-karena-gotong-
royong
BISNIS

Periode I Tax Amnesty Sukses karena Gotong


Royong
Masyarakat mulai percaya kepada pemerintah untuk membayar pajak.
Kamis, 6 Oktober 2016 | 17:10 WIB
Oleh : Dusep Malik, Shintaloka Pradita Sicca

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Ken Dwijugiasteadi. (Chandra


GA/VIVA.co.id)

VIVA.co.id Program pengampunan pajak, atau tax amnesty dinilai banyak orang telah
mencapai kesuksesan. Hal ini dilihat dari pencapaian periode pertama tax amnesty yang hingga
30 September 2016, mencetak angka Rp3.441 triliun untuk total harta yang telah dideklarasi para
Wajib Pajak (WP).

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Ken Dwijugiasteadi mengatakan, capaian


praktik tax amnesty Indonesia tersebut diklaim sukses, karena didorong oleh azas gotong-royong
bangsa.
"Tax amnesty Indonesia dibilang sukses, karena kita bergotong-royong. Azas yang kita pakai dan
diterapkan dalam pajak. Negara lain enggak punya itu. Makanya, kita bisa lebih unggul dari
negara lain," ungkap Ken di Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak WP Besar IV,
Jakarta, Kamis 6 Oktober 2016.

Selain itu, ia mengungkapkan kesuksesan program ini juga disebabkan oleh berkurangnya gap
antara pemerintah dengan masyarakat, yang mengartikan kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah saat ini terus alami peningkatan.

"Sekarang, masyarakat percaya ke pemerintah. Masyarakat percaya pegawai pajak. Sekarang


bayar pajak enggak nunggu ketahuan. Masyarakat sekarang berbondong-berbondong bayar
pajak," ujarnya.

Ia memandang, kesadaran membayar pajak rakyat Indonesia sudah meningkat saat ini. Terdapat
pergeseran stigma. "Dahulu, orang enggak bayar pajak enggak malu, sekarang malu. Sekarang,
NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) selalu ada di kantong (dompet)," ucapnya.

Hal tersebut, menurutnya, juga mendukung realisasi praktik tax amnesty, selain kemudahan-
kemudahan yang diupayakan pihak pajak maupun Pemerintah Pusat. "Kita sekarang transparan.
Kita sudah mulai patuh karena hal-hal ini," ujarnya.

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/831265-dirjen-pajak-cerita-tax-amnesty-picu-perceraian-
keluarga

Dirjen Pajak Cerita Tax Amnesty Picu


Perceraian Keluarga
Ternyata, sang suami menutupi harta kekayaannya dari istri.
Kamis, 6 Oktober 2016 | 16:04 WIB
Oleh : Daurina Lestari, Chandra G. Asmara
Sosialisasi Tax Amnesty atau Pengampunan Pajak di Jakarta (REUTERS/Iqro Rinaldi)

VIVA.co.id Direktur Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Ken Dwijugiasteadi


menyatakan bahwa program kebijakan pengampunan pajak, atau tax amnesty telah memakan
korban. Hal itu diungkapkannya di depan anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia.

Ken mengaku bahwa pada periode pertama tax amnesty, ada sejumlah pasangan suami istri yang
bercerai, karena terlibat cekcok terkait kewajiban pelaporan seluruh harta yang dimiliki.

Amnesti ini makan korban juga. Banyak perceraian antara suami dan istri, kata Ken, saat
ditemui di Menara Bidakara Jakarta, Kamis 6 Oktober 2016.

Ken bercerita, ada beberapa istri para wajib pajak yang secara tiba-tiba menghubunginya untuk
meminta daftar kekayaan yang sudah dilaporkan sang suami kepada otoritas pajak. Namun, DJP
pun tidak bisa blakblakan, meskipun kepada sang istri, karena bertentangan dengan undang-
undang.

Ada yang nanya, Pak boleh tidak saya minta data amnesti suami saya?, Tidak boleh itu
rahasia. Kenapa suami saya melaporkan hartanya begitu banyak, rumahnya banyak. Yang
dilaporkan ke saya cuma satu rumahnya, katanya.

Merepons pernyataan Ken, sang istri pun tidak terima dan menuding Ken telah melindungi sang
suami. Ini menjadi awal mula pertikaian suami-istri, karena tidak ada keterbukaan di antara
mereka.
Mereka berantem. Mereka cerai, karena ternyata suaminya banyak simpanan. Jadi, korban
amnesti ini banyak juga, tuturnya.

