Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PKN SEBAGAI TRADISI DALAM SOCIAL STUDIES

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan SD

Dosen Pengampu Fitria Prasetyaningtyas, S.Pd,M.Pd

Disusun oleh :

Rombel 3

Kelompok 3

1. Ardhia Septi Ragita Cahyaning (1401415104)


2. Latifah Saharia Khotijah (1401415105)
3. Muhammad Rifki Ardiyansah (1401415110)
4. Triyana (1401415122)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat hubungan antara
negara di dunia menjadi lebih mudah dan lebih transparan. Dampaknya adalah
mempengaruhi segala aspek kehidupan, mulai dari pola pikir sampai pada karakter
warga negara-bangsa di dunia. Hal ini membuat setiap negara bersaing untuk
pembangunan kualitas negaranya dan warganya. Tidak ada satupun negara-bangsa
di dunia ini yang tidak ingin tetap bertahan dan maju dalam pembangunan.
Pembangunan negara-bangsa dan pembangunan karaktersebuah negara-bangsa
merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan bagaikan dua sisi mata uang
(budimansyah, 2010:1). Pembangunan tersebut harus terus dilaksanakan agar sebuah
negara dapat terus memperkuat dan mempertahankan ekisistensinya di dunia dan
dapat membentuk warga negaranya menjadi warga negara yang cerdas dan baik
(smart and good citizen) . Kedua proses pembangunan ini sangat tidak terlepas dari
proses pendidikan terutama pendidikan kewarganegaraan (pkn atau civic education).

Di Indonesia, Social Studies diterjemahkan ke dalam suatu peristilahan,


Peristilahan tersebut yang berkembang misalnya: ilmu pengetahuan sosial,
pendidikan ilmu sosial, pendidikan ilmu pengetahuan sosial, studi sosial, sosial
studi, ilmu sosial dasar, dan sebagainya. Social studies yang terdiri dari banyak
unsur diantaranya sosiologi, geografi, ekonomi, ilmu politik, sejarah dsb, dan dalam
social studis terdapat pengembangan pembelajaran pkn yang sekarang menjadi mata
pelajaran sendiri atau terpisah dengan social studies. Dalam Pkn sendiri materi yang
diajarkan adalah materi yang berkaitan dengan kehidupan sosial di masyarkat yang
di dasarkan atas hukum, norma, dan nilai nilai yang berkembang di msyarakat.
Dalam makalah ini akan membahas tentang pkn sebgai tradisi dalam sosial studies

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Apa pengertian social studies dan pendidikan kewarganegaraan ?
1.2.2. Bagaimana hubungan antara pkn dengan social studies?
1.2.3. Apa yang melatarbelakangi pkn sebagai tradisi dalam social studies ?
1.2.4. Mengapa pendidikan kewarganegaraan dikatakan sebagai tradisi dalam
sosial studies ?

1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui dan menjelaskan social studies dan pendidikan
kewarganegaraan.
1.3.2. Untuk mengetahui dan menjelaskan hubungan antara pkn dengan social
studies.
1.3.3. Untuk mengetahui dan menjelaskan latarbelakangi pkn sebgai tradisi
dalam social studies.
1.3.4. Untuk mengetahui dan menjelaskan alasan pendidikan kewarganegaraan
dikatakan sebagai tradisi dalam sosial studies.

BAB 2

PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Social Studies Dan Pendidikan PKN

2.1.1. Social Studies


Pada tahun 1935 terjadi polemic diantara kalangan intelektual Amerika Serikat
( AS ) mengenai Ilmu Pengetahuan Sosial yang lebih dikenal dengan Social Studies,
kemudian hal tersebut dipublikasikan oleh Organisasi yang bernama National Council
for The Sosial Studies. tapi hal itu tidak berlangsung lama karena menurut L.Tildsley
hal itu memberi tanda sejak awal pertumbuhannya bidang social studies dihadapkan
kepada tantangan untuk dapat membangun dirinya sebagai suatu disiplin yang solid.
Definisi tentang social studies menurut Edgar Bruce Wesley pada tahun 1937
( Barr, Bart dan Shermis, 1977:2) yaitu : The social Studies are the social sciences
simplified for pedagogical purpose Ilmu Sosial itu yang disederhanakan untuk tujuan
pendidikan. Yang meliputi aspekaspek, seperti sejarah, ekonomi, politik, sosiologi,
antropologi, psikologi, geografi, dan filsafat, yang praktiknya digunakan dalam
pembelajaran di sekolah maupun perguruan tinggi.
Pada perkisaran tahun 1940 1950 NCSS mendapat serangan yang berkisar
tentang perlu atau tidaknya Sosial Studies untuk remaja bersikap demokratis dan kritis,
sehingga munculah sikap penekanan terhadap fakta fakta sejarah dan budaya yang
ada.
Namun pada tahun 1960 timbul satu gerakan akademis yang lebih dikenal
dengan the new social studies yang dipelopori oleh sejarawan dan ahli ahli ilmu social
untuk mengembangkan proyek yang menciptakan kurikulum dan memproduksi bahan
belajar yang sangat inovatif dan menantang dalam skala besar. Tapi sampai tahun
1970an hal itu belum juga terwujud, tapi jika kembali pada penuturan Barr dkk 1977
yaitu dua visi yang berbeda dalam social studies yaitu citizhenship education
( pendidikan kewarganegaraan ) atau social studies Education ( Ilmu pendidikan social )
hal itu juga dipengaruhi oleh PD II.
Pada tahun 1955 terjadi terobosan yang besar, berupa inovasi oleh Maurice Hunt
dan Lawrence metcalft yang mencoba cara baru dalam pengintegrasian pengetahuan dan
keterampilan ilmu social untuk tujuan citizhenship education, mengubah program Sosial
studies disekolah yang dahulunya Closed Area ( hal hal yang tabu dalam masyarakat )
menjadi refleksi rasional dalam mengupayakan siswa dapat mengambil keputusan
mengenai masalah masalah public. Sehingga bisa melatih keterampilan reflektif
thinking ( berfikif reflek ) dan berfikir secara kritis.
Gerakan the new social studies pada tahun 1960 masih belum efektif dalam
mengajarkan substansi perubahan sikap siswa, sehingga para sejarawan dan ahli ahli
ilmu social bersatu untuk meningkatkan social studies kepada higher level of
intellectual pursuit yang melahirkan social science education.
Menurut Barr dkk, mendefinisikan social studies dalam beberapa bagian yaitu
:social studies merupakan satu system pengetahuan yang terpadu, kedua misi utama
social studies adalah pendidikan kewarganegaraan dalam suatu masyarakat yang
demokratis, ketiga sumber utama konten social studies adalah social sciene dan
humanitier, keempat dalam upaya penyiapan warga Negara yang demokratis terbuka
kemungkinan perbedaan dalam orientasi, visi tujuan dan metode pembelajaran.
diantaranya lahirlah visi, misi dan strategi social studies itu adalah
1. Sosial studies taught as citizenship transmission
2. Sosial studies taught as social science
3. Sosial studies taught as reflective inquiry.
Jika dilihat dari definisi dan tujuan social studies maka terkandung beberapa hal,
pertama social studies merupakan mata pelajaran dasar diseluruh jenjang pendidikan
persekolahan, kedua tujuan utama mata pelajaran ini ialah mengembangkan siswa untuk
menjadi warga Negara yang memiliki pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan untuk
berperan serta dalam kehidupan berdemokrasi. Ketiga konten pelajarannya digali dan
diseleksi dari sejarah dan ilmu ilmu social. Keempat pembelajarannya menggunakan
cara cara yang mencerminkan kesadaran pribadi, kemasyarakatan, pengalaman
budaya, perkembangan pribadi siswa.
Di awal tahun 1994 the board of direction of the national council for the social
studies menerbitkan Dokumen resmi yang diberi nama Expectations of Exellence:
curriculum Standard for social studies. Dokumen ini yang sedang mewarnai pemikiran
praksis social studies di AS sampai saat ini. dalam dunia pendidikan NCSS juga
menggariskan bahwa dalam pendidikan mulai dari Taman kanak kanak sampai
pendidikan menengah memiliki keterpaduan Knowledge,Skills, and attitudes within
and across disipliner , pada kelas rendah ditekankan pada social studies yang tidak
mengikat atau bisa bertolak dari tema tema tertentu.
Ide IPS berasal dari literatur pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di
Amerika Serikat adalah social studies. Istilah tersebut pertama kali digunakan sebagai
nama sebuah lembaga yang diberi nama committee of social studies.
Lembaga ini merupakan himpunan tenaga ahli yang berminat pada kurikulum
ilmu-ilmu sosial di tingkat sekolah dan ahli-ahli ilmu sosial yang mempunyai minat
yang sama. Nama lembaga ini kemudian dipergunakan untuk nama kurikulum yang
mereka hasilkan, yakni kurikulum social studies. Nama social studies makin terkenal
ketika pemerintah mulai memberikan dana untuk mengembangkan kurikulum tersebut.
Kurikulum tersebut ahirnya dikembangkan dengan nama kurikulum social studies. Di
Indonesia social studies dikenal dengan nama studi sosial. Dalam Kurikulum 1975,
pendidikan ilmu sosial kemudian ditetapkan dengan nama Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS). IPS merupakan sebuah mata pelajaran yang dipelajari dari tingkat pendidikan
dasar sampai dengan pendidikan tinggi pada jurusan atau progrsam studi tertentu.
Istilah IPS pertama kali muncul dalam Seminar Nasional tentang Civic
Education tahun 1972 di Tawamangu, Solo. Ada 3 istlah yang muncul dari Seminar
Nasional di Tawamangu dan digunakan secara bertukar, yaitu:
1. Pengetahuan Sosial / Social Science
2. Studi Sosial / Social Studies
3. Ilmu Pengetahuan Sosial / Social Education
Pembahasan mengenai latar belakang lahirnya IPS akan dilihat dari dua aspek,
yakni latar belakang sosiologis dan pedagogis dengan mempertimbangkan aspek
kemasyarakatan dan ilmu-ilmu sosial yang dikaji dalam IPS. Ilmu Pengetahuan Sosisal
(IPS) adalah terjemahan dari Social Studies. Perkembanagan IPS dapat kita lihat
melalui sejarah Social Studies yang dikembangkan oleh Amerika Serikat (AS) dalam
karya akademis dan dipublikasikian oleh National Council for the Social Studies
(NCSS) pada pertemuan organisasi tersebut tahun 1935 sampai sekarang.
Definisi tentang Social Studies yaitu ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan
untuk tujuan pendididkan, kemudian pengertian ini dibakukan Social Studies meliputi
aspek-aspek ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu politik, sosiologi, antropologi, pisikologi,
ilmu geografi, dan filsafat yang dalam praktiknya dipilih untuk tujuan pembelajaran di
sekolah dan di perguruan tinggi.
Dalam pengertian awal Social Studies tersebut diatas terkandung hal-hal
sebagai berikut:
1. Social Studies merupakan turunan dari ilmu-ilmu sosial
2. Disiplin ini dikembangkan untuk memenuhi tujuan pendidikan atau pembelajaran,
baik pada tingkat sekolah maupun tingkat pendidikan tinggi.
3. Aspek-asoek dari masing-masing disiplin ilmu sosial itu perlu diseleksi sesuai
dengan tujuan tersebut.
Pada tahun 1940-1960 ditegaskan oleh Barr, dkk (1977:36) yaitu terjadinya tarik
menarik antara dua visi Social Studies. Di satu pihak, adanya gerakan untuk
mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sosial untuk tujuan citizenship education, yang
terus bergulir sampai mencapai tahap yang lebih canggih. Di pihak lain, terus
bergulirnya gerakan pemisahan sebagai disiplin ilmu-ilmu sosial yang cenderung
memperlemah konsepsi social studies education. Hal tersebut, merupakan dampak dari
berbagai penelitian yang dirancang untuk mempengaruhi kurikulum sekolah, terutama
yang berkenaan dengan pengertian dan sikap siswa.
Banyaknya gerakan-gerakan yang muncul akibat dari tekanan yang cukup
dahsyat untuk mereformasi Social Studies. Mereka menganggap perlu adanya
perubahan pembelajaran Social Studies menjadi pembelajaran yang berorientasi the
integrated, reflected inquiry, and problem centered (Barr, dkk.; 41-82) dan memperkuat
munculnya gerakan The new Social Studies.
Atas pendapat para pakar, akhirnya para sejarawan, ahli ilmu sosial, dan
pendidikan sepakat untuk melakukan reformasi Social Studies dengan menggunakan
cara yang berbeda dari sebelum pendekatan tersebut adalah dengan melalui proses
pengembangan kurikulum sekelompok pendidik, ahli psikologi, dan ahli ilmu sosial
secara bersama-sama mengembangkan bahan ajar berdasarkan temuan penelitian dan
teori belajar, kemudian diujicobakan di lapanagan, selanjutnya direvisi, dan pada
akhirnya disebarluaskan untuk digunakan secara luas dalam dunia persekolahan.
Jika dilihat dari Visi misi dan strateginya, Barr, dkk. (1978:1917) Social Studies
telah dan dapat dikembangkan dalam tiga tradisi, yaitu:

1. Social Studies Taught as citizenship Transmission


Merujuk pada suatu modus pembelajaran sosial yang bertujuan untuk
mengembangkan warga negara yang baik sesuai dengan norma yang telah diterima
secara baku dalam negaranya.
2. Social Studies Taught social Science
Merupakan modus pembelajaran sosial yang juga mengembangkan karakter
warga negara yang baik yang ditandai oleh penguasaan tradisi yang menitik
beratkan pada warga Negara yang dapat mengatasi masalah-masalah sosial dan
personal dengan menggunakan visi dan cara ilmuan sosial.
3. Social Studies Taught as Reflective Inquiry
Merupakan modus pembelajaran sosial yang menekankan pada hal yang
sama yakni pengembangan warga negara yang baik dengan kriteria yang berbeda
yaitu dilihat dari kemampunnya dalam mengambil keputusan

Tahun 1992, the board of direction of the national Council for the social studies
mengadopsi visi ternaru mengenai Social Studies, yang kemudian diterbitkan resmi oleh
NCSS pada tahun 1994 dengan judul Expectation of Excellence: Curriculum Standard
for Social Studies.
Sebagai rambu-rambu dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan strategi baru
Social Studies, NCSS (1994) menggariskan hal-hal sebagai berikut:
1. Program Social Studies mempunyai tujuan pokok yang ditegaskan kembali
bahwa civic competence bukanlah hanya menjadi tanggung jawab Social
Studies.
2. Program Social Studies dalam dunia pendidikan persekolahan, mulai dari taman
kanak-kanak sampai ke pendidikan menengah, ditandai oleh keterpaduan
3. knowlwdge, skill, and attitudes within and across disciplines (NCSS,
1994:3).
4. Program Social Studies dititik beratkan pada upaya membantu siswa dalam
construct a knowledge base and attitude drawn from academic discipline as
specialized ways of viewing reality (NCSS, 1994:4).
5. Program Social Studies mencerminkan the changing nature of knowledge,
fostering entirely new and highly integrated approaches to resolving issues of
significance to humanity (NCSS, 1994:5).
2.1.2. Pendidikan PKN
Pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia
yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan
UUD 1945.
Adapun karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah
sebagai berikut:
a. PKn termasuk dalam proses ilmu sosial (IPS);
b. PKn diajarkan sebagai mata pelajaran wajib dari seluruh program sekolah dasar
sampai perguruan tinggi;
c. PKn menanamkan banyak nilai, diantaranya nilai kesadaran, bela negara,
penghargaan terhadap hak azasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian
lingkungan hidup, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan
membayar pajak, serta sikap dan perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme;
d. PKn memiliki ruang lingkup meliputi aspek Persatuan dan Kesatuan bangsa,
Norma, hukum dan peraturan, Hak asasi manusia, Kebutuhan warga negara,
Konstitusi Negara, Kekuasan dan Politik, Pancasila dan Globalisasi;
e. PKn memiliki sasaran akhir atau tujuan untuk terwujudnya suatu mata pelajaran
yang berfungsi sebagai sarana pembinaan watak bangsa (nation and character
building) dan pemberdayaan warga Negara;
f. PKn merupakan suatu bidang kajian ilmiah dan program pendidikan di sekolah
dan diterima sebagai wahana utama serta esensi pendidikan demokrasi di
Indonesia;
g. PKn mempunyai 3 pusat perhatian yaitu Civic Intellegence (kecerdasan dan
