Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kondisi medis dapat memperburuk kehamilan. Kondisi medis yang paling
sering muncul ialah anemia, khususnya anemia yang disebabkan oleh defisiensi
besi atau asam folat, penyakit atau galur sel sabit (sickle cell trait) dan talasemia.
Gangguan autoimun, pulmoner, saluran cerna, integument, dan neorologi juga
dapat ditemukan. Aspek - aspek terkait kehamilan pada kondisi ini dibahas dalam
bagian berikut.
Anemia pada kehamilan di Indonesia masih tinggi, dengan angka nosional
65% yang setiap daerah mempunyai variasi berbeda.Anemia, gangguan medis
yang paling umum ditemui pada masa hamil, mempengaruhi sekurang
kurangnya 20% wanita hamil. Wanita ini memiliki insiden komplikasi puerperal
yang lebih tinggi, seperti infeksi, daripada wanita hamil dengan nilai hematologi
normal.
Anemia menyebabkan penurunan kapasitas darah untuk membawa
oksigen. Jantung berupaya mengonpensasi kondisi ini dengan meningkatkan
curah jantung. Upaya ini meningkatkan kebebasan kerja jantung dan menekan
fungsi ventricular. Dengan demikian, anemia yang menyertai komplikasi lain
(misalnya, preeklampsia) dapat mengakibatkan jantung kongestif.
Apabila seorang wanita mengalami anemia selama hamil, kehilangan
darah pada saat ia melahirkan, bahkan kalaupun minimal, tidak ditoleransi dengan
baik. Ia berisiko membutuhkan transfusi darah. Sekitar 80% kasus anemia pada
masa hamil merupakan anemia tipe defisiensi besi (Arias, 1993). Dua puluh
persen (20%) sisanya mencakup kasus anemia herediter dan berbagai variasi
anemia didapat.

1
1.2 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah :
a. Mengetahui konsep penyakit anemia dalam kehamilan
b. Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan anemia dalam kehamilan.
c. Mengetahui sistem pelayanan kesehatan pada pasien dengan anemia dalam
kehamilan.

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Anemia didefiniskan sebagai konsentrasi hemoglobin yang kurang dari 12
g/dL pada wanita tak hamil dan kurang dari 10 g/dL selama kehamilan atau masa
nifas. Centers for Desease Control and Prevention (1998) mendefinisikan anemia
pada wanita hamil yang mendapat suplemen besi dengan menggunakan
batas/patokan persentil ke 5-11 g/dL pada trimester pertama dan ketiga, dan 10,5
g/dL pada trimester kedua.
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin
dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II
(Saifuddin, 2002).
2.2 Klasifikasi
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah
sebagai berikut:
a. Anemia Defisiensi Zat Besi
Anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya
yaitu, keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang
dianjurkan adalah pemberian tablet besi.
Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan
anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata
berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan
dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sachli, dilakukan
minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb
dengan sachli dapat digolongkan sebagai berikut:
1) Hb 11 gr% : Tidak anemia
2) Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
3) Hb 7 8 gr%: Anemia sedang
4) Hb < 7 gr% : Anemia berat

3
Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekatai 800 mg.
Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta
serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal.
Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan
ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 810 mg zat besi.
Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar 2025
mg zat besi perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil
akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih
kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).
b. Anemia Megaloblastik
Anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali
karena kekurangan vitamin B12.
Pengobatannya:
a. Asam folik 15 30 mg per hari
b. Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
c. Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
d. Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat
diberikan transfusi darah.
c. Anemia Hipoplastik
Anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel
darah merah baru. Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan
diantaranya adalah darah tepi lengkap, pemeriksaan pungsi ekternal dan
pemeriksaan retikulosi.
d. Anemia Hemolitik
Anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah
yang lebih cepat dari pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan
kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi
bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.
Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya.
Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat

4
penambah darah. Namun pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi
hasil. Sehingga transfusi darah berulang dapat membantu penderita ini.
2.3 Etiologi
Menurut Manuaba (2007) penyebab anemia pada kehamilan adalah:
a. Kekurangan asupan zat besi
Kecukupan akan zat besi tidak hanya dilihat dari konsumsi makanan
sumber zat besi tetapi juga tergantung variasi penyerapannya. Yang membentuk
90% Fe pada makanan non daging (seperti biji-bijian, sayur, telur, buah) tidak
mudah diserap tubuh.
b. Peningkatan kebutuhan fisiologis
Kebutuhan akan Fe meningkat selama kehamilan untuk memenuhi
kebutuhan ibu, janin, dan plasenta serta untuk menggatikan kehilangan darah saat
persalinan.
c. Kebutuhan yang berlebihan
Bagi ibu yang sering mengalami kehamilan (multiparitas), kehamilan
kembar, riwayat anemia maupun perdarahan pada kehamilan sebelumnya
membutuhkan pemenuhan zat besi yang lebih banyak.
d. Malabsorbsi
Gangguan penyerapan zat besi pada usus dapat menyebabkan pemenuhan
zat besi pada ibu hamil terganggu.
e. Kehilangan darah yang banyak (persalinan yang lalu, operasi, perdarahan
akibat infeksi kronis misalnya cacingan)
2.4 Patofisiologi
Menurut Saifuddin (2009), anemia dalam kehamilan dapat terjadi karena
peningkatan volume plasma darah yang menyebabkan konsentrasi sel darah
merah menurun dan darah menjadi encer, inilah yang menyebabkan kadar
hemoglobin dalam darah menurun. Pengenceran darah yang terjadi ini memiliki
manfaat yaitu meringankan kerja jantung dalam memompa darah dan mencegah
terjadinya kehilangan unsur besi yang berlebih saat persalinan.
Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena
perubahan sirkulasi yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan

5
payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester ke II
kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000
ml, menurun sedikit menjelang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah
partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta,
yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron.
Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar
hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa
makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan
oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ
penting.

6
2.5 WOC

7
2.6 Manifestasi Klinis
Gejala anemia pada kehamilan yaitu:
a. Ibu mengeluh cepat lelah,
b. Sering pusing,
c. Mata berkunang-kunang,
d. Malaise,
e. Lidah luka,
f. Nafsu makan turun (anoreksia),
g. Konsentrasi hilang,
h. Nafas pendek (pada anemia parah); dan
i. Keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda
Pada tahap awal, anemia mungkin tidak memiliki gejala yang jelas. Dan
banyak diantara gejala yang dirasakan sering terjadi di masa kehamilan. Jadi,
pastikan ibu hamil untuk mendapatkan tes darah rutin ketika melakukan
pemeriksaan kehamilan, agar anemia dapat terdeteksi sedini mungkin.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
Selama pemeriksaan kehamilan yang pertama, sang ibu akan mendapatkan
pemeriksaan darah yang dapat membantu dokter atau bidan memeriksa apakah ia
mengalami anemia atau tidak. Pemeriksaan darah biasanya meliputi:
a. Pemeriksaan Hemoglobin.
Pemeriksaan ini bertujuan mengukur jumlah hemoglobin - protein kaya zat
besi dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru ke jaringan tubuh.
b. Pemeriksaan Hematokrit
Pemeriksaan ini mengukur persentase sel darah merah dalam sampel
darah. Jika ibu hamil memiliki kadar hemoglobin atau hematokrit lebih rendah
dari tingkat normal, ia mungkin mengalami anemia kekurangan zat besi. Dokter
juga mungkin akan memeriksa tes darah lainnya untuk menentukan apakah ia
mengalami anemia karena kekurangan zat besi atau penyebab lain.
Bahkan jika seorang ibu hamil tidak menderita anemia pada awal kehamilan,
dokter atau bidan kemungkinan besar akan tetap merekomendasikan untuk
melakukan pemeriksaan darah pada trimester kedua atau ketiga untuk mendeteksi
anemia di tahap kehamilan selanjutnya.
c. Peningkatan bilirubin total ( pada anemia hemolitik )

