Anda di halaman 1dari 6

Ijma dan Qiyas

BAB I

PENDAHULUAN

1. A. Latar Belakang

Belakangan ini sering kita jumpai permasalahan-permasalahan, umumnya dalam bidang agama
yang sering kali membuat pemikiran ummat islam cendrung kepada perbedaan. Jadi dalam
makalah ini kami akan sedikit menjelaskan mengenai Ijma dan Qiyas.

1. B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas dapat diambil suatu permasalahan yang dihadapi ummat islam yakni
sangat pentingnya mempelajari hukum islam yaitu Ijma dan Qiyas.

1. C. Tujuan Penulisan

1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah ushul fiqh

2. Untuk memahami apa itu Ijma dan Qiyas

3. Untuk membedakan Ijma dan Qiyas

BAB II

Pembahasan

IJMA

1. A. Pengertian Ijma

Ijma menurut para ahli ushul fiqh adalah kesepakatan para mujtahid di kalangan ummat islam
pada suatu masa setelah Rasulullah saw. Wafat atas hokum syara mengenai suatu kajadian,
Apabila terjadi suatu kejadian yang dihadapkan kepada semua mujtahid dari ummat islam pada
waktu kejadian itu terjadi.dan mereka sepakat atas hukum mengenainya, maka kesepakatan
mereka itu disebut ijma. Kesepakatan mereka atas satu hukum mengenainya dianggap sebagai
dalil, bahwasanya hokum tersebut merupakan hokum syara mengenai kejadian itu.

Dalam defenisi itu hanyalah disebutkan sesudah wafat Rasulullah saw., karena pada masa hidup
Rasulullah, beliau merupakan rujukan pembentukan hukum islam satu-satunya, sehingga tidak
terbayangkan adanya perbedaan dalam hokum syari, dan tidak pula terbanyangkan adanya
kesepakatan, karena kesepakatan tidak akan terwujud kecuali dari beberapa orang.

1. B. Macam macam Ijma

Adapun ijma ditinjau dari segi cara menghasilkannya, maka ia ada dua macam yaitu :

Pertama : Ijma sharih, yaitu kesepakatan para mujtahid suatu masa atas hukum suatu kasus,
dengan cara masing-masing dari mereka mengemukakan pendapatnya secara jelas melalui fakta
atau putusan hukum. Maksudnya bahwasanya setiap mujtahid mengeluarkan pernyataan atau
tindakan yang mengungkapkan pendapanya secara jelas.

Kedua : Ijma Sukuti, yaitu sebagian dari mujtahid suatu masa mengemukakan pendapat mereka
dengan jelas mengenai suatu kasus, baik melalui fakta atau suatu putusan hukum, dan sisa dari
mereka tidak memberi tanggapan terhadap pendapat tersebut, baik merupakan persetujuan
terhadap pendapat yang telah dikemukakan atau menentang pendapat itu.

Adapun macam yang pertama, yaitu ijma sharih, maka itulah ijma haqiqi, dan ini merupakan
hujjah syariyah dalam mazhab jumhur ulama. Sedangkan macam yang kedua yaitu Ijma Sukuti,
maka ia adalah Ijma Itibar (anggapan), karena sesungguhnyaorang yang diam saja tidak ada
kepastian, bahwa ia setuju. Oleh karena itu, tidak ada kepastian mengenai tearwujudnya
kesepakatan dan terjadinya Ijma, dan karena inilah , maka ia masih dipertentangkan
kehijjahannya. Jumhur Ulama berpendapat bahwa ijma Sukuti bukannya hujjah, dan bahwa
ijma tersebut tidak lebih dari keadaannya sebagai pendapat sebagian dari individu para mujtahid.