daya nalar warga negara baik dalam dimensi spiritual, rasional, emosional
maupun sosial), Civic Responsibility (kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai
warga negara yang bertanggung jawa dan Civic Participation (kemampuan
berpartisipasi warga negara atas dasar tanggung jawabnya, baik secara
individual, sosial maupun sebagai pemimpin hari depan);
h. PKn lebih tepat menggunakan pendekatan belajar kontekstual (CTL) untuk
mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan, keterampilan, dan karakter
warga negara Indonesia. Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan
dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sehari-hari; dan
i. PKn mengenal suatu model pembelajaran VCT (Value Clarification
Technique/Teknik Pengungkapan Nilai), yaitu suatu teknik belajar-mengajar
yang membina sikap atau nilai moral (aspek afektif).
Dari karakteristik yang ada, terlihat bahwa PKn merupakan mata
pelajaran yang memiliki karakter berbeda dengan mata pelajaran lain. Walaupun
PKn termasuk kajian ilmu sosial namun dari sasaran / tujuan akhir pembentukan
hasil dari pelajaran ini mengharapkan agar siswa sebagai warga negara memiliki
kepribadian yang baik, bisa menjalankan hak dan kewajibannya dengan penuh
kesadaran karena wujud cinta atas tanah air dan bangsanya sendiri sehingga
tujuan NKRI bisa terwujud.
Setiap negara pasti memiliki tujuan, hanya warga negara yang baiklah
yang dapat mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu PKn memiliki peran yang
sangat besar untuk membentuk siswa menjadi warga negara yang bisa
mengemban semua permasalahan negara dan mencapai tujuan negaranya.
Keberadaan PKn dengan karakteristik seperti ini mestinya menjadi
perhatian besar bagi masyarakat, komponen pendidik dan negara. Hal ini
disebabkan karena PKn banyak mengajarkan niai-nilai pada siswanya. Nilai-
nilai kebaikan, kebersamaan, pengorbanan, menghargai orang lain dan persatuan
ini jika di tanamkan dalam diri siswa bisa menjadi bekal yang sangat berharga
dalam kehidupan pribadi maupun berbangsa dan bernegara. Siswalah yang akan
menjadi cikal bakal penerus bangsa dan yang akan mempertahankan eksistensi
negara maka dari itu mereka sangat memerlukan pelajaran PKn dalam konteks
seperti ini.
John J. Patrick dalam tulisan Konsep inti PKn mengatakan PKn
memiliki kriteria dimana diartikan berkenaan dengan kepentingan warga negara.
Ada 4 kateori yaitu pengetahuan kewarganegaraan dan pemerintahan, keahlian
kognitif warga negara, keahlian partisipatori dan kebaikan pendidika
kewarganegaraan. Jika empat kategori ini hilang dari kurikulum PKn makan
PKn dapat dianggap cacat.
Walaupun pemerintah sudah memberi perhatian besar pada pelajaran
PKn, semua itu tidak akan cukup jika komponen pendidik, siswa, orang tua, dan
masyarakat tidak berpadu untuk bekerjasama menjalankan inti pelajaran PKn
ini. Berkaitan dengan kandungan nilai-nilai dalam PKn saja misalnya, banyak
guru yang luput mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada saat mengajar karena
terburu dengan meteri sesuai kurikulum, siswa belajar hanya orientasi materi
sehingga civic intelligent saja yang terpenuhi. Meskipun materi PKn saat ini
tidak banyak mencantumkan secara konkret nilai-nilai kehidupan dalam silabus
pengajaran, semestinya guru mampu berperan memasukan nilai-nilai ini
sebagai hiden curicullum bagi siswa.

