Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MAKALAH

KULIAH PENGEMBANGAN PRODUK DAN PROSES

Putrika Citta Pramesi


14/369486/TP/11122

Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian


Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2017
Tugas Permasalahan 1

Pada industri pengolahan sawit, limbah hasil pengolahan banyak mengandung minyak. Industri
menginginkan sisa minyak dalam limbah dimanfaatkan untuk bahan dasar biodiesel. Saudara diminta
mendesain proses pengolahan limbah tersebut menjadi biodiesel.

a. Formulasi 10 pertanyaan berkaitan dengan permasalahan


b. Buatlah alternatif untuk tiap penyelesaian masalah tersebut
c. Berikan argumentasi dari tiap alternative permasalahan

Daftar Pertanyaan:

1. Metode pengolahan menjadi biodiesel manakah yang paling efektif?


2. Desain pengolahan manakah yang paling efektif dalam pengolahan menjadi biodiesel?
3. Reaktor manakah yang paling efektif untuk digunakan?
4. Bagaimana cara preparasi crude palm oil (CPO) sebagai bahan mentah sebelum masuk ke dalam
sistem pengolahan?
5. Bahan pelarut manakah yang paling efektif dalam tahap transesterifikasi pembuatan biodiesel;?
6. Bahan ko-pelarut manakah yang paling baik untuk digunakan?
7. Alternatif katalis apa yang dapat digunakan dalam tahap transesterifikasi pembuatan biodiesel
dari limbah kelapa sawit?
8. Pada tahap pemisahan, metode apa saja yang dapat digunakan?
9. Pada tahap pemurnian menjadi biodiesel, metode apa saja yang dapat digunakan?
10. Untuk menurunkan FFA yang mampu memengaruhi kualitas biodiesel, metode manakah yang
paling efektif?

Pertanyaan 1
Metode pengolahan menjadi biodiesel manakah yang paling efektif?

Mudah
Metode Ekonomis Efisien Cepat Total
Digunakan
Transesterifikasi 1 tahap
+ + + + +2
(katalis basa)

Transesterifikasi 2 tahap
0 + 0 + +3
(katalis basa)

Blending 0 + + + +1

Mikroemulsi - - + 0 +2

Pirolisis - + - + +1

Dry wash + - 0 + +3

Transesterifikasi 1 tahap
+ + 0 + +2
(katalis asam)

Transesterifikasi 2 tahap
0 + 0 + +2
(katalis asam)

Pengepresan tanpa kulit + - - +


Pertanyaan 7
Alternatif katalis apa yang dapat digunakan dalam tahap transesterifikasi pembuatan biodiesel
dari limbah kelapa sawit?
Ekonomis Mudah Tidak
Ramah Insensitivit
Nama dan dipisah memicu Laju
Lingku- as terhadap Skor
Katalis Availibili- dari saponifika- Reaksi
ngan FFA
tas produk si
NaOH + - + - - -1

Kulit Telur + + - + - - 0
Zirconia
yang telah - + + - + + 2
disulfasi
KOH + - + - - -1

HCl - - + - - + -2

Katalis
asam padat
- + + - + + 2
berdasar
karbon
Lipase tidak
aktif dalam - + + - + + 2
SiO2
H2SO4 - - + - - + -2

Cangkang
+ + - + - - 0
Siput

Lipase - + + - + + 2

Dalam pembuatan biodiesel dari limbah kelapa sawit, terdapat tahap transesterifikasi yaitu rekasi dari
lipid atau minyak dengan alkohol dan katalis untuk membentuk ester dan gliserol. Katalis yang digunakan
pada tahap transesterifikasi dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu katalis enzim, alkali dan asam.
Kemudian katalis asam dan alkali dikelompokkan kembali menjadi heterogen dan homogen. (Talha,
2016)
Talha, Nur Syakirah dan Sarina Sulaiman. 2916. Overview of Catalysts in Biodiesel Production. ARPN
Journal of Engineering and Applied Science, Vol. 11, No. 1, Page 439-448.