Ulama hanafiyah berpendapat bahwa ijma sukuti adalah hujjah, apabila terdapat suatu ketetapan
bahwa mujtahid yang bersikap diam telah dihadapkan kasus kepadanya dan dikemukakan
kepadanya pendapat orang yang mengemukakan pendapatnya mengenai kasus ini, dan ada waktu
senggang yang cukup untuk mengkaji dan membentuk pendapat namun ia diam saja, disamping
itu juga tidak ditemukan adanya suatu kecurigaan bahwa ia diam karena merasa takut atau karena
dibujuk, atau karena tidak mampu, atau karena mengejek. Karena sesungguhnya sikap diamnya
seorang mujtahid dalam posisi memberi fatwa, memberi penjelasan, dan membentuk hukum
islam setelah lewat kesempatan untuk mengkaji dan mempelajarinnya, disamping tidak hal yang
menghalang-halanginya untuk mengemukakann pendapatnya, merupakan suatu dalil atas
persetujuannya kepada pendapat yang telah dikemukakan, sebab kalau sekiranya ia menentang,
maka tidak cukup baginya berdiam diri saja.

Prof. Abdul Wahhab Khallaf didalam bukunya ilmu ushul fiqh beliau perpendapat, bliau menilai
lebih unggul adalah pendapat jumhur ulama. Karena seorang mujtahid yang diam, diamnya itu
diliputi oleh kondisi dan kesamara, diantaranya yang bersifat psikologi dan ada kalanya tidak
bersifat psikologi, padahal tidak mungkin meneliti seluruh kondisi dan kesamaran dan kepastian,
bahwa ia diam saja sebagai persetujuan dan keridaan terhadap pendapat yang dikemukakan.
Orang yang diam saja tidak mempunyai pendapat, dan kepadanya tidak bisa dinisabkan pendapat
yang manyetujuiatau pendapat yang menentang. Kebanyakan yang terjadi yang disebut dengan
ijma ialah berasal dari ijma sukuti.

Adapun ijma ditinjau dari segi bahwa ia mempunyai dalalah qathi terhadap hukumnya dalalah
zhanni, maka ijma juga ada dua macam, yaitu :

Pertama : Ijma yang qathi dalalahnya terhadap hukumnya. Inilah ijma sharih, maksudnya
bahwasanya hukumnya dipastikan dan tidak ada jalan untuk memutuskan hukum yang berlainan
dengannya dalam kasusnya itu, dan tidak ada peluang ijthad dalam suatu kasus setelah
terjadinya ijma yang sharih atas hukum syara mengenai kasus itu.

Kedua : Ijma yang zhanni dalalahnya ats hukum, yaitu ijma sukuti, dalam arti bahwasanya
hukumnya diduga kuat, dan ijma ini tidak mengeluarkan kasus tersebut dari kedudukan sebagai
objek bagi ijtihad, karena ia merupakan ungkapan dari pendapat sekelompok mujtahid, bulan
keseluruhan mereka.

1. C. Kedudukan Ijma

Jumhur ulama ushul Fiqh berpendapat, apabila rukun-rukun ijmatelah terpenuhi , maka ijma
tersebut menjadi hujjah yang qathI (pasti), wajibdiamalkan dan tidak boleh mengingkarinya,
bahkan orang yangmengingkarinya dianggap kafir, disamping itu permasalahan yang
telahditetapkan hukumnya melalui ijma menurut para ahli ushul fiqh tidak bolehlagi menjadi
pembahasan ulama generasi berikutnya. Karena hukum yangditetapkan melalui ijma merupakan
hukum syara yang qathI dan menempatiurutan ketiga sebagai dalil syara setelah alquran dan
sunnah.

Akan tetapi, Ibrahim bin Siyar al Nazzam (tokoh Mutazilah) ulamaKhawarij dan ulama
Syiah, berpendapat bahwa ijma tidak dapat dijadikanhujjah. Menurut al Nazzam, ijma yang
digambarkan jumhur ulamatersebuttidak mungkin terjadi, karena tidak mungkin menghadirkan
seluruh mujtahidpada satu masa, dan menyepakatinya bersama. Selain itu, masing-masingdaerah
mempunyai struktur soaial dan budaya yang berbeda.

