Anda di halaman 1dari 8

BAB 3

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi ISPA


ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernapasan akut, istilah ini
diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Istilah
ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernapasan dan akut, dengan
pengertian sebagai berikut:
1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikro organisme ke dalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta
organ adneksanya seperti sinus sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan bagian atas, saluran
pernafasan, bagian bawah (termaksud jaringan paru-paru) dan organ adneksa
saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termaksud dalam
saluran pernafasan (respiratory tract).
3. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14
hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa
penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung
lebih dari 14 hari.

3.2 Etiologi
Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompok penyakit yang komplek
dan heterogen, yang disebabkan oleh berbagai etiologi. Etiologi ISPA terdiri dari 300
lebih jenis virus, bakteri, riketsia dan jamur. Virus penyebab ISPA antara lain
golongan mikrovirus (termasuk di dalamnya virus influenza, virus pra-influensa dan
virus campak) dan adenovirus. Bakteri penyebab ISPA misalnya Streptokokus
hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Haemofilus influenza, Bordetella pertusis
dan Corinebacterium diffteria. Bakteri tersebut di udara bebas akan masuk dan
menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung.
Biasanya bakteri tersebut menyerang anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah.
Golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di
dalamnya virus para-influenza, virus influenza, dan virus campak) dan adenovirus.
Virus para-influenza merupakan penyebab terbesar dari sindroma batuk rejan,
bronkiolitis dan penyakit demam saluran nafas bagian atas. Untuk virus influenza
bukan penyebab terbesar terjadinya sidroma saluran pernafasan kecuali hanya
epidemi-epidemi saja. Pada bayi dan anak-anak, virus influenza merupakan penyebab
terjadinya lebih banyak penyakit saluran nafas bagian atas dari pada saluran nafas
bagian bawah. Jumlah penderita infeksi pernapasan akut sebagian besar terjadi pada
anak. Infeksi pernapasan akut mempengaruhi umur anak, musim, kondisi tempat
tinggal, dan masalah kesehatan yang ada.

3.3 Klasifikasi
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Bagian Atas
Adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas
di sebelah atas laring. Kebanyakan penyakit saluran nafas mengenai bagian atas dan
bawah secara bersama-sama atau berurutan, tetapi beberapa di antaranya adalah
nasofaringitis akut (salesma), faringitis akut (termasuk tonsilitis dan faringotositilitis)
dan rhinitis.
2. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Bagian Bawah
Adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas
bagian bawah mulai dari laring sampai dengan alveoli. Penyakit-penyakit yang
tergolong Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) bagian bawah: laringitis, asma
bronchial, bronchitis akut maupun kronis, broncho pneumonia atau pneumonia (suatu
peradangan tidak saja pada jaringan paru tetapi juga pada brokioli.
Klasifikasi ISPA berdasarkan kelompok umur
1. Kelompok pada anak umur kurang dari 2 bulan dibagi atas:
a. Pneumonia berat
Pada kelompok umur ini gambaran klinis pneumonia, sepsis dan meningitis
dapat disertai gejala klinis pernafasan yang tidak spesifik untuk masing-masing
infeksi, maka gejala klinis yang tampak dapat saja diduga salah satu dari tiga infeksi
serius tersebut, yaitu berhenti menyusu, kejang, rasa kantuk yang tidak wajar atau
rasa sulit bangun, stidor pada anak yang tenang, mengi (wheezing), demam (38C)
atau suhu tubuh yang rendah (dibawah 35,5C), pernafasan cepat, penarikan dinding
dada, sianosis sentral, serangan apnea, distensi abdomen dan abdomen tegang.
b. Bukan pneumonia
Jika bernafas dengan frekuensi kurang dari 60 kali permenit dan tidak terdapat
tanda pneumonia.
2. Kelompok pada anak umur 2 bulan hingga 5 tahun dibagi atas:
a. Pneumonia berat
Batuk atau kesulitan bernafas, tarikan dinding dada, tanpa disertai sianosis
dan tidak dapat minum.
b. Pneumonia
Batuk atau kesulitan bernafas dan pernafasan cepat tanpa disertai penarikan
dinding dada.
c. Bukan Pneumonia
Batuk atau kesulitan bernafas tanpa pernafasan cepat atau penarikan dinding
dada.
Klasifikasi ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah:
a. ISPA ringan
Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala batuk, pilek
dan sesak.
b. ISPA sedang
ISPA sedang apabila timbul gejala sesak nafas, suhu tubuh lebih dari 39 0C dan
bila bernafas mengeluarkan suara seperti mengorok.
c. ISPA berat
Gejala meliputi: kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba, nafsu
makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan gelisah.

