Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM TEKNOLOGI BAHAN ALAM


KONTROL KUALITAS BAHAN ALAM
PENGUJIAN MUTU (KEMURNIAN) SERBUK SIMPLISIA

Disusun oleh :
Kelas : A1
Kelompok :2
Tanggal Praktikum : 3 April 2017
Anggota :
1. Arief Ariyansyah (2014210023)

2. Avilla Tan Briliyanto (2014210032)

3. Clara Puspita Setiady (2014210049)

4. Clarisa Isakh (2014210050)

5. Chyntia (2014210045)

6. Dela Riski Amalia (2014210058)

7. Derian Reinaldo S.P. (2014210060)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2016

A.1.2 Temulawak (Curcumae xanthorrhizae) Page


I. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui kandungan logam-logam berbahaya yang terdapat pada
simplisia.

II. Dasar Penetapan


Pemijaran simplisia di dalam tanur sampai diperoleh abu yang ditetapkan
secara gravimetri sampai diperoleh penimbangan sampai bobot tetap.

III. Alat dan Bahan


Alat :
1. Timbangan analitik
2. Tanur
3. Krus porselen
4. Cawan porselen
5. Penjepit Besi
6. Spatula
7. Water bath
8. Oven

Bahan :
1. Simplisia Curcumae xanthorrhizae Rhizoma (rimpang temulawak)

IV. Teori
a. Teori yang Berkaitan Tentang Percobaan
Definisi
a Kadar abu total adalah abu yang dihasilkan dari sejumlah simplisia yang
dipijarkan dalam tanur.
b Kadar abu yang tidak larut dalam asam adalah sisa abu yang diperoleh dari
penetapan kadar abu total, yang tidak larut dalam asam klorida.
c Kadar sari larut etanol adalah sejumlah substansi simplisia yang dapat larut
dalam etanol, menunjukkan sejumlah senyawa organik yang ada dalam
simplisia.
d Kadar sari larut air adalah sejumlah substansi simplisia yang dapat larut
dalam air, menunjukkan jumlah senyawa anorganik yang terdapat di dalam
simplisia.
e Bahan organik asing adalah :

A.1.2 Temulawak (Curcumae xanthorrhizae) Page


1 Bagian tanaman atau seluruh tanaman asal simplisia, tertera atau
jumlahnya dibatasi dalam uraian pemerian dalam monografi yang
bersangkutan.
2 Hewan utuh atau bagiannya atau zat yang dikeluarkannya.
Kecuali dinyatakan lain, yang dimaksudkan dengan bahan organik
asing dalam masing-masing monografi simplisia nabati adalah bahan
organik asing yang berasal dari tanaman asal simplisia.
f Derajat halus serbuk
Derajat halus simplisia : ukuran partikel serbuk simplisia yang
dinyatakan dengan angka.
Jika derajat halus serbuk dinyatakan dengan 1 nomor, dimaksudkan
bahwa semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor tersebut.
Jika derajat halus serbuk dinyatakan dengan 2 nomor, dimaksudkan
bahwa semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor terendah
dan tidak lebih dari 40% serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor
tertinggi.

Penetapan kadar sari adalah metode kuantitatif untuk jumlah kandungan


senyawa dalam simplisia yang dapat tersari dalam pelarut tertentu. Penetapan
ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu kadar sari yang larut dalam air dan
kadar sari yang larut dalam etanol. Kedua cara ini didasarkan pada kelarutan
senyawa yang terkandung dalam simplisia. Ada beberapa teknik isolasi
senyawa bahan alam yang umum digunakan seperti maserasi, perkolasi, dan
ekstraksi kontinu. Maserasi merupakan metode perendaman sampel dengan
pelarut organik, umumnya digunakan pelarut organik dengan molekul relatif
kecil dan perlakuan pada temperatur ruangan, akan mudah pelarut terdistribusi
ke dalam sel tumbuhan. Metode maserasi ini sangat menguntungkan karena
pengaruh suhu dapat dihindari, suhu yang tinggi kemungkinan akan
mengakibatkan terdegradasinya senyawa-senyawa metabolit sekunder.
Pemilihan pelarut yang digunakan untuk maserasi akan memberikan
efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam
dalam pelarut akibat kontak langsung dan waktu yang cukup lama dengan
sampel (Djarwis,2004). Salah satu kekurangan dari metode ini adalah
membutuhkan waktu yang lama untuk mencari pelarut organik yang dapat
melarutkan dengan baik senyawa yang akan diisolasi dan harus mempunyai
titik didih yang tinggi pula sehingga tidak mudah menguap (Manjang, 2004).