2.2. Hubungan Antara Pkn Dengan Social Studies.

Hubungan antara PKN dengan social studies. Social studies memiliki


cabang cabang ilmu diantaranya ilmu politik, ilmu sejarah, dan ilmu sosiologi
kemudian hubungan PKN dengan social studies dijabarkan melalui cabang cabang
ilmu tersebut seperti berikut :

1. Hubungan PKn dengan ilmu politik

Pendidikan kewarganegaraan merupakan praktik dari ilmu


kewarganegaraan, sedangkan ilmu kewarganegaraan adalah bagian dari ilmu
politik. Seperti yang dikemukakan oleh checter van yakni bagian dari ilmu
poltik ang membahas tentang hak dan kewajiban warga negara terdapat di
civics/ilmu kewarganegaraan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan
kewarganegaraan mengandung praktik-praktik yang diturunkan ilmu politik.
Sesuai dengan tujuan PKn yaitu menjadikan warganegara yang baik. Maka kita
harus memahami teori tentang demokrasi politik yang meliputi konstitusi, parpol
pemilu dan semuan hal itu merupakan adopsi dari ilmu politik. Dengan
memahami teori ilmu politik maka warga negara mempunyai pengetahuan
tentang kenegaraan melalui praktis dari pendidikan kewarganegaraan maka
warga negara dapat melaksanakan kewajibannya dan mengetahui hak yang harus
diterimanya sebagai warga negaa yang baik.

2. Pendidikan kewarganegaraan dengan sosiologi

Sosiologi merupakan ilmu tentang masyarakat. Yang mana yang


dibahas tidak hanya keteraturan dalam msyarakat tetapi juga
penyimpangan sosial. Salah satu penyebab terjadi penyimpangan sosial
yaitu kekurangpahaman masyarakat terhadap hak dan kewajibannya
sebagai warga negara. Contoh kasus keterkaitan sosiologi dengan
pendidikan kewarganegaraan, dalam sebuah desa mempunyai kendala
dalam aksesbilitas. Seperti kurang memadainya jalan raya untuk
masyarakat desa untuk keluar dari desa dalam rangka memenuhi
kebutuhan, seperti berjualan, melanjutkan pendidikan, dan membeli
kebutuhan rumah tangga yang tidak disediakan desa. Namun hal tersebut
terkendala sehingga menimbulkan ketergangguan pola kehidupan
masyarakat, terjadinya konflik antar masyarakat dan meresahkan kondisi
desa. Bagi masyarakat yang paham dengan haknya sebagai warganegara
maka mereka akan menuntutnya sesuai prosedur tanpa harus meresahkan
kampungnya sendiri. Kemudan jika mereka memahami tentang
kewajiban sebagai warga negara maka mereka akan berusaha memenuhi
kewajibannya seperti pajak supaya pemerintah dapat membangun sarana
umum seperti yang diinginkan dan mengelola sumberdaya ala dengan
baik. Jadi pendidikan kewarganegaraan dapat menjad solusi
permasalahan di masyarakat. Sama-sama mengkaji masyarakat / warga
negara.

3. Pendidikan kewarganegaraan dengan ilmu sejarah

Dalam mempelajari sejarah terdapat latarbelakang mempelajari


pendidikan kewarganegaraan, proses dan alasannya pendidikan
kewarganegaraan dipelajari. Kemudian dengan pada ilmu sejarah dapat
diketahui mengapa perlunya pendidikan yang bertujuan menjadikan
warga negara yang baik. Semua itu didasari oleh sejarah/peristiwa yang
terjadi diwaktu yang lalu. Dengan mempelajari sejarah kita dapat
mengetahui kekurangan apa yang akan terdapat pada era dulu dan
diperbaiki pada masa sekarang sehingga terdapat perbaikan-perbaikan
dari waktu ke waktu. Dengan mempelajari sejarah dapat ditemukan hal
positif yang dapat dipertahankan untuk tercapanya tujuan PKn saat ini
atau kedepannya.

