Anda di halaman 1dari 12

BAB 4

PEMBAHASAN

4.1 Faktor Risiko


Faktor risiko ISPA pada kasus:
4.1.1 Faktor risiko lingkungan fisik:
A. Dalam Rumah

Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa rumah pasien tidak sehat, karena:
1. Ventilasi yang buruk sehingga cahaya matahari tidak masuk ke dalam rumah
Pada rumah tersebut hanya ada 1 jendela di bagian depan rumah pasien
dan ada 1 ventilasi di bagian belakang rumah pasien. Ventilasi rumah punya
banyak fungsi terutama yaitu untuk menjaga agar aliran udara dalam rumah
tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh
penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan
menyebabkan kurangnya O2 dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang
bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Disamping itu, tidak
cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara dalam ruangan naik
karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan.
Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri ,
pathogen (bakteri penyebab penyakit).
Fungsi kedua dari ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari
bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran
udara yang terus-menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu
mengalir. Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan rumah selalu
tetap dalam kelambaban (humudity) yang optimum.
2. Adanya polusi udara dalam ruangan
Pada rumah tersebut, dapat dilihat bahwa dapur rumah pasien
bergabung dengan ruangan lainnya (tidak ada sekat) kecuali kamar pasien
sehingga polusi udara dalam ruangan tersebut tinggi. Polusi udara dalam
ruangan adalah adanya perubahan kualitas udara dalam ruangan tempat
tinggal menusia akibat masuk atau terbebntuknya gas-gas dan pertikel-partikel
dalam ruangan itu dan membahayakan kehidupan manusia tersebut. Sumber
polutan dalam kasus yaitu gas dari nyala kompor dan asap rokok karena ayah
pasien perokok. Penguapan bahan-bahan organis yang mudah menguap dari
bahan-bahan yang terbakar tersebut dan juga bahan-bahan lain yang terbentuk
dari pembakaran tadi akan mencemari udara dalam ruangan tempat tinggal.
Besarnya konsentrasi polutan dalam ruangan tergantung pada kekuatan
sumber polutan, kecepatan pembebasan polutan, volume ruangan tempat
tinggal, kecepatan pertukaran udara (ventilasi ruangan). Ventilasi rumah
pasien termasuk sehingga konsentrasi polutannya juga akan tinggi.

B. Di Luar Rumah
1 2

3 4

5 6

7
Dari gambar di atas, dapat dilihat

bahwa lingkungan luar pasien tidak

begitu sehat, karena:


1. Pada gambar nomor 1, 2 dan 7

terlihat bahwa di sekitar rumah pasien ada yang memelihara hewan

ternak yaitu ayam, lembu dan kambing. Kemudian kandang ayam


yang tepat berada di sebelah rumah pasien (gambar 1) dapat menjadi

sumber penyakit ISPA. Kotoran hewan tersebut dapat meningkatkan

mikroorganisme yang bisa menyebabkan ISPA.


2. Gambar nomor 3, 4 dan 5 adalah bagian depan rumah pasien dan jalan

menuju keluar. Jalan yang tepat berada di depan rumah pasien adalah

jalan yang belum di aspal sehingga pada musim kemarau, debu di

jalan tersebut banyak. Debu yang sering terhirup bisa menyebabkan

iritasi pada saluran nafas yang bisa menyebabkan ISPA.


4.1.2 Faktor risiko lingkungan biologis dari penyakit
Mikroorganisme yang mendukung terjadinya penyakit ISPA antara lain:
1. Para influenza
2. Adenovirus
3. RSV (Respiratory syncytial virus)
4.1.3 Faktor risiko lingkungan sosial dari penyakit
a. Sosial Ekonomi
Kondisi ekonomi pada keluarga ini tergolong menengah ke bawah yang

menyebabkan pasien sulit memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Asupan

maknan yang tidak sehat dapat membuat imunitas anak menurun sehingga

mudah terjadinya infeksi.


