Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

KEADILAN, PENDERITAAN, SERTA CINTA KASIH


diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial
Budaya Dasar

Disusun oleh :

Kelompok 1
1. Restu millati
2. Ruth May
3. Siti Hayatunufus
4. Wahyu Maulana

Kelas C

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
Jalan Raya Jakarta Km.4 Pakupatan, Serang-Banten
2009
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatan kehadiran Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat
limpahan rahmat, karunia, dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “KEADILAN,
“KEADILAN, PENDERITAAN, SERTA CINTA KASIH”
KASIH” ini tepat pada
waktunya. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini.
Makalah yang kami susun ini membahas mengenai Keadilan, Penderitaan,
serta Cinta Kasih. Di dalamnya berisi tentang makna Keadilan, Penderitaan, serta
Cinta Kasih beserta penjelasan yang lebih rinci yang disusun secara sistematis untuk
memudahkan pembaca dalam memahaminya. Semoga makalah ini dapat berguna bagi
kita semua dalam menambah ilmu pengetahuan.
Dalam penyusunan makalah ini menyadari bahwa makalah ini belum
sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu kami membuka dengan
luas kritik dan saran dari pembaca untuk dapat menyempurnakan makalah ini dan
untuk selanjutnya dapat lebih baik lagi.
Terima kasih.

Serang, 13 Oktober 2009

Penyusun
KEADILAN, PENDERITAAN, SERTA CINTA KASIH

KEADILAN

1. Konsep Adil dan Rasa Keadilan


Menurut arti kata “adil” adalah tidak sewenang-wenang kepada diri sendiri
maupun pihak lain. Jadi, konsep adil berlaku kepada diri sendiri sebagai individu, dan
kepada pihak lain sebagai anggota masyarakat, alam lingkungan, dan Tuhan Sang
Pencipta. Tidak sewenang-wenang dapat berupa keadaan yang :
1. Sama (seimbang)
2. Tidak berat sebelah
3. Wajar, seperti apa adanya, tidak menyimpang
4. Patut/layak, dapat diterima karena sesuai
5. Perlakuan kepada diri sendiri, sama seperti perlakuan kepada pihak lain
Adil bersifat kodrati, artinya sudah di bekali oleh Tuhan sang Pencipta kepada
manusia sebagai bagian dari kehidupan manusia. Adil bersumber pada “unsur rasa”
dalam diri manusia yang didukung oleh akal sehat dan diwujudkan pada perbuatan.
Sebagai makhluk budaya, manusia menilai peristiwa atau kejadian yang ada
disekitarnya, atau yang dialaminya. Keadaan seperti ini disebut “keadilan”, karena
bersumber pada unsur rasa dalam diri manusia, maka disebut “rasa keadilan”. Rasa
keadilan mendorong manusia untuk berbuat benar (akal), berbuat baik (rasa), berbuat
jujur (karsa), dan bermanfaat. Keadilan juga mengarahkan pada perbuatan manusia
menuju kedamaian,kesejahteraan, dan kebahagiaan.
Ditinjau dari bentuk ataupun sifat-sifatnya, keadilan dikelompokan menjadi
tiga jenis :
1. Keadilan legal atau keadilan moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani
umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Keadilan terwujud
dalam masyarakat bilamana setiap anggota melakukan fungsinya secara baikmenurut
kemampuannya.
2. Keadilan distributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilaman hal-hal yang
sama diperlakukan secra sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan secara tidak
sama.
3. Keadilan komulatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan
umum. Bagi Aristoles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban
dalam masyarakat.