A) Katalis Alkali Homogen


Katalis alkali homogen lebih diminati dibandingkan katalis asam homogen karena laju reaksinya
lebih cepat. Katalis alkali homogen yang paling umum digunakan adalah natrium hidroksida atau
NaOH (contoh 1) dan kalium hidroksida (contoh 4). Kedua katalis tersebut mudah didapat, murah
dan mudah digunakan. Selain itu katalis dengan kategori ini memiliki laju reaksi yang lebih cepat
dibanding transesterifikasi dengan katalis asam. Akan tetapi, kekurangan dari katalis ini adalah
sensitif terhadap asam lemak bebas (free fatty acid atau FFA) karena sifatnya yang alkali dan
apabila kadar FFA pada limbah kelapa sawit lebih dari 2% akan terjadi saponifikasi yang
menyebabkan berkurangnya biodiesel yang duhasilkan serta menyebabkan masalah di tahap
permunian. Kekurangan lainnya dari katalis kategori ini adalah tidak ramah lingkungan karena
dapat menghasilkan limbah cair yang lebih banyak saat tahap pemurnian. (Atadashi dkk, 2013)

Atadashi, I.M. dkk, 2013. The Effects of Catalysts in Biodiesel Production: A Review. Journal Industrial
Engineering Chemistry, Vol. 19, No.1, Pages 14-26.

B) Katalis Alkali Heterogen


Berbagai penelitian dilakukan tentang katalis heterogen untuk menangani kekurangan dari katalis
homogen. Katalis alkali heterogen lebih aktif dibandingkan katalis asam heterogen, seperti katalis
alkali homogen. Contoh dari katalis alkali heterogen yang dicantumkan pada tabel diatas adalah
kulit telur (contoh 2) dan cangkang siput (contoh 9). Pada katalis kategori ini, memiliki beberapa
nilai tambah karena dapat digunakan kembali, mudah dipisahkan dari produk, dan laju reaksinya
lebih cepat apabila dibandingkan dengan katalis asam heterogen (Sagiroglu dkk, 2011). Namun
pada katalis ini, seperti katalis alkali homogen, karena sifatnya yang basa sehingga sensitif
terhadap FFA dan mampu menyebabkan saponifikasi dalam pembuatan biodiesel. Perbedaan
antara katalis basa homogen dan heterogen adalah umur katalis heterogen basa lebih panjang dan
terdapat pembatasan difusi. Selain itu katalis ini lebih tidak ramah lingkungan karena dapat
menyebabkan keracunan katalis saat terkena udara. (Lam dkk, 2010)

Lam, M.K, dkk, 2010. Homogenous, Heterogenous and Enzymatic Catalysis for Transesterification of
High Free Fattu Acid Oil (Waste Cooking Oil) to Biodiesel: A Review. Biotechnol Adv., Vol. 1, No.3,
Page 500-518.

Sagiroglu, A dkk, 2011. Comparison of Biodiesel Productivities of Different Vegetable Oils by Acidic
Catalysis. Journal Industrial Engineering Chemistry, Vol. 17, No. 1, Page 5358,
C) Katalis Asam Homogen
Limbah dari minyak kelapa sawit mengandung beberapa asam lemak bebas yang tak dapat diubah
menjadi biodiesel menggunakan katalis basa. Asam lemak bebas tersebut akan memproduksi
sabun (saponifikasi) yang membatasi pemisahan dari ester, gliserin dan air saat bereaksi dengan
katalis alkali. Maka, dibutuhkan transesterifikasi dengan katalis asam untuk menangani
kelemahan dari katalis basa. Pada tabel diatas yang termasuk dalam katalis asam homogen adalah
HCl (contoh 5) dan H2SO4 (contoh 8). Sayangnya, walaupun katalis ini tidak sensitif terhadap
asam lemak bebas dan saponifikasi dapat dihindari, katals asam tidak terlalu diminati karena laju
reaksinya yang relatif lambat dan biaya yang dibutuhkan lebih mahal karena terdapat proses
pemurnian yang lebih (Helwani dkk, 2009). Selain itu katalis ini tidak ramah lingkungan karena
dapat menimbulkan korosi pada peralatan yang digunakan dalam pengolahan biodiesel dan sulit
untuk dipisahkan dari produk. (Lam dkk, 2010).

