Anda di halaman 1dari 7

A.

Perbedaan Umum Analisis Standarisasi Batubara antara Metode Analisis ASTM


dan Metode Analisis ISO.
Diantara sistem klasifikasi yang paling sering digunakan adalah sistem klasifikasi
ASTM. Dimana sistem ini membagi rank atau golongan batubara menjadi beberapa
kelas seperti dibawah ini:

Dalam klasifikasi ASTM tersebut batubara berdasarkan kualitasnya dapat dibagi menjadi
beberapa golongan seperti di bawah ini.

ANTHRACITE :

1. Meta-anthracite 2.
Anthracite
3. Semi anthracite
BITUMINOUS :
1. Low volatile bituminous

2. Medium volatile bituminous

3. High volatile-A bituminous


4. High volatile-B bituminous

5. High volatile-C bituminous


SUBBITUMINOUS :
1. Subbituminous A

2. Subbituminous B

3. Subbituminous C
LIGNITE :
1. Lignite-A

2. Lignite-B

Klasifikasi ISO dipergunakan untuk industri kokas dan pembangkit listrik.


Klasifikasi ISO didasarkan pada kandungan VM batubara dalam dry ash free (daf), nilai
muai bebas (free swelling index (FSI)) atau Roga index, dan Gray King Coke Type.

B. Perbandingan Analisa Proksimat Pada Batubara Antara Metode ASTM Dengan


Metode ISO
Berdasarkan pada analisa proksimat, terdapat beberapa perbedaan antara metode
International Standard (ISO) dengan American Society of Testing Materials (ASTM).
Keduanya digunakan secara luas di Indonesia.
Moisture in the analysis sample : ASTM method :
o Pengeringan contoh analisa dasar (general analysis sample) sampai berat
konstan selama preparasi contoh. Dengan catatan pada preparasi contoh
bahwa untuk lignit perlu diperjelas antara penentuan berat konstan dan
invalidasi dari hasil analisa dari parameter lainnya yang dapat terpengaruh
dengan membiarkan contoh dengan suhu yang meningkat pada waktu
tertentu. Suhu dan waktu maksimum yang diperbolehkan adalah 40 C
selama maksimum 14 jam.
o Selama analisa, contoh dikeringkan di dalam oven pada suhu 107 C selama
satu jam.
o Contoh dikeringkan dalam udara.
Moisture in the analysis sample : ISO method :

o Selama preparasi contoh, contoh analisa dasar hanya dikeringkan sampai


contoh tersebut dialirkan melalui peralatan penggerus dan pembagi. Waktu
pengeringan maksimum yang direkomendasikan adalah 6 jam pada 30 C
atau 4 jam pada 40 C.
o Selama analisa, contoh dikeringkan dalam oven pada suhu 105 C sampai
berat konstan. Untuk batubara Indonesia dapat tercapai dalam 3 jam.
o Batubara dikeringkan dalam nitrogen bebas oksigen dan dalam minimum free
space oven untuk mengurangi kemungkinan batubara teroksidasi.
Ash in the analysis sample : ASTM method :

o Kadar abu (ash) ditentukan pada suhu 750 C.

o Tidak ada penentuan rate kenaikan suhu pada furnace sampai mencapai suhu
yang dibutuhkan untuk kebanyakan jenis batubara.
o Jika contoh mengandung mineral mineral pirit dan karbonat dalam kadar
yang signifikan, sulit untuk dapat diperoleh nilai reprodusibilitas antar
laboratorium yang memuaskan, kecuali furnace dipanaskan pada kenaikan
suhu yang tertentu. Jika prosedur tersebut digunakan dan masih belum dapat
memperoleh nilai duplikasi yang baik, maka hasil analisa abu dapat
dilaporkan dalam basis sulpur free basis. Pada batubara indonesia
dikarenakan kebanyakan memiliki pH yang rendah, maka kadar mineral
karbonatnya sangat kecil atau tidak ada.
Ash in the analysis sample : ISO method :

o Kadar abu (ash) ditentukan pada suhu 815 C.