A.1.2 Temulawak (Curcumae xanthorrhizae) Page


Identitas tanaman
Nama daerah : Sumatera : Temu lawak
Jawa Barat : Koneng gede
Madura : Temo Labak
Indonesia : Temu lawak.

Nama lain : Temu lawak, Koneng gede


Nama tanaman asal : Curcuma xanthorrhiza (Roxb)
Keluarga : Zingiberaceae
Zat berkhasiat utama/isi : Minyak atsiri yang mengandung felandren dan
tumerol, zat warna kurkumin, pati. Kadar minyak atsiri tidak kurang dari 8,2 % b/v
Penggunaan : Kolagoga, antispasmodika
Pemerian : Bau khas aromatik, rasa tajam dan pahit
Bagian yang digunakan : Kepingan akar tinggal
Waktu panen : Panenan dilakukan apabila daun dan bagian diatas
yang sudah mengering. Untuk daerah yang musim kemaraunya jelas penanamannya
dilakukan pada musim kemarau berikutnya.

Identitas simplisia
1. Pemerian :
a. Makroskopik : Berupa keping tipis, bentuk bundar atau jorong, ringan, keras,
rapuh, garis tengah hingga 6 cm, tebal 2-5 mm; permukaan luar berkerut,warna coklat
kekuningan hingga cokelat; bidang irisan berwarna coklat kuning buram, melengkung
tidak beraturan, tidak rata, sering dengan tonjolan melingkar pada batas antara silinder
pusat dengan korteks; korteks sempit, tebal 3-4 mm. Bekas patahan berdebu, warna
kuning jingga hingga cokelat jingga terang. Bau khas, rasa tajam dan agak pahit.
b. Mikroskopik : fragmen pengenal adalah berkas pengangkut, parenkim korteks,
serabut sklerenkim, butir amilum dan jaringan gabus.
c. Senyawa identitas : Xantorizol
d. Struktur kimia :

2. Kandungan kimia simplisia


a. Kadar minyak atsiri : tidak kurang dari 5,80% v/b
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan penetapan kadar minyak atsiri
b. Kadar kurkuminoid : tidak kurang dari 4,0% dihitung sebagai kurkumin

A.1.2 Temulawak (Curcumae xanthorrhizae) Page


c. Isi simplisia : minyak atsiri mengandung siklo isoren. Mirsen.d kamfer. P tolil
metilkarbinol. Zat warna kurkumin
(Farmakope Herbal Indonesia edisi I)

3. Khasiat Temulawak : (Alam Sumber kesehatan halaman 369)


a. Khloretik
b. Kholagog
c. Anti inflamasi
d. antipiretik

4. Kegunaan Temulawak (Alam Sumber kesehatan halaman 369)


a. Batu empedu f. Nyeri haid
b. Batu ginjal g. Nyeri sendi
c. Cacar air h. Pelancar asi
d. Demam i. Sembelit
e. Kolestrol tinggi j. Eksem (obat luar)

Kadar abu : Tidak lebih dari 4,8%


Kadar abu yang tidak larut dalam asam. Tidak lebih dari 0,7%.
Kadar sari yang larut dalam air. Tidak kurang dari 9,1 %
Kadar sari yang larut dalam etanol. Tidak kurang dari 3,6 %
Bahan organik asing tidak lebih dari 2%

