Anda di halaman 1dari 11

MODUL PERKULIAHAN

Pancasila

Pendahuluan

Tatap
Fakultas Bidang Studi Kode MK Disusun Oleh
Muka
Ekonomi dan Manajemen 90037 Finy F. Basarah, M.Si
Bisnis
01
Abstract Kompetensi
Ruang lingkup, Dasar-dasar, Tujuan, Mahasiswa mampu memahami dan
Capaian menjelaskan dasar-dasar pendidikan
Pancasila

Berbicara tentang pendidikan Pancasila, sebagai mata kuliah di perguruan tinggi dan
guna mencapai sasaran yang efektif, kiranya perlu disampaikan berbagai hal yang
terkait, di antaranya, manfaat mempelajari pendidikan Pancasila, mengenai asal-usul
Pancasila, landasan pendidikan Pancasila, tujuan diberikannya pendidikan
Pancasila, tentang Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1968
perihal keberadaan Pancasila, segi-segi tinjauan Pancasila, hakikat nilai sila-sila
Pancasila, dan Pancasila sebagai suatu pilihan bangsa.

1.1 Manfaat Mempelajari Pendidikan


Pancasila
Bagi para mahasiswa jika mempelajari pendidikan Pancasila secara umum dengan
tujuan untuk memahami dan memperoleh pengetahuan tentang Pancasila secara
baik dan benar, yaitu dalam arti yuridis konstitusional dan objektif ilmiah.

Yuridis konstitusional, mengingat Pancasila sebagai dasar Negara dijadikan


landasan dan pedoman dalam pelaksanaan penyelenggaraan Negara Republik
Indonesia termasuk melandasi tatanan hukum yang berlaku. Artinya, dalam setiap
langkah dan tindakan dari aparat pemerintah Negara yang ada, seperti Presiden,
para Mentri, dan Pejabat Negara yang lain termasuk DPR/MPR, seharusnya selalu
mengingat dan mempertimbangkan nilai-nilai luhur yang ada dalam sila-sila
Pancasila agar dapat mencerminkan kepribadian dan budaya bangsa yang akan
menjadi panutan bagi rakyat pendukungnya, yaitu penduduk dan warga Negara
Indonesia, sehingga terdapat keseimbangan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara serta tegaknya tatanan hukum seperti yang diharapkan bersama.

Objektif ilmiah, artinya Pancasila sebagai dasar Negara adalah suatu nilai
kerohanian, yang mana termasuk dalam kategori filsafat, yaitu pengetahuan. Oleh
karena itu, penalaran dan penjabarannya selain secara objektif juga secara ilmiah.
Objektif, mengingat Pancasila bukan milik subjek tertentu, tetapi milik semua
manusia, semua rakyat, dan juga bangsa Indonesia. Untuk sampai kepada pemikiran
yang hakiki tentang Pancasila, manusia harus menggunakan pemahaman secara
umum melalui berbagai sudut pandang. Ilmiah, karena ilmu pengetahuan harus
dinalar berdasarkan teori-teori ilmiah atau pengetahuan umum, seperti bersistem,
bermetode, berobjek, dan memiliki kesimpulan sebagai hasil analisis, seperti yang
tertulis di dalam buku Empat Tiang Penyangga Ilmu dalam Filsafat Pendidikan
Nasional Pancasila (Sunaryo Wreksosuhardjo, 2002:7). Ilmiah berarti dinalar melalui

201 Pancasila
3 1 Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Finy F. Basarah, M.Si http://www.mercubuana.ac.id
akal sehat atau logika. Logika artinya berfikir secara logis. Dalam matematika,
misalnya perhitungan empat kali empat hasilnya enam belas. Lain halnya di bidang
hukum, logis berarti misalnya apabila seorang terpidana telah dinyatakan bersalah
secara hukum dan telah mendapatkan keputusan hukum tetap, harus segera
melaksanakan hukumannya sesuai keputusan yang telah ditetapkan tersebut.

1.2 Asal Mula Pancasila


Mengenai asal mula Pancasila, Prof. Dr. Drs. Notonagoro, SH, dalam bukunya
Pancasila Secara Ilmiah Populer (1975) menyebutkan adanya beberapa macam asal
mula atau sebab-musabab Pancasila dapat dipakai sebagai falsafah Negara, yaitu
causa meterialis, causa formalis dan causa finalis, sebagai sambungan dari causa
formalis dan causa finalis, causa efisien atau asal mula.

