Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI PERTANIAN

ISOLASI DAN ANTAGONIS JAMUR BERMANFAAT

Oleh :
Nama : Yuyun Anggreani
NIM : 145040201111311
Kelas/Kelompok : D/D1
Asisten : Yurike Dewi P

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
MALANG
2017
III. METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan ( disebutkan fungsinya )

3.1.1 Isolasi jamur endofit dan jamur tanah


Alat-alat yang dibutuhkan pada saat isolasi jamur endofit dan
jamur tanah antara lain:
- Timbangan : untuk menimbang sampel tanah

- Cutter : untuk memotong spesimen

- Pinset : untuk mengambil spesimen

- Bunsen : untuk memanaskan alat

- Korek api : untuk menghidupkan bunsen

- Mikropipet : untuk mengambil larutan

- Cawan Petri : sebagai tempat media PDA

- Stick L : untuk meratakan hasil pengenceran pada media


PDA
- Plastic wrap : untuk membungkus cawan petri

- Kertas label : untuk memberi nama spesimen

- Kamera : untuk dokumentasi

Sedangkan bahan-bahan yang dibutuhkan pada saat isolasi jamur


endofit dan jamur tanah antara lain:

- Alkohol 70% : untuk mensterilkan alat dan spesimen

- Media PDA : sebagai media tumbuh jamur

- Aquades : untuk membersihkan spesimen

- NaOCl 2% : untuk mensterilkan spesimen

- Tanaman tomat : sebagai spesimen isolasi jamur endofit

- Sampel tanah : sebagai spesimen isolasi jamur tanah

3.1.2 Identifikasi
Alat dan bahan yang dibutuhkan pada saat identifikasi jamur
endofit dan jamur tanah antara lain:
- Alat tulis : untuk mencatat hasil pengamatan

- Penggaris : untuk mengukur diameter koloni

- Isolat jamur endofit: sebagai sampel pengamatan


- Isolat jamur tanah: sebagai sampel pengamatan

3.1.3 Antagonis jamur pada media buatan

Alat-alat yang dibutuhkan pada saat uji antagonisme jamur pada


media buatan antara lain:

- Cawan petri : sebagai tempat media PDA

- Jarum ose : untuk mengambil isolat

- Bunsen : untuk mensterilkan alat

- Penggaris : untuk mengukur jarak isolat

- Spidol : untuk menandai titik letak isolat

- Kamera : untuk dokumentasikan

Sedangkan bahan-bahan yang dibutuhkan pada saat uji


antagonisme jamur pada media buatan antara lain:

- Alkohol 70% : untuk sterilisasi alat

- Isolat Fusarium oxysporum : sebagai sampel jamur patogen

- Isolat jamur tanah : sebagai sampel jamur antagonis

- Isolat jamur endofit : sebagai sampel jamur antagonis

- Isolate Trichoderma spp. : sebagai sampel jamur antagonis


(kontrol)
- Media PDA : sebagai media uji antagonis

- Plastik wrap : untuk membungkus cawan petri


3.2 Cara Kerja ( Analisa Perlakuan )

3.2.1 Isolasi jamur endofit dan jamur tanah

a. Jamur Endofit

Menyiapkan alat dan bahan

Mengambil sampel bagian tanaman: daun muda, daun tua, akar dan
batang

Memotong sampel bagian tanaman 1 cm

Merendam potongan sampel pada NaOCl 2%, alkohol dan dua kali
aquades, masing-masing 1 menit

Menanam potongan sampel pada media PDA dengan metode six points

Inkubasi selama 7 hari dan diamati

Pertama-tama siapkan alat dan bahan agar praktikum dapat berjalan


dengan lancar. Ambil sampel bagian tanaman, yaitu daun muda, daun tua, akar
dan juga batang dan potong 1 cm. Kemudian rendam potongan sampel
tersebut dalam larutan NaOCl 2%, alkohol dan dua kali aquades, masing-masing
selama 1 menit untuk mensterilkan bahan. Setelah itu, tanam potongan sampel
yang telah disterilkan pada media PDA yang siap pakai dengan menggunakan
pinset dan dengan metode six points. Setelah selesai, wrapping dan inkubasi
selama 7 hari. Amati dan dokumentasikan
b. Jamur Tanah

Menyiapkan alat dan bahan

Mengambil sampel tanah sebanyak 1 gram


Memasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambah aquades sampai 10
ml kemudian di gojok menggunakan tangan