b. Pendidikan dan Pengetahuan
Rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan yang kurang mengenai

prilaku hidup bersih dan sehat dalam rumah tangga menyebabkan pasien

mengalami ISPA.
4.1.4 Penentuan masalah kesehatan
Penentuan masalah kesehatan penyakit Diare ialah:
a. ISPA merupakan penyakit yang dapat menular melalui udara yang

terkontaminasi dengan mikroorganisme penyebab ISPA, dan rentan terkena

pada anak-anak (balita) dan lansia, penyakit ini juga dapat dipengaruhi oleh
lingkungan rumah yang tidak sehat sehingga mikroorganisme dapat

berkembang biak.
b. Asupan makanan yang kurang baik juga dapat mempengaruhi imunitas yang

menyebabkan pasien rentan terserang penyakit


c. Hygiene dan sanitasi yang kurang baik juga dapat mempengaruhi terjadinya

ISPA.
d. Rendahnya tingkat pengetahuan orang tua terhadap penyakit ISPA rendah

sehingga bisa menimbulkan keterlambatan dalam penanganan yang bisa

menyebabkan kematian.
e. Keadaan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat secara langsung

dan tidak langsung juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit ISPA.


4.2 Upaya promotif pada ISPA

Adalah upaya penyuluhan yang bertujuan untuk merubah kebiasaan yang

kurang baik dalam masyarakat agar berperilaku sehat dan ikut serta berperan aktif

dalam bidang kesehatan. Dalam kasus ini, upaya promotif yang dapat dilakukan

yaitu:

a. Memberikan informasi pada pasien bahwa kebersihan lingkungan sangat penting

untuk mencegah penyakit khusunya penyakit yang berbasis lingkungan seperti

ISPA dan meningkatkan pengetahuan pasien untuk menjaga kebersihan

lingkungan, seperti tidak ada anggota keluarga yang merokok agar mengurangi

polusi udara dalam rumah, jarak kandang hewan ternak tidak dekat dengan

rumah, mengingkatkan ventilasi dalam rumah, dapur dan ruangan lain

seharusnya tidak digabung, dan membuang sampah pada tempatnya.

b. Memberikan informasi tentang penyakit ISPA, penyebab serta tatalaksananya.


c. Meningkatkan pengetahuan pasien tentang perilaku hidup bersih dan sehat untuk

menjaga kebersihan diri.

d. Makan makanan yang sehat agar imunitas baik.

4.3 Upaya preventif pada ISPA

4.3.1 Pencegahan primer

Pencegahan primer pada penyakit ISPA dapat ditujukan pada faktor penyebab,

lingkungan dan faktor pejamu. Untuk faktor penyebab dilakukan berbagai upaya agar

mikroorganisme penyebab ISPA dihilangkan. Peningkatan air bersiperbaikan biologis

dilakukan untuk memodifikasi lingkungan. Pencegahan primer dapat berupa :

a. ASI eksklusif

Bayi dengan pemberian ASI eksklusif sangat kecil kemungkinannya untuk

mendapatkan diare atau meninggal karena diare daripada bayi yang tidak

mendapatkan ASI eksklusif. Menyusui juga dapat melindungi terhadap risiko alergi

pada awal kehidupan, memberikan jarak dan perlindungan terhadap infeksi selain

diare (misalnya pneumonia).

b. Memperbaiki cara mempersiapkan makanan

Memberikan makanan yang baik, memilih makanan bergizi, dan menggunakan

praktek-praktek yang higienis ketika mempersiapkan makanan.

c. Penyediaan dan penggunaan air bersih

Air adalah salah satu kebutuhan pokok hidup manusia, bahkan hampir 70%

tubuh manusia mengandung air. Air dipakai untuk keperluan makan, minum, mandi
dan pemenuhan kebutuhan yang lain, maka untuk keperluan tersebut WHO

menetapkan kebutuhan per hari untuk hidup sehat 60 liter. Air dapat juga menjadi

sumber penularan penyakit. Peran air dalam terjadinya penyakit menular dapat

berupa, air sebagai penyebar mikroba patogen, sarang insekta penyebar penyakit, bila

jumlah air bersih tidak mencukupi, sehingga orang tidak dapat membersihkan dirinya

dengan baik dan air sebagai sarang hospes sementara penyakit . Risiko diare dapat

dikurangi dengan menggunakan air bersih yang tersedia dan melindunginya dari

kontaminasi. Usaha yang dapat dilakukan oleh keluarga untuk menghindari

kontaminasi air dari penyebab diare antara lain :