3.4 Faktor Resiko


Faktor resiko timbulnya ISPA, yaitu:
a. Faktor demografi, faktor demografi terdiri dari 3 aspek, yaitu:
1. Jenis kelamin
Bila dibandingkan antara orang laki-laki dan perempuan, laki-laki lah yang
banyak terserang penyakit ISPA karena mayoritas orang laki-laki merupakan perokok
dan sering berkendaraan, sehingga mereka sering terkena polusi udara.
2. Usia
Anak balita dan ibu rumah tangga yang lebih banyak terserang penyakit ISPA.
Hal ini disebabkan karena banyaknmya ibu rumah tangga yang memasak sambil
menggendong anaknya.
3. Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam
kesehatan, karena lemahnya manajemen kasus oleh petugas kesehatan serta
pengetahuan yang kurang di masyarakat akan gejala dan upaya penanggulangannya,
sehingga banyak kasus ISPA yang datang kesarana pelayanan kesehatan sudah dalam
keadaan berat karena kurang mengerti bagaimana cara serta pencegahan agar tidak
mudah terserang penyakit ISPA.
b. Faktor biologis, faktor biologis terdiri dari 2 aspek, yaitu:
1. Status gizi
Menjaga status gizi yang baik, sebenarnya bisa juga mencegah atau terhindar
dari penyakit terutama penyakit ISPA. Misal dengan mengkonsumsi makanan 4 sehat
5 sempurna dan memperbanyak minum air putih, olah raga yang teratur serta istirahat
yang cukup. Karena dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh akan semakin
menigkat, sehingga dapat mencegah virus (bakteri) yang akan masuk kedalam tubuh.
2. Faktor rumah
Syarat-syarat rumah yang sehat:
a) Bahan bangunan.
1. Lantai
2. Dinding
3. Atap Genteng
4. Lain-lain (tiang, kaso dan reng)
b) Ventilasi
c) Cahaya

3.5 Patofisiologi
Terjadinya infeksi antara bakteri dan flora normal di saluran nafas. Infeksi
oleh bakteri, virus dan jamur dapat merubah pola kolonisasi bakteri. Timbul
mekanisme pertahanan pada jalan nafas seperti filtrasi udara inspirasi di rongga
hidung, refleksi batuk, refleksi epiglotis, pembersihan mukosilier dan fagositosis.
Karena menurunnya daya tahan tubuh penderita maka bakteri pathogen dapat
melewati mekanisme sistem pertahanan tersebut akibatnya terjadi invasi di daerah-
daerah saluran pernafasan atas maupun bawah.