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/829288-tax-amnesty-sukses-ini-surat-cinta-sri-mulyani

Tax Amnesty Sukses, Ini 'Surat Cinta' Sri


Mulyani
Sri Mulyani menyampaikan rasa terima kasih kepada Ditjen Pajak.
Minggu, 2 Oktober 2016 | 12:17 WIB
Oleh : Toto Pribadi, Romys Binekasri

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (ANTARA/Widodo S. Jusuf)

VIVA.co.id Program pengampunan pajak, alias tax amnesty periode pertama telah berakhir.
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan apresiasi kepada Direktorat Jenderal Pajak yang
telah berkontribusi besar dalam melayani masyarakat demi suksesnya tax amnesty.

Berdasarkan kabar yang beredar, Sri Mulyani menyampaikan rasa terima kasih kepada Ditjen
Pajak Ken Dwijugiasteadi lewat surat cinta atas kerja keras dan dedikasinya dalam
menjalankan tugas.
"Saya ingin menyampaikan terima kasih atas kerja keras dan dedikasi luar biasa dalam
menjalankan tugas, melayani masyarakat yang ingin menggunakan hak pengampunan pajak,"
ujarnya.

Menurutnya, Ditjen pajak telah bekerja lebih keras pantas saja antusiasme masyarakat yang
membeludak dengan memperpanjang jam kerja.

"Pagi, siang, malam, hingga dini hari, terus berganti giliran semua ikut terjun menangani
antusiasme masyarakat yang membludak dengan penuh kesabaran, perhatian, senyum, semangat
membantu, dan semangat untuk menunjukkan bahwa DJP yang bisa dipercaya, disegani,
dibutuhkan dan dihormati oleh rakyat kita, katanya.

Semoga hasil pencapaian tahap pertama dan perhatian, serta dukungan rakyat, Presiden, dan
seluruh stakeholder pajak, dapat menjadi modal berharga bagi kita semua untuk membangun,
mereformasi, dan memperbaiki DJP, agar semakin baik dan semakin banyak dipercaya sebagai
tulang punggung Republik Indonesia," lanjutnya.

Sri Mulyani menilai, capaian tahap pertama tax amnesty dan kerja tim yang sangat baik. Ia
sangat berharap, seluruh pihak terkait dapat terus mendorong dan mendukung upaya kita
bersama mencapai target penerimaan pajak 2016. Sebab, hal itu guna mencapai perbaikan basis
pajak dan tax ratio.

"Kita juga harus terus membangun menumbuhkan, memperkuat, dan menjaga budaya kepatuhan
membayar pajak oleh masyarakat Indonesia. Untuk Indonesia yang adil dan makmur," ujarnya.
http://fokus.news.viva.co.id/news/read/828878-akhir-manis-tax-amnesty-periode-pertama

Akhir Manis Tax Amnesty Periode Pertama


Melampaui target yang dipatok pemerintah. Tersukses di dunia.
Sabtu, 1 Oktober 2016 | 06:02 WIB
Oleh : Daurina Lestari, Chandra G. Asmara , Fikri Halim

Masyarakat ikut tax amnesty di kantor pajak KPP Pratama Jakarta Menteng dua, Jakarta
Pusat. (VIVA.co.id/Fikri Halim)

VIVA.co.id Periode pertama program pengampunan pajak atau tax amnesty telah resmi
berakhir pada Jumat 30 September 2016. Hari-hari terakhir periode pertama tax amnesty, ribuan
wajib pajak memenuhi kantor-kantor pajak dan mengantre sejak subuh untuk bisa mendapat tarif
tebusan murah dua persen.

Kantor pelayanan pajak (KKP) Menteng Dua bahkan bisa melayani hingga 2.000 orang dalam
sehari. Para wajib pajak di KKP Grogol Petamburan pun rela mengantre sejak subuh pukul 03.00
WIB agar tidak melewatkan periode pertama tax amnesty.
Program yang telah berjalan sejak Juli lalu ini tidak hanya diikuti oleh para konglomerat, dan
pengusaha. Bahkan tukang cukur hingga loper koran ikut menikmati program pengampunan
pajak. Petugas pajak pun terpaksa lembur sampai malam untuk melayani para wajib pajak.

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Ken Dwijugiasteadi, menyampaikan bahwa


pihaknya menyiapkan pelayanan maksimal, bahkan hingga jam empat dini hari untuk hari
terakhir pelaksanaan periode pertama tax amnesty ini. Ia mengklaim, antrean pun terjadi di
seluruh wilayah Indonesia.

"Jadi kami layani nanti sampai selesai, kalau masih ada yang dilayani, sampai jam empat pagi,
ya dilayani," kata Ken di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jumat 30 September 2016.