Mengambil 1 ml larutan menggunakan mikropipet dan dimasukkan


tabung reaksi yang berisi 9 ml aquades sampai tingkat pengenceran 10-2

Mengambil 1 ml hasil pengenceran dan menuangkannya ke dalam media


PDA pada cawan petri

Meratakan hasil pengenceran menggunakan stick L dan cawan direkatkan


menggunakan plastic wrap

Inkubasi selama 7 hari dan diamati

Tanah Sampel tanah ditimbang 1 gram lalu diletakkan pada tabung reaksi
dan ditambahkan aquades steril sampai berisi 10 ml. Kemudian digojok sampai
terlarut. Setelah itu dari larutan tersebut, diambil 1 ml menggunakan mikropipet
dan dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml aqudes steril. Hal tersebut
dilakukan hingga mencapai tingkat pengenceran 10-2. Hasil pengenceran
kemudian diambil 1 ml untuk dituangkan ke dalam cawan petri yang telah berisi
media PDA. Kemudian hasil pengenceran diratakan dengan menggunakan stick
L, selanjutnya direkatkan plastik wrap. Terakhir diinkubasi pada suhu ruang
selama 7 hari dan dilakukan pengamatan.
3.2.2 Identifikasi

Identifikasi makroskopis dilakukan dengan mengamati kenampakan


makroskopis koloni jamur yang tumbuh pada cawan petri, meliputi warna koloni,
bentuk koloni, tekstur koloni dan pengukuran diameter koloni.

3.2.3 Antagonis jamur pada media buatan

Menyiapkan alat dan bahan

IV. HASIL
Menandai titik untuk DAN
patogen PEMBAHASAN
dan jamur antagonis dengan jarak 3 cm
pada cawan petri yang berisi media PDA

Mengambil isolat jamur patogen dan isolat jamur antagonis dengan jarum
ose

Meletakkan patogen dan jamur antagonis pada titik yang telah ditandai
pada cawan petri yang berisi media PDA

Mengamati selama 7 hari dan didokumentasikan

Cawan petri yang berisi media PDA ditandai dengan menggunakan spidol
dengan jarak tepi cawan dan kedua titik masing-masing 3 cm. Kemudian isolat
jamur pathogen dan antagonis hasil eksplorasi diambil menggunakan jarum ose
dan ditanam tepat pada titik yang telah ditandai. Kemudian dalam 7 hari dan
diamati jari-jari tumbuh pathogen yang berlawanan arah (r1) dan kearah (r2)
jamur atagonis serta mekanisme antagonisnya, dan dihitung persentase
penghambatan (PP) dengan rumus:
4.1 Hasil dan Pembahasan Isolasi

4.1.1 Hasil Isolasi Bagian Tanaman

Sampel Dokumentasi Hasil


No. Kenampakan makroskopis
Tanaman Isolasi
1. Tomat
Pada daun muda jamur tumbuh dengan baik
yang ditandai dengan munculnya hifa atau
miselium berwarna putih dan terdapat bintik-
bintik cokelat disekitarnya.

2. Cabai Untuk batang muda: bentuk filamentous,


elevasi flat, margin filiform, warna koloni
putih seperti kapas

Untuk batang tua: bentuk irregular,


elevasi flat, margin filiform, warna koloni
hijau kecokelatan dengan pusat warna putih

Untuk batang tua: bentuk rhizoid, elevasi


flat, margin lobate, warna koloni putih

4.1.2 Hasil Isolasi Rizosfer Pada Pertanaman Pisang

No. Sampel Dokumentasi Hasil Kenampakan makroskopis


Tanah Isolasi
1. Sampel 1 Bentuk jamur filamentous , elevasi datar,
margin fiiform, tidak transparan, permukaan
halus, dan warnanya putih

2. Sampel 2 Bentuk filamentous, elevasi datar, margin


filiform, opacity tidak transparan, permukaan
halus, warna putih kehitaman
4.1.3 Pembahasan
Dari hasil isolasi yang telah silakukan, diketahui bahwa jenis jamur yang
terdapat dalam tanaman tomat merupakan jenis jamur Aspergillus sp. Hal
tersebut dikarenakan jamur yang ada pada tanaman toomat memiliki ciri-ciri yang
mirip dengan jamur dari jenis Aspergillus sp. Wulandari et al. (2015) menyatakan
bahwa genus jamur endofit yang teridentifikasi pada tanaman tomat antara lain
Acremonium sp., Aspergillus spp., Cephalosporium sp., Fusarium spp.,
Helicocephalum spp., Penicillium spp., Rhizopus sp. Hal tersebut ditegaskan oleh
pernyataan Robert A. Samson dan Ellen S. van Reenen-Hockstra (1988) dimana
koloninya terdiri atas beberapa warna seperti putih, kuning, coklat kekuningan,
coklat atau hitam, dan hijau. Warna koloni dari Aspergillus sp. secara
keseluruhan merupakan warna dari konidianya

