Anda di halaman 1dari 26

ISOLASI SENYAWA BIOAKTIF

IDENTIKASI SENYAWA ALKALOID JARAK


PAGAR
(Jatropha curcas L.)

OLEH

NAMA :ANWAR SAM


NIM : N111 14 318
KELAS : ISOLASI SENYAWA BIOAKTIF C

MAKASSAR
2016BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Diketahui senyawa aktif yang terkandung dan diteliti aspek

farmakologinya baik dari segi efektivitas maupun toksisitasnya. Metode

ekstraksi dan isolasi komponen aktif menggunakan teknologi modern

diharapkan dapat menciptakan standar mutu modern dan

pengembangan formulasinya. Hal ini dapat dijadikan bukti ilmiah dari

khasiat serta keamanan tumbuhan tersebut untuk dikonsumsi sebagai

obat. Dari bukti ilmiah tersebut, pengembangan obat melalui berbagai

penelitian senyawa marker atau senyawa penanda perlu dilakukan

bertujuan sebagai standardisasi produk herbal dan dapat menjadi

referensi material bagi peningkatan produk herbal Indonesia .

Sejarah alkaloid hampir setua peradaban manusia. Manusia

telah menggunakan obatobatan yang mengandung alkaloid dalam

minuman, kedokteran, the, tuan atau tapal, dan racun selama 4000

tahun. Tidak ada usaha untuk mengisolasi komponen aktif dari ramuan

obat-obatan hingga permulaan abad ke sembilan belas.

Tanaman merupakan salah satu sumber senyawa kimia

yang penting dalam pengobatan. Umumnya senyawa kimia ini

berupa senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid,

fenolik, terpenoid, dan lain-lain yang memiliki aktivitas biologis

yang beragam. Hal ini mendorong para ahli untuk mengisolasi

zat aktif biologis pada tanaman. Diharapkan nantinya dapat


menghasilkan berbagai zat kimia yang dapat digunakan sebagai

obat. Salah satu bahan alam yang dapat dijadikan sebagai obat

tradisional adalah tanaman jarak pagar.

Tanaman jarak pagar mengandung flavanoid, saponin, dan

tannin. Semua bagian dari tanaman jarak pagar telah digunakan

sejak lama dalam pengobatan tradisional. Terutama pada getah

tanaman jarak pagar yang memiliki manfaat untuk mengobati

infeksi pada gingiva, dan juga anti perdarahan. Berdasarkan

uraian diatas maka perlu dilakukan praktikum ekstraksi sehingga

dapat diperoleh suatu senyawa yang terkandung didalam

tanaman tersebut yang bermanfaat baik untuk kesehatan

maupun untuk sumber penelitian.

I.2 Tujuan

Adapun pentingnya pembuatan makalah ini adalah untuk

menambah pengetahuan dan wawasan dalam melakukan isolasi

dan identifikasi senyawa alkaloid dari tanaman, dengan

menggunaan metode dan pereaksi tertentu.


BAB II

URAIAN UMUM

II.1 Klasifikasi Tanaman

Klasifikasi tanaman jarak pagar

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Euphorboiales

Famili : Euphorbiaceae

Genus : Jatropha

Spesies : Jatropha curcas L.

II.2 Gambar Tanaman


II.3 Nama Daerah

Tumbuhan ini dikenal dengan berbagai nama di Indonesia: jarak

kosta, jarak budeg (Sunda); jarak gundul, jarak pager (Jawa); kalekhe

paghar (Madura); jarak pager (Bali); lulu mau, paku kase, jarak

pageh (Nusa Tenggara); kuman, nema (Alor); jarak kosta, jarak

wolanda, bindalo, bintalo, tondo utomene (Sulawesi); ai huwa

kamala, balacai, kadoto (Maluku).lulang(karo)