1.2.1 Causa Materialis

Causa materialis, artinya asal mula bahan (material), yaitu bangsa Indonesia sebagai
material utama yang bisa dilihat dalam adat kebiasaan, kebudayaan, dan juga
agama.

1.2.2 Causa Formalis dan Causa Finalis

Causa formalis artinya asal mula bentuk atau bangun, dan causa finalis atau asal
mula tujuan. Bung Karno dan Bung Hatta sebagai pembentuk Negara, Badan
Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) adalah asal mula
bentuk atau bangun dan juga asal mula tujuan Pancasila sebagai calon dasar filsafat
Negara.

1.2.3 Sebagai Sambungan dari Causa Formalis dan Causa Finalis

Sebagai sambungan dari causa formalis dan causa finalis adalah sembilan orang
anggota BPUPKI termasuk Bung Karno dan Bung Hatta. Dilakukan dengan cara
menyusun rencana Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya terdapat Pancasila,
dan juga BPUPKI yang menerima rencana tersebut dengan perubahan.

1.2.4 Causa Efisien atau Asal Mula Karya

201 Pancasila
3 2 Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Finy F. Basarah, M.Si http://www.mercubuana.ac.id
Causa efisien atau asal mula karya adalah Panitia Persiapan Kemerdekaaan
Indonesia atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang menjadikan
Pancasila sebagai dasar filsafat Negara (sebelum ditetapkan PPKI, istilahnya masih
calon dasar filsafat Negara).

Selanjutnya, dijelaskan bahwa berdasarkan teori causa materialis dapat


digambarkan pada kenyataan, yaitu kondisi sebelum diproklamirkannya Negara,
perumusan menjadi dasar kerohanian atau dasar filsafat Negara RI pada masa
perjuangan kemerdekaan dengan dimulainya sidang-sidang BPUPKI, melalui
penyampaian konsep dasar Negara oleh para tokoh-tokoh diantaranya Mr. Muh
Yamin, Prof Soepomo, dan Ir. Soekarno pada tanggal 29 Mei, 31 Mei, dan 1 Juni
1945.

Berdasarkan teori causa formalis dan causa finalis, dapat digambarkan sebagai
kondisi yang ada pada saat perumusan rancangan mukadimah hukum dasar yang
merupakan hasil perumusan yang dilakukan pada tanggal 22 Juni 1945 dan yang
kemudian bisa diterima oleh anggota BPUPKI pada tanggal 10 Juli 1945, saat sidang
terakhir.

Untuk memenuhi teori efisiensi, dapat ditunjukkan melalui kondisi sesudah masa
proklamasi kemerdekaan RI, yang kegiatan lembaga BPUPKI telah beralih ke
lembaga PPKI dengan tugas yang berbeda, yaitu meletakkan dasar Negara,
pembukaan Undang-Undang Dasar, dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia 1945.

1.3 Landasan Pendidikan Pancasila


Landasan pendidikan Pancasila, antara lain landasan filosofis, landasan kultural,
landasan historis, dan landasan yuridis.

1.3.1 Landasan Filosofis

201 Pancasila
3 3 Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Finy F. Basarah, M.Si http://www.mercubuana.ac.id
Landasan filosofis adalah filsafat Pancasila sebagai bagian dari pendidikan nasional,
maka dari itu Pendidikan Pancasila dilandasi oleh Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945. Pancasila sebadai dasar kerohanian dan dasar Negara tercantum pada
paragraph ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, melandasi jalannya
pemerintahan Negara, melandasi hukumnya, dan melandasi setiap kegiatan
operasional dalam Negara termasuk pendidikan nasional di dalamnya, serta
Pendidikan Pancasila dan juga segenap mata kuliah lainnya.