Berdasarkan data DJP, sekitar 27 juta wajib pajak yang melapor dari sekitar 50-60 juta wajib
pajak. Dalam periode pertama tax amnesty, atau hingga akhir waktu pelaksanaan, yaitu 30
September 2016 dana tebusan tax amnesty telah mencapai Rp96,7 triliun atau 58,6 persen dari
target pemerintah Rp165 triliun.

Sementara total harta yang telah dideklarasi dan repatriasi para wajib pajak telah mencapai
Rp3.441 triliun, lebih dari 50 persen target pemerintah. Dengan rincian dana repatriasi sebesar
Rp134 triliun, dana deklarasi luar negeri sebesar Rp929 triliun, dan dana deklarasi dalam negeri
sebesar Rp2.378 triliun.

Melihat antusias tinggi masyarakat Indonesia mengikuti program pengampunan pajak dan nilai
harta dari tax amnesty membuat pemerintah mengklaim keberhasilan program ini. Menteri
Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, program tax amnesty yang diterapkan pemerintah
Indonesia berhasil menjadi yang terbaik dari negara-negara lain, yang sebelumnya juga
menerapkan kebijakan tersebut.

Ani, sapaan akrab Menkeu menjelaskan, jika melihat dari sisi jumlah uang tebusan melalui Surat
Pernyataan Harta yang disetorkan kepada Direktorat Jenderal Pajak, uang tebusan tax amnesty
Indonesia telah mencapai 0,65 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Dibandingkan dengan program amnesti pajak di negra lain, ini yang paling tinggi," jelas
Menkeu dalam rapat kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Kamis 29
September 2016.

Ani menyebutkan, hasil implementasi dari program kebijakan tax amnesty di negara-negara lain,
tercatat hanya Chili yang hampir mendekati posisi uang tebusan tax amnesty milik Indonesia,
yaitu sebesar 0,62 persen terhadap PDB. Kebijakan ini, diterapkan negara di benua Amerika
Latin itu pada tahun lalu.

Kemudian, lanjut Ani, disusul oleh India pada tahun 1997, yakni sebesar 0,58 persen terhadap
PDB, kemudian Afrika Selatan sebesar 0,17 persen terhadap PDB, serta Belgia dan Spanyol yang
masing-masing sebesar 0,15 persen dan 0,12 persen terhadap PDB.

"Sedangkan Australia, hanya 0,04 persen dari PDB," ungkapnya.


Belum sesuai harapan

Penerimaan dana tebusan dalam pengampunan pajak atau tax amnesty memang melonjak hampir
50 persen selama dua hari terakhir, karena meningkatnya jumlah wajib pajak yang mengikuti
program ini. Meski demikian dana repatriasi baru mencapai sebesar Rp134 triliun, hanya 13,4
persen dari target pemerintah 1.000 triliun.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro


berpendapat, implementasi program tax amnesty belum sesuai yang diharapkan. Menurut dia,
deklarasi dana luar negeri dan repatriasi aset wajib pajak, sebenarnya masih bisa lebih besar pada
periode pertama.

"Dari jumlah yang sekarang, masih di bawah yang seharusnya, menurut saya ya, kata mantan
menteri keuangan itu saat berbincang dengan VIVA.co.id di kantor Badan Pusat Statistik, Jakarta,
Jumat 30 September 2016.

Mantan pelaksana tugas kepala badan kebijakan fiskal Kementerian Keuangan ini menegaskan,
meskipun hasil dari program kebijakan tersebut menjelang akhir periode pertama belum sesuai
harapan, namun Bambang masih meyakini program tersebut bisa efektif berjalan sebagaimana
mestinya.

"Menurut saya, masih kurang deklarasi dana dari luar negerinya. Saya rasa, masih bisa
bertambah, mudah-mudahan, tax amnesty bisa sukses," ungkapnya.

Sementara, DBS Research Group memandang, apabila program kebijakan tax amnesty dapat
berhasil, ada potensi peringkat utang Indonesia bisa menanjak ke level layak investasi.

Ekonom DBS Research Group, Philip Wee mengungkapkan, program tax amnesty memang
menjadi salah satu senjata andalan jangka pendek, dalam menggenjot pertumbuhan. Target dana
repatriasi sebesar Rp1.000 triliun diharapkan mampu untuk meningkatkan penerimaan negara,
dan membiayai proyek infrastruktur.

Keberhasilan program tax amnesty pajak sekaligus akan memperbaiki kredibilitas fiskal
pemerintah, jelas Wee, dalam riset terbarunya yang diterima VIVA.co.id, Jumat 30 September
2016.

Jika program tax amnesty berhasil, Wee menilai peringkat utang Indonesia bisa naik ke level
layak investasi. Hal itu juga dapat menjaga daya tahan rupiah terhadap terpaan volatilitas global
dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat.