Anda di halaman 1dari 19

Anemia Hemolitik Pada Anak

Devyta Christia Heldisani

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510.Telephone : (021) 5694-2061, fax : (021) 563-1731

Devyta.2013fk457@civitas.ukrida.ac.id

Pendahuluan

Anemia merupakan sebuah permasalahan kesehatan global yang mempengaruhi baik


negara berkembang maupun negara maju dengan konsekuensi terhadap kesehatan dan
perkembangan sosio-ekonomik.1 Anemia dapat ditemukan dalam setiap kelompok umur, namun
mayoritas ditemukan pada wanita hamil dan anak-anak. 1 Efek klinis anemia bergantung pada
durasi dan tingkat keparahannya. Anemia yang timbul secara akut dapat menyebabkan kegagalan
fungsi kardiovaskular yang akan berlanjut pada hipoksemia dan hipovolemia yang apabila tidak
ditangani dapat menyebabkan kerusakan otak, kegagalan multiorgan (multiorgan failure), dan
kematian. Anemia yang terjadi secara perlahan (kronik) akan memberikan waktu bagi tubuh
untuk melakukan kompensasi sehingga memperlambat komplikasi yang mungkin terjadi, namun
anemia berkepanjangan dapat menyebabkan gagal tumbuh kembang pada anak (failure to thrive).
Anemia pada anak umumnya disebabkan oleh penurunan produksi sel darah merah atau
peningkatan hemolisis.4 Anemia hemolitik merupakan salah satu jenis anemia dengan etiologi
dan tingkat keparahan anemia yang bervariasi dari anemia yang asimtomatik sampai mengancam
nyawa.1

Pembahasan

Anamnesis

Anamnesis merupakan salah satu cara bagi seorang dokter untuk mendapatkan pemahaman
mengenai permasalahan medis yang dihadapi oleh pasiennya sekaligus membantu seorang dokter
untuk menentukan diganosis banding. Anamnesis dilakukan dengan tujuan mendapatkan

1
informasi sebanyak mungkin yang tentunya mengarah pada permasalahan medis yang pasiennya
alami.2

Anamnesis harus dilakukan dengan teliti, teratur dan lengkap karena sebagian besar data yang
diperlukan dari anamnesis untuk menegakkan diagnosis. Anamnesis dapat langsung dilakukan
pada pasien (auto-anamnesis) atau terhadap keluarga atau pengantarnya (alo-anamnesis) bila
keadaan pasien tidak memungkinkan untuk diwawancarai, misalnya pasien adalah anak bayi atau
pasien dalam keadaan gawat-darurat, afasia akibat stroke, pasien dengan gangguan kesadaran,
gangguan kepribadian dan lain sebagainya. Dalam melakukan anamnesis, beberapa hal yang
mutlak untuk ditanyakan antara lain ialah identitas pasien, keluhan utama pasien, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, dan riwayat sosial.

Berdasarkan skenario, anamnesis sudah diketahui, dimana :


1 Identitas diri pasien : Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun
2 Keluhan Utama : Pucat sejak 3 bulan yang lalu.
3 Riwayat Penyakit Sekarang : Mudah lelah dan lesu, tidak ada riwayat demam dan
perdarahan.
4 Riwayat Penyakit Dahulu : -
5 Riwayat Keluarga :-
6 Riwayat Obat :-
7 Riwayat Sosial :-

Pemeriksaan Fisik

Pada penderita thalassemia pemeriksaan fisik ditemukan adanya pucat. Adapun warna
pucat dapat dilihat pada daerah dengan lapisan tanduk epidermisnya paling sedikit yaitu di kuku
jari tangan, bibir dan membrane mukosa, khususnya mulut dan konjungtiva palpebral Lihat juga
apakah ada sianosis. Selain itu perlu dilihat apakah ada ikterus bisa dilihat di sklera atau kulit..
Ikterus menunjukkan adanya hemolisis sel darah merah berlebihan. Selain itu diperiksa juga
apakah adanya pembesar hati dan limpa. Pada penderita talasemia dapat ditemukan pasien
memiliki muka yang khas ( fasies talasemia) karea adanya hiperplasia sumsum tulang.
Pada pemeriksaan fisik didapati :

Perawakan pendek, wajah dismorfik

TD = 80/50 mmHg

2
Sklera dan kulit ikterik, conjungtiva anemis, perbesaran hepar 3cm di bawah arcus
costae, Limpha S1

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik pada pasien thalasemia meliputi pemeriksaan umum, pemeriksaan lanjut
dan pemeriksaan khusus. Pemeriksaan umum meliputi Hb, MCV, MCH, morfologi sel darah
merah (apusan darah), retikulosit.3

Pemeriksaan lanjutan meliputi analisis Hb terhadap kadar HbF, HbA dan elektroforesis
hemoglobin; kadar besi, saturasi transferin dan feritin.