II.4 Morfologi Deskripsi Tanaman

Tanaman jarak pagar berupa perdu dengan tinggi 1 7 m,

daun tanaman jarak pagar adalah daun tunggal berlekuk dan

bersudut 3 atau 5. Daunnya lebar dan berbentuk jantung atau

bulat telur melebar panjang 5 15 cm., tulang daun menjari

dengan jumlah 5 7 tulang daun utama, daunnya dihubungkan

oleh tangkai daun yang berukuran 4 15 cm

Tanaman jarak pagar adalah bunga majemuk berbentuk

malai, berwarna kuning kehijauan; berkelamin tunggal; dan

berumah satu (putik dan benang sari dalam satu tanaman);

bunga terdiri atas 5 kelopak berbentuk bulat telur dengan

panjang lebih kurang 4 mm; benang sari mengumpul pada

pangkal dan berwarna kuning; tangkai putik pendek berwarna

hijau dan kepala putik melengkung keluar berwarna kuning;

bunga juga mempunyai 5 mahkota berwarna keunguan; tiap

tandan terdapat lebih dari 15 bunga. Bunga betina 4 5 kali lebih


banyak dari bunga jantan. Bunga jantan maupun bunga betina

tersusun dalam rangkaian berbentuk cawan yang tumbuh di

ujung batang atau ketiak daun

Buah tanaman jarak pagar berbentuk bulat telur dengan

diameter 2 4 cm. Panjang buah 2 cm, dengan lebar sekitar 1

cm. Buah berwarna hijau ketika muda serta abu-abu kecokelatan

atau kehitaman ketika masak. Buah jarak terbagi menjadi 3

ruang, masing-masing ruang berisi 1 biji sehingga dalam setiap

buah terdapat 3 biji. Biji jarak pagar memiliki ukuran rata-rata 18

x 11 x 9 mm, berat 0,62 gr dan terdiri dari 58,1 % biji inti berupa

daging dan kulit 41,9 %. Kadar minyak dalam inti biji sekitar 33

% - 55 % (2).

II.4 Kandungan Senyawa Kimia dan Manfaat

Daun, ranting, batang, akar serta biji jarak mengandung

berbagai macam senyawa kimia, beberapa diantaranya

merupakan senyawa-senyawa aktif yang bermanfaat untuk

mengobati infeksi pada gingiva, dan juga anti perdarahan.

Senyawa kimia yang terisolasi dari bagian daun dan ranting jarak

pagar meliputi cyclic triterpene stigmasterol, stigmast-5-en-

3,7-diol, stigmast-5-en-3,7-diol, cholest-5-en-3,7-diol,

cholest-5-en-3,7-diol, campesterol, -sitosterol, 7-keto- -

sitosterol. Selain itu, bagian daun dan ranting mengandung

senyawa flavanoid apigenin, vitexin dan isovitexin


Senyawa kimia yang diisolasi dari bagian batang jarak

pagar (Jatropha curcas caulis) lain friedelin, epi-friedelinol,

tetracyclic triterpene ester jatrocurcin dan scopoletin methyl

ester. Senyawa -amyrin, -sitosterol dan juga taraxerol

didapatkan terkandung pada bagian kulit batang tanaman jarak,

sedangkan bagian akar mengandung -sitosterol, -D-glucoside,

mermesin, propacin, curculathyranes A dan B dan juga

curcusones A-D. Lebih lanjut, diterpenoid jatrophol dan

jatrpholone A dan B, coumarin tomentin, coumerin-lignan

jatrophin dan juga taraxerol juga ditemukan pada akar


BAB III

METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan adalah bungkil biji jarak pagar, larva

C. pavonana instar II yang merupakan koleksi Laboratorium

Fisiologi dan Toksikologi, Departemen Proteksi Tanaman, IPB-

Bogor. Bahan kimia yang digunakan antara lain n-heksana,

petroleum eter, etanol, HCl pekat, amil alkohol, kloroform,

H2SO4, metanol, FeCl3 1%, etanol, asam pikrat (2,4,6-

trinitofenol), NaHCO3, toluena, pereaksi Mayer, Lieberman-

Buchard dan Molisch.

Alat-alat yang digunakan adalah seperangkat alat soklet

dan refluks, oven, eksikator, neraca analitik, penguap putar,

spot plate, pelat kromatografi lapis tipis (KLT), kolom kaca

kromatografi ukuran 50 1 cm, spektrofotometer UV,

spektrofotometri inframerah (IR) yang digunakan adalah FTIR

Bruker, Exalibur Series FTS 300, dan kromatografi gas-

spektroskopi massa (GC-MS) yang dilakukan pada kondisi suhu

oven 40C, suhu injektor 280 C, tekanan kolom 90 kPa dan laju

alir 1,6 ml/menit.