B. Perlakuan Adil dan Tidak Adil

a. Perlakuan Adil
Setiap manusia dapat melihat perlakuan adil itu dari sudut pandangnya
masing-masing, sehingga tanggapannya mungkin sama dan mungkin juga tidak sama
satu sama lainnya. Kemungkinan ketidaksamaan itu terletak pada nilai bobot kualitas
perlakuannya. Walaupun satu sama yang lainnya memandang perlakuan itu sebagai
perlakuan adil, karena nilai bobot kualitas perlakuan adil ke perlakuan kurang adil,
sampai perlakuan tidak adil.
Perlakuan adil itu ada apabila dihubungkan denagn kodrat manusia sebagai
makhluk sosial (zoon politicon) yang harus hidup bermasyarakat, manusia
mempunyai berbagai macam kebutuhan yang hanya dapat dipenuhi dengan sempurna
apabila berhubungan dengan manusia lain dalam masyarakat atau alam lingkungan.
Manusia itu makhluk budaya, perlakuan kepada sesama manusia juga
berbudaya atau beradab. Perlakuan beradab adalah perlakuan adil artinya perlakuan
kepada pihak lain juga seperti perlakuan diri sendiri. Rasa keadilan termasuk masalah
nilai,karena itu dapat berubah menurut keadaan, waktu, dan tempat. Akibat perlakuan
adil timbullah kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan dalam kehidupan yang
bermasyarakat.

b. Perlakuan Tidak Adil


Sebaliknya, apabila perlakuan manusia tidak didasari oleh rasa keadilan, yang
akan terjadi adalah perlakuan tidak adil. Perlkauan tidak adil adalah perlakuan
sewenang-wenang. Akibat perlakuan sewenang-wenang adalah penderitaan dan
ketidakpastian, kehidupan manusia menjadi tidak menentu, tidak tentram dan gelisah.
Perlakuan tidak adil biasanya terjadi oleh majikan kepada pembantu rumah
tangganya. Biasanya majikan menyuruh pembantunya kerja keras tanpa kenal waktu
istirahat, si pembantu tidak diberi makan seperti hewan.

C. Keadilan Manusia dan Keadilan Tuhan

1. Pengakuan Kepada Perlakuan Adil


Sebagai makhluk budaya, dalam diri manusia selalu terdapat tiga unsur
budaya, yaitu cipta , rasa , dan karsa. Karena rasa keadilan bersifat kodrati dan asasi,
maka perlakuan adil diakui walaupun ada yang secara terbatas ataupun secara
universal. Contohnya, di Afrika Selatan yang dulu pernah menerapkan diskriminasi
rasia, perlakuan adil diakui secra terbatas hanya dikalanagan orang-orang sesama kulit
putih, sedangkan di negara-negara lain perlakuan adil diakui secara universal.
Perbedaan itu muncul dalam budaya karena penekanan unsur budaya yang berbeda.

2. Keadilan Manusia
Keadilan manusia yang terjadi dala hubungan antara sesama manusia dapat
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu keadilan koordinatif, keadilan subornatif , dan
keadilan superordinatif .
a. Keadilan Koordinatif
Keadilan koordinatif terjadi dalam hubungan antara sesama anggota
masyarakat (anggota kelompok). Dalam hubungan tersebut, kedudukan pihak-pihak
setara, sejajar, dan tidak melebihi satu sama lain. Menurut Prof. Djojodigoeno (1958),
hubungan koordinatif dibedakan menjadi dua, yaitu hubungan pamrih dan hubungan
paguyuban. Dalam hubungan pamrih setiap pihak dibebani kewajiban dan diberi hak
yang seimbang, dan harus saling memenuhi kewajiban untuk memperoleh haknya.
Misalnya keadilan dalam jual beli. Nilai barang yang akan diserahkan kepada pembeli
sama dengan nilai uang yang akan dibayarkan.
Dalam hubungan paguyuban, salah satu pihak dibebani kewajiban pengabdian
tanpa imbalan material. Pengabdian yang satu kepada pihak lainnya itu merupakan
perlakuan yang patut atau layak bagi kemanusiaan, misalnya seorang dokter merawat
pasien sampai sembuh tanpa mengharapkan upah.
b. Keadilan Subornatif
Keadilan subornatif terjadi dalam hubungan rakyat dengan penguasa atau
warganegara dengan pemerintah. Keadilan subornatif dimulai dari kesediaan rakyat
atau warganegara melaksanakan kewajiban atau pengabdian kepada penguasa atua
pemerintah. Prof. Notonagoro (1971) menyebut keadilan subornatif dengan istilah
“keadilan komulatif”. Dalam keadilan komulatif, yang menjadi dasar adalah ketaatan
atau kepatuhan rakyat atau warganegara kepada penguasa.
Beberapa contoh wujud keadilan subornatif dalam hubungan rakyat/
warganegara dengan penguasa, antara lain adalah sebagai berikut :
1. Pegawai negeri yang mengabdi kepada negara selama berpuluh-puluh tahun
setelah purnabakti diberi hak pensiun.
2. Warganegara yang telah berjasa membela kepentingan negara diberi
penghargaan berupa medali.
3. Warganegara yang berkarya dan menyelamatkan lingkungan diberi
penghargaan kalpataru
c. Keadilan Superordinatif
Keadilan superordinatif terjadi dalam hubungan penguasa dan rakyat. Dalam
hubungan superordinatif, inisiatif pelaksanaan memenuhi kebutuhan rakyat dimulai
dari penguasa kepada rakyat. Pemenuhan kebutuhan rakyat oleh penguasa merupakan
realisasi janji penguasa kepada rakyat ketika akan diangkat sebagai penguasa.
Hal yang dijadikan ukuran penguasa memberi perlakuan kepada rakyat adalah
kuantitas dan kualitas kewajiban dan pengorbanan yang diberikan rakyat kepada
penguasa atau negara. Perlakuan penguasa kepada rakyat yang didasarkan kuantitas
dan kualitas kewajiban dan pengorbanan ini oleh Notonagoro (1971) disebut
“keadilan distributif”.
Dalam keadilan distributif, penguasa menetapkan persyaratan yang harus
dipenuhi oleh rakyat atau warganegara. Apabila persyaratan yang harus dipenuhi,
penguasa memberikan perlakuan yang sesuai dengan persyaratan itu.

3. Keadilan Tuhan
Keadilan tuhan terjadi dala hubungan manusia dengan Tuhan. Keadilan Tuhan
bersifat mutlak. Tuhan adalah pencipta segala apa yang ada di langit dan di bumi,
termasuk manusia. Prof. Dr. Harun Nasution menyatakan bahwa keadilan adalah
ajaran yang sangat penting dalam agama.
4. Usaha Menciptakan Keadilan
Beberapa usaha dapat ditempuh untuk menciptakan keadilan, sehingga dapat
dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi sifat-sifat manusia yang tidak adil :
1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Mengenal seni dan karya seni.
4. Menganut pola hidup sederhana.
5. Banyak memperoleh informasi mengenai manusia yang memperjuangkan
keadilan .
PENDERITAAN DAN PERJUANGAN

1. Konsep Penderitaan
Penderitaan adalah ungkapan perasaan sakit yang dialami manusia dalam
kehidupan. Penderitaan bersumber pada unsur “rasa” dalam diri manusia. Menurut
asal katanya, penderitaan berasal dari kata “derita”, artinya perasaan tidak enak,
perasaan tidak menyenangkan, perasaan sakit. Penderitaan dapat mengenai fisik,
dapat pula mengenai mental, atau kedua-duanya fisik dan mental. Berat ringan
penderitaan dapat dilihat pada kenyataan yang dialami seseorang, yaitu akibat yang
timbul pada badan atau jiwa penderita.
Penderitaan fisik adalah penderitaan yang dialami badan seseorang, misalnya
penyiksaan karena perbuatan orang lain. Penderitaan mental adalah penderitaan yang
dialami jiwa seseorang, misalnya stres berat karena pekerjaan tidak sesuai dengan
kemampuan. Penderitaan fisik dan penderitaan menal kedua-duanya harus bersifat
unik, yaitu menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. Penderitaan fisik dan mental saling
mempengaruhi. Walaupun seseorang hanya mengalami penderitaan fisik, pasti ada
pengaruhnya terhadap jiwanya. Contohnya, pengaruh penderitaan mental, badan
menjadi kurus; pengaruh penderitaan fisik, daya pikir merosot, dan tidak punya
inisiatif.

2. Perjuangan Mengatasi Penderitaan


manusia adalah makhluk budaya, dengan budayanya itu dia berusaha
mengatasi penderitaan yang mengancam atau dialaminya. Usaha mendorong manusia
kreatif, baik bagi penderita sendiri maupun bagi orang lain yang melihat atau
mengamati penderitaan untuk mengatasinya.
Pembebasan dari penderitaan pada hakikatnya meneruskan kelangsungan
hidup. Caranya adalah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam masyarkat dan
alam lingkungan dengan waspada dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar
dari bahya dan malapetaka. Manusia hanya merencanakan dan Tuhan yang
menentukan.
B. PENYEBAB PENDERITAAN
a. Perbuatan Buruk Kepada Orang Lain
Perbuatan buruk manusia merupakan salah satu penyebab manusia lian
menderita. Penderitaan berat akibat perbuatan buruk manusia akan meninggalkan
noktah hitam yang tidak mungkin dihapus dalam perjalanan hidup penderitanya.
Berikut ini disajikan contoh konkret kasus perbuatan buruk manusia yang
mengakibatkan manusia lain mengalami penderitaan , yaitu perbuatan buruk majikan
yang memperkosa, menyekap, dan menyiksa pembantu rumah tangganya.

b. Perbuatan Buruk kepada Alam Lingkungan


Perbuatan buruk manusia pada alam lingkungan juga menjadi penyebab
penderitaan manusia, tetapi sayangnya manusia tidak mau menyadari perbuatannya
itu. Kesadaran itu baru akan timbul setelah terjadi musibah yang mengakibatkan
penderitaan manusia. Berikut ini dikemukakan contoh konkret mengenai musibah
yang menimpa manusia karena perbuatan buruk pada alam lingkungan, seperti
membabat hutan lindung ataupun kelalaian dalam pekerjaan yang mengakibatkan
manusia lain mengalami penderitaan berat.

C. PENGARUH PENDERITAAN
1. Pengaruh Negatif
Sikap yang timbul dapat berupa sikap negatif, misalnya penyesalan karena
tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, atau ingin bunuh diri. Sebagai kelanjutan dari
sikap negatif dapat timbul sikap yang bersifat reaktif dan perlawanan , misalnya :
a. Antikawin (tidak mau menikah)
b. Antilawan jenis, pengalaman yang diperoleh seorang wanita lebih banyak pria
yang berkhianat.
c. Anti-ibu tiri, pengalaman yang diperoleh seseorang dari kasus nyata hampir
setiap ibu tiri menganiaya anaknya.

2. Pengaruh Positif
Orang yang mengalami penderitaan mungkin juga akan memperoleh sikap
positif dalam dirinya. Sikap positif adalah sikap optimis mengatasi penderitaan hidup,
bahwa hidup bukan hanya rangkaian penderitaan, melainkan juga perjuangan
membebaskan diri dari penderitaan. Sikap positif atau optimis biasanya kreatif dan
produktif, tidak mudah menyerah pada keadaan.

3. Penilaian Masyarakat
Apabila sikap negatif dan positif dari penderitaan dikomunikasikan kepada
masyarakat, masyarakat akan memberikan penilaiannya. Penilaian dapat berupa
kemauan atau kesediaan untuk mengadakan perubahan nilai-nilai kemanusiaan dalam
masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan. Berbagai nilai kemanusiaan tersbut
antara lain adalah :
a. harga diri, nama baik, martabat, kehormatan, dan perlindungan diri.
b. Status, fungsi, dan peran dalam keluarga serta masyarakat.
c. Perlakuan yang sama, perjuangan, dan kebebasan ; serta
d. Diangkat sebagai anak sendiri dan memberi pendidikan.