Pemeriksaan khusus meliputi :

a. Analisis DNA untuk menentukan jenis mutasi penyebab thalasemia.


b. Anemia dengan kadar Hb berkisar 2-9g/dl, kadar MCV dan MCH berkurang,
retikulosit biasanya meningkat dan fragilitas osmotic menurun.
c. Gambaran darah tepi memperlihatkan mikrositik hipokrom, fragmentasi, sel target
dan normoblast.
d. Kadar HbF meningkat antara 10-90%, kadar HbA2 bisa normal, rendah atau
sedikit meingkat. Peningkatan kadar HbA2 merupakan parameter penting untuk
menegakan diagnosis pembawa sifat thalasemia . Besi Serum, feritin dan saturasi
transferin meningkat.

Working Diagnosis
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik di dapati bahwa anak laki-laki tersebut mengalami anemia
hemolitik e.c Thalassemia.
Thalassemia
Thalasemia adalah suatu penyakit keturunan yang diakibatkan oleh kegagalan pembentukan
salah satu dari empat rantai asam amino yang membentuk hemoglobin, sehingga hemoglobin
tidak terbentuk sempurna. Tubuh tidak dapat membentuk sel darah merah yang normal, sehingga
sel darah merah mudah rusak atau berumur pendek kurang dari 120 hari dan terjadilah anemia.

Hemoglobin adalah suatu zat di dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut zat asam dari
paru-paru ke seluruh tubuh, juga memberi warna merah pada eritrosit. Hemoglobin manusia

3
terdiri dari persenyawaan hem dan globin. Hem terdiri dari zat besi (Fe) dan globin adalah suatu
protein yang terdiri dari rantai polipeptida. Hemoglobin pada manusia normal terdiri dari 2 rantai
alfa () dan 2 rantai beta (). Penderita Thalasemia tidak mampu memproduksi salah satu dari
protein tersebut dalam jumlah yang cukup, sehingga sel darah merahnya tidak terbentuk dengan
sempurna. Akibatnya hemoglobin tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah yang cukup.
Oleh karena itu, penderita Thalasemia mengalami anemia sepanjang hidupnya.4

Thalasemia dibedakan menjadi Thalasemia jika menurunnya sintesis rantai alfa globin dan
Thalasemia bila terjadi penurunan sintesis rantai beta globin. Thalasemia dapat terjadi dari
ringan sampai berat. Thalasemia beta diturunkan dari kedua orang tua pembawa Thalasemia dan
menunjukkan gejala klinis yang paling berat, keadaan ini disebut juga Thalasemia mayor.
Penderita Thalasemia mayor akan mengalami anemia dikarenakan penghancuran hemoglobin
dan membuat penderita harus menjalani transfusi darah seumur hidup setiap bulan sekali.

Thalasemia diwariskan oleh orang tua yang carrier kepada anaknya. Apabila salah satu dari
orang tua memiliki gen pembawa sifat Thalasemia maka kemungkinan anaknya 50% sehat dan
50% carrier Thalasemia. Apabila kedua orang tua memiliki gen pembawa sifat Thalasemia maka
kemungkinan anaknya 25% sehat, 25% menderita Thalasemia mayor dan 50% carrier
Thalasemia.

Klasifikasi Thalassemia

Hemoglobin terdiri dari rantaian globin dan hem, tetapi pada Thalassemia terjadi gangguan
produksi rantai atau . Dua kromosom 11 mempunyai satu gen pada setiap kromosom (total
dua gen ) sedangkan dua kromosom 16 mempunyai dua gen pada setiap kromosom (total
empat gen ). Abnormalitas pada gen globin akan menyebabkan defek pada seluruh gen,
sedangkan abnormalitas pada gen rantai globin dapat menyebabkan defek yang menyeluruh
atau parsial. Thalassemia diklasifikasikan berdasarkan rantai globin mana yang mengalami
defek, yaitu Thalassemia dan Thalassemia .4

Thalasemia Alfa
Thalasemia ini disebabkan oleh mutasi salah satu atau seluruh globin rantai alfa yang ada. Gen
alfa (HBA1 dan HBA2) pada kromosom 16.

4
Thalasemia alfa terdiri dari:
a. Silent Carrier State
Gangguan pada 1 rantai globin alfa. Keadaan ini tidak timbul gejala sama sekali
atau sedikit kelainan berupa sel darah merah yang tampak lebih pucat. Perlu pemeriksaan
laboratorium khusus untuk mendeteksinya. Individu tersebut dikatakan sebagai carrier.
b. Thalasemia Alfa Trait/Thalassemia Alfa Minor
Gangguan pada 2 rantai globin alfa. Penderita mengalami anemia ringan dengan
sel darah merah hipokrom dan mikrositer, dapat menjadi carrier.
c. Hemoglobin H Disease
Gangguan pada 3 rantai globin alfa. Penderita dapat bervariasi mulai tidak ada
gejala sama sekali, hingga anemia yang berat yang disertai dengan perbesaran limpa
(splinomegali). Pada tipe ini penderita sering memerlukan transfusi darah untuk hidup.
Ketidakseimbangan besar antara produksi rantai dan menyebabkan akumulasi rantai
di dalam eritrosit menghasilkan generasi Hb yang abnormal yaitu Hemoglobin H (HbH/
4)
d. Thalasemia Alfa Mayor/Hemoglobin Bart
Gangguan pada 4 rantai globin alfa. Thalasemia tipe ini merupakan kondisi yang
paling berbahaya pada Thalasemia tipe alfa. Kondisi ini tidak terdapat rantai globin yang
dibentuk sehingga tidak ada HbA atau HbF yang diproduksi. Janin yang menderita alfa
Thalasemia mayor pada awal kehamilan akan mengalami anemia, membengkak karena
kelebihan cairan, perbesaran hati dan limpa. Janin ini biasanya mengalami keguguran
atau meninggal tidak lama setelah dilahirkan.