III.2 Prosedur Kerja

1. Persiapan ekstrak minyak


Terdiri atas penentuan kadar air, uji fitokimia yaitu

flavonoid, alkaloid, ste- roid, tanin, terpenoid dan saponin serta

ekstraksi minyak residu (5)

a. Penentuan kadar air : ditimbang 2 g bungkil biji jarak yang

telah dihaluskan, dikeringkan dalam oven selama 6 jam

lalu ditimbang. Pemanasan dan penimbangan untuk tiap 3

jam berikutnya dilakukan sampai bobot tetap.


b. Uji flavonoid : ditimbang 0,1 g contoh dimasukkan ke

dalam 100 ml air panas dan dididihkan selama 5 menit.

Dipipet 5 ml filtratnya ke dalam tabung reaksi,

ditambahkan 0,1 mg Mg, 1 ml HCl pekat, 1 ml amil alkohol

dan dikocok. Terbentuknya warna kuning sampai merah

menandakan adanya flavonoid.


c. Uji alkaloid : ditimbang 0,3 g contoh dimasukkan ke dalam

tabung reaksi, ditam- bahkan 10 ml kloroform-amoniak dan

beberapa tetes H2SO4 2M lalu dikocok sehingga terbentuk

dua lapisan. Lapisan asam (tak berwarna) dipipet ke dalam

tabung reaksi lain lalu ditambahkan pereaksi mayer. Reaksi

positif ditandai dengan adanya kabut putih hingga

gumpalan putih.
d. Uji tanin : ditimbang 0,1 g contoh ke dalam tabung reaksi

dan ditambahkan 1 ml metanol dan beberapa tetes FeCl 3

1%. Terjadinya warna biru, hijau atau ungu menunjukkan

adanya tanin.
e. Uji saponin : ditimbang 1 g contoh dimasukkan ke dalam

tabung reaksi, ditam- bahkan 5 ml akuades, dididihkan

selama 5 menit lalu dikocok hingga berbusa. Adanya busa

yang mantap selama 15 menit menunjukkan adanya

saponin.
f. Uji steroid dan terpenoid : ditimbang 1 g contoh,

diekstraksi dengan 12,5 ml etanol panas, lalu ekstrak

dikeringkan di dalam pinggan porselen. Residu yang

diperoleh dilarutkan dalam eter, kemudian diuji dengan

pereaksi Liebermen- Buchard. Residu yang tidak larut

dihidrolisis dengan larutan HCl 2N. Residu yang didapatkan

dilarutkan kembali dalam eter dan diuji dengan pereaksi

Lieberman-Buchard. Terbentuknya warna biru atau hijau

menunjukkan adanya steroid dan warna merah atau ungu

menunjukkan adanya terpenoid.


2. Ekstraksi minyak residu (6)

Labu bulat yang berisi butir batu didih dikeringkan dalam

0
oven pada suhu 105 C selama 1 jam, kemudian didinginkan

dalam eksikator dan ditimbang. Bungkil biji jarak ditimbang

sebanyak 15 gram, lalu dimasukkan ke dalam tabung yang

terbuat dari kertas saring. Kedua ujung tabung ditutup dengan

kapas tak berlemak. Tabung dimasukkan ke dalam radas soklet

dan diekstraksi dengan pelarut di atas penangas air selama 24 -

48 jam. Hasil ekstrak dipisahkan dari pelarutnya dengan penguap


putar. Ekstraksi dilakukan triplo dengan menggunakan pelarut

yang berbeda yaitu petroleum eter, n-heksana dan etanol. Ketiga

ekstrak ini digunakan untuk uji aktivitas insektisida.

3. Fraksinasi ekstrak aktif dan pencirian fraksi yang terpilih

Pemisahan fraksi dilakukan pada ekstrak minyak yang

paling aktif terhadap larva dengan menggunakan KLT dan kolom

kromatografi. KLT digunakan untuk mencari eluen terbaik yaitu

eluen yang dapat memisahkan dengan baik campuran fraksi

yang akan dipisahkan. Ekstrak yang diketahui paling aktif

terhadap larva dipisahkan dengan kolom kromatografi

menggunakan eluen terbaik dari KLT. Tiap fraksi dikumpulkan di

dalam tabung-tabung reaksi dan dipantau menggunakan KLT

dengan eluen terbaik untuk melihat hasil pemisahannya.

Berdasarkan hasil KLT- nya, fraksi yang memiliki pola pemisahan

sama dapat langsung digabungkan. Kemudian hasil pemisahan

tersebut masing-masing diuji aktivitasnya terhadap larva (uji

lanjutan) pada LC50 (b/v). Fraksi yang paling tinggi aktivitas

insektisidanya dicirikan menggunakan alat UV, FTIR dan GC-MS.