V. Cara Kerja
a. Penetapan Kadar Sari yang Larut Dalam Etanol
Keringkan serbuk (4/18) di udara, sejumlah 5 gram serbuk yang ditimbang
saksama dimaserasi selama 24 jam dengan 100 ml etanol 95%, menggunakan labu
bersumbat kaca sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan dibiarkan
selama 18 jam. Kemudian disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol. Di
pipet sejumlah 20 ml filtrate dan diuapkan hingga kering dalam cawan dangkal
berdasar rata yang telah di tara. Residu dipanaskan pada suhu 1050C hingga bobot
tetap. Kadar sari yang larut dalam etanol dihitung dalam persen terhadap bahan yang
telah dikeringkan di udara.
Perhitungan :

W 1W 0 100
x x 100
Kadar sari yang larut dalam etanol : bobot simplisia 20

W1 = Bobot cawan + residu

A.1.2 Temulawak (Curcumae xanthorrhizae) Page


W0 = Bobot cawan kosong

b. Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Air


Keringkan serbuk (4/18) di udara; sejumlah 5 gram serbuk yang ditimbang
saksama dimaserasi selama 24 jam dengan 100 ml air kloroform P, menggunakan
labu bersumbat kaca sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian
dibiarkan selama 18 jam. Kemudian disaring, di pipet sejumlah 20 ml filtrate dan
diuapkan hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Residu
dipanaskan pada suhu 1050C hingga bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam air,
dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
Perhitungan :

W 1W 0 100
x x 100
Kadar sari yang larut dalam air : bobot simplisia 20

W1 = Bobot cawan + residu

W0 = Bobot cawan kosong

VI. Hasil Perhitungan dan Pembahasan


o Penimbangan Simplisia

Simplisia Bobot Penimbangan Keterangan


I 5,0194 gram Untuk kadar sari larut air
II 5,0036 gram Untuk kadar sari larut
etanol
o Penimbangan Bobot Konstan

Penimbangan Kadar sari larut dalam Kadar sari larut dalam air
ke etanol 96%
Cawan 1 (g) Cawan 2 (g) Cawan 3 (g) Cawan 4 (g)
Sebelum di 25,9789 25,3182 28,4534 27,0466
oven
Sesudah 1 25,9780 25,3170 28,4532 27,0463
jam
Sesudah 2 25,9776 25,3167 28,4531 27,0461
jam