8
d. Terlihat retikulositosis dan sferositosis pada apusan darah tepi
e. Terdapat pansitopenia, sumsum tulang kosong diganti lemak
2.8 Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan dan asuhan medis terhadap anemia yaitu:
a. Pada pemeriksaan ANC bidan mengkaji penyebab anemia dari riwayat diet
untuk mengetahui adakah kemungkinan pica, kebiasaan mengidam berlebihan dan
mengonsumsi makanan-makanan tertentu dan riwayat medis yang adekuat dan uji
yang tepat (Robson, 2011).
b. Memberikan sulfat ferosa 200 mg 2-3 kali sehari. Sulfat ferosa diberikan 1
tablet pada hari pertama kemudian dievaluasi apakah ada keluhan (misalnya mual,
muntah, feses berwarna hitam), apabila tidak ada keluhan maka pemberian sulfat
ferosa dapat dilanjutkan hingga anemia terkoreksi (Robson, 2011)
c. Apabila pemberian zat besi peroral tidak berhasil (misalnya pasien tidak
kooperatif) maka bisa diberikan dosis parenteral (per IM atau per IV) dihitung
sesuai berat badan dan defisit zat besi (Robson, 2011).
d. Transfusi darah diindikasikan bila terjadi hipovolemia akibat kehilangan darah
atau prosedur operasi darurat. Wanita hamil dengan anemia sedang yang secara
hemodinamis stabil, dapat beraktifitas tanpa menunjukan gejala menyimpang dan
tidak septik, transfusi darah tidak diindikasikan, tetapi diberi terapi besi selama
setidaknya 3 bulan (Cunningham, 2013)
e. Evaluasi pemberian terapi dengan cara pemantauan kadar Hb dapat dilakukan
3-7 hari setelah hari pertama pemberian dosis sulfat ferosa (retikulosit meningkat
mulai hari ketiga dan mencapai puncaknya pada hari ketujuh). Sedangkan
pemantauan kadar Hb pada pasien yang mendapat terapi transfusi dilakukan
minimal 6 jam setelah transfuse (Yan, 2011).

Tabel 2.1 Tabel Transfusi Darah untuk Penatalaksanaan Anemia


SUBSTANSI URAIAN CATATAN
Darah Lengkap Produk darah mengandung 1 unit diberikan dala 2-4 jam. Butuh

9
komponen darah normal, 1
(Whole blood) unit setara dengan 500ml.
waktu 12-24 jam untuk Hb dan Ht
mencapai keseimbangan. Waspadai
reaksi transfusi dan kelebihan cairan.
Diberikan dalam kecepatan yang
Packed cells Produk darah, mengandung
lebih lambat daripada darah lengkap.
(Packed red eritrosit dan 20% plasma
Waspadai reaksi transfusi.
blood cells) tanpa faktor pembeku, 1
unit setara 250-300 ml.
Sumber: Saiffudin, 2009
Pemberian vitamin zat besi ini dimulai dengan memberikan satu tablet per
hari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang. Tablet zat besi ini sebaiknya tidak
diminum bersama teh atau kopi, karena akan mengganggu penyerapan (Saifuddin,
2009).Terapi pemberian zat besi dapat menimbulkan efek samping seperti mual,
feses berwarna kehitaman dan konstipasi yang dapat menyebabkan
ketidaknyamanan pada pasien (Varney, 2007)
Pemantauan konsumsi suplemen zat besi perlu juga diikuti dengan
pemantauan cara minum yang benar karena hal ini akan sangat mempengaruhi
efektifitas penyerapan zat besi. Vitamin C dan protein hewani merupakan elemen
yang sangat membantu dalam penyerapan zat besi, sedangkan kopi, teh, garam
kalsium, magnesium dan fitat (terkandung dalam kacang-kacangan) akan
menghambat penyerapan zat besi. Ibu hamil perlu diberikan konseling mengenai
makanan yang banyak mengandung zat besi dan cara pengolahannya. Beberapa
contoh makanan yang kaya zat besi adalah: daging sapi, ayam, sarden, roti
gandum, kapri, buncis panggang, kacang merah, sayuran berdaun, brokoli, daun
bawang, bayam, buah-buahan kering, dan telur (Sulistyawati, 2009).