3.6 Tanda dan Gejala


ISPA merupakan proses inflamasi yang terjadi pada setiap bagian saluran
pernafasan atas maupun bawah, yang meliputi infiltrat peradangan dan edema
mukosa, kongestif vaskuler, bertambahnya sekresi mukus serta perubahan struktur
fungsi siliare.
Tanda dan gejala ISPA banyak bervariasi antara lain demam, pusing, malaise
(lemas), anoreksia (tidak nafsu makan), vomitus (muntah), photophobia (takut
cahaya), gelisah, batuk, keluar sekret, stridor (suara nafas), dyspnea (kesakitan
bernafas), retraksi suprasternal (adanya tarikan dada), hipoksia (kurang oksigen) dan
dapat berlanjut pada gagal nafas apabila tidak mendapat pertolongan dan
mengakibatkan kematian (Nelson, 2003).
Sedangkan tanda gejala ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah:
a. Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih
gejala-gejala sebagai berikut:
1. Batuk.
2. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misal pada
waktu berbicara atau menangis).
3. Pilek, yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung.
4. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba.
b. Gejala dari ISPA Sedang
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA
ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1. Pernafasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur kurang dari
satu tahun atau lebih dari 40 kali per menit pada anak yang berumur satu
tahun atau lebih. Cara menghitung pernafasan dengan menghitung jumlah
tarikan nafas dalam satu menit. Untuk menghitung dapat digunakan arloji.
2. Suhu lebih dari 390C (diukur dengan termometer).
3. Tenggorokan berwarna merah.
4. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak.
5. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
6. Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).
7. Pernafasan berbunyi menciut-ciut.
c. Gejala dari ISPA Berat
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala ISPA
ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1. Bibir atau kulit membiru.
2. Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernafas.
3. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun.
4. Pernafasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah.
5. Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas.
6. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.
7. Tenggorokan berwarna merah.

3.7 Penatalaksanaan
Kriteria yang digunakan untuk pola tatalaksana panderita ISPA pada anak
adalah anak dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernapas yaitu:
1. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan untuk mengidentifikasi gejala yang ada pada
penderita.
2. Penentuan ada tidaknya tanda bahaya
Tanda bahaya, pada bayi umur kurang dari 2 bulan adalah tidak bisa minum,
kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing, demam atau dingin. Tanda bahaya
pada umur 2 bulan sampai <5 tahun adalah tidak bisa minum, kejang, kesadaran
menurun, Stridor dan gizi buruk.
3. Tindakan dan Pengobatan
Pada penderita umur <2 bulan yang terdiagnosa pneumonia berat, harus
segera dibawah ke sarana rujukan dan diberi antibiotik 1 dosis.
Pada penderita umur 2 bulan sampai <5 tahun yang terdiagnosa pneumonia dapat
dilakukan perawatan rumah, pemberian antibiotik selama 5 hari, pengontrolan dalam
2 hari atau lebih cepat bila penderita memburuk, serta pengobatan demam dan yang
ada.
Penderita di rumah untuk penderita pneumonia umur 2 bulan sampai kurang
dari 5 tahun, meliputi:
1. Pemberian makanan yang cukup selama sakit dan menambah jumlahnya setelah
sembuh.
2. Pemberian cairan dengan minum lebih banyak dan meningkatkan pemberian Asi.
3. Pemberian obat pereda batuk dengan ramuan, yang aman dan sederhana.
Penderita umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun yang terdiagnosa
pneumonia berat segera dikirim ke rujukan, diberi antibiotik 1dosis serta analgetik
sebagai penurun demam dan wheezing yang ada. Penderita yang diberi antibiotik,
pemeriksaan harus kembali dilakukan 2 hari. Jika keadaan penderita membaik,
pemberian antibiotik dapat diteruskan. Jika keadaan penderita tidak berubah,
antibiotik harus diganti atau penderita dikirim ke sarana rujukan.
Obat yang digunakan untuk penderita pneumonia adalah tablet cotrimoksazole
480 mg, kotrimoksazole 120 mg, tablet parasetamol 500 mg dan tablet parasetamol
100 mg.

2.8 Pencegahan
1. Mencuci tangan yang bersih ketika merawat anak yang terinfeksi pernafasan.
2. Anak dan keluarga diajarkan untuk menggunakan tisu atau tangannya untuk
menutup hidung dan mulutnya ketika batuk/ bersin.
3. Anak yang sudah terinfeksi pernafasan sebaiknya tidak berbagi cangkir minuman,
baju atau handuk.
4. Mencegah anak berhubungan terlalu dekat dengan orang yang sedang sakit ISPA.
5. Upayakan ventilasi yang cukup dalam ruangan/ rumah.
6. Hindari anak dari paparan asap rokok.