1.3.2 Landasan Kultural

Landasan kultural adalah landasan yang digali dari nilai-nilai luhur budaya bangsa
yang sudah ada semenjak berabad-abad lamanya di Indonesia. Sama tuanya
dengan peradaban yang ada pada manusia Indonesia. Semenjak zaman Indonesia
masih bernama bumi Nusantara, perumusan nilai-nilai Pancasila diambil dari nilai
kehidupan nenek moyang yang telah menyatu dalam pandangan hidup atau
kepribadian bangsa serta terpelihara secara baik sebagai milik bangsa yang sangat
berharga, seperti nilai-nilai kemanusiaan, kegotong-royongan, nilai persatuan-
kesatuan, dan toleransi tinggi dalam perbedaan pendapat maupun pergaulan dalam
hidup bermasyarakat sampai kepada nilai-nilai religius dan keagamaan, Dengan
demikian, faktor nilai budaya bangsa sangat menentukan lahirnya nilai-nilai
kerohanian Pancasila karena telah dijiwai karakter bangsa yang secara keseluruhan
memiliki nilai kepribadian serta menjadi kesepakatan bersama seluruh bangsa.

1.3.3 Landasan Historis

Landasan historis adalah landasan sejarah, terutama dalam rangka perjuanagn


bangsa dalam membebaskan diri dari segenap penderitaan selama berabad-abad
dalam penjajahan. Sejak jatuhnya Kerajaan Majapahit, bangsa Indonesia hidup
dalam penekanan, penindasan, kemiskinan, dan kebodohan dalam segenap bidang
keilmuan, baik ekonomi, politik, sosial budaya, dan kehidupan mental masyarakat.

Dengan berjalannya waktu, masih dalam kondisi kehidupan yang serba sulit, melalui
berbagai cara yang ditempuh dan dilakukan oleh para tokoh pejuang bangsa
bersama seluruh rakyat berusaha terus untuk bisa bangkit melepaskan diri dari
cengkeraman penjajah. Selain itu, berjuang menegakkan kehidupan yang bebas
dalam Negara yang merdeka, bersatu, dan berdaulat dengan mendasarkan kepada
suatu landasan kerohanian yang akan disusun dengan diilhami oleh fakta sejarah

201 Pancasila
3 4 Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Finy F. Basarah, M.Si http://www.mercubuana.ac.id
perjuangan bangsa yang dialami bangsa selama ini, dengan tetap berpegang pada
kepribadian dan karakter bangsa secara keseluruhan.

1.3.4 Landasan Yuridis Pendidikan Pancasila

Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan

Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas No. 43/DIKTI/KEP/2006 tentang Rambu-rambu


Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan
Tinggi.

1.4 Tujuan Pendidikan Pancasila


Sebagai bagian dari pendidikan nasional, pendidikan Pancasila mempunyai tujuan
mempersiapkan mahasiswa calon sarjana yang berkualitas, berdedikasi tinggi, dan
bermartabat, agar:

1. Menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Sehat jasmani dan rohani, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti luhur.

3. Memiliki kepribadian yang mantap, mandiri, dan bertanggung jawab sesuai


hati nurani.

4. Mampu mengikuti perkembangan IPTEK dan seni.

5. Mampu mewujudkan kehidupan yang cerdas dan berkesejahteraan bagi


bangsanya.

1.5 Tinjauan Pancasila dari Berbagai


Segi
Tinjauan Pancasila dari berbagai segi, yaitu etimologis, historis, istilah resmi, dan
yuridis.

201 Pancasila
3 5 Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Finy F. Basarah, M.Si http://www.mercubuana.ac.id
1.5.1 Etimologis

Berdasarkan asal kata (etomologis), istilah Pancasila (Pancasyila) berasal dari


bahasa Sansekerta (India), yang mengandung dua macam arti sbb.:

1. Pancasyila, panca artinya lima, sedangkan syila dengan huruf i yang dibaca
pendek artinya dasar, batu sendi atau alas sehingga pancasyila memiliki arti
lima dasar.

2. Pancasyila, panca artinya lima, sedangkan syiila dibaca dengan huruf i yang
dibaca panjang (ii), artinya peraturan tingkah laku yang penting sehingga
pancasyiila memiliki arti lima aturan tingkah laku yang penting.

1.5.2 Historis

Berdasarkan catatan sejarah tentang Buddha, sehubungan dengan Pancasila telah


dikenal istilah sila, artinya moralitas dan berkembang pada masyarakat yang
memeluk agama Budha. Sila mengandung maksud melindungi orang lain dari
penderitaan (Ashin Janakabhivamsa, 2005: 179-183).