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

10
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses
keperawatan secara menyeluru(Boedihartono, 1994).
1. Identitas Klien dan keluarga (penanggung jawab) :
a. Nama
b. Umur
c. Jenis kelamin
Biasanya wanita lebih cenderung mengalami anemia ,disebabkan oleh
kebutuhan zat besi wanita yang lebih banyak dari pria terutama pada saat hamil.
d. Pekerjaan
Pekerja berat dan super ekstra dapat menyebabkan seseorang terkena
anemia dengan cepat seiring dengan kondisi tubuh yang benar-benar tidak fit.
e. Hubungan klien dengan penanggung jawab
f. agama
g. Suku bangsa
h. Status perkawinan
i. Alamat
j. Golongan darah
2. Keluhan Utama
Keluhan utama meliputi 5L, letih, lesu, lemah, lelah lalai, pandangan
berkunang-kunang.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari anemia,
yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini
bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa
ditentukan apa yang terjadi. (Ignatavicius, Donna D, 1995).

4. Riwayat Penyakit Dahulu


Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab anemia. Penyakit-
penyakit tertentu seperti infeksi dapat memungkinkan terjadinya anemia. tulang
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit darah merupakan
salah satu faktor predisposisi terjadinya anemia yang cenderung diturunkan secara
genetik (Ignatavicius, Donna D, 1995).
6. Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan
peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam
kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat
(Ignatavicius, Donna D, 1995)

11
7. Pengkajian Pola Gordon
a. Pola persepsi dan manajemen kesehatan
Klien biasanya tidak mengetahui penyakitnya. Klien hanya beranggapan
bahwa gejala yang dideritanya merupakan gejala biasa saja dan hanya kelelahan
biasa. Klien mulanya hanya beristirahat, mengurangi aktivitas dan mengkonsumsi
obat bebas yang ada di warung.
b. Nutrisi
Gejala : penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani
rendah/masukan produk sereal tinggi (DB). Nyeri mulut atau lidah, kesulitan
menelan (ulkus pada faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. Adanya
penurunan berat badan. Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es,
kotoran, tepung jagung, cat, tanah liat, dan sebagainya (DB).
Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan
vitamin B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering,
tampak kisut/hilang elastisitas (DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi).
Bibir : selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. (DB).

c. Eliminasi
Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi
(DB). Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau konstipasi.
Penurunan haluaran urine.
Tanda : distensi abdomen, perdarahan GI kronis
d. Pola istirahat dan tidur
Klien akan membutuhkan waktu untuk tidur dan istirahat yang lebih
banyak karena keletihan. Selain itu perlu di kaji masalah yang dapat mengganggu
klien saat tidur dan istirahat.
e. Aktivitas / Latihan

12
Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas ;
penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah. Kebutuhan
untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat.
Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya. Kelemahan
otot, dan penurunan kekuatan. Ataksia, tubuh tidak tegak. Bahu menurun, postur
lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan.
f. Pola kognitif-perseptual-keadekuatan alat sensori
Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak
mampuan berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada
mata. Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ;
klaudikasi. Sensasi manjadi dingin.
Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental :
tak mampu berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik,
AP). Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi,
ataksia, penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis (AP).
g. Pola persepsi diri dan konsep diri
Persepsi klien terhadap dirinya bisa berubah sehubungan dengan penyakit
yang diderita. Klien merasa lemah karena tidak bisa bekerja dan beraktifitas
seperti orang lain.

h. Pola peran hubungan


Pada pola ini dikaji pekerjaan klien, peran klien dalam keluarga dan
masyarakat. Selain itu berisikan bagaiman hubungan klien dengan orang
tersdekatnya, bagaimana pengambilan keputusan dan hubungan klien dengan
masyarakat atau lingkungan sosial klien.
Tanda : klien jarang bicara, melamun, apatis.
i. Pola Reproduksi Seksual
Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore
(DB). Hilang libido (pria dan wanita). Imppoten, menstruasi berat.
Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.

13
j. Pola koping dan toleransi stress
Metode koping yang digunakan klien dalam mengatasi stress bisa saja
dengan mengungkapkan perasaan gelisahnya kepada orang terdekat atau perawat
atau meminum obat yang dapat menghilangkan stress.
Tanda : klien gelisah
3.2 Diagnosa Keperawatan
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk mencerna makanan
3. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh sekunder yang tidak
adekuat (mis: penurunan hemoglobin, eukopenia, supresi/penurunan respon
inflamasi)
4. Konstipasi berhubungan dengan perubahan pada pola makan.