Thalasemia Beta
Thalasemia beta terjadi jika terdapat mutasi pada satu atau dua rantai globin beta yang ada.
Thalassemia beta disebabkan gangguan pada gen beta yang terdapat pada kromosom 11.
Penyakit ini diturunkan secara resesif dan biasanya hanya terdapat di daerah tropis dan subtropis
serta di daerah dengan prevalensi malaria yang endemik Thalasemia beta terdiri dari:5
Thalassemia o

5
Tipe ini disebabkan tidak ada rantai globin yang dihasilkan. Satu pertiga penderita Thalassemia
mengalami tipe ini.

Thalassemia +

Pada kondisi ini, defisiensi partial pada produksi rantai globin terjadi. Sebanyak 10-50% dari
sintesis rantai globin yang normal dihasilkan pada keadaan ini.

Secara klinis, Thalassemia beta dikategori kepada:

a. Thalasemia Beta Trait/Minor/Heterozygous


Thalasemia jenis ini memiliki satu gen normal dan satu gen yang abnormal.
Thalassemia ini biasanya mengalami anemia ringan atau bahkan tidak menunjukkan
simptom dan biasanya terdeteksi sewaktu pemeriksaan darah rutin yang ditandai dengan
sel darah merah yang mengecil (mikrositer).
b. Thalasemia Beta Intermedia
Kondisi ini kedua gen mengalami mutasi tetapi masih bisa produksi sedikit rantai
beta globin. Penderita mengalami anemia yang derajatnya tergantung dari derajat mutasi
gen yang terjadi.
c. Thalasemia Beta Mayor (Cooleys Anemia)
Kondisi ini kedua gen mengalami mutasi sehingga tidak dapat memproduksi
rantai beta globin. Gejala muncul pada bayi ketika berumur 3 bulan berupa anemia yang
berat. Penderita Thalasemia mayor tidak dapat membentuk hemoglobin yang cukup
sehingga hampir tidak ada oksigen yang dapat disalurkan ke seluruh tubuh yang lama
kelamaan akan menyebabkan kekurangan O2, gagal jantung kongestif, maupun kematian.
Penderita Thalasemia mayor memerlukan transfusi darah yang
rutin dan perawatan medis demi kelangsungan hidupnya.
Diagnosis Banding
Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi
untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang pada akhirnya
mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. ADB ditandai oleh anemia hipokrom
mikrositer dan hasil laboratorium yang menunjukkan cadangan besi kosong. Anemia defisiensi

6
besi dapat disebabkan oleh karena rendahnya masukan besi, gangguan absorbsi, serta kehilangan
besi akibat perdarahan menahun:4
Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun dapat berasal dari saluran cerna:
akibat dari tukak peptik, pemakaian salisilat atau NSAID, kanker lambung, kanker kolon,
divertikulosis, hemoroid dan infeksi cacing tambang, terjadi hematuria atau hemoptoe.
Faktor nutrisi, akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan, atau kualitas besi
(bioavailabilitas) besi yang tidak baik (makanan banyak serat, rendah vitamin C, dan rendah
daging). kebutuhan besi meningkat : seperti pada prematuritas. Gangguan absorbsi besi :
gastrektomi, tropical sprue atau kolitis kronik.
Gejala anemia defisiensi besi dapat digolongkan menjadi 3 golongan besar, yaitu:
Gejala umum: disebut sebagai sindrom anemia dijumpai pada anemia defisiensi besi apabila
kadar hemoglobin turun di bawah 7-8 g/dl. Gejalanya berupa badan lemah, lesu, cepat lelah,
mata berkunang-kunang, serta telinga mendenging. Anemia bersifat simtomatik jika hemoglobin
telah turun di bawah 7 g/dl. Pada pemeriksaan fisik dijumpai pasien yang pucat, terutama pada
konjungtiva dan jaringan di bawah kuku.4
Gejala khasnya adalah koilonychia (yaitu kuku sendok, kuku menjadi rapuh, bergaris-
garis vertikal dan menjadi cekung), atrofi papil lidah (permukaan lidah menjadi licin dan
mengkilap karena papil lidah menghilang), stomatitis angularis/cheilosis (adanya keradangan
pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan), disfagia (nyeri
menelan karena kerusakan epitel hipofaring), atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan
akhloridia, pica (keinginan untuk memakan bahan yang tidak lazim).
Anemia hipokromik mikrositer pada hapusan darah tepi, atau MCV <80 fl dan MCHC <31 %
dengan salah satu dari:
1. Dua dari tiga parameter di bawah ini : besi serum <50 mg/dl , TIBC >350 mg/dl, saturasi
transferin <15%,
2. Feritin serum <20 mg/l,
3. Pengecatan sumsum tulang dengan biru prusia menunjukkan cadangan besi (butir-butir
hemosiderin) negatif,
4. Dengan pemberian sulfas ferosus 3x200 mg/hari (atau preparat besi lain yang setara) selama 4
minggu disertai kenaikkan kadar hemoglobin lebih dari 2 g/dl.
Anemia pada Penyakit Kronik