4. Upaya Menghindarkan Diri dari Penderitaan


Beberapa upaya untuk menghindarkan diri dari penderitaan antara lain :
1. Manusia hendaknya percaya dengan mutlak kepada Tuhan Yang Maha Esa,
bahwa Tuhan lah yang Maha Kuasa, dan Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.
2. Manusia hendaklah selalu “eling lan waspada”. Artinya bahwa didalam
perjuangan hidup, hendaknya selalu teguh dalam pikiran dan pendirian,
waspada , dan tidak mudah terpengaruh oleh kondisilingkungan yang tidak
sehat.
3. Manusia hendaknya “rame ing gawe”. Artinya manusia hendaknya giat
bekerja untuk mencapai kebahagiaan baik intuk dirinya sendiri, masyarakat,
maupun negara.
4. Manusia hendaknya selalu “mawas diri” atau melakukan introspeksi. Artinya
manusia hendaknya selalu mengukur kekuatan diri sendiri dalam upaya
memenuhi kebutuhan hidupnya.
MANUSIA DAN CINTA KASIH

A. Hubungan dan Ungkapan Kasih Sayang


1. Konsep Kasih sayang
Kasih sayang bersumber dari “unsur rasa” dalam diri manusia, ungkapan
perasaan yang dibenarkan oleh akal, dan direalisasikan oleh karsa dalam bentuk
tingkah laku dan perbuatan yang bertanggungjawab. Selain itu dalam kasih sayang ini
sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggungjawab, pengorbanan,
kejujuran, saling percaya, saling pengertian, terbuka, sehingga keduanya merupakan
kesatuan yang bulat dan utuh.
Menurut arti kata, “kasih sayang” adalah perasaan sayang kepada sesuatu,
yang diungkapkan secara nyata, dengan penuh tanggungjwab, serta pengabdian dan
pengorbanan. Dalam rumusan tersebut dapat diuraikan lima unsur kasih sayang,
yaitu :
a. Perasaan sayang, meliputi cinta, senang, suka, dan belas kasihan.
b. Kepada sesuatu, yaitu objek yang disayangi meliputi Tuhan Sang Maha
Pencipta.
c. Diungkapkan secara nyata, yaitu dalam bentuk sikap, tingkah laku, dan
perbuatan nyata yang dapat diamati.
d. Penuh tanggungjawab, yaitu segala akibat yang timbul atau terjadi adalah
baik,berguna,menguntungkan, menciptakan keserasian.
e. Pengabdian dan pengorbanan, yaitu keikhlasan atau kerelaan semata-mata.
Berdasarkan konsep tersebut, kasih sayang dalam arti “perasaan sayang kepada
sesuatu” dapat diartikan:
a. Cinta kepada Tuhan atau manusia
b. Senang atau suka pada alam lingkungan
c. Belas kasihan kepada makhluk hidup (manusia, hewan, dan tumbuhan)
Kasih sayang dapat diungkapkan kepada objeknya dengan menggunakan
istilah-istilah khusus seperti berikut:
a. Cinta , digunakan untuk ungkapan kasih kepada Tuhan dan manusia.
b. Senang dan suka , digunakan untuk ungkapan kasih sayang kepada selain
Tuhan dan manusia contohnya suka terhadap barang antik.
c. Belas kasihan, digunakan untuk ungkapan kasih sayang kepada makhluk hidup
(manusia, hewan , dan tumbuhan)
2. Hubungan Kasih Sayang
Hubungan kasih sayang terjadi antara manusia dan manusia, antara manusia
dan alam lingkungan, serta antara manusia dan Tuhan. Hubungan kasih sayang antara
manusia dan manusia digolongkan lagi menjadi: kasih sayang orang tua dan anak,
kasih sayang pria dengan wanita, dan kasih sayang sesama manusia karena hal
tertentu.

a. Kasih Sayang Orangtua dengan anak


Antara orangtua dan anak terdapat hubungan keluarga yang sangat erat.
Orangtua mempunyai rasa sayang yang mendalam kepada anak sebagai penerus
generasi, sedangkan anak berhak memperoleh kasih sayang secara wajar dari
orangtua. Orangtua berkewajiban memberi nafkah kepada anaknya, memelihara dan
mendidik anak, serta mengarahkan anak agar mulai menghayati nilai-nilai kehidupan.

b. Kasih Sayang Pria dengan Wanita


Kasih sayang pria dan wanita merupakan titik awal terjadinya keluarga
sebagai unit masyarakat terkecil. Dalam hubungan kasih sayang pria dan wanita,
kemesraan lebih diutamakan. Pada dasarnya, kemesraan merupakan perwujudan kasih
sayang yang telah mendalam. Namun kasih sayang yang yang tidak dialandasi
kemesraan akan mengalami kehancuran.

c. Kasih sayang Sesama Manusia


Contoh dari kasih sayang sesama manusia ini dapat digambarkan sebagai
berikut; seorang sahabat berkunjung ke rumah kost temannya yang sedang sakit,
membawa makanan yang diinginkannya, serta obat yang diperlukannya. Sahabat itu
menjaga dan melayani temannya yang sedang sakit dengan penuh kasih sayang yang
tidak mengharapkan imbalan apapun.

d. Kasih Sayang terhadap Lingkungan


Kasih sayang manusia pada alam lingkungan didasari perasaan senang, suka,
dan sayang terhadap alam lingkungan. Dengan adanya perasaan senang, suka ,dan
sayang, lalu timbullah kehendak untuk menata, memelihara, dan menjaga alam
lingkungan , sehingga tercipta keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara
manusia dan alam lingkungan.
E. Kasih Sayang Manusia Kepada Tuhan
Seorang yang taat beribadah akan mematuhi perintah tuhan dan menjauhi
larangannya. Karena manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna,
sudah sewajarnya manusia mengabdi kepada tuhannya.
3. Ungkapan Kasih Sayang
Kasih sayang merupakan ungkapan perasaan yang diwujudkan melalui tingkah
laku dan perbuatan dalam pergaulan sehari-hari, dalam pertunjukan atau pergelaran
langsung, atau dalam karya cipta, seperti novel, film, dan sinetron. Kasih sayang
dapat diungkapkan dalam bentuk kata-kata atau pernyataan, bentuk tulisan, bentuk
gerakan, atau bentuk media lainnya.
a. Bentuk Kata-kata atau Pernyataan
Ungkapan kasih sayang dalam bentuk kata-kata atau pernyataan pada
umumnya paling sering dilakukan karena sangat mudah dalam praktiknya. Misalnya
ungkapan yang diungkapkan seorang ibu kepada anaknya yang hendak tidur “ tidurlah
anakku sayang” , atau ungkapan yang biasa diungkapkan oleh seorang pria kepada
wanita yang dicintainya “aku cinta kepadamu”.
b. Bentuk Tulisan
Ungkapan kasih sayang dalam bentuk tulisan biasanya berupa surat cinta yang
diberikan oleh seorang pria kepada wanita yang dicintainya ataupun oleh orangtua
yang rindu akan anaknya.
c. Bentuk Gerakan
Ungkapan kasih sayang dalam bentuk gerakan adalah yang paling banyak dan
merajalela, dapat dijumpai dimana saja terjadi pertemuan. Dirumah, dikantor dll.
Bentuk gerakan tersebut antara lain :
1. Bersalaman
2. Pelukan
3. Ciuman
4. Rangkulan
d. Bentuk Media
Ungkapan kasih sayang dalam bentuk media yaitu memberikan barang sebagai
perantara untuk mengungkapkan rasa cinta. Misalnya dengan memberikan setangkai
bunga, cokelat, kado dll.
KESIMPULAN

Menurut arti kata “adil” adalah tidak sewenang-wenang kepada diri sendiri
maupun pihak lain.