BAB IV

PEMBAHASAN

A.Ekstraksi Jarak Pagar

Jarak pagar dapat dilakukan dengan berbagai macam metode


ekstraksi, antara lain sebagai berikut:
Ekstraksi Cara Dingin
Metoda ini artinya tidak ada proses pemanasan selama proses
ekstraksi berlangsung, tujuannya untuk menghindari rusaknya
senyawa yang dimaksud rusak karena pemanasanan. Jenis
ekstraksi dingin adalah maserasi dan perkolas
Ekstraksi Cara Panas
Metoda ini pastinya melibatkan panas dalam prosesnya. Dengan
adanya panas secara otomatis akan mempercepat proses
penyarian dibandingkan cara dingin. Metodanya adalah
refluks, ekstraksi dengan alat soxhlet dan infusa.
Adapun penjelasan masing-masing metode adalah sebagai
berikut:
1.Metode Maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana.
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia
dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel
dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat
aktif akan larut dengan karena adanya perbedaan konsentrasi
antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel,
maka larutan yang terpekat didesak keluar. Peristiwa tersebut
berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara
larutan di luar sel dan di dalam sel.
2.Metode Perkolasi
Perkolasi adalah proses penyarian simplisia dengan jalan
melewatkan pelarut yang sesuai secara lambat pada simplisia
dalam suatu percolator. Perkolasi bertujuan supaya zat
berkhasiat tertarik seluruhnya dan biasanya dilakukan untuk zat
berkhasiat yang tahan ataupun tidak tahan pemanasan. Cairan
penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut,
cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui
sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak kebawah disebabkan
oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan di atasnya,
dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan.
Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain: gaya berat,
kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa,
adesi, daya kapiler dan daya geseran (friksi).
3.Metode Refluks
Salah satu metode sintesis senyawa anorganik adalah
refluks, metode ini digunakan apabila dalam sintesis tersebut
menggunakan pelarut yang volatil. Pada kondisi ini jika dilakukan
pemanasan biasa maka pelarut akan menguap sebelum reaksi
berjalan sampai selesai. Prinsip dari metode refluks adalah
pelarut volatil yang digunakan akan menguap pada suhu tinggi,
namun akan didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut
yang tadinya dalam bentuk uap akan mengembun pada
kondensor dan turun lagi ke dalam wadah reaksi sehingga
pelarut akan tetap ada selama reaksi berlangsung. Sedangkan
aliran gas N2 diberikan agar tidak ada uap air atau gas oksigen
yang masuk terutama pada senyawa organologam untuk sintesis
senyawa anorganik karena sifatnya reaktif.
4.Metode Soxhlet
Sokletasi adalah suatu metode atau proses pemisahan
suatu komponen yang terdapat dalam zat padat dengan cara
penyaringan berulang-ulang dengan menggunakan pelarut
tertentu, sehingga semua komponen yang diinginkan akan
terisolasi. Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu.
Dengan cara pemanasan, sehingga uap yang timbul setelah
dingin secara kontinyu akan membasahi sampel, secara teratur
pelarut tersebut dimasukkan kembali ke dalam labu dengan
membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. Pelarut
yang telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang
diuapkan dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut
dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair
atau padat ditemui pada suatu zat padat, maka dapat diekstrak
dengan menggunakan pelarut yang diinginkan.

B.Kadar Air dan Uji Fitokimia

Kadar air bungkil biji jarak pagar adalah sebesar 8,61%.

Hasil uji fitokimia yang meliputi uji senyawa flavonoid, alkaloid,

tanin, saponin, steroid dan terpenoid disajikan dalam Tabel 1.

Berdasarkan uji kualitatif, dalam bungkil biji jarak ini terdeteksi

senyawa saponin, alkaloid, flavonoid, terpenoid dan tanin.