o Furnace harus mencapai suhu 500 C dlam waktu 45 menit dari keadaan suhu
kamar, dan mencapai suhu 815 C dalam waktu 45 menit.
Volatile Matter in the analysis sample : ASTM method :
o Batubara dipanaskan dalam cawan platina pada suhu 950 C selama 6 menit.
o Metode juga membahas mengenai penanganan sparkling coal dimana
terjadi kehilangan material batubara secara fisik dari contoh, yang disebabkan
oleh moisture yang terlepas secara mendadak jika contoh langsung
dipanaskan pada suhu 950 C. Metodenya adalah dengan memanaskan
batubara secara bertahap pada suhu 600 C selama 6 menit, kemudian pada
suhu 950 C selama 6 menit.
o Tidak diterangkan mengenai udara di dalam furnace selama pengujian.

Volatile Matter in the analysis sample : ISO method :

o Batubara dipanaskan pada suhu 900 C selama 7 menit.

o Pengujian menggunakan furnace dengan pintu tertutup rapat sehingga udara


tidak dapat mengalir ke dalam furnace selama pengujian.

Dikarenakan metode standard ISO dan ASTM untuk analisa proksimat dapat
memberikan hasil analisa yang berbeda secara signifikan, maka laporan analisa harus
mencantumkan metode standard yang digunakan untuk memperoleh hasil tersebut. Jika
sebagian dari contoh batubara, diperoleh dari pembagian contoh gross (gross sample)
pada tahap terakhir preparasi contoh akan dikirim ke laboratorium lain, baik sebagai
contoh uji profisiensi (round robin sample) atau sebagai contoh referee analysis,
terdapat 95 % kemungkinan bahwa hasil analisa yang diperoleh akan berada dalam
toleransi antar laboratorium jika kedua laboratorium tersebut menggunakan metode
yang sama dan mengikuti secara tepat metode standard yang telah dipublikasikan
tersebut.

C. Perbandingan analisis Total Moisture Batubara Antara Metode ASTM Dengan


Metode ISO.
Total moisture didefinisikan sebagai semua moisture yang terdapat dalam
batubara yang tidak terikat secara kimia dalam substansi batubara atau kandungan
mineralnya (mineral matter). Total moisture ditentukan dengan mengunakan prosedur
dua tahap baik pada metode standard ASTM dan ISO, dan digunaka sebagai bagian
untuk mengkalkulasi hasil analisa dalam air dried basis menjadi as received basis, pada
saat batubara diperdagangkan. Pengambilan sampel untuk keperluan perdagangan
batubara harus sedekat mungkin dengan lokasi pemuatan batubara. Untuk batubara
yang melalui proses trans shipment, contoh batubara untuk penentuan total moisture
harus diambil dari atas kapal pengangkut (vessel).
Tahap pertama penentuan total moisture adalah penentuan air drying loss, dan
dapat terdiri dari satu tahap atau lebih.
ASTM mempersyaratkan bahwa seluruh contoh harus dikeringkan sampai berat
konstan sebelum di gerus, dan setiap melalui proses penggerusan dan pembagian,
contoh harus melalui proses pengonstanan berat kembali.
Dalam ISO diijinkan untuk mengekstraksi contoh moisture sebanyak 10
increament dengan berat sesuai dengan ukuran top size dari batubara tersebut. Atau
mengambil contoh yang terpisah untuk penentuan total moisture dan analisa dasar.
Contoh total moisture dikeringkan dalam udara sampai mencapai berat konstan. Berat
konstan didefinisikan sebagai laju kehilangan berat yang lebih kecil dari 0.1 % per jam.
Oven pengering dapat digunakan dalam proses pengeringan, dan sebelum berat
terakhir diambil untuk perhitungan air drying loss, contoh harus dibiarkan agar
mencapai kondisi tekanan udara yang sama dengan kondisi laboratorium. Jika
temperatur pengeringan adalah 40 C, maka pengkondisian memerlukan waktu 4 jam.
Tahap kedua dari proses ini adalah penentuan residual moisture. Batubara yang telah
dikeringkan dalam udara di gerus dan dilakukan pengujian residual moisture dengan
metode standard yang sesuai ; ASTM mempersyaratkan ;
1. Pengeringan batubara ukuran top size 2.36 mm sampai berat konstan.
Contoh ditimbang setiap 30 menit.
2. Pengeringan batubara ukuran top size 0.250 mm selama 1 jam pada
suhu 107 C
3. Pengeringan 5 gram contoh batubara dengan ukuran top size

0.850 mm selama 1.5 jam. ISO


mempersyaratkan ;
1. Pengeringan dalam oven dengan udara pada batubara dengan ukuran
top size 10 mm. Metode menyatakan bahwa proses ini tidak sesuai
untuk batubara peringkat rendah.
2. Pengeringan dalam oven menggunakan nitrogen untuk batubara
ukuran minus 3 mm sebanyak 10 gram sampai berat konstan.
3. Penentuan volumetrik langsung dangan mendestilasi contoh
menggunakan toluene. Metode ini memberikan hasil dengan bias yang
besar, dan sebaiknya tidak digunakan.

Reprodusibilitas : ASTM menentukan repeatability antar laboratorium sebesar


0.5 %, tetapi dengan catatan bahwa nilai ini tidak selalu dapat digunakan untuk
batubara peringkat rendah. ISO tidak menentukan nilai toleransi reproducibility,
dimana pengujian harus dilakukan pada laboratorium yang berbeda menggunakan
sub contoh yang terpisah tanpa melalui proses penggerusan.
D. Perbandingan Analisis Net Calorific Value Batubara antara Metode ASTM Dengan
Metode ISO.
Catatan ini berdasarkan pada bahan yang terdapat dalam manual training Shell Coal
Quality Parameters dan Their Influences in Coal Utilisation.
Ketika Gross Calorific Value ditentukan, setiap uap air yang dihasilkan baik dari
perkembangan air dalam contoh batubara atau yang terbentuk oleh pembakaran
hidrogen, dikonversikan menjadi cairan moisture dan panas yang terpendam dari
penguapan telah diperoleh kembali. Dalam pembakaran batubara industri, air tetap
sebagai uap dan panas dari penguapan hilang.
Net Calorific Value dihitung dari Gross Calorific Value dan itu adalah panas yang
dihasilkan dalam pembakaran batubara pada atmosfir yang konstan dengan kondisi
semua air yang ada dalam sisa-sisa batubara sebagai bentuk uap air.
Persamaan untuk menghitung net Calorific Value adalah :

(i) ISO : Net CV (constant pressure) (MJ/kg) =

Gross CV (constant volume) 0.212 (H) 0.0008 (O) 0.0245 (M)

(ii) ASTM : Net CV (constant pressure) (MJ/kg) =

Gross CV ( constant volume) 0.024 [9(H) + (M)]


dimana : H adalah % Hidrogen
O adalah % Oksigen

M adalah % Moisture

Figure A.5 adalah nomogram yang dapat mengkonversikan Gross CV menjadi Net
CV.
Adalah hal yang mendasar jika menggunakan nomogram atau persamaan untuk
menghitung net CV, seluruh analisis dikonversikan pada basis yang sama seperti yang
dibutuhkan untuk net CV.
Net CV dengan basis as received, sering ditetapkan dalam kontrak batubara,
terutama untuk batubara peringkat rendah (lower rank coal). Tabel 1 memperlihatkan
variasi antara net CV dan gross CV untuk batubara dari berbagai peringkat. Batubara
peringkat rendah kehilangan presentase gross CV yang lebih besar.
TABEL 1
NET CALORIFIC VALUE (RUMUS ISO)

Lignite Bitum.

Anthr.
Total Moisture ar % 30.0 12.0 4.0
Air dried moisture ad % 20.0 8.0 1.0
Mineral matter ad % 8.0 8.0 8.0
Volatile Matter ad % 50.0 35.0 5.0
Hidrogen dmmf % 5.5 5.0 3.0
Oksigen dmmf % 23.0 12.0 1.5
Gross CV dmmf MJ/kg 27.00 31.00 36.00
Db MJ/kg 24.30 28.30 33.09
Ad MJ/kg 19.44 26.04 32.76
Ar MJ/kg 17.01 24.91 31.77
Net CV ad MJ/kg 18.10 24.95 32.16
Reduction GCV to NCV ad 6.90 4.16 1.83
As % dari GCV