Adapun bagi kalangan Syiah, ijma tidak mereka terima sebagaihujjah, karena pembuatan
hukum menurut keyakinan merekaadalah imamyang mereka anggap masum (terhindar dari
dosa). Ulama Khawarij dapatmenerima ijma sahabat sebelum terjadinya perpecahan politik di
kalangansahabat.

Ijma seperti yang didefinisikan jumhur ulama Ushul Fiqh di atastidak dapat mereka terima,
karena sesuai dengan keyakinan bahwa ijma ituharus disepakati umat Islam, dan orang-orang
yang tidak seiman denganmereka, dipandang bukan mumin.

QIYAS
1. A. Pengertian Qiyas

Qiyas menurut istilah ahli ilmu ushul fiqh adalah : mempersamakan suatu kasus yang tidak ada
nash hukumnya dengan suatu kasus yang ada nash hukumnya, dalam hukum yang ada nashnya,
karena persamaan kedua itu dalam illat hukumnya.

Maka apabila suatu nash telah menunjukkan hukum mengenai suatu kasus dan illat hukum itu
telah diketahui melalui salah satu metode untuk mengetahui illat hukum, kemudian ada kasus
lainnya yang sama dengan kasus yang ada nashnya itu dalam suatu illat yang illat hukum itu juga
terdapat pada kasus itu, maka hukum kasus itu disamakan dengan hukum kasus yang ada
nashnya, berdasarkan atas persamaan illatnya karena sesungguhnya hukum itu ada di mana illat
hukum ada.

1. B. Rukun-rukun Qiyas

Setiap qiyas terdiri dari empat rukun yaitu :

1. Al-ashlu, yaitu : Sesuatu yang ada nash hukumnya. ia disebut juga al-maqis alaih (yang
diqiyaskan kepadanya), mahmul alaih (yang dijadikan pertanggungan), dan musyabbah
bih (yang diserupakan dengannya).

2. Al-faru, yaitu : Sesuatu yang tidak ada nash hukumnya. ia juga disebut al-maqis (yang
diqiyaskan), al-mahmul (yang dipertanggungkan), dan al-musyabbah (yang diserupakan).

3. Hukum Ashl, yaitu : Hukum syara yang ada nashnya pada al-ashl (pokok)nya, dan ia
dimaksudkan untuk menjadi hukum pada al-faru (cabangnya).

4. Al-illat, yaitu : Suatu sifat yang dijadikan dasar untuk membentuk hukum pokok, dan
berdasarkan adanya keberadaan sifat itu pada cabang (faru), maka ia disamakandengan
pokoknya dari segi hukumnya.

1. C. Macam-macam Illat

Dari segi adanya anggapan dan ketiadaan anggapan syari terhadap sifat yang sesuai, maka para
ahli ilmu ushul fiqh membagi sifat yang sesuai (munasib) menjadi empat macam, yaitu :

1. Munasib muatstsir (sifat yang sesuai yang memberikan pengaruh).

2. Munasib mulaim (sifat yang sesuai lagi cocok).

3. Munasib mursal (sifat yang sesuai lagi bebas).

4. Munasib mulgha (sifat yang sesuai yang sia-sia).

Berikut ini adalah penjelasan empat macam illat dan contoh-contohnya. :


1. Munasib muatstsir : yaitu suatu sifat yang sesuai dimana syari telah menyusun hukum
sebagai illat hukm yang disusun berdasarkan kesesuaiannya dengannya misalnya, Firman
Allah SWT :


.
.

Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah haidh itu adalah suatu
kotoran, oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh. (Qs.
Al-Baqarah (2) : 222).

Shighat nash telah jelas bahwa illathukum ini adalah kotoran tersebut. Oleh karena itu, maka
kotoran tersebut yang mewajibkan menjauhkan diri dari wanita pada waktu haidhnya merupakan
sifat yang munasib muatstsir.