Tabel 1. Hasil uji fitokimia bungkil biji jarak pagar


Table 1. Phytochemical analyses of Jatropha curcas cake
extract

Hasil
Uji
Blanko (Result)
Ekstrak (Extract) Fraksi aktif
(Tes
t) (Blanc n- Etanol Petroleum (Active
Saponin o)
+ Heksana
- ++ eter + -
Alkaloid ++ + - - + +++
Flavonoid +
++ +++ ++ + -
Terpenoid +
++ +++ - +++ ++
Tanin ++ + - + -
Keterangan (Remark) : + = menunjukkan keberadaan
secara kualitatif
(Qualitatively present)

C. Golongan Senyawa Insektisida

Senyawa insektisida dari bungkil biji jarak pagar

diekstraksi dengan alat soklet untuk mendapatkan ekstrak kasar

bungkil biji jarak pagar sebanyak- banyaknya dengan

meminimumkan penggunaan pelarut. Rendemen rata-rata

ekstrak kasar yang dihasilkan dari setiap pelarut disajikan pada

Gambar 1. Polaritas pelarut yang berbeda-beda menghasilkan

rendemen ekstrak ini berbeda pula. Pelarut yang paling non-

polar, yaitu n-heksana menghasilkan ekstrak kasar yang paling

banyak yaitu 50,64%. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan

besar bungkil biji jarak pagar banyak mengandung senyawa-

senyawa non polar. Berdasarkan hasil uji kualitatif (Tabel 1)

ekstrak ini mengandung alkaloid, flavonoid, terpenoid dan

tanin. Ekstrak kasar etanol mengandung saponin dan flavonoid,

sedangkan ekstrak kasar petroleum eter mengandung saponin,

flavonoid, terpenoid dan tanin.

Berdasarkan hasil ekstraksi, senyawa golongan alkaloid

yang umumnya bersifat polar tidak terdeteksi dalam ekstrak

etanol dan petroleum eter tetapi terdeteksi dalam ekstrak n-

heksana. Hal ini kemungkinan disebabkan senyawa alkaloid

yang terdapat dalam bungkil biji jarak pagar ini mempunyai


rantai yang lebih panjang atau cincin yang lebih banyak

sehingga lebih terekstraksi oleh n- heksana daripada etanol.

Titik didih petroleum eter yang digunakan cukup kecil, yaitu

o
sebesar 40 C sehingga diduga bobot molekul dari pelarut ini

juga kecil yang menyebabkan pelarut ini lebih bersifat polar

dibandingkan dengan senyawa alkaloid yang terdapat di dalam

bungkil biji jarak pagar, akibatnya senyawa ini tidak terdeteksi

di dalam ekstrak petroleum eter.

D.Fraksi Ekstrak Kasar n-Heksana

Sebelum dilakukan fraksinasi terhadap ekstrak kasar n-

heksana, terlebih dahulu dilakukan pemilihan eluen terbaik

menggunakan KLT (Kromatografi Lapis Tipis). Eluen terbaik yang

didapatkan adalah n-heksana, etil asetat, asam asetat (9 ; 1 ;

0,1) karena dapat memberikan pemisahan spot yang cukup baik.

Komposisi eluen tersebut digunakan dalam pemisahan

menggunakan kolom kromatografi dan digunakan juga sebagai

eluen untuk memantau tiap fraksi yang didapatkan.

Fraksinasi ekstrak kasar n-heksana dilakukan dengan

kromatografi kolom dengan isokratik eluen. Fraksinasi

menghasilkan 120 tabung. Kemudian dari pemantauan KLT

mengunakan eluen terbaik dengan pewarna uap I 2 didapatkan

tiga fraksi. Ciri fisik dan rendemen dari tiap fraksi ditampilkan
pada Tabel 3. Rendemen hasil fraksinasi yang didapatkan

sangat kecil sebab ada sebagian fraksi yang tertahan di kolom,

sehingga diperkirakan fraksi yang tertahan tersebut bersifat

polar. Fraksi-fraksi tersebut kemudian diuji aktivitasnya terhadap

insektisida.

E. Ciri Fraksi Aktif

Kesulitan yang didapatkan pada saat pencirian struktur

senyawa insektisida dari ekstrak bungkil biji jarak pagar ini

adalah cuplikan sampel hasil fraksinasi yang sangat sedikit

sehingga sulit untuk dimurnikan. Oleh sebab itu, analisis hanya

mengarah pada pencirian fraksi. Dalam hal ini ketiga fraksi tidak

dianalisis semuanya, akan tetapi dipilih berdasarkan fraksi yang

mempunyai aktivitas insektisida yang paling tinggi yaitu fraksi I.

Pencirian fraksi aktif ini meliputi uji fitokimia, spektofotometri UV,

FTIR dan GC-MS. Dari hasil uji fitokimia, diketahui bahwa fraksi I

termasuk senyawa golongan alkaloid dan terpenoid.