Helwani, Z dkk, 2009. Technologies for Production of Biodiesel Focusing on Green Catalytic Techniques:
A Review. Journal of Fuel Process. Technology, Vol. 90, No. 12, Pages 15021514,

D) Katalis Asam Heterogen


Walaupun katalis asam homogen lebih efektif, katalis tersebut akan menimbulkan masalah
kontaminasi yang membutuhkan proses pemisahan yang baik dan proses pemurnian produk,
sehingga membutuhkan biaya produksi yang lebih mahal. Pada tabel diatas, yang termasuk dalam
kategori katalis asam heterogen adalah zirconia yang telah disulfasi(contoh 3) dan katalis asam
padat berdasar karbon (contoh 6). Beberapa keuntungan dari katalis ini adalah tidak sensitif
terhadap asam lemak bebas, reaksi saponifikasi dapat dihindari, proses pemisahan katalis dari
produk lebih mudah, dapat digunakan kembali serta ramah lingkungan karena masalah korosi
dapat dikurangi (Leung dkk, 2010). Akan tetapi seperti katalis asam homogen, laju reaksinya
lambat dan karena membutuhkan energi lebih maka biaya yang dibutuhkan lebih mahal. (Lam,
2010)

Leung, D.Y.C. dkk, 2010. A Review on Biodoesel Production Using Catalyzed Transesterification.
Journal of Applicated Energy, Vol. 87, No.4, Pages 1083-1095.

E) Katalis Enzim
Transesterifikasi menggunakan katalis enzim telah menarik beberapa penelitian karena mampu
menangani masalah yang diakibatkan oleh transesterifikasi menggunakan bahan kimia, seperti
terbentuknya limbah air yang berlebih dan sulitnya dalam recovery gliserol yang kemudian
menimbulkan peningkatan biaya produksi dan tidak ramah lingkungan. Pada tabel diatas yang
termasuk dalam katalis enzim adalah lipase tidak aktif dalam SiO 2 (contoh 7) dan lipase (contoh
10). Tidak seperti katalis kimia, katalis enzim dapat bekerja tanpa menghasilkan produk antara,
tidak sensitif terhadap FFA, ramah lingkungan dan mudah digunakan kembali. Akan tetapi
kelemahan dari katalis ini adalah biaya enzim yang mahal dan laju reaksinya yang lambat. (Bajaj
dkk, 2010)

Bajaj, A dkk, 2010. Biodiesel Production Through Lipase Catalyzed Transesterification: An Overview.
Journal of Molecular Catalysis B: Enzymatic, Vol. 62, No. 1, Pages 9-14.

Berdasarkan tabel diatas, skor yang paling besar dimiliki oleh katalis yang termasuk dalam kategori
katalis asam heterogen dan katalis enzim. Akan tetapi pada tabel tersebut kelima kategori katalis dinilai
dalam beberapa parameter sedangkan masih terdapat beberapa parameter yang belum dicantumkan,
seperti pembentukan produk antara, hasil produksi biodiesel, serta umur katalis pada tahap
transesterifikasi. Pemilihan katalis dapat dilakukan berdasarkan tujuan suatu industri dalam pembuatan
biodiesel dari limbah kelapa sawit. Katalis enzim saat ini sedang diminati karena mempemudah proses
pemurnian dan dapat mengurangi proses saponifikasi. Akan tetapi jika industri memilih katalis enzim,
maka biaya produksinya akan menjadi lebih mahal serta laju reaksi katalis ini terjadi sangat lambat.
Sedangkan katalis asam heterogen lebih sering digunakan karena ketersediaannya dan insensitivitas
terhadap FFA. Katalis asam heterogen dapat diaplikasikan dalam sistem transesterifikasi untuk
menyederhanakan tahap pemisahan dan pemurnian produk.

Pertanyaan 8
Pada tahap pemisahan, metode apa saja yang dapat digunakan?

Kemudahan
Ramah Mudah
Metode Ekonomis memproses Total
lingkungan Digunakan
logam berat

Sentrifugasi

Ekstraksi pelarut

Ultrasonic
irradiation

Bioslurry

Flotasi buih

Surfaktan EOR

Pirolisis

Oksidasi

Land farming