7
Salah satu anemia yang paling sering terjadi pada pasien yang menderita berbagai
penyakit keganasan (misalnya karsinoma, limfoma, dan sarkoma) dan radang kronik baik yang
infeksi (misalnya abses paru, tuberculosis, osteomielitis, pneumonia, endokarditis bakterialis)
dan non infeksi (misalnya arthritis rematoid, lupus eritomatosus sistemik dan penyakit jaringan
ikat lain, sarkoidosis, penyakit Crohn).4 Gambaran khasnya adalah:
1. Indeks dan morfologi eritrosit normositik normokrom atau hipokrom ringan (MCV jarang
< 75 fl)
2. Anemia bersifat ringan dan tidak progresif (hemoglobin jarang kurang dari 9,0 g/dl)
beratnya anemia terkait dengan beratnya penyakit
3. Baik kadar besi serum maupun TIBC menurun, kadar sTfr normal
4. Kadar feritin serum normal atau meningkat
5. Kadar besi cadangan di sumsum tulang (retikuloendotel) normal tetapi kadar besi dalam
eritroblas berkurang.
Patogenesis anemia ini tampaknya terkait dengan menurunnya pelepasan besi dari
makrofag ke plasma, memendeknya umur eritrosit, dan respons eritropoetin yang tidak adekuat
terhadap anemia yang disebabkan oleh efek sitokin seperti IL-1 dan TNF pada eritipoiesis.
Anemia ini hanya terkoreksi dengan keberhasilan pengobatan penyakit yang mendasari, dan
tidak berespons terhadap terapi besi walaupun kadar besi serum rendah. Pemberian eritropoietin
rekombinan memperbaiki keadaan anemia pada beberapa kasus. Pada banyak keadaan, anemia
ini dipersulit oleh anemia yang disebbakan oleh penyebab lain, seperti defisiensi besi, folat,
gagal ginjal, kegagalan sumsum tulang, hipersplenisme, kelainan endokrin, anemia
leukoeritroblastik,dll.4

Etiologi

Anemia hemolitik dapat disebabkan oleh 2 faktor yang berbeda yaitu faktor intrinsik & faktor
ekstrinsik.

1. Faktor Intrinsik :

Yaitu kelainan yang terjadi pada metabolisme dalam eritrosit itu sendiri sel eritrosit. Kelainan
karena faktor ini dibagi menjadi tiga macam yaitu:

Keadaan ini dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:

8
a. Gangguan struktur dinding eritrosit

Sferositosis
Penyebab hemolisis pada penyakit ini diduga disebabkan oleh kelainan membran eritrosit.
Kadang-kadang penyakit ini berlangsung ringan sehingga sukar dikenal. Pada anak gejala
anemianya lebih menyolok daripada dengan ikterusnya, sedangkan pada orang dewasa
sebaliknya. Suatu infeksi yang ringan saja sudah dapat menimbulkan krisis aplastik
Kelainan radiologis tulang dapat ditemukan pada anak yang telah lama menderita kelainan ini.
Pada 40-80% penderita sferositosis ditemukan kolelitiasis.5

Ovalositosis (eliptositosis)
Pada penyakit ini 50-90% dari eritrositnya berbentuk oval (lonjong). Dalam keadaan normal
bentuk eritrosit ini ditemukan kira-kira 15-20% saja. Penyakit ini diturunkan secara dominan
menurut hukum mendel. Hemolisis biasanya tidak seberat sferositosis. Kadang-kadang
ditemukan kelainan radiologis tulang. Splenektomi biasanya dapat mengurangi proses hemolisis
dari penyakit ini.