F. Karakterisasi Senyawa

Kromatogram GC (Gambar 8) menggambarkan bahwa fraksi

I masih mengandung banyak senyawa dan ini menunjukkan

bahwa sampel belum murni. Kemungkinan lain juga bisa

disebabkan molekul-molekul yang terdegradasi karena adanya


pemanasan yang tinggi pada saat analisis, sehingga puncak-

puncak yang muncul adalah puncak dari fragmen hasil

degradasi. Dalam spektrum UV, fraksi I menunjukkan serapan

maksimum pada = 230 nm. Serapan ini menunjukkan bahwa

*
transisi energi yang mungkin terjadi adalah dari - , transisi ini

dihasilkan oleh kromofor -C=C, -C=O, -C=C aromatik, C=C, -C=C-

C=O dan benzena (Sudjadi, 1983), sehingga dapat diketahui

bahwa fraksi I mempunyai satu atau lebih kromofor tersebut.

Kurva serapan dari fraksi I disajikan pada Gambar 9.

Kromatogram GC fraksi Kurva serapan dari fraksi


I

Pola spektrum IR (Gambar 10) dari fraksi I menunjukkan


-1
adanya absorpsi uluran NH yang jelas pada 3000-3700 cm ,

absorpsi ini menunjukkan satu puncak sehingga diketahui

terdapat gugus amina sekunder yang merupakan ciri khas dari


senyawa golongan alkaloid (Sudjadi, 1983). Serapan yang

disebabkan oleh uluran C-H dari CH2 dan CH3 terlihat pada
-1
daerah 2800-3000 cm . Serapan regang C=O tejadi disekitar
-1
1752 cm . Ciri khas serapan triterpenoid muncul pada panjang
-1
gelombang 1600-1700 cm berupa serapan cukup lebar dan

lemah yang menandai adanya serapan regang CH dari CH 2

yang merupakan ciri khas dari sikloheksana. Dari citra spektrum

tersebut, diketahui bahwa fraksi I selain mengandung senyawa

alkaloid juga mengandung triterpenoid, sesuai dengan hasil uji

fitokimia. Preparasi sampel pada Spektrofotometri IR dilakukan

dengan cara mengoleskan sampel pada lempeng KBr sebagai

pelat transparan (6)

Pola spektrum IR dari fraksi I


Hasil analisis menggunakan GC-MS dari 10 senyawa yang

terdapat pada fraksi I masing-masing mempunyai bobot molekul

sebesar 486, 236, 264, 256, 264, 282, 284 dan 281
BAB V

KESIMPULAN

Isolasi senyawa bioaktif dari tanaman adalah suatu

upaya untuk memperoleh senyawa tunggal dari suatu tanaman.

Dalam makalah ini dilakukan proses isolasi mulai dari ekstraksi

sampai pada tahap karakterisasi. Khusus pada makalah ini

dibahas mengenai proses ekstraksi dan karaktersasi senyawa

alkaloid pada tanaman jarak pagar.


DAFTAR PUSTAKA

1. Agustian, H.Y. 2003. Sifat fisiko kimia biodiesel jarak pagar

(Jatropha curcas), suatu sumber energi alternatif terbarukan.

Skripsi S1, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,

IPB. Bogor.

2. Gunawan, D, Mulyani, S., (2004), Ilmu Obat Alam

(Farmakognosi) Jilid I, Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.

3. Hambali, E., S. Mujdalipah, G. Sulistiyanto, dan T. Lesmana.

2006.Diversifikasi Produk Olahan Jarak Pagar dan kaitannya

dengan CorporateSocial Responsibility (CSR) perusahaan

swasta di Indonesia. SBRC&

4. Hamzah, Baharuddin.2009.fitokimia 1. Stifa PM palu

5. Harborne, J.B. 1996. Metode Fitokimia : Penuntun cara modern

menganalisis tumbuhan. Terjemahan K. Padmawinata & I.

Sudiro. Penerbit ITB. Bandung.

6. Sudjadi. 1983. Penentuan struktur molekul organik. Ghalia

Indonesia. Bandung

7. Windarwati, Sri. 2011. Tesis Pemanfaatan Fraksi Aktif

Ekstrak Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn.)

sebagai ZatAntimikroba dan Antioksidan Dalam Sediaan

Kosmetik. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian

Bogor.