Dijelaskan lebih lanjut bahwa sila jiga bermakna menlajankan lima sila, melalui
fungsi-fungsi sila, yakni menghindari membunuh (panditipata-virati), menghindari
mencuri (adinnadana-virati), menghindari berbuat asusila (kamesu-micchacara
virati), menghindari berkata bohong (musavada-virati), dan menghindari minum yang
memabukkan (surapana-virati).

Apabila saling menyadari dan benar-benar bisa menjalankan kelima aturan moral
atau kelima sila di atas, manusia dapat menyelamatkan dunia dari kesengsaraan dan
keresahan. Itulah ajaran tentang sila yang bermakna moralitas, yang sangat ditaati
oleh mereka yang benar-benar melaksanakan ajaran Budha.

Pengertian Pancasila, dalam hubungan ini selanjutnya juga telah memasuki


perkembangan dalam kesusasteraan masa kejayaan Majapahit, diantaranya
terdapat dalam buku Negara Kertagama, karangan mPu Prapanca pada tahun 1365,
yang mempunyai makna pelaksanaan kesusilaan ada lima ketentuan yang dilarang
atau dihindari, yaitu:

1. Tidak boleh melakukan kekerasan.

2. Tidak boleh mencuri.

201 Pancasila
3 6 Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Finy F. Basarah, M.Si http://www.mercubuana.ac.id
3. Tidak boleh berjiwa dengki, tidak boleh iri atau bersikap tidak baik terhadap
orang lain.

4. Tidak boleh berbohong.

5. Tidak boleh mabuk-mabukan.

Semua pengertian yang disebutkan di atas, belum ada penjelasannya dan memiliki
makna yang hampur sama, seperti yang disebutkan sebelumnya. Setelah kerajaan
Majapahit jatuh, kemudian dikenal dalam masyarakat Jawa khususnya, istilah Mo
Lima atau M berjumlah lima (ketentuan berjumlah 5 M) yang harus dihindari dari
kehidupan masyarakat supaya menjadi lebih baik, tertib, dan teratur, yaitu: ora keno
mateni, maling, madon, madat, lan main (dilarang membunuh, mencuri, main
perempuan, menghisap candu/morfin sekarang narkoba, dan berjudi).

1.5.3 Istilah Resmi

Istilah resmi adalah istilah Pancasila bagi lima dasar yang diusulkan oleh Ir.
Soekarno pada Sidang Pertama BPUPKI hari terakhir tanggal 1 Juni 1945.

1.5.4 Yuridis

Segi yuridis (hukum) adalah pengertian Pancasila dalam sila-sila atau kelima sila
dari Pancasila yang tata urutan/rumusannya tercantum pada alinea ke-4
Pembukaan UUD 1945.

1.6 Hakikat Nilai Sila-Sila Pancasila


Tentang hakihat nilai sila-sila Pancasila perlu ditengarai makna dan arti dari setiap
sila Pancasila secara hakiki agar kita mendapatkan gambaran tentang arti Pancasila
yang semuanya akan sangat berkaitan dengan hal ikhwal dalam uraian selanjutnya.
Maka, sudah tepat hanya lima sila itu yang dimasukkan dalam dasar filsafat Negara
sebagai inti kesamaan dari segala keadaan yang beraneka warna itu dan juga telah
mencukupi, dalam arti tidak ada lainnya yang tidak dapat dikembalikan kepada salah
satu sila Pancasila (Notonagoro, 1975: 34).

201 Pancasila
3 7 Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Finy F. Basarah, M.Si http://www.mercubuana.ac.id
1.6.1 Ketuhanan Yang Maha Esa

Ketuhanan berasal dari kata Tuhan, yaitu pencipta segala yang ada dan semua
makhluk. Yang Maha Esa/Yang Maha Tunggal, tiada sekutu; esa dalam zatnya, esa
dalam sifatnya, esa dalam perbuatannya. Jadi, Ketuhanan YME mengandung
pengertian dan keyakinan adanya Tuhan YME, pencipta alam semesta beserta
isinya.

1.6.2 Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Kemanusiaan berasal dari kata manusia, yaitu makhluk berbudi yang memiliki
potensi pikir, rasa, karsa, dan cipta karena berpotensi menduduki (memiliki) martabat
yang tinggi. Dengan akal budinya manusia berkebudayaan dan dengan budi
nuraninya manusia menyadari nilai-nilai dan norma-norma.