14
3.3 Intervensi Keperawatan

15
No Diagnosa Tujuan/Kriteria Intevensi Rasional
Keperawatan hasil
1. Intoleransi Melaporkan 1. Kaji kemampuan pasien 1. Mempengaruhi pilihan
aktivitas peningkatan untuk melakukan untuk intervensi/bantuan
berhubungan toleransi melakukan tugas/AKS normal. 2. Menunjukkan perubahan neurologi
dengan aktivitas(termasu 2. Kaji kehilangan/gangguan karena defesiensi vitamin B12
ketidakseimban k aktivitas sehari- keseimbangan gaya jalan, mempengaruhi keamanan pasien/resiko
gan antara hari. kelemahan otot. cedera.
suplai dan 3. Awasi tekanan darah, nadi, 3. Manifestasi kardiopulmonal dari u
kebutuhan pernapasan selama dan sesudah jantung dan paru untuk membawa jumla
oksigen. aktivitas. oksigen adekuat ke jaringan.
4. Berikan lingkungan tenang. 4. Meningkatkan istirahat untuk
5. Ubah posisi pasien dengan menurunkan kebutuhan oksigen tubuh d
perlahan dan pantau terhadap menurunkan regangan jantung dan paru.
pusing. 5. Hipotensi postural atau hipoksia
6. Anjurkan pasien untuk serebral dapat menyebabkan pusing,
menghentikan aktivitas bila berdenyut dan peningkatan resiko cedera
palpitasi. 6. Regangan/stres kardiopulmonal
berlebihan/stres dapat menimbulkan
kegagalan.
2. Ketidakseimban Menunjukkan 1. Kaji riwayat nutrisi, 1. Mengidentifikasi defisiensi, mendu
gan nutrisi: peningkatan berat termasuk makanan yang disukai. kemungkinan intervensi.
kurang dari badan atau berat 2. Observasi dan catat masukan 2. Mengawasi masukan kalori atau
kebutuhan tubuh badan stabil makanan pasien. kualitas kekurangan konsumsi makanan.
berhubungan dengan nilai 3. Timbang berat badan tiap 3. Mengawasi penurunan berat badan
dengan laboratorium hari. efektivitas intervensi nutrisi.
ketidakmampua normal. 4. Berikan makan sedikit dan 4. Makan sedikit dapat menurunkan
n untuk frekuensi sering dan/atau makan kelemahan dan meningkatkan pemasuka
mencerna diantara waktu makan. juga mencegah distensi gaster.
makanan. 5. Observasi dan catat kejadian 5. Gejala GI dapat menunjukkan efek
mual/muntah, flatus dan gejala anemia (hipoksia) pada organ.
lain yang berhubungan. 6. Meningkatkan nafsu makan dan
6. Berikan dan bantu hygiene pemasukan oral, menurunkan pertumbuh
mulut yang baik sebelum dan bakteri, meminimalkan kemungkinan inf
sesudah makan, gunakan sikat gigi Teknik perawatan mulut khusus mungkin
halus untuk penyikatan yang diperlukan bila jaringan
lembut. Berikan pencuci mulut rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat.
yang diencerkan bila mukosa oral 7. Kolaborasi :
luka. 16 1. Kebutuhan penggantian tergantung pa
7. Kolaborasi : tipe anemia dan/atau adanya masukan or
1.Berikan obat sesuai indikasi, yang buruk dan defisiensi yag diidentifik
BAB 4
SISTEM LAYANAN KESEHATAN PASIEN ANEMIA DALAM KEHAMILAN