1. Kumpulkan air dari sumber terbersih yang tersedia.

2. Tidak mandi, mencuci, atau buang air besar di dekat sumbernya. WC harus

ditempatkan lebih jauh 10 meter dan menuruni bukit.

3. Jauhkan binatang jauh dari sumber air.

4. Mengumpulkan dan menyimpan air ke dalam wadah yang bersih, kosong

dan bilas wadah setiap hari, menjaga penyimpanan dengan wadah tertutup

dan tidak membiarkan anak-anak atau hewan untuk minum dari tempat

tersebut, mengambil air menggunakan gagang yang panjang dengan tujuan

agar tangan tidak menyentuh air.

5. Masak air yang digunakan untuk membuat makanan atau minuman

d. Cuci tangan

Diare merupakan penyakit yang penularannya berkaitan dengan penerapan

perilaku hidup sehat. Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan
melalui jalur oral. Kuman-kuman tersebut ditularkan dengan perantara air atau bahan

yang tercemar tinja yang mengandung mikroorganisme patogen melalui air minum.

Pada penularan seperti ini, tangan memegang peranan penting karena lewat tangan

yang tidak bersih makanan atau minuman tercemar kuman penyakit masuk ke tubuh

manusia. Pemutusan rantai penularan penyakit diare adalah dengan mencuci tangan

pakai sabun diterapkan setelah buang air besar, setelah menangani tinja anak,

sebelum makan dan sebelum menyiapkan makanan.

e. Keamanan makanan

Makanan dapat terkontaminasi oleh penyebab diare pada semua tahapan

produksi dan persiapan, termasuk selama masa pertumbuhan bahan makanan (dengan

menggunakan pupuk hewani), di tempat-tempat umum seperti pasar, selama

persiapan di rumah atau di restoran, dan setelah terus disiapkan tanpa didinginkan.

Masing-masing praktek-praktek keselamatan makanan juga harus ditekankan.

Pendidikan kesehatan untuk masyarakat umum harus menekankan pesan-pesan kunci

berikut mengenai persiapan dan konsumsi makanan:

1. Jangan makan makanan mentah, kecuali buah-buahan dan sayuran yang

dikupas, dicuci bersih, dan dimakan langsung.

2. Cuci tangan dengan bersih dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum

menyiapkan makanan atau makan.

3. Makanlah makanan saat itu masih panas, atau panaskan secara menyeluruh

sebelum makan.

4. Cuci dan keringkan semua peralatan memasak setelah digunakan.


5. Jauhkan makanan yang dimasak dan peralatan bersih secara terpisah dari

makanan mentah dan alat-alat yang berpotensi terkontaminasi.

6. Lindungi makanan dari lalat terbang.

f. Penggunaan jamban dan pembuangan kotoran yang aman

Sebuah lingkungan yang tidak sehat memberikan kontribusi terhadap

penyebaran penyebab diare karena patogen yang menyebabkan diare diekskresikan ke

dalam kotoran orang yang terinfeksi atau hewan, pembuangan kotoran yang tepat

dapat memotong penyebaran infeksi. Feses dapat mencemari air tempat anak-anak

bermain, ibu mencuci pakaian, dan tempat sumber air untuk pemakaian keperluan

rumah tangga. Setiap keluarga harus mempunyai jamban yang bersih dan berfungsi

dengan baik. Jika tidak tersedia, keluarga harus buang air besar di tempat yang

ditunjuk dan menguburkan kotoran segera. Kotoran anak-anak cenderung

mengandung patogen diare, kotoran tersebut harus dikumpulkan segera setelah buang

air besar dan dibuang di jamban atau dikubur. Pembuangan tinja merupakan bagian

yang penting dari kesehatan lingkungan. Pembuangan tinja yang tidak tepat dapat

berpengaruh langsung terhadap insiden penyakit tertentu yang penularannya melalui

tinja antara lain penyakit diare. Jamban harus dijaga kebersihannya secara teratur.