Adil mengandung arti bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas norma-
norma yang objektif, tidak subjektif apalagi sewenang-wenang dan otoriter.

Beradab berasal dari kata adab, memiliki arti budaya yang telah berabad-abad dalam
kehidupan manusia. Jadi, beradab berarti berkebudayaan yang lama berabad-abad,
bertatakesopanan, berkesusilaan (bermoral) yang merupakan kesadaran sikap dan
perbuatan manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan
umumnya, baik terhadap diri pribadi, sesama manusia, terhadap alam, dan Sang
Pencipta.

1.6.3 Persatuan Indonesia

Persatuan, berasal dari kata satu, berarti utuh tidak terpecah-belah, mengandung
bersatunya bermacam corak yang beraneka ragam yang bersifat kedaerahan
menjadi satu kebulatan secara nasional, juga persatuan segenap unsur Negara
Kesatuan Republik Indonesia dalam mewujudkan secara nyata Bhinneka Tunggal
Ika yang meliputi wilayah, sumber daya alam, dan sumber daya manusia dalam
kesatuan yang utuh. Selain itu, persatuan bangsa yang bersifat nasional mendiami
seluruh wilayah Indonesia, bersatu menuju kehidupan yang berbudaya bebas dalam
wadah Negara RI yang merdeka dan berdaulat, menuju terbentuknya suatu
masyarakat madani.

201 Pancasila
3 8 Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Finy F. Basarah, M.Si http://www.mercubuana.ac.id
1.6.4 Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan

Kerakyatan berasal dari kata rakyat, berarti sekelompok manusia yang berdiam
dalam suatu wilayah tertentu. Kerakyatan berarti bahwa kekuasaan tertinggi berada
di tangan rakyat, disebut pula kedaulatan rakyat (rakyat yang berdaulat dan
berkuasa) atau demokrasi (rakyat yang memerintah).

Hikmat kebijaksanaan, berarti penggunaan pikiran (ratio) yang sehat dengan selalu
mempertimbangkan persatuan, kesatuan bangsa, kepentingan rakyat, dilaksanakan
dengan sadar, jujur, dan bertanggung jawab, serta didorong oleh itikad baik sesuai
dengan hati nurani.

Permusyawaratan, artinya suatu tata cara khas kepribadian Indonesia untuk


merumuskan atau memutuskan sesuatu hal berdasarkan kehendak rakyat sehingga
tercapai keputusan yang berdasarkan kebulatan pendapat (mufakat).

Perwakilan, artinya suatu sistem dalam arti tata cara (prosedur) mengusahakan turut
sertanya rakyat mengambil bagian dalam kehidupan bernegara, antara lain dilakukan
dengan melalui badan-badan perwakilan.

1.6.5 Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keadilan sosial, berarti keadilan yang berlaku dalam masyrakat dengan segenap
bidang kehidupan, baik material maupun spiritual.

Seluruh rakyat Indonesia, artinya seriap orang yang menjadi rakyat Indonesia, baik
yang berdiam di wilayah Negara RI sebagai warga NKRI maupun WNI yang berada
di luar negeri. Jadi, setiap bangsa Indonesia mendapat perlakuan yang adil dan
seimbang dalam bidang hukum, politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

Pada hakikatnya dengan menyimak makna, inti, dan arti dari kelima sila Pancasila
tersebut di atas, tampaklah bahwa Pancasila secara bulat dan utuh sangat sesuai
menjadi milik bangsa Indonesia sebagai dasar Negara, juga sebagai suatu ideologi.
Sila-sila dari Pancasila sebagai dasar filsafat Negara mengandung arti mutlak bahwa
Negara Republik Indonesia harus menyesuaikan dengan hakikat dalam arti hakikat
abstrak dari Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil (Notonagoro, 1975: 58).

201 Pancasila
3 9 Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Finy F. Basarah, M.Si http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
Setijo, Pandji. 2010. Pendidikan Pancasila, Perspektif Sejarah Perjuangan Bangsa. Cetakan
Keempat. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia

201 Pancasila
3 10 Pusat Bahan Ajar dan eLearning
Finy F. Basarah, M.Si http://www.mercubuana.ac.id