4.1 Definisi
Menurut Prof. Dr. Soekidjo Notoatmojo Pelayanan kesehatan adalah sub
sistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif
(pencegahan) dan promotif( peningkatan kesehatan ) dengan sasaran masyarakat.
Menurut Levey dan Loomba (1973) Pelayanan Kesehatan Adalah upaya
yang diselenggarakan sendiri/secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah, dan menyembuhkan
penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, atau
masyarakat.
Menurut Dubois & Miley (2005 : 317) :Sistem pelayanan kesehatan
merupakan jaringan pelayanan interdisipliner, komprehensif, dan kompleks,
terdiri dari aktivitas diagnosis, treatmen, rehabilitasi, pemeliharaan kesehatan dan
pencegahan untuk masyarakat pada seluruh kelompok umur dan dalam berbagai
keadaan.
4.2 Komponen Pelayanan Kesehatan
Menurut Zastrow (1982 : 319 322) : Pelayanan kesehatan diorganisasi
dalam komponen :
a. Praktek dokter sendiri, kurang disupervisi, hanyabertanggungjawab kepada
pasien, relatif terisolasi.
b. Setting pelayanan rawat jalan berkelompok, seperti balai-balai pengobatan atau
klinik-klinik khusus (seperti klinik ginjal, balai pengobatan gigi) atau yang
diselenggarakan di perguruan tinggi atau sekolah-sekolah, di pabrik-pabrik, di
perusahaan-perusahaan atau tempat-tempat kerja lain.
c. Setting Rumah sakit.
d. Perawatan dalam rumah
e. Pelayanan kesehatan masyarakat yang diorganisir dalam berbagai tingkatan :
lokal, regional, oleh pemerintah pusat atau nasional, dan internasional.

17
Jadi pelayanan kesehatan adalah subsistem pelayanan kesehatan yang
tujuan utamanya adalah promotif (memelihara dan meningkatkan kesehatan),
preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan), dan rehabilitasi (pemulihan)
kesehatan perorangan, keluarga, kelompok atau masyarakat, lingkungan.
Sistem terbentuk dari subsistem yang saling berhubungan dan saling
mempengaruhi. Subsistem ini terdiri dari Input, Proses, Output, Dampak, Umpan
Balik dan Lingkungan.
a.Input
Merupakan subsistem yang akan memberikan segala masukan untuk
berfungsinya sebuah sistem.
Input sistem pelayanan kesehatan : potensi masyarakat, tenaga & sarana

kesehatan, dsb.
b.Proses
Kegiatan yang mengubah sebuah masukan menjadi sebuah hasil yang
diharapkan dari sistem tersebut.
Proses dalam pelayanan kesehatan: berbagai kegiatan dalam pelayanan

kesehatan.
c.Output
Merupakan hasil yang diperoleh dari sebuah proses. Output pelayanan
kesehatan : pelayanan yang berkualitas dan terjangkau sehingga masyarakat
sembuh dan sehat.
d.Dampak
Merupakan akibat dari output atau hasil suatu sistem, terjadi dalam waktu
yang relatif lama. Dampak sistem Pelayanan kesehatan : masyarakat sehat, angka
kesakitan dan kematian menurun.
e.Umpan Balik
Merupakan suatu hasil yang sekaligus menjadi masukan. Terjadi dari
sebuah sistem yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Umpan balik
dalam pelayanan kesesahatan : kualitas tenaga kesehatan.
f.Lingkungan

18
Semua keadaan di luar sistem tetapi dapat mempengaruhi pelayanan
kesehatan.
4.3 Tingkat Pelayanan Kesehatan
Merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan pada
masyarakat. Menurut Leavel & Clark dalam memberikan pelayanan kesehatan
harus memandang pada tingkat pelayanan kesehatan yang akan diberikan, yaitu :
a. Health Promotion (Promosi Kesehatan)
Merupakan tingkat pertama dalam memberikan pelayanan melalui
peningkatan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan
masyarakat
Contoh : Kebersihan perorangan, perbaikan sanitasi lingkungan, dsb
b. Specifik Protection (Perlindungan Khusus)
Perlindungan khusus adalahmasyarakat terlindung dari bahaya atau
penyakit-penyakit tertentu
Contoh : Imunisasi, perlindungan keselamatan kerja
c. Early Diagnosis and Prompt Treatment (Diagnosis Dini & Pengobatan
Segera)
Sudah mulai timbulnya gejala penyakit dan dilakukan untuk mencegah
penyebaran penyakit.
Contoh : Survey penyaringan kasus

4.4 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sistem Pelayanan Kesehatan


Faktor-faktor yang mempengaruhin sistem pelayanan kesehatan antara lain
:
a. Pergeseran masyarakat dan konsumen
Hal ini sebagai akibat dari peningkatan pengetahuan dan kesadaran
konsumen terhadap peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan
upaya pengobatan. Sebagai masyarakat yang memiliki pengetahuan
tentang masalah kesehatan yang meningkat, maka mereka mempunyai
kesadaran yang lebih besar yang berdampak pada gaya hidup terhadap