2.3. Latar Belakang Pkn Sebagai Tradisi Dalam Social Studies.


PKn sebagai pendidikan disiplin ilmu. Pendidikan disiplin ilmu PKn
sebagai tradisi dalam social studies yaitu bahwa objek, tujuan dan materi pokok
PKn sebagai pendidikan disiplin ilmu Pendidikan Nasional. Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab
(Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003). Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional Suatu
batang tubuh disiplin (baru) yang menyeleksi konsep, generalisasi, dan teori dari
struktur disiplin-disiplin ilmu dan disiplin ilmu pendidikan yang diorganisasikan
dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. Pendidikan
disiplin ilmu merupakan kajian yang bersifat multifacet, karena multi, inter, cross,
dan transdisciplinary, khususnya meliputi disiplin Ilmu Pendidikan, disiplin Ilmu
(murni/non kependidikan, humaniora (seperti seni, sastra), dan dimensi lain
seperti kebudayaan bahkan agama Merupakan hasil rekayasa, seleksi, adaptasi,
adopsi, modifikasi, simplifikasi dari konsep-konsep, generalisasi, teori, konstruk,
dan dalil dari disiplin ilmu pendidikan dan disiplin ilmu (murni, non
kependidikan) yang diorganisasikan secara ilmiah, pedagogis, dan psikologis
sesuai tujuan pendidikan untuk disajikan di tingkat pendidikan dasar dan
menengah. Pendidikan Disiplin Ilmu Disajikan dengan pendekatan ilmiah,
pedagogis, dan psikologis. Istilah Pendidikan Disiplin Ilmu dapat diidentifikasi
dalam kajian keilmuan dan pembelajaran, seperti: science education, social
education, social studies, social science education, social studies education, study
of society and environment, dan istilah lain yang memiliki karakteristik sebagai
suatu synthetic discipline. Contoh Pendidikan Disiplin Ilmu Social studies (Studi
sosial) adalah bidang kajian akademik di perguruan tinggi maupun bidang
kurikuler untuk tingkat sekolah dasar dan menengah PKn sebagai Tradisi dalam
Social Studies

2.4. Alasan Pendidikan Kewarganegaraan Dikatakan Sebagai Tradisi Dalam Sosial


Studies.

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan bidang studi yang


bersifat multifaset. Secara epistemologis, PKn merupakan pengembangan dari
salah satu dari lima tradisi social studies yakni citizenship transmission yang
saat ini berkembang pesat menjadi suatu body of knowledge yang memiliki
paradigma sistemik yang didalamnya terdapat tiga domain yakni domain
akademis, domain kurikuler, dan domain sosial kultural.

Untuk mencapai tujuan dan nilai PKn dengan paradigma baru perlu
disusun bekal pengetahuan materi pembelajaran dan model pembelajaran yang
sejalan dengan tuntutan dan harapan PKn yakni mengembangkan kecerdasan
warga negara dalam dimensi spiritual, rasional, emosional, dan sosial,
mengembangkan peserta didik untuk berpartisipasi sebagai warga negara guna
menopang tumbuh dan berkembangnya warga negara yang baik. Hal ini disusun
agar selayaknya dapat membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan
intelektual yang memadai.

BAB 3

PENUTUP
3.1. Simpulan
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan bidang studi yang bersifat
multifaset. Secara epistemologis, PKn merupakan pengembangan dari salah satu
dari lima tradisi social studies yakni citizenship transmission yang saat ini
berkembang pesat menjadi suatu body of knowledge yang memiliki paradigma
sistemik yang didalamnya terdapat tiga domain yakni domain akademis, domain
kurikuler, dan domain sosial kultural.

3.2. Saran

Berdasarkan simpulan diatas bahwa dalam mengajarkan Pkn di SD seorang


guru harus mengetahui dasar bahwa Pkn merupakan salah satu tradisi dalam social
studies, yang mana dalam pembelajaran Pkn seorang guru dapat membelajarkan Pkn
dengan asyik dan menyenangkan sehingga Pkn sebagai tradisi social studies dapat di
implementasikan dalam pembelajaran Pkn.

DAFTAR PUSTAKA

http://natalhyatakasihaeng.blogspot.co.id/2013/04/pendidikan-ips_15.html
Mardiati, Yayuk, dkk. 2010. Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan SD. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional

Anda mungkin juga menyukai