Anda di halaman 1dari 2

BAB 1

PENDAHULUAN

ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yaitu meliputi infeksi akut saluran
pernapasan bagian atas dan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah
(Rasmaliah, 2010). ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai
14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung
sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti: sinus, ruang telinga
tengah dan selaput paru (Linda Kirana S, 2011).
Program pengendalian penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2
golongan yaitu pneumonia dan bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat
beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk
pilek seperti rhinitis, faringitis, tonsillitis dan penyakit jalan nafas bagian atas lainnya
digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan
napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik (Profil
Kesehatan Indonesia. 2010).
ISPA (infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan penyebab kematian
terbesar baik pada bayi, balita dan dewasa. Hal ini dapat dilihat melalui hasil survei
mortalitas subdit ISPA pada tahun 2005 di 10 provinsi, diketahui bahwa pneumonia
merupakan penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia, yaitu sebesar 22,30% dari
seluruh kematian bayi. Survei yang sama juga menunujukkan bahwa pneumonia
merupakan penyebab kematian terbesar anak balita yaitu sebesar 23,60%. Studi
mortalitas pada Riset Kesehatan Dasar 2007 menunjukkan bahwa proporsi kematian
pada bayi (post natal) karena pneumonia sebesar 23,8 % dan pada anak balita sebesar
15,5 % (Profil Kesehatan Indonesia, 2010).
Program pengendalian ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) menetapkan
bahwa Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan yang penting di
Indonesia karena menyebabkan kematian yang cukup tinggi dengan proporsi 3,8%
untuk penyebab kematian di semua umur (Profil Kesehatan Indonesia, 2010).
Berdasarkan perbandingan Riskesdas tahun 2007 dan 2013, ada 11 provinsi
yang salah satunya Aceh yang mengalami peningkatan prevalensi ISPA (Profil
Kesehatan Indonesia, 2014).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, prevalensi Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada tahun 2008 sebesar 63,78% dan pada tahun
2009 sebesar 70,36%, urutan pertama terbanyak dari 10 jenis penyakit menular
(Profil Dinas Kesehatan Propinsi Aceh, 2008, 2009). Berdasarkan data dari
Puskesmas Tanah Jambo Aye, ISPA merupakan urutan pertama penyakit yang sering
terjadi.
Berdasarkan uraian di atas, penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit
dengan angka kesakitan dan angka kematian yang cukup tinggi, sehingga dalam
penanganannya diperlukan kesadaran yang tinggi baik dari masyarakat maupun
petugas, terutama tentang beberapa faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan.
Salah satu faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan antara lain faktor lingkungan
yaitu kondisi lingkungan. Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam
menentukan proses interaksi antara penyebab dan penjamu dalam proses terjadinya
penyakit (Notoatmodjo, 2007).