A-beta lipropoteinemia
Pada penyakit ini terdapat kelainan bentuk eritrosit yang menyebabkan umur eritrosit tersebut
menjadi pendek. Diduga kelainan bentuk eritrosit tersebut disebabkan oleh kelainan komposisi
lemak pada dinding sel.

b. Gangguan pembentukan nukleotida

Kelainan ini dapat menyebabkan dinding eritrosit mudah pecah, misalnya pada panmielopatia
tipe fanconi. Anemia hemolitik oleh karena kekurangan enzim yaitu:

Definisi glucose-6- phosphate-Dehydrogenase (G-6PD)


Defisiensi Glutation reduktase
Defisiensi Glutation
Defisiensi Piruvatkinase
Defisiensi Triose Phosphate-Isomerase (TPI)
Defisiensi difosfogliserat mutase
Defisiensi Heksokinase
Defisiensi gliseraldehid-3-fosfat dehidrogenase

9
c. Hemoglobinopatia
Pada bayi baru lahir HbF merupakan bagian terbesar dari hemoglobinnya (95%), kemudian pada
perkembangan selanjutnya konsentrasi HbF akan menurun, sehingga pada umur satu tahun telah
mencapai keadaan yang normal. Sebenarnya terdapat 2 golongan besar gangguan pembentukan
hemoglobin ini, yaitu: Gangguan struktural pembentukan hemoglobin (hemoglobin abnormal).
Misal HbS, HbE dan lain-lain. Gangguan jumlah (salah satu atau beberapa) rantai globin. Misal
talasemia

2. Faktor Ekstrinsik :

Yaitu kelainan yang terjadi karena hal-hal diluar eritrosit. Akibat reaksi non imumitas : karena
bahan kimia / obat. Akibat reaksi imunitas : karena eritrosit yang dibunuh oleh antibodi yang
dibentuk oleh tubuh sendiri.

Hematopoiesis

Hematopoiesis sudah terjadi sejak fetus, namun terdapat lokasi anatomis hematopoiesis yang
berbeda pada orang dewasa. Hematopoiesis fetus terjadi pada tiga lokasi anatomis: mesoblastik,
hepatik, dan myeloid.14 Hematopoiesis mesoblastik terjadi pada struktur ekstraembrionik, secara
prinsip di yolk sac, dan mulai terjadi antara hari ke-10 dan hari ke-14 masa kehamilan. Pada
masa kehamilan antara minggu ke-6 dan ke-8, liver menggantikan yolk sac sebagai lokasi primer
hematopoiesis dan antara minggu ke-10 dan ke-12 hematopoiesis ekstraembrionik sudah tidak
terjadi. Hematopoiesis hepatik terjadi sepanjang masa gestasi, namun pada trimester kedua mulai
mengalami penurunan seiring dengan peningkatan hematopoiesis pada sumsum tulang
(myeloid). Liver tetap menjadi organ hematopoietik yang dominan sampai masa gestasi 20-24
minggu.14 Pada bulan akhir masa kehamilan dan setelah kelahiran, sel darah merah secara
eksklusif diproduksi oleh sumsum tulang.8

Pluripotential hematopoietic stem cell (PHSC) merupakan sel tunggal dari sumsum tulang yang
merupakan induk dari seluruh sel darah dan mampu untuk melakukan self-renewal.14,15 Adanya
kemampuan self-renewal menyebabkan kemampuan sumsum tulang untuk terus memproduksi
sel-sel darah, walaupun jumlahnya akan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia. 15

10
Pertumbuhan dan diferensiasi dari stem cell sampai sel darah dewasa yang spesifik
membutuhkan keberadaan dari hematopoietic growth factor.7

Epidemiologi

Kurang lebih 3% dari penduduk dunia mempunyai gen thalassemia dimana angka kejadian
tertinggi sampai dengan 40% kasus adalah di Asia. Di Indonesia thalassemia merupakan penyakit
terbanyak diantara golongan anemia hemolitik dengan penyebab intrakorpuskuler. Jenis
thalassemia terbanyak yang ditemukan di Indonesia adalah thalassemia beta mayor sebanyak
50% dan thalassemia HbE sebanyak 45%. Frekuensi pembawa sifat thalassemia untuk
Indonesia ditemukan berkisar antara 3-10%. Bila frekuensi gen thalassemia 5% dengan angka
kelahiran 23 dan jumlah populasi penduduk Indonesia sebanyak 240 juta, diperkirakan akan
lahir 3000 bayi pembawa gen thalassemia setiap tahunnya.6

Etiologi

Thalassemia bukan penyakit menular melainkan penyakit yang diturunkan secara genetik dan
resesif. Pada manusia kromosom selalu ditemukan berpasangan. Seorang pembawa sifat
thalassemia tampak normal/sehat, sebab masih mempunyai 1 belah gen dalam keadaan normal
(dapat berfungsi dengan baik). Seorang pembawa sifat thalassemia jarang memerlukan
pengobatan. Bila kelainan gen globin terjadi pada kedua kromosom, dinamakan penderita
thalassemia (Homozigot/Mayor). 6

Kedua belah gen yang sakit tersebut berasal dari kedua orang tua yang masing-masing membawa
sifat thalassemia. Pada proses pembuahan, anak hanya mendapat sebelah gen globin dari ibunya
dan sebelah lagi dari ayahnya. Bila kedua orang tuanya masing-masing pembawa sifat
thalassemia maka pada setiap pembuahan akan terdapat beberapa kemungkinan. Kemungkinan
pertama si anak mendapatkan gen globin yang berubah (gen thalassemia) dari bapak dan ibunya
maka anak akan menderita thalassemia. Sedangkan bila anak hanya mendapat sebelah gen
thalassemia dari ibu atau ayah maka anak hanya membawa penyakit ini. Kemungkinan lain
adalah anak mendapatkan gen globin normal dari kedua orang tuanya.