1. Munasib mulaim. Yaitu suatu sifat yang sesuai yang mana syari telah menyusun hukum
yang sesuai dengan sifat itu, namun tidak ada nash maupun ijma yang menetapkannya
sebagai illat hukum menurut pandangan syariitu sendiri, yang disusun sesuai dengan
sifat itu. Hanya saja berdasarkan nash atau ijma diperoleh ketetapan bahwa sifat itu
dianggap illat hukum dari hukm sejenis yang oleh syari telah disusun hukumnya sesuai
dengan sifat itu, contoh : sifat yang sesuai yang dianggap oleh syari sebagai illat hukum
dari jenis hukum yang dia telah menyusun hukum sesuai dengannya ialah: keadaan masih
kecil bagi tetapnya kewalian seorang ayah dalam mengawinkan anak perempuan yang
masih kecil.

2. Munasib mursal. : Suatu sifat yang mana syari tidak menyusun hukum sesuai dengan
sifat itu, dan tidak ada dalil syari yang menunjukkan akan anggapan-Nya dengan salah
satu bentuk anggapan maupun dengan penyia-nyiaan anggapan-Nya. Ia adalah munasib,
artinya berusaha mewujudkan kemaslahatan, akan tetapi ia juga mursal, contohnya :
maslahatan yang menjadi dasar para sahabat dalam membentuk hukum pembayaran pajak
atas tanah pertanian, pembuatan mata uang, pentatwinan Al-quran, dan penyabarannya.

3. Munasib mulgha, yaitu : Suatu sifat yang ternyata bahwasanya mendasarkan hukum atas
sifat itu terdapat perwujudan kemaslahatan, namun syari tidak menyusun hukum sesuai
dengannya, dan syari tidak menunjukkan berbagai dalil yang menunjukkan pembatalan
anggapannya, misalnya menetapkan hukuman khusus bagi orang yang berbuka puasa
dengan sengaja pada bulan ramadhan, untuk masuk menjerakannya.

1. D. Cara Mencari Illat (Masalah Al-Illat)

Illat ialah suatu sifat yang terdapat pada suatu ashl (pokok) yang menjadi dasar daripada
hukumnya, dan sifat itulah dapat diketahui adanya hukum itu pada far (cabangnya).

Misalnya, memabukkan adalah sifat yang ada pada khamar yang menjadi dasar pengharaman,
dan dengan adanya sifat memamukkan inilah diketahui pengharaman terhadap semua minuman
keras yang memabukkan. Penganiayaan adalah suatu sifat dalam jual beli seseorang atas jual beli
saudaranya, yang menjadi dasar pengharamannya, dan dengan adanya sifaat penganiayaan itulah
diketahui pengharaman sewa-menyewa seseorang atas sesuatu yang telah disewa saudaranya.
Inilah yang dimaksudkan oleh para ahli usul fiqh dengan perkataan mereka yang artinya:

Illat adalah sesuatu yang memberitahukan adanya hukum.

Illat juga disebut juga : Manathul Hukm (hubungan hukum), dan sebab hukum serta tanda
hukum.

Untuk mencari Illat, ada beberapa syarat yang harus kita ketahui yaitu :

Pertama : Bahwa Illat itu haruslah berupa suatu sifat yang jelas.

Kedua : Bahwa sifat itu haruslah pasti.

Katiga : Bahwa sifat itu merupakan hal yang sesuai.

Keempat : Bahwa ia merupakan suatu sifat yang terbatas pada ashl (pokoknya).

BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Ijma dan Qiyas merupakan hukum islam yang mesti
kita ikuti, karena tanpa Ijma dan Qiyas kita tidak akan mngetahui hukum dalam suatu
permasalahan jikalau kita tidak mendapatkan dalil yang pasti dari Al Quran dan Hadits.

DAFTAR PUSTAKA

Pengantar Hukum Islam, Prof. Dr.T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy Jakarta : Bulan Bintang, 1994

Ilmu Ushul Fiqh, Prof. Abdul Wahhab Khallaf Semarang : Dina Utama, 19