A. Kadar Sari Larut Etanol


W 1W 0 100
1. Kadar I.1 = bobot simplisia x 10 x 100%

A.1.2 Temulawak (Curcumae xanthorrhizae) Page


25,977625,9463 100
= 5,0036 x 10 x 100%

= 6,26%

W 1W 0 100
2. Kadar I.2 = bobot simplisia x 10 x 100%

25,316725,2859 100
= 5,0036 x 10 x 100%

= 6,22%

Kadar I kadar II
% kesalahan =
x 100
Kadar I

6,266,22
=
x 100
6,26

= 0,64%

SD = 0,028

6,26 +6,22
Kadar sari larut etanol rata rata = 2 = 6,24%

Syarat : Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 3,6 %

Kesimpulan : Memenuhi persyaratan

A. Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Air


W 1W 0 100
1. Kadar I.3 = bobot simplisia x 10 x 100%

28,453128,3901 100
= 5,0194 x 10 x 100%

=12,55%

W 1W 0 100
2. Kadar I.4 = bobot simplisia x 10 x 100%

A.1.2 Temulawak (Curcumae xanthorrhizae) Page


27,046126,9811 100
= 5,0194 x 10 x 100%

= 12,95%

Kadar I kadar II
% kesalahan =
x 100
Kadar I

12,9512.55
=
x 100
12,95

=3,09%

SD = 0,28

12,55+12,95
Kadar sari larut air rata rata = 2 = 12,75%

Syarat : Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 9,1 %

Kesimpulan : Memenuhi Syarat

o Pembahasan
1. Metode penentuan kadar sari digunakan untuk menentukan jumlah senyawa
aktif yang terekstraksi dalam pelarut dari sejumlah simplisia. Penentuan kadar
sari juga dilakukan untuk melihat hasil dari ekstraksi, sehingga dapat terlihat
pelarut yang cocok untuk dapat mengekstraksi senyawa tertentu. Prinsip dari
ekstraksi didasarkan pada distribusi zat terarut dengan perbandingan tertentu
antara dua pelarut yang tidak saling campur.
2. Pada penentuan kadar sari larut air, simplisia terlebih dahulu dimaserasi biasa
selama 1 jam dan maserasi kinetik selama 1 jam dengan air. Sedangkan pada
penentuan kadar sari larut etanol, simplisia terlebih dahulu dimaserasi biasa
selama 1 jam dan dimaserasi secara kinetik selama 1 jam,dengan etanol (95
%). Hal ini bertujuan agar zat aktif yang ada pada simplisia dapat terekstraksi
dan tertarik oleh pelarut tersebut.
3. Ketika penentuan kadar sari larut air, simplisia ditambahkan kloroform
terlebih dahulu, penambahan kloroform tersebut bertujuan sebagai zat
antimikroba atau sebagai pengawet. Karena apabila pada saat masrasi hanya

A.1.2 Temulawak (Curcumae xanthorrhizae) Page


air saja, mungkin ekstraknya akan rusak karena air merupakan media yang
baik untuk pertumbuhan mikroba atau dikhawatirkan terjadi proses hidrolisis
yang akan merusak eksatrak sehingga menurunkan mutu dan kualitas dari
ekstrak tersebut. Sementara pada penentuan kadar sari larut etanol tidak
ditambahkan kloroform, karena suhu tersebut memungkinkan etanol sudah
memiliki sifat antibakteri jadi tidak perlu ditambahkan kloroform.
4. Pada percobaan kali ini suhu yang digunakan yaitu 1050c karena
memungkinkan etanol dan air-kloroform untuk menguap. Suhu ini digunakan
sampai bobot pada cawan konstan yang menandakan bahwa ekstrak hasil
pemanasan sudah benar-benar bebas dari pelarut dan pengotor.
5. Pada saat penyaringan kadar sari larut etanol dilakukan dengan cepat karena
jika teralalu lama akan mempercepat penguapan etanol.
6. Pada saat praktikum diperoleh hasil kadar sari larut etanol 6,24% (memenuhi
syarat) dan kadar sari larut air sebesar 12,25% (memenuhi syarat) dimana
syarat untuk kadar sari larut etanol dan air menurut Farmakope Herbal
Indonesia pada simplisia Curcumae xanthorhizae yaitu kadar sari larut air :
tidak kurang dari 9,1 % dan kadar sari larut etanol : tidak kurang dari 3,6%.

VII. Kesimpulan

1. Kadar sari yang larut dalam etanol simplisia Curcumae xhantoriza Rhizoma
Memenuhi syarat dengan kadar rata-rata sejumlah 6,24%
2. Kadar sari larut dalam air simplisia Curcumae xhantoriza Rhizoma Memenuhi
syarat dengan kadar rata-rata sejumlah 12,75 %

VIII. Daftar Pustaka

1. Soedibyo, Mooryati. 1998. Alam Sumber Kesehatan Manfaat dan Kegunaan.


Jakarta. Balai Pustaka.
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Farmakope Herbal Indonesia. Edisi I.
Jakarta: Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan; 2008. Halaman 63-
70
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Materia Medika Indonesia. Jilid II.
Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan; 1978. Halaman 156-160

A.1.2 Temulawak (Curcumae xanthorrhizae) Page


4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Materia Medika Indonesia. Jilid III.
Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan; 1979.Halaman x-xii dan
Halaman 73-76
5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Parameter Standar Umum Ekstrak
Tumbuhan Obat. Edisi 1. Jakarta: Departemen Kesehatan; 2000. Halaman 3-6

A.1.2 Temulawak (Curcumae xanthorrhizae) Page