11
Jika kedua orang tua tidak menderita Thalassaemia trait/pembawa sifat Thalassaemia, maka tidak
mungkin mereka menurunkan Thalassaemia trait/pembawa sifat Thalassaemia atau Thalassaemia
mayor kepada anak-anak mereka. Semua anak-anak mereka akan mempunyai darah yang
normal.

Apabila salah seorang dari orang tua menderita Thalassaemia trait/pembawa sifat Thalassaemia
sedangkan yang lainnya tidak, maka satu dibanding dua (50%) kemungkinannya bahwa setiap
anak-anak mereka akan menderita Thalassaemia trait/pembawa sifat Thalassaemia, tidak seorang
diantara anak-anak mereka akan menderita Thalassaemia mayor. Orang dengan Thalassaemia
trait/pembawa sifat Thalassaemia adalah sehat, mereka dapat menurunkan sifat-sifat bawaan
tersebut kepada anak-anaknya tanpa ada yang mengetahui bahwa sifat-sifat tersebut ada di
kalangan keluarga mereka.

Apabila kedua orang tua menderita Thalassaemia trait/pembawa sifat Thalassaemia, maka anak-
anak mereka mungkin akan menderita Thalassaemia trait/pembawa sifat Thalassaemia atau
mungkin juga memiliki darah yang normal, atau mereka mungkin juga menderita Thalassaemia
mayor.

Patofisiologi
Kelebihan pada rantai alpha ditemukan pada beta thalasemia dan kelebihan rantai beta dan gama
ditemukan pada alpha thalasemia. Kelebihan rantai polipeptida ini mengalami presipitasi dalam
sel eritrosit.

Globin intra eritrosik yang mengalami presipitasi, yang terjadi sebagai rantai polipeptida alpa
dan beta, atau terdiri dari hemoglobin tak stabil-badan Heinz, merusak sampul eritrosit dan
menyebabkan hemolisis. Reduksi dalam hemoglobin menstimulasi bone marrow memproduksi
RBC yang lebih.

Dalam stimulasi yang konstan pada bone marrow, produksi RBC secara terus-menerus pada
suatu dasar kronik, dan dengan cepatnya destruksi RBC, menimbulkan tidak adekuatnya
sirkulasi hemoglobin. Kelebihan produksi dan destruksi RBC, menimbulkan tidak adekuatnya

12
sirkulasi hemoglobin. Kelebihan produksi dan destruksi RBC menyebabkan bone marrow
menjadi tipis dan mudah pecah atau rapuh.

Penyebab anemia pada talasemia bersifat primer dan sekunder. Penyebab primer adalah
berkurangnya sintesis Hb A dan eritropoesis yang tidak efektif disertai penghancuran sel-sel
eritrosit intrameduler. Penyebab sekunder adalah karena defisiensi asam folat,bertambahnya
volume plasma intravaskuler yang mengakibatkan hemodilusi, dan destruksi eritrosit oleh system
retikuloendotelial dalam limfa dan hati. Penelitian biomolekular menunjukkan adanya mutasi
DNA pada gen sehingga produksi rantai alfa atau beta dari hemoglobin berkurang. Tejadinya
hemosiderosis merupakan hasil kombinasi antara transfusi berulang,peningkatan absorpsi besi
dalam usus karena eritropoesis yang tidak efektif, anemia kronis serta proses hemolysis.8

Gejala Klinis

Tanda dan gejala dari penyakit thalassemia adalah anemia hemolitik yang disebabkan oleh
kekurangan oksigen di dalam aliran darah. Hal ini terjadi karena tubuh tidak cukup membuat sel-
sel darah merah dan hemoglobin.7

Berikut merupakan gejala umum dari :

Thalassemia Mayor:

Pucat
Lemah
Anoreksia
Sesak napas
Peka rangsang
Tebalnya tulang kranial
Pembesaran hati dan limpa / hepatosplenomegali
Menipisnya tulang kartilago, nyeri tulang
Disritmia
Epistaksis
Sel darah merah mikrositik dan hipokromik
Kadar Hb kurang dari 5gram/100 ml
Kadar besi serum tinggi
Ikterik
Peningkatan pertumbuhan fasial mandibular; mata sipit, dasar hidung lebar dan datar.
2. Thalasemia Minor
13
Pucat
Hitung sel darah merah normal
Kadar konsentrasi hemoglobin menurun 2 sampai 3 gram/ 100ml di bawah kadar normal
Sel darah merah mikrositik dan hipokromik sedang
Penderita Thalasemia alfa atau beta dapat mengalami anemia ringan. Anemia ringan dapat
membuat penderita merasa lelah dan hal ini sering disalahartikan menjadi anemia kekurangan zat
besi.