Jika tak ada jamban, maka anggota keluarga harus membuang air besar jauh dari

rumah, jalan dan daerah anak bermain dan paling kurang sepuluh meter dari sumber

air bersih. Suatu jamban memenuhi syarat kesehatan apabila memenuhi syarat antara

lain: tidak mengotori permukaan tanah, tidak mengotori air permukaan, tidak dapat

dijangkau oleh serangan, tidak menimbulkan bau, mudah digunakan dan dipelihara.
g. Imunisasi campak

Imunisasi campak secara substansial dapat mengurangi insiden dan tingkat

keparahan penyakit diare. Setiap bayi harus diimunisasi terhadap campak pada usia

yang dianjurkan.

h. Status gizi

Didefinisikan sebagai keadaan kesehatan yang berhubungan dengan

penggunaan makanan oleh tubuh. Status gizi yang buruk pada anak dapat

meningkatkan episode diare yang dialami. Pada anak dengan malnutrisi, kekebalan

sel-sel menjadi terbatas sekali sehingga kemampuan untuk mengadakan kekebalan

nonspesifik terhadap kelompok organisme berkurang.

4.3.2 Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder ditujukan untuk mencegah terjadinya komplikasi

dengan menentukan diagnosa dini dan pengobatan yang cepat dan tepat. Pengobatan

yang diberikan harus disesuaikan dengan klinis pasien.

4.3.3 Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier ditujukan agar penderita jangan sampai menderita

kecacatan dan kematian akibat dehidrasi. Jadi pada tahap ini, penderita diare

diusahakan pengembalian fungsi fisik dan psikologis semaksimal mungkin. Pada

tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya efek samping
dari penyakit diare. Usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan terus mengonsumsi

makanan bergizi dan menjaga keseimbangan cairan.

4.4 Upaya kuratif pada diare

Upaya kuratif adalah upaya yang dilakukan untuk mendiagnosis sedini

mungkin dan mengobati secara tepat dan rasional terhadap individu yang terserang

penyakit. Upaya kuratif yang dilakukan pada penderita ini meliputi:

a. Rehidrasi, baik secara oral maupun parenteral.


b. Diet lunak tinggi kalori dan protein.
c. Pemberian zinc
d. Pemberian antibiotik bila diperlukan

4.5 Upaya rehabilitatif pada diare


a. Istirahat yang cukup selama dirawat di rumah.
b. Menjaga kualitas dan kuantitas makanan sehari-hari di rumah, agar kebutuhan

gizi tetap terpenuhi dengan baik dan pasien memiliki daya tahan tubuh yang

baik pula sehingga tidak mudah terserang penyakit.


c. Menganjurkan mencuci tangan secara rutin sebelum makan dan menggunakan

sabun, memasak air sebelum di minum, mencuci buah dan sayur sebelum

makan.
d. Menyediakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
e. Menyarankan untuk selalu menggunakan jamban keluarga yang memenuhi

kriteria, serta tidak membuang tinja sembarangan

4.6 Upaya psikososial pada diare


Aspek psikososial adalah aspek yang berkaitan dengan emosi, sikap,

pengetahuan, perilaku, keterampilan, nilai-nilai sosial budaya, kepercayaan, dan adat

istiadat dilingkungan sekitar.

a. Pemberian dukungan/motivasi kepada pasien agar tidak khawatir dengan

keluhan yang dialami.


b. Mendorong pasien untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
c. Memberikan motivasi untuk terus mengkonsumsi makanan yang sehat di usia

lanjutnya