Penderitaan adalah ungkapan perasaan sakit yang dialami manusia dalam


kehidupan. Penderitaan bersumber pada unsur “rasa” dalam diri manusia. Menurut
asal katanya, penderitaan berasal dari kata “derita”, artinya perasaan tidak enak,
perasaan tidak menyenangkan, perasaan sakit. Penderitaan dapat mengenai fisik,
dapat pula mengenai mental, atau kedua-duanya fisik dan mental. Berat ringan
penderitaan dapat dilihat pada kenyataan yang dialami seseorang, yaitu akibat yang
timbul pada badan atau jiwa penderita.
Penderitaan fisik adalah penderitaan yang dialami badan seseorang, misalnya
penyiksaan karena perbuatan orang lain. Penderitaan mental adalah penderitaan yang
dialami jiwa seseorang, misalnya stres berat karena pekerjaan tidak sesuai dengan
kemampuan. Penderitaan fisik dan penderitaan menal kedua-duanya harus bersifat
unik, yaitu menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. Penderitaan fisik dan mental saling
mempengaruhi. Walaupun seseorang hanya mengalami penderitaan fisik, pasti ada
pengaruhnya terhadap jiwanya. Contohnya, pengaruh penderitaan mental, badan
menjadi kurus; pengaruh penderitaan fisik, daya pikir merosot, dan tidak punya
inisiatif.
Kasih sayang bersumber dari “unsur rasa” dalam diri manusia, ungkapan
perasaan yang dibenarkan oleh akal, dan direalisasikan oleh karsa dalam bentuk
tingkah laku dan perbuatan yang bertanggungjawab. Selain itu dalam kasih sayang ini
sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggungjawab, pengorbanan,
kejujuran, saling percaya, saling pengertian, terbuka, sehingga keduanya merupakan
kesatuan yang bulat dan utuh.
Menurut arti kata, “kasih sayang” adalah perasaan sayang kepada sesuatu,
yang diungkapkan secara nyata, dengan penuh tanggungjwab, serta pengabdian dan
pengorbanan. Dalam rumusan tersebut dapat diuraikan lima unsur kasih sayang,
yaitu :
f. Perasaan sayang, meliputi cinta, senang, suka, dan belas kasihan.
g. Kepada sesuatu, yaitu objek yang disayangi meliputi Tuhan Sang Maha
Pencipta.
h. Diungkapkan secara nyata, yaitu dalam bentuk sikap, tingkah laku, dan
perbuatan nyata yang dapat diamati.
i. Penuh tanggungjawab, yaitu segala akibat yang timbul atau terjadi adalah
baik,berguna,menguntungkan, menciptakan keserasian.
j. Pengabdian dan pengorbanan, yaitu keikhlasan atau kerelaan semata-mata.
Berdasarkan konsep tersebut, kasih sayang dalam arti “perasaan sayang kepada
sesuatu” dapat diartikan:
d. Cinta kepada Tuhan atau manusia
e. Senang atau suka pada alam lingkungan
f. Belas kasihan kepada makhluk hidup (manusia, hewan, dan tumbuhan)
Kasih sayang dapat diungkapkan kepada objeknya dengan menggunakan
istilah-istilah khusus seperti berikut:
d. Cinta , digunakan untuk ungkapan kasih kepada Tuhan dan manusia.
e. Senang dan suka , digunakan untuk ungkapan kasih sayang kepada selain
Tuhan dan manusia contohnya suka terhadap barang antik.
f. Belas kasihan, digunakan untuk ungkapan kasih sayang kepada makhluk hidup
(manusia, hewan , dan tumbuhan)
2. Hubungan Kasih Sayang
Hubungan kasih sayang terjadi antara manusia dan manusia, antara manusia
dan alam lingkungan, serta antara manusia dan Tuhan. Hubungan kasih sayang antara
manusia dan manusia digolongkan lagi menjadi: kasih sayang orang tua dan anak,
kasih sayang pria dengan wanita, dan kasih sayang sesama manusia karena hal
tertentu.