Thalasemia alfa silent carrier umumnya tidak memiliki tanda-tanda atau gejala. Hal ini terjadi
karena kekurangan protein alfa globin tidak terlalu banyak sehingga hemoglobin dalam darah
masih dapat bekerja dengan normal.

Penderita beta Thalasemia intermedia dapat mengalami anemia ringan sampai dengan sedang.
Selain itu juga dapat diikuti dengan masalah kesehatan lainnya, seperti:

a. Menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak


b. Masalah tulang,
Thalasemia dapat menyebabkan sumsum tulang tidak berkembang. Hal ini menyebabkan
luas tulang melebihi normal dan tulang menjadi rapuh.
c. Pembesaran limpa
Penderita hemoglobin H disease dapat mengalami anemia dengan tingkat yang berat. Tanda
dan gejala akan muncul dalam 2 tahun pertama kehidupannya. Penderita akan mengalami anemia
berat dan masalah kesehatan serius lainnya, seperti:

Pucat dan lesu


Nafsu makan menurun
Urin lebih pekat
Pertumbuhan dan perkembangan terhambat
Kulit berwarna kekuningan
Pembesaran hati dan limpa
Masalah tulang (terutama tulang wajah)

Komplikasi

14
Penumpukan besi, pada penderita talasemia dapat terjadi kadar besi berlebihan karena
penyakit ini sendiri atau dari transfusi berulang yang diterima. Terlalu banyak besi akan
membuat gangguan pada hati, jantung, dan sistem endokrin, termasuk mempengaruhi hormon-
hormon yang diproduksi. Penderita talasemia juga memiliki peningkatan resiko terhadap infeksi
apalagi jika telah dilakukan splenektomi.
Deformitas tulang dapat terjadi pada talasemia karena ekspansi sumsum tulang, yang
akan membuat tulang menjadi lebar. Akibatnya akan membuat stuktur tulang menjadi abnormal
terutama di muka dan tenkorak. Ekspansi sumsum tulang ini juga membuat tulang menjadi lebih
tipis dan rapuh, meningkatkan resiko terjadinya fraktur.
Splenomegaly, Limpa memmbantu melawan infeksi dan menyaring materi yang tidak
dibutuhkan, seperti sel darah merah tua atau sel darah merah yang rusak. Talasemia sering diikuti
dengan terjadinya destruksi pada banyak sel darah merah, dan hal ini menyebabkan limpa
membesar. Splenomegali dapat makin memperberat anemia karena dapat mengurangi hidup sel
darah merah yang ditransfusi.
Hambatan pertumbuhan, anemia dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat. Pubertas
juga mungkin terlambat pada anak dengan talasemia. Selain itu, gkelainan jantung seperti gagal
jantung kongestif dan aritmia juga berkaitan dengan talasemia berat.7,8

Pencegahan
Konseling genetik. Talasemia dapat diturunkan dari pasien yang asimtomtik, jika kedua
orangtua merupakan karier. Diperlukan diagnosis yang pasti untuk konseling pada pasangan
tentang resikonya. Dokter yang telah ahli akan mengidentifikasi resiko yang akan terjadi agar
pasangan orangtua mengerti akan kondisi yang akan terjadi.
Metode yang lebih modern untuk mengidentifikasi janin dalam kandungan sebelum lahir
atau disebut PND (Pre Natal Diagnosis). Indikasi untuk melakukan prosedur ini kepada wanita
yang hamil yaitu, keduanya adalah talasemia 1 karier, keduanya adalah talasemia karier, satu
talasemia karier, sementara satunya hemoglobin e karier. PND dilakuakn dengan USG pada
akhir trimester pertama dengan chorionic vili sampling (CVS) yang dilakukan dokter ahli.8

Penatalaksanaan
Talasemia

15
Pada talasemia trait umumnya tidak memerlukan pengobatan,, karena anemia mereka
sangat ringan atau tidak ada karena kompensasi dari peningkatan sel darah merah. Pada penderita
HbH disease, anemia yang terjadi ringan sampai sedang. Transfusi darah terkadang dilkukan saat
hb sangat rendah. Transfusi yang periodik dan sering adalah hal yang jarang dibutuhkan.8