19
kesehatan. akibatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan
meningkat.

b. Ilmu pengetahuan dan teknologi baru


Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di sisi lain dapat
meningkatkan pelayanan kesehatan karena adanya peralatan kedokteran
yang lebih canggih dan memadai walau di sisi yang lain juga berdampak
pada beberapa hal seperti meningkatnya biaya pelayanan kesehatan,
melambungnya biayakesehatan dan dibutuhkannya tenaga profesional
akibat pengetahuan dan peralatan yang lebih modern.
c. Isu legal dan etik.
Sebagai masyarakat yang sadar terhadap haknya untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan dan pengobatan , issu etik dan hukum
semakin meningkat ketika mereka menerima pelayanan kesehatan.
Pemberian pelayanan kesehatan yang kurang memadai dan kurang
manusiawi maka persoalan hukum kerap akan membayanginya
d. Ekonomi
Pelayanan kesehatan yang sesuai dengan harapan barangkali hanya
dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu yang mempunyai kemampuan
untuk memperoleh fasilitas pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, namun
bagi klien dengan status ekonomi rendah tidak akan mampu mendapatkan
pelayanan kesehatan yang paripurna karena tidak dapat menjangkau biaya
pelayanan kesehatan.
e. Politik
Kebijakan pemerintah dalam sistem pelayanan kesehatan akan
berpengaruh pada kebijakan tentang bagaimana pelayanan kesehatan yang
diberikan dan siapa yang menanggung biaya pelayanan kesehatan
4.5 Bentuk Pelayanan Kesehatan
Bentuk pelayanan kesehatan antara lain :
a. Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (Primer)

20
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang
sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan
mereka atau promosi kesehatan. Oleh karena itu jumlah kelompok ini
dalam suatu populasi sangat besar (lebih kurang 85 %). Pelayanan yang
diperlukan oleh kelompok ini bersifat pelayanan kesehatan dasar.
Contohnya : Puskesmas,Puskesmas keliling, klinik.
b. Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua (Sekunder)
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan oleh kelompok
masyarakat yang memerlukan perawatan inap, yang sudah tidak dapat
ditangani oleh pelayanan kesehatan primer. Contoh : Rumah Sakit tipe C
dan Rumah Sakit tipe D dan memerlukan tersedianya tenaga-tenaga
spesialis.
c. Pelayanan Kesehatan Tingkat Ketiga (Tersier)
Pelayanan kesehatan ini diperlukan untuk kelompok masyarakat
atau pasien yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan
sekunder. Pelayanan sudah kompleks dan memerlukan tenaga-tenaga super
spesialis. Contohnya: Rumah Sakit tipe A dan Rumah sakit tipe B.
Dalam suatu sistem pelayanan kesehatan, ketiga strata atau jenis pelayanan
tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada didalam suatu sistem dan
saling berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan
tindakan medis tingkat primer maka ia menyerahkan tanggung jawab tersebut ke
tingkat pelayanan diatasnya, demikian seterusnya. Penyerahan tanggung jawab
dari satu pelayanan kesehatan ke pelayanan kesehatan yang lain ini disebut
rujukan.
4.6 Sistem Rujukan
Menurut SK Menteri Kesehatan RI No 32 tahun 1972 sistem rujukan
adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan
pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus masalah kesehatan
secara vertical dalam arti dari unit yang berkemampuan kurang kepada unit yang
lebih mampu atau secara horizontal dalam arti antar unit-unit yang setingkat
kemampuanya. Dari batasan tersebut dapat dilihat bahwa hal yang dirujuk bukan