a. Kasih Sayang Orangtua dengan anak


Antara orangtua dan anak terdapat hubungan keluarga yang sangat erat.
Orangtua mempunyai rasa sayang yang mendalam kepada anak sebagai penerus
generasi, sedangkan anak berhak memperoleh kasih sayang secara wajar dari
orangtua. Orangtua berkewajiban memberi nafkah kepada anaknya, memelihara dan
mendidik anak, serta mengarahkan anak agar mulai menghayati nilai-nilai kehidupan.

b. Kasih Sayang Pria dengan Wanita


Kasih sayang pria dan wanita merupakan titik awal terjadinya keluarga
sebagai unit masyarakat terkecil. Dalam hubungan kasih sayang pria dan wanita,
kemesraan lebih diutamakan. Pada dasarnya, kemesraan merupakan perwujudan kasih
sayang yang telah mendalam. Namun kasih sayang yang yang tidak dialandasi
kemesraan akan mengalami kehancuran.

c. Kasih sayang Sesama Manusia


Contoh dari kasih sayang sesama manusia ini dapat digambarkan sebagai
berikut; seorang sahabat berkunjung ke rumah kost temannya yang sedang sakit,
membawa makanan yang diinginkannya, serta obat yang diperlukannya. Sahabat itu
menjaga dan melayani temannya yang sedang sakit dengan penuh kasih sayang yang
tidak mengharapkan imbalan apapun.

d. Kasih Sayang terhadap Lingkungan


Kasih sayang manusia pada alam lingkungan didasari perasaan senang, suka,
dan sayang terhadap alam lingkungan. Dengan adanya perasaan senang, suka ,dan
sayang, lalu timbullah kehendak untuk menata, memelihara, dan menjaga alam
lingkungan , sehingga tercipta keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara
manusia dan alam lingkungan.
E. Kasih Sayang Manusia Kepada Tuhan
Seorang yang taat beribadah akan mematuhi perintah tuhan dan menjauhi
larangannya. Karena manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna,
sudah sewajarnya manusia mengabdi kepada tuhannya.
3. Ungkapan Kasih Sayang
Kasih sayang merupakan ungkapan perasaan yang diwujudkan melalui tingkah
laku dan perbuatan dalam pergaulan sehari-hari, dalam pertunjukan atau pergelaran
langsung, atau dalam karya cipta, seperti novel, film, dan sinetron. Kasih sayang
dapat diungkapkan dalam bentuk kata-kata atau pernyataan, bentuk tulisan, bentuk
gerakan, atau bentuk media lainnya.
a. Bentuk Kata-kata atau Pernyataan
Ungkapan kasih sayang dalam bentuk kata-kata atau pernyataan pada
umumnya paling sering dilakukan karena sangat mudah dalam praktiknya. Misalnya
ungkapan yang diungkapkan seorang ibu kepada anaknya yang hendak tidur “ tidurlah
anakku sayang” , atau ungkapan yang biasa diungkapkan oleh seorang pria kepada
wanita yang dicintainya “aku cinta kepadamu”.
b. Bentuk Tulisan
Ungkapan kasih sayang dalam bentuk tulisan biasanya berupa surat cinta yang
diberikan oleh seorang pria kepada wanita yang dicintainya ataupun oleh orangtua
yang rindu akan anaknya.
c. Bentuk Gerakan
Ungkapan kasih sayang dalam bentuk gerakan adalah yang paling banyak dan
merajalela, dapat dijumpai dimana saja terjadi pertemuan. Dirumah, dikantor dll.
Bentuk gerakan tersebut antara lain :
1. Bersalaman
2. Pelukan
3. Ciuman
4. Rangkulan
d. Bentuk Media
Ungkapan kasih sayang dalam bentuk media yaitu memberikan barang sebagai
perantara untuk mengungkapkan rasa cinta. Misalnya dengan memberikan setangkai
bunga, cokelat, kado dll.