Talasemia
Pada talasemia minor tidak diperlukan terapi. Pada Talasemia intermedia transfusi
hanya diberikan jika ada indikasi seperti: gangguan pertumbuhan, kondisi stress sementara
(kehamilan, infeksi) manifestasi klinis anemia, gagal jantung kongestif, ulkus tungkai.4
Untuk pasien dengan thalassemia mayor, transfusi darah yang teratur perlu dilakukan
untuk mempertahankan hemoglobin diatas 10g/dl setiap saat. Hal ini biasanya membutuhkan 2-3
unit tiap 4-6 minggu. Darah segar yang telah disaring untuk memisahkan leukosit, menghasilkan
eritrosit dengan ketahanan yang terbaik dan reaksi paling sedikit. Hemosiderosis adalah akibat
terapi transfusi jangka panjang yang tidak dapat dihindari karena setiap 500 ml darah membawa
kira-kira 200 mg besi ke jaringan yang tidak dapat diekskresikan secara fisiologis. Terapi kelasi
besi digunakan untuk mencegah dan mengobati penimbunan besi. Obat-obat yang digunakan
beserta dosis yang direkomendasikan terdapat pada tabel 1.4
Tabel 1. Terapi Kelasi Besi pada Penderita Talasemia.4
Terapi Rekomendasi
Deferasirox Dosis awal 20 mg/kg/hari pada pasien yang cukp sering mengalami
transfuse
30 mg/kg/hari pada pasien dengan kadar kelebihan besi yang tingi
10-15 mg/kg/hari pada pasien dengan kadar kelebihan besi yang
rendah
DFO 20-40 mg/kg (anak-anak), = 50-60 mg/kg (dewasa
Anak < 3 tahun, kurangi dosis dan lakukan pemantuan
pertumbuhan dan perkembangan tulang.
Deferiprone 75 mg/kg/hari
Dapat kombinasikan dengan DFO bila DFO tidak efektif
Pada masa lalu, penderita thalasemia mayor yang secara rutin mendapat transfuse darah
akan meninggal saat usia belasan tahun akibat penumpukan besi. Namun sekarang pasien
thalasemia mayor dapat mengikuti terapi regimen transfuse dan kelasi besi. Pengobatan dengan

16
kelasi besi ini menaikan tingkat harapan hidup pasien hingga mencapai usia 30-an. Asam folat
diberikan 2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat jika asupan diet buruk.
Splenektomi, dengan indikasi limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak
penderita, menimbulkan peningkatan tekanan intraabdominal dan bahaya terjadinya ruptur, juga
dilakukan untuk mengurangi kebutuhan darah. Splenektomi sebaiknya dilakukan pada umur 5
tahun keatas saat fungsi limpa dalam sistem imun dapat diambil alih oleh organ lomfoid. 5
Imunisasi terutama terhadap virus hepatitis B dan C perlu dilakukan untuk mencegah infeksi
virus tersebut melalui tubuh. Secara berkala dilakukan pemantauan fungsi organ seperti jantung,
hati, paru, endokrin termasuk kadar glukosa darah, gigi, telinga, mata, dan tulang. Transplantasi
sel punca alogenik menawarkan kemungkinan sembuh permanen. Tingkat keberhasilan adalah
80-90% pada pasien-pasien mudah dengan kelat yang baik tanpa fibrosis hati atau hepatomegali.1

Prognosis

Bayi dengan Hb Barts hidrop fetalis meninggal dalam kandungan atau bisa lahir tapi
meninggal beberapa jam setelah dilahirkan. Beberapa pasien dengan HbH disease bisa hidup
dengan usia penuh. Pasien dengan talasemia intermedia dapat diharapkan untuk hidup hingga
usia pertengahan, walaupun begitu penumpukan besi dan kelainan tulang dapat terjadi pada
dekade ketiga. Sedangkan pasien talasemia major yang menjalankan terapi transfusi dan kelasi
besi yang baik memiliki harapan hidup hingga usia 30-40 tahun

Kesimpulan
Talasemia merupakan kelainan pada sintesis rantai globin yang diakibatkan terjadinya
defek genetik pada kromosok 11 atau 16 yang mengatur sintesis rantai globin. Akibatnya terjadi
penurunan sintesis hemoglobin normal dan menimbulkan anemia dengan derajat keparahan
berbeda-beda tergantung dengan defek gen yang terjadi. Pada umumnya talasemia dibagi
menjadi talasemia dan talasemia . Gejala klnis yang ditemukan pada pasien talasemia adalah
gejala-gejala anemia seperti pucat, cepat lelah lalu ikterus, hepatosplenomegali, deformitas
tulang terutama yang terlihat pada wajah pasien. Berdasarkan yang telah dijelaskan pada tulisan
ini, maka hipotesis yang diambil pada kasus benar.

17
Daftar Pustaka

1. Hoffbrand AV. Kapita selekta hematologi. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2013. h. 82-91.
2. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Erlangga: Jakarta; 2007. h. 85.
3. Bickley LS, Szilagyi PG. Bates buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan.Edisi 8.
Jakarta: EGC; 2009. h.103.
4. Sudoyo AW,Setiyohadi B,Alwi I,Simadibrata M,Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam
jilid ii. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing; 2009. h.1112-3;1378-93.

18
5. Mansjoer A, Trianti K, Savitri R, dkk. Kapita selekta kedokteran. Edisi 3. Jilid 1. Jakarta:
Media Aesculapius; 2008. h.498.
6. Bakta IM, Hematologi klinik ringkas. Jakarta: EGC; 2007. h.89-96.
7. Abdoerrachman MH, Afiandi MB, Agusman S, Alatas H, dkk. Ilmu kesehatan anak. Jilid 1.
Jakarta: Bagian ilmu kesehatan anak FKUI; 2007. h.444-7.
8. Harteveld CL, Higgs DR. Review -thalassemia. Orphaned journal of rare diseases.
2010;5:13.

19