21
hanya pasien saja tapi juga masalah-masalah kesehatan lain, teknologi, sarana,
bahan-bahan laboratorium, dan sebagainya. Disamping itu rujukan tidak berarti
berasal dari fasilitas yang lebih rendah ke fasilitas yang lebih tinggi tetapi juga
dapat dilakukan diantara fasilitas-fasilitas kesehatan yang setingkat.
4.7 Tujuan Rujukan
Tujuan rujukan adalah dihasilkannya pemerataan upaya kesehatan dalam
rangka penyelesaian masalah kesehatan secara berdaya dan berhasil guna.
Tujuan Sistem Rujukan adalah agar pasien mendapatkan pertolongan pada
fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu sehingga jiwanya dapat
terselamatkan, dengan demikian dapat menurunkan angka kematian.
4.8 Jenis Rujukan
Sistem Kesehatan Nasional membedakannya menjadi dua macam yaitu:
a. Rujukan Kesehatan
Rujukan ini berkaitan dengan upaya pelayanan kesehatan dalam
pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan. Rujukan ini
dibedakan menjadi tiga yaitu rujukan teknologi, rujukan sarana, rujukan
Operasional.
b. Rujukan Medik
Rujukan ini berkaitan dengan upaya pelayanan kedokteran dalam
penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan. Rujukan medic terdiri
dari penderita, pengetahuan, dan bahan laboratorium.
4.9 Jalur Rujukan
Dalam kaitan ini jalur rujukan untuk kasus gawat darurat dapat
dilaksanakan sebagai berikut :
a. Dari kader dapat langsung merujuk ke Puskesmas Pembantu, Pondok
bersalin atau Bidan Desa, Puskesmas Rawat Inap, dan Rumah sakit
pemerintah atau swasta.
b. Dari posyandu dapat langsung menuju ke Puskesmas Pembantu, Pondok
bersalin atau Bidan Desa, Puskesmas Rawat Inap, dan Rumah sakit
pemerintah atau swasta.

22
c. Dari Puskesmas Pembantu dapat langsung merujuk ke Rumah Sakit tipe
D/C atau Rumah Sakit Swasta
d. Dari Praktik dr. swasta, Praktik bidan, Praktik perawat, Puskesmas, RB,
BP dapat langsung merujuk ke Rumah Sakit tipe D/C atau Rumah Sakit
Swasta
e. Dari Rumah Sakit tipe D/C bila tidak bisa menangani dapat langsung
merujuk ke Rumah Sakit tipe A/B
4.10 Persiapan Rujukan
Persiapan yang harus diperhatikan dalam melakukan rujukan :
a. Bidang : Pastikan pasien didampingi oleh tenaga kesehatan yang
kompeten dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan
kegawatdaruratan.
b. Alat : Bawa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan, seperti spuit,
infus set, tensimeter, dan stetoskop.
c. Keluarga : Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir pasien dan alasan
mengapa ia dirujuk. Anggota keluarga yang lain harus menerima pasien ke
tempat rujukan.
d. Surat : Beri surat ke tempat rujukan yang berisi identifikasi pasien, alasan
rujukan, uraian hasil rujukan, asuhan, atau obat-obat yang telah diterima
pasien.
e. Obat : Bawa obat-obat esensial diperlukan selama perjalanan merujuk.
f. Kendaraan : Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk memungkinkan
pasien dalam kondisi yang nyaman dan dapat mencapai tempat tujuan
dalam waktu cepat.
g. Uang : Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah cukup
untuk membeli obat dan bahan kesehatan yang diperlukan di tempat
rujukan.

23
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin
dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II .
Klasifikasi anemia antara lain Anemia Defisiensi Zat Besi , Anemia
Megaloblastik, Anemia Hipoplastik, Anemia Hemolitik. Etiologi dari anemia
kehamilan yaitu kekurangan asupan zat besi, peningkatan kebutuhan fisiologis,
kebutuhan yang berlebihan, malabsorpsi, dan kehilangan darah yang banyak.
Manifestasi klinis dari anemia dalam kehamilan antara lain ibu mengeluh cepat
lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan
turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah dan
keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda. Penatalaksanaan dan asuhan
medis terhadap anemia yaitu pemberian zat besi dan transfusi darah.

5.2 Saran
Untuk ibu hamil harus meningkatkan asupan gizi dengan cara makan
sedikit tapi sering, serta mengkonsumsi suplemen zat besi sesuai anjuran dokter
atau tim medis lainnya. Selain memperbaiki nutrisi, ibu hamil juga harus menjaga
kebutuhan istirahat tidur. Sebagai perawat, kita harus memberikan pendidikan
kesehatan kepada ibu hamil tentang pentingnya nutrisi pada kehamilan.
Disamping untuk ibu hamil, penting juga untuk janinnya.

24
DAFTAR PUSTAKA

25