Sedangkan untuk jamur tanahnya sendiri, berdasarkan kenampakan


makroskopisnya, diketahui bahwa kemungkinan jamur yang ada pada tanah
pisang tersebut merupakan jamur dari kelompok Aspergillus sp., Penicillium sp.,
Paecilomyces sp. dan Gliocladium sp. mendominasi pada rizosfer asal tanah
pertanaman pisang. Berdasarkan kenampakan makroskopis yang diidentifikasi,
diduga jamu yg diisolasi dari perakaran pisang pada saat praktikum merupakan
genus Aspergillus.
4.2 Hasil dan Pembahasan Antagonis Jamur ( dibandingkan dengan
literatur )

4.2.1 Hasil

No. Sampel Dokumentasi Hasil Besar Penghambatan


1. Bagian
Tanaman Tomat

= 92% (Antagonis)

2. Bagian
Tanaman Cabai

= 69% (Antagonis)

3. Sampel Tanah

= - 47% (Patogen)

4. Trichoderma sp.

= 60% (Antagonis)
4.2.2 Pembahasan Antagonis (Bandingkan hasil antagonis jamur dari
organ tanaman dan sampel dan bandingkan dengan literatur )

Persentase penghambatan patogen dihitung untuk mengetahui pengaruh


penghambatan cendawan antagonis terhadap pertumbuhan koloni patogen.
Hasil perhitungan persentase penghambatan (PP) dari uji antagonis antara jamur
Trichoderma spp. dengan F. oxysporum diperoleh 60%. Kemudian uji antagonis
antara jamur endofit yang diisolasi dari tanaman tomat dengan F. oxysporum
diperoleh PP sebesar 92%. Sedangkan uji antagonis antara jamur Colletothricum
capsisi dengan Thricoderma diperoleh PP sebesar 69% dan jamur tanah dari
perakaran pisang dengan F. oxysporum diperoleh PP sebesar -42%.

Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan yang telah dilakukan,


diketahui bahwa persentase penghambatan terbesar diketahui berasal dari uji
antagonis antara jamur endofit yang diisolasi dari tanaman tomat dengan F.
Oxysporum, dimana diperoleh PP sebesar 92%. Hal tersebut dapat terjadi
karena Aspergillus merupakan jenis jamur yang pertumbuhannya tergolong
cepat sehingga sangat efisien dalam menekan pertumbuhan patogen tanaman.
Yulianto (2014) menunjukkan bahwa uji antagonisme secara in vitro
menunjukkan kemampuan isolat jamur Aspergillus bersifat kompetisi ruang,
nutrisi, dan oksigenmampu menekan pertumbuhan dan perkembangan patogen
Fusarium sp. dengan tingkat keefektifitas terbaik, yakni keefektifitas sedang
dibandingkan dengan jamur antagonis lainnya.
Dari hasil pengamatan, diketahui pula bahwa jenis antagonis yang
dikeluarkan oleh masing-masing agens antagonis adalah mekanisme parasitisme
kecuali pada uji antagonis dari sampel tanah pisang yang didapatkan, yaitu
berupa mekanisme antibiosis. Hal tersebut dapat diketahui dengan adanya zona
bening diantara jamur patogen dan juga jamur antagonis.
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa jamur endofit yang ada


pada tanaman tomat dan sampel tanah pisang merpakan jenis jamur endofit
yang kemungkinan berasal dari jenis jamur Aspergillus. Sedangkan untuk uji
antagonismenya, diketahui bahwa yang memiliki persentase penghambat
tertinggi adalah jamur endofit dari tanaman tomat dan Fusarium oxysporum
dengan nilai persentase 92%. Untuk mekanisme antagonisnya sendiri dari ketiga
sampel melakukan antagonis berupa parasitisme, sedangkan untuk antagonism
pada sampel tanah pisang, mekanismenya berupa antibiosis

5.2 Saran
Praktikum sudah berjalan dengan baik, hanya saja terdapat kendala pada
saat melakukan proses perhitungan persentase penghambat dikarenakan
kurangnya penjelasan serta latihan yang diberikan oleh asisten. Semoga
kedepannya praktikum ini dapat berjalan lebih baik lagi

DAFTAR PUSTAKA

Yulianto, E. 2014. Evaluasi Potensi Beberapa Jamur Agen Antagonis dalam


Menghambat Patogen Fusarium sp. pada Tanaman Jagung (Zea mays
L.). Bengkulu. Universitas Bengkulu.

Wulandari D, Sulistyowati L, Muhibuddin A. 2014. Keanekaragaman Jamur


Endofit pada Tanaman Tomat (Lycopersicum Esculentum Mill.) dan
Kemampuan Antagonisnya terhadap Phytophthora Infestans. Jurnal HPT
vol 2 No 1. Hal 110-18.